(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tgl 2 September 2015, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
f) Untuk menjamin bisa
berjalan dengan baiknya rumah Allah, tercukupinya kebutuhan hamba-hamba Tuhan,
sehingga mereka bisa berkonsentrasi pada pelayanan mereka.
Point
ini berhubungan sangat dekat dengan point e) di atas, karena kita tidak mungkin
bisa mendukung penegakan nama Tuhan, kalau kita tidak mendukung rumah Allah /
tempat ibadah, dan juga mencukupi kebutuhan hidup hamba-hamba Tuhan.
Dalam
Perjanjian Lama hamba-hamba Tuhan itu adalah orang-orang Lewi dan imam-imam.
Memang dalam Perjanjian Baru, hamba-hamba Tuhan nama jabatannya berbeda, tetapi
itu bukan masalah. Yang penting hamba-hamba Tuhan ini menegakkan nama Tuhan dan
itu dilakukan dalam tempat ibadah / gereja.
Sekarang
mari kita lihat perintah Allah untuk mencukupi kebutuhan hamba-hamba Tuhan dalam
Perjanjian Lama.
Bil 18:21
- “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala
persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk
membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.”.
Ul
12:19 - “Hati-hatilah, supaya jangan
engkau melalaikan orang Lewi, selama
engkau ada di tanahmu.”.
NIV:
‘Be careful not to neglect the Levites as long
as you live in your land.’
[= Hati-hatilah untuk tidak mengabaikan orang-orang Lewi selama
kamu hidup di tanah / negerimu.].
2Taw 31:4
- “Ia memerintahkan rakyat, yakni penduduk Yerusalem, untuk memberikan
sumbangan yang menjadi bagian para imam dan orang-orang Lewi, supaya mereka
dapat mencurahkan
tenaganya untuk melaksanakan
Taurat TUHAN.”.
KJV: ‘that they might be encouraged in the law of the LORD’ [= supaya mereka bisa didorong / dibesarkan hati dalam hukum Taurat dari TUHAN].
RSV: ‘that they might give themselves to the law of the LORD’ [= supaya mereka bisa memberikan diri mereka sendiri pada hukum Taurat dari TUHAN].
NIV: ‘so they could devote themselves to the Law of the LORD’ [= sehingga mereka bisa membaktikan diri mereka sendiri pada hukum Taurat dari TUHAN].
NASB: ‘that they might devote themselves to the law of the LORD’ [= sehingga mereka bisa membaktikan diri mereka sendiri pada hukum Taurat dari TUHAN].
Neh 10:37-39
- “(37) Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan
khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada
para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami, dan kepada
orang-orang Lewi akan kami bawa persembahan persepuluhan dari tanah kami, karena
orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di
segala kota pertanian kami.
(38) Seorang imam, anak Harun,
akan menyertai orang-orang Lewi itu, bila mereka memungut persembahan
persepuluhan. Dan orang-orang Lewi itu akan membawa persembahan persepuluhan
dari pada persembahan persepuluhan itu ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah
perbendaharaan. (39) Karena
orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum,
anggur dan minyak ke bilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat
kudus, pula para imam yang menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu
gerbang dan para penyanyi. Kami
tidak akan membiarkan rumah Allah kami.”.
Ay
39: ‘membiarkan’.
KJV: ‘forsake’ [= meninggalkan].
RSV/NIV/NASB: ‘neglect’ [= mengabaikan].
Dari
text di atas ini terlihat bahwa pemberian persembahan-persembahan (termasuk
persembahan persepuluhan) kepada orang-orang Lewi dan imam-imam berhubungan
dengan ‘tidak akan membiarkan rumah
Allah’ (ay 39 akhir).
Tetapi
janji dalam Neh 10 di atas ternyata tidak mereka tepati, mereka lalai memberi
persembahan-persembahan (termasuk persembahan persepuluhan) kepada orang-orang
Lewi.
Neh
13:10-12 - “(10) Juga kudapati bahwa sumbangan-sumbangan bagi
orang-orang Lewi tidak pernah diberikan,
sehingga orang-orang Lewi dan para
penyanyi yang bertugas masing-masing lari ke ladangnya.
(11) Aku menyesali para penguasa, kataku: ‘Mengapa
rumah Allah dibiarkan begitu saja?’ Lalu kukumpulkan orang-orang Lewi itu dan kukembalikan pada
tempatnya. (12) Maka seluruh orang Yehuda membawa lagi persembahan persepuluhan
dari pada gandum, anggur dan minyak ke perbendaharaan.”.
Ay
11: ‘dibiarkan’.
NIV: ‘neglected’ [= diabaikan].
KJV/RSV/NASB/ASV/NKJV: ‘forsaken’ [= ditinggalkan].
Perhatikan bahwa kelalaian bangsa Israel dalam memberikan persembahan persepuluhan menyebabkan para pelayan Tuhan terpaksa bekerja untuk menafkahi diri mereka sendiri dan keluarga mereka, sehingga rumah Allah (tempat dimana Allah menegakkan namaNya) diabaikan / ditinggalkan.
Sekarang mari kita melihat beberapa komentar dari para penafsir tentang ayat-ayat ini.
Pulpit Commentary (tentang 2Taw 31:5-19): “1. Promptly. ‘As soon as the commandment came abroad,’ the children of Israel began to pour in their contributions (ver. 5). The absence of delay, showed their zeal was not fanatical, but religious, and not seeming, but real - the last thing to be affected by a man’s religion being his purse;” [= 1. Dengan segera. ‘Segera setelah perintah ini tersiar,’ orang Israel mulai mencurahkan kontribusi mereka (ay 5). Tidak adanya penundaan, menunjukkan semangat mereka bukanlah bersifat fanatik, tetapi agamawi, dan bukannya hanya kelihatannya, tetapi sungguh-sungguh - Hal terakhir yang dipengaruhi oleh agama seseorang adalah dompetnya;].
Pulpit Commentary (tentang 2Taw 31:5-19): “3. Unweariedly. It was no sudden fit of liberality which had overtaken them and quickly expended itself. The firstfruits presenting, tithe-paying, and free-will offering went on for four months (ver. 7). Many can do a generous deed when seized by a momentary impulse, but are wholly unable to bear the strain of continuous giving. That these ancient givers grew not tired of their liberality was a proof that it proceeded from principle rather than from impulse - showed they were acting more from respect to the Divine Law than from a desire to gratify their own feelings.” [= 3. Dengan tidak jemu-jemu / bosan. Itu bukanlah suatu ledakan emosi mendadak dari kedermawanan yang telah mendatangi mereka secara tiba-tiba dan dengan cepat menghabiskan dirinya sendiri. Memberikan buah / hasil pertama, persembahan persepuluhan, dan persembahan sukarela berlangsung terus selama 4 bulan (ay 7). Banyak orang bisa melakukan tindakan murah hati pada waktu dikuasai oleh suatu dorongan hati sesaat yang tiba-tiba, tetapi sama sekali tidak mampu memikul / menahan ketegangan dari pemberian yang terus menerus. Bahwa pemberi-pemberi kuno ini tidak menjadi bosan tentang kedermawanan mereka merupakan suatu bukti bahwa itu keluar dari prinsip dan bukannya dari dorongan hati yang tiba-tiba - menunjukkan bahwa mereka bertindak lebih dari rasa hormat pada hukum Taurat ilahi dari pada dari suatu keinginan untuk memuaskan perasaan mereka sendiri.].
Adam
Clarke (tentang Neh 10:39): “‘We
will not forsake the house of our God.’ Here was a glorious resolution; and
had they been faithful to it, they had been a great and good people to the
present day. But what is implied in, We will not forsake the house of our God? I
answer: I. The church of God is the house of God; there he has his constant
dwelling-place. II. True believers are his family in this house, ... III. The
ministers of the word of God are the officers and overseers of this house and
family. IV. The worship of God is the grand employment of this family.”
[= ‘Kami
tidak akan membiarkan rumah Allah kami.’ Di sini ada suatu keputusan yang
mulia; dan seandainya mereka setia padanya, mereka akan sudah menjadi suatu
bangsa / umat yang besar dan baik sampai hari ini. Tetapi apa yang secara
implicit ditunjukkan dalam, ‘Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami’?
Saya menjawab: I. Gereja Allah adalah rumah Allah;
di sana Ia secara terus menerus mempunyai tempat tinggalNya. II. Orang-orang
percaya yang sejati adalah keluargaNya dalam rumah ini, ... III. Pelayan-pelayan
dari firman Allah adalah pejabat-pejabat dan pengawas-pengawas dari rumah dan
keluarga ini. IV. Penyembahan / ibadah Allah adalah
aktivitas terutama dari keluarga ini.].
Calvin
(tentang Bil 18:20):
“As to the present passage, God requires tithes of the people for the
maintenance of the tribe of Levi. ... there were two different and special
reasons for this payment of tithes, which God ordained by Moses. First, because
the land had been promised to the seed of Abraham, the Levites were the
legitimate inheritors of a twelfth part of it; but they were passed over, and
the posterity of Joseph divided into two tribes: unless, therefore, they had
been provided for in some other way, the distribution would have been unequal.
Again, forasmuch as they were employed in the sanctuary, their labor was worthy
of some remuneration, nor was it reasonable that they should be defrauded of
their subsistence, when they were set apart for the performance of the sacred
offices, and for the instruction of the people. Two reasons are consequently
laid down why God would have them receive tithes from the rest of the people,
viz., because they had no part in Israel, and because they were engaged in the
service of the tabernacle.” [= Berkenaan
dengan text ini, Allah menuntut persembahan persepuluhan dari bangsa itu untuk
pemeliharaan suku Lewi. ... disana ada dua alasan yang berbeda dan khusus untuk
pembayaran persembahan persepuluhan ini, yang Allah tentukan oleh Musa. Pertama,
karena tanah / negeri itu telah dijanjikan kepada keturunan Abraham, orang-orang
Lewi adalah pewaris-pewaris yang sah dari seperduabelas bagian darinya; tetapi
mereka dilewati, dan keturunan Yusuf dibagi menjadi dua suku: karena
itu, kecuali mereka telah dipelihara dengan cara lain, pembagian ini akan tidak
merata / tidak adil. Lalu, karena mereka dipekerjakan di tempat kudus, jerih payah mereka layak
mendapat suatu pemberian upah / gaji, juga merupakan sesuatu yang tak masuk akal
bahwa mereka harus kehilangan hal-hal pokok dari kehidupan mereka, pada waktu
mereka dipisahkan untuk melaksanakan tugas-tugas keramat / kudus, dan untuk
pengajaran bangsa / umat itu. Sebagai
akibatnya, dua alasan diberikan mengapa Allah menghendaki mereka menerima
persembahan persepuluhan dari sisa bangsa itu, yaitu, karena
mereka tidak mendapat bagian di Israel, dan karena
mereka terlibat dalam pelayanan dari Kemah Suci.] - hal 277-278.
Wycliffe
Bible Commentary (tentang 2Taw 31:2-5):
“The Levites could devote themselves to God’s work unhindered by
secular pursuits only if they received these ‘portions’ regularly (cf. Neh
13:10).” [= Orang-orang Lewi bisa membaktikan diri mereka sendiri pada
pekerjaan Allah tanpa halangan oleh pekerjaan sekuler hanya jika mereka menerima
‘bagian-bagian’ ini secara teratur (bdk. Neh 13:10).].
Adam Clarke (tentang Ul 12:19): “‘Forsake not the Levite.’ These had no inheritance, and were to live by the sanctuary: if therefore the offerings were withheld by which the Levites were supported, they of course must perish. Those who have devoted themselves to the service of God in ministering to the salvation of the souls of men, should certainly be furnished at least with all the necessaries of life. Those who withhold this from them sin against their own mercies, and that ordinance of God by which a ministry is established for the salvation of souls.” [= ‘Janganlah meninggalkan orang-orang Lewi’. Mereka tidak mendapatkan warisan, dan harus hidup oleh tempat kudus: karena itu jika persembahan-persembahan ditahan dengan mana mereka disokong, tentu saja mereka pasti binasa. Mereka yang telah membaktikan diri mereka sendiri pada pelayanan Allah dalam pelayanan bagi keselamatan dari jiwa-jiwa manusia, pasti harus disokong sedikitnya dengan semua kebutuhan-kebutuhan hidup. Mereka yang menahan ini dari mereka berdosa terhadap berkat-berkat mereka sendiri, dan hukum Allah itu dengan mana suatu pelayanan diteguhkan untuk keselamatan dari jiwa-jiwa.].
Adam
Clarke (tentang Bil 18:21):
“‘Behold, I
have given the children of Levi all the tenth.’ 1. The Levites had one-tenth
of all the productions of the land. 2. They had forty-eight cities, each forming
a square of 4,000 cubits. 3. They had 2,000 cubits of ground round each city.
Total of the land they possessed, 53,000 acres. 4. They had the first-fruits and
certain parts of all the animals killed in the land. Canaan contained about
11,264,000 acres; therefore the portion possessed by the Levites was rather less
than as one to two hundred and twelve; for 11,264,000 divided by 53,000, quotes
only 212 28/53, - See Lowman, Dodd, etc. But though this was a very small
proportion for a whole tribe that had consented to annihilate its political
existence, that it might wait upon the service of God, and labour for the
people’s souls; yet let it be considered that what they possessed was the best
of the land: and while it was a slender remuneration for their services, yet their
portion was such as rendered them independent, and kept them comfortable; so
that they could wait on the Lord’s work without distraction. This is a proper
pattern for the maintenance of the ministers of God: let them have a sufficiency
for themselves and families, that there may be no distracting cares; and let
them not be encumbered with riches or worldly possessions, that they may not be
prevented from taking care of souls.”
[= ‘Lihatlah / sesungguhnya, Aku
telah memberikan kepada orang-orang Lewi segala persembahan persepuluhan’. 1.
Orang-orang Lewi mendapatkan 1/10 dari semua hasil tanah itu. 2. Mereka
mempunyai / mendapatkan 48 kota, masing-masing membentuk 4000 hasta persegi. 3.
Mereka mendapat 2000 hasta tanah di sekeliling setiap kota. Total tanah yang
mereka miliki, 53.000 acres (kira-kira 21.200 hektar). 4. Mereka mendapatkan
hasil / buah pertama dan bagian tertentu dari semua binatang yang dibunuh di
negeri / tanah itu. Kanaan terdiri dari 11.264.000 acres (sekitar
4.507.600 hektar); karena itu bagian yang dimiliki oleh orang-orang Lewi adalah
sedikit kurang dari 1/212; karena 11.264.000 dibagi dengan 53.000 hanyalah 212
28/53, - Lihat Lowman, Dodd, dsb. Tetapi sekalipun ini adalah suatu bagian yang
sangat kecil untuk seluruh suku yang telah menyetujui penghilangan / penghapusan
keberadaannya berhubungan dengan politik / pemerintah, sehingga mereka bisa
melayani pelayanan / ibadah Allah, dan berjerih payah untuk jiwa-jiwa
orang-orang / bangsa; tetapi hendaklah dipertimbangkan bahwa apa yang mereka
miliki adalah yang terbaik dari tanah / negeri itu: dan sekalipun itu adalah
suatu balasan yang kecil untuk pelayanan-pelayanan mereka, tetapi
bagian mereka adalah sedemikian rupa sehingga menyebabkan mereka tak tergantung,
dan menjaga mereka nyaman; sehingga mereka bisa melayani pekerjaan Tuhan tanpa
gangguan / pikiran yang terpecah. Ini adalah suatu pola yang tepat / benar untuk
pemeliharaan dari pelayan-pelayan Allah: hendaklah mereka mendapatkan suatu
kecukupan untuk diri mereka sendiri dan keluarga mereka, sehingga disana tidak
ada kekuatiran yang mengganggu / memecah pikiran; dan hendaklah mereka tidak
dihalangi / dirintangi dengan kekayaan atau milik duniawi, sehingga mereka tidak
dicegah dari pemeliharaan jiwa-jiwa.].
Jamieson, Fausset & Brown (tentang Bil 18:21-22): “‘I have given the children of Levi.’ Neither the priests nor the Levites were to possess any allotments of land, but to depend entirely upon Him who liberally provided for them out of His own portion; and this law was subservient to many important purposes - such as, that, being exempted from the cares and labours of worldly business, they might be exclusively devoted to His service; that a bond of mutual love and attachment might be formed between the people and the Levites, who, as performing religious services for the people, derived their subsistence from them; and further, that being the more easily dispersed among the different tribes: they might be more useful in instructing and directing the people.” [= ‘Aku telah memberikan kepada orang-orang Lewi’. Baik imam-imam maupun orang-orang Lewi tidak boleh memiliki pembagian tanah / negeri apapun, tetapi tergantung sepenuhnya kepada Dia yang dengan bebas memelihara mereka dari bagianNya sendiri; dan hukum ini berguna bagi banyak tujuan-tujuan penting - seperti, karena dibebaskan dari kekuatiran dan jerih payah dari kesibukan duniawi, mereka bisa secara exklusif dibaktikan pada pelayananNya; sehingga suatu ikatan dari saling mengasihi dan menyayangi bisa dibentuk antara bangsa itu dan orang-orang Lewi, yang, karena melakukan pelayanan-pelayanan agamawi bagi bangsa itu, mendapatkan kebutuhan hidup mereka dari bangsa itu; dan selanjutnya, bahwa karena dengan lebih mudah tersebar di antara suku-suku yang berbeda: mereka bisa lebih berguna dalam mengajar dan mengarahkan bangsa itu.].
Catatan: Jadi ada hubungan timbal balik dimana bangsa itu mendapatkan hal rohani (pelayanan) dari orang-orang Lewi, dan sebaliknya orang-orang Lewi mendapatkan hal jasmani (kebutuhan hidup) dari bangsa itu. INI AKAN RUSAK TOTAL KALAU PERSEMBAHAN PERSEPULUHAN DIANGGAP SEBAGAI GAJI YANG MENGHARUSKAN ORANG-ORANG LEWI MENJADI PELAYAN BANGSA ITU DAN BUKAN PELAYAN TUHAN!!! Ini sangat penting diperhatikan oleh jemaat kristen jaman sekarang yang banyak sekali memperlakukan pendeta-pendetanya sebagai pelayan-pelayan mereka dan bukan pelayan-pelayan Tuhan!
Barnes’ Notes (tentang 2Taw 31:4): “‘That they might be encouraged ...’ i.e. to devote themselves wholly to their proper work, the service of the sanctuary and the teaching of God’s Law (2 Chron 17:7-9), and not engage in secular occupations. Compare Neh 13:10-14.” [= ‘Supaya mereka bisa didorong / dikuatkan ...’ yaitu membaktikan diri mereka sendiri dengan sepenuhnya pada pekerjaan mereka yang benar, pelayanan dari tempat kudus dan pengajaran hukum Taurat Allah (2Taw 17:7-9), dan tidak terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan sekuler. Bandingkan Neh 13:10-14.].
Neh 13:10-13 - “(10) Juga kudapati bahwa sumbangan-sumbangan bagi orang-orang Lewi tidak pernah diberikan, sehingga orang-orang Lewi dan para penyanyi yang bertugas masing-masing lari ke ladangnya. (11) Aku menyesali para penguasa, kataku: ‘Mengapa rumah Allah dibiarkan begitu saja?’ Lalu kukumpulkan orang-orang Lewi itu dan kukembalikan pada tempatnya. (12) Maka seluruh orang Yehuda membawa lagi persembahan persepuluhan dari pada gandum, anggur dan minyak ke perbendaharaan. (13) Sebagai pengawas-pengawas perbendaharaan kuangkat imam Selemya dan Zadok, seorang ahli kitab, dan Pedaya, seorang Lewi, sedang Hanan bin Zakur bin Matanya diperbantukan kepada mereka, karena orang-orang itu dianggap setia. Mereka diserahi tugas untuk mengurus pembagian kepada saudara-saudara mereka.”.
Pulpit Commentary (tentang 2Taw 31:5-19): “4. Abundantly. So extraordinary was the outburst of liberality, that not only had the priests and Levites obtained the most ample maintenance, having had enough to eat and plenty over (ver. 10), but so fast came the people’s offerings in that they were obliged to be piled up in heaps (ver. 6), ... The Christian Church might herein find an example. It is poor policy, besides being unscriptural (Luke 10:7; 1 Cor 9:14), for Churches or congregations to starve or underpay their ministers.” [= 4. Dengan berlimpah-limpah. Begitu luar biasa ledakan dari kedermawanan itu, sehingga bukan hanya imam-imam dan orang-orang Lewi mendapatkan pemeliharaan yang sangat cukup, mempunyai cukup untuk dimakan dan berlebihan / sisanya banyak (ay 10), tetapi begitu cepat datangnya persembahan dari bangsa itu sehingga persembahan-persembahan itu harus ditumpuk dalam timbunan-timbunan (ay 6), ... Gereja Kristen bisa mendapatkan di sini suatu teladan. Merupakan suatu kebijaksanaan yang buruk, disamping tidak Alkitabiah (Luk 10:7; 1Kor 9:14), bagi Gereja-gereja atau jemaat-jemaat untuk melaparkan atau membayar terlalu rendah pendeta-pendeta mereka.].
Catatan: ini tentu tak dimaksudkan bagi gereja yang memang tak mampu memberi biaya hidup yang memadai bagi pendeta-pendetanya. Tetapi kalau gereja itu mampu, dan tetap memberi biaya hidup yang tidak memadai, maka itu merupakan kebijaksanaan yang buruk! Pendeta akan terpaksa mencari uang dengan cara lain, dan itu berarti mengurangi waktu, tenaga, pikiran, yang seharusnya ia curahkan semua untuk melayani gereja! Jadi akhirnya, yang dirugikan adalah gereja! PARA MAJELIS HARUS MEMPERHATIKAN HAL INI!
1Kor
9:7-14 - “(7) Siapakah yang pernah turut dalam peperangan atas biayanya
sendiri? Siapakah yang menanami kebun anggur dan tidak memakan buahnya? Atau
siapakah yang menggembalakan kawanan domba dan yang tidak minum susu domba itu?
(8) Apa yang kukatakan ini bukanlah hanya pikiran manusia saja. Bukankah hukum
Taurat juga berkata-kata demikian? (9) Sebab dalam hukum Musa ada tertulis:
‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik!’ Lembukah
yang Allah perhatikan? (10) Atau kitakah yang Ia maksudkan? Ya, untuk kitalah hal ini ditulis, yaitu pembajak
harus membajak dalam pengharapan dan pengirik harus mengirik dalam pengharapan
untuk memperoleh bagiannya.
(11) Jadi, jika kami telah menaburkan benih rohani bagi kamu,
berlebih-lebihankah kalau kami menuai hasil duniawi dari pada kamu? (12) Kalau
orang lain mempunyai hak untuk mengharapkan hal itu dari pada kamu, bukankah
kami mempunyai hak yang lebih besar? Tetapi kami tidak mempergunakan hak itu.
Sebaliknya, kami menanggung segala sesuatu, supaya jangan kami mengadakan
rintangan bagi pemberitaan Injil Kristus. (13) Tidak tahukah kamu, bahwa mereka
yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu
dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu?
(14) Demikian
pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup
dari pemberitaan Injil itu.”.
Bible Knowledge Commentary (tentang Mal 3): “If the Levites and priests would not receive the tithes and offerings, they would have to turn to other means of supporting themselves. As a result, the temple ministry would suffer. ... Since the temple was God’s house (v. 10), failure to support its ministry was considered equal to robbing God Himself.” [= Jika orang-orang Lewi dan imam-imam tidak menerima persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan, mereka akan harus berbelok / beralih pada cara-cara lain untuk menyokong diri mereka sendiri. Sebagai akibatnya, pelayanan Bait Suci akan menderita / mengalami kerugian. ... Karena Bait Suci adalah rumah Allah (ay 10), kegagalan untuk menyokong pelayanannya dianggap sama dengan merampok Allah sendiri.].
John Benton (tentang Mal 3:8-9): “When God’s people will not give to the support of God’s work, it has a very direct and practical effect upon their influence. Perhaps a pastor is not well supported. He is forever worried about the financial needs of his family. You cannot expect a man who is continually plagued by such anxieties to produce the best sermons and teaching from God’s Word. Perhaps the church meets in a tumbledown old building much in need of renovation, but because of the lack of financial support, or willingness to give time and effort to a working party, it remains in a state of disrepair. All right. But outsiders are put off from entering such a building to hear the gospel. They are not attracted into the building. So the influence of the church declines. We cannot rob God without hurting ourselves. He wants us to give to him.” [= Pada waktu umat Allah tidak mau memberi untuk menyokong pekerjaan Allah, itu mempunyai akibat langsung dan praktis pada pengaruh mereka. Mungkin seorang pendeta tidak disokong dengan baik. Ia selamanya / selalu kuatir tentang kebutuhan keuangan dari keluarganya. Kamu tidak bisa mengharapkan seseorang yang terus menerus diganggu oleh kekuatiran-kekuatiran seperti itu untuk menghasilkan khotbah-khotbah dan pengajaran yang terbaik dari Firman Allah. Mungkin gereja itu bertemu di suatu bangunan tua yang mau roboh yang ada dalam kebutuhan untuk direnovasi, tetapi karena kekurangan sokongan keuangan atau kerelaan untuk memberi waktu dan usaha pada pihak yang bekerja, itu tetap dalam suatu keadaan butuh diperbaiki. Baik. Tetapi orang-orang luar ditolak untuk memasuki suatu bangunan seperti itu untuk mendengar injil. Mereka tidak tertarik pada bangunan itu. Demikianlah pengaruh dari gereja itu menurun. Kita tidak bisa merampok Allah tanpa melukai / merugikan diri kita sendiri. Ia mau kita memberi kepadaNya.] - ‘Losing Touch With the Living God: The Message of Malachi’ (Libronix).
The
Biblical
Illustrator (tentang 1Kor 9:7-14): “2.
Ministers should preach to their own people on this subject.”
[= 2. Pelayan-pelayan /
pendeta-pendeta harus berkhotbah kepada umat mereka sendiri tentang subyek /
pokok ini.].
Catatan:
banyak pendeta-pendeta yang mata duitan yang terus-menerus berkhotbah tentang
hal ini. Ini extrim kiri. Tetapi pendeta-pendeta yang baik tak boleh
menghindari extrim kiri dengan masuk ke extrim kanan, yaitu dengan menjadi
begitu takut / sungkan kepada jemaat mereka, sehingga tidak pernah
memberitakan tentang hal ini sama sekali! Banyak jemaat yang, atau tidak
mengerti, atau tidak pernah memikirkan, tentang hal ini, dan karena itu mereka
perlu mendengar pengajaran tentang hal ini!
The
Biblical
Illustrator (tentang 1Kor 9:7-14): “4.
If the church that is able to pay a just compensation to their minister does
not and will not do it, their minister should leave them.”
[= 4. Jika gereja yang bisa /
mampu untuk memberi kompensasi yang adil / benar / masuk akal kepada pendeta
mereka dan tidak mau melakukannya, pendeta mereka harus meninggalkan mereka.].
Catatan:
pendeta harus berani bicara terus terang, kalau memang ia kekurangan. Tetapi
kalau terus tidak digubris, maka keputusan drastis untuk meninggalkan gereja
itu, bukanlah sesuatu yang salah, mengingat bahwa ia juga tidak akan bisa
melayani dengan baik, kalau terus menerus ada dalam kekurangan.
Barnes’ Notes (tentang 1Kor 9:14): “That the command is that they shall ‘live’ zeen of the gospel. It is not that they should grow rich, or lay up treasures, or speculate in it, or become merchants, farmers, teachers, or bookmakers for a living; but it is that they should have such a maintenance as to constitute a livelihood. They should be made comfortable; not rich. They should receive so much as to keep their minds from being harassed with cares, and their families from want not so much as to lead them to forget their dependence on God, or on the people.” [= Bahwa perintahnya adalah bahwa mereka akan ‘hidup’ (ZEEN) dari injil. Bukan supaya mereka menjadi kaya, atau menimbun harta, atau berspekulasi di dalamnya, atau menjadi pedagang, petani, guru, atau pembuat buku untuk suatu penghidupan; tetapi itu adalah supaya mereka mendapatkan suatu pemeliharaan sedemikian rupa sehingga membentuk suatu nafkah. Mereka harus dibuat nyaman; bukan kaya. Mereka harus menerima begitu banyak sehingga menjaga / mencegah pikiran mereka dari gangguan terus menerus dari kekuatiran, dan keluarga mereka dari kekurangan begitu banyak sehingga membimbing mereka untuk melupakan ketergantungan mereka kepada Allah, atau kepada umat.].
Catatan: ‘guru’ tentu maksudnya guru sekuler. Dan ‘pembuat buku’ mungkin juga dalam arti sekuler. Bahkan dalam arti rohanipun, kalau itu terlalu ditekankan, itu jelas merupakan sesuatu yang salah! ‘Terlalu ditekankan’ misalnya kalau ia terlalu banyak mengurusi pembuatan buku (baik dalam belajar untuk itu, maupun dalam pembuatan / pencetakan buku itu sendiri), atau kalau ia membuat topik khotbah, bukan yang sesuai dengan kebutuhan jemaatnya, tetapi yang akan laku untuk dijual sebagai buku.
Matthew
Henry (tentang Ul 12):
“IV.
They are commanded to be kind to the Levites. Did they feast with joy? The
Levites must feast with them, and rejoice with them, v. 12, and again, v. 18;
and a general caution (v. 19), ‘Take heed that thou forsake not the Levite as
long as thou livest.’ There were Levites that attended the altar as assistants
to the priests, and these must not be forsaken, that is, the service they
performed must be constantly adhered to; no other altar must be set up than that
which God appointed; for that would be to forsake the Levites. But this seems to
be spoken of the Levites that were dispersed in the country to instruct the
people in the law of God, and to assist them in their devotions; for it is the
Levite within their gates that they are here commanded to make much of. It is a
great mercy to have Levites near us, within our gates, that we may ask the law
at their mouth, and at our feasts to be a check upon us, to restrain excesses.
And it is the duty of people to be kind to their ministers that give them good
instructions and set them good examples. As long as we live we shall need their
assistance, till we come to that world where ordinances will be superseded; and
therefore as long as we live we must not forsake the Levites. The reason given
(v. 12) is because ‘the Levite has no part nor inheritance with you,’ so
that he cannot grow rich by husbandry or trade; let him therefore share with you
in the comfort of your riches. They must give the Levites their tithes and
offerings, settled on them by the law, because they had no other maintenance.” [= IV. Mereka
diperintahkan untuk baik terhadap orang-orang Lewi. Apakah mereka berpesta
dengan sukacita? Orang-orang Lewi harus berpesta bersama mereka, dan bersukacita
dengan mereka, ay 12, dan lagi, ay 18; dan suatu
peringatan umum (ay 19), ‘Hati-hatilah, supaya jangan engkau melalaikan orang Lewi, selama engkau
hidup.’ Di sana ada orang-orang
Lewi yang melayani mezbah sebagai pembantu-pembantu bagi imam-imam, dan mereka
ini tidak boleh ditinggalkan, artinya, pelayanan yang mereka lakukan harus
secara terus menerus disokong; tak ada mezbah lain boleh didirikan dari pada itu
yang Allah tetapkan; karena itu akan berarti meninggalkan orang-orang Lewi.
Tetapi ini kelihatannya
dibicarakan tentang orang-orang Lewi yang tersebar di negeri untuk mengajar
bangsa itu hukum Taurat dari Allah, dan untuk membantu mereka dalam pembaktian
mereka; karena adalah orang-orang Lewi di dalam pintu-pintu gerbang mereka yang
di sini mereka diperintahkan untuk ditonjolkan. Merupakan
suatu berkat yang besar untuk mempunyai orang-orang Lewi dekat dengan kita, di
dalam pintu-pintu gerbang kita, sehingga kita bisa meminta hukum Taurat pada
mulut mereka, dan di pesta-pesta menjadi suatu kekang bagi kita, untuk mengekang
hal-hal yang berlebih-lebihan.
Dan adalah kewajiban dari bangsa
itu untuk baik pada pendeta-pendeta mereka, yang memberi mereka pengajaran yang
baik dan memberi mereka teladan yang baik.
Selama kita hidup
kita akan membutuhkan bantuan mereka, sampai kita sampai ke dunia itu dimana
hukum-hukum / peraturan-peraturan akan disingkirkan / digantikan; dan karena itu
selama kita hidup kita tidak boleh meninggalkan orang-orang Lewi. Alasan yang
diberikan (ay 12) adalah karena ‘orang-orang Lewi tidak mendapat bagian atau
warisan bersama kamu’, sehingga
ia tidak bisa menjadi kaya oleh hasil tanah / ternak atau perdagangan;
karena itu hendaklah ia mendapat bagian bersama kamu dalam penghiburan /
kepuasan dari kekayaanmu. Mereka harus memberi orang-orang Lewi persembahan
persepuluhan dan persembahan mereka, ditetapkan kepada mereka oleh hukum Taurat,
karena mereka tidak mempunyai
pemeliharaan yang lain.].
Catatan: dari bagian akhir kutipan di atas ini terlihat secara implicit bahwa kalau pendeta punya pekerjaan lain yang menjadikan mereka kaya, mereka tidak perlu disokong! Pendeta-pendeta hanya boleh punya pekerjaan lain (sekuler) kalau gereja tidak bisa memberi sokongan yang mencukupi kehidupan mereka. Pendeta-pendeta yang sudah dicukupi kebutuhan hidupnya, harus mengingat bahwa tujuan pencukupan kebutuhan hidupnya itu adalah supaya ia membaktikan seluruh hidupnya bagi pelayanan / Tuhan! Kalau ia tetap berusaha mendapatkan uang dari hal-hal sekuler, ia adalah hamba uang dan bukan hamba Tuhan! Ini juga berlaku untuk istri pendeta!
Matthew
Henry (tentang 2Taw 31:4-dst):
“IV.
He issued out an order to the inhabitants of Jerusalem first, v. 4 ... but which
was afterwards extended to, or at least admitted by, the cities of Judah, that
they should carefully pay in their dues, according to the law, to the priests
and Levites. This had been long neglected, which made the work to be neglected
(for a scandalous maintenance makes a scandalous ministry); but Hezekiah, having
himself been liberal, might with a good grace require his subjects to be just to
the temple service. And observe the end he aims at in recovering and restoring
to the priests and Levites their portion, that they ‘might be encouraged in
the law of the Lord,’ in the study of it, and in doing their duty according to
it. Observe here, 1. It is fit that ministers should be not only maintained, but
encouraged, that they should not only be kept to do their work, but that they
should also have wherewith to live comfortably, that they may do it with
cheerfulness. 2. Yet they are to be maintained, not in idleness, pride, and
luxury, but in the law of the Lord, in their observance of it themselves and in
teaching others the good knowledge of it.” [= IV. Ia mengeluarkan suatu perintah pertama-tama kepada
penduduk-penduduk Yerusalem, ay 4 ... tetapi lalu / belakangan diperluas kepada,
atau setidaknya diterima oleh kota-kota Yehuda, bahwa
mereka harus memberi dengan teliti kewajiban pembayaran mereka, menurut hukum
Taurat, kepada imam-imam dan orang-orang Lewi. Ini
telah diabaikan untuk waktu yang lama, yang menyebabkan pekerjaan diabaikan
(karena suatu pemeliharan yang memalukan / tidak benar membuat / menyebabkan
suatu pelayanan yang memalukan / tidak benar); tetapi Hizkia, yang
dirinya sendiri adalah dermawan, bisa dengan suatu kasih karunia yang baik
memerintahkan warganya untuk menjadi benar terhadap pelayanan Bait Suci. Dan
perhatikan tujuan yang ia arah / tuju dalam memulihkan dan mengembalikan kepada
imam-imam dan orang-orang Lewi bagian mereka, supaya mereka ‘bisa didorong /
dikuatkan dalam hukum Taurat dari Tuhan’, dalam pembelajaran darinya, dan
dalam melakukan kewajiban mereka sesuai dengannya. Perhatikan di
sini, 1. Adalah cocok bahwa pelayan-pelayan bukan hanya harus dipelihara, tetapi
didorong / dikuatkan, sehingga mereka bukan hanya harus dijaga untuk melakukan
pekerjaan mereka, tetapi juga supaya dengan itu mereka bisa hidup dengan nyaman
/ tanpa kekuatiran, supaya mereka bisa melakukannya dengan sukacita. 2. Tetapi
mereka harus dipelihara, bukan dalam kemalasan,
kesombongan, dan kemewahan,
tetapi dalam hukum Taurat Tuhan, dalam ketaatan mereka sendiri padanya dan dalam
pengajaran orang-orang lain pengetahuan yang baik tentangnya.].
The Bible Exposition Commentary (tentang Neh 12:44-47): “The people brought their tithes and offerings, not only because it was the commandment of God, but also because they were ‘pleased with the ministering priests and Levites’ (12:44, NIV). The ministers at the temple were exemplary both in their personal purity and in their obedience to God’s Word (vv. 30, 45). They conducted the worship, not according to their own ideas, but in obedience to the directions given by David and Solomon. When believers have a godly ministry that exalts the Lord and obeys the Word, they are only too glad to bring their tithes and offerings to support it. A worldly ministry that seeks only to fulfill its own ambitions does not deserve the support of God’s people.” [= Orang-orang / bangsa itu membawa persembahan persepuluhan dan persembahan mereka, bukan hanya karena itu adalah perintah Allah, tetapi juga karena mereka ‘senang dengan imam-imam dan orang-orang Lewi yang melayani’ (12:44, NIV). Pelayan-pelayan di Bait Suci merupakan contoh / teladan baik dalam kemurnian pribadi mereka dan dalam ketaatan mereka kepada Firman Allah (ay 30,45). Mereka memimpin ibadah bukan sesuai dengan gagasan mereka sendiri, tetapi dalam ketaatan pada pengarahan yang diberikan oleh Daud dan Salomo. Pada waktu orang-orang percaya mendapatkan suatu pelayanan yang saleh yang meninggikan Tuhan dan mentaati Firman, mereka juga sangat senang / gembira membawa persembahan persepuluhan dan persembahan-persembahan mereka untuk mendukungnya. Suatu pelayanan yang duniawi yang hanya berusaha untuk memenuhi ambisi-ambisinya sendiri, tidak layak menerima dukungan dari umat Allah.].
Matthew Henry (tentang 2Taw 31:8): “It is observable that after they had tasted the sweetness of God’s ordinance, in the late comfortable passover, they were thus free in maintaining the temple service. Those that experience the benefit of a settled ministry will not grudge the expense of it.” [= Merupakan sesuatu yang bisa diperhatikan bahwa setelah mereka telah merasakan manisnya hukum / peraturan Allah, dalam Paskah yang nyaman baru-baru ini (itu ada dalam 2Taw 30), maka mereka royal dalam memelihara pelayanan Bait Suci. Mereka yang mengalami manfaat dari suatu pelayanan yang tetap / beres tidak akan bersungut-sungut tentang biayanya.].
Matthew Henry (tentang Neh 13:10-14): “The better church-work is done the better will church-dues be paid.” [= Makin baik pekerjaan gereja dilakukan, makin baik hak-hak gereja dibayar.].
Catatan: 3 kutipan di atas ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan oleh para pendeta. Para pendeta harus ingat bahwa kewajiban mereka yang terutama adalah belajar dan mengajar! Kalau mereka tidak belajar, sehingga ajaran mereka tidak ada isinya, tak usah heran kalau jemaat yang merasa ‘tidak mendapat apa-apa’ lalu tidak punya beban untuk memberi kepada gereja, baik dalam hal persembahan biasa, maupun dalam persembahan persepuluhan! Kalau mereka melayani secara asal-asalan, khususnya dalam urusan khotbah / firman, dan jemaat tidak mendapat manfaat rohani apapun dari pelayanan mereka, bagaimana mereka mau mengharapkan untuk disokong sehingga bisa hidup dengan nyaman? Mereka tidak berhak mendapatkannya! Sebaliknya, bagi jemaat, kalau mereka mempunyai pendeta yang memang melayani mereka dengan baik, dan mereka mendapat manfaat rohani dari pelayanan itu, adalah sangat buruk kalau mereka tetap tidak mau memberikan persembahan persepuluhan, dan menyokong kehidupan dari pendeta mereka itu.
The
Bible Exposition Commentary (tentang Ul 12:17-19): “It’s a basic principle in Scripture that those who serve the Lord
and His people should have the support of God’s people. ‘The laborer is
worthy of his hire’ (Luke 10:7) and ‘those who preach the gospel should live
from the gospel’ (1 Cor 9:14, NKJV). Believers who receive spiritual blessings
from teachers and preachers should share material blessings with them (Gal
6:6-10; 1 Tim 5:17-18). Paul saw the supporting gifts of God’s people as
spiritual sacrifices dedicated to the Lord (Phil 4:10-19). If all of God’s
people practiced the kind of giving described in 2 Cor 8-9, there would be no
church debts, God’s servants would be provided for, and the work of the Lord
would prosper around the world.” [= Merupakan suatu prinsip dasar dalam
Kitab Suci bahwa mereka yang melayani Tuhan dan bangsa / umatNya harus mendapat
sokongan dari bangsa / umat Allah. ‘Seorang pekerja patut mendapat upahnya’
(Luk 10:7) dan ‘mereka yang memberitakan Injil harus hidup dari injil itu’
(1Kor 9:14, NKJV). Orang-orang percaya yang menerima berkat-berkat rohani dari
pengajar-pengajar dan pengkhotbah-pengkhotbah harus membagi berkat-berkat materi
mereka bersama mereka (Gal 6:6-10; 1Tim 5:17-18). Paulus melihat
pemberian-pemberian sokongan dari umat Allah sebagai korban-korban rohani yang
didedikasikan kepada Tuhan (Fil 4:10-19). Seandainya semua umat Allah
mempraktekkan jenis pemberian yang digambarkan dalam 2Kor 8-9, di sana tidak
akan ada hutang gereja, pelayan-pelayan Allah akan dipelihara, dan pekerjaan
Tuhan akan berkembang di seluruh dunia.].
Catatan:
saya tak setuju dengan penggunaan 2Kor 8-9 karena ini merupakan persembahan
bagi orang-orang Kristen yang miskin, bukan bagi gereja.
Luk
10:7 - “Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan
orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah
berpindah-pindah rumah.”.
1Kor
9:13-14 - “(13) Tidak tahukah kamu,
bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari
tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka
dari mezbah itu? (14) Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang
memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu.”.
Gal
6:6 - “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi
segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.”.
1Tim
5:17-18 - “(17) Penatua-penatua yang
baik pimpinannya patut dihormati dua kali lipat, terutama mereka yang dengan
jerih payah berkhotbah dan mengajar. (18) Bukankah Kitab Suci berkata:
‘Janganlah engkau memberangus mulut lembu yang sedang mengirik,’ dan lagi
‘seorang pekerja patut mendapat upahnya.’”.
Fil
4:10-19 - “(10) Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan
perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi
tidak ada kesempatan bagimu. (11) Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan,
sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. (12) Aku tahu apa
itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam
segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal
kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal
kekurangan. (13) Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi
kekuatan kepadaku. (14) Namun baik juga perbuatanmu, bahwa kamu telah mengambil
bagian dalam kesusahanku. (15) Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi;
pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari
Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan
piutang dengan aku selain dari pada kamu. (16) Karena di
Tesalonikapun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku.
(17) Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang
makin memperbesar keuntunganmu. (18) Kini aku telah
menerima semua yang perlu dari padamu, malahan lebih dari pada itu. Aku
berkelimpahan, karena aku telah menerima kirimanmu dari Epafroditus, suatu
persembahan yang harum, suatu korban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah.
(19) Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut
kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.”.
A. W. Pink: “One evil ever leads to another. God’s appointed method for the financing of the work which He has been pleased to place in our hands, is that of tithing - the strict setting aside one-tenth of all we receive, to be devoted to His cause. Where the Lord’s people faithfully do this, there is never any shortage or going into debt. Where tithing is ignored there is almost always a deficit, and then the ungodly are asked to help or worldly methods are employed to raise money. If we sow the wind, we must not be surprised if we reap the whirlwind.” [= Satu kejahatan selalu membimbing kepada kejahatan yang lain. Metode yang Allah tetapkan untuk membiayai pekerjaan yang telah Ia perkenan untuk tempatkan dalam tangan kita, adalah metode tentang persembahan persepuluhan - penyisihan yang ketat sepersepuluh dari semua yang kita terima, untuk diberikan pada perkaraNya. Dimana umat Tuhan melakukan ini dengan setia, di sana tidak akan pernah ada kekurangan atau hutang. Dimana persembahan persepuluhan diabaikan di sana hampir selalu ada suatu defisit, dan lalu orang-orang jahat / tak beriman diminta untuk menolong atau metode-metode duniawi digunakan untuk mendapatkan uang. Jika kita menabur angin, kita tidak boleh terkejut jika kita menuai puting beliung (Hos 8:7).] - ‘Tithing’, hal 11 (AGES).
A. W. Pink: “I believe that God has appointed tithing as the solution of every financial problem that can arise in connection with His work. While the children of Israel practiced tithing there was no difficulty in maintaining the system of worship that God had appointed. And if God’s people today practiced tithing, there would be an end of all financial straits that are crippling so many Christian enterprises. No church could possibly be embarrassed financially where its members tithed.” [= Saya percaya bahwa Allah telah menetapkan persembahan persepuluhan sebagai solusi dari setiap problem keuangan yang bisa muncul dalam hubungan dengan pekerjaanNya. Pada waktu orang-orang Israel mempraktekkan persembahan persepuluhan di sana tidak ada kesukaran dalam memelihara sistim ibadah yang telah Allah tetapkan. Dan jika umat Allah jaman sekarang mempraktekkan persembahan persepuluhan, di sana akan ada suatu akhir dari semua kesukaran / keterbatasan keuangan yang melumpuhkan begitu banyak usaha-usaha / kegiatan-kegiatan Kristen. Tak ada gereja bisa dipermalukan secara keuangan dimana anggota-anggotanya memberi persembahan persepuluhan.] - ‘Tithing’, hal 14 (AGES).
Keharusan
mencukupi kebutuhan hidup hamba-hamba Tuhan ini tetap sama dalam jaman
Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, dan karena itu persembahan
persepuluhan tetap merupakan keharusan dalam Perjanjian Baru.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali