(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tanggal 17 Januari 2023, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
PELAJARAN IIa
KRISTOLOGI(1)
(DOKTRIN TENTANG DIRI KRISTUS)
Kalau pada pelajaran yang lalu kita sudah membahas tentang sejarah, tokoh-tokoh dan bahayanya Saksi Yehovah, maka mulai pelajaran ini kita akan membahas doktrin-doktrin Saksi Yehovah, dasar-dasar mereka, bagaimana mematahkan argumentasi mereka, dan juga dasar Kitab Suci / pembelaan berdasarkan Alkitab dari doktrin-doktrin kristen yang mereka serang. Saya akan memulai dengan membahas doktrin tentang diri Kristus (Kristologi) dari para Saksi Yehovah.
A) Ajaran Saksi Yehovah tentang diri Yesus Kristus:
1) Saksi Yehovah tidak mengakui Yesus sebagai Allah yang maha kuasa, tetapi sebagai ‘suatu allah’ (a god), atau ‘allah kecil’, yaitu allah yang lebih rendah dari Allah yang maha kuasa.
Mereka membedakan kebesaran / kekuasaan Yesus sebagai ‘allah yang perkasa’ (a mighty god) dengan kebesaran / kekuasaan Yehovah sebagai ‘Allah yang maha kuasa’ (The Almighty God).
Catatan:
a) Sebetulnya ini jelas merupakan suatu omong kosong. Tidak ada sesuatu / seseorang yang bisa disebut ‘allah kecil’, ‘setengah allah’ dsb. Atau ia adalah Allah (sungguh-sungguh dan sepenuhnya), atau ia sama sekali bukan Allah!
b) Kepercayaan / ajaran akan adanya ‘Allah besar’ dan ‘allah kecil’ ini mirip agama-agama kafir yang mempercayai banyak dewa, dimana dewa yang satu lebih kuat / besar / hebat dari dewa yang lain.
2) Yesus adalah ciptaan pertama / langsung dari Allah yang maha kuasa. Jadi Kristus ada awalnya dan karena itu tidak sekekal BapaNya, dan Kristus lalu menjadi agen aktif dari Allah dalam menciptakan segala sesuatu.
Bahwa ini memang adalah ajaran mereka, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini, yang saya kutip dari buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’:
a) “Jadi melalui pekerja ahli inilah, seolah-olah mitra kerjaNya yang lebih muda, Allah yang Mahakuasa menciptakan semua perkara lain.” (hal 14).
b) “Karena telah diciptakan oleh Allah, Yesus adalah nomor dua dalam hal waktu, kuasa, dan pengetahuan” (hal 14 di tengah-tengah, dalam kotak).
Ini lagi-lagi adalah suatu omong kosong! Hanya Allah yang bisa mencipta. Seseorang / sesuatu yang diciptakan tidak mungkin bisa mencipta!
3) Para Saksi Yehovah juga mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan karena itu jelas bahwa Ia bukanlah Allah sendiri, dan Ia tidak sekekal Allah sendiri / BapaNya.
Kutipan dari ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’:
“Para penganut Tritunggal mengatakan bahwa karena Allah itu kekal, maka Anak Allah juga kekal. Namun bagaimana seseorang bisa menjadi anak dan pada waktu yang sama umurnya setua ayahnya?” (hal 15).
Ini hanya merupakan argumentasi yang semata-mata berdasarkan logika dan bersifat daging, tetapi tidak alkitabiah / tidak punya dasar Alkitab! Tetapi ternyata argumentasi yang bersifat daging ini digunakan untuk mengerti tentang Allah yang adalah Roh! Ini betul-betul merupakan kebodohan yang luar biasa!
B) Ayat-ayat dasar Saksi Yehovah dan bantahannya:
1) Yes 9:5 (dalam Kitab Suci bahasa Inggris - Isaiah 9:6), yang berbunyi: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.”.
Di sini Kristus disebut ‘Allah yang perkasa’, dalam bahasa Inggrisnya ‘mighty God’ (NIV / NASB). Perhatikan bahwa dalam istilah ‘mighty God’ ini tidak digunakan definite article (Catatan: dalam bahasa Inggris, definite article = ‘the’).
Sedangkan sebutan untuk Allah adalah ‘Allah Yang Mahakuasa’, dalam bahasa Inggrisnya ‘The Almighty God’, dan dalam bahasa Ibraninya adalah EL SHADDAY. Contoh: Kej 17:1.
Hal ini dijadikan dasar oleh para Saksi Yehovah untuk mengatakan bahwa Yesus lebih rendah dari Allah, atau bahwa Yesus adalah ‘allah kecil’.
Bantahan:
a) Dalam bahasa Ibraninya, baik Yes 9:5 maupun Kej 17:1, kata ‘Allah’ sama-sama tidak menggunakan definite article, karena memang dalam bahasa Ibraninya, kata ‘Allah’ tidak memerlukan definite article.
b) Yes 10:21 - “Suatu sisa akan kembali, sisa Yakub akan bertobat di hadapan Allah yang perkasa.”.
Dalam Yes 10:21 ini, istilah ‘Allah yang perkasa / mighty God’ dipakai untuk menunjuk kepada Allah / YAHWEH / YEHOVAH. Ini terlihat dengan jelas dari Yes 10:20 - “Tetapi pada waktu itu sisa orang Israel dan orang yang terluput di antara kaum keturunan Yakub, tidak akan bersandar lagi kepada yang mengalahkannya, tetapi akan bersandar kepada TUHAN (YAHWEH), Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tetap setia.”.
Jadi jelaslah bahwa istilah ini tidak menunjuk pada ‘allah kecil’!
Catatan: Kata bahasa Ibrani yang dipakai dalam Yes 9:5 maupun Yes 10:21 adalah persis sama yaitu EL GIBOR.
2) Yoh 1:1 - “In the beginning was the Word, and the Word was with God, and the Word was God” (= Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah).
Saksi Yehovah selalu ingin menterjemahkan bagian terakhir dari Yoh 1:1 sebagai ‘The Word was a god’ (= Firman itu adalah suatu allah).
Alasannya adalah sebagai berikut:
Dalam ayat itu ada 2 x kata God (= Allah). Mereka mengatakan bahwa kata ‘God’ yang pertama dalam bahasa Yunaninya menggunakan definite article (Inggris: the), dan karena itu terjemahan hurufiahnya adalah ‘the God’. Kata ini jelas menunjuk kepada Allah / YAHWEH / YEHOVAH.
Tetapi kata ‘God’ yang kedua tidak mempunyai definite article, dan karena itu menurut mereka ini harus diterjemahkan ‘a god’. Kata ini menunjuk kepada Yesus.
Jadi, ayat ini mereka pakai sebagai dasar untuk mengatakan bahwa Yesus adalah ‘suatu allah’ / ‘allah kecil’, yang lebih rendah dari YAHWEH / YEHOVAH yang adalah Allah yang Mahakuasa.
Bantahan:
a) Ditinjau dari sudut tatabahasa bahasa Yunani kalimat itu terjemahannya memang ‘The Word was God’ bukan ‘The Word was a god’.
Catatan:
1. Kalau saudara ingin mempelajari hal ini dengan lebih mendalam melalui tatabahasa bahasa Yunani, bacalah peraturan yang dikeluarkan oleh E. C. Colwell (seorang sarjana bahasa Yunani) tentang hal ini, dalam buku yang ditulis oleh James Hope Moulton dan Nigel Turner yang berjudul A Grammar of New Testament Greek, vol III, hal 182-184.
2. Peraturan dari E. C. Colwell ini diketahui dan disebutkan oleh para Saksi Yehovah dalam buku ‘Haruskah anda percaya kepada Tritunggal?’, hal 28.
Tetapi dalam buku itu, mereka lalu menambahkan kalimat ini:
“Jadi ia (Colwell) pun mengakui bahwa bila ikatan kalimat menuntut hal itu, para penterjemah dapat menyisipkan kata sandang tidak tentu (Indefinite article) di depan kata benda dalam susunan kalimat sejenis ini. Apakah ikatan kalimatnya menuntut kata sandang tidak tentu dalam Yohanes 1:1? Ya, karena bukti dari seluruh Alkitab menunjukkan bahwa Yesus bukan Allah Yang Mahakuasa. Jadi, yang harus membimbing penerjemah dalam hal-hal seperti itu bukan peraturan tata bahasa dari Colwell yang meragukan, tetapi ikatan kalimatnya.”.
Ini betul-betul merupakan sesuatu yang lucu dan bodoh karena para Saksi Yehovah ingin membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah Yang Mahakuasa dengan menggunakan Yoh 1:1. Tetapi pada waktu mereka menafsirkan Yoh 1:1 itu, mereka menafsirkannya berdasarkan asumsi / anggapan mereka bahwa Yesus bukanlah Allah Yang Mahakuasa. Ini merupakan kebodohan dari orang yang sengaja membutakan dirinya sendiri!
3. Jangan groggy / takut kalau mendengar para Saksi Yehovah menggunakan bahasa Yunani atau Ibrani, karena sebetulnya sama seperti orang kristen awam, para Saksi Yehovahpun tidak mengerti bahasa asli Alkitab. Dan karena sama-sama tidak mengerti bahasa Yunani, apa gunanya berdebat tentang perterjemahan bahasa Yunaninya? Lebih baik ajak mereka melihat 2 ayat pada point b di bawah ini.
b) Tit 2:13 dan Ibr 1:8 secara explicit menyebut Yesus sebagai Allah, dan dalam 2 ayat ini, kata ‘Allah’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan definite article (Inggris: the).
Untuk kata ‘Allah’ dalam Tit 2:13 digunakan kata bahasa Yunani TOU THEOU, sedangkan untuk kata ‘Allah’ dalam Ibr 1:8 digunakan kata bahasa Yunani HO THEOS, dimana kata TOU dan HO adalah definite article. Karena itu jelaslah bahwa kata itu tidak bisa diterjemahkan ‘a god’.
Kalau Yoh 1:1 diterjemahkan ‘the Word was a god’, itu akan bertentangan dengan Tit 2:13 dan Ibr 1:8. Bagaimana mungkin Kitab Suci di bagian yang satu menyebut Yesus sebagai ‘a god’ dan di bagian yang lain menyebut Yesus sebagai ‘the God’?
3) Semua ayat Kitab Suci yang menyebut Yesus sebagai Anak Allah.
Para Saksi Yehovah berpendapat bahwa karena Yesus adalah Anak Allah, maka Ia bukan Allah.
Bantahan:
Ada 2 cara untuk menjawab serangan ini:
a) Ingat bahwa suatu istilah dalam Kitab Suci harus diartikan sesuai dengan pengertian penulisnya / orang jaman itu tentang istilah tersebut, bukan dengan pengertian orang jaman sekarang tentang istilah tersebut.
Tentang istilah ‘Anak Allah’ yang digunakan oleh Yesus terhadap diriNya sendiri, banyak orang menyalahartikan istilah ini, dengan mengatakan bahwa istilah ‘Anak Allah’ menunjukkan bahwa dulu hanya ada Allah saja, yang lalu beranak, dsb. Karena itu jelas bahwa Yesus tidak setua / sekekal BapaNya. Tetapi ini adalah penafsiran yang menggunakan pengertian orang jaman sekarang tentang istilah itu.
Kalau kita melihat pada Yoh 10:33b dan Yoh 5:18b maka akan terlihat dengan jelas bahwa pada jaman itu menyebut diri Anak Allah berarti menganggap diri sehakekat dengan Allah, dan itu adalah sama dengan menyamakan diri dengan Allah atau menganggap diri setara dengan Allah.
Yoh 5:18b - “Ia mengatakan bahwa Allah adalah BapaNya sendiri dan dengan demikian menyamakan diriNya dengan Allah.”.
Catatan: kata Yunani yang diterjemahkan ‘menyamakan’ dalam Yoh 5:18 adalah kata yang sama dengan kata Yunani yang diterjemahkan ‘setara’ dalam Fil 2:6.
Yoh 10:33b - “karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diriMu dengan Allah.’” (bdk. Yoh 10:36b).
KJV: “makest thyself God” [= membuat diriMu sendiri Allah].
b) Yesus disebut Anak Allah karena memang Ia diperanakkan secara kekal oleh Allah. Untuk ini lihat penjelasan tentang doktrin The Eternal Generation of the Son pada no 5 di bawah.
4) Yoh 14:28 dan Mat 24:36.
Kedua ayat ini adalah ayat-ayat favorit dari para Saksi Yehovah yang boleh dikatakan selalu digunakan untuk membuktikan bahwa Yesus lebih rendah dari Allah / Bapa / Yehovah, karena dalam Yoh 14:28 Yesus sendiri secara explicit berkata bahwa BapaNya lebih besar daripada Dia, dan dalam Mat 24:36 Yesus berkata bahwa Ia tidak tahu tentang saat tibanya hari Tuhan / hari kedatanganNya yang keduakalinya.
Bantahan:
a) Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Dalam Kitab Suci ada banyak ayat yang menunjukkan keilahian Yesus, dan juga banyak ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus. Kita tidak boleh menggunakan ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia, dan sebaliknya, kita juga tidak boleh menggunakan ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah.
Tetapi inilah yang justru selalu dilakukan oleh para Saksi Yehovah. Mereka selalu menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah.
Illustrasi:
Saya adalah seorang pendeta, tetapi pada saat yang sama saya juga adalah seorang olahragawan. Kadang-kadang saya memakai toga dan memimpin Perjamuan Kudus, sehingga saya terlihat sebagai pendeta. Tetapi kadang-kadang saya memakai celana pendek, kaos, dan sepatu olah raga, sehingga saya terlihat sebagai olahragawan. Tidak ada orang yang pada waktu melihat saya memakai toga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan olahragawan, dan sebaliknya, waktu melihat saya memakai pakaian olah raga, menganggap itu sebagai bukti bahwa saya bukan pendeta!
Analoginya, karena Yesus adalah Allah dan manusia, maka kita tak boleh menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan keilahian Yesus untuk membuktikan bahwa Ia bukan manusia, atau menggunakan ayat-ayat yang menunjukkan kemanusiaan Yesus (seperti Yoh 14:28 dan Mat 24:36) untuk membuktikan bahwa Ia bukan Allah!
b) Sebelum inkarnasi, Yesus adalah 1 pribadi dengan 1 hakekat / nature, dan karenanya pada saat itu, Ia hanya mempunyai 1 kesadaran / pikiran, yaitu pikiran illahi.
Pada waktu inkarnasi Yesus mengambil human nature (= hakekat manusia) sehingga Ia lalu menjadi 1 pribadi dengan 2 hakekat (hakekat manusia & hakekat illahi). Karena itu, sejak inkarnasi Ia mempunyai 2 macam kesadaran / pikiran, yaitu pikiran illahi dan pikiran manusia. Tetapi hanya salah satu saja dari 2 pikiran / kesadaran itu yang timbul.
Kalau pikiran illahi yang timbul, Ia berkata-kata sebagai Allah, sedangkan kalau pikiran manusia yang timbul, Ia berkata-kata sebagai manusia. Kalau pikiran ilahiNya yang timbul, Ia menjadi mahatahu; sebaliknya kalau pikiran manusiaNya yang timbul, Ia tidak mahatahu.
Baik dalam Yoh 14:28 maupun Mat 24:36, yang timbul adalah pikiran manusiaNya. Pada saat pikiran illahiNya yang timbul, Ia menyejajarkan diriNya dengan Allah BapaNya (ini terlihat misalnya dalam Yoh 10:30 dan Yoh 14:7-11), dan Ia menjadi mahatahu (ini terlihat misalnya dalam Mat 9:4 Mat 12:25 Yoh 2:24-25 Yoh 6:64).
Catatan: Kalau saudara mau mengerti hal ini dengan lebih jelas, bacalah / tontonlah tulisan / video saya tentang Kristologi!
5) Yoh 5:26 dan Yoh 6:57.
Di sini dikatakan bahwa Yesus menerima hidup dari Bapa atau Yesus hidup oleh Bapa. Ini dijadikan dasar oleh para Saksi Yehovah untuk mengatakan bahwa Bapa ada lebih dulu dari pada Yesus dan itu berarti bahwa Yesus tidak sama kekalnya dengan Bapa.
Bantahan:
a) Penafsiran satu ayat tidak boleh menabrak ayat lain dalam Kitab Suci, karena kalau demikian maka itu berarti bahwa Allah berbicara dengan lidah bercabang!
Banyak ayat lain dalam Kitab Suci yang menunjukkan kekekalan Yesus (Yoh 1:1 Yoh 8:58 Ibr 1:11-12 Wah 1:8,18). Jadi, jelas bahwa Yoh 5:26 dan Yoh 6:57 tidak berarti bahwa Bapa ada lebih dulu dari Yesus atau bahwa Yesus tidak sama kekalnya dengan Bapa.
b) Yoh 5:26 dan Yoh 6:57 mempunyai 2 kemungkinan penafsiran:
1. Di sini Yesus berbicara tentang diriNya sebagai manusia. Sebagai manusia, Ia memang menerima hidup dari Bapa.
2. Ayat-ayat ini menunjuk pada doktrin yang disebut ‘The eternal generation of the Son’.
THE ETERNAL GENERATION OF THE SON:
1. Dasar Kitab Suci:
a. Sebutan ‘Bapa’ dan ‘Anak’ dalam Kitab Suci menunjukkan bahwa Bapa memperanakkan Anak.
b. Sebutan ‘Anak Tunggal / The Only Begotten’ (Yoh 1:14,18), dan juga sebutan ‘sulung’ [dalam bahasa Inggrisnya firstborn (= yang dilahirkan pertama)] bagi Yesus (Kol 1:15 Ibr 1:6), menunjukkan bahwa Ia memang diperanakkan.
c. Yoh 5:26 dan Yoh 6:57 mengatakan bahwa Bapa memberikan hidup kepada Anak.
2. Definisi doktrin ini:
‘The eternal generation of the Son’ merupakan suatu tindakan kekal dari Bapa, dimana Bapa secara kekal / terus menerus memperanakkan Anak. Itu bukanlah suatu tindakan yang terjadi hanya pada satu saat di masa lampau, tetapi merupakan suatu tindakan yang sekalipun sudah selesai dilakukan, tetapi tetap dilakukan terus-menerus. Tidak ada saat di mana Bapa tidak melakukan tindakan itu.
Catatan: yang diperanakkan secara kekal itu adalah pribadi Allah Anak, bukan hakekatNya, karena Ia sehakekat dengan Bapa.
Definisi ini penting, karena kalau dikatakan bahwa Bapa memperanakkan Anak pada satu saat di masa yang lampau, maka itu akan menyebabkan:
a. Adanya perubahan dalam diri Allah (dari 1 pribadi menjadi 2 pribadi).
b. Bapa lebih kekal dari Anak / Yesus.
Herman Bavinck: “It is not to be regarded as having been completed once for all in the past, but it is an act eternal and immutable, eternally finished, yet continuing forevermore. As it is natural for the sun to give light and for the fountain to pour forth water, so it is natural for the Father to generate the Son.” (= ini tidak boleh dianggap sebagai sudah terjadi sekali untuk selama-lamanya di masa yang lalu, tetapi ini merupakan suatu tindakan yang kekal dan tidak berubah, diselesaikan secara kekal, tetapi terus berlangsung selama-lamanya. Sebagaimana merupakan sesuatu yang alamiah bagi matahari untuk memberikan sinarnya dan bagi suatu sumber untuk mengeluarkan air, demikian juga adalah sesuatu yang alamiah bagi Bapa untuk memperanakkan Anak.) - ‘The Doctrine of God’, p 309.
Illustrasi / analogi yang dipakai oleh Bavinck di sini adalah sangat penting:
‘Bapa memperanakkan Anak’ merupakan suatu tindakan yang sudah selesai, tetapi terus berlangsung secara kekal. Analoginya adalah matahari yang memancarkan sinarnya. Matahari itu sudah selesai memancarkan sinarnya, tetapi hal itu tetap berlangsung terus menerus. Dengan analogi ini terlihat bahwa sama seperti kita tidak bisa mengatakan bahwa matahari itu ada lebih dulu dari sinarnya (ingat bahwa matahari tanpa sinar tidak bisa disebut sebagai matahari!), maka kitapun tidak bisa mengatakan bahwa Bapa itu lebih kekal dari pada Anak.
W. G. T. Shedd mengutip kata-kata Turretin:
“The Father does not generate the Son either as previously existing, for in this case there would be no need of generation; nor as not yet existing, for in this case the Son would not be eternal; but as coexisting, because he is from eternity in the Godhead.” (= Bapa tidak memperanakkan Anak seakan-akan Anak itu sudah ada sebelumnya, karena dalam hal ini tidak dibutuhkan tindakan memperanakkan itu; juga tidak seakan-akan Anak itu belum ada, karena dalam hal ini Anak itu tidak kekal; tetapi sebagai ada bersama-sama, karena Ia ada di dalam Allah sejak kekekalan.) - ‘Shedd’s Dogmatic Theology’, vol I, hal 293-294.
Dari penjelasan-penjelasan ini terlihat bahwa sekalipun Yesus memang betul-betul diperanakkan oleh Bapa, Ia tetap sama kekalnya dengan Bapa, dan itu membuktikan bahwa Ia memang adalah Allah sendiri!
6) Mark 10:18 Luk 18:19.
Ayat-ayat ini sering dipakai sebagai dasar oleh para Saksi Yehovah untuk mengatakan bahwa Yesus sendiri mengatakan bahwa Dia bukan Allah.
Bantahan:
a) Yesus tidak memaksudkan bahwa Dia bukan Allah dan bahwa Ia tidak pantas disebut baik.
Penafsiran para Saksi Yehovah ini bertentangan dengan banyak ayat-ayat Kitab Suci yang lain, yang jelas mengatakan bahwa Yesus adalah Allah dan Yesus adalah baik dan suci.
b) Dalam Mark 10:18 itu Yesus ingin membetulkan konsep yang salah dari anak muda kaya itu. Orang itu menyebut Yesus sebagai ‘guru’. Jelas ia menganggap Yesus sebagai manusia biasa. Tetapi ia menyebut Yesus ‘baik’. Sebutan ini tidak cocok untuk manusia biasa.
Kata-kata / jawaban Yesus bukannya bertujuan supaya orang muda itu menganggap bahwa Yesus bukan Allah dan bahwa Yesus itu tidak baik, tetapi sebaliknya supaya orang muda itu tahu bahwa Yesus bukan hanya baik, tetapi juga adalah Allah sendiri.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali