Pembahasan
Ajaran Yakub Tri Handoko,Th.M.
Tentang
“Dunia
Roh Menurut Perspektif Reformed”
Oleh : Pdt. Budi Asali, M.Div.
Bagian-4 : Anak-anak Allah di
Kejadian 6:1-8
Pendalaman Alkitab GKRI Exodus,
Surabaya 13 November 2007
Yakub Tri Handoko, Th. M.
Kej
6:1-8 - “(1) Ketika manusia itu mulai bertambah banyak jumlahnya di muka
bumi, dan bagi mereka lahir anak2 perempuan, (2) maka anak2
Allah melihat, bahwa anak2 perempuan manusia
itu cantik2, lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan2 itu, siapa
saja yang disukai mereka. (3) Berfirmanlah TUHAN: ‘RohKu tidak akan
selama2nya tinggal di dalam manusia, karena manusia itu adalah daging, tetapi
umurnya akan 120 tahun saja.’ (4) Pada waktu itu orang2
raksasa ada di bumi, dan juga pada waktu sesudahnya, ketika
anak2 Allah menghampiri anak2 perempuan manusia, dan perempuan2 itu
melahirkan anak bagi mereka; inilah orang2 yang gagah perkasa di zaman
purbakala, orang2 yang kenamaan. (5) Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan
manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan
kejahatan semata2, (6) maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan
manusia di bumi, dan hal itu memilukan hatiNya. (7) Berfirmanlah TUHAN: ‘Aku
akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan itu dari muka bumi, baik
manusia maupun hewan dan binatang2 melata dan burung2 di udara, sebab Aku
menyesal, bahwa Aku telah menjadikan mereka.’ (8) Tetapi Nuh mendapat kasih
karunia di mata TUHAN”.
Salah satu teks Perjanjian Lama yang paling sering menimbulkan perdebatan
adalah Kejadian 6:2. Lebih khusus lagi, fokus perdebatan terletak pada identitas
“anak-anak Allah” (bene ‘elohim)
dalam ayat ini. Ada tiga pandangan utama berkaitan dengan identitas “anak-anak
Allah”: keturunan Set, kaum bangsawan dan malaikat. Setiap pandangan memiliki
argumen dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga pilihan yang pasti diantara tiga
alternatif ini sulit untuk dicapai. Sebagian penafsir bahkan memilih menghindari
perdebatan ini dan lebih memfokuskan pembahasan pada inti dari Kejadian 6:1-8
secara keseluruhan.
Dalam makalah ini masing-masing pandangan di atas akan diselidiki secara
mendetil untuk menemukan alternatif mana yang paling memungkinkan. Pembahasan
pertama akan diarahkan pada kecenderungan sebagian sarjana yang menghindari
persoalan ini. Setelah itu, kita akan membahas argumen dan kelemahan
masing-masing alternatif yang ada.
Identitas “anak-anak Allah”
tidak terlalu penting dalam Kejadian 6:1-8
Seperti sudah disinggung di atas, sebagian sarjana mencoba menghindari
perdebatan tersebut dengan berpendapat bahwa identifikasi seperti itu tidak
terlalu relevan dengan isi perikop secara keseluruhan. Mereka yang termasuk ke
dalam kategori ini tidak mau memilih salah satu alternatif. Sebaliknya, mereka
memilih untuk memfokuskan pada inti perikop, yaitu keberdosaan manusia yang
sedemikian parah dalam bentuk pelecehan dan kekerasan (Richard Pratt, Dirancang
Bagi Kemuliaan, 77).
Yang lain melihat perikop ini sebagai sesuatu yang sangat wajar dan tidak
berkaitan dengan identifikasi di atas (John Sailhamer, Genesis, EBC Vol. II; The
Pentateuch As Narrative, 120-121). Menurut Sailhamer, Kejadian 6:1-8
merupakan penutup bagi bagian sebelumnya (silsilah Adam di pasal 5) dan bukan
sebagai pendahuluan atau penyebab dari kisah penghukuman air bah. Jika ini
diterima, maka Kejadian 6:1-8 hanya merupakan penjelasan
bagaimana keturunan Adam telah bertambah banyak di bumi, yaitu melalui
perkawinan. Dia menganggap bahwa peletakan perikop ini (tentang
perkawinan) sebelum penghukuman merupakan strategi
penulisan semata-mata, sama seperti perkawinan Adam dan Hawa di Kejadian
2:21-25 diletakkan sebelum penghukuman mereka di Kejadian 3. Singkatnya,
identifikasi “anak-anak Allah” merupakan upaya yang tidak
relevan dan didasarkan pada asumsi yang keliru
bahwa Kejadian 6:1-8 merupakan pendahuluan (penyebab) penghukuman ilahi melalui
air bah.
Tanggapan
Budi Asali:
Apakah
Yakub Tri setuju dengan pandangan Sailhamer ini atau hanya sekedar
menuliskannya?
Saya
justru setuju dengan pandangan yang diserang oleh Sailhamer ini, dan pandangan
ini sesuai dengan kontext. Kalau tidak, mengapa bagian ini diceritakan persis
sebelum air bah?
Kalau
dikatakan ‘tidak relevan’, saya tanya: bagaimana tidak relevannya? Apanya
yang tidak relevan? Lalu dikatakan itu hanya ‘strategi penulisan’. Strategi
apa? Kalau itu strategi pasti punya tujuan. Lalu apa tujuan dari strategi itu?
Kalau
itu ‘hanya merupakan penjelasan bagaimana keturunan Adam telah bertambah
banyak, yaitu melalui perkawinan’, lalu mengapa kok dijelaskan pernikahan
anak-anak Allah dan anak-anak perempuan manusia? Mengapa tidak dikatakan
‘pernikahan’ begitu saja? Yang menunjukkan pertambahan jumlah keturunan Adam
dan Hawa adalah Kej 5. Tetapi Kej 6 mulai menekankan dosa / kejahatan mereka
yang menyebabkan Tuhan menghukum dengan air bah.
Seluruh
kontext menunjukkan pernikahan itu sebagai suatu dosa, dan itu menyebabkan
hukuman Tuhan yang dibicarakan dalam ay 3,5-7.
Ini
sama sekali tidak bisa disamakan dengan pernikahan Adam dan Hawa dalam Kej 2,
yang diceritakan persis sebelum penghukuman mereka dalam Kej 3. Mengapa? Karena
dalam kasus Adam dan Hawa, jelas-jelas di antara kedua cerita / peristiwa itu
ada penceritaan kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa!!
Sebelum memaparkan kelemahan dari pandangan ini, kita pertama-tama harus
mengakui bahwa apa yang diusulkan di atas tidak sepenuhnya salah. Identitas
“anak-anak Allah” memang bukan inti dari Kejadian 6:1-8. Inti perikop ini
terletak pada kondisi manusia yang sedemikian jahat sehingga Allah perlu
menghukum mereka, entah hukuman tersebut dipahami dalam kaitan dengan pasal 6:3
saja atau pasal 6-7 secara keseluruhan.
Tanggapan
Budi Asali:
Saya
justru berpendapat bahwa identitas ‘anak-anak Allah’ dalam Kej 6:2
ditekankan sebagai penyebab dari rusaknya manusia, dan rusaknya manusia
menyebabkan penghukuman dari Allah.
Juga
saya berpendapat bahwa kita tidak bisa memisahkan Kej 6:3 dengan Kej 6:4-7:24,
karena 120 tahun yang dibicarakan dalam Kej 6:3 merupakan jangka waktu untuk
bertobat bagi orang2 jahat itu, sebelum dunia dihancurkan oleh air bah itu.
Jadi, hubungannya justru sangat dekat!
Hubungan Kejadian 6:1-8 dengan pasal 5 juga tidak terbantahkan (lihat Gordon
Wenham, Genesis 1-15, WBC Vol. I).
Ungkapan “ketika manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di bumi” (Kej 6:1)
jelas merujuk pada silsilah di pasal 5. Penyebutan “anak-anak perempuan”
sudah ada di pasal 5. Kalau di pasal 5 “anak-anak perempuan” hanya disebut
secara sambil lalu saja, di pasal 6:1-8 mereka menjadi fokus perhatian. Beberapa
kosa kata muncul baik di pasal 5 maupun 6:1-8, misalnya “Tuhan”,
“manusia”, “anak-anak laki-laki”, “anak-anak perempuan”,
“membuat”, dsb.
Tanggapan
Budi Asali:
Apa
yang dimaksud dengan ‘hubungan yang tidak terbantahkan’ antara Kej 6 dan Kej
5??? Memang ada hubungannya, itu tak perlu diragukan, tetapi ada perkembangan
cerita juga. Karena Kej 5 hanya membicarakan perkembang-biakan, sedangkan Kej 6 menekankan
dosa / kejahatan dari manusia yang telah bertambah banyak itu.
Kosa
kata yang sama antara Kej 5 dan Kej 6 merupakan sesuatu yang biasa, yang
tidak bisa dijadikan dasar argumentasi. Tetapi mengapa Yakub Tri tidak membahas
kosa kata / thema yang berbeda antara kedua text ini? Misalnya: dalam Kej
6 ada pernikahan anak-anak Allah dengan anak-anak perempuan manusia, dan ini tak
ada dalam Kej 5. Juga dalam Kej 6:2 ada kata-kata ‘cantik-cantik’, ‘siapa
saja yang disukai mereka’, yang jelas menunjukkan tindakan ‘semau gue’!
Juga adanya kata ‘kejahatan manusia’ (Kej 6:5), ‘menyesallah Tuhan’ (Kej
6:6,7), ‘memilukan hatiNya’ (Kej 6:6), ‘Aku akan menghapuskan manusia’
(Kej 6:7). Juga penceritaan tentang Nuh dalam Kej 6:8 diawali dengan kata
‘tetapi’ yang jelas menunjukkan suatu kontras dengan orang2 jahat dalam
ayat2 sebelumnya. Sekali lagi, mengapa semua perbedaan ini diabaikan oleh Yakub
Tri?
Walaupun dua cara menghindari problem identifikasi “anak-anak Allah” di
atas dapat dibenarkan, tetapi persoalan tetap
tidak terselesaikan. Para pembaca tetap mempertanyakan siapa yang dimaksud
anak-anak Allah dalam perikop itu.
Tanggapan
Budi Asali:
Betul-betul
lucu! Yakub Tri berkata bahwa dua cara itu ‘dapat dibenarkan’, tetapi lalu
ia melanjutkan dengan membantah kata2nya sendiri!
Sehubungan dengan pandangan Sailhamer, kita perlu menandaskan bahwa Kejadian
6:1-8 jelas berhubungan dengan hukuman air bah (ayat 7a “Aku akan menghapuskan
manusia yang telah Kuciptakan dari muka bumi”). Mengapa Allah ingin
memusnahkan manusia? Karena Dia melihat bahwa dosa manusia di bumi sudah
sedemikian besar sehingga Dia menyesal telah menciptakan manusia (ayat 5-6).
Kejahatan apa yang dilihat Allah di bumi? Jawabannya jelas terletak di ayat 1-4.
Jadi, Kejadian 6:1-8 lebih cocok sebagai pendahuluan bagi bagian sesudahnya
daripada kesimpulan dari bagian sebelumnya, walaupun pasal 6:1-8 memiliki kaitan
dengan pasal 5.
Anak-anak Allah adalah keturunan
Set
Salah satu usulan identifikasi “anak-anak Allah” adalah yang menganggap
bahwa “anak-anak Allah” merujuk pada keturunan Set (orang benar), sedangkan
“anak-anak perempuan manusia” adalah keturunan Kain (orang fasik). Pandangan
ini dipegang oleh beberapa rabi Yahudi abad ke-2, beberapa bapa gereja ternama
(Agustinus dan John Chrysostom) dan para reformator serta dipercaya oleh hampir
semua orang Kristen awam. Di antara semua penganut pandangan ini, Agustinus
mungkin adalah yang paling penting dan berpengaruh. Argumen yang dia berikan
dijelaskan dalam bukunya The City of God.
Jika ini benar, maka inti dosa dalam perikop ini bukanlah sekedar pelampisan
hawa nafsu. Fokus yang dibahas adalah kawin campur dengan orang yang fasik.
Akibat dari kawin campur ini adalah hilangnya kesaksian untuk Tuhan dan standar
moral (Gleason L. Archer, Encyclopedia of
Bible Difficulties, 70).
Beragam argumen telah dimunculkan untuk mendukung dugaan ini.
Pertama, pertentangan antara keturunan Kain dan Set memang sudah diajarkan
di pasal 4 dan 5. Kedua keturunan ini mewakili dua macam keturunan yang saling
berperang sejak Kejadian 3:15 (keturunan ular melawan keturunan perempuan).
Perkawinan campur antara keturunan yang benar (“anak-anak Allah”) dengan
yang tidak benar jelas merupakan dosa yang sangat serius di mata Tuhan.
Tanggapan
Budi Asali:
Apakah
perang antara keturunan (benih) ular / setan dan keturunan (benih) dr perempuan
/ Hawa, menunjuk pada perang antara org benar dan org jahat, atau antara org
benar dengan setan, atau menunjuk pada perang antara setan dan Yesus?
Kej 3:15 - “Aku
akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu
dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan
meremukkan tumitnya.’”.
Catatan: yang saya persoalkan adalah bagian pertama dr Kej
3:15. Yang bagian akhir tidak bisa tidak menunjuk kepada Yesus vs setan.
Kedua, larangan kawin campur antara orang percaya dan orang yang tidak
percaya diajarkan secara konsisten dan jelas dalam Alkitab. Allah memberikan
larangan ini kepada bangsa Israel sebelum mereka menduduki tanah Kanaan (Ul
7:1-6). Larangan ini dipertegas lagi oleh Yosua pada akhir hidupnya (Yos 23:12).
Alkitab juga menyaksikan bahwa perkawinan campur memang mengakibatkan dekadensi
moral, misalnya Salomo (1 Raj 11:1-4). Pada saat bangsa Yehuda kembali dari
pembuangan di Babel, mereka sangat menentang perkawinan campur (Ezra 9:14).
Dalam Perjanjian Baru pun Paulus memberi nasehat yang sama (2 Kor 6:14-18).
Ketiga, sebutan “anak-anak Allah” dalam Alkitab dapat merujuk pada umat
perjanjian. Tuhan berkata bahwa “Israel adalah anak-Ku” (Kel 4:22). Ulangan
14:1 “kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu”. Mereka yang memberontak terhadap
Tuhan disebut sebagai “yang bukan anak-anak-Nya” (Ul 32:5). Di hadapan Tuhan
Asaf menyebut para leluhurnya sebagai “angkatan anak-anak-Mu” (Mzm 73:15).
Pada saat Tuhan memulihkan Israel, Dia akan menyebut mereka “anak-anak Allah
yang hidup” (Hos 1:10). Penyebutan ini tetap dipertahankan oleh para penulis
Perjanjian Baru. Orang-orang yang percaya adalah anak-anak Allah (Mat 5:9; Luk
6:35; 20:36; Yoh 1:12; 11:52; Rom 8:16, 19, 21). Paulus bahkan secara khusus
menyebut keturunan perjanjian sebagai anak-anak Allah (Rom 9:8). Adam pun
disebut sebagai anak Allah (Luk 3:38).
Terakhir, penafsiran ini lebih meminimalisasi masalah yang dapat muncul.
Alkitab mengajarkan bahwa malaikat adalah roh (Ibr 1:14). Walaupun malaikat
dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia, namun mereka tidak memiliki tubuh
fisik sehingga tidak mungkin mengadakan hubungan seksual dengan manusia.
Penafsiran “anak-anak Allah” sebagai malaikat merupakan akibat dari pengaruh
mitos-mitos kafir.
Anak-anak Allah adalah keturunan
bangsawan
Identifikasi kedua adalah yang menganggap “anak-anak Allah” sebagai
keturunan bangsawan/raja, sedangkan “anak-anak perempuan” adalah keturunan
rakyat biasa. Pandangan ini mulai dipopulerkan oleh para penafsir Yahudi pada
pertengahan abad ke-2 M dan dianut oleh beberapa penafsir Kristen. Beberapa
targum Yahudi mulai abad ke-2 M tampak mendukung pandangan ini. Dalam Targum
Neofiti istilah “anak-anak Allah” diterjemahkan dengan istilah Aram yang
artinya “anak-anak para penguasa”. Targum Onkelos memilih terjemahan
“anak-anak para pembesar”, sedangkan Symmachus memakai “anak-anak yang
berkuasa” atau “anak-anak para penguasa”.
Jika tafsiran ini yang benar, maka inti dosa di Kejadian 6:1-8 adalah
poligami. Para pembesar mengambil banyak istri dari kalangan rakyat biasa
“siapa saja yang disukai mereka” (6:2). Dosa ini sama seperti yang dilakukan
oleh Lamekh (4:19-24).
Tanggapan
Budi Asali:
Saya
tidak melihat sedikitpun adanya petunjuk bahwa ini merupakan polygamy. Kata2
‘siapa saja yang disukai mereka’ tetap bisa menunjuk pada satu istri. Tetapi
pada waktu laki2 itu mengambil istri itu, ia hanya mempersoalkan kesukaan
dirinya sendiri, bukan kesukaan Allah.
Argumen yang diajukan sebagai dukungan bagi pandangan ini biasanya hanya
berkaitan dengan studi kata “anak-anak Allah”. Dalam Alkitab para pembesar
juga kadangkala disebut sebagai “anak Allah”. Dalam Mazmur 82:6 Allah
menyebut para hakim sebagai “anak-anak Yang Mahatinggi”. Para raja dari
keturunan Daud disebut sebagai anak Allah (2Sam 7:14; Mzm 2:7).
Tanggapan
Budi Asali:
2Sam 7:14 - “Aku
akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu. Apabila ia melakukan
kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan
dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia”.
Maz 2:7 - “Aku
mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau!
Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini”.
Kedua
ayat ini digunakan di sini secara tidak masuk akal. 2Sam 7:14 menunjuk kepada
Salomo, yang memang adalah orang percaya. Ia disebut sebagai ‘anak Allah’
karena ia adalah orang percaya, bukan karena ia adalah raja dari keturunan Daud.
Sedangkan Maz 2:7 jelas menunjuk kepada Kristus.
Bukti di luar Alkitab juga mengarah pada arti yang sama. Dalam sebuah
tulisan, raja Sumer-Akkadia disebut sebagai ‘Sang Raja, anak dari
dewa[nya]”. Raja Hittit disebut sebagai ‘anak dewa cuaca’. Dalam sebuah
teks Ugarit, raja Keret disebut sebagai ‘Keret ben El’ yang artinya “raja
Keret, anak allah”.
Tanggapan
Budi Asali:
Ini
terlalu konyol dan terlalu tidak alkitabiah
utk ditanggapi.
Anak-anak Allah adalah para
malaikat
Pandangan ini banyak dipegang oleh para penafsir modern. Salah satu teolog
Reformed yang menganut pandangan ini adalah James M. Boice. Berikut ini adalah
beberapa argumen penting yang biasa dikemukakan untuk mendukung pandangan ini.
Pertama, dalam Alkitab sebutan “anak-anak Allah” dipakai sebagai rujukan
untuk para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7). Penerjemah New International Version
(NIV) bahkan secara eksplisit menerjemahkan sebutan itu di Ayub 1:6 dan 2:1
dengan “malaikat-malaikat”. Sebutan yang mirip dengan itu – yaitu bar
‘elohim – juga muncul di Daniel 3:25 (LAI:TB “anak dewa”). Dalam
konteks ini, bar ‘elohim jelas
merujuk pada malaikat (band. ayat 28). Pemakaian seperti ini juga dapat
ditemukan dalam literatur Ugarit kuno yang menyebut para penghuni surga sebagai
“anak-anak allah”.
Penyebutan “anak-anak Allah” untuk malaikat dalam contoh-contoh di atas
disebut sebagai pemakaian yang bersifat atributif.
Artinya, “anak-anak Allah” memang nama
lain dari para malaikat, sebagaimana mereka memiliki sebutan-sebutan yang
lainnya, misalnya “yang kudus”, “utusan”, dsb. Hal ini jelas berbeda
dengan argumen sebelumnya yang dipakai untuk menafsirkan “anak-anak Allah”
sebagai “keturunan Set” atau “keturunan bangsawan”. Dalam dua pemakaian
ini, sebutan “anak-anak Allah” digunakan secara predikatif.
Artinya, sebutan itu dipakai untuk menerangkan
keadaan atau status dari sesuatu. Untuk mempermudah pemahaman, perhatikan
perbedaan dari dua contoh berikut ini:
Atributif
Si ganteng itu sedang pergi
Predikatif
Dia adalah laki-laki yang ganteng
Tanggapan
Budi Asali:
Saya
berpendapat bahwa bagian tentang atributif dan predikatif ini adalah omong
kosong yang sengaja dibuat mbulet dan sukar, padahal sama sekali tak punya nilai
dalam argumentasi.
Kedua, berdasarkan pertimbangan konteks, kata “manusia” (ha
‘adam) dan “anak-anak perempuan” (banot)
dalam ungkapan “anak-anak perempuan manusia” harus dipahami secara umum
sebagai rujukan pada semua manusia
tanpa terkecuali. Dari pasal 1-5, kata Ibrani ‘adam
(24x) selalu merujuk pada Adam atau manusia secara umum. Tidak ada alasan untuk
membatasi “manusia” di sini hanya pada keturunan Kain atau rakyat biasa,
apalagi kata ini malah muncul sebagai pendahuluan bagi silsilah Set (5:1-2).
Begitu pula dengan kata Ibrani banot.
Kata ini muncul 9 kali di pasal 5 (ayat 4, 7, 10, 13, 16, 19, 22, 26, 30) dan
semuanya merujuk pada keturunan Set. Tidak ada bukti apapun untuk menunjukkan
bahwa banot terbatas pada keturunan
Kain saja.
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Pertama2 jelas bahwa dalam kontext yang sama / berdekatanpun, suatu kata
bisa diartikan secara berbeda. Misalnya
a)
Mat 3:10-12 - “(10) Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak
menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.
(11) Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang
datang kemudian dari padaku lebih berkuasa dari padaku dan aku tidak layak
melepaskan kasutNya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api.
(12) Alat penampi sudah ditanganNya. Ia akan membersihkan tempat pengirikanNya
dan mengumpulkan gandumNya ke dalam lumbung, tetapi debu jerami itu akan
dibakarNya dalam api yang tidak terpadamkan.’”.
Kata
‘api’ dalam ay 10,12 menunjuk pada hukuman, tetapi kata ‘api’ dalam ay
11 menunjuk pada penyucian / pengudusan.
b)
Ro 5:12,18-19 - “(12) Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu
orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar
kepada semua orang, karena semua
orang telah berbuat dosa. … (18) Sebab itu, sama seperti oleh satu
pelanggaran semua orang beroleh
penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua
orang beroleh pembenaran untuk hidup. (19) Jadi sama seperti oleh
ketidaktaatan satu orang semua orang
telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua
orang menjadi orang benar”.
Perhatikan
kata2 ‘satu orang’ yang muncul 3x, dan kata2 ‘semua orang’ yang muncul
6x, dan pikirkan sendiri apakah artinya sama?
c)
Yoh 1:10 - “Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan
olehNya, tetapi dunia tidak mengenalNya”.
Kata
‘dunia’ yang pertama dan kedua menunjuk pd ‘bumi’, tetapi kata
‘dunia’ yang ketiga menunjuk pada orang2 yang tidak percaya / orang2 Yahudi
yang tidak percaya.
2)
Juga dalam Kej 6:1-2 itu ada semacam kontras antara kata2 ‘anak-anak
Allah’ dan ‘anak-anak perempuan manusia’. Menurut saya merupakan
kemustahilan kalau menafsirkan bahwa ini adalah kontras antara malaikat dan
manusia. Jadi, ini harus diartikan sebagai kontras antara orang2 yang percaya
dan orang2 yang tidak percaya.
3)
Kej 6:1-2 itu disusul oleh Kej 6:3 yang berbunyi: “Berfirmanlah
TUHAN: ‘RohKu tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia
itu adalah daging, tetapi umurnya akan seratus dua puluh tahun saja.’”.
Pertama,
Roh Kudus itu bekerja / memberi waktu bertobat selama 120 tahun. Kalau mereka
bukan orang yang tidak percaya lalu bagaimana bisa ada kalimat ini? Juga
dikatakan ‘manusia itu adalah daging’. Apakah kata ‘manusia’ ini tidak
menunjuk kepada orang2 yang tidak percaya??
Di samping itu, kita perlu menambahkan bahwa tidak ada ide tentang
perkawinan campur di Kejadian 6:1-8 yang dilarang oleh Tuhan. Mengapa? Kalau
memang perkawinan campur dilarang dalam teks ini, maka Set juga bersalah.
Bukankah dia pasti menikah dengan salah satu dari saudara perempuannya (Kej
5:4)? Apakah saudara perempuan ini (istri
Set) termasuk orang kafir atau orang benar? Bagaimana dengan saudara-saudara
Set lain yang laki-laki? Apakah mereka termasuk orang kafir atau orang benar?
Dari penjelasan ini terlihat bahwa pembagian manusia ke dalam “keturunan
Kain” dan “keturunan Set” adalah kategorisasi yang terlalu sempit dan
tidak memperhatikan data lain dalam kitab Kejadian.
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Yakub Tri sendiri tak yakin Set kawin dengan orang beriman atau tidak,
tetapi bisa menjadikan hal ini sebagai argumentasi. Berargumentasi dari
ketidak-yakinan?? Lucu sekali!
2)
Saya sendiri tak menganggap secara mutlak bahwa ‘anak-anak Allah’
sebagai keturunan Set, tetapi sebagai orang2 percaya. Sedangkan ‘anak-anak
perempuan manusia’ tidak secara mutlak sebagai keturunan Kain tetapi sebagai
orang2 yang tidak percaya. Paling2 bisa dikatakan bahwa pada umumnya keturunan
Set adalah orang beriman dan keturunan Kain adalah orang tak beriman.
3)
Sekalipun tak ada larangan secara explicit, bisa saja ada larangan secara
implicit. Sejak Kej 4 ada peristiwa Kain (orang tak beriman) membunuh Habel
(orang beriman), dan lalu disusul oleh silsilah Kain (yang ditandai dengan
adanya orang brengsek bernama Lamekh), dan lalu disusul dalam Kej 5 dengan
menceritakan keturunan Set (yang ditandai dengan adanya orang saleh yang bernama
Henokh, yang lalu diangkat oleh Tuhan). Semua ini menunjukkan pengkontrasan.
Juga jangan lupa bahwa sekalipun belum ada hukum Taurat atau Firman apapun,
hukum hati nurani sudah ada. Bdk. Ro 2:14-16 - “(14)
Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan
diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka
tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka
sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat
ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan
pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (16) Hal itu akan nampak
pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi
segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”.
Sekarang pikirkan, kalau seseorang betul2 beriman dan mengasihi Tuhan, bisakah
ia tidak bersalah dengan menikahi orang kafir yang sama sekali tidak mencintai
Tuhan, dan bahkan selalu menyakiti hati Tuhan? Sebagai tambahan, Kitab Suci
mengatakan bahwa Lot menderita (tersiksa jiwanya yang benar) pd saat tinggal di
Sodom, karena tingkah laku yang jahat dari orang2 Sodom (2Pet 2:7-8). Ini
menunjukkan bahwa secara rohani pasti akan ada ketidak-cocokan antara orang
beriman dan tidak beriman. Kalau tetap terjadi pernikahan, itu hanya karena
orang beriman itu menuruti dagingnya. Dan pada saat seperti itu tidak mungkin
hati nuraninya tidak merasakan hal itu sebagai suatu dosa / kesalahan!
4)
Kalau benih perempuan ditafsirkan sebagai orang2 benar, sedangkan benih
ular / setan sebagai orang2 jahat / tak beriman, seperti ditafsirkan oleh
beberapa penafsir (misalnya JFB), maka jelas sudah ada suatu pengumuman akan
adanya permusuhan antara kedua kelompok ini. Dan tetap adanya pernikahan antar
kedua kelompok ini sudah pasti bertentangan dengan pengumuman ini.
5)
Dan seandainya kawin campur itu memang bukan dosa, fakta bahwa mrk
memilih istri yang cantik2 (hanya demi kedagingan mrk), dan mengambil istri yang
manapun yang mrk sukai (tak peduli itu memperkenan Allah atau tidak), jelas
merupakan dosa. Bdk. Kej 6:2 - “maka anak-anak Allah melihat, bahwa anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik,
lalu mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja
yang disukai mereka”.
6)
Dan hal lain, yang menurut saya paling penting adalah: sekalipun /
seandainya pernikahan itu tidak bisa dianggap sebagai dosa, itu tetap memberi
hasil yang jelek, yaitu munculnya keturunan yang jahat. Kalau org beriman
menikah dengan org yang tidak beriman, biasanya yang baik ketularan menjadi
buruk, dan bukan sebaliknya. Setelah muncul generasi baru yang jahat itu, maka
Tuhan akhirnya menghukum dengan air bah.
Ketiga, pandangan ini dapat menjelaskan keberadaan para nephilim (para
raksasa di dunia purba) di Kejadian 6:4. Walaupun tidak semua orang yang
bertubuh besar adalah hasil persetubuhan malaikat dan manusia (misalnya Bilangan
13:33; 1Sam 17; 2Sam 21:16-22), namun pemunculan nephilim sebagai hasil persetubuhan akan lebih masuk akal jika
dipahami bahwa ini adalah persetubuhan yang tidak wajar. James Boice bahkan
meyakini bahwa mitos kuno tentang para pahlawan yang separuh dewa-separuh
manusia yang ada di hampir semua kisah rakyat (suku) dapat memberi dukungan ke
arah sana (Genesis Vol I, 310).
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Apa alasan dari Kitab Suci bahwa kalau
malaikat bersetubuh dengan manusia, akan muncul keturunan yang bertubuh besar /
raksasa? Jangan menggunakan Kej 6:4, karena ayat ini yang saat ini
sedang dipersoalkan. Apakah dasarnya hanya mitos kuno, seperti yang
dikatakan oleh James Boice? Alangkah alkitabiahnya!
2)
Lebih-lebih lagi,
apa dasarnya dari Kitab Suci bahwa malaikat bisa bersetubuh dengan manusia?
Dan perlu ditambahkan bahwa Kej 6:2 tidak sekedar mengatakan hubungan sex,
tetapi ‘mengambil
istri’!
Bagaimana
malaikat bisa menganbil istri manusia? Lalu
bagaimana cara mereka berumah tangga? Malaikat
memberi belanja kpd istrinya? Dan mengantar anaknya ke sekolah? Lucu
sekali!
3)
Apakah kata ‘nephilim’ memang menunjuk kpd raksasa? Ini sedikitnya
perlu diragukan.
KJV:
‘giants’ (= raksasa).
RSV/NIV/NASB:
‘the Nephilim’ [ini bukan
terjemahan tetapi transliteration
(menuliskan kata Ibraninya dengan huruf Latin)].
Terjemahan
‘giants / raksasa’ ini timbul
karena:
a)
Diambil dari Septuaginta / LXX (Perjanjian Lama yang sudah diterjemahkan
ke dalam bahasa Yunani) yang menterjemahkan GIGANTES.
b)
Dihubungkan dengan Bil 13:33 yang dalam versi NIV diterjemahkan
sebagai berikut: “We saw the Nephilim there (the descendants of Anak come from the
Nephilim). We seemed like grasshoppers in our own eyes, and we looked the same
to them” [= Kami melihat orang-orang Nephilim di sana (keturunan Anak
datang / muncul dari orang Nephilim). Kami kelihatan seperti belalang dalam mata
kami sendiri, dan kami kelihatan sama bagi mereka].
Terjemahan
ini memang menunjukkan bahwa orang Nephilim itu pasti sangat besar / raksasa.
Tetapi
ada kemungkinan penafsiran yang lain: Kata bahasa Ibrani NEPHILIM berasal dari
akar kata NAPHAL yang bisa berarti:
1.
‘to fall’ (= jatuh).
Mungkin
semua orang yang bertemu mereka jatuh tersungkur karena takut kepada mereka.
2.
‘to fall upon / to attack’
(= menyerang).
Jadi,
NEPHILIM berarti penyerang, bandit, perampok.
Kedua
arti ini bisa digabungkan. Jadi, kata NEPHILIM menunjuk kepada perampok-perampok
yang ditakuti orang.
Penafsiran
ini lebih cocok dengan kontext dibandingkan dengan penafsiran di atas yang
mengatakan bahwa NEPHILIM adalah raksasa. Kontext Kej 6 ini berbicara soal
dosa manusia secara moral. Kalau tahu-tahu ay 4 ini berbicara tentang
ukuran tubuh, itu tidak sesuai dengan kontext atau tidak berhubungan dengan
kontext. Tetapi kalau NEPHILIM diartikan perampok, itu sesuai dengan kontext.
Keempat, konteks kitab Kejadian secara keseluruhan mendukung adanya
intervensi iblis secara langsung dalam sejarah keselamatan. Dimulai dengan
hukuman dan janji Allah di pasal 3:15. iblis terus berusaha menggagalkan
munculnya keturunan perempuan yang akan meremukkan kepalanya. Dia berhasil
memakai ular, Kain, para pembangun menara Babel dan orang-orang lainnya untuk
menggagalkan janji Allah tersebut. Hal ini akan semakin jelas apabila kita
memperhatikan kesejajaran pola yang dipakai iblis di Kejadian 3:6 dan 6:2 yaitu
“melihat...baik...mengambil” (catatan: terjemahan LAI:TB “cantik-cantik”
di 6:2 seharusnya “baik” karena kata Ibrani yang dipakai sama dengan yang di
3:6).
Tanggapan
Budi Asali:
Lucu,
ini omongan / argumentasi apa? Bagaimana Iblis memakai ular setelah Kej 3:15?
Ular dipakai sebelum Kej 3:15!!!! Dan itu jelas bukan utk menggagalkan rencana
keselamatan dr Allah, tetapi hanya utk menjatuhkan Adam dan Hawa ke dalam dosa.
Lalu Iblis menggunakan Kain? Dengan cara bagaimana? Dengan membunuh Habel? Siapa
bilang Allah mau menggunakan Habel utk rencana keselamatan bagi umat manusia?
Atau Iblisnya salah sangka, dan mengira Allah mempunyai rencana keselamatan
melalui Habel? Dan menara Babel? Apa hubungannya dengan rencana keselamatan
Allah?
Kesejajaran
antara Kej 3:6 dan Kej 6:2 tentang ‘melihat … baik … mengambil’ juga ada
dalam tempat2 lain, spt pd waktu Akhan jatuh ke dalam dosa (Yos 7:21), dan waktu
Daud jatuh ke dalam dosa dengan Batsyeba (2Sam 11:2-4). Itu hanya menunjukkan
bahwa setan / iblis sering bekerja menjatuhkan manusia ke dalam dosa dengan cara
spt itu. Apa hubungannya dengan penggagalan rencana keselamatan Allah? Iblis
tak pernah bisa menggagalkan rencana itu!
Kelima, para penerjemah Septuaginta (LXX) dan semua penulis Yahudi sebelum
jaman Perjanjian Baru memahami “anak-anak Allah” sebagai sebutan lain untuk
para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7, LXX). Fakta ini tentu saja tidak secara
otomatis membuktikan bahwa apa yang mereka percayai adalah benar. Mereka bisa
saja melakukan kesalahan yang sama secara bersama-sama. Bagaimanapun, fakta
tersebut akan tampak sangat meyakinkan apabila kita melihat salah satu tulisan
Yahudi tersebut yang dipakai oleh beberapa penulis Perjanjian Baru, yaitu kitab
1Henokh (dipakai dalam surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas). Dalam pasal 6-8 dari
kitab ini disebutkan bahwa yang menghampiri anak-anak perempuan manusia adalah
para malaikat atau anak-anak surga. Akibat dari persetubuhan ini lahirlah para
raksasa di jaman purbakala.
Tanggapan
Budi Asali:
Wah,
wah, wah, makin lama makin tidak alkitabiah. Sekarang
mengunakan penterjemah LXX dan penulis2 Yahudi, dan bahkan kitab Apokripa!
Dimana kekuatan argumentasi spt itu?
Lalu
yang dikutip adalah ayat2 dr Ayub dimana memang di sana kata2 ‘anak-anak
Allah’ memang menunjuk kpd malaikat2. Mengapa tak memakai ayat2 lain?
Bagaimana pemahaman penterjemah LXX dan penulis2 Yahudi itu ttg kata2
‘anak-anak Allah’ dalam ayat2 spt Kel 4:22,23
2Sam 7:14 dsb?
Kel 4:22-23 - “Maka engkau harus berkata kepada Firaun: Beginilah
firman TUHAN: Israel ialah anakKu, anakKu yang sulung; sebab itu Aku
berfirman kepadamu: Biarkanlah anakKu itu pergi, supaya ia beribadah
kepadaKu; tetapi jika engkau menolak membiarkannya pergi, maka Aku akan membunuh
anakmu, anakmu yang sulung.’”.
2Sa 7:14 - “Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anakKu.
Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang
dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia”.
Juga
siapa bilang Petrus dan Yudas mengutip dr kitab Henokh? Apa buktinya?
Saya
akan mengutip pembahasan saya sendiri ttg Yudas 14-15 di bawah ini:
1)
Apakah Yudas mengutip dari kitab Henokh, yang termasuk dalam Apocrypha?
a)
Dalam kitab Henokh, ada satu ayat yaitu Henokh 1:9, yang berbunyi
sebagai berikut:
Versi
William Barclay: “And
behold! He cometh with ten thousands of his holy ones to execute judgment upon
all, and to destroy all the ungodly; and to convict all flesh of all the works
of their ungodliness which they have ungodly committed, and of all the hard
things which ungodly sinners have spoken against him” (= Dan lihatlah!
Ia datang dengan sepuluh ribu orang-orang kudusNya untuk melakukan penghakiman
terhadap semua orang, dan untuk menghancurkan orang jahat; dan untuk meyakinkan
semua daging / orang tentang semua kejahatan yang mereka lakukan secara jahat, dan
tentang semua kata-kata keras yang diucapkan oleh orang-orang berdosa yang jahat
menentang Dia).
Henokh 1:9
Versi William Barclay ini boleh dikatakan identik dengan Yudas 14-15.
Versi
Pulpit Commentary: “And
behold, he comes with myriads of the holy, to pass judgment upon them, and will
destroy the impious, and will call to account all flesh for everything the
sinners and the impious have done and committed against him” (= Dan
lihatlah, Ia datang dengan puluhan ribu orang kudus, untuk memberikan
penghakiman terhadap mereka, dan akan menghancurkan orang jahat, dan akan
meminta pertanggungjawaban semua orang untuk setiap hal yang orang berdosa dan
jahat lakukan menentang Dia).
Henokh
1:9 versi Pulpit Commentary ini sedikit berbeda dengan Yudas 14-15, karena dalam
Henokh 1:9 ini tidak ada tentang ‘kata-kata keras’ dari orang-orang
jahat itu. Versi Barnes’ Notes sama dengan Pulpit Commentary.
b)
Kutipan dalam Yudas 14-15 ini menyebabkan banyak pertanyaan dan
problem.
Haruskah
kita menganggap Kitab Henokh itu sebagai Kitab Suci? Atau, haruskah kita
membuang surat Yudas dari Kitab Suci, seperti yang dilakukan oleh Jerome? Saya
berpendapat bahwa kita tidak boleh menganggap bahwa Kitab Henokh harus
dimasukkan ke dalam Kitab Suci (Catatan: tidak adanya kata-kata ‘ada
tertulis’ dalam Yudas 14 ini menunjukkan bahwa ia tidak sedang
mengutip Kitab Suci), dan kita juga tidak boleh mengeluarkan surat Yudas dari
Kitab Suci. Mengapa? Karena adanya kemiripan atau kesamaan antara Yudas 14-15
dan Henokh 1:9 memberikan beberapa kemungkinan, yaitu:
1.
Yudas mengutip dari Kitab Henokh.
Perlu
diketahui bahwa ada banyak penafsir, yang termasuk golongan injili dan
alkitabiah sekalipun, yang mempunyai anggapan seperti ini! Tetapi perlu diingat
bahwa ini bukan satu-satunya kemungkinan. Orang yang menganggap bahwa Yudas
mengutip dari kitab Henokh pada umumnya sampai pada kesimpulan ini karena mereka
menyimpulkan terlalu cepat. Mereka tidak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan
yang lain.
2.
Penulis kitab Henokh mengutip dari Yudas, sedangkan Yudas mengutip dari
tradisi.
3.
Yudas maupun penulis kitab Henokh mengutip dari tradisi.
Tidak
ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa kemungkinan pertamalah yang benar,
sehingga adanya kemiripan / kesamaan antara Yudas 14-15 dengan Henokh 1:9 ini
tidak membuktikan bahwa Yudas mengutip dari Kitab Henokh.
Barnes’
Notes:
“There
in no clear evidence that he quoted it from any book extant in his time. There
is, indeed, now an apocryphal writing called ‘the Book of Enoch,’
containing a prediction strongly resembling this, but there is no certain proof
that it existed so early as the time of Jude, nor, if it did, is it absolutely
certain that he quoted from it. Both Jude and the author of that book may have
quoted a common tradition of their time, for there can be no doubt that the
passage referred to was handed down by tradition” (= Tidak ada bukti yang
jelas bahwa ia mengutipnya dari buku apapun yang ada pada jamannya. Memang sekarang
ada tulisan apokripa yang disebut ‘Kitab Henokh’, yang berisi ramalan yang
sangat mirip dengan ini, tetapi tidak ada bukti tertentu bahwa kitab itu sudah
ada pada jaman Yudas, atau, jika kitab itu sudah ada pada jaman Yudas, tidak ada
kepastian yang mutlak bahwa Yudas mengutip dari kitab itu. Keduanya, Yudas dan
penulis kitab itu, bisa telah mengutip dari suatu tradisi yang umum pada jaman
mereka, karena tidak ada keraguan bahwa bagian itu diturunkan oleh tradisi).
c)
Pandangan yang meninggikan kitab Henokh.
Pulpit
Commentary: “Though
never formally recognized as canonical, it was in great esteem, largely accepted
as a record of revelations, and regarded as the work of Enoch” (=
Sekalipun tidak pernah diakui secara resmi sebagai kanon, itu dihargai /
dihormati, sebagian besar diterima sebagai catatan wahyu, dan dianggap sebagai
pekerjaan Henokh).
Pulpit
Commentary: “An
attempt has been made by some to bring the composition of the book down to
Christian times, so that Enoch should quote Jude, not Jude Enoch. But there is
every reason to believe that it belongs to the second century B.C.
Certain portions of the book, however, are of later date. For it is
scarcely possible to deny that it is the work of more than one hand. The
original seems to have been written in Hebrew or Aramaic. We cannot be far
astray, therefore, in accepting it as the composition of a Jew of Palestine
dating between B.C. 166 and 110” (= Suatu usaha telah dilakukan oleh
beberapa orang untuk membawa penyusunan kitab itu ke jaman kristen, sehingga
Kitab Henokhlah yang mengutip Yudas, bukan Yudas mengutip Kitab Henokh. Tetapi
ada banyak alasan untuk percaya bahwa buku itu berasal dari abad kedua S.M.
Tetapi, beberapa bagian dari kitab itu ditulis belakangan. Karena
adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk menyangkal bahwa kitab itu merupakan
pekerjaan dari lebih dari satu tangan. Kitab aslinya kelihatannya ditulis
dalam Ibrani atau Aramaic. Karena itu, kita tidak bisa terlalu tersesat dalam
menerima bahwa kitab itu disusun oleh seorang Yahudi di Palestina antara
166 S.M. - 110 S.M.).
Catatan:
Ia berkata bahwa kelihatannya kitab itu ditulis dalam bahasa Ibrani atau
Aramaic. Ia jelas tidak tahu kitab Henokh yang asli; yang ia tahu paling banter
adalah terjemahannya. Menurut dia dari terjemahan itu kelihatannya kitab Henokh
yang asli ada dalam bahasa Ibrani atau Aramaic. Ini sudah merupakan kesimpulan
yang sangat tidak pasti. Lalu dari sini ia mengambil kesimpulan lagi, yaitu
bahwa penulisnya pasti seorang Yahudi di Palestina pada abad 2 S.M. Ini
lagi-lagi merupakan kesimpulan yang sangat tidak pasti. Mengingat bahwa pada
jaman Yesus hidup di dunia, yaitu pada abad 1 Masehi, bahasa Ibrani dan Aramaic
banyak digunakan, maka bisa saja penulisnya hidup pada jaman itu atau bahkan
sesudahnya. Dari semua ini saya berpendapat bahwa penafsir Pulpit Commentary ini
menyimpulkan tanpa dasar yang kuat.
d)
Pandangan yang merendahkan terhadap kitab Henokh, diikuti dengan
pandangan bahwa Yudas mengutip dari tradisi.
Calvin’s
editor: “There
is no evidence of such a book being known for some time after this epistle was
written; and the book so called was probably a forgery, occasioned by this
reference to Enoch’s prophecy. ... Until of late, it was supposed to be
lost; but in 1821, the late Archbishop Laurence, having found an Ethiopic
version of it, published it with a translation” (= Tidak ada bukti
tentang diketahuinya kitab seperti itu untuk beberapa waktu setelah surat ini
ditulis; dan kitab itu mungkin merupakan suatu pemalsuan, disebabkan oleh
hubungannya dengan nubuat Henokh ini. ... Sampai waktu belakangan, kitab itu
dianggap / diduga hilang; tetapi pada tahun 1821, Uskup Laurence, setelah
menemukan versi Ethiopia kitab ini, menerbitkannya dengan terjemahannya).
Catatan:
kelihatannya ia berpendapat bahwa pada jaman Yudas kitab Henokh itu belum ada.
Tetapi karena Yudas berbicara tentang nubuat Henokh, lalu muncul orang yang
membuat sebuah kitab yang lalu dinamakan kitab Henokh, supaya kelihatannya Yudas
mengutip dari kitab itu. Kitab itu disebut palsu karena sekalipun memakai nama
Henokh tetapi penulisnya bukan Henokh. Si pemalsu mungkin mempunyai kesengajaan
untuk menimbulkan kebimbangan dan keraguan dalam diri orang kristen terhadap
surat Yudas / Kitab Suci.
Thomas
Manton:
“The
Jews have some relics of this prophecy in their writings, and some talk of a
volume, extant in the primitive time, consisting of 4802 lines, called the
Prophecy of Enoch; but that was condemned for spurious and apocryphal.
Tertullian saith there was a prophecy of Enoch kept by Noah in the ark, which
book is now lost. Be it so; many good books may be lost, but no scripture. But
most probably it was a prophecy that went from hand to hand, from father to son.
Jude saith, ‘Enoch prophesied;’ he doth not say it is written, as quoting a
passage of scripture” (= Orang-orang Yahudi mempunyai peninggalan
tentang nubuat ini dalam tulisan-tulisan mereka, dan beberapa orang berbicara
tentang sebuah buku, ada dalam jaman primitif, terdiri dari 4802 baris, disebut
Nubuat Henokh; tetapi itu dikecam sebagai palsu dan bersifat apokripa.
Tertullian berkata bahwa ada nubuat Henokh yang dijaga oleh Nuh di dalam
bahtera, yang sekarang sudah hilang. Biarlah itu demikian; banyak buku yang baik
/ bagus hilang, tetapi tidak ada kitab suci yang hilang. Tetapi kemungkinan
besar itu adalah nubuat yang pindah dari tangan ke tangan, dari bapa kepada
anak. Yudas berkata: ‘Henokh bernubuat’; ia tidak berkata ‘ada
tertulis’, seperti mengutip suatu bagian Kitab Suci).
S.
Maxwell Coder: “The
Book of Enoch is a patchwork of writings by various unknown persons at various
unknown times. It contains fanciful and legendary material, some of it quite
ridiculous. Those who love the Word of God and trust it implicitly need not fear
that any attack upon Jude will succeed in showing that he took any part of his
epistle from such a volume” (= Kitab Henokh merupakan suatu tulisan campur
aduk oleh bermacam-macam orang yang tidak dikenal pada berbagai waktu yang tidak
diketahui. Kitab itu mengandung bahan yang aneh / khayal dan bersifat dongeng,
beberapa di antaranya cukup menggelikan. Mereka yang mencintai Firman Allah dan
mempercayainya secara implicit tidak perlu takut bahwa serangan terhadap Yudas
akan berhasil dalam menunjukkan bahwa ia mengambil sebagian dari suratnya dari
kitab seperti itu).
2)
Mengapa Yudas mengutip nubuat Henokh?
Dalam
Kitab Suci ada banyak ayat tentang kedatangan Kristus untuk menghakimi, seperti
Ul 33:5 Daniel 7:10
Zakh 14:5b. Mengapa ia mesti mengutip dari nubuat Henokh dan bukannya
dari ayat-ayat Kitab Suci?
a)
Karena biasanya makin kuno suatu kutipan, makin ia dihormati. Karena itu
Yudas memilih yang sekuno mungkin.
b)
Karena Tuhan menghendaki nubuat Henokh itu, yang tadinya hanya ada dalam
tradisi, masuk ke dalam Kitab Suci.
Thomas
Manton:
“if
he receives it by tradition, it is here made authentic and put into the canon”
(= jika ia menerimanya melalui tradisi, di sini itu dijadikan otentik /
berotoritas dan dimasukkan ke dalam kanon).
sampai
sini
Keenam, beberapa teks Perjanjian Baru memberi indikasi yang cukup jelas
bahwa anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8 memang para malaikat. Dalam hal ini ada
tiga teks yang perlu kita perhatikan secara seksama. Yang paling penting adalah
Yudas 1:6-7. Surat ini adalah salah satu yang secara eksplisit memakai kitab
1Henokh (lihat Yud 1:14-15 band.
1Henokh 1:9 dan 60:8). Setelah Yudas menjelaskan bentuk kesalahan malaikat
(tidak taat pada batas-batas kekuasaan, meninggalkan tempat kediaman mereka,
ayat 6), ia lalu menjelaskan bahwa penduduk Sodom dan Gomora melakukan dosa dengan
cara yang sama (ayat 7). Ayat ini secara eksplisit menghubungkannya dengan
dosa seksual. Lebih jelas lagi, ungkapan Yunani yang dalam beberapa versi modern
diterjemahkan “perbuatan yang tak wajar” (NIV) atau “nafsu yang tidak
alamiah” (RSV) adalah sarkos heteras.
Walaupun ungkapan ini secara hurufiah berarti “daging yang lain”, tetapi
beberapa versi secara tepat menerjemahkannya dengan “daging yang aneh”
(ASV/KJV/NKJV/NASB). Jika kita melihat kisah penduduk Sodom dan Gomora di
Kejadian 19 maka kita akan menemukan bahwa mereka memang menginginkan daging
yang aneh atau yang lain, yaitu tubuh para malaikat (ayat 1-5, NIV ayat 5
“supaya kami dapat berhubungan seks”, LAI:TB “memakai mereka”). Jika
mereka dengan cara yang sama dengan malaikat mengingini daging lain, maka jelas
para malaikat pernah terlibat dalam dosa seksual yang melibatkan manusia.
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Ttg kata2 ‘dengan cara yang sama’ dalam Yudas 7, saya merasa Yakub Tri sengaja menyembunyikan arti2 lain yang
memungkinkan. Ia banyak belajar, dan karena itu pasti tahu adanya arti2
lain yang memungkinkan. Mengapa disembunyikan? Saya berikan di sini beberapa
kemungkinan arti dr Yudas 6-7 - “(6)
Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas
kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan
belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar, (7)
sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota
sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan
mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal
sebagai peringatan kepada semua orang”.
a)
Orang Sodom dan Gomora berbuat dosa dengan cara yang sama seperti
malaikat-malaikat dalam ay 6. Hanya ini arti yang diberikan oleh Yakub Tri.
b)
Orang Sodom dan Gomora berbuat dosa dengan cara yang sama seperti
guru-guru palsu dalam ay 4.
c)
‘Kota-kota sekitarnya’ itu
(Adma dan Zeboim) melakukan dosa dengan cara yang sama seperti Sodom dan Gomora,
dan dihukum dengan cara yang sama pula.
Saya
berpendapat bahwa yang benar adalah arti ke 3 ini, dan dengan demikian, tak ada
hubungan antara dosa org2 Sodom dan Gomora dengan dosa malaikat / setan.
Tentang Adma dan Zeboim,
bandingkan dengan ayat2 ini:
·
Kej 10:19 - “Daerah orang Kanaan adalah
dari Sidon ke arah Gerar sampai ke Gaza, ke arah Sodom, Gomora, Adma dan
Zeboim sampai ke Lasa”.
·
Kej 14:2 - “bahwa raja-raja ini berperang
melawan Bera, raja Sodom, Birsya, raja Gomora, Syinab, raja Adma, Syemeber,
raja Zeboim dan raja negeri Bela, yakni negeri Zoar”.
·
Kej 14:8 - “Lalu keluarlah raja negeri
Sodom, raja negeri Gomora, raja negeri Adma, raja negeri Zeboim dan raja
negeri Bela, yakni negeri Zoar, dan mengatur barisan perangnya melawan mereka di
lembah Sidim,”.
·
Ul 29:23 - “seluruh tanahnya yang telah
hangus oleh belerang dan garam, yang tidak ditaburi, tidak menumbuhkan apa-apa
dan tidak ada tumbuh-tumbuhan apapun yang timbul dari padanya, seperti pada
waktu ditunggangbalikkanNya Sodom, Gomora, Adma dan Zeboim, yakni yang
ditunggangbalikkan TUHAN dalam murka dan kepanasan amarahNya-“.
2)
Ttg kata2 ‘daging yang aneh’ lagi2 saya
yakin Yakub Tri sengaja menyembunyikan arti2 lain yang memungkinkan.
Mengapa ia menyembunyikan? Ini
cara menjelaskan yang tidak jujur! Saya berikan arti2 lain di bawah ini.
Yudas
7: ‘mengejar kepuasan-kepuasan yang tak
wajar’.
NASB:
‘went after strange flesh’ (=
mengikuti daging / kedagingan yang aneh).
Bahasa
Yunaninya: SARKOS HETERAS yang sebetulnya berarti ’other flesh’ (= daging yang lain), artinya: ‘other than what nature hath appointed’ (= lain dari yang telah
ditetapkan oleh alam), dan ini menunjuk pada homosex, karena ‘yang ditetapkan
oleh alam’ adalah heterosex. Karena itu NIV menterjemahkan ‘sexual perversion’ (= penyimpangan sexual).
Ini
terlihat dari Kej 19:4-5 dimana orang laki-laki dari Sodom, dari yang muda
sampai yang tua, seluruh kota tanpa terkecuali, mengepung rumah Lot, dan
menghendaki hubungan sex dengan malaikat-malaikat, padahal mereka menyangka
malaikat-malaikat itu adalah orang laki-laki.
Kej
19:4-5 - “(4) Tetapi sebelum mereka
tidur, orang-orang lelaki dari kota Sodom itu, dari yang muda sampai yang
tua, bahkan seluruh kota, tidak ada yang terkecuali, datang mengepung rumah itu.
(5) Mereka berseru kepada Lot: ‘Di manakah orang-orang yang datang
kepadamu malam ini? Bawalah mereka keluar kepada kami, supaya kami pakai
mereka.’”.
Catatan:
Kata ‘orang-orang’ dalam Kej 19:5
menggunakan kata Ibrani yang sama dengan kata ‘orang-orang
lelaki’ dalam Kej 19:4, yaitu ENOSH. Yang jelas mrk tidak berkata
‘malaikat2’!
Tindakan
orang-orang Sodom dan Gomora ini menyebabkan sampai sekarang ada istilah yang
merupakan peringatan tentang tindakan mereka yang memalukan, yaitu Sodomy,
yang menunjuk pada semua hubungan sex yang tidak normal, seperti homosex
atau hubungan sex antara manusia dengan binatang.
3)
Adalah sesuatu yang sama sekali tak masuk akal bahwa kata2 ‘daging yang
aneh’ dianggap menunjuk kepada malaikat, apalagi tubuh malaikat! Malaikat
adalah makhluk roh, dan karena itu tidak mempunyai tubuh! Dan bagaimana mungkin
istilah ‘daging’ ditujukan kepada makhluk roh?
4)
Yakub Tri mengatakan: ‘Jika kita melihat kisah penduduk Sodom dan Gomora di Kejadian 19 maka kita
akan menemukan bahwa mereka memang menginginkan daging yang aneh atau yang lain,
yaitu tubuh para malaikat (ayat 1-5, NIV ayat 5 “supaya kami dapat berhubungan
seks”, LAI:TB “memakai mereka”). Jika mereka dengan cara yang sama dengan
malaikat mengingini daging lain, maka jelas para malaikat pernah terlibat dalam
dosa seksual yang melibatkan manusia’.
Ini lagi2 sangat tidak masuk
akal, karena org2 Sodom dan Gomora itu menginginkan hubungan sex dengan
‘orang2’ itu, tetapi keinginan itu tak terjadi, karena para malaikat itu
lalu membutakan mata mereka (Kej 19:11). Jadi, kalau malaikat2 memang melakukan
dosa dengan cara yang sama dengan org2 Sodom dan Gomora, maka bagaimana mungkin
itu diartikan bahwa malaikat2 itu memang PERNAH melakukan hubungan sexual dengan
manusia??? Yang di Sodom dan Gomora hanya keinginan yang tak pernah terlaksana,
jadi jelas bahwa ‘tak ada caranya’! Lalu bagaimana malaikat2 melakukan dosa
sexual ‘dengan cara yang sama’?
5)
Hal yang lain yang perlu dipersoalkan ttg kata2 ‘dengan cara yang
sama’ adalah ini: Di Sodom dan Gomora, para orang laki2 yang
menginginkan hubungan sex dengan para malaikat. Kalau malaikat2 mennginginkan /
melakukan dosa sexual ‘dengan cara yang sama’, maka bukankah seharusnya yang
terjadi adalah hubungan sex antara malaikat2 dengan orang2 laki2? Mengapa
dalam Kej 6:2 yang terjadi adalah hubungan sex antara malaikat2 dan orang2
perempuan? Apakah ini bisa dianggap sebagai ‘dengan cara yang sama’?
Teks lain yang penting adalah 1Petrus 3:19-20. Menurut terjemahan LAI:TB,
“roh-roh yang di dalam penjara” (ayat 19) adalah “roh-roh mereka yang
dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah” (ayat 20). Dari terjemahan ini
tersirat bahwa yang dikunjungi Yesus di penjara dunia roh adalah roh-roh orang
yang mati pada jaman Nuh. Kesan ini akan langsung sirna jika kita mengetahui
bahwa terjemahan “mereka” sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya. Ayat 20
hanya menyebutkan “roh-roh” yang tidak taat pada jaman Nuh. Dari penyebutan
ini (“roh-roh”) terlihat bahwa yang dikunjungi Yesus adalah makhluk roh yang
tidak taat pada jaman Nuh.
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Saya kira tak ada org Reformed yang percaya bahwa Yesus turun ke manapun
pd saat Ia mati.
Ternyata
Yakub Tri percaya!! Dan hebatnya, ia memberi judul tulisannya
ini ‘Dunia roh menurut perspektif Reformed’!
Pandangan
‘Reformed’ liar dr mana ini?
Lalu bagaimana ini bisa diharmoniskan dengan kata2 Yesus kpd penjahat bahwa hari
itu juga Ia akan ada bersama penjahat itu di Firdaus / surga? Juga bagaimana
bisa diharmoniskan dengan kata2 terakhirNya kpd Bapa dimana Ia menyerahkan
rohNya ke tangan Bapa, yang pasti harus diartikan bahwa Ia pergi ke surga? Bdk.
Luk 23:43,46.
2)
Lalu Yakub Tri mengatakan bahwa ‘Dari penyebutan ini (“roh-roh”) terlihat bahwa yang dikunjungi Yesus
adalah makhluk roh yang tidak taat pada jaman Nuh’!
Ini kesimpulan dr mana? Apakah tak bisa diartikan lain? Tak bisakah roh2 itu
diartikan sebagai roh manusia, dan bukan sebagai roh setan?
3)
Tadi Yakub Tri mengatakan ‘anak-anak Allah’ itu adalah malaikat2. Saya sudah bertanya2,
yang dimaksud malaikat yang jatuh / setan, atau malaikat yang tidak jatuh? Kalau
malaikat yang tidak jatuh, bagaimana mungkin ia berhubungan sex / mengambil
istri manusia? Kalau malaikat yang jatuh (dan Yakub Tri kelihatannya mengambil
pandangan ini karena ia mengatakan ‘yang tidak taat pada jaman Nuh’),
bagaimana mungkin disebut sebagai ‘anak Allah’?
4)
Malaikat sudah jatuh ke dalam dosa sebelum Adam dan Hawa jatuh ke dalam
dosa, karena kalau tidak, siapa yang menggoda mereka? Tetapi anehnya, dalam Kej
6 itu Yakub Tri menganggap malaikat jatuh lagi. Jadi, mereka bisa jatuh terus
menerus, satu per satu, dan akhirnya habis? Semua jadi setan?
5)
Untuk apa Yesus mengunjungi makhluk roh /
setan yang jatuh pada jaman Nuh itu? Ingat,
Yesus tak pernah menebus malaikat yang jatuh (Ibr 2:16). Apa
mereka bersahabat dengan Yesus, sehingga Yesus mengunjungi mereka?
Jika kita menyadari bahwa gaya bahasa di ayat 19-20 bersumber dari kitab
1Henokh, kita akan semakin yakin bahwa roh-roh di sini adalah para
malaikat di Kejadian 6:1-8. Dalam surat 1Henokh para malaikat disebut dengan
“roh-roh” (15:4, 6, 8). Para malaikat ini berada di dalam penjara
(18:12-19:2; 21:1-10). Pemenjaraan ini juga dikaitkan dengan air bah pada jaman
Nuh. Hal yang menarik adalah bahwa di pasal 12 dari kitab 1Henokh
diceritakan bahwa Henokh diutus untuk memberitakan hukuman kepada para malaikat
yang ada di penjara (di 1Petrus 3:19-20 yang memberitakan hukuman adalah
Kristus).
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Bagi Yakub Tri, ‘hal yang menarik’
ternyata adalah kitab apokripa!! Wah, wah, wah! Saya
sendiri percaya pada SOLA SCRIPTURA!
2)
Dari penjelasan Yakub Tri sendiri terlihat ada pertentangan antara kitab
Henokh itu (pemberita hukuman adalah Henokh) dengan 1Pet 3:19-20 (pemberita
hukuman adalah Yesus). Lalu
bagaimana mungkin ia mempercayai kitab Henokh itu, dan bahkan ‘semakin
yakin’ karena adanya apa yang tertulis dalam kitab Henokh itu?
3)
Saya sendiri tak percaya Kristus turun kemanapun pada saat mati. Ia naik
ke surga sesuai dengan Luk 23:43,46. Jadi
adalah omong kosong kalau 1Pet 3:19-20 dianggap mengajarkan bahwa ia turun dunia
roh untuk memberitakan hukuman setan.
Dan untuk apa Ia memberitakan hukuman setan di sana? Vonis hukuman seharusnya
diberikan pada akhir jaman / pengadilan akhir jaman, bukan pada saat Yesus mati.
Teks terakhir yang perlu diselidiki adalah 2Petrus 2:4-6. Dalam bagian ini
Petrus merujuk balik pada tiga peristiwa penghukuman yang semuanya terjadi pada
masa Perjanjian Lama: para malaikat, orang-orang pada jaman Nuh dan penduduk
Sodom dan Gomora. Tiga peristiwa ini tampaknya ditulis secara kronologis sesuai
dengan alur cerita kitab Kejadian. Tiga peristiwa ini juga dikaitkan dengan
pemuasan hawa nafsu (2Pet 2:2, 7, 10). Jika ini benar, maka para malaikat
di 2Petrus 2:4 sangat mungkin menunjuk pada anak-anak Allah di Kejadian
6:1-8.
Tanggapan
Budi Asali:
2Pet 2:4-6 - “(4)
Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat
dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian
menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari
penghakiman; (5) dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi
hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain,
ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik; (7) dan
jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan
demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang
hidup fasik di masa-masa kemudian”.
2Pet 2:2,7-10 - “(2)
Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan
karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. … (7) tetapi Ia menyelamatkan Lot,
orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang
tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, - (8) sebab
orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan
mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar
itu tersiksa - (9) maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh
dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari
penghakiman, (10) terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin
mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan
angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan”.
Ketiga
peristiwa yang diceritakan dalam 2Pet 2:4-6 itu hanyalah contoh2, dan kalaupun
itu memang sifatnya khronologis, itu tidak berarti apa-apa. Juga kalau dikatakan
bahwa ketiganya berhubungan dengan pemuasan nafsu, perlu dipertanyakan: nafsu yang bagaimana?
Nafsu
apa yang ada pada malaikat? Apakah
mereka mempunyai nafsu sex? Nafsu makan?
Pandangan
saya tentang bagian ini: Penafsiran yang diberikan Yakub Tri tentang ayat2 di
atas ini hanya bersifat spekulasi. Ini terbukti dari kata2 Yakub Tri sendiri
yang mengatakan ‘jika ini benar’, dan ‘sangat mungkin’. Dan menurut saya
semua ini sama sekali tidak mempunyai kekuatan argumentasi.
Kesulitan dan jawaban
Pandangan yang dianut dalam makalah ini bukan tanpa kesulitan. Seandainya
kita dapat menafsirkan Alkitab sesuai kehendak kita sendiri, maka kita pasti
akan menghindari pandangan ini dan cenderung pada pandangan pertama (anak-anak
Allah adalah keturunan Set). Bagaimanapun, kita harus
membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya sendiri, walaupun hasil
dari penafsiran tersebut mengandung beberapa hal yang sulit kita jelaskan. Apa
saja kesulitan atau keberatan yang sering diajukan oleh mereka yang menentang
pandangan ini?
Mereka umumnya menyanggah berdasarkan ucapan Yesus di Matius 22:30 (para
malaikat di surga tidak kawin maupun mengawinkan). Jika dibaca secara lebih
teliti, teks ini sebenarnya tidak berkontradiksi dengan pandangan kita di atas.
Ayat ini berlaku bagi para malaikat-malaikat di surga. Bagaimana dengan mereka yang “meninggalkan tempat
kediaman mereka” (Yud 1:6)? Bukankah selama di dunia para malaikat dapat
menampakkan diri dalam bentuk manusia? Bukankah dosa-dosa malaikat yang dicatat
di Yudas 1:6-7 dihubungkan dengan dosa seksual?
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Apa yang diberikan oleh Yakub Tri sama
sekali bukan ‘alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri’, tetapi
Yakub Trilah yang memilih ayat2nya, mengarahkan dan bahkan membengkokkannya,
menyensor penafsiran2 yang tak sesuai pandangannya, lalu menyimpulkan. Belum
lagi penggunaan apokripa oleh Yakub Tri! Inikah
‘alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri’?
2)
Ttg Mat 22:30 - “Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan
melainkan hidup seperti malaikat di sorga”. Apakah kata2 ‘di
sorga’ dihubungkan dengan org2 yang telah mengalami kebangkitan, atau kpd
malaikat2? Lagi2 Yakub Tri membuang kemungkinan penafsiran yang rasanya bisa
bertentangan dengan pandangannya. Inikah ‘alkitab yang menafsirkan dirinya sendiri’?
3)
Yakub Tri membedakan ‘malaikat yang di surga’ (tak bisa berhubungan
sex) dengan ‘malaikat yang meninggalkan tempat kediaman mrk’ (bisa
berhubungan sex). Apa dasarnya? Kejatuhan malaikat ke dalam dosa hanya mengubah
mrk dari makhluk roh yang suci menjadi makhluk roh yang berdosa. Tak ada
perubahan lain selain itu. Jadi, pasti tak ada perubahan soal kemampuan sexual.
Kalau memang ada, apa dasar Kitab Sucinya? Yudas 6-7 sudah saya jelaskan di atas
dan sama sekali tidak harus diartikan seperti penafsiran Yakub Tri.
4)
Malaikat, apakah ia di surga atau telah meninggalkan tempat kediamannya,
sama saja dalam hal sex. Mereka bisa atau tidak bisa melakukan hubungan sex, tak
tergantung tempat dimana mereka berada, tetapi tergantung keberadaan mereka.
Mereka adalah makhluk roh yang tidak mempunyai tubuh, dan karena itu tidak
mempunyai nafsu maupun kemampuan untuk melakukan hubungan sex, apalagi dengan
manusia. Kalau mereka mau dan memang bisa berhubungan sex, mengapa tidak
dengan sesama malaikat, tetapi dengan manusia? Apakah mereka menderita semacam
penyakit jiwa yang mirip dengan Zoophilia / bestiality (manusia yang melakukan
hubungan sex dengan binatang)??
5)
Bahwa mereka bisa menampakkan diri dalam bentuk manusia, itu memang
benar. Tetapi ‘menampakkan diri dalam bentuk manusia’ sangat berbeda dengan
‘menjadi manusia’, dan karena itu, itu sama sekali tak berarti bahwa mereka
juga bisa berhubungan sex dengan manusia. Dalam Perjanjian Lama, Allah juga sering menampakkan diri dalam bentuk manusia.
Apakah
itu berarti Allah juga bisa berhubungan sex dengan manusia?
Kalau
memang demikian, mengapa Yakub Tri tidak menganggap bahwa Maria mengandung
karena Roh Kudus berhubungan sex dengan dia?
Sanggahan lain yang diajukan biasanya adalah masalah ketidakadilan dalam
hukuman Allah. Jika “anak-anak Allah” adalah malaikat, maka yang melakukan
dosa di Kejadian 6:1-8 adalah para malaikat dan manusia. Mengapa Allah hanya
menghukum manusia saja? (Bruce K. Waltke, Genesis,
116).
Terhadap sanggahan di atas, beberapa jawaban dapat diberikan. Pertama, jenis
hukuman yang diberikan Allah di Kejadian 6-8 merupakan hukuman yang luar biasa.
Hukuman yang luar biasa ini akan masuk akal jika dilatarbelakangi tindakan dosa
yang luar biasa pula. Kedua, surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas menjelaskan
tentang hukuman yang dialami oleh para malaikat yang jatuh. Ketiga, Musa tidak
selalu mencatat hukuman apa yang diterima iblis pada saat mereka terlibat dalam
suatu dosa. Dalam kasus keberdosaan Kain, tidak ada hukuman yang disebutkan
untuk iblis, walaupun dia sangat jelas tersirat dalam kejatuhan Kain (4:7).
Faktanya, Musa hanya mencatat hukuman untuk iblis secara eksplisit di Kejadian
3:15.
Tanggapan
Budi Asali:
1)
Seandainya manusia memang bisa berhubungan sex dengan malaikat, apa
alasannya utk mengatakan bahwa itu adalah dosa yang luar biasa. Apa dasar Kitab
Sucinya?
2)
Ini salah! Kalau tafsiran Yakub Tri di atas memang benar, maka yang
berbuat dosa adalah malaikat dan org2 perempuan!!! Lalu mengapa
hukumannya (air bah jaman Nuh) menimpa semua manusia, termasuk org laki2??
3)
Seandainya dalam 1Pet, 2Pet, dan Yudas memang membicarakan hukuman setan,
tak ada dasar utk mengangap bahwa dosa mrk adalah melakukan hubungan sex dengan
manusia.
Sanggahan terakhir yang dikemukakan berkaitan dengan hasil persetubuhan.
Mereka menganggap bahwa persetubuhan yang dilakukan oleh para malaikat yang
adalah makhluk roh tidak mungkin menghasilkan apapun. Di samping itu mereka juga
mempertanyakan apakah kejatuhan seperti ini masih dapat terjadi.
Sanggahan di atas merupakan yang paling sulit untuk dijawab. Kemungkinan
besar kejatuhan para malaikat di Kejadian 6:1-8 merupakan kejatuhan yang
terakhir yang diijinkan Allah, walaupun tidak ada teks yang mendukung hal ini
secara eksplisit. Bagaimanapun, dugaan ini bukannya tidak mungkin.
Penghukuman air bah harus dilihat sebagai sebuah akhir dan awal: akhir dari
suatu tatanan dunia lama dan awal bagi yang baru. Hal ini tampak jelas dalam
tulisan Petrus yang membagi dunia ini menjadi sebelum dan sesudah air bah (2Pet
3:5-7 “dunia yang dahulu dan dunia yang sekarang”). #
Tanggapan
Budi Asali:
Ada
2 keberatan / sanggahan yang diberikan oleh Yakub Tri sendiri di sini. Mengapa
hanya yang kedua yang ia jawab? Bagaimana dengan yang pertama? Yang pertama
justru yang merupakan argumentasi yang kuat yang menentang penafsiran /
pandangan Yakub Tri ini. Malaikat adalah makhluk roh, dan karena
tidak mungkin bisa mempunyai nafsu / kemampuan utk berhubungan sex dengan
manusia. Dan seandainya bisa, bagaimana mungkin
bisa mempunyai keturunan / anak? Apakah
malaikat itu juga bisa mengalami orgasme, mengeluarkan sperma, yang lalu
membuahi sel telur perempuan, dengan siapa ia melakukan hubungan sex?
Kalau
Yakub Tri bilang bisa, apa dasar Kitab Sucinya?
Ttg
keberatan yang kedua, dan jawabannya dr Yakub Tri, saya bertanya: dengan dasar
apa Yakub Tri mengatakan bahwa ini adalah dosa / kejatuhan terakhir dr malaikat?
Kalau ia mengatakan bahwa tak ada dukungan text yang explicit, maka saya
tambahkan bahwa yang implicitpun juga tidak ada. 2Pet 3:5-7 sama sekali tidak
mengarah pada penafsiran itu, bahkan secara implicitpun tidak. Saya
berpendapat Yakub Tri melakukan eisegesis,
dan
itu memang satu-satunya kemungkinan sehingga ayat spt itu bisa menjadi dasar dr
ajarannya.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali