Tanggapan

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

terhadap buku

Allah dalam Alkitab dan Al-Quran

(Frans Donald)

 

Keterangan: saya tidak membahas buku ini secara sistimatis, tetapi membahasnya halaman demi halaman, untuk memudahkan orang-orang yang membaca buku ini untuk melihat kesalahan-kesalahan dan bahkan kesesatan-kesesatan dari buku ini.

 

1)   Pada hal 7 (pada bagian ‘Ucapan Terima Kasih’) dikatakan sebagai berikut: “Ucapan khusus terima kasih juga layak saya ucapkan buat para pendeta dan orang-orang yang selama ini sering menuduh dan memfitnah kami sebagai sesat atau bidat. ... Juga pendeta ‘S’ di Surabaya yang menuduh saya sesat dan antikris. Alhamdulilah tuduhan-tuduhan dan fitnah-fitnah tersebut justru menjadi ‘vitamin’ dan ‘suplemen’ yang semakin mendorong semangat saya dalam menyelesaikan dan terus menyempurnakan buku ini”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Saya menyoroti kata-kata ‘memfitnah’ dan ‘fitnah-fitnah’ yang saya garis bawahi itu. Saya berpendapat bahwa Frans Donald sendiri, dengan menggunakan kata ‘fitnah’ atau ‘memfitnah’, telah melakukan fitnahan. Orang-orang itu tidak salah dalam menuduh Frans Donald sebagai orang sesat / bidat, bahkan benar 100 %, dan karena itu tuduhan itu bukanlah suatu fitnahan. Pada saat Frans Donald menyebutnya sebagai ‘fitnah’, ia justru yang menjadi pemfitnah!

 

2)   Pada hal 8 (pada bagian ‘Pengantar’, oleh Dr. Tjahyadi Nugroho, MA) dikatakan sebagai berikut: “Jika ada dua agama yang begitu dekat hubungannya, tetapi sekaligus begitu tragis dan berdarah relasinya, barangkali itu adalah agama Kristen dan Islam. Kedua agama ini berakar dari sumber yang sama, rumpun iman Ibrahimik. Keduanya mengimani Ibrahim (Abraham) sebagai bapa leluhur iman mereka, dan Adam sebagai asal usul umat manusia. ... Mengingat Kristen dan Islam sebagai dua di antara agama-agama bersar dunia yang dianut setidaknya oleh separuh jumlah penduduk dunia saat ini, maka upaya menemukan titik temu menuju perdamaian dan saling menghargai antara kedua pihak umat merupakan satu ikhtiar yang penting”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

a)   Ini merupakan kesimpulan yang terlalu cepat, tanpa dipikir, menggelikan, dan diatas segala-galanya, tidak Alkitabiah. Hanya karena secara jasmani Kristen dan Islam berasal dari Abraham, sama sekali tidak bisa dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa kedua agama itu berhubungan dekat. Kalau memang bisa disimpulkan demikian, maka konsekwensinya adalah: semua agama berhubungan dekat, karena semua berasal dari sumber yang sama, rumpun iman Adamik!

 

b)            Jangankan Kristen dan Islam, bahkan Kristen dan agama Yahudipun secara teologis sangat berbeda dan bahkan bertentangan!

Bdk. Yoh 8:39-40 - “(39) Jawab mereka kepadaNya: ‘Bapa kami ialah Abraham.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. (40) Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham”.

 

c)            Apakah Yesus / Kitab Suci kita mengajarkan untuk mencari titik temu antara Kristen dengan agama-agama lain? Yang Dia perintahkan adalah memberitakan Injil kepada semua orang!

Mat 28:19-20 - “(19) Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”.

 

Apakah rasul-rasul dan orang-orang kristen abad pertama mencari titik temu antara Kristen dan agama Yahudi? Tidak! Yang mereka lakukan lagi-lagi adalah memberitakan Injil kepada mereka!

 

Kristen memang berbeda, dan bahkan bertentangan dengan semua agama lain. Tidak akan ada titik temu! Ini tidak berarti bahwa secara fisik kita harus bermusuhan dengan orang-orang beragama lain. Sama sekali tidak! Kita harus mengasihi semua orang, termasuk yang beragama lain (Mat 22:39). Tetapi itu tidak berarti kita harus / boleh mengkompromikan iman kita, yang memang berbeda, dan bahkan bertentangan, dengan agama-agama lain.

 

3)   Pada hal 10: (pada bagian ‘Pengantar’, oleh Dr. Tjahyadi Nugroho, MA) dikatakan sebagai berikut: “Sejak awal pembaca diajak bersepakat untuk menjadikan Alkitab dan Al-Quran sebagai fondasi kajian, ... ”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Alkitab dan Al-Quran merupakan 2 buah Kitab Suci yang bukan hanya berbeda tetapi juga bertentangan!

Sebagai contoh: dalam Alkitab dikatakan bahwa Abraham mempersembahkan Ishak, sedangkan dalam Al-Quran dikatakan bahwa Abraham mempersembahkan Ismael. Ini betul-betul 2 cerita yang bertentangan frontal; dan tidak mungkin bisa diharmoniskan!

Ini baru contoh tentang cerita, lebih-lebih kalau contoh perbedaan / pertentangan secara doktrinal! Misalnya dalam hal doktrin Allah Tritunggal, keilahian Kristus, Penebusan, keselamatan oleh iman saja, dan sebagainya.

Jadi, seseorang yang mempunyai logika, hanya bisa menerima salah satu dari kedua Kitab Suci ini sebagai yang benar. Menerima kedua-duanya merupakan tindakan tolol yang tidak mempunyai akal sehat!

 

4)   Pada hal 21: (pada bagian ‘Catatan Penulis’) dikatakan sebagai berikut: “Dalam buku ini, penulis sedapat mungkin menggunakan metode ‘kitab suci apa adanya’: membaca Al-Quran dengan metode tafsir Al-Quran bi Al-Quran, yaitu penafsiran ayat Al-Quran dengan ayat Al-Quran juga; membaca Alkitab dengan metode sola scriptura (hanya Alkitab saja) dan scriptura interpres scriptura (Alkitab ditafsirkan oleh Alkitab sendiri, ayat menjelaskan ayat), ...”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

Lagi-lagi suatu kata-kata konyol yang saling bertentangan dengan dirinya sendiri. Kalau Frans Donald memang menggunakan / mempercayai Alkitab dan Al-Quran, bagaimana mungkin ia menggunakan motto Sola Scriptura (= hanya Alkitab / Kitab Suci)?

 

Tentang metode ‘Alkitab ditafsirkan oleh ayat Alkitab sendiri, ayat menjelaskan ayat’ akan kita lihat selanjutnya apakah ia memang konsisten dengan kata-katanya di sini atau tidak.

 

5)   Pada hal 24 dikatakan sebagai berikut: “Penting dipahami, bahwa di dalam Alkitab atau Bible berbahasa Indonesia, ‘Allah pasti Tuhan tapi Tuhan belum tentu Allah’. Sebab, kata Tuhan sering muncul dalam Alkitab diterjemahkan dari adonay atau kurios alias lord, yang tidak selalu menunjuk kepada Allah (Elohim atau Theos alias God). Misalnya, tertulis bahwa Abraham (Ibrahim) oleh istrinya disebut sebagai lord. ‘... as Sarah obeyed Abraham, calling him lord.’ (1Petrus 3:6). Sarai memanggil Ibrahim tu(h)an, tapi jelas Abraham bukan Allah (God). Yesus di dalam Injil juga disebut sebagai lord (kurios), yang dalam Alkitab bahasa Indonesia diterjemahkan Tuhan. ‘God has made Jesus both Lord and Christ’ (Kisah Para Rasul 2:36), dalam Bahasa Indonesia menjadi ‘Allah telah membuat Yesus ... menjadi Tuhan dan Kristus.’ Makna kata Tu(h)an Yesus tidak berbeda dengan Tu(h)an Abraham. Dalam bahasa Jawa diterjemahkan menjadi Gusti Yesus. Yesus disebut Lord (Tuhan) bukan God (Allah). Dengan pemahaman yang benar tentang istilah penting ini, maka umat Islam tidak perlu berkeberatan jika Yesus oleh umat Nasrani disebut sebagai Tuhan. Tuhan Yesus bukan dimaksud sebagai Allah Yesus. Sementara itu, Allah (God) pasti adalah Tuhan (Tuan), bahkan Tuhan di atas segala tuhan (tuan). Seperti yang tertulis di kitab Ulangan 10:17 God is Lord of lords - Allah adalah Tuhan dari segala tuhan.’”.

 

Tanggapan Pdt. Budi Asali, M. Div.:

 

a)            Memang benar bahwa kata ADONAY atau KURIOS yang berarti ‘Tuhan’, belum tentu menunjuk kepada Allah. Jadi, sebetulnya bisa diterjemahkan ‘Tuhan’, ataupun ‘tuan’. Kontext harus menentukan terjemahan mana yang dipilih. Pada waktu kata itu diterapkan kepada Abraham, maka jelas bahwa harus diterjemahkan ‘tuan’. Tetapi pada waktu hal yang sama diterapkan kepada Yesus, maka itu betul-betul merupakan suatu pengawuran tanpa dasar. Banyak ayat Kitab Suci yang menyatakan Yesus sebagai Allah (Yes 9:5  Yoh 1:1  Yoh 20:28  Ro 9:5  Fil 2:5-7  Tit 2:13  Ibr 1:8  1Yoh 5:20  Wah 1:8), dan karena itu jelas bahwa Ia juga adalah Tuhan.

 

b)   Motto kelompok Unitarian ‘Allah pasti Tuhan tapi Tuhan belum tentu Allah’ didengungkan berulang-ulang. Tetapi dalam perdebatan terbuka antara saya dengan Frans Donald dan kawan-kawannya, kami pernah memperdebatkan tentang 1Kor 8:4-6 - “(4) Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: ‘tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.’ (5) Sebab sungguhpun ada apa yang disebut ‘allah’, baik di sorga, maupun di bumi - dan memang benar ada banyak ‘allah’ dan banyak ‘tuhan’ yang demikian - (6) namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari padaNya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup”.

Pihak Unitarian menekankan bagian yang saya beri garis bawah tunggal, yaitu kata-kata ‘bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa’. Dan mereka lalu mengatakan bahwa ini membuktikan bahwa Yesus bukan Allah.

Saya menjawab dengan mengatakan bahwa kalau kata-kata ‘bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa’ (ay 6a) menunjukkan bahwa Yesus bukan Allah, maka konsekwensinya adalah bahwa kata-kata yang saya beri garis bawah ganda, yaitu ‘satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus’ (ay 6b) harus diartikan bahwa Bapa bukan Tuhan.

Saya lalu menekan mereka dengan pertanyaan: ‘Bagi kalian Bapa itu Tuhan atau bukan? Kalau Ya, maka ada dua Tuhan, dan itu bertentangan dengan ay 6b itu’.

Catatan: perlu saudara perhatikan bahwa kata-kata ‘satu Allah’ dan ‘satu Tuhan’ dalam ay 6 kontras dengan kata-kata ‘banyak allah’ dan ‘banyak tuhan’ dalam ay 5. Yang dalam ay 5 jelas menunjuk kepada dewa-dewa palsu, tetapi yang dalam ay 6 pasti menunjuk kepada Allah / Tuhan yang sungguh-sungguh!

 

Bagi saya sebagai seorang Trinitarian, ayat ini tidak menimbulkan problem. Bapa memang Allah tetapi Yesus juga. Apakah lalu ada 2 Allah? Tidak, karena Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh 10:30). Demikian juga Yesus adalah Tuhan. Bapa juga adalah Tuhan. Apakah lalu ada 2 Tuhan? Tidak, karena Yesus dan Bapa adalah satu. Ini sesuai dengan Pengakuan Iman Athanasius yang berbunyi sebagai berikut:

“15. Thus the Father is God, The Son is God, the Holy Ghost is God.  16. And yet there are not three Gods, but one God.  17. Thus The Father is Lord, the Son is Lord, the Holy Ghost is Lord.  18. And yet there are not three Lords, but one Lord.  19. Because as we are thus compelled by Christian verity to confess each person severally to be God and Lord; so we are prohibited by the Catholic religion from saying that there are three Gods or Lords” (= 15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan) - A. A. Hodge, ‘Outlines of Theology’, hal 117-118.

 

Tetapi bagi pihak Unitarian, yang mempercayai bahwa Bapa dan Yesus itu betul-betul merupakan 2 pribadi yang terpisah total, maka 1Kor 8:6 ini pasti menjadi seperti duri dalam mata mereka!

 

Mereka berputar-putar tak mau menjawab pertanyaan saya. Tetapi saya tekan terus, sehingga akhirnya Frans Donald dan Benny mengatakan (dengan terpaksa) bahwa dalam kontext itu Bapa bukan Tuhan!

Yang saya ingin tanyakan adalah: lalu kemana motto mereka bahwa Allah pasti Tuhan tapi Tuhan belum tentu Allah’????

 

 

-AMIN-


e-mail us at [email protected]