kebaktian

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)

 

Minggu, tgl 17 Maret 2019, pk 08.00 & 17.00

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Yesaya 52:13-53:12 (3)

 

Yesaya 53:1-2

 

Yes 53:1-2 - “(1) Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? (2) Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.”.

 

1)   Calvin berpendapat bahwa pemulaian pasal di sini sangat tidak tepat, dan seharusnya Yes 53 dimulai dari 52:13.

 

Charles Haddon Spurgeon juga berpendapat serupa, karena is berkata: “There is a break made in our version between the 52nd and 53rd chapters, but no such break should have been made,” [= Di sana ada suatu pemisahan yang dibuat dalam versi kita antara pasal ke 52 dan pasal ke 53, tetapi seharusnya tidak boleh dibuat pemisahan seperti itu,] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 576.

 

2)   Clarke mengatakan bahwa orang-orang Yahudi berusaha untuk menafsirkan bagian ini untuk menunjuk pada penderitaan mereka dalam pembuangan, tetapi ini tentu saja merupakan penafsiran yang menggelikan. Bagian ini hanya bisa menunjuk kepada Yesus!

 

53:1: “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?”.

 

1)         Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar.

Bagian yang saya garisbawahi itu secara hurufiah sebetulnya adalah: ‘the thing heard’ [= hal yang didengar]. Ada 2 kemungkinan arti:

a)   Menunjuk pada berita yang kami dengar (Kitab Suci Indonesia/RSV).

b)   Menunjuk pada berita yang kami sampaikan (KJV/NIV/NASB).

KJV: Who hath believed our report? [= Siapa yang telah percaya pada pemberitaan kami?].

NIV/NASB: ‘Who has believed our message [= Siapa yang telah mempercayai berita kami].

 

Untuk mengetahui yang mana yang benar, mari kita membandingkan bagian ini dengan Yoh 12:37-38 dimana rasul Yohanes mengutip Yes 53:1 ini.

 

Yoh 12:37-38 - “(37) Dan meskipun Yesus mengadakan begitu banyak mujizat di depan mata mereka, namun mereka tidak percaya kepadaNya, (38) supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami? Dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?’”.

 

Bagian yang saya garisbawahi diterjemahkan ‘our report’ [= laporan / pemberitaan kami] oleh KJV/RSV/NASB, dan ‘our message’ [= berita kami] oleh NIV. Jadi kalau penterjemahan Yes 53:1 berbeda-beda, maka penterjemahan Yoh 12:38 (yang mengutip Yes 53:1) boleh dikatakan seragam.

Dari sini terlihat dengan jelas bahwa dalam Yes 53:1 itu arti ke 2, yaitu yang diberikan oleh KJV/NIV/NASB, merupakan arti yang benar.

 

2)   Sekarang mari kita baca lagi Yes 53:1 ini: “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar (beritakan), dan kepada siapakah tangan kekuasaan Tuhan dinyatakan?”

 

Ayat ini menghubungkan atau bahkan mengidentikkan ‘kepercayaan terhadap berita Injil’ dan ‘pernyataan kuasa Tuhan. Kesimpulannya: seseorang hanya bisa percaya kepada Injil karena pekerjaan Tuhan. Memang iman / pertobatan adalah karunia Allah!

 

a)   Fil 1:29 - “Sebab kepada kamu dikaru­niakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia,”.

 

b)   Kis 11:18b - “‘Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.’”.

Catatan: kalau dilihat kontex dari Kis 10-11, yang mempersoalkan ‘pertobatan’ Kornelius dan keluarganya, maka jelas terlihat bahwa yang dimaksud dengan pertobatan di sini, bukanlah pertobatan dari dosa, tetapi ‘datang / percaya kepada Yesus’.

 

3)   Pertanyaan dalam Yes 53:1 ini menunjukkan keheranan karena sedikit / tidak adanya orang yang percaya pada berita Injil, khususnya di kalangan orang Yahudi.

 

Selanjutnya, bagian ini dikutip dalam Yoh 12:38 dan Ro 10:16, dan menunjukkan bahwa pada jaman Perjanjian Baru juga ada banyak orang menolak Injil dan secara relatif sangat sedikit yang mau percaya pada Injil / Yesus.

 

Ro 10:16 - “Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata: ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?’”.

LAI: ‘menerima’.

KJV/RSV: ‘obeyed’ [= mentaati].

NIV: ‘accepted’ [= menerima].

NASB: ‘heed’ [= memperhatikan].

 

Calvin: “Isaiah declares that there will be few that submit to the Gospel of Christ; for, when he exclaims, ‘Who will believe the preaching?’ he means that of those who hear the Gospel scarcely a hundredth person will be a believer. Nor does he merely speak of himself alone, but like one who represents all teachers.” [= Yesaya menyatakan bahwa hanya sedikit yang akan tunduk pada Injil Kristus; karena, pada waktu ia berseru: ‘Siapa akan percaya khotbah itu / pemberitaan itu?’, ia memaksudkan bahwa dari mereka yang mendengar Injil mungkin tidak ada  seperseratusnya yang akan menjadi seorang percaya. Juga ia tidak berbicara semata-mata tentang dirinya sendiri saja, tetapi ia berbicara sebagai orang yang mewakili semua guru / pengajar.] - hal 111.

 

Penerapan: karena itu kalau saudara memberitakan Injil, jangan kecewa kalau banyak yang menolak, dan jangan berhenti memberitakan Injil karena banyak yang menolak. Ingat bahwa tugas kita hanya menyampaikan Injil. Kalau kita sudah melakukannya, kita sebetulnya sudah berhasil. Apakah orang yang kita injili itu mau bertobat atau tidak, itu merupakan urusan orang itu dengan Tuhan. Ini tidak berarti bahwa kita memberitakan Injil tanpa beban / keinginan supaya orang yang kita injili itu bertobat. Kita tetap harus mempunyai beban itu, tetapi kita juga harus mengingat bahwa nubuat Yesaya ini mengatakan bahwa secara relatif hanya sedikit orang yang bertobat.

 

Bandingkan juga dengan Mat 7:13-14 yang berbunyi: “(13) Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; (14) karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.’”.

 

53:2: “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.”.

 

1)   ‘Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering’.

 

Ada 2 kata yang perlu disoroti terjemahannya:

 

a)   ‘taruk’.

KJV: ‘tender plant’ [= tanaman lembut].

RSV: ‘young plant’ [= tanaman muda].

NIV/NASB: ‘tender shoot’ [= tunas lembut].

 

b)   ‘tunas’.

Ini salah terjemahan; KJV/RSV/NIV/NASB menterjemahkan ‘root’ [= akar].

Kalau saudara membaca Yes 53:2a ini dalam Terjemahan Lama (TL), maka terjemahannya lebih benar, dan bunyinya adalah: “Karena ia telah tumbuh di hadapan hadiratNya seperti taruk muda, seperti sebuah akar dari pada tanah yang kering;”.

 

Sekarang mari kita membahas dua hal ini secara lebih terperinci:

 

a)   Tanaman muda ini menunjuk kepada Tuhan Yesus sendiri.

Dalam banyak bagian Kitab Suci, seperti Yer 23:5-6  Yer 33:15-16  Yes 4:2  Yes 11:1, Yesus digambarkan sebagai ‘Tunas’. Disamping itu, kalau Yes 53 ini kita baca terus, yaitu ay 5,6,7 dstnya, maka akan terlihat dengan jelas bahwa seluruh pasal ini adalah suatu nubuat tentang Mesias atau Tuhan Yesus sendiri.

Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ‘tanaman muda yang akarnya ada di tanah yang kering’ itu tidak lain adalah Tuhan Yesus sendiri.

Sekarang, apa maksudnya kalau Yesus dikatakan sebagai ‘tanaman muda yang akarnya ada di tanah yang kering’? Ini jelas menunjukkan ‘aspek gelap’ dari Tuhan Yesus, atau dengan kata lain ini menunjukkan bahwa Yesus nantinya tidak sukses terus / berkembang pengaruhNya dengan mudah.

 

Pulpit Commentary: “Psalms probably written before his time (as Ps. 2,22,31,40,69, etc.) had partially drawn aside the veil, and given indications that the career of the Deliverer would not be all glory or all triumph. But it was difficult to determine how far they were historical, how far prophetic. It was a part of Isaiah’s mission to reveal, in language that could scarcely be mistaken, the darker aspect of Messiah’s coming, the ‘contradiction of sinners’ which he would encounter, and its consequences.” [= Mazmur-mazmur yang mungkin ditulis sebelum jaman Yesaya (seperti Maz 2,22,31,40,69, dsb.) telah menyingkapkan sebagian selubung, dan telah memberikan petunjuk bahwa karir dari sang Penyelamat / Pembebas tidak akan seluruhnya berupa kemuliaan atau kemenangan. Tetapi adalah sukar untuk menentukan sejauh mana mereka itu bersifat sejarah, dan sejauh mana bersifat nubuatan. Adalah bagian dari misi nabi Yesaya untuk menyatakan, dalam bahasa yang tidak mungkin disalah-mengerti, aspek yang gelap dari kedatangan Mesias, permusuhan orang-orang berdosa yang akan Ia hadapi / alami, dan konsekwensi-konsekwensinya.] - hal 299.

 

1.         Tuhan Yesus disebut sebagai tanaman muda.

Kalau tanaman tua / besar, misalnya pohon mangga yang sudah besar, maka tentu saja tanaman itu kuat sekali. Kita boleh memukulnya, menendangnya, dsb, ia akan tetap bertahan. Tetapi tidak demikian dengan tanaman muda, tanaman yang baru tumbuh. Ia sangat lemah dan mudah mati. Kalau kita menendangnya, menginjaknya, mencabutnya maka ia segera akan mati.

Demikianlah keadaan Tuhan Yesus pada waktu Ia datang ke dunia ini untuk pertama kalinya. Ia tidak datang sebagai tanaman besar, Ia tidak datang dengan keperkasaan, kekuatan dan kemuliaan. Tidak! Sebaliknya Ia datang sebagai seorang bayi yang lemah, yang secara logika, setiap saat bisa sakit dan bahkan mati. Lalu Herodes ingin membunuh Dia, sehingga Yusuf dan Maria terpaksa membawaNya mengungsi ke Mesir. Kalau terlambat lari, Ia pasti dibunuh dan mati. Pada waktu Yesus sudah melayani, Ia dibenci dan dimusuhi oleh tokoh-tokoh agama jaman itu dan Ia berulangkali mau dibunuh.

Jadi, Dia kelihatan lemah dan mudah mati, tetapi aneh bin ajaib, dalam kenyataannya Ia tidak bisa musnah. Sekalipun memang akhirnya Ia ditangkap, disalibkan dan mati, tetapi Ia tetap tidak musnah, karena Ia bangkit kembali dan hidup selama-lamanya.

 

2.   Tanaman muda itu akarnya ada di tanah yang kering, tetapi ia tetap bertumbuh.

Pertama-tama kita soroti kata ‘tumbuh’ dalam Yes 53:2a ini.

KJV: ‘shall grow up’ [= akan tumbuh]. Ini ada dalam future tense [= bentuk akan datang] dan ini salah.

RSV/NIV/NASB: ‘grew up’ [= telah tumbuh]. Ini ada dalam past tense [= bentuk lampau], dan ini yang benar.

 

Memang ini merupakan nubuat tentang hal yang akan datang, tetapi saking pastinya, lalu ditulis dalam past tense / bentuk lampau, seakan-akan hal itu sudah terjadi.

 

Pulpit Commentary: “The verbs are, all of them, in the past, or completed tense, until ver. 7, and are to be regarded as ‘perfects of prophetic certitude.’ As Mr. Cheyne remarks, ‘All has been finished before the foundations of the world in the Divine counsels.’” [= Kata-kata kerja yang digunakan semuanya ada dalam ‘bentuk lampau’ atau ‘bentuk sudah selesai’ sampai ay 7, dan harus dianggap sebagai ‘sudah terjadi dari sudut kepastian nubuatan’. Seperti dikatakan oleh Tuan Cheyne: ‘Semua sudah diselesaikan sebelum penciptaan alam semesta / dunia, dalam Rencana Ilahi’.] - hal 294.

 

Selanjutnya dikatakan bahwa ia tumbuh di tanah yang kering. Kalau kita melihat tanaman yang tumbuh di tanah yang subur, kita tidak perlu heran. Tetapi kalau kita melihat tanah yang kering, bukan hanya bagian atasnya tetapi terus sampai dalam sekali dan ternyata di sana ada sebuah tanaman muda yang bisa bertumbuh, maka ini betul-betul luar biasa.

 

Di tempat dimana rasanya tidak mungkin ada sesuatu yang bisa tumbuh, ternyata tanaman muda ini bisa tumbuh. Demikian pula halnya dengan Tuhan Yesus. Ia tumbuh dalam hal pengaruhNya terhadap orang banyak, padahal rasanya tidak mungkin. Mengapa rasanya tidak mungkin?

 

a.   Ditinjau dari sudut keturunan.

Ia memang keturunan raja yaitu Raja Daud, tetapi kerajaan Israel maupun Yehuda telah hancur dan pada saat itu Yehuda ada di bawah penjajahan Romawi. Andaikata Ia adalah keturunan / anak raja yang berhak atas mahkota kerajaan, maka tidak aneh kalau pengaruhNya bisa begitu hebat. Tetapi Ia tidak punya hak apa-apa atas kerajaan, Ia dikenal sebagai rakyat jelata, anak tukang kayu yang miskin. Jadi ditinjau dari sudut keturunan, rasanya tidak mungkin Ia bisa mempunyai pengaruh yang besar.

 

b.   Ditinjau dari sudut kebangsaan.

Andaikata Ia adalah orang Romawi, maka tidak aneh kalau Ia bisa mempunyai pengaruh yang besar, karena bangsa Romawi pada saat itu kuat sekali. Tetapi Ia adalah orang Yahudi, yang pada waktu itu adalah bangsa yang kecil, lemah, dijajah / ditindas, sehingga rasanya tidak memungkinkan bagi Tuhan Yesus untuk menumbuhkan pengaruhNya.

 

c.   Ditinjau dari sudut pengikut.

Andaikata Tuhan Yesus memilih murid-muridNya dari kalangan orang-orang top, seperti kaisar, gubernur, panglima perang, ahli filsafat, ahli Taurat, orang Farisi, Imam, dsb, maka tidak heran jika Ia mempunyai pengaruh yang hebat. Tetapi kenyataannya, Ia memilih murid-murid dari golongan rendahan seperti nelayan, pemungut cukai, dsb. Rasanya ini tidak memungkinkan untuk menumbuhkan pengaruhNya.

 

d.   Ditinjau dari keadaan alamiah manusia.

Andaikata ajaran dan kehidupan Yesus sesuai dengan keadaan alamiah manusia, maka tidak aneh kalau banyak orang mau ikut Dia. Tetapi kenyataannya, ajaran maupun kehidupan Tuhan Yesus bertentangan dengan keadaan alamiah manusia, misalnya:

(1) Adakah manusia yang kalau diam-diam ditempeleng tidak kepingin membalas? Pasti kepingin membalas, itulah keadaan alamiah manusia. Tetapi bagaimana ajaran Tuhan Yesus? Bila kamu ditampar pipi kananmu berikan juga pipi kirimu, kasihilah musuhmu, berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu, dsb (Mat 5:39,43-44).

(2) Adakah orang laki-laki yang tidak pernah melihat seorang gadis yang cantik dan sexy dan lalu terangsang? Semua laki-laki normal pasti pernah dan bahkan sering mengalami hal seperti itu. Itulah keadaan alamiah manusia. Tetapi bagaimana ajaran Tuhan Yesus? Ia berkata: Barangsiapa memandang seorang perempuan dan menginginkannya sudahlah ia berzinah dalam hatinya (Mat 5:28).

 

Ajaran-ajaran Tuhan Yesus yang bertentangan dengan keadaan alamiah manusia ini menyebabkan rasa-rasanya sukar bagiNya untuk bisa menumbuhkan pengaruhNya.

 

Jadi, ditinjau dari sudut keturunan, kebangsaan, pengikut, maupun keadaan alamiah manusia, rasanya Yesus tidak bisa menumbuhkan pengaruhNya. Tetapi kenyataannya, pengaruhNya toh bertumbuh. Ia betul-betul seperti tanaman muda yang bertumbuh, sekalipun akarnya ada di tanah yang kering!

 

b)   Calvin berkata bahwa kedua hal di atas dalam Yes 53:2a ini berlaku bukan hanya bagi diri Kristus sendiri, tetapi juga bagi Gereja (tubuh Kristus) / kekristenan. Saya setuju dengan Calvin, karena:

1.   Yesus itu satu dengan Gereja yang adalah tubuhNya.

2.   Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi dari tuannya, dan seorang murid tidak lebih tinggi dari gurunya (Mat 10:24  Yoh 15:20). Jadi, kalau Yesus mempunyai ‘aspek yang gelap’, dimana Ia tidak akan sukses dengan mudah, banyak ditentang dsb, maka Gereja / orang kristen pasti juga demikian.

 

Jadi, Gereja / kekristenan juga:

 

1.         Seperti tanaman muda (lemah, mudah mati).

a.   Waktu Yesus masih hidup dalam dunia, Gereja terdiri hanya dari 11 rasul dan beberapa orang lagi. Apa artinya? Kelihatannya sebentar lagi Gereja akan musnah.

b.   Pada waktu Yesus mati disalib, murid-muridNya bubar, dan rasanya Gereja / kekristenan musnah, tetapi ternyata tidak! Yesus bangkit, dan Gereja / kekristenan juga bangkit!

c.   Pada hari Pentakosta, memang ada 3.000 orang bertobat (Kis 2:41), lalu sebentar lagi menjadi 5.000 orang (Kis 4:4). Tetapi mereka lalu dimusuhi habis-habisan oleh orang-orang Yahudi. Saulus diberi kuasa untuk menangkapi dan membunuhi orang-orang Kristen. Orang-orang kristen lari berhamburan kemana-mana (Kis 8:1b-4). Apakah Gereja / kekristenan hancur? Tidak!

d.   Penderitaan orang kristen memuncak pada jaman kaisar Nero (54-68 M), dan kaisar-kaisar Romawi lainnya yang anti kristen. Mereka menangkapi, menyiksa, membunuhi orang kristen dengan cara yang kejam. Rasanya Gereja / kekristenan pada saat itu pasti hancur. Tetapi ternyata tidak!

e.   Sampai saat ini dimana-mana orang kristen dimusuhi, apalagi di negara-negara komunis, dan bahkan di Indonesia. Tetapi aneh, Gereja / kekristenan tetap bertahan dan tidak musnah!

 

Sama seperti Tuhan Yesus, Gereja itu lemah, seperti tanaman muda, kelihatannya mudah mati / hancur / musnah, tetapi kenyataannya tidak bisa musnah! Tidakkah saudara merasakan ini sebagai suatu penghiburan?

 

2.   Seperti tanaman muda yang bertumbuh, sekalipun akarnya ada di tanah yang kering.

Gereja mula-mula (abad I) bertumbuh betul-betul pada saat / tempat yang rasanya sangat tidak cocok untuk pertumbuhan gereja. Mengapa?

a.   Negara sedang dijajah oleh Roma, dan Roma memusuhi Gereja / kekristenan.

b.   Orang Yahudi mempunyai gambaran yang salah tentang Mesias, karena mereka menganggap bahwa Mesias itu adalah raja duniawi yang akan membebaskan mereka dari penjajahan Roma.

Tetapi kenyataannya Gereja saat itu toh bertumbuh!

 

Juga sekarang, banyak tempat lain yang rasanya tidak memungkinkan gereja berkembang, seperti negara komunis, pedalaman-pedalaman, negara dengan mayoritas agama lain yang fanatik, negara seperti Indonesia dimana kristen dianggap oleh banyak orang sebagai agama penjajah (Belanda), dsb. Tetapi kenyataannya Gereja tetap bisa bertumbuh! Di tempat dimana rasanya tidak mungkin tumbuh, Gereja ternyata bisa tumbuh. Betul-betul seperti tanaman yang bertumbuh sekalipun akarnya ada di tanah kering!

 

Kedua hal di atas ini bisa dipakai untuk mengecheck suatu gereja.

 

Suatu gereja yang semuanya serba lancar dan sukses, misalnya jemaatnya bertambah terus, keuangan berlimpah-limpah, gereja-gerejanya seperti istana, setiap buka cabang langsung sukses, dsb, maka semua itu rasanya bertentangan dengan gambaran ‘tanaman muda yang akarnya ada di tanah yang kering’. Karena itu mungkin sekali gereja seperti ini sebenarnya bukanlah gereja dalam pandangan Tuhan. Mereka bisa sukses, mungkin karena berkat dari setan, yang mau memberkati mereka karena gereja itu berjalan sesuai kehendaknya.

 

Ini tidak berarti bahwa semua gereja yang besar adalah sesat, dan ini juga tidak berarti bahwa gereja yang benar tidak mungkin menjadi besar. Tentu saja gereja yang benar bisa menjadi besar, tetapi tidak mungkin ia menjadi besar tanpa problem dan serangan setan yang luar biasa beratnya dan perjuangan yang luar biasa kerasnya.

 

Sebaliknya, ini juga tidak berarti bahwa gereja yang kecil dan lemah, yang ada dalam keadaan ‘hidup segan mati tak mau’, pasti merupakan gereja yang benar. Bisa saja itu memang merupakan gereja yang jelek, yang tidak diberkati, baik oleh Tuhan, maupun oleh setan!

 

Tetapi juga ada gereja yang sungguh-sungguh adalah gereja yang benar, dan karenanya mengalami begitu banyak serangan setan, baik penderitaan, adu domba, dsb, sehingga sukar sekali bertumbuh. Kalau saudara ada dalam gereja yang seperti ini, jangan putus asa ataupun kecewa, karena gereja yang seperti ini sesuai dengan gambaran ‘tanaman muda yang akarnya ada di tanah yang kering’.

 

Kedua hal di atas ini juga bisa dipakai untuk mengecheck seorang kristen.

 

Orang kristen yang hidupnya semua lancar, baik jasmani (pekerjaan, keuangan, kesehatan, keluarga, dsb) maupun rohani (iman, pelayanan, sukacita, damai, dsb), tidak sesuai dengan kata-kata ‘tanaman muda yang akarnya ada di tanah yang kering’. Mungkin sekali ia adalah sekedar orang kristen KTP yang diberkati / dimanjakan oleh setan.

 

Orang kristen yang setiap kali bersaksi selalu bersaksi betapa banyak berkat Tuhan yang enak-enak baginya, mungkin sekali sebetulnya hanya bersaksi dusta atau menceritakan half-truth [= setengah kebenaran], dimana ia tidak mau menceritakan penderitaan, kekecewaan, dan kegagalan yang ia alami.

 

Sebaliknya kalau saudara adalah orang kristen yang menjumpai banyak penderitaan, pencobaan, kekecewaan, kegagalan, dsb, maka ingatlah bahwa itu justru sesuai dengan kata-kata ‘tanaman muda yang akarnya ada di tanah yang kering’. Karena itu bertekunlah dalam mengikut dan melayani Tuhan, sampai saudara bertemu muka dengan muka dengan Dia.

 

2)   ‘Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.’.

 

a)   Ada beberapa komentar / penafsiran tentang hubungan bagian ini dengan wajah / penampilan lahiriah Yesus.

 

Seorang penafsir dari Pulpit Commentary mengatakan sebagai berikut:

“It is scarcely the prophet’s intention to describe the personal appearance of our Lord. What he means is that ‘the Servant’ would have no splendid surroundings, no regal pomp nor splendour - nothing about him to attract men’s eyes, or make them think him anything extraordinary. It is impossible to suppose that there was not in his appearance something of winning grace and quiet majesty. But it was of a kind that was not adapted to draw the gaze of the multitude.” [= Bukanlah merupakan maksud sang nabi untuk menggambarkan penampilan / wajah pribadi dari Tuhan kita. Apa yang ia maksudkan adalah bahwa ‘sang Pelayan’ tidak akan mempunyai lingkungan yang bagus, tidak mempunyai kemegahan atau semarak seorang raja - tidak ada apapun tentang Dia yang menarik bagi mata manusia, atau menyebabkan mereka berpikir bahwa Ia itu luar biasa. Adalah tidak mungkin untuk menganggap bahwa dalam penampilan / wajahNya tidak ada suatu kasih karunia yang menarik hati / menawan dan keagungan yang tenang. Tetapi itu adalah dari jenis yang tidak disesuaikan untuk menarik pandangan orang banyak.] - hal 295.

Catatan: saya berpendapat bahwa kata-kata yang saya garis-bawahi itu lebih merupakan suatu kesimpulan yang sentimentil dari pada suatu kesimpulan yang dihasilkan oleh suatu exegesis dari ayat-ayat Kitab Suci.

 

Barnes’ Notes: “It may be added that there is no authentic information in regard to his appearance that has come down to us by tradition. All the works of sculptors and painters in attempting to depict his form are the mere works of fancy, and are undoubtedly as unlike the glorious reality as they are contrary to the spirit and intention of the Bible.” [= Bisa ditambahkan bahwa tidak ada informasi yang otentik / asli berkenaan dengan penampilan / wajahNya yang diturunkan kepada kita oleh tradisi. Semua pekerjaan pengukir / pemahat dan pelukis dalam mencoba untuk menggambarkan bentukNya hanyalah semata-mata pekerjaan khayalan / fantasi, dan tak diragukan lagi berbeda dengan kenyataannya dan bertentangan dengan arti dan maksud yang sebenarnya dari Alkitab.] - hal 261.

 

Catatan: sekalipun demikian, tidak tertutup kemungkinan bahwa kalau Yesus memberikan penglihatan kepada seseorang, Ia menampakkan diri dalam bentuk dan wajah yang dikenal oleh orang itu. Kalau ini terjadi, itu berarti bahwa Ia menyesuaikan diri dengan kapasitas kita supaya kita bisa mengenalNya dalam penglihatan itu.

 

Barnes juga mengatakan bahwa ada sebuah surat yang diclaim oleh beberapa orang sebagai surat yang ditulis oleh Publius Lentulus (yang dinyatakan sebagai gubernur Yudea) dan ditujukan kepada kaisar Tiberius, yang memberikan penggambaran tentang penampilan fisik dari Yesus.

Barnes mengatakan bahwa surat ini dibuktikan secara meyakinkan sebagai palsu oleh Calmet dan Profesor Robinson, tetapi karena ini adalah ‘the only legend of antiquity which even claims to be a description of his person,’ [= satu-satunya legenda / dongeng kuno yang mengclaim sebagai penggambaran pribadiNya,], maka ia tetap menuliskan surat itu dalam buku tafsirannya.

 

Surat itu bunyinya adalah sebagai berikut:

“There has a man appeared here, who is still living, named Jesus Christ, whose power is extraordinary. He has the title given to him of the great prophet; his disciples call him the Son of God. He raises the dead, and heals all sort of diseases. He is a tall, well-proportioned man; there is an air of serenity in his countenance, which attracts at once the love and reverence of those who see him. His hair is of the colour of new wine; from the roots to his ears, and from thence to the shoulders, it is curled, and falls down to the lowest part of them. Upon the forehead it parts in two, after the manner of the Nazarenes. His forehead is flat and fair, his face without any defect, and adorned with a very graceful vermilion; his air is majestic and agreeable. His nose and his mouth are very well proportioned; and his beard is thick and forked, of the colour of his hair; his eyes are gray and extremely lively; in his reproofs he is terrible, but in his exhortations and instructions amiable and courteous; there is something wonderfully charming in his face, with a mixture of gravity. He is never seen to laugh, but he has been observed to weep. He is very straight in stature; his hands are large and spreading, and his arms very beautiful. He talks little, but with great gravity, and is the handsomest man in the world” [= Ada seseorang yang muncul di sini, yang masih tetap hidup, bernama Yesus Kristus, yang kuasaNya luar biasa. Ia diberi gelar sebagai nabi yang besar; murid-muridNya menyebutNya Anak Allah. Ia membangkitkan orang mati, dan menyembuhkan segala macam penyakit. Ia tinggi, dan merupakan seseorang yang mempunyai proporsi tubuh yang baik; ada suasana yang tenang pada wajahNya, yang segera menarik kasih dan hormat dari mereka yang melihatNya. RambutNya berwarna seperti anggur baru; dari akarnya sampai pada telingaNya, dan dari telinga ke bahu rambutnya berombak, dan terurai sampai bagian bawah bahuNya. Pada dahiNya rambutNya terbelah menjadi dua, sesuai dengan cara orang Nazaret, dahiNya rata dan indah, wajahNya tanpa cacat, dan diperindah dengan warna merah terang; wajahNya agung dan ramah / menyenangkan. Hidung dan mulutNya mempunyai proporsi yang baik; dan janggutNya tebal dan bercabang dua, dan berwarna seperti warna rambutNya; mataNya abu-abu dan sangat hidup / bersemangat; dalam teguran / celaanNya Ia keras / menakutkan, tetapi dalam nasehat dan instruksiNya Ia ramah dan sopan; ada sesuatu yang sangat menawan / mempesonakan pada wajahNya, bercampur dengan keseriusan. Ia tidak pernah terlihat tertawa, tetapi pernah terlihat menangis. Ia sangat tegak dalam postur tubuhNya; tanganNya besar dan melebar, dan lenganNya sangat indah. Ia berbicara sedikit tetapi dengan sangat serius, dan Ia adalah orang yang paling ganteng dalam dunia ini] - hal 261.

Catatan: rasanya kata-kata ini sukar, atau bahkan mustahil, bisa diharmoniskan dengan Yes 53:2b.

 

Seorang penafsir lain dari Pulpit Commentary mengatakan sebagai berikut:

 

1.   “Now, it is certainly singular that no trustworthy traces of the appearance of our Lord have come down to us. Everybody may imagine for himself what were the features and expression of his Divine Master; ... The faces of our Lord precisely differed according as the artist was Spanish, Italian, or English, or had made the uncertain attempt of creating a face of Jewish type. All that Scripture asserts is that, so far as face and form were concerned, there was nothing arresting about Christ; you might have passed him by as a common man. It is even suggested that, as with his servant Paul, men might have rudely said that his ‘bodily presence was contemptible.’ Dean Plumptre remarks, ‘These words (of ver 14) conflict strangely with the type of pure and holy beauty with which Christian art has made us familiar as its ideal of the Son of Man.” [= Jelas merupakan sesuatu yang aneh bahwa tidak ada jejak yang bisa dipercaya dari penampilan / wajah Tuhan kita yang diturunkan kepada kita. Setiap orang bisa membayangkan untuk dirinya sendiri apa ciri-ciri dan expresi / raut muka dari Tuan Ilahinya; ... Wajah-wajah dari Tuhan kita berbeda-beda sesuai dengan artisnya itu orang Spanyol, Itali, atau Inggris, atau usaha artisnya yang tidak pasti dalam menciptakan wajah yang bertype Yahudi. Semua yang ditegaskan oleh Kitab Suci adalah bahwa sejauh wajah dan bentuk badan yang dipersoalkan, tidak ada apapun yang menawan tentang Kristus; engkau bisa saja melewatiNya begitu saja seperti engkau melewati orang biasa. Bahkan ada yang mengusulkan bahwa seperti pelayanNya, Paulus, orang mungkin akan mengatakan dengan kasar bahwa ‘kehadiran tubuhnya adalah menjijikkan’. Dean Plumptre mengatakan: ‘Kata-kata ini (dari Yes 52:14) bertentangan dengan type keelokan yang murni dan suci yang telah diperkenalkan secara akrab oleh seni Kristen sebagai bentuk ideal dari Anak Manusia.] - hal 293.

 

2.   “In no way striking. Not aristocratic-looking, or handsome, or big. Just a man, simple, undistinguished-looking.” [= Tidak menyolok dalam hal apapun. Tidak kelihatan seperti bangsawan, atau ganteng, atau besar. Hanya seorang manusia, sederhana, tidak kelihatan istimewa.] - hal 293.

 

3.   “Why was Messiah thus different to all expectation of him? Because men are so enslaved to the literal, the temporal, the earthly. There was nothing in the Man to attract, because God would have us feel the attractions of the Divine Saviour.” [= Mengapa Mesias begitu berbeda dengan semua harapan tentang Dia? Karena manusia begitu diperbudak pada hal-hal yang hurufiah, sementara dan duniawi. Tidak ada apapun dalam Manusia itu yang menarik, karena Allah menginginkan kita merasakan daya tarik dari Juruselamat Ilahi.] - hal 293.

 

Catatan: sebetulnya penafsir ini mengomentari Yes 52:14, tetapi saya berpendapat bahwa kata-katanya lebih cocok untuk Yes 53:2, karena keburukan dalam Yes 52:14 itu disebabkan oleh penyiksaan, pencambukan dan sebagainya.

 

b)   Mungkin saudara berpendapat bahwa andaikata Yesus mempunyai penampilan yang hebat (ganteng, tinggi besar, kaya, berkedudukan tinggi, dsb), maka itu pasti akan menarik lebih banyak orang kepadaNya. Tetapi ingat bahwa kalau Allah tidak memberikan manusia Yesus itu penampilan yang hebat, maka itu pastilah merupakan hal yang terbaik!

 

Hal ini bisa diterapkan dalam persoalan ajaran. Mungkin saudara beranggapan bahwa dalam Kitab Suci ada ajaran-ajaran yang sebaiknya dibuang. Mengapa? Karena saudara menganggap hal-hal itu justru menghalangi orang datang kepada Yesus. Sebagai contoh: doktrin tentang Predestinasi, Limited Atonement [= Penebusan terbatas], Total Depravity [= Kebejatan total], dan sebagainya. Andaikata hal-hal itu dibuang, maka penginjilan akan lebih mudah dan akan lebih banyak orang bertobat. Tetapi ini jelas adalah pemikiran yang salah. Kalau Allah meletakkan ajaran-ajaran itu dalam Kitab Suci, maka itu adalah kebenaran, dan pasti berguna!

 

Charles Haddon Spurgeon: “Perhaps you think that certain doctrines are hindrances to the success of the gospel: you know not what you say. In the end it shall be seen that every part of his teachings, and procedure, and every act of his life, and all his government in providence were so wisely ordered, that as a whole they secured in the best and speediest manner the exalting and extolling of his holy name.” [= Mungkin kamu berpikir bahwa doktrin-doktrin tertentu merupakan halangan-halangan dari injil: kamu tidak tahu apa yang kamu katakan. Pada akhirnya akan terlihat bahwa setiap bagian dari pengajaran-pengajaran, dan prosedurNya, dan setiap tindakan dari kehidupanNya, dan semua pemerintahanNya dalam providensia adalah begitu diatur dengan bijaksana, sehingga sebagai suatu keseluruhan, mereka memastikan dalam cara yang terbaik dan tercepat pemuliaan dan peninggian NamaNya yang kudus.] - ‘A Treasury of Spurgeon on the Life and Work of our Lord’, vol I, ‘Christ in the Old Testament’, hal 580.

 

 

 

-bersambung-

 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]

Khotbah2 di Youtube :

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ