(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 23 Januari 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
1Kor 14:1-40 - “(1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. (6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? (7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. (19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. (20) Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu! (21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’ (26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.
Ay 21-25: “(21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’”.
1) Ay 21: “Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’”.
a) Ini merupakan kutipan dari Yes 28:11,12b (bdk. Ul 28:47-49).
Yes 28:11-12 - “(11) Sungguh, oleh orang-orang yang berlogat ganjil dan oleh orang-orang yang berbahasa asing akan berbicara kepada bangsa ini (12) Dia yang telah berfirman kepada mereka: ‘Inilah tempat perhentian, berilah perhentian kepada orang yang lelah; inilah tempat peristirahatan!’ Tetapi mereka tidak mau mendengarkan.”.
Ul 28:47-49 - “(47) ‘Karena engkau tidak mau menjadi hamba kepada TUHAN, Allahmu, dengan sukacita dan gembira hati walaupun kelimpahan akan segala-galanya, (48) maka dengan menanggung lapar dan haus, dengan telanjang dan kekurangan akan segala-galanya engkau akan menjadi hamba kepada musuh yang akan disuruh TUHAN melawan engkau. Ia akan membebankan kuk besi ke atas tengkukmu, sampai engkau dipunahkanNya. (49) TUHAN akan mendatangkan kepadamu suatu bangsa dari jauh, dari ujung bumi, seperti rajawali yang datang menyambar; suatu bangsa yang bahasanya engkau tidak mengerti,”.
Charles Hodge: “He does not quote the passage as having any prophetic reference to the events in Corinth; ... It is a simple reference to a signal event in the Jewish history from which the Corinthians might derive a useful lesson.” [= Dia tidak mengutip bagian tersebut sebagai memiliki referensi kenabian terhadap peristiwa-peristiwa di Korintus; ... Ini adalah referensi sederhana kepada suatu peristiwa penting dalam sejarah Yahudi dari mana orang-orang Korintus bisa mendapatkan pelajaran yang berguna.] - ‘I & II Corinthians’, hal 293.
b) Kontex Yesaya 28.
Mula-mula Tuhan berfirman dengan bahasa biasa, tetapi Israel tidak menghiraukan firman itu dan menganggap bahwa firman itu hanya cocok untuk bayi (bdk. Yes 28:9-10). Karena itu Tuhan mengancam untuk menghukum mereka dengan menggunakan orang-orang yang berbicara dalam bahasa asing, yaitu bangsa Babilonia (Yes 28:11-12a). Tetapi sekalipun demikian, Israel tetap tidak mau taat (Yes 28:12b).
Yes 28:9-12 - “(9) Dan orang berkata: ‘Kepada siapakah dia ini mau mengajarkan pengetahuannya dan kepada siapakah ia mau menjelaskan nubuat-nubuatnya? Seolah-olah kepada anak yang baru disapih, dan yang baru cerai susu! (10) Sebab harus ini harus itu, mesti begini mesti begitu, tambah ini, tambah itu!’ (11) Sungguh, oleh orang-orang yang berlogat ganjil dan oleh orang-orang yang berbahasa asing akan berbicara kepada bangsa ini (12) Dia yang telah berfirman kepada mereka: ‘Inilah tempat perhentian, berilah perhentian kepada orang yang lelah; inilah tempat peristirahatan!’ Tetapi mereka tidak mau mendengarkan.”.
Charles Hodge: “The Jews had refused to hear the prophets speaking their own language, and God threatened to bring upon them a people whose language they could not understand. This was a judgment; a mark of displeasure designed as a punishment and not for their conversion.” [= Orang-orang Yahudi telah menolak untuk mendengarkan para nabi yang berbicara dalam bahasa mereka sendiri, dan Allah mengancam akan mendatangkan kepada mereka suatu bangsa yang bahasanya tidak dapat mereka mengerti. Ini adalah suatu penghakiman / hukuman; suatu tanda dari ketidaksenangan yang dirancang sebagai suatu hukuman dan bukan untuk pertobatan mereka.] - ‘I & II Corinthians’, hal 293.
c) Maksud Paulus mengutip Yes 28:11-12 ialah:
1. Menunjukkan bahwa mendapat guru yang berbicara dalam bahasa asing bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, karena itu merupakan suatu bentuk penghukuman akibat dosa yang mereka lakukan. Karena itu janganlah terlalu bangga dengan bahasa Rohmu!
Charles Hodge: “From this the Corinthians might learn that it was no mark of the divine favour to have teachers whose language they could not understand. ... as sending foreigners among the Hebrews was a mark of God’s displeasure, so speaking in the Christian assemblies in foreign languages would be a curse and not a blessing.” [= Dari hal ini, orang-orang Korintus bisa belajar bahwa itu bukanlah tanda kebaikan ilahi untuk memiliki pengajar-pengajar / guru-guru yang bahasanya tidak mereka mengerti. ... Seperti mengirim orang-orang asing di antara orang-orang Ibrani adalah tanda ketidaksenangan Allah, demikian pula berbicara dalam bahasa asing dalam pertemuan-pertemuan Kristen akan merupakan suatu kutuk dan bukan suatu berkat.] - ‘I & II Corinthians’, hal 293,294.
2. Penggunaan bahasa asing / bahasa Roh tidak menyebabkan ketaatan.
2) Ay 22: “Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.”.
Calvin memberikan 2 kemungkinan arti untuk ayat ini:
a) Ay 22 ini dihubungkan dengan ay 21.
Ay 21-22: “(21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman.”.
Jadi, ‘orang yang tidak beriman’ dalam ay 22 menunjuk kepada ‘orang-orang Israel yang tidak percaya’, yang akhirnya dihukum oleh Tuhan dengan menggunakan orang asing / bangsa Babilonia (ay 21).
Hodge kelihatannya memilih penafsiran ini, dan ia lalu berkata: “The meaning is, that when a people are disobedient, God sends them teachers whom they cannot understand; when they are obedient, he sends them prophets speaking their own language. This is the natural conclusion from the premises contained in v. 21. When the Hebrews were disobedient God sent foreigners among them; when obedient, he sent them prophets. ‘Wherefore,’ i.e. hence it follows, that unintelligible teachers are for the unbelieving; those who can be understood are for the believing.” [= Maksudnya adalah bahwa ketika suatu bangsa tidak taat, Allah mengirimkan kepada mereka pengajar-pengajar / guru-guru yang tidak dapat mereka mengerti; ketika mereka taat, Dia mengirimkan kepada mereka nabi yang berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Ini adalah kesimpulan alamiah dari dasar pemikiran yang terkandung dalam ay 21. Ketika orang-orang Ibrani tidak taat, Allah mengirimkan orang-orang asing di antara mereka; ketika (mereka) taat, Dia mengirimkan kepada mereka nabi-nabi. ‘Oleh karena itu,’ yaitu dari situ dapat disimpulkan bahwa pengajar-pengajar / guru-guru yang tidak bisa dimengerti adalah untuk orang-orang yang tidak percaya; mereka yang bisa dimengerti adalah untuk orang-orang yang percaya.] - ‘I & II Corinthians’, hal 296.
b) Ay 22 dipisahkan dari ay 21.
Bahasa Roh dikatakannya merupakan tanda untuk orang yang tidak beriman, karena dalam Kis 2:1-13 rasul-rasul memberitakan Injil kepada orang-orang yang tidak percaya dengan menggunakan bahasa Roh. Sifat mujizat dari bahasa Roh itu menyebabkan orang-orang yang tidak beriman itu mau mendengar Injil itu.
Tetapi orang yang percaya tidak membutuhkan pemberitaan Firman Tuhan yang bersifat mujizat, dan karena itu untuk mereka tidak dibutuhkan bahasa Roh. Jadi nubuatlah yang cocok untuk mereka.
Saya lebih condong pada arti yang ke 2.
3) Ay 23-25: “(23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’”.
a) Ay 23: “Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila?”.
Bdk. Kis 2:13 - “Tetapi orang lain menyindir: ‘Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.’”.
Kalau tadi dalam ay 22a dikatakan bahwa bahasa Roh adalah tanda untuk orang yang tidak beriman, lalu mengapa ay 23 mengatakan bahwa pada waktu orang-orang tidak beriman itu melihat orang-orang kristen berbahasa Roh, mereka menganggap orang-orang kristen itu gila?
Ada 2 kemungkinan jawaban:
1. Sekalipun bahasa Roh merupakan tanda untuk orang tidak beriman, tetapi itu tidak berarti bahwa bahasa Roh itu akan mempertobatkan mereka.
2. Sekalipun bahasa Roh itu adalah tanda untuk orang tidak beriman, tetapi karena orang Korintus menggunakan bahasa Roh itu secara salah (tanpa penterjemahan), maka orang tidak beriman itu akhirnya menganggap mereka gila.
Saya lebih condong pada pandangan kedua ini.
Catatan: satu hal yang menarik dari ay 23 ini ialah: kalau ada suatu gereja penuh dengan bahasa roh, lalu ada orang luar yang masuk dan menganggap mereka gila, maka yang disalahkan oleh Paulus bukanlah orang luar itu, tetapi gerejanya!
Calvin: “the Corinthians would be justly convicted of madness by the unbelieving and unlearned, however much they might please themselves.” [= Orang-orang Korintus akan dikecam dengan benar tentang kegilaan oleh orang-orang yang tidak beriman dan tidak terpelajar, betapapun mereka menyenangkan / memuaskan diri mereka sendiri.] - hal 455.
Tetapi anehnya, jaman sekarang kalau hal itu terjadi (mereka dikecam), maka sikap orang Kharismatik pada umumnya adalah:
a. Mereka merasa bahwa mereka menderita / dihina karena Kristus, dan mereka mengatakan ‘Puji Tuhan’ / ‘Haleluya’.
b. Mereka menganggap bahwa orang luar itu yang salah karena ia menghujat Roh Kudus!
b) Ay 24-25: “ (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’”.
1. Kata-kata ‘semua bernubuat’ (ay 24a) tentu tidak berarti bahwa semua bernubuat pada saat yang sama (bdk. ay 29-31).
2. ‘orang baru’ (ay 24). Ini salah terjemahan.
NIV: ‘someone who does not understand’ [= seseorang yang tidak mengerti].
Footnote NIV: ‘some inquirer’ [= orang yang bertanya-tanya].
NASB: ‘ungifted man’ [= orang yang tidak berkarunia].
RSV: ‘outsider’ [= orang luar].
KJV: ‘one unlearned’ [= orang yang tidak terpelajar].
NKJV: ‘an uninformed person’ [= orang yang tidak punya informasi / pengetahuan].
Kata bahasa Yunaninya adalah IDIOTES (kata yang diterjemahkan ‘orang-orang luar’ dalam ay 23 dalam bahasa Yunaninya adalah IDIOTAI, yang merupakan bentuk jamak dari IDIOTES).
Adalah sesuatu yang menarik bahwa kata bahasa Inggris ‘idiot’ [= orang yang mempunyai I.Q. dibawah 20] diturunkan dari kata Yunani ini (https://www.merriam-webster.com/dictionary/idiot).
Memang, orang tidak percaya / orang yang secara rohani tidak mengerti apa-apa adalah orang yang idiot!
3. Kata-kata dalam ay 24-25 seperti ‘diyakinkan oleh semua’, ‘diselidiki oleh semua’, dsb, tidak perlu diartikan satu per satu. Seluruhnya jelas menunjukkan bahwa orang itu lalu menjadi sadar dan bertobat.
Catatan: tentu Paulus tidak memaksudkan bahwa pertobatan ini selalu terjadi! Maksudnya: ini adalah hal yang seharusnya terjadi, atau hal yang diharapkan untuk terjadi, atau hal yang bisa terjadi.
4. Kalau tadi dalam ay 22b dikatakan bahwa nubuat bukanlah tanda untuk orang tak beriman, mengapa sekarang dalam ay 24-25 nubuat itu justru berguna dan mempertobatkan orang yang tidak beriman?
Mungkin yang dimaksud dengan ‘orang tak beriman’ dalam ay 22b adalah ‘orang tak beriman yang bukan termasuk orang pilihan’, sedangkan ‘orang tak beriman’ dalam ay 24-25 adalah ‘orang tak beriman yang adalah orang pilihan’ / ‘orang pilihan yang belum bertobat’ (Calvin, hal 457).
c) Sekalipun ay 23-25 ini adalah bagian yang sangat sukar, tetapi tetap ada satu hal yang sangat jelas disini, yaitu: dalam bagian ini Paulus lagi-lagi merendahkan karunia berbahasa Roh dan meninggikan karunia bernubuat.
1. Ay 23: bahasa Roh hanya menyebabkan orang kristen dianggap gila. Ini jelas merendahkan bahasa Roh!
Catatan: kalau suatu gereja dimana semua orangnya berkata-kata dalam bahasa Roh saja sudah dianggap gila, apalagi kalau seluruh gereja terkena Toronto Blessing!
2. Ay 24-25: nubuat mempertobatkan orang. Ini jelas meninggikan nubuat.
Dalam ay 2-5 sudah ditunjukkan bahwa nubuat lebih penting dan lebih berguna dari bahasa Roh, tetapi dalam ay 2-5 hal itu ditekankan untuk orang-orang yang sudah percaya. Sekarang dalam ay 23-25 hal itu ditekankan untuk orang-orang yang belum percaya.
Jadi kesimpulannya: baik untuk orang percaya maupun tidak percaya, orang yang ada di dalam atau di luar gereja, nubuat tetap lebih penting dan lebih berguna dari bahasa Roh!
d) Banyak orang-orang Kharismatik menganggap bahwa bahasa Roh merupakan bukti bahwa Allah itu hadir.
Jadi, karena dalam gereja mereka banyak orang berbahasa Roh dalam kebaktian, maka mereka menganggap gereja mereka penuh dengan Roh Kudus. Sedangkan karena dalam gereja-gereja Protestan tidak ada orang berbahasa Roh dalam kebaktian, maka mereka menganggapnya sebagai gereja yang tidak mempunyai Roh Kudus! Tetapi benarkah pandangan seperti itu?
Ay 23 menunjukkan bahwa gereja yang penuh bahasa Roh (bukankah ini seperti gereja Kharismatik?) hanya menyebabkan orang kafir menganggap mereka gila.
Dan ay 24-25 menunjukkan bahwa gereja yang penuh nubuat / tanpa bahasa Roh (bukankah ini seperti gereja Protestan yang injili?) menyebabkan orang kafir sadar akan dosanya dan bertobat, sehingga mereka menyadari, merasakan dan mengalami kehadiran Allah dalam gereja itu (perhatikan kata-kata ‘sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu’ dalam akhir ay 25).
Pikirkan sendiri, gereja seperti apa yang saudara inginkan? Seperti dalam ay 23 atau seperti dalam ay 24-25?
Ay 26-28: “(26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.”.
1) Ay 26: “Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.”.
a) Calvin mengatakan (hal 458) bahwa ay 26 ini menunjukkan bahwa setiap karunia harus mempunyai tempatnya masing-masing, tetapi semua itu harus dilakukan untuk membangun / mendidik gereja.
b) Kata-kata ‘bilamana kamu berkumpul’ menunjukkan bahwa hal-hal ini hanya berlaku untuk suatu kebaktian / persekutuan.
c) Sekalipun kata ‘hendaklah’ dalam ay 26 ini sebetulnya tidak ada, tetapi ayat ini tetap menunjukkan bahwa dalam kebaktian, setiap orang kristen harus menggunakan karunianya untuk untuk memberikan suatu sumbangsih / pelayanan yang ditujukan untuk membangun gereja / jemaat.
1Pet 4:10 - “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”.
Ro 12:6-8a - “(6) Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. (7) Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; (8a) jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati.”.
Penerapan:
1. Apakah sampai saat ini saudara datang ke gereja hanya untuk menerima Firman Tuhan saja? Memang, keinginan untuk menerima Firman Tuhan adalah sesuatu yang baik dan harus dipertahankan, tetapi juga harus ditambah dengan keinginan memberi dan keinginan untuk bisa berguna bagi gereja / jemaat. Janganlah puas menjadi orang kristen yang tidak bisa berguna untuk gereja / jemaat.
2. Juga jangan merasa puas kalau saudara sudah memberikan persembahan dalam kebaktian, karena hal itu belum cukup. Ay 26 ini, dan juga 1Pet 4:10 dan Ro 12:6-8a, menunjukkan bahwa setiap orang kristen harus memberikan sesuatu dalam hal penggunaan karunia untuk melayani! Jadi, carilah karunia apa yang saudara miliki, dan gunakanlah untuk membangun gereja saudara!
d) Ay 26 ini jelas menunjukkan bahwa tidak setiap / semua orang kristen harus mempunyai karunia bahasa Roh, karena ayat ini mengatakan bahwa yang seorang memberikan mazmur, yang lain memberikan pengajaran, yang lain lagi memberikan bahasa Roh dst. Jadi jelas bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang mempunyai karunia bahasa Roh itu! Yang tidak punya karunia itu pasti mempunyai karunia yang lain sehingga tetap bisa berguna untuk gereja.
e) Perhatikan bahwa dalam ay 26 ini lagi-lagi karunia bahasa Roh dan karunia penafsiran bahasa Roh diletakkan di tempat terakhir.
2) Ay 27: “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.”.
a) Kata ‘jika’ pada awal ay 27 menunjukkan bahwa dalam suatu kebaktian / persekutuan, tidak selalu harus ada orang yang berbahasa Roh!
b) Ay 27 ini memberikan syarat / peraturan penggunaan bahasa Roh dalam kebaktian / persekutuan yaitu:
1. Yang berbahasa Roh hanya boleh maximum 2-3 orang.
2. Mereka harus bergiliran dalam berbahasa Roh.
3. Harus ada penafsiran.
Penggunaan bahasa Roh dalam gereja / persekutuan Pentakosta / Kharismatik pada jaman ini, dimana puluhan / ratusan / ribuan orang berbahasa Roh secara bersama-sama dan tanpa ada penafsiran, jelas bertentangan dengan syarat yang ditetapkan oleh Paulus di sini!
Tetapi kalau mereka dihadapkan pada ayat ini maka mereka berkata bahwa ada 2 jenis bahasa Roh; untuk jenis yang pertama berlaku syarat-syarat ini, tetapi untuk jenis yang kedua tidak. Dan mereka menggunakan jenis yang kedua ini. Tetapi penjelasan atau jawaban ini sama sekali tidak mempunyai dasar Kitab Suci!
c) Adanya peraturan tentang penggunaan bahasa Roh dalam kebaktian ini menunjukkan bahwa orang yang berbahasa Roh, bukanlah orang yang tidak terkendali.
Gordon D. Fee (NICNT): “The regulations for its use in 14:27-28 make it clear that the speaker is not in ‘ecstasy’ or ‘out of control.’” [= Peraturan-peraturan untuk penggunaannya dalam 14:27-28 membuat jelas bahwa sang pembicara (dalam bahasa Roh) tidak berada dalam ‘ecstasy’ / ‘kegembiraan yang meluap-luap’ atau ‘di luar kontrol / tidak terkendali’.] - hal 598.
3) Ay 28: “Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.”.
Ayat ini mengatakan bahwa kalau tidak ada orang yang bisa menafsirkan bahasa Roh itu (artinya: dalam kebaktian itu tidak ada orang yang telah diketahui mempunyai karunia penafsiran bahasa Roh), maka orang yang mau berbahasa Roh itu:
a) Harus ‘berdiam diri’.
Charles Hodge: “the influence of the Spirit under which he acts, is not irresistible, he should not exercise his gift where it can do no good to others.” [= Pengaruh Roh yang menyebabkan dia bertindak, bukannya tidak dapat ditolak, dia tidak boleh menggunakan karunianya dimana itu tidak bisa memberikan kebaikan bagi orang-orang lain.] - ‘I & II Corinthians’, hal 287.
b) Dan ‘hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah’. Apa artinya kalimat ini? Ada beberapa penafsiran:
1. Mereka boleh berdoa dengan bahasa Roh, secara pribadi / diam-diam.
Charles Hodge: “He may pray in silence” [= Ia boleh berdoa dengan diam-diam.] - ‘I & II Corinthians’, hal 287.
Saya tidak percaya pada ‘doa dengan bahasa Roh’!
2. Mereka boleh berbahasa Roh (bukan berdoa dengan bahasa Roh) pada waktu mereka sendirian. Jadi mereka harus menunggu sampai mereka sendirian, barulah mereka boleh berbahasa Roh.
Saya setuju dengan arti kedua ini.
3. Calvin: “‘Let him enjoy,’ says he, ‘his gift in his own conscience, and let him give thanks to God.’ For in this way I explain the expression - to ‘speak to himself and to God,’ as meaning - to recognize in his own mind with thanksgiving the favour conferred upon him, and to enjoy it as his own, when there is not an opportunity for bringing it forward in a public manner.” [= ‘Biarkan dia menikmati,’ katanya, ‘karunianya dalam hati nuraninya sendiri, dan biarkan dia mengucap syukur kepada Allah.’ Dengan cara ini, saya menjelaskan ungkapan - ‘berbicara kepada dirinya sendiri dan kepada Allah,’ sebagai berarti - mengakui dalam pikiran sendiri dengan rasa syukur anugerah / kebaikan yang diberikan kepadanya, dan menikmatinya sebagai miliknya sendiri, pada waktu di sana tidak ada kesempatan untuk mengungkapkannya secara umum.] - hal 459.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali