Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tanggal 24 Januari 2023, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

PELAJARAN IIb

 

KRISTOLOGI(2)

 

(DOKTRIN TENTANG DIRI KRISTUS)

 

7)   Wah 3:14.

Ayat ini menyebut Yesus sebagai ‘permulaan ciptaan Allah’ / ‘the beginning of the creation of God’.

Ayat ini dipakai sebagai dasar oleh para Saksi Yehovah untuk mengajarkan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama dari Allah Bapa.

 

Bantahan:

 

Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan ‘permulaan’ adalah ARCHE. Kata ARCHE ini mempunyai banyak arti seperti:

·        beginning (= permulaan / mulanya). Arti ini diambil dalam Yoh 1:1.

·        ruler / chief (= pemerintah / kepala).

·        origin (= asal usul).

·        source (= sumber).

 

Bagian ini tidak boleh diartikan bahwa Yesus adalah ciptaan pertama, karena ini berarti Yesus bukan Allah, dan ini akan bertentangan dengan banyak ayat Kitab Suci yang lain.

 

Kita bisa mengambil arti ke 2, yaitu ruler / chief, seperti terjemahan NIV. NIV menterjemahkan Wah 3:14 - ‘the ruler of God’s creation’ (= pemerintah / kepala dari ciptaan Allah). Terjemahan ini tidak menunjukkan Yesus sebagai ciptaan dari Allah, tetapi sebagai pemerintah / kepala dari ciptaan Allah!

 

Atau bisa juga kita mengambil arti ke 3 atau ke 4. Dengan demiki­an Wah 3:14 ini menunjukkan Yesus sebagai ‘sumber’ dari ciptaan Allah, atau ‘asal mula’ dari ciptaan Allah. Jadi, Allah mencipta segala sesuatu melalui Yesus (bdk. Yoh 1:3  Ibr 1:2b), dan dengan demikian Wah 3:14 ini tidak menunjukkan Yesus sebagai ciptaan Allah, tetapi sebaliknya, sebagai Pencipta!

 

Dalam komentarnya tentang Wah 3:14, William Barclay berkata:

“This phrase, as it stands in English, is ambiguous. It could mean, either, that Jesus was the first person to be created or that he began the process of creation, .... It is the second meaning which is intended here. The word for beginning is ARCHE. In early Christian writings we read that Satan is the arche of death, that is to say, death takes its origin in him; and that God is the arche of all things, that is, all things find their beginning in him.” (= Ungkapan ini dalam bahasa Inggris berarti ganda. Ungkapan ini bisa diartikan bahwa Yesus adalah pribadi pertama yang diciptakan, atau bahwa Ia memulai proses penciptaan, ... Adalah arti kedua yang dimaksudkan di sini. Kata untuk permulaan / mulanya adalah ARCHE. Dalam tulisan kristen kuno kita membaca bahwa Setan adalah ARCHE dari kematian, arti­nya, kematian punya asal mula di dalam dia; dan bahwa Allah adalah ARCHE dari segala sesuatu, artinya, segala sesuatu menda­patkan permulaannya dalam Dia.) - hal 140-141.

 

8)   Amsal 8:22-25.

Banyak orang berpendapat bahwa ‘hikmat’ dalam Amsal 8 adalah Yesus sendiri. Para Saksi Yehovah lalu menggunakan Amsal 8:22-25 ini untuk mengatakan bahwa Yesus bukan Allah, karena:

a)   Amsal 8:22 mengatakan bahwa hikmat itu dicipta.

b)   Amsal 8:23 mengatakan bahwa hikmat itu dibentuk.

c)   Amsal 8:24-25 mengatakan bahwa hikmat itu dilahirkan.

Semua ini oleh mereka dianggap sebagai bukti bahwa Yesus tidak kekal, dan karena itu Yesus bukan Allah.

 

Bantahan:

 

Dalam bagian ini Kitab Suci bahasa Indonesia mengandung beberapa kesalahan penterjemahan.

 

Catatan:

Dalam buku-buku Saksi Yehovah terlihat bahwa mereka sering sengaja memilih versi Kitab Suci yang terjemahannya salah untuk mendukung pandangan mereka! Karena itu, setiap kali mereka meng­gunakan ayat Kitab Suci dari versi tertentu untuk mendukung pandangan mereka, maka kita harus memeriksa versi-versi Kitab Suci yang lain, bahkan kalau bisa kita harus memeriksa bahasa aslinya.

 

a)   Amsal 8:22 - “TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaanNya, sebagai perbuatanNya yang pertama-tama dahulu kala.”.

 

Kata bahasa Ibrani yang diterjemahkan ‘telah menciptakan aku’ adalah QANANI, yang berasal dari kata dasar QANAH, yang sekalipun bisa diterjemahkan to create (= mencipta), tetapi juga mempunyai bermacam-macam arti yang lain, seperti:

1.   to get (= mendapatkan).

2.   to acquire (= mendapatkan).

3.   to erect (= menegakkan).

4.   to found (= mendirikan).

5.   to form (= membentuk).

6.   to buy (= membeli).

7.   to posses (= memiliki).

 

Dari ke empat terjemahan bahasa Inggris yang paling populer, hanya RSV yang menterjemahkan ‘created’ (= menciptakan), sedang­kan KJV / NASB / NIV menterjemahkan ‘possesed’ (= memiliki).

 

NIV: The LORD possessed me at the beginning of his work, before his deeds of old (= TUHAN memiliki aku pada permulaan pekerjaan­Nya, sebelum tindakan-tindakanNya pada jaman dahulu).

 

Terjemahan dari NIV ini (dan juga terjemahan KJV dan NASB) jelas sama sekali tidak menunjukkan bahwa Yesus itu dicipta.

 

Derek Kidner, penulis buku Tafsiran Amsal dari seri Tyndale, dalam komentarnya tentang Amsal 8:22 ini, mengatakan bahwa kata QANAH ini keluar 84 kali dalam Perjanjian Lama, dan hanya 6 atau 7 kali yang memungkinkan diartikan ‘mencipta’, yaitu dalam Kej 14:19,22  Kel 15:16  Ul 32:6  Maz 74:2  Maz 139:13  Amsal 8:22. Tetapi ia lalu menambahkan bahwa dalam ayat-ayat itupun kata ini tidak harus diterjemahkan ‘mencipta’.

 

Perlu juga diketahui bahwa bahasa Ibrani mempunyai kata lain yang artinya betul-betul adalah to create (= mencipta), yaitu BARA, seperti yang digunakan dalam Kej 1:1. Kalau memang yang dimaksud di sini adalah ‘mencipta’ mengapa tidak digunakan kata BARA itu?

 

b)   Amsal 8:23 - “Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada.”.

Kata Ibrani yang diterjemahkan ‘aku dibentuk’ adalah NISSAKTI yang arti sebenarnya adalah ‘I was appointed’ (= aku ditentukan / ditetapkan).

 

NIV: I was appointed from eternity, from the beginning, before the world began (= Aku telah ditetapkan sejak kekekalan, dari semula, sebelum dunia ada).

 

Terjemahan ini lagi-lagi tidak menunjukkan bahwa Yesus itu dicip­ta / dibuat.

 

Disamping itu dalam Yes 43:10b Yahweh berkata: “Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi.”. Karena itu, penafsiran Saksi Yehovah yang menafsirkan bahwa Amsal 8:23 mengatakan bahwa Yesus dibentuk oleh Allah, jelas bertentangan dengan ayat ini.

 

c)   Amsal 8:24-25 - “(24) Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. (25) Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir;”.

 

Bahwa ‘Yesus dilahirkan’ tidak terlalu menimbulkan persoalan. Ini memang tak mungkin menunjuk pada kelahiran Yesus sebagai manusia, karena dalam ayat itu dikatakan bahwa kelahiran itu terjadi ‘sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air, sebelum gunung-gunung tertanam, dan lebih dahulu dari bukit-bukit’. Jadi, kelah­iran ini menunjuk pada ‘The Eternal Generation of the Son’ (lihat no 5 di atas) dan ini tidak bisa dijadikan dasar bahwa Yesus bukan Allah.

 

9)   1Kor 11:3 dan 1Kor 15:28.

Ini digunakan untuk menunjukkan bahwa Kristus lebih rendah dari Allah Bapa, karena dikatakan bahwa ‘Kepala dari Kristus ialah Allah’ dan ‘Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diriNya di bawah Dia (Allah)’.

 

Bantahan:

 

Dalam kedua ayat tersebut, Kristus ditinjau sebagai Allah yang berinkarnasi menjadi manusia, atau sebagai Pengantara antara Allah dan manusia. Pada waktu menjadi manusia / Pengantara, Kristus memang merendahkan diri dan menaklukkan diri kepada Allah (bdk. Fil 2:5-8). Jadi kedua ayat inipun tidak berarti Yesus lebih rendah dari Allah Bapa.

 

10)Ibr 5:8.

Ayat ini mengatakan bahwa Yesus ‘belajar menjadi taat’ dan ini dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa Yesus terbatas dalam pengetahuan, karena Ia membutuhkan ‘belajar’!

 

Bantahan:

 

a)   Disini lagi-lagi para Saksi Yehovah menggunakan ayat yang menekankan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah! Ini penggunaan ayat Kitab Suci secara salah!

 

b)   Kalau Yesus dikatakan ‘belajar menjadi taat’ itu berarti bahwa Ia mendapatkan pengalaman ketaatan. Jadi, ini tidak berhubungan dengan pengetahuan.

 

11)Mat 20:23.

Ayat ini menunjukkan bahwa Yesus tidak berhak memberikan tempat di sebelah kanan dan kiriNya nanti. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa telah menyediakannya.

 

Berdasarkan ayat ini para Saksi Yehovah lalu mengatakan:

“Jika Yesus adalah Allah yang Mahakuasa, ia berhak memberikan kedudukan tersebut. Namun Yesus tidak  dapat melakukan itu, karena ini adalah hak Allah, dan Yesus bukan Allah.” - ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 18.

 

Bantahan:

 

Ada 2 kemungkinan menafsirkan ayat ini:

 

a)   Ayat ini memang menyatakan bahwa hanya Bapa yang berhak menen­tukan tempat di surga, sedangkan Yesus tidak mempunyai hak tersebut. Kalau kita memilih pandangan ini, maka tentu saja itu berarti bahwa Yesus berbicara tentang diriNya seba­gai manusia, bukan sebagai Allah!

 

b)   Ayat ini menunjukkan bahwa Bapa telah menentukan tempat / kedudukan di surga. Selanjutnya ayat ini berkata bahwa Yesus tidak berhak mengubah ketentuan Bapa itu. Untuk itu perlu saudara ketahui bahwa Allah Bapa sendiripun tidak mungkin mengubah ketentuan / rencana yang sudah Ia buat sejak kekekalan itu (Bil 23:19  1Sam 15:29  Maz 33:11). Bisakah saudara membayangkan Allah yang maha tahu, maha bijaksana, dan maha kuasa itu mengubah-ubah rencanaNya seakan-akan Ia adalah manusia yang terbatas?

Dengan penjelasan ini, maka jelas bahwa ayat ini tidak menunjukkan bahwa Yesus lebih rendah dari Allah.

 

C) Bukti-bukti keilahian Kristus:

 

1)   Kitab Suci secara explicit mengatakan demikian (Yes 9:5  Yoh 1:1  Roma 9:5  Fil 2:5b-7  Titus 2:13  Ibr 1:8  2Pet 1:1  1Yoh 5:20).

Beberapa dari ayat-ayat ini cukup mudah dan bisa saudara baca dan mengerti sendiri, tetapi beberapa yang lain agak sukar dan akan saya jelaskan di bawah ini:

 

a)         Yoh 1:1.

Kata ‘Firman’ (Yunani: LOGOS) disini jelas menunjuk kepada Yesus. Ini terlihat dari Yoh 1:14a yang mengatakan bahwa ‘Firman itu telah menjadi manusia’ dan dari Yoh 1:14b yang menyebutNya seba­gai ‘Anak tunggal Allah’.

Dan Yoh 1:1 ini secara explicit mengatakan bahwa Firman / Yesus itu adalah Allah.

 

b)   Tit 2:13 (NIV): while we wait for the blessed hope - the glorious appearing of our great God and Savior, Jesus Christ (= sementara kita menantikan pengharapan yang mulia - penampilan yang mulia dari Allah kita yang besar dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).

Jadi terlihat dengan jelas bahwa disini Yesus Kristus disebut dengan sebutan ‘our great God and Savior’ (= Allah kita yang besar dan Juruselamat kita).

 

c)   Fil 2:6-7 berbunyi sebagai berikut: “... Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”.

 

Sebetulnya istilah ‘dalam rupa Allah’ dan ‘kesetaraan dengan Allah’ sudah secara jelas menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah. Tetapi disini akan dijelaskan hal-hal lain sehingga ayat ini menjadi dasar yang lebih kuat lagi bagi keilahian Kristus.

 

1.   Kata-kata ‘walaupun dalam rupa Allah’ dalam Fil 2:6 diterjemah­kan ‘being in the form of God’ oleh KJV.

Kata ‘being’ itu dalam bahasa Yunani adalah HUPARCHON dan ini menggambarkan seseorang sebagaimana adanya secara hakiki dan hal itu tak bisa berubah (‘It describes that which a man is in his very essence and which cannot be changed’).

Ketidak-bisa-berubahan ini ditunjukkan oleh bentuk present participle dari kata HUPARCHON itu.

Ini aneh dan kontras sekali dengan penggunaan bentuk-bentuk aorist (= past / lampau) pada kata-kata setelahnya, dan ini menunjuk pada ‘continuance of being’ (= keberadaan yang terus-menerus).

Karena itu, kalau dikatakan bahwa Yesus itu ‘being in the form of God’, maka itu berarti bahwa Yesus adalah Allah dan ini tak bisa berubah.

Allah memang mempunyai sifat tidak bisa berubah (Mal 3:6  Maz 102:26-28  Yak 1:17), karena kalau Ia bisa berubah, itu menunjukkan Ia tidak sempurna!

 

2.   Juga kalau ay 7 yang mengatakan ‘mengambil rupa seorang hamba’ diartikan bahwa Yesus betul-betul menjadi manusia, maka konsek­wensinya, ay 6 yang mengatakan bahwa Yesus ada ‘dalam rupa Allah’ haruslah diartikan bahwa Yesus betul-betul adalah Allah.

 

3.   Disamping itu kata ‘rupa’ dalam ay 6 itu (KJV: form) dalam bahasa Yunaninya adalah MORPHE, dan seorang penafsir mengatakan bahwa kata MORPHE ini adalah ‘not a mere external resemblance, but a deep, real, inner conformity’ (= bukan semata-mata suatu kemiripan lahiriah / luar, tetapi suatu persesuaian / kecocokan di dalam yang mendalam dan sungguh-sungguh).

 

d)   2Pet 1:1 (NASB): “... by the righteousness of our God and Savior, Jesus Christ” (= oleh kebenaran Allah dan Juruselamat kita, Yesus Kristus).

Jadi disini Yesus disebut dengan istilah ‘Allah dan Juruselamat kita’.

 

2)   Kitab Suci memberikan nama-nama ilahi untuk Yesus (Yes 9:5  Yer 23:5-6  Yer 33:14-16  Mat 1:23  2Tim 1:10  Ibr 1:8,10).

 

a)   Yes 9:5 jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, dan dalam ayat itu Ia disebut sebagai ‘Allah yang perkasa’ (Ibrani: EL GIBOR).

 

b)   Yer 23:5-6 dan Yer 33:14-16 juga jelas merupakan nubuat tentang Yesus Kristus, dan dalam ayat-ayat itu Ia disebut sebagai ‘TUHAN keadilan’, dimana kata ‘TUHAN’ tersebut dalam bahasa Ibraninya adalah YAHWEH / YEHOVAH.

 

Catatan: Perlu diketahui bahwa dalam Perjan­jian Lama, kata ‘Tuhan’ berasal dari kata bahasa Ibrani ADONAY, sedangkan kata ‘TUHAN’ (semua dalam huruf besar) berasal dari kata bahasa Ibrani YAHWEH / YEHOVAH.

 

Ini adalah ayat-ayat yang sangat penting dalam menghadapi para Saksi Yehovah karena di dalam ayat-ayat ini Yesus Kristus disebut dengan sebutan YAHWEH / YEHOVAH!

 

Juga perlu diketahui bahwa dalam Kitab Suci istilah bahasa Ibrani ‘ADONAY’ (= Tuhan / Lord) bisa digunakan untuk seseorang yang bukan Allah (Misalnya dalam Yes 21:8). Demikian juga dengan istilah bahasa Ibrani ‘ELOHIM’ [= Allah / God(s)], atau istilah bahasa Yunani ‘THEOS’ (= Allah), atau istilah bahasa Yunani ‘KURIOS’ (= Tuhan), bisa digunakan untuk menunjuk kepada dewa dan bahkan manusia (Misalnya: Kel 4:16  Kel 7:1  Kel 12:12  Kel 20:3,23  Hakim 16:23-24  1Raja 18:27  Maz 82:1,6  Kis 28:6).

 

Tetapi sebutan ‘YAHWEH / YEHOVAH’ (= TUHAN / LORD) tidak pernah digunakan untuk siapapun selain Allah (bdk. Maz 83:19), karena YAHWEH / YEHOVAH adalah nama dari Allah! Dan karena itu kalau dalam Yer 23:5-6 dan Yer 33:14-16 Yesus disebut dengan sebutan ‘YAHWEH / YEHOVAH’, maka tidak bisa tidak hal ini menunjuk­kan bahwa Yesus adalah Allah sendiri!

 

c)   Dalam Mat 1:23 Yesus disebut dengan istilah Immanuel, yang artinya adalah God with us (= Allah dengan / beserta kita).

 

d)   Dalam 2Tim 1:10 Yesus disebut dengan istilah ‘Juruselamat’. Dilihat sepintas lalu, ini tak membuktikan bahwa Ia adalah Allah. Tetapi perlu diketahui bahwa dalam Perjanjian Lama, sebutan ‘Juruselamat’ dan ‘Penebus / Penolong’ merupakan gelar ilahi yang menunjuk kepada Allah (Yes 43:3,11  Yes 45:15  Yer 14:8  Hos 13:4). Sedangkan dalam Perjanjian Baru, sebutan-sebutan itu ditujukan kepada Yesus (2Tim 1:10  Tit 1:4  Tit 2:13  Tit 3:6  2Pet 1:11  2Pet 2:20  2Pet 3:18). Ini secara implicit (= tidak langsung) menunjukkan bahwa Yesus adalah Allah.

 

e)   Dalam Ibr 1:8,10 Allah menyebut Yesus / Anak dengan sebutan ‘Allah’ dan ‘Tuhan’.

 

3)   Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus mempunyai sifat-sifat ilahi seperti:

 

a)   Kekal (Mikha 5:1b  Yoh 1:1  Yoh 8:58  Yoh 10:10  Yoh 17:5 Ibr 1:11-12  Wah 1:8,17-18  Wah 22:13).

1.   Mikha 5:1b, yang jelas merupakan suatu nubuat tentang Kristus, mengatakan ‘yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala’.

2.   Yoh 1:1 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu sudah ada ‘pada mulanya’.

3.   Yoh 8:58 mengatakan bahwa Yesus sudah ada sebelum Abraham, padahal Abraham hidup lebih dari 2000 tahun sebelum Kristus lahir.

4.   Yoh 10:10, dan banyak ayat Kitab Suci yang lain, mengatakan bahwa Yesus ‘datang’. Ini menunjuk pada saat kelahiran Yesus. Tidak dikatakan ‘dilahirkan’ tetapi ‘datang’, karena ‘datang’ menunjukkan bahwa Ia sudah ada sebelum saat itu.

5.   Yoh 17:5 mengatakan bahwa Yesus memiliki kemuliaan di hadapan hadirat Allah sebelum dunia ada.

6.   Ibr 1:11-12.

Perhatikan kata-kata ‘semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada. ... tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahunMu tidak berkesudahan’.

Bahwa bagian ini menunjuk kepada Yesus adalah sesuatu yang jelas, karena Ibr 1:10-12 merupakan sambungan dari Ibr 1:8-9 (dihubung­kan oleh kata ‘dan’ pada awal Ibr 1:10), dan Ibr 1:8 berkata ‘tentang / kepada Anak’.

7.   Wah 1:8 dan Wah 22:13 menyebut Yesus sebagai ‘Alfa dan Omega’ (huruf pertama dan terakhir dalam abjad Yunani), dan Wah 1:17 dan Wah 22:13 mengatakan bahwa Ia adalah ‘Yang Awal dan Yang Akhir’, dan Wah 22:13 juga mengatakan bahwa Yesus adalah ‘Yang pertama dan Yang terkemudian’, dan semua ini jelas menunjukkan bahwa Ia ada dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Lalu Wah 1:18 mengatakan bahwa Ia ‘hidup sampai selama-lamanya’.

 

b)         Suci / tak berdosa (2Kor 5:21  Ibr 4:15).

 

c)         Mahakuasa.

Yesus berulangkali menyembuhkan orang sakit, bahkan membangkitkan orang mati, dan juga melakukan mujijat-mujijat lain seperti menenangkan badai, berjalan di atas air, mengubah air menjadi anggur, memberi makan 5000 orang dengan menggunakan 5 roti dan 2 ikan, mengusir setan dsb.

 

Para Saksi Yehovah mengatakan bahwa nabi-nabi dan rasul-rasul juga banyak yang bisa menyembuhkan orang sakit, bahkan membang­kitkan orang mati, dan melakukan mujijat.

 

Tetapi perlu diingat bahwa nabi dan rasul hanya bisa melakukan hal-hal itu karena kehendak dan kuasa dari Tuhan, bukan karena kehendak dan kuasa mereka sendiri. Juga rasul-rasul melakukan mujijat dalam nama Yesus. Misalnya: Petrus menyembuhkan orang lumpuh dengan menggunakan nama Yesus (Kis 3:6). Paulus mengusir setan juga dengan nama Yesus (Kis 16:18). Karena itu, mujijat yang mereka lakukan tidak menunjukkan kemahakuasaan mereka.

Tetapi Yesus melakukan semua itu dengan kehendak dan kuasaNya sendiri (Yoh 5:21b), dan tanpa menggunakan nama siapapun. Contoh: pada waktu Yesus menyembuhkan orang lumpuh (Yoh 5:8), mengusir setan (Mat 8:28-32), Ia tidak menggunakan nama siapapun, tetapi Ia langsung memerintahkan, dan hal itu terjadi. Karenanya itu menunjukkan kemahakuasaanNya!

 

Juga perlu diingat bahwa tidak ada seorang nabi / rasulpun yang bisa menandingi Yesus dalam hal melakukan mujijat, baik dalam hal banyaknya mujijat yang dilakukan, maupun dalam hal hebatnya mujijat yang dilakukan. Ini secara explicit dikatakan oleh Yesus sendiri dalam Yoh 15:24 yang berbunyi sebagai berikut:

 

“Sekiranya Aku tidak melakukan pekerjaan di tengah-tengah mereka seperti yang tidak pernah dilakukan orang lain, mereka tentu tidak berdosa. Tetapi sekarang walaupun mereka telah melihat semuanya itu, namun mereka membenci baik Aku maupun BapaKu.”.

 

d)         Mahatahu (Mat 9:4  Mat 12:25  Yoh 2:24-25  Yoh 6:64).

 

e)         Mahaada.

Kemahaadaan Yesus terlihat dari:

1.   Yoh 1, yang mula-mula menyatakan bahwa Firman / Yesus itu pada mulanya bersama-sama dengan Allah (Yoh 1:1), tetapi lalu menunjukkan bahwa Firman / Yesus itu lalu menjadi manusia dan diam di antara kita (Yoh 1:14). Tetapi anehnya Yoh 1:18 mengatakan bahwa Firman / Yesus itu masih ada di pangkuan Bapa [Yoh 1:18 (NIV): “... but God the only Son, who is at the Father’s side ...”].

2.   Janji-janji yang Ia berikan dalam Mat 18:20, Mat 28:20b dan Yoh 14:23. Dengan adanya janji seperti itu, kalau Ia tidak mahaada, maka Ia pasti adalah seorang pendusta!

 

f)          Tidak berubah (Ibr 13:8).

 

4)   Kitab Suci menunjukkan bahwa Yesus melakukan pekerjaan-peker­jaan ilahi seperti:

 

a)         Penciptaan (Yoh 1:3,10  Kol 1:16  Ibr 1:2,10).

 

b)         Pengampunan dosa (Mat 9:2-7).

 

c)         Penghancuran segala sesuatu (Ibr 1:10-12).

 

d)         Pembaharuan segala sesuatu (Fil 3:21  Wah 21:5).

 

e)         Penghakiman pada akhir jaman (Mat 25:31-32  Yoh 5:22,27).

Bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman, menunjukkan bahwa Ia juga adalah Allah sendiri. Mengapa? Karena jumlah manu­sia yang pernah hidup di dunia mulai jaman Adam sampai saat kedatangan Kristus yang keduakalinya adalah begitu banyak. Kalau Yesus bukan Allah, bagaimana Ia bisa menghakimi begitu banyak manusia dengan adil?

 

Dan disamping itu:

 

1.   Ada begitu banyak faktor yang harus dipertimbangkan dalam menjatuhkan hukuman kepada setiap orang berdosa (ingat bahwa neraka bukanlah semacam ‘masyarakat komunis’ dimana hukuman semua orang sama), seperti:

a.   Banyaknya dosa yang dilakukan seseorang. Orang yang dosanya lebih banyak, tentu hukumannya juga lebih berat.

b.   Tingkat dosanya.

Misalnya, dosa membunuh dan mencuri tentu tidak sama hukumannya (bdk. Kel 21:12  dan Kel 22:1).

c.   Tingkat pengetahuannya.

Makin banyak pengetahuan Firman Tuhan yang dimiliki seseorang, makin berat hukumannya kalau ia berbuat dosa (Luk 12:47-48).

d.   Kesengajaannya.

Dosa sengaja dan tidak sengaja tentu juga berbeda hukumannya (Kel 21:12-14).

e.   Pengaruh dosa yang ditimbulkan.

Kalau seseorang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam gereja berbuat dosa, maka pengaruh negatif yang ditimbulkan akan lebih besar dari pada kalau orang kristen biasa berbuat dosa. Dan karena itu hukumannya juga lebih berat. Hal ini bisa terlihat dari kata-kata Yesus yang menunjukkan bahwa para ahli Taurat pasti akan menerima hukuman yang lebih berat (Mark 12:40b  Luk 20:47b).

f.    Apa yang menyebabkan seseorang berbuat dosa.

Seseorang yang mencuri tanpa ada pencobaan yang terlalu berarti tentu lebih berat dosanya dari pada orang yang mencuri karena membutuhkan uang untuk mengobati anaknya yang hampir mati. Hal ini bisa terlihat dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengecam orang-orang yang melakukan dosa tanpa sebab / alasan, seperti dalam Maz 35:19  Maz 69:5  Maz 119:78,86. Juga dari ayat-ayat Kitab Suci yang mengecam orang yang mencintai / mencari dosa, seperti Maz 4:3.

 

2.   Demikian juga pada saat mau memberi pahala kepada orang-orang yang benar, pasti ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.

 

Untuk bisa melakukan semua ini dengan benar dan adil, maka Hakim itu haruslah seseorang yang mahatahu, mahabijaksana dan mahaadil,  dan karena itu Ia harus adalah Allah sendiri!

 

Karena itu adalah sesuatu yang aneh kalau ada orang-orang yang percaya bahwa Yesus akan menjadi Hakim pada akhir jaman, tetapi tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah sendiri!

 

5)   Kitab Suci memberikan kehormatan ilahi kepada Yesus seperti:

a)         Penghormatan.

Kita diperintahkan untuk menghormati Yesus sama seperti kita menghormati Bapa (Yoh 5:23).

b)         Kepercayaan.

Kita diperintahkan untuk percaya kepada Allah dan kepada Yesus (Yoh 14:1).

c)         Pengharapan.

Kita diperintahkan untuk berharap kepada Yesus (1Kor 15:19), padahal firman Tuhan juga berkata bahwa kita tidak boleh berharap kepada manusia (Yes 31:1  Yer 16:5-7). Jadi jelaslah bahwa Yesus bukanlah hanya semata-mata manusia biasa, tetapi juga adalah Allah sendiri.

d)   Penyejajaran namaNya dengan pribadi-pribadi lain dari Allah Tritunggal (Mat 28:19  2Kor 13:13).

Memang bahwa ada 3 nama yang ditulis berjejeran, tidak membuktikan bahwa ketiga orang itu setingkat. Misalnya: presiden Jokowi berbicara dengan si A dan si B. Maka belum tentu si A dan si B juga adalah presiden / kepala negara.

Tetapi perlu diingat bahwa dalam Mat 28:19 itu ketiga nama itu dijejerkan bukan dalam sembarang peristiwa, tetapi dalam sesuatu yang sakral, yaitu dalam formula baptisan. Kalau ketiga nama itu tidak setingkat, itu sama mustahilnya seperti mengadakan suatu Konperensi Tingkat Tinggi, yang dihadiri oleh Presiden Amerika, Kaisar Jepang, dan seorang Lurah dari Indonesia!

 

6)   KesatuanNya dengan Bapa seperti yang dinyatakan oleh ayat-ayat seperti Yoh 10:30 dan Yoh 14:7-11, jelas menunjukkan keilahian Yesus.

Para Saksi Yehovah menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan ‘satu’ dalam Yoh 10:30 adalah bahwa Yesus dan Bapa itu satu dalam tujuan dan pikiran. Ini terlihat dari kutipan di bawah ini, yang saya ambil dari buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 24, yang berbunyi sebagai berikut:

“Ayat itu, dalam Yohanes 10:30, sering dikutip untuk mendukung Tritunggal, meskipun pribadi ketiga tidak disebutkan di sana. Tetapi Yesus sendiri menunjukkan apa yang ia maksud dengan menjadi ‘satu’ dengan Bapa. Dalam Yohanes 17:21,22, ia berdoa kepada Allah agar murid-muridnya ‘semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita,...supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu.’ Apakah Yesus berdoa agar semua murid-muridnya menjadi satu kesatuan tunggal? Tidak, Yesus jelas berdoa agar mereka dipersatukan dalam pikiran dan tujuan, seperti halnya dia dan Allah.”.

 

Tetapi argumentasi ini dengan mudah bisa kita patahkan dengan membaca Yoh 10:30 ini terus sampai dengan Yoh 10:33. Maka akan terlihat bahwa setelah Yesus mengucapkan Yoh 10:30 itu, orang-orang Yahudi menjadi marah dan mau melempariNya dengan batu (Yoh 10:31). Yesus lalu bertanya apa sebabnya mereka mau melempariNya dengan batu (Yoh 10:32). Dan orang-orang Yahudi itu menjawab dalam Yoh 10:33 sebagai berikut: “... karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.”.

Jadi jelas bahwa orang-orang Yahudi itu tahu dengan jelas bahwa yang Yesus maksudkan pada waktu Ia berkata bahwa Ia dan Bapa adalah satu, bukanlah bahwa Ia dan Bapa itu satu dalam pikiran dan tujuan, tetapi bahwa Ia adalah sama dengan Allah sendiri.

 

7)   Yesus sendiri mengakui bahwa Ia adalah Allah / Anak Allah (Yoh 5:23  Yoh 10:30  Yoh 14:7-10  Yoh 15:23  Mat 26:63-64).

Memang kalau seseorang mengaku bahwa dirinya adalah Allah / Anak Allah, itu tidak / belum berarti bahwa ia memang betul-betul adalah Allah. Tetapi Yesus bukan hanya mengaku bahwa diriNya adalah Allah / Anak Allah, tetapi Ia juga rela mati demi penga­kuan tersebut!

 

Ada seorang penulis buku yang menggunakan hal ini untuk membuktikan keilahian Yesus dengan cara sebagai berikut:

 

 

                                           Yesus = Allah / Anak Allah

 

  

 

 


 

           Tidak benar                                                               Benar

 

 

 

 


 

Tahu                                        Tidak tahu

 

 

 

Pendusta                               Orang gila                           Allah / Anak Allah

dan tolol

 

Keterangan:

Yesus mengaku sebagai Allah / Anak Allah, dan ia mau mati untuk pengakuan itu. Ada 2 kemungkinan tentang pengakuan itu, yaitu: TIDAK BENAR atau BENAR.

Kalau pengakuan itu TIDAK BENAR, maka ada 2 kemungkinan lagi: Yesus TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar, atau Yesus TIDAK TAHU bahwa pengakuanNya tidak benar.

Kalau Yesus tahu bahwa pengakuannya tidak benar, maka Ia pasti adalah seorang PENDUSTA, bahkan ORANG TOLOL (karena Ia mau mati untuk suatu dusta).

Kalau Yesus tidak tahu bahwa pengakuanNya tidak benar, maka Ia pasti adalah ORANG GILA, karena hanya orang gila yang tidak mengerti apa yang Ia sendiri katakan.

Kalau pengakuan Yesus tersebut adalah BENAR, maka Yesus adalah ALLAH / ANAK ALLAH.

 

Jadi sekarang hanya ada beberapa pilihan untuk saudara:

a)         Yesus adalah seorang pendusta / orang tolol.

Kitab Suci jelas tidak pernah menunjukkan Yesus sebagai pendusta, karena kata-kataNya selalu benar. Kitab Suci juga tidak menunjukkan Yesus sebagai orang tolol, karena Kitab Suci justru menunjukkan bahwa Ia selalu bisa menjawab pertanyaan tokoh-tokoh agama Yahudi dengan jitu, dan mengalahkan mereka dalam setiap perdebatan.

b)         Yesus adalah orang gila.

Ini lagi-lagi tidak mungkin karena kalau Ia adalah orang gila, Ia tidak akan diikuti oleh begitu banyak orang. Dan juga kalau Ia memang adalah orang gila, Ia tidak akan dihukum mati karena menghujat Allah. Para tokoh Yahudi itu pasti tidak akan menggubris kata-kata dari orang gila.

c)         Yesus betul-betul adalah Anak Allah / Allah sendiri.

 

Yang mana dari ketiga pilihan di atas ini yang saudara pilih? Ingat, saudara tidak punya pilihan lain! Kalau saudara tidak mau mempercayai Yesus sebagai Allah, maka saudara harus mempercayai Dia sebagai pendusta, orang tolol, atau orang gila!

 

C. S. Lewis berkata: “A man who was merely a man and said the sort of things Jesus said wouldn’t be a great moral teacher. He’d either be a lunatic ... or else he’d be the Devil of Hell. You must make your choice. Either this man was, and is, the Son of God, or else a madman or something worse.” (= seseorang yang adalah semata-mata seorang manusia dan mengucapkan hal-hal seperti yang Yesus kata­kan, bukanlah seorang guru moral yang agung. Atau Ia adalah seorang gila ... atau Ia adalah Setan / Iblis dari Neraka. Kamu harus menentukan pilihanmu. Atau Orang ini adalah Allah, baik dulu maupun sekarang, atau Ia adalah orang gila atau sesuatu yang lebih jelek lagi.) - ‘Mere Christianity’, hal 55-56.

 

8)   Setan mengakui bahwa Yesus adalah Allah / Anak Allah dan setan tunduk kepada Yesus (Mat 8:28-32).

 

9)   Kitab Suci memerintahkan penyembahan terhadap Yesus.

Dalam Ibr 1:6 Allah sendiri berkata bahwa malaikat-malaikat harus menyembah Anak / Yesus.

 

Yesus sendiri mau disembah dan disebut Tuhan / Allah (Mat 14:33  Mat 28:9,17  Yoh 9:38  Yoh 20:28), padahal Yesus sendiri berkata bahwa kita hanya boleh menyembah Allah (Mat 4:10).

 

Perhatikan juga bahwa:

a)   Rasul-rasul menolak sembah (Kis 10:25-26  Kis 14:14-18).

b)   Malaikatpun menolak sembah, dan berusaha mengalihkan sembah itu kepada Allah (Wah 19:10  Wah 22:8-9).

c)   Herodes dihukum mati oleh Tuhan karena menerima penghormatan ilahi (Kis 12:20-23).

 

Karena itu, kalau Yesus menerima sembah, dan bahkan menerima sebutan Tuhan / Allah bagi diriNya, maka hanya ada 2 pilihan: atau Dia adalah orang yang kurang ajar / nabi palsu, atau Dia adalah Allah sendiri! Yang mana yang saudara pilih?

 

 

-o0o-

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali