(Rungkut
Megah Raya, blok D no 16)
Minggu,
tgl 22 Mei 2016, pk 8.00 & pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
1Kor 12:7-11
- “(7) Tetapi kepada tiap-tiap
orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada
yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan
kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan
pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada
yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang
Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia
memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan
karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan
karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia
memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini
dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada
tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya.”.
I) Tiap
orang Kristen pasti mempunyai karunia.
1)
Ay 7: ‘kepada
tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh’.
Kata-kata
‘tiap-tiap
orang’ bukan
berarti ‘semua / setiap manusia’, tetapi berarti ‘semua / setiap orang
kristen yang sejati’. Ini terlihat dengan jelas karena dalam ay 12 dst
Paulus menggambarkan mereka itu sebagai anggota-anggota tubuh Kristus.
Ay 12:
“Karena sama seperti tubuh itu
satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak,
merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.”.
Jadi,
berbeda dengan ‘bakat’ yang ada pada setiap orang sejak ia lahir, maka
‘karunia’ hanya ada pada orang kristen sejati, dan baru ada sejak ia percaya
kepada Yesus.
Memang
‘karunia’ bisa berasal dari ‘bakat’ yang diubahkan oleh Tuhan menjadi
karunia. Misalnya, orang yang mempunyai bakat menyanyi lalu diberi karunia
menyanyi pada saat ia bertobat. Tetapi kadang-kadang karunia itu merupakan
sesuatu yang sama sekali baru dalam hidup orang itu. Misalnya karunia bahasa
roh, kesembuhan, dsb. Tentu tidak ada keharusan bahwa seorang ahli bahasa yang
bertobat akan menerima karunia bahasa Roh, ataupun seorang dokter yang bertobat
akan menerima karunia kesembuhan.
2)
Tidak ada orang kristen yang tidak mempunyai karunia sehingga ia tidak
dibutuhkan dalam gereja. Karena itu, jangan sekali-kali menolak untuk melayani
Tuhan dengan alasan bahwa saudara tidak mempunyai karunia sama sekali!
Mengatakan ‘saya tak bisa melayani Tuhan’ atau ‘saya tidak mempunyai
karunia’, pada hakekatnya sama dengan berkata ‘saya adalah orang kafir’
atau ‘saya bukan orang kristen’.
Sebaliknya,
juga tidak ada orang kristen yang mempunyai semua karunia yang ada sehingga ia
tidak membutuhkan kerja sama dengan orang kristen yang lain (bdk. ay 21).
Calvin
(tentang ay 11):
“no
one has so much as to have enough within himself, so as not to require help from
others.”
[= tak seorangpun mempunyai begitu banyak sehingga mempunyai cukup dalam dirinya
sendiri sehingga tidak membutuhkan bantuan orang-orang lain.].
Calvin
(tentang ay 11):
“The
Spirit of God, therefore, distributes them among us, in order that we may make
all contribute to the common advantage. To no one does he give all, lest any
one, satisfied with his particular portion, should separate himself from others,
and live solely for himself.”
[= Karena itu, Roh Allah membagikan karunia-karunia itu di antara kita, supaya
kita bisa membuat semua itu menyumbang pada keuntungan bersama. Tak ada orang
kepada siapa Ia memberi semua karunia, supaya jangan siapapun, karena puas
dengan bagian khususnya, memisahkan dirinya dari orang-orang lain, dan hidup
sendirian untuk dirinya sendiri.].
Semua
ini menunjukkan bahwa Tuhan memang ingin semua orang kristen berpartisipasi dan
bekerja sama dalam melayani Dia!
3)
Setiap orang kristen mempunyai karunia-karunia yang berbeda.
Ay 8-11:
“(8) Sebab kepada yang seorang
Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang
lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
(9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang
lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang
Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia
memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia
memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang
seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan
kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.
(11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang
memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang
dikehendakiNya.”.
Ini
menyebabkan selalu ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan tetapi yang bisa
dilakukan oleh orang kristen yang lain, dan hal ini makin menunjukkan perlunya
kita bekerja sama dengan orang kristen yang lain.
Sekarang
mari kita membahas contoh-contoh karunia dalam ay 8-10 itu satu persatu:
a)
Karunia untuk berkata-kata dengan hikmat (ay 8a), dan karunia untuk
berkata-kata dengan pengetahuan (ay 8b).
KJV:
‘the word of wisdom ... the word of
knowledge’ [= kata hikmat ... kata pengetahuan].
Catatan:
kata ‘word’ [= kata] diterjemahkan dari kata Yunani LOGOS. Jadi,
memang terjemahan yang benar adalah ‘kata’ (KJV) bukan ‘berkata-kata’
(TB).
Ada
bermacam-macam pandangan tentang apa yang dimaksudkan dengan kedua istilah /
karunia ini.
UBS
New Testament Handbook Series mengatakan bahwa perbedaan keduanya tidak jelas
bagi kita, dan dalam ayat ini Paulus memang tidak terlalu peduli dengan
perbedaan yang persis antara karunia-karunia itu, tetapi lebih peduli pada fakta
bahwa semua karunia-karunia itu datang dari satu Roh yang sama.
Ada
yang menafsirkan bahwa ‘kata hikmat’ sekedar berarti ‘hikmat’, dan
‘kata pengetahuan’ sekedar berarti ‘pengetahuan’. Saya tak setuju dengan
penafsiran ini karena:
1.
Menurut saya baik hikmat maupun pengetahuan bukanlah karunia dalam arti
karunia untuk melayani, yang sedang dibahas oleh Paulus di sini.
2.
Kalau yang dimaksudkan adalah ‘hikmat’ dan ‘pengetahuan’ mengapa
Paulus menggunakan istilah ‘kata hikmat’ dan ‘kata pengetahuan’?
Pulpit
Commentary kelihatannya menganggap bahwa ‘kata hikmat’
menunjuk pada pemberitaan Injil, sedangkan ‘kata
pengetahuan’
menunjuk pada pengajaran Firman Tuhan.
Charles Hodge mengatakan bahwa tidak mudah
untuk menentukan perbedaan antara kedua karunia ini. Ia sendiri beranggapan
bahwa ‘hikmat’ menunjuk pada ‘Injil’, sedangkan ‘kata pengetahuan’
menunjuk pada karunia dari seorang pengajar. Ini menjadi sama seperti pandangan
dari Pulpit Commentary di atas.
Catatan:
perlu diperhatikan bahwa karunia memberitakan Firman Tuhan selalu diletakkan
di tempat teratas dalam daftar karunia (bdk. ay 28-30
Ro 12:6-8 bdk. 1Kor 14:1),
dan karena itu jelaslah bahwa ini adalah karunia yang paling penting!
b)
Karunia iman (ay 9a).
Yang
dimaksud dengan ‘iman’
di sini, pasti bukan ‘saving faith’ [= iman yang menyelamatkan],
karena ‘saving faith’ harus dimiliki oleh semua orang kristen yang
sejati, sedangkan karunia iman disini hanya dimiliki oleh orang-orang kristen
tertentu. Tentang apa artinya ‘iman’ di sini, ada beberapa pandangan:
1.
Iman mujijat.
2.
Iman seperti dalam Ibr 11:33-40.
3.
Iman dalam doa (bdk. 1Kor 13:2 Mat
17:19-20).
Barnes’
Notes: “Another
shall be distinguished for simple confidence in God; and his endowment is also
given by the same Spirit. Many of the most useful people in the church are
distinguished mainly for their simple confidence in the promises of God; and
often accomplish more by prayer and by their faith in God than others do who are
distinguished for their wisdom and learning. Humble piety and reliance in the
divine promises, and that measure of ardor, fearlessness, and zeal which result
from such confidence; that belief that all obstacles must be and will be
overcome that oppose the gospel; and that God will secure the advancement of his
cause, will often do infinitely more in the promotion of his kingdom than the
most splendid endowments of learning and talent.”
[= Yang lain akan dibedakan karena keyakinan yang sederhana kepada Allah; dan
pemberian ini juga diberikan oleh Roh yang sama. Banyak dari orang-orang yang
paling berguna dalam gereja dibedakan, terutama karena keyakinan mereka yang
sederhana pada janji-janji Allah; dan sering mencapai lebih banyak oleh doa dan
iman mereka kepada Allah, dari pada yang dilakukan oleh orang-orang lain, yang
dibedakan karena hikmat dan pengetahuan mereka. Kesalehan yang rendah hati dan
kebersandaran pada janji-janji ilahi, dan takaran dari gairah, keberanian, dan
semangat yang dihasilkan oleh keyakinan seperti itu; kepercayaan bahwa semua
halangan yang menentang injil pasti dan akan diatasi; dan bahwa Allah akan
memastikan kemajuan dari perkaraNya, sering melakukan jauh lebih banyak dalam
kemajuan dari kerajaanNya dari pada pemberian-pemberian yang paling bagus dari
pengetahuan dan talenta.].
c)
Karunia kesembuhan (ay 9b).
d)
Karunia untuk mengadakan mujijat (ay 10a).
1.
William Barclay menganggap bahwa karunia melakukan mujijat ini berarti
karunia mengusir setan. Tetapi saya tak setuju dengan pandangan ini.
2.
Ada yang membandingkan dengan 2Kor 12:12 dimana rasul-rasul
dikatakan bisa melakukan mujijat untuk membuktikan kerasulan mereka.
2Kor
12:12 - “Segala sesuatu yang
membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah
kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat dan
kuasa-kuasa.”.
3.
Calvin mengatakan bahwa peristiwa dalam Kis 5:1-11 dimana Petrus
‘membunuh’ Ananias dan Safira, dan juga Kis 13:11 dimana Paulus
membutakan mata seorang tukang sihir, merupakan contoh penggunaan karunia
mujijat ini.
e)
Karunia bernubuat (ay 10b).
Ada
2 pandangan tentang arti dari karunia bernubuat ini:
1.
Ini adalah karunia yang ada pada seorang nabi, yang menyebabkan ia bisa
menyampaikan wahyu dari Tuhan.
2.
Ini adalah karunia untuk mengerti Kitab Suci, mengajarkannya dan memberikan
penerapannya dalam hidup sehari-hari (Calvin).
f)
Karunia membedakan roh (ay 10c).
Banyak
orang jaman ini menganggap bahwa ini adalah karunia yang menyebabkan pemiliknya
bisa mengetahui apakah suatu rumah, benda, dsb, ada roh jahatnya atau tidak.
Tetapi kalau kita membaca buku-buku tafsiran, tak seorang penafsirpun
mengartikannya seperti itu.
Dalam
Kitab Suci, kata ‘roh’
tidak selalu menunjuk pada roh manusia ataupun roh jahat. Misalnya dalam 1Tim 4:1
dan 1Yoh 4:1-3 jelas terlihat bahwa kata ‘roh’ menunjuk pada seorang
pengajar firman.
1Tim
4:1 - “Tetapi Roh dengan tegas
mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu
mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan”.
1Yoh
4:1-3 - “(1) Saudara-saudaraku yang
kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah
mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan
pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang
mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah,
(3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu
adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang
dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia.”.
Karena
itu, boleh dikatakan semua penafsir Kitab Suci menganggap bahwa ‘karunia
membedakan roh’ artinya adalah karunia yang menyebabkan seseorang bisa
membedakan antara hamba Tuhan yang sejati dan seorang nabi palsu (Calvin), atau
antara orang kristen yang sejati dan orang kristen yang palsu (Adam Clarke),
atau antara mujijat asli dan mujijat palsu (Adam Clarke).
g)
Karunia bahasa roh dan karunia menafsirkan bahasa roh (ay 10d).
Perhatikan
bahwa 2 karunia ini selalu diletakkan pada akhir daftar (ay 8-10 ay 28 ay 29-30).
Mengapa selalu diletakkan pada akhir daftar? Ada macam-macam jawaban:
1.
Itu diletakkan pada akhir daftar, bukan karena itu adalah yang terkecil,
tetapi karena itu adalah problem yang sedang dibahas oleh Paulus.
2.
Itu diletakkan pada akhir daftar karena itu terlalu dihargai dan
dipamerkan oleh orang-orang Korintus (Hodge).
3.
Itu diletakkan pada akhir daftar karena itu adalah karunia yang terkecil
/ terendah!
Saya
setuju dengan penafsiran ini, karena karunia bahasa roh memang tidak bisa
membangun siapapun (karena tidak ada yang bisa mengertinya), kecuali kalau
karunia bahasa roh itu dibarengi dengan adanya karunia penafsiran bahasa roh.
Tentang
karunia bahasa Roh, perhatikan kata-kata A. T. Robertson ini.
A.
T. Robertson: “It
was not mere gibberish or jargon like the modern ‘tongues,’ but in a real
language that could be understood by one familiar with that tongue as was seen
on the great Day of Pentecost when people who spoke different languages were
present. In Corinth, where no such variety of people existed, it required an
interpreter to explain the tongue to those who knew it not. Hence, Paul placed
this gift lowest of all. It created wonder, but did little real goodness”
[= Itu bukan semata-mata ocehan yang tidak bisa dimengerti seperti ‘bahasa
Roh’ modern, tetapi dalam suatu bahasa yang sungguh-sungguh yang bisa
dimengerti oleh orang yang akrab dengan bahasa Roh itu seperti yang terlihat
pada hari besar Pentakosta pada waktu hadir orang-orang yang berbicara dalam
bahasa-bahasa yang berbeda. Di Korintus, dimana tak ada bermacam-macam bangsa,
dibutuhkan seorang penafsir untuk menjelaskan bahasa Roh itu kepada mereka yang
tidak mengertinya. Karena itu Paulus meletakkan karunia ini sebagai yang
terendah dari semua. Karunia ini menciptakan keheranan, tetapi hanya membuat
sedikit kebaikan.].
Ada
sesuatu yang menarik dalam penafsiran A. T. Robertson tentang karunia penafsiran
bahasa Roh.
A.
T. Robertson: “The
interpretation of tongues. hermeeneia
gloossoon. An old word, here only and 1 Cor 14:26 in
the New Testament, from hermeeneuoo
from Hermees
(the god of speech).” [= Penafsiran bahasa Roh. hermeeneia
gloossoon. Suatu kata kuno, hanya di sini dan 1Kor
14:26 dalam Perjanjian Baru, dari hermeeneuoo
dari Hermees
(dewa ucapan / kemampuan berbicara).].
Bdk.
Kis 14:12 - “Barnabas mereka sebut Zeus
dan Paulus mereka sebut Hermes, karena ia yang berbicara”.
Ini
perlu dicamkan oleh orang-orang yang tak mau menggunakan apapun yang menurut
mereka berbau kekafiran dan penyembahan berhala (misalnya orang-orang yang
anti Natal yang menganggap Natal / pohon Natal berasal dari penyembahan
berhala, dan juga penganut Yahweh-isme yang menganggap kata ‘Allah’
berasal dari nama dewa pra Islam). Kalau mau konsisten dengan pandangan itu,
kita harus juga membuang istilah Hermeneutics [= ilmu penafsiran Alkitab].
Apakah
ke 9 hal di atas ini merupakan seluruh jumlah karunia yang ada?
Banyak
orang yang berdasarkan ay 8-10, yang menyebutkan 9 buah karunia, lalu mengatakan
bahwa karunia-karunia yang ada hanya berjumlah 9 buah. Tetapi ini jelas
merupakan pandangan yang salah, karena daftar ini jelas tidak mencakup semua
karunia yang ada (yang jumlahnya tentu banyak sekali). Bandingkan dengan ay 28
dan Ro 12:4-8 dimana terlihat adanya karunia-karunia yang lain yang tidak
ada di dalam ay 8-10 ini.
Ay 28:
“Dan Allah telah menetapkan
beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga
sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan
mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk
berkata-kata dalam bahasa roh.”.
Ro 12:4-8
- “(4) Sebab sama seperti pada
satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu
mempunyai tugas yang sama, (5) demikian juga kita, walaupun banyak, adalah
satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang
seorang terhadap yang lain. (6) Demikianlah kita mempunyai karunia yang
berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika
karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai
dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani;
jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8) jika karunia
untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan
sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi
pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan
kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”.
The
Bible Exposition Commentary:
“The
various gifts are named in 1 Cor 12:8-10 and 28, and also in Eph 4:11 and Rom
12:6-8. When you combine the lists, you end up with nineteen different gifts and
offices. Since the listing in Romans is not identical with the listing in 1
Corinthians, we may assume that Paul was not attempting to exhaust the subject
in either passage. While the gifts named are adequate for the ministry of the
church, God is not limited to these lists. He may give other gifts as He
pleases.” [= Bermacam-macam karunia disebutkan
dalam 1Kor 12:8-10 dan 28, dan juga dalam Ef 4:11 dan Ro 12:6-8. Pada waktu
engkau mengombinasikan daftar-daftar itu, engkau berakhir dengan / mendapati 19
karunia-karunia dan jabatan-jabatan yang berbeda. Karena pendaftaran dalam surat
Roma tidak identik dengan pendaftaran dalam 1Korintus, kita boleh menganggap
bahwa Paulus bukannya sedang berusaha untuk menghabiskan sama sekali pokok ini
dalam text yang manapun. Sementara karunia-karunia yang disebutkan cukup untuk
pelayanan gereja, Allah tidak terbatas pada daftar-daftar ini. Ia bisa
memberikan karunia-karunia lain seperti yang Ia senangi.].
4)
Tidak ada satu karuniapun yang harus dimiliki oleh setiap orang kristen.
Jaman
sekarang, banyak orang beranggapan bahwa semua orang kristen harus mempunyai
karunia bahasa roh. Tetapi pandangan ini jelas sekali bertentangan dengan ay 8-10
dan ay 29-30 yang jelas menunjukkan bahwa tidak semua orang diberi karunia
bahasa roh!
1Kor 12:8-10,28-30
- “(8) Sebab kepada yang seorang
Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain
Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada
yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan
karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk
mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,
dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam
roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa
roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh
itu. ... (28) Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama
sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka
yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk
melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. (29) Adakah
mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat
karunia untuk mengadakan mujizat, (30) atau untuk menyembuhkan, atau untuk
berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?”.
II) Semua
karunia diberikan oleh Roh Kudus.
1)
Semua karunia adalah pemberian dari Roh Kudus.
Dasarnya:
a)
Ay 7: ‘penyataan
Roh’.
NIV
/ NASB: ‘the manifestation of the Spirit’ [= manifestasi / perwujudan
dari Roh].
Jadi,
adanya Roh Kudus dalam diri orang Kristen menimbulkan manifestasi, yaitu adanya
karunia-karunia.
b)
Ay 8-10 menunjukkan secara jelas bahwa Roh Kuduslah yang memberi
karunia-karunia itu.
Ay 8-10:
“(8) Sebab kepada yang seorang
Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang
lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan.
(9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang
lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh
memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia
memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia
memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia
memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia
memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.”.
Catatan: kata ‘Roh’ dan ‘Ia’ dalam ay 10
sebetulnya tidak ada.
KJV:
‘(8) For to one is given by the
Spirit the word of wisdom; to another the word of knowledge by the same Spirit;
(9) To another faith by the same Spirit; to another the gifts of healing by the
same Spirit; (10) To another the working of miracles; to another prophecy; to
another discerning of spirits; to another [divers] kinds of tongues; to another
the interpretation of tongues’ [= (8) Karena kepada seseorang
diberikan oleh Roh kata hikmat; kepada yang lain kata pengetahuan oleh Roh yang
sama; (9) Kepada yang lain iman oleh Roh yang sama; kepada yang lain karunia
penyembuhan oleh Roh yang sama; (10) kepada yang lain pengerjaan
mujijat-mujijat; kepada yang lain nubuat; kepada yang lain pembedaan roh-roh;
kepada yang lain bermacam-macam jenis bahasa Roh; kepada yang lain penafsiran
bahasa Roh].
c)
Ay 11 mengatakan bahwa ‘semuanya
itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan kepada
tiap-tiap orang secara khusus, ...’.
Paulus
menekankan hal ini untuk:
1.
Menghancurkan kesombongan dari orang-orang Kristen yang memiliki
karunia-karunia yang hebat-hebat.
Bagaimanapun
hebatnya karunia-karunia yang ada pada kita, tidak seharusnya membuat kita
menjadi sombong, karena karunia itu adalah pemberian Roh Kudus.
Bdk.
1Kor 4:7 - “Sebab siapakah yang
menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak
engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan
diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”.
Sebetulnya,
orang-orang Kristen juga tidak boleh meninggikan, apalagi mendewakan,
hamba-hamba Tuhan yang mempunyai karunia-karunia yang hebat-hebat. Tetapi
kenyataannya, betapa banyaknya orang-orang Kristen mengagung-agungkan hamba
Tuhan yang mempunyai karunia-karunia yang hebat-hebat, misalnya Stephen Tong.
Ini bukan hanya salah, tetapi juga membahayakan hamba Tuhan itu sendiri, karena
bisa menimbulkan kesombongan dalam dirinya!
2.
Membuang rasa minder / rendah diri dalam diri orang-orang Kristen yang
mempunyai karunia-karunia yang kelihatannya rendah / remeh / kecil / tak
berarti.
Barnes’
Notes (tentang ay 7):
“no
Christian should be depressed and disheartened, as if he occupied an inferior or
unimportant station, since his place has also been assigned him by God; ... That
all should be contented, and satisfied with their allotments in the church, and
should strive only to make the best use of their talents and endowments;” [= tak seorang Kristenpun harus
tertekan atau kecil hati, seakan-akan ia menempati suatu pos / tempat yang lebih
rendah atau tidak penting, karena tempatnya juga telah ditetapkan baginya oleh
Allah; ... Bahwa semua orang harus puas / senang dengan bagian / pemberian
kepada mereka dalam gereja, dan harus berusaha hanya untuk melakukan penggunaan
yang terbaik dari talenta-talenta dan pemberian-pemberian mereka;].
Barnes’
Notes (tentang ay 11):
“No
man should be depressed, or should despise his own gifts, however humble they
may be. In their own place, they may be as important as the higher endowments of
others. That God has placed him where he is, or has given less splendid
endowments than he has to others, is no fault of his. There is no crime in it;
and he should, therefore, strive to improve his ‘one talent,’ and to make
himself useful in the rank where he is placed.”
[= Tak seorangpun harus tertekan, atau meremehkan karunia-karunianya sendiri,
betapapun rendahnya karunia-karunia itu. Di tempat mereka sendiri, mereka bisa
sama pentingnya seperti pemberian-pemberian dari orang-orang lain. Bahwa Allah
telah menempatkan dia dimana ia ada, atau telah memberinya pemberian-pemberian
yang kurang bagus dari pada yang telah Ia berikan kepada orang-orang lain,
bukanlah kesalahannya. Tidak ada kejahatan dalam hal itu; dan karena itu, ia
harus berusaha untuk memperbaiki / meningkatkan ‘satu talenta’nya, dan
membuat dirinya berguna di tempat dimana ia ditempatkan.].
Penerapan:
·
Apakah
saudara berusaha menggunakan karunia-karunia yang ada pada diri saudara dengan
sebaik-baiknya?
·
Apakah
saudara berusaha meningkatkannya? Memang karunia-karunia yang sifatnya mujijat,
tidak bisa ditingkatkan. Misalnya karunia bahasa Roh, karunia menyembuhkan, dan
sebagainya. Tetapi karunia-karunia yang sifatnya natural, bisa ditingkatkan.
Misalnya karunia berkhotbah / mengajar, karunia menyanyi dan sebagainya.
Penerapan:
pengkhotbah awam / Guru Sekolah Minggu harus belajar Firman Tuhan dan ikut kader
pengkhotbah / Guru Sekolah Minggu, pemimpin liturgi harus latihan vokal, belajar
lagu-lagu baru, dan sebagainya.
3.
Menekankan bahwa orang-orang kristen harus bersatu dan bekerja sama,
karena karunia-karunia itu merupakan pemberian dari Roh Kudus yang satu dan yang
sama.
Ilustrasi:
mata, leher, kaki, tangan, mulut, rahang, tenggorokan harus bekerja sama supaya
seseorang bisa makan. Yang manapun tak mau bekerja sama akan menghalangi atau
mempersulit orang itu untuk makan.
Dari
ilustrasi ini terlihat bahwa bukan hanya kita semua harus bekerja sama untuk
melayani Tuhan / gereja, tetapi juga bahwa siapapun yang tidak mau melayani /
menggunakan karunia-karunia yang ada padanya, menjadi penghalang / perusak
kemajuan gereja.
2)
Roh Kudus memberikan karunia-karunia itu sesuai dengan kehendakNya.
1Kor
12:11,18 - “(11) Tetapi semuanya ini
dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada
tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya. ... (18)
Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu
tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya.”.
Ro 12:6-8
- “(6) Demikianlah kita
mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang
dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah
kita melakukannya sesuai dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani,
baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8)
jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang
membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas;
siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang
menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”.
Ada
2 hal yang bisa kita dapatkan dari hal ini:
a)
Adanya ‘kehendak’
menunjukkan bahwa Roh Kudus itu adalah ‘seseorang yang berpribadi’. Jadi, Ia
adalah ‘seseorang’, bukan ‘sesuatu’. Bandingkan ini dengan ajaran Saksi
Yehovah yang mengatakan bahwa Roh Kudus bukanlah seseorang yang berpribadi,
karena Roh Kudus itu mereka anggap hanya sebagai kuasa / kekuatan Allah (tenaga
aktif Allah).
b)
Orang Kristen tidak bisa pilih-pilih karunia sekehendaknya sendiri,
karena pemberian karunia itu dilakukan sesuai kehendak Roh Kudus. Jadi, jelas
kita tak bisa menghendaki supaya karunia kita ditukar dengan karunia yang lain,
yang lebih kita senangi.
Pertanyaan
yang sering dipersoalkan adalah: bolehkah orang kristen berdoa untuk meminta /
berusaha untuk mendapatkan suatu karunia tertentu? Dan bisakah hal itu terjadi?
1.
Ada yang menjawab: boleh / bisa.
Dasarnya:
a.
1Kor 12:31 dan 1Kor 14:1 memerintahkan untuk berusaha
memperoleh karunia-karunia yang terutama (lihat juga 1Kor 14:12).
1Kor 12:31a
- “Jadi berusahalah untuk
memperoleh karunia-karunia yang paling utama.”.
b.
1Kor 14:13 mengatakan bahwa orang yang mempunyai karunia bahasa Roh
harus berdoa supaya kepadanya diberikan juga karunia penafsiran bahasa Roh.
1Kor
14:13 - “Karena itu siapa yang
berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga
karunia untuk menafsirkannya.”.
2.
Ada yang menjawab: tidak boleh / tidak bisa.
Dasarnya:
a.
Karunia diberikan sesuai kehendak Roh Kudus, bukan kehendak kita (ay 11,18
Ro 12:6).
b.
Sejak kita percaya Yesus, kita adalah anggota tubuh Kristus, dan tugas /
fungsi / kemampuannya jelas sudah ditetapkan mulai saat itu (sebetulnya ini
bahkan sudah direncanakan / ditetapkan oleh Allah sejak sebelum penciptaan
dunia).
c.
Kata Yunani yang diterjemahkan ‘berusahalah
untuk memperoleh’
dalam 1Kor 12:31 dan 1Kor 14:1,12 bisa diterjemahkan ‘value highly’
[= nilailah tinggi / hargailah]. Kalau kita memilih terjemahan ini, maka jelas
bahwa ayat-ayat itu tidak menyuruh kita untuk berusaha mendapatkan, tetapi hanya
menyuruh kita untuk menghargai karunia-karunia tertentu. Juga itu merupakan
kata perintah bentuk jamak, dan karena itu bukan ditujukan kepada setiap
individu Kristen, tetapi diberikan kepada seluruh gereja.
d.
1Kor 14:13 yang menyuruh orang yang mempunyai karunia bahasa Roh
untuk meminta karunia penafsiran bahasa Roh, bisa dianggap sebagai satu-satunya
perkecualian, karena 2 karunia itu memang merupakan suatu pasangan (ay 10b,30).
Saya
setuju dengan pandangan ke 2 ini.
III) Tujuan pemberian
karunia-karunia.
Roh
Kudus memberikan karunia-karunia untuk kepentingan bersama / gereja (ay 7
bdk. 14:5,12,17,26 Ef 4:11-12 1Pet
4:10). Dari sini terlihat bahwa:
1)
Karunia tak diberikan untuk dibuat sombong-sombongan / pameran, karena
ini jelas tidak membangun siapapun juga.
Bandingkan
dengan banyak orang jaman ini yang menyombongkan / memamerkan ‘karunia bahasa
Roh’ mereka.
2)
Karunia tidak diberikan untuk kepentingan diri sendiri!
Bandingkan
dengan banyak orang kristen jaman ini yang beranggapan bahwa karunia bahasa Roh
itu bisa membangun iman / menyucikan diri orang yang memilikinya! Pandangan ini
jelas tak cocok dengan penggambaran orang-orang kristen sebagai anggota-anggota
tubuh Kristus, karena dalam suatu tubuh tidak ada anggota yang fungsinya hanya
untuk dirinya sendiri!
Karunia
diberikan supaya digunakan untuk membangun gereja / jemaat (14:12,26
Ro 12:6-8).
The
Bible Exposition Commentary:
“The
Corinthians especially needed this reminder, because they were using their
spiritual gifts selfishly to promote themselves and not to prosper the
church.”
[= Orang-orang Korintus secara khusus membutuhkan pengingatan ini, karena mereka
menggunakan karunia-karunia rohani mereka secara egois untuk mempromosikan diri
mereka sendiri dan bukan untuk memperbaiki gereja.].
Charles Hodge (tentang ay 7):
“To profit withal (πρὸς τὸ
συμφέρον),
i.e. for edification. This is the common object of all these gifts. They are not
designed exclusively or mainly for the benefit, much less for the gratification
of their recipients; but for the good of the church. Just as the power of vision
is not for the benefit of the eye, but for the man. When, therefore, the gifts
of God, natural or supernatural, are perverted as means of self-exaltation or
aggrandizement, it is a sin against their giver, as well as against those for
whose benefit they were intended.” [= ‘Untuk kepentingan bersama’ (πρὸς
τὸ συμφέρον
/ PROS TO SUMPHERON),
yaitu untuk pendidikan. Ini adalah tujuan umum dari semua karunia-karunia ini.
Mereka tidak dirancang hanya atau terutama untuk kebaikan, apalagi untuk
kepuasan, dari penerima karunia-karunia itu; tetapi untuk kebaikan dari gereja.
Sama seperti kemampuan untuk melihat bukanlah untuk kebaikan dari mata, tetapi
untuk orang itu. Karena itu, pada waktu karunia-karunia Allah, yang biasa atau
yang bersifat mujijat, diselewengkan sebagai cara untuk peninggian diri sendiri
atau memperbesar diri sendiri, itu merupakan suatu dosa terhadap pemberi
karunia-karunia itu, maupun terhadap mereka bagi siapa keuntungan dari
karunia-karunia itu dimaksudkan.].
Ingat
bahwa saudara akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Tuhan tentang karunia yang
Ia berikan kepada saudara (bdk. Mat 25:14-30 - yang dimaksud dengan ‘talenta’
sebetulnya bukan hanya karunia-karunia saja, tetapi juga mencakup hal-hal lain
yang Tuhan berikan kepada kita. Tetapi ‘karunia’ jelas termasuk
‘talenta’).
Karena
itu, carilah apa karunia saudara (dengan banyak berdoa dan mencoba untuk
melayani Tuhan dalam bermacam-macam bidang seperti: sekolah minggu, paduan
suara, kepengurusan dsb), gunakanlah karunia itu semaximal mungkin, dan juga,
tingkatkan karunia-karunia itu!
-Amin-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali