oleh :
Pdt. Budi Asali M.Div.
1)
Orang-orang Yahudi tidak mengenali Yesus, dan mereka menjatuhkan hukuman mati
atas Dia.
Ay 27: “Sebab
penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus. Dengan
menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang
dibacakan setiap hari Sabat”.
a)
Orang-orang Yahudi tidak mengenali Yesus.
Ay 27a: “Sebab
penduduk Yerusalem dan pemimpin-pemimpinnya tidak mengakui Yesus”.
Kata
‘mengakui’ ini menurut saya salah terjemahan.
KJV: ‘knew’
(= mengenali).
RSV/NASB: ‘recognize’
(= mengenali).
NIV: ‘recognizing’
(= mengenali).
A. T. Robertson
mengatakan bahwa kata Yunani yang diterjemahkan ‘tidak mengenali’
adalah AGNOESANTES, yang berasal dari kata Yunani AGNOEO, yang berarti ‘not
to know’ (= tidak mengenal).
A. T.
Robertson: “Peter gives
‘ignorance’ agnoia as the
excuse of the Jews in the death of Christ (Acts 3:17) and Paul does the same
about his conduct before his conversion (1 Tim. 1:13). This ignorance mitigated
the degree of their guilt, but it did not remove it, for it was willing
ignorance and prejudice” [= Petrus memberikan ‘ketidak-tahuan’,
AGNOIA, sebagai alasan dari orang-orang Yahudi dalam kematian Kristus (Kis 3:17)
dan Paulus melakukan hal yang sama tentang tingkah
lakunya sebelum pertobatannya (1Tim 1:13). Ketidak-tahuan
ini mengurangi tingkat kesalahan mereka, tetapi itu tidak menghilangkannya,
karena itu adalah ketidak-tahuan dan prasangka yang disengaja].
Kis 3:17
- “Hai saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena
ketidaktahuan, sama seperti semua pemimpin kamu”.
1Tim
1:13 - “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan
seorang ganas, tetapi aku telah dikasihaniNya, karena semuanya itu telah
kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman”.
1Kor 2:8
- “Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau
sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia”.
Tetapi
bagaimana mungkin mereka tidak mengenali Yesus?
Bukankah kedatangan Yesus didahului dan dipersiapkan oleh
Yohanes Pembaptis, yang mereka akui sebagai nabi?
Ay 24-25: “Menjelang
kedatanganNya Yohanes telah menyerukan kepada seluruh bangsa Israel supaya
mereka bertobat dan memberi diri dibaptis. (25) Dan ketika Yohanes hampir
selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah
Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut
dari kakiNyapun aku tidak layak.”.
Jawabannya
sederhana. Karena mereka
tidak peduli pada Firman Tuhan yang diberikan oleh Yohanes Pembaptis (padahal
mereka mengakui Yohanes Pembaptis sebagai nabi).
b)
Dengan menjatuhkan hukuman mati atas Yesus mereka menggenapi Firman Tuhan.
Ay 27b: “Dengan
menjatuhkan hukuman mati atas Dia, mereka menggenapi perkataan nabi-nabi yang
dibacakan setiap hari Sabat”.
Walaupun
mereka mendengar Firman Tuhan, dan Firman Tuhan itu berbicara tentang
penderitaan dan kematian Mesias, tapi mereka tidak mengertinya.
Contoh ayat
Perjanjian Lama yang berbicara tentang hal itu adalah
Dan 9:26 - “Sesudah keenam puluh dua kali tujuh masa itu akan
disingkirkan seorang yang telah diurapi,
padahal tidak ada salahnya apa-apa. Maka datanglah rakyat seorang raja
memusnahkan kota dan tempat kudus itu, tetapi raja itu akan
menemui ajalnya dalam air bah; dan sampai pada akhir zaman akan ada
peperangan dan pemusnahan, seperti yang telah ditetapkan”.
Kata-kata ‘seorang
yang telah diurapi’ dalam KJV diterjemahkan ‘Messiah’ (=
Mesias).
Barnes’
Notes: “They expected a prince and
a conqueror, but did not expect a Messiah that was poor and despised; that was a
man of sorrows and that was to die on a cross” (= Mereka mengharapkan
seorang raja / pangeran dan seorang pemenang, tetapi tidak mengharapkan seorang
Mesias yang miskin dan hina; yang adalah seorang yang penuh dengan kesedihan /
penderitaan dan yang harus mati di salib).
Barnes’
Notes: “Though the Scriptures were
read so constantly, yet they were ignorant of their true meaning. They were
blinded by pride, and prejudice, and preconceived opinions. People may often in
this way read the Bible a good part of their lives and never understand it”
(= Sekalipun Kitab Suci dibacakan terus menerus, tetapi mereka tidak tahu
tentang artinya yang benar. Mereka dibutakan oleh kesombongan, dan prasangka,
dan pandangan-pandangan yang sudah lebih dulu ada dalam pikiran mereka.
Orang-orang bisa sering membaca Alkitab dengan cara
ini dalam bagian yang baik dari kehidupan mereka dan tidak pernah mengertinya).
2)
Mereka tetap menuntut supaya Yesus dibunuh sekalipun mereka tidak menemukan
alasan untuk menjatuhkan hukuman mati tersebut.
Ay 28: “Dan
meskipun mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat menjadi alasan untuk hukuman
mati itu, namun mereka telah meminta kepada Pilatus supaya Ia dibunuh”.
Bandingkan ay
28 ini dengan kata-kata ‘padahal tidak ada salahnya apa-apa’ dalam
Dan 9:26 di atas.
Ketidak-bersalahan
Yesus ini penting karena ini menunjukkan bahwa Ia
mengalami penderitaan dan kematian itu, bukan sebagai hukuman atas dosaNya
sendiri, tetapi untuk menebus dosa umat manusia.
Dalam
tafsirannya tentang Yoh 19:16, dimana untuk ketiga-kalinya Pontius Pilatus
memberikan pernyataan tentang ketidak-bersalahan Yesus, Calvin memberikan
komentar sebagai berikut:
Calvin:
“his innocence is frequently attested by the testimony of the judge, in
order to assure us that he was free from all sin, and that he was substituted
as a guilty person in the room of others, and bore the punishment due to the
sins of others” (= ketidak-bersalahanNya ditegaskan berulang kali oleh
kesaksian dari sang hakim, untuk meyakinkan kita bahwa Ia bebas dari segala
dosa, dan bahwa Ia menggantikan sebagai seorang yang bersalah di tempat
orang-orang lain, dan memikul hukuman yang disebabkan dosa-dosa orang-orang
lain) - hal 214.
Calvin:
“he had several times acquitted him with his own mouth, in order that we
may learn from it, that it was for our sins that he was condemned, and not on
his own account” (= ia telah beberapa kali membebaskanNya dari tuduhan
dengan mulutnya sendiri, supaya kita bisa mengertinya dari sini, bahwa untuk
dosa-dosa kitalah Ia dihukum, dan bukan karena dosa-dosaNya sendiri) - hal
223.
Perhatikan
bahwa Kristus adalah ‘substitute’ (= pengganti) kita. Ada
banyak ajaran sesat yang mengatakan bahwa pada waktu Kristus menderita dan mati,
itu merupakan tindakan solidaritasNya untuk menderita bersama dengan
kita. Kalau ini benar, maka tindakanNya tidak berguna bagi kita,
karena sekalipun Ia menderita, tetapi kita juga tetap
menderita. Yang benar adalah bahwa Ia menjadi Substitute
/ Pengganti bagi kita. Bandingkan dengan kedua text di bawah
ini, yang jelas menunjukkan Yesus sebagai substitute / pengganti bagi
kita.
Yes 53:4-6
- “(4) Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan
kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul
dan ditindas Allah. (5) Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia
diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan
bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (6)
Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya
sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”.
2Kor
5:15 - “Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup,
tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan
telah dibangkitkan untuk mereka”.
Dengan
Dia menggantikan kita, maka kalau kita percaya kepadaNya sebagai Tuhan dan
Juruselamat kita, kita betul-betul dibebaskan dari segala hukuman dosa.
Ro 8:1 - “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman
bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”.
3)
Mereka menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama tentang
penderitaan dan kematian Yesus, dan lalu mereka menguburkan Dia.
Ay 29: “Dan
setelah mereka menggenapi segala sesuatu yang ada tertulis tentang Dia, mereka
menurunkan Dia dari kayu salib, lalu membaringkanNya di dalam kubur”.
Ada
banyak sekali nubuat yang digenapi dalam penderitaan dan kematian Yesus.
Misalnya Maz 22:7-9,13-19 Maz 118:22
Daniel 9:26a Yes 53 Maz 69 dan sebagainya.
Problem:
Ay 29b: ‘mereka menurunkan Dia dari kayu salib, lalu
membaringkanNya di dalam kubur’. Kontex menunjukkan
bahwa kata ‘mereka’ menunjuk kepada tokoh-tokoh Yahudi yang memusuhi
Yesus. Ini tidak cocok dengan Yoh 19:38-42 yang mengatakan Yusuf dan
Nikodemuslah yang menurunkan mayat Yesus dan lalu menguburkannya.
Penjelasan:
· tujuan
Paulus bukanlah menceritakan kematian / penguburan Yesus secara mendetail,
tetapi hanya menunjukkan bahwa kematian Yesus sesuai dengan Kitab Suci.
· Yusuf
dan Nikodemus juga adalah pemimpin Yahudi, sehingga mereka semua dijadikan 1
grup bersama dengan orang yang menolak / membunuh Yesus.
Ay 30: “Tetapi
Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati”.
1)
Kalau saudara menganggap bahwa tidak mungkin orang mati bisa bangkit, maka
perhatikan dan renungkan Kis 26:8 - “Mengapa kamu menganggap mustahil,
bahwa Allah membangkitkan orang mati?”.
2)
Kebangkitan Yesus berbeda dengan kebangkitan dari orang-orang lain dalam Kitab
Suci.
Matthew
Henry: “He rose to die no more; so
it is expressed, Rom. 6:9 ... Lazarus came out of the grave with his
grave-clothes on, because he was to use them again; but Christ, having no more
occasion for them, left them behind” (= Ia bangkit dan tidak mati lagi;
begitulah dinyatakan hal itu, Ro 6:9 ... Lazarus keluar dari kubur dengan tetap
memakai pakaian kubur / kain kapan, karena ia akan memakainya lagi; tetapi
Kristus, karena tidak membutuhkannya lagi, meninggalkannya di belakang).
Ro 6:9 - “Karena
kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari
antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia”.
3)
Setelah menyatakan bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati,
lalu Paulus memberikan argumentasi-argumentasi sebagai berikut:
a)
Selama beberapa waktu (40 hari) Kristus menampakkan diri kepada banyak orang
yang lalu menjadi saksi-saksi tentang kebangkitan Kristus ini.
Ay 31: “Dan
selama beberapa waktu Ia menampakkan diri kepada mereka yang mengikuti Dia dari
Galilea ke Yerusalem. Mereka itulah yang sekarang menjadi
saksiNya bagi umat ini”.
b)
Ada yang menganggap bahwa ay 32-33 juga merupakan argumentasi dari Paulus
untuk mendukung kebangkitan Kristus, dan sepintas lalu ay 32-33 itu memang
kelihatannya berbicara tentang kebangkitan Kristus.
Ay 32-33: “(32)
Dan kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji
yang diberikan kepada nenek moyang kita, (33) telah digenapi Allah kepada kita,
keturunan mereka, dengan membangkitkan Yesus, seperti yang ada tertulis
dalam mazmur kedua: AnakKu Engkau! Aku telah memperanakkan
Engkau pada hari ini”.
Salah satu dari
penafsir yang berpandangan seperti ini adalah Matthew Henry yang mengatakan
bahwa ay 33 menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia
adalah Anak Allah. Bdk. Ro 1:4 - “dan menurut Roh
kekudusan dinyatakan oleh kebangkitanNya dari antara orang mati, bahwa Ia
adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita”.
Penafsir-penafsir
lain yang juga beranggapan seperti itu adalah Albert Barnes dan Jamieson,
Fausset & Brown.
Barnes’
Notes: “‘This day have I begotten
thee.’ It is evident that Paul uses the expression here as implying that the
Lord Jesus is called the Son of God because he raised him up from the dead, and
that he means to imply that it was for this reason that he is so called. This
interpretation of an inspired apostle fixes the meaning of this passage in the
psalm, and proves that ... he is called his Son because he was raised from
the dead. And this interpretation accords with the scope of the psalm. In
vers. 1-3 the psalmist records the combination of the rulers of the earth
against the Messiah, and their efforts to cast off his reign. This was done, and
the Messiah was rejected. All this pertains, not to his previous existence, but
to the Messiah on the earth. In vers. 4-5, the
psalmist shows that their efforts would not be successful; that God would laugh
at their designs; that is, that their plans should not succeed. In
vers. 6-7, he shows that the Messiah would be established as a king; that
this was the fixed decree, and that he had been begotten for this. All this is
represented as subsequent to the raging of the pagan, and to the counsel of the
kings against him, and must, therefore, refer, not to his eternal generation
or his incarnation, but to something succeeding his death; that is, to his
resurrection, and his establishment as King at the right hand of God. This
interpretation by the apostle Paul proves, therefore, that this passage is
not to be used to establish the doctrine of the eternal generation of Christ.
Christ is called the Son of God for various reasons. In Luke
1:35, because he was begotten by the Holy Spirit. In
this place, on account of his resurrection. In Rom. 1:4 it is also said
that he was declared to be the Son of God by the resurrection from the dead. See
the notes on that place. The resurrection from the dead is represented as in
some sense the beginning of life, and it is with reference to this that the
terms ‘Son,’ and ‘begotten from the dead,’ are used, as the birth of a
child is the beginning of life. Thus, Christ is said, Col. 1:18, to be ‘the
first-born from the dead’; and thus, in Rev. 1:5; he is called ‘the
firstbegotten of the dead’; and with reference to this renewal or beginning of
life he is called a Son. In whatever other senses he is called a Son in the New
Testament, yet it is here proved: (1) That he is called a Son from his
resurrection; and (2) That this is the sense in which the expression in the
psalm is to be used” (= ).
Jamieson,
Fausset & Brown: “Augustine,
with some moderns, apply this to Christ’s eternal
generations from the Father. ... This, however, is a forced way of interpreting
the words, and not at all consistent with the context, which clearly connects
the Sonship with the resurrection of Christ” (= Agustinus, dengan beberapa
penafsir modern, menerapkan ini pada diperanakkannya Kristus secara kekal dari
Bapa. ... Tetapi ini merupakan penafsiran kata-kata yang dipaksakan, dan sama
sekali tidak konsisten dengan kontextnya, yang dengan jelas menghubungkan
keAnakan dengan kebangkitan Kristus).
Jamieson,
Fausset & Brown: “Does the
apostle, then; mean to say that Christ became God’s Son - for the first time
and in the only sense in which He was the Son of God - by His resurrection from
the dead? That cannot be; for, besides that it would contradict the whole,
strain of the New Testament regarding Christ’s relation to the Father, it is
in direct contradiction to the apostle’s own statements in Rom. 8:32, where he
reasons on the Sonship of Christ as one of eternal essence; and even still more
in Rom. 1:4, where he says of the resurrection of Christ, that he was thereby
only ‘declared (defined or determined) to be the Son of God with power’ - in
other words, the resurrection of Christ was merely the manifestation of a
Sonship which existed before, but was only then ‘declared with power.’ Are
we not warranted, then, on the apostle’s own authority, in understanding his
meaning here to be the same - ‘Today,’ meaning that memorable day of His
resurrection from the dead, when God, by an act not to be misunderstood,
proclaimed that He whom men killed, by hanging Him on a tree, was none other
than His own Son. As Meyer happily expresses, it ‘it was the divine
legitimation of His Sonship;’” (= ).
Tetapi ada
penafsir-penafsir yang menentang penafsiran ini karena mereka berpendapat bahwa
kata ‘membangkitkan’ dalam ay 33 tidak berarti ‘menghidupkan
kembali’. Kata ‘membangkitkan’ di sini artinya ‘memunculkan
dalam sejarah’, sama seperti dalam ayat-ayat seperti Kis 3:22,26
Kis 7:37 Ro 9:17 dsb.
Alasannya:
· Maz 2:7
yang dikutip dalam ay 33 itu tidak mungkin berhubungan dengan kebangkitan
Yesus dari antara orang mati, tetapi berhubungan dengan penggenapan jabatan
Mesias oleh Yesus.
· Tidak
ada kata-kata ‘dari antara orang mati’ dalam ay 33. Bandingkan
dengan ay 30,34 yang menggunakan kata-kata ‘dari
antara orang mati’.
Wycliffe
Bible Commentary: “‘Thou art my
Son’ (Ps 2:7) does not refer to Jesus’ deity so much as to his
Messiahship. Part of this quotation was heard at Jesus’ baptism (Mk 1:11)
and indicated the entrance of Jesus into his Messianic mission. ‘Sonship’ in
Biblical thought is a many-sided concept and can designate Messiahship without
in any way minimizing the reality of Christ’s deity” (=
).
c)
Ay 34-37: “(34) Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati
dan Ia tidak akan diserahkan kembali kepada
kebinasaan. Hal itu dinyatakan oleh Tuhan dalam firman ini: Aku akan
menggenapi kepadamu janji-janji yang kudus yang dapat dipercayai, yang telah
Kuberikan kepada Daud. (35) Sebab itu Ia mengatakan
dalam mazmur yang lain: Engkau tidak akan membiarkan Orang KudusMu melihat
kebinasaan. (36) Sebab Daud melakukan kehendak Allah pada zamannya, lalu ia
mangkat dan dibaringkan di samping nenek moyangnya, dan ia memang diserahkan
kepada kebinasaan. (37) Tetapi Yesus, yang dibangkitkan Allah, tidak
demikian”.
Dalam bagian
ini Paulus menggunakan 2 bagian dari Perjanjian Lama, yaitu:
1.
Pada bagian akhir dari ay 34 ia mengutip Yes 55:3
- “Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepadaKu; dengarkanlah, maka kamu
akan hidup! Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih
setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud”.
Para penafsir
mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan perjanjian abadi dengan Daud ini adalah
janji bahwa kerajaannya akan ada selama-lamanya.
Janji ini akan salah, kalau Yesus, sang Mesias, Raja
itu, mati selama-lamanya. Ia bangkit dan hidup
selama-lamanya sebagai penggenapan terhadap janji tersebut.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘I will
give you the sure mercies of David,’ ... - literally, ‘the sure sanctities
of David.’ The word, however, is sometimes used in the sense of ‘mercies’
in the Old Testament. The whole riches of the everlasting covenant - its varied
‘grace’ or ‘mercies’ - are here meant; and they are characterized in the
prophecy, first, as ‘sanctities,’ to signify that, as they quite transcend
the sphere of things seen and temporal, so they separate to a holy character all
such as receive them; but they are further characterized as ‘sure,’ to
denote the certainty with which they would at length, through David’s Seed, be
all substantiated ... But how do these words prove the resurrection of Christ?
‘They presuppose it (as Olshausen says); for since an eternal kingdom was
promised to David, the Ruler of this kingdom could not remain under the power of
death” (= ).
Barnes’
Notes: “‘The sure mercies of
David.’ The word ‘mercies’ here refers to the promise made to David; the
mercy or favor shown to him by promising to him a successor that should not fail
to sit on his throne, 2 Sam. 7:16; Ps. 89:4-5; 132:11-12. These mercies and
promises are called ‘sure,’ as being true or unfailing; they would certainly
be accomplished. Compare 2 Cor. 1:20. The word ‘David’ here does not refer,
as many have supposed, to the Messiah, but to the King of Israel. God made to
David a promise, a certain pledge; he bestowed on him this special mercy, in
promising that he should have a successor who should sit forever on his throne.
This promise was understood by the Jews, and is often referred to in the New
Testament, as relating to the Messiah. Paul here says that that promise is
fulfilled. The only question is how it refers to the subject on which he was
discoursing. The point was not mainly to prove his resurrection, but to show
particularly that he would never die again, or that he would forever live and
reign. And the argument is, that as God had promised that David should have a
successor who should sit forever on his throne, and as this prediction now
terminated in the Messiah, the Lord Jesus, it followed that, as that promise was
sure and certain, he would never die again. He must live if the promise was
fulfilled. And though he had been put to death, yet under that general promise
there was a certainty that he would live again. It was impossible, the meaning
is, that the Messiah, the promised successor of David, the perpetual occupier of
his throne, should remain under the power of death. Under this assurance the
church now reposes its hopes. Zion’s King now lives, ever able to vindicate
and save his people” (= ).
2.
Pada ay 35, Paulus mengutip Maz 16:10.
a.
Ay 35: ‘kebinasaan’. Ini salah terjemahan.
KJV/RSV: ‘corruption’
(= pembusukan).
NIV/NASB: ‘decay’
(= pembusukan).
Memang Yesus
bukannya tidak melihat / mengalami kebinasaan / kematian, tetapi tidak mengalami
pembusukan, karena setelah mati Ia bangkit pada hari
ke 3. Bahkan sejak kematian sampai pada hari ke 3 itu tubuh
Yesus terhindar dari pembusukan.
Matthew
Henry: “He rose so soon after he
was dead that his body did not see corruption; for it is not till the third day
that the body begins to change” (= Ia bangkit
begitu cepat setelah Ia mati sehingga tubuhNya tidak mengalami pembusukan;
karena pada hari ketiga barulah tubuh / mayat mulai berubah / membusuk).
Saya
tak setuju dengan kata-kata ini. Dalam
cuaca panas seperti di Palestina, mayat pasti sudah mulai membusuk pada hari
ketiga (biarpun Yesus mati hanya sekitar 38 jam). Saya
berpendapat bahwa tidak membusuknya mayat Yesus disebabkan karena rempah-rempah
yang diberikan oleh Nikodemus dan Yusuf dari Arimatea (Yoh 19:38-42), dan / atau
karena Allah menjaganya secara mujijat.
b.
Ay 36-37:
· Kata
‘kebinasaan’ pada ay 36 sebetulnya juga adalah ‘pembusukan’.
· Jadi
di sini Paulus menunjukkan bahwa Maz 16:10 jelas tidak cocok untuk Daud,
karena ia mati dan mengalami pembusukan. Tetapi Maz 16:10
ini cocok untuk Yesus!
Jamieson,
Fausset & Brown: “to strengthen
the indefinite prediction by one more definite, the apostle adduces Ps. 16:10,
of which Peter had given the same explanation ...; both apostles denying the
possibility of its proper reference to David” (= untuk menguatkan ramalan
yang tak terlalu jelas dengan ramalan yang lebih jelas, sang rasul mengemukakan
Maz 16:10, tentang mana Petrus telah memberikan penjelasan yang sama ...; kedua
rasul menyangkal kemungkinan bahwa itu mempunyai hubungan yang benar dengan
Daud).
· Kata-kata
‘pada zamannya’ seharusnya adalah ‘in his own generation’
(= dalam generasinya sendiri).
Wycliffe
Bible Commentary: “David’s career
was limited to his own generation, for he died and saw corruption; the career of
Jesus cannot be limited to any one time but belongs to all ages” (= Karir
Daud dibatasi pada generasinya sendiri, karena ia mati dan melihat / mengalami
pembusukan; karir dari Yesus tidak bisa dibatasi pada jaman manapun tetapi
merupakan milik dari semua jaman).
Kematian
dan kebangkitan Yesus ini menyebabkan adanya Injil / kabar baik atau kabar
keselamatan.
Ay 26: “Hai
saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang takut akan
Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita”.
Ay 32: “Dan
kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu,
...”.
Kabar
keselamatan atau kabar baik apa? Bahwa
Yesus adalah Juruselamat bagi kita.
Ay 23: “Dan
dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikanNya, Allah telah
membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus”.
1)
Kata-kata ‘Juruselamat bagi orang Israel’ tidak berarti bahwa
Yesus adalah Juruselamat hanya bagi mereka. Bandingkan dengan ayat-ayat ini:
Yoh 1:29 -
“Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia
berkata: ‘Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia”.
Yoh 4:42 - “dan
mereka berkata kepada perempuan itu: ‘Kami percaya, tetapi bukan lagi karena
apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa
Dialah benar-benar Juruselamat dunia.’”.
1Yoh
4:14 - “Dan kami telah melihat dan bersaksi, bahwa Bapa telah mengutus
AnakNya menjadi Juruselamat dunia”.
1Yoh 2:2 - “Dan
Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan
untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia”.
Kalau
demikian, mengapa dalam ayat ini dikatakan ‘bagi orang Israel’?
Israel disebut di sini karena mereka mendapat tempat
pertama.
Kis
3:26 - “Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan HambaNya dan
mengutusNya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu
masing-masing kembali dari segala kejahatanmu.’”.
Ro 1:16
- “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil
adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama
orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani”.
2)
Juruselamat dari apa? Dari dosa.
Perhatikan bahwa dalam ay 23 ditambahkan nama
‘Yesus’.
Bdk. Mat 1:21
- “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus,
karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka.’”.
Bdk. Ay 38-39: “(38)
Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada
kamu pengampunan dosa. (39) Dan di dalam Dialah setiap orang
yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak
dapat kamu peroleh dari hukum Musa”.
Ada 2 hal yang
ditekankan dalam ay 38-39 ini:
a)
Pengampunan dosa tidak bisa didapatkan dari Hukum Musa.
· moral
law (= hukum moral): ini hanya bisa
menunjukkan dosa dan menghakimi / mengutuk (bdk. Ro 3:20).
· ceremonial
law (= hukum yang berhubungan dengan
upacara keagamaan): ini hanya merupakan bayangan / type
dari Kristus (bdk. Ibr 10:1-4).
Ibr 9:7-14 - “(7)
tetapi ke dalam kemah yang kedua hanya Imam Besar saja yang masuk sekali
setahun, dan harus dengan darah yang ia persembahkan karena dirinya sendiri dan
karena pelanggaran-pelanggaran, yang dibuat oleh umatnya dengan tidak sadar. (8)
Dengan ini Roh Kudus menyatakan, bahwa jalan ke tempat yang kudus
itu belum terbuka, selama kemah yang pertama itu masih ada. (9) Itu adalah
kiasan masa sekarang. Sesuai dengan itu dipersembahkan
korban dan persembahan yang tidak dapat menyempurnakan mereka yang
mempersembahkannya menurut hati nurani mereka, (10) karena semuanya itu, di
samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan, hanyalah
peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu
pembaharuan. (11) Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk
hal-hal yang baik yang akan datang: Ia telah melintasi kemah yang lebih besar
dan yang lebih sempurna, yang bukan dibuat oleh tangan manusia, - artinya yang
tidak termasuk ciptaan ini, - (12) dan Ia telah masuk satu kali untuk
selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba
jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darahNya sendiri. Dan dengan
itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal. (13)
Sebab, jika darah domba jantan dan darah lembu jantan dan percikan abu lembu
muda menguduskan mereka yang najis, sehingga mereka disucikan secara lahiriah,
(14) betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah
mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak
bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang
sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup”.
Ibr 10:1-4
- “(1) Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan
yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu
dengan korban yang sama, yang setiap tahun
terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka
yang datang mengambil bagian di dalamnya. (2) Sebab jika hal itu mungkin, pasti
orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu
tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali
untuk selama-lamanya. (3) Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun
orang diperingatkan akan adanya dosa. (4)
Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan
dosa”.
Ibr 10:11
- “Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan
berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang
sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa”.
Sebetulnya
memang orang-orang Israel, yang mempersembahkan korban sesuai dengan hukum Musa,
dan dengan iman yang benar, memang mendapatkan pengampunan dosa.
Tetapi ini bukan karena korban-korban itu, tetapi karena
penebusan Kristus di kayu salib, yang berlaku surut untuk mereka.
Seandainya tidak ada korban Kristus, maka semua korban-korban mereka sama
sekali tidak ada gunanya.
Dengan ini
Paulus menghancurkan doktrin Salvation by works (= keselamatan karena
perbuatan baik).
b)
Pengampunan dosa dalam Kristus.
Ay 38-39: “(38)
Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada
kamu pengampunan dosa. (39) Dan di dalam Dialah setiap
orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak
dapat kamu peroleh dari hukum Musa”.
Perhatikan:
· ‘dari
segala dosa’ (ay 39). Lit: ‘from
all things’ (= dari segala hal).
· ada
syarat untuk mendapat pengampunan dosa: percaya kepada Yesus (ay 39: ‘setiap
orang yang percaya’)!
Dengan ini
Paulus menekankan doktrin Salvation by faith alone (= keselamatan karena
iman saja).
Kekristenan
yang benar tidak pernah mengajarkan bahwa saudara bisa diampuni karena perbuatan
baik saudara. Saudara bisa
diampuni hanya karena jasa penebusan Yesus Kristus, dan itu saudara terima kalau
saudara percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!
Johann
Hieronymus Schroeder: “It has been
the cross which has revealed to good men that their goodness has not been good
enough” (= Saliblah yang telah menyatakan kepada orang-orang yang baik
bahwa kebaikan mereka tidak cukup baik) - ‘The Encyclopedia of
Religious Quotations’, hal 145.
Ay 40-41: “(40)
Karena itu, waspadalah, supaya jangan berlaku atas kamu apa
yang telah dikatakan dalam kitab nabi-nabi: (41) Ingatlah, hai kamu
penghina-penghina, tercenganglah dan lenyaplah, sebab Aku melakukan suatu
pekerjaan dalam zamanmu, suatu pekerjaan, yang tidak akan kamu percayai, jika
diceriterakan kepadamu’”.
Peringatan
bagi orang yang tidak mau percaya (ay 40-41).
Ay 41 dikutip dari Hab 1:5 versi LXX / Septuaginta.
Adam Clarke:
“‘Beware, therefore, lest that come upon you, which is spoken of in
the prophets:’ If you reject these benefits, now freely offered to you in this
preaching of Christ crucified, you may expect such judgments from the hand of
God as your forefathers experienced, when, for their rebellion and their
contempt of his benefits, their city was taken, their temple destroyed, and
themselves either slain by the sword, or carried into captivity. It is evident
that Paul refers to Hab. 1:5-10; and in those verses the desolation by the
Chaldeans is foretold. Never was there a prophecy more correctly and pointedly
applied. These Jews did continue to slight the benefits offered to them by the
Lord; and they persevered in their rebellion: what was the consequence? The
Romans came, took their city, burnt their temple, slew upwards of a million of
them, and either carried or sold the rest into captivity. How exactly was the
prophecy in both cases fulfilled!” (= ‘Karena
itu, berhati-hatilah, supaya jangan datang kepadamu, yang dikatakan dalam kitab
nabi-nabi’: Jika kamu menolak kebaikan ini, yang sekarang dengan cuma-cuma
ditawarkan kepadamu dalam pemberitaan tentang Kristus yang disalibkan ini, kamu
bisa mengharapkan suatu penghakiman sedemikian rupa dari tangan Allah seperti
yang dialami nenek moyangmu, ketika karena pemberontakan mereka dan kejijikan /
sikap memandang rendah mereka terhadap kebaikan-kebaikanNya, kota mereka
diambil, Bait Suci mereka dihancurkan, dan mereka sendiri dibunuh dengan pedang
atau dibawa sebagai tawanan. Jelas bahwa Paulus menunjuk pada Hab 1:5-10;
dan dalam ayat-ayat itu penghancuran oleh orang-orang Kasdim diramalkan. Tidak
pernah ada suatu nubuat yang diterapkan dengan lebih benar dan lebih tajam.
Orang-orang Yahudi ini terus mengabaikan kebaikan-kebaikan yang ditawarkan
kepada mereka oleh Tuhan; dan mereka bertekun dalam pemberontakan mereka: apa
akibatnya? Orang-orang Romawi datang, mengambil kota
mereka, membakar Bait Suci mereka, membantai sampai satu juta orang dari mereka,
dan membawa atau menjual sisanya sebagai tawanan. Alangkah
persisnya nubuat ini digenapi dalam kedua kasus tersebut!).
Hab 1:5-10
- “(5) Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran
dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang
tidak akan kamu percayai, jika diceriterakan. (6) Sebab, sesungguhnya,
Akulah yang membangkitkan orang Kasdim, bangsa yang garang dan tangkas itu, yang
melintasi lintang bujur bumi untuk menduduki tempat kediaman, yang bukan
kepunyaan mereka. (7) Bangsa itu dahsyat dan menakutkan; keadilannya dan
keluhurannya berasal dari padanya sendiri. (8) Kudanya lebih cepat dari pada
macan tutul, dan lebih ganas dari pada serigala pada waktu malam; pasukan
berkudanya datang menderap, dari jauh mereka datang, terbang seperti rajawali
yang menyambar mangsa. (9) Seluruh bangsa itu datang untuk melakukan kekerasan,
serbuan pasukan depannya seperti angin timur, dan mereka mengumpulkan tawanan
seperti banyaknya pasir. (10) Raja-raja dicemoohkannya dan penguasa-penguasa
menjadi tertawaannya. Ditertawakannya tiap tempat berkubu, ditimbunkannya tanah
dan direbutnya tempat itu”.
Barnes’
Notes: “‘Ye will not believe,
when it shall be told you.’ So it ever is. Man never believes that God is in
earnest until His judgments come. So it was before the flood, and with Sodom,
and with Lot’s sons-in-law; so it was with Ahab and Jezebel; so with this
destruction of Jerusalem by the Chaldaeans, and what is shadowed forth, by the
Romans” (= ‘Engkau tidak akan percaya, ketika itu diceritakan
kepadamu’. Begitulah selalu. Manusia
tidak pernah percaya bahwa Allah bersungguh-sungguh sampai penghakimannya tiba.
Demikianlah sebelum air bah, dan dengan Sodom, dan dengan menantu-menantu Lot;
demikianlah dengan Ahab dan Izebel; demikianlah dengan penghancuran Yerusalem
oleh orang-orang Kasdim, dan apa yang dibayangkannya,
oleh orang-orang Romawi).
Penginjilan bukan
hanya menjanjikan keselamatan bagi orang yang percaya, tetapi juga memberikan
ancaman hukuman bagi yang menolak / tidak percaya.
Kalau saudara mau percaya kepada Kristus, saudara akan
diampuni dan masuk ke surga. Tetapi kalau saudara mengabaikan, menolak, tidak
mau percaya kepada Kristus, maka saudara akan masuk
ke neraka selama-lamanya. Pada saat itu saudara akan
sadar bahwa semua ini benar, tetapi sudah terlambat. Karena itu, percayalah
sekarang, sebelum terlambat!
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali