kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 7 April 2019, pk 08.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Yesaya 52:13-53:12 (5)

 

YESAYA 53:5

 

Yes 53:5 - “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”.

 

1)         ‘Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita’.

 

a)   ‘Tertikam’.

KJV/RSV: ‘was wounded’ [= terluka].

NIV: ‘was pierced’ [= tertikam].

NASB: ‘was pierced through’ [= tertikam].

 

Barnes’ Notes: “The word rendered ‘wounded’ (MEKHOLAL), is a participle Pual, from KHALAL, to bore through, to perforate, to pierce; hence to wound (1Sam. 31:3; 1Chron. 10:3; Ezek. 28:9). ... Applied to the actual sufferings of the Messiah, it refers undoubtedly to the piercing of his hands, his feet, and his side.” [= Kata yang diterjemahkan ‘wounded’ / ‘terluka’ (MEKHOLAL), adalah suatu participle PUAL, yang berasal dari kata KHALAL, yang berarti mengebor, melubangi, menikam; dan karena itu melukai (1Sam 31:3; 1Taw 10:3; Yeh 28:9). ... Diterapkan pada penderitaan yang sesungguhnya dari Mesias, tak diragukan lagi itu menunjuk pada penembusan tanganNya, kakiNya dan sisi / rusukNya.] - hal 268.

 

Jadi, ini bukan hanya menunjuk pada penusukan tombak, pada saat Yesus sudah mati (Yoh 19:34).

 

b)   ‘oleh karena pemberontakan kita’.

 

1.         ‘oleh karena’.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘for’ [= untuk].

 

Barnes’ Notes: “The preposition ‘for’ (MIN) here answers to the Greek DIA, on account of, and denotes the cause for which he suffered, and means, even according to Genesius (Lex.), here, ‘the ground or motive on account of, or because of which anything is done.’” [= Kata depan ‘untuk’ (MIN) di sini cocok dengan kata Yunani DIA, ‘karena / sebab’ dan menunjukkan penyebab untuk mana ia menderita, dan menurut Genesius (Lex.) di sini berarti ‘dasar atau alasan yang menyebabkan sesuatu dilakukan’.] - hal 268.

 

2.         ‘pemberontakan kita’.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘our trangressions’ [= pelanggaran-pelanggaran kita].

Ini jelas menunjuk kepada dosa-dosa manusia / kita.

 

2)         ‘dia diremukkan oleh karena kejahatan kita’.

KJV/RSV: ‘was bruised’ [= diremukkan / dimemarkan].

NIV/NASB: ‘was crushed’ [= diremukkan].

 

Barnes’ Notes: “The word here used (DAKA) means properly to be broken to pieces, to be bruised, to be crushed (Job 6:9; Ps. 72:4). Applied to mind, it means to break down or crush by calamities and trials; and by the use of the word here, no doubt, the most severe inward and outward sufferings are designated. ... The meaning is, that he was under such a weight of sorrows on account of our sins, that he was, as it were, crushed to the earth. How true this was of the Lord Jesus it is not necessary here to pause to show.” [= Kata yang digunakan di sini (DAKA) sebetulnya berarti dihancurkan berkeping-keping, dimemarkan, diremukkan (Ayub 6:9; Maz 72:4). Diterapkan pada pikiran, kata itu berarti dipatahkan atau diremukkan oleh bencana-bencana dan pencobaan-pencobaan; dan penggunaan kata itu di sini tidak diragukan lagi menunjuk pada penderitaan-penderitaan batiniah dan lahiriah yang paling hebat. ... Artinya adalah bahwa Ia ada di bawah suatu beban kesedihan yang begitu besar karena dosa-dosa kita, sehingga seakan-akan / bisa dikatakan Ia diremukkan ke bumi. Betapa benarnya hal ini tentang Tuhan Yesus kita tak perlu meragukannya di sini.] - hal 268.

 

3)         ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya’.

 

a)   ‘ganjaran’.

KJV/RSV: the chastisement’ [= hajaran].

NIV: ‘the punishment’ [= hukuman].

NASB: ‘the chastening’ [= hajaran].

 

Barnes’ Notes: “The word ‘chastisement’ (MUSAR), properly denotes the correction, chastisement, or punishment inflicted by parents on their children, designed to amend their faults (Prov. 22:15; 23:13). It is applied also to the discipline and authority of kings (Job 22:18); and to the discipline or correction of God (Job 5:17; Hos. 5:2). Sometimes it means admonition or instruction, such as parents give to children, or God to men. ... The word does not of necessity denote punishment, though it is often used in that sense. It is properly that which corrects, whether it be by admonition, counsel, punishment, or suffering.” [= Kata ‘chastisement’ / ganjaran / hajaran / hukuman (MUSAR), sebetulnya berarti perbaikan, hajaran atau hukuman yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak mereka, dengan tujuan memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka (Amsal 22:15; 23:13). Kata itu juga diterapkan pada pendisiplinan dan otoritas dari raja-raja (Ayub 22:18); dan pada pendisiplinan atau pengkoreksian Allah (Ayub 5:17; Hos 5:2). Kadang-kadang kata itu berarti peringatan / teguran atau instruksi / pengajaran, seperti yang diberikan oleh orang tua kepada anak-anak atau oleh Allah kepada manusia. ... Kata ini tidak harus menunjuk pada hukuman, sekalipun sering dipakai dalam arti itu. Sebetulnya itu merupakan sesuatu yang memperbaiki, apakah dengan peringatan / teguran, nasehat, hukuman, atau penderitaan.] - hal 268.

Catatan:

1.   Ayub 22:18 itu mungkin salah cetak.

2.   Saya berpendapat bahwa kontex dari Yes 53 ini mengharuskan kata ini diartikan ‘hukuman’ di sini.

 

b)   ‘keselamatan’.

Di sini digunakan kata Ibrani SHALOM [= peace / damai].

‘Peace’ / ‘damai’ yang dimaksud adalah ‘peace with God’ [= damai dengan Allah]. Karena Kristus dihukum / dicambuki, kita mendapatkan damai dengan Allah.

 

Barnes’ Notes: “The word ‘peace’ means evidently their peace with God; reconciliation with their Creator.” [= Kata ‘damai’ jelas berarti damai mereka dengan Allah; perdamaian dengan Pencipta mereka.] - hal 268.

 

Tetapi ada juga yang mengartikan ‘damai dalam hati’. Perlu diingat bahwa ‘damai dengan Allah’ berhubungan erat dengan ‘damai dalam hati’.

 

Ini menyebabkan Yesus disebut ‘damai sejahtera kita’ (Ef 2:14,15,17; bdk. Kis 10:36; Ro 5:1).

 

c)   ditimpakan kepadanya’.

Ini menunjukkan bahwa Yesus menjadi substitute / pengganti kita dalam memikul hukuman dosa. Bahkan sebetulnya seluruh Yes 53:4-6 menunjukkan secara jelas bahwa Kristus adalah substitute / pengganti kita. Ini yang menyebabkan sekarang untuk bisa selamat caranya mudah sekali yaitu hanya percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan.

 

Agama-agama lain tidak mengajarkan penebusan / penggantian seperti dalam Kristen, tetapi mereka tetap mempercayai pengampunan dosa, entah dengan cara-cara apapun. Bagi Kristen, ditinjau dari sudut Alkitab, kalau ini benar, maka ini bukan menunjukkan kebaikan Allah, tetapi menunjukkan ketidak-adilan Allah.

 

Sebetulnya dalam duniapun berlaku hal ini. Kalau ada pelanggaran sekecil apapun, dan itu diampuni begitu saja, itu bukan menunjukkan suatu kebaikan / kasih, tetapi menunjukkan suatu ketidak-adilan. Saya beri contoh dari hal-hal yang kecil ke hal yang besar, maka semua akan menjadi jelas.

1.   Kalau saudara melanggar peraturan lalu lintas, dan polisi menangkap saudara, dan saudara memohon-mohon kepada polisi itu untuk diampuni, dan akhirnya polisi itu ‘mengampuni’ saudara, baikkah ia?? Kalau saudara menganggap dia baik, mari kita teruskan dengan hal yang lebih berat.

2.   Kalau saudara mencuri, dan saudara ditangkap polisi, dan saudara memohon-mohon kepada polisi itu untuk diampuni, dan polisi itu ‘mengampuni’ saudara, baikkah ia? Kalau saudara tetap menganggap dia baik, mari kita lanjutkan dengan hal yang lebih berat lagi.

3.   Kalau saudara memperkosa dan membunuh seorang gadis, dan saudara ditangkap polisi, dan saudara memohon-mohon untuk diampuni, dan polisi itu ‘mengampuni’ saudara, baikkah dia? Hanya orang gila yang sampai pada titik ini tetap mengatakan bahwa polisi itu baik!

 

Sebetulnya, ini berlaku untuk semua kesalahan / pelanggaran hukum di negara manapun! Kesalahan / pelanggaran sekecil apapun, sebetulnya tidak boleh diampuni begitu saja. Kalau tetap diampuni, itu bukan menunjukkan kebaikan, tetapi menunjukkan ketidak-adilan!

 

Sekarang kita kembali kepada Allah. Kalau Allah itu adil, semua dosa, besar atau kecil, banyak atau sedikit, HARUS DIHUKUM! Atau pada diri orang yang berbuat dosa, atau pada diri dari penggantinya. Jadi, orang yang tidak mempunyai Penebus / Pengganti, harus memikul sendiri hukuman dari semua dosa-dosanya!

 

Hal ini harus ada dalam pengertian kita, untuk bisa percaya dengan benar kepada Dia. Dan karena itu, hal ini juga harus ditekankan pada waktu kita memberitakan Injil!

 

4)         ‘dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh’.

 

a)   ‘bilur-bilur’.

KJV/RSV: stripes’ [= bilur / garis].

NIV: ‘wounds’ [= luka-luka].

NASB: ‘scourging’ [= penyesahan].

 

Barnes’ Notes: “The word here used in Hebrew ... means properly stripe, weal, bruise, i.e., the mark or print of blow on the skin. ... It occurs on the following places, and is translated by stripe, and stripes (Ex. 21:25); bruises (Isa. 1:6); hurt (Gen. 4:23); blueness (Prov. 20:30); wounds (Ps. 38:5); and spots, as of a leopard (Jer. 13:23). The proper idea is the weal or wound made by bruising; the mark designated by us when we speak of its being ‘black and blue.’ It is not a flesh wound; it does not draw blood; but the blood and other humours are collected under the skin. The obvious and natural idea conveyed by the word here is, that the individual referred to would be subjected to some treatment that would cause such a weal or stripe; that is, that he would be beaten, or scourged.” [= Kata yang digunakan di sini dalam bahasa Ibrani ... sebetulnya berarti garis / strip, bilur, memar, yaitu tanda atau bekas pukulan pada kulit. ... Kata itu muncul pada ayat-ayat sebagai berikut, dan diterjemahkan garis atau garis-garis (Kel 21:25); memar (Yes 1:6); luka (Kej 4:23); lebam (Amsal 20:30); luka (Maz 38:6); dan bercak / tutul, seperti pada macam tutul (Yer 13:23). Gagasan sebenarnya adalah bilur atau luka yang terjadi oleh pukulan yang menimbulkan luka memar; tanda yang kita tunjukkan pada waktu kita berbicara tentang ‘biru lebam’. Itu bukan luka daging; itu tidak mengeluarkan darah; tetapi darah dan cairan-cairan lain terkumpul di bawah kulit. Gagasan yang nyata dan wajar yang diberikan oleh kata ini di sini adalah bahwa individu yang ditunjukkan akan diperlakukan sedemikian rupa sehingga menyebabkan bilur atau garis; yaitu bahwa ia akan dipukuli, atau disesah / dicambuki.] - hal 269.

 

Penafsiran di atas ini agak aneh kalau mengingat bahwa pencambukan terhadap Yesus, yang dilakukan dengan cambuk Romawi yang dipenuhi benda-benda tajam itu, pasti menimbulkan luka-luka yang hebat. Karena itu mungkin terjemahan NIV [‘wounds’ {= luka-luka}] dan NASB [‘scourging’ {= penyesahan}] harus lebih diperhatikan dan dipercaya.

 

Charles Haddon Spurgeon: “... the suffering by which we are healed. ‘With his stripes we are healed.’ I find that the word here used is in the singular, and not as the translation would lead you to suppose. I hardly know how to translate the word fully. It is read by some as ‘weal,’ ‘bruise,’ or ‘wound,’ meaning the mark or print of blows on the skin; but Alexander says the word denotes the tumour raised in flesh by scourging. It is elsewhere translated ‘blueness,’ ‘hurt,’ and ‘spots,’ and evidently refers to the black and blue marks of the scourge. The use of a singular noun may have been intended to set forth that our Lord was as it were reduced to a mass of bruising, and was made one great bruise. By the suffering which that condition indicated we are saved.” [= ... penderitaan oleh mana kita disembuhkan. ‘Oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan’. Saya mendapatkan bahwa kata yang digunakan di sini ada dalam bentuk tunggal, dan tidak berbentuk jamak seperti terjemahannya. Saya hampir tidak tahu bagaimana menterjemahkan kata ini sepenuhnya. Kata ini dibaca oleh beberapa orang sebagai ‘bilur’, ‘memar’, atau ‘luka’, berarti tanda atau bekas pukulan pada kulit; tetapi Alexander berkata bahwa kata itu menunjuk pada pembengkakan yang timbul di dalam daging oleh penyesahan. Di tempat lain kata itu diterjemahkan ‘biru’, ‘luka’ dan ‘bercak’, dan jelas menunjuk pada tanda hitam dan biru dari penyesahan. Penggunaan kata benda bentuk tunggal mungkin dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Tuhan kita bisa dikatakan dihancurkan sehingga penuh luka-luka, dan dijadikan suatu kememaran yang besar. Oleh penderitaan yang ditunjukkan oleh keadaan itu kita diselamatkan.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the life and work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 592.

 

Mungkin kata bentuk tunggal ini yang menyebabkan NASB menterjemahkan ‘His scourging’ [= penyesahanNya].

 

b)   ‘kita menjadi sembuh’.

Barnes’ Notes: “The healing here referred to, is spiritual healing, or healing from sin. Pardon of sin, and restoration to the favour of God, are not infrequently represented as an act of healing.” [= Penyembuhan yang dimaksudkan di sini adalah penyembuhan rohani, atau penyembuhan dari dosa. Pengampunan dosa, dan pemulihan pada perkenan Allah, tidak jarang digambarkan sebagai suatu tindakan penyembuhan.] - hal 269.

Contoh:

Maz 41:5b - ‘sembuhkanlah aku, sebab terhadap Engkaulah aku berdosa!’.

Maz 6:3b (baca mulai ay 2) - ‘sembuhkanlah aku’.

Maz 103:3 - ‘Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,’. Ini jelas merupakan 2 kalimat paralel yang artinya sama, tetapi dinyatakan dengan kata-kata yang berbeda.

 

c)   Pulpit Commentary: “‘It is impossible for the blood of bulls and goats to take away sin’ (Heb. 10:4). It is impossible for sinful man to redeem his fellow-man (Ps. 49:7,8). Only One who was without sin, ‘holy, harmless, undefiled, separate from sinners’ (Heb. 7:26), could make atonement for others’ sins; only One who was perfectly pure himself could purify them; only One who needed none to intercede for him could intercede for his brethren.” [= ‘Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa’ (Ibr 10:4). Adalah tidak mungkin bagi orang berdosa untuk menebus sesamanya (Maz 49:8-9). Hanya Orang yang tanpa dosa, ‘saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa’ (Ibr 7:26), yang bisa melakukan penebusan untuk dosa-dosa orang lain; hanya Orang yang dirinya sendiri murni secara sempurna yang bisa memurnikan mereka; hanya Orang yang tidak membutuhkan pengantara bagi diriNya yang bisa menjadi pengantara bagi saudara-saudaraNya.] - hal 300.

Maz 49:8-9 - “(8) Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, (9) karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya.”. Ini salah terjemahan.

NIV (Ps. 49:6-7): “No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” [= Tidak seorang manusiapun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi].

 

d)   Di sini saya akan memberikan beberapa kutipan dari khotbah Charles Haddon Spurgeon tentang kata-kata ‘oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan’.

 

1.   Charles Haddon Spurgeon: “Christ Jesus, the true medicine of the sons of men, was ordained of old to heal the sickness of his people.” [= Kristus Yesus, obat yang benar bagi anak-anak manusia, ditentukan sejak dahulu untuk menyembuhkan penyakit umatNya.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the life and work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 587.

 

2.   Charles Haddon Spurgeon: “‘with his stripes we are healed.’ These six words contain the marrow of the gospel, and yet scarcely one of them contains a second syllable. They are words for plain people, and in them there is no affectation of mystery or straining after the profound. I looked the other day into old Culpepper’s Herbal. It contains a marvellous collection of wonderful remedies. Had this old herbalist’s perscriptions been universally followed, there would not long have been any left to prescribe for; the astrological herbalist would soon have extirpated both sickness and mankind. Many of his receipts contain from twelve to twenty different drugs, each one needing to be prepared in a peculiar manner; I think I once counted forty different ingredients in one single draught. ... If you would see Culpepper’s Herbal carried out in spiritual things, go and buy a Directory for the carrying on of the Ritualistic services of the Church of England, or the Church of Rome. You shall find there innumerable rules as to when you shall bow, and to what quarter of the heavens you shall look: when you shall stand up, and when you shall kneel: when you shall dress in black, in white, in blue, or in violet: how you shall pray, and what you shall pray, a collect being appointed for to-day, and another for to-morrow. On the other hand, if you would know the true way of having your souls healed, go to the Word of God, and study such a text as this: ‘With his stripes we are healed.’ In the one case all is mysterious, in the other all is simple and clear.” [= ‘Oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan’. Enam kata ini mencakup sumsum dari Injil, tetapi tidak satupun dari mereka yang mempunyai suku kata kedua. Itu adalah kata-kata untuk orang yang sederhana, dan dalam mereka tidak ada kepura-puraan misteri atau penyaringan orang pandai. Beberapa waktu yang lalu saya melihat Herbal Culpepper yang kuno. Itu mencakup koleksi yang mengagumkan dari obat-obat yang hebat. Andaikata resep dari ahli obat ramuan ini diikuti secara universal, maka tidak akan ada apapun yang tersisa untuk diberi resep; ahli ramuan obat astrologi ini akan segera memusnahkan baik penyakit maupun umat manusia. Banyak dari resep-resepnya yang terdiri dari 12 sampai 20 obat yang berbeda-beda, dan setiap obat itu harus disiapkan dengan cara yang khusus; saya menghitung 40 macam zat dalam satu teguk / minuman. ... Jika engkau mau melihat Herbal Culpepper dalam hal-hal rohani, pergilah dan belilah Buku petunjuk untuk melakukan kebaktian yang bersifat upacara dalam Gereja England, atau Gereja Roma (Katolik). Engkau akan mendapatkan peraturan-peraturan yang tak terhitung berkenaan dengan kapan engkau harus membungkuk, dan bagian surga mana yang harus kaupandang: kapan engkau harus berdiri, dan kapan engkau harus berlutut: kapan engkau harus berpakaian hitam, putih, biru, atau ungu: bagaimana engkau harus berdoa, dan apa yang harus kamu doakan, suatu pengumpulan (kolekte?) yang ditetapkan untuk hari ini, dan untuk besok. Di sisi yang lain, jika engkau ingin tahu jalan yang benar untuk kesembuhan jiwamu, pergilah kepada Firman Allah, dan pelajarilah text seperti ini: ‘Oleh bilur-bilurnya kita disembuhkan’. Dalam kasus yang satu semuanya misterius, dalam kasus yang lain semua sederhana dan jelas.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the life and work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 587-588.

Catatan:

a.   Dalam bahasa Inggris bagian ini memang terdiri dari 6 kata (‘with his stripes we are healed’), dan setiap kata dari 6 kata itu terdiri hanya dari satu suku kata, tetapi dalam bahasa Indonesia tidak demikian.

b.   Kata yang saya garisbawahi itu merupakan perubahan dari kata ‘prescriptions’.

 

Kelihatannya, maksud Spurgeon adalah bahwa Injil itu sederhana dan mudah. Tetapi ada gereja-gereja (ia berikan gereja England dan Roma Katolik sebagai contoh) yang menggunakan upacara-upacara yang begitu ruwet, yang ia analogikan dengan obat ramuan yang begitu ruwet. Ini mengaburkan Injil yang sederhana tersebut.

 

Bukan hanya upacara-upacara, tetapi ajaran-ajaran juga bisa dibuat sedemikian rupa sehingga mengaburkan Injil yang sederhana. Misalnya dengan ditambah dengan macam-macam filsafat.

 

3.   Charles Haddon Spurgeon: “Truly, this is one reason why there is an adoption in the Romish Church of the Latin tongue, and why in many other churches there is an affectation of a theological jargon which nobody can comprehend, and which would not be of any use to them if they did comprehend it; the whole is designed to delude the multitude. To what purpose are fine speeches in the gospel ministry. Sickness are not healed by eloquence. It was an ill day in which rhetoric crept into the church of God, and men attempted to make gospel a subject for oratory. The gospel wants no human eloquence to recommend it. It stands most securely when without a buttress. Like beauty, it is most adorned when unadorned the most.” [= Benar, inilah alasan mengapa ada penggunaan bahasa Latin dalam gereja Roma (Katolik), dan mengapa dalam gereja-gereja yang lain ada penggunaan istilah-istilah theologia yang tidak dapat dimengerti oleh siapapun; dan yang tidak mempunyai kegunaan apapun bagi mereka seandainya mereka mengertinya; semua itu dirancang untuk memperdayakan orang banyak. Apa gunanya kata-kata yang indah / halus dalam pelayanan injil. Penyakit tidak disembuhkan dengan kefasihan. Merupakan suatu hari yang buruk pada saat kepandaian berbicara / berpidato merangkak masuk ke dalam gereja Allah, dan orang berusaha untuk membuat injil tunduk pada keahlian berpidato. Injil tidak membutuhkan kefasihan manusia untuk mendapat pujian. Injil berdiri paling teguh pada saat tidak ada dinding penopang. Seperti kecantikan, itu paling indah pada saat paling tidak diperindah.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the life and work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 588.

 

Bandingkan dengan kata-kata Paulus dalam 1Kor 2:1-5 - “(1) Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. (2) Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. (3) Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. (4) Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, (5) supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.”.

 

4.   Charles Haddon Spurgeon: “There is not a man, or woman among us that can escape the damnation of hell apart from the healing virtue of the Saviour’s atoning sacrifice. No, not one. Yon lovely little girl is defiled in heart, albeit that as yet nothing worse than childish folly is discoverable; leave but that little mind to its own devices, and the fair child will become an arch-transgressor. Yonder most amiable youth, although no blasphemous word has ever blackened his lip, and no lustful thought has yet inflamed his eye, must yet be born again, or he may wander into foulest ways; and yonder most moral tradesman, though he has as yet done justice to his fellow men, will perish if he be not saved by the grace of God through Christ Jesus. Sin dwelleth in us, and will be deadly in the case of every one among us, without a solitary exception, unless we accept the remedy which God has provided.” [= Tidak ada orang laki-laki atau perempuan di antara kita yang bisa lolos dari hukuman neraka terpisah dari sifat penyembuhan dari korban penebusan Sang Juruselamat. Tidak, tidak seorangpun. Anak gadis kecil yang cantik di sana itu dicemari hatinya, sekalipun tidak ada yang lebih jelek dari pada ketololan seorang anak yang ditemukan padanya; biarkanlah pikiran kecil itu pada rencananya sendiri, dan anak yang cantik itu akan menjadi pelanggar utama / kepala pelanggar. Remaja yang paling ramah di sana, sekalipun tidak ada kata penghujatan yang pernah menghitamkan bibirnya, dan tidak ada pemikiran yang penuh hawa nafsu yang pernah membakar matanya, tetap harus dilahirbarukan, atau ia akan mengembara di jalan yang paling kotor / busuk; dan pedagang yang paling bermoral di sana, sekalipun ia berlaku adil kepada sesama manusianya, akan binasa jika ia tidak diselamatkan oleh kasih karunia Allah melalui Kristus Yesus. Dosa tinggal di dalam kita, dan akan mematikan dalam kasus dari setiap orang di antara kita, tanpa satu perkecualianpun, kecuali kita menerima obat yang telah disediakan Allah.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the life and work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 590.

 

5.   Charles Haddon Spurgeon: “Ah, dear friends, this disease is none the better because we do not feel it. It is all the worse. It is one of the worst symptoms in some diseases, when men become incapable of feeling. It is dreadful when the delirious sick man cries out ‘I am well enough; I will leave this bed; I will go to my business.’ Hear how he raves; must we not put him under restraint? The louder his boasts of health the more sad the delirious patient’s condition. When ignorance is known and felt it is not dense, but he who knows nothing, and yet fancies that he knows everything, is ignorant indeed.” [= Oh, teman-teman yang kekasih, penyakit ini tidak lebih baik kalau kamu tidak merasakannya. Bahkan lebih jelek. Merupakan tanda terburuk dalam beberapa penyakit, pada saat orangnya tidak bisa merasakan. Merupakan sesuatu yang menakutkan pada waktu orang yang sakit mengigau ‘Aku cukup baik / sehat; aku akan meninggalkan ranjang ini; aku akan pergi kepada bisnisku’. Dengarkanlah bagaimana ia mengoceh; tidakkah kita harus mengekangnya? Makin keras pembanggaan kesehatannya, makin menyedihkan kondisi pasien yang mengigau itu. Pada waktu ketidaktahuan itu diketahui dan dirasakan, ketidaktahuan itu tidak terlalu tebal, tetapi pada waktu ia yang tidak tahu apa-apa mengkhayalkan bahwa ia mengetahui segala sesuatu, maka ia betul-betul tidak tahu.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the life and work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 590.

 

5)   Kata-kata ‘tertikam’, ‘diremukkan’, ‘ganjaran’, ‘bilur’. Semua ini menunjukkan betapa hebatnya penderitaan Kristus untuk memikul hukuman dosa kita.

 

Keil & Delitzsch: There were no stronger expressions to be found in the language, to denote a violent and painful death.” [= Disana tidak ada ungkapan-ungkapan yang lebih kuat yang bisa ditemukan dalam bahasa itu, untuk menunjukkan suatu kematian yang extrim / brutal dan menyakitkan.].

 

Keil & Delitzsch: ‎‎We were sick unto death because of our sins; but He, the sinless one, took upon Himself a suffering unto death, which was, as it were, the concentration and essence of the woes that we had deserved; and this voluntary endurance, this submission to the justice of the Holy One, in accordance with the counsels of divine love, became the source of our healing.” [= Kita sakit sampai pada kematian karena dosa-dosa kita; tetapi Ia, Orang yang tidak berdosa, mengambil pada diriNya sendiri suatu penderitaan sampai mati, yang seakan-akan merupakan konsentrasi / fokus dan hakekat dari penderitaan-penderitaan yang layak kita dapatkan; dan sikap bertahan yang sukarela ini, ketundukan pada keadilan dari Yang Maha Kudus ini, sesuai dengan rencana dari kasih Ilahi, menjadi sumber dari penyembuhan kita.].

 

 

 

 

-bersambung-

 


 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]

Khotbah2 di Youtube :

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ