(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 16 Januari 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
1Kor 14:1-40 - “(1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. (6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? (7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. (19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. (20) Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu! (21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’ (26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.
Ay 18-19: “(18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. (19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”.
1) Ay 18: “Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.”.
Ayat ini sering dipakai oleh orang-orang Kharismatik untuk mengatakan bahwa bahasa Roh adalah karunia yang sangat penting / istimewa. Buktinya Paulus bersyukur karena ia berbahasa Roh lebih dari semua orang Korintus.
Keberatan terhadap penafsiran / pandangan ini:
Penafsiran ini bertentangan dengan arah / penekanan dari seluruh pasal, karena penekanan utama dari 1Kor 14 adalah meninggikan karunia bernubuat dibandingkan dengan karunia bahasa Roh, atau merendahkan karunia bahasa Roh dibandingkan karunia bernubuat. Penafsiran dari satu ayat yang bertentangan dengan arah / penekanan seluruh pasal, adalah penafsiran yang out of context, yang jelas merupakan penafsiran yang salah!
Arti yang benar adalah: dalam ayat-ayat sebelum ay 18 ini, Paulus sudah banyak kali merendahkan karunia bahasa Roh dibandingkan dengan karunia bernubuat. Andaikata Paulus sendiri tidak pernah bisa berbahasa Roh, maka besar kemungkinannya orang-orang Korintus akan menganggap bahwa Paulus ‘menyerang’ karunia bahasa Roh karena ia sendiri tidak mempunyai karunia itu, dan ia iri kepada orang-orang Korintus yang mempunyai karunia itu. Tetapi karena Paulus sendiri mempunyai karunia bahasa Roh, bahkan ia lebih banyak berbahasa Roh dari pada semua orang Korintus, maka tentu tidak ada alasan bagi orang-orang Korintus untuk mengatakan bahwa Paulus iri hati kepada mereka. Karena itulah maka Paulus bersyukur bahwa ia mempunyai karunia itu.
Hal yang sama terjadi dalam Fil 3:
a) Dalam Fil 3:2-3 Paulus menyerang sunat dan hal-hal lahiriah yang lain.
b) Dalam Fil 3:4-6 Paulus menunjukkan bahwa ia sendiri disunat dan mempunyai hal-hal lahiriah itu secara berlimpah-limpah. Dengan menunjukkan hal ini maka orang-orang Yahudi tidak mungkin menuduh bahwa Paulus menyerang sunat / hal-hal lahiriah itu karena iri hati.
Fil 3:2-6 - “(2) Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu, (3) karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. (4) Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: (5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, (6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.”.
2) Ay 19: “Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”.
a) Ini merupakan sambungan dari ay 18.
b) Kata ‘beribu-ribu’ dalam ay 19b seharusnya adalah ‘sepuluh ribu’.
c) Ayat ini menunjukkan bahwa sekalipun Paulus sendiri banyak berbahasa Roh, tetapi dalam kebaktian / gereja ia lebih suka mengucapkan 5 kata yang bisa dimengerti untuk mengajar orang, dari pada 10.000 kata dalam bahasa Roh yang tidak dimengerti orang.
Mengapa? Karena mengucapkan 5 kata yang bisa dimengerti (bahkan kurang dari 5 kata sekalipun) bisa mempertobatkan / membangun / menguatkan / menasehati orang, misalnya:
1. Bertobatlah, Kerajaan Surga sudah dekat!
2. Allah mengasihi orang berdosa.
3. Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus.
4. Yesus mati untuk menebus dosamu!
Sebaliknya, mengucapkan 10.000 kata dalam bahasa Roh yang tidak dimengerti oleh para pendengarnya, tidak akan berguna / membangun siapapun juga!
Catatan:
a. Perlu saudara ketahui bahwa dibutuhkan waktu yang cukup lama yaitu kira-kira 90 menit untuk mengucapkan 10.000 kata!
b. Calvin menganggap bahwa ‘mengucapkan lima kata’ merupakan gaya bahasa Hyperbole [= gaya bahasa yang melebih-lebihkan]. Ini mungkin benar, tetapi belum tentu benar, karena seperti sudah saya katakan di atas, menggunakan 5 kata untuk memberitakan Firman Tuhan merupakan sesuatu yang memungkinkan.
Karena itu adalah sesuatu yang aneh dan tidak alkitabiah kalau ada:
(1) Pengkhotbah atau pemimpin liturgi (chairman) yang sebentar-sebentar menggunakan bahasa Roh di mimbar!
(2) Pendeta / pengkhotbah yang sering menggunakan bahasa asing (Inggris, bahkan Ibrani / Yunani), tanpa diterjemahkan! Ini tidak terlalu berbeda dengan mengajar menggunakan bahasa Roh!
Sekalipun kata-kata ‘dapat dimengerti’ dalam ay 19 ini sebetulnya dimaksudkan dalam mengkontraskan / membandingkan bahasa Roh dengan nubuat, tetapi itu juga bisa diterapkan dalam persoalan nubuat / khotbah / pengajaran. Orang yang bernubuat / mengajar / berkhotbah harus melakukannya sedemikian rupa sehingga pendengarnya bisa mengerti apa yang ia sampaikan.
Pulpit Commentary: “We want to make men understand Divine truths; we should then assuredly use ‘great plainness of speech.’ Our speech has been lost because it was too ornate, or high-flown, or expressed in incomprehensible language! The ability to speak so that no one can understand us is a gift which should be earnestly desired by fools only. Some men are so profound that they are quite unfathomable, even to themselves. They dig the well so deep that they drown themselves in it. Possibly some avoid plainness intentionally, because they want no one to perceive the poverty of the portion which they are dealing out. They place nothing in many wrappers, with the fond expectation that it may pass for something amongst the ignorant. But such trickery is unworthy of the servants of the Most High, and would be called knavery if it were practised by a pedlar.” [= Kita ingin membuat orang-orang mengerti kebenaran-kebenaran Ilahi; jadi pasti kita seharusnya menggunakan ‘ucapan yang sangat jelas.’ Ucapan kita telah hilang karena terlalu dihiasi, atau tinggi, atau diungkapkan dalam bahasa yang tidak bisa dimengerti! Kemampuan berbicara sehingga tidak ada yang dapat mengerti kita adalah suatu karunia yang seharusnya hanya diinginkan dengan sungguh-sungguh oleh orang-orang bodoh. Beberapa orang begitu dalam pikirannya sehingga mereka benar-benar sukar untuk dapat dimengerti, bahkan bagi diri mereka sendiri. Mereka menggali sumur begitu dalam sehingga mereka menenggelamkan diri mereka sendiri di dalamnya. Mungkin beberapa orang menghindari kejelasan dengan sengaja, karena mereka tidak ingin ada yang menyadari kemiskinan dari bagian yang mereka berikan / tangani. Mereka meletakkan kenihilan dalam banyak bungkus, dengan harapan bahwa itu dapat diterima di antara orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan. Tetapi penipuan semacam itu tidak pantas / layak untuk dilakukan oleh hamba-hamba Yang Mahatinggi, dan akan disebut sesuatu yang menjengkelkan seandainya itu dilakukan oleh seorang pedagang keliling.] - hal 475.
Ay 20: “Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!”.
1) Pembetulan terjemahan:
Dalam Kitab Suci Indonesia ada 2 x kata ‘anak-anak’ (sama seperti KJV menggunakan 2 x kata ‘children’). Tetapi kata ‘anak-anak’ yang ke 2 seharusnya adalah ‘bayi-bayi’.
NIV: ‘Brothers, stop thinking like children. In regard to evil be infants, but in your thinking be adults’ [= Saudara-saudara, berhentilah berpikir seperti anak-anak. Dalam hal kejahatan jadilah bayi-bayi, tetapi dalam pemikiranmu jadilah orang-orang dewasa]. Cek dengan Bible Works 8.
2) Arti / penjelasan:
a) Dalam hal kejahatan, kita tidak boleh menjadi dewasa (karena orang dewasa banyak berbuat jahat), bahkan tidak seperti anak-anak (karena anak-anakpun sudah bisa berbuat jahat), tetapi seperti bayi.
Ada beberapa hal yang bisa dibahas disini:
1. Ini tidak bertentangan dengan Mat 18:3 dimana Yesus menyuruh kita menjadi seperti ‘anak-anak’ (bukan seperti ‘bayi-bayi’), karena:
a. Ini merupakan ilustrasi / perumpamaan yang berbeda / terpisah.
b. Dua perumpamaan ini mempunyai arah yang sama, karena ‘anak’ maupun ‘bayi’ secara relatif lebih suci / baik dari orang dewasa.
Contoh: Kalau saya melihat sesuatu yang terang, lalu saya mengatakan bahwa benda itu seperti ‘lampu halogen’, dan sebentar lagi saya mengatakan bahwa benda itu bersinar seperti ‘matahari’, maka itu tentu tidak bertentangan.
2. Kata ‘bayi’ itu dalam bahasa Yunaninya adalah NEPIAZETE, yang berasal dari 2 kata bahasa Yunani yaitu:
a. NE, yang berarti ‘not’ [= tidak].
b. EIPO, yang berarti ‘I speak’ [= aku berkata / berbicara].
Jadi, kata NEPIAZETE itu menunjuk pada ‘one that can not speak’ [= orang yang tidak / belum bisa berbicara].
Jadi, Paulus memaksudkan bayi berusia di bawah 6 bulan.
3. Ini sama sekali tidak berarti bahwa bayi itu suci.
Kitab Suci jelas mengajarkan adanya dosa asal yang menyebabkan semua orang dilahirkan, bahkan dikandung, di dalam dosa. Dan karena itu semua manusia punya kecondongan pada dosa (Kej 6:5 8:21 Ayub 25:4 Maz 51:7 58:4).
Kej 6:5 - “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata,”.
Kej 8:21 - “Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hatiNya: ‘Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.”.
Ayub 25:4 - “Bagaimana manusia benar di hadapan Allah, dan bagaimana orang yang dilahirkan perempuan itu bersih?”.
Maz 51:7 - “Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.”.
Maz 58:4 - “Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat.”.
Ro 5:12-19 -
“(12)
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan
oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang,
karena semua orang telah berbuat dosa. (13)
Sebab sebelum hukum Taurat ada, telah ada dosa di dunia. Tetapi dosa itu tidak
diperhitungkan kalau tidak ada hukum Taurat. (14) Sungguhpun demikian maut telah
berkuasa dari zaman Adam sampai kepada zaman Musa juga atas mereka, yang tidak
berbuat dosa dengan cara yang sama seperti yang telah dibuat oleh Adam, yang
adalah gambaran Dia yang akan datang. (15) Tetapi karunia Allah tidaklah sama
dengan pelanggaran Adam. Sebab,
jika
karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut,
jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karuniaNya, yang dilimpahkanNya
atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus. (16) Dan kasih karunia
tidak berimbangan dengan dosa satu orang. Sebab penghakiman atas satu
pelanggaran itu telah mengakibatkan penghukuman, tetapi penganugerahan karunia
atas banyak pelanggaran itu mengakibatkan pembenaran. (17)
Sebab, jika oleh dosa satu orang, maut telah berkuasa oleh satu orang itu,
maka lebih benar lagi mereka, yang telah menerima kelimpahan kasih karunia dan
anugerah kebenaran, akan hidup dan berkuasa oleh karena satu orang itu, yaitu
Yesus Kristus. (18)
Sebab
itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman,
demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk
hidup. (19)
Jadi
sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua (banyak) orang telah
menjadi orang berdosa,
demikian pula oleh ketaatan satu orang semua (banyak) orang menjadi orang
benar.”.
Tetapi, bagaimanapun juga, bayi itu dianggap berdosa karena dosa keturunan / dosa asal, bukan karena dosanya sendiri. Sekalipun kecondongan pada dosa sudah ada padanya, tetapi ia sendiri belum berbuat dosa. Karena itulah dalam hal kejahatan kita harus seperti bayi.
Penerapan: Apakah saudara berusaha menyucikan diri saudara sampai hal yang sekecil-kecilnya? Kalau saudara hanya membuang dosa-dosa besar dari hidup saudara, dan membiarkan dosa-dosa kecil / tertentu dalam hidup saudara, atau kalau saudara mengabaikan bagian tertentu dari Firman Tuhan, maka paling-paling saudara menjadi seperti anak-anak, bukan seperti bayi, dalam hal kejahatan.
b) Tetapi dalam pemikiran, kita justru tidak boleh seperti bayi (tidak berpikir dan tidak berpengetahuan), tidak juga seperti anak-anak (kurang bisa berpikir dan kurang berpengetahuan), tetapi harus seperti orang dewasa (banyak pengetahuan dan bisa berpikir dengan baik).
Yesus sendiri dikatakan ‘makin bertambah besar dan bertambah hikmatNya’ (Luk 2:52).
Juga bandingkan dengan ayat-ayat ini:
1. Amsal 4:7 - “Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.”.
2. Amsal 16:16 - “Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak.”.
3. Maz 49:21 - “Manusia, yang dengan segala kegemilangannya tidak mempunyai pengertian, boleh disamakan dengan hewan yang dibinasakan.”.
4. Yes 5:13a - “Sebab itu umatKu harus pergi ke dalam pembuangan, oleh sebab mereka tidak mengerti apa-apa;”.
Ini perlu direnungkan oleh orang-orang kristen yang sekalipun tidak banyak mengerti tentang Firman Tuhan, tetapi tetap tidak mau berusaha untuk belajar Firman Tuhan! Dalam kalangan Kharismatik, bahkan ada banyak orang yang menganggap bahwa belajar banyak Firman Tuhan membuat seseorang menjadi ahli Taurat, dan mereka sendiri bangga akan kebodohan mereka dalam persoalan pengertian Firman Tuhan.
Pulpit Commentary: “A willingly ignorant Christian is an anomaly, a strange being, an imperfection, essentially incomplete; he has not felt, or he has resisted, the full force of the Christly principles and requirements.” [= Seorang Kristen yang dengan sengaja tidak punya pengetahuan adalah suatu anomali / penyimpangan, suatu makhluk aneh, sebuah ketidaksempurnaan, pada dasarnya tidak lengkap; dia belum merasakan, atau dia telah menolak, kekuatan penuh dari prinsip-prinsip dan tuntutan-tuntutan yang menyerupai Kristus.] - hal 481.
Calvin: “Hence we infer how shameless a part (of?) those act, who make Christian simplicity consist in ignorance.” [= Karena itu kami berpendapat / menyimpulkan betapa tidak tahu malunya sebagian dari mereka bertindak, yang membuat kesederhanaan Kristen terdiri dari ketidak-tahuan / kebodohan.] - hal 453.
Calvin menambahkan lagi: “The Pope, inasmuch as it is easier to govern asses than men, gives orders, under pretext of simplicity, that all under him shall remain uninstructed.” [= Paus, karena lebih mudah untuk memerintah / menguasai keledai-keledai dari pada orang-orang, memerintahkan, di bawah kepura-puraan kesederhanaan, supaya semua yang ada di bawahnya tetap tinggal tidak diajar.] - hal 453.
Catatan: jaman sekarang juga banyak pendeta-pendeta dalam kalangan Kristen, yang mempunyai sikap yang sama. Mereka senang kalau jemaatnya bodoh, karena dengan demikian mereka bisa menguasai mereka dengan lebih mudah, dan mereka bisa bertindak apa saja. Sebaliknya jemaat yang mengerti Firman Tuhan akan menjadi kritis, sehingga akan memprotes, dsb, dan ini pasti menyulitkan mereka.
Dan dalam komentarnya tentang Luk 5:10, dimana Yesus memilih nelayan-nelayan yang bodoh untuk menjadi murid-muridNya, Calvin berkata: “When our Lord chose persons of this description it was not because he preferred ignorance to learning: as some fanatics do, who are delighted with their ignorance, and fancy that, in proportion as they hate literature, they approach the nearer to the apostles.” [= Pada waktu Tuhan kita memilih orang-orang seperti ini itu bukanlah karena Ia lebih senang orang bodoh dari pada yang terpelajar, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang fanatik, yang senang dengan kebodohan mereka, dan berkhayal bahwa makin mereka membenci literatur makin mereka mirip dengan rasul-rasul.] - hal 243.
Dalam persoalan pemanggilan orang bodoh / tak terpelajar ini, kita perlu mengingat bahwa pada waktu Yesus memanggil orang bodoh / tak berpendidikan, Ia bukannya lalu membiarkan mereka bodoh / tak berpendidikan terus. Sebaliknya Yesus mengajar mereka sehingga menjadi pandai (dalam hal rohani).
Perlu juga diingat bahwa dalam Kitab Suci orang kristen sering disebut dengan istilah ‘murid’. Mengapa? Karena ‘murid’ adalah seorang yang belajar!
Yoh 8:31 - “Maka kataNya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: ‘Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu”.
Jadi, keadaan bodoh / tak berpendidikan memang bukan merupakan halangan untuk melayani Tuhan, tetapi bagaimanapun ia harus mau belajar!
Sikap fanatik yang bodoh seperti yang dikatakan oleh Calvin di atas, bertentangan frontal dengan kata-kata Paulus dalam ay 20 ini, yang dalam persoalan pemikiran / pengertian melarang untuk menjadi seperti anak-anak, dan mengharuskan untuk menjadi seperti orang dewasa.
Ciri-ciri pemikiran anak:
a. Tidak berpikir panjang.
Kalau saudara sering melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang, maka saudara mempunyai pikiran anak-anak!
b. Mudah terombang-ambing (bdk. Ef 4:14).
Ef 4:11-15 - “(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”.
Kalau saudara selalu mengaminkan / mengiyakan seadanya ajaran yang saudara dengar / baca, maka saudara mempunyai pikiran anak-anak.
c. Mengutamakan / mengagungkan hal-hal yang spektakuler.
Dalam kontex 1Kor 14 ini maka jelaslah bahwa hal yang ke 3 inilah yang paling ditekankan. Mujizat dan bahasa Roh adalah hal-hal yang spektakuler, sehingga sering dianggap sebagai hal-hal yang hebat. Tetapi bagian ini menunjukkan bahwa orang yang mengagungkan / mengutamakan hal-hal yang spektakuler seperti ini adalah orang yang childish [= kekanak-kanakan]!
Supaya kita bisa menjadi dewasa dalam pemikiran, maka jelas bahwa kita harus belajar Firman Tuhan dengan rajin dan tekun, termasuk bagian-bagian yang adalah ‘makanan keras’ (bdk. 1Kor 3:1-2 Ibr 5:11-14).
1Kor 3:1-2 - “(1) Dan aku, saudara-saudara, pada waktu itu tidak dapat berbicara dengan kamu seperti dengan manusia rohani, tetapi hanya dengan manusia duniawi, yang belum dewasa dalam Kristus. (2) Susulah yang kuberikan kepadamu, bukanlah makanan keras, sebab kamu belum dapat menerimanya. Dan sekarangpun kamu belum dapat menerimanya.”.
Ibr 5:11-14 - “(11) Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan. (12) Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. (13) Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil. (14) Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”.
c) Kebalikan dari kata-kata Paulus ini terdapat dalam Yer 4:22 - “‘Sungguh, bodohlah umatKu itu, mereka tidak mengenal Aku! Mereka adalah anak-anak tolol, dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu.’”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali