Tanggapan

Pdt. Budi Asali, M. Div.

  ( 2 )

terhadap buku

Allah dalam Alkitab dan Al-Quran

(Frans Donald)

 

6)   Dalam hal 25 dikatakan sebagai berikut: “Yesus Kristus, yang dalam Islam disebut sebagai Isa Almasih. Dalam bahasa Arab Isa Almasih sama artinya dengan Yesus Kristus”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Memang pada umumnya ‘Isa’ dianggap sama dengan ‘Yesus’. Tetapi sebetulnya belum tentu. Perhatikan kata-kata di bawah ini:

 

Dr. Anis A. Shorrosh: “Isa adalah nama yang dipakai untuk Yesus dalam Alquran. Baik Kristen maupun muslim bertanya-tanya selama berabad-abad, mengapa Dia tidak dipanggil Yesus seperti yang dipakai dalam kitab Injil berbahasa Arab. Inilah alasannya: Muhammad menggunakan nama ‘Isa’ dengan itikad baik setelah mendengarnya dari orang-orang Yahudi Medinah yang tidak percaya kepada Yesus. Dalam kebencian orang-orang Yahudi mencemoohkan Yesus dengan memanggilnya Esau, yaitu saudara Yakub yang ditolak dan yang kehilangan berkat. Mereka mengatakan jiwa Esau menjelma menjadi Yesus. Muhammad mengambil saja nama ini dan menggunakannya untuk Yesus tanpa menyadari penghinaan yang diajukan oleh orang Yahudi” - ‘Kebenaran Diungkapkan’, hal 87.

Catatan: Ini diambil oleh penulis ini dari Buku tulisan dari H.A.R. Gibb and J.H. Kramers, ‘Shorter Encyclopedia of Islam’ (Ithaca, N.Y.: Cornell University Press, 1953), 173.

 

7)   Dalam hal 25 dikatakan sebagai berikut: “Yesus Kristus bagi sebagian umat kristen di zaman ini telah dipercayai sebagai Allah yang telah menjelma menjadi manusia. Pemahaman tersebut berasal dari dogma Kristen, dikenal sebagai dogma Trinitas, sebuah dogma yang telah diwariskan sejak abad ke 4”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Sama seperti para Saksi Yehuwa, para Unitarian (termasuk Frans Donald), berpendapat / mengatakan bahwa ajaran tentang doktrin Allah Tritunggal dimulai pada abad ke 4. Ini salah! Memang pada abad ke 4, tepatnya pada Sidang Gereja Nicea pada tahun 325 M., doktrin Allah Tritunggal itu dirumuskan dan disahkan. Tetapi sebelum abad ke 4 doktrin Allah Tritunggal itu sebetulnya sudah ada. Untuk membuktikan kesalahan dari kata-kata / claim Saksi-Saksi Yehuwa / Unitarian ini, mari kita memperhatikan beberapa orang / bapa gereja di bawah ini.

 

a)   Gregory Thaumaturgus.

Philip Schaff berbicara tentang Gregory Thaumaturgus, yang adalah murid dari Origen. Merupakan sesuatu yang luar biasa bahwa murid dari bapa gereja yang paling sesat itu ternyata bisa mempunyai pengertian / theologia yang sangat bagus! Gregory Thaumaturgus ini menghadiri Sidang Gereja Antiokhia tahun 265 M., yang mengecam Paul dari Samosata (yang adalah seorang Unitarian, yang menentang kepribadian dari Logos maupun Roh Kudus).

 

Philip Schaff: “Gregory of Nyssa and Basil, who made him (Gregory Thaumaturgus) also a champion of the Nicene orthodoxy before the Council of Nicæa [= Gregory dari Nyssa dan Basil, yang menganggap dia (Gregory Thaumaturgus) juga sebagai seorang pembela / pendukung dari keorthodoxan Nicea sebelum Sidang Gereja Nicea] - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 797-798.

 

Philip Schaff: “Gregory (Thaumaturgus) was supposed to have anticipated the Nicene dogma of the trinity” [= Gregory (Thaumaturgus) dianggap mengantisipasi dogma Tritunggal dari Nicea] - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 801.

 

Philip Schaff juga menuliskan ‘The Declaration of Faith’ (= Pernyataan dari Iman), yang dikatakan bahwa ini dinyatakan kepada Gregory Thaumaturgus melalui suatu penglihatan, yang ia katakan sebagai: “It is certainly a very remarkable document and the most explicit statement of the doctrine of the Trinity from the ante-Nicene age” (= Itu jelas merupakan dokumen yang sangat luar biasa / hebat dan merupakan pernyataan yang paling explicit tentang doktrin dari Tritunggal dari jaman sebelum Nicea) - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 798.

 

Bagian akhir dari ‘The Declaration of Faith’ itu bunyinya adalah: “There is therefore nothing created or subservient in the Trinity, nor superinduced, as though not before existing, but introduced afterward. Nor has the Son ever been wanting to the Father, nor the Spirit to the Son, but there is unvarying and unchangeable the same Trinity forever” (= Karena itu tidak ada apapun yang diciptakan atau lebih rendah / tunduk dalam Tritunggal, ataupun yang ditambahkan, seakan-akan tadinya belum ada, tetapi dimasukkan belakangan. Juga Anak tidak pernah tidak ada bagi Bapa, dan Roh tidak pernah tidak ada bagi Anak, tetapi di sana ada Tritunggal yang sama yang tidak berubah selama-lamanya) - Philip Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 799.

 

Memang Philip Schaff sendiri mencurigai bahwa ada orang lain yang menambahi ‘The Declaration of Faith’ ini. Jadi keorisinilannya ada yang meragukan. Tetapi ia lalu berbicara tentang tulisan asli dari Gregory ini.

Philip Schaff: “Among his genuine writings ... two books recently published in a Syriac translation, one on the co-equality of the Father, Son, and Holy Spirit, ...” (=  Di antara tulisan-tulisan aslinya ... dua buku baru-baru ini dipublikasikan dalam terjemahan bahasa Siria / Aram, buku yang satu tentang kesetaraan dari Bapa, Anak, dan Roh Kudus, ...) - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 798.

 

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Gregory Thaumaturgus, Saint’: “Greek Christian apostle of Roman Asia and champion of orthodoxy in the 3rd-century Trinitarian (nature of God) controversy. ... The Exposition of Faith, Gregory’s principal work, was a theological apology for Trinitarian belief. The Exposition incorporated his doctrinal instructions to Christian initiates, expressed his arguments against heretical groups, and was the forerunner of the Nicene Creed that was to appear in the early 4th century [= Rasul Kristen Yunani dari Asia Romawi dan pembela dari keorthodoxan dalam pertentangan / perdebatan tentang Tritunggal (sifat / hakekat dari Allah) pada abad ke 3. ... ‘Exposisi dari Iman’, karya utama dari Gregory, merupakan suatu pembelaan theologia untuk kepercayaan pada Tritunggal. Exposisi ini memasukkan ajaran-ajaran doktrinalnya kepada calon-calon orang Kristen, menyatakan argumentasi-argumentasinya terhadap kelompok-kelompok sesat, dan merupakan pendahulu / penyiap jalan bagi Pengakuan Iman Nicea yang akan muncul pada awal abad ke 4].

Catatan: mungkin yang di sini disebut sebagai ‘Exposition of Faith’ (= Exposisi dari Iman) sama dengan apa yang disebut sebagai ‘Declaration of Faith’ (= Pernyataan dari Iman) oleh Philip Schaff di atas.

 

b)   Theophilus dari Antiokhia (mati tahun 181 M.).

Philip Schaff tentang Theophilus dari Antiokhia: “He was the first to use the term ‘triad’ for the holy Trinity, and found this mystery already in the words: ‘Let us make man’ (Gen. 1:26); for, says he, ‘God spoke to no other but to his own Reason and his own Wisdom,’ that is, to the Logos and the Holy Spirit hypostatized” [= Ia adalah yang pertama menggunakan istilah ‘triad’ untuk Tritunggal yang kudus, dan sudah menemukan misteri ini dalam kata-kata ‘Baiklah Kita menjadikan manusia’ (Kej 1:26); karena ia berkata, ‘Allah berbicara bukan lain kepada AkalNya sendiri dan HikmatNya sendiri’, yaitu, kepada Logos dan Roh Kudus yang dipribadikan / dianggap sebagai pribadi] - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 733.

 

c)   Melito dari Sardis (abad ke 2 M.).

Philip Schaff tentang Melito dari Sardis: “We are not worshippers of senseless stone, but adore one only God, who is before all and over all, and His Christ truly God the Word before all ages (= Kami bukan penyembah-penyembah dari batu yang tolol / tak berguna / tak berarti, tetapi memuja hanya satu Allah, yang ada sebelum semua dan di atas semua, dan KristusNya betul-betul Allah Firman sebelum segala jaman) - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 738.

Jelas bahwa bapa gereja ini menyembah dan memuja Kristus, dan mempercayai Yesus sebagai Allah yang kekal.

 

d)   Dionysius dari Roma (tahun 262 M.) dan Dionysius dari Alexandria.

Yang pertama adalah seorang uskup (paus) dari Roma, dan yang kedua adalah uskup dari Alexandria.

 

1.   Tentang Dionysius yang pertama, perhatikan komentar-komentar dari Philip Schaff di bawah ini.

 

Philip Schaff: “Dionysius, A.D. 262, ... maintained at once the HOMO-OUSION and eternal generation against Dionysius of Alexandria, and the hypostatical distinction against Sabellianism, and sketched in bold and clear outlines the Nicene standard view” [= Dionysius, 262 M., ... mempertahankan sekaligus istilah HOMO-OUSION (= dari zat yang sama) dan eternal generation terhadap Dionysius dari Alexandria, dan perbedaan pribadi terhadap Sabellianisme, dan membuat sketsa / menguraikan secara terperinci garis besar yang tegas dan jelas dari pandangan standard Nicea] - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 556.

Catatan: ‘eternal generation’ adalah doktrin yang mengatakan bahwa Bapa memperanakkan Anak secara kekal, seperti matahari yang terus menerus memancarkan sinarnya.

 

Philip Schaff: “The Roman bishop Dionysius (A.D. 262), a Greek by birth, stood nearest the Nicene doctrine. He maintained distinctly, in the controversy with Dionysius of Alexandria, at once the unity of essence and the real personal distinction of the three members of the divine triad, and avoided tritheism, Sabellianism, and subordinatianism with the instinct of orthodoxy, and also with the art of anathematizing already familiar to the popes” [= Uskup Roma Dionysius (262 M.), seorang Yunani oleh kelahiran, berdiri paling dekat dengan doktrin Nicea. Ia mempertahankan dengan jelas, dalam perdebatan dengan Dionysius dari Alexandria, sekaligus kesatuan hakekat dan perbedaan yang bersifat pribadi yang nyata dari ketiga anggota-anggota dari triad / tritunggal ilahi, dan menghindari ajaran tentang tiga Allah, Sabellianisme, dan subordinatianisme dengan naluri orthodox, dan juga dengan seni pengutukan yang sudah akrab dengan paus-paus] - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 570.

Catatan:

·        Sabelianisme adalah ajaran yang mengatakan bahwa Allah mempunyai 1 hakekat dan 1 pribadi, tetapi 3 perwujudan.

·        Subordinatianisme adalah ajaran yang menganggap bahwa tiga pribadi dalam Allah Tritunggal itu tidak setara tetapi yang satu lebih rendah dari pada yang lain.

 

2.   Pertentangan di antara kedua Dionysius, diakhiri dengan ketundukan Dionysius dari Alexandria kepada Dionysius dari Roma.

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Dionysius, Saint’: “pope from July 22, 259, to Dec. 26, 268. ... In response to charges of tritheism - i.e., separating the members of the Trinity as three distinct deities - against Bishop Dionysius of Alexandria, the pope convened a Roman synod (260) and demanded an explanation from Bishop Dionysius; this became known as ‘the affair of the two Dionysii.’ Semantics was at the root of the difficulty; Greek and Roman understandings of the same terms differed. The discussions at the synod helped to prepare the way for the theology of the Nicene Creed (325). The bishop cleared himself in his Refutation and Apology and accepted the pope’s authority [= paus dari 22 Juli 259 sampai 26 Des 268. ... Dalam tanggapan terhadap tuduhan tentang tritheisme / tiga Allah - yaitu memisahkan anggota-anggota dari Tritunggal sebagai tiga keallahan yang berbeda - terhadap Uskup Dionysius dari Alexandria, sang paus memanggil suatu sidang gereja Roma (260) dan menuntut suatu penjelasan dari Uskup Dionysius; ini dikenal sebagai ‘perkara / urusan dari dua Dionysius’. Bahasa Semantic merupakan akar dari kesukaran. Pengertian dari orang-orang Yunani dan Romawi tentang istilah-istilah yang sama, berbeda. Diskusi pada sidang gereja menolong untuk menyiapkan jalan untuk theologia dari Pengakuan Iman Nicea (325). Sang Uskup membersihkan / membebaskan dirinya sendiri dalam bukunya / tulisannya berjudul ‘Refutation and Apology’ dan menerima otoritas dari paus].

 

Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Dionysius of Alexandria, Saint’: “Dionysius was especially noted for his attacks on the Sabellians, who accused him of separating the persons of the Trinity (tritheism) and other heresies. Protests were sent to Pope St. Dionysius in Rome, who condemned those who denied any distinction between the persons of the Trinity and those who acknowledged three separate persons. Dionysius of Alexandria accepted the Pope's judgment and repudiated the Sabellians’ charges, but he insisted that the Trinity consisted of three inseparable persons. His position has since been vindicated by the church [= Dionysius khususnya terkenal karena serangan-serangannya pada Sabelianisme, yang menuduh dia memisahkan pribadi-pribadi dari Tritunggal (Tritheisme / tiga Allah) dan kesesatan-kesesatan yang lain. Protes-protes dikirim kepada Paus Santo Dionysius di Roma, yang mengecam / mengutuk mereka yang menyangkal perbedaan apapun antara pribadi-pribadi dari Tritunggal dan mereka yang mengakui tiga pribadi yang terpisah. Dionysius dari Alexandria menerima penilaian / penghakiman dari Paus dan menolak tuduhan-tuduhan dari penganut-penganut Sabelianisme, tetapi ia berkeras bahwa Tritunggal terdiri dari tiga pribadi yang tak terpisahkan. Posisi / pandangannya dipertahankan oleh gereja sejak saat itu].

 

Jadi, kedua Dionysius ini akhirnya mempunyai persetujuan pandangan, yang sesuai dengan Pengakuan Iman Nicea, sekitar 65 tahun sebelum Sidang Gereja Nicea!

 

Dari contoh-contoh yang saya bicarakan di atas ini terlihat jelas bahwa claim Saksi-Saksi Yehuwa / Unitarian yang mengatakan bahwa doktrin Allah Tritunggal baru ada pada abad ke 4, merupakan claim yang seenaknya sendiri, sembarangan, salah, dan bersifat dusta!

 

Philip Schaff: “the church dogma of the Trinity arose; and it directly or indirectly ruled even the Ante-Nicene theology, though it did not attain its fixed definition till in the Nicene age” (= dogma gereja tentang Tritunggal muncul; dan itu secara langsung atau tidak langsung menguasai bahkan theologia sebelum Nicea, sekalipun itu belum mencapai definisinya yang tetap sampai pada jaman Nicea) - ‘History of the Christian Church’, vol II, hal 565.

 

Philip Schaff: “The church always believed in this Trinity of revelation, and confessed its faith by baptism into the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Ghost. ... But to bring this faith into a clear and fixed knowledge, and to form the baptismal confession into doctrine, was the hard and earnest intellectual work of three centuries” (= Gereja selalu percaya pada Tritunggal dari wahyu ini, dan mengaku imannya dengan baptisan dalam nama dari Bapa, dan dari Anak, dan dari Roh Kudus. ... Tetapi membawa iman / kepercayaan ini ke dalam suatu pengetahuan yang jelas dan tertentu / pasti, dan membentuk pengakuan baptisan ke dalam doktrin / pengajaran, merupakan pekerjaan intelektual yang berat dan sungguh-sungguh dari tiga abad) - ‘History of the Christian Church’, vol III, hal 618.

 

8)   Pada hal 25 dikatakan sebagai berikut: “Pemahaman bahwa ‘Yesus itu Allah’ menurut dogma Trinitas, tampaknya memang sangat berbeda dari ajaran Islam yang tertulis dengan sangat tegas dan jelas di Al-Quran yaitu: Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata ‘Sesungguhnya Allah ialah Al Masih (Yesus) putera Maryam’, padahal Al Masih sendiri berkata: Hai bani Israil, sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu. (Al Maidah QS 5:72)”.

Frans Donald lalu melanjutkan dengan menceritakan secara panjang lebar pertentangan, debat, bahkan permusuhan antara Islam dan Kristen yang disebabkan karena pertentangan tentang doktrin ini (hal 26-27).

Dan Frans Donald lalu berkata dalam hal 27: “Apakah dengan selalu mencari-cari perbedaan antara Alkitab dan Al-Quran maka kita layak menyebut diri sebagai umat Allah? Apakah dengan menang-menangan Alkitab vs Al-Quran maka kita akan menjadi benar di hadapan Allah?”.

Ia lalu melanjutkan dengan suatu paragraf yang diberi judul ‘Mencari Titik Temu, Bukan Pertentangan’ (hal 27-28).

Dan dalam hal 28 ia berkata: “Umat Islam harus benar-benar back to Al-Quran dan umat Kristen harus benar-benar back to the Bible. Baik Islam maupun Kristen harus sama-sama jujur dan tulus mengikuti kitab sucinya masing-masing, jangan mendahulukan dogma atau doktrin-doktrin, atau membela pepentingan kelompok atau golongan tertentu”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Perbedaan berkenaan dengan keilahian Yesus bukanlah suatu perbedaan yang dicari-cari, tetapi merupakan suatu perbedaan yang sangat menyolok bagi siapapun yang tidak buta. Dalam point no 2 di atas sudah saya jelaskan bahwa Kristen memang bertentangan dengan Islam, dan Alkitab memang bertentangan dengan Al-Quran, dan tidak akan pernah ada titik temu, kecuali salah satu pihak mengkompromikan ajarannya yang sebenarnya. Dan dalam kasus Frans Donald ini terlihat bahwa Kristenlah yang dikompromikan, karena dalam bukunya ini jelas ia menunjukkan ketidak-percayaan pada keilahian Yesus.

Tetapi dengan mengkompromikan kristen, apakah itu bisa disebut sebagai ‘back to the bible’??? Betul-betul pemecahan yang menggelikan, dan tidak punya logika!

Kalau orang-orang kristen betul-betul ‘back to the Bible’, maka saya yakin bahwa mereka justru akan mempercayai Yesus sebagai Allah, dan juga mempercayai doktrin Allah Tritunggal!

 

9)   Pada hal 31-32 dikatakan sebagai berikut: “Yahweh, Allah (Elohim) yang disembah bangsa Israel itulah yang membuat Firaun bertobat dan menjadi Muslim ketika hampir tenggelam di tengah laut pada saat mengejar bangsa Israel. Hal itu ditegaskan oleh Nabi Muhammad s.a.w. dalam surat Yunus QS 10:90 ‘Dan Kami selamatkan bani Israel melintasi laut, kemudian Firaun dan bala tentaranya mengikuti mereka, untuk menzalimi dan menindas mereka, Sehingga ketika Firaun hampir tenggelam dia berkata: ‘Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan (Allah) melainkan Tuhan (Allah) yang dipercayai (diimani) oleh bani Israel, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).’”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Bagaimana mungkin ini tidak bertentangan dengan apa yang dikatakan oleh Alkitab? Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Firaun bertobat. Dan dari Alkitab terlihat bahwa Firaun mati dalam pengejaran terhadap Israel itu.

 

Kel 14:1-8,26-28,30 - “(1) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa, demikian: (2) ‘Katakanlah kepada orang Israel, supaya mereka balik kembali dan berkemah di depan Pi-Hahirot, antara Migdol dan laut; tepat di depan Baal-Zefon berkemahlah kamu, di tepi laut. (3) Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka. (4) Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaanKu, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.’ Lalu mereka berbuat demikian. (5) Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: ‘Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?’ (6) Kemudian ia memasang keretanya dan membawa rakyatnya serta. (7) Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya. (8) Demikianlah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang dinaikkan. ... (26) Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Ulurkanlah tanganmu ke atas laut, supaya air berbalik meliputi orang Mesir, meliputi kereta mereka dan orang mereka yang berkuda.’ (27) Musa mengulurkan tangannya ke atas laut, maka menjelang pagi berbaliklah air laut ke tempatnya, sedang orang Mesir lari menuju air itu; demikianlah TUHAN mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. (28) Berbaliklah segala air itu, lalu menutupi kereta dan orang berkuda dari seluruh pasukan Firaun, yang telah menyusul orang Israel itu ke laut; seorangpun tidak ada yang tinggal dari mereka. ... (30)  Demikianlah pada hari itu TUHAN menyelamatkan orang Israel dari tangan orang Mesir. Dan orang Israel melihat orang Mesir mati terhantar di pantai laut.

 

Bukan hanya itu saja, Alkitab juga menunjukkan bahwa Firaun termasuk orang yang ditentukan untuk binasa. Dalam pasal tentang predestinasi, Ro 9:10-18 dikatakan sebagai berikut: “(10) Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’ (14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah Allah tidak adil? Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’ (16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah. (17) Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun: ‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18) Jadi Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati siapa yang dikehendakiNya”.

 

Lagi-lagi, ini bukan suatu pertentangan yang dicari-cari. Mata orang butapun bisa melihat pertentangan ini. Lalu bagaimana bisa mencari titik temu? Membutakan diri terhadap pertentangan-pertentangan ini?

 

-AMIN-


e-mail us at [email protected]