Tanggapan

( 3 )

Pdt. Budi Asali, M. Div.

terhadap buku

Allah dalam Alkitab dan Al-Quran

(Frans Donald)

10)      Pada hal 37 dikatakan sebagai berikut: “dari manakah asal-usul ajaran bahwa Yesus adalah Allah sejati ini? Apakah dari Injil atau dari warisan doktrin para senior atau generasi angkatan sebelum mereka? Jika menyidik sejarah, ternyata doktrin Trinitas (Tritunggal) - yang menempatkan Yesus sebagai pribadi kedua dari keallahan, yaitu Allah Anak (Putera) - telah secara turun-temurun diwariskan dalam tradisi Kekristenan sejak abad ke-4. Sekitar 1600-an tahun lampau, saat Kekristenan yang bertradisi Yahudi mulai bercampur dengan peradaban Yunani dan Romawi yang politeistik (menyembah banyak dewa), secara perlahan-lahan tradisi tauhid Ibrahimik, yaitu radikal monoteisme, telah dibelokkan dan semakin kabur oleh filsafat Yunani, sehingga akhirnya muncullah ajaran tentang satu Allah dalam tiga pribadi (Trinitas). Dogma Trinitas yang telah ‘mendarah daging’ - karena telah ditradisikan selama belasan abad - yang menyatakan bahwa Yesus adalah oknum kedua dari keallahan, menyebabkan saat ini para pendeta dan pastur banyak yang tidak tahu lagi asal mula dogma tersebut. Mereka terus menerus mengajarkan dogma tersebut dan menganggapnya murni ajaran alkitabiah, kendati sebenanya dogma ini mulai (disahkan) secara politis di bawah pengaruh otoritas Kaisar Konstantin dalam Konsili Nicea tahun 325 M dan Konsili Konstantinople tahun 381 M. ... dogma ini menurut kami telah terbukti tidak sesuai dengan Alkitab, sehingga kami nilai, maaf, ‘tidak Alkitabiah’ atau sekali lagi maaf, ‘salah doktrin’”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

a)   Berkenaan dengan doktrin tentang Allah Tritunggal yang dikatakan oleh Frans Donald sebagai berasal dari konsili Nicea pada tahun 325 M, telah saya berikan tanggapan pada no 7 di atas dan karena itu tidak saya ulang di sini.

 

b)   Berkenaan dengan pengesahan secara politis di bawah pengaruh dari kaisar Konstantin dalam Konsili Nicea tahun 325 M dan Konsili Konstantinople pada tahun 381 M, menurut saya ini lagi-lagi merupakan fitnahan dari orang yang hanya menyontek tulisan / pandangan orang lain, tanpa dirinya sendiri pernah mempelajari sejarah.

 

Bandingkan fitnahan  Frans Donald itu dengan kata-kata Albert H. Freundt Jr. yang mengatakan bahwa dalam Sidang Gereja Nicea itu: “The Arians stated their position at the council and it aroused strong opposition. There were few strongly committed Arians there besides Arius and his friend Eusebius of Nicomedia. However, the latter exercised much influenced over Constantine” (= Para pendukung Arianisme menyatakan posisi / pandangan mereka pada Sidang Gereja dan itu membangkitkan oposisi yang kuat. Di sana hanya ada sedikit pendukung Arianisme yang sungguh-sungguh selain Arius dan temannya Eusebius dari Nikomedia. Tetapi orang yang belakangan ini mempunyai pengaruh atas Konstantin) - ‘Early Christianity’, hal 49.

Catatan: Eusebius dari Nikomedia ini memang dekat dengan Kaisar Konstantin, dan ini terbukti dari fakta yang menunjukkan bahwa ialah yang akhirnya membaptis Kaisar Konstantine, pada waktu mau mati.

 

Sekarang, kalau dalam pihak Arius, ada teman dari Arius yang mempunyai pengaruh atas Kaisar Konstantin, mengapa akhirnya Konstantin sampai berpihak kepada lawan dari Arius? Jelas karena dalam perdebatan dalam Sidang Gereja Nicea itu, pihak Alexander dan Athanasius, yang merupakan lawan-lawan utama dari Arius, memang menang dalam argumentasi! Ini menyebabkan mayoritas orang dalam Sidang Gereja Nicea itu, termasuk Kaisar Konstantin sendiri, lalu menganut pandangan mereka, dan menentang, dan akhirnya mengecam, pandangan Arius yang memang sesat!

 

Philip Schaff: “The orthodox party, which held firmly to the deity of Christ, was at first in the minority, but in talent and influence the more weighty. ... The majority, whose organ was the renowned historian Eusebius of Caesarea, took middle ground between the right and the left, but bore nearer the right, and finally went over to that side. Many of them had an orthodox instinct, but little discernment; others were disciples of Origen, or preferred simple biblical expression to a scholastic terminology; others had no firm convictions, but only uncertain opinions, and were therefore easily swayed by the arguments of the stronger party or by mere external considerations” [= Golongan yang orthodox, yang dengan teguh mempercayai keilahian Kristus, mula-mula merupakan golongan minoritas, tetapi lebih berat dalam talenta dan pengaruh. ... Mayoritas, yang juru bicaranya adalah ahli sejarah terkenal Eusebius dari Kaisarea, mengambil kedudukan di tengah di antara kanan dan kiri, tetapi lebih condong ke kanan, dan akhirnya menyeberang ke sisi itu. Banyak dari mereka mempunyai naluri orthodox, tetapi sedikit ketajaman (untuk melihat perbedaan); yang lain adalah murid-murid dari Origen, atau lebih memilih ungkapan Alkitabiah yang sederhana dari pada ungkapan dari ahli-ahli theologia; yang lain tidak mempunyai keyakinan yang teguh, tetapi hanya pandangan-pandangan yang tidak pasti, dan karena itu dengan mudah dipengaruhi oleh argumentasi-argumentasi dari golongan yang lebih kuat atau oleh semata-mata pertimbangan-pertimbangan lahiriah] - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 627-628.

Catatan:

·        Bagian yang saya beri garis bawah ganda itu jelas menunjukkan bahwa pihak orthodox mempunyai argumentasi yang lebih kuat.

·        Pihak kanan merupakan pihak orthodox (Alexander, Athanasius dan para pendukungnya).

 

c)   Juga, seandainya dalam Konsili Nicea (tahun 325 M), keputusan itu dipengaruhi oleh kaisar Konstantin, bagaimana dengan dalam Konsili Konstantinople (tahun 381 M)? Perlu diketahui bahwa kaisar Konstantin mati pada tahun 337 M! Lalu siapa yang mempengaruhi keputusan Konsili Konstantinople? Arwah kaisar Konstantin?

 

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Constantine’, ‘ancient Rome, the reign of Constantine’: “Nevertheless, the heresy continued to exist, for Constantine changed his mind several times; he was influenced by Arian or semi-Arian bishops and was even baptized on his deathbed, in 337, by one of them, Eusebius of Nicomedia (= Bagaimanapun, kesesatan / bidat itu terus ada, karena Konstantin mengubah pikirannya beberapa kali; ia dipengaruhi oleh uskup-uskup Arianisme atau semi Arianisme dan bahkan dibaptis pada ranjang kematiannya, dalam tahun 337, oleh salah seorang dari mereka, Eusebius dari Nikomedia).

Catatan: Arianisme merupakan ajaran dari Arius, pada abad ke 4, yang sekarang ber-reinkarnasi dalam bentuk Saksi Yehuwa atau Unitarianisme.

Kutipan dari Encyclopedia Britannica 2000 di atas ini bukan hanya menunjukkan bahwa Konstantin mati pada tahun 337 M, tetapi juga menunjukkan bahwa pihak Arianisme lebih mempunyai pengaruh atas Konstantin dibandingkan dengan pihak Orthodox (yang mendukung doktrin Allah Tritunggal).

 

d)   Kata-kata Frans Donald yang mengatakan bahwa doktrin Allah Tritunggal terjadi karena kepercayaan monoteisma Yahudi bercampur dengan filsafat Yunani, dan dipengaruhi oleh Polytheisme Yunani dan Romawi, menurut saya merupakan suatu fitnahan, atau merupakan suatu kata-kata dari orang yang asal nyontek kata-kata orang lain, tanpa dirinya sendiri pernah mempelajari sejarah maupun Kitab Suci. Alasan saya mengatakan ini adalah karena bapa-bapa gereja pada abad 1-3 bisa mendapatkan doktrin Allah Tritunggal itu karena mereka mempelajari Kitab Suci, sama sekali bukan karena pengaruh Polytheisme ataupun filsafat Yunani.

Dan karena Frans Donald mengatakan, pada bagian akhir dari kutipan di atas, bahwa doktrin Allah Tritunggal ini ‘tidak Alkitabiah’, maka di sini saya akan menunjukkan bahwa doktrin Allah Tritunggal ini mempunyai banyak sekali dasar Kitab Suci dan karena itu, betul-betul Alkitabiah, bagi orang yang matanya tidak buta secara rohani.

 

doktrin Allah Tritunggal

 

I) Definisi doktrin Allah Tritunggal.

 

Allah itu satu hakekatnya tetapi mempunyai 3 pribadi. Bapa itu Allah sepenuhnya; Anak itu Allah sepenuhnya; dan Roh Kudus itu juga Allah sepenuhnya. Tetapi kami tidak mempercayai 3 Allah (Tritheisme); kami tetap mempercayai Allah itu satu.

 

Tidak masuk akal? Bukan tidak masuk akal tetapi melampaui akal, dan ini yang justru masuk akal. Kalau Allah yang tidak terbatas bisa dimengerti seluruhnya oleh otak manusia yang begitu terbatas, itu justru tidak masuk akal! Ini berlaku untuk ajaran Unitarianisme tentang Allah!

 

Bandingkan dengan ayat-ayat ini:

·        Ayub 11:7-9 - “(7) Dapatkah engkau memahami hakekat Allah, menyelami batas-batas kekuasaan Yang Mahakuasa? (8) Tingginya seperti langit - apa yang dapat kaulakukan? Dalamnya melebihi dunia orang mati - apa yang dapat kauketahui? (9) Lebih panjang dari pada bumi ukurannya, dan lebih luas dari pada samudera”.

Pertanyaan dalam Ayub 11:7 itu jelas harus dijawab ‘Tidak!’.

·        Ayub 36:26 - “Sesungguhnya, Allah itu besar, tidak tercapai oleh pengetahuan kita, jumlah tahunNya tidak dapat diselidiki”.

NIV: How great is God - beyond our understanding! The number of his years is past finding out (= ).

·        Ayub 37:22-23 - “(22) Dari sebelah utara muncul sinar keemasan; Allah diliputi oleh keagungan yang dahsyat. (23) Yang Mahakuasa, yang tidak dapat kita pahami, besar kekuasaan dan keadilanNya; walaupun kaya akan kebenaran Ia tidak menindasnya”.

 

Doktrin Allah Tritunggal berada di antara 2 doktrin lain yaitu:

·        Allah itu tunggal mutlak.

·        Polytheisme.

Tidak ada kemungkinan mencari titik temu dari 3 doktrin yang memang berbeda / bertentangan ini!

 

II) Mengapa percaya pada doktrin Allah Tritunggal?

 

A)  Adanya ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah.

Ul 6:4 - “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”.

Karena menghadapi Unitarianisme, yang mempercayai bahwa Allah itu tunggal mutlak, maka saya tidak akan berlama-lama dalam point ini.

 

B)  Adanya ayat-ayat yang menunjukkan adanya kejamakan tertentu dalam diri Allah.

 

1)         Keilahian Yesus.

 

a)   Yesus disembah, dan menerima sembah itu, sekaligus menerima sebutan Tuhan dan Allah pada saat penyembahan tersebut.

Kitab Suci menunjukkan fakta bahwa Yesus disembah, dan Yesus mau menerima penyembahan tersebut.

 

1.   Dalam Kitab Suci sendiri ada banyak kasus dimana Yesus disembah.

 

a.   Di dunia.

·        Mat 2:2,11 - “(2) dan bertanya-tanya: ‘Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintangNya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.’ ... (11) Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibuNya, lalu sujud menyembah Dia. Merekapun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepadaNya, yaitu emas, kemenyan dan mur”.

Kalau Yesus bukan Allah, maka:

*        rencana penyembahan terhadapNya dalam diri orang-orang Majus (ay 2), merupakan suatu dosa. Seharusnya Tuhan menghukum mereka karena ‘niat jahat’ mereka! Tetapi mengapa ternyata Tuhan justru memimpin mereka dengan menggunakan Firman Tuhan dari imam-imam dan ahli-ahli Taurat (ay 4-6), dan juga dengan bintang lagi (ay 9), sampai mereka menemukan bayi Yesus, sehingga mereka lalu betul-betul menyembahNya (ay 11)?

*        penyembahan terhadap Yesus yang baru dilakukan oleh orang-orang Majus merupakan suatu pemberhalaan / dosa. Tetapi mengapa para orang Majus yang menyembah Yesus ini bukannya dihukum, tetapi sebaliknya diberi pimpinan oleh Tuhan melalui mimpi, untuk tidak kembali kepada Herodes (ay 12)?

Jelas bahwa Allah berkenan dengan penyembahan yang mereka lakukan terhadap Yesus, dan itu menunjukkan bahwa Yesus memang adalah Allah.

·        Mat 8:2 - “Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepadaNya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.’”.

·        Mat 9:18 - “Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: ‘Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tanganMu atasnya, maka ia akan hidup.’”.

·        Mat 14:33 - “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”.

·        Mat 15:25 - “Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: ‘Tuhan, tolonglah aku.’”.

·        Mat 17:14 - “Ketika Yesus dan murid-muridNya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah.

·        Mat 20:20 - “Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapanNya untuk meminta sesuatu kepadaNya”.

·        Mat 28:9,17 - “(9) Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: ‘Salam bagimu.’ Mereka mendekatiNya dan memeluk kakiNya serta menyembahNya. ... (17) Ketika melihat Dia mereka menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu”.

·        Yoh 9:38 - “Katanya: ‘Aku percaya, Tuhan!’ Lalu ia sujud menyembahNya.

·        Luk 24:51-52 - “(51) Dan ketika Ia sedang memberkati mereka, Ia berpisah dari mereka dan terangkat ke sorga. (52) Mereka sujud menyembah kepadaNya, lalu mereka pulang ke Yerusalem dengan sangat bersukacita”.

Baik Yesus maupun Kitab Suci, tidak pernah menyalahkan orang-orang yang menyembah Yesus ini!

 

b.   Di surga.

Wah 5:6-14 - “(6) Maka aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. (7) Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan Dia yang duduk di atas takhta itu. (8) Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. (9) Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: ‘Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darahMu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. (10) Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.’ (11) Maka aku melihat dan mendengar suara banyak malaikat sekeliling takhta, makhluk-makhluk dan tua-tua itu; jumlah mereka berlaksa-laksa dan beribu-ribu laksa, (12) katanya dengan suara nyaring: ‘Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!’ (13) Dan aku mendengar semua makhluk yang di sorga dan yang di bumi dan yang di bawah bumi dan yang di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata: ‘Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!’ (14) Dan keempat makhluk itu berkata: ‘Amin’. Dan tua-tua itu jatuh tersungkur dan menyembah.

Jelas bahwa ‘Anak Domba’ itu menunjuk kepada Yesus, dan karena itu text ini menunjukkan dengan jelas bahwa Yesus dimuliakan dan disembah, di surga!

 

2.   Yesus menerima penyembahan tersebut.

Kalau saudara membaca ayat-ayat di atas dimana Yesus disembah, maka Yesus bukannya menegur orang-orang yang menyembah diriNya itu, atau menolak penyembahan mereka, tetapi sebaliknya, Yesus mau menerima penyembahan tersebut, padahal dalam Mat 4:10 Ia sendiri berkata bahwa kita hanya boleh menyembah Allah.

 

Mat 4:10 - “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”.

 

Pada jaman Perjanjian Lama, kata-kata Yesus dalam Mat 4:10 itu belum ada, dan karena itu dalam jaman Perjanjian Lama kita sering menjumpai manusia yang menyembah manusia. Tetapi sejak Yesus mengucapkan Mat 4:10, maka hal itu dilarang. Karena itu Petrus menolak sembah dari Kornelius (Kis 10:25-26), dan Paulus dan Barnabas juga menolak sembah dari orang banyak (Kis 14:11-18) dan malaikat menolak sembah dari rasul Yohanes (Wah 19:10  Wah 22:8-9).

 

3.   Orang nggenah yang bukan Allah menolak penyembahan; hanya orang brengsek yang bukan Allah yang mau menerima penyembahan. Bandingkan dengan:

a.   Rasul-rasul yang menolak sembah (Kis 10:25-26  Kis 14:14-18).

b.   Malaikat, yang juga menolak sembah, dan berusaha mengalihkan penyembahan itu kepada Allah (Wah 19:10  Wah 22:8-9).

c.   Herodes, yang karena mau menerima penghormatan ilahi, lalu dihukum mati oleh Allah (Kis 12:20-23).

 

Karena itu, kalau Yesus menerima sembah, maka hanya ada 2 pilihan: atau Dia adalah orang yang kurang ajar / nabi palsu, atau Dia adalah Allah sendiri! Tidak ada kemungkinan bahwa Ia bukan Allah tetapi hanya nabi, malaikat, orang saleh, dan sebagainya. Kalau Ia bukan Allah, Ia pasti sangat brengsek!

 

b)   Yesus adalah Anak Allah.

 

1.   Sebutan ‘Anak Allah’ ini tidak berarti bahwa mula-mula ada Allah, yang lalu beranak. Kalau diartikan seperti itu, jelas menunjukkan bahwa Yesus itu tidak kekal, sehingga Ia pasti bukan Allah.

 

2.   Sebutan ‘Anak Allah’ harus diartikan menurut pengertian orang di sana pada jaman itu, bukan menurut pengertian orang di sini pada jaman ini!

Pada saat itu, pada waktu Yesus menyebut diriNya sebagai Anak Allah, semua orang-orang Yahudi tahu bahwa Ia memaksudkan diriNya setara dengan Allah, atau dengan kata lain bahwa Ia adalah Allah sendiri.

Bandingkan dengan:

·        Mat 14:33 - “Dan orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya: ‘Sesungguhnya Engkau Anak Allah.’”.

·        Yoh 5:18 - “Sebab itu orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia meniadakan hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.

·        Yoh 10:30-36 - “(30) Aku dan Bapa adalah satu.’ (31) Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. (32) Kata Yesus kepada mereka: ‘Banyak pekerjaan baik yang berasal dari BapaKu yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?’ (33) Jawab orang-orang Yahudi itu: ‘Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’ (34) Kata Yesus kepada mereka: ‘Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah allah? (35) Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah - sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan -, (36) masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutusNya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah?”.

·        Yoh 19:7 - “Jawab orang-orang Yahudi itu kepadanya: ‘Kami mempunyai hukum dan menurut hukum itu Ia harus mati, sebab Ia menganggap diriNya sebagai Anak Allah.’”. Bdk. Mat 26:63-66 - “(63) Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepadaNya: ‘Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.’ (64) Jawab Yesus: ‘Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’ (65) Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: ‘Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujatNya. (66) Bagaimana pendapat kamu?’ Mereka menjawab dan berkata: ‘Ia harus dihukum mati!’.

 

3.   Ada seorang penulis buku yang menggunakan hal ini untuk membuktikan keilahian Yesus, berkenaan dengan pengakuan Yesus sebagai Anak Allah, dengan cara sebagai berikut:

 

 

                 Yesus = Allah / Anak Allah

 

 

 

 


Tidak benar                                                   Benar

 

 

 

 


Tahu                                              Tidak tahu

 

 

 

 


Pendusta                 Orang gila               Allah / Anak Allah

dan tolol

 

Keterangan:

Yesus mengaku sebagai Allah / Anak Allah, dan ia mau mati untuk pengakuan itu. Ada 2 kemungkinan tentang pengakuan itu, yaitu: TIDAK BENAR atau BENAR. Kalau pengakuan itu TIDAK BENAR, maka ada 2 kemungkinan lagi: Yesus TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar, atau Yesus TIDAK TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar. Kalau Yesus tahu bahwa pengakuannya tidak benar, maka Ia pasti adalah seorang PENDUSTA, bahkan ORANG TOLOL (karena Ia mau mati untuk suatu dusta). Kalau Yesus tidak tahu bahwa pengakuanNya tidak benar, maka Ia pasti adalah ORANG GILA, karena hanya orang gila yang tidak mengerti apa yang Ia sendiri katakan. Kalau pengakuan Yesus tersebut adalah BENAR, maka Yesus adalah ALLAH / ANAK ALLAH.

 

Jadi sekarang hanya ada beberapa pilihan untuk saudara:

a.   Yesus adalah seorang pendusta / orang tolol.

Kitab Suci jelas tidak pernah menunjukkan Yesus sebagai pendusta, karena kata-kataNya selalu benar. Kitab Suci juga tidak menunjukkan Yesus sebagai orang tolol, karena Kitab Suci justru menunjukkan bahwa Ia selalu bisa menjawab pertanyaan tokoh-tokoh agama Yahudi dengan jitu, dan mengalahkan mereka dalam setiap perdebatan.

b.   Yesus adalah orang gila.

Ini lagi-lagi tidak mungkin karena kalau Ia adalah orang gila, Ia tidak akan diikuti oleh begitu banyak orang. Dan juga kalau Ia memang adalah orang gila, Ia tidak akan dihukum mati karena menghujat Allah. Para tokoh Yahudi itu pasti tidak akan menggubris kata-kata dari orang gila.

c.   Yesus betul-betul adalah Anak Allah / Allah sendiri.

 

Yang mana dari ketiga pilihan di atas ini yang saudara pilih? Ingat, saudara tidak punya pilihan lain! Kalau saudara tidak mau mempercayai Yesus sebagai Allah, maka saudara tidak bisa mempercayaiNya sebagai nabi, malaikat, orang saleh, dsb, tetapi saudara harus mempercayai Dia sebagai pendusta, orang tolol, atau orang gila!

 

c)   Ayat-ayat yang secara explicit menunjukkan Yesus sebagai Allah.

Ada 12 ayat Kitab Suci yang secara explicit / jelas menyatakan Yesus sebagai Allah, yaitu:

1.   Yes 9:5 - “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai”.

2.   Yoh 1:1 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

3.   Yoh 1:18 - “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”.

Yoh 1:18 (TDB):  “satu-satunya allah yang diperanakkan”.

Terjemahan TDB ini dari manuscript yang paling benar. Satu-satunya keberatan bahwa mereka menuliskan kata ‘allah’ dimulai dengan ‘a’ huruf kecil.

4.         Yoh 20:28 - “Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’”.

5.   Kis 20:28 - “Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah AnakNya sendiri”.

Catatan: kata ‘Anak’ seharusnya tidak ada.

Jadi, kata ‘Nya’ menunjuk pada kata ‘Allah’, tetapi pada saat yang sama pasti menunjuk kepada Yesus, karena adanya kata ‘darah’. Jadi, ayat ini menyatakan Yesus sebagai Allah.

6.   Ro 9:5 - “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.

Kata ‘Ia’ jelas menunjuk kepada ‘Mesias’ / Yesus. Jadi, ayat ini menunjukkan Yesus sebagai Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya.

7.   Fil 2:5b-7 - “(5b) ... Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”.

8.   Tit 2:13 - dengan menantikan penggenapan pengharapan kita yang penuh bahagia dan penyataan kemuliaan (Allah yang Mahabesar dan Juruselamat kita) Yesus Kristus.

Catatan: tanda kurung dari saya; terjemahan yang seharusnya memang demikian.

9.   Ibr 1:8 - “Tetapi tentang (kepada) Anak Ia berkata: ‘TakhtaMu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanMu adalah tongkat kebenaran”.

Kata ‘tentang’ seharusnya adalah ‘kepada’ seperti dalam KJV.

10.2Pet 1:1 - “Dari Simon Petrus, hamba dan rasul Yesus Kristus, kepada mereka yang bersama-sama dengan kami memperoleh iman oleh karena keadilan Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.

11.1Yoh 5:20 - “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal”.

12.Wah 1:8 - “‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’”.

 

d)   Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus adalah YAHWEH sendiri.

Yer 23:5-6 - “(5) Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. (6) Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN (YAHWEH) - keadilan kita.

 

Ini jelas merupakan nubuat tentang Yesus, dan dalam ayat ini Ia disebut sebagai YAHWEH!

Bdk. Maz 83:19 - “supaya mereka tahu bahwa Engkau sajalah yang bernama TUHAN, Yang Mahatinggi atas seluruh bumi”.

 

e)   Yesus punya sifat-sifat ilahi; di sini saya hanya menekankan sifat kekal.

Kitab Wahyu sangat menekankan kekekalan dari Yesus. Saya akan menunjukkan 3 bagian dari kitab Wahyu:

 

1.   Wah 1:7-8,17-18 - “(7) Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan dan setiap mata akan melihat Dia, juga mereka yang telah menikam Dia. Dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia. Ya, amin. (8) ‘Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.’ ... (17) Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kananNya di atasku, lalu berkata: ‘Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (18) dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut”.

Catatan:

·        Dengan melihat pada Wah 1:7, terlihat bahwa Wah 1:8 berbicara tentang Yesus. Dan Wah 1:17-18 jelas sekali berbicara tentang Yesus, karena adanya kata-kata ‘telah mati, namun lihatlah, Aku hidup’.

·        Kata-kata ‘Yang Awal’ dalam Wah 1:17 seharusnya adalah ‘Yang Pertama’.

 

2.   Wah 2:8 - “‘Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Smirna: Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali”.

Catatan: Kata-kata ‘Yang Awal’ di sini seharusnya juga adalah ‘Yang Pertama’.

 

3.   Wah 22:12-13 - “(12) ‘Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upahKu untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. (13) Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir.’”.

Catatan: kata-kata ‘Yang Terkemudian’ dalam Wah 22:13 ini seharusnya adalah ‘Yang Akhir’.

 

Perhatikan bahwa:

a.   Wah 1:8 dan Wah 22:13 menyebut Yesus sebagai Alfa dan Omega’ (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani). Kalau Yesus memang adalah ciptaan pertama dari Bapa, maka Ia seharusnya disebut sebagai Beta dan Omega’ (Catatan: Beta adalah huruf kedua dalam abjad Yunani).

b.   Wah 22:13 mengatakan bahwa Ia adalah Yang Awal dan Yang Akhir’. Kalau Yesus adalah ciptaan pertama dari Bapa, Ia tidak bisa disebut sebagai ‘Yang Awal’.

c.   Wah 1:17, Wah 2:8 dan Wah 22:13 mengatakan bahwa Yesus adalah Yang pertama dan Yang Akhir’. Kalau Yesus adalah ciptaan pertama dari Bapa, Ia seharusnya disebut sebagai Yang kedua dan Yang Akhir’.

 

f)    Doa kepada Yesus.

 

1.         Yesus sendiri memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNya.

Yoh 14:14 - “Jika kamu meminta sesuatu kepadaKu dalam namaKu, Aku akan melakukannya.’”.

 

2.   Doa kepada Yesus ini dipraktekkan oleh Stefanus menjelang kematiannya.

Kis 7:59-60 - “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu meninggallah ia”.

Dan ingat bahwa pada saat itu ia dipenuhi oleh Roh Kudus (Kis 7:55). Masakan ia salah dalam menujukan doanya pada saat ia dipenuhi oleh Roh Kudus?

 

3.   Paulus juga berdoa kepada Yesus.

a.   2Kor 12:8-9 - “(8) Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. (9) Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Kata ‘kuasaKu’ (ay 9a) = ‘kuasa Kristus’ (ay 9b). Jadi kata ‘Tuhan’ dalam ay 8, kepada siapa Paulus menujukan doanya, pasti adalah ‘Tuhan Yesus’.

b.   1Tes 2:18, 3:10-11 - “(2:18) Sebab kami telah berniat untuk datang kepada kamu - aku, Paulus, malahan lebih dari sekali -, tetapi Iblis telah mencegah kami. ... (3:10) Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. (3:11) Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan kami jalan kepadamu.

Dalam text ini terlihat bahwa Paulus berdoa dan berharap, bukan hanya kepada Bapa, tetapi juga kepada Yesus, untuk membuka jalan sehingga ia bisa datang ke Tesalonika.

 

4.   Rasul Yohanes, dalam bagian akhir dari kitab Wahyu, juga menaikkan suatu seruan / doa kepada Yesus.

Wah 22:20 - “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: ‘Ya, Aku datang segera!’ Amin, datanglah, Tuhan Yesus!”.

Kata-kata ‘Amin, datanglah segera Tuhan Yesus!’ jelas diucapkan oleh rasul Yohanes kepada Yesus, dan merupakan suatu doa kepada Yesus!

 

5.   Semua orang percaya di segala tempat berdoa kepada Yesus.

1Kor 1:2b - dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita.

Kata-kata ini jelas menunjukkan bahwa orang kristen boleh berdoa kepada Yesus!

 

6.   Wah 5:8 menunjukkan bahwa doa orang-orang kudus dipersembahkan kepada Yesus.

Wah 5:8 - “Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus.

 

Kata ‘tersungkurlah’ dalam ayat ini menunjukkan bahwa keempat makhluk dan keduapuluh-empat tua-tua menyembah Yesus. Dan mereka membawa ‘kecapi’, yang menunjukkan bahwa mereka memuji Yesus. Dan mereka juga membawa ‘satu cawan emas, penuh dengan kemenyan’, yang menunjuk kepada ‘doa orang-orang kudus’. Kalau memang doa tidak boleh ditujukan kepada Yesus, mengapa cawan emas ini dibawa ke hadapan Yesus?

 

g)   Kalau Yesus bukan Allah, Ia tidak bisa menebus dosa umat manusia. Mengapa?

 

1.         KeilahianNya penting supaya Ia bisa taat sempurna kepada BapaNya.

Ini penting, karena kalau Ia jatuh ke dalam dosa 1 x saja, maka Ia tidak mungkin menebus dosa kita.

 

2.   Kalau Yesus bukan Allah maka kematianNya tidak bisa mempunyai nilai penebusan yang tak terbatas.

Logikanya, kalau Ia hanya seorang manusia biasa, maka paling-paling kematianNya hanya bisa menebus seorang manu­sia. Bahkan sebetulnya tidak ada manusia bisa menebus manusia yang lain. Hal ini dinyatakan dalam Maz 49:8-9. Tetapi karena dalam Kitab Suci bahasa Indonesia ada kesalahan penterjemahan, maka di sini saya memberikan terjemahan NIV.

 

Ps 49:6-7 (NIV): “No man can redeem the life of another, or give to God a ransom for him; the ransom for a life is costly, no payment is ever enough” (= Tidak seorang manusia­pun bisa menebus nyawa orang lain, atau memberikan kepada Allah tebusan untuk dia; tebusan untuk suatu nyawa sangat mahal, tidak ada pembayaran yang bisa mencukupi).

 

Charles Hodge mengatakan bahwa kesempurnaan penebusan Kristus ini bukan disebabkan karena jenis / tingkat penderitaanNya, tetapi terutama karena kewibawaan dari pribadiNya, yang adalah Allah dan manusia dalam 1 pribadi - ‘Systematic Theology’, vol II, hal 483.

 

3.   Kalau Yesus bukan Allah sendiri, maka pada waktu Allah menimpakan hukuman umat manusia kepada Yesus, Allah telah bertindak dengan tidak adil.

Kalau Yesus hanya seorang manusia biasa saja / malaikat, dan Allah menimpakan hukuman umat manusia kepadaNya, maka Allah jelas telah bertindak tidak adil, karena Ia menghukum seseorang karena dosa orang lain. Tetapi karena Yesus adalah Allah sendiri, maka Allah tetap adil, karena pada waktu Ia menimpakan hukuman umat manusia kepada Yesus, pada hakekatnya Ia menimpakan hukuman itu kepada diriNya sendiri.

 

h)   Kesatuan Yesus dengan Bapa dinyatakan oleh Yoh 10:30, dan jelas menunjukkan keilahian Yesus. Yoh 10:30 - “Aku dan Bapa adalah satu.’”.

 

Calvin: “We must not seek salvation anywhere else than in Christ. But we shall not be satisfied with having Christ, if we do not know that we possess God in him. We must therefore believe that there is such unity between The Father and the Son as makes it impossible that they shall have anything separate from each other” (= Kita tidak boleh mencari keselamatan di tempat lain manapun juga selain di dalam Kristus. Tetapi kita tidak akan puas dengan memiliki Kristus, jika kita tidak mengetahui bahwa kita memiliki Allah dalam Dia. Karena itu kita harus percaya bahwa ada suatu kesatuan sedemikian rupa antara Bapa dan Anak sehingga membuatnya mustahil bahwa yang satu mempunyai apapun terpisah dari yang lainnya) - hal 174.

 

Catatan: sebetulnya ada lebih banyak lagi bukti-bukti dari Kitab Suci tentang keilahian Yesus, tetapi saya kira yang saya berikan di sini sudah cukup banyak.

 

2)         Keilahian Roh Kudus.

Kis 5:3-4 - “(3) Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? (4) Selama tanah itu tidak dijual, bukan­kah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendus­tai Allah.

Perhatikan bahwa dalam ay 3 Petrus berkata bahwa Ananias mendustai ‘Roh Kudus’, tetapi dalam ay 4 Petrus mengatakan bahwa Ananias mendustai ‘Allah’. Jelas bahwa dari sini harus disimpulkan bahwa ‘Roh Kudus’ itu adalah ‘Allah’.

Catatan: bukti-bukti tentang keilahian Roh Kudus sebetulnya sangat banyak, tetapi di sini, saya hanya memberikan sedikit saja.

 

3)         Penggunaan kata ganti orang bentuk jamak untuk menunjuk kepada Allah.

Kej 1:26 - “Berfirmanlah Allah: ‘Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.’”.

 

Kata ganti orang bentuk tunggal dan jamak untuk menyatakan Allah, keluar sekaligus dalam satu ayat, yaitu dalam Yes 6:8 yang dalam versi NASB menterjemahkan:  “Whom shall I send and who will go for Us?” (= Siapa yang akan Kuutus dan siapa yang mau pergi untuk Kami?).

 

Catatan: penggunaan kata-kata bentuk jamak untuk Allah sebetulnya banyak sekali, tetapi di sini saya hanya memberikan sedikit, karena ini memang hanya merupakan pembahasan singkat.

 

Kesimpulan

 

Dalam Kitab Suci ada ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah dan juga ada ayat-ayat yang menunjukkan adanya kejamakan dalam diri Allah. Ada 2 sikap extrim yang salah dalam persoalan ini:

 

1)   Terlalu menekankan ‘kejamakan dalam diri Allah’ dan mengabaikan ‘kesatuanNya’.

Ini menjadi Tritheisme (= kepercayaan kepada tiga Allah). Ini salah, karena mengabaikan ketunggalan Allah, berarti mengabaikan sebagian dari Kitab Suci.

 

2)   Menekankan ‘kesatuan Allah’ dan membuang / mengabaikan ‘kejamakan dalam diri Allah’.

Kita tidak bisa hanya menyoroti ayat-ayat yang menunjukkan ketunggalan Allah, dan lalu mengatakan bahwa Allah itu tunggal secara mutlak. Karena kalau kita melakukan hal itu, lalu apa yang akan kita lakukan dengan ayat-ayat yang menunjukkan adanya kejamakan dalam diri Allah? Membuangnya? Mengabaikannya? Ini tentu tidak mungkin dilakukan oleh orang yang mempercayai Kitab Suci sebagai Firman Tuhan! Tetapi sikap inilah yang diambil oleh Unitarianisme!

 

Orang-orang yang sungguh-sungguh percaya pada Kitab Suci harus memperhatikan kedua kelompok ayat ini, dan doktrin Allah Tritunggal merupa­kan satu-satunya jalan untuk mengharmoniskan kedua grup ayat tersebut. Kalau kita mau menerima doktrin Allah Tritunggal, maka kita bisa mengharmoniskan kedua golongan ayat tersebut. Kalau kita menolak doktrin Allah Tritunggal, ini berarti kita harus menghadapi kontradiksi yang tidak mungkin bisa diharmoniskan dalam Kitab Suci! Yang mana yang menjadi pilihan saudara?

 

11)      Pada hal 37-38 dikatakan sebagai berikut: “sebenarnya kalau kita mau dengan jujur membaca Alkitab, maka jelas sekali bahwa, menurut Alkitab, Yesus benar-benar bukanlah Allah sejati (Yahweh). Hal ini misalnya diungkapkan di Kitab Wahyu 3:14, Ada tertulis bahwa Yesus ... adalah ‘permulaan dari ciptaan Allah’.”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Wah 3:14 - “‘Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah.

Ayat ini menyebut Yesus sebagai ‘permulaan ciptaan Allah’ / ‘the beginning of the creation of God’, dan karena itu ayat ini dipakai oleh Saksi-Saksi Yehuwa / Unitarianisme sebagai dasar untuk mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama dari Allah Bapa.

Sekarang perhatikan openjelasan saya tentang Wah 3:14 ini.

 

a)   Dalam penterjemahan suatu kata yang mempunyai banyak arti, kita harus selalu berhati-hati untuk tidak memilih arti yang salah.

Sebagai contoh, kata ‘heart’ dalam bahasa Inggris bisa diterjemahkan ‘jantung’ ataupun ‘hati’ (sebagai pusat dari manusia). Kalau kita mendengar istilah ‘heart attack’, maka tentu kita harus memilih arti pertama dan menterjemahkan sebagai ‘serangan jantung’. Tetapi kalau kita mendengar istilah ‘broken heart’, maka kita tentu harus memilih arti kedua dan menterjemahkan ‘patah hati’.

 

Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan ‘permulaan’ adalah ARKHE. Kata ARKHE ini mempunyai banyak arti seperti:

1.         Beginning (= permulaan / mulanya). Arti ini diambil dalam Yoh 1:1.

2.         Ruler / chief (= pemerintah / kepala).

Arti ini bisa saudara lihat dalam beberapa kata yang saudara kenal:

·        archangel’ yang berarti penghulu / pemimpin / kepala malaikat.

·        archbishop’ yang berarti pemimpin / kepala uskup (uskup besar).

·        ‘architect’ (= arsitek), yang berasal dari kata Yunani ARKHITEKTON [= ARKHE (= kepala / pemimpin) + TEKTON (= tukang kayu / batu)].

3.         Origin (= asal usul).

4.         Source (= sumber).

 

Kalau kita mau mengambil arti pertama, maka ada 2 kemungkinan:

 

a.   Kita lalu menafsirkan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama, karena ini berarti Yesus bukan Allah. Ini yang diambil oleh Saksi-Saksi Yehuwa / Unitarianisme, dan ini jelas salah, karena penafsiran ini bertentangan dengan banyak ayat-ayat Kitab Suci yang lain, yang menyatakan Yesus sebagai Allah, kekal, Pencipta, dsb (lihat bukti keilahian Yesus yang sudah saya berikan dalam no 10 di atas).

 

b.   Kita menafsirkan bahwa Yesus adalah sumber / pemula dari ciptaan Allah, atau yang memulai ciptaan Allah. Saya akan memberikan beberapa contoh penterjemahan seperti ini:

·        NASB menterjemahkan ‘beginning’, tetapi memberikan catatan kaki yang mengatakan: “I. e., origin or source” (= Yaitu, asal usul atau sumber).

·        NKJV menterjemahkan ‘beginning’, tetapi menuliskannya ‘Beginning’ (huruf pertama menggunakan huruf besar), yang jelas memaksudkan ini sebagai gelar ilahi bagi Yesus.

·        John Stott: “He is the beginning of God’s creation. If we adopt the fundamental principle of Biblical interpretation that each Scripture must be understood in the light of all and that no passage may be so expounded ‘that it be repugnant to another’ ... , then this title of Christ means ‘the originator of the creation of God’” (= Ia adalah permulaan dari ciptaan Allah. Jika kita menyetujui prinsip dasar dari penafsiran Alkitab bahwa setiap bagian Kitab Suci harus dimengerti dalam terang dari semua dan tidak ada text yang boleh dijelaskan ‘sehingga itu bertentangan dengan yang lain’ ..., maka gelar Kristus ini berarti ‘yang memulai ciptaan / penciptaan Allah’) - hal 121.

 

Apakah kata ‘beginning’ itu memang bisa diartikan seperti itu? Saya kira ya, karena dalam kamus Webster’s New World Dictionary (College Edition) dikatakan bahwa kata ‘to begin’ bisa berarti ‘to cause to start’ (= menyebabkan untuk mulai), atau ‘to cause to come into being’ (= menyebabkan ada / tercipta), atau ‘originate’ (= memulai). Sedangkan untuk kata ‘beginning’ bisa diartikan ‘a starting’ (= suatu pe-mulai-an), atau ‘origin’ (= asal usul), atau ‘source’ (= sumber).

 

Atau, kita bisa mengambil arti ke 2, yaitu ruler / chief’ (= pemerintah / kepala), seperti dalam terjemahan NIV: the ruler of God’s creation’ (= pemerintah / penguasa dari ciptaan Allah). Jelas bahwa terjemahan ini tidak menunjukkan Yesus sebagai ciptaan dari Allah!

 

Atau bisa juga kita mengambil arti ke 3 atau ke 4. Dengan demiki­an Wah 3:14 ini menunjukkan Yesus sebagai ‘sumber’ atau ‘asal mula’ dari ciptaan Allah. Dengan demikian Wah 3:14 ini tidak menunjukkan Yesus sebagai ciptaan Allah, tetapi sebagai Pencipta!

Living Bible: ‘the primeval source of God’s creation’ (= sumber yang mula-mula dari ciptaan Allah).

FAYH: ‘sumber segala ciptaan Allah’.

Catatan: FAYH = Firman Allah Yang Hidup, yaitu Kitab Suci Indonesia dalam bahasa sehari-hari, yang merupakan terjemahan dari Living Bible.

 

b)   Sekarang perhatikan beberapa komentar dari para penafsir / penulis tentang hal ini.

 

W. E. Vine: “ARCHE (a]rxh) means a beginning. The root ARCH - primarily indicated ‘what was of worth’. Hence the verb ARCHO meant ‘to be first,’ and ARCHON denoted a ruler. So also arose the idea of a beginning, the origin, the active cause, whether a person or a thing” [= ARKHE berarti suatu permulaan. Akar kata ARKH - terutama menunjukkan ‘sesuatu yang berharga’. Karena itu kata kerja ARKHO berarti ‘menjadi yang pertama’, dan ARKHON menunjuk pada ‘seorang penguasa / pemerintah’. Juga muncul gagasan tentang suatu permulaan, asal usul, penyebab aktif, baik seseorang atau sesuatu] - ‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 103.

Catatan: Yohanes beberapa kali menggunakan kata ARKHON, yaitu dalam:

·        Yoh 3:1 diterjemahkan ‘pemimpin’.

·        Yoh 7:26 diterjemahkan ‘pemimpin’.

·        Yoh 7:48 diterjemahkan ‘pemimpin-pemimpin’.

·        Yoh 12:31 diterjemahkan ‘penguasa’.

·        Yoh 12:42 diterjemahkan ‘pemimpin’.

·        Yoh 14:30 diterjemahkan ‘penguasa’.

·        Yoh 16:11 diterjemahkan ‘penguasa’.

·        Wah 1:5 diterjemahkan ‘yang berkuasa atas’. NIV: ‘ruler’ (= penguasa).

 

Walter Martin: “The Greek word arche (Revelation 3:14) can be correctly rendered ‘origin’ ... Revelation 3:14 then declares that Christ is ... the ‘origin’ or ‘source’ of the creation of God” [= Kata Yunani ARKHE (Wahyu 3:14) bisa dengan benar diterjemahkan ‘asal usul’ ... Maka Wahyu 3:14 menyatakan bahwa Kristus adalah ... ‘asal usul’ atau ‘sumber’ dari ciptaan Allah] - ‘The Kingdom of the Cults’, hal 92.

 

William Barclay: “This phrase, as it stands in English, is ambiguous. It could mean, either, that Jesus was the first person to be created or that he began the process of creation .... It is the second meaning which is intended here. The word for beginning is ARCHE. In early Christian writings we read that Satan is the arche of death, that is to say, death takes its origin in him; and that God is the arche of all things, that is, all things find their beginning in him” (= Ungkapan ini dalam bahasa Inggris berarti ganda. Ungkapan ini bisa diartikan bahwa Yesus adalah pribadi pertama yang diciptakan, atau bahwa Ia memulai proses penciptaan. ... Adalah arti kedua yang dimaksudkan di sini. Kata untuk ‘permulaan’ / ‘mulanya’ adalah ARKHE. Dalam tulisan kristen kuno kita membaca bahwa Setan adalah ARKHE dari kematian, arti­nya, kematian punya asal mula di dalam dia; dan bahwa Allah adalah ARKHE dari segala sesuatu, artinya, segala sesuatu menda­patkan permulaannya dalam Dia) - hal 140-141.

 

Philip Schaff, dalam bukunya ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 670, mengatakan bahwa Polycarp (murid dari rasul Yohanes, mati pada tahun syahid pada tahun 155 / 156 M.) menulis bahwa cinta uang adalah ARKHE dari segala kejahatan.

Bdk. 1Tim 6:10a - “Karena akar  (RHIZA) segala kejahatan ialah cinta uang”.

Kata ‘akar’ dalam 1Tim 6:10 dalam bahasa Yunaninya sebetulnya adalah RHIZA, tetapi Polycarp mengubahnya menjadi ARKHE. Jelas bahwa maksudnya adalah bahwa cinta uang itu adalah penyebab / sumber / asal usul dari segala kejahatan. Jadi jelas bahwa kata ARKHE memang bisa digunakan dalam arti ‘penyebab’ / ‘sumber’ / ‘asal usul’.

 

-AMIN-


e-mail us at [email protected]