(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Minggu, tgl 2 Oktober 2022, pk 09.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Rut 1:6-22 - “(6) Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umatNya dan memberikan makanan kepada mereka. (7) Maka berangkatlah ia dari tempat tinggalnya itu, bersama-sama dengan kedua menantunya. Ketika mereka sedang di jalan untuk pulang ke tanah Yehuda, (8) berkatalah Naomi kepada kedua menantunya itu: ‘Pergilah, pulanglah masing-masing ke rumah ibunya; TUHAN kiranya menunjukkan kasihNya kepadamu, seperti yang kamu tunjukkan kepada orang-orang yang telah mati itu dan kepadaku; (9) kiranya atas karunia TUHAN kamu mendapat tempat perlindungan, masing-masing di rumah suaminya.’ Lalu diciumnyalah mereka, tetapi mereka menangis dengan suara keras (10) dan berkata kepadanya: ‘Tidak, kami ikut dengan engkau pulang kepada bangsamu.’ (11) Tetapi Naomi berkata: ‘Pulanglah, anak-anakku, mengapakah kamu turut dengan aku? Bukankah tidak akan ada lagi anak laki-laki yang kulahirkan untuk dijadikan suamimu nanti? (12) Pulanglah, anak-anakku, pergilah, sebab sudah terlalu tua aku untuk bersuami. Seandainya pikirku: Ada harapan bagiku, dan sekalipun malam ini aku bersuami, bahkan sekalipun aku masih melahirkan anak laki-laki, (13) masakan kamu menanti sampai mereka dewasa? Masakan karena itu kamu harus menahan diri dan tidak bersuami? Janganlah kiranya demikian, anak-anakku, bukankah jauh lebih pahit yang aku alami dari pada kamu, sebab tangan TUHAN teracung terhadap aku?’ (14) Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. (15) Berkatalah Naomi: ‘Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.’ (16) Tetapi kata Rut: ‘Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; (17) di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!’ (18) Ketika Naomi melihat, bahwa Rut berkeras untuk ikut bersama-sama dengan dia, berhentilah ia berkata-kata kepadanya. (19) Dan berjalanlah keduanya sampai mereka tiba di Betlehem. Ketika mereka masuk ke Betlehem, gemparlah seluruh kota itu karena mereka, dan perempuan-perempuan berkata: ‘Naomikah itu?’ (20) Tetapi ia berkata kepada mereka: ‘Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. (21) Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku.’ (22) Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.”.
3) Keputusan Orpa dan Rut dan akibatnya.
a) Orpa memutuskan untuk mentaati nasehat Naomi.
Ay 14: “Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya.”.
1. Dimana perpisahan ini terjadi?
The Biblical Illustrator: “The parting-place: - Where was it that Orpah parted from her companions? She went with them some way, possibly a great way, but at last they reached a point in the journey which was geographically, so to speak, one of decision, one beyond which no one could pass without committing herself to new things and a new life, and at this point Orpah made up her mind to return.” [= Tempat perpisahan: - Dimana Orpa berpisah dari orang-orang yang bersama-sama dengannya? Ia pergi dengan mereka sampai sebagian perjalanan, mungkin sebagian besar dari perjalanan, tetapi akhirnya mereka mencapai suatu titik dalam perjalanan yang secara geografis, boleh dikatakan, merupakan titik keputusan, satu titik dimana seseorang tidak bisa melewatinya tanpa membuat komitmen bagi dirinya sendiri bagi hal-hal yang baru dan suatu kehidupan yang baru, dan pada titik ini Orpa membuat keputusan untuk kembali.].
Ia hampir selamat, sudah sangat dekat dengan keselamatan, tetapi pada titik itu ia memutuskan untuk kembali! Apakah ada dari saudara-saudara yang mau mengikuti jejaknya?
Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
a. Yoh 6:66 - “Mulai dari waktu itu banyak murid-muridNya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia.”.
b. Kis 26:24-28 - “(24) Sementara Paulus mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya, berkatalah Festus dengan suara keras: ‘Engkau gila, Paulus! Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila.’ (25) Tetapi Paulus menjawab: ‘Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan kebenaran dengan pikiran yang sehat! (26) Raja juga tahu tentang segala perkara ini, sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini tidak terjadi di tempat yang terpencil. (27) Percayakah engkau, raja Agripa, kepada para nabi? Aku tahu, bahwa engkau percaya kepada mereka.’ (28) Jawab Agripa: ‘Hampir-hampir saja kauyakinkan aku menjadi orang Kristen!’”.
John Wesley (tentang Kis 26:28): “‘Then Agrippa said unto Paul, Almost thou persuadest me to be a Christian!’ - See here, Festus altogether a heathen, Paul alogether a Christian, Agrippa halting between both. Poor Agrippa! But almost persuaded! So near the mark, and yet fall short! Another step, and thou art within the vail. Reader, stop not with Agrippa; but go on with Paul.” [= ‘Lalu Agripa berkata kepada Paulus, Hampir saja engkau meyakinkan aku menjadi orang Kristen!’ - Lihatlah di sini, Festus adalah orang kafir sepenuhnya, Paulus adalah orang Kristen sepenuhnya, Agripa berhenti di tengah-tengah keduanya. Agripa yang malang! Tetapi hampir saja diyakinkan! Begitu dekat dengan tanda sasaran, tetapi gagal memenuhi standard! Selangkah lagi, dan engkau ada di dalam kemurahan. Pembaca, jangan berhenti bersama Agripa; tetapi teruslah bersama Paulus.] - Libronix.
Barnes’ Notes (tentang Kis 26:28): “There is every reason to believe that he was never quite persuaded to embrace the Lord Jesus, and that he was never nearer the kingdom of heaven than at this moment. It was the crisis, the turning-point in Agrippa’s life, and in his eternal destiny; and, like thousands of others, he neglected or refused to allow the full conviction of the truth on his mind, and died in his sins.” [= Ada terlalu banyak alasan untuk percaya bahwa ia tidak pernah sungguh-sungguh diyakinkan untuk mempercayai Tuhan Yesus, dan bahwa ia tidak pernah lebih dekat pada kerajaan surga dari pada pada saat ini. Itu adalah saat kritis, titik balik dalam kehidupan Agripa, dan dalam tujuan / nasib kekalnya; dan, seperti ribuan orang lain, ia mengabaikan atau menolak untuk mengijinkan keyakinan penuh terhadap kebenaran pada pikirannya, dan mati dalam dosanya.].
c. Ayat-ayat yang menceritakan tentang orang yang bernama Demas:
(1) Filemon 1:24 - “dan dari Markus, Aristarkhus, Demas dan Lukas, teman-teman sekerjaku.”.
(2) Kol 4:14 - “Salam kepadamu dari tabib Lukas yang kekasih dan dari Demas.”.
(3) 2Tim 4:10 - “karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku. Ia telah berangkat ke Tesalonika. Kreskes telah pergi ke Galatia dan Titus ke Dalmatia.”.
2. Perpisahan ini menyedihkan / menyakitkan.
Ay 9b,14a: “(9b) … mereka menangis dengan suara keras … (14a) Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri,”.
Perpisahan dengan orang yang kita cintai selalu menyedihkan dan bahkan menyakitkan. Makin dekat kita dengan orang tersebut, atau makin kita mencintai orang tersebut, maka akan makin sedih / sakit hati kita pada saat kita harus berpisah dengannya.
Pulpit Commentary: “Separations are sometimes the occasion of almost the bitterest sorrows of human life.” [= Perpisahan kadang-kadang merupakan penyebab dari kesedihan yang hampir-hampir merupakan kesedihan yang terpahit dari kehidupan manusia.] - hal 15.
Bandingkan ini dengan perpisahan antara Yesus dengan Bapa pada saat Ia berada di kayu salib (Mat 27:46).
Mat 27:46 - “Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: ‘Eli, Eli, lama sabakhtani?’ Artinya: AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.
Bagaimanapun dekatnya hubungan dari 2 orang dalam dunia ini, tentu tidak bisa dibandingkan dengan hubungan Yesus dengan BapaNya. Karena itu jelas bahwa pada saat Yesus, sebagai Allah dan manusia, harus terpisah dari Bapa karena memikul hukuman dosa kita, Ia mengalami kesedihan dan rasa sakit yang luar biasa. Tetapi keterpisahan yang sudah Ia alami ini menyebabkan kita diperdamaikan dengan Bapa, asal kita percaya kepada Yesus.
Ro 5:1,10,11 - “(1) Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. … (10) Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian AnakNya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidupNya! (11) Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.”.
Disamping itu, keterpisahan Yesus dengan BapaNya itu menjamin bahwa sekali kita diperdamaikan dengan Bapa oleh iman kepada Yesus, maka kita tidak akan terpisah lagi dari Bapa. Itu terlihat dari text di atas pada bagian yang saya beri warna biru. Juga terlihat dari text di bawah ini.
Ibr 13:5b - “Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.’”.
3. Sekalipun sedih / sakit, tetapi Orpa tetap memutuskan untuk menuruti nasehat Naomi, dan berpisah dengannya.
Ay 14a: “Menangis pula mereka dengan suara keras, lalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri,”.
Mungkin ia berpikir: ini adalah nasehat dari orang yang lebih tua, dan orang itu adalah mertuanya sendiri, bahkan orang itu adalah orang yang rohani dan merupakan ibu rohaninya sendiri. Karena itu ia mentaati nasehat itu.
Matthew Henry: “The sad ceremony of parting, and the tears shed on that occasion, drew from her this protestation, but it did not hold. Strong passions, without a settled judgment, commonly produce weak resolutions.” [= Upacara perpisahan yang menyedihkan, dan air mata yang dicucurkan pada peristiwa itu, mendatangkan protes ini darinya, tetapi itu tidak bertahan. Kasih yang kuat, tanpa penilaian yang berketetapan hati, biasanya menghasilkan keputusan-keputusan yang lemah.].
Matthew Henry: “Orpah’s kiss showed she had an affection for Naomi and was loth to part from her; yet she did not love her well enough to leave her country for her sake. Thus many have a value and affection for Christ, and yet come short of salvation by him, because they cannot find in their hearts to forsake other things for him. They love him and yet leave him, because they do not love him enough, but love other things better. Thus the young man that went away from Christ went away sorrowful, Matt 19:22.” [= Ciuman Orpa menunjukkan bahwa ia mempunyai kasih kepada Naomi dan segan untuk berpisah darinya; tetapi ia tidak mengasihi dia dengan cukup baik untuk meninggalkan negaranya demi dia. Demikianlah banyak orang mempunyai suatu penilaian tinggi dan kasih kepada Kristus, tetapi gagal mencapai keselamatan olehNya, karena mereka tidak bisa mendapatkan dalam hati mereka untuk meninggalkan hal-hal lain demi Dia. Mereka mengasihi Dia tetapi meninggalkan Dia, karena mereka tidak mengasihiNya secara cukup, tetapi lebih mengasihi hal-hal lain. Demikianlah orang muda yang meninggalkan Kristus, pergi dengan sedih, Mat 19:22.].
Mat 19:16-22 - “(16) Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: ‘Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ (17) Jawab Yesus: ‘Apakah sebabnya engkau bertanya kepadaKu tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.’ (18) Kata orang itu kepadaNya: ‘Perintah yang mana?’ Kata Yesus: ‘Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, (19) hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ (20) Kata orang muda itu kepadaNya: ‘Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?’ (21) Kata Yesus kepadanya: ‘Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.’ (22) Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.”.
4. Akibat perpisahan ini.
Apa akibatnya? Perhatikan ay 15: ia kembali ‘kepada bangsanya dan kepada para allahnya’!
Ini jelas menunjukkan bahwa ia meninggalkan Tuhan / Yahweh yang adalah satu-satunya Allah yang benar, dan ini jelas membawa dia kepada kebinasaan / neraka!
The Biblical Illustrator: “Poor Orpah! How often have I seen young travellers to eternity stopping just where you stop; hesitating just where you hesitate. Nothing more can be done for you where you are. There is Moab. You have tried that, and found it empty and unhappy. There is Judah. All its provisions and offers are before you, and brought for your acceptance. Never will you be sorry if you take your portion there. Here are Naomi and Ruth. They are journeying to the land which the Lord hath promised them. Soon they will be far from you, out of your sight. Then you will mourn over the separation which you foolishly made. You may go back to Moab, and bury yourself in its sins and follies. But you will find no peace or happiness there. Your conscience will never again allow you to rest. Orpah goes ‘back to her people and her gods.’” [= Orpa yang malang! Betapa sering saya melihat pelancong-pelancong muda pada kekekalan berhenti persis di tempat dimana engkau berhenti; ragu-ragu persis di tempat dimana engkau ragu-ragu. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan bagimu dimana engkau berada. Di sini ada Moab. Engkau telah mencobanya, dan mendapatinya kosong dan tidak bahagia. Di sana ada Yehuda. Semua persediaan dan tawarannya ada di depanmu, dan dibawa untuk penerimaanmu. Engkau tidak pernah akan menyesal jika engkau mengambil bagianmu di sana. Di sini ada Naomi dan Rut. Mereka sedang melakukan perjalanan ke negeri yang telah Tuhan janjikan kepada mereka. Segera mereka akan jauh darimu, hilang dari pandanganmu. Maka / lalu engkau akan berkabung atas perpisahan yang telah engkau buat dengan tolol. Engkau bisa kembali ke Moab, dan mengubur dirimu sendiri dalam dosa-dosa dan ketololan-ketololannya. Tetapi engkau tidak akan mendapatkan damai atau kebahagiaan di sana. Hati nuranimu tidak akan pernah lagi mengijinkanmu untuk beristirahat / tenang. Orpa ‘kembali kepada bangsanya dan allahnya’.].
a. Naomi tidak memperhitungkan resiko rohani yang terjadi akibat perpisahan ini pada diri dari Orpa.
Penerapan: kalau saudara mendorong / memaksa seseorang untuk berpisah dengan diri saudara, pertimbangkanlah resikonya, khususnya resiko rohani, bagi orang tersebut. Kita diperintahkan oleh Yesus untuk menjadikan semua bangsa muridNya (Mat 28:19). Kalau kita tidak menjalankan perintah ini, itu sudah merupakan dosa, dan kita dianggap sebagai pencerai-berai gereja.
Mat 12:30b - “siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”.
Apalagi kalau kita secara sengaja melakukan hal-hal yang menyebabkan seseorang meninggalkan Tuhan / mundur dari Tuhan! Kira-kira itu menyebabkan kita dianggap sebagai apa oleh Tuhan?
b. Orpa sendiri juga tidak memperhitungkan resiko rohani yang ditimbulkan oleh perpisahan ini pada dirinya sendiri.
Penerapan: Kalau saudara memutuskan untuk berpisah dengan seseorang, atau menjauhi seseorang, saudara harus mempertimbangkan resikonya, khususnya resiko rohani, yang mungkin ditimbulkan oleh perpisahan tersebut bagi diri saudara sendiri.
Misalnya: kejengkelan terhadap seseorang di gereja, atau putus cinta, atau tuntutan pekerjaan / sekolah, sering menyebabkan seseorang mundur dari suatu gereja. Ini mempunyai resiko rohani yang harus saudara pertimbangkan!
5. Keputusan Orpa ini menunjukkan bahwa ia tadinya hanya orang Kristen KTP!
Ada penafsir yang berpandangan terlalu positif tentang Orpa. Ia beranggapan bahwa sekalipun Orpa kembali ke Moab, ia kembali karena merasa mempunyai kewajiban ‘memberitakan Injil’ terhadap bangsanya. Jadi, ia pasti menyebarkan agama Yahudi di sana. Saya tidak percaya omong kosong ini. Saya lebih mempercayai kata-kata di bawah ini.
The Biblical Illustrator: “WE LEARN THAT IT IS POSSIBLE TO DECEIVE OURSELVES, AND TO THINK THAT ALL IS RIGHT WHEN IN TRUTH ALL IS WRONG WITH OUR SOULS. Hardly possible that Orpah played the conscious hypocrite. She meant what she did when she became a proselyte - did not deliberately act a part. Feeling and sentiment (love for her husband) blinded her eyes. Love to God, which she had thought supreme in her heart, subordinate to the love of Moab. This often so with men; they are not hypocrites, they are self-deceivers. Education, circumstances, the force of influences around them, produce an emotional religion which they mistake for vital godliness. They hear with joy like the ‘stony-ground hearers.’” [= Kita mempelajari bahwa adalah mungkin untuk menipu diri kita sendiri, dan untuk berpikir / mengira bahwa semua benar / baik-baik saja padahal kebenarannya semua salah dengan jiwa kita. Hampir tidak mungkin bahwa Orpa memerankan orang munafik yang sadar. Ia memaksudkan apa yang ia lakukan pada waktu ia menjadi seorang proselit (orang non Yahudi yang memeluk agama Yahudi) - tidak dengan sengaja bertindak sebagian. Perasaan dan pemikiran (cinta untuk suaminya) membutakan matanya. Kasih kepada Allah, yang ia kira tertinggi dalam hatinya, lebih rendah dari kasih kepada Moab. Ini sering terjadi dengan manusia; mereka bukan orang-orang munafik, mereka adalah penipu diri sendiri. Pendidikan, keadaan, kekuatan dari pengaruh-pengaruh di sekitar mereka, menghasilkan suatu agama emosionil yang mereka salah kenali sebagai kesalehan yang hidup. Mereka mendengar dengan gembira seperti ‘pendengar-pendengar tanah berbatu’.].
Mat 13:5-6,20-21 - “(5) Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. (6) Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. ... (20) Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. (21) Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.”.
The Biblical Illustrator: “WE LEARN THAT IT IS POSSIBLE TO GO A LONG WAY TOWARDS CHRISTIANITY AND YET NOT TO BE A CHRISTIAN. To be born, educated, and dwell in Christian households, these are great blessings, but do not constitute or make a Christian. It will not do to be almost, we must be altogether, decided for Christ. The cup that is almost sound will not hold water. The ship that is almost whole will not weather the storm. Feelings, sentiment, profession are all good if they spring from a living faith in Jesus Christ; without this they are worse than worthless.” [= Kita mempelajari bahwa adalah mungkin untuk berjalan lama / jauh menuju kekristenan tetapi tidak menjadi seorang Kristen. Dilahirkan, dididik, dan tinggal dalam rumah tangga Kristen, ini merupakan berkat-berkat yang besar, tetapi tidak membentuk atau membuat seorang Kristen. Tidak cukup untuk hampir, kita harus sepenuhnya, memutuskan untuk Kristus. Cawan yang hampir tidak bercacat tidak akan menahan / menampung air. Kapal yang hampir utuh tidak akan melalui badai. Perasaan-perasaan, pemikiran, pengakuan, semuanya adalah baik jika hal-hal itu muncul dari suatu iman yang hidup kepada Yesus Kristus; tanpa ini hal-hal itu lebih buruk dari tak berharga.].
The Biblical Illustrator: “The worst opposers of the gospel we ever meet are those who once were almost Christians.” [= Penentang-penentang yang terburuk dari injil yang pernah kami temui adalah mereka yang pernah hampir menjadi orang-orang Kristen.].
b) Rut mengambil keputusan yang berbeda dengan Orpa!
1. Rut tidak mau meninggalkan Naomi.
Ay 14b: “tetapi Rut tetap berpaut padanya.”.
Ay 14b mengatakan bahwa Rut tetap ‘berpaut’ kepada Naomi! Kata ‘berpaut’ ini dalam bahasa Ibraninya sama dengan kata ‘bersatu’ dalam Kej 2:24 yang menunjukkan persatuan suami dengan istrinya!
Kej 2:24 - “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.”.
Kata Ibrani yang sama juga digunakan dalam ayat-ayat di bawah ini:
a. Maz 63:9 - “Jiwaku melekat kepadaMu, tangan kananMu menopang aku.”.
b. Maz 119:31 - “Aku telah berpaut pada peringatan-peringatanMu, ya TUHAN, janganlah membuat aku malu.”.
c. Yos 23:8 - “Tetapi kamu harus berpaut pada TUHAN, Allahmu, seperti yang kamu lakukan sampai sekarang.”.
d. Amsal 18:24 - “Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.”.
Jadi, Rut bukan hanya tidak mau menuruti nasehat Naomi, tetapi ia juga tidak meniru teladan dari Orpa! Bagian yang terakhir ini mengajar kita untuk tidak ikut-ikutan orang yang melakukan hal yang salah! Banyak contoh tentang orang-orang yang dengan mudah ikut-ikutan melakukan hal yang salah, seperti demo, melanggar lampu merah, dsb. Dalam gereja juga seperti itu, seperti praktek doa yang diiringi alat musik, doa bersuara, acara penyembahan yang disertai bahasa roh, dsb.
2. Naomi mendesak dan memberikan nasehat yang lebih gila dari nasehat yang pertama di atas.
Ay 15: “Berkatalah Naomi: ‘Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu.’”.
Ia bukan sekedar menasehati Rut untuk kembali kepada bangsanya, tetapi ia bahkan menasehatinya untuk meniru Orpa dan kembali kepada para allahnya!
Ada penafsir yang menganggap bahwa kata-kata Naomi ini hanya merupakan suatu cara untuk menguji Rut. Pulpit Commentary (hal 19) bahkan mengatakan bahwa ada penafsir yang menyamakan tindakan Naomi di sini dengan tindakan Allah yang bergumul dengan Yakub, dengan tujuan supaya Yakub mengalahkanNya (Kej 32:22-32).
Mungkin juga ini sama seperti Yesus, yang pada waktu melihat banyak orang meninggalkannya, lalu bertanya kepada murid-muridNya apakah mereka tidak pergi meninggalkanNya juga?
Yoh 6:66-67 - “(66) Mulai dari waktu itu banyak murid-muridNya mengundurkan diri dan tidak lagi mengikut Dia. (67) Maka kata Yesus kepada kedua belas muridNya: ‘Apakah kamu tidak mau pergi juga?’”.
Tetapi saya tidak setuju dengan penafsiran ini, karena kalau demikian, maka Naomi pasti juga bermaksud untuk menguji Orpa pada waktu menyuruhnya kembali ke Moab. Tetapi jika ia tadi memang menguji Orpa, mengapa pada waktu Orpa memutuskan untuk kembali ke Moab, Naomi membiarkan Orpa pergi begitu saja? Mengapa ia tidak menasehati / ‘memberitakan Injil’ kepadanya sedikitpun?
3. Rut berkeras untuk tidak meninggalkan Naomi.
Apapun maksud Naomi pada waktu mengatakan ay 15, apakah untuk menguji atau betul-betul menyuruh Rut meninggalkannya, perhatikan keputusan / kata-kata Rut dalam ay 16-17!
Ay 16-17 - “(16) Tetapi kata Rut: ‘Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; (17) di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!’”.
a. Ia mengambil keputusan untuk setia sampai mati!
Keputusan ini ia ambil bukan semata-mata karena kesetiaannya kepada Naomi, tetapi karena alasan rohani / agama! Ini terlihat dari ay 16 dimana ia mengatakan ‘bangsamulah bangsaku, Allahmulah Allahku’. Ini menunjukkan bahwa ia mau di-Yahudi-kan / memeluk agama Yahudi dan menyembah Allah Israel.
b. Lalu dalam ay 17 ia menyebut TUHAN (Yahweh), dan bersumpah demi namaNya (Bdk. Ul 6:13 10:20).
Ay 17: “di mana engkau mati, akupun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan. Beginilah kiranya TUHAN menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jikalau sesuatu apapun memisahkan aku dari engkau, selain dari pada maut!’”.
Ul 6:13 - “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi namaNya haruslah engkau bersumpah.”.
Ul 10:20 - “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu, kepadaNya haruslah engkau beribadah dan berpaut, dan demi namaNya haruslah engkau bersumpah.”.
Ini menunjukkan bahwa ia tidak lagi menyembah Kamos (dewa orang Moab), tetapi ia menyembah TUHAN (Yahweh), Allah Israel, dan ini jelas membawa Rut pada kehidupan yang kekal!
Penerapan: kalau saudara mengambil keputusan, pertimbangkanlah alasan-alasan rohani!
Seluruh kata-kata Rut dalam ay 16-17 ini bukan hanya merupakan penolakan yang tegas terhadap nasehat Naomi yang buruk, tetapi juga mempunyai suatu tekanan yang kuat yang menghentikan ‘pencobaan’ dari Naomi baginya untuk meninggalkan Naomi dan Yahweh. Ini merupakan sesuatu yang penting. Dalam menolak nasehat yang salah / buruk, lakukan sedemikian rupa, sehingga si penasehat itu berhenti ‘mencobai’ saudara!
Matthew Henry: “See the power of resolution, how it puts temptation to silence. Those that are unresolved, and go in religious ways without a stedfast mind, tempt the tempter, and stand like a door half open, which invites a thief; but resolution shuts and bolts the door, resists the devil, and forces him to flee.” [= Lihatlah kekuatan dari ketetapan hati, bagaimana itu membuat pencobaan diam. Mereka yang belum mempunyai ketetapan hati, dan berjalan dalam jalan agamawi tanpa pikiran yang teguh, mencobai si pencoba, dan berdiri / berada seperti sebuah pintu yang setengah terbuka, yang mengundang seorang pencuri; tetapi ketetapan hati menutup dan mengunci pintu, menolak / menahan setan, dan memaksanya untuk lari.].
4. Pertobatan Rut ini membuktikan keselamatan hanya karena kasih karunia Allah saja!
The Bible Exposition Commentary: “Ruth’s conversion is evidence of the sovereign grace of God, for the only way sinners can be saved is by grace (Eph 2:8-10). Everything within her and around her presented obstacles to her faith, and yet she trusted the God of Israel. Her background was against her, for she was from Moab where they worshiped the god Chemosh (Num 21:29; 1 Kings 11:7,33), ... Her circumstances were against her and could have made her bitter against the God of Israel. First, her father-in-law died, and then her husband and her brother-in-law; and she was left a widow without any support. If this is the way Jehovah God treats His people, why follow Him? Ruth dearly loved her mother-in-law, but even Naomi was against her; for she urged Ruth to return to her family and her gods in Moab. Since Elimelech and Mahlon were now dead, Ruth was technically under the guardianship of Naomi; and she should have obeyed her mother-in-law’s counsel. But God intervened and graciously saved Ruth in spite of all these obstacles.” [= Pertobatan Rut merupakan bukti dari kasih karunia yang berdaulat dari Allah, karena satu-satunya cara / jalan orang-orang berdosa bisa diselamatkan adalah oleh kasih karunia (Ef 2:8-10). Segala sesuatu di dalam dia dan di sekitar dia memberikan halangan-halangan bagi imannya, tetapi ia percaya kepada Allah Israel. Latar belakangnya menentangnya, karena ia berasal dari Moab dimana mereka menyembah dewa Kamos (Bil 21:29; 1Raja 11:7,13), ... Keadaan / sikonnya menentang dia dan bisa saja membuatnya merasa pahit terhadap Allah Israel. Pertama-tama ayah mertuanya mati, dan lalu suaminya dan iparnya; dan ia ditinggalkan sebagai seorang janda tanpa sokongan apapun. Jika ini adalah cara Yehovah memperlakukan umatNya, mengapa / untuk apa mengikuti Dia? Rut sangat mengasihi ibu mertuanya, tetapi bahkan Naomi menentangnya; karena ia mendesak Rut untuk kembali kepada keluarganya dan allah-allah / dewa-dewanya di Moab. Karena Elimelekh dan Mahlon sekarang sudah mati, secara tehnis Rut ada di bawah perwalian dari Naomi; dan ia seharusnya mentaati nasehat ibu mertuanya. Tetapi Allah ikut campur dan dengan murah hati / penuh kasih karunia menyelamatkan Rut sekalipun ada semua halangan-halangan ini.].
Setiap saat saudara akan menerima nasehat:
1. Atau dari keluarga / orang tua.
2. Atau dari orang yang rohani (Pendeta, Penginjil, Majelis, bapak rohani saudara dsb).
Maka ingat, bahwa siapapun juga mereka adanya, mereka tetap adalah manusia berdosa, dan karena itu nasehat mereka bisa salah! Karena itu jangan cepat-cepat menuruti nasehat siapapun! Bandingkan dulu nasehat itu dengan Firman Tuhan. Kalau sesuai dengan Firman Tuhan, turutilah; kalau tidak sesuai dengan Firman Tuhan, abaikanlah nasehat itu!
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali