(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tanggal 8 Februari 2009, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
Bil 22:36-40 - “(36) Ketika Balak mendengar, bahwa Bileam
datang, keluarlah ia menyongsong dia sampai ke Kota Moab di perbatasan sungai
Arnon, pada ujung perbatasan itu. (37) Dan berkatalah Balak kepada Bileam:
‘Bukankah aku sudah mengutus orang memanggil engkau? Mengapakah engkau tidak
hendak datang kepadaku? Sungguhkah tidak sanggup aku memberi upahmu?’ (38)
Tetapi berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Ini aku sudah datang kepadamu
sekarang; tetapi akan mungkinkah aku dapat mengatakan apa-apa? Perkataan yang
akan ditaruh Allah ke dalam mulutku, itulah yang akan kukatakan.’ (39) Lalu
pergilah Bileam bersama-sama dengan Balak dan sampailah mereka ke
Kiryat-Huzot. (40) Balak mengorbankan beberapa ekor lembu sapi dan kambing
domba dan mengirimkan sebagian kepada Bileam dan kepada pemuka-pemuka yang
bersama-sama dengan dia”.
1)
Balak menyongsong untuk menemui Bileam.
Ay 36:
“Ketika
Balak mendengar, bahwa Bileam datang, keluarlah ia menyongsong dia sampai ke
Kota Moab di perbatasan sungai Arnon, pada ujung perbatasan itu”.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘Balak ... went out to meet him.’ The higher the rank of
the expected guest, politeness requires a greater distance to be gone to welcome
his arrival” (= ‘Balak ... keluar untuk menemui dia’. Makin tinggi
rangking / pangkat dari tamu yang diharapkan, kesopanan menuntut jarak yang
lebih jauh untuk dilalui untuk menyambut kedatangannya).
Keil
& Delitzsch: “By coming as far as the frontier of his kingdom to meet the
celebrated soothsayer, Balak intended to do him special honour” (= Dengan
datang sejauh perbatasan dari kerajaannya untuk menemui tukang tenung yang
terkenal itu, Balak bermaksud untuk memberinya penghormatan yang khusus).
The
Bible Illustrator (Old Testament):
“See what respect heathen princes paid
to those that had but the name of prophets, and how welcome one was that came
with his mouth full of curses. What a shame is it, then, that the ambassadors of
Christ are so little respected by most, and that they are so coldly entertained
who bring tidings of peace and blessing!”
(= Lihatlah rasa / sikap hormat yang diberikan oleh
pangeran kafir ini kepada mereka yang hanya mempunyai nama / sebutan dari
nabi-nabi, dan bagaimana ia menyambut seseorang yang datang dengan mulutnya yang
penuh dengan kutukan-kutukan. Maka, alangkah memalukannya bahwa utusan-utusan /
duta-duta Kristus begitu sedikit dihormati oleh kebanyakan orang, dan bahwa
mereka yang membawa berita gembira tentang damai dan berkat disambut sebagai
tamu dengan begitu dingin).
Matthew
Poole: “That by this great honour he
might give him a taste and earnest of those great rewards he designed him, and
thereby oblige him to use his utmost skill and interest for him” (= Supaya
dengan kehormatan yang besar ini ia bisa memberinya cicipan dan uang muka dari
upah besar yang ia rancang baginya, dan dengan itu mewajibkannya untuk
menggunakan keahlian dan perhatiannya yang sepenuhnya untuk dia) -
hal 311.
2)
Kata-kata / teguran Balak kepada Bileam.
Ay 37:
“Dan
berkatalah Balak kepada Bileam: ‘Bukankah aku sudah mengutus orang memanggil
engkau? Mengapakah engkau tidak hendak datang kepadaku? Sungguhkah tidak sanggup
aku memberi upahmu?’”.
Untuk
ay 37 ini hanya NIV yang menterjemahkan ‘reward’
(= upah / pahala), sedangkan KJV/RSV/NASB menterjemahkan ‘honor’ (= kehormatan). Kata Ibraninya memang bisa diterjemahkan
keduanya, dan dalam Kitab Suci memang ‘hormat’ dihubungkan dengan pemberian
uang / sumbangan / tunjangan. Ini terlihat dari:
·
Mat 15:4-6 - “(4) Sebab
Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang
mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata:
Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku
yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan
kepada Allah, (6) orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau
ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat
istiadatmu sendiri”.
·
Kis 28:10 - “Mereka
sangat menghormati kami dan ketika kami bertolak, mereka menyediakan
segala sesuatu yang kami perlukan”.
·
1Tim 5:3-4,8,16 - “(3) Hormatilah
janda-janda yang benar-benar janda. (4) Tetapi jikalau seorang janda mempunyai
anak atau cucu, hendaknya mereka itu pertama-tama belajar berbakti kepada
kaum keluarganya sendiri dan membalas budi orang tua dan nenek mereka,
karena itulah yang berkenan kepada Allah. ...
(8) Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya,
apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang
tidak beriman. ... (16) Jika seorang laki-laki atau perempuan yang percaya
mempunyai anggota keluarga yang janda, hendaklah ia membantu mereka
sehingga mereka jangan menjadi beban bagi jemaat. Dengan demikian jemaat dapat membantu
mereka yang benar-benar janda”.
·
1Tim 5:17-18 - “(17)
Penatua-penatua yang baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat,
terutama mereka yang dengan jerih payah berkhotbah dan mengajar. (18) Bukankah
Kitab Suci berkata: ‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang
mengirik,’ dan lagi ‘seorang pekerja patut mendapat upahnya.’”.
Dari
kata-kata ini kita melihat bahwa Balak menganggap bahwa karena ia mampu
memberikan kehormatan / pahala / upah yang tinggi / besar, maka nabi manapun
harus mau datang kepadanya dan tunduk kepadanya!
Calvin:
“Now
this is precisely as if he should make the prophetical office subservient to
money, and claim the dominion over its revelations by means of his wealth”
(= Ini persis seakan-akan ia membuat jabatan nabi itu
tunduk pada uang, dan menuntut penguasaan atas wahyu-wahyunya dengan menggunakan
kekayaannya).
Dan
banyak pendeta / pengkhotbah yang memang cocok dengan pemikiran Balak tersebut!
Tetapi bagaimana seharusnya pendeta / pengkhotbah bersikap, bisa kita perhatikan
dari ayat-ayat di bawah ini.
a)
Yesus tidak mencari hormat dari manusia, dan Ia mengecam orang yang
mencari hormat dari manusia, dan bukannya dari Allah.
Yoh 5:41-44
- “(41) Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. (42) Tetapi
tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih
akan Allah. (43) Aku datang dalam nama BapaKu dan kamu tidak menerima Aku;
jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. (44)
Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang
lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?”.
b)
Yesus tidak mencari hormat bagi diriNya sendiri, dan Ia mengecam orang
yang mencari hormat bagi dirinya sendiri.
Yoh
8:50 - “Tetapi Aku tidak mencari hormat bagiKu: ada Satu yang
mencarinya dan Dia juga yang menghakimi”.
Yoh 7:18
- “Barangsiapa berkata-kata dari dirinya sendiri, ia mencari hormat bagi
dirinya sendiri, tetapi barangsiapa mencari hormat bagi Dia yang
mengutusnya, ia benar dan tidak ada ketidakbenaran padanya”.
c)
Petrus menghardik orang yang mau membeli kasih karunia Allah dengan uang.
Kis 8:18-20
- “(18) Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena
rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka,
(19) serta berkata: ‘Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku
menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.’ (20)
Tetapi Petrus berkata kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu bersama
dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah
dengan uang”.
Calvin (tentang Kis
8:18): “As
he had heretofore gotten gain by his magic, so he thought that it would be
gainsome if he might give the graces of the Spirit” [= Seperti ia sampai saat itu mendapatkan
keuntungan dari magic, demikian juga ia mengira bahwa akan merupakan sesuatu
yang menguntungkan / mendatangkan keuntungan jika ia bisa memberikan kasih
karunia dari Roh (Kudus)].
3)
Jawaban Bileam kepada Balak.
Ay 38:
“Tetapi
berkatalah Bileam kepada Balak: ‘Ini aku sudah datang kepadamu sekarang;
tetapi akan mungkinkah aku dapat mengatakan apa-apa? Perkataan yang akan ditaruh
Allah ke dalam mulutku, itulah yang akan kukatakan.’”.
a)
Penilaian terhadap kata-kata Bileam ini.
1.
Ada penafsir yang menurut saya memandang kata-kata Bileam ini dengan cara
yang kelewat positif.
Adam
Clarke: “Here
was a noble resolution, and he was certainly faithful to it: though he wished to
please the king, and get wealth and honour, yet he would not displease God to
realize even these bright prospects. Many who slander this poor semi-antinomian
prophet, have not half his piety” (= Di sini ada
suatu ketetapan hati yang mulia, dan ia pasti setia pada kata-katanya itu:
sekalipun ia ingin / berharap bisa menyenangkan sang raja, dan mendapatkan
kekayaan dan kehormatan, tetapi ia tidak mau membuat Allah tidak senang
sekalipun ia menyadari adanya prospek yang begitu cerah. Banyak orang yang
memfitnah nabi yang malang yang agak anti hukum ini, tetapi tidak mempunyai
setengah dari kesalehan nabi ini).
Saya
tidak tahu dari mana Clarke mendapat kesimpulan seperti itu. Bileam bukannya memutuskan
untuk mentaati Tuhan, tetapi ia dipaksa untuk mentaati Tuhan.
2.
Ada penafsir yang memandang kata-kata Bileam ini dengan cara yang
positif.
Mereka
menganggap bahwa Bileam sudah mendapat pelajaran dari keledainya dan dari
Malaikat TUHAN, dan karena itu ia mengatakan kata-kata ini. Ia mengatakan bahwa
sekalipun ia memang sudah datang, tetapi ia tak punya kuasa apa-apa untuk
mengatakan kata apapun semaunya. Hanya kata-kata yang Allah berikan di mulutnya
yang bisa ia ucapkan. Dan ia betul-betul mengimani kata-kata ini.
3.
Ada penafsir yang tetap melihat adanya sesuatu yang negatif dalam
kata-kata Bileam ini.
Keil
& Delitzsch: “Balaam did not say anything different to the king from what he had
explained to his messengers at the very first (cf. v. 18). But just as he had
not told them the whole truth, but had concealed the fact that Jehovah, his God,
had forbidden the journey at first, on the ground that he was not to curse the
nation that was blessed (v. 12), so he could not address the king in open,
unambiguous words” [= Bileam tidak mengatakan
apapun yang berbeda kepada sang raja dari apa yang telah ia jelaskan kepada para
utusannya sejak semula (bdk. ay 18). Tetapi sama seperti ia tidak memberitahu
mereka seluruh kebenaran, tetapi telah menyembunyikan fakta bahwa Yehovah,
Allahnya, mula-mula telah melarang perjalanannya, atas dasar bahwa ia tidak
boleh mengutuk bangsa yang diberkati (ay 12), demikian juga ia tidak bisa
berbicara kepada raja dengan kata-kata yang terbuka dan tidak berarti ganda].
b)
Kata-kata Bileam ini memang merupakan fakta.
Ia memang tak akan bisa mengeluarkan kata-kata apapun, kecuali kata-kata yang ditempatkan oleh Tuhan di mulutnya.
Seandainya
saja semua nabi / pendeta / pengkhotbah hanya bisa mengucapkan kata-kata yang
Allah letakkan dalam mulut mereka! Seandainya saja Allah melakukan kepada semua
pendeta / pengkhotbah apa yang Ia lakukan terhadap Bileam dalam hal ini!
Sebetulnya, kalau Ia mau, jelas Ia bisa melakukannya. Tetapi Allah tidak
melakukan hal itu terhadap / kepada semua pendeta / pengkhotbah. Dan karena itu,
kenyataannya, ada banyak pendeta / pengkhotbah yang mengucapkan kata-kata, bukan
yang Allah letakkan, tetapi yang setan letakkan, di mulut mereka.
4)
Balak mengadakan upacara korban.
Ay
39-40: “(39)
Lalu pergilah Bileam bersama-sama dengan Balak dan sampailah mereka ke
Kiryat-Huzot. (40) Balak mengorbankan beberapa ekor lembu sapi dan kambing domba
dan mengirimkan sebagian kepada Bileam dan kepada pemuka-pemuka yang
bersama-sama dengan dia”.
a)
Korban ini diberikan, bukan sebagai korban syukur atas kedatangan Bileam,
tetapi sebagai korban untuk memohon kesuksesan untuk usaha yang akan datang.
Keil
& Delitzsch: “The sacrifices were not so much thank-offerings for Balaam’s happy
arrival, as supplicatory offerings for the success of the undertaking before
them. ‘This is evident,’ as Hengstenberg correctly observes, ‘from the
place and time of their presentation; for the place was not that where Balak
first met with Balaam, and they were only presented on the eve of the great
event.’” (= Korban ini bukannya merupakan
korban syukur karena kedatangan Bileam yang membahagiakan itu, tetapi lebih
merupakan korban yang dimaksudkan untuk memohon kesuksesan tentang usaha yang
ada di depan mereka. ‘Ini jelas’, seperti yang secara benar diamati oleh
Hengstenberg, ‘dari tempat dan saat dari pemberian persembahan itu; karena
tempatnya bukan dimana Balak pertama kalinya bertemu dengan Bileam, dan
korban-korban itu dipersembahkan pada malam sebelum peristiwa yang besar itu’).
b)
Pengabaian hal moral dan penekanan hal yang bersifat upacara.
The
Bible Illustrator (OT):
“Men
will neglect the moral, and yet will attend to the ceremonial, and on this
ground will think themselves clear; they will commit the greater, and yet will
hesitate to commit the less, and on this ground will pronounce themselves pure;
they will violate the entire spirit of the Christian law, and yet will
scrupulously observe the letter of some precept or precedent, and on this ground
will pronounce themselves consistent Christians”
(= Manusia mau mengabaikan hal-hal yang bersifat moral,
tetapi memperhatikan / mengikuti hal-hal yang bersifat upacara, dan berdasarkan
hal ini mengira bahwa diri mereka bersih; mereka melanggar seluruh roh dari
hukum Kristen, tetapi secara cermat memperhatikan / menjalankan / mentaati huruf
dari beberapa ajaran / perintah atau teladan, dan berdasarkan hal ini mereka
menyatakan / mengumumkan diri mereka sendiri sebagai orang Kristen yang
konsisten).
c) Korban
itu diberikan untuk siapa?
Adam
Clarke mengatakan bahwa korban itu diberikan baik untuk dewa orang Moab maupun
untuk Yawheh.
Adam
Clarke: “This
was to gain the favour of his gods, and perhaps to propitiate Yahweh, that the
end for which he had sent for Balaam might be accomplished” (=
Ini untuk mendapatkan perkenan / kebaikan dari dewa-dewanya, dan mungkin untuk
mengambil hati / berdamai dengan Yahweh, supaya tujuan untuk mana ia memanggil
Bileam bisa tercapai).
Pulpit
Commentary mengatakan bahwa mungkin persembahan korban itu dilakukan
bukan untuk dewa yang disembah Balak, tetapi untuk Yahweh.
Pulpit
Commentary: “Probably these sacrifices were offered not to Chemosh, but to the
Lord, in whose name Balaam always spoke” [= Mungkin
korban-korban itu dipersembahkan bukan kepada Kamos, tetapi kepada Tuhan (Yahweh),
dalam nama siapa Bileam selalu berbicara].
Kalau
Pulpit Commentary mengatakan ‘mungkin’ maka Keil & Delitzsch memastikan
hal itu.
Keil
& Delitzsch: “Moreover, they were offered unquestionably not to the Moabitish
idols, from which Balak expected no help, but to Jehovah, whom Balak wished to
draw away, in connection with Balaam, from His own people (Israel), that he
might secure His favour to the Moabites” [=
Selanjutnya, korban itu tak diragukan tidak dipersembahkan kepada dewa / berhala
orang Moab, dari mana Balak tidak mengharapkan pertolongan, tetapi kepada
Yehovah, yang dengan perantaraan Bileam, ingin Balak jauhkan dari umatNya
sendiri (Israel), supaya ia bisa memastikan kebaikanNya bagi orang Moab].
Saya
sendiri setuju dengan Keil & Delitzsch.
d)
Kalaupun ini merupakan persembahan untuk Yahweh, apakah Yahweh mau
menerimanya?
Bandingkan
dengan:
·
1Sam 15:22-23a - “(22)
Tetapi jawab Samuel: ‘Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan
korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya,
mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik
dari pada lemak domba-domba jantan. (23a) Sebab pendurhakaan adalah sama seperti
dosa bertenung dan kedegilan adalah sama seperti menyembah berhala dan
terafim”.
·
Yes 1:10-15 - “(10)
Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah
pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! (11) ‘Untuk apa itu
korbanmu yang banyak-banyak?’ firman TUHAN; ‘Aku sudah jemu akan
korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu
gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai.
(12) Apabila kamu datang untuk menghadap di hadiratKu, siapakah yang menuntut
itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait SuciKu? (13) Jangan
lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan
bagiKu. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan
pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh
kejahatan. (14) Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang
tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagiKu, Aku telah payah
menanggungnya. (15) Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan
memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan
mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah”.
e)
Sebagian korban dikirim kepada Bileam.
Pengiriman
sebagian dari persembahan itu kepada Bileam lagi-lagi tentu ditujukan untuk
menghormatinya. Apa tujuannya dan efek semua ini bagi Bileam?
Calvin:
“The
object of all this is, that Balaam was enticed by blandishments, in order that
he might be ashamed to refuse anything to so munificent a king, by whom he had
been treated not merely in a friendly, but in a liberal manner” (= Tujuan
dari semua ini adalah supaya Bileam dipikat oleh bujukan, supaya ia bisa merasa
malu untuk menolak apapun bagi seorang raja yang begitu murah hati, oleh siapa
ia telah diperlakukan bukan semata-mata dengan cara yang bersahabat, tetapi
dengan cara yang royal).
Matthew
Henry: “And
now Balaam is really as solicitous to please Balak as ever he had pretended to
be to please God” (= Dan sekarang Bileam
sungguh-sungguh ingin untuk menyenangkan Balak seperti ia selalu berpura-pura
untuk menjadi orang yang menyenangkan Allah).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali