(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 1 Mei 2016, pk 8.00 & pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
DOKTRIN
Perjamuan Kudus(2)
II)
Martin Luther / Gereja Lutheran - Consubstantiation.
1) Roti dan anggur tidak mengalami perubahan zat, tetapi Kristus hadir secara jasmani baik di dalam, dengan / bersama, di bawah (in, with and under) roti dan anggur.
2) Doktrin ini disebut CONSUBSTANTIATION.
Co-
adalah suatu awalan yang berarti ‘together’ [= bersama-sama]. Jadi,
pandangan ini menganggap bahwa zat dari roti dan anggur ada bersama-sama dengan
zat dari tubuh dan darah Kristus.
Louis
Berkhof:
“The Reformers, one and all, rejected the sacrificial
theory of the Lord’s Supper, and the mediæval doctrine of transubstantiation.
They differed, however, in their positive construction of the Scriptural
doctrine of the Lord’s Supper. In opposition to Zwingli, Luther
insisted on the literal interpretation of the words of the institution and on
the bodily presence of Christ in the Lord’s Supper. However, he substituted
for the doctrine of transubstantiation that of consubstantiation, which has been
defended at length by Occam in his De
Sacramento Altaris, and according to which Christ is ‘in, with, and
under’ the elements. … Many of the Mediating theologians, while belonging to
the Lutheran Church, rejected the doctrine of consubstantiation, and approached
the Calvinistic view of the spiritual presence of Christ in the Lord’s Supper.” [= Setiap tokoh Reformasi menolak teori
pengorbanan dari Perjamuan Kudus, dan doktrin abad pertengahan tentang
transubstantiation. Tetapi mereka berbeda dalam konstruksi positif mereka
tentang doktrin Kitab Suci tentang Perjamuan Kudus. Bertentangan dengan
Zwingli, Luther
berkeras tentang penafsiran hurufiah dari kata-kata dari peneguhan dan tentang
kehadiran secara tubuh dari Kristus dalam Perjamuan Kudus. Tetapi, ia menggantikan doktrin transubstantiation dengan consubstantiation, yang telah dipertahankan sepenuhnya oleh
Occam dalam bukunya ‘De Sacramento Altaris’,
dan menurut mana Kristus ada ‘di dalam, dengan,
dan di bawah’ elemen-elemen itu. ... Banyak
dari ahli-ahli theologia penengah, sekalipun termasuk dalam Gereja Lutheran,
menolak doktrin consubstantiation, dan mendekati pandangan Calvinist tentang
kehadiran rohani dari Kristus dalam Perjamuan Kudus.]
- ‘Systematic Theology’, hal 646.
Louis
Berkhof:
“(3) Luther and the Lutherans
also stress the word ‘is,’ though they admit that Jesus was speaking
figuratively. According to them the figure was not a metaphor, but a synecdoche.
The Lord simply meant to say to His disciples: Where you have the bread, you
have my body in, under, and along with it, though the substance of both remains
distinct.” [= (3) Luther
dan orang-orang Lutheran juga menekankan
kata ‘adalah’, sekalipun mereka mengakui bahwa Yesus sedang berbicara secara
figuratif / menggunakan gaya bahasa. Menurut mereka gaya bahasa itu bukanlah
suatu metafora / kiasan / lambang, tetapi suatu synecdoche. Tuhan hanya bermaksud untuk mengatakan kepada murid-muridNya: Dimana
kamu mempunyai roti, kamu mempunyai tubuhKu di dalam, di bawah, dan bersama
dengannya, sekalipun zat / bahan dari keduanya tetap berbeda.]
- ‘Systematic Theology’, hal 649.
Catatan: ‘synecdoche’ adalah suatu gaya bahasa dimana dikatakan sebagian tetapi dimaksudkan seluruhnya, atau sebaliknya.
Louis
Berkhof:
“2. The
Lutheran view. Luther rejected the doctrine of transubstantiation and
substituted for it the related doctrine of consubstantiation. According to him
bread and wine remain what they are, but there is in the Lord’s Supper
nevertheless a mysterious and miraculous real presence of the whole person of
Christ, body and blood, in, under, and along with, the elements. He and his
followers maintain the local
presence of the physical body and blood of Christ in the
sacrament. Lutherans sometimes deny that they teach the local presence of Christ
in the Lord’s Supper, but then they ascribe to the word ‘local’ a meaning
not intended by those who ascribe this teaching to them. ... This view is no
great improvement on the Roman Catholic conception, though it does not involve
the oft-repeated miracle of a change of substance minus a change of attributes.
It really makes the words of Jesus mean, ‘this accompanies my body’, an
interpretation that is more unlikely than either of the others.” [= 2.
Pandangan Lutheran. Luther menolak doktrin transubstantiation dan
menggantikannya dengan doktrin consubstantiation,
yang berhubungan dengannya / termasuk dalam satu keluarga dengannya. Menurut
dia roti dan anggur tetap tinggal sebagaimana adanya mereka, tetapi bagaimanapun
di sana dalam Perjamuan Kudus ada suatu kehadiran yang sungguh-sungguh, yang
misterius dan bersifat mujijat, dari seluruh pribadi Kristus, tubuh dan darah,
di dalam, di bawah, dan bersama-sama dengan, elemen-elemen itu. Ia
dan para pengikutnya mempertahankan kehadiran lokal dari tubuh dan darah fisik
dari Kristus dalam sakramen itu. Orang-orang
Lutheran kadang-kadang menyangkal bahwa mereka mengajarkan kehadiran lokal dari
Kristus dalam Perjamuan Kudus, tetapi mereka lalu memberikan suatu arti pada
kata ‘lokal’ yang tidak dimaksudkan oleh mereka yang memberikan pengajaran
ini kepada mereka. ... Pandangan ini bukanlah suatu kemajuan besar
tentang pengertian Roma Katolik, sekalipun itu tidak melibatkan mujijat yang
sering diulang tentang perubahan zat dikurangi suatu perubahan dari sifat-sifat
dasar. Itu sesungguhnya membuat kata-kata Yesus berarti, ‘ini menyertai
tubuhKu’, suatu penafsiran yang lebih tidak mungkin dari pada yang manapun
dari pandangan-pandangan yang lain.]
- ‘Systematic Theology’, hal 652-653.
David
Schaff: “Luther
rejected, in his work on the ‘Babylonish Captivity of the Church’ (1520),
the doctrine of the mass, transubstantiation, and the withdrawal of the cup, as
strongholds of the Papal tyranny. From this position he never receded. In the
same work he clearly intimated his own view, which he had learned from Pierre
d’Ailly, Cardinal of Cambray (Cameracensis), in these words: - ‘Formerly,
when I was imbibing the scholastic theology, the Cardinal of Cambray gave me
occasion for reflection, by arguing most acutely, in the Fourth Book of the
Sentences, that it would be much more probable, and that fewer superfluous
miracles would have to be introduced, if real bread and real wine, and not only
their accidents, were understood to be upon the altar, unless the Church had
determined the contrary. Afterwards, when I saw what the church was, which had
thus determined, - namely, the Thomistic, that is, the Aristotelian Church, - I
became bolder; and, whereas I had been before in great straits of doubt, I now
at length established my conscience in the former opinion: namely, that there were real bread and real
wine, in which were the real flesh and real blood of Christ in no other manner
and in no less degree than the other party assert them to be under the accidents.
... Why should not Christ be able to include his body within the substance of
bread, as well as within the accidents? Fire and iron, two different substances,
are so mingled in red-hot iron that every part of it is both fire and iron. Why
may not the glorious body of Christ much more be in every part of the substance
of the bread? ... I rejoice greatly, that, at least among the common people,
there remains a simple faith in this sacrament. They neither understand nor
argue whether there are accidents in it or substance, but believe, with simple
faith, that the body and blood of Christ are truly contained in it, leaving to
these men of leisure the task of arguing as to what it contains.’ At that time
of departure from Romanism he would have been very glad, as he confessed five
years later, to become convinced that there was nothing in the Lord’s Supper
but bread and wine. Yea, his old Adam was still inclined to such a view; but he
dared not doubt the literal meaning of the words of institution. In his book on
the ‘Adoration of the Sacrament’ (1523), addressed to the Waldensian
Brethren in Bohemia, he rejects their symbolical theory, as well as the Romish
transubstantiation, and insists on the real and substantial presence of
Christ’s body and blood in the eucharistic elements; but treats them very
kindly, notwithstanding their supposed error, and commends them for their piety
and discipline, in which they excelled the Germans. In his conviction of the
real presence, he was greatly strengthened by the personal attacks and perverse
exegesis of Carlstadt. Henceforth he advocated
the point of agreement with the Catholics more strenuously than he had formerly
opposed the points in which he differed from them. He changed the tone of
moderation which he had shown in his address to the Bohemians, and treated his
Protestant opponents with as great severity as the Papists. His peculiar view of
the eucharist became the most, almost the only, serious doctrinal difference
between the two wings of the Reformation, and has kept them apart ever since.”
[= Luther
menolak, dalam bukunya yang berjudul ‘Babylonish Captivity of the Church’
(1520), doktrin dari / tentang missa, transubstantiation, dan penahanan cawan /
anggur, sebagai benteng dari tirani / otoritas Gereja Roma Katolik.
Dari posisi ini ia tidak pernah mundur. Dalam buku yang sama ia dengan jelas
menyatakan pandangannya sendiri, yang telah ia pelajari dari Pierre d’Ailly,
Kardinal dari Cambray (Cameracensis), dalam kata-kata ini: - ‘Dulu, pada waktu
saya menerima / mempercayai theologia Gereja Roma Katolik, Kardinal dari Cambray
memberi saya kesempatan untuk memikirkan / mempertimbangkan, dengan
berargumentasi secara paling tajam, dalam Buku Keempat dari Sentences, bahwa
adalah jauh lebih memungkinkan, dan bahwa lebih sedikit mujijat-mujijat yang
berlebih-lebihan akan harus diajukan, jika roti dan anggur sungguh-sungguh, dan
bukan hanya accidents-nya, dimengerti sebagai ada di altar, kecuali Gereja telah
menentukan sebaliknya. Belakangan / setelah itu, pada waktu saya melihat apa
gereja itu, yang telah menentukan seperti itu, - yaitu, Gereja Thomistic,
artinya, Gereja Aristotelian, - saya menjadi lebih berani; dan, sekalipun
sebelumnya saya telah berada dalam posisi yang sukar dari keragu-raguan,
akhirnya sekarang saya meneguhkan hati nurani saya dalam pandangan yang
terdahulu: yaitu, bahwa di sana ada roti dan anggur sungguh-sungguh, dalam
mana ada daging sungguh-sungguh dan darah sungguh-sungguh dari Kristus bukan
dalam cara lain dan tidak dalam tingkat yang kurang, dari pada kelompok yang
lain menegaskan mereka sebagai ada di bawah accidents-nya. ... Mengapa
Kristus tidak bisa mencakup tubuhNya di dalam zat / bahan dari roti, maupun di
dalam accidents-nya? Api dan setrika, dua zat / bahan yang berbeda, begitu
bercampur dalam setrika yang sangat panas sehingga setiap bagiannya adalah baik
api maupun setrika. Mengapa tubuh kemuliaan Kristus tidak bisa lebih lagi ada
dalam setiap bagian dari zat / bahan dari roti? ... Saya sangat bersukacita
bahwa, setidaknya di antara orang-orang biasa, di sana tersisa suatu iman yang
sederhana dalam sakramen ini. Mereka tidak mengertinya atau berargumentasi
apakah di sana ada accidents di dalamnya atau zat / bahannya, tetapi percaya,
dengan iman yang sederhana, bahwa tubuh dan darah Kristus secara sungguh-sungguh
/ benar tercakup di dalamnya, membiarkan kepada orang-orang yang mempunyai
banyak waktu laung ini tugas untuk berargumentasi berkenaan dengan apa yang
tercakup di dalamnya’. Pada saat pergi dari Gereja Roma Katolik ia sangat
senang, seperti ia akui lima tahun setelahnya, untuk menjadi yakin bahwa di sana
tidak ada apapun dalam Perjamuan Kudus kecuali roti dan anggur. Ya, Adam /
manusia lamanya masih tetap condong pada pandangan seperti itu; tetapi ia tidak
berani meragukan arti hurufiah dari kata-kata institusi / peneguhan. Dalam
bukunya yang berjudul ‘Adoration of the Sacrament’ (1523), ditujukan kepada
the Waldensian Brethren di Bohemia, ia menolak teori simbolis mereka, maupun
transubstantiation dari Gereja Roma Katolik, dan berkeras pada kehadiran
sungguh-sungguh dan bersifat zat / bahan dari tubuh dan darah Kristus dalam
elemen-elemen Perjamuan Kudus; tetapi memperlakukan mereka dengan sangat
baik, sekalipun pandangan mereka salah, dan memuji mereka untuk kesalehan dan
disiplin mereka, dalam mana mereka melampaui orang-orang Jerman. Dalam
keyakinannya tentang kehadiran yang sungguh-sungguh, ia sangat dikuatkan oleh
serangan-serangan pribadi dan exegesis yang salah / tak masuk akal dari Carlstadt.
Sejak saat itu ia mendukung / membela point persetujuan dengan orang-orang
Katolik dengan lebih bersemangat dari pada ia sebelumnya telah menentang hal-hal
dalam mana ia berbeda dari mereka. Ia mengubah nada moderat yang telah ia
tunjukkan dalam pidato / amanatnya kepada orang-orang Bohemia, dan memperlakukan
penentang-penentang Protestannya dengan kekerasan besar yang sama seperti
orang-orang Katolik. Pandangan khasnya tentang Perjamuan Kudus menjadi perbedaan
doktrinal yang paling serius, hampir-hampir menjadi satu-satunya perbedaan
doktrinal, antara dua sayap dari Reformasi, dan telah memisahkan / memberi jarak
di antara mereka sejak saat itu.]
- ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 615-617.
Catatan: Saya mendapatkan dua pandangan Carlstadt, yang saya berikan di bawah ini. Entah yang mana yang dimaksud dengan Exegesis dari Carlstadt.
David
Schaff: “In
1524 Carlstadt came out with a new and absurd interpretation of the words of
institution (Matt. 26:26 and parallel passages); holding that the Greek word
for ‘this’ being neuter (του̂το),
could not refer to the bread, which is masculine in Greek (ἄρτος), but must refer to the body of
Christ (τὸ σω̂μα), to which the Saviour pointed,
so as to say, ‘Take, eat! This here (this body) is my body (which will soon
be) broken for you; this (blood) is my blood (which will be) shed for you.’
This resolves the words into a tautology and platitude.”
[= Pada tahun 1524 Carlstadt datang dengan suatu penafsiran yang baru dan
menggelikan / konyol tentang kata-kata dari institusi / peneguhan (Mat 26:26
dan text-text paralel); mempertahankan bahwa kata Yunani untuk ‘this’ /
‘ini’ yang berjenis kelamin neuter (TAUTO) tidak bisa menunjuk pada roti,
yang berjenis kelamin laki-laki dalam Yunani (ARTOS), tetapi harus menunjuk
pada tubuh Kristus (TO SOMA), pada mana sang Juruselamat menunjuk, lalu
berkata, ‘Ambillah, makanlah! Ini di sini (tubuh ini) adalah tubuhKu (yang
akan segera) dipecahkan / dihancurkan bagi kamu: ini (darah) adalah darahKu
(yang akan segera) dicurahkan bagi kamu’. Ini
mengubah kata-kata itu menjadi suatu tautology dan basi / membosankan / usang.]
- ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 618-619.
Catatan:
1. Tautology = pengucapan hal yang sama dengan kata-kata yang berbeda.
2. Baik ARTOS (bread / roti) maupun OINOS (wine / anggur), dalam bahasa Yunani berjenis kelamin laki-laki, sehingga tak cocok dengan kata TAUTO (this / ini), yang berjenis kelamin neuter.
3. Baik SOMA (body / tubuh), maupun HAIMA (blood / darah), dalam bahasa Yunani berjenis kelamin neuter, sehingga cocok dengan kata TAUTO (this / ini), yang berjenis kelamin neuter.
Louis
Berkhof:
“c. Words of explanation.
The word of command in connection with the bread is immediately followed by a
word of explanation, which has given rise to sharp disputes, namely, ‘This
is my body.’ These words have been interpreted in various ways. (1) The
Church of Rome makes the copula ‘is’ emphatic. Jesus meant to say that
what He held in His hand was really His body, though it looked and tasted like
bread. But this is a thoroughly untenable position. In all probability Jesus
spoke Aramaic and used no copula at all. And while He stood before the
disciples in the body, He could not very well say to His disciples in all
seriousness that He held His body in His hand. Moreover, even on the Roman
Catholic view, He could not truthfully say, ‘This is my body,’ but could
only say, ‘This is now becoming my body.’ (2) Carlstadt
held the novel view that Jesus, when He spoke these words, pointed to His
body. He argued that the neuter touto could not refer to artos,
which is masculine. But bread can very well be conceived of as a thing and
thus referred to as neuter. Moreover, such a statement would have been rather
inane under the circumstances.” [= c. Kata-kata penjelasan. Perintah berhubungan dengan roti langsung
diikuti oleh suatu penjelasan, yang telah menimbulkan perdebatan-perdebatan
yang tajam, yaitu, ‘Inilah tubuhKu’. Kata-kata ini telah ditafsirkan dalam
bermacam-macam cara. (1) Gereja Roma menekankan kata penghubung ‘is’ /
‘adalah’. Yesus bermaksud untuk mengatakan bahwa apa yang Ia pegang di
tanganNya adalah sungguh-sungguh tubuhNya, sekalipun itu terlihat dan terasa
seperti roti. Tetapi ini adalah suatu pandangan yang sepenuhnya tak bisa
dipertahankan. Sangat memungkinkan Yesus berbicara dalam
bahasa Aram dan tidak menggunakan kata penghubung sama sekali. Dan pada waktu Ia berdiri di depan murid-murid dalam tubuhNya, Ia tidak
bisa berkata secara serius bahwa Ia memegang tubuhNya di tanganNya. Lebih
lagi, bahkan pada pandangan Roma Katolik, Ia tidak bisa secara benar berkata,
‘Inilah tubuhKu’, tetapi hanya bisa berkata, ‘Ini sekarang sedang
menjadi tubuhKu’. (2) Carlstadt
memegang / mempercayai pandangan yang baru / fiksi bahwa Yesus, pada waktu Ia mengucapkan kata-kata itu, menunjuk pada tubuhNya. Ia berargumentasi bahwa kata neuter TAUTO
tidak bisa menunjuk pada ARTOS, yang berjenis kelamin laki-laki. Tetapi roti
bisa dianggap / dipikirkan sebagai suatu benda dan karena itu ditunjukkan
sebagai neuter. Lebih lagi, suatu pernyataan seperti itu
merupakan sesuatu yang menggelikan / tak masuk akal dalam keadaan itu.]
- ‘Systematic Theology’, hal 649.
Catatan: argumentasi Carlstadt di sini sangat konyol. Kalau roti dianggap sebagai suatu benda sehingga digunakan kata TAUTO yang neuter, maka itu juga bisa berlaku untuk kata-kata lain, dan ini akan menyebabkan kacaunya gramatika Yunani dalam hal ini.
Lenski (tentang Mat 26:26): “We must note that τοῦτο is neuter and hence cannot, grammatically or in thought, refer to ἄρτος which is masculine. The English ‘this’ and ‘bread’ obscures this distinction in gender, yet we dare not ignore it. ‘This’ means, ‘This bread which I have now consecrated by blessing and thanksgiving’; or more tersely, ‘This that I now give to you’; hoc quod vos sumere jubeo. ‘It is no longer mere bread of the oven but bread of flesh, or bread of body, that is, bread which is sacramentally one with Christ’s body.’ Luther.” [= Kita harus memperhatikan bahwa TAUTO adalah kata berjenis kelamin neuter / netral dan karena itu tidak bisa secara gramatika atau dalam pikiran, menunjuk pada ARTOS {= bread / roti} yang adalah kata benda berjenis kelamin laki-laki. Kata bahasa Inggris ‘this’ / ‘ini’ dan ‘bread’ / ‘roti’ mengaburkan pembedaan dalam jenis kelamin ini, tetapi kami tidak berani mengabaikannya. ‘This’ / ‘ini’ berarti, ‘Roti ini, yang sekarang telah Aku kuduskan oleh berkat dan ucapan syukur’; atau secara lebih singkat, ‘Ini adalah yang Aku sekarang berikan kepadamu’; hoc quod vos sumere jubeo. ‘Ini bukan lagi semata-mata roti dari oven tetapi roti dari daging, atau roti dari tubuh, artinya, roti yang secara sakramen adalah satu dengan tubuh Kristus’. Luther.].
Lenski
(tentang Mat 26:26):
“Much
has been written on ἐστί
which is merely the copula connecting the subject and the predicate. Jesus spoke
in Aramaic and used no copula in that language, for none was needed; but this
does not remove or in the least alter the inspired ἐστί found in the Greek records. It
cannot mean ‘represents’ as Zwingli contended. The characters $1,000,
written on a piece of paper, ‘represent’ one thousand dollars, but no man
can say that this ‘is’ a thousand dollars.”
[= Banyak telah ditulis tentang ESTI yang adalah semata-mata suatu kata
penghubung yang menghubungkan subyek dengan predikat. Yesus berbicara dalam
bahasa Aram dan tidak menggunakan kata penghubung dalam bahasa itu, yang tak
diperlukan; tetapi ini tidak membuang atau sekurang-kurangnya mengubah ESTI yang
diilhamkan ditemukan dalam catatan-catatan Yunani. Itu tidak bisa berarti
‘menggambarkan’ seperti Zwingli pertahankan. Karakter-karakter $ 1000, yang
dituliskan pada secarik kertas, ‘menggambarkan’ seribu dolar, tetapi tak ada
orang bisa mengatakan bahwa ini ‘adalah’ seribu dolar.].
Catatan:
kata Yunani ESTI (atau ESTIN) diterjemahkan ‘is’ [= adalah]. Dalam
Yunani memang harus berbunyi ‘Ini adalah
tubuhKu’, tetapi dalam Ibrani hanya berbunyi ‘Ini tubuhKu’, sama seperti
dalam bahasa Indonesia juga seperti itu, dimana tak dibutuhkan kata penghubung ‘is’
[= adalah]. Saya tak mengerti bahasa Aram, tetapi dari kata-kata Louis Berkhof
di atas, dan Lenski di sini, kelihatannya dalam hal ini bahasa Aram sama secara
gramatika dengan Ibrani.
Saya
bisa menerima pandangan Lenski bahwa kita harus melakukan exegesis berdasarkan
bahasa Yunaninya, yang merupakan bahasa tertulis dari Perjanjian Baru, bukan
berdasarkan bahasa Aram, sekalipun itu adalah bahasa yang sangat mungkin
digunakan oleh Yesus pada saat itu. Tetapi dalam bahasa Yunanipun kata ‘is’
[= adalah] itu bisa, bahkan harus, diartikan ‘menggambarkan’, seperti sudah
saya tunjukkan pada waktu membahas pandangan Gereja Roma Katolik.
Lenski
(tentang Mat 26:26):
“‘My
body’ means exactly what the words say, ‘in truth and reality my body.’
The modifiers added by Luke and by Paul strongly substantiate this view.
Luke’s ὑπὲρ ὑμῶν
διδόμενον must refer to the real body,
for no symbol of the body, no bread, was this day being given for our redemption
on the cross. It is only the rationalizing question, ‘How
could the Lord give his disciples his true and real body by means of bread?’
that has caused the trouble in regard to these exceedingly simple words.” [= ‘TubuhKu’ berarti persis
seperti yang dikatakan oleh kata-kata itu, ‘tubuhKu dalam kebenaran dan
kenyataan’. Kata-kata yang membatasi yang ditambahkan oleh Lukas dan oleh
Paulus secara kuat membuktikan kebenaran pandangan ini. Kata-kata Lukas HUPER
HUMON DIDOMENON (‘yang diserahkan bagi kamu’) harus menunjuk pada tubuh yang sungguh-sungguh, karena pada hari itu
tak ada simbol dari tubuh, tak ada roti, diberikan / diserahkan untuk penebusan
kita pada salib.
Hanyalah pertanyaan yang bersifat rasio / logika, ‘Bagaimana Tuhan bisa
memberikan kepada murid-muridnya tubuhNya yang benar dan sungguh-sungguh melalui
roti?’ yang telah menyebabkan kesukaran / problem berkenaan dengan kata-kata
yang sangat sederhana ini.].
Luk 22:19
- “Lalu
Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada
mereka, kataNya: ‘Inilah tubuhKu yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah
ini menjadi peringatan akan Aku.’”.
1Kor
11:24 - “dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia
memecah-mecahkannya dan berkata: ‘Inilah tubuhKu, yang diserahkan bagi kamu;
perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!’”.
Catatan:
saya menganggap argumentasi Lenski sama sekali tidak punya kekuatan. Kalau roti
sudah menggambarkan tubuh, lalu diberi tambahan ‘yang diserahkan bagi kamu’,
sudah jelas itu merupakan kata-kata yang menjelaskan ‘tubuh’.
Tetapi tetap tak berarti bahwa Yesus memaksudkan tubuh itu hadir di sana pada
saat itu.
Lenski
(tentang Mat 26:26):
“We
refuse to answer the question in regard to the how
because the Lord has withheld the answer. We probably could not understand the
answer because the giving of Christ’s body in the sacrament is a divine act of
omnipotence and of grace that is beyond all mortal comprehension. The Lord
declares the
fact:
‘This is my body,’ and we take him at his word. He knows the mystery of this
giving; we do not.”
[= Kami menolak untuk menjawab pertanyaan berkenaan dengan ‘bagaimana’
karena Tuhan telah menahan jawabannya. Kita mungkin tidak bisa mengerti
jawabannya karena pemberian tubuh Kristus dalam sakramen merupakan suatu
tindakan ilahi dari kemahakuasaan dan dari kasih karunia yang melampaui semua
pengertian yang fana. Tuhan menyatakan faktanya: ‘Ini adalah tubuhKu’, dan
kami menerima / mengerti Dia sesuai kata-kataNya. Ia mengetahui misteri dari
pemberian ini, kita tidak.].
David
Schaff: “He
dwells at length on the meaning of the words of institution: ‘This is my
body.’ They must be taken literally, unless the contrary can be proved. Every
departure from the literal sense is a device of Satan, by which, in his pride
and malice, he would rob man of respect for God’s Word, and of the benefit of
the sacrament. He makes much account of the disagreement of his opponents, and
returns to it again and again, as if it were conclusive against them. Carlstadt
tortures the word ‘this’ in the sacred text; Zwingli, the word ‘is;’
Oecolampadius, the word ‘body;’ others torture and murder the whole text.
All alike destroy the sacraments. He allows no figurative meaning even in such
passages as 1 Cor. 10:4; John 15:1; Gen. 41:26; Exod. 12:11, 12. When Paul says,
Christ is a rock, he means that he is truly a spiritual rock.
When Christ says, ‘I am the vine,’ he means a true spiritual vine.
But what else is this than a figurative interpretation in another form?”
[= Ia (Luther) mengarahkan perhatiannya sepenuhnya
pada arti dari kata-kata institusi / peneguhan: ‘Ini adalah tubuhKu’.
Kata-kata itu harus diartikan secara hurufiah, kecuali sebaliknya bisa
dibuktikan. Setiap penyimpangan dari arti hurufiah adalah suatu rancangan dari
Iblis, dengan mana, dalam kesombongan dan kejahatannya, ia merampok manusia
tentang rasa hormat untuk Firman Allah, dan tentang manfaat dari sakramen. Ia
banyak menggunakan ketidak-setujuan para penentangnya sebagai alasan, dan
berulang-ulang kembali pada hal itu, seakan-akan itu merupakan sesuatu yang
menentukan terhadap mereka. Carlstadt menyalah-tafirkan kata ‘ini’ dalam
text kudus; Zwingli, kata ‘adalah’; Oecolampadius, kata ‘tubuh’; orang-orang
lain menyalah-tafsirkan dan membunuh seluruh text. Semua secara sama
menghancurkan sakramen. Ia tidak mengijinkan arti kiasan bahkan dalam
text-text seperti 1Kor 10:4; Yoh 15:1; Kej 41:26; Kel 12:11,12. Pada waktu
Paulus berkata Kristus adalah suatu batu karang, ia memaksudkan bahwa Ia adalah
betul-betul suatu batu karang rohani.
Pada waktu Kristus berkata, ‘Aku adalah pokok anggur’, Ia memaksudkan suatu
pokok anggur rohani. Tetapi
apakah ini selain dari pada suatu penafsiran yang bersifat kiasan dalam suatu
bentuk yang lain?] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 624.
1Kor 10:4
- “dan
mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang
rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus.”.
Yoh
15:1 - “‘Akulah
pokok anggur yang benar dan BapaKulah pengusahanya.”.
Kej
41:26 - “Ketujuh
ekor lembu yang baik itu ialah tujuh tahun, dan ketujuh bulir gandum yang baik
itu ialah tujuh tahun juga; kedua mimpi itu sama.”.
Kel
12:11-12 - “(11) Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat,
kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah
Paskah bagi TUHAN. (12) Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir,
dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan
kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN.”.
KJV: ‘it is the LORD’S passover’ [= itu adalah Paskah TUHAN].
Karena penggunaan Kel 12:11 ini tidak jelas, maka saya memberikan tafsiran Albert Barnes tentang ini, supaya penggunaan ayat ini menjadi jelas bagi kita.
Barnes’ Notes (tentang Mat 26:26-30): “The language employed by the Saviour was in accordance with a common mode of speaking among the Jews, and exactly similar to that used by Moses at the institution of the Passover (Ex 12:11): ‘It’ - that is, the lamb - ‘is the Lord’s Passover.’ That is, the lamb and the feast ‘represent’ the Lord's ‘passing over’ the houses of the Israelites. It serves to REMIND you of it. It surely cannot be meant that that lamb was the literal ‘passing over’ their houses - a palpable absurdity - but that it REPRESENTED it.” [= Bahasa yang digunakan oleh sang Juruselamat sesuai dengan cara umum berbicara di antara orang-orang Yahudi, dan secara persis mirip / identik dengan yang digunakan oleh Musa pada institusi / peneguhan dari Paskah (Kel 12:11): ‘Itu’ - yaitu, anak domba - ‘adalah Paskah Tuhan’. Artinya, anak domba dan pesta / perayaan itu ‘mewakili’ Tuhan ‘melewati’ rumah-rumah orang-orang Israel. Itu berfungsi untuk mengingatkan kamu tentangnya. Itu pasti tidak bisa berarti bahwa anak domba itu adalah ‘tindakan melewati’ rumah-rumah mereka yang bersifat hurufiah - suatu kekonyolan yang jelas - tetapi bahwa itu mewakili hal itu.].
David
Schaff: “A
great part of the book is devoted to the proof of the ubiquity of Christ’s
body. He explains ‘the right hand of God’ to mean his ‘almighty power.’
Here he falls himself into a figurative interpretation. He ridicules the
childish notion which he ascribes to his opponents, although they never dreamed
of it, that Christ is literally seated, and immovably fastened, on a golden
throne in heaven, with a golden crown on his head. He
does not go so far as to deny the realness of Christ’s ascension, which
implies a removal of his corporal presence. There is, in this reasoning, a
strange combination of literal and figurative interpretation. But he very
forcibly argues from the personal union of the divine and human natures in
Christ, for the possibility of a real presence; only he errs in confounding real
with corporal. He forgets that the spiritual is even more real than the
corporal, and that the corporal is worth nothing without the spiritual.”
[= Sebagian besar dari buku itu dibaktikan pada bukti tentang tubuh Kristus yang
ada dimana-mana. Ia menjelaskan ‘sebelah kanan
Allah’ berarti ‘kuasa yang maha kuasa’ dariNya. Di sini ia sendiri jatuh
ke dalam penafsiran yang bersifat kiasan. Ia
mengejek pandangan kekanak-kanakan yang ia anggap berasal dari para
penentangnya, sekalipun mereka tidak pernah bermimpi tentangnya, bahwa Kristus
secara hurufiah duduk, dan dilekatkan dengan kuat secara tak bisa bergerak, pada
suatu takhta emas di surga, dengan suatu makhkota emas pada kepalaNya.
Ia tidak berjalan sebegitu jauh sehingga menyangkal kesungguhan / kenyataan dari
kenaikan Kristus ke surga, yang secara implicit menunjukkan suatu pemindahan
dari kehadiranNya berkenaan dengan tubuhNya. Di sana ada, dalam argumentasi ini,
suatu kombinasi yang aneh dari penafsiran hurufiah dan kiasan. Tetapi ia
berargumentasi secara sangat kuat dari persatuan pribadi dari hakekat ilahi dan
hakekat manusia dalam Kristus, untuk kemungkinan dari suatu kehadiran yang
sungguh-sungguh; hanya ia salah dalam
mencampuradukkan ‘sungguh-sungguh’ dan ‘berkenaan dengan tubuh’.
Ia lupa bahwa kehadiran rohani bahkan adalah lebih sungguh-sungguh dari pada
kehadiran berkenaan dengan tubuh, dan bahwa kehadiran berkenaan dengan tubuh tak
ada nilainya tanpa kehadiran rohani.]
- ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 624-625.
Catatan:
betul-betul menyedihkan kalau Luther bisa melakukan fitnahan seperti ini
terhadap para penentangnya. Ia menyerang pandangan mereka yang sebetulnya tak
pernah mereka berikan / percayai.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
848 "Wieman den Kindern pflegt fuerzubilden einen Gaukelhimmel, darin ein guelden Stuhl stehe und Christus neben dem Vater sitze in einer Chorkappen und guelden Krone, gleichwie es die Maeler malen. Denn wo sie nicht solche kindische, fleischliche Gedanken haetten von der rechten Hand Gottes, wuerden sie freilich sich nicht so lassen anfechten den Leib Christi im Abendmahl, oder sich blaeuen mit dem Spruch Augustini (welchem sie doch sonst nichts glaeuben noch keinem andern), Christus muss an einem Ort leiblichsein, aber seine Wahrheit [Gottheit?] is allenthalben." Erl. ed. XXX. 56.