FAITH / IMAN

I) Object dari iman.

 

1)   Secara umum, object dari iman adalah Kitab Suci.

Orang Kristen yang sejati harus percaya pada Kitab Suci. Dengan kata lain, Kitab Suci harus menjadi dasar iman orang kristen.

Ini disebabkan karena:

·        Kitab Suci adalah firman Allah.

·        Allah itu setia dan benar, sehingga tidak mungkin berdusta / menga-takan sesuatu yang salah / tidak benar.

 

Banyak orang yang dasar imannya bukan Kitab Suci, seperti:

 

a)   Roma Katolik menjadikan gereja sebagai dasar iman.

Karena itu, mereka punya banyak doktrin / dogma yang tidak berdasarkan Kitab Suci, tetapi tetap mereka terima sebagai kebenaran dan mereka imani, karena itu merupakan keputusan-keputusan sidang gereja.

Contoh: doktrin tentang api pencucian, Maria yang lahir dan hidup tanpa dosa, Maria yang diangkat ke surga, doa kepada Maria dsb. Semua ini sama sekali tidak mempunyai dasar Kitab Suci tetapi tetap dipercaya oleh orang Katolik.

 

b)   Rationalists menjadikan ratio (= akal / pikiran) sebagai dasar iman.

Ini makin lama makin banyak dalam kalangan orang liberal, yang menolak bagian-bagian Kitab Suci yang mereka anggap tidak masuk akal.

 

c)   Juga banyak orang kristen yang menjadikan khotbah pendetanya / aliran gerejanya sebagai dasar iman. Artinya, mereka mempercayai secara membuta apapun yang dikatakan pendetanya / aliran gerejanya, tanpa peduli apakah hal itu sesuai Kitab Suci atau tidak!

 

d)   Ada lagi orang kristen yang menggunakan pengalaman sebagai dasar iman. Orang-orang ini menganggap bahwa pengalaman seseorang harus juga menjadi pengalaman orang yang lain. Jadi kalau ada orang mengalami kesembuhan secara mujijat, maka orang yang lain juga harus mengalami hal yang sama

 

Tetapi, dasar / object iman yang benar adalah Kitab Suci!

Louis Berkhof:

·        “Tertullian stressed the fact that faith accepts a thing on authority, and not because it is warranted by human reason” (= Tertulian menekankan fakta bahwa iman menerima sesuatu berdasarkan otoritas, dan bukan karena hal itu dibenarkan oleh akal manusia) - ‘Systematic Theology’, hal 496.

·        “Christian faith in the most comprehensive sense is man’s persuasion of the truth of Scripture on the basis of the authority of God” (= Iman kristen dalam arti yang paling luas adalah kepercayaan manusia pada kebenaran Kitab Suci berdasarkan otoritas Allah) - ‘Systematic Theology’, hal 501.

 

Dasar Kitab Suci untuk mengatakan bahwa iman harus berdasarkan Kitab Suci / Firman Tuhan: Yoh 6:45  Yoh 17:20  Yoh 20:31  Ro 10:17.

 

2)   Secara khusus, object dari iman adalah:

 

a)         Pekerjaan / karya keselamatan Kristus.

Ini mencakup inkarnasi, kehidupanNya yang suci, kematianNya di salib untuk menebus dosa manusia, kebangkitanNya dari antara orang mati, kenaikanNya ke surga.

Jadi, orang kristen yang sejati harus percaya bahwa Kristus memang sudah melakukan / mengalami hal-hal itu.

 

b)         Diri Kristus sendiri

Tidak cukup saudara hanya percaya tentang hal-hal tertentu yang Kristus lakukan; saudara juga harus percaya kepada Kristus!

Cobalah renungkan, apakah selama ini saudara hanya sekedar percaya tentang apa yang Kristus lakukan, atau apakah saudara sudah betul-betul percaya kepada Kristus?

 

Dasar Kitab Suci:

ad a)    Yoh 20:31  Ro 10:9 dan 1Yoh 5:1 mengatakan bahwa kita harus ‘percaya bahwa ...’. Ini jelas menunjukkan bahwa kita harus mempercayai suatu informasi / ajaran tentang Kristus, yaitu karya keselamatan yang Ia lakukan.

ad b)    Yoh 3:15,16,18  Yoh 6:40  Kis 16:31  Kis 20:21 dan banyak ayat Kitab Suci yang lain menunjukkan dengan jelas bahwa kita harus percaya kepada Kristus!

 

Karena itu, maka dalam Pemberitaan Injil, Paulus selalu menekankan pemberitaannya pada diri Kristus dan karya keselamatanNya (bdk. 1Kor 1:22-23  1Kor 2:2    1Kor 15:3-4).

Penerapan: apakah saudara juga memberitakan Injil dengan cara yang sama?

 

Ada orang yang percaya pada object umum (Kitab Suci) dulu, dan setelah itu baru percaya kepada object khusus (Kristus). Ada juga yang sebaliknya.

II)      Terjadinya iman.

 

1)   Iman adalah pemberian Allah (Mat 11:25-27  Mat 16:17  Yoh 6:44,65  Yoh 12:32  Yoh 17:6  Kis 11:18  1Kor 12:3  Ef 2:8-9  Fil 1:29).

Hanya kalau iman adalah pemberian Allah, maka keselamatan / pembenaran kita bisa disebut sebagai anugerah gratis / cuma-cuma dari Allah (bdk. Ro 3:24).

 

Ada illustrasi yang sangat populer yang sering dipakai dalam penginjilan: ada orang yang mau memberikan uang (simbol dari Allah yang mau memberi keselamatan), kepada seorang pengemis (simbol dari orang berdosa). Tetapi supaya uang itu menjadi miliknya, pengemis itu harus mau mengulurkan tangannya (simbol dari iman).

Kesalahan illustrasi ini adalah: iman tidak digambarkan sebagai pemberian Allah, dan manusia sendiri bisa beriman

Komentar Herman Hoeksema, seorang ahli theologia Reformed, tentang illustrasi ini: “The natural man has no hand whereby he is able to accept the salvation of God in Christ Jesus” (= Manusia duniawi tidak mempunyai tangan dengan mana ia dapat menerima keselamatan Allah dalam Yesus Kristus) - ‘Reformed Dogmatics’, hal 479.

 

Ada 3 macam ajaran tentang hal ini:

 

a)   Ajaran Pelagianisme.

Manusia sendiri, tanpa pertolongan Allah, bisa beriman (bahkan bisa selamat tanpa Kristus!). Ajaran ini sudah dari dulu dikecam sebagai ajaran sesat!

 

b)   Ajaran Arminianisme / Semi-Pelagianisme.

Manusia sendiri memang tidak bisa beriman. Tetapi Allah sudah memberi kasih karunia kepada semua manusia, sehingga semua manusia sudah diangkat ke suatu keadaan dimana mereka sekarang bisa memilih, apakah mereka mau beriman atau tidak.

Ini bertentangan dengan komentar Calvin tentang Yoh 6:37 dimana ia berkata:

“Faith is not a thing which depends on the will of men” (= Iman bukanlah sesuatu yang tergantung pada kehendak manusia).

 

Jadi, dalam Arminianisme keselamatan seseorang tergantung kepada orang itu sendiri, bukan tergantung kepada Allah.

Dan Arminianisme juga mengajarkan bahwa kalau orang itu mau beriman, maka itu merupakan tindakan yang baik, yang layak mendapatkan pahala. Semua ini jelas sekali bertentangan dengan Ef 2:8-9!

 

c)   Ajaran Calvinisme / Reformed.

Manusia tidak bisa melakukan kebaikan apa-apa, dan juga tidak bisa beriman [Ini termasuk dalam doktrin Total Depravity (= kebejatan total) atau Total Inability (= ketidakmampuan total)]. Tetapi, kepada orang-orang pilihanNya, Allah memberikan kasih karunia, dengan melahir-barukan mereka, memanggil mereka [effectual calling (= panggilan efektif)], dan memberikan iman kepada mereka (Fil 1:29  Kis 11:18), sehingga mereka beriman dan diselamatkan.

Jadi, Allah bukan sekedar memberikan kemampuan untuk beriman, tetapi memberikan iman itu sendiri kepada orang pilihanNya.

 

Dalam komentarnya tentang Yoh 6:45, Calvin berkata:

“He gives to them not only the choice of believing, but faith itself” (= Ia memberi kepada mereka bukan hanya pemilihan untuk percaya tetapi iman itu sendiri).

 

Jadi, kalau dalam Arminianisme, pemberian kasih karunia Allah itu sekedar memungkinkan keselamatan semua manusia, maka dalam Calvinisme / Reformed, pemberian kasih karunia Allah itu memastikan keselamatan orang pilihan.

Jadi, dalam ajaran Calvinisme / Reformed, keselamatan manusia sepenuhnya tergantung kepada Allah dan sepenuhnya merupakan anugerah cuma-cuma dari Dia (bdk. Ro 3:24)! Dan karena itu, kalau kita bisa dan mau beriman (bdk. Fil 2:13), sebetulnya tidak ada sedikitpun kebaikan dalam tindakan itu, karena semua itu dari Allah!

 

Kata-kata Archbishop William Temple dikutip oleh John Stott sebagai berikut:

“All is of God. The only thing of my very own which I contribute to my redemption is the sin from which I need to be redeemed” (= Semua dari Allah. Satu-satunya hal dari diriku sendiri yang aku sumbangkan pada penebusanku adalah dosa dari mana aku perlu ditebus) - ‘The Preacher’s Portrait’, hal 44-45.

 

Penerapan:

Sebetulnya kita tidak lebih baik dari orang lain! Tetapi Allah memilih kita dan menganugerahkan iman kepada kita sehingga kita selamat. Semua ini seharusnya membuat kita senantiasa:

·        mengucap syukur kepadaNya dan memuji Dia.

·        mengasihi Dia dengan segenap hati, pikiran dan jiwa.

·        mengutamakan Dia di atas segala-galanya.

·        rela berkorban untuk Dia.

·        mau menyangkal diri dan hidup bagi Dia.

Sudahkah saudara melakukan semua ini? Maukah saudara melakukan-nya?

 

2)   Iman adalah aktivitas manusia

Sekalipun iman adalah pemberian dari Tuhan, tetapi Tuhan tidak beriman untuk kita. Kita sendirilah yang beriman! Dan karena itu maka iman disebut sebagai aktivitas manusia (bukan ‘usaha manusia’ - Ef 2:8-9).

 

John Murray: “Regeneration is the act of God and of God alone. But faith is not the act of God; it is not God who believes in Christ for salvation, it is the sinner. It is by God’s grace that a person is able to believe but faith is an activity on the part of the person and of him alone” (= Kelahiran baru adalah tindakan Allah dan hanya tindakan Allah saja. Tetapi iman bukanlah tindakan Allah; bukan Allah yang percaya kepada Kristus untuk keselamatan, tetapi orang berdosanyalah yang percaya kepada Kristus. Oleh kasih karunia Allahlah seseorang bisa percaya tetapi iman adalah aktivitas dari orang itu dan hanya dari dia saja) - ‘Redemption Accomplished and Applied’, hal 106.

 

Dasar Kitab Suci bahwa iman adalah aktivitas manusia:

 

a)   Tuhan memerintahkan kita supaya beriman (Yoh 6:29  Kis 16:31  1Yoh 3:23).

Perintah Tuhan ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai tanggung jawab untuk beriman kepada Yesus! Di sini terlihat perbedaan antara iman dan kelahiran baru. Kelahiran baru merupakan pekerjaan Roh Kudus secara mutlak, dan dalam peristiwa kelahiran baru itu kita pasif total! Kelahiran baru bukanlah tindakan ataupun tanggung jawab kita, dan karena itu Tuhan tidak pernah memberikan perintah kepada kita supaya dilahirbarukan! Karena itu pada waktu rasul-rasul memberitakan Injil, mereka menyuruh orang percaya kepada Yesus, bertobat dan dibaptis, tetapi mereka tidak pernah menyuruh siapapun untuk dilahirbarukan!

 

b)   Dalam Kitab Suci, ‘iman / percaya’ ditunjukkan dengan bermacam-macam penggambaran / istilah, seperti:

·        memandang / berpaling (Yes 45:22).

·        menerima (Yoh 1:12) atau mengundang / membukakan pintu  (Wah 3:20).

Catatan: Istilah ‘menerima / mengundang Yesus’ sebetulnya sama dengan ‘percaya kepada Yesus’! Jadi, dalam pemberitaan Injil, jangan membedakan dua istilah ini dengan menyuruh orang untuk percaya kepada Yesus dan menerima / mengundang Yesus, seakan-akan percaya kepada Yesus saja belum cukup untuk menyelamatkan dia.

·        makan / minum (Yoh 4:13-14    6:54    7:37-39).

·        datang (Mat 11:28    Yoh 5:40    6:37,44,65    7:37).

·        ikut (Mat 4:19).

Perhatikan bahwa semua penggambaran / istilah ini merupakan tindakan yang aktif! Ini jelas menunjukkan bahwa iman adalah suatu tindakan aktif / aktivitas dari manusia!

 

Hubungan kedua hal di atas:

 

A)  Bagaimanapun juga kita harus memandang iman terutama sebagai pemberian Allah, bukan sebagai aktivitas manusia, karena manusia hanya bisa beriman, kalau Allah memberikan iman itu kepadanya.

 

Louis Berkhof:

“They (the reformers) regarded faith, primarily as a gift of God and only secondarily as an activity of man in dependence on God” [= Mereka (tokoh-tokoh reformasi) menganggap iman terutama sebagai pemberian Allah dan baru setelah itu sebagai aktivitas manusia dalam ketergantungannya kepada Allah] - ‘Systematic Theology’, hal 497.

 

B)  Kalau Allah memberikan iman kepada seseorang, bisakah orang itu lalu menolak pemberian itu, sehingga ia tidak diselamatkan?

Arminianisme menjawab : bisa!

Tetapi Calvinisme / Reformed menjawab: tidak! Ini dinyatakan oleh point ke 4 dari 5 perbedaan utama antara Calvinisme dan Arminianisme, yaitu Irresistible Grace (= kasih karunia yang tidak bisa ditahan / ditolak).

Alasannya:

·        Allah hanya memberikan iman kepada orang yang telah Ia pilih untuk diselamatkan (Predestinasi). Kalau orang itu bisa menolak iman yang Allah berikan, maka itu berarti Predestinasi / Rencana Allah itu bisa gagal, padahal Kitab Suci berkata bahwa Predestinasi / Rencana Allah itu tidak mungkin berubah / gagal (Ayub 42:2   Maz 33:10-11  Yes 14:24,26,27   Yes 46:10-11).

Bandingkan dengan Kis 13:48b yang mengatakan: ‘semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya’!

·        Allah hanya memberikan iman kepada orang yang telah Ia lahir barukan. Dan orang yang telah dilahirbarukan, jelas telah mengalami pembaharuan dalam kemauan / kehendaknya, sehingga tidak mungkin ia menolak iman yang Allah berikan kepadanya.

·        Allah hanya memberikan iman kepada orang yang Ia panggil dengan effectual / internal calling (= panggilan efektif / di dalam). Sesuai dengan namanya, maka panggilan ini pasti efektif / pasti berhasil mempertobatkan orang yang dipanggil itu. Jadi, tidak mungkin orang itu menolak panggilan ini!

·        Juga, kalau kita melihat pada Ro 8:29-30, maka kita bisa melihat adanya ‘rantai keselamatan’ yang tidak mungkin terputuskan! Orang yang Allah tentukan untuk selamat, akhirnya pasti dimuliakan! Jadi, tak mungkin ia menolak iman yang Allah berikan kepadanya!

Tetapi ada satu hal lain yang menarik yang bisa didapatkan dari ayat ini, yaitu bahwa Ro 8:29-30 ini menggunakan kata-kata kerja dalam bentuk lampau (past tense).

NIV: “For those God foreknew he also predestined to be conformed to the likeness of his Son, that he might be the firstborn among many brothers. And those he predestined, he also called; those he called, he also justified; those he justified, he also glorified”.

Memang tidak aneh kalau ‘foreknew’ (= diketahui lebih dulu) dan ‘predestined’ (= dipredestinasikan) ada dalam bentuk lampau, karena itu memang terjadi pada masa yang lampau, tetapi mengapa ‘called’ (= dipanggil), ‘justified’ (= dibenarkan), dan ‘glorified’ (= dimuliakan), juga ada dalam bentuk lampau? Loraine Boettner memberikan penafsiran yang menarik tentang hal ini dimana ia berkata: “Paul has cast the verse in the past tense because with God the purpose is in principle executed when formed, so certain is it of fulfillment” (= Paulus telah melemparkan ayat itu ke dalam past tense karena dengan Allah, maksud / tujuan / rencana itu pada dasarnya dilaksanakan pada saat dibentuk, begitu pastinya penggenapan tujuan itu) - ‘The Reformed Doctrine of Predestination’, hal 85-86. Jadi, ayat ini menjamin keberhasilan dari Predestinasi maupun panggilan effektif dari Allah.

III) Macam-macam iman.

 

1)   Historical faith (= iman yang bersifat sejarah).

·        Ini tidak berarti bahwa orang itu hanya menerima kejadian / fakta sejarah dalam Kitab Suci.

·        Ini juga bukan iman yang didasarkan atas kesaksian sejarah.

·        Ini adalah jenis iman dimana pemiliknya menerima / mempercayai kebenaran Kitab Suci / Injil dengan cara yang sama seperti ia menerima / mempercayai pelajaran sejarah. Ia mempercayai Yesus sama seperti ia mempercayai Napoleon atau Hitler dalam sejarah.

Iman seperti ini hanya bersangkutan dengan pengertian intelektual belaka, dan sama sekali tidak berakar dalam hati, dan sama sekali tidak mempunyai tujuan moral / rohani (tidak ada tujuan untuk hidup lebih suci / mendekat kepada Allah).

·        Iman seperti ini jelas tidak bisa menyelamatkan!

·        Iman seperti ini bisa dihasilkan oleh tradisi (lahir dalam keluarga kristen), pendidikan, pendapat umum, pemikiran bahwa ajaran Kitab Suci itu indah, dsb.

 

2)   Miraculous faith (= iman yang bersifat mujijat).

·        Ini adalah iman dimana seseorang itu percaya bahwa ia akan bisa melakukan atau mengalami suatu mujijat, atau iman yang ditimbulkan karena orangnya melihat terjadinya suatu mujijat (bdk. Yoh 11:45).

·        Iman seperti ini jelas tidak bisa menyelamatkan!

Ingat bahwa kita diselamatkan kalau kita percaya kepada Kristus sebagai Juruselamat yang telah mati dan bangkit untuk kita, bukan karena kita sekedar percaya bahwa Kristus bisa melakukan mujijat.

Karena itu, dalam memberitakan Injil / betrsaksi, janganlah menonjol-kan Kristus sekedar sebagai penyembuh penyakit / pelaku mujijat / penolong secara jasmani! Tonjolkan Dia sebagai penolong secara rohani / Juruselamat dosa, melalui kematianNya di kayu salib dan kebangkitanNya dari antara orang mati! Ingat bahwa nama ‘Yesus’ diberikan ‘karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka’ (Mat 1:21).

·        Iman mujijat ini bisa saja disertai oleh iman yang sejati, seperti dalam kasus Mat 8:5-13. Tetapi bisa juga tidak!

 

3)   Temporary / temporal faith (= iman sementara).

Ini adalah iman dari orang yang digambarkan oleh Yesus sebagai tanah yang berbatu-batu (Mat 13:20-21).

Ada beberapa ciri dari iman ini:

·        Iman ini timbul karena orangnya mendengar Firman Tuhan (Mat 13:20), tetapi Firman Tuhan ini hanya merupakan external calling (= panggilan luar) dari Allah.

·        Emosi dari orangnya terlibat (Mat 13:20 - ‘menerimanya dengan gembira’). Terlibatnya emosi adalah sesuatu yang baik, kalau intelek dan kehendak ikut terlibat. Tetapi kalau hanya emosi saja yang terlibat, maka ini jelas bukan iman yang sejati.

·        Tujuan orangnya dalam percaya / ikut Yesus adalah: hanya menerima hal-hal yang enak-enak saja, seperti pengampunan dosa, menjadi anak Allah, menerima berkat Tuhan, masuk surga, dsb

R. L. Dabney:

*        “The tendency of human selfishness is ever to degrade Christ’s sacrifice into a mere expedient for bestowing impunity” (= Kecondongan dari keegoisan manusia adalah selalu merendahkan pengorbanan Kristus menjadi semata-mata suatu jalan yang berguna untuk memberikan kebebasan dari hukuman) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 601.

*        “No one rises above the faith of the stony-ground hearer, until he desires and embraces Christ as a deliverer from depravity and sin as well as hell” (= Tidak seorangpun mempunyai iman yang melebihi iman dari pendengar golongan tanah berbatu, sampai ia menginginkan dan memeluk Kristus sebagai seorang pembebas dari kebejadan dan dosa maupun dari neraka) - ‘Lectures in Systematic Theology’, hal 601.

·        Iman ini hanya bersifat sementara; pada saat ada penganiayaan / penderitaan karena imannya, maka orangnya segera murtad (Mat 13:21)! Kalaupun ternyata iman ini bisa bertahan sampai orangnya mati, jelas bahwa orangnya tidak akan selamat karena iman seperti ini.

·        Tidak akan ada buah dalam kehidupan orang yang mempunyai iman seperti ini (Mat 13:20-21).

·        Contoh iman jenis ini: 1Tim 1:19-20  2Tim 2:17-18  1Yoh 2:19.

 

4)   True saving faith (= iman yang menyelamatkan yang benar)

·        Iman ini berakar dalam hidup yang sudah dilahirbarukan, yang dalam Mat 13:8,23 digambarkan sebagai ‘tanah yang baik’.

·        Iman ini timbul karena internal / effectual calling (= panggilan di dalam / effektif).

·        Ada buah dalam kehidupan orang itu (Mat 13:8,23), yang menunjukkan bahwa orang itu menerima Kristus bukan hanya sebagai pembebas dari hukuman, tetapi juga sebagai pembebas dari perhambaan dosa / penyuci kehidupan kita.

John Murray: “It is an old and time-worn objection that this doctrine ministers to licence and looseness. Only those who know not the power of the gospel will plead such misconception. Justification is by faith alone, but not by a faith that is alone. ... Faith alone justifies but a justified person with faith alone would be a monstrosity which never exists in the kingdom of grace. ... faith without works is dead (cf. James 2:17-20). No one has entrusted himself to Christ for deliverance from the guilt of sin who has not also entrusted himself to him for deliverance from the power of sin” [= Merupakan keberatan yang sudah lama dan usang bahwa doktrin ini menyebabkan / mendukung kebebasan yang berlebihan dan kelonggaran (untuk berbuat dosa). Hanya mereka yang tidak mengenal kuasa injil yang akan menyatakan konsep salah seperti itu. Pembenaran adalah oleh iman saja, tetapi bukan oleh iman yang ada sendirian. ... Iman saja membenarkan, tetapi seseorang yang dibenarkan yang hanya mempunyai iman merupakan suatu hal yang mengerikan yang tidak pernah ada dalam kerajaan kasih karunia. ... iman tanpa perbuatan adalah mati (bdk. Yak 2:17-20). Tidak seorangpun yang telah mempercayakan dirinya kepada Kristus untuk pembebasan dari kesalahan dari dosa yang tidak juga mempercayakan dirinya kepadaNya untuk pembebasan dari kuasa dosa] - ‘Redemption accomplished and applied’, hal 131.

·        Iman seperti ini pasti akan bertahan sampai mati, atau sampai Kristus datang kedua kalinya (bdk. Yoh 8:31-32  1Yoh 2:19). Semua orang yang murtad pasti tidak mempunyai iman jenis ini!

IV) Elemen-elemen iman yang benar.

 

Perlu diingat bahwa iman merupakan aktivitas dari seluruh manusia, bukan dari sebagian manusia. Karena itu, iman yang benar mempunyai elemen-elemen sebagai berikut:

 

1)         NOTITIA.

 

Kata bahasa Latin ini artinya sama dengan kata bahasa Inggris 'notice', yang berarti ‘informasi’.

 

a)   Ini merupakan elemen intelektual.

Supaya seseorang bisa disebut beriman, maka harus ada informasi yang disampaikan kepada orang itu dan harus ada pengertian yang benar tentang informasi itu.

 

b)   Yang dimaksud dengan informasi bukanlah seluruh Kitab Suci atau ajaran-ajaran yang sukar dari Kitab Suci seperti doktrin Allah Tritunggal dsb, tetapi ajaran dasar kekristenan / Injil.

Dari sini terlihat pentingnya ajaran tentang:

·        dosa dan hukumannya.

·        keadilan dan kasih Allah.

·        Yesus Kristus, khususnya tentang:

*        keilahianNya dan kemanusiaanNya.

*        kematianNya untuk menebus semua dosa kita, yaitu dosa asal, dosa lalu dan dosa yang akan datang

*        kebangkitanNya dari antara orang mati.

·        keselamatan hanya karena iman, bukan karena perbuatan baik.

·        hubungan antara iman dan perbuatan baik.

Tetapi, berapa banyaknya informasi yang dibutuhkan, tidak bisa diketahui / ditentukan dengan tepat.

 

Louis Berkhof:

“It is impossible to determine with precision just how much knowledge is absolutely required in saving faith” (= adalah tidak mungkin untuk menentukan dengan tepat berapa banyak pengetahuan yang dibutuhkan secara mutlak dalam iman yang menyelamatkan) - ‘Systematic Theology’, hal 504.

 

Ada hal-hal yang pasti harus ada, misalnya orang itu harus tahu bahwa:

¨      Yesus adalah Allah yang telah menjadi manusia.

¨      Yesus mati disalib untuk menebus dosanya.

¨      Yesus bangkit dan menang atas dosa, maut, dan iblis.

¨      Ia diselamatkan dengan beriman, bukan dengan berbuat baik.

 

Tetapi ada juga hal-hal lain yang belum tentu harus diketahui oleh orang itu, seperti:

¨      Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.

Dalam hidup saya sendiri, pada waktu saya mula-mula percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat saya, saya belum tahu bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga dan saya menyangka bahwa ada banyak jalan ke surga. Tetapi saat itu saya sudah mempunyai keyakinan bahwa dengan saya percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat saya, saya sudah selamat. Beberapa saat setelah itu barulah saya mendengar dan mengerti bahwa Yesus bukanlah salah satu jalan ke surga, tetapi satu-satunya jalan ke surga.

¨      Yesus mati untuk semua dosa (dosa asal, dosa yang lalu, yang sekarang dan yang akan datang).

Cukupkah bagi seseorang untuk tahu dan percaya bahwa Yesus mati untuk menebus dosanya, atau haruskah ia tahu dan percaya juga bahwa Yesus mati untuk menebus semua dosanya, termasuk dosa yang akan datang? Saya tidak yakin apa jawab atas pertanyaan ini.

Tetapi kalau saudara memberitakan Injil, maka jelas bahwa saudara harus memberitakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga dan bahwa Yesus menebus semua dosa kita.

 

sampai sini

 

c)   Dasar Kitab Suci:

·        pada pelajaran tentang CONVERSION, kita telah melihat bahwa CONVERSION melibatkan tambahan pengetahuan (lihat pada kata Yunani METANOIA). Karena iman tercakup di dalam CONVERSION, maka tidak bisa tidak, iman juga harus melibatkan tambahan pengetahuan.

·        Ayat-ayat seperti Mat 13:23  Yoh 6:45  17:20  20:31  Ro 10:13-15,17 menunjukkan secara jelas bahwa iman tidak mungkin bisa ada tanpa adanya tambahan pengetahuan / informasi dari Firman Tuhan.

·        Ayat-ayat seperti Mat 13:10-17 2Kor 3:14  2Kor 4:4 menunjukkan bahwa kalau pikiran seseorang tumpul / dibutakan / tidak diberi pengetahuan oleh Tuhan, maka orang itu tidak mungkin bisa beriman.

 

d)   Penerapan: harus adanya NOTITIA dalam iman yang benar menyebabkan:

·        kita bisa mengechek apakah seseorang itu sungguh-sungguh beriman atau tidak, dari pengetahuannya.

Kalau ia mempunyai pengetahuan yang benar, maka mungkin (tetapi belum tentu) ia adalah orang yang sungguh-sungguh beriman [tergantung apakah elemen iman yang ke 2 (ASSENSUS) dan ke 3 (FIDUCIA) ada padanya atau tidak].

Tetapi, kalau ia tidak mempunyai pengetahuan, atau kalau ia mempunyai pengetahuan yang salah (misalnya kalau ia mengira bahwa dengan dibaptis, rajin ke gereja, taat dsb ia bisa diselamatkan) maka ia pasti bukan orang yang sungguh-sungguh beriman.

Catatan: pada waktu mengecheck iman seseorang menggunakan cara ini, kita harus berhati-hati, karena ada orang, yang sekalipun mempunyai pengetahuan yang benar, tetapi tidak bisa menjelaskannya / mengungkapkannya, sehingga seolah-olah ia tidak mempunyai pengetahuan yang benar, atau seolah-olah ia mempunyai pengetahuan yang salah.

·        Pemberitaan Injil, yang merupakan penyampaian informasi, adalah sesuatu yang sangat penting! Tanpa ini, orang-orang disekeliling saudara tidak bisa mendapatkan NOTITIA sehingga tidak bisa beriman kepada Yesus!

Gereja yang hanya mengajarkan moral / etika, akan menyebabkan jemaatnya tidak mempunyai NOTITIA, dan karena itu hanya akan menghasilkan orang-orang kristen KTP!

Demikian juga dengan gereja yang hanya menekankan emosi yang berkobar-kobar, atau yang menyuruh jemaatnya untuk percaya tanpa mengerti apa-apa, hanya bisa menghasilkan orang kristen KTP!

Karena itu, kita semua harus memberitakan Injil, baik secara massal maupun secara pribadi!

·        Memberitakan Injil kepada orang yang tidak / belum bisa mengerti, seperti orang gila, orang idiot, anak kecil yang belum bisa mengerti, adalah sesuatu yang sia-sia, karena informasi itu bukan hanya perlu untuk disampaikan kepada mereka, tetapi juga harus dimengerti oleh mereka!

·        Pemberitaan Injil tidak bisa digantikan dengan:

*        doa untuk pertobatan orang lain.

Sekalipun doa untuk pertobatan orang lain itu adalah sesuatu yang sangat penting, tetapi ini hanya bisa berguna kalau dibarengi dengan pemberitaan Injil kepada orang itu! Doa tanpa pemberitaan Injil, tidak akan menyebabkan orangnya mendapatkan NOTITIA, dan karena itu tidak memungkinkannya untuk percaya kepada Yesus.

*        kesalehan hidup.

Sama seperti doa untuk pertobatan orang lain, kesalehan hidup juga adalah sesuatu yang sangat penting, tetapi ini juga hanya bisa berguna kalau dibarengi dengan pemberitaan Injil kepada orang itu! Hidup saleh tanpa melakukan pemberitaan Injil, juga tidak menyebabkan orang itu mendapat NOTITIA, dan karena itu tidak memungkinkan orang itu untuk percaya kepada Yesus.

Karena itu, kita harus menghindari Social Gospel (Injil Sosial), yaitu cara 'penginjilan' yang dipakai oleh gereja-gereja yang liberal, dimana mereka pergi ke panti-panti asuhan, atau daerah yang terkena bencana alam dsb, tetapi mereka hanya memberikan bantuan sosial saja (makanan, pakaian, uang), dan mereka tidak memberitakan Injil. Orang-orang yang mereka layani, akan merasa senang dan menganggap orang kristen itu baik, tetapi mereka tidak mendapatkan NOTITIA dan karena itu mereka tak bisa percaya kepada Yesus, dan tak akan diselamatkan!

Gereja / orang kristen mempunyai tugas utama untuk memberitakan Injil, bukan untuk menjadi Sinterklaas!

·        memberitakan Injil dengan Injil yang miring, dimana Yesus ditekankan bukan sebagai Juruselamat dan Tuhan, tetapi hanya sebagai dokter, pemberi berkat / kekayaan, penolong, akan memberikan NOTITIA yang salah, dan karena itu akan menghasilkan iman yang salah, yang dalam arti yang sebenarnya bukanlah iman.

 

2)         ASSENSUS.

 

Kata bahasa Latin ini artinya sama dengan kata bahasa Inggris ‘assent’, yang berarti ‘persetujuan’.

Ini juga merupakan suatu elemen yang harus ada pada iman yang sejati! Jadi, tidak cukup seseorang hanya mendengar dan mengerti Injil! Ia juga harus menyetujui Injil itu!

 

Dasar Kitab Suci:

Kitab Suci sering menggunakan istilah bahasa Yunani PISTEUO HOTI yang berarti ‘believe that’ (= percaya bahwa).

Contoh: Yoh 20:31  Ro 10:9  1Yoh 5:1

Ini jelas menunjukkan suatu persetujuan terhadap informasi / Injil yang telah didengar dan dimengerti!

 

ASSENSUS ini mencakup 2 hal:

 

a)   Intellectual assent (= persetujuan intelek).

Ini berarti bahwa secara logika / intelektual orang itu harus mengakui kebenaran dari Injil.

Kalau secara logika saja ia tak bisa menerima kebenaran Injil, maka jelas ia tak bisa dikatakan sebagai orang yang percaya.

Disamping itu, kalau kita berkata bahwa seseorang itu percaya, maka jelas yang dimaksudkan adalah seluruh orang itu percaya, berarti termasuk akal / pikirannya.

 

b)   Emotional assent ( = persetujuan emosi).

Kalau memang seluruh orang itu percaya, maka tentu tak cukup hanya logika / akalnya saja yang menyetujui kebenaran Injil. Perasaannyapun harus ikut terlibat!

Misalnya:

·        ia merasa bahwa dirinya adalah orang berdosa yang harus dihukum oleh Tuhan.

·        ia merasa akan kasih Allah dalam pengorbanan Kristus.

·        ia merasa berminat terhadap Kristus.

·        ia merasa bahwa Kristus bisa memenuhi kebutuhan rohaninya.

·        ia merasa yakin (mantap) akan kebenaran Injil.

 

Dasar Kitab Suci:

Ro 10:10 - percaya dalam hatimu

Kis 2:37 (NIV) - ‘cut to the heart’ (= teriris hatinya)

 

3)         FIDUCIA.

 

Kata bahasa Latin ini mempunyai arti yang sama dengan kata bahasa Inggris ‘fiducial’ atau ‘trust’ (to trust = mempercayakan diri)

 

a)   Ini adalah elemen kehendak dari iman.

Jadi, iman yang sejati tak hanya menyangkut intelek dan emosi, tetapi juga menyangkut kehendak / kemauan seseorang.

Adanya elemen ini dalam iman yang sejati menyebabkan adanya tindakan sehingga:

·        ada kontak langsung antara orang itu dengan Yesus

·        orang yang beriman itu akan bersandar kepada Yesus saja dalam hal keselamatan rohaninya.

*        kalau orang itu bersandar kepada Yesus dan kepada sesuatu / seseorang yang lain (perbuatan baiknya sendiri, agama lain, Maria dsb), maka ia tidak bisa disebut sebagai orang beriman!

*        kalau orang itu bersandar kepada Yesus dalam hal jasmani (penyakit, problem dsb), tetapi tidak dalam keselamatan rohani, maka ia jelas juga bukan orang yang beriman.

 

Illustrasi populer yang menunjukkan perbedaan to believe (= percaya) dan to trust (= mempercayakan diri) adalah illustrasi tentang Penyeberang air terjun Niagara. Orang yang ‘sekedar percaya’ (believe) bahwa penyeberang itu bisa menyeberangi air terjun Niagara sambil membawa seseorang di atas kereta dorong, tidak akan mau / tidak akan berani duduk di atas kereta dorong itu. Tetapi orang yang ‘mempercayakan dirinya’ (trust) kepada orang itu, akan mau / berani duduk di atas kereta dorong itu.

 

b)         Dasar Kitab Suci:

Kitab Suci sering menggunakan kata bahasa Yunani PISTEUO (= believe / percaya), yang diikuti dengan kata depan EN / EIS / EPI (= in / kepada).

Jadi, jelas bahwa orang yang betul-betul beriman, tidak hanya percaya sesuatu tentang Yesus, tetapi juga percaya kepada Yesus!

 

V) Iman pada saat terakhir.

 

J. C. Ryle: “I know that people are fond of talking about deathbed evidences. They will rest on words spoken in the hour of fear and pain and weakness, as if they might take comfort in them about the friends they lose. But I am afraid in ninety-nine cases out of a hundred such evidences are not to be depended on. I suspect that, with rare exceptions, men die just as they have lived” (= Saya tahu bahwa banyak orang senang membicarakan bukti-bukti ranjang kematian. Mereka bersandar pada kata-kata yang diucapkan pada saat ketakutan dan sakit dan kelemahan, seakan-akan mereka bisa mendapatkan hiburan dalam kata-kata itu tentang sahabat mereka yang hilang / mati. Tetapi saya takut / kuatir bahwa 99 kasus dari 100 bukti-bukti seperti itu tidak bisa diandalkan. Saya menduga bahwa dengan perkecualian yang sangat jarang, orang mati sama seperti mereka telah hidup) - ‘Holiness’, hal 40.

 

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ