Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16

Minggu, tgl 9 Nopember 2014, pk 17.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Yudas Iskariot(9)

e)            Yudas Iskariot kerasukan Iblis.

Setelah Yudas Iskariot menerima roti dari Yesus, ia dikatakan ‘kerasukan Iblis’.

Yoh 13:27 - Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: ‘Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.’”.

KJV/RSV/NIV: ‘Satan entered him’ [= Iblis memasuki dia].

NASB: ‘Satan then entered him’ [= maka Iblis memasuki dia].

 

1.   Bukan pemberian roti itu yang menyebabkan Yudas kerasukan.

 

Adam Clarke (tentang Yoh 13:27): “But the morsel was not the cause of this entering in; the giving of it only marks the time in which the Devil confirmed Judas in his traitorous purpose.” [= Tetapi roti itu bukanlah penyebab kerasukan ini; pemberian roti itu hanya menandai waktu dalam mana Setan meneguhkan Yudas dalam rencana pengkhianatannya.].

 

Calvin (tentang Yoh 13:27): By giving the sop, Christ did not give an opportunity to Satan, but rather Judas, having received the sop, gave himself up entirely to Satan. It was, indeed, the occasion, but not the cause. His heart, which was harder than iron, ought to have been softened by so great kindness showed to him by Christ; and now his desperate and incurable obstinacy deserves that God, by his just judgment, should harden his heart still more by Satan. [= Dengan memberinya suapan / roti, Kristus tidak memberi suatu kesempatan kepada Iblis, tetapi Yudaslah, yang setelah menerima suapan / roti itu, menyerahkan dirinya sendiri sepenuhnya kepada Iblis. Itu memang adalah saatnya, tetapi bukanlah penyebabnya. Hatinya, yang lebih keras dari besi, seharusnya telah dilunakkan oleh kebaikan yang begitu besar yang ditunjukkan kepadanya oleh Kristus; dan sekarang kekeras-kepalaannya yang nekat dan tak bisa disembuhkan layak mendapatkan bahwa Allah, oleh penghakimanNya yang adil, lebih lagi mengeraskan hatinya dengan menggunakan Iblis.].

 

2.      Apakah ini menunjukkan bahwa Yudas betul-betul dirasuk setan?

 

Adam Clarke kelihatannya menganggap betul-betul demikian.

Adam Clarke (tentang Yoh 13:27): ‘Satan entered into him.’ He had entered into him before, and now he enters again, to strengthen him in his purpose of delivering up his Master.[= ‘Iblis masuk ke dalam dia’. Ia telah masuk ke dalam dia sebelumnya, dan sekarang ia masuk lagi, untuk menguatkan dia dalam rencananya untuk menyerahkan Tuan / Gurunya.].

 

Ini rasanya tak masuk akal. Bagaimana mungkin Iblis sudah masuk, lalu bisa masuk lagi?

 

William Hendriksen (tentang Yoh 13:27): The devil had put ‘an evil suggestion’ into the heart of Judas (see on 13:2). Judas had acted upon that suggestion. Now the devil - here called Satan, i.e., the adversary - puts himself into Judas’ heart. That is his usual method of procedure with those who do not resist him. Satan takes full possession of the betrayer’s soul. ... Judas is now a completely hardened individual. [= Setan telah memberikan ‘suatu usul yang jahat’ ke dalam hati Yudas (lihat tentang 13:2). Yudas telah bertindak berdasarkan usul itu. Sekarang setan - di sini disebut Satan / Iblis, yaitu ‘sang musuh’ - memasukkan dirinya sendiri ke dalam hati Yudas. Itu merupakan metode prosedurnya yang biasa dengan mereka yang tidak melawannya. Iblis menguasai / memiliki sepenuhnya jiwa si pengkhianat. ... Sekarang Yudas adalah seorang individu yang dikeraskan sepenuhnya.] - hal 247.

 

Menurut saya William Hendriksen agak kabur / tak jelas, berkenaan dengan apakah Yudas Iskariot betul-betul dirasuk setan atau tidak.

 

Calvin (tentang Yoh 13:27): “It is also a very foolish dream to imagine that the devil entered essentially - as the phrase is - into Judas; for the Evangelist speaks only of the power and efficacy of Satan.” [= Juga merupakan suatu khayalan yang sangat bodoh untuk membayangkan bahwa setan masuk secara hakiki - seperti bunyi ungkapan itu - ke dalam Yudas; karena si Penginjil hanya berbicara tentang kuasa dan keefektifan Iblis.].

 

Saya setuju dengan pandangan Calvin ini, karena orang yang kerasukan setan selalu menunjukkan tanda-tanda tertentu seperti dalam Mark 5:1-13 dsb. Tetapi Yudas tetap bersikap, bertindak, berkata-kata sebagai orang waras (waras jasmani, bukan rohani).

 

Bdk. Mark 5:1-13 - “(1) Lalu sampailah mereka di seberang danau, di daerah orang Gerasa. (2) Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. (3) Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya, sekalipun dengan rantai, (4) karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai, tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. (5) Siang malam ia berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli dirinya dengan batu. (6) Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkanNya lalu menyembahNya, (7) dan dengan keras ia berteriak: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!’ (8) Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: ‘Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!’ (9) Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: ‘Siapa namamu?’ Jawabnya: ‘Namaku Legion, karena kami banyak.’ (10) Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. (11) Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, (12) lalu roh-roh itu meminta kepadaNya, katanya: ‘Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!’ (13) Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.”.

 

Memang jelas bahwa Yudas tidak kerasukan setan seperti orang Gerasa ini. Dia tidak mengamuk, memutuskan rantai dan sebagainya.

 

3.   Lalu Yudas ‘kerasukan Iblis’ dalam arti bagaimana? Dan mengapa diceritakan 2 x kerasukan Iblis?

 

Dalam Luk 22:3, sudah diceritakan kalau Yudas kerasukan Iblis.

Luk 22:3-6 - “(3) Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu. (4) Lalu pergilah Yudas kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka. (5) Mereka sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya. (6) Ia menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.”.

KJV: ‘Then entered Satan into Judas’ [= Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas].

RSV/NASB: ‘Then Satan entered into Judas’ [= Maka Iblis masuk ke dalam Yudas].

NIV: ‘Then Satan entered Judas’ [= Maka Iblis memasuki Yudas].

 

Lalu mengapa diceritakan lagi dalam Yoh 13:27 bahwa Yudas kerasukan setan?

Yoh 13:27 - Dan sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: ‘Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.’”.

KJV/RSV/NIV: ‘Satan entered him’ [= Iblis memasukinya].

NASB: ‘Satan then entered him’ [= maka Iblis memasukinya].

 

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘masuk’ dalam Yoh 13:27 dan Luk 22:3 adalah kata yang sama. Padahal ini merupakan 2 peristiwa yang berbeda. Luk 22:3 pasti terjadi lebih dulu, baru Yoh 13:27. Mengapa terjadi 2 x ‘kerasukan’? Dan kerasukan dalam arti yang bagaimana?

 

Matthew Henry (tentang Yoh 13:27): Was not Satan in him before? How then is it said that now ‘Satan entered into him’? Judas was all along a devil (ch. 6:70), a son of perdition, but now Satan gained a more full possession of him,[= Bukankah Iblis sudah ada di dalam dia sebelumnya? Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa sekarang ‘Iblis masuk ke dalam dia’? Yudas sudah dari semula seorang setan (pasal 6:70), seorang anak kebinasaan, tetapi sekarang Iblis mendapatkan kepemilikan yang lebih penuh atas dia,].

 

Calvin (tentang Yoh 13:27): “‘Satan entered into him.’ As it is certain that it was only at the instigation of Satan that Judas formed the design of committing so heinous a crime, why is it now said, for the first time, that ‘Satan entered into him,’ who had already held the throne in his heart? But as they who are more fully confirmed in the faith which they formerly possessed are often said to ‘believe,’ and thus an increase of their faith is called ‘faith,’ so now that Judas is utterly given up to Satan, ... ‘Satan’ is said to have ‘entered into him.’ For as the saints make gradual progress, and in proportion to the new gifts by which they are continually enlarged, they are said ‘to be filled with the Holy Spirit;’ so, in proportion as wicked men provoke the anger of God against themselves by their ingratitude, the Lord deprives them of his Spirit, of all light of reason, and, indeed, of all human feeling, and delivers them unreservedly to ‘Satan.’” [= ‘Iblis masuk ke dalam dia’. Karena adalah pasti bahwa hanya karena hasutan Iblis sehingga Yudas membuat rancangan untuk melakukan suatu kejahatan yang begitu jahat / menjijikkan, mengapa sekarang dikatakan, untuk pertama kalinya (?), bahwa ‘Iblis masuk ke dalam dia’, yang telah menduduki takhta dalam hatinya? Tetapi seperti mereka yang lebih diteguhkan dalam iman yang sebelumnya telah mereka miliki sering dikatakan ‘percaya’, dan karena itu suatu peningkatan iman mereka disebut ‘iman’, begitu juga sekarang pada waktu Yudas diserahkan sama sekali kepada Iblis, ... ‘Iblis’ dikatakan telah ‘masuk ke dalam dia’. Karena seperti orang-orang kudus membuat kemajuan perlahan-lahan, dan sebanding dengan karunia-karunia baru dengan mana mereka terus menerus ditumbuhkan, mereka dikatakan ‘dipenuhi dengan Roh Kudus’; demikian juga, sebanding dengan orang-orang jahat memprovokasi murka Allah terhadap diri mereka sendiri oleh rasa tidak tahu terima kasih mereka, Tuhan mencabut dari mereka RohNya, semua terang dari akal, dan bahkan semua perasaan manusia, dan menyerahkan mereka tanpa batasan kepada ‘Iblis’.].

 

Saya menganggap ini sebagai penafsiran yg luar biasa dari Calvin. Dan memang yang dia katakan benar. Orang-orang berulang kali dikatakan percaya.

a. Murid-muridNya.

Yoh 1:49-50 - “(49) Kata Natanael kepadaNya: ‘Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!’ (50) Yesus menjawab, kataNya: ‘Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.’.

Yoh 2:11 - Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tandaNya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya, dan murid-muridNya percaya kepadaNya..

Yoh 6:68-69 - “(68) Jawab Simon Petrus kepadaNya: ‘Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; (69) dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.’”.

Yoh 16:29-30 - “(29) Kata murid-muridNya: ‘Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan Engkau tidak memakai kiasan. (30) Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepadaMu. Karena itu kami percaya, bahwa Engkau datang dari Allah.’”.

b. Orang-orang Samaria.

Yoh 4:39-42 - “(39) Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepadaNya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: ‘Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.’ (40) Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepadaNya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. (41) Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataanNya, (42) dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.’”.

c. Pegawai istana.

Yoh 4:49-53 - “(49) Pegawai istana itu berkata kepadaNya: ‘Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.’ (50) Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, anakmu hidup!’ Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. (51) Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. (52) Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: ‘Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.’ (53) Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: ‘Anakmu hidup.’ Lalu iapun percaya, ia dan seluruh keluarganya.”.

 

Hal yang sama terjadi dengan kasus orang yang dikatakan berulangkali ‘penuh Roh Kudus’.

a. Petrus.

Kis 2:4 - “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”.

Kis 4:8 - “Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: ‘Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,”.

Kis 4:31 - “Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”.

 

b. Stefanus.

Kis 6:5 - “Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.”.

Kis 7:55 - “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.”.

 

Demikian juga dengan Yudas. Dari tadi / semula ia sudah dikuasai Iblis, tetapi sekarang pada waktu dikatakan ‘ia kerasukan Iblis’, maka itu hanya menunjukkan penguasaan yang lebih penuh dari Iblis terhadap Yudas.

 

Calvin melanjutkan lagi:

Calvin (tentang Yoh 13:27): This is a dreadful vengeance of God, when men are given up to a reprobate mind, (Romans 1:28,) so that they scarcely differ at all from the brutes, and - what is worse - fall into horrid crimes from which the brutes themselves would shrink. [= Ini merupakan pembalasan yang menakutkan dari Allah, pada waktu orang-orang diserahkan pada suatu pikiran yang terkutuk, (Ro 1:28), sehingga mereka hampir tidak berbeda sama sekali dengan binatang, dan yang lebih buruk lagi, jatuh ke dalam kejahatan-kejahatan yang mengerikan terhadap mana binatang-binatang sendiri akan mengkerut / menahan diri.].

 

Ro 1:21-29 - “(21) Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. (22) Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. (23) Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. (24) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. (25) Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. (26) Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. (27) Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. (28) Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas: (29) penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.”.

 

Bdk. Kis 7:42 - “Maka berpalinglah Allah dari mereka dan membiarkan mereka beribadah kepada bala tentara langit, seperti yang tertulis dalam kitab nabi-nabi: Apakah kamu mempersembahkan kepadaKu korban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel?”.

Catatan: dalam terjemahan bahasa Inggris kata ‘membiarkan’ ini juga diterjemahkan ‘menyerahkan’.

 

Apakah ayat-ayat ini harus diartikan bahwa Allah ‘putus asa’ dalam menangani orang-orang itu, sehingga Ia akhirnya membiarkan / menyerahkan mereka ke dalam kejahatan / ke dalam tangan setan??? Kelihatannya, Pdt. Stephen Tong menafsirkan ayat-ayat itu dengan cara seperti ini. Ia tidak percaya Allah menentukan dan mengatur terjadinya dosa, tetapi ia percaya bahwa Allah pada akhirnya ‘membiarkan’ orang-orang itu berbuat dosa.

 

Tetapi menurut saya, tafsiran salah seperti ini merendahkan Allah menjadi selevel dengan manusia, yang kalau menghadapi orang jahat yang sudah tak bisa diperbaiki, lalu menyerah dan membiarkan orang itu.

Menurut saya, ayat-ayat ini adalah ayat-ayat yang berbicara dari sudut pandang manusia, bukan dari sudut pandang Allah. Dari sudut pandang manusia yang terbatas, memang demikian. Tetapi bagaimana dari sudut pandang Allah?

 

Kalau kita membandingkan Firaun dengan Saulus / Paulus, apakah yang satu lebih buruk / jahat dari yang lain? Tentu tidak. Mereka sama jahatnya. Lalu mengapa yang satu mengeraskan hati, dan yang lain bertobat? Jelas Alkitab mengatakan Allah mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21)! Paulus adalah orang pilihan Allah (Kis 9:15  Gal 1:15), Firaun bukan (Ro 9:17-18). Itu sebabnya Allah mempertobatkan Paulus, tetapi membiarkan Firaun!

Dalam kasus Yudas Iskariot terjadi hal yang sama. Seandainya Allah mau, apakah Allah tidak mampu mempertobatkan Yudas Iskariot? Tentu saja Ia bisa. Lalu mengapa Ia tidak melakukannya, tetapi malah Ia membiarkannya? Karena itu bukan rencana / kehendakNya!!! Jelas ada predestinasi / reprobation di balik semua ini!

 

Memang orang yang tidak percaya, biasanya akan makin lama makin memburuk! Selain Yudas Iskariot, contoh lain adalah raja Saul.

Bdk. 2Tim 3:13 - “sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.”.

 

Hal ini berlaku bukan hanya dalam persoalan perbuatan yang makin lama makin jahat, tetapi juga dalam persoalan pengertian / kepercayaan dan pengajaran yang makin lama makin sesat.

 

Jamieson, Fausset & Brown (tentang 2Tim 3:13): “‘Deceiving, and being deceived.’ Beginning with deceiving others, they end with being deceived themselves.” [= ‘Menipu, dan ditipu’. Mulai dengan menipu orang-orang lain, berakhir dengan mereka sendiri ditipu.].

 

Matthew Henry (tentang 2Tim 3:13): Observe, As good men, by the grace of God, grow better and better, so bad men, through the subtlety of Satan and the power of their own corruptions, grow worse and worse. The way of sin is down-hill; for such proceed from bad to worse, ‘deceiving and being deceived.’ Those who deceive others do but deceive themselves; those who draw others into error run themselves into more and more mistakes, and they will find it so at last, to their cost. [= Perhatikan, sebagaimana orang-orang baik / saleh, oleh kasih karunia Allah, bertumbuh makin lama makin baik, demikian juga orang-orang jahat / buruk, memalui kelicikan Iblis dan kuasa dari kejahatan-kejahatan mereka sendiri, bertumbuh makin lama makin buruk. Jalan dari dosa adalah turun; karena yang seperti itu maju / berjalan dari buruk menjadi yang lebih buruk, ‘menipu / menyesatkan dan ditipu / disesatkan’. Mereka yang menipu / menyesatkan orang-orang lain hanyalah menipu / menyesatkan diri mereka sendiri; mereka yang menarik orang-orang lain ke dalam kesalahan melarikan diri mereka sendiri ke dalam kesalahan-kesalahan yang makin lama makin banyak, dan mereka akan mendapatinya demikian pada akhirnya, pada / atas kerugian mereka.].

 

Barnes’ Notes (tentang 2Tim 3:13): This is the general law of depravity - that if men are not converted, they are always growing worse, and sinking deeper into iniquity. Their progress will be certain, though it may be gradual, [= Ini adalah hukum yang umum dari kebejatan - bahwa jika orang-orang tidak bertobat, mereka selalu menjadi lebih buruk, dan tenggelam makin dalam ke dalam kejahatan. Kemajuan mereka adalah pasti, sekalipun itu bisa terjadi secara bertahap / perlahan-lahan,].

 

Calvin melanjutkan lagi:

Calvin (tentang Yoh 13:27): We ought, therefore, to walk diligently in the fear of the Lord, lest, if we overpower his goodness by our wickedness, he at length give us up to the rage of, Satan. [= Karena itu, kita harus berjalan dengan tekun dalam rasa takut akan Tuhan, supaya jangan, jika kita mengalahkan / kebaikanNya dengan kejahatan kita, akhirnya Ia menyerahkan kita pada kegilaan dari Iblis.].

-bersambung-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali