Pembahasan
ajaran Pdt. Stephen Tong
berkenaan
dengan
keselamatan
Seorang filosof Cina.
Pendahuluan:
Penayangan
beberapa cuplikan dari VCD Pdt. Stephen Tong berjudul ‘falsafah Asia’, yaitu
VCD no 7 dan no 10, yang antara lain mengajarkan:
·
ketidak-pastian Pdt. Stephen Tong
berkenaan dengan selamat atau tidaknya seorang filosof Cina.
·
anggapan Pdt. Stephen Tong bahwa
filosof Cina itu baik.
·
pengharapan Pdt. Stephen Tong untuk
bertemu dengan filosof Cina itu di surga, dan pengharapannya supaya orang
‘seperti begini’ diterima oleh Tuhan di surga.
·
penggunaan Kis 10:35 untuk
menunjukkan bahwa sebelum seseorang diselamatkan, kebajikannya bisa diterima
oleh Tuhan.
·
bahwa orang Kristen dan hamba-hamba
Tuhan harus belajar dari ajaran filosof Cina itu untuk membantu mereka menjadi
orang-orang Kristen yang lebih bertanggung jawab.
·
bahwa ajaran filosof Cina itu
merupakan respons manusia terhadap wahyu umum dari Allah.
Catatan: supaya tidak
menyinggung para pengikut dari filosof Cina itu maka saya tidak mencantumkan
namanya.
Pembahasan ajaran Pdt. Stephen Tong ini.
Pada
saat ditanya tentang keselamatan seorang filosof Cina tertentu, Pdt. Stephen
Tong memang tidak mengatakan bahwa filosof Cina itu selamat, tetapi:
1)
Pdt. Stephen Tong menunjukkan ketidak-pastian; dan menurut saya ini
sudahlah merupakan ajaran sesat.
Jangan
kira seseorang baru sesat kalau ia mengatakan bahwa orang yang tidak percaya pasti
masuk surga. Menurut saya, tidak memastikan orang yang tidak percaya
masuk neraka, sudah termasuk ajaran sesat.
Sama
saja, dalam persoalan keilahian Kristus. Apakah seseorang baru dianggap sesat
kalau seseorang menegaskan bahwa Kristus bukan Allah? Apakah ia tidak
sesat kalau ‘hanya’ mengatakan bahwa Kristus belum tentu adalah
Allah?
Bandingkan
dengan kata-kata William Barclay tentang kelahiran Kristus dari seorang perawan.
William
Barclay:
“This
passage tells us how Jesus was born by the action of the Holy Spirit. It tells
us what we call the Virgin Birth. This is a doctrine which presents us with many
difficulties; and our Church does not compel us to accept it in the literal and
the physical sense. This is one of the doctrines on which the Church says that
we have full liberty to come to our own conclusion. ... what it stresses is not
so much that Jesus was born of a woman who was a virgin, as that the birth of
Jesus is the work of the Holy Spirit” (= Text ini memberitahu kita bagaimana Yesus dilahirkan oleh
tindakan dari Roh Kudus. Text ini memberitahu kita apa yang kita sebut kelahiran
dari perawan. Ini adalah suatu doktrin yang memberi kita banyak kesukaran; dan
Gereja kita tidak memaksa kita untuk menerimanya dalam arti hurufiah dan fisik.
Ini adalah salah satu dari doktrin-doktrin tentang mana Gereja berkata bahwa
kita mempunyai kebebasan penuh untuk datang pada kesimpulan kita sendiri. ...
apa yang ditekankan bukanlah bahwa Yesus dilahirkan dari seorang perempuan yang
adalah seorang perawan, tetapi bahwa kelahiran Yesus merupakan pekerjaan dari
Roh Kudus) - ‘The
Gospel of Matthew’, hal 20.
William
Barclay:
“In
this passage we are face to face with one of the great controversial doctrines
of the Christian faith - the Virgin Birth. The Church does not insist that we
believe in this doctrine” (= Dalam
text ini kita berhadapan muka dengan salah satu doktrin yang kontroversial dari
iman Kristen - kelahiran dari perawan. Gereja tidak mendesak / memaksa supaya
kita percaya pada doktrin ini)
- ‘The Gospel of Luke’, hal 12.
William
Barclay: “The
Jews had a saying that in the birth of every child there are three partners -
the father, the mother and the Spirit of God. They believed that no child could
be born without the Spirit. And it may well be that the New Testament stories of
the birth of Jesus are lovely, poetical ways of saying that, even if he had a
human father, the Holy Spirit of God was operative in his birth in a unique way.
In this matter we may make our own decision. It may be that we will desire to
cling to the literal doctrine of the virgin birth; it may be that we will prefer
to think of it as a beautiful way of stressing the presence of the Spirit of God
in family life”
(= Orang-orang Yahudi mempunyai pepatah yang berkata
bahwa dalam kelahiran dari setiap anak ada 3 orang yang bekerja sama - sang
ayah, sang ibu dan Roh Allah. Mereka percaya bahwa tidak ada anak yang bisa
dilahirkan tanpa Roh. Dan bisa saja bahwa cerita-cerita Perjanjian Baru tentang
kelahiran Yesus adalah cara yang indah dan puitis untuk mengatakan bahwa
kalaupun Yesus mempunyai ayah manusia, Roh Kudus Allah bekerja dalam
kelahiranNya dalam suatu cara yang unik. Dalam persoalan ini kita boleh membuat
keputusan kita sendiri. Bisa saja bahwa kita mau berpegang pada doktrin hurufiah
tentang kelahiran dari perawan; bisa saja bahwa kita lebih memilih untuk
menganggapnya sebagai suatu cara yang indah untuk menekankan kehadiran dari Roh
Allah dalam kehidupan keluarga) - ‘The Gospel of Luke’, hal
13.
Jelas
bahwa Barclay tidak menegaskan bahwa Yesus tidak dilahirkan dari seorang
perawan, tetapi ia juga tidak berkeras tentang hal itu. Kasarnya, kalau ada yang
mau percaya hal itu, boleh, tetapi kalau ada yang tak mau percaya, juga tidak
apa-apa. Apakah yang seperti ini tidak sesat?
2)
Pdt. Stephen Tong mengatakan: “kalau diselamatkan, bagaimana
diselamatkan tanpa mendengar Injil. Kalau tidak diselamatkan, kasihan ya, orang
begini baik”.
Kata-kata
bahwa ‘filosof Cina itu baik’ bertentangan dengan:
a)
Doktrin Total Depravity (=
Kebejatan Total) yang merupakan ajaran Reformed.
Doktrin
ini juga sering disebut dengan istilah Total Inability (= Ketidak-mampuan
Total).
Doktrin
ini jelas menekankan bahwa manusia di luar Kristus / yang belum beriman, tidak
mungkin bisa berbuat baik sama sekali.
Calvin:
“For
our nature is not only destitute and empty of good, but so fertile and fruitful
of every evil that it cannot be idle” [= Karena
kita bukan hanya miskin / melarat dan kosong dalam hal baik, tetapi begitu subur
dan banyak berbuah dalam setiap kejahatan sehingga kita tidak bisa malas /
menganggur (dalam hal berbuat jahat)]
- ‘Institutes of the Christian
Religion’, Book II, Chapter I, no 8.
Bagaimana
Pdt. Stephen Tong yang mengaku Reformed bisa menganggap orang yang tidak percaya
seperti filosof Cina itu sebagai ‘baik’ merupakan sesuatu yang tidak bisa
saya mengerti.
b)
Bandingkan dengan banyak ayat Kitab Suci seperti:
1.
Yer 4:22 - “Sungguh, bodohlah umatKu itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka
adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk
berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu”.
2.
Yer 13:23 - “Dapatkah orang Etiopia mengganti kulitnya atau macan tutul mengubah
belangnya? Masakan kamu dapat berbuat baik, hai orang-orang yang membiasakan
diri berbuat jahat?”.
3.
Mat 7:16-18 - “(16) Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.
Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput
duri? (17) Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik,
sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. (18) Tidak
mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon
yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik”.
Text ini menunjukkan bahwa pohon yang tidak
baik tidak bisa menghasilkan buah yang baik. Gara-gara dosa Adam, maka semua
manusia lahir sebagai orang berdosa (pohon yang tidak baik), dan karena itu
jelas bahwa tidak ada orang yang bisa menghasilkan buah yang baik / perbuatan
baik.
4.
Yoh 8:34b - “setiap orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa”.
Istilah
‘hamba’ perlu ditekankan di sini. Dengan manusia dinyata-kan sebagai
‘hamba dosa’, itu jelas menunjukkan bahwa ia selalu / terus menerus menuruti
dosa, dan tidak bisa berbuat baik.
5.
Yoh 15:4-5 - “(4) Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti
ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada
pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di
dalam Aku. (5) Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa
tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku
kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.
Ini
jelas menunjukkan bahwa sama seperti ranting anggur tidak bisa berbuah kalau
tidak melekat pada pokok anggur, demikian juga manusia di luar Kristus sama
sekali tidak bisa berbuat apapun yang baik.
6.
Ro 3:10-18 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar,
seorangpun tidak. (11) Tidak ada
seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12)
Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang
berbuat baik, seorangpun tidak. (13) Kerongkongan mereka seperti kubur yang
ternganga, lidah mereka merayu-rayu, bibir mereka mengandung bisa. (14) Mulut
mereka penuh dengan sumpah serapah, (15) kaki mereka cepat untuk menumpahkan
darah. (16) Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka, (17)
dan jalan damai tidak mereka kenal; (18) rasa takut kepada Allah tidak ada pada
orang itu.’”.
7.
Ro 6:20 - “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran”.
8.
Ro 7:18-19 - “(18) Sebab aku tahu bahwa di dalam aku sebagai manusia, tidak ada
sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal
berbuat apa yang baik. (19) Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik,
yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang
aku perbuat”.
Dari
ayat ini kelihatan sepintas bahwa dalam diri manusia ada kehendak yang baik.
Tetapi jelas bahwa ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa dalam diri manusia
berdosa di luar Kristus itu sendiri bisa ada kehendak yang baik, karena:
a.
Penafsiran ini akan bertentangan dengan Ro 7:18nya yang mengatakan ‘tidak
ada sesuatu yang baik’.
b.
Penafsiran ini juga akan bertentangan dengan Fil 2:13 yang berbunyi:
“karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun
pekerjaan menurut kerelaanNya”.
Ini
terjemahannya kurang jelas. Perhatikan terjemahan-terjemahan Kitab Suci bahasa
Inggris di bawah ini:
KJV:
“For
it is God which worketh in you both to will and to do of his good
pleasure”
(= Karena Allahlah yang bekerja dalam kamu baik untuk menghendaki maupun
untuk melakukan kehendakNya yang baik).
RSV:
“for God is at work in you, both to will and to work for his
good pleasure” (= karena Allah bekerja dalam kamu, baik untuk
menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).
NASB:
“for it is God who is at work in you, both to will and to work
for His good pleasure” (= karena Allahlah yang bekerja dalam ka-mu, baik
untuk menghendaki maupun untuk mengerjakan untuk kehendakNya yang baik).
NIV:
“for it is God who works in you to will and to act according to
his good purpose” (= karena Allahlah yang bekerja dalam kamu untuk
menghendaki dan untuk berbuat menurut rencanaNya yang baik).
Ini
menunjukkan bahwa baik keinginan maupun kemampuan untuk melakukan
apa yang baik itu datang dari Tuhan.
Jadi,
Ro 7:18-19 ini bukan menggambarkan Paulus pada waktu belum kristen, tetapi
sesudah ia menjadi kristen (perhatikan bahwa ayat itu menggunakan present
tense, bukan past tense). Karena
itu ia sudah mempunyai kemauan / kehendak yang baik (dari Roh Kudus), tetapi
bagaimanapun apa yang ia capai / lakukan jauh lebih rendah dari apa yang ia
kehendaki, dan berdasarkan pengalaman itu ia menuliskan ayat itu.
9.
Ro 8:7-8 - “(7) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap
Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak
mungkin baginya. (8) Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan
kepada Allah”.
10.
Tit 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang
najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik
akal maupun suara hati mereka najis”.
Catatan:
memang dari ayat-ayat di atas ada yang bisa ditafsirkan hanya berlaku untuk
orang-orang tertentu saja (misalnya Yer 4:22 di atas), tetapi pada umumnya,
bahkan sebetulnya mungkin bisa dikatakan semuanya, adalah ayat-ayat yang berlaku
umum (untuk semua manusia berdosa di luar Kristus).
Memang,
manusia bisa melakukan kebaikan-kebaikan sosial / lahiriah, misalnya pada waktu
melihat orang miskin / menderita lalu menolongnya, bahkan tanpa pamrih. Tetapi
apakah itu bisa disebut sebagai perbuatan baik di hadapan Allah? Tidak!
Mengapa? Karena dalam pandangan Tuhan, supaya suatu perbuatan bisa disebut baik,
maka harus dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.
Perbuatan baik itu harus dilakukan karena cinta kepada Allah (Yoh 14:15).
Yoh 14:15
- “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu
akan menuruti segala perintahKu”.
2.
Perbuatan baik itu harus dilakukan untuk kemuliaan Allah (1Kor 10:31).
1Kor 10:31
berbunyi: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan
sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah”.
Semua
ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang ada di luar Kristus! Bdk. Ro 3:10,11,18
yang menunjukkan bahwa orang berdosa itu semuanya tidak berakal budi, tidak
mencari Allah dan tidak mempunyai rasa takut kepada Allah.
Kalau
syarat-syarat di atas ini tidak dipenuhi, maka bisalah dikatakan bahwa pada
waktu orang itu melakukan ‘perbuatan baik’, ia melakukannya tanpa
mempedulikan Allah! Bisakah ‘perbuatan baik’ seperti itu disebut baik?
Penerapan:
a.
Kalau saudara percaya bahwa seseorang bisa selamat / masuk surga karena
berbuat baik, maka renungkan bagian ini, dan bertobatlah dari doktrin /
kepercayaan sesat itu! Manusia tidak bisa berbuat baik, dan karena itu
membutuhkan Kristus sebagai Juruselamatnya untuk bisa selamat / masuk surga!
b.
Masihkah saudara percaya bahwa semua agama lain (yang mengandalkan
perbuatan baik manusia) bisa memberikan keselamatan?
3)
Keselamatan filosof Cina itu terserah Tuhan.
Kata-kata
seperti ini kelihatannya saleh, tetapi sebetulnya salah! Apakah terserah Tuhan
untuk menentukan filosof Cina itu selamat atau tidak? Kalau dalam kenyataannya
filosof Cina itu memang tidak percaya sampai mati, apakah keselamatannya
terserah Tuhan? Bisakah Tuhan memasukkan dia ke surga kalau dia tidak percaya?
Ingat, bahwa Tuhan tidak bisa melakukan apapun menentang firmanNya sendiri.
Firman
yang mana? Ro 2:12 - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat
akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum
Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat”.
Filosof
Cina itu hidup sekitar 500 tahun sebelum Kristus (551 - 479 S.M. - Encyclopedia
Britannica 2008), dan karena itu termasuk jaman Perjanjian Lama. Pada jaman itu
yang di Israel mempunyai hukum Taurat, sedangkan yang di luar Israel disebut
‘tanpa hukum Taurat’. Dan Ro 2:12a itu mengatakan bahwa ‘semua
orang yang berdosa tanpa hukum Taurat, akan binasa tanpa hukum Taurat’.
Kata ‘binasa’ tak memungkinkan
diartikan ‘selamat / masuk surga’. Sudah pasti artinya ‘masuk neraka’.
Tetapi apa artinya ‘binasa tanpa hukum Taurat’? Artinya mereka
dihakimi bukan dengan menggunakan hukum Taurat (karena mereka tak pernah tahu /
mendengar tentang hukum Taurat). Jadi, mereka dihakimi oleh hukum hati nurani.
Ini terlihat dari kontext Ro 2 itu, dimana kalau saudara membaca sambungannya,
saudara akan melihat dengan jelas bahwa Paulus berbicara tentang hati nurani.
Ro
2:12-16 - “(12) Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan
binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat
akan dihakimi oleh hukum Taurat. (13) Karena bukanlah orang yang mendengar hukum
Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah
yang akan dibenarkan. (14) Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki
hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum
Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum
Taurat bagi diri mereka sendiri. (15) Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa
isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut
bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. (16) Hal itu
akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan,
akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus
Yesus.”.
Ay 14-15
jelas berbicara tentang hati nurani. Tidak mungkin ada orang bisa hidup sepenuhnya
sesuai dengan hati nuraninya, termasuk filosof Cina itu. Dan jangan pernah
berpikir bahwa kalau seseorang mentaati 90 % atau bahkan 99,99 % dorongan /
bisikan hati nuraninya, maka ia akan masuk surga. Lalu siapa yang membayar
hutang dosa yang 10 % atau bahkan 0,001 % itu? Ingat bahwa Allah itu adil, dalam
arti Ia pasti akan menghukum setiap dosa, bahkan yang sekecil apapun. Hanya
kalau seseorang mempunyai Penebus / Juruselamat, maka ia tidak lagi harus
membayar hutang dosanya. Tetapi untuk orang yang tidak mempunyai Penebus /
Juruselamat, dan filosof Cina itu jelas termasuk di sini, ia harus membayar
sendiri semua hutang dosanya. Jadi, karena semua orang pasti melanggar hukum
hati nurani ini, maka tak ada orang yang bisa lulus dalam penghakiman
berdasarkan hati nurani itu. Karena itu semua pasti binasa. Perhatikan kata-kata
‘semua orang’ dalam Ro 2:12a itu!
Catatan:
hal yang sama berlaku untuk orang yang mempunyai hukum Taurat. Mereka harus taat
secara sempurna (100 %), baru mereka bisa selamat. Kalau tidak taat 100 %,
mereka harus percaya kepada Yesus untuk bisa selamat. Karena itulah maka kita
mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga!
Kalau
Firman Tuhan mengatakan demikian, Tuhan tidak bisa melakukan hal yang lain. Ia
harus melakukan sesuai dengan Firman Tuhan. Ia tidak mungkin melanggar FirmanNya
sendiri.
4)
Pdt. Stephen Tong berharap untuk bertemu dengan filosof Cina itu di
surga, atau ia berharap supaya filosof Cina itu diterima oleh Tuhan. Tetapi ia
lalu menambahkan bahwa hal itu Tuhan yang tetapkan, bukan dia yang tetapkan.
a)
Mengharapkan untuk bertemu dengan filosof Cina itu di surga, atau
mengharapkan supaya filosof Cina itu diterima oleh Tuhan, kelihatannya penuh
kasih, tetapi sebetulnya sama dengan mengatakan ‘saya berharap Firman Tuhan
salah’.
Penerapan:
hal yang sama terjadi kalau saudara mengharapkan seseorang yang mati tanpa
Kristus untuk diterima oleh Tuhan / masuk surga. Atau kalau saudara berdoa
supaya seseorang yang mati tanpa Kristus itu bisa masuk surga. Ini sama dengan
mengharapkan / berdoa supaya Firman Tuhan salah.
b)
Kata-katanya ‘saya berharap orang seperti begini diterima oleh
Tuhan’, tidak bisa tidak memaksudkan ‘orang sebaik ini’. Jadi, ini jelas
mengarah pada doktrin sesat ‘salvation
by works’ (= keselamatan oleh perbuatan baik).
Pdt.
Stephen Tong memang secara sangat jelas menunjukkan kekaguman yang luar biasa
terhadap kesalehan filosof Cina itu (yang ia katakan bukan hanya mengajarkan,
tetapi sungguh-sungguh melakukan, dan juga ia katakan sebagai ‘sungguh-sungguh
jujur’, dsb), padahal ia juga mengatakan bahwa dalam ajaran filosof Cina itu
hanya ada ajaran horizontal (berhubungan dengan sesama manusia), dan sama sekali
tak ada ajaran vertikal (berhubungan dengan Allah). Jadi, kalau dihubungkan
dengan 10 hukum Tuhan, maka hukum 5-10 ada dalam ajaran filosof Cina itu, tetapi
hukum 1-4 tidak ada.
c)
Ia menambahkan bahwa filosof Cina itu masuk surga atau tidak, itu
ditetapkan oleh Tuhan.
Lagi-lagi
menurut saya, ini merupakan pernyataan yang aneh dan salah, dan tak sesuai
dengan doktrin Reformed maupun Kitab Suci. Mengapa?
1.
Penetapan Tuhan (predestinasi) dilakukan sejak dunia belum dijadikan.
Kalau pada saat itu Tuhan memang menetapkan bahwa filosof Cina itu masuk surga,
Tuhan tidak mungkin tidak menentukan juga cara / jalan dengan mana filosof Cina
itu bisa mendengar Injil (Firman Tuhan / Perjanjian Lama), sehingga ia bisa
percaya dan diselamatkan, sama seperti Naaman, Rahab, Rut, dsb. Kalau Tuhan,
dalam kenyataannya, tidak pernah memberi kesempatan bagi filosof Cina itu untuk
mendengar Injil (Firman Tuhan / Perjanjian Lama) maka sudah jelas bahwa Ia tidak
menentukan supaya filosof Cina itu diselamatkan.
2.
Pdt. Stephen Tong tidak mengatakan pernyataan seperti ini tentang
orang-orang lain yang mati tanpa Kristus / tanpa mendengar Injil / Firman Tuhan.
Ia hanya mengatakan ini tentang filosof Cina tertentu itu. Berarti, secara
implicit, ia berpendapat bahwa kesalehan filosof Cina itu yang menjadi alasan
penentuan / penetapan Tuhan tersebut. Tetapi kapan Tuhan melakukan penentuan
itu? Pada saat dunia belum dijadikan, bukan? Pada saat itu kesalehan filosof
Cina itu belum ada. Jadi, bagaimana itu bisa dijadikan dasar untuk menetapkan
dia untuk selamat? Atau, Pdt. Stephen Tong menganggap, seperti pandangan
Arminian, bahwa Tuhan sudah melihat lebih dulu kesalehan filosof Cina itu, dan
karena itu lalu menetapkannya supaya selamat / masuk surga? Kalau ya, ini jelas
bertentangan dengan doktrin Reformed yang mempercayai ‘Unconditional
Election’ (= Pemilihan yang tidak bersyarat). Juga menyalahi
beberapa text Kitab Suci, seperti:
a.
Ro 9:10-13 - “(10) Tetapi bukan
hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari satu orang,
yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11) Sebab waktu anak-anak itu belum
dilahirkan dan belum melakukan yang baik atau yang jahat, - supaya rencana Allah
tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan
panggilanNya – (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak yang tua akan menjadi
hamba anak yang muda,’ (13) seperti ada tertulis: ‘Aku mengasihi Yakub,
tetapi membenci Esau.’”.
b.
2Tim 1:9 - “Dialah yang
menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan
berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karuniaNya
sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum
permulaan zaman”.
5)
Pdt. Stephen Tong membuka peluang diberikannya wahyu khusus dan / atau
anugerah khusus kepada filosof Cina itu.
a)
Yang perlu dipertanyakan adalah: mengapa gerangan Pdt. Stephen Tong
membuka peluang ini bagi filosof Cina itu, padahal ia tidak mempunyai bukti
apapun untuk hal ini? Apakah ia membuka peluang yang sama untuk orang-orang
lain? Kalau untuk filosof Cina tertentu itu ia membuka peluang, tetapi untuk
orang-orang lain tidak, apa alasannya untuk membedakan filosof Cina itu dari
orang-orang lain? Karena ia baik / lebih baik dari orang-orang yang lain? Kalau
demikian, lagi-lagi ini menjurus pada keselamatan karena perbuatan baik, dan ini
adalah ajaran sesat!
b)
Mengenai wahyu khusus, memang kalau Tuhan mau, bisa saja ia berfirman /
memberitakan Injil / Firman Tuhan secara langsung / melalui malaikat kepada
filosof Cina itu. Tetapi kalau ini terjadi, dan filosof Cina itu memang lalu
percaya, bagaimana mungkin dalam ajarannya sama sekali tak ada yang berhubungan
dengan Allah (ajaran yang sifatnya vertikal)?
c)
Mengenai anugerah khusus / kasih karunia khusus, ini merupakan sesuatu
yang kontradiksi dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong yang mengharapkan orang seperti
begini (yang sesaleh ini) diterima oleh Tuhan.
Mengapa
saya katakan bertentangan? Karena ‘keselamatan
karena kasih karunia’ memang bertentangan dengan ‘keselamatan
karena perbuatan baik’. Kalau kita diselamatkan karena perbuatan baik, itu
jelas bukan karena kasih karunia. Dan sebaliknya, kalau kita diselamatkan karena
kasih karunia, maka jelas perbuatan baik kita sama sekali tak punya andil dalam
keselamatan itu.
Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
1.
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu
diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil
usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan
hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri”.
2.
Ro 11:5-6 - “(5) Demikian juga pada waktu ini ada tinggal suatu
sisa, menurut pilihan kasih karunia. (6) Tetapi jika hal itu terjadi karena
kasih karunia, maka bukan lagi karena perbuatan, sebab jika tidak demikian, maka
kasih karunia itu bukan lagi kasih karunia”.
3.
Tit 3:4-7 - “(4) Tetapi ketika nyata kemurahan Allah,
Juruselamat kita, dan kasihNya kepada manusia, (5) pada waktu itu Dia telah
menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik
yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmatNya oleh permandian
kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, (6) yang
sudah dilimpahkanNya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, (7)
supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karuniaNya, berhak
menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita”.
6)
Pdt. Stephen Tong membandingkan Kornelius dengan filosof Cina itu.
Ia
mengutip Kis 10:35 (ia tidak menyebut ayatnya, tetapi yang ia maksudkan
pasti Kis 10:35, tidak ada yang lain), yang ia kutip secara serampangan, dan
mengatakan bahwa ada orang yang menganggap ayat itu merupakan dasar bahwa orang
seperti filosof Cina itu bisa diselamatkan. Ia memang tak mempercayai hal itu,
tetapi ia tetap menegaskan bahwa ayat itu menunjukkan bahwa sebelum Kornelius
diselamatkan, kebajikannya sudah diterima oleh Tuhan. Secara implicit, ia
memaksudkan bahwa sekalipun filosof Cina itu tak percaya, bisa saja kebaikannya
/ kebajikannya diterima oleh Tuhan.
Kis 10:35
(versi Pdt. Stephen Tong): “ternyata
semua orang yang baik di dunia diterima oleh Tuhan”.
Kis 10:35
- “Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang
mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.
Ada
beberapa hal yang perlu dipersoalkan tentang hal ini:
a)
Penekanan dari ayat ini, kalau dilihat dari seluruh kontext (Kis 10),
adalah bahwa Tuhan tidak membedakan antara orang Yahudi dan orang non Yahudi.
Tetapi
justru kata-kata ‘dari bangsa manapun’ dalam Kis 10:35 ini dihapuskan oleh Pdt.
Stephen Tong pada waktu ia mengutip ayat ini secara serampangan!
b)
Pdt. Stephen Tong mengatakan ‘orang
yang baik’, tetapi ay 35 sebetulnya mengatakan ‘takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran’. Ini merupakan dua
hal yang sangat berbeda.
Banyak
penafsir yang menganggap bahwa kata-kata ‘takut
akan Allah’ menunjuk pada kesalehan terhadap Allah,
sedangkan kata-kata ‘mengamalkan kebenaran’ menunjuk pada kesalehan terhadap sesama manusia.
Jadi, kata-kata ‘takut
akan Allah dan mengamalkan kebenaran’
tentu tidak bisa secara serampangan diganti dengan kata-kata ‘orang yang baik’!
Bahwa
memang banyak penafsir beranggapan demikian, akan saya buktikan dengan
menunjukkan beberapa kutipan dari para penafsir di bawah ini, termasuk dari
Calvin.
Barnes’
Notes: “‘He
that feareth him.’ This is put for piety toward God in general. ...
‘And worketh righteousness.’ Does what is right and just. This refers to his
conduct toward man. ... These two things comprehend the whole of
religion, the sum of all the requirements of God - piety toward God, and justice
toward people; and as Cornelius had showed these, he showed that, though a
Gentile, he was actuated by true religion”
(= ‘Ia yang takut akan Dia’. Ini dikemukakan untuk kesalehan terhadap
Allah secara umum. ... ‘Dan mengamalkan kebenaran’. Melakukan apa yang
benar dan adil. Ini menunjuk kepada tingkah lakunya terhadap manusia. ...
Kedua hal ini mencakup seluruh agama, total dari semua tuntutan Allah -
kesalehan terhadap Allah, dan keadilan terhadap orang-orang; dan karena
Kornelius telah menunjukkan hal-hal ini, ia menunjukkan bahwa, sekalipun ia
seorang non Yahudi, ia digerakkan oleh agama yang benar).
Adam
Clarke: “‘fears
God,’ worships him alone (for this is the true meaning of the word), and
‘worketh righteousness,’ abstains from all evil, gives to all their due,
injures neither the body, soul, nor reputation of his neighbour”
(= ‘takut akan Allah’, menyembah Dia saja (karena
ini adalah arti yang benar dari kata ini), dan ‘mengamalkan kebenaran’,
menjauhkan diri dari semua kejahatan, memberikan kepada semua orang hak mereka,
tidak menyakiti / melukai tubuh, jiwa ataupun reputasi / nama baik dari
sesamanya).
Matthew
Henry: “Observe,
Fearing God, and working righteousness, must go together; for, as righteousness
towards men is a branch of true religion, so religion towards God is a branch of
universal righteousness. Godliness and honesty must go together, and neither
will excuse for the want of the other” (= Perhatikan,
Takut akan Allah, dan mengamalkan kebenaran, harus berjalan bersama-sama; karena
sebagaimana kebenaran terhadap sesama manusia merupakan suatu cabang dari agama
yang benar, demikian juga agama terhadap Allah merupakan suatu cabang dari
kebenaran universal. Kesalehan dan kejujuran harus berjalan bersama-sama, dan
tidak ada satu yang memberi alasan absennya yang lain).
Calvin:
“‘He which feareth
God, and doth righteousness.’ In
these two members is comprehended the integrity of all the whole life. For the
fear of God is nothing else but godliness and religion; and ‘righteousness’ is that equity which men use among themselves,
taking heed lest they hurt any man, and studying to do good to all men. As the
law of God consisteth upon (of) these two parts, (which is the rule of good
life) so no man shall prove himself to God but he which shall refer and direct
all his actions to this end, neither shall there be any sound thing in all
offices, (duties,) unless the whole life be grounded in the fear of God”
[= ‘Ia yang takut akan Allah, dan mengerjakan
kebenaran’. Dalam kedua anggota / bagian ini tercakup integritas / kelurusan
dari seluruh kehidupan. Karena rasa takut akan Allah bukan lain dari kesalehan
dan agama; dan ‘kebenaran’ adalah keadilan yang digunakan manusia di antara
diri mereka sendiri, dengan memperhatikan supaya mereka tidak menyakiti manusia
manapun, dan belajar untuk melakukan apa yang baik kepada semua manusia. Seperti
hukum Taurat Allah terdiri dari kedua bagian ini, (yang adalah peraturan dari
kehidupan yang baik) demikianlah tidak ada seorangpun yang akan membuktikan
dirinya kepada Allah kecuali ia yang menyerahkan dan mengarahkan semua
tindakan-tindakannya pada tujuan ini, dan tidak ada hal yang sehat apapun dalam
semua kewajiban, kecuali seluruh kehidupan didasarkan pada rasa takut akan
Allah].
Jadi,
Calvin menganggap bahwa kehidupan yang benar harus bersifat vertikal (kepada
Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia). Dengan demikian, ay 35
ini tidak mungkin diterapkan kepada filosof Cina itu, karena menurut Pdt.
Stephen Tong sendiri, ajaran filosof Cina itu hanya berurusan dengan sesama
manusia dan tidak ada yang berurusan dengan Allah. Kalau dihubungkan dengan 10
hukum Tuhan, maka Pdt. Stephen Tong berkata bahwa hukum 5-10 ada dalam ajaran
filosof Cina itu, tetapi hukum 1-4 tidak ada.
c)
Kornelius sama sekali tak bisa disamakan dengan filosof Cina itu, karena:
1.
Kornelius, sekalipun ia adalah orang non Yahudi (dalam hal ini ia sama
dengan filosof Cina itu), tetapi pasti sudah mendengar Firman Tuhan, khususnya
Perjanjian Lama (dalam hal ini ia berbeda dengan filosof Cina itu).
2.
Kornelius pasti adalah orang beriman, biarpun imannya merupakan iman
Perjanjian Lama (percaya kepada Mesias yang akan datang); dan lagi-lagi dalam
hal ini ia sangat berbeda dengan filosof Cina itu.
Berdasarkan
apa saya yakin bahwa ia mempunyai iman Perjanjian Lama? Perhatikan text di bawah
ini.
Kis 10:2-3,22,30
- “(2) Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi
banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. (3) Dalam
suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya seorang
malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: ‘Kornelius!’ ...
(22) Jawab mereka: ‘Kornelius, seorang perwira yang tulus hati dan takut akan
Allah, dan yang terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi, telah menerima
penyataan Allah dengan perantaraan seorang malaikat kudus, supaya ia mengundang
engkau ke rumahnya dan mendengar apa yang akan kaukatakan.’ ... (30) Jawab
Kornelius: ‘Empat hari yang lalu kira-kira pada waktu yang sama seperti
sekarang, yaitu jam tiga petang, aku sedang berdoa di rumah. Tiba-tiba ada
seorang berdiri di depanku, pakaiannya berkilau-kilauan”.
Dari
text ini terlihat bahwa:
a.
Ia berdoa pada pk 3 petang, yang merupakan jam doa Yahudi (ay 3,30).
Adam
Clarke: “It
was about the ninth hour of the day, answering to our three o’clock in the
afternoon (see note at Acts 3:1), the time of public prayer, according to the
custom of the Jews” [= Itu
kira-kira jam yang ke 9 dari hari itu, sesuai dengan pk. 3 petang (lihat catatan
pada Kis 3:1), saat doa umum, menurut kebiasaan orang-orang Yahudi].
b.
Ia banyak memberi sedekah kepada orang-orang Yahudi (ay 2)!
Perhatikan
bahwa di sini dikatakan bahwa ia memberi banyak sedekah secara khusus kepada
umat Yahudi. Ia bisa melakukan hal itu, tidak bisa tidak, karena ia setuju
dengan ajaran agama mereka, dan merasa berhutang budi pada ajaran agama mereka
yang telah ia terima sebagai kebenaran!
Lenski:
“Cornelius cultivated the two outstanding virtues of the Jewish
religion: he gave abundant alms and he was diligent in prayer. The
beneficiaries of his charity were ‘the people,’ lao~ so often
signifying the Jewish people. He had found so much through them that he made
generous and grateful return” [= Kornelius mengusahakan 2 hal baik yang
menonjol / terkemuka dalam agama Yahudi: ia memberi banyak sedekah dan ia
rajin / tekun dalam doa. Penerima dari kemurahan hatinya adalah ‘bangsa
itu’, lao~
(LAOS) begitu sering menunjuk kepada bangsa Yahudi. Ia telah
mendapatkan begitu banyak melalui mereka sehingga ia melakukan balasan yang
murah hati dan penuh terima kasih] -
hal 395.
c.
Ia terkenal baik di antara seluruh bangsa Yahudi (ay 22).
Calvin (tentang ay
22): “‘Cornelius,
a just man.’ Cornelius’ servants
commend their master not ambitiously, or to the end they may flatter him, but
that Peter may the less abhor his company. And for this cause they say that
he was approved of the Jews, that Peter may know that he was not estranged
from true and sincere godliness. For even those which were superstitious, though
they served idols, did boast that they were worshippers of God. But Cornelius
could not have the Jews, who retained the worship of the true God alone, to be
witnesses of his godliness, unless he had professed that he worshipped the God
of Abraham with them”
(= ‘Kornelius, orang benar’. Pelayan-pelayan
Kornelius memuji tuan mereka bukan secara ambisius, atau dengan tujuan untuk
menjilatnya, tetapi supaya Petrus bisa berkurang dalam kejijikannya terhadap
kumpulannya. Dan untuk alasan ini mereka berkata bahwa ia direstui oleh
orang-orang Yahudi, supaya Petrus tahu bahwa ia bukanlah orang yang asing /
jauh dari kesalehan yang benar dan tulus. Karena bahkan mereka yang mempercayai
takhyul, sekalipun mereka menyembah berhala, membanggakan diri bahwa mereka
adalah penyembah-penyembah Allah. Tetapi Kornelius tidak bisa mempunyai
orang-orang Yahudi, yang mempertahankan penyembahan terhadap Allah yang benar
saja, menjadi saksi-saksi dari kesalehannya, kecuali ia telah mengaku bahwa ia
menyembah Allah dari Abraham bersama mereka).
Calvin,
dalam kata-katanya yang telah saya kutip di atas ini, secara benar menjadikan
ini sebagai bukti bahwa Kornelius pasti setuju dengan agama Yahudi, karena kalau
tidak, tidak mungkin ia akan terkenal baik dalam kalangan bangsa Yahudi.
Ingat
bahwa orang-orang Yahudi adalah bangsa yang sangat fanatik dalam hal agama, dan
karena itu tidak mungkin sekedar karena sedekah dari Kornelius kepada
orang-orang Yahudi menyebabkan ia bisa terkenal baik dalam kalangan orang-orang
Yahudi, kalau ia tidak setuju dengan agama Yahudi.
d.
Ia disebut sebagai ‘orang yang
benar’.
Dalam
ay 22 Kitab Suci Indonesia menyebutkan Kornelius sebagai seorang perwira yang ‘tulus
hati’. Ini terjemahan yang salah.
KJV:
‘a just man’ (= seorang yang adil / benar).
RSV:
‘an upright ... man’ (= seorang ... yang lurus / jujur).
NIV/NASB:
‘a righteous ... man’ (= seorang ... yang benar).
Kata
Yunani yang dipakai adalah DIKAIOS, dan menurut saya terjemahan ‘orang
benar’ adalah yang terbaik.
Bdk.
Ro 3:10 - “seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun
tidak”.
Ia
hanya bisa dikatakan sebagai ‘orang benar’ kalau ia mempunyai iman, dan ia tidak mungkin bisa
mempunyai iman Perjanjian Baru, karena ia belum pernah mendengar Injil
Perjanjian Baru sepenuhnya.
e.
Juga kalau dilihat dari Kis 10:4,31,35 jelas bahwa Kornelius
berkenan di hadapan Allah.
Kis 10:4,31,35
- “(4) Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: ‘Ada apa,
Tuhan?’ Jawab malaikat itu: ‘Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke
hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. ... (31) dan ia berkata:
Kornelius, doamu telah didengarkan Allah dan sedekahmu telah diingatkan di
hadapanNya. ... (35) Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia
dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepadaNya”.
Sekarang
bandingkan ini dengan Ibr 11:4-6 - “(4) Karena iman Habel telah
mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain.
Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah
berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia
mati. (5) Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan
ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia
terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. (6) Tetapi tanpa
iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling
kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah
kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia”.
Calvin (tentang Ibr
11:4): “‘By
faith Abel offered,’ etc. The
Apostle’s object in this chapter is to show, that however excellent were the
works of the saints, it was from faith they derived their value, their
worthiness, and all their excellences; and hence follows what he has already
intimated, that the fathers pleased God by faith alone” (= ‘Karena
iman Habel telah mempersembahkan’, dst. Tujuan sang rasul dalam pasal ini
adalah untuk menunjukkan bahwa, bagaimanapun bagus / hebatnya pekerjaan /
perbuatan baik dari orang-orang kudus, adalah dari iman pekerjaan / perbuatan
baik itu mendapatkan nilai mereka, kelayakan mereka, dan semua kebagusan mereka;
dan karena itu maka mengikutilah apa yang telah ia isyaratkan, bahwa bapa-bapa
memperkenan Allah hanya oleh iman).
Kalau ini diterapkan pada ajaran
Pdt. Stephen Tong tentang filosof Cina itu, maka jelas bahwa karena filosof Cina
itu tidak beriman kepada Kristus, maka perbuatan baiknya, yang begitu
ditonjolkan oleh Pdt. Stephen Tong itu, sehebat apapun itu adanya, tidak punya
nilai apapun di hadapan Allah.
Calvin (tentang Ibr
11:4): “He
says, first, that Abel’s sacrifice was
for no other reason preferable to that of his brother, except that it was
sanctified by faith: for surely the fat of brute animals did not smell so
sweetly, that it could, by its odor, pacify God. The Scripture indeed shows
plainly, why God accepted his sacrifice, for Moses’s words are these, ‘God
had respect to Abel, and to his gifts.’ It is hence obvious to conclude, that his
sacrifice was accepted, because he himself was graciously accepted. But how did
he obtain this favor, except that his heart was purified by faith”
(= Ia berkata, pertama, bahwa persembahan Habel bukan
karena alasan apapun lebih diterima dari persembahan saudaranya, kecuali bahwa
itu dikuduskan oleh iman: karena pastilah lemak dari binatang tidak berbau
begitu harum, sehingga oleh baunya itu bisa menenangkan Allah. Kitab Suci
menunjukkan dengan jelas mengapa Allah menerima persembahannya, karena kata-kata
Musa adalah ini: ‘Allah / TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya
itu’ (Kej 4:4b). Jadi jelas bahwa kesimpulannya adalah,
bahwa persembahannya diterima karena ia sendiri diterima dengan kasih
karunia. Tetapi bagaimana ia mendapatkan kebaikan ini, kecuali bahwa hatinya
dimurnikan oleh iman).
Calvin (tentang Ibr
11:4): “‘God
testifying,’ etc. He confirms what I
have already stated, that no works, coming from us can please God, until we
ourselves are received into favor, or to speak more briefly, that no works are
deemed just before God, but those of a just man: for he reasons thus, - God bore
a testimony to Abel’s gifts; then he had obtained the praise of being just
before God. This doctrine is useful, and ought especially to be noticed, as we
are not easily convinced of its truth; for when in any work, anything
splendid appears, we are immediately rapt in admiration, and we think that it
cannot possibly be disapproved of by God: but God, who regards only the inward
purity of the heart, heeds not the outward masks of works. Let us then
learn, that no right or good work can proceed from us, until we are justified
before God”
[= ‘Allah bersaksi’ dst / ‘ia memperoleh
kesaksian’. Ia menegaskan apa yang telah saya nyatakan, bahwa tak ada
pekerjaan / perbuatan baik, yang datang dari kita yang dianggap benar di hadapan
Allah, kecuali pekerjaan / perbuatan baik dari orang yang benar: karena ia
berargumentasi sebagai berikut, - Allah memberi suatu kesaksian pada persembahan
Habel; pada saat itu ia telah mendapatkan pujian bahwa ia benar di hadapan
Allah. Doktrin ini berguna, dan harus diperhatikan secara khusus, karena kita
tidak mudah diyakinkan tentang kebenarannya: karena pada waktu dalam
pekerjaan / perbuatan baik apapun, terlihat adanya apapun yang baik, kita segera
dipenuhi dengan kekaguman (bandingkan
dengan perbuatan baik Seorang filosof Cina di mata Pdt. Stephen Tong), dan
kita berpikir bahwa itu tidak mungkin bisa tidak direstui oleh Allah: tetapi
Allah, yang hanya memandang / melihat pada kemurnian batin dari hati, tidak
memperhatikan topeng lahiriah dari pekerjaan / perbuatan baik. Maka, hendaklah
kita belajar, bahwa tidak ada pekerjaan / perbuatan baik atau benar bisa keluar
dari kita, sampai kita dibenarkan di hadapan Allah].
Calvin (tentang Ibr
11:5): “Moses
indeed tells us, that he was a righteous man, and that he walked with God; but as
righteousness begins with faith, it is justly ascribed to his faith, that he
pleased God”
(= Musa memang memberitahu kita, bahwa ia adalah orang
benar, dan bahwa ia berjalan dengan Allah; tetapi karena kebenaran dimulai
dengan iman, maka dengan benar hal itu dianggap berasal dari imannya, sehingga
ia memperkenan Allah).
Calvin (tentang Ibr
11:6): “The
reason he assigns why no one can please God without faith, is this, - because no
one will ever come to God, except he believes that God is, and is also convinced
that he is a remunerator to all who seek him. If access then to God is not
opened, but by faith, it follows, that all who are without it, are the
objects of God’s displeasure” (= Alasan yang ia berikan mengapa tak seorangpun
bisa memperkenan Allah tanpa iman, adalah ini, - karena tak seorangpun akan
pernah datang kepada Allah, kecuali ia percaya bahwa Allah ada, dan juga
diyakinkan bahwa Ia adalah seorang yang memberi pahala kepada semua orang yang
mencariNya. Jika jalan masuk kepada Allah tidak terbuka kecuali oleh iman,
maka akibatnya adalah bahwa semua orang yang tanpa iman merupakan obyek dari
ketidak-senangan Allah).
Calvin (tentang Ibr
11:6): “It
is hence evident, that men in vain weary themselves in serving God, except they
observe the right way, and that all religions are not only vain, but also
pernicious, with which the true and certain knowledge of God is not connected;
for all are prohibited from having any access to God, who do not distinguish and
separate him from all idols; in short, there is no religion except where this
truth reigns dominant” [= Karena
itu jelaslah bahwa orang-orang dengan sia-sia melelahkan diri mereka sendiri
dalam melayani Allah / berbakti kepada Allah, kecuali mereka mentaati jalan yang
benar, dan bahwa semua agama-agama bukan hanya sia-sia, tetapi juga jahat /
merusak, dengan mana pengetahuan / pengenalan yang benar dan pasti tentang Allah
tidak dihubungkan (lagi-lagi
bandingkan dengan ajaran Seorang filosof Cina, yang menurut Pdt. Stephen Tong
sendiri, sama sekali tak berhubungan dengan Allah); karena semua orang yang
tidak membedakan dan memisahkan dirinya dari semua berhala, dihalangi dari
mempunyai jalan masuk kepada Allah; singkatnya, tidak ada agama kecuali dimana
kebenaran memerintah / berkuasa].
Lenski:
“what makes any man well-pleasing to God is faith; without it there is
no possibility of pleasing God” (= apa yang
membuat manusia manapun berkenan kepada Allah adalah iman; tanpa itu tidak ada
kemungkinan untuk memperkenan Allah) - hal 386.
John
Owen: “faith
is the only way and means whereby any one may please God” (= iman
adalah satu-satunya jalan dan cara dengan mana seseorang bisa memperkenan Allah)
- ‘Hebrews’, vol 7, hal 37.
John
Owen: “‘All
pleasing of God is, and must be, by faith, it being impossible it should be
otherwise.’” (= Semua yang memperkenan Allah
adalah, dan haruslah, oleh iman, dan tidak mungkin lainnya) - ‘Hebrews’,
vol 7, hal 37.
John
Owen: “‘It
is impossible to please God any other way but by faith.’ Let men desire,
design, and aim at it whilst they please, they shall never attain unto it. ...
Hereunto Scripture bears testimony from first to last, namely, that none can,
that none shall, ever please God but by faith” (= ‘Adalah
tidak mungkin untuk memperkenan Allah dengan jalan lain kecuali oleh iman’.
Hendaklah manusia menginginkan, merencanakan dan mengarahkan padanya semau
mereka, mereka tidak akan pernah mencapainya. ... Dengan ini Kitab Suci memberi
kesaksian dari awal sampai akhir, yaitu, bahwa tak seorangpun bisa, bahwa tak
seorangpun akan, pernah memperkenan Allah kecuali oleh iman) - ‘Hebrews’,
vol 7, hal 38.
Supaya saudara tidak
menganggap bahwa yang dimaksud dengan ‘iman’ dalam Ibr 11:6 ini sekedar
‘suatu kepercayaan bahwa Allah itu ada’, tetapi juga berhubungan dengan
keselamatan, perhatikan komentar-komentar di bawah ini!
Calvin (tentang Ibr
11:6): “The
second clause is that we ought to be fully persuaded that God is not sought in
vain; and this persuasion includes the hope of salvation and eternal life, for
no one will be in a suitable state of heart to seek God except a sense of the
divine goodness be deeply felt, so as to look for salvation from him. We indeed
flee from God, or wholly disregard him, when there is no hope of salvation”
(= Anak kalimat yang kedua adalah bahwa kita harus
diyakinkan sepenuhnya bahwa Allah tidak dicari dengan sia-sia; dan keyakinan
ini mencakup pengharapan keselamatan dan hidup kekal, karena tak seorangpun
akan berada dalam keadaan hati yang cocok untuk mencari Allah kecuali suatu
perasaan tentang kebaikan ilahi dirasakan secara mendalam, sehingga orang itu
mencari keselamatan dari Dia. Kita akan lari dari Allah, atau sepenuhnya
mengabaikanNya, pada saat tidak ada pengharapan keselamatan).
Calvin (tentang Ibr
11:6): “But
many shamefully pervert this clause; for they hence elicit the merits of works,
and the conceit about deserving. And they reason thus: ‘We please God by
faith, because we believe him to be a rewarder; then faith has respect to the
merits of works.’ This error cannot be better exposed, than by considering how
God is to be sought; while any one is wandering from the right way of seeking
him, he cannot be said to be engaged in the work. Now Scripture assigns this
as the right way, - that a man, prostrate in himself, and smitten with the
conviction that he deserves eternal death, and in self-despair, is to flee to
Christ as the only asylum for salvation. Nowhere certainly can we find that
we are to bring to God any merits of works to put us in a state of favor with
him. Then he who understands that this is the only right way of seeking God,
will be freed from every difficulty on the subject; for reward refers not to the
worthiness or value of works but to faith” (= Tetapi banyak orang secara memalukan
membengkokkan anak kalimat ini; karena mereka mendapatkan jasa dari pekerjaan /
perbuatan baik, dan kesombongan tentang kelayakan. Dan mereka beralasan sebagai
berikut: ‘Kita memperkenan Allah oleh iman, karena kita mempercayaiNya sebagai
seorang yang memberi upah; maka iman mempunyai rasa hormat pada jasa dari
pekerjaan / perbuatan baik’. Kesalahan ini tidak bisa dinyatakan dengan lebih
jelas, dari pada dengan mempertimbangkan bagaimana Allah harus dicari; sementara
seseorang sedang mengembara / menyimpang dari jalan yang benar untuk mencari
Dia, ia tidak bisa dikatakan terlibat dalam pekerjaan / perbuatan baik.
Kitab Suci memberikan ini sebagai jalan yang benar, - bahwa seseorang, yang
merendahkan dirinya sendiri, dan dipukul oleh suatu keyakinan bahwa ia layak
mendapatkan kematian kekal, dan dalam keputus-asaan tentang diri sendiri, harus
lari kepada Kristus sebagai satu-satunya perlindungan untuk keselamatan. Pasti
kita tidak bisa menemukan dimanapun bahwa kita harus membawa kepada Allah jasa
pekerjaan / perbuatan baik apapun untuk meletakkan kita dalam suatu keadaan
disukai / disenangi oleh Dia. Maka ia yang mengerti bahwa ini adalah
satu-satunya jalan yang benar untuk mencari Allah, akan dibebaskan dari setiap
kesukaran tentang pokok ini; karena upah tidak menunjuk pada kelayakan atau
nilai dari pekerjaan / perbuatan baik tetapi pada iman).
Kata-kata di atas ini pasti
bertentangan frontal dengan kata-kata Pdt. Stephen Tong yang mengatakan bahwa
sebelum Kornelius percaya, ‘kebajikannya sudah diterima oleh Tuhan’!
Calvin (tentang Ibr
11:6): “From
these two clauses, we may learn how, and why it is impossible for man to please
God without faith; God justly regards us all as objects of his displeasure,
as we are all by nature under his curse; and we have no remedy in our own power.
It is hence necessary that God should anticipate us by his grace; and
hence it comes, that we are brought to know that God is, and in such a way that
no corrupt superstition can seduce us, and also that we become assured of a
certain salvation from him” (= Dari
dua anak kalimat ini, kita bisa belajar bagaimana dan mengapa merupakan sesuatu
yang mustahil bagi manusia untuk memperkenan Allah tanpa iman; Allah dengan
benar / adil menganggap kita semua sebagai obyek dari ketidak-senanganNya,
karena kita semua secara alamiah ada di bawah kutukNya; dan kita tidak mempunyai
obat dalam kuasa kita sendiri. Karena itu merupakan sesuatu yang perlu
bahwa Allah mendahului kita dengan kasih karuniaNya; dan lalu terjadilah,
bahwa kita dibawa untuk mengetahui bahwa Allah ada, dan dengan cara
sedemikian rupa sehingga tak ada takhyul jahat apapun bisa membujuk kita, dan
juga sehingga kita yakin tentang suatu keselamatan tertentu dari Dia).
Karena Kornelius adalah
orang beriman, biarpun dengan iman Perjanjian Lama,
tetapi ini tetap menyebabkan ia sudah bisa membuahkan perbuatan baik
dalam kehidupannya. Tetapi ini sama sekali berbeda dengan filosof Cina itu, yang
memang sama sekali tidak beriman kepada Kristus, dan karena itu, baik dirinya
maupun kehidupannya, menurut Kitab Suci, tidak mungkin bisa memperkenan Allah.
7) Hal terakhir yang
akan saya soroti hanya secara singkat adalah kata-kata Pdt. Stephen Tong bahwa
orang-orang Kristen dan hamba-hamba Tuhan harus mempelajari ajaran filosof Cina
itu, karena ini bisa membentuk mereka menjadi orang-orang Kristen yang lebih
bertanggung jawab.
Catatan: di sini saya bahas singkat,
tetapi nanti akan saya bahas secara mendetail.
Terus terang, saya
menganggap pernyataan ini sebagai suatu penghinaan terhadap Kitab Suci /
Alkitab kita. Bagaimana mungkin, orang Kristen yang sudah memiliki Firman
Tuhan yang lengkap dalam Alkitab, lalu harus belajar dari orang, yang menurut
Pdt. Stephen Tong sendiri ajarannya bahkan bukan wahyu umum, tetapi hanya
merupakan renspons / tanggapan manusia terhadap wahyu umum dari Allah (inipun
saya sangsikan kebenarannya).
Wahyu umum saja, yaitu
alam semesta dan hati nurani, memberikan terang yang jauh lebih sedikit dari
pada wahyu khusus (Firman Tuhan dan Yesus Kristus). Dan ajaran filosof Cina itu
bahkan masih di bawah wahyu umum. Lalu bagaimana mungkin kita yang sudah
memiliki Alkitab dan Yesus Kristus masih harus belajar dari ajaran filosof Cina
itu? Dengan kata-kata ini, Pdt. Stephen Tong bukan hanya menghina Alkitab /
Firman Tuhan dan Yesus Kristus, tetapi juga menganggap bahwa Alkitab dan Yesus
Kristus itu masih kurang!
Dan tentang pandangan
Pdt. Stephen Tong bahwa ajaran filosof Cina itu merupakan respons / tanggapan
manusia terhadap wahyu umum, saya sangat meragukan. Karena wahyu umum, yaitu
alam semesta dan hati nurani, sedikitnya memberi tahu manusia bahwa Allah itu
ada, dan juga tentang sifat-sifat tertentu dari Allah, seperti maha kuasa, baik,
dan bijaksana.
Bandingkan
dengan ayat-ayat ini:
a)
Ro 1:19-20 - “(19) Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang
Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.
(20) Sebab apa yang tidak nampak dari padaNya, yaitu kekuatanNya yang kekal dan
keilahianNya, dapat nampak kepada pikiran dari karyaNya sejak dunia diciptakan,
sehingga mereka tidak dapat berdalih”.
Ro 1:19-20
(NASB): “because
that which is known about God is evident within them; for God made it
evident to them. For since the creation of the world His invisible attributes,
His eternal power and divine nature, have been clearly seen, being understood
through what has been made, so that they are without excuse”
(= karena apa yang diketahui tentang Allah nyata di
dalam mereka; karena Allah telah membuatnya nyata bagi mereka. Karena sejak
penciptaan dunia / alam semesta, sifat-sifatNya yang tak terlihat, kekuatanNya
yang kekal dan keilahianNya, telah terlihat dengan jelas, dimengerti melalui apa
yang telah diciptakan, sehingga mereka tidak mempunyai alasan).
John
Calvin: “There
is within the human mind, and indeed by natural instinct, an awareness of
divinity. ... To prevent anyone from taking refuge in the pretense of ignorance,
God himself has implanted in all men a certain understanding of his divine
majesty. ... a sense of deity inscribed in the hearts of all”
(= Di dalam pikiran manusia, oleh suatu naluri yang
bersifat alamiah, ada suatu kesadaran tentang keilahian. ... Untuk mencegah
siapapun untuk berlindung dalam ketidaktahuan, Allah sendiri telah menanamkan
dalam semua manusia suatu pengertian tertentu tentang keagungan ilahinya. ...
suatu perasaan tentang Allah dituliskan dalam hati dari semua orang)
- ‘Institutes of the Christian Religion’, Book I, Chapter III, no 1.
b)
Maz 19:2 - “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala
memberitakan pekerjaan tanganNya”.
Jadi, kalau
ajaran filosof Cina itu merupakan respons terhadap wahyu umum, mengapa, seperti
yang dikatakan Pdt. Stephen Tong, dalam ajaran filosof Cina itu sama sekali tak
ada ajaran vertikal / tentang Allah? Mengapa yang ada hanya ajaran horizontal /
tentang sesama manusia?
Jadi, saya
tak setuju sama sekali bahwa orang-orang Kristen / hamba-hamba Tuhan harus
belajar dari ajaran filosof Cina itu. Kitab Suci kita sudah lengkap untuk hal
itu.
Bdk. 2Tim
3:16-17 - “(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk
mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia
kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali