(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 6 September 2022, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Luk 7:36-50 - “(36) Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. (37) Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. (38) Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. (39) Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’ (40) Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ‘Katakanlah, Guru.’ (41) ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. (42) Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ (43) Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’ (44) Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi dia membasahi kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. (45) Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. (46) Engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak, tetapi dia meminyaki kakiKu dengan minyak wangi. (47) Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.’ (48) Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’ (49) Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: ‘Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?’ (50) Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: ‘Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!’”.
1) Dari sini terlihat bahwa Yesus adalah Allah sendiri, karena:
a) Yesus mahatahu.
1. Ia tahu hati / pikiran Simon.
Perumpamaan dalam ay 40-50 ini diberikan karena Yesus tahu apa yang Simon katakan dalam hatinya dalam ay 39!
Ay 39: “Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’”.
2. Ia tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan berdosa.
Ini terlihat dari:
a. Ay 41: perempuan itu digambarkan sebagai orang yang berhutang 500 dinar.
b. Ay 47: ‘dosanya yang banyak’.
Penerapan: Mungkin tidak ada orang yang tahu dosa-dosa saudara, tetapi Yesus tahu semua itu! Karena itu bertobatlah sebelum terlambat!
b) Yesus mengampuni dosa (ay 48-50).
Ay 48-50 - “(48) Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’ (49) Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: ‘Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?’ (50) Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: ‘Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!’”.
Hanya Allah yang bisa mengampuni dosa. Tetapi Yesus bisa mengampuni dosa. Ini sudah terbukti dalam Luk 5:17-26, dan ini membuktikan bahwa Ia memang adalah Allah sendiri!
Penerapan: Kalau saudara sadar akan keberdosaan saudara, itu bagus, tetapi belum cukup! Datanglah kepada Yesus dan terimalah Ia sebagai Juruselamat dan Penebus saudara. Ia bisa dan mau mengampuni dosa saudara, betapapun banyaknya dosa saudara!
c) Tindakan kasih perempuan berdosa itu dilakukan sebagai balasan atas pengampunan dosa yang Tuhan berikan kepada dia. Tetapi tindakan kasih itu ia lakukan kepada Yesus, dan Yesus menerimanya! Ini menunjukkan 2 kemungkinan:
1. Yesus adalah orang yang kurang ajar, karena mau menerima sesuatu yang seharusnya diberikan kepada Allah.
2. Yesus memang adalah Allah sendiri.
Yang mana dari 2 kemungkinan ini yang saudara terima?
Penerapan: Yesus bukanlah sekedar orang baik, nabi dsb, tetapi juga adalah Allah sendiri! Kalau saudara tidak percaya, menentang, bersikap acuh tak acuh kepada Yesus, itu berarti saudara tidak percaya, menentang, bersikap acuh tak acuh kepada Allah sendiri!
1. Luk 10:16b - “Barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.’”.
2. Yoh 5:23b - “Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia.”.
3. Yoh 15:23 - “Barangsiapa membenci Aku, ia membenci juga BapaKu.”.
Karena itu, percayalah, ikutlah, kasihilah, sembahlah, taatilah, dan muliakanlah Yesus!
2) Perumpamaan Yesus (ay 41-43).
Ay 41-43 - “(41) ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. (42) Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ (43) Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’”.
a) Ada 2 orang yang berhutang; dan hutang di sini jelas menggambarkan dosa.
Kitab Suci mengatakan tidak ada orang yang tidak berdosa (Ro 3:10-12,23). Karena itu, bagaimanapun baiknya kehidupan saudara, sadarilah bahwa saudara adalah orang yang berdosa!
b) Hutang dari 2 orang ini berbeda; yang satu banyak (500 dinar), yang lain sedikit (50 dinar). Tetapi ada satu hal yang sama, yaitu mereka sama-sama tidak bisa membayar hutangnya (ay 42)!
Matthew Henry: “whether our debt be more or less, it is more than we are able to pay: They had nothing to pay, nothing at all to make a composition with; for the debt is great, and we have nothing at all to pay it with. Silver and gold will not pay our debt, nor will sacrifice and offering, no, not thousands of rams. No righteousness of our own will pay it, no, not our repentance and obedience for the future;” [= apakah hutang kita lebih banyak atau lebih sedikit, itu lebih banyak dari yang bisa kita bayar: Mereka tidak mempunyai apapun untuk membayar, tak ada apapun sama sekali untuk membuat suatu penyelesaian dengannya; karena hutang itu besar, dan kita tidak mempunyai apapun sama sekali untuk membayarnya. Emas dan perak tidak akan membayar hutang kita, juga tidak korban dan persembahan, tidak, bahkan tidak seribu domba jantan. Tidak ada kebenaran dari diri kita sendiri akan / bisa membayarnya, tidak, tidak pertobatan atau ketaatan kita untuk waktu yang akan datang;].
Barnes’ Notes: “Simon, whose life had been comparatively upright, was denoted by the one that owed fifty pence; the woman, who had been an open and shameless sinner, was represented by the one that owed five hundred. Yet neither could pay. Both must be forgiven, or perish. So, however much difference there is among men, yet all need the pardoning mercy of God; and all, without that, must perish.” [= Simon, yang dalam perbandingan mempunyai hidup yang benar / lurus, ditunjukkan oleh orang yang berhutang 50 dinar; sedangkan perempuan itu, yang adalah orang berdosa yang terbuka / terang-terangan dan tidak tahu malu, digambarkan oleh orang yang berhutang 500 dinar. Tetapi tidak ada dari mereka berdua yang bisa membayar. Keduanya harus diampuni, atau binasa. Jadi, betapapun besarnya perbedaan yang ada di antara manusia, tetapi semua orang membutuhkan belas kasihan yang mengampuni dari Allah; dan semua orang, tanpa itu, harus binasa.] - hal 205.
Memang dalam dunia ini, secara relatif ada orang yang dosanya banyak, dan ada orang yang dosanya sedikit. Tetapi tidak ada orang yang bisa membayar hutang dosanya! Apakah saudara adalah orang yang sangat bejat atau orang yang relatif baik, sadarilah satu hal ini: saudara tidak bisa membayar hutang dosa saudara! Perbuatan baik, ibadah, atau apapun juga yang saudara lakukan tidak bisa membayar hutang dosa saudara! Tetapi Kristus sudah mati di atas kayu salib untuk membayar hutang dosa saudara. Karena itu datanglah dan percayalah kepada Dia! Kalau tidak, saudara akan harus membayar hutang saudara di neraka secara kekal!
c) Hutang kedua orang itu dihapuskan (ay 42).
Ay 42: “Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’”.
Kata ‘menghapuskan’ oleh Kitab Suci bahasa Inggris (kecuali NIV) diterjemahkan ‘forgave’ [= mengampuni]. Tetapi kata ‘forgive’ juga bisa diterjemahkan ‘menghapuskan hutang’!
Dalam perumpamaan ini pelepas uang itu bisa menghapuskan hutang kedua orang itu begitu saja / dengan gampang. Tetapi ini tidak bisa diterapkan pada pengampunan dosa yang Tuhan lakukan bagi kita, karena dalam bagian-bagian yang lain dari Kitab Suci dijelaskan bahwa untuk bisa menghapuskan / mengampuni dosa manusia, Allah harus menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus, dan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia. Mengapa harus demikian? Tidak bisakah Allah mengampuni dosa manusia begitu saja (tanpa salib)? Jawabnya adalah tidak bisa, karena kalau Ia melakukan hal itu, maka tuntutan keadilan Allah tidak terpenuhi, dan dengan kata lain Allah itu tidak adil!
Bdk. Nahum 1:2-3a - “(2) TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawanNya dan pendendam kepada para musuhNya. (3a) TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah.”.
Dengan adanya salib, maka terlihat bahwa Allah itu adil (karena Ia menghukum dosa), dan juga bahwa Allah itu kasih (karena Ia sendirilah yang menanggung hukuman itu di kayu salib sehingga kita tidak terkena hukuman itu).
d) Ternyata kasih dari kedua orang itu berbeda (ay 43).
Ay 42b-43: “(42b) Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ (43) Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’”.
Yang tadi hutangnya lebih banyak, sekarang mengasihi dengan kasih yang lebih besar! Ini adalah sesuatu yang logis. Makin besar dosa seseorang, makin besar kasihnya kepada Tuhan pada saat ia mendapatkan pengampunan dosa.
3) Yesus menerapkan perumpamaan itu (ay 44-47).
Ay 44-47 - “(44) Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi dia membasahi kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. (45) Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. (46) Engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak, tetapi dia meminyaki kakiKu dengan minyak wangi. (47) Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.’ (48) Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’”.
a) Yesus membandingkan Simon dengan perempuan itu (ay 44-46).
Ini dimulai dengan pertanyaan: ‘Engkau lihat perempuan ini?’ (ay 44a), dan Yesus lalu membandingkan Simon dan perempuan itu, dan dari bagian ini terlihat beberapa hal:
1. Sekalipun Simon mengundang Yesus dan menyebutNya ‘guru’, tetapi jelas bahwa ia tidak menghormati ataupun mengasihi Yesus. Ia pasti mengundang Yesus dengan motivasi yang salah!
Penerapan: Kalau saudara melakukan suatu tindakan kasih bagi Tuhan, maka perhatikanlah apakah motivasi saudara betul-betul adalah kasih kepada Tuhan? Misalnya kalau saudara pergi ke gereja atau memberikan persembahan; apa motivasi saudara? Karena kebiasaan? Supaya dilihat orang? Supaya diberkati Tuhan atau karena takut dihukum / tidak diberkati Tuhan? Atau betul-betul karena saudara mengasihi Tuhan?
2. Sekalipun Simon menyebut Yesus dengan sebutan ‘guru’, tetapi fakta dalam kehidupannya, atau sikapnya terhadap Yesus, sama sekali tidak sesuai dengan penyebutan ‘guru’ tersebut.
Ada kata-kata indah yang berbunyi:
“You call Me the way but you do not follow Me,
You call Me the light but you do not see Me,
You call Me the teacher but you do not listen to Me,
You call Me the Lord but you do not serve Me,
You call Me the truth but you do not believe in Me,
Do not be surprised if one day I don’t know you.”.
Terjemahannya:
“Engkau menyebut Aku jalan, tetapi engkau tidak mengikut Aku,
Engkau menyebut Aku terang, tetapi engkau tidak melihat Aku,
Engkau menyebut Aku guru, tetapi engkau tidak mendengarkan Aku,
Engkau menyebut Aku Tuhan, tetapi engkau tidak melayani Aku,
Engkau menyebut Aku kebenaran, tetapi engkau tidak percaya kepadaKu,
Jangan kaget, jika suatu hari Aku tidak mengenal kamu.”.
Kontradiksi antara pengakuan di mulut dan kehidupan sehari-hari ini banyak sekali, misalnya:
a. Orang yang mengaku bahwa Allah itu ada, tetapi ia hidup seakan-akan Allah tidak ada (atheis praktis).
b. Orang Kristen / pendeta yang mengaku bahwa Kitab Suci adalah Firman Tuhan, tetapi tidak mempelajarinya ataupun mengajarkannya secara serius.
c. Orang Kristen / pendeta yang mengaku Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga, tetapi tidak memberitakan Injil dan tidak mendorong orang lain untuk memberitakan Injil.
d. Orang Kristen yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan, tetapi tidak melayaniNya / mentaatiNya.
Bandingkan dengan kata-kata Yesus dalam Luk 6:46 - “Mengapa kamu berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”.
Renungkan: adakah kontradiksi antara pengakuan terhadap Yesus dan kehidupan praktis dalam diri saudara?
3. Yesus bukan hanya memperhatikan tindakan kasih yang dilakukan oleh perempuan itu, tetapi juga memperhatikan tindakan kasih yang tidak dilakukan oleh Simon, yaitu:
a. Tidak memberi air pembasuh kaki (bdk. Kej 18:4 24:32 Hakim 19:21).
b. Tidak memberi ciuman (bdk. Kej 29:13 Kel 18:7).
c. Tidak mengurapi kepala dengan minyak (bdk. Maz 23:5).
Leon Morris mengatakan (hal 148) bahwa ‘minyak’ yang tidak diberikan oleh Simon ini (ay 46a) menunjuk pada ‘minyak zaitun’ yang banyak dan murah, dan ini kontras dengan ‘minyak wangi’ yang digunakan oleh perempuan itu (ay 46b), yang menunjuk pada sesuatu yang jarang dan mahal.
Hebatnya, dia merendahkan perempuan itu, sementara dia sendiri tidak melakukan apa-apa untuk Yesus, kecuali yang bersifat munafik!
Matthew Henry: “The reason why some people blame the pains and expense of zealous Christians, in religion, is because they are not willing themselves to come up to it, but resolve to rest in a cheap and easy religion.” [= Alasan mengapa sebagian orang menyalahkan / mengecam usaha dan biaya / ongkos / pengeluaran dari orang-orang Kristen yang bersemangat, dalam agama, adalah karena mereka sendiri tidak mau untuk menyamainya, tetapi memutuskan untuk tinggal dalam suatu agama yang murah dan mudah.].
William Barclay: “When a guest entered such a house three things were always done. The host placed his hand on the guest’s shoulder and gave him the kiss of peace. That was a mark of respect which was never omitted in the case of a distinguished Rabbi. The roads were only dust tracks, and shoes were merely soles held in place by straps across the foot. So always cool water was poured over the guest’s feet to cleanse and comfort them. Either a pinch of sweet-smelling incense was burned or a drop of attar of roses was placed on the guest’s head. These things good manners demanded, and in this case not one of them was done.” [= Pada waktu seorang tamu memasuki rumah seperti itu ada 3 hal yang selalu dilakukan. Tuan rumah meletakkan tangannya pada bahu dari sang tamu, dan memberikannya ciuman damai. Itu merupakan tanda penghormatan yang tidak pernah dihapuskan dalam kasus dari seorang rabi / guru yang terkemuka. Jalan-jalan hanya merupakan jalan-jalan dari tanah, dan sepatu hanya merupakan tapak / alas sepatu yang diikatkan pada kaki. Jadi, air dingin selalu dicurahkan pada kaki tamu untuk membersihkan dan menyegarkannya. Sedikit / sejemput kemenyan / dupa yang berbau wangi dibakar atau setetes minyak wangi dari bunga mawar diberikan pada kepala sang tamu. Hal-hal ini dituntut oleh kelakuan / tatakrama yang baik, dan dalam kasus ini tidak satupun dari hal-hal itu yang dilakukan.] - hal 94.
Penerapan: Jadi, Yesus bukan hanya memperhatikan tindakan kasih yang kita lakukan, tetapi juga tindakan kasih yang tidak kita lakukan (bdk. Mat 25:31-46 dimana ‘kambing-kambing’ itu dihukum karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan).
Karena itu, janganlah terlalu cepat puas dengan hal-hal yang sudah saudara lakukan bagi Tuhan. Pikirkanlah hal-hal lain yang sebetulnya bisa saudara lakukan bagi Tuhan, tetapi selama ini belum / tidak saudara lakukan, dan lakukanlah hal-hal itu!
Misalnya:
(1) Tetap berbakti sekalipun hujan.
(2) Datang secara rajin dalam Pemahaman Alkitab.
(3) Datang secara rajin dalam Persekutuan Doa.
(4) Menaikkan doa syafaat / doa untuk orang lain, baik gereja, pendeta, maupun orang kristen yang lain.
(5) Memberikan persembahan persepuluhan.
(6) Melayani Tuhan.
(7) Memberitakan Injil.
4. Sekalipun Simon sendiri, dan juga mayoritas manusia saat itu, menganggap Simon jauh lebih baik dari perempuan itu, tetapi Yesus beranggapan sebaliknya! Perhatikan supaya saudara jangan dianggap benar oleh orang-orang di sekitar saudara atau oleh saudara sendiri, tetapi dianggap brengsek oleh Tuhan! Yang terpenting adalah pandangan Tuhan tentang diri saudara!
1Kor 4:3-5 - “(3) Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia. Malahan diriku sendiripun tidak kuhakimi. (4) Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan. Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. (5) Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.”.
Bagian yang digaris-bawahi itu salah terjemahan.
NIV: ‘I care very little if I am judged by you or by any human court; indeed, I do not even judge myself. My conscience is clear, but that does not make me innocent. It is the Lord who judges me. Therefore judge nothing before the appointed time; wait till the Lord comes. He will bring to light what is hidden in darkness and will expose the motives of men’s hearts. At that time each will receive his praise from God’ [= Aku tidak terlalu peduli jika aku dihakimi olehmu atau oleh pengadilan manusia; bahkan aku tidak menghakimi diriku sendiri. Hati nuraniku bersih, tetapi itu tidak membuat aku tak berdosa. Tuhanlah yang menghakimi aku. Karena itu jangan menghakimi apapun sebelum waktu yang ditetapkan; tunggulah sampai Tuhan datang. Ia akan menerangi apa yang tersembunyi dalam kegelapan dan menyingkapkan motivasi dari hati manusia. Pada saat itu setiap orang akan menerima pujiannya dari Allah].
b) Dari perbandingan itu, Yesus lalu menyimpulkan (ay 47).
1. Ay 47a: “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.”.
KJV/RSV: ‘Her sins, which are many, are forgiven’ [= Dosa-dosanya yang banyak diampuni].
Calvin: “The verb, which is in the present tense, must, no doubt, be resolved into a preterite.” [= Kata kerjanya, yang ada dalam present tense, tidak diragukan harus diubah menjadi / dimengerti sebagai past tense.] - hal 139.
NIV/NASB menterjemahkan ‘have been forgiven’ [= telah diampuni].
Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:
a. Dosa yang banyak tidak menghalangi pengampunan dari Allah / Yesus.
Calvin mengatakan bahwa kata-kata / jawaban Yesus ini diucapkan bukan sekedar demi Simon, tetapi: “to assure every one of us, that we have no reason to fear lest any sinner be rejected by him, who not only gives them kind and friendly invitations, but is prepared with equal liberality, and - as we might say - with outstretched arms, to receive them all.” [= untuk meyakinkan setiap orang dari kita, bahwa kita tidak mempunyai alasan untuk takut bahwa ada orang berdosa yang ditolak olehNya, yang bukan hanya memberi mereka undangan yang baik dan ramah, tetapi siap dengan kemurahan hati yang sama, dan - seperti yang bisa kami katakakan - dengan tangan yang terbuka, untuk menerima mereka semua.] - hal 136-137.
Bdk. Yoh 6:37 - “Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang.”.
Penerapan: apakah saudara menganggap diri saudara begitu berdosa sehingga Yesus tidak mau menerima saudara? Buanglah jauh-jauh pemikiran sesat dari setan tersebut. Ia berjanji untuk menerima siapapun yang mau datang kepadaNya, betapapun berdosanya orang tersebut.
b. Yesus tidak mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik!
Sekalipun kata-kata ay 47a ini kelihatannya menunjukkan bahwa perempuan itu diampuni karena ia banyak berbuat kasih, tetapi jelas bahwa arti sebenarnya tidaklah demikian. Arti sebenarnya ialah: ia telah diampuni dari dosanya yang banyak, dan karena itu ia banyak berbuat kasih. Mengapa harus ditafsirkan begitu?
(1) Karena seluruh Kitab Suci menentang ajaran ‘salvation by works’ [= keselamatan karena perbuatan baik / ketaatan], yang memang merupakan ajaran sesat! Bandingkan dengan Ef 2:8-9 Gal 2:16,21 Gal 3:1-14 Gal 5:1-6 Ro 3:24,27-28 Kis 15:1-21 Fil 3:9 Ro 9:30-10:3.
(2) Perumpamaan Yesus dalam ay 41-43 itu (khususnya ay 42nya) menunjukkan bahwa hutangnya dihapuskan lebih dulu, barulah orangnya berbuat kasih!
Ay 42: “Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’”.
Ada beberapa hal yang perlu disoroti dari ay 42 ini, yaitu:
(a) Kedua orang tersebut tidak bisa membayar hutangnya.
(b) Lalu hutang mereka dihapuskan dengan cuma-cuma.
RSV: ‘he forgave them both’ [= ia mengampuni mereka berdua].
NIV: ‘he canceled the debts of both’ [= ia membatalkan hutang keduanya].
KJV: ‘he frankly forgave them both’ [= ia mengampuni mereka berdua dengan sungguh-sungguh / cuma-cuma].
Pulpit Commentary mengatakan (hal 178) bahwa kata ‘frankly’ di sini, harus diterjemahkan ‘freely’ [= dengan cuma-cuma].
NASB: ‘he graciously forgave them both’ [= ia mengampuni mereka berdua dengan murah hati / penuh kasih karunia].
NKJV: ‘he freely forgave them both’ [= ia mengampuni mereka berdua dengan cuma-cuma].
Kata Yunani yang dipakai adalah EKHARISATO (perhatikan adanya kata KHARIS, yang artinya adalah ‘kasih karunia’).
Kalau tindakan kasih mereka yang menyebabkan mereka diampuni, maka tidak bisa dikatakan bahwa pengampunan itu diberikan dengan cuma-cuma / sebagai kasih karunia!
J. C. Ryle (tentang ay 42): “‘He frankly forgave them both.’ Let us observe that the debt was not forgiven because the debtors loved their creditor, but out of free grace, mercy and compassion. And the love of the debtors was the consequence of their debts being forgiven. A right understanding of this is the clue to the whole passage.” [= ‘Ia dengan sungguh-sungguh / dengan cuma-cuma mengampuni / menghapuskan hutang mereka berdua’. Hendaklah kita memperhatikan bahwa hutang itu tidak diampuni karena orang-orang yang berhutang mengasihi pemberi hutang mereka, tetapi dari kasih karunia yang cuma-cuma, belas kasihan dan simpati. Dan kasih dari orang-orang yang berhutang adalah konsekwensi dari penghapusan hutang mereka. Suatu pengertian yang benar dari hal ini adalah petunjuk dari seluruh text.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
(c) Baru setelah hutang mereka dihapuskan, muncul pertanyaan: ‘Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’. Jadi jelas bahwa pengampunan dosa terjadi dulu, dan baru setelah itu muncul tindakan kasih.
Calvin: “He proves that she is righteous, not because she pleased God, but because her sins were forgiven; for otherwise her case would not correspond to the parable, in which Christ expressly states, that the creditor freely forgave the debtors who were not able to pay.” [= Ia membuktikan bahwa perempuan itu benar, bukan karena ia menyenangkan Allah, tetapi karena dosa-dosanya telah diampuni; karena kalau tidak maka kasusnya tidak sesuai dengan perumpamaannya, dalam mana Kristus menyatakan secara jelas / explicit, bahwa pelepas hutang itu mengampuni dengan cuma-cuma orang-orang berhutang yang tidak bisa membayar.] - hal 137.
(3) Clarke beranggapan (hal 415) bahwa kata ‘sebab’ dalam ay 47a, yang dalam bahasa Yunaninya adalah HOTI, bisa diterjemahkan ‘therefore’ [= karena itu]. Dengan demikian ay 47a menjadi: ‘Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena itu ia telah banyak berbuat kasih’.
J. C. Ryle juga punya pandangan yang sama dengan Adam Clarke.
J. C. Ryle (tentang ay 47): “‘Her sins … are forgiven; for she loved much.’ To explain these words as meaning that the woman’s sins were forgiven, because she loved much, is to contradict flatly the whole lesson of the six preceding verses. ‘For’ must be taken as ‘wherefore,’ and, according to Pearce and Hammond, may fairly be so taken. Our Lord’s meaning must manifestly be: ‘Her love is a proof of her forgiveness. She is a person whose many sins are forgiven. The proof of it is, that she shows much love, and the lesson of my parable, according to thine own confession, is this, that much forgiveness produces much love.’” [= ‘Dosa-dosanya ... diampuni; karena ia banyak mengasihi’. Menjelaskan kata-kata ini sebagai berarti bahwa dosa-dosa perempuan itu diampuni, karena ia banyak mengasihi, bertentangan secara frontal dengan seluruh pelajaran tentang 6 ayat yang mendahului. ‘Karena’ harus diartikan / dimengerti sebagai ‘karena itu’, dan, menurut Pearce dan Hammond, bisa diartikan / dimengerti seperti itu dengan cukup baik. Maksud Tuhan kita secara jelas adalah: ‘Kasihnya adalah suatu bukti dari pengampunannya. Ia adalah seseorang yang dosa-dosanya yang banyak sudah diampuni. Bukti dari hal itu adalah bahwa ia menunjukkan banyak kasih, dan pelajaran dari perumpamaanKu, sesuai dengan pengakuanmu sendiri, adalah ini, bahwa banyak pengampunan menghasilkan banyak kasih’.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
J. C. Ryle: “Lightfoot remarks, that our Lord does not say, ‘She hath washed my feet and anointed them, and therefore her sins are forgiven,’ but, ‘therefore I say unto thee,’ or ‘for this cause I declare unto thee that her sins are forgiven.’ Her sins were forgiven before, but now, after this love that she has shown, I publicly declare unto thee her forgiveness.” [= Lightfoot memperhatikan / menyatakan, bahwa Tuhan kita tidak berkata, ‘Ia telah mencuci kakiKu dan mengurapinya, dan karena itu dosa-dosanya diampuni’, tetapi, ‘karena itu Aku berkata kepadamu’, atau ‘karena penyebab ini Aku MENYATAKAN kepadamu bahwa dosa-dosanya diampuni’. Dosa-dosanya diampuni sebelumnya, tetapi sekarang, setelah kasih yang telah ia tunjukkan ini, Aku secara umum menyatakan kepadamu pengampunannya.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
J. C. Ryle: “We see, lastly, in this passage, that a sense of having our sins forgiven is the mainspring and life-blood of love to Christ.” [= Akhirnya, kita melihat dalam text ini, bahwa perasaan / pengertian bahwa kita telah diampuni dosa-dosanya adalah kekuatan utama dan terpenting dari kasih kepada Kristus.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
J. C. Ryle: “She had been much forgiven, and so she loved much. Her love was the effect of her forgiveness, - not the cause, - the consequence of her forgiveness, not the condition, - the result of her forgiveness, not the reason, - the fruit of her forgiveness, not the root. Would the Pharisee know why this woman showed so much love? It was because she felt much forgiven.” [= Ia telah banyak diampuni, dan karena itu ia banyak mengasihi. Kasihnya adalah akibat dari pengampunannya, - bukan penyebabnya, - konsekwensi, bukan syarat, dari pengampunannya, - hasil, bukan alasan dari, pengampunannya, - buah, bukan akar, dari pengampunannya. Apakah orang Farisi itu tahu mengapa perempuan ini menunjukkan begitu banyak kasih? Itu adalah karena ia merasa banyak diampuni.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
J. C. Ryle: “The only way to make men holy, is to teach and preach free and full forgiveness through Jesus Christ. The secret of being holy ourselves, is to know and feel that Christ has pardoned our sins. Peace with God is the only root that will bear the fruit of holiness. Forgiveness must go before sanctification. We shall do nothing till we are reconciled to God. This is the first step in religion. We must work from life, and not for life. Our best works before we are justified are little better than splendid sins. We must live by faith in the Son of God, and then, and not till then, we shall walk in His ways. The heart which has experienced the pardoning love of Christ, is the heart which loves Christ, and strives to glorify Him.” [= Satu-satunya jalan untuk membuat orang-orang kudus, adalah mengajar dan mengkhotbahkan pengampunan yang cuma-cuma dan penuh melalui Yesus Kristus. Rahasia bagaimana diri kita sendiri menjadi kudus adalah mengetahui dan merasakan bahwa Kristus telah mengampuni dosa-dosa kita. Damai dengan Allah adalah satu-satunya akar yang akan menghasilkan buah dari kekudusan. Pengampunan harus ada sebelum pengudusan. Kita tidak bisa melakukan apa-apa sampai kita diperdamaikan dengan Allah. Ini adalah langkah pertama dalam agama. Kita harus bekerja dari kehidupan, dan bukan untuk kehidupan. Pekerjaan-pekerjaan / perbuatan-perbuatan terbaik kita sebelum kita dibenarkan hanya sedikit lebih baik / tidak lebih baik dari pada dosa-dosa yang baik sekali. Kita harus hidup dengan iman kepada Anak Allah, dan lalu, dan tidak sebelum saat itu, kita akan berjalan dalam jalanNya. Hati yang telah mengalami kasih yang mengampuni dari Kristus, adalah hati yang mengasihi Kristus, dan berjuang untuk memuliakan Dia.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
(4) Ay 48: “Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’”.
Calvin beranggapan bahwa kata-kata dalam ay 48 tidak menunjukkan bahwa saat itu merupakan saat pertama perempuan itu diampuni. Ay 48 ini merupakan peneguhan dari pengampunan dosa yang sudah diberikan sebelum perempuan berdosa itu melakukan tindakan kasihnya di sini.
(5) Ay 50 mengatakan ‘imanmu telah menyelamatkan engkau’, bukan ‘kasihmu / perbuatan baikmu telah menyelamatkan engkau’!
Calvin: “loving is not here said to be the cause of pardon, but a subsequent manifestation,” [= mengasihi di sini tidak dikatakan sebagai penyebab dari pengampunan, tetapi suatu manifestasi / perwujudan setelahnya,] - hal 139.
Calvin: “This saying refutes also the error of those who imagine that the forgiveness of sins is purchased by charity; for Christ lays down a quite different method, which is, that we embrace by faith the offered mercy.” [= Kata-kata ini juga menyangkal kesalahan dari mereka yang membayangkan bahwa pengampunan dosa dibeli oleh kasih; karena Kristus meletakkan suatu metode yang cukup berbeda, yaitu bahwa kita memeluk oleh iman belas kasihan yang ditawarkan.] - hal 141.
Pulpit Commentary: “The principle on which forgiveness was granted to the woman was faith, not love.” [= Dasar di atas mana pengampunan diberikan kepada perempuan itu adalah iman, bukan kasih.] - hal 179.
J. C. Ryle (tentang ay 50): “‘Thy faith hath saved thee.’ Let it be observed that it is not said, ‘thy love hath saved thee.’ Here, as in every other part of the New Testament, faith is put forward as the key to salvation.” [= ‘Imanmu telah menyelamatkan engkau’. Hendaklah diperhatikan bahwa tidak dikatakan, ‘kasihmu telah menyelamatkan engkau’. Di sini, seperti dalam setiap bagian yang lain dari Perjanjian Baru, iman dinyatakan sebagai kunci pada keselamatan.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
Dari semua ini jelaslah bahwa rumus yang sebenarnya adalah:
Iman ® pengampunan / keselamatan ® kasih / tindakan kasih.
Calvin: “We cannot avoid wondering, ... that the greater part of commentators have fallen into so gross a blunder as to imagine that this woman, by her tears, and her anointing, and her kissing his feet, deserved the pardon of her sins. The argument which Christ employs was taken, not from the cause, but from the effect; for, until a favour has been received, it cannot awaken gratitude, and the cause of reciprocal love is here declared to be a free forgiveness. In a word, Christ argues from the fruit or effects that follow it, that this woman has been reconciled to God.” [= Kami tidak bisa menghindari rasa heran, ... bahwa sebagian besar dari para penafsir telah jatuh ke dalam suatu kesalahan yang begitu besar sehingga membayangkan bahwa perempuan ini, oleh air matanya, dan pengurapan, dan penciuman kakiNya, layak mendapat pengampunan atas dosa-dosanya. Argumentasi yang digunakan oleh Kristus diambil, bukan dari penyebab, tetapi dari hasil / akibatnya; karena, sampai suatu kebaikan telah diterima, itu tidak bisa membangkitkan rasa terima kasih, dan penyebab dari kasih balasan di sini dinyatakan sebagai pengampunan yang cuma-cuma. Singkatnya, Kristus berargumentasi dari buah atau hasil / akibat yang mengikutinya, bahwa perempuan ini telah diperdamaikan dengan Allah.] - hal 137.
Bandingkan dengan kata-kata dari lagu ‘Rock of Ages, Cleft for Me’, bait ke 2 dan 3, yang berbunyi sebagai berikut:
Not the labors of my hands, [= bukan pekerjaan tanganku,]
Can fulfill Thy law’s demands; [= Dapat memenuhi tuntutan hukumMu;]
Could my zeal no respite know, [= Andaikata semangatku tidak mengenal istirahat,]
Could my tears forever flow, [= Andaikata airmataku mengalir selama-lamanya,]
All for sin could not atone; [= Semua itu tidak bisa menebus dosa;]
Thou must save, and Thou alone. [= Engkau harus menyelamatkan, dan Engkau saja].
Nothing in my hand I bring, [= Tidak ada yang kubawa dalam tanganku,]
Simply to Thy cross I cling; [= Hanya kepada salibMu aku berpegang;]
Naked, come to Thee for dress, [= Telanjang, datang kepadaMu untuk pakaian,]
Helpless, look to Thee for grace; [= Tak berdaya, memandangMu untuk kasih karunia;]
Foul, I to the fountain fly, [= Kotor, Aku terbang kepada air mancur,]
Wash me, Saviour, or I die! [= Cucilah aku, Juruselamat, atau aku mati].
William Hendriksen: “What Jesus teaches is that the outpouring of love results from the sense of having been forgiven. ... Love for Jesus - hence, for God - is, and must ever be, the result of forgiveness:” [= Apa yang Yesus ajarkan adalah bahwa pencurahan kasih diakibatkan oleh rasa telah diampuni. ... Kasih bagi Yesus - dan karena itu, bagi Allah - merupakan, dan harus selalu merupakan, akibat dari pengampunan:] - hal 409.
Hendriksen lalu memberi syair sebagai berikut:
Nothing to pay! yes, nothing to pay! [= Tidak ada yang harus dibayar! ya, tidak ada yang harus dibayar!]
Jesus has cleared all the debt away, [= Yesus telah melunasi semua hutang,]
Blotted it out with his bleeding hand! [= Menghapuskannya dengan tanganNya yang berdarah!]
Free and forgiven and loved you stand. [= Engkau tetap / ada dalam posisi bebas dan diampuni dan dikasihi]
Hear the voice of Jesus say, [= Dengarlah suara Yesus berkata,]
Verily thou hast nothing to pay! [= Sesungguhnya engkau tidak mempunyai apapun untuk membayar!]
Paid is the debt, and the debtor free! [= Hutang dibayar, dan orang yang berhutang bebas!]
Now I ask thee, Lovest thou me? [= Sekarang Aku bertanya kepadamu: Apakah engkau mengasihi Aku?] - hal 409.
2. Ay 47b: “Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.’”.
Tadi dalam ay 44-46, Yesus membandingkan Simon dengan perempuan yang berdosa itu. Lalu dalam ay 47a Yesus menarik kesimpulan tentang perempuan berdosa itu. Maka seharusnya dalam ay 47b Yesus menarik kesimpulan tentang Simon. Tetapi ternyata dalam ay 47b ini Yesus tidak menggunakan kata ‘Simon’ / ‘engkau’, tetapi ‘orang’. Ada 2 kemungkinan arti:
a. ‘Orang’ di sini adalah Simon, dan kalau demikian, maka kata-kata ‘sedikit diampuni’ dan ‘sedikit berbuat kasih’ hanyalah merupakan suatu bahasa halus untuk mengatakan ‘tidak diampuni’ dan ‘tidak berbuat kasih’.
b. ‘Orang’ di sini bukanlah ‘Simon’. Orang itu sedikit diampuni, dan karenanya ia hanya sedikit berbuat kasih. Sedangkan untuk Simon, yang tidak melakukan tindakan kasih, Yesus tidak menjelaskan karena sudah cukup jelas. Simon jelas tak diampuni, dan karena itu ia tidak melakukan tindakan kasih!
Matthew Henry: “Hereby he intimates to the Pharisee that his love to Christ was so little that he had reason to question whether he loved him at all in sincerity; and, consequently, whether indeed his sin, though comparatively little, were forgiven him. Instead of grudging greater sinners the mercy they find with Christ, upon their repentance, we should be stirred up by their example to examine ourselves whether we be indeed forgiven, and do love Christ.” [= Dengan ini Ia mengisyaratkan bahwa kasihnya kepada Kristus adalah begitu kecil sehingga ia / Ia mempunyai alasan untuk mempertanyakan apakah ia mengasihiNya sedikitpun dalam ketulusan; dan, sebagai konsekwensinya, apakah dosanya, sekalipun relatif kecil, memang diampuni. Dari pada iri hati / jengkel terhadap orang-orang yang lebih berdosa karena belas kasihan yang mereka temukan dengan Kristus, pada pertobatan mereka, kita harus digerakkan oleh teladan mereka untuk memeriksa diri kita sendiri apakah kita memang diampuni, dan memang mengasihi Kristus.].
Pertanyaan: Kalau seseorang yang dosanya banyak diampuni, maka ia akan banyak mengasihi / berbuat kasih. Sebaliknya, kalau seseorang yang dosanya sedikit diampuni, maka ia akan sedikit mengasihi / berbuat kasih. Kalau demikian, apakah kita perlu berbuat banyak dosa, lalu minta ampun, supaya kita bisa banyak mengasihi / berbuat kasih?
Pulpit Commentary: “Some may ask - What great amount of sin is necessary in order to loving much? Godet well answers, ‘We need add nothing to what each of us already has, for ... - to the noblest and purest of us, what is wanting in order to love much, is not sin, but the knowledge of it.” [= Beberapa orang mungkin bertanya - Dosa sebanyak apa yang diperlukan supaya kita banyak mengasihi? Godet menjawab dengan benar: ‘Kita tidak perlu menambah apapun pada apa yang setiap kita sudah miliki, karena ... - bagi yang termulia dan termurni dari kita, apa yang kurang supaya banyak mengasihi, bukanlah dosa, tetapi pengetahuan / pengenalan / kesadaran terhadap dosa.] - hal 179.
Pulpit Commentary: “It is not the quantity of sins, but the conscience of sin, the sense of its sinfulness and bitterness and tyranny, which determines the question of the larger or smaller debtor. ... The much love is measured by the sense of there having been much forgiven. The love is as the knowledge of sin. If you think there is little to forgive, you will love only little.” [= Bukan jumlah / banyaknya dosa, tetapi kesadaran / perasaan / pengenalan tentang dosa, perasaan / pengertian tentang keberdosaan dan kepahitan dan kekejamannya, yang menentukan pertanyaan tentang orang yang berhutang lebih banyak atau lebih sedikit. ... Kasih yang banyak diukur oleh perasaan / pengertian tentang pengampunan yang banyak. Kasih itu sebanyak pengenalan terhadap dosa. Jika engkau berpikir bahwa hanya ada sedikit untuk diampuni, engkau akan mengasihi hanya sedikit.] - hal 185.
Pulpit Commentary: “If we have a very imperfect sense of our guilt, and therefore of God’s mercy to us, our response in gratitude and love will be far below what it should be. It is, therefore, of the gravest importance that we should know and feel our own faultiness in the sight of God. For clearly it is not the magnitude of our past sin, but the fulness of our sense of guilt, which determines the measure of our feeling in the matter of gratitude and love.” [= Jika kita mempunyai perasaan / pengertian yang sangat tidak sempurna tentang kesalahan kita, dan karena itu juga tentang belas kasihan Allah bagi kita, maka tanggapan kita dalam rasa terima kasih dan kasih akan jauh di bawah apa yang seharusnya. Karena itu, merupakan sesuatu yang sangat penting bahwa kita mengetahui dan merasakan kekotoran kita sendiri dalam pandangan Allah. Karena jelas bahwa bukanlah besarnya dosa masa lalu kita, tetapi kepenuhan dari perasaan / pengertian kita tentang kesalahan, yang menentukan ukuran dari perasaan kita dalam persoalan rasa terima kasih dan kasih.] - hal 193.
Pulpit Commentary: “God wants our love, as we want the love of our children and of our friends, and cannot accept anything, however valuable, in its stead: so Christ wants the pure, deep, lasting affection of our souls. No ceremonies, or services, or even sacrifices, will compensate for its absence (see 1Cor. 13). And the measure of our love will depend on the depth of our sense of God’s forgiving love toward us.” [= Allah menginginkan kasih kita, seperti kita menginginkan kasih dari anak-anak kita dan dari teman-teman kita, dan tidak bisa menerima apapun, betapapun berharganya, sebagai gantinya: demikianlah Kristus menginginkan kasih yang murni, dalam, dan kekal dari jiwa kita. Tidak ada upacara, atau pelayanan, atau bahkan pengorbanan, yang bisa menggantikan tidak adanya kasih (lihat 1Kor 13). Dan ukuran dari kasih kita tergantung pada dalamnya perasaan / pengertian kita tentang kasih yang mengampuni dari Allah terhadap kita.] - hal 194.
Catatan: penggunaan 1Kor 13 itu sebetulnya salah, karena text itu mempersoalkan kasih kita kepada sesama, bukan kepada Allah. Itu terlihat khususnya dalam 1Kor 13:4-7 - “(4) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (5) Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (6) Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. (7) Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.”. Tetapi memang kasih kita kepada sesama berhubungan erat dengan kasih kita kepada Allah.
Pulpit Commentary: “our sense of sin is always vastly below the reality,” [= perasaan / pengertian kita tentang dosa selalu jauh di bawah kenyataannya,] - hal 199.
Jelas bahwa ada banyak orang yang dosanya banyak, tetapi mengira bahwa dosanya sedikit. Ini menyebabkan pada saat dosa mereka diampuni, mereka tetap memberikan kasih / melakukan tindakan kasih yang sedikit. Jadi jelas bahwa merupakan sesuatu yang penting bagi semua orang, bahkan bagi orang kristen sekalipun, untuk menjadi orang yang sadar sepenuhnya akan semua dosa-dosanya.
Untuk bisa makin sadar akan dosa, maka:
a. Berdoalah supaya Tuhan membukakan mata saudara sehingga saudara makin sadar akan banyaknya dosa saudara. Ingat bahwa salah satu fungsi Roh Kudus adalah menyadarkan kita akan dosa kita (Yoh 16:8).
Penerapan: banyak orang berdoa meminta berkat Tuhan, jasmani maupun rohani, tetapi jarang ada orang yang berdoa, apalagi secara tekun, supaya Tuhan mencelikkan matanya terhadap dosa-dosanya!
b. Banyaklah belajar / membaca / mendengar Firman Tuhan, karena salah satu fungsi dari Firman Tuhan ialah menyadarkan kita akan dosa kita (Ro 3:20 2Tim 3:16).
Ro 3:20 - “Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.”.
2Tim 3:16 - “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”.
Sekalipun saudara sudah berdoa supaya Tuhan menunjukkan dosa saudara, saudara tidak akan sadar akan dosa-dosa saudara kalau saudara tidak belajar Firman Tuhan, karena Tuhan memang menyadarkan dosa kita menggunakan Firman Tuhan.
Karena itu, isilah diri saudara dengan Firman Tuhan, bukan hanya yang enak-enak saja, tetapi juga yang keras / menegur saudara!
c. Perhatikan gambaran Firman Tuhan di bawah ini tentang keadaan manusia di hadapan Allah.
Yes 64:6a - “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor;”.
Perhatikan bahwa Yesaya bukan mengatakan ‘segala dosa kami seperti kain kotor’. Ia juga tidak mengatakan ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Yesaya mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’.
Sekarang, kalau ‘segala kesalehan’ kita digambarkan seperti ‘kain kotor’ di hadapan Allah, bagaimana dengan ‘dosa’ kita? Perhatikan ayat di bawah ini.
Yeh 36:17 - “‘Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan tingkah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapanKu.”.
Dosa / kejahatan kita digambarkan seperti ‘cemar kain’. Apakah ‘cemar kain’ itu? NIV menterjemahkannya: ‘a woman’s monthly uncleanness’ [= kenajisan bulanan dari seorang perempuan].
Bandingkan juga dengan Im 15:20,24 - “(20) Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. ... (24) Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga.”.
Untuk kata ‘cemar kain’ yang pertama (ay 20) NIV menterjemahkan ‘her period’ [= masa datang bulannya], sedangkan untuk kata ‘cemar kain’ yang kedua (ay 24) NIV menterjemahkan ‘her monthly flow’ [= aliran bulanannya].
Jadi kelihatannya yang dimaksudkan dengan ‘cemar kain’ itu adalah cairan darah yang dikeluarkan seorang perempuan pada saat datang bulan.
Dengan demikian Kitab Suci menggambarkan segala kesalehan kita seperti kain kotor, dan menggambarkan dosa / kejahatan kita seperti cairan yang dikeluarkan oleh seorang perempuan pada saat mengalami datang bulan! Itulah keadaan saudara di hadapan Allah!
Keberatan: Tetapi mengapa dalam Kitab Suci kadang-kadang diceritakan tentang orang yang saleh, tak bercacat, seperti Nuh, Ayub, Zakharia, dsb?
Jawab: Itu harus diartikan hanya dalam perbandingan dengan orang-orang lain di sekitar mereka. Tetapi kalau kehidupan mereka dibandingkan dengan Firman Tuhan / Kitab Suci, maka jelas mereka tetap penuh dengan dosa.
Ro 3:10-12,23 - “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. ... (23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”.
Kiranya semua ini bisa meyakinkan saudara bahwa saudara tidak mungkin bisa diterima oleh Allah karena kebaikan saudara, karena saudara memang tidak mempunyai kebaikan di hadapan Allah. Dan kiranya gambaran tentang kenajisan dan keberdosaan saudara ini bisa mendorong saudara untuk banyak melakukan tindakan kasih kepada Tuhan yang sudah mengampuni kenajisan dan keberdosaan yang begitu banyak dari saudara!
Kalau saudara mau tahu apakah diri saudara (Catatan: ini juga bisa diterapkan pada orang lain, sekalipun ini sukar karena kita seringkali tidak bisa tahu motivasi orang lain) betul-betul adalah orang kristen yang sudah selamat dan sudah diampuni, maka periksalah kasih / tindakan kasih saudara:
1. Bagaimana keaktifan saudara dalam Kebaktian, Pemahaman Alkitab, Persekutuan Doa, dan acara-acara gereja yang lain?
2. Bagaimana kehidupan doa dan saat teduh saudara?
3. Bagaimana ketaatan saudara kepada Tuhan / Firman Tuhan?
4. Bagaimana keaktifan saudara dalam melayani Tuhan dan memberitakan Injil?
5. Apakah saudara sudah mempersembahkan persembahan yang selayaknya seperti yang diajarkan oleh Firman Tuhan, baik dalam persoalan persembahan persepuluhan maupun persembahan sukarela?
6. Bagaimana penyangkalan diri saudara dan kerelaan saudara berkorban bagi Tuhan?
7. Bagaimana ketaatan saudara, baik dalam membuang dosa, atau melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh Tuhan? Ini jelas merupakan wujud dari tindakan kasih kepada Tuhan (Yoh 14:15).
8. Mengikuti Perjamuan Kudus. Mengingat Perjamuan Kudus tujuannya adalah untuk memperingati dan memberitakan kematian Kristus (1Kor 11:24b,25b,26b), dan juga merupakan suatu persekutuan dengan Kristus (1Kor 10:16), maka jelas bahwa ikut sertanya kita dalam Perjamuan Kudus, selama itu dilakukan dengan sungguh-sungguh dan dengan benar, merupakan suatu tindakan kasih kepada Tuhan.
9. Dan yang terpenting adalah: apakah dalam melakukan hal-hal di atas ini, motivasi saudara betul-betul adalah kasih kepada Tuhan?
Kalau dalam diri / hidup saudara tidak ada kasih / tindakan kasih kepada Tuhan, maka sadarilah bahwa saudara bukanlah orang kristen yang sejati! Saudara belum selamat dan belum diampuni dosa-dosanya. Karena itu bertobatlah dan datanglah kepada Yesus dan terimalah Ia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!
Kalau dalam diri / hidup saudara sudah ada kasih / tindakan kasih kepada Tuhan, maka saudara betul-betul adalah orang kristen yang sudah selamat / diampuni dosa-dosanya. Maka tingkatkanlah kasih / tindakan kasih itu!
Sesuatu yang sangat menarik bagi saya ialah: perempuan berdosa itu melakukan tindakan kasih yang luar biasa, sekalipun ia tidak tahu bahwa untuk mengampuni dosa-dosanya Yesus harus menderita dan mati di atas kayu salib (karena pada saat itu salib belum terjadi). Kita yang hidup pada masa ini, tahu bahwa untuk mengampuni kita, Yesus harus menderita dan mati di atas kayu salib. Dan karena itu sudah seharusnyalah kalau kasih / tindakan kasih kita kepada Tuhan melebihi kasih / tindakan kasih perempuan itu kepada Tuhan! Karena itu, maukah saudara meningkatkan kasih / tindakan kasih saudara kepada Tuhan?
-AMIN-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali