(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tanggal 25 Januari 2009, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(Telpon: 7064-1331 / 6050-1331)
Bil 22:14-22a - “(14)
Lalu berangkatlah pemuka-pemuka Moab itu dan setelah mereka sampai kepada
Balak, berkatalah mereka: ‘Bileam menolak datang bersama-sama dengan
kami.’ (15) Tetapi Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih
terhormat dari yang pertama. (16) Setelah mereka sampai kepada Bileam,
berkatalah mereka kepadanya: ‘Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah
biarkan dirimu terhalang-halang untuk datang kepadaku, (17) sebab aku akan
memberi upahmu sangat banyak, dan apapun yang kauminta dari padaku, aku akan
mengabulkannya. Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.’ (18) Tetapi
Bileam menjawab kepada pegawai-pegawai Balak: ‘Sekalipun Balak memberikan
kepadaku emas dan perak seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat
sesuatu, yang kecil atau yang besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. (19)
Oleh sebab itu, baiklah kamupun tinggal di sini pada malam ini, supaya aku
tahu, apakah pula yang akan difirmankan TUHAN kepadaku.’ (20) Datanglah
Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: ‘Jikalau
orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah,
pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan
kepadamu harus kaulakukan.’ (21) Lalu bangunlah Bileam pada waktu pagi,
dipelanainyalah keledainya yang betina, dan pergi bersama-sama dengan
pemuka-pemuka Moab. (22a) Tetapi bangkitlah murka Allah ketika ia pergi,”.
Dalam
pelajaran yang lalu kita sudah melihat 2 hal:
1)
Firman Tuhan dari Tuhan kepada Bileam, oleh Bileam dikurangi pada waktu
ia menyampaikannya kepada para utusan Balak, dan dikurangi lagi oleh para utusan
itu pada waktu mereka menyampaikannya kepada Balak. Tentang hal itu perhatikan 2
komentar di bawah ini.
Matthew
Henry: “The messengers are not
faithful in returning Balaam’s answer to Balak. All the account they give of
it is, Balaam refuseth to come with us (v. 14), intimating that he only wanted
more courtship and higher proffers; but they are not willing Balak should know
that God had signified his disallowance of the attempt” [= Utusan-utusan
itu tidak setia dalam menyampaikan jawaban Bileam kepada Balak. Seluruh cerita
yang mereka berikan tentangnya adalah, ‘Bileam menolak untuk datang dengan
kami’ (ay 14), yang mengisyaratkan bahwa ia hanya menginginkan pengenalan
yang lebih dekat dan tawaran yang lebih tinggi; tetapi para utusan itu tidak mau
Balak tahu bahwa Allah telah memberitahukan penolakanNya tentang usaha tersebut].
Adam
Clarke: “‘Balaam refuseth to
come with us.’ ‘Observe,’ says Mr. Ainsworth, ‘Satan’s practice
against God’s word, seeking to lessen the same, and that from hand to hand,
till he bring it to naught. Balaam told the princes less than God told him, and
they relate to Balak less than Balaam told them; so that when the answer came to
the king of Moab, it was not the word of God, but the word of man; it was
simply, Balaam refuseth to come, without ever intimating that God had forbidden
him.’” (= ‘Bileam menolak datang bersama-sama dengan kami’.
‘Perhatikanlah’, kata Ainsworth, ‘Praktek setan terhadap Firman Allah,
berusaha menguranginya, dan itu ia lakukan dari tangan ke tangan / orang ke
orang, sampai ia membawanya menjadi nol. Bileam memberitahu pangeran-pangeran
itu kurang dari yang Allah beritahukan kepadanya, dan mereka menceritakannya
kepada Balak lebih sedikit lagi dari yang Bileam beritahukan kepada mereka;
sehingga pada waktu jawaban itu sampai kepada raja Moab itu, itu bukan lagi
firman Allah, tetapi kata-kata manusia; itu hanya berbunyi, Bileam menolak untuk
datang, tanpa pernah mengisyaratkan bahwa Allah telah melarangnya.’).
a)
Penyampaian firman dari Allah kepada Bileam.
Ay 12:
“Lalu berfirmanlah Allah kepada Bileam:
‘Janganlah engkau pergi bersama-sama dengan mereka, janganlah engkau
mengutuk bangsa itu, sebab mereka telah diberkati.’”.
b)
Penyampaian pesan Allah dari Bileam kepada para utusan.
Ay 13:
“Bangunlah Bileam pada waktu pagi, lalu berkata kepada pemuka-pemuka Balak:
‘Pulanglah ke negerimu, sebab TUHAN tidak mengizinkan aku pergi
bersama-sama dengan kamu.’”.
Catatan: bagian yang saya garis-bawahi dalam
ay 12 di atas, sama sekali tidak disampaikan. Juga, kalau dalam ay 12 Tuhan
‘jelas melarang’, maka dalam ay 13 Bileam hanya mengatakan ‘Tuhan
tidak mengijinkan’. Ini merupakan tindakan melunakkan firman yang tidak pada
tempatnya.
c)
Penyampaian para utusan kepada raja Balak.
Ay 14:
“Lalu berangkatlah pemuka-pemuka Moab itu dan setelah mereka sampai kepada
Balak, berkatalah mereka: ‘Bileam menolak datang bersama-sama dengan
kami.’”.
Catatan: sekalipun para utusan mengatakan
Bileam menolak, tetapi mereka tak mengatakan bahwa Tuhan yang melarang /
tidak mengijinkan, sehingga Bileam menolak.
2)
Bileam memang mengatakan ‘Tidak’, tetapi jelas terkandung kata
‘Ya’ di dalamnya.
Rupanya
kedua hal ini menyebabkan Balak tidak putus asa dalam usahanya untuk memanggil
Bileam, dan ia lalu mengirim utusan kedua yang lebih banyak dan lebih terhormat.
Ay 15-17:
“(15)
Tetapi Balak mengutus pula pemuka-pemuka lebih banyak dan lebih terhormat dari
yang pertama. (16) Setelah mereka sampai kepada Bileam, berkatalah mereka
kepadanya: ‘Beginilah kata Balak bin Zipor: Janganlah biarkan dirimu
terhalang-halang untuk datang kepadaku, (17) sebab aku akan memberi upahmu
sangat banyak, dan apapun yang kauminta dari padaku, aku akan mengabulkannya.
Datanglah, dan serapahlah bangsa itu bagiku.’”.
Ada
2 hal yang perlu diperhatikan:
1.
Ketekunan Balak dalam mengusahakan kejahatan.
Matthew
Henry: “We have here a second
embassy sent to Balaam, to fetch him over to curse Israel. It were well for us
if we were as earnest and constant in prosecuting a good work, notwithstanding
disappointments, as Balak was in pursuing this ill design. The enemies of the
church are restless and unwearied in their attempts against it” (= Di sini
kita mendapati utusan kedua dikirim kepada Bileam, untuk menjemputnya untuk
mengutuk Israel. Adalah bagus bagi kita jika kita sama sungguh-sungguhnya dan
konstannya dalam melaksanakan suatu perbuatan baik, meskipun ada
kekecewaan-kekecewaan, seperti Balak dalam mengejar rancangan jahat ini.
Musuh-musuh gereja tak bisa berhenti dan tak bosan-bosannya dalam usaha mereka
menentang gereja).
2.
Pencobaan yang lebih hebat.
Matthew
Henry: “The temptation Balak
laid before Balaam. He contrived to make this assault more vigorous than the
former. It is very probable that he sent double money in the hands of his
messengers; but, besides that, now he tempted him with honours, laid a bait not
only for his covetousness, but for his pride and ambition. How earnestly should
we beg of God daily to mortify in us these two limbs of the old man! Those that
know how to look with a holy contempt upon worldly wealth and preferment will
find it not so hard a matter as most men do to keep a good conscience” (=
Pencobaan yang diletakkan oleh Balak di hadapan Bileam. Ia merencanakan untuk
membuat serangan ini lebih hebat dari yang terdahulu. Adalah sangat mungkin
bahwa ia mengirimkan uang dua kali lipat dalam tangan dari utusan-utusannya;
tetapi disamping itu, sekarang ia mencobainya dengan kehormatan, memberi umpan
bukan hanya bagi ketamakannya, tetapi juga bagi kesombongan dan ambisinya.
Alangkah sungguh-sungguhnya kita harus meminta kepada Allah setiap hari untuk
mematikan dalam diri kita kedua anggota badan dari manusia lama ini! Mereka yang
tahu bagaimana melihat dengan kejijikan yang kudus pada kekayaan dan pangkat
yang lebih tinggi secara duniawi akan mendapati bahwa itu bukan hal yang terlalu
sukar untuk menjaga hati nurani yang baik seperti kebanyakan orang).
1)
Kata-kata dan sikap Bileam terhadap utusan kedua dari Balak.
Ay 18-19:
“(18)
Tetapi Bileam menjawab kepada
pegawai-pegawai Balak: ‘Sekalipun Balak memberikan kepadaku emas dan perak
seistana penuh, aku tidak akan sanggup berbuat sesuatu, yang kecil atau yang
besar, yang melanggar titah TUHAN, Allahku. (19) Oleh sebab itu, baiklah kamupun
tinggal di sini pada malam ini, supaya aku tahu, apakah pula yang akan
difirmankan TUHAN kepadaku.’”.
a)
Orang brengsek sering mengeluarkan kata-kata yang kelihatan indah /
saleh, yang sebetulnya hanya merupakan ‘sandiwara’.
The
Bible Illustrator (OT):
“How
often has it happened that those who make the loudest profession of their
virtue, and of their love to the cause of God, are the first to succumb to
covetousness or other besetting sin”
(= Alangkah sering terjadi bahwa mereka yang membuat pengakuan yang paling keras
tentang sifat baik mereka, dan tentang kasih mereka pada perkara Allah, adalah
yang pertama-tama mengalah pada godaan ketamakan dan dosa-dosa lain yang
menyerang).
The
Bible Exposition Commentary (OT): “In light of the fact that Balaam even
considered the new offer, his speech in verse 18 is just so much pious talk.
With his lips, he professed to obey the Lord, but in his heart he coveted the
money and hoped God would change His mind” (= Dalam terang dari fakta bahwa Bileam
bahkan mempertimbangkan tawaran yang baru itu, ucapan / pidatonya dalam ay 18
hanyalah suatu kata-kata saleh. Dengan bibirnya, ia mengaku mentaati Tuhan,
tetapi dalam hatinya ia menginginkan uang itu dan berharap Allah akan mengubah
pikiranNya).
Matthew
Henry: “Balaam’s seeming
resistance of, but real yielding to, this temptation. We may here discern in
Balaam a struggle between his convictions and his corruptions” (= Bileam
kelihatannya menolak, tetapi sebetulnya tunduk / menyerah pada, pencobaan ini.
Di sini kita bisa melihat dalam diri Bileam suatu pergumulan antara keyakinannya
dan kejahatannya).
Matthew
Henry: “His convictions
charged him to adhere to the command of God, and he spoke their language, v. 18.
Nor could any man have said better: ‘If Balak would give me his house full of
silver and gold, and that is more than he can give or I can ask, I cannot go
beyond the word of the Lord my
God.’ See how honourably he speaks of God; he is Jehovah, my God. Note, Many
call God theirs that are not his, ... See how respectfully he speaks of the word
of God, as one resolved to stick to it, and in nothing to vary from it, and how
slightly of the wealth of this world, as if gold and silver were nothing to him
in comparison with the favour of God; and yet, at the same time, the searcher of
hearts knew that he loved the wages of unrighteousness. Note, It is an easy
thing for bad men to speak very good words, and with their mouth to make a show
of piety” (= Keyakinannya menyuruhnya untuk taat pada perintah Allah, dan
ia berbicara sesuai dengannya, ay 18. Tidak ada orang yang bisa
mengatakannya dengan lebih baik: ‘Sekalipun Balak
memberikan kepadaku emas dan perak seistana penuh, dan itu lebih dari apa yang
bisa ia berikan atau yang bisa aku minta, aku tidak akan sanggup berbuat
sesuatu, yang melampaui / melanggar firman TUHAN, Allahku’. Lihatlah betapa
dengan hormatnya ia berbicara tentang Allah; Ia adalah YEHOVAH, Allahku.
Perhatikan, Banyak orang menyebut Allah sebagai Allah mereka padahal mereka
bukan milikNya, ... Lihat betapa dengan hormatnya ia berbicara tentang firman
Allah, sebagai seseorang yang telah memutuskan untuk melekat padanya, dan dalam
hal apapun tidak mau berbeda darinya, dan betapa ia berbicara secara meremehkan
tentang kekayaan dunia ini, seakan-akan emas dan perak sama sekali tidak berarti
baginya dibandingkan dengan perkenan Allah; tetapi pada saat yang sama, sang
Pemeriksa hati tahu bahwa ia mencintai upah ketidak-benaran / kejahatan.
Perhatikanlah, Merupakan sesuatu yang mudah bagi orang-orang jahat untuk
mengatakan kata-kata yang sangat bagus, dan dengan mulut mereka membuat
pertunjukkan kesalehan).
b)
Kalau diperhatikan dengan teliti, maka terlihat bahwa sebetulnya
kata-kata Bileam saling bertentangan.
The
Bible Illustrator (OT):
“A
brave speech, certainly! Yes, no doubt it was true that Balaam felt that even
for a house full of silver and gold he could not go beyond the word of the Lord.
But, in the first place, why protest so much concerning silver and gold?
Balak’s message had not mentioned silver and gold - it spoke specially of
honour. Surely it must have been because the mind of Balaam was so much
preoccupied with thoughts of silver and gold that he thus spake; answering
himself rather than others” (= Ini pasti merupakan suatu ucapan /
pidato yang berani! Ya, tak diragukan bahwa merupakan sesuatu yang benar bahwa
Bileam merasa bahwa bahkan untuk sebuah rumah penuh dengan perak dan emas ia
tidak bisa bertindak melampaui firman Tuhan. Tetapi pertama, mengapa ia
memprotes begitu banyak tentang perak dan emas? Pesan Balak tidak menyebutkan
perak dan emas - pesannya berbicara khususnya tentang kehormatan. Pasti itu
disebabkan karena pikiran Bileam begitu dipenuhi dengan pikiran-pikiran tentang
perak dan emas sehingga ia berbicara seperti itu; cocok dengan dirinya sendiri
lebih dari pada orang-orang lain).
Matthew
Henry: “it appears (v. 19)
that he had a strong inclination to accept the proffer; for he would further
attend, to know what God would say to him, hoping that he might alter his mind
and give him leave to go. This was a vile reflection upon God Almighty, as if he
could change his mind, and now at last suffer those to be cursed whom he had
pronounced blessed, and as if he would be brought to allow what he had already
declared to be evil. Surely he thought God altogether such a one as himself. He
had already been told what the will of God was, in which he ought to have
acquiesced, and not to have desired a re-hearing of that cause which was already
so plainly determined. Note, It is a very great affront to God, and a certain
evidence of the dominion of corruption in the heart, to beg leave to sin”
[= kelihatannya (ay 19) ia mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menerima
tawaran itu; karena ia akan mendengar lebih jauh, untuk mengetahui apa yang akan
Allah katakan kepadanya, dengan berharap bahwa Ia bisa mengubah pikiranNya, dan
akhirnya mengijinkan mereka yang telah Ia berkati untuk dikutuk, dan seakan-akan
Ia akan mengijinkan apa yang telah Ia nyatakan sebagai kejahatan. Jelas ia
berpikir bahwa Allah itu adalah seseorang yang sepenuhnya seperti dirinya
sendiri. Ia telah diberitahu apa kehendak Allah, dalam mana ia seharusnya telah
menyetujuinya tanpa membantah, dan tidak menginginkan untuk mendengar ulang
perkara itu yang sudah dengan begitu jelas ditetapkan. Perhatikan, Merupakan
suatu penghinaan kepada Allah, dan suatu bukti yang jelas / pasti tentang
berkuasanya kejahatan dalam hati, untuk meminta ijin untuk berbuat dosa].
c)
‘Penolakan Bileam’ lagi-lagi bernada terlalu lemah.
The
Bible Illustrator (OT):
“why
does Balaam say, ‘I cannot go beyond the word of the Lord’? Why does
he not roundly say, ‘I will not go beyond the word of the Lord’? As
it is he only speaks of inability; he does not mention such a thing as personal
disinclination” (= mengapa Bileam
berkata: ‘Aku tidak bisa
bertindak melampaui firman Tuhan’? Mengapa ia tidak berkata dengan
bersemangat: ‘Aku tidak mau bertindak melampaui firman Tuhan’?
Seakan-akan ia hanya berbicara tentang ketidak-mampuan; ia tidak menyebutkan
apapun tentang keseganan pribadi).
Matthew
Henry: “His corruptions at the
same time strongly inclined him to go contrary to the command. He seemed to
refuse the temptation, v. 18. But even then he expressed no abhorrence of it, as
Christ did when he had the kingdoms of the world offered him
(Get thee hence Satan), and as Peter did when Simon Magus offered him
money: ‘Thy money perish with thee.’” [= Pada saat yang sama
kejahatannya dengan kuat mencenderungkan dia untuk bertindak bertentangan dengan
perintah Allah. Ia kelihatannya menolak pencobaan, ay 18. Tetapi bahkan pada
saat itu ia tidak menyatakan kejijikannya terhadap hal itu, seperti yang Kristus
lakukan pada waktu kerajaan-kerajaan dunia ditawarkan kepadaNya (‘Enyahlah,
Iblis’), dan seperti yang Petrus lakukan pada saat Simon tukang sihir
menawarkan uang kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan
engkau’].
d)
Orang yang bersikap seperti Bileam adalah murid Bileam.
Calvin:
“It
is plain, therefore, that all those are disciples of Balaam, who try the
indulgence of God, that He may at length permit them to attempt what He has once
refused” (= Karena itu, adalah jelas, bahwa semua mereka merupakan
murid-murid Bileam, yang berusaha supaya Allah menuruti keinginannya, sehingga
Ia akhirnya bisa mengijinkan mereka untuk mengusahakan apa yang tadinya telah Ia
tolak) - hal 192.
1)
Tuhan ‘mengijinkan’ Bileam pergi dengan para utusan Balak.
Ay
20: “Datanglah
Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: ‘Jikalau
orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah, pergilah
bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan kepadamu
harus kaulakukan.’”.
Matthew
Henry: “The permission God
gave him to go, v. 20. God came to him, probably by an anger, and told
him he might, if he pleased, go with Balak’s messengers. So he gave him up to
his own heart’s lust. ‘Since thou hast such a mind to go, even go, yet know
that the journey thou undertakest shall not be for thy honour; for, though thou
hast leave to go, thou shalt not, as thou hopest, have leave to curse, for the
word which I shall say unto thee, that thou shalt do.’ Note, God has wicked
men in a chain; hitherto they shall come by his permission, but no further than
he does permit them. ... It was in anger that God said to Balaam, ‘Go with
them,’ and we have reason to think that Balaam himself so understood it,
for we do not find him pleading this allowance when God reproved him for going.
Note, As God sometimes denies the prayers of his people in love, so sometimes he
grants the desires of the wicked in wrath” [= Allah mengijinkan ia untuk
pergi, ay 20. Allah datang kepadanya, mungkin oleh suatu kemarahan, dan
memberitahunya bahwa ia boleh, jika ia ingin, pergi dengan utusan-utusan Balak.
Demikianlah Ia menyerahkan dia pada nafsu hatinya sendiri. ‘Karena engkau
mempunyai pikiran untuk pergi, pergilah, tetapi ketahuilah bahwa perjalanan yang
engkau lakukan tidak akan menjadi kehormatanmu; karena sekalipun engkau mendapat
ijin untuk pergi, engkau tidak akan, seperti yang engkau harapkan, mendapat ijin
untuk mengutuk, karena firman yang Aku akan katakan kepadamu, itulah yang akan
engkau lakukan’. Perhatikan, Allah merantai orang-orang jahat; sampai di sini
mereka akan datang oleh ijinNya, tetapi tidak lebih jauh dari yang Ia ijinkan.
... Adalah dalam kemurkaan Allah berkata kepada Bileam, ‘Pergilah dengan
mereka’, dan kita mempunyai alasan untuk berpikir bahwa Bileam sendiri
mengertinya seperti itu, karena kita tidak mendapati ia mengadakan pembelaan
pada waktu Allah memarahinya karena kepergiannya (mungkin Matthew Henry memaksudkan ay 31-35). Perhatikan,
sebagaimana Allah kadang-kadang menolak doa-doa dari umatNya dalam kasih,
demikianlah Ia kadang-kadang mengabulkan keinginan-keinginan dari orang jahat
dalam kemurkaan].
Jadi,
‘ijin’ seperti ini tidak terlalu berbeda dengan:
a)
‘Ijin’ yang Allah berikan bagi bangsa Israel untuk mempunyai seorang
raja.
1Sam
8:6-9 - “(6) Waktu mereka berkata: ‘Berikanlah kepada kami seorang raja
untuk memerintah kami,’ perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah
Samuel kepada TUHAN. (7) TUHAN berfirman kepada Samuel: ‘Dengarkanlah
perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab
bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan
Aku menjadi raja atas mereka. (8) Tepat seperti yang dilakukan mereka kepadaKu
sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni
meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan
mereka kepadamu. (9) Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya
peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka
apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.’”.
Lalu
dalam 1Sam 8:10-18 Samuel memperingatkan bangsa itu apa ruginya kalau mempunyai
seorang raja. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?
1Sam
8:19-22 - “(19) Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan
mereka berkata: ‘Tidak, harus ada raja atas kami; (20) maka kamipun akan sama
seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin
kami dalam perang.’ (21) Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan
menyampaikannya kepada TUHAN. (22) TUHAN berfirman kepada Samuel:
‘Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.’
Kemudian berkatalah Samuel kepada orang-orang Israel itu: ‘Pergilah,
masing-masing ke kotanya.’”.
Bdk.
Hos 13:11 - “Aku memberikan engkau seorang raja dalam murkaKu
dan mengambilnya dalam gemasKu”.
b)
‘Ijin’ yang Yesus berikan kepada Yudas Iskariot dalam Yoh 13:27b
- “Maka Yesus berkata kepadanya: ‘Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah
dengan segera.’”.
Catatan:
sebagai perbandingan, kalau dalam kata-kata ‘tidak’ dari Bileam kepada
para utusan Balak terkandung kata ’ya’, maka sebaliknya dalam kata-kata
Tuhan ‘ya’ sekarang ini kepada Bileam, terkandung kata ‘tidak’, atau
bahkan sebetulnya berarti ‘tidak’. Bukan berarti bahwa Allah berbicara
secara munafik, tetapi maksudnya Ia mengijinkan, dengan tujuan untuk
menghajar!
Calvin:
“If
we more closely consider the desire of Balaam, it was that God should belie
Himself. ... God, therefore, ironically permits what He had before forbidden.
... had not his ungodly covetousness blinded Balaam, the meaning of this
ironical permission was not difficult to be understood” (= Jika kita
mempertimbangkan dengan lebih dekat keinginan Bileam, itu adalah supaya Allah
mengingkari diriNya sendiri. ... Karena itu, Allah secara ironis mengijinkan apa
yang tadinya telah Ia larang. ... seandainya ketamakannya yang jahat tidak
membutakan Bileam, arti dari ijin yang bersifat ironis ini tidak sukar untuk
dimengerti) - hal 192.
The
Bible Illustrator (OT):
“There
is no greater danger than for God to answer a man according to the desires of
his own heart; ... But yet in this case God does not give us up altogether. As
when Israel asked for a king, He gave indeed what they desired - but He
expostulated, He warned, He sent them a token of His displeasure. So will He
show us by His Providence that He is displeased with us; in the way that we go,
His angel with the sword in his hand will meet us, i.e., some calamity, some
accident, some grief, is sure to cross our way to remind us from God that the
way that we are going is not the way of holiness or of peace. And these are all
calls from God, not at all the less so because when a man’s eyes are blinded
with worldly business and covetousness he does not see them to be such”
(= Tidak ada bahaya yang lebih besar dari pada kalau Allah menjawab seseorang
sesuai dengan keinginan-keinginan dari hatinya sendiri; ... Tetapi dalam kasus
inipun Allah tidak menyerahkan kita sama sekali / sepenuhnya. Seperti pada waktu
Israel meminta seorang raja, Ia memang memberikan apa yang mereka inginkan -
tetapi Ia berargumentasi dengan sungguh-sungguh, Ia memperingati, Ia mengirim
kepada mereka tanda ketidak-senanganNya. Demikianlah Ia akan menunjukkan kita
oleh ProvidensiaNya bahwa Ia tidak berkenan kepada kita; dalam jalan dimana kita
pergi, malaikatNya dengan pedang di tangannya akan menjumpai kita, yaitu suatu
bencana, kecelakaan, kesedihan, pasti melewati jalan kita untuk mengingatkan
kita dari Allah bahwa jalan yang sedang kita lalui bukanlah jalan kekudusan atau
damai. Dan hal-hal ini merupakan panggilan-panggilan dari Allah, sama sekali
tidak kurang dari itu sekalipun mata manusia dibutakan oleh kesibukan duniawi
dan ketamakan sehingga ia tidak melihatnya sebagai panggilan-panggilan dari
Allah).
Contoh:
dalam kasus Yunus, sekalipun memang tak pernah ada ‘ijin’ dari Allah, tetapi
kelihatannya ada jalan terbuka. Tetapi pada waktu Yunus nekad melewatinya, ia
dihajar habis-habisan!
2)
Bileam pergi dengan para utusan Balak, tetapi itu ternyata membuat Tuhan
marah!
Ay
21: “Lalu
bangunlah Bileam pada waktu pagi, dipelanainyalah keledainya yang betina, dan
pergi bersama-sama dengan pemuka-pemuka Moab”.
Tetapi
hal itu ternyata membuat Tuhan murka.
Ay
22a: “Tetapi
bangkitlah murka Allah ketika ia pergi”.
Mengapa?
Keil
& Delitzsch: “The apparent contradiction in His first of all prohibiting Balaam
from going (v. 12), then permitting it (v. 20), and then again, when Balaam set
out in consequence of this permission, burning with anger against him (v. 22),
does not indicate any variableness in the counsels of God, but vanishes at once
when we take into account the pedagogical purpose of the divine consent”
[= Hal yang kelihatannya kontradiksi pada waktu Ia pertama-tama melarang Bileam
untuk pergi (ay 12), dan lalu mengijinkannya (ay 20), dan lalu lagi, pada waktu
Bileam berangkat sebagai konsekwensi dari ijin ini, murkaNya menyala-nyala
terhadap dia (ay 22), tidak menunjukkan perubahan apapun dalam rencana Allah,
tetapi segera hilang pada waktu kita memperhatikan tujuan pendidikan dari ijin
ilahi].
Di
atas telah kita lihat bahwa Allah memang memberi ‘ijin’ dalam kemurkaan.
Tetapi beberapa penafsir mengatakan bahwa ada sebab lain yang menyebabkan
kemurkaan Allah, pada saat Bileam pergi.
Matthew
Henry: “God gave him leave to
go if the men called him, but he was so fond of the journey that we do not find
he staid for their calling him, but he himself rose up in the morning, got every
thing ready with all speed, and went with the princes of Moab, who were proud
enough that they had carried their point. The apostle describes Balaam’s sin
here to be that he ran greedily into an error for reward, Jude 11. The
love of money is the root of all evil” [= Allah memberinya ijin untuk
pergi jika orang-orang itu memanggilnya (ay
20), tetapi ia begitu senang dengan perjalanan itu sehingga kita tidak
menemukan bahwa ia tinggal tenang sampai mereka memanggilnya, tetapi ia sendiri
bangkit di bagi hari, mempersiapkan segala sesuatu dengan secepatnya, dan pergi
bersama dengan pangeran-pangeran Moab, yang cukup bangga karena mereka telah
memenangkan maksud mereka. Sang rasul menggambarkan dosa Bileam di sini sebagai ia
berlari dengan tamak ke dalam kesalahan untuk upah, Yudas 11. Cinta uang
adalah akar segala kejahatan (1Tim 6:10)].
Ay
20: “Datanglah
Allah kepada Bileam pada waktu malam serta berfirman kepadanya: ‘Jikalau
orang-orang itu memang sudah datang untuk memanggil engkau, bangunlah,
pergilah bersama-sama dengan mereka, tetapi hanya apa yang akan Kufirmankan
kepadamu harus kaulakukan.’”.
KJV:
‘And God came unto Balaam at night, and said unto him, If the men come
to call thee, rise up, and go with them; but yet the word which I shall say
unto thee, that shalt thou do’ (= Dan Allah datang kepada Bileam pada
malam, dan berkata kepadanya, Jika orang-orang itu datang untuk memanggilmu,
bangunlah, dan pergilah dengan mereka; tetapi kata-kata yang akan Aku katakan
kepadamu, itulah yang harus engkau lakukan).
Yudas 11 - “Celakalah
mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh
sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa
karena kedurhakaan seperti Korah”.
KJV:
‘Woe unto them! for they have gone in the way of Cain, and ran greedily
after the error of Balaam for reward, and perished in the gainsaying of
Core’ (= Celakalah mereka! karena mereka telah mengikuti jalan Kain, dan
berlari dengan tamak menuruti kesalahan Bileam demi upah, dan binasa dalam
penyangkalan Korah).
The
Bible Exposition Commentary (OT): “God came to Balaam and instructed him
to go with the princes only if they came to call him the next morning (v. 20).
The Lord cautioned Balaam, ‘Do only what I tell you.’ But the next
morning, Balaam didn’t wait for the men to come to him; he saddled his donkey
and went to the place where the delegation was camped, determined to do his own
will. This determination, along with the covetousness in Balaam’s heart, made
the Lord angry” [= Allah datang kepada Bileam dan
menginstruksikan dia untuk pergi bersama pangeran-pangeran itu hanya jika mereka
datang untuk memanggilnya pada pagi berikutnya (ay 20). Tuhan memperingatkan
Bileam, ‘Lakukan hanya apa yang Aku beritahu kepadamu’. Tetapi pagi
berikutnya, Bileam tidak menunggu sampai orang-orang itu datang kepadanya; ia
memasang pelana keledainya dan pergi ke tempat dimana utusan-utusan itu
berkemah, memutuskan untuk melakukan kehendaknya sendiri. Keputusan ini,
bersama-sama dengan ketamakan dalam hati Bileam, membuat Tuhan marah].
Karena
itu, yang paling benar dan aman, adalah langsung mentaati, tanpa menawar, pada
saat kita mengetahui kehendak Allah bagi kita.
Calvin:
“wherefore,
nothing is better than, in pure and simple teachableness, to inquire what He
would have us do, that we may instantly succumb, nor try to alter a word or a
syllable as soon as He shall have deigned to open His holy mouth to instruct us.
For to call in question what has been decided by Him, what is it but to compel
Him by our importunity to bend Himself to our wishes?” (= karena itu, tak
ada yang lebih baik dari, dalam keadaan bisa diajar yang murni dan sederhana,
untuk bertanya apa yang Allah inginkan untuk kita lakukan, supaya kita bisa
segera tunduk, dan tidak berusaha untuk mengubah suatu kata atau suku kata,
begitu Ia berkenan membuka mulutNya yang kudus untuk mengajar kita. Karena
mempertanyakan apa yang telah Ia tentukan, apakah itu selain memaksa Dia oleh
desakan kita untuk membengkokkan diriNya sendiri pada keinginan kita?) - hal
192-193.
Maukah
saudara taat pada Firman Tuhan secara langsung, dan tanpa menawar?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali