Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 11 November 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
argumentasi & theologia
dalam
memberitakan Injil(5)
Fil 1:27 - “Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil,”.
Mat 5:14-16 - “(14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.’”.
Makin kita memberitakan Injil, makin hidup kita disorot oleh masyarakat. Kalau kita hidup dalam dosa, kita justru akan menjadi batu sandungan. Tetapi, kita juga tidak boleh menunggu sampai hidup kita suci dulu baru mau memberitakan Injil. Pemberitaan Injil dan usaha untuk hidup suci harus dilakukan bersama-sama.
Kadang-kadang pada waktu saudara memberitakan Injil, saudara diserang dosa-dosanya oleh orang yang sedang saudara injili itu.
Ini khususnya sering terjadi pada waktu kita memberitakan Injil kepada anggota keluarga kita sendiri, atau orang-orang yang dekat sekali dengan kita, yang mengenal diri / kehidupan kita dengan baik. Itu tidak perlu membuat saudara dengan malu berhenti memberitakan Injil kepadanya. Juga saudara tidak perlu membantah tuduhan-tuduhan itu, kalau tuduhan-tuduhan itu memang benar.
Saudara bisa tetap memberitakan Injil dengan menjawab sebagai berikut: “Aku memang adalah orang berdosa, tetapi aku mempunyai Juruselamat dosa yang sudah membayar semua hutang dosaku, dan karena itu aku pasti selamat / masuk surga. Tetapi bagaimana dengan kamu? Kamu juga adalah orang berdosa seperti aku, dan kalau kamu tidak mempunyai Juruselamat, maka kamu akan dihukum untuk dosa-dosamu di neraka selama-lamanya. Karena itu, percayalah kepada Tuhan Yesus, sebagai Tuhan dan Juruselamatmu!”.
1Kor 9:19-23 - “(19) Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. (20) Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. (21) Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. (22) Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. (23) Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.”.
===========================================================
Pertanyaan: apa bedanya hukum Taurat, hukum Allah dan hukum Kristus dalam 1Kor 9:21?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan yang sangat baik - dan memang ini salah satu bagian yang sering menimbulkan kebingungan teologis dalam 1 Korintus 9:21. Mari kita lihat dulu teksnya, lalu bahas perbedaan tiga istilah itu dengan cukup mendalam.
“Bagi mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat - sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus - supaya aku memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat.” (1Kor 9:21, TB-LAI)
Dalam Yunani:
τοῖς ἀνόμοις ὡς ἄνομος, μὴ ὢν ἄνομος
θεοῦ ἀλλ’ ἔννομος Χριστοῦ...
(“kepada orang yang tanpa hukum [Taurat] aku menjadi seperti tanpa hukum, bukan
tanpa hukum Allah, tetapi dalam hukum Kristus...”).
“Hukum Taurat” di sini berarti sistem hukum yang diberikan melalui Musa kepada bangsa Israel - seluruh peraturan Perjanjian Lama yang mencakup:
a) Hukum moral (10 perintah Allah),
b) Hukum seremonial (korban, ritual, makanan halal/haram, hari-hari raya),
c) Hukum sipil (aturan pemerintahan Israel sebagai teokrasi).
Jadi “di bawah hukum Taurat” berarti hidup di bawah sistem Perjanjian Lama - termasuk kewajiban upacara dan ketentuan legal yang mengatur seluruh aspek hidup umat Israel.
Paulus tidak lagi berada di bawah hukum Taurat dalam arti itu, sebab Kristus telah menggenapinya (Rm 10:4; Gal 3:24–25).
Ini merujuk kepada kehendak moral Allah yang bersifat universal dan kekal, yang mendasari hukum Taurat.
Dalam arti ini, “hukum Allah” ≈ hukum moral Allah - yakni prinsip-prinsip benar dan salah yang berasal dari natur Allah sendiri.
Karena itu, Paulus menegaskan bahwa meskipun ia tidak lagi di bawah sistem Taurat, ia tidak tanpa hukum Allah.
Ia tetap hidup di bawah tuntutan moral Allah yang bersumber dari karakterNya.
Bandingkan:
a) Ro 7:22 - “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah.”
b) Ro 8:7 - “Pikiran daging tidak takluk kepada hukum Allah.”
Hukum Allah ini tidak bisa dihapus oleh perubahan perjanjian, karena ia merefleksikan kekudusan Allah yang kekal.
Ini istilah khas Perjanjian Baru, yang menandai bahwa orang percaya sekarang hidup di bawah hukum moral yang sama, tetapi dalam bentuk yang digenapi dan diperbarui dalam Kristus.
“Hukum Kristus” tidak berarti hukum yang sepenuhnya baru, melainkan:
a) Hukum Allah yang kekal,
b) Ditafsirkan dan diwujudkan dalam pribadi dan ajaran Kristus,
c) Dan diterapkan dalam konteks kasih (Gal 6:2; Yoh 13:34).
Jadi, hukum Kristus adalah hukum Allah sebagaimana dinyatakan melalui Kristus - terutama hukum kasih:
“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Gal 6:2)
Kristus sendiri berkata:
“Hukum yang terutama ialah: kasihilah Tuhan Allahmu... dan kasihilah sesamamu...” (Mat 22:37–40)
“Aku memberikan perintah baru kepadamu...” (Yoh 13:34)
|
Istilah |
Makna Utama |
Cakupan |
Status bagi orang Kristen |
|
Hukum Taurat |
Sistem hukum Musa (moral, seremonial, sipil) |
Spesifik bagi Israel |
Digenapi dalam Kristus; tidak mengikat secara seremonial/sipil |
|
Hukum Allah |
Kehendak moral Allah yang kekal |
Universal |
Tetap berlaku; tidak bisa dihapus |
|
Hukum Kristus |
Hukum Allah yang dinyatakan dan digenapi dalam Kristus, terpusat pada kasih |
Universal bagi semua yang ada “di dalam Kristus” |
Berlaku bagi orang Kristen; motivasinya kasih dan karya Roh Kudus |
John Calvin menafsirkan 1Kor 9:21 demikian:
“Paulus menegaskan bahwa, meskipun ia telah dilepaskan dari hukum Taurat, ia bukanlah orang yang hidup tanpa aturan, sebab ia tetap tunduk kepada hukum Allah, yang kini dinyatakan melalui Kristus.” (Komentar Calvin atas 1 Korintus 9:21)
Charles Hodge menulis:
“The law of God is the moral law as founded in His nature; the law of Christ is that same law as enforced and illustrated by Christ.” (“Hukum Allah adalah hukum moral yang berakar dalam natur-Nya; hukum Kristus adalah hukum yang sama, tetapi dikuatkan dan dijelaskan oleh Kristus.”)
Louis Berkhof juga menyebut bahwa:
“Hukum moral Allah tetap berlaku, tetapi dalam dispensasi baru hukum itu tampil dalam bentuk hukum Kristus, di mana kasih menjadi penggenapannya.”
Singkatnya:
1. Hukum Taurat = sistem Musa (bayangan dan upacara).
2. Hukum Allah = prinsip moral yang kekal.
3. Hukum Kristus = hukum Allah yang sama, tetapi digenapi dan dipenuhi dalam kasih Kristus.
===========================================================
Kita harus menyesuaikan diri supaya lebih bisa diterima oleh orang-orang yang kita injili, tetapi kita tidak boleh menyesuaikan diri dalam hal-hal yang berdosa (1Kor 9:21b - perhatikan bagian yang saya cetak dengan huruf besar).
Contoh yang benar:
a) Pada waktu Hudson Taylor memberitakan Injil kepada orang-orang Tionghoa di China, ia menguncir rambutnya seperti orang-orang Tionghoa pada waktu itu.
b) Kalau kita menginjili orang Islam, kita ikut tidak makan babi.
Ini tidak berarti bahwa kita terus tidak boleh makan babi. Hanya kalau kita makan bersama orang itu, sebaiknya kita tidak makan babi, supaya tidak menimbulkan kejijikan orang itu terhadap diri kita. Bagaimana kita bisa memberitakan Injil kepada orang itu kalau dia merasa jijik terhadap kita?
c) Kalau saudara menginjili orang yang miskin, jangan datang kepadanya dengan memamerkan perhiasan saudara dsb. Sebaliknya, kalau saudara menginjili orang yang kaya, jangan datang kepadanya dengan memakai pakaian yang sudah sobek / jelek. Saudara memang tidak perlu memakai pakaian yang mewah / mahal, tetapi setidaknya saudara bisa memakai pakaian yang rapi / bagus.
Contoh yang salah:
1. Menginjili seorang pelacur dengan melacur dengan dia.
2. Menginjili seorang pengguna ecstasy / narkoba dengan cara ikut menggunakan ecstasy / narkoba.
Yak 3:1-12 - “(1) Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat. (2) Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. (3) Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. (4) Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi. (5) Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. (6) Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka. (7) Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat (hakekat) manusia / umat manusia, (8) tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. (9) Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, (10) dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. (11) Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama? (12) Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.”.
Jadi, jangan menggunakan lidah sebentar untuk memberitakan Injil, lalu sebentar lagi untuk dusta, fitnah, gossip, caci maki, kata-kata cabul / kotor, dsb.
Untuk itu kita harus mempunyai karunia untuk menjelaskan dan juga kita harus menggunakan bahasa yang sederhana. Jangan menggunakan:
a) Bahasa asing (apalagi Yunani / Ibrani) tanpa menterjemahkannya, kecuali saudara tahu orang itu memang mengertinya. Ingat bahwa tujuan saudara adalah memenangkan jiwanya untuk Tuhan, bukan memamerkan kepandaian saudara.
b) Istilah-istilah theologia atau istilah-istilah Kristen yang tidak dimengerti oleh orang dunia / orang beragama lain, tanpa menjelaskannya (misalnya: domba / kambing, hidup kekal, iman, selamat, mati kekal, bertobat / pertobatan dsb).
Perlu diingat bahwa istilah-istilah tertentu mempunyai arti berbeda dalam kekristenan dan dalam agama-agama lain.
Misalnya: kata ‘bertobat’ dalam agama-agama lain dianggap meninggalkan dosa, dan lalu hidup baik. Dalam kristen, sekalipun juga bisa mencakup arti itu, tetapi dalam kontex penginjilan lebih sering diartikan ‘datang / percaya kepada Kristus’.
Contoh: Kis 2:38 - “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.”.
Jelas bahwa Petrus tidak menggunakan kata ‘bertobat’ di sini sebagai ‘tindakan meninggalkan dosa’ tetapi sebagai ‘tindakan datang kepada Yesus dan percaya kepadaNya sebagai Juruselamat dosa’.
Contoh lain: kata ‘iman’. Juga kata ‘keselamatan’ dan sebagainya.
Kata ‘domba’, ‘kambing’ itu jelas bagi kita, tetapi belum tentu dimengerti oleh orang-orang non Kristen.
Sama seperti dalam menjala ikan, menjala manusia / memberitakan Injil juga membutuhkan sifat giat dan tekun / tidak mudah putus asa.
Ro 12:11 - “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”.
1Kor 15:58 -
“Karena itu,
saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan
giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!
Sebab kamu tahu, bahwa dalam (persekutuan dengan)
Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”.
Catatan: bagian yang saya coret itu seharusnya tidak ada.
Menyerah / putus asa bisa terjadi karena beberapa hal:
a) Kita memang mempunyai sifat mudah menyerah / putus asa.
Ini tentu saja harus dilawan dan didoakan, bukannya terus dituruti.
b) Kita merasa gagal dalam memberitakan Injil.
Atau tak ada yang bertobat, atau ada yang ‘bertobat’, tetapi lalu murtad lagi.
Ingat bahwa saudara diperintahkan untuk memberitakan Injil, bukan untuk mempertobatkan orang itu. Kalau saudara sudah memberitakan Injil, saudara sebetulnya sudah berhasil. Pertobatan orang itu merupakan pekerjaan Tuhan sendiri!
Bdk. 1Kor 3:6 - “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”.
c) Doktrin-doktrin tertentu, yang sekalipun benar, tetapi bisa diterapkan secara salah. Salah satu dari yang paling umum adalah doktrin tentang predestinasi.
Saya setuju dengan predestinasi (ganda); saya percaya bahwa sebelum dunia dijadikan, Allah sudah menetapkan orang-orang tertentu untuk diselamatkan, dan orang-orang lain untuk dibiarkan binasa (Ef 1:4,5,11 Ro 9:10-dst), dan rencana / ketetapan Allah ini pasti terjadi (Ayub 42:2 Kis 13:48).
Ef 1:4,5,11 - “(4) Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapanNya. (5) Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya, ... (11) Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan - kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendakNya -”.
Ro 9:10-24 -
“(10)
Tetapi bukan hanya itu saja. Lebih terang lagi ialah Ribka yang mengandung dari
satu orang, yaitu dari Ishak, bapa leluhur kita. (11)
Sebab waktu anak-anak itu belum dilahirkan dan belum
melakukan yang baik atau yang jahat, -
supaya rencana Allah tentang pemilihanNya diteguhkan, bukan berdasarkan
perbuatan, tetapi berdasarkan panggilanNya
(Dia
yang memanggil) - (12) dikatakan kepada Ribka: ‘Anak
yang tua akan menjadi hamba anak yang muda,’
(13) seperti ada tertulis: ‘Aku
mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.’
(14) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan?
Apakah Allah tidak adil?
Mustahil! (15) Sebab Ia berfirman kepada Musa: ‘Aku
akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku
akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati.’
(16) Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi
kepada kemurahan hati Allah. (17) Sebab Kitab Suci berkata kepada Firaun:
‘Itulah sebabnya Aku membangkitkan engkau, yaitu supaya Aku memperlihatkan
kuasaKu di dalam engkau, dan supaya namaKu dimasyhurkan di seluruh bumi.’ (18)
Jadi
Ia menaruh belas kasihan kepada siapa yang dikehendakiNya dan Ia menegarkan hati
siapa yang dikehendakiNya.
(19) Sekarang kamu akan berkata kepadaku: ‘Jika demikian, apa lagi yang masih
disalahkanNya? Sebab siapa yang menentang kehendakNya?’ (20) Siapakah kamu, hai
manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang
membentuknya: ‘Mengapakah engkau membentuk aku demikian?’ (21) Apakah tukang
periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari
gumpal yang sama
suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk
dipakai guna tujuan yang biasa (hina)? (22) Jadi, kalau untuk menunjukkan
murkaNya dan menyatakan kuasaNya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap
benda-benda kemurkaanNya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan
- (23) justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaanNya atas
benda-benda belas kasihanNya yang telah dipersiapkanNya untuk kemuliaan,
(24) yaitu kita, yang telah dipanggilNya bukan hanya dari antara orang Yahudi,
tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain,”.
Ayub 42:1-2 - “(1) Maka jawab Ayub kepada TUHAN: (2) ‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal.”.
Kis 13:48 -
“Mendengar
itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah
(orang non Yahudi) dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang
ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya.”.
Tetapi doktrin yang benar ini bisa membuat kita mudah menyerah dalam memberitakan Injil. Pada waktu kita memberitakan Injil dan orang yang kita injili itu menolak, kita lalu berpikir bahwa orang itu bukanlah orang yang Allah tentukan untuk selamat. Jadi, kita lalu merasa tidak ada gunanya terus memberitakan Injil kepadanya atau mendoakannya.
Ini merupakan penerapan yang salah dari doktrin yang benar ini!
Mengapa? Karena kita tidak tahu orang itu ditentukan selamat atau binasa, dan kita tidak punya hak untuk menebak-nebak hal itu. Kalaupun kita sudah memberitakan Injil 100 x kepadanya, dan ia belum bertobat, siapa tahu ia akan bertobat pada penginjilan ke 101? Jadi, sekalipun saudara mempercayai doktrin tentang predestinasi, tetaplah bertekun, baik dalam memberitakan Injil, maupun dalam mendoakan orang-orang yang saudara injili.
-o0o-
Pertama-tama kita perlu tahu bahwa tujuan Pemberitaan Injil adalah membawa orang kepada Kristus, bukan sekedar kepada gereja!
Ingat bahwa manusia diselamatkan kalau ia percaya kepada Yesus Kristus, dan bukan kalau ia sekedar pergi ke gereja, dibaptis, dsb!
Charles Haddon Spurgeon: “What is it to win a soul? This may be instructively answered by describing what it is not. We do not regard it to be soul-winning to steal members out of churches already established, ... we aim rather at bringing souls to Christ. ... we do not consider soul-winning to be accomplished by hurriedly inscribing more names upon our church-roll, ... we may do more harm than good at this point. To introduce unconverted persons to the church, is to weaken and degrade it, and therefore an apparent gain may be a real loss.” [= Apakah artinya memenangkan jiwa? Ini bisa dijawab secara mencerahkan dengan menggambarkan apakah yang tidak termasuk dalam memenangkan jiwa. Kami tidak menganggapnya sebagai memenangkan jiwa untuk mencuri anggota-anggota dari gereja-gereja yang sudah mapan, ... kami lebih bertujuan untuk membawa jiwa kepada Kristus. ... kami tidak menganggap bahwa pemenangan jiwa itu tercapai dengan cepat-cepat menuliskan lebih banyak nama dalam daftar gereja, ... kita bisa / mungkin lebih melakukan kerusakan dari pada kebaikan pada titik ini. Memasukkan orang-orang yang belum bertobat ke gereja, adalah melemahkan dan merusakkannya, dan karena itu sesuatu yang kelihatannya adalah keuntungan sebetulnya adalah suatu kerugian.] - ‘The Soul Winner’, hal 15,16,17.
Dengan memegang teguh tujuan pemberitaan Injil ini, kita mulai mempelajari cara memberitakan Injil.
Pemberitaan Injil biasanya dimulai dengan pembicaraan tentang hal-hal yang biasa, yang lalu dibelokkan menuju hal-hal yang bersifat rohani. Dan biasanya dalam pemberitaan Injil, kita membelokkan menuju pembicaraan tentang dosa, supaya bisa menyadarkan orang itu bahwa ia adalah orang berdosa, bahkan orang yang sangat berdosa.
Misalnya:
1) Pada waktu berbicara tentang kejahatan tertentu, seperti pemerkosaan / pembunuhan dan sebagainya, kita bisa berkata: “Orang-orang yang melakukan hal itu memang berdosa, tetapi bagaimana dengan kita / saudara sendiri? Apakah kita / saudara bukan orang yang juga sangat berdosa? Kita / saudara mungkin tidak membunuh / memperkosa, tetapi bagaimana dengan dosa-dosa lain?”.
2) Pada waktu berbicara tentang peperangan, bencana alam, atau hal-hal lain yang membuat manusia menderita, kita bisa berkata: “Dulu, pada waktu Allah pertama menciptakan segala sesuatu, tidak ada penderitaan. Tetapi sejak Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, penderitaan masuk ke dalam dunia (Kej 3). Tetapi mari kita tidak menyalahkan Adam dan Hawa saja. Bagaimana dengan diri kita sendiri? Tidakkah kita juga sangat banyak dosanya?”.
3) Pada waktu berbicara tentang orang-orang tertentu yang sangat menderita hidupnya, kita bisa mengatakan: “Penderitaan orang itu memang hebat, tetapi itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan penderitaan di dalam neraka. Dan semua manusia adalah orang berdosa yang seharusnya masuk neraka. Coba pikirkan apakah saudara / kamu adalah orang berdosa atau tidak?”.
4) Pada waktu orang yang akan kita injili itu menceritakan tentang hatinya yang sumpek, gelisah, tidak damai, dsb, kita juga bisa mengatakan bahwa itu disebabkan karena adanya dosa.
Bdk. Yes 48:22 - “‘Tidak ada damai sejahtera bagi orang-orang fasik!’ firman TUHAN”.
Catatan: dalam Kitab Suci kalau dikatakan ‘orang fasik’, tidak harus diartikan orang yang sangat berdosa. Seringkali seadanya orang yang belum / tidak beriman disebut sebagai ‘orang fasik’.
5) Pada waktu membicarakan tentang orang yang meninggal dunia, kita bisa mengatakan: “Sekarang giliran orang itu untuk menghadap Tuhan; akan ada saatnya dimana giliran kita tiba. Kalau giliranmu tiba malam ini, apakah kamu siap berhadapan dengan Allah sebagai Hakim (Ibr 9:27), mengingat kamu adalah orang yang berdosa?”.
Bdk. Ibr 9:27 - “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,”.
6) Pada waktu berbicara tentang hal-hal yang kelihatannya menunjukkan Allah itu tidak adil, seperti adanya orang saleh yang menderita dan orang jahat yang hidup enak, kita bisa mengatakan: “Allah itu adil, tetapi keadilanNya yang sepenuhnya baru akan dinyatakan nanti dalam pengadilan akhir zaman. Pada saat itu Ia akan menghakimi setiap orang berdosa, termasuk kamu dan aku. Kamu juga punya dosa, bukan?”.
7) Pada waktu berbicara tentang orang yang buta, kita bisa berkata: “Buta memang tidak enak, tetapi ada kebutaan yang lebih buruk dari buta secara jasmani, yaitu buta secara rohani. Yaitu orang yang sekalipun berdosa, tetapi tidak menyadari dosa-dosanya. Bagaimana dengan kamu?”.
8) Pada waktu berbicara tentang surga, kita bisa berkata: “Masuk surga itu enak, tetapi adanya dosa dalam diri kita bisa menghalangi kita untuk masuk surga. Apakah saudara termasuk orang berdosa atau tidak?”.
9) Pada waktu berbicara tentang doa, kita bisa berkata: “Doa memang sesuatu yang bagus, tetapi karena Allah itu maha suci, dosa bisa menghalangi doa kita sampai kepadaNya. Apakah kamu bukan orang yang berdosa?”.
10)Pada waktu berbicara tentang sukarnya mengerti Kitab Suci, saudara bisa berkata: “Mungkin sukarnya mengerti Kitab Suci itu disebabkan karena dosa-dosa kita membutakan kita. Bagaimana dengan kehidupan saudara, apakah banyak dosa?”.
11)Pada waktu berbicara tentang orang yang dianggap saleh / baik, saudara bisa berkata: “Dalam dunia ini tidak ada orang yang baik, semuanya berdosa. Orang yang dianggap baik oleh manusia bisa dianggap jahat oleh Tuhan, karena Tuhan punya standard yang berbeda. Kalau orang yang kelihatan baik saja bisa dianggap jahat oleh Tuhan, apalagi orang yang dianggap jahat oleh manusia. Kalau saudara sendiri bagaimana?”.
Dari banyak contoh ini saya harap saudara bisa menyadari bahwa sebetulnya hampir setiap pembicaraan bisa kita arahkan menuju pembicaraan rohani / pembicaraan tentang dosa.
Setelah melalui pembicaraan seperti di atas ini, kita masuk dalam pembicaraan tentang dosa.
1) Ingat bahwa tujuan kita di sini bukanlah untuk menghakimi dia.
Untuk menghindari timbulnya kesan bahwa kita menghakimi dia, maka perlu kita tunjukkan kepada dia bahwa kita juga adalah orang yang berdosa sama seperti dia.
2) Tujuan kita dalam bagian ini adalah menyadarkan orang yang kita injili itu bahwa dia adalah manusia yang berdosa. Kalau bisa, bahkan kita harus menyadarkan dia bahwa ia adalah orang yang sangat berdosa.
Jangan hanya membuatnya sadar bahwa manusia secara umum adalah orang berdosa. Ia harus sadar bahwa ia sendiri adalah manusia berdosa. Jadi, dalam memilih hukum-hukum yang menunjukkan dosa, pilihlah hukum-hukum yang memang bertentangan dengan kehidupannya (kalau saudara mengenal dia dan tahu tentang hidupnya).
Kesadaran akan dosa ini sangat penting, karena tanpa kesadaran akan dosa, ia tidak akan merasa butuh Yesus sebagai Juruselamat dosa. Sedangkan kesadaran bahwa ia adalah orang yang sangat berdosa merupakan sesuatu yang penting, karena tanpa hal ini, ia masih mungkin akan berusaha untuk masuk surga dengan kebaikannya sendiri.
3) Ayat-ayat yang bisa kita pakai untuk menyadarkannya bahwa ia adalah orang yang berdosa.
a) Untuk orang yang tidak mau menerima otoritas Kitab Suci kita.
Kalau saudara memberitakan Injil kepada orang yang menolak otoritas Kitab Suci kita, mungkin karena ia mempunyai agama lain dengan Kitab Sucinya sendiri, maka dalam penyadaran dosa ini mungkin lebih baik saudara tidak menggunakan hukum-hukum / larangan-larangan yang hanya ada dalam Kitab Suci Kristen, seperti jika ditampar pipi kanan harus memberikan yang kiri, harus mengasihi musuh, dsb.
Penggunaan hukum-hukum yang hanya ada dalam Kitab Suci Kristen itu sangat mungkin mendapatkan jawaban: “Itu kan ajaran Kitab Sucimu, bukan Kitab Suciku”.
Jadi, sebaiknya saudara menggunakan hukum-hukum yang diakui baik dalam Kristen maupun dalam agama orang yang saudara injili itu. Misalnya jangan berdusta, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan membenci / dendam, dsb.
Tetapi jangan menggunakan hukum-hukum yang hanya ada dalam Kitab Suci orang itu, tetapi tidak ada dalam Kitab Suci Kristen! Dalam memberitakan Injil, kita harus menggunakan Firman Tuhan, yang adalah pedang Roh, dan itu adalah Kitab Suci kita sendiri!
b) Untuk orang-orang dalam kalangan Kristen.
1. Ayat-ayat yang menunjukkan bahwa semua manusia adalah manusia berdosa (ini dosa secara umum):
a. Ro 3:10-12,23 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. ... (23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.”.
b. Pkh 7:20 - “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”.
2. Ayat-ayat yang bisa digunakan untuk menyadarkan dia dari dosa-dosa tertentu:
a. Kel 20:3-17 - 10 hukum Tuhan.
b. Mat 5:28 - “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.”.
c. Mat 5:44 - “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”.
Bacakan ayat-ayat ini dan tekankan satu hal ini: tidak ada orang yang tidak pernah melanggar hukum-hukum ini!
Catatan: saudara tidak selalu harus mengajak orang itu untuk membaca ayatnya dari Kitab Suci. Saudara bisa mengutipnya luar kepala. Tetapi untuk ini tentu diperlukan usaha menghafalkan ayat-ayat Kitab Suci.
4) Ayat-ayat yang bisa kita gunakan untuk menyadarkan dia bahwa ia adalah orang yang sangat berdosa:
a) Mat 22:37-39 - “(37) Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (38) Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. (39) Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”.
Semua orang selalu berdosa dengan melanggar kedua hukum ini, khususnya hukum yang pertama, karena tidak mungkin ada orang yang bisa mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi. Jadi, bisa dikatakan bahwa kita berbuat dosa setiap saat. Dan hanya dengan meninjau satu hukum ini saja, dosa kita sudah bukan main banyaknya. Apalagi kalau kita meninjau semua hukum yang ada dalam Kitab Suci.
Gal 3:10 - “Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat, berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: ‘Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum Taurat.’”.
b) Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor;”.
Perhatikan bahwa Yesaya adalah seorang nabi, tetapi ia mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia bukan mengatakan ‘segala dosa / kejahatan kami seperti kain kotor’. Ia juga bukan mengatakan ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’.
c) Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,”.
Perhatikan kata-kata yang saya garis-bawahi itu. Ayat ini mengatakan ‘segala (bukan sebagian) kecenderungan hatinya’, ‘selalu (bukan kadang-kadang / sering) membuahkan kejahatan’, dan seakan-akan itu masih belum cukup, lalu masih menambahkan kata ‘semata-mata’.
d) Ro 6:20 - “Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran.”.
Istilah ‘hamba dosa’ menunjuk kepada orang-orang yang belum dibebaskan dari dosa oleh Yesus Kristus. Jadi itu menunjuk kepada semua orang yang belum percaya kepada Yesus Kristus!
Kata-kata ‘bebas dari kebenaran’ menunjukkan bahwa orang itu sama sekali tidak bisa melakukan apapun yang betul-betul benar di hadapan Allah!
5) Kebijaksanaan dalam menekankan atau tidak menekankan point tentang dosa ini.
Saudara harus mau menggunakan banyak waktu (kalau memungkinkan) untuk menekankan point tentang dosa ini, khususnya kalau saudara menghadapi orang yang relatif baik hidupnya, atau yang kurang menyadari dosanya, atau yang merasa bisa masuk surga berdasarkan kebaikan / ketaatannya sendiri.
Sebaliknya, point tentang dosa ini mungkin tidak terlalu perlu ditekankan kalau saudara menghadapi seseorang yang sangat bejat, dan betul-betul sudah menyadari hal itu. Misalnya pada waktu saudara memberitakan Injil kepada seorang pelacur. Orang seperti ini biasanya sudah sangat sadar akan dosanya.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin