(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16
Minggu,
tgl 9 Nopember 2014, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
e)
Yudas Iskariot kerasukan Iblis.
Setelah
Yudas Iskariot menerima roti dari Yesus, ia dikatakan ‘kerasukan Iblis’.
Yoh
13:27 - “Dan
sesudah Yudas menerima roti itu, ia
kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: ‘Apa yang hendak
kauperbuat, perbuatlah dengan segera.’”.
KJV/RSV/NIV:
‘Satan entered him’ [= Iblis memasuki dia].
NASB:
‘Satan then entered him’ [= maka Iblis memasuki dia].
1. Bukan pemberian roti itu yang menyebabkan Yudas
kerasukan.
Adam
Clarke (tentang Yoh 13:27):
“But the morsel was not the cause of this entering in; the giving of it only
marks the time in which the Devil confirmed Judas in his traitorous purpose.”
[= Tetapi roti itu bukanlah penyebab kerasukan ini;
pemberian roti itu hanya menandai waktu dalam
mana Setan meneguhkan Yudas dalam rencana pengkhianatannya.].
Calvin
(tentang Yoh 13:27): “By
giving the
sop, Christ did not give an opportunity to
Satan, but rather Judas, having
received the sop, gave himself up entirely
to Satan. It was, indeed, the occasion, but not the cause. His heart, which was
harder than iron, ought to have been softened by so great kindness showed to him
by Christ; and now his desperate and incurable obstinacy deserves that God, by
his just judgment, should harden his heart still more by Satan.” [= Dengan memberinya suapan / roti,
Kristus tidak memberi suatu kesempatan kepada Iblis, tetapi Yudaslah, yang
setelah menerima suapan / roti itu, menyerahkan dirinya sendiri sepenuhnya
kepada Iblis. Itu memang adalah saatnya, tetapi
bukanlah penyebabnya. Hatinya, yang lebih keras dari besi, seharusnya
telah dilunakkan oleh kebaikan yang begitu besar yang ditunjukkan kepadanya oleh
Kristus; dan sekarang kekeras-kepalaannya yang nekat dan tak bisa disembuhkan
layak mendapatkan bahwa Allah, oleh penghakimanNya yang adil, lebih lagi
mengeraskan hatinya dengan menggunakan Iblis.].
2.
Apakah ini menunjukkan bahwa Yudas betul-betul dirasuk setan?
Adam
Clarke kelihatannya menganggap betul-betul demikian.
Adam Clarke (tentang Yoh 13:27):
“‘Satan
entered into him.’ He had entered into him before, and now he enters again, to
strengthen him in his purpose of delivering up his Master.” [=
‘Iblis masuk ke dalam dia’. Ia telah masuk ke
dalam dia sebelumnya, dan sekarang ia masuk lagi, untuk menguatkan
dia dalam rencananya untuk menyerahkan Tuan / Gurunya.].
Ini
rasanya tak masuk akal. Bagaimana mungkin Iblis sudah masuk, lalu bisa masuk
lagi?
William
Hendriksen (tentang Yoh 13:27):
“The
devil had put ‘an
evil suggestion’
into the heart of Judas (see on 13:2). Judas had acted upon that suggestion. Now
the devil - here called Satan, i.e., the adversary - puts himself into Judas’
heart. That
is his usual method of procedure with those who do not resist him.
Satan takes full possession of the betrayer’s soul. ...
Judas is now a completely hardened individual.”
[= Setan telah memberikan ‘suatu usul yang jahat’ ke dalam hati Yudas (lihat
tentang 13:2). Yudas telah bertindak berdasarkan usul itu. Sekarang setan - di
sini disebut Satan / Iblis, yaitu ‘sang musuh’ - memasukkan
dirinya sendiri ke dalam hati Yudas. Itu
merupakan metode prosedurnya yang biasa dengan mereka yang tidak melawannya.
Iblis menguasai / memiliki sepenuhnya jiwa si
pengkhianat. ... Sekarang Yudas adalah seorang individu yang dikeraskan
sepenuhnya.] - hal
247.
Menurut
saya William Hendriksen agak kabur / tak jelas, berkenaan dengan apakah Yudas
Iskariot betul-betul dirasuk setan atau tidak.
Calvin
(tentang Yoh 13:27): “It
is also a very foolish dream to imagine that the devil entered essentially - as
the phrase is - into Judas; for the Evangelist speaks only of the power and
efficacy of Satan.” [= Juga merupakan suatu khayalan yang sangat
bodoh untuk membayangkan bahwa setan masuk secara hakiki - seperti bunyi
ungkapan itu - ke dalam Yudas; karena si
Penginjil hanya berbicara tentang kuasa dan keefektifan Iblis.].
Saya
setuju dengan pandangan Calvin ini, karena orang yang kerasukan setan selalu
menunjukkan tanda-tanda tertentu seperti dalam Mark 5:1-13 dsb. Tetapi Yudas
tetap bersikap, bertindak, berkata-kata sebagai orang waras (waras jasmani,
bukan rohani).
Bdk. Mark 5:1-13
- “(1) Lalu sampailah mereka di
seberang danau, di daerah orang Gerasa. (2) Baru saja Yesus turun dari perahu,
datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia. (3)
Orang itu diam di sana dan tidak ada seorangpun lagi yang sanggup mengikatnya,
sekalipun dengan rantai, (4) karena sudah sering ia dibelenggu dan dirantai,
tetapi rantainya diputuskannya dan belenggunya dimusnahkannya, sehingga tidak
ada seorangpun yang cukup kuat untuk menjinakkannya. (5) Siang malam ia
berkeliaran di pekuburan dan di bukit-bukit sambil berteriak-teriak dan memukuli
dirinya dengan batu. (6) Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia
mendapatkanNya lalu menyembahNya, (7) dan dengan keras ia berteriak: ‘Apa
urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan
siksa aku!’ (8) Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: ‘Hai
engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!’ (9) Kemudian Ia bertanya kepada
orang itu: ‘Siapa namamu?’ Jawabnya: ‘Namaku Legion, karena kami
banyak.’ (10) Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir
roh-roh itu keluar dari daerah itu. (11) Adalah di sana di lereng bukit sejumlah
besar babi sedang mencari makan, (12) lalu roh-roh itu meminta kepadaNya,
katanya: ‘Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami
memasukinya!’ (13) Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah
roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua
ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di
dalamnya.”.
Memang
jelas bahwa Yudas tidak kerasukan setan seperti orang Gerasa ini. Dia tidak
mengamuk, memutuskan rantai dan sebagainya.
3. Lalu Yudas ‘kerasukan Iblis’ dalam arti bagaimana?
Dan mengapa diceritakan 2 x kerasukan Iblis?
Dalam
Luk 22:3, sudah diceritakan kalau Yudas kerasukan Iblis.
Luk
22:3-6 - “(3)
Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang
bernama Iskariot, seorang dari kedua belas murid itu. (4) Lalu pergilah Yudas
kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait Allah dan berunding
dengan mereka, bagaimana ia dapat menyerahkan Yesus kepada mereka. (5) Mereka
sangat gembira dan bermupakat untuk memberikan sejumlah uang kepadanya. (6) Ia
menyetujuinya, dan mulai dari waktu itu ia mencari kesempatan yang baik untuk
menyerahkan Yesus kepada mereka tanpa setahu orang banyak.”.
KJV:
‘Then entered Satan into Judas’ [= Maka masuklah Iblis ke dalam
Yudas].
RSV/NASB:
‘Then Satan entered into Judas’ [= Maka Iblis masuk ke dalam Yudas].
NIV:
‘Then Satan entered Judas’ [= Maka Iblis memasuki Yudas].
Lalu
mengapa diceritakan lagi dalam Yoh 13:27 bahwa Yudas kerasukan setan?
Yoh
13:27 - “Dan
sesudah Yudas menerima roti itu, ia
kerasukan Iblis. Maka Yesus berkata kepadanya: ‘Apa yang hendak
kauperbuat, perbuatlah dengan segera.’”.
KJV/RSV/NIV:
‘Satan entered him’ [= Iblis memasukinya].
NASB:
‘Satan then entered him’ [= maka Iblis memasukinya].
Kata
Yunani yang diterjemahkan ‘masuk’ dalam Yoh 13:27 dan Luk 22:3 adalah kata
yang sama. Padahal ini merupakan 2 peristiwa yang berbeda. Luk 22:3 pasti
terjadi lebih dulu, baru Yoh 13:27. Mengapa terjadi 2 x ‘kerasukan’? Dan
kerasukan dalam arti yang bagaimana?
Matthew
Henry (tentang Yoh 13:27): “Was
not Satan in him before? How then is it said that now ‘Satan entered into
him’? Judas was all along a devil (ch. 6:70), a son of perdition, but now
Satan gained a more full possession of him,” [= Bukankah Iblis sudah ada di dalam dia
sebelumnya? Lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa sekarang ‘Iblis masuk ke dalam
dia’? Yudas sudah dari semula seorang setan (pasal 6:70), seorang anak
kebinasaan, tetapi sekarang Iblis mendapatkan
kepemilikan yang lebih penuh atas dia,].
Calvin
(tentang Yoh 13:27): “‘Satan entered into him.’ As
it is certain that it was only at the instigation of Satan that Judas formed the
design of committing so heinous a crime, why is it now said, for the first time,
that ‘Satan
entered into him,’ who had already held the
throne in his heart? But as they who are more fully confirmed in the faith which
they formerly possessed are often said to ‘believe,’ and thus an increase
of their faith is called ‘faith,’
so now that Judas is utterly given up to Satan, ... ‘Satan’ is
said to have ‘entered
into him.’ For as the saints make gradual
progress, and in proportion to the new gifts by which they are continually
enlarged, they are said ‘to be filled with the Holy Spirit;’ so, in
proportion as wicked men provoke the anger of God against themselves by their
ingratitude, the Lord deprives them of his Spirit, of all light of reason, and,
indeed, of all human feeling, and delivers them unreservedly to ‘Satan.’” [= ‘Iblis masuk ke dalam dia’.
Karena adalah pasti bahwa hanya karena hasutan Iblis sehingga Yudas membuat
rancangan untuk melakukan suatu kejahatan yang begitu jahat / menjijikkan, mengapa
sekarang dikatakan, untuk pertama kalinya (?), bahwa ‘Iblis masuk ke dalam
dia’, yang telah menduduki takhta dalam hatinya? Tetapi
seperti mereka yang lebih diteguhkan dalam iman yang sebelumnya telah mereka
miliki sering dikatakan ‘percaya’, dan karena itu suatu peningkatan iman
mereka disebut ‘iman’, begitu juga sekarang pada waktu Yudas diserahkan sama
sekali kepada Iblis, ... ‘Iblis’ dikatakan telah ‘masuk ke dalam dia’.
Karena seperti
orang-orang kudus membuat kemajuan perlahan-lahan, dan sebanding dengan
karunia-karunia baru dengan mana mereka terus menerus ditumbuhkan, mereka
dikatakan ‘dipenuhi dengan Roh Kudus’; demikian juga, sebanding dengan
orang-orang jahat memprovokasi murka Allah terhadap diri mereka sendiri oleh
rasa tidak tahu terima kasih mereka, Tuhan mencabut dari mereka RohNya, semua
terang dari akal, dan bahkan semua perasaan manusia, dan menyerahkan mereka
tanpa batasan kepada ‘Iblis’.].
Saya
menganggap ini sebagai penafsiran yg luar biasa dari Calvin. Dan memang yang dia
katakan benar. Orang-orang berulang kali dikatakan percaya.
a.
Murid-muridNya.
Yoh
1:49-50 - “(49)
Kata
Natanael kepadaNya: ‘Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!’ (50)
Yesus
menjawab, kataNya: ‘Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah
pohon ara, maka engkau percaya? Engkau
akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu.’”.
Yoh 2:11 -
“Hal itu
dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tandaNya
dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaanNya, dan murid-muridNya percaya
kepadaNya.”.
Yoh
6:68-69 - “(68)
Jawab Simon Petrus kepadaNya: ‘Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi?
PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; (69) dan kami telah percaya
dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.’”.
Yoh 16:29-30
- “(29)
Kata murid-muridNya: ‘Lihat, sekarang Engkau terus terang berkata-kata dan
Engkau tidak memakai kiasan. (30) Sekarang kami tahu, bahwa Engkau mengetahui
segala sesuatu dan tidak perlu orang bertanya kepadaMu. Karena itu kami percaya,
bahwa Engkau datang dari Allah.’”.
b.
Orang-orang Samaria.
Yoh
4:39-42 - “(39)
Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepadaNya karena perkataan perempuan itu, yang
bersaksi: ‘Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.’ (40)
Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepadaNya,
supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. (41)
Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya
karena perkataanNya, (42) dan mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami
percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang
kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah
benar-benar Juruselamat dunia.’”.
c.
Pegawai istana.
Yoh
4:49-53 - “(49)
Pegawai istana itu berkata kepadaNya: ‘Tuhan, datanglah sebelum anakku
mati.’ (50) Kata Yesus kepadanya: ‘Pergilah, anakmu hidup!’ Orang itu percaya
akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. (51) Ketika ia
masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa
anaknya hidup. (52) Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai
sembuh. Jawab mereka: ‘Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.’ (53) Maka
teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: ‘Anakmu
hidup.’ Lalu iapun percaya, ia dan
seluruh keluarganya.”.
Hal yang
sama terjadi dengan kasus orang yang dikatakan berulangkali ‘penuh Roh
Kudus’.
a.
Petrus.
Kis 2:4 - “Maka
penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu
mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh
Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”.
Kis 4:8 - “Maka
jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus:
‘Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,”.
Kis 4:31 -
“Dan
ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka
semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah
dengan berani.”.
b.
Stefanus.
Kis 6:5 - “Usul
itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus, seorang
yang penuh iman dan Roh Kudus, dan
Filipus, Prokhorus, Nikanor, Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut
agama Yahudi dari Antiokhia.”.
Kis 7:55 -
“Tetapi
Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus,
menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah
kanan Allah.”.
Demikian
juga dengan Yudas. Dari tadi / semula ia sudah dikuasai Iblis, tetapi sekarang
pada waktu dikatakan ‘ia kerasukan Iblis’,
maka itu hanya menunjukkan penguasaan yang lebih penuh dari Iblis terhadap
Yudas.
Calvin
melanjutkan lagi:
Calvin
(tentang Yoh 13:27): “This
is a dreadful vengeance of God, when men are given up to a reprobate
mind,
(Romans 1:28,) so that they scarcely differ at all from the brutes, and - what
is worse - fall into horrid crimes from which the brutes themselves would
shrink.”
[= Ini merupakan pembalasan yang menakutkan dari Allah, pada waktu orang-orang
diserahkan pada suatu pikiran yang terkutuk, (Ro 1:28), sehingga mereka hampir
tidak berbeda sama sekali dengan binatang, dan yang lebih buruk lagi, jatuh ke
dalam kejahatan-kejahatan yang mengerikan terhadap mana binatang-binatang
sendiri akan mengkerut / menahan diri.].
Ro 1:21-29
- “(21) Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak
memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepadaNya. Sebaliknya pikiran
mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. (22) Mereka
berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. (23)
Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip
dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat
atau binatang-binatang yang menjalar.
(24) Karena itu Allah
menyerahkan mereka kepada keinginan hati
mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. (25)
Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah
makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin.
(26) Karena itu Allah
menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab
isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
(27) Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan
isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain,
sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu
mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
(28) Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada
pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:
(29) penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan,
penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.”.
Bdk. Kis 7:42
- “Maka berpalinglah
Allah dari mereka dan membiarkan
mereka beribadah kepada bala tentara langit, seperti yang tertulis
dalam kitab nabi-nabi: Apakah kamu mempersembahkan kepadaKu korban sembelihan
dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum
Israel?”.
Catatan:
dalam terjemahan bahasa Inggris kata ‘membiarkan’
ini juga diterjemahkan ‘menyerahkan’.
Apakah
ayat-ayat ini harus diartikan bahwa Allah ‘putus asa’ dalam menangani
orang-orang itu, sehingga Ia akhirnya membiarkan / menyerahkan mereka ke dalam
kejahatan / ke dalam tangan setan??? Kelihatannya, Pdt.
Stephen Tong
menafsirkan ayat-ayat itu dengan cara seperti ini. Ia tidak percaya Allah
menentukan dan mengatur terjadinya dosa, tetapi ia percaya bahwa Allah pada
akhirnya ‘membiarkan’ orang-orang itu berbuat dosa.
Tetapi
menurut saya, tafsiran salah seperti ini merendahkan Allah menjadi selevel
dengan manusia, yang kalau menghadapi orang jahat yang sudah tak bisa
diperbaiki, lalu menyerah dan membiarkan orang itu.
Menurut
saya, ayat-ayat ini adalah ayat-ayat yang berbicara dari sudut pandang
manusia, bukan dari sudut pandang Allah. Dari sudut pandang manusia yang
terbatas, memang demikian. Tetapi bagaimana dari sudut pandang Allah?
Kalau kita
membandingkan Firaun dengan Saulus / Paulus, apakah yang satu lebih buruk /
jahat dari yang lain? Tentu tidak. Mereka sama jahatnya. Lalu mengapa yang satu
mengeraskan hati, dan yang lain bertobat? Jelas Alkitab mengatakan Allah
mengeraskan hati Firaun (Kel 4:21)! Paulus adalah orang pilihan Allah (Kis 9:15
Gal 1:15), Firaun bukan (Ro 9:17-18). Itu sebabnya Allah mempertobatkan
Paulus, tetapi membiarkan Firaun!
Dalam
kasus Yudas Iskariot terjadi hal yang sama. Seandainya Allah mau, apakah Allah
tidak mampu mempertobatkan Yudas Iskariot? Tentu saja Ia bisa. Lalu mengapa Ia
tidak melakukannya, tetapi malah Ia membiarkannya? Karena itu bukan rencana /
kehendakNya!!! Jelas ada predestinasi / reprobation di balik semua ini!
Memang
orang yang tidak percaya, biasanya akan makin lama makin memburuk! Selain Yudas
Iskariot, contoh lain adalah raja Saul.
Bdk. 2Tim 3:13
- “sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka
menyesatkan dan disesatkan.”.
Hal ini
berlaku bukan hanya dalam persoalan perbuatan yang makin lama makin
jahat, tetapi juga dalam persoalan pengertian / kepercayaan dan pengajaran
yang makin lama makin sesat.
Jamieson,
Fausset & Brown (tentang 2Tim 3:13):
“‘Deceiving,
and being deceived.’ Beginning with deceiving others, they end with being
deceived themselves.” [= ‘Menipu, dan ditipu’. Mulai
dengan menipu orang-orang lain, berakhir dengan mereka sendiri ditipu.].
Matthew
Henry (tentang 2Tim 3:13): “Observe,
As good men, by the grace of God, grow better and better, so bad men, through
the subtlety of Satan and the power of their own corruptions, grow worse and
worse. The way of sin is down-hill; for such proceed from bad to worse,
‘deceiving and being deceived.’ Those who deceive others do but deceive
themselves; those who draw others into error run themselves into more and more
mistakes, and they will find it so at last, to their cost.” [= Perhatikan, sebagaimana
orang-orang baik / saleh, oleh kasih karunia Allah, bertumbuh makin lama makin
baik, demikian juga orang-orang jahat /
buruk, memalui kelicikan Iblis dan kuasa dari kejahatan-kejahatan mereka
sendiri, bertumbuh makin lama makin buruk. Jalan
dari dosa adalah turun; karena yang seperti itu maju / berjalan dari buruk
menjadi yang lebih buruk, ‘menipu / menyesatkan dan ditipu / disesatkan’.
Mereka yang menipu / menyesatkan orang-orang lain hanyalah menipu / menyesatkan
diri mereka sendiri; mereka yang menarik orang-orang lain ke dalam kesalahan
melarikan diri mereka sendiri ke dalam kesalahan-kesalahan yang makin lama makin
banyak, dan mereka akan mendapatinya demikian pada akhirnya, pada / atas
kerugian mereka.].
Barnes’
Notes (tentang 2Tim 3:13): “This
is the general law of depravity - that if men are not converted, they are always
growing worse, and sinking deeper into iniquity. Their progress will be certain,
though it may be gradual,” [= Ini adalah hukum
yang umum dari kebejatan - bahwa jika orang-orang tidak bertobat, mereka selalu
menjadi lebih buruk, dan tenggelam makin dalam ke dalam kejahatan. Kemajuan
mereka adalah pasti, sekalipun itu bisa terjadi secara bertahap /
perlahan-lahan,].
Calvin
melanjutkan lagi:
Calvin
(tentang Yoh 13:27):
“We
ought, therefore, to walk diligently in the fear of the Lord, lest, if we
overpower his goodness by our wickedness, he at length give us up to the rage
of, Satan.” [= Karena itu, kita harus berjalan dengan tekun dalam rasa takut
akan Tuhan, supaya jangan, jika kita mengalahkan / kebaikanNya dengan
kejahatan kita, akhirnya Ia menyerahkan kita pada kegilaan dari Iblis.].
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali