Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 14 Oktober 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
argumentasi & theologia
dalam
memberitakan Injil(2)
Kitab Suci berkata bahwa:
1) Semua manusia berdosa.
Ro 3:10-12,23 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. ... (23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”.
2) Karena itu, semua orang akan dihukum.
Ro 6:23 - “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”.
Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.
3) Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri dengan perbuatan baiknya / ketaatannya.
Gal 2:16,21 - “(16) Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorangpun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat. ... (21) Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”.
Ketaatan terhadap hukum Taurat sama dengan ketaatan terhadap Firman Tuhan, dan ayat di atas mengatakan bahwa hal itu tidak bisa membenarkan siapapun.
4) Kristus sudah mati menebus dosa kita sehingga dalam Kristus ada pengampunan / pembebasan dari hukuman Allah.
Yoh 3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”.
Kis 10:43 - “Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepadaNya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena namaNya.’”.
Kis 13:38-39 - “(38) Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa. (39) Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.”.
Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”.
5) Tetapi orang-orang yang belum pernah mendengar tentang Kristus tidak bisa percaya kepadaNya, dan karenanya tidak bisa diselamatkan.
Banyak orang Kristen yang yakin bahwa orang yang sudah mendengar Injil, tetapi tetap tidak percaya kepada Kristus, pasti masuk neraka. Tetapi banyak orang Kristen yang bingung dan bertanya-tanya tentang nasib dari orang-orang yang tidak pernah mendengar Injil sampai mati. Saya berpendapat bahwa orang yang tidak pernah mendengar tentang Yesus juga akan binasa / masuk neraka! Kalau orang yang tidak pernah mendengar Injil bisa masuk surga, maka untuk apa kita diperintahkan untuk memberitakan Injil? Bahwa kita diperintahkan untuk memberitakan Injil dan menjadikan semua bangsa murid Yesus, jelas menunjukkan bahwa orang yang tidak pernah mendengar Injil juga pasti tidak bisa selamat.
Pandangan ini didukung oleh beberapa bagian Kitab Suci yang lain seperti:
a) Ro 2:12a - “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat.”.
Dalam zaman Perjanjian Lama, orang di luar Israel / Yahudi yang tidak pernah mempunyai hukum Taurat, dikatakan ‘binasa tanpa hukum Taurat’. Artinya mereka tidak akan dihakimi berdasarkan hukum Taurat, tetapi mereka tetap binasa / masuk neraka, karena mereka tetap mempunyai dosa. Mungkin mereka dihakimi berdasarkan hati nurani mereka, dan tidak ada orang yang bisa hidup 100 % sesuai dengan hati nuraninya!
Analoginya, dalam zaman Perjanjian Baru, orang yang tidak pernah mendengar Injil, akan ‘binasa tanpa Injil’! Mereka memang tidak akan dihakimi berdasarkan Injil, tetapi mereka tetap mempunyai dosa, dan mereka harus dihukum karena itu.
b) Ro 10:13-14 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya?”.
Text ini membentuk suatu rantai. Orang yang berseru kepada nama Tuhan akan selamat, tetapi ia tidak akan bisa berseru kepada nama Tuhan kalau ia tidak percaya kepada Tuhan. Dan ia tidak akan bisa percaya kepada Tuhan kalau ia tidak pernah mendengar tentang Dia. Dan ia tidak akan bisa mendengar tentang Dia, kalau tidak ada yang memberitakan Injil kepadaNya.
Kalau kita membalik urutannya dari belakang, maka kita akan mendapatkan sebagai berikut: kalau tidak ada orang yang memberitakan Injil kepadanya, maka ia tidak bisa mendengar tentang Dia, sehingga tidak percaya kepadaNya, sehingga tidak bisa berseru kepadaNya, sehingga tidak bisa diselamatkan.
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang tidak diinjili / tidak pernah mendengar tentang Yesus, pasti tidak selamat. Fakta Kitab Suci inilah yang mendasari pengutusan misionaris ke tempat-tempat yang belum pernah dijangkau Injil.
c) Yeh 3:18 - “Kalau Aku berfirman kepada orang jahat: Engkau pasti dihukum mati! - dan engkau tidak memperingatkan dia atau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu dari hidupnya yang jahat, supaya ia tetap hidup, orang jahat itu akan mati dalam kesalahannya, tetapi Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya dari padamu.”.
Perhatikan bahwa ayat ini mengatakan bahwa orang jahat yang tidak diperingati / diinjili itu, akan mati dalam kesalahannya!
Jadi merupakan tugas kita untuk memberitakan Injil kepada mereka supaya mereka bisa mendengar Injil, lalu percaya dan diselamatkan dari murka Allah.
Jadi, Pemberitaan Injil sebetulnya merupakan tindakan kasih kita kepada orang yang belum diselamatkan. Ada banyak orang kristen yang melakukan tindakan kasih hanya dengan menolong secara jasmani. Memang orang yang ditolong akan senang karena ditolong secara jasmani, tetapi pada waktu mereka mati, mereka tetap harus pergi ke neraka selama-lamanya untuk membayar sendiri dosa-dosanya karena mereka tidak mempunyai Yesus sebagai Juruselamat / Penebus dosa. Apa gunanya tindakan kasih yang seperti itu? Tindakan kasih yang terbesar yang bisa saudara lakukan kepada orang yang belum percaya adalah Pemberitaan Injil! Tetapi anehnya, atau lucunya, Pemberitaan Injil sering membuat orang yang diinjili justru menjadi marah kepada kita. Di sini kita melihat secara jelas peranan dari setan dalam diri orang-orang itu.
Ada orang yang berkata bahwa untuk memenangkan jiwa seseorang kita tidak perlu memberitakan Injil kepadanya, tetapi cukup menunjukkan hidup yang saleh, penuh dengan kasih dsb. Terhadap pandangan seperti ini, yang merupakan pandangan dari banyak orang-orang Liberal, saya menjawab bahwa sekalipun hidup saleh itu penting, tetapi itu tidak bisa menggantikan Pemberitaan Injil! Text di bawah ini jelas menunjukkan bahwa tanpa firman / Injil tidak mungkin seseorang bisa percaya.
Ro 10:13-14,17 - “(13) Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. (14) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? ... (17) Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”.
Tetapi mungkin mereka bisa menjawab dengan 1Pet 3:1-2 yang berbunyi sebagai berikut: “(1) Demikian juga kamu, hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, supaya jika ada di antara mereka yang tidak taat kepada Firman, mereka juga tanpa perkataan dimenangkan oleh kelakuan isterinya, (2) jika mereka melihat, bagaimana murni dan salehnya hidup isteri mereka itu.”.
Apakah ayat ini berarti bahwa kita bisa memenangkan jiwa hanya dengan kesalehan, tanpa pemberitaan Injil? Calvin menjawab pertanyaan ini dengan komentarnya tentang 1Pet 3:1-2 itu yang berbunyi sebagai berikut: “But it may seem strange that Peter should say, that a husband might be gained to the Lord without a word; for why is it said, that ‘faith cometh by hearing?’ Rom. 10:17. To this I reply, that Peter’s words are not to be so understood as though a holy life alone could lead the unbelieving to Christ, but that it softens and pacifies their minds, so that they might have less dislike to religion; for as bad examples create offences, so good ones afford no small help. Then Peter shews that wives by a holy and pious life could do so much as to prepare their husbands, without speaking to them on religion, to embrace the faith of Christ.” [= Tetapi kelihatannya aneh bahwa Petrus berkata bahwa seorang suami bisa dimenangkan bagi Tuhan tanpa perkataan; karena mengapa dikatakan bahwa ‘iman timbul dari pendengaran?’ Ro 10:17. Terhadap pertanyaan ini saya menjawab bahwa kata-kata Petrus tidak boleh dimengerti seakan-akan suatu kehidupan yang kudus saja bisa membimbing orang yang tidak percaya kepada Kristus, tetapi bahwa itu melunakkan dan menenangkan pikiran mereka, sehingga mereka bisa berkurang dalam ketidak-senangannya terhadap agama; karena sebagaimana teladan yang jelek menciptakan batu sandungan, begitu juga teladan yang baik memberikan pertolongan yang tidak kecil. Maka Petrus menunjukkan bahwa istri-istri, oleh kehidupan yang kudus dan saleh, bisa melakukan begitu banyak untuk mempersiapkan suami-suami mereka, tanpa berbicara kepada mereka tentang agama, untuk memeluk iman Kristus.] - hal 95-96.
Jadi jelaslah bahwa Petrus hanya memaksudkan bahwa hidup saleh itu hanya bisa mempersiapkan seseorang untuk bisa menerima Kristus, tetapi selanjutnya masih perlu disertai dengan pemberitaan Injil supaya mereka bisa percaya.
Banyak orang berkata bahwa ada banyak jalan ke surga, dan Yesus hanya merupakan salah satu jalan ke surga. Seandainya hal ini benar, maka jelas bahwa kita tidak perlu memberitakan Injil.
Tetapi Kitab Suci tidak mengajar demikian. Kitab Suci menyatakan secara sangat jelas bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan (bukan salah satu jalan) ke surga. Perhatikan ayat-ayat ini:
1) Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”.
2) Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’”.
3) 1Yoh 5:11-12 - “(11) Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. (12) Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.”.
Karena itu, kita harus memberitakan Injil.
Catatan: karena pentingnya kepercayaan terhadap Kristus sebagai satu-satunya jalan ke surga, dalam persoalan keselamatan dan penginjilan, dan karena banyaknya serangan terhadap doktrin ini dari kalangan gereja-gereja yang liberal, maka hal ini akan saya bahas secara khusus dan lengkap dalam bab / pelajaran yang berikut.
Pendidikan (termasuk pendidikan sex), hukuman penjara, dsb, hanya bisa mengubah seseorang dari luar, dan bahkan seringkali sama sekali tidak mengubah manusia.
Misalnya:
1) Sekalipun pendidikan sex di Amerika sangat hebat, tetapi kebejatan moral / free sex makin menjadi-jadi.
2) Orang-orang yang keluar dari penjara sering kali justru menjadi lebih jahat, atau lebih lihai dalam kejahatan.
Tetapi Pemberitaan Injil, kalau itu diterima, akan menyebabkan seseorang berubah.
2Kor 5:17 - “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”.
Berbeda dengan perubahan yang dihasilkan oleh pendidikan, penjara dsb, perubahan yang terjadi karena seseorang menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya, akan mengubah orang itu dari dalam. Mengapa? Karena orang yang percaya kepada Kristus pasti menerima Roh Kudus, dan Roh Kudus di dalam diri orang itu akan menghasilkan buah Roh (Gal 5:22-23), yang akan menguduskan kehidupan orang itu.
Contoh:
a) Saulus / Paulus.
Gal 1:20-23 - “(20) Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta. (21) Kemudian aku pergi ke daerah-daerah Siria dan Kilikia. (22) Tetapi rupaku tetap tidak dikenal oleh jemaat-jemaat Kristus di Yudea. (23) Mereka hanya mendengar, bahwa ia yang dahulu menganiaya mereka, sekarang memberitakan iman, yang pernah hendak dibinasakannya.”.
b) Zakheus (Luk 19:1-10).
Luk 19:1-10 - “(1) Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu. (2) Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya. (3) Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek. (4) Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. (5) Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: ‘Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.’ (6) Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. (7) Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: ‘Ia menumpang di rumah orang berdosa.’ (8) Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ‘Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.’ (9) Kata Yesus kepadanya: ‘Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. (10) Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.’”.
=========================================================
Pertanyaan: apakah Zakheus korupsi seperti pemungut cukai pada umumnya?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan bagus - dan memang penting, karena banyak orang berasumsi bahwa semua pemungut cukai pada zaman Yesus adalah koruptor.
Latar belakang historis:
Pemungut cukai (telōnēs dalam Yunani) di bawah kekuasaan Romawi sering kali memungut pajak lebih dari seharusnya untuk memperkaya diri. Pemerintah Romawi hanya menuntut sejumlah tertentu, tetapi para pemungut cukai lokal (biasanya orang Yahudi yang bekerja untuk Roma) diberi keleluasaan memungut lebih banyak - selisihnya mereka kantongi sendiri. Karena itu, mereka terkenal sebagai penipu dan pengkhianat bangsa (bdk. Lukas 3:12–13; 19:8).
Tentang Zakheus (Luk 19:2–8):
Lukas menyebut Zakheus sebagai architelōnēs - kepala pemungut cukai, posisi tinggi yang biasanya memperoleh kekayaan dari sistem korup bawahannya. Tetapi teks tidak secara eksplisit mengatakan ia melakukan penipuan. Namun, pengakuannya sendiri menunjukkan bahwa ia memang pernah melakukan ketidakadilan:
“Sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk 19:8).
Ungkapan itu menunjukkan kesadaran dosa di bidang keuangan. Kata “sekiranya” (εἴ τι, ei ti) dalam bahasa Yunani tidak berarti ia belum pernah melakukannya, tetapi merupakan bentuk pengakuan umum (“jika saya pernah berbuat begitu - dan kemungkinan saya memang telah melakukannya…”). Dalam konteks pertobatan publik seperti ini, bentuk itu adalah ungkapan kerendahan hati dan pengakuan dosa yang implisit.
Kesimpulan:
1. Ya, Zakheus kemungkinan pernah melakukan korupsi atau penyelewengan, seperti kebanyakan pemungut cukai pada masa itu.
2. Tetapi Injil menyoroti bahwa ia bertobat sungguh-sungguh, rela mengganti empat kali lipat (lebih dari yang diwajibkan hukum Musa, Kel 22:1), dan membagi setengah hartanya kepada orang miskin.
3. Perubahan radikal ini menjadi bukti bahwa keselamatan telah datang ke rumahnya (Luk 19:9).
----------------------------------------------------------------------------------------------------
Pertanyaan: Bukankah Kel 22:1 memang mengharuskan denda 4x lipat (bahkan 5x lipat untuk pencurian lembu)? Mengapa kamu katakan ‘lebih dari yang diwajibkan oleh hukum Musa’?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaanmu sangat tajam - dan memang ini salah satu detail hukum yang sering disalahpahami ketika menafsirkan pertobatan Zakheus. Mari kita lihat dengan lebih teliti konteks hukum Musa yang relevan.
Beberapa ayat menetapkan denda berlipat untuk pencurian barang tertentu, khususnya ternak:
Keluaran 22:1
“Apabila seseorang mencuri seekor lembu atau seekor domba, lalu menyembelihnya atau menjualnya, maka ia harus membayar lima ekor lembu ganti seekor lembu, dan empat ekor domba ganti seekor domba.”
Jadi benar: untuk pencurian lembu = 5x,
pencurian domba = 4x.
Tetapi penting dicatat: itu terbatas pada kasus pencurian hewan
dan dengan syarat bahwa hewan itu sudah tidak bisa dikembalikan
(karena disembelih atau dijual).
Kalau pencurian lain atau barang masih bisa dikembalikan, hukum lain berlaku:
Keluaran 22:4
“Jika barang curian itu masih ada padanya dengan utuh, ia hanya harus membayar dua kali lipat.”
Jadi hukum dasar dalam Taurat:
a) Barang masih ada: ganti dua kali lipat.
b) Barang hilang/disembelih/dijual: bisa naik ke 4x atau 5x (hanya untuk ternak).
Zakheus bukan pencuri lembu atau domba,
melainkan pemungut pajak yang menipu - bentuk dosa yang tidak
diatur dengan tarif ganti rugi tertentu dalam Taurat.
Untuk penipuan atau pemerasan, hukum yang relevan adalah:
Imamat 6:4–5 (bdk. Bilangan 5:6–7)
“...ia harus mengembalikan barang yang dirampasnya itu, ... dan menambahkan seperlima (20%) daripadanya.”
Jadi denda hukum Musa untuk penipuan atau pemerasan hanyalah pengembalian pokok + 1/5 (20%), bukan 4x lipat.
Maka ketika Zakheus berkata bahwa ia akan mengembalikan empat kali lipat, ia melampaui jauh dari yang diwajibkan oleh hukum Musa bagi kasus seperti dirinya.
Itulah sebabnya para penafsir Reformed (misalnya Hendriksen dan Calvin) melihat pernyataan itu bukan sekadar mematuhi hukum, melainkan ekspresi pertobatan yang luar biasa:
a) Ia mengakui bahwa dirinya mungkin telah menipu.
b) Ia menetapkan ganti rugi empat kali lipat, sama seperti denda bagi pencuri berat - seolah berkata: “Saya memperlakukan diri saya seberat pencuri ternak.”
c) Dengan itu, ia menunjukkan pertobatan sejati yang melampaui keadilan formal menuju kasih dan kerelaan hati.
|
Jenis pelanggaran |
Hukum Musa |
Zakheus |
|
Penipuan / pemerasan |
Kembalikan + 20% (Im 6:5) |
400% (4x lipat) |
|
Pencurian lembu |
5x lipat |
— |
|
Pencurian domba |
4x lipat |
— |
Jadi, benar bahwa Keluaran 22:1 menetapkan 4x atau 5x, tetapi itu tidak berlaku untuk kasus Zakheus.
Itulah sebabnya kita dapat mengatakan Zakheus melampaui apa yang diwajibkan hukum Musa, menunjukkan perubahan hati yang nyata.
=========================================================
Ada rasa takut yang datang dari Tuhan (misalnya: takut berbuat dosa), tetapi ada juga rasa takut yang datang dari setan (misalnya: takut melayani, takut memberitakan Injil). Kalau kita menuruti rasa takut yang datang dari setan itu, berarti kita tunduk kepada setan. Dari pada ‘tidak memberitakan Injil’ karena menuruti rasa takut kepada setan, lebih baik kita merasa takut kalau kita tidak memberitakan Injil, karena Tuhan memerintahkan pemberitaan Injil! Tetapi tentu yang terbaik adalah memberitakan Injil, bukan karena takut kepada Tuhan, tetapi karena kasih kepada Tuhan dan sesama manusia. Kasih memang merupakan dasar ketaatan yang sejati.
Yoh 14:15 - “‘Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintahKu.”.
Perhatikan ayat-ayat di bawah ini:
Yoh 9:4 - “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.”.
2Tim 4:2-5 - “(2) Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. (3) Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. (4) Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. (5) Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”.
Saat inipun sudah banyak orang yang hanya senang mendengar khotbah yang penuh dengan lelucon, kesaksian, dongeng dsb. Pada hakekatnya mereka bukan menyenangi Firman Tuhan tetapi lelucon, kesaksian, dongeng, dsb. Jadi boleh dikatakan bahwa nubuat dalam 2Tim 4:2-5 itu sudah menjadi kenyataan pada saat ini. Tetapi bagaimanapun juga, sekarang masih ada orang-orang yang mau mendengar Injil / Firman Tuhan. Kita harus memanfaatkan kesempatan ini sebelum ‘malam’ tiba (Yoh 9:4).
Yoh 9:4 - “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.”.
Saat itu kita sudah sama sekali tidak bisa memberitakan Injil. Saat itu bisa terjadi pada saat Kristus datang kedua kalinya atau pada saat kita mati, atau menjelang akhir zaman dimana manusia menjadi begitu bejatnya sehingga sama sekali tidak mau mendengar Injil lagi.
Sebagai penutup bagian ini, mari kita membaca 3 buah ayat Kitab Suci:
1) Yer 20:9 - “Tetapi apabila aku berpikir: ‘Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi namaNya’, maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup.”.
2) Kis 4:20 - “Sebab tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.’”.
3) 1Kor 9:16 - “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”.
-o0o-
Ada pepatah yang mengatakan: ‘Ada banyak jalan menuju ke Roma’. Pepatah ini mungkin benar untuk banyak hal. Dan saya percaya bahwa pepatah ini berlaku untuk neraka. Memang, ada banyak jalan menuju ke neraka (Yakinkah saudara bahwa saudara tidak sedang berada pada jalan ke neraka ini?).
Tetapi betul-betul menyedihkan kalau ada orang yang mengaku sebagai orang kristen, apalagi mengaku sebagai hamba Tuhan, yang menerapkan pepatah ini untuk surga.
Dengan bermacam-macam alasan mereka mengatakan bahwa Yesus hanyalah salah satu jalan ke surga, dan orang yang tidak percaya kepada Yesuspun bisa masuk ke surga.
Alasan-alasan yang sering dipakai adalah:
1) Kita tidak boleh menghakimi, hanya Allah yang berhak menghakimi.
2) Kita tidak boleh menghina orang yang non kristen / beragama lain.
3) Kita harus bertoleransi terhadap agama lain.
4) Kita tidak maha tahu, jadi kita tidak tahu apakah orang yang tidak percaya kepada Yesus akan masuk ke neraka.
5) Mempercayai Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga adalah sikap egois, tidak kasih dan mau menangnya sendiri.
6) Orang yang beragama lain banyak yang hidupnya saleh, masakan semua harus masuk ke neraka?
Dasar Kitab Suci bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga:
1) Ayat-ayat Kitab Suci di bawah ini secara jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.
a) Yoh 14:6 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku’.”.
Ayat ini hanya mempunyai 3 kemungkinan:
1. Kitab Sucinya salah / ngawur. Yesus tidak pernah mengatakan pernyataan ini, tetapi Kitab Suci mencatat seolah-olah Yesus mengatakan pernyataan ini.
2. Kitab Sucinya betul; Yesus memang pernah mengucapkan pernyataan ini. Tetapi Yesusnya berdusta, karena Ia menyatakan diri sebagai satu-satunya jalan kepada Bapa padahal sebetulnya tidak demikian.
3. Kitab Sucinya betul, dan Yesusnya tidak berdusta, sehingga Ia memang adalah satu-satunya jalan kepada Bapa / ke surga.
Renungkan: yang mana dari 3 kemungkinan ini yang saudara terima? Kalau saudara menerima yang pertama atau yang kedua, sebaiknya saudara pindah agama saja, karena apa gunanya menjadi Kristen tetapi mempercayai bahwa Kitab Sucinya salah / ngawur, atau Tuhannya pendusta!
b) Kis 4:12 - “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.’”.
c) 1Yoh 5:11-12 - “(11) Dan inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya. (12) Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup; barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup.”.
d) 1Tim 2:5 - “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,”.
Hanya orang sesat yang tidak menghargai otoritas Kitab Suci dan yang ingin memutarbalikkan Kitab Suci yang bisa menafsirkan bahwa ayat-ayat ini tidak menunjukkan Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga.
Perhatikan bahwa Kis 4:12 itu menyatakan bahwa ‘keselamatan itu ada di dalam Yesus’, dan 1Yoh 5:11-12 menyatakan bahwa ‘hidup yang kekal itu ada di dalam Yesus’. Bayangkan Yesus sebagai sebuah kotak yang di dalamnya berisikan keselamatan / hidup kekal. Kalau seseorang menerima kotaknya (Yesus), maka ia menerima isinya (keselamatan / hidup yang kekal), dan sebaliknya kalau ia menolak kotaknya (Yesus), otomatis ia juga menolak isinya (keselamatan / hidup yang kekal).
Juga perhatikan bahwa berbeda dengan Yoh 14:6 yang diucapkan oleh Yesus kepada murid-muridNya (orang-orang yang percaya / kristen), maka Kis 4:12 diucapkan oleh Petrus kepada orang-orang Yahudi yang anti kristen! Jadi jelas bahwa ayat ini tidak mungkin dimaksudkan hanya bagi orang kristen!
2) Yoh 8:24 dan Wah 21:8 secara explicit menunjukkan bahwa orang yang tidak percaya kepada Yesus akan mati dalam dosanya / masuk neraka.
Yoh 8:24b - “Jikalau kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu;”.
Wah 21:8 - “Tetapi orang-orang penakut, orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, orang-orang pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah-penyembah berhala dan semua pendusta, mereka akan mendapat bagian mereka di dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang; inilah kematian yang kedua.’”.
Dalam kontex Kitab Suci, ‘orang yang tidak percaya’ artinya adalah ‘orang yang tidak percaya kepada Yesus’! Jadi, sekalipun mereka percaya kepada Allah, tetapi kalau mereka tidak percaya kepada Yesus (sebagai Tuhan dan Juruselamat), maka ayat itu mengatakan bahwa mereka akan masuk ke neraka!
3) Dalam Perjanjian Lama, Allah berulang kali hanya memberikan 1 jalan untuk bebas dari hukuman, yang adalah TYPE / gambaran dari Kristus.
Contoh:
a) Bahtera Nuh (Kej 6-8).
Pada zaman Nuh itu, kalau orang tidak mau masuk ke dalam bahtera, maka tidak ada jalan lain baginya melalui mana ia bisa selamat. Pada waktu banjir itu mulai meninggi, ia mungkin akan mencoba naik pohon, naik atap rumah, naik gunung yang tinggi, dsb, tetapi ia akan tetap mati, karena air bah itu merendam seluruh dunia bahkan gunung yang tertinggi sekalipun (bdk. Kej 7:19-20). Jadi jelas bahwa bahtera itu adalah satu-satunya jalan keselamatan.
b) Darah pada ambang pintu (Kel 12:3-7,12-13,21-23,25-30 1Kor 5:7).
Kel 12:3-7,12-13,21-23,25-30 - “(3) Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. (4) Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. (5) Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. (6) Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. (7) Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. ... (12) Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, TUHAN. (13) Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir. ... (21) Lalu Musa memanggil semua tua-tua Israel serta berkata kepada mereka: ‘Pergilah, ambillah kambing domba untuk kaummu dan sembelihlah anak domba Paskah. (22) Kemudian kamu harus mengambil seikat hisop dan mencelupkannya dalam darah yang ada dalam sebuah pasu, dan darah itu kamu harus sapukan pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu; seorangpun dari kamu tidak boleh keluar pintu rumahnya sampai pagi. (23) Dan TUHAN akan menjalani Mesir untuk menulahinya; apabila Ia melihat darah pada ambang atas dan pada kedua tiang pintu itu, maka TUHAN akan melewati pintu itu dan tidak membiarkan pemusnah masuk ke dalam rumahmu untuk menulahi. ... (25) Dan apabila kamu tiba di negeri yang akan diberikan TUHAN kepadamu, seperti yang difirmankanNya, maka kamu harus pelihara ibadah ini. (26) Dan apabila anak-anakmu berkata kepadamu: Apakah artinya ibadahmu ini? (27) maka haruslah kamu berkata: Itulah korban Paskah bagi TUHAN yang melewati rumah-rumah orang Israel di Mesir, ketika Ia menulahi orang Mesir, tetapi menyelamatkan rumah-rumah kita.’ Lalu berlututlah bangsa itu dan sujud menyembah. (28) Pergilah orang Israel, lalu berbuat demikian; seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa dan Harun, demikianlah diperbuat mereka. (29) Maka pada tengah malam TUHAN membunuh tiap-tiap anak sulung di tanah Mesir, dari anak sulung Firaun yang duduk di takhtanya sampai kepada anak sulung orang tawanan, yang ada dalam liang tutupan, beserta segala anak sulung hewan. (30) Lalu bangunlah Firaun pada malam itu, bersama semua pegawainya dan semua orang Mesir; dan kedengaranlah seruan yang hebat di Mesir, sebab tidak ada rumah yang tidak kematian.”.
Pada waktu Allah mau menghukum orang Mesir dengan membunuh semua anak sulung, Allah memberikan jalan melalui mana bangsa Israel bisa lolos dari hukuman itu. Caranya adalah menyapukan darah domba Paskah pada ambang pintu. Dan ini adalah satu-satunya jalan melalui mana mereka bisa lolos dari hukuman Allah itu.
Selanjutnya, 1Kor 5:7b berbunyi: “Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus”. Jadi, jelaslah bahwa anak domba Paskah yang darahnya merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat itu, merupakan TYPE / gambaran dari Kristus.
c) Ular tembaga (Bil 21:4-9 Yoh 3:14-15).
Bil 21:4-9 - “(4) Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. (5) Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.’ (6) Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. (7) Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: ‘Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkanNya ular-ular ini dari pada kami.’ Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. (8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ (9) Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.”.
Lagi-lagi dalam peristiwa ular tembaga, pada waktu Israel berdosa dan dihukum oleh Tuhan dengan ular berbisa, Tuhan memberikan hanya satu jalan keluar, yaitu dengan memandang kepada ular tembaga itu. Kalau mereka menolak jalan itu dan mencari jalan yang lain, apakah dengan berobat kepada tabib / dukun, atau dengan mengikat bagian yang digigit, atau dengan mencari obat lain manapun juga, mereka pasti mati. Hanya kalau mereka mau memandang kepada ular tembaga yang dibuat Musa barulah mereka bisa sembuh. Juga perlu diingat bahwa Tuhan tidak menyuruh Musa untuk membuat banyak patung ular tembaga, tetapi hanya satu patung ular tembaga!
Selanjutnya Yoh 3:14-15 berkata: “(14) Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, (15) supaya setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal.”.
Dari ayat ini terlihat bahwa ular tembaga dalam Bil 21 itu merupakan TYPE / gambaran dari Kristus. Sama seperti ular tembaga itu merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat itu, demikian juga Kristus merupakan satu-satunya jalan keselamatan pada saat ini.
4) Sikap kita kepada Yesus merupakan sikap kita terhadap Allah / Bapa.
Luk 10:16 - “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.’”.
Yoh 5:23 - “supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.”.
Yoh 15:23 - “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga BapaKu.”.
Karena itu, orang tidak bisa menyembah / mentaati / melayani Allah, tetapi pada saat yang sama menolak Yesus. Menolak Yesus berarti menolak Allah, dan tidak percaya kepada Yesus berarti tidak percaya kepada Allah. Melihat pada semua ini bisakah orang yang tidak percaya kepada Yesus masuk surga?
Illustrasi:
Kalau saudara datang ke rumah saya bersama dengan anak saudara, dan saya menerima saudara dengan baik dan hormat, tetapi memperlakukan anak saudara dengan jelek, bisakah saudara berkata: ‘Ah tidak apa-apa, yang penting ia menghormati saya’? Saya yakin tidak mungkin. Sikap saya yang jelek terhadap anak saudara, identik dengan sikap jelek terhadap saudara sendiri.
Demikian juga, kalau ada orang yang bersikap baik terhadap Allah (menyembah Allah, berbakti kepada Allah, dsb) tetapi bersikap jelek terhadap Yesus (menolak, tidak percaya, benci, menghina, dsb), maka Allah tidak akan menerima orang itu. Sikap seseorang terhadap Yesus, yang adalah Anak Allah, identik dengan sikap orang itu terhadap Allah sendiri!
5) Yesus adalah Allah sendiri.
Ini terlihat dari banyak ayat Kitab Suci seperti:
a) Yoh 1:1 - “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”.
Catatan: dari Yoh 1:14 saudara bisa melihat bahwa yang dimaksud dengan istilah ‘Firman’ di sini adalah Yesus!
b) Ro 9:5 - “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.
c) 1Yoh 5:20 - “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam AnakNya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal.”.
d) Yoh 5:18 -
“Sebab itu
orang-orang Yahudi lebih berusaha lagi untuk membunuhNya, bukan saja karena Ia
meniadakan (melanggar) hari Sabat, tetapi juga karena Ia mengatakan bahwa
Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian
menyamakan (menyetarakan) diriNya
dengan Allah.”.
Catatan: kata ‘menyamakan’ itu salah terjemahan; seharusnya adalah ‘menyetarakan’.
Kalau Yesus adalah Allah sendiri, maka jelas bahwa Ia adalah tuan rumah / pemilik Kerajaan Surga. Bagaimana mungkin orang yang tidak percaya kepadaNya, apalagi yang menentangNya, bisa masuk ke surga, yang adalah milikNya?
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin