Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

 

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tgl 30 Januari 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Kharismatik 16g

 

exposisi

I korintus 14:1-40(7)

 

1Kor 14:1-40 - (1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. (6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? (7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. (19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. (20) Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu! (21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’ (26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.

 

Ay 29-33: “(29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”.

 

1) Ay 29: “Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan.”.

 

a) Sama seperti dalam menggunakan bahasa Roh, maka orang yang bernubuatpun juga dibatasi sebanyak 2-3 orang. Tetapi dalam ay 29 ini tidak ada kata ‘sebanyak-banyaknya’ seperti dalam ay 27.

 

Calvin: “As to prophecy, too, he prescribes limits, because ‘multitude,’ as they commonly say, ‘breeds confusion.’” [= Tentang nubuat juga, dia menentukan batas-batas, karena seperti yang seringkali dikatakan, ‘orang banyak menghasilkan / menyebabkan kebingungan’.] - hal 460.

 

b) Ay 29b: yang lain menanggapi apa yang mereka katakan’.

 

1.      Kata ‘menanggapi’ ini salah terjemahan.

RSV: ‘weigh’ [= menimbang].

NIV: ‘weigh carefully’ [= menimbang dengan hati-hati].

NASB: ‘pass judgment’ [= memberikan penghakiman / penilaian].

KJV/NKJV: ‘judge’ [= menghakimi / menilai].

Kata Yunaninya adalah DIAKRINETOSAN, yang sebetulnya berarti discern’ [= membedakan / melihat perbedaan].

 

2.  Kata-kata ‘yang lain’ ditafsirkan bermacam-macam:

 

a.  Orang yang mempunyai karunia membedakan roh (bdk. 1Kor 12:10).

Dasarnya: kata Yunani DIAKRISEIS, yang diterjemahkan ‘membedakan’ dalam 1Kor 12:10, mempunyai akar kata yang sama dengan kata DIAKRINETOSAN dalam ay 29b ini.

 

1Kor 12:10 - Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu..

 

b.  Orang-orang lain yang juga mempunyai karunia bernubuat (Calvin, hal 461). Jadi sekalipun mereka disuruh diam (karena yang bernubuat sudah 3 orang), mereka tetap bisa berguna, yaitu dengan cara menilai apa yang dinubuatkan, dan dengan demikian menjaga masuknya ajaran sesat ke dalam gereja.

 

Calvin: “it is of no small advantage, that there should be some that are skillful in judging, who will not allow sound doctrine to be perverted by the impostures of Satan, or to be otherwise corrupted by silly trifles.” [= ini bukanlah keuntungan yang kecil bahwa di sana ada orang yang ahli dalam penilaian, yang tidak akan membiarkan ajaran yang sehat disesatkan oleh tipu daya setan, atau dirusak oleh perkara-perkara sepele.] - hal 461.

 

Calvin: “It may seem, however, to be absurd that men should have liberty given them to judge of the doctrine of God, which ought to be placed beyond all controversy. I answer, that the doctrine of God is not subjected to the scrutiny of men, but there is simply permission given them to judge by the Spirit of God, whether it is his word that is set before them, or whether human inventions are, without any authority, set off under this pretext, as we shall have occasion to notice again ere long.” [= Tetapi mungkin terlihat menggelikan bahwa manusia diberikan kebebasan untuk menilai ajaran Allah, yang seharusnya ditempatkan di luar semua kontroversi. Saya menjawab bahwa ajaran Allah tidak ditundukkan pada penelitian manusia, tetapi disana hanya diberikan izin kepada mereka untuk menilai oleh Roh Allah, apakah itu adalah firmanNya yang ditempatkan di depan mereka, atau apakah penemuan-penemuan manusia, tanpa otoritas, yang disajikan di bawah alasan ini, seperti yang akan kita perhatikan lagi dalam waktu yang tidak lama lagi.] - hal 461.

 

c.  Semua jemaat yang lain.

 

Saya setuju dengan arti ke 3. Ini menunjukkan bahwa semua orang kristen mempunyai kewajiban untuk menilai apakah suatu nubuat /  ajaran itu betul-betul adalah firman Tuhan atau bukan (bdk. Kis 17:11  1Tes 5:20-21  1Yoh 4:1-3).

 

Kis 17:11 - Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian..

 

1Tes 5:20-21 - “(20) dan janganlah anggap rendah nubuat-nubuat. (21) Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik..

 

1Yoh 4:1-3 - “(1) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (2) Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, (3) dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia..

 

2) Ay 30: “Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri.”.

 

Ayat ini menunjukkan bahwa sama seperti dalam penggunaan karunia bahasa Roh, maka karunia bernubuatpun harus digunakan secara bergiliran. Jadi, orang yang mau bernubuat harus menunggu sampai yang sedang bernubuat selesai.

 

Penerapan: Ini sebetulnya bukan hanya berlaku untuk orang bernubuat dalam kebaktian, tetapi juga kalau orang berbicara dalam rapat / debat! Jangan bicara selagi ada orang yang sedang bicara! Mengapa? Demi menghargai orang yang sedang berbicara itu, dan juga demi keteraturan (bdk. ay 33,40).

 

Ay 33,40: (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. ... (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.

 

3) Ay 31: “Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan.”.

 

a) ‘Kamu semua’.

 

1.  Ini tidak menunjuk kepada semua jemaat, tetapi hanya menunjuk kepada orang-orang yang mempunyai karunia bernubuat (Calvin, hal 462). Hanya merekalah yang boleh bernubuat dalam gereja!

 

Dalam persoalan menentukan siapa yang boleh berkhotbah dalam gereja, maka banyak gereja jatuh dalam salah satu dari 2 extrim yang salah di bawah ini:

 

a.  Seadanya orang boleh berkhotbah.

Extrim ini banyak terdapat dalam kalangan gereja Pentakosta / Kharismatik.

Dasarnya: setiap orang bisa dipimpin oleh Roh Kudus dalam menyampaikan firman Tuhan.

Keberatan: kalau Tuhan mau memakai seseorang untuk berkhotbah, maka Tuhan pasti akan memberikan karunia untuk berkhotbah kepada orang itu. Jadi, kalau Tuhan tidak memberikan karunia berkhotbah kepada orang itu, maka itu berarti bahwa Tuhan tidak menghendaki orang itu berkhotbah!

 

b.  Hanya orang yang mempunyai gelar Sarjana Theologia (atau lebih tinggi dari itu) yang boleh berkhotbah. Extrim ini banyak terdapat dalam gereja Protestan.

 

Terhadap extrim ini perlu diketahui bahwa ada orang-orang yang mempunyai karunia berkhotbah, tetapi tidak / belum mempunyai kesempatan untuk sekolah theologia, atau mempunyai kesempatan sekolah hanya sebentar saja, atau mempunyai kesempatan sekolah di sekolah theologia yang tidak mengeluarkan gelar, sehingga orang itu tidak mempunyai gelar. Kalau kita melarang orang seperti ini berkhotbah, maka itu berarti kita ‘mengubur talenta’ orang itu (bdk. Mat 25:18)!

 

2.  Ini tentu tidak berarti bahwa semua orang yang mempunyai karunia bernubuat boleh bernubuat dalam satu kebaktian.

Dalam ay 29 tadi telah kita pelajari bahwa dalam satu kebaktian hanya boleh 2-3 orang saja yang bernubuat. Jadi, kalau dalam suatu gereja ada 10 orang yang mempunyai karunia bernubuat, maka bisa saja dalam kebaktian minggu ini 3 diantaranya bernubuat, dan minggu depan 3 orang yang lain, dst.

 

b) ‘Sehingga kamu semua dapat belajar’.

 

Ini menunjukkan bahwa nabipun harus mau belajar dari nabi yang lain. Nabi yang hanya mau belajar langsung dari Allah (anti buku tafsiran dsb), adalah nabi yang sombong, yang mungkin sekali justru adalah nabi palsu!

 

Calvin: “This is applicable, it is true, to the whole of the people, but it is particularly suited to the Prophets, and Paul more especially refers to them. For no one will ever be a good teacher, who does not show himself to be teachable, as not one will ever be found who has, in himself alone, such an overflowing in respect of perfection of doctrine, as not to derive benefit from listening to others.” [= Hal ini berlaku, memang benar, untuk seluruh umat, tetapi khususnya cocok untuk para Nabi, dan Paulus khususnya mengacu pada mereka. Karena tidak seorangpun yang akan pernah menjadi pengajar / guru yang baik, yang tidak menunjukkan dirinya sebagai orang yang bisa dan mau untuk diajar, begitu juga tidak akan pernah ditemukan seseorang yang memiliki pengetahuan yang berlimpah-limpah berkenaan dengan kesempurnaan doktrin / ajaran, sehingga dia tidak mendapatkan manfaat dari mendengarkan orang-orang lain.] - hal 462.

 

c)  ‘Beroleh kekuatan’.

Kata Yunani yang diterjemahkan ‘kekuatan’ mempunyai arti yang luas yang mencakup:

1.  exhortation [= desakan / nasehat / peringatan].

2.  encouragement [= dorongan / pengobaran semangat].

3.  consolation [= penghiburan].

4.  admonition [= nasehat].

 

4) Ay 32: Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi”.

 

Kata ‘karunia’ ini salah terjemahan; seharusnya adalah ‘roh-roh’. Bandingkan dengan terjemahan-terjemahan di bawah ini:

KJV: ‘And the spirits of the prophets are subject to the prophets’ [= Dan roh-roh dari nabi-nabi tunduk kepada nabi-nabi].

NIV: the spirits of prophets are subject to the control of prophets [= roh-roh dari nabi-nabi tunduk pada kontrol nabi-nabi].

NASB: the spirits of prophets are subject to prophets [= roh-roh dari nabi-nabi tunduk kepada nabi-nabi].

 

Charles Hodge: “The spirits of the prophets means the Holy Ghost as manifested in the prophets, or the spiritual influence of which they were the subjects.” [= Roh para nabi berarti Roh Kudus yang dimanifestasikan dalam para nabi, atau pengaruh rohani tentang mana mereka adalah subyeknya.] - ‘I & II Corinthians’, hal 289.

 

Charles Hodge: “The word ‘spirit’ is used here ... for the divine influence under which the prophets spoke. That influence was not of such a nature as to destroy the self-control of those who were its subjects. It did not throw them into a state of frenzy analogous to that of a heathen pythoness. The prophets of God were calm and self-possessed.” [= Kata ‘roh’ digunakan di sini ... untuk pengaruh ilahi di bawah mana para nabi berbicara. Pengaruh itu tidak bersifat merusak kontrol diri mereka yang menjadi subjeknya. Tidak menjatuhkan mereka ke dalam keadaan kegilaan yang analog dengan peramal / nabiah / imam perempuan pagan. Para nabi Allah tetap tenang dan memiliki penguasaan diri.] - ‘I & II Corinthians’, hal 303.

 

Charles Hodge: “When men pretended to be influenced by the Spirit of God in doing what God forbids, whether in disturbing the peace and order of the church, by insubordination, violence or abuse, or in any other way, we may be sure that they are either deluded or impostors.” [= Ketika orang-orang berpura-pura dipengaruhi oleh Roh Allah untuk melakukan apa yang dilarang oleh Tuhan, baik itu dengan mengganggu kedamaian dan ketertiban gereja melalui pembangkangan, kekerasan, atau penyalahgunaan, atau melalui cara lain apapun, kita dapat yakin bahwa mereka atau tertipu atau penipu.] - ‘I & II Corinthians’, hal 304.

 

Pulpit Commentary: “Mantic inspirations, the violent possession which threw sibyls and priestesses into contortions - the foaming lip and streaming hair and glazed or glaring eye - have no place in the self-controlling dignity of Christian inspiration. ... the genuine inspiration in Christian ages never obliterates the self-consciousness or overpowers the reason. It abhors the hysteria and simulation and frenzy which have sometimes disgraced revivalism and filled lunatic asylums.” [= Inspirasi peramal, kepemilikan yang keras yang menjatuhkan nabiah-nabiah dan imam-imam perempuan dalam posisi yang tidak alamiah - bibir berbusa, rambut berkibar, dan mata yang membeku atau melotot - tidak memiliki tempat dalam keagungan pengendalian diri dari inspirasi Kristen. ... inspirasi yang sejati dalam zaman Kristen tidak pernah menghapus kesadaran diri atau mengatasi akal budi. Itu membenci kehisterisan dan simulasi serta kegilaan yang kadang-kadang telah mencoreng gerakan kebangunan rohani dan mengisi rumah sakit jiwa.] - hal 460.

 

Artinya adalah: seorang nabi harus bisa menguasai diri dalam bernubuat dan ini harus diwujudkan dengan tidak menyela / memotong nabi lain yang sedang bernubuat.

 

Jadi, baik bagi orang yang bernubuat maupun bagi orang yang berbaha­sa Roh (ay 27-28), penguasaan diri harus tetap ada! Orang yang bernubuat ataupun yang berbahasa Roh tidak boleh out of control [= tak terkontrol], menjadi histeris, berteriak-teriak tanpa terkendali, dsb.

 

Tetapi pada jaman ini justru ada banyak orang yang kalau berba­hasa Roh lalu betul-betul menjadi tidak terkendali. Matanya terbeliak, mulutnya berbuih, teriakan-teriakannya tidak karuan, tangisannya histeris, badannya bergetar tanpa terkendali dsb. Lebih-lebih dengan adanya Toronto Blessing, maka sikap tak terkontrol itu makin menjadi-jadi. Dan anehnya, ini sering diang­gap sebagai tanda kepenuhan Roh Kudus dan lawatan Roh Kudus. Tetapi Roh Kudus tidak mungkin bekerja dengan cara yang bertentangan dengan firmanNya sendiri! Bdk. juga dengan Ef 5:18 yang mengkontraskan orang yang penuh Roh Kudus (ada penguasaan diri yang baik) dengan orang yang mabuk oleh anggur (tak ada penguasaan diri)!

 

Ef 5:18 - Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,.

 

Karena itu kalau ada orang yang bernubuat / berbahasa Roh dalam keadaan tak terkontrol seperti itu, maka hanya ada 2 kemungkinan:

 

a) Ia sedang kepenuhan roh jahat, bukan Roh Kudus.

Setan memang sering membuat orang menjadi kehilangan kontrol seperti itu (Mark 9:18,20,22,26).

 

Mark 9:18-26 - “(18) Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-muridMu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.’ (19) Maka kata Yesus kepada mereka: ‘Hai kamu angkatan yang tidak percaya, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!’ (20) Lalu mereka membawanya kepadaNya. Waktu roh itu melihat Yesus, anak itu segera digoncang-goncangnya, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. (21) Lalu Yesus bertanya kepada ayah anak itu: ‘Sudah berapa lama ia mengalami ini?’ Jawabnya: ‘Sejak masa kecilnya. (22) Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.’ (23) Jawab Yesus: ‘Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!’ (24) Segera ayah anak itu berteriak: ‘Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!’ (25) Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegor roh jahat itu dengan keras, kataNya: ‘Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah dari pada anak ini dan jangan memasukinya lagi!’ (26) Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan menggoncang-goncang anak itu dengan hebatnya. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata: ‘Ia sudah mati.’.

 

b) Itu memang merupakan pekerjaan Roh Kudus, tetapi pastilah ada sesuatu yang tidak beres dalam hidup orang itu, sehingga Roh Kudus melakukan hal itu dengan tujuan untuk menghajar orang itu.

Contoh: Saul bernubuat dengan telanjang semalam-malaman (1Sam 19:23-24).

 

1Sam 19:23-24 - “(23) Lalu pergilah ia ke sana, ke Nayot, dekat Rama dan pada diapun hinggaplah Roh Allah, dan selama ia melanjutkan perjalanannya ia kepenuhan seperti nabi, hingga ia sampai ke Nayot dekat Rama. (24) Iapun menanggalkan pakaiannya, dan iapun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia rebah terhantar dengan telanjang sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah sebabnya orang berkata: ‘Apakah juga Saul termasuk golongan nabi?’.

 

5) Ay 33: “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”.

Ini merupakan dasar dari semua peraturan di atas! Tuhan memberi peraturan tentang penggunaan bahasa Roh dan nubuat itu, demi keteraturan. Ia tidak menghendaki kebaktian dikacaukan oleh bahasa Roh, apa-lagi oleh hal-hal seperti Toronto Blessing.

 

Ay 34-35: “(34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat.”.

 

1) Kata-kata ‘Sama seperti dalam semua jemaat orang-orang kudus’ (ay 34a), dalam Kitab Suci bahasa Inggris ditempatkan pada ay 33b. Di samping itu:

 

a) Oleh NASB/KJV/NKJV bagian ini dihubungkan dengan ay 33.

NASB: ‘for God is not a God of confusion but of peace, as in all the churches of the saints’ [= karena Allah bukanlah Allah dari kekacauan tetapi dari damai, seperti dalam semua gereja orang-orang kudus].

 

b) Oleh NIV/RSV bagian ini dihubungkan dengan ay 34 (ini sama seperti Kitab Suci bahasa Indonesia).

Saya menganggap inilah yang benar. Kalau memang demikian, maka ini menunjukkan bahwa peraturan tentang perempuan dalam ibadah ini, dimana orang perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan jemaat, adalah sesuatu yang bersifat tradisi dan karena itu tidak harus dilaksanakan pada saat ini.

 

2) Dalam bagian ini dikatakan bahwa dalam kebaktian, perempuan harus diam, tidak boleh berbicara, harus tunduk (kepada pria / suami), bahkan tidak boleh bertanya (kalau mau bertanya, harus bertanya kepada suami di rumah). Juga dikatakan bahwa perempuan berbicara dalam kebaktian adalah sesuatu yang ‘tidak sopan’. Tetapi kata-kata ‘tidak sopan’ itu sebetulnya kurang tepat terjemahannya.

KJV: ‘a shame’ [= sesuatu yang memalukan].

NASB: ‘improper’ [= tidak benar].

NIV: ‘disgraceful’ [= memalukan].

RSV/NKJV: ‘shameful’ [= memalukan].

 

Kata Yunani yang dipakai adalah AISCHROS yang digunakan untuk menunjuk pada sesuatu yang menimbulkan kejijikan.

 

Calvin berkata (hal 469) bahwa karena tidak semua suami mampu memberikan penjelasan, maka istri / perempuan boleh saja bertanya kepada sang nabi sendiri, tetapi tetap harus bertanya secara pribadi, bukan di muka umum.

 

Matthew Henry: “Here the apostle, 1. Enjoins silence on their women in public assemblies, and to such a degree that they must not ask questions for their own information in the church, but ask their husbands at home. They are to learn in silence with all subjection; but, says the apostle, I suffer them not to teach, 1 Tim. 2:11-12. ... here he seems to forbid all public performances of theirs. They are not permitted to speak (v. 34) in the church, neither in praying nor prophesying.” [= Di sini sang rasul, 1. Memerintahkan para wanita untuk diam dalam pertemuan umum, dan sampai pada tingkat bahwa mereka tidak boleh bertanya untuk mendapatkan informasi mereka sendiri di gereja, tetapi harus bertanya kepada suami mereka di rumah. Mereka harus belajar dengan diam dalam segala ketundukan; tetapi, kata sang rasul, saya tidak membiarkan mereka mengajar, 1 Timotius 2:11-12. ... di sini ia kelihatannya melarang semua peranan mereka di depan umum. Mereka tidak diizinkan berbicara (ayat 34) di dalam gereja, baik dalam berdoa maupun bernubuat.].

 

Matthew Henry: “for a woman to prophesy in this sense were to teach, which does not so well befit her state of subjection. A teacher of others has in that respect a superiority over them, which is not allowed the woman over the man, nor must she therefore be allowed to teach in a congregation: ‘I suffer them not to teach.’ ... if difficulties occurred, ask their own husbands at home. Note, As it is the woman’s duty to learn in subjection, it is the man’s duty to keep up his superiority, by being able to instruct her; if it be her duty to ask her husband at home, it is his concern and duty to endeavour at least to be able to answer her enquiries; if it be a shame for her to speak in the church, where she should be silent, it is a shame for him to be silent when he should speak, and not be able to give an answer, when she asks him at home.” [= bagi seorang perempuan bernubuat dalam arti ini berarti mengajar, yang tidak sesuai dengan keadaan ketundukannya. Seorang pengajar dari orang-orang lain dalam hal itu memiliki superioritas atas mereka, yang tidak diperbolehkan bagi perempuan atas laki-laki, dan oleh karena itu dia tidak boleh diizinkan mengajar dalam suatu jemaat: ‘Saya tidak membiarkan mereka mengajar.’ ... jika ada kesulitan, bertanyalah kepada suami mereka di rumah. Perhatikan, karena kewajiban perempuan adalah belajar dalam ketundukan, adalah kewajiban laki-laki untuk mempertahankan kesuperiorannya dengan dapat mengajarinya; jika kewajiban perempuan adalah bertanya kepada suaminya di rumah, maka menjadi tanggung jawabnya untuk setidaknya berusaha bisa menjawab pertanyaannya; jika merupakan sesuatu yang memalukan bagi perempuan untuk berbicara di dalam gereja, tempat di mana dia seharusnya diam, maka juga merupakan sesuatu yang memalukan bagi laki-laki untuk diam ketika seharusnya berbicara, dan tidak mampu memberikan jawaban ketika perempuan itu bertanya kepadanya di rumah.].

 

Matthew Henry: “We have here the reason of this injunction: It is God’s law and commandment that they should be under obedience (v. 34); they are placed in subordination to the man, and it is a shame for them to do any thing that looks like an affectation of changing ranks, which speaking in public seemed to imply, at least in that age, and among that people, as would public teaching much more: so that the apostle concludes it was a shame for women to speak in the church, in the assembly. Shame is the mind’s uneasy reflection on having done an indecent thing. And what more indecent than for a woman to quit her rank, renounce the subordination of her sex, or do what in common account had such aspect and appearance? ... For this reason women must be silent in the churches, not set up for teachers; for this is setting up for superiority over the man.” [= Di sini terdapat alasan dari perintah ini: Ini adalah hukum dan perintah Tuhan bahwa mereka harus tunduk / taat (ayat 34); mereka ditempatkan dalam ketundukan kepada laki-laki, dan merupakan sesuatu yang memalukan bagi mereka untuk melakukan apapun yang terlihat seperti kebiasaan untuk mengubah peringkat, yang secara implicit ditunjukkan dalam berbicara di depan umum, setidaknya pada zaman itu, dan di antara bangsa itu, seperti halnya pengajaran umum yang jauh lebih banyak: sehingga sang rasul menyimpulkan bahwa memang memalukan bagi perempuan untuk berbicara di dalam gereja, dalam pertemuan. Rasa malu adalah refleksi tidak nyaman dari pikiran atas perbuatan yang tidak senonoh. Dan apa yang lebih tidak senonoh daripada seorang perempuan meninggalkan peringkatnya, menolak ketundukan dari jenis kelaminnya, atau melakukan apa yang dalam pandangan umum memiliki aspek dan penampilan seperti itu? ... Karena alasan ini, perempuan-perempuan harus diam di dalam gereja, tidak ditinggikan sebagai pengajar-pengajar; karena ini sama dengan meninggikan superioritas atas laki-laki.].

 

3) Bagian ini digunakan untuk mengatakan bahwa perempuan tidak boleh mengajar dalam gereja, karena mengajar berarti berbicara, dan juga berarti perempuan itu menjadi superior dan mempunyai otoritas.

 

Calvin: “the office of teaching is a superiority in the Church, and is, consequently, inconsistent with subjection. ... If the woman is under subjection, she is, consequently, prohibited from authority to teach in public.” [= Jabatan mengajar adalah suatu superioritas di dalam Gereja, dan oleh karena itu, tidak sesuai dengan ketundukan. ... Jika perempuan berada dalam ketundukan, maka konsekwensinya, dia dilarang memiliki otoritas untuk mengajar di depan umum.] - hal 468.

 

Calvin: “he forbids them to speak in public, either for the purpose of teaching or of prophesying. This, however, we must understand as referring to ordinary service, or where there is a Church is a regularly constituted state; for a necessity may occur of such a nature as to require that a woman should speak in public; but Paul has merely in view what is becoming in a duly regulated assembly.” [= Dia melarang mereka berbicara di depan umum, atau untuk tujuan mengajar atau bernubuat. Tetapi, kita harus memahami ini sebagai merujuk pada ibadah biasa, atau ketika sebuah Gereja berada dalam keadaan teratur secara resmi; karena keadaan darurat mungkin terjadi yang memerlukan seorang perempuan untuk berbicara di depan umum, tetapi Paulus hanya mempertimbangkan apa yang sesuai dalam suatu pertemuan yang diatur dengan baik.] - hal 467-468.

 

4)      Pro dan kontra tentang hal ini.

Tentang hal ini ada orang yang pro dan kontra karena ayat-ayat Kitab Suci kelihatannya memang juga ada yang pro dan kontra.

 

a) Ayat yang pro: 1Tim 2:11-12 yang berbunyi: “(11) Seharusnya perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh. (12) Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.”.

 

Hampir semua penafsir menafsirkan ayat ini sama seperti mereka menafsirkan 1Kor 14:34-35, kecuali satu penafsir yaitu William Barclay. Karena itu saya memberikan tafsiran Barclay tentang 1Tim 2:11-12 di bawah ini:

 

Barclay: “The second part of this passage deals with the place of women in the Church. It cannot be read out of its historical context, for it springs entirely from the situation in which it was written.” [= Bagian kedua dari bagian ini menangani tempat / posisi perempuan dalam Gereja. Ini tidak bisa dibaca di luar kontext sejarahnya, karena ini muncul sepenuhnya dari situasi dalam mana hal ini ditulis.] - hal 66.

 

Lalu Barclay menambahkan 2 hal:

 

1.  Barclay: “It was written against a Jewish background. No nation ever gave a bigger place to women in home and in family things than the Jewish did; but officially the position of a woman was very low. In Jewish law she was not a person but a thing; she was entirely at the disposal of her father or of her husband. She was forbidden to learn the law; to instruct a woman in the law was to cast pearls before swine. Women had no part in the synagogue service; they were shut apart in a section of the synagogue, or in a gallery, where they could not be seen. A man came to the synagogue to learn; but, at the most, a woman came to hear. In the synagogue the lesson from Scripture was read by members of the congregation; but not by women, for that would have been to lessen ‘the honour of the congregation.’ It was absolutely forbidden for a woman to teach in a school; she might not even teach the youngest children. A woman was exempt from the stated demands of the Law. It was not obligatory on her to attend the sacred feasts and festivals. Women, slaves and children were classed together. In the Jewish morning prayer a man thanked God that God had not made him ‘a Gentile, a slave or a woman.’ In the Sayings of the Fathers Rabbi Jose ben Johanan is quoted as saying: ‘Let thy house be opened wide, and let the poor be thy household, and talk not much with a woman.’ Hence the wise have said: ‘Everyone that talketh much with a woman causes evil to himself, and desists from the works of the Law, and his end is that he inherits Gehenna.’ A strict Rabbi would never greet a woman on the street, not even his own wife or daughter or mother or sister.” [= Ini ditulis terhadap / menentang latar belakang Yahudi. Tidak ada bangsa yang memberikan tempat lebih besar bagi perempuan dalam hal-hal di rumah dan dalam keluarga dari pada yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi; tetapi secara resmi posisi seorang perempuan sangatlah rendah. Dalam hukum Yahudi perempuan bukanlah seorang pribadi tetapi suatu benda; ia sepenuhnya ada dalam penguasaan ayahnya atau suaminya. Ia dilarang untuk mempelajari hukum Taurat; mengajar seorang perempuan dalam hukum Taurat adalah melemparkan mutiara di depan babi. Perempuan tidak mempunyai bagian dalam ibadah sinagog; mereka dikurung / diletakkan secara terpisah dalam suatu bagian di sinagog, atau di serambi dimana mereka tidak bisa terlihat. Seorang laki-laki datang ke sinagog untuk belajar, tetapi seorang perempuan datang, paling-paling untuk mendengar. Di sinagog, pelajaran dari Kitab Suci dibacakan oleh anggota-anggota dari jemaat; tetapi tidak oleh seorang perempuan, karena itu akan mengurangi ‘kehormatan dari jemaat’. Sama sekali dilarang bagi seorang perempuan untuk mengajar di suatu sekolah; ia bahkan tidak boleh mengajar anak-anak yang termuda. Seorang perempuan dibebaskan / dikecualikan dari tuntutan-tuntutan yang ditulis / dinyatakan dalam hukum Taurat. Bukan merupakan kewajiban baginya untuk menghadiri pesta-pesta dan perayaan-perayaan kudus. Perempuan, budak-budak dan anak-anak digolongkan bersama-sama. Dalam doa pagi Yahudi, seorang laki-laki bersyukur kepada Allah bahwa Allah tidak membuat dia ‘seorang non Yahudi, seorang budak atau seorang perempuan’. Dalam ‘Kata-kata dari Bapa-bapa’, Rabi Jose ben Johanan dikutip mengatakan: ‘Hendaklah rumahmu terbuka lebar, dan biarlah orang miskin adalah orang-orang dalam rumahmu, dan janganlah berbicara banyak dengan seorang perempuan’. Karena itu orang-orang bijaksana berkata: ‘Setiap orang yang berbicara banyak dengan seorang perempuan menyebabkan bencana bagi dirinya sendiri, dan berhenti dari pekerjaan hukum Taurat, dan akhirnya adalah bahwa ia mewarisi neraka’. Seorang rabi yang ketat tidak pernah menyapa seorang perempuan di jalan, bahkan tidak istrinya atau anak perempuannya atau ibunya atau saudara perempuannya sendiri.] - hal 66-67.

 

2.  Barclay: “It was written against a Greek background. The Greek background made things doubly difficult. The place of women in Greek religion was low. The Temple of Aphrodite in Corinth had a thousand priestesses who were sacred prostitutes and every evening plied their trade on the city streets. The Temple of Diana in Ephesus had its hundreds of priestesses called the Mellisae, which means the bees, whose function was the same. The respectable Greek woman led a very confined life. She lived in her own quarters into which no one but her husband came. She did not even appear at meals. She never at any time appeared on the street alone; she never went to any public assembly. The fact is that if in a Greek town Christian women had taken an active and a speaking part in its work, the Church would inevitably have gained the reputation of being the resort of loose women.” [= Ini ditulis terhadap / menentang suatu latar belakang Yunani. Latar belakang Yunani membuat hal-hal lebih sukar. Tempat dari perempuan dalam agama Yunani adalah sangat rendah. Kuil dari Aphrodite di Korintus mempunyai seribu imam-imam perempuan yang adalah pelacur-pelacur keramat / kudus dan setiap malam melakukan perdagangan mereka di jalan-jalan kota. Kuil Diana di Efesus mempunyai ratusan imam-imam perempuan yang disebut Mellisae, yang berarti ‘tawon-tawon’, yang fungsinya sama. Perempuan Yunani yang terhormat hidup secara sangat terkurung / terbatas. Ia hidup di tempat tinggalnya sendiri, ke dalam mana tidak seorangpun yang datang kecuali suaminya. Ia bahkan tidak muncul pada waktu makan. Ia tidak pernah muncul di jalan sendirian; ia tidak pernah pergi ke pertemuan umum manapun. Faktanya adalah bahwa jika dalam suatu kota Yunani perempuan-perempuan Kristen melakukan bagian yang aktif dan berbicara dalam pekerjaannya, Gereja secara tak terhindarkan telah mendapatkan reputasi sebagai tempat istirahat dari perempuan-perempuan yang ‘longgar / tidak ketat’.] - hal 67.

 

Barclay: “The early Church did not lay down these regulations as in any sense permanent, but as things which were necessary in the situation in which it found itself. ... All the things in this chapter are mere temporary regulations to meet a given situation. If we want Paul’s permanent view on this matter, we get it in Galatians 3:28: ‘There is neither Jew nor Greek, there is neither slave nor free, there is neither male nor female; for you are all one in Christ Jesus.’ In Christ the differences of place and honour and function within the Church are all wiped out. ... We must not read this passage as a barrier to all women’s service within the Church, but in the light of its Jewish and its Greek background.” [= Gereja mula-mula tidak meletakkan peraturan-peraturan ini dalam arti permanen apapun, tetapi sebagai hal-hal yang perlu dalam situasi dalam mana ia menemukan dirinya sendiri. ... Semua hal-hal dalam pasal ini hanyalah semata-mata peraturan-peraturan sementara untuk menghadapi situasi tertentu. Jika kita menginginkan pandangan permanen Paulus tentang hal ini, kita mendapatkannya dalam Gal 3:28: ‘Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus’. Dalam Kristus perbedaan-perbedaan dari tempat dan kehormatan dan fungsi di dalam Gereja semuanya dihapuskan. ... Kita tidak boleh membaca text ini sebagai tembok pemisah bagi semua pelayanan perempuan di dalam Gereja, tetapi dalam terang dari latar belakang Yahudi dan Yunaninya.] - hal 68,69.

 

b) Ayat-ayat yang kontra:

 

1.  Kel 15:20 - Miryam, kakak Musa, adalah seorang perempuan, tetapi ia disebut nabiah, dan ia bernubuat / memberitakan Firman Tuhan.

 

Kel 15:20-21 - “(20) Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya, dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari. (21) Dan menyanyilah Miryam memimpin mereka: ‘Menyanyilah bagi TUHAN, sebab Ia tinggi luhur; kuda dan penunggangnya dilemparkanNya ke dalam laut.’.

 

2.  Hakim 4:4-7 - Debora juga adalah seorang perempuan, tetapi ia adalah seorang nabiah dan hakim!

 

Hakim 4:4-7 - “(4) Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memerintah sebagai hakim atas orang Israel. (5) Ia biasa duduk di bawah pohon korma Debora antara Rama dan Betel di pegunungan Efraim, dan orang Israel menghadap dia untuk berhakim kepadanya. (6) Ia menyuruh memanggil Barak bin Abinoam dari Kedesh di daerah Naftali, lalu berkata kepadanya: ‘Bukankah TUHAN, Allah Israel, memerintahkan demikian: Majulah, bergeraklah menuju gunung Tabor dengan membawa sepuluh ribu orang bani Naftali dan bani Zebulon bersama-sama dengan engkau, (7) dan Aku akan menggerakkan Sisera, panglima tentara Yabin, dengan kereta-keretanya dan pasukan-pasukannya menuju engkau ke sungai Kison dan Aku akan menyerahkan dia ke dalam tanganmu.’.

 

3.  2Raja 22:14-20 / 2Taw 34:20-28 - Hulda juga adalah seorang perempuan, tetapi ia memberitakan Firman Tuhan kepada seorang raja.

 

2Raja 22:14-20 - “(14) Maka pergilah imam Hilkia, Ahikam, Akhbor, Safan dan Asaya kepada nabiah Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin Tikwa bin Harhas; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru. Mereka memberitakan semuanya kepadanya. (15) Perempuan itu menjawab mereka: ‘Beginilah firman TUHAN, Allah Israel! Katakanlah kepada orang yang menyuruh kamu kepadaKu! (16) Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas tempat ini dan atas penduduknya, yakni segala perkataan kitab yang telah dibaca oleh raja Yehuda; (17) karena mereka meninggalkan Aku dan membakar korban kepada allah lain dengan maksud menimbulkan sakit hatiKu dengan segala pekerjaan tangan mereka; sebab itu kehangatan murkaKu akan bernyala-nyala terhadap tempat ini dengan tidak padam-padam. (18) Tetapi kepada raja Yehuda, yang telah menyuruh kamu untuk meminta petunjuk TUHAN, harus kamu katakan demikian: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Mengenai perkataan yang telah kaudengar itu, (19) oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan TUHAN pada waktu engkau mendengar hukuman yang Kufirmankan terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, bahwa mereka akan mendahsyatkan dan menjadi kutuk, dan oleh karena engkau mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapanKu, Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN, (20) sebab itu, sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu, dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat ini.’ Lalu mereka menyampaikan jawab itu kepada raja..

 

2Taw 34:20-28 - “(20) Kemudian raja memberi perintah kepada Hilkia, kepada Ahikam bin Safan, kepada Abdon bin Mikha, kepada Safan, panitera negara itu, dan kepada Asaya, hamba raja, katanya: (21) ‘Pergilah, mintalah petunjuk TUHAN bagiku, bagi yang masih tinggal di Israel dan di Yehuda tentang perkataan kitab yang ditemukan ini, sebab hebat kehangatan murka TUHAN yang dicurahkan kepada kita, oleh karena nenek moyang kita tidak memelihara firman TUHAN dengan berbuat tepat seperti yang tertulis dalam kitab ini!’ (22) Maka pergilah Hilkia dengan orang-orang yang disuruh raja kepada nabiah Hulda, isteri seorang yang mengurus pakaian-pakaian, yaitu Salum bin Tokhat bin Hasra, penunggu pakaian-pakaian; nabiah itu tinggal di Yerusalem, di perkampungan baru. Mereka berbicara kepadanya sebagaimana yang diperintahkan. (23) Perempuan itu menjawab mereka: ‘Beginilah firman TUHAN, Allah Israel! Katakanlah kepada orang yang menyuruh kamu kepadaKu! (24) Beginilah firman TUHAN: Sesungguhnya Aku akan mendatangkan malapetaka atas tempat ini dan atas penduduknya, yakni segala kutuk yang tertulis dalam kitab yang telah dibacakan di depan raja Yehuda, (25) karena mereka meninggalkan Aku dan membakar korban kepada allah lain dengan maksud menimbulkan sakit hatiKu dengan segala pekerjaan tangan mereka; sebab itu nyala murkaKu akan dicurahkan ke tempat ini dengan tidak padam-padam. (26) Tetapi kepada raja Yehuda yang telah menyuruh kamu untuk meminta petunjuk TUHAN, harus kamu katakan demikian: Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Mengenai perkataan yang telah kaudengar itu, (27) oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan Allah pada waktu engkau mendengar firmanNya terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, oleh karena engkau merendahkan diri di hadapanKu, mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapanKu, Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN, (28) maka sesungguhnya Aku akan mengumpulkan engkau kepada nenek moyangmu, dan engkau akan dikebumikan ke dalam kuburmu dengan damai, dan matamu tidak akan melihat segala malapetaka yang akan Kudatangkan atas tempat ini dan atas penduduknya.’ Lalu mereka menyampaikan jawab itu kepada raja..

 

4.  Luk 2:36-38 menceritakan tentang Hana, seorang nabi perempuan.

 

Luk 2:36-38 - “(36) Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, (37) dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. (38) Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem..

 

5.  Kis 2:17 - “Akan terjadi pada hari-hari terakhir - demikianlah firman Allah - bahwa Aku akan mencurahkan RohKu ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi.”.

 

6.  Kis 21:9 - Filipus mempunyai 4 orang anak perempuan yang mempunyai karunia bernubuat.

 

Kis 21:9 - Filipus mempunyai empat anak dara yang beroleh karunia untuk bernubuat..

 

7.  1Kor 11:5 - “Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.”.

 

4)      ‘Seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat’ (ay 34b).

Ini hanya berhubungan dengan ketundukan perempuan kepada laki-laki, dan ini memang ada dalam hukum Taurat. Misalnya: Kej 3:16.

 

Kej 3:16 - FirmanNya kepada perempuan itu: ‘Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.’.

 

Ay 36: “Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang?”.

 

1) Ini terpisah dari ay 34-35, jadi tidak lagi berhubungan dengan perempuan dalam ibadah.

Dasarnya: tadi dalam ay 34-35 Paulus menggunakan kata ganti orang ‘mereka’, tetapi sekarang dalam ay 36 Paulus menggunakan kata ganti orang ‘kamu’, yang jelas tidak lagi menunjuk kepada ‘perempuan’ tetapi kepada ‘orang Korintus’.

 

2) Ini diucapkan oleh Paulus karena orang Korintus ‘aneh’ sendirian.

Arti pertanyaannya adalah:

 

a) Apakah kamu adalah gereja induk? (ay 36a).

 

b) Apakah kamu adalah satu-satunya gereja? (ay 36b).

 

Tentu saja jawabannya seharusnya adalah ‘tidak’. Tetapi kalau memang tidak, lalu mengapa kamu aneh sendirian / lain dari pada yang lain?

Ini menunjukkan bahwa membandingkan gereja kita dengan gereja-gereja yang lain, adalah sesuatu yang penting. Perlu juga diperhati­kan bahwa pada akhir jaman ini ada begitu banyak gereja yang menyim­pang dari Kitab Suci, sehingga kita tidak bisa asal meniru seadanya gereja pada jaman ini! Kita juga harus membandingkan:

 

1.  Dengan gereja-gereja dalam sepanjang sejarah.

Sekalipun pada jaman sekarang ada begitu banyak penggunaan bahasa Roh dalam kebaktian, tetapi kalau kita melihat dalam sepanjang sejarah gereja, tentu tidak demikian halnya!

 

2.  Dengan Kitab Suci sendiri!

Ingatlah selalu untuk tidak sembarangan meniru gereja lain. Kitab Suci adalah standard bagi kita!

 

Ay 37-38: “(37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia.”.

 

1)      Ay 37: ‘ia harus sadar’.

Ini salah terjemahan.

KJV/NKJV/NIV: ‘let him acknowledge’ [= hendaklah ia mengakui].

RSV: ‘he should acknowledge [= ia harus mengakui].

NASB: ‘let him recognize’ [= hendaklah ia mengakui].

 

Jadi ay 37 ini menunjukkan bahwa orang yang menganggap dirinya adalah nabi atau orang yang mempunyai karunia rohani, harus mengakui bahwa ajaran / kata-kata Paulus ini adalah Firman Tuhan!

 

Bdk. 1Yoh 4:6 - “Kami berasal dari Allah: barangsiapa mengenal Allah, ia mendengarkan kami; barangsiapa tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan.”.

 

Charles Hodge: “Here, as in 1John 4:6, ... submission to the infallible authority of the apostles is made the test of a divine mission and even of conversion. ... The inference which Protestants draw from the fact in question is, that as we have the infallible teaching of the prophets and apostles in the Bible, therefore any man who does not conform in faith and practice to the Scriptures cannot be of God. ... He that heareth not the Scriptures, is not of God.” [= Di sini, seperti dalam 1 Yohanes 4:6, ... ketundukan terhadap otoritas yang tak bisa salah dari para rasul dijadikan ujian dari misi ilahi bahkan dari pertobatan. ... Kesimpulan yang ditarik oleh umat Protestan dari fakta yang disebutkan adalah bahwa karena kita memiliki ajaran tak bisa salah dari para nabi dan rasul dalam Alkitab, oleh karena itu setiap orang yang tidak sesuai dalam iman dan praktek dengan Kitab Suci tidak bisa berasal dari Allah. ... Orang yang tidak mendengar Kitab Suci, bukan dari Allah.] - ‘I & II Corinthians’, hal 306.

 

2) ‘bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan’.

KJV: ‘that the things that I write unto you are the commandments of the Lord’ [= bahwa hal-hal yang kutuliskan kepadamu adalah perintah-perintah Tuhan].

 

Calvin: “how it is that Paul declares those things to be commandments of the Lord, as to which no statement is to be found in the Scriptures? ... Paul, however, merely says, that he enjoins nothing, but what is in accordance with the will of God.” [= Bagaimana mungkin Paulus menyatakan hal-hal itu sebagai perintah Tuhan, padahal tidak ada pernyataan dalam Kitab Suci? ... Namun, Paulus hanya mengatakan bahwa dia tidak memberi perintah apa pun selain yang sesuai dengan kehendak Allah.] - hal 472. Bdk. 1Kor 7:12.

 

3) Ay 38: “Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia.”.

Ada bermacam-macam terjemahan.

NIV: if he ignores this, he himself will be ignored [= kalau ia mengabaikan hal ini, ia sendiri akan diabaikan].

RSV/NASB: if anyone does not recognize this, he is not recognized [= kalau seseorang tidak mengakui ini, ia tidak diakui].

KJV/NKJV: if anyman be ignorant, let him be ignorant [= kalau ada orang yang tidak tahu, biarlah ia tidak tahu].

 

Charles Hodge: “if any man be ignorant or refuses to acknowledge the divine authority of my instructions, let him be ignorant. Paul would neither attempt to convince him, nor waste time in disputing the point. Where the evidence of any truth is abundant and has been clearly presented, those who reject it should be left to act on their own responsibility. Further disputation can do no good.” [= Jika seseorang tidak tahu atau menolak mengakui otoritas ilahi dari petunjuk-petunjukku, biarlah dia tidak tahu. Paulus tidak akan mencoba meyakinkannya, atau membuang waktu untuk memperdebatkan hal itu. Ketika bukti atas kebenaran apapun sudah berlimpah-limpah dan telah diberikan dengan jelas, mereka yang menolaknya sebaiknya dibiarkan bertindak atas tanggung jawab mereka sendiri. Debat lebih lanjut tidak akan membawa manfaat.] - ‘I & II Corinthians’, hal 307.

 

Ay 39-40: “(39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.

 

Ini menunjukkan kesimpulan dari seluruh 1Kor 14!

 

1) Ay 39: “Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.”.

 

Ayat ini sering hanya dikutip sebagian oleh orang-orang Kharismatik, yaitu bagian yang berbunyi: ‘Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh’, dan lalu dijadikan dasar untuk menyerang orang-orang Protestan yang menyerang bahasa Roh. Tetapi ini adalah penggunaan ayat yang tidak sesuai dengan kontexnya, karena dalam seluruh ay 39 ini sebetulnya Paulus lagi-lagi mengkontraskan karunia bernubuat dengan karunia berbahasa Roh, dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa karunia bernubuat lebih penting dari karunia bahasa Roh. Perhatikanlah kontras itu di bawah ini:

 

a) Ay 39a: ‘Usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat’.

Ini menunjukkan bahwa kalau untuk karunia bernubuat maka Paulus berkata bahwa itu harus ‘diusahakan untuk diperoleh’ (ini mempergunakan kata Yunani ZELOUTE yang telah dibahas dalam ay 1).

 

b) Ay 39b: ‘Janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa Roh’.

Ini menunjukkan bahwa kalau untuk karunia bahasa Roh, Paulus hanya berkata ‘jangan dilarang’. Itupun tentu saja kalau penggunaannya benar (sesuai dengan ay 27-28).

 

Jadi seluruh ay 39 ini jelas menunjukkan bahwa Paulus jauh lebih mementingkan karunia bernubuat dibandingkan dengan karunia bahasa Roh!

 

2) Ay 40: “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.” (bdk. ay 33).

 

Ini menunjukkan bahwa kita harus mengatur sedemikian rupa sehingga suatu kebaktian berjalan dengan tertib dan teratur. Ini bukan hanya kewajiban pendeta saja, tetapi juga majelis, pengu­rus dan jemaat!

 

Penerapan:

 

a) Penggunaan bahasa Roh dalam kebaktian dengan mengabaikan peraturan penggunaan bahasa Roh dalam ay 27-28, jelas merupakan suatu praktek yang bertentangan dengan ay 40 ini.

 

b) Toronto Blessing jelas juga bertentangan dengan ay 40 ini.

 

c)  Pemilihan pengkhotbah dan chairman yang jelek bisa membuat kebak­tian jadi kacau dan karena itu hal ini harus dihindarkan.

 

d) Adanya anak-anak kecil yang berlari-lari dan ribut dalam kebaktian jelas merupakan sesuatu yang tidak bisa dibiarkan!

 

e) Doa yang dilakukan bersama dengan alat musik / puji-pujian, jelas merupakan suatu kekacauan. Pikirkan: dalam Kitab Suci bagian mana ada doa yang diiringi alat musik? Pada waktu Yesus berdoa Ia mencari ketenangan (Mark 1:35), lalu bagaimana mungkin orang kristen jaman sekarang sengaja membuat musik dalam doa? Disamping itu hal ini membuat pemain musik itu tidak bisa ikut berdoa!

 

f)  ‘doa bersuara’ (doa dimana semua orang sama-sama berdoa dengan mengeluarkan suara) jelas juga merupakan suatu kekacauan! Kalau Paulus melarang lebih dari satu orang berbahasa Roh / bernubuat dalam waktu bersamaan, maka adalah sesuatu yang aneh kalau banyak orang boleh berdoa bersama-sama (Catatan: sekalipun thema yang didoakan sama, tetapi kata-katanya jelas berbeda satu sama lain!).

 

g) Seruan keras ‘Amin’, ‘Haleluyah’, dsb dari orang-orang tertentu di tengah-tengah doa / khotbah, jelas juga bertentangan dengan ay 40 ini! Kalau mau mengaminkan, lakukan itu dalam hati saudara, supaya tidak mengganggu orang lain / mengacaukan ketertiban!

 

h) Datang terlambat dalam kebaktian juga mengacaukan kebaktian! Jadi bagi saudara yang terbiasa untuk datang terlambat, bertobatlah!

 

 

 

-o0o-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali