Eksposisi Injil Yohanes

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


Yohanes 17:1-5

Pendahuluan.

William Hendriksen: “Is this prayer a model for our prayers? In a certain sense it is; for example, this prayer indicates that the glory of God should be the purpose of our petitions; also, it shows that we should pray not only for ourselves but also for others. Nevertheless, in an even deeper sense, this prayer of the great Highpriest, Jesus Christ, can never become a model for our prayers. It is altogether unique. Of this prayer Jesus never said, ‘After this manner you must pray.’” [= Apakah doa ini merupakan suatu model / contoh untuk doa-doa kita? Dalam arti tertentu memang demikian; sebagai contoh, doa ini menunjukkan bahwa kemuliaan Allah harus merupakan tujuan dari permintaan-permintaan kita; juga doa ini menunjukkan bahwa kita harus berdoa bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang-orang lain. Tetapi dalam arti yang lebih dalam, doa dari Imam Besar Yesus Kristus ini tidak pernah bisa menjadi suatu model / contoh untuk doa-doa kita. Doa ini sama sekali unik. Tentang doa ini Yesus tidak pernah berkata: ‘Menurut cara ini engkau harus berdoa’ (bdk. Mat 6:9)] - hal 347.

Salah satu keunikan yang tidak mungkin ditiru adalah: doa ini tidak mencakup pengakuan dosa, tetapi sebaliknya menunjukkan kesadaran Kristus bahwa Ia telah mentaati Bapa secara sempurna (ay 4).

Dalam ay 1-5 Kristus berdoa untuk diriNya sendiri.

Ay 1: “Demikianlah kata Yesus. Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: ‘Bapa, telah tiba saatnya; permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau”.

1)   ‘Demikianlah kata Yesus’.

Ini membicarakan apa yang Ia katakan dalam pasal sebelumnya.

2)   “Lalu Ia menengadah ke langit dan berkata: ‘Bapa, ...”.

a)   Doa ini dinaikkan setelah Ia selesai mengajar.

Calvin: “Now he most properly betakes himself to prayer; for doctrine has no power, if efficacy be not imparted to it from above. He, therefore, holds out as an example to teachers, not to employ themselves only in sowing the word, but, by mingling their prayers with it, to implore the assistance of God, that his blessing may render their labour fruitful” (= Sekarang Ia secara benar berdoa; karena ajaran tidak mempunyai kuasa, jika kuasa untuk menghasilkan keefektifan tidak diberikan dari atas. Karena itu Ia terus menjadi suatu teladan bagi pengajar-pengajar, untuk tidak memakai diri mereka sendiri saja dalam menaburkan firman, tetapi dengan mencampur doa mereka dengan firman itu, meminta pertolongan Allah, supaya berkatNya bisa membuat pekerjaan mereka berbuah) - hal 163.

Penerapan:

Semua pemberita Firman Tuhan, baik pendeta, penginjil, dosen theologia, guru agama, guru Sekolah Minggu, ataupun penginjil pribadi, harus banyak berdoa untuk orang-orang yang mereka layani, karena tanpa itu tidak akan ada buah pelayanan. Ini juga berlaku untuk pelayanan yang lain seperti koor / paduan suara, vocal group, pengurus komisi, majelis, dan bahkan untuk pelayanan yang sederhana seperti mengajak orang ke gereja. Apakah saudara berdoa untuk orang-orang yang saudara layani?

b)   ‘Lalu Ia menengadah ke langit’.

KJV: ‘and lifted up his eyes to heaven’ (= dan mengangkat mataNya ke surga).

·        mengapa Yesus menengadah ke langit / surga?

Bandingkan dengan kalimat pertama dari Doa Bapa Kami: ‘Bapa kami yang di sorga. Sekalipun Allah itu maha ada / tak terbatas tempat, tetapi surga adalah tempat dimana Ia paling hadir / menyatakan diriNya dengan paling mulia (Poole, hal 367). Bandingkan dengan Maz 123:1-2 - “KepadaMu aku melayangkan mataku, ya Engkau yang bersemayam di sorga. Lihat, seperti mata para hamba laki-laki memandang kepada tangan tuannya, seperti mata hamba perempuan memandang kepada tangan nyonyanya, demikianlah mata kita memandang kepada TUHAN, Allah kita, sampai Ia mengasihani kita”.

Calvin: “He looked towards heaven, not as if God’s presence were confined to heaven, for he filleth also the earth, (Jer. 23:24,) but because it is there chiefly that his majesty is displayed. Another reason was, that by looking towards heaven, we are reminded that the majesty of God is far exalted above all creatures” [= Ia memandang ke surga, bukan seakan-akan kehadiran Allah dibatasi di surga, karena Ia juga memenuhi bumi (Yer 23:24), tetapi karena di sanalah keagunganNya ditunjukkan secara terutama. Alasan yang lain adalah bahwa dengan memandang ke surga, kita diingatkan bahwa keagungan dari Allah jauh ditinggikan di atas semua ciptaan] - hal 163.

Calvin juga menambahkan bahwa orang berdoa dengan tangan terangkat, tujuannya juga sama dengan ini.

·        Tetapi bagaimanapun, sikap / posisi tubuh seperti ini (menengadah ke langit) bukanlah suatu keharusan, dan ini terlihat dari:

¨       pada kesempatan yang lain Yesus berdoa dengan bersujud (Mat 39:26) atau merebahkan diri ke tanah (Mark 14:35).

Mat 39:26 (KJV): ‘fell on his face’ (= jatuh pada mukaNya).

¨       pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus tentang 2 orang yang pergi ke Bait Allah untuk berdoa, tidak berani menengadah ke langit (Luk 18:13), tetapi doanya dikabulkan oleh Allah. Tetapi Calvin membandingkan sikap Yesus dalam doa dengan sikap pemungut cukai dalam Luk 18:13, dan mengatakan:

“But it was proper that Christ should pray in a different manner, for he had nothing about him of which he ought to be ashamed; and it is certain that David himself prayed sometimes in one attitude, and sometimes in another, according to the circumstances in which he was placed” (= Tetapi adalah benar bahwa Kristus berdoa dengan cara yang berbeda, karena Ia tidak mempunyai apapun tentang diriNya tentang mana Ia harus merasa malu; dan adalah pasti bahwa Daud sendiri kadang-kadang berdoa dengan sikap tertentu, dan kadang-kadang dengan sikap yang lain, sesuai dengan keadaan dalam mana Ia diletakkan) - hal 164.

·        Yang terpenting dalam berdoa bukanlah posisi tubuh secara lahiriah, tetapi sikap hati! Matthew Poole menganggap bahwa posisi tubuh secara lahiriah tidak harus mengikuti sikap hati, tetapi Calvin berpendapat sebaliknya.

Matthew Poole: “The lifting up of the soul to God, wherein the main and spiritual part of prayer lies, doth not necessarily require the lifting up of the eyes” (= Mengangkat jiwa kepada Allah, dalam mana bagian yang utama dan rohani dari doa terletak, tidak mengharuskan kita untuk mengangkat mata / menengadah) - hal 367.

Calvin: “if we desire actually to imitate Christ, we must take care that outward gestures do not express more than is in our mind, but that the inward feeling shall direct the eyes, the hands, the tongue, and every thing about us” (= jika kita ingin betul-betul meniru Kristus, kita harus berhati-hati supaya sikap lahiriah tidak menyatakan lebih dari pada yang ada dalam pikiran, tetapi bahwa perasaan di dalam akan mengarahkan mata, tangan, lidah, dan segala sesuatu tentang kita) - hal 164.

3)   ‘Bapa, telah tiba saatnya’.

a)   Yang Ia maksudkan adalah saat untuk mati.

Matthew Poole: “that is, the hour of my passion, the time wherein thou hast determined that I should die” (= yaitu, saat penderitaanKu, saat dimana Engkau telah menentukan bahwa Aku harus mati) - hal 367.

b)   Ini menunjukkan bahwa setiap hal dalam kehidupan Yesus, bahkan setiap peristiwa dalam sejarah, telah ditetapkan saatnya.

William Hendriksen: “The expression, ‘The hour has arrived’ shows once more that Jesus is conscious of the fact that for every event in the mighty drama of redemption (yes and for every event that ever takes place in history) there is a stipulated moment in the eternal decree” [= Ungkapan ‘telah tiba saatnya’ menunjukkan sekali lagi bahwa Yesus sadar akan fakta bahwa untuk setiap peristiwa dalam drama penebusan yang hebat itu (ya dan untuk setiap peristiwa yang pernah terjadi dalam sejarah) ada saat yang ditetapkan dalam ketetapan kekal] - hal 348.

4)   ‘permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau’.

a)   ‘permuliakanlah AnakMu’.

·        Poole (hal 367) beranggapan bahwa di sini Yesus meminta Bapa memuliakan diriNya dengan cara membangkitkanNya dari kematian, lalu menaikkanNya ke surga, atau dengan menolongNya untuk bisa meminum cawan murka Allah.

·        F. F. Bruce (hal 329) mengatakan bahwa berbeda dengan banyak orang lain, Yesus mencari kemuliaan / hormat hanya dari Allah.

Bandingkan dengan:

*        Yoh 5:44 - “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?”.

*        Yoh 5:41 - “Aku tidak memerlukan hormat dari manusia”.

·        Sekalipun kemuliaan Anak jelas merupakan ketetapan Allah, tetapi Kristus tetap berdoa untuk hal itu.

Calvin: “the object of Christ’s prayer, that his death may produce, through the power of the Heavenly Spirit, such fruit as had been decreed by the eternal purpose of God; for he says that the hour is come, not an hour which is determined by the fancy of men, but an hour which God had appointed. And yet the prayer is not superfluous, because, while Christ depends on the good pleasure of God, he knows that he ought to desire what God promised would certainly take place. True, God will do whatever he has decreed, not only though the whole world were asleep, but though it were opposed to him; but it is our duty to ask from him whatever he has promised, because the end and use of promises is to excite us to prayer” (= tujuan doa Kristus adalah supaya kematianNya bisa menghasilkan, melalui kuasa dari Roh surgawi, buah sedemikian rupa seperti yang telah ditetapkan oleh rencana kekal Allah; karena Ia berkata bahwa ‘saatnya telah tiba’, bukan saat yang ditentukan oleh kesukaan manusia, tetapi saat yang telah ditetapkan oleh Allah. Dan doa itu tidaklah berlebihan / tak berguna, karena sementara Kristus bergantung pada kerelaan kehendak Allah, Ia tahu bahwa Ia harus menginginkan apa yang Allah janjikan pasti akan terjadi. Memang benar, Allah akan melakukan apapun yang telah Ia tetapkan, bukan hanya sekalipun seluruh dunia tidur, tetapi juga sekalipun seluruh dunia menentangNya; tetapi merupakan kewajiban kita untuk meminta dari Dia apapun yang Ia janjikan, karena tujuan dan kegunaan dari janji-janji adalah untuk menggerakkan kita untuk berdoa) - hal 164-165.

Dari kata-kata ini terlihat bahwa sekalipun Calvin mempercayai kedaulatan / penetapan Allah, tetapi ia tidak pernah menganjurkan atau membenarkan sikap apatis / pasif, tetapi sebaliknya ia tetap menekankan tanggung jawab manusia.

Penerapan:

*        sekalipun kita tahu bahwa setan sudah ditetapkan untuk dihukum (Mat 8:29  Yudas 6), tetapi kita tetap harus berjuang melawannya dan berdoa untuk menentang segala pekerjaannya.

*        sekalipun Allah berjanji mencukupi kebutuhan hidup kita (Mat 6:25-34) tetapi kita tetap wajib berdoa untuk itu (Mat 6:11).

*        sekalipun kita tahu bahwa kita tidak bisa kehilangan keselamatan kita (Yoh 10:27-29), kita tetap harus berjuang dengan takut dan gentar (Fil 2:12).

b)   ‘supaya AnakMu mempermuliakan Engkau’.

·        dari kalimat ini terlihat bahwa kalimat sebelumnya tidak menunjukkan suatu keegoisan dalam diri Yesus.

William Hendriksen: “When Jesus adds, ‘that the Son may glorify thee,’ he shows that his prayer is not a selfish prayer. Jesus wants to be glorified in order that by means of this glory he may glorify the Father” (= Pada waktu Yesus menambahkan: ‘supaya AnakMu mempermuliakan Engkau’, Ia menunjukkan bahwa doaNya bukanlah merupakan doa yang egois. Yesus menginginkan untuk dipermuliakan supaya melalui kemuliaanNya Ia bisa mempermuliakan Bapa) - hal 349.

Penerapan:

Kita boleh saja berdoa supaya mendapatkan penghasilan yang lebih besar, jabatan yang lebih tinggi, gelar yang lebih hebat, selama kita tidak meminta hal-hal itu semata-mata demi kemuliaan diri kita sendiri, tetapi kita ingin supaya melalui semua itu kita bisa lebih memuliakan Allah. Ingat bahwa ‘memuliakan Allah’ harus menjadi tujuan hidup setiap orang (1Kor 10:31).

·        ada hubungan timbal balik antara kemuliaan Yesus dan kemuliaan Bapa.

Dari kata-kata ‘permuliakanlah AnakMu, supaya AnakMu mempermuliakan Engkau’, terlihat adanya hubungan timbal balik antara pemuliaan Anak dan pemuliaan Bapa. Karena itu kalau Kristus dimuliakan, itu bukannya mengecilkan kemuliaan Bapa, tetapi sebaliknya juga memuliakan Bapa.

Ay 2: “Sama seperti Engkau telah memberikan kepadaNya kuasa atas segala yang hidup, demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya”.

1)   ‘Sama seperti Engkau telah memberikan kepadaNya kuasa atas segala yang hidup’.

Ini mencakup semua orang, dan bukan hanya orang-orang yang percaya atau orang-orang pilihan. Yesus memang berkuasa atas segala sesuatu dan atas semua orang, bahkan yang tidak percaya, dan yang ditetapkan untuk binasa (reprobate).

2)   ‘demikian pula Ia akan memberikan hidup yang kekal kepada semua yang telah Engkau berikan kepadaNya’.

Berbeda dengan kalimat di atas, maka kalimat ini hanya mencakup orang pilihan.

William Hendriksen: “Jesus is thinking of all those who have been given to him in the eternal decree of election” (= Yesus sedang memikirkan semua mereka yang telah diberikan kepadaNya dalam ketetapan pemilihan yang kekal) - hal 350.

Calvin: “it is not the office of Christ to give life to all, but only to the elect whom the Father has committed to his protection” (= bukanlah tugas Kristus untuk memberikan kehidupan kepada semua orang, tetapi hanya kepada orang-orang pilihan yang telah dipercayakan / diserahkan oleh Bapa kepada perlindunganNya) - hal 168.

3)   Seluruh kalimat ini mengkontraskan ‘semua orang’ (ay 2a) dengan ‘orang-orang pilihan’ (ay 2b).

Calvin: “So then, the kingdom of Christ extends, no doubt, to all men; but it brings salvation to none but the elect” (= Jadi, tak diragukan lagi bahwa kerajaan Kristus menjangkau semua orang; tetapi itu membawa keselamatan tidak kepada siapapun selain orang-orang pilihan) - hal 165-166.

Barnes’ Notes: “God has a plan in all he does, extending to men as well as to other objects. One part of his plan was that the atonement of Christ should not be in vain. ... It is to be observed here that the Saviour, in this prayer, makes an important distinction between ‘all flesh,’ and those who were ‘given him.’ He has power over all. He can control, direct, restrain them. Wicked men are so far under his universal dominion, and so far restrained by his power, that they shall not be able to prevent his bestowing redemption on those who were given him, i.e., all who will believe on him” (= Allah mempunyai suatu rencana dalam semua yang Ia lakukan, dan rencana ini menjangkau manusia maupun hal-hal yang lain. Sebagian dari rencanaNya adalah bahwa penebusan Kristus tidak boleh menjadi sia-sia. ... Harus diperhatikan di sini bahwa sang Juruselamat, dalam doa ini, membuat suatu pembedaan yang penting antara ‘semua manusia’ dan mereka yang ‘diberikan kepadaNya’. Ia mempunyai kuasa atas semua. Ia bisa mengontrol, mengarahkan, mengekang mereka. Orang-orang jahat berada di bawah kuasa universalNya sedemikian rupa, dan dikekang oleh kuasaNya sedemikian rupa, sehingga mereka tidak akan bisa mencegahNya untuk memberikan penebusanNya kepada mereka yang diberikan kepadaNya, yaitu semua orang yang akan percaya kepadaNya) - hal 345.

Ay 3: ‘Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus’.

1)   Kata ‘mengenal’ sebetulnya adalah ‘tahu’ / ‘mengetahui’.

Jadi ayat ini menunjukkan betapa pentingnya ‘pengetahuan rohani’ yang benar tentang Allah / Yesus Kristus. Bandingkan dengan:

·        Yer 4:22 - “Sungguh, bodohlah umatKu itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu”.

·        Hos 4:6 - “UmatKu binasa karena tidak mengenal Allah; karena engkaulah yang menolak pengenalan itu maka Aku menolak engkau menjadi imamKu; dan karena engkau melupakan pengajaran Allahmu, maka Aku juga akan melupakan anak-anakmu”.

·        Mat 22:29 - “Yesus menjawab mereka: ‘Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!”.

·        Fil 3:7-11 - “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan. Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya dan persekutuan dalam penderitaanNya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematianNya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati”.

Tetapi perlu dicamkan, bahwa pengetahuan yang memberikan hidup yang kekal itu bukanlah sekedar pengetahuan intelektual, tetapi disertai dengan iman dan kasih. Karena itu Kitab Suci Indonesia menterjemahkan dengan kata ‘mengenal’.

2)   Ayat ini tidak berarti bahwa kita harus mengikuti urut-urutannya yaitu mengenal Allah dulu dan baru setelah itu mengenal Yesus Kristus.

Calvin: “The reason why he says this is, that there is no other way in which God is known but in the face of Jesus Christ, who is the bright and lively image of Him. As to his placing the Father first, this does not refer to the order of faith, as if our minds, after having known God, afterwards descend to Christ; but the meaning is, that it is by the intervention of a Mediator that God is known” (= Alasan mengapa Ia mengatakan hal ini adalah bahwa tidak ada jalan dalam mana Allah dikenal kecuali dalam wajah dari Yesus Kristus, yang adalah gambarNya yang terang dan hidup. Bahwa Bapa ditempatkan di tempat pertama, ini tidak menunjuk pada urut-urutan iman, seakan-akan pikiran kita, setelah mengenal Allah, setelah itu turun kepada Kristus; tetapi artinya adalah: bahwa oleh campur tangan seorang Pengantaralah Allah dikenal) - hal 166.

3)   ‘satu-satunya Allah yang benar’.

Adam Clarke: “What is said here of the only true God seems said in opposition to the gods whom the heathens worshipped; not in opposition to Jesus Christ himself, who is called the true God by John, in 1 Epist. 5:20.” (= Apa yang dikatakan di sini tentang satu-satunya Allah yang benar kelihatannya dikatakan untuk mengkontraskan dengan allah-allah / dewa-dewa yang disembah oleh orang-orang kafir; bukan untuk mengkontraskan dengan Yesus Kristus sendiri, yang disebut ‘Allah yang benar’ oleh Yohanes dan 1Yoh 5:20) - hal 637.

1Yoh 5:20 - “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”.

Ay 4: “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaKu untuk melakukannya”.

1)   Yesus menyelesaikan tugas / pekerjaanNya.

Calvin: “Nor does he speak only of the office of teaching, but includes also the other parts of his ministry; for, though the chief part of it still remained to be accomplished, namely, the sacrifice of death, by which he was to take away the iniquities of us all, yet, as the hour of his death was already at hand, he speaks as if he had already endured it” (= Ia tidak berbicara hanya tentang tugas pengajaranNya, tetapi juga mencakup bagian-bagian lain dari pelayananNya; karena, sekalipun bagian yang terutama dari pelayananNya masih tetap belum tercapai / diselesaikan, yaitu korban kematian, dengan mana Ia mengambil kejahatan-kejahatan kita semua, tetapi karena saat kematianNya sudah dekat, Ia berbicara seakan-akan Ia telah mengalamiNya) - hal 168.

Saya berpendapat bahwa kata-kata Calvin ini juga berlaku untuk kata-kata ‘sudah selesai’ (Yoh 19:30) di atas kayu salib, yang Ia ucapkan sebelum Ia mengalami kematian.

2)   Dengan menyelesaikan tugas / pekerjaanNya itu Yesus memuliakan Allah.

Setiap orang kristen / anak Tuhan juga mempunyai tugas yang Allah ingin mereka lakukan.

Ef 2:10 - “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.

Kita harus meniru Kristus dengan memuliakan Allah melalui penyelesaian tugas kita tersebut.

Ay 5: “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada”.

1)   Sebelum dunia ada / diciptakan, Kristus sudah memiliki kemuliaan.

a)   Ini menunjukkan bahwa Kristus itu kekal dan Ia adalah Allah sendiri.

Matthew Poole: “Christ was glorified with his Father before the world was, which he could not have been if he had not been eternal God” (= Kristus dipermuliakan dengan BapaNya sebelum dunia ada, dan ini tidak mungkin bisa terjadi seandainya Ia bukanlah Allah yang kekal) - hal 368.

b)   Selain menunjukkan kekekalan Kristus, ini juga menunjukkan perbedaan antara pribadi Bapa dan Anak.

Calvin: “This is a remarkable passage, which teaches us that Christ is not a God who has been newly contrived, or who has existed only for a time; for if his glory was eternal, himself also has always been. Besides, a manifest distinction between the person of Christ and the person of the Father is here expressed” (= Ini merupakan text yang luar biasa, yang mengajar kita bahwa Kristus bukanlah suatu Allah yang baru dibuat / ditemukan, atau yang ada hanya untuk suatu saat; karena jika kemuliaanNya kekal, maka Ia sendiri juga selalu demikian. Disamping itu, di sini dinyatakan suatu perbedaan yang jelas antara pribadi dari Kristus dan pribadi dari Bapa) - hal 169.

Ini sesuai dengan Pengakuan Iman Athanasius No 5: “Karena pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari Roh Kudus adalah pribadi yang lain”.

c)   Bandingkan pandangan tentang kekekalan Kristus ini dengan kata-kata Servetus, yang pada tahun 1531 menerbitkan buku yang berjudul ‘Errors on the Trinity’ [= Kesalahan-kesalahan pada (doktrin) Tritunggal], dimana ia menyerang baik doktrin Allah Tritunggal, yang ia sebut sebagai monster berkepala tiga, maupun keilahian kekal dari Kristus. Ia lalu dihukum mati dengan dibakar karena kesesatannya.

Philip Schaff: “In the last moment he is heard to pray, in smoke and agony, with a loud voice: ‘Jesus Christ, thou Son of the eternal God, have mercy upon me!’. This was at once a confession of his faith and of his error. He could not be induced, says Farel, to confess that Christ was the eternal Son of God (= Pada saat terakhir terdengar ia berdoa, dalam asap dan penderitaan yang hebat, dengan suara keras: ‘Yesus Kristus, Engkau Anak dari Allah yang kekal, kasihanilah aku!’. Ini sekaligus merupakan pengakuan imannya dan kesalahannya. Ia tidak bisa dibujuk, kata Farel, untuk mengaku bahwa Kristus adalah Anak yang kekal dari Allah) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VIII, hal 785.

2)   Calvin menganggap bahwa doa Kristus supaya diriNya dipermuliakan ini menunjuk pada pemuliaan Kristus pada kedatanganNya yang keduakalinya (bdk. Fil 2:10).



 

-AMIN-


e-mail us at [email protected]