Eksposisi Injil Yohanes

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


Yohanes 16:1-4

Leon Morris mengawali tafsirannya tentang ay 1-4 ini dengan berkata:

“The work of the Holy Spirit in the church is done in the context of persecution. The Spirit is not a guide and a helper for those on a straight way perfectly able to manage on their own. He comes to assist men caught up in the thick of battle, and tried beyond their strength. Jesus makes it quite plain that the way before His followers is a hard and a difficult way” (= Pekerjaan Roh Kudus dalam gereja dilakukan dalam kontex penganiayaan. Roh Kudus bukanlah seorang pemandu / penunjuk jalan dan seorang penolong untuk mereka pada suatu jalan lurus dimana mereka sendiri bisa secara sempurna mengurus / mengatur diri mereka. Ia datang untuk menolong manusia yang terperangkap dalam peperangan yang sengit, dan berusaha melampaui kekuatan mereka. Yesus membuatnya jelas bahwa jalan di depan para pengikutNya adalah jalan yang berat dan sukar) - hal 692.

Karena itu, kalau saudara justru sedang menghadapi banyak bahaya / problem / penderitaan, saudara harus minta pertolongan dan pimpinan dari Roh Kudus.

Ay 1: “Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku”.

1)   ‘Semuanya ini Kukatakan kepadamu’.

Yang dimaksud dengan ‘semuanya ini’ adalah Yoh 15:18-25 tentang dunia yang akan membenci dan menganiaya para murid.

2)   ‘supaya kamu jangan kecewa dan menolak Aku’.

KJV: ‘that ye should not be offended’ (= supaya kamu tidak sakit hati / tersinggung).

RSV: ‘to keep you from falling away’ (= untuk menjaga engkau dari kemurtadan).

NASB: ‘that you may be kept from stumbling’ (= supaya engkau bisa dijaga sehingga tidak tersandung).

NIV: ‘so that you will not go astray’ (= supaya engkau tidak tersesat).

Mungkin terjemahan NASB adalah yang paling hurufiah.

3)   Apa yang harus dilakukan supaya tidak tersandung pada saat penderitaan / penganiayaan datang?

Calvin: “since wars and contest await them, it is necessary that they should be provided beforehand with the necessary arms. ... if they meditate deeply on this doctrine, they will be fully prepared for resistance. ... Christ does not send his followers into the field unarmed, and, therefore, that, if any man fail in this warfare, his own indolence alone is to blame” (= karena perang dan pertandingan menunggu mereka, maka mereka harus diperlengkapi sebelumnya dengan senjata yang diperlukan. ... jika mereka merenungkan doktrin ini secara mendalam, mereka akan disiapkan sepenuhnya untuk bertahan. ... Kristus tidak mengirimkan pengikut-pengikutNya ke lapangan tanpa senjata, dan karena itu jika seseorang jatuh dalam peperangan ini, yang harus disalahkan hanyalah kelambanannya) - hal 132.

Dan Thomas Whitelaw mengatakan:

“Even the most advanced of Christ’s followers are in danger of stumbling” (= Bahkan orang yang paling maju dari pengikut-pengikut Kristus ada dalam bahaya tersandung) - hal 344.

Jadi, sekalipun saudara adalah orang yang rajin merenungkan Firman Tuhan, saudara tetap harus sangat waspada, banyak berdoa, supaya tidak tersandung, pada waktu penderitaan / penganiayaan datang.

4)   Bagian ini menunjukkan bahwa ‘ajaran yang penuh berkat’ yang jaman sekarang begitu populer adalah ajaran yang membahayakan. Mengapa? Karena pada saat penderitaan dan penganiayaan muncul, maka mereka menjadi kecewa dan menolak Yesus. Pada waktu Yesus mengajar, Ia tidak hanya mengajar tentang berkat, tetapi juga tentang penderitaan dan penganiayaan, supaya kita disiapkan untuk menghadapi hal-hal itu.

Ay 2: “Kamu akan dikucilkan, bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah”.

1)   ‘kamu akan dikucilkan’.

Kata Yunaninya adalah APOSUNAGOGOUS.

NIV: ‘They will put you out of the synagogue’ (= Mereka akan mengeluarkan kamu dari sinagog).

Bdk. Yoh 9:22 dan Yoh 12:42 yang menggunakan kata yang sama.

Calvin: “though they be banished from the synagogues, still they remain within the kingdom of God” (= sekalipun mereka dibuang dari sinagog-sinagog, mereka tetap tinggal di dalam Kerajaan Allah) - hal 133.

Calvin: “we ought not to be dismayed by the perverse judgments of men, but ought to endure boldly the reproach of the cross of Christ, satisfied with this single consideration, that our cause, which men unjustly and wickedly condemn, is approved by God” (= kita tidak seharusnya berkecil hati oleh penghakiman yang menyimpang dari manusia, tetapi harus menahan secara berani celaan salib Kristus, puas dengan satu pertimbangan ini, bahwa perkara kita, yang dikecam secara tak benar / tak adil dan jahat oleh manusia, direstui oleh Allah) - hal 133.

Bdk. 1Kor 4:3-4 - “Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan”.

NIV: ‘I care very little if I am judged by you or by any human court; indeed, I do not even judge myself. My conscience is clear, but that does not make me innocent. It is the Lord who judges me’ (= Aku tidak peduli jika aku dihakimi oleh kamu atau oleh pengadilan manusia manapun; bahkan aku tidak menghakimi diriku sendiri. Hati nuraniku murni, tetapi itu tidak membuatku tidak bersalah. Adalah Tuhan yang menghakimi aku).

NASB: ‘But to me it is a very small thing that I should be examined by you, or by any human court; in fact, I do not even examine myself. For I am conscious of nothing against myself, yet I am not by this acquitted; but the one who examines me is the Lord’ (= Tetapi bagiku merupakan sesuatu yang sangat kecil / remeh bahwa aku diperiksa / diuji olehmu, atau oleh pengadilan manusia manapun; bahkan aku tidak memeriksa / menguji diriku sendiri. Karena aku tidak menyadari apapun menentang aku, tetapi bukan karena hal ini aku dibebaskan; tetapi yang memeriksa / menguji aku adalah Tuhan).

Pada jaman ini, bisa saja pelayan-pelayan Tuhan atau hamba-hamba Tuhan dianiaya / diserang bukan saja oleh orang-orang yang secara terang-terangan adalah musuh gereja (dari luar gereja), tetapi juga oleh orang-orang di dalam gereja, bahkan oleh tokoh-tokoh gereja.

Calvin: “Since the apostles knew this by experience, in their own age, we have no reason to be greatly alarmed at the Pope’s excommunications, with which he thunders against us on account of the testimony of the Gospel; for we ought not to fear that they will do us more injury than those ancient excommunications which were made against the apostles. Nay more, nothing is more desirable than to be driven out of that assembly from which Christ is banished” (= Karena rasul-rasul mengetahui hal ini melalui pengalaman mereka pada jaman mereka, kita tidak punya alasan untuk takut pada pengucilan Paus, dengan mana ia mengguntur terhadap kita karena kesaksian Injil; karena kita tidak boleh takut bahwa mereka akan lebih menyakiti kita dibandingkan dengan pengucilan purba yang dibuat terhadap rasul-rasul. Bahkan, tidak ada yang lebih diinginkan dari pada diusir dari kelompok dari mana Kristus dibuang) - hal 134.

Kalau pada bagian tengah dari kata-kata di atas Calvin mengatakan bahwa kita tidak boleh takut pada waktu kita dikucilkan oleh orang-orang brengsek itu, maka pada bagian akhir dari kata-katanya (yang saya garis-bawahi) ia bahkan mengatakan bahwa kita harus menginginkan / menyenangi keadaan tersebut. Kalau suatu kelompok orang membuang Kristus, dan orang-orang itu mengucilkan kita, itu sebetulnya merupakan berkat!

Barnes’ Notes: “The people of God have suffered most from those who have been conscientious persecutors; and some of the most malignant foes which true Christians have ever had, have been in the church, and have been professed ministers of the gospel, persecuting them under pretence of great zeal for the cause of purity and religion” (= Umat Allah telah menderita paling hebat dari mereka yang adalah penganiaya-penganiaya yang bersungguh-sungguh; dan sebagian dari musuh-musuh yang paling membahayakan yang pernah dimiliki orang-orang kristen yang benar, ada di dalam gereja, dan merupakan orang-orang yang mengaku sebagai pelayan Injil, menganiaya mereka di bawah kepura-puraan semangat yang besar demi kemurnian agama) - hal 341.

Tetapi sayang sekali Barnes’ Notes lalu melanjutkan kata-katanya yang indah di atas itu dengan kata-kata yang buruk / bodoh yang berbunyi sebagai berikut:

“It is no evidence of piety that a man is full of zeal against those whom he supposes to be heretics. And it is one of the best proofs that a man knows nothing of the religion of Jesus, when he is eminent for self-conceit in his own views of orthodoxy, and firmly fixed in the opinion, that all who differ from him and his sect must of course be wrong” (= Bukanlah bukti kesalehan bahwa seseorang dipenuhi semangat menentang mereka yang ia anggap sebagai orang sesat. Dan merupakan salah satu bukti yang terbaik bahwa seseorang sama sekali tidak mengenal agama Yesus, pada waktu ia terkenal sombong dalam pandangannya sendiri tentang keortodoxan, dan mempunyai pandangan yang tegas bahwa semua yang berbeda dengannya dan dengan sektenya pasti salah) - hal 341.

Saya tidak setuju dengan kata-kata ini, karena:

·        orang yang cinta pada kebenaran pasti membenci kesesatan, dan secara secara bersemangat menentang kesesatan. Apakah Yesus, rasul-rasul dan nabi-nabi tidak menentang kesesatan? Karena itu saya berpendapat bahwa kita justru harus bersemangat dalam menentang kesesatan, tetapi kita memang tidak boleh melakukan penganiayaan secara fisik terhadap orang yang kita anggap sebagai sesat. Tetapi kalau dalam gereja kita ada orang yang mempunyai pandangan sesat (bukan sekedar salah, tetapi sesat, yaitu salah secara dasari), maka tentu saja kita boleh, dan bahkan harus, mengucilkan / mengeluarkannya dari gereja, setelah melalui proses siasat gerejani yang benar (Mat 18:15-17).

·        orang yang yakin akan kebenaran pandangannya pasti menganggap ajaran yang berbeda dengannya sebagai salah. Kalau ia tidak menganggap pandangan yang berbeda dengan pandangannya sebagai salah, itu membuktikan ia tidak yakin akan kebenaran pandangannya sendiri.

·        kontex ini ditujukan oleh orang kristen yang benar yang menghadapi penganiayaan / pengucilan dari orang kafir atau kristen KTP. Ini tidak bisa diterapkan sebaliknya!

2)   ‘bahkan akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah’.

a)   Hal ini tergenapi khususnya dalam penganiayaan yang dilakukan oleh orang Yahudi terhadap orang kristen. Dan ini terjadi lagi pada jaman Paulus (waktu namanya masih Saulus), waktu ia menganiaya / membunuhi orang kristen. Bandingkan dengan:

·        Kis 26:9-11 - “Bagaimanapun juga, aku sendiri pernah menyangka, bahwa aku harus keras bertindak menentang nama Yesus dari Nazaret. Hal itu kulakukan juga di Yerusalem. Aku bukan saja telah memasukkan banyak orang kudus ke dalam penjara, setelah aku memperoleh kuasa dari imam-imam kepala, tetapi aku juga setuju, jika mereka dihukum mati. Dalam rumah-rumah ibadat aku sering menyiksa mereka dan memaksanya untuk menyangkal imannya dan dalam amarah yang meluap-luap aku mengejar mereka, bahkan sampai ke kota-kota asing”.

·        Fil 3:6 - ‘tentang kegiatan aku penganiaya jemaat’. Ini termasuk dalam hal-hal yang dulu ia banggakan (Fil 3:4b-6).

Adam Clarke dan beberapa penafsir lain bahkan mengatakan bahwa orang Yahudi mempunyai pandangan:

“He who sheds the blood of the ungodly, is equal to him who brings an offering to God” (= Ia yang mencurahkan darah orang jahat setara dengan ia yang membawa persembahan kepada Allah) - hal 631.

b)   Ini juga digenapi dengan dibunuhnya para rasul dan pengikut Kristus.

Thomas Whitelaw: “In so far as Christ’s language implied that the disciples would seal their testimony with their blood, it was in due course fulfilled - at least if Ecclesiastical tradition might be relied on. ‘Matthew suffered martyrdom (by the sword) in Ethiopia. Mark died at Alexandria after being dragged through the streets of that city. Luke was hanged on an olive tree in Greece. Peter was crucified at Rome with his head downward. James was beheaded at Jerusalem. James the Less was thrown from a pinacle of the temple, and beaten to death below. Philip was hanged against a pillar in Phrygia. Bartholomew was flayed alive. Andrew was bound to a cross, whence he preached to his persecutors till he died. Thomas was run through the body at Coromandel in India. Jude was shot to death with arrows. Matthias was first stoned and then beheaded. Barnabas was stoned to death by Jews at Salonica. Paul ‘in death oft’ was beheaded at Rome by Nero” [= Sejauh bahasa Kristus secara tak langsung menunjukkan bahwa murid-murid akan memeteraikan kesaksian mereka dengan darah mereka, itu digenapi pada waktunya - setidaknya jika tradisi gereja bisa dipercaya. ‘Matius mengalami kematian syahid (oleh pedang) di Etiopia. Markus mati di Alexandria setelah diseret melalui jalan-jalan di kota itu. Lukas digantung pada sebuah pohon zaitun di Yunani. Petrus disalib di Roma dengan kepala menghadap kebawah. Yakobus dipenggal di Yerusalem. Yakobus Muda dilempar dari puncak Bait Allah, dan dipukuli sampai mati di bawah. Filipus digantung pada sebuah pilar di Phrygia. Bartolomeus dikuliti hidup-hidup. Andreas diikat pada sebuah salib, dari mana ia berkhotbah kepada para penganiayanya sampai ia mati. Tomas dilindas tubuhnya di Coromandel di India. Yudas dipanah sampai mati dengan anak-anak panah. Matias mula-mula dirajam dan lalu dipenggal. Barnabas dirajam sampai mati oleh orang-orang Yahudi di Salonika. Paulus ‘dalam kematian sering’ dipenggal di Roma oleh Nero] - hal 343. Ini dikutip oleh Thomas Whitelaw dari Angus’s Bible Handbook, hal 91.

Catatan:

·        ‘James the Less’ diterjemahkan ‘Yakobus Muda’ dalam Mark 15:40, adalah sama dengan Yakobus anak Alfeus (Mat 10:3). Mungkin untuk membedakannya dengan Yakobus anak Zebedeus, maka ia disebut ‘James the Less’ (disebabkan karena usia yang lebih muda atau postur tubuh yang lebih kecil).

·        Kematian Yakobus Muda dalam kutipan di atas mungkin dikacau-balaukan dengan kematian Yakobus saudara Tuhan Yesus.

c)   Ini juga bisa digenapi dengan perang jihad yang dilakukan umat Islam yang extrim terhadap kristen. Mereka menganggap bahwa mereka berjasa kepada Allah kalau mereka menyiksa / membunuhi orang kristen, yang mereka anggap sebagai orang sesat.

A. T. Robertson: “No persecution is more bitter than when done by religious enthusiasts and bigots like the Spanish Inquisition” (= Tidak ada penganiayaan yang lebih pahit dari pada penganiayaan yang dilakukan oleh semangat agamawi dan orang-orang fanatik seperti Inquisition Spanyol) - hal 265.

Catatan: kata ‘Inquisition’ berarti: pencarian dan penghukuman dalam gereja Roma Katolik terhadap orang yang tidak percaya atau yang sesat.

Calvin: “It may be thought strange, however, that the enemies of the truth, though they are conscious of their own wickedness, not only impose on men, but even in the presence of God lay claim to praise for their unjust cruelty. I reply, hypocrites, though their consciences accuses them, always resort to flatteries to deceive themselves. They are ambitious, cruel, and proud, but they cover all these vices with the cloak of zeal, that they may indulge in them without restraint” (= Tetapi, bisa dianggap sebagai sesuatu yang aneh bahwa para musuh dari kebenaran, sekalipun mereka sadar akan kejahatan mereka sendiri, bukan hanya memaksa manusia, tetapi bahkan di hadapan Allah menyatakan berhak atas pujian untuk kekejaman mereka yang tidak benar. Saya menjawab, orang-orang munafik, sekalipun hati nurani mereka menuduh mereka, selalu pergi / minta tolong pada puji-pujian yang menjilat untuk menipu diri mereka sendiri. Mereka itu ambisius, kejam, dan sombong, tetapi mereka menutupi semua kejahatan ini dengan jubah semangat, supaya mereka bisa menuruti kehendaknya di dalamnya tanpa pengekangan) - hal 135.

Ay 3: “Mereka akan berbuat demikian, karena mereka tidak mengenal baik Bapa maupun Aku”.

1)   Ini menunjukkan alasan dari tindakan orang-orang itu, yaitu: mereka tidak mengenal Allah maupun Yesus.

2)   Tujuan kata-kata ini adalah supaya rasul-rasul bisa mengabaikan mereka.

Calvin: “this is not said for the purpose of extenuating their guilt, but that the apostles may boldly despise their blind fury; ... Christ, on the other hand, enjoins his followers to rise with holy magnanimity, to despise their adversaries, who are impelled by nothing else than error and blindness; for this is our wall of brass, when we are fully persuaded that God is on our side, and that they who oppose us are destitute of reason” (= ini tidak dikatakan dengan maksud meringankan kesalahan mereka, tetapi supaya rasul-rasul bisa dengan berani meremehkan kemarahan mereka yang buta; ... pada sisi yang lain, Kristus memerintahkan pengikut-pengikutNya untuk bangkit dengan sikap kudus yang mengabaikan hinaan, untuk meremehkan musuh-musuh mereka, yang didorong oleh kesalahan dan kebutaan; karena ini merupakan tembok kita yang keras, pada waktu kita yakin bahwa Allah ada di pihak kita, dan bahwa mereka yang menentang kita tidak mempunyai akal) - hal 135.

3)   Ini menunjukkan betapa hebatnya dosa ‘tidak mengenal Allah’.

Calvin: “Again, these words reminds us, what a serious evil it is not to know God, since it leads even those who have murdered their own parents to expect praise and approbation for their wickedness” (= Kata-kata ini lagi-lagi mengingatkan kita bahwa ‘tidak mengenal Allah’ adalah kejahatan yang serius, karena itu mengarahkan mereka yang membunuh orang tuanya sendiri untuk mengharapkan pujian dan penerimaan untuk kejahatan mereka) - hal 135.

Ay 4: “Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.’ ‘Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu”.

1)   Ay 4a: “Tetapi semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya apabila datang saatnya kamu ingat, bahwa Aku telah mengatakannya kepadamu.’”.

a)   Ay 4a ini mirip dengan ay 1. Tetapi kalau ay 1 tujuannya adalah supaya mereka tidak menjadi kecewa dan menolak Yesus, maka ay 4a mengatakan bahwa tujuannya adalah supaya mereka ingat bahwa Yesus telah mengatakannya kepada mereka. Ini akan memberikan hiburan karena apa yang mereka alami ternyata sudah dinubuatkan, dan itu berarti sudah ditentukan, dikuasai dan diatur oleh Tuhan.

William Barclay: “Jesus foresaw this and gave warning beforehand. He did not want anyone to be able to say that he had not known what to expect when he became a Christian. When Tyndale was persecuted and his enemies were out for his life because he sought to give the Bible to the people in the English language, he said calmly: ‘I never expected anything else.’ Jesus offered men glory, but he offered them a cross as well” (= Yesus melihat hal ini sebelumnya dan memberi peringatan sebelumnya. Ia tidak ingin siapapun bisa mengatakan bahwa ia belum tahu apa yang diharapkan pada waktu ia menjadi orang kristen. Pada waktu Tyndale dianiaya dan musuh-musuhnya berusaha untuk membunuhnya karena ia berusaha memberikan Alkitab dalam bahasa Inggris kepada orang-orang, ia berkata dengan tenang: ‘Aku tidak pernah mengharapkan hal yang lain’. Yesus menawarkan kemuliaan kepada manusia, tetapi Ia juga menawarkan salib kepada mereka) - hal 189.

William Barclay: “Jesus knew how to deal with men. He was in effect saying: ‘I am offering you the hardest task in the world. I am offering you something which will lacerate your body and tear out your heart. Are you big enough to accept it?’ All the world knows Garibaldi’s proclamation at the siege of Rome in 1849, when he appealed for recruits in these terms: ‘I offer you neither pay, nor quarters, nor provisions; I offer hunger, thirst, forced marches, battles and death. Let him who loves his country in his heart, and not with his lips only, follow me.’ And join they did in their hundreds. When the Spaniards were conquering South America Pizarro presented his men with a choice. They might have the wealth of Peru with its dangers, or the comparative poverty of Panama with its safety. He drew a line in the sand with his sword and he said: ‘Comrades, on that side are toil, hunger, nakedness, storm, desertion and death; on this side is ease. There lies Peru with its riches; here lies Panama with its poverty. Choose, each man, what best becomes a brave Castilian. For my part, I go to the south.’ There was silence and hesitation; and then an old pilot and twelve soldiers stepped across to Pizarro’s side. It was with them that the discovery and the conquest of Peru began. Jesus offered, and still offers, not the way of ease, but the way of glory. He wants men who are prepared with open eyes to venture for his name” (= Yesus tahu bagaimana menghadapi / memperlakukan manusia. Pada hakekatnya Ia berkata: ‘Aku menawarkan kepadamu tugas yang terberat di dunia. Aku menawarkan kepadamu sesuatu yang akan mencabik-cabik tubuhmu dan merobek jantungmu. Apakah engkau cukup besar untuk menerimanya?’ Seluruh dunia mengetahui pernyataan Garibaldi pada pengepungan Roma pada tahun 1849, pada waktu ia mendesak para tentara baru dengan kata-kata ini: ‘Aku tidak menawarkan gaji, atau suatu bagian dari kota, atau persediaan; aku menawarkan kelaparan, kehausan, perjalanan yang dipaksakan, pertempuran dan kematian. Biarlah ia yang mencintai negeranya dalam hatinya dan bukan hanya dengan bibirnya, mengikuti aku’. Dan ratusan dari mereka bergabung. Pada waktu orang Spanyol sedang menaklukkan Amerika Selatan Pizarro memberikan orang-orangnya pilihan. Mereka bisa mendapatkan kekayaan Peru dengan bahaya-bahayanya, atau kemiskinan Panama dengan keamanannya. Ia membuat garis di tanah dengan pedangnya dan ia berkata: ‘Teman-teman, pada bagian itu ada kerja keras, kelaparan, ketelanjangan, badai, desersi dan kematian; pada bagian ini ada ketenteraman / kesenangan. Di sana terletak Peru dengan kekayaannya; di sini terletak Panama dengan kemiskinannya. Pilihlah, setiap orang, apa yang terbaik bagi seorang Castilian yang berani. Bagi aku, aku pergi ke selatan’. Di sana ada keheningan dan keragu-raguan; dan lalu seorang pilot tua dan 12 tentara melangkah ke pihak Pizarro. Bersama mereka penemuan dan penaklukan Peru dimulai. Dahulu Yesus menawarkan, dan sampai sekarang Ia tetap menawarkan, bukan jalan ketenteraman / kesenangan, tetapi jalan kemuliaan. Ia menginginkan orang-orang yang siap dengan mata terbuka untuk berjuang bagi namaNya) - hal 190-191.

b)   ‘supaya apabila datang saatnya’.

A. T. Robertson: “The time appointed for these things” (= Waktu / saat yang ditetapkan untuk hal-hal ini) - hal 265.

Thomas Whitelaw: “i.e. the hour of these excommunications and murders, the hour appointed for their accomplishment” (= yaitu saat pengucilan-pengucilan dan pembunuhan-pembunuhan ini, saat yang ditetapkan untuk terjadinya hal-hal ini) - hal 336.

Thomas Whitelaw: “Like all other events in time, these approaching calamities were under the direction of Christ’s own omnipotent and gracious hand - they had their appointed hour when they should fall and bear away” (= Seperti semua peristiwa dalam waktu, bencana-bencana yang mendekat ini ada di bawah pengarahan dari tangan Kristus yang maha kuasa dan murah hati sendiri - mereka mempunyai saat yang ditetapkan kapan mereka harus menyerang dan bertahan) - hal 343-345.

2)   Ay 4b: “‘Hal ini tidak Kukatakan kepadamu dari semula, karena selama ini Aku masih bersama-sama dengan kamu”.

Tadinya Kristus tidak mengatakan hal ini karena Ia masih bersama-sama mereka. Pada waktu Ia bersama-sama dengan mereka maka kemarahan dan serangan orang-orang Yahudi ditujukan kepadaNya. Sekarang pada saat Ia mau meninggalkan mereka barulah Ia mengatakannya kepada mereka, karena mulai sekarang kemarahan / serangan dari orang-orang Yahudi akan ditujukan kepada mereka.

-AMIN-


e-mail us at [email protected]