(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 4 Mei 2008, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(8:
7064-1331 / 6050-1331)
2Pet 1:16-21 - “(16) Sebab kami
tidak mengikuti dongeng-dongeng isapan jempol manusia, ketika kami
memberitahukan kepadamu kuasa dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai
raja, tetapi kami adalah saksi mata dari kebesaranNya. (17) Kami menyaksikan,
bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang
kepadaNya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang
Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan.’ (18) Suara itu kami dengar datang dari
sorga, ketika kami bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus. (19)
Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh
para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti
memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar
menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu. (20) Yang
terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat dalam Kitab Suci tidak
boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab tidak pernah nubuat
dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang
berbicara atas nama Allah”.
1)
Nubuat / Firman Tuhan bukan berasal dari manusia itu sendiri, tetapi dari
Roh Kudus / Allah sendiri.
Ay
20-21: “(20) Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat
dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh
Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”.
Yang
memusingkan adalah penafsiran tentang kata-kata ‘tidak boleh ditafsirkan
menurut kehendak sendiri’ dalam ay 20. Ada beberapa penafsiran:
a)
Setelah memberikan nubuat itu, nabi itu tidak boleh menafsirkan nubuat
itu sendiri.
Sepintas
lalu, ini merupakan arti dari kata-kata ini, tetapi kalau dilihat kontextnya,
arti ini tidak cocok. Ay 21, yang merupakan sambungan dari ay 20, berbicara
tentang asal usul dari nubuat itu.
Ay
20-21: “(20) Yang terutama harus kamu ketahui, ialah bahwa nubuat-nubuat
dalam Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri, (21) sebab
tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh
Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah”.
b)
Nubuat Firman Tuhan tak pernah dihasilkan oleh manusia itu sendiri, dari
pandangannya / pemikirannya sendiri atau melalui penyelidikannya dan sebagainya.
Catatan: yang disebut sebagai ‘nubuat’ biasanya diartikan
hanya sebagai ‘ramalan’. Sebetulnya ini salah, karena sekalipun ‘nubuat’
sering berkenaan dengan ramalan tentang apa yang akan terjadi, tetapi tidak
harus demikian. Nubuat bisa berupa seadanya ajaran.
Barnes’
Notes: “The
word rendered ‘interpretation’ (epilusis)
occurs nowhere else in the New Testament. It properly means ‘solution’
(Robinson’s Lexicon), ‘disclosure,’ (Prof. Stuart on the Old Testament, p.
328,) ‘making free (Passow,)’ with the notion that what is thus released or
loosed was before bound, entangled obscure. The verb from which this word is
derived epiluoo means, ‘to let
loose upon,’ as dogs upon a hare, (Xen. Mem. 7,8; ib 9,10;) to loose or open
letters; to loosen a band; to loose or disclose a riddle or a dark saying, and
then to enlighten, illustrate, etc. - Passow. ... The verb would be applicable
to loosing anything which is bound or confined, and thence to the explanation of
a mysterious doctrine or a parable, or to a disclosure of what was before
unknown. The word, according to this, in the place before us, would mean the
disclosure of what was before bound, or retained, or unknown; either what had
never been communicated at all, or what had been communicated obscurely”
[= Kata yang diterjemahkan ‘penafsiran’ (EPILUSIS) tidak muncul di tempat
lain dalam Perjanjian Baru. Itu sebenarnya berarti ‘pemecahan /
penyelesaian’ (Robinson’s Lexicon), ‘penyingkapan’ (Prof. Stuart on the
Old Testament, p. 328,) ‘melepaskan / membebaskan’ (Passow) dengan suatu
pikiran / gagasan bahwa apa yang dilepaskan itu tadinya terikat, terjerat /
terbelit sehingga kabur. Kata kerja dari mana kata ini diturunkan adalah EPILUOO
yang berarti ‘melepaskan pada’, seperti anjing-anjing dilepaskan pada seekor
kelinci, (Xen. Mem. 7,8; ib 9,10); melepaskan / membuka surat; melepaskan /
melonggarkan pita / pembalut; melepaskan atau menyingkapkan suatu teka teki atau
kata-kata yang gelap, dan lalu menerangi / mencerahi, menjelaskan, dsb. -
Passow. ... Kata kerja itu bisa diterapkan pada tindakan melepaskan apapun yang
terikat atau dibatasi, dan dari sana pada penjelasan tentang suatu doktrin atau
perumpamaan yang misterius, atau pada suatu penyingkapan dari apa yang
sebelumnya tidak diketahui. Menurut ini, kata yang ada di depan kita ini,
artinya adalah penyingkapan dari apa yang tadinya terikat, atau ditahan, atau
tak diketahui; apakah karena tidak pernah diberitakan sama sekali, atau karena
diberitakan secara kabur].
Matthew
Henry mengatakan bahwa ini yang membedakan nabi asli dan nabi palsu. Kalau nabi
asli, ia tidak memberitakan dari dirinya sendiri, tetapi berita dari Tuhan.
Kalau nabi palsu, ia memberitakan apapun yang ia sendiri inginkan.
Bandingkan
dengan:
·
Bil 16:28
- “Sesudah itu berkatalah Musa: ‘Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa
aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah
dari hatiku sendiri”.
·
Yer 23:16
- “Beginilah firman TUHAN semesta alam: ‘Janganlah dengarkan perkataan
para nabi yang bernubuat kepada kamu! Mereka hanya memberi harapan yang sia-sia
kepadamu, dan hanya mengungkapkan penglihatan rekaan hatinya sendiri, bukan
apa yang datang dari mulut TUHAN”.
·
1Raja 22:10-14
- “(10) Sementara raja Israel dan Yosafat, raja Yehuda, duduk masing-masing
di atas takhtanya dengan pakaian kebesaran, di suatu tempat pengirikan di depan
pintu gerbang Samaria, sedang semua nabi itu bernubuat di depan mereka, (11)
maka Zedekia bin Kenaana membuat tanduk-tanduk besi, lalu berkata: ‘Beginilah
firman TUHAN: Dengan ini engkau akan menanduk Aram sampai engkau menghabiskan
mereka.’ (12) Juga semua nabi itu bernubuat demikian, katanya: ‘Majulah ke
Ramot-Gilead, dan engkau akan beruntung; TUHAN akan menyerahkannya ke dalam
tangan raja.’ (13) Suruhan yang pergi memanggil Mikha itu, berkata kepadanya:
‘Ketahuilah, nabi-nabi itu sudah sepakat meramalkan yang baik bagi raja,
hendaklah engkau juga berbicara seperti salah seorang dari pada mereka dan
meramalkan yang baik.’ (14) Tetapi Mikha
menjawab: ‘Demi TUHAN yang hidup, sesungguhnya, apa yang akan difirmankan
TUHAN kepadaku, itulah yang akan kukatakan.’”.
c)
Calvin mengatakan bahwa Gereja Roma Katolik menafsirkan bahwa kata-kata
ini artinya adalah: Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan oleh seorang pribadi,
siapapun dia adanya. Yang boleh menafsirkan adalah Sidang Gereja.
Calvin:
“But the Papists are doubly foolish, when they
conclude from this passage, that no interpretation of a private man ought to be
deemed authoritative. For they pervert what Peter says, that they may claim for
their own councils the chief right of interpreting Scripture; but in this they
act indeed childishly; for Peter calls interpretation private, not that of every
individual, in order to prohibit each one to interpret; but he shews that
whatever men bring of their own is profane. Were, then, the whole world
unanimous, and were the minds of all men united together, still what would
proceed from them, would be private or their own; for the word is here set in
opposition to divine revelation; so that the faithful, inwardly illuminated by
the Holy Spirit, acknowledge nothing but what God says in his word”
(= Tetapi para pengikut Paus adalah tolol secara dobel / sangat tolol, pada
waktu mereka menyimpulkan dari text ini, bahwa tidak ada penafsiran dari seorang
pribadi manusia yang harus dianggap sebagai berotoritas. Karena mereka
menyimpangkan apa yang dikatakan oleh Petrus,sehingga mereka bisa mengclaim
bagi Sidang Gereja - Sidang Gereja mereka sendiri hak utama / tertinggi dalam
menafsirkan Kitab Suci; tetapi dalam hal ini mereka bertindak secara
kekanak-kanakan; karena yang disebut Petrus sebagai penafsiran pribadi, bukan
penafsiran dari setiap pribadi, dengan tujuan untuk melarang setiap orang untuk
menafsirkan; tetapi ia menunjukkan bahwa apapun yang dibawa oleh manusia dari
diri mereka sendiri adalah kotor / duniawi. Maka, seandainya seluruh dunia
mempunyai suara bulat, dan seandainya pikiran dari semua manusia bersatu
bersama-sama, tetap saja apa yang keluar dari mereka adalah pribadi atau milik
mereka sendiri; karena kata itu di sini dipertentangkan / dikontraskan dengan
wahyu / penyataan ilahi; sehingga orang-orang yang setia / beriman, yang hatinya
diterangi / dicerahi oleh Roh Kudus, tidak mengakui apapun kecuali apa yang
Allah katakan dalam firmanNya).
Setelah
mengajar secara negatif, bahwa nubuat / Firman Tuhan itu bukan berasal dari
manusia (ay 19-20a), Petrus lalu mengajar secara positif, dengan mengatakan
bahwa orang-orang itu / nabi-nabi bernubuat karena dorongan dari Roh Kudus (ay
20b).
Ini
menunjukkan bahwa sekalipun orang-orang itu / nabi-nabi itu memang mengucapkan /
menuliskan Firman Tuhan / Kitab Suci, tetapi dalam melakukan semua itu, mereka
dipimpin / diarahkan oleh Roh Kudus, sehingga yang mereka tuliskan betul-betul
adalah Firman Tuhan.
Penulis-penulis
Kitab Suci itu sendiri sering tidak mengerti apa yang ia tuliskan.
1Pet 1:10-12
- “(10) Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh
nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan
bagimu. (11) Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang
dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang
sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa
Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu. (12) Kepada
mereka telah dinyatakan, bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, tetapi
melayani kamu dengan segala sesuatu yang telah diberitakan sekarang kepada kamu
dengan perantaraan mereka, yang oleh Roh Kudus, yang diutus dari sorga,
menyampaikan berita Injil kepada kamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui
oleh malaikat-malaikat”.
Karena
itu jelas bahwa tulisannya itu asal usulnya bukan dari dia sendiri, tetapi dari
Tuhan.
2)
Kalau nubuat tidak pernah muncul dari manusia itu sendiri, baik dari
pikiran maupun kehendaknya sendiri, maka jelas bahwa ini juga harus berlaku
dalam persoalan bahasa Roh! Mengapa? Karena beda antara nubuat dan bahasa Roh
hanya dalam soal bahasa.
1Kor 14:5
- “Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih
dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga
dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu
juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun”.
Jadi,
kalau jaman sekarang ada banyak orang-orang yang menggunakan bahasa Roh sesuai
kehendak mereka sendiri, itu pasti salah / palsu!
Bdk.
Kis 2:4 - “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai
berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu
kepada mereka untuk mengatakannya”.
Perhatikan
bahwa dalam Kis 2:4 ini bukan dikatakan bahwa mereka berkata-kata dalam
bahasa-bahasa lain (bahasa Roh) semau mereka sendiri, atau sesuai kehendak
mereka, tetapi ‘seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk
mengatakannya’.
1) Nubuat / Firman Tuhan itu lebih pasti dari mujijat.
Ay 19a:
“Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan
oleh para nabi”. Kitab Suci Indonesia salah terjemahan!
KJV: ‘We have also a more sure word of prophecy’ (= Kami juga
mempunyai firman nubuatan yang lebih pasti).
a)
‘word of prophecy’ (= firman nubuatan).
Barnes menganggap bahwa ‘firman nubuatan’ ini merupakan firman /
nubuat yang berkenaan dengan kedatangan Tuhan Yesus, karena memang itulah yang
sedang dibicarakan. Dan ini pasti menunjuk pada firman / nubuat tentang
kedatangan Yesus dalam Perjanjian Lama, karena pada saat itu Perjanjian Baru
belum ada.
b) ‘more
sure’ (= lebih pasti).
Ada
yang menganggap kata-kata ini tidak menunjukkan suatu perbandingan. Jadi,
artinya hanyalah bahwa firman nubuatan itu merupakan sesuatu yang sangat
pasti. Tetapi kebanyakan penafsir menganggap bahwa kata-kata ini menunjuk
pada suatu perbandingan. Jika kata-kata ini menunjuk pada suatu perbandingan,
Albert Barnes mengatakan bahwa ada beberapa kemungkinan tentang perbandingan
yang dimaksudkan:
1.
Firman nubuatan itu lebih pasti dari firman nubuatan itu sendiri pada
waktu pertama kalinya diberikan.
2.
Firman nubuatan itu lebih pasti dari dongeng-dongeng yang baru ia
bicarakan dalam ay 16a: “Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng
isapan jempol manusia”.
3.
Firman nubuatan itu lebih pasti dari mujijat tentang pemuliaan Yesus di
atas gunung, beserta suara Bapa dari surga pada peristiwa itu, yang baru ia
bicarakan dalam ay 16b-18: “(16b) ketika kami memberitahukan kepadamu kuasa
dan kedatangan Tuhan kita, Yesus Kristus sebagai raja, tetapi kami adalah saksi
mata dari kebesaranNya. (17) Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan
dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepadaNya suara dari Yang
Mahamulia, yang mengatakan: ‘Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku
berkenan.’ (18) Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami
bersama-sama dengan Dia di atas gunung yang kudus”.
Albert
Barnes sendiri, dan juga kebanyakan penafsir lain, memilih perbandingan yang
ketiga.
Dengan
demikian, ini merupakan suatu bagian yang meninggikan Firman Tuhan secara luar
biasa, karena mengatakan bahwa Firman Tuhan / Kitab Suci itu lebih pasti dari
suatu mujijat yang begitu luar biasa.
Bayangkan
andaikata saudara sendiri mengalami apa yang dialami oleh Petrus, Yakobus dan
Yohanes dalam Mat 17:1-dst, dimana Yesus dimuliakan di atas gunung, dan
lalu ada suara Bapa dsb, apakah saudara bisa tetap menganggap bahwa Firman
Tuhan / Kitab Suci itu lebih pasti dari peristiwa / mujijat yang saudara lihat
dan dengar itu? Saya yakin bahwa kebanyakan ‘orang Kristen’ akan
berpandangan sebaliknya!
Bandingkan
juga dengan banyak orang yang menjadi Kristen, karena mengalami mujijat, mimpi, dsb, yang lalu mereka jadikan dasar untuk
memastikan kebenaran dari Yesus / Injil.
Bdk.
Luk 16:27-31 - “(27) Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta
kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, (28) sebab masih ada
lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar
mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. (29) Tetapi kata
Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka
mendengarkan kesaksian itu. (30) Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi
jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan
bertobat. (31) Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian
Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh
seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.
Salah
satu alasan mengapa Firman Tuhan / Kitab Suci tetap lebih pasti dari mujijat
seperti itu adalah bahwa mujijat selalu bisa palsu, atau berasal dari setan!
2Kor 11:14
- “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai
malaikat Terang”.
2) Kita harus mempelajari Firman Tuhan / Kitab Suci.
Ay 19b:
“Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti
memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar
menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu”.
Ini
menunjukkan bahwa tanpa pengertian Firman Tuhan, manusia itu seperti orang yang
ada di tempat yang gelap! Tetapi kalau orang itu belajar Firman Tuhan, maka ia
akan mendapat terang. Dan makin banyak ia mengerti Firman Tuhan, makin banyak
terang yang ia dapatkan.
Pada hari Pentakosta ini, ada banyak gereja yang pada
hari ini menekankan karunia bahasa Roh dari Roh Kudus, dan keharusan orang
Kristen untuk berbahasa Roh. Tetapi marilah kita, sesuai dengan Firman Tuhan
yang baru kita pelajari, menyadari bahwa Firman Tuhan / Kitab Suci itu diberikan
oleh Roh Kudus, dan marilah kita menyadari pentingnya Firman Tuhan / Kitab Suci
itu bagi kita, dan mengambil suatu keputusan untuk belajar Firman Tuhan dengan
rajin dan tekun! Tuhan memberkati saudara sekalian.
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali