(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 12 Desember 2023, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
sola scriptura(3)
C) Alkitab tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi.
1) Kanon dan pengkanonan Alkitab.
a) Sebelum kita berbicara tentang penambahan atau pengurangan terhadap Alkitab, maka kita harus lebih dulu mengetahui kitab-kitab mana yang termasuk dalam Alkitab dan kitab-kitab mana yang tidak termasuk dalam Alkitab. Alkitab yang kita akui terdiri dari 66 kitab, yaitu 39 kitab-kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru. Ini disebut dengan istilah kanon Alkitab.
b) Apa artinya kata ‘kanon’?
Halley’s Bible Handbook: “The word ‘Canon,’ literally meaning ‘cane,’ or ‘measuring rod,’ came to be used as the name of the list of books which were recognized as the genuine, original inspired, authoritative WORD OF GOD, the ‘rule’ of Faith.” [= Kata ‘kanon’ secara hurufiah berarti ‘tongkat’, atau ‘tongkat pengukur’, yang lalu digunakan sebagai nama dari daftar kitab-kitab yang diakui sebagai Firman Allah yang asli, asal mulanya diilhamkan, dan berotoritas, ‘standard’ dari Iman.] - hal 404.
c) Tentang kanon Perjanjian Lama tidak ada persoalan, karena pada jaman Yesus hidup di dunia ini, kanon Perjanjian Lama itu sudah lengkap dan tertentu / pasti. Dan Yesus tidak mengubahnya sehingga dianggap sebagai menyetujuinya.
‘Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible’: “It is not possible to know for certain how the Old Testament came together in the collection of books we know now. But we do know which books made up the Old Testament in the period just before the birth of Jesus, and we can know which books Jesus and his apostles would have regarded as their ‘Bible’. ... It is clear that by the time of Jesus the Hebrew Scriptures usually consisted of the thirty-nine books we know today as the Old Testament.” [= Tidak memungkinkan untuk mengetahui dengan pasti bagaimana Perjanjian Lama bisa terkumpul bersama-sama dalam kumpulan kitab-kitab yang kita ketahui sekarang. Tetapi kami tahu kitab-kitab mana yang membentuk Perjanjian Lama pada jaman persis sebelum kelahiran Yesus, dan kami tahu kitab-kitab mana yang dianggap oleh Yesus dan rasul-rasulNya sebagai ‘Alkitab’ mereka. ... Adalah jelas bahwa pada jaman Yesus Kitab Suci Ibrani umumnya terdiri dari 39 kitab yang kita kenal sekarang sebagai Perjanjian Lama.] - hal 66.
Halley’s Bible Handbook: “In Jesus’ day this book was called ‘The Scriptures,’ and was taught regularly and read publicly in synagogs. It was commonly regarded among the people as the ‘Word of God.’ Jesus himself repeatedly called it the ‘Word of God.’ ... These ‘Scriptures’ were composed of the 39 books which constitute our Old Testament, though under a different arrangement. ... when this group of books was completed, and set apart as the definitely recognized Word of God, is involved in obscurity. The Jews’ tradition was that it was done by Ezra.” [= Pada jaman Yesus, buku ini disebut ‘Kitab Suci’, dan diajarkan secara rutin / teratur dan dibacakan di depan umum di sinagog-sinagog. Pada umumnya itu dianggap di antara bangsa itu sebagai ‘Firman Allah’. ... ‘Kitab Suci’ ini terdiri dari 39 kitab yang membentuk Perjanjian Lama kita, sekalipun susunan / urut-urutannya berbeda. ... kapan kelompok kitab-kitab ini menjadi lengkap, dan dipisahkan sebagai Firman Allah yang diakui dengan pasti, tak diketahui dengan jelas. Tradisi Yahudi mengatakan bahwa hal itu dilakukan oleh Ezra.] - hal 405.
Halley’s Bible Handbook: “Josephus considered the Old Testament Canon as fixed from the days of Artaxerxes, time of Ezra. Here are his words: ‘We have but 22 books, containing the history of all time, books that are believed to be divine. Of these, 5 belong to Moses, containing his laws and the tradition of the origin of mankind down to the time of his death. From the death of Moses to the reign of Artaxerxes the prophets who succeeded Moses wrote the history of the events that occurred in their own time, in 13 books. The remaining 4 books comprise hymns to God and precepts for the conduct of human life. From the days of Artaxerxes to our own times every event had indeed been recorded; but these recent records have not been deemed worthy of equal credit with those which preceded them, on account of the failure of the exact succession of the prophets. There is practical proof of the spirit in which we treat our Scriptures; for, although so great an interval of time has now passed, not a soul has ventured to add or to remove or to alter a syllable, and it is the instinct of every Jew, from the day of his birth, to consider these Scriptures as the teaching of God, and to abide by them, and, if need be, cheerfully to lay down his life in their behalf.’” [= Josephus menganggap bahwa kanon Perjanjian Lama sudah tertentu sejak jaman Artahsasta, jaman dari Ezra. Inilah kata-katanya: ‘Kami mempunyai hanya 22 kitab, berisikan sejarah dari semua jaman, kitab-kitab yang dipercaya sebagai ilahi. Dari kitab-kitab ini, 5 adalah kitab-kitab Musa, berisikan hukum-hukumnya dan tradisi tentang asal usul dari umat manusia sampai pada saat kematiannya. Dari saat kematian Musa sampai pada pemerintahan Artahsasta, nabi-nabi yang menggantikan Musa menulis sejarah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada jaman mereka sendiri, dalam 13 kitab. 4 kitab sisanya terdiri dari nyanyian pujian bagi Allah dan ajaran-ajaran tentang tingkah laku manusia. Dari jaman Artahsasta sampai jaman kita sendiri, setiap peristiwa memang telah dicatat; namun catatan-catatan terkini ini tidak dianggap setara dalam hal kredibilitas dengan yang mendahuluinya, karena kegagalan dalam suksesi yang tepat dari para nabi. Ini merupakan bukti praktis dari semangat dalam mana kami memperlakukan Kitab Suci kami; karena, sekalipun ada masa yang begitu lama yang telah berlalu, tidak ada orang yang telah berusaha untuk menambah atau menyingkirkan atau mengubah satu suku katapun, dan merupakan naluri dari setiap orang Yahudi sejak ia lahir, untuk menganggap Kitab Suci ini sebagai ajaran dari Allah, dan untuk mematuhinya, dan jika diperlukan, dengan sukacita meletakkan nyawanya demi mereka’.] - hal 405-406.
Catatan:
1. Ini merupakan kutipan kata-kata Josephus dari ‘The Works of Josephus’, hal 609 (‘Against Apion’, I, 8).
2. Mengapa Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani hanya terdiri dari 22 kitab? Penjelasannya bisa dilihat dalam kutipan di bawah ini.
Halley’s Bible Handbook: “The Hebrew Old Testament contains exactly the same books as our English Old Testament, but in different arrangement: ... By combining the 2 books each of Samuel, Kings and Chronicles into one, and Ezra and Nehemiah into one, and the Twelve Minor Prophets into one, these 24 books are the same as our 39. Josephus further reduces the number to 22, to make it correspond to the Hebrew alphabet by combining Ruth with Judges, and Lamentations with Jeremiah.” [= Perjanjian Lama bahasa Ibrani terdiri dari kitab-kitab yang persis sama seperti Perjanjian Lama bahasa Inggris kita, tetapi dalam susunan yang berbeda: ... Dengan menggabungkan 2 kitab dari Samuel, Raja-raja dan Tawarikh menjadi satu, dan menggabungkan Ezra dan Nehemia menjadi satu, dan 12 kitab nabi-nabi kecil menjadi satu, maka 24 kitab-kitab ini adalah sama dengan 39 kitab-kitab kita. Josephus selanjutnya mengurangi jumlah itu menjadi 22, untuk membuatnya sesuai dengan alfabet bahasa Ibrani, dengan menggabungkan kitab Rut dengan Hakim-hakim, dan Ratapan dengan Yeremia.] - hal 26.
Halley’s Bible Handbook: “This testimony is of no small value. Josephus was born A. D. 37 in Jerusalem, of priestly aristocracy. He received an extensive education in Jewish and Greek culture. He was governor of Galilee and military commander in the wars with Rome, and was present at the destruction of Jerusalem. These words of Josephus are unquestionable testimony to the belief of the Jewish nation of Jesus’ day as to what books comprised the Hebrew Scriptures, and that that collection of books had been completed and fixed for 400 years preceding his time.” [= Kesaksian ini tidak kecil nilainya. Josephus dilahirkan pada tahun 37 M. di Yerusalem, dari keluarga imam. Ia menerima pendidikan yang luas dalam kebudayaan Yahudi dan Yunani. Ia adalah gubernur dari Galilea dan komandan militer dalam perang dengan Roma, dan ia hadir pada penghancuran Yerusalem. Kata-kata dari Josephus merupakan kesaksian yang tidak diragukan tentang kepercayaan dari bangsa Yahudi dari jaman Yesus berkenaan dengan kitab-kitab mana yang termasuk dalam Kitab Suci Ibrani, dan bahwa kumpulan kitab-kitab itu telah lengkap dan tertentu selama 400 tahun sebelum jamannya.] - hal 406.
d) Tetapi kanon Perjanjian Baru agak sukar untuk menentukan dan melalui proses yang cukup lama.
‘Eerdmans’ Family Encyclopedia of the Bible’: “Although there is little direct evidence from the earliest years, we have a good idea of how the New Testament took on its present shape. The first gatherings of Christians probably followed the practice of the Jewish synagogues and had regular readings from the Old Testament during their meetings. Since they were worshipping Jesus Christ, it was natural to them to add an account of some part of his life and teaching. At first this may have been in the form of a first-hand account from someone who had known Jesus during his lifetime. But then, as the churches grew in numbers, and as the eye-witnesses began to die, it became necessary to write these stories down. This was the way the four Gospels (Matthew, Mark, Luke and John) came into being, and they obviously had an important place in the worship and life of the early churches. Then the apostles and other leaders had written a number of letters to various churches and individuals. Since these often gave general guidance on Christian life and beliefs, their usefulness for the whole church was soon recognized. Acts was accepted because it continued the story from Luke’s Gospel. It preserved the only full account of the beginnings of Christianity. We know that by the year AD 200 the church was officially using the four Gospels - and no others, although fictitious tales about Jesus and writings by other Christian leaders who came after the apostles were in circulation. But the mainstream church clearly accepted only the Gospels of Matthew, Mark, Luke and John as their authority for the life and teaching of Jesus. By this time, too, Paul’s letters were generally accepted as of equal importance with the Gospels. It was only later that the remaining books of the New Testament became generally accepted. Revelation, for example, was certainly read in the second century. But not until the third century was it circulating widely. Hebrews was read towards the end of the first century, but took longer to become accepted in the Western churches. It was not generally acknowledged by the church in the West until the fourth century, partly because of doubts as to whether Paul wrote it. It took longer, too, for 2Peter, 2 and 3 John, James and Jude to be accepted by the church as basic Scripture. Perhaps this was because of questions about the content of these books. The New Testament books were mainly used at first for public reading. If they were unsuitable for this purpose, their usefulness must have seemed limited. It is clear that no church council arbitrarily decided that certain books composed the New Testament. Rather, over a period of time, the church discovered that certain writings had a clear and general authority, and were helpful and necessary for their growth. At the Council of Laodicea (AD 363) and the Council of Carthage (AD 397) the bishops agreed on a list of books identical to our New Testament, except that at Laodicea Revelation was left out.” [= Sekalipun hanya ada sedikit bukti langsung dari tahun-tahun yang paling awal, kita mempunyai gagasan yang baik tentang bagaimana Perjanjian Baru mendapatkan bentuknya yang sekarang ini. Pertemuan (kebaktian) mula-mula oleh orang-orang Kristen mungkin mengikuti praktek dari sinagog-sinagog Yahudi dan mempunyai pembacaan biasa / teratur dari Perjanjian Lama dalam pertemuan / kebaktian mereka. Karena mereka menyembah Yesus Kristus, maka adalah wajar bagi mereka untuk menambahkan suatu cerita tentang beberapa bagian dari kehidupan dan ajaranNya. Mula-mula ini mungkin ada dalam bentuk cerita tangan pertama dari orang yang telah mengenal Yesus selama masa hidupNya. Tetapi lalu, karena gereja bertumbuh dalam jumlah, dan karena para saksi mata itu mati, maka menjadi perlu untuk menuliskan cerita-cerita itu. Inilah yang menyebabkan adanya keempat Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes), dan keempat Injil ini jelas mendapatkan tempat yang penting dalam penyembahan dan kehidupan dari gereja-gereja mula-mula. Lalu rasul-rasul dan pemimpin-pemimpin menulis sejumlah surat kepada berbagai-bagai gereja dan individu. Karena surat-surat ini sering memberikan bimbingan umum tentang kehidupan dan kepercayaan Kristen, kegunaan surat-surat ini untuk seluruh gereja segera diakui. Kitab Kisah Rasul diterima karena kitab itu melanjutkan cerita dari Injil Lukas. Kitab ini memelihara satu-satunya cerita lengkap tentang permulaan kekristenan. Kita tahu bahwa pada tahun 200 M. gereja secara resmi menggunakan 4 Injil - dan tidak ada yang lain, sekalipun cerita-cerita fiksi tentang Yesus dan tulisan-tulisan dari pemimpin-pemimpin Kristen lain, yang datang setelah rasul-rasul, ada dalam peredaran. Tetapi aliran utama gereja secara jelas menerima hanya Injil-injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes sebagai otoritas mereka untuk kehidupan dan ajaran Yesus. Pada saat ini, juga, surat-surat Paulus secara umum diterima dan dianggap sama pentingnya dengan Injil-injil tersebut. Baru belakangan maka sisa kitab-kitab dari Perjanjian Baru diterima secara umum. Kitab Wahyu, misalnya, pasti dibaca pada abad kedua. Tetapi baru pada abad ketiga kitab ini beredar secara luas. Surat Ibrani dibaca pada akhir abad pertama, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima dalam gereja-gereja Barat. Surat Ibrani ini tidak diakui secara umum oleh gereja di Barat sampai abad keempat, sebagian disebabkan karena keraguan apakah Paulus menulisnya atau tidak. Juga 2Petrus, 2 dan 3 Yohanes, Yakobus, dan Yudas, membutuhkan waktu lebih lama untuk diterima oleh gereja sebagai Kitab Suci dasar. Mungkin ini disebabkan karena pertanyaan-pertanyaan tentang isi dari kitab-kitab ini. Kitab-kitab Perjanjian Baru mula-mula digunakan pada umumnya untuk pembacaan di depan umum. Jika mereka tidak cocok untuk tujuan ini, kebergunaan mereka pasti kelihatan terbatas. Adalah jelas bahwa tidak ada sidang gereja yang memutuskan secara mutlak bahwa kitab-kitab tertentu membentuk Perjanjian Baru. Tetapi sebaliknya, dalam jangka waktu tertentu, gereja mendapatkan bahwa tulisan-tulisan tertentu mempunyai otoritas yang jelas dan umum, dan membantu dan penting untuk pertumbuhan mereka. Pada sidang gereja Laodikia (tahun 363 M.) dan sidang gereja Carthage (tahun 397 M.) para uskup menyetujui suatu daftar kitab-kitab yang identik dengan Perjanjian Baru kita kecuali bahwa pada sidang gereja Laodikia kitab Wahyu dikecualikan / dikeluarkan.] - hal 68.
Sekalipun kelihatannya penentuan kanon Perjanjian Baru agak meragukan dan boleh dikatakan bersifat subyektif, tetapi perlu diingat bahwa Tuhan, yang adalah pengarang sesungguhnya dari Kitab Suci, pasti memimpin gereja dalam proses kanonisasi Perjanjian Baru tersebut.
2) Penambahan terhadap Alkitab.
a) Gereja Roma Katolik menambahi Alkitab dengan kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika.
Mula-mula ada 15 kitab Apocrypha yang ditambahkan kepada Alkitab oleh orang Roma Katolik, yaitu:
1. Kitab Esdras yang pertama.
2. Kitab Esdras yang kedua.
3. Tobit.
4. Yudit.
5. Tambahan-tambahan pada kitab Ester.
6. Kebijaksanaan Salomo.
7. Yesus bin Sirakh.
8. Barukh.
9. Surat dari nabi Yeremia.
10. Doa Azarya dan Lagu pujian ketiga pemuda.
11. Susana.
12. Bel dan naga.
13. Doa Manasye.
14. Kitab Makabe yang pertama.
15. Kitab Makabe yang kedua.
Catatan: Dalam Kitab Suci Roma Katolik bahasa Indonesia, no 10,11,12 dijadikan satu kitab, yaitu ‘Tambahan-tambahan pada kitab Daniel’.
Tetapi 3 dari kitab-kitab Apocrypha ini akhirnya ditolak oleh Council of Trent, yaitu no 1, no 2 dan no 13, dan karena itu akhirnya hanya 12 kitab Apocrypha yang dimasukkan ke dalam Alkitab mereka.
Loraine Boettner mengatakan bahwa:
a. Kitab Esdras yang kedua ditolak karena di dalamnya ada penolakan terhadap doa untuk orang mati (2Esdras 7:105) - ‘Roman Catholicism’, hal 80.
b. Sebetulnya ada lebih banyak lagi kitab-kitab Apocrypha yang lain, tetapi semua ini tidak pernah dimasukkan ke dalam Kitab Suci Roma Katolik. Mengapa? Loraine Boettner menjawab:
“The Council of Trent evidently selected only books that would help them in their controversy with the Reformers, and none of these gave promise of doing that.” [= Sidang Gereja Trent dengan jelas menyeleksi hanya buku-buku yang akan membantu mereka dalam pertentangan dengan para tokoh Reformasi, dan tidak ada satupun dari buku-buku itu menjanjikan mereka untuk melakukan hal itu.] - ‘Roman Catholicism’, hal 87.
Ke 12 kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika ini tebalnya kira-kira 2/3 Perjanjian Baru. Dahulu, semua kitab-kitab ini diletakkan di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan disebut dengan nama Deuterokanonika [= kanon yang kedua]. Tetapi dalam ‘The Catechism of the Catholic Church’ [= Katekisasi Gereja Katolik] yang dikeluarkan pada tahun 1992, kitab-kitab Deuterokanonika itu diselipkan ke sela-sela kitab-kitab Perjanjian Lama, dan dianggap sebagai Perjanjian Lama!
‘The Catechism of the Catholic Church’, nomer 120, berbunyi sebagai berikut:
“It was by the apostolic Tradition that the Church discerned which writings are to be included in the list of the sacred books. This complete list is called the canon of Scripture. It includes 46 books for the Old Testament (45 if we count Jeremiah and Lamentations as one) and 27 for the New. The Old Testament: Genesis, Exodus, Leviticus, Numbers, Deuteronomy, Joshua, Judges, Ruth, 1 and 2 Samuel, 1 and 2 Kings, 1 and 2 Chronicles, Ezra and Nehemiah, Tobit, Judith, Esther, 1 and 2 Maccabees, Job, Psalms, Proverbs, Ecclesiastes, the Song of Songs, the Wisdom of Solomon, Sirach (Ecclesiasticus), Isaiah, Jeremiah, Lamentations, Baruch, Ezekiel, Daniel, Hosea, Joel, Amos, Obadiah, Jonah, Micah, Nahum, Habakkuk, Zephaniah, Haggai, Zachariah and Malachi.” [= Oleh Tradisi rasulilah Gereja membedakan tulisan-tulisan mana yang harus dimasukkan dalam daftar kitab-kitab kudus. Daftar lengkap ini disebut kanon Kitab Suci. Itu mencakup 46 kitab untuk Perjanjian Lama (45 jika kita menghitung Yeremia dan Ratapan sebagai 1 kitab) dan 27 kitab untuk Perjanjian Baru. Perjanjian Lama: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1 dan 2Samuel, 1 dan 2 Raja-Raja, 1 dan 2 Tawarikh, Ezra dan Nehemia, Tobit, Yudit, Ester, 1 dan 2 Makabe, Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah, Kidung Agung, Kebijaksanaan Salomo, Sirakh, Yesaya, Yeremia, Ratapan, Barukh, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia, dan Maleakhi.].
Catatan: yang saya garis bawahi adalah kitab-kitab yang tidak ada dalam Kitab Suci kristen / protestan.
‘The Catechism of the Catholic Church’, nomer 138, berbunyi sebagai berikut:
“The Church accepts and venerates as inspired the 46 books of the Old Testament and the 27 books of the New.” [= Gereja menerima dan menghormati 46 kitab-kitab Perjanjian Lama dan 27 kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai diilhamkan.].
Catatan: bandingkan dengan Perjanjian Lama yang diakui oleh gereja kristen / protestan, yang hanya terdiri dari 39 kitab!
Dengan adanya perbedaan jumlah kitab-kitab ini, maka perlu diperdebatkan: apakah Gereja Roma Katolik yang menambahi Alkitab atau Gereja Kristen / Protestan yang mengurangi Alkitab? Dalam hal ini saya beranggapan bahwa orang-orang Yahudi harus dijadikan standard (tetapi tidak dalam penafsiran!), karena kepada merekalah diberikan Perjanjian Lama. Dan mereka tidak mempunyai kitab-kitab Deuterokanonika.
Halley’s Bible Handbook: “The Apocrypha. This is the name usually given to the 14 books contained in some Bibles between the Old and New Testaments. They originated in the 1st to 3rd centuries B. C., mostly of uncertain authorship, and were added to the Septuagint, which was Greek translation of the Old Testament made in that period. They were not in the Hebrew Old Testament. They were written after Old Testament prophecy, oracles and direct revelation had ceased. Josephus rejected them as a whole. They were never recognized by the Jews as part of the Hebrew Scriptures.” [= Kitab-kitab Apocrypha. Ini merupakan nama yang biasanya diberikan pada 14 kitab-kitab yang terdapat dalam Alkitab-Alkitab tertentu di antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kitab-kitab itu berasal dari abad 1-3 S. M., kebanyakan dari pengarang yang tidak pasti, dan ditambahkan ke dalam Septuaginta, yang merupakan terjemahan bahasa Yunani dari Perjanjian Lama yang dibuat pada jaman itu. Kitab-kitab itu tidak ada dalam Perjanjian Lama bahasa Ibrani. Kitab-kitab itu ditulis setelah nubuat-nubuat, sabda-sabda dan wahyu langsung Perjanjian Lama berhenti. Josephus menolak kitab-kitab itu secara keseluruhan. Kitab-kitab itu tidak pernah diakui oleh orang-orang Yahudi sebagai bagian dari Kitab Suci Ibrani.] - hal 406.
Encyclopedia Britannica 2000 juga mengatakan bahwa Alkitab Yahudi hanya mencakup Perjanjian Lama, dan tidak mencakup Deuterokanonika.
Encyclopedia Britannica 2000 dengan topik ‘Bible’: “The Jewish Bible includes only the books known to Christians as the Old Testament.” [= Alkitab Yahudi mencakup hanya kitab-kitab yang dikenal oleh orang-orang Kristen sebagai Perjanjian Lama.].
Jadi, kalau dilihat dari sudut orang-orang Yahudi, jelas bahwa bukan Gereja Kristen / Protestan yang mengurangi Alkitab, tetapi Gereja Roma Katoliklah yang menambahi Alkitab.
Kristen Protestan mempunyai alasan-alasan lain untuk menolak kitab-kitab Deuterokanonika sebagai Kitab Suci, yaitu:
a. Yesus, rasul-rasul, dan penulis-penulis Perjanjian Baru, sama sekali tidak pernah mengutip dari kitab-kitab Deuterokanonika.
Dalam Perjanjian Baru, ada kira-kira 260 kutipan langsung dari Perjanjian Lama, dan juga ada kira-kira 370 penggunaan bagian-bagian Perjanjian Lama yang tidak merupakan kutipan langsung.
Ini menunjukkan bahwa baik Yesus maupun rasul-rasul mengakui otoritas Perjanjian Lama sebagai Firman Allah, dan menggunakannya sebagai dasar hidup, iman dan ajaran mereka.
Tetapi baik Yesus maupun rasul-rasul tidak pernah mengutip dari kitab-kitab Deuterokanonika tersebut sebagai dasar ajaran mereka, padahal kitab-kitab Deuterokanonika itu sudah ada / beredar pada jaman Tuhan Yesus hidup di dunia ini. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika itu sebagai Firman Allah!
Halley’s Bible Handbook: “The Apocrypha. ... They were never quoted by Jesus, nor anywhere in the New Testament.” [= Kitab-kitab Apocrypha. ... Kitab-kitab ini tidak pernah dikutip oleh Yesus, atau dimanapun dalam Perjanjian Baru.] - hal 406-407.
Halley’s Bible Handbook: “In the New Testament there are about 300 quotations from these ‘Scriptures’; and no book outside these ‘Scriptures’ is thus quoted in the New Testament, with the single exception of the words of Enoch in the book of Jude. Many of these quotations are from the Septuagint version of the Old Testament, which was in common use in New Testament times; and even though the Septuagint contained the ‘Apocryphal’ books there is not one quotation from the Apocryphal books. This is evidence that neither Jesus nor the Apostles recognized the Apocryphal books as part of ‘The Scriptures.’” [= Dalam Perjanjian Baru ada kira-kira 300 kutipan dari ‘Kitab Suci’ ini; dan tidak ada kitab di luar ‘Kitab Suci’ ini yang dikutip dalam Perjanjian Baru, dengan satu perkecualian tentang kata-kata Henokh dalam kitab Yudas. Banyak dari kutipan-kutipan ini berasal dari versi Septuaginta dari Perjanjian Lama, yang biasa digunakan pada jaman Perjanjian Baru; dan sekalipun Septuaginta mencakup kitab-kitab Apokripa tetapi tidak ada satupun kutipan dari kitab-kitab Apokripa. Ini merupakan bukti bahwa baik Yesus maupun rasul-rasul tidak mengakui kitab-kitab Apokripa sebagai bagian dari ‘Kitab Suci’.] - hal 405.
Catatan: bagian yang saya garis bawahi itu tidak saya setujui, dan akan saya bahas di sini.
Yudas 14-15 - “(14) Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: ‘Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudusNya, (15) hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan.’”.
Dan dalam kitab Henokh (ini tidak termasuk dalam Deuterokanonika dari Gereja Roma Katolik), ada satu ayat yaitu Henokh 1:9, yang berbunyi sebagai berikut:
(1) Versi William Barclay: “And behold! He cometh with ten thousands of his holy ones to execute judgment upon all, and to destroy all the ungodly; and to convict all flesh of all the works of their ungodliness which they have ungodly committed, and of all the hard things which ungodly sinners have spoken against him” [= Dan lihatlah! Ia datang dengan sepuluh ribu orang-orang kudusNya untuk melakukan penghakiman terhadap semua orang, dan untuk menghancurkan orang jahat; dan untuk meyakinkan semua daging / orang tentang semua kejahatan yang mereka lakukan secara jahat, dan tentang semua kata-kata keras yang diucapkan oleh orang-orang berdosa yang jahat menentang Dia)] - ‘The Letters of John and Jude’, hal 196.
Henokh 1:9 Versi William Barclay ini boleh dikatakan identik dengan Yudas 14-15.
(2) Versi Pulpit Commentary: “And behold, he comes with myriads of the holy, to pass judgment upon them, and will destroy the impious, and will call to account all flesh for everything the sinners and the impious have done and committed against him” [= Dan lihatlah, Ia datang dengan puluhan ribu orang kudus, untuk memberikan penghakiman terhadap mereka, dan akan menghancurkan orang jahat, dan akan meminta pertanggung-jawaban semua orang untuk setiap hal yang orang berdosa dan jahat lakukan menentang Dia] - ‘The General Epistle of Jude’, hal 12.
Henokh 1:9 versi Pulpit Commentary ini sedikit berbeda dengan Yudas 14-15, karena dalam Henokh 1:9 ini tidak ada tentang ‘kata-kata keras’ dari orang-orang jahat itu. Versi Barnes’ Notes sama dengan Pulpit Commentary.
Kutipan dalam Yudas 14-15 ini menyebabkan banyak pertanyaan dan problem. Haruskah kita menganggap Kitab Henokh itu sebagai Kitab Suci? Atau, haruskah kita membuang surat Yudas dari Kitab Suci, seperti yang dilakukan oleh Jerome?
Saya berpendapat bahwa kita tidak boleh menganggap bahwa Kitab Henokh harus dimasukkan ke dalam Kitab Suci. Tidak adanya kata-kata ‘ada tertulis’ dalam Yudas 14 ini menunjukkan bahwa ia tidak sedang mengutip Kitab Suci.
Kita juga tidak boleh mengeluarkan surat Yudas dari Kitab Suci. Adanya kemiripan atau kesamaan antara Yudas 14-15 dan Henokh 1:9 memberikan beberapa kemungkinan, yaitu:
(a) Yudas mengutip dari Kitab Henokh.
(b) Penulis kitab Henokh mengutip dari Yudas, sedangkan Yudas mengutip dari tradisi.
(c) Yudas maupun penulis kitab Henokh mengutip dari tradisi.
Tidak ada kemungkinan untuk membuktikan bahwa kemungkinan pertamalah yang benar, sehingga adanya kemiripan / kesamaan antara Yudas 14-15 dengan Henokh 1:9 ini tidak membuktikan bahwa Yudas mengutip dari Kitab Henokh.
Mengapa Yudas mengutip nubuat itu? Dalam Kitab Suci ada banyak ayat tentang kedatangan Kristus untuk menghakimi, seperti Daniel 7:10 Zakh 14:5b. Mengapa ia harus mengutip dari nubuat itu dan bukannya dari ayat-ayat Kitab Suci?
* Karena biasanya makin kuno suatu kutipan, makin ia dihormati. Karena itu Yudas memilih yang sekuno mungkin.
* Karena Tuhan menghendaki nubuat itu, yang tadinya hanya ada dalam tradisi, masuk ke dalam Kitab Suci.
Thomas Manton: “if he receives it by tradition, it is here made authentic and put into the canon.” [= jika ia menerimanya melalui tradisi, di sini itu dijadikan otentik / berotoritas dan dimasukkan ke dalam kanon.] - ‘Jude’, hal 289.
b. Penulis kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika itu sendiri tidak menunjukkan dirinya sebagai penulis Firman Tuhan yang diberikan Allah kepada manusia.
Untuk itu bandingkan Wah 22:18-19 yang terletak pada akhir Kitab Suci / Perjanjian Baru dengan 2Makabe 15:37b-38 yang terletak pada akhir dari kitab-kitab Deuterokanonika.
Wah 22:18-19 - “(18) Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. (19) Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.
Dari Wah 22:18-19 ini terlihat dengan jelas otoritas dari tulisan rasul Yohanes ini sebagai Firman Tuhan yang tidak boleh ditambahi ataupun dikurangi.
Sekarang bandingkan dengan 2Makabe 15:37b-38 yang berbunyi sebagai berikut: “(37b) Maka aku sendiripun mau mengakhiri kisah ini. (38) Jika susunannya baik lagi tepat, maka itulah yang kukehendaki. Tetapi jika susunannya hanya sedang-sedang dan setengah-setengah saja, maka hanya itulah yang mungkin bagiku.”.
Ini sama sekali tidak menunjukkan orang yang menuliskan Firman Tuhan di bawah pengilhaman Roh Kudus! Perhatikan kata-kata ‘kukehendaki’ dan ‘hanya itulah yang mungkin bagiku’. Bagaimana kita bisa mempercayai otoritas tulisan seperti ini, sedangkan penulisnya sendiripun tidak yakin akan kebenaran tulisannya!
c. Dalam kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika itu ada kesalahan-kesalahan, seperti:
(1) Yudit 1:1,7,11 menyebut Nebukadnezar sebagai raja Asyur di Niniwe (bdk. juga dengan Yudit 1:16 2:1,4,14,21 4:1; kesalahan ini terdapat dalam sepanjang kitab Yudit), sedangkan kita tahu bahwa sebetulnya Nebukadnezar bukanlah raja Asyur tetapi raja Babilonia, dan ia tidak tinggal di Niniwe tetapi di Babel (Daniel 4:4-6,30).
(2) Tobit 5:13 menceritakan tentang seorang malaikat yang bernama Rafael, yang berdusta dengan memperkenalkan dirinya sebagai ‘Azarya bin Ananias’, atau ‘Azarya anak laki-laki dari Ananias’.
Bagaimana mungkin kitab-kitab yang mengandung kesalahan seperti itu bisa disetingkatkan dengan Kitab Suci / Firman Tuhan?
d. Dalam kitab-kitab Apocrypha / Deuterokanonika ada doktrin ‘salvation by works’ [= keselamatan karena perbuatan baik] yang sesat / tidak alkitabiah.
Contoh:
(1) Tobit 4:10 - “Memang sedekah melepaskan dari maut dan tidak membiarkan orang masuk ke dalam kegelapan.”.
(2) Tobit 12:9a - “Memang sedekah melepaskan dari maut dan menghapus setiap dosa.”.
(3) Tobit 14:10-11a - “(10) Nak, ingatlah kepada apa yang telah diperbuat Nadab kepada bapa pengasuhnya, yaitu Ahikar. Bukankah Ahikar hidup-hidup diturunkan ke bagian bawah bumi? Tetapi Allah telah membalas kelaliman Nadab ke atas kepalanya sendiri. Ahikar keluar menuju cahaya, sedangkan Nadab turun ke kegelapan kekal, oleh karena ia telah berusaha membunuh Ahikar. Karena melakukan kebajikan maka Ahikar luput dari jerat maut yang dipasang baginya oleh Nadab. Sedangkan Nadab jatuh ke dalam jerat maut yang juga membinasakannya. (11a) Makanya anak-anakku, camkanlah apa yang dihasilkan oleh sedekah dan apa yang dihasilkan oleh kelaliman.”.
(4) Sirakh 3:3 - “Barangsiapa menghormati bapanya memulihkan dosa.”.
Doktrin ‘Salvation by works’ [= keselamatan karena perbuatan baik] yang sesat / tidak alkitabiah ini jelas bertentangan dengan ayat-ayat di bawah ini:
Ro 3:27-28 - “(27) Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman! (28) Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”.
Gal 2:16a - “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.”.
Gal 2:21b - “... sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.”.
Ef 2:8-9 - “(8) Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, (9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”.
b) Gereja-gereja Pentakosta / Kharismatik yang mengajar berdasarkan pengalaman, nubuat, Tuhan bicara, dsb.
Catatan: ajaran dari kalangan Pentakosta / Kharismatik tidak seragam, jadi tidak semua mereka mengajar seperti ini. Tetapi jelas banyak dari mereka yang mengajar seperti ini.
Memang secara sah / resmi mereka hanya mengakui 66 kitab dalam Alkitab kita sebagai Firman Allah, tetapi dalam prakteknya banyak dari mereka yang mengajar berdasarkan hal-hal lain di luar Alkitab, seperti pengalaman, nubuat, Tuhan bicara, mimpi, penglihatan dan sebagainya.
1. Pengalaman.
Memang tidak salah seseorang menyaksikan / mensharingkan apa yang ia alami, asal ia tidak menjadikan hal itu sebagai rumus, seakan-akan semua orang harus mengalami apa yang ia alami.
Pengalaman seseorang hanya boleh dijadikan rumus, yang harus juga dialami oleh orang lain, kalau pengalaman itu mempunyai dasar Kitab Suci. Misalnya Kitab Suci jelas mengajar bahwa orang yang percaya kepada Yesus akan mendapatkan damai / sukacita (Mat 11:28 Yoh 14:27 Gal 5:22). Kalau seseorang bertobat / percaya kepada Yesus, dan ia lalu mengalami damai / sukacita, maka pengalaman itu boleh dijadikan rumus.
Tetapi kalau pengalaman itu tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang mengharuskan terjadinya hal itu, maka mereka hanya boleh mensharingkan pengalaman itu tetapi mereka seharusnya tidak boleh mengharuskan orang-orang lain untuk juga mengalaminya.
Misalnya: seseorang sakit dan berdoa dan lalu sembuh, ini boleh disharingkan tetapi tidak boleh dijadikan rumus, karena Tuhan tidak menjanjikan untuk menyembuhkan semua orang kristen yang sakit. Bahkan dalam Kitab Suci juga ada orang-orang beriman dan saleh yang sakit tetapi tidak disembuhkan, seperti Paulus sendiri dengan duri dalam dagingnya (2Kor 12:7-10).
Tetapi, dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik, ada banyak pengalaman yang tidak mempunyai dasar Kitab Suci yang lalu dijadikan rumus, yang harus dialami oleh semua orang lain. Ini boleh dikatakan menambahi Kitab Suci.
2. Nubuat, Tuhan bicara, dsb.
Dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik juga banyak hal-hal seperti ini, dan banyak dari mereka tetap menerima ‘nubuat’ / ‘suara Tuhan’ itu sekalipun itu tidak sesuai dengan Kitab Suci. Ini jelas juga merupakan penambahan terhadap Kitab Suci.
Catatan: kalau suatu gereja / seorang pendeta menambahi Kitab Suci, maka biasanya gereja / pendeta itu juga akan mengurangi Kitab Suci, yaitu bagian-bagian Kitab Suci yang bertentangan dengan apa yang ditambahkan kepada Kitab Suci oleh gereja / pendeta tersebut. Mungkin bagian-bagian itu bukan dibuang terang-terangan tetapi diabaikan / tidak pernah dibahas.
3) Pengurangan terhadap Alkitab.
Misalnya:
a) Menolak Perjanjian Baru, seperti Yudaisme / agama Yahudi.
b) Mengabaikan Perjanjian Lama.
c) Orang yang mengajar berdasarkan ayat tertentu, tetapi mengabaikan bagian-bagian lain dari Kitab Suci yang bertentangan dengan ajarannya.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali