(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 12 April 2009, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
Pengharapan
dalam Kristus
i Korintus 15:12-23
1Kor 15:12-23 - “(12) Jadi, bilamana
kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana
mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang
mati? (13) Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak
dibangkitkan. (14) Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka
sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. (15) Lebih
dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami
katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus - padahal Ia tidak
membangkitkanNya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan.
(16) Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak
dibangkitkan. (17) Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. (18) Demikianlah binasa
juga orang-orang yang mati dalam Kristus. (19) Jikalau kita hanya dalam hidup
ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang
paling malang dari segala manusia. (20) Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus
telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari
orang-orang yang telah meninggal. (21) Sebab sama seperti maut datang karena
satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu
orang manusia. (22) Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan
dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam
persekutuan dengan Kristus. (23) Tetapi tiap-tiap orang menurut urutannya:
Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada
waktu kedatanganNya”.
Dalam acara tanya jawab saya paling tidak senang
mendapat pertanyaan yang diawali dengan kata ‘andaikata’. Misalnya:
·
andaikata
malaikat tidak jatuh, bagaimana keadaan dunia ini?
·
andaikata
Adam dan Hawa tidak jatuh ke dalam dosa, kita hidup di mana?
·
andaikata
tak terjadi peristiwa menara Babil (Kej 11), kita bicara bahasa apa?
Mengapa saya tidak senang dengan pertanyaan seperti
itu? Karena biasanya pertanyaan menggunakan kata ‘andaikata’ itu adalah
pertanyaan yang tidak bisa dijawab.
Tetapi hari ini saya justru akan membahas 2
pertanyaan dengan menggunakan kata ‘andaikata’.
1)
Andaikata Jum’at Agung tidak ada, atau andaikata Kristus tidak mati di
salib untuk menebus dosa kita, apa yang terjadi?
a)
Tidak ada kekristenan.
Kristen
adalah satu-satunya agama yang mengandalkan penebusan Kristus, bukan usaha /
perbuatan baik manusia. Karena itu kalau penebusan Kristus tidak ada,
kekristenan pasti juga tidak ada.
b)
Banyak ayat-ayat Kitab Suci yang hilang.
Misalnya
Yoh 3:16 1Pet 1:18-19 dan
sebagainya.
Yoh
3:16 - “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya
tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
1Pet
1:18-19 - “(18) Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu
yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang
fana, bukan pula dengan perak atau emas, (19) melainkan dengan darah yang mahal,
yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak
bercacat”.
c)
Ada juga ayat-ayat Kitab Suci yang hilang sebagian.
Misalnya:
Ro 6:23 yang berbunyi: “Sebab upah dosa
ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus,
Tuhan kita”.
Bagian
akhirnya hilang, tetapi bagian awalnya (‘Sebab upah dosa ialah maut’) tetap
ada.
d)
Semua manusia tetap ada dalam dosa dan harus binasa dalam dosa.
1.
Mungkin manusia akan berusaha menyelamatkan dirinya dengan berbuat baik,
tetapi Yes 64:6 yang berbunyi ‘segala kesalehan kita seperti kain kotor’, tetap berlaku.
2.
Mungkin manusia akan berusaha mentaati Firman Tuhan / hukum Taurat,
tetapi Gal 2:16a yang berbunyi ‘tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum
Taurat’, tetap berlaku.
3.
Mungkin manusia akan menganut Yudaisme, dan lalu mempersembahkan binatang
/ korban sembelihan dan sebagainya Tetapi Ibr 10:4, yang berbunyi “tidak
mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapus dosa”, tetap
berlaku.
Jadi,
apa kesimpulannya? Andaikata Kristus tidak mati di salib, maka tidak ada harapan
bagi seluruh umat manusia. Semua manusia mulai Adam sampai kiamat, termasuk
saudara dan saya, akan masuk ke neraka selama-lamanya.
Kristus
memang mati untuk menyediakan satu-satunya jalan ke surga, sehingga kalau Ia
tidak mati, tidak ada jalan ke surga. Kalau ini saudara anggap extrim / fanatik
dsb, saya ingin saudara renungkan: andaikata memang ada banyak jalan ke surga
(melalui agama-agama lain), untuk apa gerangan Ia tetap datang dan mati?
Bukankah itu suatu kekonyolan?
Bdk.
Gal 2:21b - “Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka
sia-sialah kematian Kristus”.
2)
Andaikata ada Jum’at Agung, tetapi tidak ada Paskah, apa yang terjadi?
Atau dengan kata lain, andaikata Kristus memang mati di salib tetapi tidak
bangkit dari antara orang mati, apa yang terjadi? Kalau Kristus mati tetapi
tidak bangkit, itu berarti:
a)
Ia kalah oleh maut / setan.
b)
Hutang dosa tidak terbayar lunas karena maut = upah dosa. Bahwa Ia tetap
ada dalam maut, berarti Ia belum melunasi hutang dosa kita.
c)
1Kor 15:14,17,18: Paulus berkata sebagai berikut.
1Kor 15:14,17,18
- “(14) Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. ... (17) Dan jika Kristus
tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam
dosamu. (18) Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus”.
Jadi,
kalau Kristus mati tetapi tidak bangkit, maka
1. Pemberitaan kami sia-sia (ay 14).
2. Kepercayaan / imanmu juga sia-sia (ay
14,17).
3. Kamu masih hidup dalam dosamu (ay 17b).
4. Orang yang mati dalam Kristus tetap
binasa (ay 18).
Kesimpulannya:
kalau Kristus mati tetapi tidak bangkit, juga tidak ada pengharapan apapun bagi
manusia.
Puji
Tuhan, semua tadi hanyalah ‘andaikata’. Kenyataan / faktanya adalah bahwa
Kristus telah mati di salib untuk dosa-dosa kita dan bangkit pada hari yang ke
3! Kita akan pelajari kedua fakta terpenting dalam kekristenan ini.
1) Kristus telah menderita dan mati di salib untuk menebus
dosa-dosa kita.
Darah
binatang tidak bisa menebus dosa kita (Ibr 10:4).
Manusia
tidak bisa menebus dirinya sendiri (Gal 2:16).
Illustrasi:
Seseorang ditangkap polisi karena melanggar peraturan lalu lintas dan 1 minggu
setelahnya harus menghadap ke pengadilan. Dalam waktu satu minggu itu ia lalu
banyak berbuat baik untuk menebus dosanya. Ia menolong tetangga, memberi uang
kepada pengemis, dsb. Pada waktu persidangan, ia membawa semua orang kepada
siapa ia sudah melakukan kebaikan itu sebagai saksi. Pada waktu hakim bertanya:
‘Benarkah saudara melanggar peraturan lalu lintas?’, ia lalu menjawab:
‘Benar pak hakim, tetapi saya sudah banyak berbuat baik untuk menebus dosa
saya. Ini saksi-saksinya’. Sekarang pikirkan sendiri, kalau hakim itu waras,
apakah hakim itu akan membebaskan orang itu? Jawabnya jelas adalah ‘tidak’!
Jadi terlihat bahwa dalam hukum duniapun kebaikan tidak bisa menutup / menebus /
menghapus dosa! Demikian juga dengan dalam hukum Tuhan / Kitab Suci!
Karena
itulah maka Yesus mau menjadi manusia, menderita dan mati di salib sebagai pengganti (= substitute)
kita. Ada yang mengatakan bahwa Yesus menjadi manusia, menderita dan mati karena
Ia ingin solider dengan kita. Ini
ajaran sesat! Kalau cuma solider, berarti Dia menderita, tetapi kita juga.
Tetapi kalau Ia menjadi pengganti kita, maka kita bebas dari hukuman. Bdk. Ro 8:1
berbunyi: “Demikianlah sekarang tidak
ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus”.
Apa
dasarnya untuk mengatakan bahwa Ia menjadi pengganti kita?
Yes 53:4-6
- “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit
kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita
mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh
karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran
yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6) Kita sekalian sesat seperti domba,
masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan
kepadanya kejahatan kita sekalian”.
2Kor 5:15
- “Dan Kristus telah mati untuk
semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri,
tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka”.
Kedua kata ‘untuk’ bahasa Yunaninya adalah HUPER yang berarti ‘instead
of’.
Jadi,
fakta mengatakan bahwa Kristus sudah menderita dan mati di salib untuk menebus
dosa kita. Karena itu maka sekarang ada pengharapan bagi kita.
2) Kristus telah bangkit dari antara orang mati.
Ay 20-21:
“(20) Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara
orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. (21)
Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga
kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia”.
a) Apakah
ini merupakan sesuatu yang tidak masuk akal?
1.
Ini masuk akal, kalau saudara memasukkan kemahakuasaan Allah ke dalam
akal saudara! Bdk. Kis 26:8 - “Mengapa kamu menganggap mustahil, bahwa Allah membangkitkan orang mati?”.
2.
Kelahiran (dari tidak ada menjadi ada) sebetulnya lebih tidak masuk akal
dari kebangkitan (dari ada menjadi ada lagi). Tetapi semua saudara percaya
kelahiran, bukan? Mengapa tidak bisa percaya kebangkitan?
b) Kebangkitan
Kristus dari antara orang mati menunjukkan:
1. Musuh (Iblis dan maut) sudah dikalahkan
(Kej 3:15 1Kor 15:57).
Karena
itu orang kristen tidak boleh takut kepada:
a.
Setan. Sharing tentang lilinnya Joko dan suara Kris.
b.
Kematian. Bagi orang kristen kematian bukan lagi hukuman dosa, tetapi
merupakan pintu gerbang menuju surga.
2.
Hutang dosa telah dibayar lunas dan pembayarannya telah diterima oleh
Allah.
a. Yesus membayar hutang dosa kepada Allah, bukan kepada setan!
Ini
perlu ditekankan karena adanya ajaran yang mengatakan bahwa pada waktu manusia
jatuh ke dalam dosa, manusia menjadi milik setan. Karena itu Yesus mati untuk
membayar kepada setan supaya bisa mendapatkan manusia kembali.
Ini
adalah ajaran yang salah / sesat, karena pada waktu manusia berbuat dosa,
manusia berbuat dosa kepada Allah, bukan kepada setan. Karena itu pembayaran
hutang dosa jelas harus ditujukan kepada Allah. Setan sama sekali tidak berhak
menerima pembayaran hutang dosa itu!
b.
Kalau pembayaran itu tidak diterima oleh Allah, atau kalau hutang dosa
itu belum lunas, maka Yesus harus tetap ada di dalam kematian yang merupakan
upah dosa (Ro 6:23). Bahwa Ia bisa bangkit, menunjukkan bahwa pembayaran
hutang itu telah diterima oleh Allah, dan hutang dosa manusia (elect
/ orang pilihan) sudah betul-betul lunas. Karena itu, fakta bahwa Yesus sudah
bangkit dari antara orang mati menjamin keselamatan kita!
Jadi
2 fakta ini yaitu Jum'at Agung dan Paskah memberikan / menyediakan pengharapan
kepada kita manusia.
Pada
waktu Adam jatuh ke dalam dosa dalam Kej 3, rasanya sudah tidak ada harapan.
Mereka mati secara rohani, dan akan mati secara jasmani. Tetapi pada saat itu
Tuhan berkata kepada setan / ular: “Aku
akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu
dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan
meremukkan tumitnya” (Kej 3:15).
Sekalipun
kata-kata ini diucapkan kepada setan / ular, tetapi kata-kata ini memberikan
suatu janji dan pengharapan kepada manusia. Janji itu digenapi oleh kematian dan
kebangkitan Kristus.
Pada
kematianNya, Iblis meremukkan tumitNya; sedangkan pada kebangkitanNya, Yesus
meremukkan kepala setan. Kalau 2 orang berkelahi, yang satu remuk tumitnya
sedangkan yang satunya remuk kepalanya, jelas bahwa yang remuk tumitnya yang
menang!
Sebetulnya
dalam arti tertentu kematian Yesuspun menunjukkan kemenangan. Ia bisa mengatasi
rasa takut di Taman Getsemani (Mat 26:36-46), Ia bisa bertahan terhadap
ejekan (Mat 27:39-44), dan sebagainya. Tetapi bagaimanapun salib dan
kematian juga kelihatan sebagai kekalahan. Tetapi kebangkitan secara mutlak
menunjukkan kemenangan Kristus!
Melalui
kematian dan kebangkitan Kristus inilah ada pengharapan bagi kita. Karena itu
dalam 1Tim 1:1 dikatakan bahwa Kristus Yesus adalah pengharapan kita.
1Tim
1:1 - “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat
kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita”.
KJV: ‘which is our hope’ (= yang adalah pengharapan kita).
Bdk.
Ef 2:11-12 - “(11) Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu - sebagai
orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat
oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang
dikerjakan oleh tangan manusia, - (12) bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus,
tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam
ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah
di dalam dunia”.
Pengharapan
sudah tersedia, tetapi belum menjadi milik kita. Kalau kita sekedar menjadi
orang kristen KTP, pengikut gereja / pendeta / aliran, tetapi tidak percaya dan
mengikut Kristus, maka kita tetap tidak mempunyai pengharapan apapun.
Kalau
saudara ingin mendapatkan pengharapan tersebut, datanglah dan percayalah kepada
Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara.
1Kor 15:21-22 - “(21) Sebab
sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan
orang mati datang karena satu orang manusia. (22) Karena sama seperti semua
orang mati dalam persekutuan dengan
Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan
dengan Kristus”.
Saudara
mungkin sudah rajin ke gereja, sudah dibaptis, sudah melayani dan bahkan
mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja, sudah memberi persembahan banyak ke
gereja, sudah banyak kali merayakan Jum’at Agung dan Paskah. Tetapi semua itu
tidak menyelamatkan saudara. Sudahkah saudara percaya kepada Yesus?
Yoh 3:16 - “Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal”.
-AMIN-
Bagi sdr yg telah
mendapat berkat dari artikel ini..mohon kiranya dapat membantu menyebarkan Pada
sdr2 kita yg lain, sehingga semakin banyak sdr kita yg juga bisa membaca artikel
ini dan mendapat berkat. Tuhan memberkati sdr.
Amin.
Joh 21:17
Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya:
"Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka
sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah
engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu
segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata
Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali