(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tanggal 1 Februari 2009, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331 / 6050-1331)
Bil 22:21-35 - “(21)
Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina,
dan pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab. (22) Tetapi bangkitlah murka
Allah ketika ia pergi, dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai
lawannya. Bileam mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya
ada bersama-sama dengan dia. (23) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN
berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tanganNya, menyimpanglah keledai
itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk
memalingkannya kembali ke jalan. (24) Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri
pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok
sebelah-menyebelah. (25) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN,
ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada
tembok. Maka ia memukulnya pula. (26) Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus
dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk
menyimpang ke kanan atau ke kiri. (27) Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah
keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam,
lalu dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat. (28) Ketika itu TUHAN membuka
mulut keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan
kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?’ (29) Jawab Bileam kepada
keledai itu: ‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di
tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.’ (30) Tetapi keledai itu berkata
kepada Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu
sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?’ Jawabnya:
‘Tidak.’ (31) Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah
Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tanganNya berdiri di jalan, lalu
berlututlah ia dan sujud. (32) Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya:
‘Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku
keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandanganKu menuju kepada
kebinasaan. (33) Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang
dari hadapanKu; jika ia tidak menyimpang dari hadapanKu, tentulah engkau yang
Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.’ (34) Lalu berkatalah
Bileam kepada Malaikat TUHAN: ‘Aku telah berdosa, karena aku tidak
mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang,
jika hal itu jahat di mataMu, aku mau pulang.’ (35) Tetapi Malaikat TUHAN
berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan orang-orang itu,
tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.’
Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka Balak itu”.
1)
Dari mana Musa mendapat cerita tentang Bileam, keledainya dan Malaikat
TUHAN?
Barnes’
Notes (tentang ay 28): “The
account was perhaps given by Balaam to the Israelites after his capture in the
war against Midian. Compare Num. 31:8. That which is here recorded was
apparently perceived by him alone among human witnesses” (=
‘TUHAN membuka mulut keledai itu’.
Cerita ini mungkin diberikan oleh Bileam kepada orang-orang Israel setelah
penangkapannya dalam perang melawan Midian. Bandingkan dengan Bil 31:8. Apa yang
dicatat di sini rupanya dilihat olehnya saja di antara saksi-saksi manusia).
2)
Malaikat TUHAN berdiri di jalan Bileam sebagai lawannya.
Ay
21-22:
“(21) Lalu bangunlah Bileam
pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama
dengan pemuka-pemuka Moab. (22) Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi,
dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya”.
a)
Malaikat TUHAN.
Bible
Knowledge Commentary: “The
Angel of the Lord was a manifestation of the presence of the LORD Himself, that
is, He was a theophany. This is clear from the fact that He frequently was
equated with Deity and that He was offered and accepted worship, something
absolutely forbidden to ordinary angels (see comments on Gen 16:7; and cf. Gen
18:1-2; 22:14-18; Ex 3:1-6; Josh 5:13-15; Judg 6:20-22; 13:17-23; etc.)”
[= Malaikat TUHAN adalah manifestasi dari kehadiran TUHAN
sendiri, artinya, Ia adalah suatu THEOPHANY. Ini adalah jelas dari fakta bahwa
Ia berulang-ulang disamakan dengan Allah dan bahwa Ia diberi dan menerima
penyembahan, sesuatu yang secara mutlak dilarang bagi malaikat-malaikat biasa].
Catatan:
kata THEOPHANY berasal dari 2 kata Yunani yaitu THEOS (= God
/ Allah) + PHAINESTHAI (= to appear /
menampakkan)
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘The angel of the Lord’ is the old formula for the covenant
God of Israel (see the note at Gen. 16:7), which occurs in this narrative not
less than nine times, interchanged with ‘the Lord’ twice” [= ‘Malaikat
TUHAN’ adalah suatu pernyataan kuno untuk Allah perjanjian dari Israel (lihat
catatan tentang Kej 16:7), yang muncul dalam cerita ini tidak kurang dari 9 x,
dibolak-balik dengan ‘Tuhan’ 2
x].
Catatan:
seharusnya istilah ‘Malaikat TUHAN’ muncul bukan 9 x tetapi 10 x (ay
22,23,24,25,26,27,31,32,34,35). Istilah ‘Yahweh’ (TUHAN) muncul 2 x,
yaitu dalam ay 28,31.
Bil 22:21-35
- “(21) Lalu bangunlah Bileam pada
waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama
dengan pemuka-pemuka Moab. (22) Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi,
dan berdirilah Malaikat TUHAN di jalan sebagai lawannya. Bileam
mengendarai keledainya yang betina dan dua orang bujangnya ada bersama-sama
dengan dia. (23) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN berdiri di
jalan, dengan pedang terhunus di tanganNya, menyimpanglah keledai itu dari jalan
dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul keledai itu untuk memalingkannya
kembali ke jalan. (24) Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada
jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok sebelah-menyebelah.
(25) Ketika keledai itu melihat Malaikat TUHAN, ditekankannyalah dirinya
kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit kepada tembok. Maka ia memukulnya
pula. (26) Berjalanlah pula Malaikat TUHAN terus dan berdirilah Ia pada
suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan untuk menyimpang ke kanan atau ke
kiri. (27) Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah keledai itu dengan Bileam
masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu dipukulnyalah keledai itu
dengan tongkat. (28) Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai itu, sehingga
ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu, sampai engkau
memukul aku tiga kali?’ (29) Jawab Bileam kepada keledai itu: ‘Karena engkau
mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku, tentulah engkau
kubunuh sekarang.’ (30) Tetapi keledai itu berkata kepada Bileam: ‘Bukankah
aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai sekarang? Pernahkah
aku berbuat demikian kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tidak.’ (31) Kemudian TUHAN
menyingkapkan mata Bileam; dilihatnyalah Malaikat TUHAN dengan pedang
terhunus di tanganNya berdiri di jalan, lalu berlututlah ia dan sujud. (32)
Berfirmanlah Malaikat TUHAN kepadanya: ‘Apakah sebabnya engkau memukul
keledaimu sampai tiga kali? Lihat, Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini
pada pemandanganKu menuju kepada kebinasaan. (33) Ketika keledai ini melihat
Aku, telah tiga kali ia menyimpang dari hadapanKu; jika ia tidak menyimpang dari
hadapanKu, tentulah engkau yang Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan
hidup.’ (34) Lalu berkatalah Bileam kepada Malaikat TUHAN: ‘Aku telah
berdosa, karena aku tidak mengetahui, bahwa Engkau ini berdiri di jalan
menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mataMu, aku mau pulang.’
(35) Tetapi Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah
bersama-sama dengan orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan
Kukatakan kepadamu harus kaukatakan.’ Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama
dengan pemuka-pemuka Balak itu”.
b)
Sebagai lawannya.
Jamieson,
Fausset & Brown: “For
an adversary against him, (lasaaTaan). This is the first
occurrence of the word ‘Satan’ - but as used here, in the form of a verb, it
describes the attitude of the angel, who appeared to withstand Balaam in the
commission of an act forbidden by God” [= ‘sebagai
lawannya’, (lasaaTaan).
Ini pemunculan pertama dari kata ‘Satan’ - tetapi sebagaimana digunakan di
sini, dalam bentuk suatu kata kerja, itu menggambarkan sikap dari malaikat, yang
muncul untuk menahan Bileam dalam suatu perbuatan yang dilarang oleh Allah].
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “An
angel stood in the way for an adversary. Now God fulfilled His promise to
Israel, ‘I will be an enemy to thine enemies’ (Ex 23:22). The holy angels
are adversaries to sin, and perhaps are employed more than we are aware of in
preventing it, particularly in opposing those that have any ill designs against
God’s Church and people” [= Seorang malaikat
berdiri di jalan sebagai seorang lawan / musuh. Sekarang Allah menggenapi
janjiNya kepada Israel, ‘Aku akan memusuhi musuhmu’ (Kel 23:22).
Malaikat-malaikat kudus adalah lawan / musuh terhadap dosa, dan mungkin
digunakan lebih dari yang kita sadari untuk mencegahnya, khususnya dalam melawan
mereka yang mempunyai rencana buruk apapun terhadap Gereja dan bangsa / umat
Allah].
Kel 23:22
- “Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan
melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan
melawan lawanmu”.
3)
Keledai Bileam melihat Malaikat TUHAN dan menghindariNya.
Ay 23a:
“Ketika keledai itu melihat Malaikat
TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tanganNya, ...”.
a)
Keledai itu melihat Malaikat TUHAN tetapi Bileam tidak.
Merupakan
sesuatu yang memungkinkan dan beberapa kali terjadi dalam Kitab Suci bahwa pada
saat Tuhan memberikan penglihatan, hanya orang-orang yang Tuhan inginkan yang
bisa melihatnya, sedangkan yang lain, sekalipun berada di tempat yang sama,
tidak melihatnya.
Dan 10:4-7
- “(4) Pada hari kedua puluh empat bulan pertama, ketika aku ada di tepi
sungai besar, yakni sungai Tigris, (5) kuangkat mukaku, lalu kulihat, tampak
seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat pinggang emas dari ufas. (6)
Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat; matanya
seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang
digilap, dan suara ucapannya seperti gaduh orang banyak. (7) Hanya aku,
Daniel, melihat penglihatan itu, tetapi orang-orang yang bersama-sama dengan
aku, tidak melihatnya; tetapi mereka ditimpa oleh ketakutan yang besar,
sehingga mereka lari bersembunyi;”.
Yoh 12:27-29
- “(27) Sekarang jiwaKu terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa,
selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam
saat ini. (28) Bapa, muliakanlah namaMu!’ Maka terdengarlah suara dari sorga:
‘Aku telah memuliakanNya, dan Aku akan memuliakanNya lagi!’ (29) Orang
banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur.
Ada pula yang berkata: ‘Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.’”.
Kis 9:3-7
- “(3) Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu,
tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. (4) Ia rebah ke tanah
dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ‘Saulus, Saulus,
mengapakah engkau menganiaya Aku?’ (5) Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau,
Tuhan?’ KataNya: ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu. (6) Tetapi bangunlah dan
pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus
kauperbuat.’ (7) Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka
memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun”.
Kis 22:9
- “Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi
suara Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar”.
Karena
itu, kalau di sini hanya keledai itu yang melihat Malaikat TUHAN, sedangkan
Bileamnya tidak, itu bukan sesuatu yang aneh.
Penerapan:
demikian juga dalam hal banyak orang mendengar Firman Tuhan bersama-sama. Tuhan
bisa saja memberi pengertian kepada sebagian saja, dan tidak kepada yang lain.
Bdk. Mat 13:10-17.
b)
Ini sama sekali tidak boleh diartikan bahwa binatang bisa melihat sesuatu
yang supranatural lebih dari manusia.
Pulpit
Commentary: “And the ass saw the angel of the Lord. This was clearly part of the
miracle, ... It is nothing to the point that the lower animals have a quicker
perception of some natural phenomena than men, for this was not a natural
phenomenon; it is nothing to the point that the lower animals are credited by
some with possessing ‘the second sight,’ .... If the ass saw the angel, it
was because the Lord opened her eyes then, as he did her mouth afterwards”
[= Dan keledai itu melihat Malaikat TUHAN. Ini jelas
merupakan bagian dari mujijat, ...
Ini tidak menunjukkan bahwa binatang yang lebih rendah mempunyai daya menanggapi
yang lebih cepat tentang fenomena alam dari manusia, karena ini bukan fenomena
alam; ini tidak menunjukkan, bahwa seperti yang dipercaya oleh sebagian orang,
binatang yang lebih rendah mempunyai ‘penglihatan kedua’, ... Jika keledai
itu melihat malaikat itu, itu disebabkan TUHAN membuka matanya pada saat itu,
seperti Ia membuka mulutnya belakangan].
c)
Merupakan sesuatu yang mempermalukan Bileam bahwa keledainya bisa melihat
Malaikat TUHAN itu sedangkan ia sendiri tidak bisa melihatNya.
Calvin:
“to
the great disgrace of the Prophet, the glory of the Angel was first revealed to
the ass. ... He had previously boasted of his extraordinary visions; a vision
now escapes him which was manifest to the eyes of a beast. Whence did such
blindness as this arise, except from avarice, by which he was so stupefied as to
prefer filthy lucre to the holy calling of God?” (=
untuk suatu aib yang besar bagi sang nabi, kemuliaan dari Malaikat itu
pertama-tama dinyatakan kepada si keledai. ... Ia sebelumnya membanggakan diri
karena penglihatan-penglihatannya yang luar biasa; sekarang suatu penglihatan
lolos dari dia, tetapi dinyatakan pada mata dari seekor binatang. Dari mana
muncul kebutaan seperti ini, kecuali dari ketamakan, oleh apa ia begitu
dipesonakan sehingga memilih uang yang kotor dari panggilan kudus dari Allah?)
- hal 194.
Matthew
Henry: “The ass saw the angel,
v. 23. How vainly did Balaam boast that he was a man whose eyes were open, and
that he saw the visions of the Almighty (Num 24:3-4), when the ass he rode on
saw more than he did, his eyes being blinded with covetousness and ambition and
dazzled with the rewards of divination!” [= Keledai
itu melihat Malaikat itu, ay 23. Alangkah sia-sianya Bileam membanggakan diri
bahwa ia adalah seorang manusia yang matanya terbuka, dan bahwa ia melihat
penglihatan-penglihatan dari Yang Mahakuasa (Bil 24:3-4), pada waktu keledai
yang ia tunggangi melihat lebih dari yang ia lihat, matanya dibutakan oleh
ketamakan dan ambisi dan disilaukan dengan upah penenungan!].
Bil 24:3-4
- “(3) Lalu diucapkannyalah sanjaknya, katanya: ‘Tutur kata Bileam bin
Beor, tutur kata orang yang terbuka matanya; (4) tutur kata orang yang mendengar
firman Allah, yang melihat penglihatan dari Yang Mahakuasa sambil rebah, namun
dengan mata tersingkap”.
4)
Penyelamatan yang disalah-mengerti.
Ay 23-27:
“(23) Ketika keledai itu melihat
Malaikat TUHAN berdiri di jalan, dengan pedang terhunus di tanganNya,
menyimpanglah keledai itu dari jalan dan masuk ke ladang. Maka Bileam memukul
keledai itu untuk memalingkannya kembali ke jalan. (24) Kemudian pergilah
Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur
dengan tembok sebelah-menyebelah. (25) Ketika keledai itu melihat Malaikat
TUHAN, ditekankannyalah dirinya kepada tembok, sehingga kaki Bileam terhimpit
kepada tembok. Maka ia memukulnya pula. (26) Berjalanlah pula Malaikat TUHAN
terus dan berdirilah Ia pada suatu tempat yang sempit, yang tidak ada jalan
untuk menyimpang ke kanan atau ke kiri. (27) Melihat Malaikat TUHAN meniaraplah
keledai itu dengan Bileam masih di atasnya. Maka bangkitlah amarah Bileam, lalu
dipukulnyalah keledai itu dengan tongkat”.
Penerapan:
Ada banyak orang salah mengerti tentang
penyelamatan yang Kristus lakukan, sehingga mereka justru memusuhi Kristus, yang
bertujuan menyelamatkan mereka.
5)
Percakapan keledai Bileam dengan tuannya.
Ay 28-30:
“(28) Ketika itu TUHAN membuka mulut
keledai itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan
kepadamu, sampai engkau memukul aku tiga kali?’ (29) Jawab Bileam kepada
keledai itu: ‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di
tanganku, tentulah engkau kubunuh sekarang.’ (30) Tetapi keledai itu berkata
kepada Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu
sampai sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?’ Jawabnya:
‘Tidak.’”.
a)
Keledai Bileam berbicara kepada Bileam.
Ay 28:
“Ketika itu TUHAN membuka mulut keledai
itu, sehingga ia berkata kepada Bileam: ‘Apakah yang kulakukan kepadamu,
sampai engkau memukul aku tiga kali?’”.
1.
Keledai Bileam betul-betul berbicara.
Ada
penafsir yang menafsirkan bahwa keledai itu meringkik seperti keledai, tetapi
Bileam, yang adalah seorang tukang tenung / tukang sihir, bisa menafsirkannya
sehingga ia mengerti kata-kata keledai itu. Tetapi penafsiran ini bertentangan
dengan dengan kata-kata Petrus ini.
2Pet 2:16
- “Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai
beban yang bisu berbicara dengan suara manusia
dan mencegah kebebalan nabi itu”.
2.
Anehkah kalau keledai bisa berbicara?
Sebetulnya
bukan merupakan hal yang aneh bahwa binatang bisa berbicara kalau Tuhan
menghendaki / mengijinkannya. Apa bedanya dengan orang Kristen yang bisa
berbahasa Roh (yang asli)? Mereka tidak pernah belajar bahasa itu, tetapi
tahu-tahu bisa menggunakannya dalam berbicara, karena Tuhan yang mengatur lidah
mereka. Kalau Tuhan bisa bekerja seperti itu dalam diri orang Kristen, mengapa
Ia tidak bisa melakukan hal yang sama untuk binatang.
Hal
yang perlu diperhatikan adalah: kalau dalam memberi ‘bahasa Roh’ untuk
keledai, ternyata ‘bahasa Roh’ itu merupakan bahasa manusia, tidakkah aneh
kalau banyak orang Kristen jaman sekarang menggunakan bahasa Roh, yang sama
sekali tak ada artinya dan tidak bisa dimengerti oleh siapapun?
3.
Tujuan Allah membuat keledai itu berbicara.
a.
Untuk menegur Bileam.
Matthew
Henry: “when all this would
not work upon him, God opened the mouth of the ass, and she spoke to him once
and again; ... This was a great miracle, quite above the power of nature, ... He
that made man speak could, when he pleased, make the ass to speak with man’s
voice, 2 Pet. 2:16. Here Mr. Ainsworth observes that the devil, when he
tempted our first parents to sin, employed a subtle serpent, but that God, when
he would convince Balaam, employed a silly ass, ... for Satan corrupts
men’s minds by the craftiness of those that lie in wait to deceive, but Christ
has chosen the foolish things of the world to confound the wise. By a dumb
ass God rebukes the madness of the prophet, for he will never want reprovers,
but when he pleases can make the stones cry out as witnesses to him, Lu. 19:40;
Hab. 2:11” (= ketika semua ini tidak
menghasilkan hasil apapun padanya, Allah membuka mulut dari keledai, dan keledai
itu berbicara kepadanya sekali dan lalu sekali lagi; ... Ini merupakan suatu
mujijat yang besar, betul-betul melampaui kuasa alam, ... Ia yang membuat
manusia berbicara, bisa, pada waktu Ia berkenan, membuat keledai untuk berbicara
dengan suara manusia, 2Pet 2:16. Di sini Mr. Ainsworth memperhatikan bahwa setan
/ Iblis, pada waktu ia mencobai orang tua pertama kita untuk berbuat dosa,
menggunakan seekor ular yang cerdik, tetapi bahwa Allah, pada waktu ia mau
meyakinkan Bileam, menggunakan seekor keledai yang tolol, ... karena setan /
Iblis merusak pikiran manusia dengan kecerdikan dari mereka yang berbaring dan
menunggu untuk menipu / mendustai, tetapi Kristus telah memilih hal-hal yang
bodoh dari dunia untuk membingungkan orang-orang berhikmat. Oleh
seekor keledai yang bisu / bodoh, Allah menegur kegilaan sang nabi, karena Ia
tak akan pernah kekurangan penegur-penegur, tetapi pada waktu Ia berkenan Ia
bisa membuat batu-batu berteriak sebagai saksi-saksi bagiNya, Luk 19:40;
Hab 2:11).
2Pet 2:16
- “Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab
keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia
dan mencegah kebebalan nabi itu”.
Luk 19:40
- “JawabNya: ‘Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu
ini akan berteriak.’”.
Hab 2:11
- “Sebab batu berseru-seru dari tembok, dan balok menjawabnya
dari rangka rumah”.
Kel 4:10-12
- “(10) Lalu kata Musa kepada TUHAN: ‘Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai
bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hambaMupun tidak,
sebab aku berat mulut dan berat lidah.’ (11) Tetapi TUHAN berfirman kepadanya:
‘Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau
tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? (12) Oleh
sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang
harus kaukatakan.’”.
1Kor 1:27-29
- “(27) Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan
orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah
untuk memalukan apa yang kuat, (28) dan apa yang tidak terpandang dan yang
hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah
untuk meniadakan apa yang berarti, (29) supaya jangan ada seorang manusiapun
yang memegahkan diri di hadapan Allah”.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“A
person has reached a very low level in life if God has to use brute beasts to
communicate His mind” (= Seseorang telah mencapai
tingkat yang sangat rendah dalam hidupnya jika Allah harus menggunakan binatang
yang tak berakal untuk menyampaikan pikiranNya).
b. Untuk
mengajar Bileam bahwa Tuhan bisa mengontrol semua pembicaraan, termasuk
kata-katanya nanti pada saat ia mau mengutuk Israel.
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “THE
OBJECT OF THE MIRACLE. ... He might also have learned that all speech was under
Divine control, and that he would be able to utter only such words as God would
permit” (= TUJUAN DARI MUJIJAT ITU. ... Ia bisa juga
mempelajari bahwa semua ucapan ada dibawah kontrol Ilahi, dan bahwa ia akan bisa
mengucapkan hanya kata-kata seperti yang Allah ijinkan).
c. Untuk menunjukkan bahwa Tuhan bisa membuat makhluk bicara tanpa memberi penghargaan kepada makhluk itu.
IVP
Bible Background Commentary: Old Testament:
“The
effect of the speaking animal in this story is to make it clear to Balaam that
God can speak through any creature he chooses, with no credit to the creature”
(= Pengaruh / akibat dari berbicaranya binatang dalam
cerita ini adalah untuk membuatnya jelas kepada Bileam bahwa Allah bisa
berbicara melalui makhluk manapun yang Ia pilih, tanpa penghargaan kepada
makhluk itu).
Misalnya
pada waktu Tuhan membuat Kayafas bernubuat dalam Yoh 11:49-52. Ini nubuat dari
Tuhan, tetapi Kayafasnya sama sekali tak dianggap berjasa karena nubuat yang ia
keluarkan.
4.
Sebetulnya dalam hidup kita sehari-hari, kita memang bisa / harus belajar
dari binatang.
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “‘But
ask now the beasts, and they shall teach thee; and the fowls of the air, and
they shall tell thee.’ ‘The stork in heaven knoweth her appointed times.’
‘The ox knoweth his owner, and the ass his master’s crib.’ ‘Go to the
ant, thou sluggard; consider her ways, and be wise.’ Dumb creatures are
continually teaching us” (= ‘Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya pengajaran,
kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan’. ‘Burung
bangau berpegang pada waktu kembalinya’. ‘Lembu mengenal pemiliknya, dan
keledai mengenal palungan yang disediakan tuannya’. ‘Hai pemalas, pergilah
kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak’. Makhluk-makhluk bisu /
bodoh secara terus menerus mengajar kita).
Ayub
12:7 - “Tetapi bertanyalah kepada binatang, maka engkau akan diberinya
pengajaran, kepada burung di udara, maka engkau akan diberinya keterangan”.
Yer 8:7
- “Bahkan burung ranggung di udara mengetahui musimnya, burung tekukur,
burung layang-layang dan burung bangau berpegang pada waktu kembalinya,
tetapi umatKu tidak mengetahui hukum TUHAN”.
Yes
1:3 - “Lembu mengenal pemiliknya, tetapi Israel tidak; keledai
mengenal palungan yang disediakan tuannya, tetapi umatKu tidak
memahaminya.’”.
Amsal
6:6 - “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan
jadilah bijak”.
b)
Jawaban Bileam pada keledainya.
Ay 29:
“Jawab Bileam kepada keledai itu:
‘Karena engkau mempermain-mainkan aku; seandainya ada pedang di tanganku,
tentulah engkau kubunuh sekarang.’”.
1.
Bileam tak kelihatan heran / terkejut melihat / mendengar keledainya
berbicara.
Merupakan
sesuatu yang aneh bahwa Bileam tidak merasa heran / bingung mendengar keledainya
berbicara. Ada yang mengatakan bahwa karena ia adalah seorang petenung, itu
bukan hal yang luar biasa baginya, dan ada juga yang mengatakan bahwa nafsunya
yang begitu keras kepala begitu membutakannya sehingga ia tidak bisa
memperhatikan atau mempertimbangkan keanehan dari peristiwa itu.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“Why
wasn’t Balaam shocked when his beast spoke to him ‘with a man’s voice’?
... Satan spoke through a serpent when he deceived Eve
(Gen 3:1 ff; 2 Cor 11:3), and it’s possible that in the past
Satan’s demons had spoken to Balaam through animals” [= Mengapa
Bileam tidak terkejut pada waktu binatangnya berbicara kepadanya ‘dengan suara
manusia’? ... Setan / Iblis berbicara melalui seekor ular pada saat ia menipu
Hawa (Kej 3:1-dst; 2Kor 11:3), dan adalah mungkin bahwa dalam masa lalu
roh-roh jahat dari Iblis telah berbicara kepada Bileam melalui binatang-binatang].
2.
Bileam berharap bisa mempunyai pedang untuk membunuh keledainya.
Matthew
Henry: “Balaam in his fury
wished he had a sword to kill his ass with, v. 29. See his impotency; can he
think by his curses to do mischief to Israel that has it not in his power to
kill his own ass?” (= Bileam dalam kemurkaannya
berharap seandainya ia mempunyai sebuah pedang untuk membunuh keledainya, ay 29.
Lihatlah ketidak-mampuannya; bisakah ia berpikir / mengira bahwa dengan
kutukan-kutukannya ia bisa melakukan kerusakan kepada Israel padahal ia tidak
mempunyai kuasa untuk membunuh keledainya sendiri?).
c)
Jawaban keledai kepada Bileam.
Ay 30:
“Tetapi keledai itu berkata kepada
Bileam: ‘Bukankah aku ini keledaimu yang kautunggangi selama hidupmu sampai
sekarang? Pernahkah aku berbuat demikian kepadamu?’ Jawabnya: ‘Tidak.’”.
Tuhan
bukan hanya membuat keledai ini bisa bicara, tetapi juga bisa berargumentasi!
Sebetulnya dalam kata-kata keledai itu dalam ay 28 sudah terdapat
argumentasi, tetapi dalam ay 30 ini argumentasinya lebih kuat lagi! Karena
itu adalah aneh kalau banyak orang Kristen tidak bisa berargumentasi, tetapi
mengclaim dipenuhi Roh Kudus, dipakai oleh Tuhan, dan sebagainya. Mereka
kalah oleh seekor keledai!
6)
Tuhan menyingkapkan mata Bileam.
Ay 31:
“Kemudian TUHAN menyingkapkan mata
Bileam; dilihatnyalah
Malaikat TUHAN dengan pedang terhunus di tanganNya berdiri di jalan, lalu
berlututlah ia dan sujud”.
Bdk.
2Raja 6:15-17 - “(15) Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan
pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di
sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: ‘Celaka tuanku!
Apakah yang akan kita perbuat?’ (16) Jawabnya: ‘Jangan takut, sebab lebih
banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.’ (17) Lalu berdoalah
Elisa: ‘Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat.’ Maka TUHAN
membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh
dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa”.
Calvin: “‘Then the Lord opened the eyes of Balaam.’ This passage teaches
us, that whatever be the acuteness of our senses, it is not only implanted in us
by God, but also either sustained or extinguished by His secret inspiration.
Balaam’s eyes are opened; consequently there was a veil before them
previously, which prevented him from seeing what was manifest. Thus God at His
pleasure makes dull the senses of those who seem to themselves to be very acute;
since perception is His special gift” (=
‘Kemudian TUHAN menyingkapkan mata Bileam’. Text ini mengajar kita, bahwa
bagaimanapun tajamnya pikiran kita, itu bukan hanya ditanamkan dalam diri kita
oleh Allah, tetapi juga atau ditopang atau dipadamkan oleh ilhamNya yang
rahasia. Mata Bileam terbuka; dan karena itu sebelum itu ada suatu tudung /
selubung di depannya, yang menghalangi dia untuk melihat apa yang nyata / jelas.
Jadi, Allah sesuai perkenanNya membuat tumpul pikiran mereka yang bagi diri
mereka sendiri kelihatan tajam; karena pengertian merupakan anugerahNya yang
khusus).
7)
Percakapan Malaikat TUHAN dengan Bileam.
a)
Malaikat TUHAN berbicara kepada Bileam.
Ay 32-33:
“(32) Berfirmanlah Malaikat TUHAN
kepadanya: ‘Apakah sebabnya engkau memukul keledaimu sampai tiga kali? Lihat,
Aku keluar sebagai lawanmu, sebab jalan ini pada pemandanganKu menuju kepada
kebinasaan. (33) Ketika keledai ini melihat Aku, telah tiga kali ia menyimpang
dari hadapanKu; jika ia tidak menyimpang dari hadapanKu, tentulah engkau yang
Kubunuh pada waktu itu juga dan dia Kubiarkan hidup.’”.
Tadi
Bileam mengalami sesuatu yang menyebalkan. Keledainya tahu-tahu ngadat, dan
menyebabkan kakinya terhimpit tembok. Itu menyebabkan ia marah, padahal
sebetulnya hal itu menyelamatkan nyawanya. Ini memberi pelajaran kepada kita
untuk tidak marah, mengomel, dsb, kalau ada hal-hal yang terjadi bertentangan
dengan keinginan kita, karena bisa saja hal-hal itu justru digunakan oleh Allah,
atau diijinkan terjadi oleh Allah, untuk menyelamatkan kita.
Tetapi
Matthew Henry juga mengatakan bahwa pada saat kita mengalami hal yang tidak
menyenangkan, kita harus memeriksa apakah kita ada di jalan yang benar atau
tidak.
b)
Jawaban Bileam kepada Malaikat TUHAN.
Ay
34:
“Lalu berkatalah Bileam kepada
Malaikat TUHAN: ‘Aku telah berdosa, karena aku tidak mengetahui, bahwa Engkau
ini berdiri di jalan menentang aku. Maka sekarang, jika hal itu jahat di mataMu,
aku mau pulang.’”.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘I have sinned ... if it displease thee.’ Notwithstanding
this confession, he evinced no spirit of penitence, as he speaks of desisting
only from the outward act” (= ‘Aku
telah berdosa ... jika hal itu jahat di mataMu’. Sekalipun ada pengakuan ini,
ia tidak menunjukkan dengan jelas roh penyesalan, karena ia berbicara hanya
tentang penghentian tindakan lahirah).
The
Bible Exposition Commentary (Old Testament): “His words, ‘I have sinned,’ were not evidence of sincere
repentance. Pharaoh (Ex 9:27), King Saul (1 Sam 15:24,30; 26:21), and Judas
Iscariot (Matt 27:4) all uttered these words but didn’t turn to God for mercy.
What good is it to say pious words if your heart goes right on sinning? Listen
to David (2 Sam 12:13; Ps 51:4; 2 Sam 24:10,17; 1 Chron 21:8,17) or the Prodigal
Son if you want to hear real confession”
[= Kata-katanya
‘Aku telah berdosa’, bukan bukti dari pertobatan yang sungguh-sungguh.
Firaun (Kel 9:27), Raja Saul (1Sam 15:24,30; 26:21), dan Yudas Iskariot (Mat
27:4) semua mengucapkan kata-kata ini tetapi tidak berbalik kepada Allah untuk
belas kasihan. Apa baiknya untuk mengucapkan kata-kata saleh jika hatimu terus
berbuat dosa? Dengarlah Daud (2Sam 12:13; Maz 51:6; 2Sam 24:10,17; 1Taw 21:8,17)
atau anak yang hilang jika engkau ingin mendengar pengakuan yang sejati].
Kel 9:27
- “Lalu Firaun menyuruh memanggil Musa dan Harun serta berkata kepada
mereka: ‘Aku telah berdosa sekali ini, TUHAN itu yang benar, tetapi aku
dan rakyatkulah yang bersalah”.
1Sam 15:30
- “Tetapi kata Saul: ‘Aku telah berdosa; tetapi tunjukkanlah juga
hormatmu kepadaku sekarang di depan para tua-tua bangsaku dan di depan orang
Israel. Kembalilah bersama-sama dengan aku, maka aku akan sujud menyembah kepada
TUHAN, Allahmu.’”.
1Sam 26:21
- “Lalu berkatalah Saul: ‘Aku telah berbuat dosa, pulanglah,
anakku Daud, sebab aku tidak akan berbuat jahat lagi kepadamu, karena nyawaku
pada hari ini berharga di matamu. Sesungguhnya, perbuatanku itu bodoh dan aku
sesat sama sekali.’”.
Mat 27:4
- “dan berkata: ‘Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang
yang tak bersalah.’ Tetapi jawab mereka: ‘Apa urusan kami dengan itu? Itu
urusanmu sendiri!’”.
2Sam 12:13
- “Lalu berkatalah Daud kepada Natan: ‘Aku sudah berdosa kepada TUHAN.’
Dan Natan berkata kepada Daud: ‘TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau
tidak akan mati”.
Maz 51:6
- “Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan
melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam
putusanMu, bersih dalam penghukumanMu”.
2Sam 24:10,17
- “(10) Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat,
lalu berkatalah Daud kepada TUHAN: ‘Aku telah sangat berdosa karena
melakukan hal ini; maka sekarang, TUHAN, jauhkanlah kiranya kesalahan
hambaMu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.’ ... (17) Dan berkatalah
Daud kepada TUHAN, ketika dilihatnya malaikat yang tengah memusnahkan bangsa
itu, demikian: ‘Sesungguhnya, aku telah berdosa, dan aku telah membuat
kesalahan, tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Biarlah
kiranya tanganMu menimpa aku dan kaum keluargaku.’”.
1Taw
21:8,17 - “(8) Lalu berkatalah Daud kepada Allah: ‘Aku telah sangat
berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah kiranya
kesalahan hambaMu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.’ ... (17) Dan
berkatalah Daud kepada Allah: ‘Bukankah aku ini yang menyuruh menghitung
rakyat dan aku sendirilah yang telah berdosa dan yang melakukan kejahatan,
tetapi domba-domba ini, apakah yang dilakukan mereka? Ya TUHAN, Allahku, biarlah
kiranya tanganMu menimpa aku dan kaum keluargaku, tetapi janganlah tulah menimpa
umatMu.’”.
Kalau
diperhatikan hanya kata-kata lahiriahnya, maka pengakuan dosa Daud tak berbeda
dengan ‘pengakuan dosa’ dari Saul, Firaun, dan Yudas Iskariot. Yang
membedakan adalah ketulusan / kesungguhan, motivasinya, dan pertobatannya.
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “There
is many a man who says, in his own room, very often, and at church, ‘I have
sinned’; but throughout the week, every day, and all the day, he is grasping
in his business, he is anxious in his home, he is occupied in his thoughts about
money. It is money, money everywhere. Money gives its tone and colour to his
whole life. That is Balaam to the very letter” (= Ada
orang yang berkata, di ruangannya, sangat sering, dan di gereja, ‘Aku telah
berdosa’; tetapi sepanjang minggu, setiap hari, dan sepanjang hari, ia tamak
dalam bisnis / pekerjaannya, ia kuatir / sangat ingin di rumahnya, ia dipenuhi
dalam pikirannya tentang uang. Uang, uang dimana-mana. Uang memberinya nada dan
warna pada seluruh kehidupannya. Itu secara hurufiah adalah Bileam).
Yang
kita cintai itu, atau yang memenuhi pikiran kita itu, bisa saja bukan uang,
tetapi hal-hal lain.
The
Biblical Illustrator (Old Testament): “That
was Balaam - and that may be you! Or is it thus? You have an object in life very
dear. You know that the object is not after God’s will, but still you pursue
it. You recur to it again and again - after voices - after providences - which
have all told you that it is wrong. But you will have your darling object at any
cost - even though it forfeit peace of mind, and though you lose God’s favour.
This, again, is Balaam” (= Itulah Bileam - dan itu
bisa adalah engkau! Atau apakah memang seperti itu? Engkau mempunyai obyek dalam
kehidupan yang sangat engkau cintai. Engkau tahu bahwa obyek itu tidak sesuai
kehendak Allah, tetapi engkau tetap mengejarnya. Engkau kembali kepadanya lagi
dan lagi - setelah suara-suara - setelah providensia-providensia - yang semuanya
telah memberitahumu bahwa itu adalah salah. Tetapi engkau tetap menghendaki
obyek kecintaanmu tak peduli berapa ongkosnya - sekalipun itu menghilangkan /
mengorbankan damai dari pikiran, dan sekalipun engkau kehilangan kebaikan /
perkenan Allah. Ini lagi-lagi adalah Bileam).
c)
Jawaban Malaikat TUHAN kepada Bileam.
Ay
35: “Tetapi
Malaikat TUHAN berfirman kepada Bileam: ‘Pergilah bersama-sama dengan
orang-orang itu, tetapi hanyalah perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus
kaukatakan.’ Sesudah itu pergilah Bileam bersama-sama dengan pemuka-pemuka
Balak itu”.
The
Bible Exposition Commentary: Old Testament:
“In
His permissive will, God allowed Balaam to continue on his journey, but He
cautioned him to speak only the messages that God gave him. For the first time,
Balaam realized that there was more involved in this adventure than cursing a
nation and making some money. As the Lord used the donkey to rebuke her master,
God would use Balaam to reveal great truths about Israel and Israel’s promised
Messiah” (= Dalam kehendakNya yang mengijinkan,
Allah mengijinkan Bileam untuk melanjutkan perjalanannya, tetapi Ia
memperingatkannya untuk mengatakan hanya pesan-pesan yang Allah berikan
kepadanya. Untuk pertama kalinya Bileam menyadari bahwa ada lebih banyak yang
terlibat dalam petualangannya ini dari pada sekedar mengutuki suatu bangsa dan
mencari uang. Sebagaimana Tuhan mengunakan keledai untuk menegur tuannya, Allah
akan menggunakan Bileam untuk menyatakan kebenaran-kebenaran besar tentang
Israel dan Mesias yang dijanjikan kepada Israel).
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali