Pembahasan mengenai ajaran Yesaya Pariadji dari GBI Tiberias

oleh : Pdt. Budi Asali M.Div.


III. Sikap yang benar terhadap nabi palsu

Ul 13:1-5 - “(1) Apabila di tengah-tengahmu muncul seorang nabi atau seorang pemimpi, dan ia memberitahukan kepadamu suatu tanda atau mujizat, (2) dan apabila tanda atau mujizat yang dikatakannya kepadamu itu terjadi, dan ia membujuk: Mari kita mengikuti allah lain, yang tidak kaukenal, dan mari kita berbakti kepadanya, (3) maka janganlah engkau mendengarkan perkataan nabi atau pemimpi itu; sebab TUHAN, Allahmu, mencoba kamu untuk mengetahui, apakah kamu sungguh-sungguh mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu. (4) TUHAN, Allahmu, harus kamu ikuti, kamu harus takut akan Dia, kamu harus berpegang pada perintahNya, suaraNya harus kamu dengarkan, kepadaNya harus kamu berbakti dan berpaut. (5) Nabi atau pemimpi itu haruslah dihukum mati, karena ia telah mengajak murtad terhadap TUHAN, Allahmu, yang telah membawa kamu keluar dari tanah Mesir dan yang menebus engkau dari rumah perbudakan - dengan maksud untuk menyesatkan engkau dari jalan yang diperintahkan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dijalani. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.

Ul 18:20-22 - “(20) Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi namaKu perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati. (21) Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? - (22) apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.’”.

1)   Jangan mendengarkan dia.

Nabi palsu yang ajarannya benar tetapi hidupnya tidak benar, masih boleh / bisa didengarkan, dan masih harus ditaati.

Mat 23:1-3 - “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kataNya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”.

Tetapi nabi palsu yang ajarannya sesat, tidak boleh didengarkan (Ul 13:3).

Kalau saudara pergi ke kebaktian / persekutuan yang ia adakan, maka perlu saudara ingat bahwa itu sudah merupakan suatu dukungan bagi dia, karena makin banyak yang hadir, makin hal itu membesarkan hatinya!

2)   Janganlah gentar / takut kepadanya (Ul 18:22b).

Mungkin ia akan memberikan ancaman kepada orang-orang yang tidak mau mendengarkan dia, atau mungkin ia akan bernubuat tentang hal-hal yang mengerikan yang akan menimpa orang-orang yang tidak mau mendengarkan / mempercayai dia, tetapi saudara tetap tidak perlu takut!

3)   Pada jaman Perjanjian Lama, nabi palsu harus dihukum mati (Ul 13:5  Ul 18:20b).

Tentang hukuman mati dalam Ul 13:5 ini, Pulpit Commentary mengatakan (hal 232) bahwa sekarang itu sudah tidak berlaku, karena ini termasuk dalam civil law / undang-undang negara / bangsa Israel pada saat itu, dan tidak bisa diterapkan di tempat lain pada jaman lain, apalagi pada jaman Perjanjian Baru. Yesus sendiri tidak menghukum mati para ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki, yang jelas-jelas adalah nabi-nabi palsu pada jaman itu. Lalu apa yang harus kita lakukan?

a)   Kalau seorang nabi palsu ada dalam gereja saudara sendiri, maka yang harus dilakukan adalah siasat gerejani (Mat 18:15-17  1Kor 5:1-13).

Siasat gerejani tidak hanya harus dilakukan kalau ada dosa menyolok di dalam gereja, tetapi juga kalau ada kepercayaan / ajaran sesat di dalam gereja. Dengan demikian kita menghapuskan yang jahat itu dari tengah-tengah kita (Ul 13:5b).

b)   Kalau nabi palsu itu ada di luaran, kita tidak boleh berteman / bersekutu dengan dia, kita tidak boleh menerima dia di rumah kita, makan bersama-sama dengan dia (yang menandakan suatu persekutuan dengan dia), dan bahkan kita tidak boleh memberi salam kepadanya.

2Kor 6:14-16 - “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu”.

1Kor 5:11b - “dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama”.

2Yoh 10-11 - “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.

 

 -AMIN-


e-mail us at [email protected]