KEBAKTIAN online
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 2 April 2023, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
kehidupan nabi-nabi palsu(2)
Yudas 8-13(2)
Yudas 8-13 - “(8) Namun demikian orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di sorga. (9) Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’ (10) Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka. (11) Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. (12) Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali. (13) Mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya.”.
Keberanian nabi-nabi palsu itu dalam menghina / menghujat dibandingkan dengan sikap / cara Mikhael dalam hal ini.
Ay 9: “Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’”.
1) ‘Penghulu malaikat’.
NIV/NASB: ‘the archangel’.
Yunani: HO ArchanggeloS.
Kata ARCH berarti chief [= kepala / ketua].
Contoh: ‘archbishop’ = ‘a chief bishop’ [= bishop kepala], ‘a bishop of the highest rank’ [= bishop yang tingkatnya tertinggi].
Istilah archangel ini menunjukkan adanya hierarchy / tingkatan dalam kalangan malaikat.
Demikian juga dalam kalangan setan juga ada hierarchy. Ini terlihat secara implicit dari Mat 25:41 Mat 12:43-45 Mark 9:28-29.
Mat 12:43-45 - “(43) ‘Apabila roh jahat keluar dari manusia, iapun mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian. Tetapi ia tidak mendapatnya. (44) Lalu ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Maka pergilah ia dan mendapati rumah itu kosong, bersih tersapu dan rapih teratur. (45) Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat dari padanya dan mereka masuk dan berdiam di situ. Maka akhirnya keadaan orang itu lebih buruk dari pada keadaannya semula. Demikian juga akan berlaku atas angkatan yang jahat ini.’”.
Mark 9:28-29 - “(28) Ketika Yesus sudah di rumah, dan murid-muridNya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: ‘Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?’ (29) JawabNya kepada mereka: ‘Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa.’”.
Ada yang beranggapan bahwa Mikhael ini menunjuk kepada Yesus / merupakan simbol Yesus. Tetapi ini salah karena:
a) Kata-kata ‘tidak berani menghakimi Iblis’ tidak cocok untuk Yesus.
b) Bahwa Yesus bisa bertengkar dengan Iblis, juga merupakan sesuatu yang merendahkan Yesus. Bandingkan dengan sikap setan terhadap Yesus dalam Mark 5:6-13.
Mark 5:6-13 - “(6) Ketika ia melihat Yesus dari jauh, berlarilah ia mendapatkanNya lalu menyembahNya, (7) dan dengan keras ia berteriak: ‘Apa urusanMu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!’ (8) Karena sebelumnya Yesus mengatakan kepadanya: ‘Hai engkau roh jahat! Keluar dari orang ini!’ (9) Kemudian Ia bertanya kepada orang itu: ‘Siapa namamu?’ Jawabnya: ‘Namaku Legion, karena kami banyak.’ (10) Ia memohon dengan sangat supaya Yesus jangan mengusir roh-roh itu keluar dari daerah itu. (11) Adalah di sana di lereng bukit sejumlah besar babi sedang mencari makan, (12) lalu roh-roh itu meminta kepadaNya, katanya: ‘Suruhlah kami pindah ke dalam babi-babi itu, biarkanlah kami memasukinya!’ (13) Yesus mengabulkan permintaan mereka. Lalu keluarlah roh-roh jahat itu dan memasuki babi-babi itu. Kawanan babi yang kira-kira dua ribu jumlahnya itu terjun dari tepi jurang ke dalam danau dan mati lemas di dalamnya.”.
Jelas bahwa setan sangat takut kepada Yesus sehingga tidak terbayangkan bahwa ia berani ‘bertengkar’ dengan Yesus!
c) Bagian paralel dari ayat ini, yaitu dalam 2Pet 2:11, berkata ‘malaikat-malaikat’.
2Pet 2:11 - “padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah.”.
2) ‘ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa’ (ay 9a).
a) Problem bagian ini.
Bagian ini (dan lebih-lebih ay 14-15) menimbulkan problem besar, sampai-sampai ada orang yang tidak mau menerima surat Yudas ini dalam kanon Kitab Suci gara-gara adanya bagian ini (Catatan: ada yang mengatakan bahwa surat Yudas baru dipastikan masuk ke kanon Alkitab pada abad ke 4). Apa problemnya?
1. Dalam Perjanjian Lama, tidak ada cerita ini.
Ul 34:5-6 memang hanya menceritakan bahwa setelah Musa mati, ia dikuburkan oleh Tuhan di suatu lembah di tanah Moab, dan tidak ada orang yang tahu kuburannya.
Ul 34:5-6 - “(5) Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. (6) Dan dikuburkanNyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini.”.
Tetapi sebetulnya bukan sesuatu yang aneh kalau penulis Perjanjian Baru melengkapi Perjanjian Lama. Contoh-contoh lain:
a. 2Tim 3:8 memberikan nama Yanes dan Yambres, yang dianggap sebagai nama ahli-ahli sihir Mesir, yang tidak ada dalam Kel 7:11.
2Tim 3:8 - “Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.”.
b. Ibr 12:21 mengatakan Musa gemetar dan takut; ini tidak ada dalam Kel 19-20 dan Ul 5.
Ibr 12:21 - “Dan sangat mengerikan pemandangan itu, sehingga Musa berkata: ‘Aku sangat ketakutan dan sangat gemetar.’”.
c. Kis 7:22 yang mengatakan bahwa ‘Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir’, juga melengkapi Perjanjian Lama.
Kis 7:22 - “Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.”.
d. Yak 5:17 mengatakan bahwa Elia berdoa supaya hujan jangan turun, sehingga akhirnya tidak turun hujan selama 3,5 tahun. Ini juga merupakan bagian yang melengkapi cerita tentang Elia dalam 1Raja 17-18.
Yak 5:17 - “Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa, supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan.”.
e. Mirip dengan ini adalah Kis 20:35 dimana Paulus mengutip kata-kata Yesus, yang berbunyi ‘Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima’ yang tidak pernah ada dalam kitab-kitab Injil. Jelas bahwa bagian ini juga harus dianggap sebagai bagian yang melengkapi kitab-kitab Injil.
2. Cerita ini berbau dongeng-dongeng Yahudi.
Tetapi dalam Zakh 3:1-2 juga ada cerita yang seperti ini, dan itu jelas adalah Firman Tuhan. Cerita dalam Ayub 1-2 juga berbau dongeng, tetapi semua orang yang Injili dan Alkitabiah menerimanya bukan sebagai dongeng, tetapi sebagai fakta sejarah dan sebagai Firman Tuhan.
Zakh 3:1-2 - “(1) Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia. (2) Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: ‘TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?’”.
Ayub 1-2 menceritakan dialog antara Tuhan dengan Iblis.
3. William Barclay mengatakan bahwa dalam buku Apocrypha yang berjudul ‘The Assumption of Moses’.
Catatan: sekarang buku ini sudah tidak ada / hanya tersisa sedikit, karena banyak bagian yang hilang - https://www.gotquestions.org/Assumption-of-Moses.html
Dalam buku itu ada cerita bahwa Mikhael diberi tugas untuk menguburkan mayat Musa. Iblis mencoba menghalangi dan menuntut tubuh Musa itu untuk dirinya sendiri.
Persoalannya adalah: apakah Yudas memang menggunakan Apocrypha?
Ada beberapa penafsiran / pandangan tentang hal ini:
a. Yudas memang mengakui otoritas dari Apocrypha sehingga ia lalu mengutipnya.
Keberatan terhadap penafsiran ini: Tidak terbayangkan bahwa ada penulis Kitab Suci yang percaya dan mengutip Apocrypha.
b. Yudas memang mengutip Apocrypha, karena guru-guru palsu dalam ay 4 itu mempercayai otoritas Apocrypha itu. Jadi, sekalipun Yudas sendiri tidak menyetujui Apocrypha, tetapi ia tetap mau menggunakannya demi mempertobatkan mereka.
Illustrasi / analogi: ada orang kristen yang kalau menginjili orang agama lain lalu menggunakan Kitab Suci mereka.
Keberatan terhadap penafsiran ini:
(1) Yudas menuliskan ay 9 ini sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi.
(2) Saat ini Yudas tidak sedang berbicara kepada guru-guru palsu itu, tetapi ia sedang berbicara kepada orang-orang kristen tentang guru-guru palsu itu.
c. Yudas mengutip bagian ini bukan dari Apocrypha, tetapi dari tradisi [= cerita turun temurun dari mulut ke mulut] Yahudi yang beredar saat itu.
Tradisi memang tidak selalu benar, tetapi ada yang benar, dan Yudas mengutip yang benar.
Banyak orang yang berpendapat bahwa pada waktu Paulus menyebutkan nama Yanes dan Yambres (sebagai nama-nama para ahli sihir Mesir) dalam 2Tim 3:8, ia juga mendapatkan nama-nama itu dari tradisi yang beredar.
d. Yudas tidak mengutip dari Apocrypha ataupun tradisi tetapi mendapatkan wahyu ilahi tentang hal ini.
b) Pembahasan bagian ini:
1. Mengapa ada pertengkaran antara Mikhael dengan Iblis karena mayat Musa? Ada sedikitnya 2 pandangan:
a. Karena Musa muncul pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung (Mat 17:3), maka ada orang yang berpendapat bahwa Musa mengalami kebangkitan. Mikhael menjaga mayat Musa supaya tidak busuk, sehingga bisa dibangkitkan, sedangkan Iblis ingin membusukkan mayat Musa itu.
Saya tidak menerima pandangan / tafsiran ini karena:
(1) Kalau Musa dibangkitkan, ia dibangkitkan dengan tubuh apa? Tidak mungkin ia dibangkitkan dengan tubuh kebangkitan / tubuh kemuliaan, karena kalau demikian Kristus tidak bisa dikatakan sebagai yang pertama / yang sulung yang bangkit dari antara orang mati (1Kor 15:20,23 Kol 1:18 Wah 1:5).
(2) Kalau mayat Musa itu busukpun Tuhan tetap bisa membangkitkannya.
b. Kebanyakan orang berpendapat bahwa Tuhan menguburkan mayat Musa sehingga tidak ada orang yang tahu kuburannya, karena Tuhan tidak mau orang Israel menyembah Musa / menjadikan mayat Musa sebagai relics. Dan mungkin sekali karena itu Tuhan lalu menugaskan Mikhael untuk menguburkan dan menjaga mayat Musa itu. Sebaliknya, setan menghendaki mayat Musa itu, supaya bisa ia gunakan untuk menjatuhkan bangsa Israel dalam penyembahan berhala terhadap mayat Musa tersebut.
Kalau ini benar, maka ini menunjukkan bahwa setan sangat ingin menjatuhkan anak-anak Tuhan ke dalam penyembahan berhala! Ingat bahwa penyembahan berhala merupakan dosa yang paling dikutuk / dibenci Tuhan dalam Perjanjian Lama, sehingga tidak aneh kalau setan justru ingin kita jatuh ke dalam dosa itu. Karena itu hati-hatilah dengan:
(1) Pemberhalaan terhadap Kitab Suci (menghormati bukunya), salib Kristus, foto Yesus, patung Yesus dsb.
(2) Pemberhalaan terhadap pendeta / gereja.
(3) Pemberhalaan terhadap roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus.
(4) Pemberhalaan terhadap uang. Kitab Suci 2 x menyebutkan ketamakan / keserakahan sebagai pemberhalaan, yaitu dalam Ef 5:5 dan Kol 3:5, karena hal ini membelokkan cinta, perhatian, penghargaan, kepercayaan (trust) kita dari Allah kepada uang.
Charles Haddon Spurgeon: “Anything becomes an idol when it keeps us away from God:” [= Apapun menjadi berhala kalau hal itu menjauhkan kita dari Allah:] - ‘Morning & Evening’, 16 Oktober, evening.
Karena itu selain uang, waspadai juga TV, hobby, pacar, teman, keluarga / anak, pekerjaan, study, bahkan pelayanan, supaya hal-hal itu tidak menjadi berhala bagi kita, yang menjauhkan kita dari Allah!
Bdk. 1Yoh 5:21 - “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.”.
(5) Kepercayaan yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, seperti takhyul.
(6) Penyembahan kepada Allah tanpa melalui Kristus, seperti yang dilakukan oleh orang beragama lain.
Thomas Manton: “It is idolatry not only to worship false gods in the place of the true God, but to worship the true God in a false manner, and both sorts do gratify the devil.” [= Adalah merupakan penyembahan berhala bukan hanya menyembah allah-allah palsu menggantikan tempat Allah yang benar, tetapi juga menyembah Allah yang benar dengan cara yang palsu / salah, dan kedua jenis penyembahan itu memuaskan setan.] - hal 252.
2. Mikhael berselisih / bertengkar dengan Iblis.
Ada beberapa hal yang perlu dibahas:
a. Yang dimaksud dengan perselisihan / pertengkaran di sini adalah pertengkaran mulut. Kata Yunani yang diterjemahkan ‘perselisihan’ di sini juga digunakan dalam Kis 11:2.
Kis 11:2 - “Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.”.
b. Kitab Suci banyak menceritakan konfrontasi antara Mikhael / malaikat dengan setan:
(1) Daniel 10:12-14,20-21 - “(12) Lalu katanya kepadaku: ‘Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu itu. (13) Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia. (14) Lalu aku datang untuk membuat engkau mengerti apa yang akan terjadi pada bangsamu pada hari-hari yang terakhir; sebab penglihatan ini juga mengenai hari-hari itu.’ ... (20) Lalu katanya: ‘Tahukah engkau, mengapa aku datang kepadamu? Sebentar lagi aku kembali untuk berperang dengan pemimpin orang Persia, dan sesudah aku selesai dengan dia, maka pemimpin orang Yunani akan datang. (21) Namun demikian, aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran. Tidak ada satupun yang berdiri di pihakku dengan tetap hati melawan mereka, kecuali Mikhael, pemimpinmu itu,”.
(2) Zakh 3:1-2 - “(1) Kemudian ia memperlihatkan kepadaku imam besar Yosua berdiri di hadapan Malaikat TUHAN sedang Iblis berdiri di sebelah kanannya untuk mendakwa dia. (2) Lalu berkatalah Malaikat TUHAN kepada Iblis itu: ‘TUHAN kiranya menghardik engkau, hai Iblis! TUHAN, yang memilih Yerusalem, kiranya menghardik engkau! Bukankah dia ini puntung yang telah ditarik dari api?’”.
(3) Wah 12:7-9 - “(7) Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, (8) tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga. (9) Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”.
c. Seringkali kita juga harus bertengkar demi Tuhan (bukan berkelahi secara fisik!).
Bdk. Mat 10:34-36 - “(34) ‘Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. (35) Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, (36) dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.”.
Orang kristen yang memang mempunyai jiwa pengecut, atau tidak mempunyai semangat yang cukup untuk mau geger demi Tuhan, seringkali menggunakan istilah ‘cinta damai’ sebagai kedok, tetapi bahwa ini jelas merupakan hal yang salah, terbukti dari teladan Mikhael di sini!
3) “tidak berani menghakimi Iblis dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: ‘Kiranya Tuhan menghardik engkau!’” (ay 9b).
a) ‘tidak berani menghakimi Iblis dengan kata-kata hujatan’.
1. ‘menghakimi Iblis dengan kata-kata hujatan’.
NIV: ‘to bring a slanderous accusation against him’ [= memberikan tuduhan yang bersifat fitnah terhadapnya].
NASB: ‘pronounce against him a railing judgment’ [= menyatakan terhadapnya suatu penghakiman yang pahit / mencela].
KJV: ‘bring against him a railing accusation’ [= memberikan tuduhan yang pahit / mencela terhadapnya].
RSV: ‘to pronounce a reviling judgment upon him’ [= menyatakan suatu penghakiman yang mencela / memaki-maki kepadanya].
Thomas Manton menafsirkan bahwa ini menunjukkan bahwa Mikhael tidak mau menggunakan kata-kata yang kasar pada waktu marah.
2. Kalau tadi kita lihat bahwa demi Tuhan Mikhael berani geger / bertengkar, maka sekarang kita melihat ia tidak berani melakukan hal yang kelewat batas dalam gegeran itu. Ia tidak berani melakukan hal itu bukan karena ia takut kepada Iblis, tetapi karena ia takut kepada Allah. Jadi, pada waktu gegeran dengan Iblis, Mikhael bukan hanya memperhatikan Iblis, tetapi memperhatikan Allah! Boleh dikatakan bahwa Mikhael punya motto: ‘Jangan bertindak brengsek terhadap orang brengsek!’.
3. Sikap Mikhael ini kontras sekali dengan sikap guru-guru palsu / orang-orang kristen KTP yang dibicarakan oleh Yudas itu, yang begitu berani dalam melakukan hujatan (ay 8,10).
Penerapan: Kita tidak boleh meniru orang-orang brengsek ini, sebaliknya kita harus meniru Mikhael. Dalam geger demi Tuhan, kita harus tetap memandang kepada Tuhan, dan tahu batasnya, misalnya:
a. Jangan sampai berkelahi.
b. Jangan sampai melontarkan kata-kata kotor / makian.
c. Jangan berdusta / memfitnah.
Thomas Manton: “The God of peace will not be served with a wrathful spirit, and Christ’s warfare needeth no carnal weapons.” [= Allah perdamaian tidak akan dilayani dengan roh kemarahan, dan perang Kristus tidak membutuhkan senjata yang bersifat daging / jasmani.] - hal 259.
Kalau dalam gegeran yang dilakukan demi Tuhan saja kita tidak boleh melakukan hal-hal ini, lebih-lebih dalam gegeran yang bukan demi Tuhan!
b) ‘tetapi berkata: Kiranya Tuhan menghardik engkau!’.
1. Ini menunjukkan bahwa Mikhael tetap mengeluarkan kata-kata yang menyerang / mengecam Iblis, tetapi dalam batas yang diijinkan. Jadi, Kitab Suci mengijinkan penggunaan kata-kata keras terhadap orang-orang sesat / jahat (bdk. Mat 3:7 Mat 23:13-36 Luk 13:32 Gal 1:6-9 Fil 3:2).
Mat 3:7 - “Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ‘Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?”.
Mat 23:15,17,33 - “(15) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. ... (17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? ... (33) Hai kamu ular-ular, hai kamu keturunan ular beludak! Bagaimanakah mungkin kamu dapat meluputkan diri dari hukuman neraka?”.
Luk 13:32 - “Jawab Yesus kepada mereka: ‘Pergilah dan katakanlah kepada si serigala itu: Aku mengusir setan dan menyembuhkan orang, pada hari ini dan besok, dan pada hari yang ketiga Aku akan selesai.”.
Gal 1:8-9 - “(8) Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. (9) Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.”.
Fil 3:2 - “Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,”.
2. Kata-kata ini juga menunjukkan bahwa Mikhael menyerahkan penghakiman terhadap Iblis itu kepada Allah (bdk. Ro 12:19 Yak 4:11-12).
Ro 12:19 - “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.”.
Yak 4:11-12 - “(11) Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. (12) Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali