(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 30 Agustus 2022, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Luk 7:36-50 - “(36) Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. (37) Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. (38) Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. (39) Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’ (40) Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ‘Katakanlah, Guru.’ (41) ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. (42) Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ (43) Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’ (44) Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kakiKu, tetapi dia membasahi kakiKu dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. (45) Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kakiKu. (46) Engkau tidak meminyaki kepalaKu dengan minyak, tetapi dia meminyaki kakiKu dengan minyak wangi. (47) Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.’ (48) Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: ‘Dosamu telah diampuni.’ (49) Dan mereka, yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka: ‘Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa?’ (50) Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu: ‘Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!’”.
1) Simon, seorang Farisi, mengundang Yesus untuk makan di rumahnya (ay 36,40).
Dari undangan ini, dan dari sebutan ‘guru’ terhadap Yesus dalam ay 40, kelihatannya Simon, berbeda dengan kebanyakan orang Farisi pada saat itu, tidak memusuhi ataupun membenci Yesus maupun ajaranNya. Tetapi, kalau kita melihat seluruh bacaan hari ini, khususnya ay 44-46, terlihat bahwa Simon bukanlah orang yang percaya / mengasihi / menghormati Yesus. Mungkin ia mengundang Yesus hanya karena ingin tahu tentang Yesus. Jadi, bolehlah dikatakan bahwa Simon bukanlah orang yang anti Yesus maupun pro Yesus. Ia adalah orang yang ‘netral’.
Penerapan: Apakah saudara adalah orang yang ‘netral’ seperti Simon? Apakah saudara puas dengan keadaan saudara sebagai seorang ‘simpatisan kristen’ yang tidak sungguh-sungguh percaya dan mengasihi Yesus? Apakah saudara puas dengan keadaan saudara sebagai orang yang pergi ke gereja, tetapi dalam hati tidak sungguh-sungguh percaya dan mengasihi Yesus? Kalau ya, perhatikan Mat 12:30 dimana Yesus berkata: “Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.”. Dalam ayat ini Yesus dengan jelas berkata bahwa tidak ada orang ‘netral’ dalam hubungannya dengan Yesus! Pokoknya kalau saudara bukan kawan Yesus, itu berarti saudara adalah lawan Yesus. Kalau saudara tidak betul-betul pro Yesus dengan segenap hati dan jiwa saudara, maka Yesus menganggap bahwa saudara adalah orang yang anti Dia! Karena itu, cepatlah bertobat dan datang kepada Yesus dengan sungguh-sungguh, dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara!
J. C. Ryle: “We see in this passage that men may show some outward respect to Christ, and yet remain unconverted. The Pharisee before us is a case in point. ... In short, in all that the Pharisee did, there was one great defect. There was outward civility, but there was no heart-love.” [= Kita melihat dalam text ini bahwa orang-orang bisa menunjukkan beberapa penghormatan lahiriah kepada Kristus, tetapi tetap tidak bertobat. Orang Farisi di hadapan kita adalah suatu kasus yang cocok. ... Singkatnya, dalam semua yang orang Farisi ini telah lakukan, di sana ada satu cacat yang besar. Di sana ada kesopanan lahiriah, tetapi di sana tidak ada kasih dari hati.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
J. C. Ryle: “We shall do well to remember the case of this Pharisee. It is quite possible to have a decent form of religion, and yet to know nothing of the Gospel of Christ, - to treat Christianity with respect, and yet to be utterly blind about its cardinal doctrines, - to behave with great correctness and propriety at Church, and yet to hate justification by faith, and salvation by grace, with a deadly hatred.” [= Kita bijaksana jika kita mengingat kasus orang Farisi ini. Adalah mungkin untuk mempunyai suatu bentuk agama yang cukup baik, tetapi tidak tahu apa-apa tentang Injil Kristus, - memperlakukan kekristenan dengan hormat, tetapi sama sekali buta tentang doktrin-doktrinnya yang sangat penting / dasari, - bertingkah laku kebenaran / ketepatan dan kepatutan yang besar di Gereja, tetapi membenci pembenaran oleh iman, dan keselamatan oleh kasih karunia, dengan kebencian yang extrim / merusak.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
2) Yesus datang memenuhi undangan Simon itu dan Ia lalu ‘duduk makan’ (ay 36b).
a) Bukan hanya sekali ini Yesus mau datang untuk memenuhi undangan makan di rumah seorang Farisi. Itu terjadi lagi sedikitnya 2 x, yaitu dalam Luk 11:37 dan Luk 14:1. Sikap Yesus ini harus diperhatikan oleh hamba-hamba Tuhan yang begitu sombong sehingga tidak mau diundang makan oleh jemaatnya.
Tetapi, apakah tindakan Yesus ini tidak bertentangan dengan kata-kata Paulus dalam 1Kor 5:9-11?
1Kor 5:9-11 - “(9) Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. (10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.”.
Catatan: text ini text tentang pengucilan / siasat gerejani, dan karena itu harus diberlakukan baik terhadap orang kristen yang hidup dalam dosa yang menyolok, maupun terhadap orang kristen yang sesat / nabi palsu.
Ada 2 hal yang bisa diberikan sebagai jawaban:
1. Pada saat itu kata-kata Paulus itu belum ada.
2. Jangan lupa bahwa Paulus juga berkata: “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi.” (Tit 3:10). Jadi, sebelum ‘menjauhi nabi palsu / bidat’ kita harus ‘menasehati dulu satu atau dua kali’.
Jelas bahwa kita boleh bertemu dan bercakap-cakap dengan seorang nabi palsu dengan tujuan untuk mempertobatkan dia, karena bagaimana kita bisa menasehati bidat / nabi palsu itu, kalau kita tidak boleh bertemu / bercakap-cakap dengan dia? Kalau kita mendapatkan kesempatan untuk itu, dan kita tidak mau melakukannya, itu justru salah. Kalau kita sudah melakukannya satu atau dua kali, dan orang itu tetap tidak mau bertobat, barulah kita harus menjauhinya.
b) Posisi duduk pada saat makan.
Lukisan Perjamuan Paskah versi Leonardo Da Vinci menggambarkan Yesus dan murid-muridNya duduk makan dengan cara seperti kita duduk makan.
Jangan membayangkan bahwa Yesus duduk makan dengan cara dan posisi seperti dalam lukisan itu, yang sama seperti kalau kita duduk makan, apalagi dengan kursi yang mempunyai sandaran. Alasannya:
1. Kalau Yesus duduk makan sama seperti kalau kita duduk makan, dengan kursi yang mempunyai sandaran, maka jelas bahwa tidak mungkin perempuan yang berdiri di belakang Yesus itu bisa berada dekat dengan kaki Yesus, dan bisa membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, menciuminya, dsb (ay 38).
Ay 38: “Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakiNya, lalu membasahi kakiNya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kakiNya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.”.
2. Terjemahan ‘duduk makan’ itu sebetulnya tidak tepat.
NIV/NASB (ay 36b): ‘reclined at the table’ [= bersandar pada meja].
NASB (ay 37): ‘he was reclining at the table’ [= ia sedang bersandar pada meja].
Hal yang sama terjadi dengan ay 49 (untuk ayat ini lihat NASB dan YLT).
Kata ‘recline’ bisa digunakan untuk dudukan pada mobil / pesawat, pada waktu sandarannya kita miringkan ke belakang sehingga kita ada dalam posisi antara duduk dan berbaring.
Ada 2 kemungkinan posisi Yesus pada saat ‘duduk makan’ itu:
a. Ia bukan duduk pada sebuah kursi dengan sandaran yang biasanya kita gunakan, tetapi pada semacam bangku / sofa panjang, tipis dan lebar yang tidak mempunyai sandaran. Kedua belah kakiNya (legs) ada di atas bangku itu, di sebelah kanan badanNya atau agak di belakang badannya, tubuhNya miring ke sebelah kiri dan siku kiriNya disandarkan pada meja yang rendah, yang tingginya maximum 35 cm (dalam gambar-gambar ada yang kelihatannya bahkan lebih rendah lagi dari ini), dan tangan kiri menopang kepala, dan tangan kananNya bebas untuk makan. Kedua lutut ditekuk / agak ditekuk, dan kedua telapak kaki menghadap ke belakang.
Adam Clarke: “In taking their meals, the eastern people reclined on one side; the loins and knees being bent to make the more room, the feet of each person were turned outwards behind him. This is the meaning of standing BEHIND at his FEET.” [= Pada waktu makan, orang-orang Timur berbaring / bersandar pada satu sisi; pinggang dan lutut-lutut ditekuk untuk membuat lebih banyak tempat, kaki-kaki (feet) dari setiap orang diarahkan ke luar di belakangnya. Ini adalah arti dari berdiri di belakang pada kaki-Nya.] - hal 414.
Pulpit Commentary: “The Jews at that time followed in their repasts the Greek (or Roman) custom of reclining on couches; the guest lay with his elbows on the table, and his feet, unsandalled, stretched out on the couch.” [= Orang-orang Yahudi pada saat itu dalam jamuan makan mereka mengikuti kebiasaan orang-orang Yunani (atau Romawi) dengan berbaring / bersandar pada dipan-dipan; tamu berbaring dengan siku-sikunya pada meja, dan kaki-kakinya (feet), tanpa sandal, direntangkan / dibaringkan pada dipan.] - hal 177.
Catatan: penggambaran Pulpit Commentary ini aneh, masakan kedua siku (perhatikan bentuk jamak yang ia pakai) ada di atas meja?
Fred H. Wight: “According to general Arabic custom, the seemly posture while eating is ‘to sit erect on the floor at the low table, with the legs either folded under the body, or thrown back as in the act of kneeling.’ ... And we can be sure that this was the posture of the common people of Bible days in most cases. The exception to this rule is the custom of the wealthy, or the habit of the people on special occasions such as suppers or feasts; and this will be dealt with in a later section.” [= Menurut tradisi Arab umum, kelihatannya posisi pada saat makan adalah: ‘duduk tegak di lantai pada meja yang rendah, dengan kaki-kaki (legs) yang ditekuk di bawah tubuh, atau dilemparkan ke belakang seperti dalam posisi berlutut’. ... Dan kita bisa yakin bahwa ini adalah posisi dari orang-orang umum dari jaman Alkitab dalam kebanyakan kasus. Perkecualian terhadap peraturan ini adalah kebiasaan dari orang yang kaya, atau kebiasaan dari orang-orang pada keadaan-keadaan khusus seperti makan malam / perjamuan atau pesta; dan ini akan dibahas pada bagian belakangan.] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 56.
Fred H. Wight: “In many cases the Arab custom would seem to indicate to the Westerner that they use no table at all when serving a meal. Actually, a mat spread upon the ground serves the purposes of a table. ... the Hebrew word ‘Shool-khawn,’ usually translated ‘table,’ has its root meaning, ‘a skin or leather mat spread on the ground.’ ... If the Arabs use more of a table than this mat, then it is likely to be a polygon stool, no higher than about fourteen inches, and those eating would sit on the floor around this stool. ... With such an Oriental table in general use, it would follow that Occidental chairs would be largely missing. In regard to making use of chairs in ancient Bible days it has been said: ‘On ordinary occasions they probably sat or squatted on the floor around a low table, while at meals of more ceremony they sat on chairs or stools.’” [= Dalam banyak kasus tradisi Arab kelihatannya menunjukkan kepada orang-orang Barat bahwa mereka tidak menggunakan meja sama sekali pada waktu menghidangkan makanan. Keadaan yang sebenarnya adalah, semacam tikar dibeber di lantai / tanah dan berfungsi sebagai sebuah meja. ... kata Ibrani ‘Shool-khawn’, yang biasanya diterjemahkan ‘meja’, mempunyai kata dasar yang berarti ‘lembaran kulit yang dibeberkan di tanah / lantai’. ... Jika orang-orang Arab menggunakan meja dan bukannya hanya tikar seperti ini, maka itu mungkin merupakan bangku bersegi banyak yang tidak mempunyai sandaran, tidak lebih tinggi dari 14 inci (35 cm), dan mereka yang makan duduk di lantai di sekeliling bangku ini. ... Dengan meja Timur seperti itu digunakan secara umum, akibatnya kursi-kursi Barat pada umumnya tidak ada. Berkenaan dengan penggunaan kursi-kursi dalam jaman Alkitab dikatakan: ‘Pada keadaan-keadaan biasa mereka mungkin duduk atau berjongkok di lantai di sekeliling sebuah meja yang rendah, sementara pada acara makan yang lebih bersifat upacara, mereka duduk pada kursi-kursi atau bangku-bangku’.] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 56,57,58.
Ia lalu memberikan 2 contoh dalam Kitab Suci:
(1) Kej 43:33 - “Saudara-saudaranya itu duduk di depan Yusuf, dari yang sulung sampai yang bungsu, sehingga mereka berpandang-pandangan dengan heran.”.
(2) 1Sam 20:5,18 - “(5) Lalu kata Daud kepada Yonatan: ‘Kautahu, besok bulan baru, maka sebenarnya aku harus duduk makan bersama-sama dengan raja. Jika engkau membiarkan aku pergi, maka aku akan bersembunyi di padang sampai lusa petang. ... (18) Kemudian berkatalah Yonatan kepadanya: ‘Besok bulan baru; maka engkau nanti akan ditanyakan, sebab tempat dudukmu akan tinggal kosong.”.
Fred H. Wight: “Both of these cases are connected with royalty or high position.” [= Kedua kasus ini dihubungkan dengan posisi raja / keluarga raja atau posisi yang tinggi.] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 58.
Fred H. Wight: “Posture while eating at feasts. ... In the kings circle, or at other times of special ceremony, seats were sometimes provided.” [= Sikap / posisi tubuh pada waktu makan pada pesta-pesta. ... Dalam kalangan raja-raja, atau pada saat-saat upacara yang lain, kadang-kadang disediakan tempat duduk.] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 63.
Fred H. Wight: “By the time of Jesus, the Roman custom of reclining on couches at supper had been adopted in some Jewish circles. The Roman table and couches combined was called a triclinium. There were three couches which were located on the three sides of a square, the fourth side being left open, so that a servant could get on the inside to assist in serving the meal. The guest’s position was to recline with the body’s upper part resting on the left arm, and the head raised, and a cushion at the back, and the lower part of the body stretched out. The head of the second guest was opposite the breast of the first guest, so that if he wanted to speak to him in secret he would lean upon his breast.” [= Pada jaman Yesus, tradisi Romawi tentang berbaring / bersandar pada dipan-dipan pada saat makan telah diadopsi / diterima dalam sebagian kalangan Yahudi. Kombinasi dari meja dan dipan-dipan Romawi disebut sebuah triclinium. Itu merupakan 3 buah dipan yang ditempatkan pada 3 sisi dari sebuah segi empat, dan sisi yang ke 4 dibiarkan terbuka, sehingga seorang pelayan bisa masuk ke dalam untuk menolong dalam menghidangkan makanan. Posisi dari tamu adalah berbaring / bersandar dengan bagian atas tubuh bersandar pada lengan kiri, dan kepala ditegakkan / diangkat, dan sebuah bantal kecil pada punggung, dan bagian bawah tubuh direntangkan / dibaringkan. Kepala dari tamu yang kedua berlawan / berhadapan dengan / membelakangi dada dari tamu yang pertama, sehingga jika tamu kedua itu ingin berbicara dengan tamu pertama secara diam-diam maka tamu kedua itu menyandarkan kepalanya pada dada dari tamu pertama.] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 64.
Catatan: bandingkan kalimat yang terakhir dari kutipan di atas ini dengan Yoh 13:23-25 - “(23) Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihiNya, bersandar dekat kepadaNya, di sebelah (kanan)Nya. (24) Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: ‘Tanyalah siapa yang dimaksudkanNya!’ (25) Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepadaNya: ‘Tuhan, siapakah itu?’”.
NASB: “There was reclining on Jesus’ breast one of His disciples, whom Jesus loved. Simon Peter therefore gestured to him, and said to him, ‘Tell us who it is of whom He is speaking.’ He, leaning back thus on Jesus’ breast, said to Him, ‘Lord, who is it?’” [= Di sana bersandar pada dada Yesus, seorang dari murid-muridNya, yang dikasihi oleh Yesus. Karena itu Simon Petrus memberi isyarat kepadanya, dan berkata kepadanya: ‘Beritahu kami siapa yang dibicarakanNya’. Ia, kembali bersandar demikian pada dada Yesus, berkata kepadaNya: ‘Tuhan, siapa dia?’].
Ayat-ayat pendukung yang lain:
(a) Amos 6:4 - “yang berbaring di tempat tidur dari gading dan duduk berjuntai di ranjang; yang memakan anak-anak domba dari kumpulan kambing domba dan anak-anak lembu dari tengah-tengah kawanan binatang yang tambun;”.
KJV: ‘That lie upon beds of ivory, and stretch themselves upon their couches, and eat the lambs out of the flock, and the calves out of the midst of the stall’ [= yang berbaring di atas ranjang dari gading, dan merentangkan tubuh mereka sendiri di atas dipan, dan makan anak domba dari kawanan ternak, dan anak sapi dari tengah-tengah kandang].
RSV: ‘Woe to those who lie upon bed of ivory, and stretch themselves upon their couches, and eat lambs from the flock, and calves from the midst of the stall’ [= Celakalah mereka yang berbaring di atas ranjang dari gading, dan merentangkan tubuh mereka sendiri di atas dipan, dan makan anak domba dari kawanan ternak, dan anak sapi dari tengah-tengah kandang].
NASB: ‘Those who recline on beds of ivory And sprawl on their couches, And eat lambs from the flock And calves from the midst of the stall’ [= Mereka yang berbaring di atas ranjang dari gading Dan merentangkan tubuh dengan relax di atas dipan mereka, Dan makan anak domba dari kawanan ternak Dan anak sapi dari tengah-tengah kandang].
Jadi ayat ini menunjukkan orang yang makan sambil berbaring pada ranjang / dipan.
(b) Mat 8:11 - “Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak, dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,”.
NASB: ‘many shall come from east and west, and recline at the table with Abraham, and Isaac, and Jacob, in the kingdom of heaven’ [= banyak orang akan datang dari timur dan barat, dan bersandar / berbaring di meja dengan Abraham, dan Ishak, dan Yakub, di dalam Kerajaan sorga].
(c) Luk 16:22-23 - “(22) Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. (23) Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.”.
Sama seperti dalam kasus Yoh 1:18, Kitab Suci Indonesia secara salah menterjemahkan ‘pangkuan’. NASB menterjemahkan lebih benar yaitu ‘bosom’ [= dada], dan tidak mempunyai kata ‘duduk’. Bagian ini mungkin hanya menunjukkan bahwa Lazarus ada di pelukan Abraham, tetapi mungkin juga bagian ini menggambarkan Perjamuan Besar di surga dimana posisi Lazarus dan Abraham sama seperti posisi Yohanes dan Yesus dalam Yoh 13, dimana kepala Yohanes bisa ada di dada Yesus.
Fred H. Wight: “this position of reclining at table explains how the woman could come during a dinner and take her position behind at the feet of Jesus and wash them (Luke 7:38).” [= posisi berbaring / bersandar pada meja ini menjelaskan bagaimana perempuan itu bisa datang pada waktu makan dan mengambil posisi di belakang pada kaki-kaki (feet) Yesus dan mencucinya (Luk 7:38).] - ‘Manners and Customs of Bible Lands’, hal 64.
b. Yesus duduk dengan posisi berlutut, dan kedua telapak kaki menghadap ke atas.
William Hendriksen: “Not all agree with this very generally accepted representation. On the basis of such Old Testament passages as Judg. 19:6; 1Sam. 20:5; 1Kings 13:20, all of which speak of sitting at table, and of his own observation in the Near East, where he lived and taught for several years, Dr. H. Mulder (spoorzoeker, pp. 87-91) arrives at the conclusion that ‘just like the other quests so also Jesus sat in kneeled position, his feet extended backward with the underside turned upward.’ He calls attention to the fact that lying down to eat was a ‘western’ (Greek and Roman) custom, and he states that this eating style had not been universally adopted in Palestine and the surrounding regions. The matter is probably not as important as it may seem, for whether Jesus was reclining or sitting at the table, in either case his feet were in a position that made it possible for the woman to stand behind them.” [= Tidak semua setuju dengan gambaran yang diterima secara sangat umum ini. Berdasarkan text-text Perjanjian Lama seperti Hakim 19:6; 1Sam 20:5; 1Raja 13:20, yang semuanya berbicara tentang duduk pada / sekitar meja, dan berdasarkan pengamatannya sendiri di Timur Dekat, dimana ia pernah tinggal dan mengajar untuk beberapa tahun, Dr. H. Mulder (spoorzoeker, pp. 87-91) sampai pada kesimpulan bahwa ‘sama seperti tamu-tamu yang lain begitu juga Yesus duduk dengan posisi berlutut, kaki-kakiNya (feet) diarahkan / diselonjorkan ke belakang dengan bagian bawahnya menghadap ke atas’. Ia meminta perhatian pada fakta bahwa berbaring untuk makan merupakan tradisi Barat (Yunani atau Romawi), dan ia menyatakan bahwa cara / gaya makan seperti ini tidak diterima secara universal di Palestina dan daerah-daerah sekitarnya. Persoalannya mungkin tidak sepenting kelihatannya, karena apakah Yesus sedang berbaring / bersandar atau duduk di meja, dalam kasus yang manapun kaki-kakiNya (feet) ada dalam posisi yang memungkinkan bagi perempuan itu untuk berdiri di belakang kaki-kaki (feet) itu.] - hal 406 (footnote).
Keberatan saya terhadap posisi kedua ini:
(1) Memang dengan posisi kedua ini, tetap memungkinkan bagi perempuan itu untuk berada di belakang Yesus, tetapi dekat dengan kaki Yesus. Tetapi itu berarti ia hanya bisa menjangkau telapak kaki Yesus.
(2) Sepanjang yang saya ketahui tidak ada penafsir lain yang mengambil pandangan ini, kecuali Dr. H. Mulder yang pandangannya dikutip oleh Hendriksen di atas.
(3) Pandangan ini tidak sesuai dengan banyak ayat yang saya kutip di atas yang menggunakan kata ‘recline’ [= berbaring / bersandar], khususnya dalam terjemahan NASB yang dalam hal ini memberikan terjemahan yang hurufiah.
Jadi, saya lebih memilih kemungkinan pertama.
Memang agak sukar menggambarkan cara duduk mereka, karena banyak sumber memberi keterangan yang berbeda-beda, juga yang mereka sebut dengan meja maupun ranjang / sofa, digambarkan secara berbeda-beda. Ada yang betul-betul meja, tetapi rendah, dan ada yang baik ranjang / sofa dan meja hanyalah lembaran kulit, seperti tikar.
Saya akan tunjukkan salah satu gambar, dari Buku ‘Manners and Customs of the Bible’, tulisan James M. Freeman, hal 472 (Libronix).
Mungkin saudara bertanya: mengapa mereka duduk dengan posisi seperti itu?
Pada Paskah I, terlihat dari Kel 12:11 bahwa mereka harus makan dengan berdiri, berikat pinggang dan berkasut, dengan tongkat di tangan, yang menunjukkan bahwa setiap saat mereka siap untuk berangkat. Ini disebabkan karena pada saat itu mereka yang adalah bangsa budak, sedang terburu-buru, karena sebentar lagi mereka akan diusir oleh Firaun / orang Mesir.
Kel 12:11 - “Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itulah Paskah bagi TUHAN.”.
Pada Paskah-paskah yang berikutnya (untuk memperingati Paskah I itu), mereka tidak sedang terburu-buru untuk meninggalkan Mesir dan mereka bukan lagi budak seperti pada waktu mereka ada di Mesir, tetapi bangsa yang merdeka. Karena itu, mereka sengaja makan Paskah dengan posisi duduk santai, bahkan dengan posisi duduk yang paling menyulitkan untuk berdiri! Posisi duduk seperti ini memang disengaja untuk melambangkan bahwa mereka tidak terburu-buru, dan juga bahwa mereka bukan lagi budak, tetapi orang merdeka. (Matthew Poole mengutip kata-kata Dr. Lightfoot di bawah ini).
Matthew Poole (tentang Mat 26:25): “‘Their sitting at meat was commonly upon beds or couches, made for that purpose, with the table before them. Now at other meats they either sat, as we do, with their bodies erect, or when they would enlarge themselves to more freedom of feasting, or refreshing, they sat upon the beds, and leaned upon the table on their left elbow; ... but on the passover night they thought they were obliged to use this leaning composure, ... They used their leaning posture as free men do, in memorial of their freedom. And Levi said, Because it is the manner of servants to eat standing, therefore now they eat sitting and leaning, to show that they were got out of servitude into freedom … Upon this principle and conceit of freedom they used this manner of discumbency frequently at other times, but indispensably this night, so far different from the posture enjoined and practised at the first passover in Egypt, when they ate it with their loins girded, their shoes on their feet, their staves in their hands, and in haste, Exod. 12:11. And as the thought of their freedom disposed them to this leaning, reposed, secure composure of their elbow upon the table, and their head leaning on their hand, so, to emblem out the matter the more highly, they laid their legs under them, sitting on them, and laying out their feet behind them.’ (Thus the woman, Luke 7:38, could conveniently come at our Saviour’s feet to wash, anoint, and wipe them).” [= Duduknya mereka pada saat makan biasanya ada pada ranjang atau sofa, yang dibuat untuk tujuan itu, dengan meja di depan mereka. Pada saat makan yang lain mereka, atau duduk seperti kita, dengan tubuh tegak, atau pada waktu mereka membesarkan diri mereka sendiri pada lebih banyak kebebasan dari pesta, atau penyegaran, mereka duduk pada ranjang, dan bersandar pada meja pada siku kiri mereka; ... tetapi pada malam Paskah mereka berpikir mereka wajib untuk menggunakan ketenangan dengan bersandar ini, ... Mereka menggunakan postur bersandar mereka seperti orang-orang yang merdeka / bebas lakukan, untuk memperingati kebebasan mereka. Dan Lewi berkata, Karena itu merupakan cara dari pelayan-pelayan / budak-budak untuk makan dengan berdiri, karena itu sekarang mereka makan dengan duduk dan bersandar, untuk menunjukkan bahwa mereka sudah keluar dari perbudakan ke dalam kebebasan. ... Pada prinsip dan pandangan tentang kebebasan mereka menggunakan cara duduk miring / bersandar ini secara sering pada saat-saat lain, tetapi harus secara mutlak pada malam ini, begitu jauh berbeda dari postur yang diperintahkan dan dipraktekkan pada Paskah yang pertama di Mesir, pada waktu mereka memakannya dengan pinggang terikat, kasut pada kaki mereka, tongkat mereka di tangan mereka, dan dengan terburu-buru, Kel 12:11. Dan karena pemikiran tentang kebebasan mereka mendorong mereka pada kebersandaran ini, istirahat, ketenangan yang aman dengan siku mereka di atas meja, dan kepala mereka bersandar pada tangan mereka, jadi untuk melambangkan persoalan itu dengan lebih tinggi, mereka meletakkan kaki mereka di bawah mereka, duduk pada kaki-kaki (legs) itu, dan menyelonjorkan kaki-kaki (feet) mereka di belakang mereka’. (Karena itu perempuan itu, Luk 7:38, bisa datang dekat pada kaki-kaki Juruselamat kita untuk mencuci, mengurapi, dan menyekanya).] - hal 125-126.
Matthew Poole (tentang Mat 26:25): “Now according to the manner of sitting and leaning are the texts to be understood, about the beloved disciple’s leaning in the bosom of Jesus, Joh 13:23, and on the breast of Jesus, Joh 13:25; 21:20.” [= Sekarang sesuai dengan cara duduk dan bersandar text itu harus dimengerti, tentang murid yang terkasih bersandar pada dada Yesus, Yoh 13:23, dan pada dada Yesus, Yoh 13:25; 21:20.] - hal 126.
Yoh 13:23-25 - “(23 Seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihiNya, bersandar dekat kepadaNya, di sebelah kananNya. (24) Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata: ‘Tanyalah siapa yang dimaksudkanNya!’ (25) Murid yang duduk dekat Yesus itu berpaling dan berkata kepadaNya: ‘Tuhan, siapakah itu?’”.
Ay 23 (KJV): “was leaning on Jesus’ bosom” [= sedang bersandar pada dada Yesus].
Ay 25 (KJV): “lying on Jesus’ breast” [= bersandar pada dada Yesus].
Yoh 21:20 - “Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: ‘Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?’”.
KJV: “leaned on his breast” [= bersandar pada dadaNya].
Catatan: untuk ayat-ayat di atas ini lihat Bible Works 8.
Atau, bisa juga, seperti dikatakan oleh Fred H. Wright di atas, mereka secara sengaja meniru posisi duduk orang Yunani / Romawi, yang adalah orang merdeka.
Jadi jelaslah bahwa posisi duduk seperti ini merupakan tradisi mereka, dan ini diharuskan hanya pada saat makan Paskah. Kalau bukan makan Paskah, posisi duduk bebas, jadi boleh duduk biasa, tetapi boleh juga seperti pada saat makan Paskah (Matthew Poole, hal 125).
Dalam Luk 7 ini memang mereka bukan makan Perjamuan Paskah, tetapi mereka tetap duduk dengan cara seperti itu.
Satu hal yang perlu diperhatikan di sini adalah: sekalipun posisi duduk seperti ini hanya merupakan suatu tradisi, dan tidak pernah diperintahkan oleh bagian manapun dalam Firman Tuhan / Perjanjian Lama (tetapi juga tidak dilarang / bertentangan dengan Firman Tuhan / Perjanjian Lama), dan yang mungkin sekali mereka tiru dari orang-orang kafir (Yunani / Romawi), tetapi Yesus tetap mengikutinya! Jadi tidak salah untuk mengikuti suatu tradisi, selama tradisi itu tidak bertentangan dengan Firman Tuhan. Ini bisa kita gunakan untuk membenarkan perayaan Natal, yang ditentang oleh banyak orang kristen yang bodoh, dengan alasan itu tidak pernah diperintahkan oleh Firman Tuhan, dan berasal dari kalangan kafir, dan sebagainya.
3) Pada saat Yesus sedang makan itu, datanglah seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ia menangis dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, menciumi-nya dan meminyakinya dengan minyak wangi (ay 37b-38).
a) Siapakah perempuan ini?
1. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah Maria dari Betania, yaitu saudara Marta dan Lazarus. Tetapi perlu dicamkan bahwa sekalipun Maria dari Betania pernah mengurapi Yesus dalam peristiwa yang serupa (bdk. Mat 26:6-13 Mark 14:3-9 Yoh 12:1-8), tetapi peristiwa itu berbeda / tidak paralel dengan peristiwa dalam Luk 7:36-50 ini!
Memang pemilik rumah dalam Matius / Markus maupun Lukas namanya adalah sama yaitu ‘Simon’, tetapi perlu diingat bahwa nama ‘Simon’ adalah nama yang umum, dan disamping itu dalam Matius / Markus ia disebut sebagai ‘Simon si kusta’ (Mat 26:6 Mark 14:3), sedangkan dalam Lukas, ia adalah ‘seorang Farisi’ (ay 36).
Perbedaan-perbedaan yang lain antara kedua cerita dalam Matius / Markus / Yohanes dan Lukas adalah sebagai berikut:
a. Dalam Matius / Markus / Yohanes cerita itu diceritakan pada akhir dari pelayanan Yesus (mendekati saat kematianNya atau dalam minggu terakhir menjelang kematianNya), sedangkan dalam Lukas cerita itu diceritakan jauh lebih awal [Leon Morris (Tyndale), hal 146)].
b. Dalam Lukas perempuan yang mengurapi ditekankan sebagai perempuan berdosa, dalam Matius / Markus / Yohanes tidak.
c. Dalam Lukas perempuan itu datang tanpa diundang, sedangkan dalam Yohanes kelihatannya ia diundang (Yoh 12:2 - Marta melayani, Lazarus ikut makan, Maria mengurapi kaki Yesus).
A. T. Robertson: “This woman was an intruder whereas Mary of Bethany was an invited guest.” [= Perempuan ini merupakan seorang penyusup sedangkan Maria dari Betania adalah tamu yang diundang.] - ‘Word Pictures in the New Testament’, vol II, hal 106.
d. Dalam Lukas ada tangisan, air mata dan ciuman dari perempuan itu, sedangkan dalam Matius / Markus / Yohanes tidak.
e. Dalam Lukas ada dialog antara Yesus dengan Simon, dalam Matius / Markus / Yohanes tidak.
f. Dalam Lukas, yang mengkritik tindakan perempuan itu adalah Simon, dan ia mengkritik dalam hatinya. Sedangkan dalam Matius / Yohanes, yang mengkritik adalah murid-murid / Yudas Iskariot, dan mereka mengkritik dengan ucapan.
g. Dalam Lukas, kritikannya adalah karena Yesus, yang adalah seorang nabi, mau diurapi oleh seorang perempuan berdosa. Sedangkan dalam Matius / Markus / Yohanes, kritikannya adalah karena pengurapan dengan minyak wangi yang mahal itu dianggap sebagai suatu pemborosan.
Kesimpulannya: cerita dalam Matius / Markus / Yohanes berbeda dengan cerita dalam Lukas! Karena itu perempuan berdosa ini jelas tidak sama dengan Maria saudara Marta dan Lazarus!
2. Ada juga yang menganggap bahwa perempuan ini adalah Maria Magdalena (bdk. Luk 8:2). Pulpit Commentary mengatakan (hal 176) bahwa dalam gereja-gereja Barat, pandangan itu merupakan tradisi yang diterima. Tetapi sedikitpun tidak ada dasar untuk beranggapan seperti itu.
Jadi, sebetulnya kita tidak tahu siapa perempuan ini. Yang jelas ia adalah seseorang yang terkenal sebagai seorang yang berdosa (ay 36). Dari istilah itu kebanyakan penafsir menganggap bahwa ia adalah seorang pelacur, tetapi inipun belum tentu benar, karena Kitab Suci biasanya menyebut pelacur secara terang-terangan.
William Hendriksen: “woman of bad reputation. To say that she was probably a harlot is being unfair to her. A woman could be a ‘sinner’ without being a harlot.” [= perempuan dengan reputasi yang buruk. Mengatakan bahwa ia mungkin adalah seorang pelacur merupakan sesuatu yang tidak adil terhadap dia. Seorang perempuan bisa adalah ‘seorang yang berdosa’ tanpa menjadi seorang pelacur.] - hal 405.
Adam Clarke menganggap (hal 413) bahwa istilah ‘orang berdosa’ menunjukkan bahwa perempuan ini adalah seorang non Yahudi, karena dalam Kitab Suci istilah itu kadang-kadang diartikan seperti itu. Contoh:
a. Mat 26:45 - “Sesudah itu Ia datang kepada murid-muridNya dan berkata kepada mereka: ‘Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.”.
b. Gal 2:15 - “Menurut kelahiran kami adalah orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain.”.
Argumentasi tambahan dari Adam Clarke adalah ciuman yang dilakukan oleh perempuan itu terhadap kaki Yesus.
Adam Clarke: “Kissing the feet is a farther proof that this person had been educated a heathen. This was no part of a Jew’s practice.” [= Mencium kaki merupakan bukti lebih lanjut bahwa orang ini telah dididik sebagai orang kafir. Ini bukan merupakan bagian dari praktek Yahudi.] - hal 414.
Adam Clarke mengatakan bahwa kekafiran / ke-non-Yahudi-an ini yang menyebabkan Simon, yang adalah orang Farisi, merasa yakin bahwa Yesus bukan nabi pada waktu Yesus membiarkan perempuan itu menciumi dan mengurapi kakiNya (ay 39). Ingat bahwa pada saat itu ada batasan yang sangat keras antara orang Yahudi dan orang non Yahudi (bdk. Kis 10:28 Kis 11:2-3).
b) Ia terkenal sebagai seorang yang berdosa (ay 37a).
Calvin berkata (hal 136) bahwa Erasmus menterjemahkan bagian ini ke dalam past perfect tense: ‘who had been a sinner’ [= yang dulunya adalah seorang berdosa], supaya orang tidak beranggapan bahwa pada saat itu ia masih adalah orang berdosa.
Tetapi Calvin tidak setuju dengan terjemahan dan pandangan Erasmus ini, karena menurut Calvin, Lukas justru bermaksud untuk menyatakan tempat dari perempuan itu dalam masyarakat dan menunjukkan pandangan masyarakat tentang dia.
Sekalipun pertobatan perempuan itu menyebabkan ia dibenarkan oleh Allah / dalam pandangan Allah, tetapi aib yang ada dalam hidupnya dalam pandangan masyarakat tetap ada, dan ini terlihat dari pandangan Simon tentang dia (ay 39).
c) Perempuan itu bisa mengatasi halangan untuk datang kepada Yesus.
Rasanya pasti tidak mudah bagi perempuan itu, yang terkenal sebagai orang yang berdosa itu, untuk datang dan melakukan tindakan kasih kepada Yesus, yang saat itu dianggap sebagai nabi yang hebat. Ingat bahwa pada jaman itu batasan antara orang berdosa dan orang saleh sangat kuat (bdk. Mat 9:11 Luk 15:1-2). Pasti ada halangan bagi dia, mungkin dari orang-orang di sekitarnya / teman-temannya, atau mungkin dari bisikan setan ke dalam hati / pikirannya, yang mengatakan bahwa ia tidak layak untuk datang kepada Yesus.
Tetapi benarkah ada halangan bagi perempuan itu untuk masuk dan mendekat kepada Yesus? Hendriksen mengatakan bahwa pada saat itu bukan merupakan sesuatu yang aneh kalau orang yang tidak diundang tahu-tahu masuk dan berbicara dengan tamu yang ada di situ. Barclay mengatakan hal yang sama.
William Barclay: “It was the custom that when a Rabbi was at meal in such a house, all kinds of people came in - they were quite free to do so - to listen to the pearls of wisdom which fell from his lips. That explains the presence of the woman.” [= Merupakan suatu kebiasaan bahwa pada waktu seorang Rabi sedang makan di suatu rumah, semua jenis orang datang / masuk ke rumah itu - mereka cukup bebas untuk melakukan hal itu - untuk mendengar pada mutiara-mutiara hikmat yang jatuh dari bibirnya. Itu menjelaskan kehadiran dari perempuan itu.] - hal 94.
Tetapi Hendriksen mengatakan bahwa dalam kasus ini persoalannya lain, karena perempuan itu terkenal sebagai orang berdosa, dan pemilik rumah adalah seorang Farisi. Jadi jelas ada halangan, tetapi perempuan itu berani menerjang semua halangan itu dan tetap melakukan tindakan kasihnya kepada Yesus.
William Hendriksen: “the urge within her to express gratitude to Jesus was so irresistible that nothing could stop her from doing what she wanted to do.” [= desakan di dalamnya untuk menyatakan rasa terima kasih kepada Yesus begitu tidak bisa ditahan sehingga tidak ada apapun yang bisa menghentikan dia dari melakukan apa yang ingin dilakukannya.] - hal 406.
Pulpit Commentary: “It was a bold step for one like her to press uninvited, in broad daylight, into the house of a rigid purist like Simon;” [= Itu merupakan suatu langkah yang berani untuk seseorang seperti dia untuk mendesak tanpa diundang, pada siang hari, ke dalam rumah dari seorang penyuci diri yang kaku seperti Simon;] - hal 177.
Leon Morris (Tyndale): “a sinner, which probably means a prostitute, ... A meal such as the one that Jesus was attending was not private. People could come in and watch what went on. At the same time a prostitute would not have been very welcome in Simon’s house, so it took courage to come.” [= seorang berdosa, yang mungkin berarti seorang pelacur, ... Perjamuan seperti yang Yesus hadiri pada saat itu bukanlah bersifat pribadi. Orang-orang boleh masuk dan mengamati apa yang terjadi. Pada saat yang sama seorang pelacur tidak terlalu diterima dalam rumah Simon, jadi membutuhkan keberanian untuk datang.] - hal 146.
Penerapan:
1. Kalau saudara mau melakukan tindakan kasih kepada Tuhan, baik dalam bentuk berbakti, belajar Firman Tuhan, berdoa, melayani, memberitakan Injil, memberikan persembahan dsb, ingatlah bahwa setan pasti akan memberikan halangan. Halangan itu bisa diberikan oleh setan melalui bermacam-macam hal / orang, misalnya: hujan, problem, kesibukan, pekerjaan, istri / suami / keluarga, diri saudara sendiri, acara TV, dan sebagainya. Persoalannya adalah: beranikah / maukah saudara menerjang halangan itu dan tetap melakukan tindakan kasih saudara? Atau saudara membatalkan tindakan kasih itu, dan dengan demikian menuruti setan?
2. Juga kalau saudara mempunyai latar belakang yang gelap, baik itu merupakan latar belakang keluarga atau diri saudara sendiri, maka setan pasti akan menggunakan hal itu sebagai suatu halangan bagi saudara dalam melakukan tindakan kasih kepada Tuhan. Bisa terjadi pada saat saudara mau dibaptis, dan juga pada saat saudara mau melayani Tuhan. Setan mungkin sekali akan berbisik kepada saudara, dan mengatakan bahwa saudara tidak layak untuk hal itu. Dalam hal ini perlu saudara ketahui, bahwa tidak ada orang yang layak untuk datang kepada Tuhan! Kita dilayakkan bukan karena kebaikan kita sendiri, tetapi karena penebusan Kristus!
d) Perempuan itu menangis, dan membasahi kaki Yesus dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya, dan mencium kaki Yesus (ay 38a).
1. ‘Mencium’.
Kata ‘mencium’ dalam bahasa Yunaninya adalah KATEPHILEI, yang artinya ‘fervently / affectionately kissed’ [= mencium dengan sungguh-sungguh / dengan penuh kasih sayang], atau ‘repeatedly kissed’ [= mencium berulang-ulang].
Kata yang sama digunakan dalam Luk 15:20 (ciuman bapa kepada anak bungsu yang kembali), dan juga dalam Mat 26:49 / Mark 14:45 (ciuman Yudas Iskariot kepada Yesus!).
Ciuman mempunyai beberapa kemungkinan makna yaitu: kasih, penghormatan, permohonan, ketundukan, dan ibadah atau penyembahan.
Adam Clarke: “The kiss was used in ancient times as the emblem of love, religious reverence, subjection, and supplication.” [= Ciuman digunakan pada jaman kuno sebagai simbol dari kasih, penghormatan agama, ketundukan, dan permohonan.] - hal 414.
Matthew Poole: “The kiss is a symbol of love, and not of love only, but of subjection and worship;” [= Ciuman adalah simbol dari kasih, dan bukan hanya dari kasih saja, tetapi dari ketundukan dan ibadah / penyembahan;] - hal 218.
Bandingkan dengan:
a. 1Raja 19:18 - “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.’”. Bdk. Hos 13:2 - ‘manusia mencium anak-anak lembu’. Di sini jelas penekanan dari ciuman itu adalah ketundukan / ibadah / penyembahan.
b. Maz 2:11 - “Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar,”. Kata ‘kakiNya’ salah terjemahan; seharusnya adalah ‘Anak’.
KJV: ‘Serve the LORD with fear, and rejoice with trembling. Kiss the Son’ [= Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut, dan bersukacitalah dengan gemetar. Ciumlah Anak].
NIV: ‘Serve the LORD with fear and rejoice with trembling. Kiss the Son’ [= Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan gemetar. Ciumlah Anak].
2. ‘menyeka dengan rambutnya’.
A. T. Robertson mengutip kata-kata Plummer yang mengatakan bahwa di antara orang-orang Yahudi merupakan sesuatu yang memalukan bagi seorang perempuan untuk menunjukkan rambutnya di depan umum, tetapi perempuan ini mau melakukan pengorbanan tersebut. Maria dari Betania (saudara Marta dan Lazarus) melakukan pengorbanan yang serupa, karena kasihnya yang besar terhadap Yesus (Yoh 12:3).
e) Perempuan itu meminyaki kaki Yesus dengan menggunakan minyak wangi, yang tentu saja mahal harganya.
Leon Morris (Tyndale): “We may fairly deduce that this perfume was costly. Jewish ladies commonly wore a perfume flask suspended from a cord round the neck, and it was so much a part of them that they were allowed to wear it on the sabbath (Shabbath 6:3).” [= Kita bisa menarik kesimpulan secara adil / benar bahwa minyak wangi ini mahal. Perempuan-perempuan Yahudi umumnya memakai sebuah botol minyak wangi yang digantungkan pada seutas tali di sekeliling leher, dan itu merupakan sebagian dari diri mereka sedemikian rupa sehingga mereka diijinkan untuk memakainya pada hari Sabat (Shabbath 6:3).] - hal 146-147.
Dari kata-kata Leon Morris di atas ini terlihat bahwa minyak wangi itu bukan hanya mahal, tetapi juga merupakan sebagian dari diri pemiliknya. Tetapi perempuan ini tetap mau mempersembahkannya / menggunakannya untuk Yesus!
William Hendriksen: “Nothing is too good for Jesus!” [= Tidak ada yang terlalu bagus untuk Yesus!] - hal 406.
Memang, kalau seseorang betul-betul mengasihi Yesus, ia akan mau mempersembahkan apapun juga, seakan-akan itu adalah sesuatu yang tidak berharga. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara masih sering merasa sayang dalam mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan? Renungkanlah hal ini: kalau Yesus, dengan tidak menyayangkan nyawaNya sendiri rela menyerahkannya bagi saudara, pantaskah saudara merasa sayang untuk mempersembahkan sesuatu bagi Dia?
Hal lain yang perlu diperhatikan dalam persoalan ini adalah bahwa perempuan itu mencurahkan minyak wangi tersebut bukan pada kepala Yesus tetapi pada kaki Yesus (ay 38b).
Leon Morris (Tyndale): “Finally she anointed Jesus’ feet with the unguent. Normally this would have been poured on the head. Her using it on the feet is probably a mark of humility. To attend to the feet was a menial task, one assigned to a slave.” [= Akhirnya ia mengurapi kaki-kaki Yesus dengan minyak wangi itu. Biasanya ini dicurahkan pada kepala. Penggunaannya pada kaki-kaki mungkin merupakan suatu tanda kerendahan hati. Mengurusi kaki-kaki merupakan tugas yang rendah, tugas yang diberikan kepada seorang budak.] - hal 147.
Sesuatu yang luar biasa dari perempuan ini adalah bahwa ia memberikan sesuatu yang berharga untuk Yesus, tetapi ia tidak memberikannya dengan perasaan bangga, tetapi dengan perasaan tidak layak, sehingga ia mencurahkannya ke kaki Yesus! Ada banyak orang kristen, karena memberi banyak, lalu memberi dengan sombong / bangga, dan dengan pemikiran bahwa mereka sangat berjasa, karena tanpa mereka gereja / Tuhan pasti bangkrut! Bagaimana kalau saudara memberikan sesuatu yang berharga kepada Yesus? Apakah saudara memberi dengan sikap seperti ini, atau dengan sikap seperti perempuan berdosa dalam cerita ini?
Catatan: pada saat Maria dari Betania mengurapi Yesus, kelihatannya ia mencurahkan minyak itu ke kepala Yesus (Mat 26:7 Mark 14:3b) tetapi karena minyak itu banyak, maka minyak itu turun ke tubuh Yesus (Mat 26:12 Mark 14:8) dan kaki Yesus yang lalu disekanya dengan rambutnya (Yoh 12:3).
4) Melihat apa yang dilakukan oleh perempuan itu, Simon berkata dalam hatinya.
Ay 39: “Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’”.
Ada 2 hal yang bisa kita bahas tentang kata-kata Simon dalam ay 39 itu:
a) Simon merendahkan perempuan berdosa itu dan menganggapnya tidak layak untuk datang kepada Yesus. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan di sini:
1. Secara implicit ini menunjukkan bahwa ia menganggap dirinya sendiri layak untuk datang kepada Yesus.
Anggapan seperti ini bisa timbul karena kesombongan dan kurangnya ia mengintrospeksi dirinya sendiri. Orang yang merasa dirinya layak untuk datang kepada Tuhan, sebetulnya justru adalah orang yang paling tidak layak untuk datang kepada Tuhan! Bdk. Luk 18:9-14 (perumpamaan tentang 2 orang yang berdoa di Bait Allah).
Pulpit Commentary mengatakan tentang orang-orang Yahudi pada jaman Yesus dengan kata-kata sebagai berikut: “They did not acknowledge any sin in their own souls, any shortcoming in their own lives. Simon probably thought that Jesus was putting the debt which represented his obligation (fifty pence) at a high figure. And, thus mistaking themselves, it is not to be wondered at that they took a false view of their neighbours; that they looked upon those who were outwardly bad as hopelessly irrecoverable.” [= Mereka tidak mengakui dosa apapun dalam jiwa mereka sendiri, kekurangan / kelemahan apapun dalam kehidupan mereka. Simon mungkin berpikir bahwa Yesus menaksir hutang yang menggambarkan kewajibannya (lima puluh dinar) sebagai sesuatu yang terlalu tinggi. Dan karena salah tentang diri sendiri seperti itu, tidak mengherankan bahwa mereka mempunyai pandangan yang salah tentang sesama mereka; dan bahwa mereka memandang kepada orang-orang yang buruk secara lahiriah sebagai tidak ada harapan untuk dipulihkan.] - hal 193.
Pulpit Commentary: “He thought himself a very long way on in the kingdom of God as compared with that poor woman; he did not know that, she being poor in spirit and he being proud in spirit, she was much nearer to its entrance-gates than he.” [= Ia menganggap dirinya sendiri jauh di depan dalam jalanan dalam Kerajaan Allah dibandingkan dengan perempuan yang malang itu; ia tidak tahu bahwa perempuan itu miskin dalam roh sedangkan ia sombong dalam roh, sehingga perempuan itu jauh lebih dekat pada pintu masuk dari pada dia.] - hal 194.
Bdk. Mat 5:3 - “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.
Kata-kata ‘di hadapan Allah’ salah terjemahan; seharusnya adalah ‘dalam roh’.
KJV: ‘Blessed are the poor in spirit: for theirs is the kingdom of heaven’ [= Diberkatilah orang yang miskin dalam roh: karena merekalah yang empunya kerajaan surga].
William Barclay: “The one thing which shuts a man off from God is self-sufficiency. And the strange thing is that the better we are, the more keenly we feel our sin. ... It is true to say that the greatest of sins is to be conscious of no sin;” [= Satu hal yang menghalangi manusia dari Allah adalah kecukupan diri sendiri / merasa diri cukup baik. Dan hal yang aneh adalah bahwa makin baik kita, makin kuat kita merasa dosa kita. ... Merupakan sesuatu yang benar untuk mengatakan bahwa dosa yang terbesar adalah ketidak-sadaran akan dosa;] - hal 95.
Charles Haddon Spurgeon: “Nothing is more deadly than self-righteousness, or more hopeful than contrition.” [= Tidak ada yang lebih mematikan dari pada perasaan bahwa dirinya sendiri adalah benar, atau lebih memberikan pengharapan dari pada perasaan menyesal karena dosa.] - ‘Morning and Evening’, September 29, morning.
2. Ini menunjukkan bahwa ia tidak melihat Yesus sebagai pengantara antara Allah dengan manusia yang berdosa. Matanya buta terhadap misi Yesus untuk mendamaikan orang berdosa dengan Allah.
3. Sekalipun Simon menolak perempuan itu, tetapi Yesus sendiri menerima perempuan itu (ay 37-38 bdk. Yoh 6:37 Luk 5:31-32).
J. C. Ryle: “Our Lord had just been saying, that he was called ‘the friend of publicans and sinners.’ St. Luke proceeds at once to show that He was so indeed, and was not ashamed of the name.” [= Tuhan kita baru berkata, bahwa Ia disebut ‘sahabat dari pemungut-pemungut cukai dan orang-orang berdosa’. Santo Lukas segera melanjutkan untuk menunjukkan bahwa Ia memang adalah seperti itu, dan tidak malu dengan sebutan itu.] - ‘Expository Thoughts on the Gospels: Luke Vol I’ (Libronix).
Luk 7:34 - “Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.”.
Karena itu, kalau saudara merasa bahwa saudara adalah orang yang sangat berdosa dan kotor, janganlah peduli bahwa orang-orang lain menganggap saudara tidak layak untuk datang kepada Yesus. Yesus sendiri mau menerima saudara, asal saudara mau datang kepadaNya!
b) Tadinya Simon meragukan kenabian Yesus, dan mungkin ia mengundang Yesus untuk memastikan hal itu. Sekarang ia menjadi yakin bahwa Yesus bukan nabi. Alasannya ada dalam ay 39: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamahNya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.”.
Simon berpikir: seorang nabi pasti tahu kalau perempuan itu adalah perempuan berdosa. Kalau Yesus adalah seorang nabi, Ia pasti tahu bahwa perempuan itu adalah perempuan yang berdosa, dan Ia pasti menolaknya. Tetapi kenyataannya, Yesus membiarkan perempuan berdosa itu menciumi kakiNya dsb.
Perlu diperhatikan bahwa pandangan Simon ini tidak benar! Seorang nabi tidak maha tahu. Memang kadang-kadang nabi bisa tahu apa yang ada dalam hati manusia (bdk. Kis 5:1-11 1Raja 14:6), karena Allah memberitahu dia, tetapi tidak selalu demikian (bdk. Yos 9:1-27 2Sam 16:1-4 19:24-30).
Dari sini bisa kita lihat bahwa kesimpulan Simon bahwa Yesus bukan nabi, timbul dari pengertian-pengertian yang salah yang ada dalam diri Simon! Ini secara jelas menunjukkan bahwa pengertian yang salah yang ada dalam diri kita akan berkembang makin lama makin sesat! Mengapa? Karena di atas suatu pengertian yang salah, kita akan membangun pengertian lain yang lebih salah lagi. Ini sama seperti suatu rumah yang miring fondasinya, akan menyebabkan seluruh rumah menjadi miring.
Karena itu janganlah membiarkan diri saudara dalam keadaan tidak mengerti atau salah mengerti tentang Kitab Suci / kebenaran! Rajin dan tekunlah dalam belajar Firman Tuhan / datang dalam Pemahaman Alkitab dan banyaklah / seringlah berdoa supaya Tuhan memberikan pengertian yang benar kepada saudara dan membuang semua pengertian yang salah yang ada pada saudara!
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali