Kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Minggu, tgl 10 Juni 2012, pk 08.00

Pdt. Budi Asali, M. Div.

(HP: 7064-1331 / 6050-1331)

[email protected]

http://www.golgothaministry.org

 

Yesus gembala yang baik(1)

Yohanes 10:1-30

 

Yoh 10:1-18,26-30 - “(1) ‘Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; (2) tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. (3) Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. (4) Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. (5) Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.’ (6) Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. (7) Maka kata Yesus sekali lagi: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. (8) Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. (9) Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. (10) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. (11) Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; (12) sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. (13) Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. (14) Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-dombaKu dan domba-dombaKu mengenal Aku (15) sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawaKu bagi domba-dombaKu. (16) Ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. (17) Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. (18) Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari BapaKu.’ ... (26) tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-dombaKu. (27) Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, (28) dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu. (29) BapaKu, yang memberikan mereka kepadaKu, lebih besar dari pada siapapun, dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. (30) Aku dan Bapa adalah satu.’”.

 

I) Domba sebagai simbol dari orang Kristen; dan Allah / Yesus sebagai Gembalanya.

 

Maz 95:7a - Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaanNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya.

 

Yes 40:10-11 - “(10) Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tanganNya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payahNya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperolehNya berjalan di hadapanNya. (11) Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati.

 

Barclay (tentang Yoh 10:1-6): In the Old Testament, God is often pictured as the shepherd, and the people as his flock. ‘The Lord is my shepherd, I shall not want’ (Psalm 23:1). ‘You led your people like a flock by the hand of Moses and Aaron’ (Psalm 77:20). ‘We your people, the flock of your pasture, will give thanks to you for ever’ (Psalm 79:13). ‘Give ear, O Shepherd of Israel, you who lead Joseph like a flock’ (Psalm 80:1). ‘For he is our God, and we are the people of his pasture, and the sheep of his hand’ (Psalm 95:7). ‘We are his people, and the sheep of his pasture’ (Psalm 100:3). God’s Anointed One, the Messiah, is also pictured as the shepherd of the sheep. ‘He will feed his flock like a shepherd; he will gather the lambs in his arms, and carry them in his bosom, and gently lead the mother sheep’ (Isaiah 40:11). ... This picture passes over into the New Testament. Jesus is the good shepherd. He is the shepherd who will risk his life to seek and to save the one straying sheep (Matthew 18:12; Luke 15:4). He has pity upon the people because they are as sheep without a shepherd (Matthew 9:36; Mark 6:34). His disciples are his little flock (Luke 12:32). When he, the shepherd, is smitten, the sheep are scattered (Mark 14:27; Matthew 26:31). He is the shepherd of human souls (1 Peter 2:25), and the great shepherd of the sheep (Hebrews 13:20) [= Dalam Perjanjian Lama, Allah sering digambarkan sebagai gembala, dan bangsa / umat itu sebagai kawanan dombaNya. ‘TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku’ (Maz 23:1). ‘Engkau telah menuntun umatMu seperti kawanan domba dengan perantaraan Musa dan Harun’ (Maz 77:21). ‘Maka kami ini, umatMu, dan kawanan domba gembalaanMu, akan bersyukur kepadaMu untuk selama-lamanya’ (Maz 79:13). ‘Hai gembala Israel, pasanglah telinga, Engkau yang menggiring Yusuf sebagai kawanan domba’ (Maz 80:2). ‘Sebab Dialah Allah kita, dan kitalah umat gembalaanNya dan kawanan domba tuntunan tanganNya’ (Maz 95:7). ‘punya Dialah kita, umatNya dan kawanan domba gembalaanNya’ (Maz 100:3). Yang diurapi dari Allah, sang Mesias, juga digambarkan sebagai gembala dari domba-domba. ‘Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternakNya dan menghimpunkannya dengan tanganNya; anak-anak domba dipangkuNya, induk-induk domba dituntunNya dengan hati-hati’ (Yes 40:11). ... Gambaran ini berlanjut ke dalam Perjanjian Baru. Yesus adalah gembala yang baik. Ia adalah gembala yang mau meresikokan nyawaNya untuk mencari dan menyelamatkan satu domba yang tersesat (Mat 18:12; Luk 15:4). Ia mempunyai belas kasihan kepada orang-orang karena mereka seperti domba tanpa gembala (Mat 9:36; Mark 6:34). Murid-muridNya adalah kawanan kecil domba-dombaNya (Luk 12:32). Pada waktu Ia, sang gembala, dipukul / dibunuh, domba-domba tercerai-berai (Mark 14:27; Mat 26:31). Ia adalah gembala dari jiwa-jiwa manusia (1Pet 2:25), dan gembala yang agung dari domba-domba (Ibr 13:20)].

Mat 18:12 - “‘Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu?”.

Luk 15:4 - “‘Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?”.

Mat 9:36 - “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Mark 6:34 - “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka”.

Luk 12:32 - “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu”.

Mark 14:27 - “Lalu Yesus berkata kepada mereka: ‘Kamu semua akan tergoncang imanmu. Sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai.

Mat 26:31 - “Maka berkatalah Yesus kepada mereka: ‘Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai.

1Pet 2:25 - “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

Ibr 13:20 - “Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita.

 

II) Domba.

 

1)   Domba sangat tergantung dan membutuhkan gembala. Mengapa?

 

a)            Domba itu bodoh dan sangat mudah tersesat.

 

Calvin (tentang Yer 23:4): We indeed know that a sheep is a silly animal, and therefore has need of a shepherd to rule and guide it (= Kita memang tahu bahwa seekor domba adalah seekor binatang yang tolol, dan karena itu mempunyai kebutuhan akan seorang gembala untuk menguasai / mengepalai dan membimbingnya).

 

William Hendriksen (tentang Yoh 10): That sheep have a tendency to wander, and are, therefore in need of a guiding shepherd, is clear from Ps. 119:176; Is. 53:6 (= Bahwa domba mempunyai kecenderungan untuk mengembara, dan karena itu membutuhkan seorang gembala yang membimbing, adalah jelas dari Maz 119:176; Yes 53:6).

Maz 119:176 - “Aku sesat seperti domba yang hilang, carilah hambaMu ini, sebab perintah-perintahMu tidak kulupakan”.

Yes 53:6 - “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.

 

Fred H. Wight: “It is very important that sheep should not be allowed to stray away from the flock, because when by themselves they are utterly helpless. In such a condition, they become bewildered, for they have no sense at all of locality. And if they do stray away, they must be brought back” (= Adalah sangat penting bahwa domba tidak diijinkan untuk mengembara dari / meninggalkan kawanannya, karena pada waktu mereka sendirian mereka sama sekali tak berdaya. Dalam keadaan seperti itu, mereka menjadi bingung, karena mereka tidak mempunyai pengertian / perasaan sama sekali tentang tempat. Dan jika mereka meninggalkan kawanannya mereka harus dibawa kembali) - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 158.

 

Adam Clarke (tentang Luk 15:4): “The lost sheep is an emblem of a heedless, thoughtless sinner: one who follows the corrupt dictates of his own heart, without ever reflecting upon his conduct, or considering what will be the issue of his unholy course of life. No creature strays more easily than a sheep; none is more heedless; and none so incapable of finding its way back to the flock, when once gone astray: it will bleat for the flock, and still run on in an opposite direction to the place where the flock is; this I have often noticed (= Domba yang hilang adalah simbol dari orang berdosa yang tidak memperhatikan / mempedulikan dan tak memikirkan: seseorang yang mengikuti suara hatinya yang rusak, tanpa pernah memikirkan tingkah lakunya, atau mempertimbangkan apa yang akan merupakan hasil dari jalan kehidupannya yang tidak kudus. Tidak ada makhluk yang lebih mudah tersesat dari domba; tidak ada yang lebih tidak memperhatikan; dan tidak ada yang begitu tidak mampu untuk menemukan jalannya kembali kepada kawanan pada saat mereka tersesat: ia akan mengembik untuk kawanan itu tetapi tetap akan berlari ke arah yang berlawanan dari tempat dimana kawanan itu berada; ini telah sering saya perhatikan).

 

b)      Tempat penggembalaan domba di Yudea menyebabkan domba secara mutlak membutuhkan gembala.

 

Barclay (tentang Yoh 10): There is no better loved picture of Jesus than the Good Shepherd. The picture of the shepherd is woven into the language and imagery of the Bible. ... The main part of Judaea was a central plateau, stretching from Bethel to Hebron for a distance of about 35 miles and varying from 14 to 17 miles across. The ground, for most part, was rough and stony. Judaea was, much more a pastoral than an agricultural country and was, therefore, inevitable that the most familiar figure of the Judaean uplands was the shepherd. His life was very hard. No flock ever grazed without a shepherd, and he was never off duty. There being little grass, the sheep were bound to wander, and since there were no protecting walls, the sheep had constantly to be watched. On either side of the narrow plateau the ground dipped sharply down to the craggy deserts and the sheep were always liable to stray away and get lost. The shepherd’s task was not only constant but dangerous, for, in addition, he had to guard the flock against wild animals, especially against wolves, and there were always thieves and robbers ready to steal the sheep (= Tidak ada gambaran yang dicintai lebih baik tentang Yesus dari pada Gembala yang Baik. Gambaran tentang gembala ditenun / dirangkaikan ke dalam bahasa dan perumpamaan dari Alkitab. ... Bagian besar dari Yudea adalah dataran tinggi di tengah, membentang dari Betel ke Hebron untuk suatu jarak dari kira-kira 35 mil dan lebarnya bervariasi dari 14 sampai 17 mil. Tanahnya, sebagian besar, adalah kasar dan berbatu-batu. Yudea lebih merupakan negara penggembalaan dari pada pertanian, dan karena itu merupakan sesuatu yang tak terhindarkan bahwa gambaran yang paling akrab tentang dataran tinggi Yudea adalah gembala. Kehidupan gembala sangat sukar / berat. Tak ada kawanan domba yang pernah makan rumput tanpa seorang gembala, dan ia tidak pernah bebas tugas. Karena disana hanya ada sedikit rumput, domba-domba harus / terpaksa mengembara, dan karena disana tidak ada tembok yang melindungi, domba-domba harus dijaga terus menerus. Di kedua sisi dari dataran tinggi yang sempit tanahnya turun dengan tajam pada padang gurun yang berbatu-batu dan domba selalu mempunyai kemungkinan yang besar untuk mengembara / keluar dari kawanan dan hilang. Tugas gembala bukan hanya terus menerus, tetapi juga berbahaya, karena sebagai tambahan, ia harus menjaga kawanan domba itu terhadap binatang-binatang liar, khususnya terhadap serigala-serigala, dan disana selalu ada pencuri-pencuri dan perampok-perampok yang siap untuk mencuri domba).

 

E. W. Heaton: “Judaea, indeed (wrote George Adam Smith), offers as good ground as there is in all the East for observing the grandeur of the shepherd’s character. On the boundless Eastern pasture, so different from the narrow and dyked hillsides with which we are familiar, the shepherd is indispensable. With us sheep are often left to themselves; but I do not remember ever to have seen in the East a flock of sheep without a shepherd. In such a landscape as Judaea, where a day’s pasture is thinly scatterred over an unfenced tract of country, covered with delusive paths, still frequented by wild beasts, and rolling off into the desert, the man and his character are indispensable” [= Yudea memang (tulis George Adam Smith), menawarkan / memberikan dasar yang baik yang ada di seluruh wilayah Timur untuk mengamati kehebatan / keagungan dari karakter seorang gembala. Di padang rumput Timur yang tak ada batasnya, begitu berbeda dari lereng gunung yang sempit dan mempunyai tanggul dengan mana kita akrab, gembala mutlak diperlukan. Pada kita domba-domba sering dibiarkan sendirian; tetapi saya tidak ingat pernah melihat di Timur suatu kawanan domba tanpa seorang gembala. Di tanah seperti Yudea, dimana padang rumput untuk satu hari tersebar secara tipis atas suatu tanah yang luas tanpa pagar dari negeri, ditutupi dengan jalan-jalan kecil yang cenderung untuk menyesatkan, dan masih tetap sering dikunjungi oleh binatang-binatang liar, dan naik turun menuju (?) padang pasir, orang itu dan karakternya mutlak diperlukan] - ‘Everyday Life in Old Testament Times’, hal 48-49.

Catatan: penulis ini mengutip bagian ini dari buku George Adam Smith yang berjudul ‘The Historical Geography of The Holy Land’, hal 301-dst.

 

c)            Alkitab berulangkali menunjukkan keadaan yang menyedihkan dari domba tanpa gembala.

Mat 9:36 - “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala.

Mark 6:34 - “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka”.

1Raja 22:17 - “Lalu jawabnya: ‘Telah kulihat seluruh Israel bercerai-berai di gunung-gunung seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala, sebab itu TUHAN berfirman: Mereka ini tidak punya tuan; baiklah masing-masing pulang ke rumahnya dengan selamat.’”.

 

William Hendriksen (tentang Mark 6:34): He sees these people as sheep without a shepherd. To understand what this means one should first read I Kings 22:17; then Ps. 23; then Matt. 9:36; then John 10. ... No animal is as dependent as is a sheep. Without someone to guide it, it wanders, is lost, becomes food for wolves, etc. Without someone to graze it, it starves. Jesus knows that the people are like that: their leaders fail to give them reliable guidance. They do not supply their souls with nourishing food (= Ia melihat orang-orang ini seperti domba tanpa gembala. Untuk mengerti apa artinya ini orang harus pertama-tama membaca IRaja 22:17; lalu Maz 23; lalu Mat 9:36; lalu Yoh 10. ... Tak ada binatang yang begitu tergantung seperti seekor domba. Tanpa seseorang untuk membimbingnya, domba itu mengembara, terhilang, menjadi makanan untuk serigala-serigala, dsb. Tanpa seseorang untuk menggembalakannya, ia mati kelaparan. Yesus tahu bahwa orang-orang itu adalah seperti itu: pemimpin-pemimpin mereka gagal untuk memberi mereka bimbingan yang bisa diandalkan. Mereka tidak menyuplai jiwa-jiwa mereka dengan makanan yang bergizi).

 

William Hendriksen (tentang Mat 9:36): Jesus sees them as only he, with his marvelously sympathetic heart, is able to see them, namely, as sheep whose shepherd has abandoned them, and who are therefore perishing on the barren, windswept steppe. Such sheep are ‘fatigued and forlorn,’ ‘dejected and deserted.’ They are thoroughly exhausted and are exposed to ravenous beasts, wind and weather, hunger and thirst. What domestic animal is more dependent, hence more helpless when left to itself, than a sheep? Sheep untended, unprotected, and unsought, what a picture of sinners left to themselves or harassed by the rabbis of that day. The people, like sheep, were in need of true guides and shepherds. The figure of sheep without a shepherd is rich in Biblical references. In addition to the passages based on Zech. 13:7, namely, Matt. 26:31 and Mark 14:27, see also Num. 27:17; I Kings 22:17; Ezek. 34; Zech. 10:2; 11:5; and John 10:12. For a more favorable situation - the shepherd seeking his lost sheep and finding it - see on Matt. 18:12–14; cf. Luke 15:3–7 (= Yesus melihat mereka karena hanya Dia, dengan hatiNya yang bersimpati secara mengagumkan, bisa melihat mereka, yaitu, sebagai domba yang gembalanya telah meninggalkan mereka, dan yang karena itu sekarat di padang rumput luas yang berangin dan tandus. Domba-domba seperti itu ‘lelah dan terlantar’, ‘tertekan dan ditinggalkan’. Mereka lelah / kehabisan tenaga sama sekali, dan terbuka terhadap binatang-binatang sangat lapar, angin dan cuaca, lapar dan haus. Binatang peliharaan apa yang lebih tergantung, dan karena itu lebih tak berdaya, pada waktu ditinggalkan pada dirinya sendiri, dari pada seekor domba? Domba yang tidak dirawat / dipelihara, tidak dilindungi, dan tidak dicari, betul-betul suatu gambaran dari orang-orang berdosa yang ditinggalkan pada diri mereka sendiri atau diganggu / dipersulit oleh rabi-rabi dari jaman itu. Orang-orang itu, seperti domba, ada dalam kebutuhan terhadap pembimbing-pembimbing dan gembala-gembala yang benar / sejati. Gambaran tentang domba tanpa gembala sangat banyak dalam referensi-referensi Alkitab. Sebagai tambahan pada text-text yang didasarkan pada Zakh 13:7, yaitu, Mat 26:31 dan Mark 14:27, lihat juga Bil 27:17; IRaja 22:17; Yeh 34; Zakh. 10:2; 11:5; dan Yoh 10:12. Untuk keadaan yang lebih baik / menyenangkan - sang gembala mencari dombanya yang terhilang dan menemukannya - lihat tentang Mat 18:12–14; bdk. Luk 15:3–7).

 

Bil 27:15-17 - “(15) Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN: (16) ‘Biarlah TUHAN, Allah dari roh segala makhluk, mengangkat atas umat ini seorang (17) yang mengepalai mereka waktu keluar dan masuk, dan membawa mereka keluar dan masuk, supaya umat TUHAN jangan hendaknya seperti domba-domba yang tidak mempunyai gembala.’”.

Zakh 10:2-3,6-9 - “(2) Sebab apa yang dikatakan oleh terafim adalah jahat, dan yang dilihat oleh juru-juru tenung adalah dusta, dan mimpi-mimpi yang disebutkan mereka adalah hampa, serta hiburan yang diberikan mereka adalah kesia-siaan. Oleh sebab itu bangsa itu berkeliaran seperti kawanan domba dan menderita sengsara sebab tidak ada gembala. (3) ‘Terhadap para gembala akan bangkit murkaKu dan terhadap kepala-kepala kawanan kambing Aku akan mengadakan pembalasan, sebab TUHAN semesta alam memperhatikan kawanan ternakNya, yakni kaum Yehuda, dan membuat mereka sebagai kuda keagunganNya dalam pertempuran. ... (6) Aku akan membuat kuat kaum Yehuda, dan Aku menyelamatkan keturunan Yusuf. Aku akan membawa mereka kembali, sebab Aku menyayangi mereka; dan keadaan mereka seakan-akan tidak pernah ditolak oleh Aku, sebab Akulah TUHAN, Allah mereka, dan Aku akan menjawab mereka. (7) Efraim akan seperti seorang pahlawan, hati mereka akan bersukacita seperti oleh anggur. Anak-anak mereka akan melihatnya, lalu bersukacita dan hati mereka bersorak-sorak karena TUHAN. (8) Aku akan bersiul memanggil mereka dan Aku akan mengumpulkan mereka, sebab Aku sudah membebaskan mereka, dan jumlah mereka menjadi banyak seperti dahulu. (9) Sekalipun Aku telah menyerakkan mereka ke antara bangsa-bangsa, tetapi di tempat-tempat yang jauh mereka akan ingat kepadaKu; mereka akan hidup bersama-sama anak-anak mereka dan mereka akan kembali.

 

Catatan: saya hanya memberikan sebagian ayat-ayat referensi yang diberikan oleh William Hendriksen dalam kutipan di atas karena ada yang sudah ada di atas, dan ada yang nanti akan saya bahas di belakang.

 

d)      Domba merupakan binatang yang sama sekali tidak mempunyai alat pertahanan atau cara / jalan untuk lari / menyembunyikan diri terhadap pemangsanya.

 

Adam Clarke (tentang Luk 15:4): No creature is more defenseless than a sheep, and more exposed to be devoured by dogs and wild beasts. Even the fowls of the air seek their destruction. I have known ravens often attempt to destroy lambs by picking out their eyes, in which, when they have succeeded, as the creature does not see whither it is going, it soon falls an easy prey to its destroyer” (= Tidak ada makhluk yang lebih tak mempunyai pertahanan dari pada domba, dan yang lebih terbuka untuk dimangsa oleh anjing-anjing dan binatang-binatang liar. Bahkan burung-burung di udara mencari penghancuran mereka. Saya tahu bahwa burung-burung gagak sering berusaha untuk menghancurkan anak-anak domba dengan mencungkil mata mereka, dalam mana, jika mereka berhasil, karena makhluk itu tak bisa melihat kemana ia pergi, ia dengan cepat menjadi mangsa dari penghancurnya).

 

e)      Adanya pencuri, perampok dan serigala menambah bahaya bagi domba yang tidak punya gembala untuk melindungi dan menjaganya.

Ay 8,10,12b: (8) Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. ... (10) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. ... (12b) ... ketika melihat serigala datang, ....

 

Calvin (tentang Maz 23:4): As a sheep, when it wanders up and down through a dark valley, is preserved safe from the attacks of wild beasts and from harm in other ways, by the presence of the shepherd alone, so David now declares that as often as he shall be exposed to any danger, he will have sufficient defense and protection in being under the pastoral care of God (= Sebagaimana seekor domba, pada saat ia mengembara naik turun melalui lembah yang gelap, dijaga aman dari serangan-serangan dari binatang-binatang liar dan dari kerugian / kerusakan dengan cara-cara yang lain, oleh kehadiran dari gembala saja, demikianlah sekarang Daud menyatakan bahwa sesering ia terbuka terhadap bahaya apapun, ia akan mendapat penjagaan dan perlindungan yang cukup pada waktu ia berada dibawah pemeliharaan penggembakaan dari Allah).

Maz 23:4 - “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku”.

 

William Hendriksen (tentang Yoh 10): The absolute dependence of sheep upon the shepherd is everywhere implied. The sheep are dependent on him for provision, direction, and protection. The shepherd is ‘all things’ to them. And they place all their confidence in him (= Ketergantungan mutlak dari domba kepada gembala dinyatakan secara implicit dimana-mana. Domba tergantung kepadanya untuk penyediaan makanan, pengarahan, dan perlindungan. Gembala adalah ‘segala sesuatu / segala-galanya’ bagi mereka. Dan mereka menempatkan seluruh keyakinan mereka dalam dia).

 

Penerapan: setelah mengetahui keadaan domba dan ketergantungannya yang mutlak kepada gembalanya, pikirkan: kalau ajaran Arminian meletakkan keselamatan akhir dari domba itu pada domba itu sendiri, cocokkah itu? Kalau keselamatan akhir diletakkan pada domba itu sendiri, dan bukan pada gembalanya, domba itu PASTI terhilang!

 

 

-bersambung-

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org