Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 18 November 2025, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

argumentasi & theologia

dalam

memberitakan Injil(6)

 

II) Tentang hukuman dosa.

 

Kalau point tentang dosa dirasa sudah cukup, maka kita melanjutkan pembicaraan ke point selanjutnya, yaitu tentang ‘hukuman dosa’.

 

Kalimat penghubung / transisinya tidak sukar. Saudara dengan mudah mengatakan bahwa Allah itu adil, dan karena itu Ia pasti menghukum manusia berdosa.

 

Point ini perlu ditekankan, khususnya pada waktu menghadapi orang yang terlalu menyoroti / menekankan kasih Allah, tetapi melupakan / mengabaikan kesucian dan keadilan Allah, yang menyebabkan Allah itu membenci dosa dan pasti menghukum orang yang berbuat dosa.

 

Bdk. Nahum 1:3a - “TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah.”.

 

Wujud hukuman dosa:

 

1) Penderitaan (Kej 3:6-8,16-19).

 

Kej 3:6-8,16-19 - “(6) Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya. (7) Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. (8) Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. ... (16) FirmanNya kepada perempuan itu: ‘Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.’ (17) Lalu firmanNya kepada manusia itu: ‘Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: (18) semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; (19) dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.’.

 

Ini bisa merupakan penderitaan fisik (kemiskinan, penyakit / rasa sakit, dsb) maupun penderitaan batin (gelisah, sumpek, takut, kuatir, problem keluarga, kematian keluarga / orang yang dicintai, kegagalan, dsb).

 

2) Neraka / hukuman kekal.

Ini merupakan hukuman yang paling harus ditekankan. Jadi pada waktu membicarakan point tentang hukuman dosa, jangan hanya bicara tentang penderitaan fisik, hati yang gelisah, dan sebagainya. Yang terutama harus ditekankan adalah hukuman neraka!

 

Ayat-ayat yang bisa digunakan adalah:

 

Ro 6:23a - “Sebab upah dosa ialah maut.

 

Katakan bahwa ‘maut’ bukan hanya menunjuk pada kematian jasmani, tetapi juga pada kematian kedua, seperti yang dibicarakan dalam Wah 21:8.

 

Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.

 

Bdk. Mat 25:46 - “Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.’”.

 

Ceritakan juga bahwa hukuman di neraka bukan hanya hebat, tetapi juga berlangsung selama-lamanya.

 

Luk 16:19-31 - “(19) ‘Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. (20) Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, (21) dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. (22) Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan (dada) Abraham. (23) Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. (24) Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. (25) Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. (26) Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. (27) Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, (28) sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. (29) Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu. (30) Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. (31) Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.’”.

 

Catatan: bagian yang saya garis-bawahi menunjukkan bahwa neraka merupakan tempat penderitaan yang hebat. Bagian yang saya cetak miring (ay 26) menunjukkan bahwa sekali seseorang masuk neraka, maka untuk selama-lamanya ia akan ada di neraka. Cerita ini juga menunjukkan bahwa sekalipun orang kaya itu kelihatannya menyesal, ia tetap tidak diampuni!

 

Wah 14:11 - “Maka asap api yang menyiksa mereka itu naik ke atas sampai selama-lamanya, dan siang malam mereka tidak henti-hentinya disiksa, yaitu mereka yang menyembah binatang serta patungnya itu, dan barangsiapa yang telah menerima tanda namanya.’”.

 

Wah 20:10 - “dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”.

 

Jangan sungkan menceritakan ini, seakan-akan saudara menakut-nakuti dia! Memang banyak orang beranggapan bahwa dalam memberitakan Injil, kita tidak boleh berbicara tentang neraka. Itu menakut-nakuti, tidak kasih, dan sebagainya. Tetapi saya menentang pandangan seperti itu dengan satu alasan sederhana ini: ayat-ayat tentang neraka dalam Kitab Suci, sebagian besar diucapkan / diajarkan oleh Yesus sendiri! Apakah Dia tidak / kurang kasih?

 

Illustrasi: seorang dokter yang setelah memeriksa pasiennya, dan mendapati bahwa pasiennya menderita kanker, lalu menceritakan bahaya dari penyakit itu kepada pasiennya. Apakah ini tidak kasih? Kasih bukan hanya mengatakan yang enak-enak saja. Mengatakan yang enak-enak saja justru seringkali sebetulnya bukan kasih!

 

III) Salib Kristus.

 

Kalau saudara sudah membicarakan tentang dosa dan hukumannya, maka mungkin itu akan membuat orang yang saudara injili itu menjadi takut.

 

Maka saudara bisa melanjutkan pembicaraan / penginjilan ke point selanjutnya. Kalimat yang bisa digunakan sebagai kalimat penghubung / transisi ke pembicaraan point selanjutnya adalah: “Jangan takut. Sekalipun saudara adalah orang yang sangat berdosa, dan seharusnya masuk neraka selama-lamanya, tetapi Allah itu kasih, dan Ia telah menyediakan jalan keluar, supaya saudara tidak perlu masuk neraka. Jalan itu adalah salib Kristus / Kristus yang tersalib.”.

 

1) Salib Kristus ada / terjadi, karena adanya kasih Allah.

 

Jadi, penekanan di sini adalah kasih Allah.

 

Kalau pada point II di atas penekanannya adalah pada keadilan Allah, maka pada point III ini penekanannya adalah kasih Allah.

 

Karena Allah adil maka Ia harus menghukum dosa (point II), tetapi karena Ia kasih, Ia ingin manusia terbebas dari hukuman itu. Karena itu Ia sendiri menjadi manusia (Yesus Kristus) dan mati di salib untuk menebus dosa umat manusia.

 

2) Penjelasan tentang kata / istilah ‘penebusan / menebus’.

 

Harus diingat bahwa kata ini merupakan suatu kata yang abstrak.

 

Orang Kristen saja banyak yang tidak mengertinya, apalagi orang kafir / non Kristen. Karena itu kata ini harus kita jelaskan.

 

Pada waktu menjelaskan tentang penebusan yang Kristus lakukan bagi kita melalui penderitaan dan kematianNya di kayu salib, harus kita jelaskan bahwa ‘menebus’ berarti bahwa Ia menggantikan kita dalam memikul hukuman dosa kita. Kita yang berdosa, dan seharusnya kita yang dihukum, tetapi Kristus telah menebus dosa kita, artinya, Kristus telah menerima hukuman kita itu untuk menggantikan kita.

 

Ini seperti seseorang yang berhutang, tetapi orang lain yang membayarnya.

 

Bahwa dosa digambarkan sebagai hutang ada dalam ayat-ayat ini: Mat 6:12  Mat 18:21-35  Luk 7:36-47.

 

Mat 6:12 - dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;.

KJV: And forgive us our debts, as we forgive our debtors.” [= Dan ampunilah hutang kami, seperti kami mengampuni orang yang berhutang kepada kami.].

 

Mat 18:21-35 - “(21) Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: ‘Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?’ (22) Yesus berkata kepadanya: ‘Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali. (23) Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. (24) Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. (25) Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. (26) Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. (27) Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. (28) Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! (29) Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. (30) Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. (31) Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. (32) Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. (33) Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? (34) Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. (35) Maka BapaKu yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.’.

 

Luk 7:36-47 - “(36) Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. (37) Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. (38) Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. (39) Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’ (40) Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ‘Katakanlah, Guru.’ (41) ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. (42) Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ (43) Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’ (44) Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi dia membasahi kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. (45) Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. (47) Engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak, tetapi dia meminyaki kakiKu dengan minyak wangi. (47) Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.’.

 

Karena adanya pemikulan / pembayaran hukuman dosa oleh Kristus ini maka kita yang berdosa bisa bebas dari hukuman dosa kita (Ro 8:1).

 

Ro 8:1 - Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus..

 

Sama seperti kalau seseorang telah membayar hutang kita, maka tentu si pemilik uang tidak bisa menagih kita lagi.

 

3) Pentingnya menggunakan illustrasi dalam bagian ini.

Illustrasi yang baik bisa membuat pelajaran ini dimengerti dengan makin jelas, dan membuatnya makin diingat oleh orang yang kita injili.

 

Ada banyak illustrasi dalam persoalan ini, dan saudara bisa mengumpulkan illustrasi-illustrasi dari khotbah-khotbah penginjilan yang saudara dengar. Di sini saya memberikan satu contoh saja.

 

Contoh illustrasi yang bisa kita gunakan:

 

Ada dua saudara kembar yang wajahnya persis, yang satu jadi hakim, yang lain jadi penjahat. Suatu hari penjahat itu membunuh dan tertangkap, lalu diadili oleh saudara kembarnya sendiri. Hakim mengadili dan setelah mengetahui bahwa saudara kembarnya memang bersalah, ia menjatuhkan hukuman mati, karena sebagai hakim ia harus adil. Tetapi karena ia mengasihi saudara kembarnya itu, maka pada malam sebelum hukuman mati itu dilaksanakan, hakim itu mendatangi saudaranya di penjara, dan mengajaknya untuk bertukar tempat. Besoknya sang hakim menjalani hukuman mati yang ia sendiri jatuhkan, sementara saudara kembarnya bebas.

 

Hakim itu seperti Allah sendiri. Ia melihat manusia berdosa, dan Ia harus adil, sehingga Ia harus menjatuhkan hukuman. Tetapi karena Ia mengasihi manusia berdosa itu, maka Ia lalu menjadi manusia dalam diri Tuhan Yesus Kristus, dan menerima hukuman yang Ia sendiri berikan, pada waktu Ia menderita dan mati di kayu salib. Ini menyebabkan orang-orang yang percaya kepada Kristus bebas dari hukuman.

 

4) Ayat-ayat yang bisa digunakan.

 

Yes 53:4-6 - “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.”.

 

Mat 26:28 - “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.”.

 

Mark 10:45 - “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.’”.

 

Ro 5:8 - “Akan tetapi Allah menunjukkan kasihNya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”.

 

Gal 3:13 - Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!’”.

 

1Pet 1:18-19 - “(18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, (19) melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.”.

 

1Pet 2:24-25 - “(24) Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuhNya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh. (25) Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.”.

 

Catatan: Banyak orang menerapkan kata ‘sembuh’ dalam 1Pet 2:24 ini secara salah pada kesembuhan jasmani. Sebetulnya kata ini menunjuk pada kesembuhan rohani, bukan kesembuhan jasmani. Ini terlihat dari kontextnya (baca ay 25nya).

 

Saudara tentu saja tidak perlu menggunakan semua ayat-ayat di atas. Saudara bisa memilih satu atau dua saja, lalu menghafalkannya, dan menggunakannya pada waktu saudara memberitakan Injil.

 

IV) Percaya / menerima Kristus sebagai Juruselamat.

 

Sebagai kalimat penghubung / transisi, kita bisa mengatakan: “Tidak cukup bagi saudara untuk hanya mendengar atau mengerti tentang Yesus, saudara harus juga percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara.”.

 

1) Ayat-ayat yang bisa digunakan.

 

Yoh 1:12 - “Tetapi semua orang yang menerimaNya diberiNya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam namaNya;”.

 

Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.

 

Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

 

Catatan: hati-hati dengan ayat ini. Ayat ini tidak berarti bahwa kalau satu orang percaya semua keluarganya ikut selamat. Juga tidak berarti bahwa semua keluarganya dijanjikan akan selamat. Ayat ini berarti: kamu harus percaya kepada Tuhan Yesus, dan kamu akan selamat. Seisi rumahmu juga harus percaya kepada Tuhan Yesus, dan mereka juga akan selamat.

 

Wah 3:20 - “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suaraKu dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.”.

 

Jangan terlalu membedakan antara ‘percaya kepada Yesus’, ‘datang kepada Yesus’, dan ‘menerima Yesus’. Istilah-istilah ini sebetulnya sama saja. ‘Membukakan pintu bagi Yesus’ atau ‘menerima Yesus’ sama dengan ‘percaya kepada Yesus’.

 

2) Apa / siapa yang harus dipercaya?

 

a)      Ia harus percaya ajaran Kitab Suci tentang Yesus.

Kitab Suci sering menggunakan istilah bahasa Yunani PISTEUO HOTI yang berarti ‘believe that’ [= percaya bahwa].

 

Contoh:

 

1.  Yoh 20:31 - “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya.”.

 

2.  Ro 10:9 - “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”.

 

3.  1Yoh 5:1 - “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari padaNya.”.

 

Sebetulnya ia harus percaya segala sesuatu yang dikatakan Kitab Suci tentang Tuhan Yesus, tetapi ada hal-hal yang harus ditonjolkan, yaitu:

 

1.  Ia harus percaya bahwa Yesus adalah Allah / Tuhan sendiri dalam arti yang setinggi-tingginya (Yoh 1:1  Yoh 20:28  Ro 9:5  Tit 2:13  Ibr 1:8).

 

Bagian yang saya garisbawahi dan warna merah itu perlu ditekankan mengingat adanya ajaran Saksi Yehuwa / Unitarian yang mengatakan bahwa:

 

a.  Yesus adalah allah kecil, lebih rendah dari Bapa / Yehuwa / Yahweh.

 

b.  Yesus bukan ‘Tuhan’, tetapi hanya ‘tuan’.

 

2.  Yesus telah menjadi manusia (Yoh 1:14).

 

Yoh 1:14 - Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepadaNya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran..

 

Ada 2 hal yang perlu dijelaskan:

 

a.  Ini Ia lakukan karena sebagai Allah Ia tidak bisa menderita ataupun mati. Tetapi setelah Ia menjadi manusia, maka Ia bisa menderita dan mati untuk dosa umat manusia. Tetapi setelah Ia menjadi manusia, tidak berarti bahwa Ia kehilangan keilahianNya! Setelah inkarnasi dan seterusnya Yesus adalah 100 % Allah dan 100 % manusia.

 

b.  Ia harus menjadi manusia, karena Ia ingin menebus manusia. Seandainya Ia ingin menebus malaikat, maka Ia harus menjadi malaikat.

 

Bdk. Ibr 2:14-17 - “(14) Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematianNya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; (15) dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut. (16) Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani. (17) Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudaraNya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.”.

 

3.  Yesus hidup suci.

 

2Kor 5:21 - Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuatNya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.”.

 

Ibr 4:15 - “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”.

 

1Pet 2:22 - Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutNya.

 

Ini merupakan sesuatu yang penting, karena tanpa kesucian ini Yesus tidak bisa memikul hukuman dosa kita, tetapi harus menderita dan mati untuk dosaNya sendiri.

 

4.  Yesus menderita dan disalibkan sampai mati untuk menebus semua dosa manusia.

 

Yeh 36:25 - “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu.”.

 

Kol 2:13 - “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita,”.

 

Tit 2:14 - “yang telah menyerahkan diriNya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diriNya suatu umat, kepunyaanNya sendiri, yang rajin berbuat baik.”.

 

1Yoh 1:7,9 - “(7) Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, AnakNya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. ... (9) Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”.

 

‘Semua dosa’ berarti mencakup dosa asal, dosa yang lalu, dosa sekarang, dan dosa yang akan datang terus sampai kita mati, tanpa kecuali!

 

Ini mencakup dosa besar maupun kecil, dosa aktif maupun dosa pasif, dosa sengaja / sadar maupun dosa yang tidak disengaja / disadari.

 

Bahwa penebusan Yesus mencakup semua dosa kita tanpa kecuali, perlu ditekankan, karena tanpa mengerti dan percaya hal ini, ia tidak akan pernah yakin akan keselamatannya.

 

Ada beberapa keberatan tentang ajaran ini:

 

a.  Ajaran ini akan menyebabkan orang itu nanti sengaja berbuat dosa.

 

Jawaban saya:

 

Semua ajaran yang benar bisa ditanggapi secara salah. Itu tidak berarti bahwa kita tidak boleh mengajarkan ajaran yang benar itu. Lebih-lebih, itu tidak berarti bahwa kita boleh mengubah ajaran yang benar itu.

 

Kita bisa memberikan ajaran tambahan, supaya orang yang kita injili itu tidak memberikan tanggapan yang salah.

 

Misalnya dengan mengatakan bahwa kalau kita terus sengaja berbuat dosa, maka Tuhan akan menghajar kita (Ibr 12:5b-11).

 

Ibr 12:5-11 - “(5) Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: ‘Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkanNya; (6) karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak.’ (7) Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? (8) Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. (9) Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? (10) Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusanNya. (11) Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya..

 

Tetapi kalau setelah kita memberitahunya seperti itu ia tetap memberikan tanggapan yang salah, itu adalah urusannya dengan Allah sendiri.

 

b.  Bagaimana mungkin Yesus bisa mati untuk dosa-dosa saya yang akan datang? Bukankah semua itu belum terjadi?

 

Jawaban saya:

 

Yesus mati sekitar 2000 tahun yang lalu, dan pada saat itu semua dosa saya, bahkan dosa-dosa yang lalu, belum terjadi. Kalau Ia bisa mati untuk dosa-dosa saya yang lalu, mengapa Ia tidak bisa mati untuk dosa-dosa saya yang akan datang? Semua sama-sama belum terjadi pada saat Yesus mati.

 

Sekalipun dosa-dosa itu belum terjadi pada saat Yesus mati, Allah yang maha tahu itu sudah mengetahui tentang semua dosa-dosa itu, dan sudah menimpakan hukuman dari semua dosa itu kepada diri Yesus.

 

5.  Penebusan Yesus juga berlaku surut, dalam arti Ia juga menebus orang-orang yang hidup dalam jaman Perjanjian Lama.

 

Ibr 9:15 - Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama..

 

6.  Yesus bangkit secara jasmani dari antara orang mati.

 

Ro 10:9 - “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”.

 

Ada sesuatu yang perlu ditekankan dalam hal ini. Kita harus percaya bahwa Yesus bangkit secara jasmani, bukan secara rohani.

 

Artinya, tubuh lamaNyalah yang dipersatukan kembali dengan roh / jiwaNya, sehingga Ia hidup kembali. Ini terbukti dari:

 

a.  Kubur yang kosong setelah kebangkitan Yesus.

 

b.  Setelah kebangkitanNya, Ia mengizinkan Tomas meraba bekas paku dan tombak di tangan dan tubuhNya (Yoh 20:27).

 

Yoh 20:27 - Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tanganKu, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambungKu dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’.

 

c.  Setelah kebangkitanNya, Ia menunjukkan kaki dan tanganNya kepada para muridNya, mengizinkan mereka merabaNya, dan Ia makan ikan di depan mereka. Ia juga secara explicit mengatakan bahwa Ia bukan hantu / roh.

 

Luk 24:36-43 - “(36) Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ (37) Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. (38) Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: ‘Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? (39) Lihatlah tanganKu dan kakiKu: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada padaKu.’ (40) Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya kepada mereka. (41) Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: ‘Adakah padamu makanan di sini?’ (42) Lalu mereka memberikan kepadaNya sepotong ikan goreng. (43) Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.”.

 

Catatan: kata ‘hantu’ salah terjemahan. Kata Yunaninya adalah PNEUMA, dan karena itu seharusnya diterjemahkan ‘roh’.

 

6.  Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6  Kis 4:12  1Yoh 5:11,12).

 

Ini sudah saya tekankan dalam pelajaran di depan, dan karena itu tidak saya ulangi lagi di sini.

 

b) Ia harus percaya kepada Yesus.

Kitab Suci sering menggunakan kata bahasa Yunani PISTEUO [= believe / percaya], yang diikuti dengan kata depan EN / EIS / EPI [= in / kepada].

 

Misalnya:

 

1.  Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.

 

2.  Yoh 3:36 - “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya.’”.

 

3.  Kis 10:43 - “Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya.’”.

 

4.  Kis 16:31 - “Jawab mereka: ‘Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.’”.

 

Jadi, jelas bahwa orang yang betul-betul beriman, tidak hanya percaya segala sesuatu tentang Yesus [point a)], tetapi juga harus percaya kepada Yesus [point b)]!

 

Untuk melihat perbedaan 2 hal ini, saya memberikan illustrasi sebagai berikut: saudara tahu dan percaya banyak hal tentang saya. Misalnya bahwa saya adalah seorang pendeta di GKRI Golgota, saya lahir pada tahun 1954, saya tinggal di Surabaya, dsb. Tetapi kalau suatu kali saya datang kepada saudara dan mau meminjam uang sebesar Rp 100 juta dari saudara tanpa bon / bukti apapun, apakah saudara mau meminjamkannya? Kalau ya, itu berarti saudara percaya kepada saya. Kalau tidak itu berarti saudara hanya percaya tentang saya.

 

Ilustrasi tentang orang yang menyeberangi air terjun Niagara.

 

3) Kita diselamatkan oleh / karena ‘iman saja’, bukan oleh / karena ‘perbuatan baik’ atau ‘iman dan perbuatan baik’.

 

Salah satu semboyan reformasi adalah SOLA FIDE, yang artinya ‘only faith’ [= hanya iman].

 

Ini merupakan sesuatu yang harus sangat ditekankan dalam memberitakan Injil! Kita harus menekankan bahwa perbuatan baik sama sekali tidak mempunyai andil untuk menyelamatkan kita / membawa kita ke surga.

 

Cynddylan Jones mengomentari Ef 2:8-9 sebagai berikut: “You might as well try to cross the Atlantic in a paper boat as to get to heaven by your own good works.” [= Kamu bisa mencoba menyeberangi Lautan Atlantik dalam sebuah perahu kertas sama seperti kamu mau ke surga dengan perbuatan-perbuatan baikmu sendiri.].

 

Martin Luther: “The most damnable and pernicious heresy that has ever plagued the mind of men was the idea that somehow he could make himself good enough to deserve to live with an all-holy God.” [= Ajaran sesat yang paling terkutuk dan jahat / merusak yang pernah menggoda pikiran manusia adalah gagasan bahwa entah bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri cukup baik sehingga layak untuk hidup dengan Allah yang mahasuci.] - Dr. D. James Kennedy, ‘Evangelism Explosion’, hal 31-32.

 

Archbishop William Temple mengucapkan kata-kata yang dikutip oleh John Stott sebagai berikut: “All is of God. The only thing of my very own which I contribute to my redemption is the sin from which I need to be redeemed.” [= Semua dari Allah. Satu-satunya hal dari diriku sendiri yang aku sumbangkan pada penebusanku adalah dosa dari mana aku perlu ditebus.] - ‘The Preacher’s Portrait’, hal 44-45.

 

a) Perbuatan baik tidak bisa menyelamatkan kita. Mengapa?

 

1.  Karena manusia di luar Kristus itu sama sekali tidak bisa berbuat baik.

Kita lahir sebagai orang yang berdosa, dan karena itu kita mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa. Ini bisa terlihat dari ayat-ayat di bawah ini:

 

a.  Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala (bukan ‘sebagian’ tetapi ‘segala’) kecenderungan hatinya selalu (bukan ‘kadang-kadang’ / ‘sering’ tetapi ‘selalu’) membuahkan kejahatan semata-mata,”.

 

b.  Kej 8:21b - “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya,”.

 

c.  Ro 6:20 - “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.”.

 

d.  Ro 8:7-8 - “(7) Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. (8) Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”. Bdk. Ibr 11:6.

 

e.  Tit 1:15 - “Bagi orang suci semuanya suci; tetapi bagi orang najis dan bagi orang tidak beriman suatupun tidak ada yang suci, karena baik akal maupun suara hati mereka najis.”.

 

Ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang dilakukan orang yang tidak beriman adalah dosa. Jadi, tindakan-tindakan yang kelihatannya baik sekalipun (seperti menolong orang miskin, dsb) tetap dianggap dosa. Mengapa?

 

(1)Karena tindakan itu tidak dilakukan berdasarkan kasih kepada Allah / Yesus.

 

Yoh 14:15 - “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.”.

 

(2)Karena tindakan itu tidak dilakukan untuk memuliakan Allah.

 

1Kor 10:31 - “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”.

 

Suatu ‘ketaatan / perbuatan baik’, yang dilakukan oleh orang yang tidak percaya kepada Yesus, dan dilakukan bukan karena hati yang mengasihi Tuhan, dan dilakukan bukan untuk kemuliaan Allah, pada dasarnya adalah ‘ketaatan / perbuatan baik’ yang dilakukan tanpa mempedulikan Allah. Sekarang pikirkan sendiri, bisakah perbuatan demikian disebut baik, dari sudut pandang Tuhan?

 

2.  Firman Tuhan memberikan gambaran yang menjijikkan tentang kehidupan manusia di hadapan Allah.

 

a.  Kesalehan manusia digambarkan seperti kain kotor.

 

Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor;”.

 

Perhatikan bahwa Yesaya bukan mengatakan ‘segala dosa kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia juga tidak mengatakan sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan segala kesalehan kami seperti kain kotor’.

Jadi, sebetulnya semua kesalehan orang percayapun seperti kain kotor di hadapan Allah!

 

b.  Dosa / kejahatan manusia digambarkan seperti cemar kain.

 

Sekarang, kalau ‘segala kesalehan’ kita digambarkan seperti ‘kain kotor’ di hadapan Allah, bagaimana dengan ‘dosa’ kita? Perhatikan ayat di bawah ini.

 

Yeh 36:17 - “‘Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan tingkah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapanKu.”.

 

Dosa / kejahatan kita digambarkan seperti ‘cemar kain’. Apakah ‘cemar kain’ itu? NIV menterjemahkannya: a woman’s monthly uncleanness’ [= kenajisan bulanan dari seorang perempuan].

 

Bandingkan juga dengan Im 15:20,24 - “(20) Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. ... (24) Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.”.

 

Untuk kata ‘cemar kain’ yang pertama (ay 20) NIV menterjemahkan her period’ [= masa datang bulannya], sedangkan untuk kata ‘cemar kain’ yang kedua (ay 24) NIV menterjemahkan ‘her monthly flow’ [= aliran bulanannya].

 

Jadi kelihatannya yang dimaksudkan dengan ‘cemar kain’ itu adalah cairan darah yang dikeluarkan seorang perempuan pada saat datang bulan.

 

Dengan demikian Kitab Suci menggambarkan segala kesalehan kita seperti kain kotor, dan menggambarkan dosa / kejahatan kita seperti cairan yang dikeluarkan oleh seorang perempuan pada saat mengalami datang bulan! Merupakan suatu kegilaan kalau kita berpikir bahwa dengan hal-hal menjijikkan itu kita bisa layak untuk masuk surga!

 

Siapapun yang menganggap dirinya suci atau lumayan baik, dan bisa mengusahakan kesucian / kekudusan dengan kekuatannya sendiri, apalagi bisa layak masuk surga dengan perbuatan baiknya sendiri, harus merenungkan bagian ini!

 

Keberatan: tetapi mengapa dalam Kitab Suci kadang-kadang diceritakan tentang orang yang saleh, tak bercacat, seperti Nuh, Ayub, Zakharia, dsb?

 

Kej 6:9 - Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah..

 

Ayub 1:1,8 - “(1) Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. ... (8) Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.’.

 

Ayub 2:3 - Firman TUHAN kepada Iblis: ‘Apakah engkau memperhatikan hambaKu Ayub? Sebab tiada seorangpun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Ia tetap tekun dalam kesalehannya, meskipun engkau telah membujuk Aku melawan dia untuk mencelakakannya tanpa alasan.’.

 

Luk 1:5-6 - (5) Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. (6) Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat..

 

Jawab: Itu harus diartikan hanya dalam perbandingan dengan orang-orang lain di sekitar mereka. Tetapi kalau kehidupan mereka dibandingkan dengan Firman Tuhan / Kitab Suci, maka jelas mereka tetap penuh dengan dosa.

 

3.  Seandainya ia bisa berbuat baik, perbuatan baik itu tidak bisa menghapuskan dosa.

 

Bahwa dosa tidak bisa ditebus dengan perbuatan baik, dinyatakan oleh Gal 2:16a,21b yang berbunyi: “(16a) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. ... (21b) sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”.

 

Illustrasi: Seseorang ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan 1 minggu setelahnya harus menghadap ke pengadilan. Dalam waktu satu minggu itu ia lalu banyak berbuat baik untuk menebus dosanya. Ia menolong tetangga, memberi uang kepada pengemis, dsb. Pada waktu persidangan, ia membawa semua orang kepada siapa ia sudah melakukan kebaikan itu sebagai saksi. Pada waktu hakim bertanya: ‘Benarkah saudara melanggar peraturan lalu lintas?’, ia lalu menjawab: ‘Benar pak hakim, tetapi saya sudah banyak berbuat baik untuk menebus dosa saya. Ini saksi-saksinya’. Sekarang pikirkan sendiri, kalau hakim itu waras, apakah hakim itu akan membebaskan orang itu? Jawabnya jelas adalah ‘tidak’! Jadi terlihat bahwa dalam hukum duniapun kebaikan tidak bisa menutup / menebus / menghapus dosa! Demikian juga dengan dalam hukum Tuhan / Kitab Suci!

 

 

-bersambung-


 

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin