(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 10 Oktober 2023, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
1Kor 14:1-40 - “(1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. (6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? (7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi - bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? (8) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? (9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! (10) Ada banyak - entah berapa banyak - macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satupun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. (11) Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. (12) Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. (13) Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. (14) Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. (15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ‘amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? (17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (18) Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. (19) Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh. (20) Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu! (21) Dalam hukum Taurat ada tertulis: ‘Oleh orang-orang yang mempunyai bahasa lain dan oleh mulut orang-orang asing Aku akan berbicara kepada bangsa ini, namun demikian mereka tidak akan mendengarkan Aku, firman Tuhan.’ (22) Karena itu karunia bahasa roh adalah tanda, bukan untuk orang yang beriman, tetapi untuk orang yang tidak beriman; sedangkan karunia untuk bernubuat adalah tanda, bukan untuk orang yang tidak beriman, tetapi untuk orang yang beriman. (23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila? (24) Tetapi kalau semua bernubuat, lalu masuk orang yang tidak beriman atau orang baru, ia akan diyakinkan oleh semua dan diselidiki oleh semua; (25) segala rahasia yang terkandung di dalam hatinya akan menjadi nyata, sehingga ia akan sujud menyembah Allah dan mengaku: ‘Sungguh, Allah ada di tengah-tengah kamu.’ (26) Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. (27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah. (29) Tentang nabi-nabi - baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan. (30) Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. (31) Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan. (32) Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi. (33) Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera. (34) Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat. (35) Jika mereka ingin mengetahui sesuatu, baiklah mereka menanyakannya kepada suaminya di rumah. Sebab tidak sopan bagi perempuan untuk berbicara dalam pertemuan Jemaat. (37) Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar, bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan. (38) Tetapi jika ia tidak mengindahkannya, janganlah kamu mengindahkan dia. (39) Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh. (40) Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”.
Baik golongan Kharismatik, maupun golongan anti Kharismatik, sering menggunakan ayat-ayat dari 1Kor 14 untuk mendukung pandangannya masing-masing.
Dalam penggunaan ayat-ayat dalam 1Kor 14 ini oleh orang-orang Kharismatik, sering sekali terjadi bahwa kontexnya tidak dipedulikan. Dengan kata lain, banyak orang Kharismatik menggunakan ayat-ayat dalam 1Kor 14 terlepas dari kontexnya. Ini tentu saja merupakan penggunaan / cara penafsiran yang keliru! Ayat Kitab Suci tidak pernah boleh ditafsirkan terlepas dari kontexnya! Karena itu perlu sekali kita mempelajari exposisi dari seluruh 1Kor 14 supaya kita bisa menafsirkan setiap ayat sesuai dengan kontexnya! Untuk itu, sebelum saudara membaca exposisi ayat per ayat di bawah ini, bacalah seluruh 1Kor 14 sedikitnya satu atau dua kali.
Ay 1-5: “(1) Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat. (2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.”.
1) Ay 1a: ‘kejarlah kasih itu’.
Setelah menjelaskan tentang kasih dalam 1Kor 13, maka sekarang Paulus berkata ‘kejarlah kasih itu’.
a) Ini menunjukkan bahwa kasih adalah hal yang sangat penting.
Dalam 1Kor 12 dan 1Kor 14 Paulus sebetulnya membahas tentang karunia-karunia untuk melayani Tuhan, tetapi toh ia menyelipi ke dua pasal itu dengan 1Kor 13 yang membicarakan tentang kasih, dan lalu berkata bahwa kita harus mengejar kasih. Ini menunjukkan bahwa kasih adalah sesuatu yang mutlak harus ada dalam pelayanan.
1. Tanpa kasih (baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia), pelayanan akan dilakukan tanpa beban dan kesungguhan.
2. Tanpa kasih, karunia-karunia akan disalah-gunakan, dan dijadikan sesuatu untuk menyombongkan diri.
Calvin: “They will, therefore, regulate themselves with propriety in the use of gifts, if love prevails among them. For he tacitly reproves the want of love, as appearing in this - that they had hitherto abused their gifts,” [= Karena itu, mereka akan mengatur diri mereka dengan tepat / benar dalam penggunaan karunia-karunia, jika kasih mendominasi di antara mereka. Karena itu, ia secara tersirat menegur kurangnya kasih, seperti yang terlihat dalam hal ini - bahwa mereka sampai saat ini telah menyalahgunakan karunia-karunia mereka,] - hal 434.
Renungkan: apakah ada kasih dalam diri saudara?
b) Kasih memang adalah buah Roh Kudus (Gal 5:22), tetapi itu tidak berarti bahwa dengan berdiam diri / bersikap pasif kita bisa menjadi orang yang penuh kasih. Karena itu Paulus berkata ‘kejarlah kasih itu’ (ay 1a)!
Penerapan: Boleh jadi saudara mengejar Firman Tuhan, tetapi apakah saudara mengejar kasih?
c) Ada beberapa hal yang harus saudara lakukan kalau saudara mau menjadi orang yang penuh kasih:
1. Mendekatlah dan banyaklah bersekutu dengan Tuhan. Ini akan menyebabkan saudara ‘ketularan’ kasih Tuhan. Alegori pokok anggur dengan rantingnya dalam Yoh 15:1-8 menunjukkan bahwa kalau kita mempunyai persekutuan yang baik dengan Yesus, barulah kita bisa berbuah banyak! Karena itu banyaklah bersekutu dengan Tuhan!
2. Buanglah segala dosa, baik besar maupun kecil, karena dosa memisahkan / menjauhkan saudara dari Tuhan, dan membuat kasih saudara kepada Tuhan menjadi hambar! Terhadap jemaat Efesus yang kehilangan kasih yang semula, Tuhan memerintahkan supaya mereka bertobat (Wah 2:5).
Wah 2:4-5 - “(4) Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. (5) Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.”.
3. Janganlah mengasihi uang / dunia, karena itu akan menyebabkan saudara tidak mungkin mengasihi Tuhan (Mat 6:24 Yak 4:4 1Yoh 2:15).
Mat 6:24 - “Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.’”.
Yak 4:4 - “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.”.
1Yoh 2:15 - “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.”.
4. Seringlah merenungkan cinta Tuhan bagi saudara, khususnya yang Ia tunjukkan dengan mati di atas kayu salib bagi saudara! Saudara tidak akan bisa mengasihi Tuhan kalau saudara tidak lebih dahulu menyadari bahwa Tuhan betul-betul mengasihi saudara.
d) Sekalipun kasih itu penting, tetapi kita tidak boleh menekankan kasih sehingga mengorbankan kebenaran!
Bandingkan dengan:
1. Wah 2:2 dan 2Kor 11:4 dimana pada waktu ada pengajar sesat / rasul palsu, ketidaksabaran justru dipuji sedangkan kesabaran justru dikecam!
Wah 2:2 - “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.”.
2Kor 11:4 - “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima.”.
2. Yak 3:17 - “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”.
Perhatikan bahwa yang dinomer-satukan adalah ‘murni’, dan baru setelah itu ‘pendamai’.
Thomas Manton (tentang Yak 3:17): “If the chiefest care must be for purity, then peace may be broken in truth’s quarrel. It is a zealous speech of Luther that rather heaven and earth should be blended together in confusion than one jot of truth perish.” [= Jika perhatian yang paling utama adalah untuk kemurnian, maka damai boleh dihancurkan dalam pertengkaran kebenaran. Merupakan suatu ucapan yang bersemangat dari Luther bahwa lebih baik langit dan bumi bercampur aduk menjadi satu dari pada satu titik kebenaran binasa.] - hal 316.
Pada waktu Martin Luther melihat adanya begitu banyak ketidak-benaran dalam bentuk ajaran dan praktek yang salah / sesat dari gereja Roma Katolik pada saat itu, apakah ia tetap memelihara perdamaian? Tidak, tetapi sebaliknya ia memakukan 95 thesisnya di pintu gereja Wittenberg, dan ini akhirnya menimbulkan perpecahan dalam gereja! Beranikah saudara menyalahkan Martin Luther dan menganggapnya sebagai orang yang tidak cinta damai?
Calvin, dalam komentarnya tentang Ef 5:11, berkata: “But rather than the truth of God shall not remain unshaken, let a hundred worlds perish.” [= Tetapi dari pada kebenaran Allah tergoncangkan, lebih baik seratus dunia binasa.].
Calvin (tentang 1Kor 14:33): “if we are called to contend against wicked doctrines, even though heaven and earth should come together, we must, nevertheless, persevere in the contest. We must, indeed, in the first place, make it our aim, that the truth of God may, without contention, maintain its ground; but if the wicked resist, we must set our face against them, and have no fear, lest the blame of the disturbances should be laid to our charge. For accursed is that peace of which revolt from God is the bond, and blessed are those contentions by which it is necessary to maintain the kingdom of Christ.” [= Jika kita dipanggil untuk melawan doktrin-doktrin / ajaran-ajaran yang jahat, meskipun langit dan bumi harus bercampur aduk, kita harus tetap bertekun dalam perjuangan itu. Kita memang harus, pada awalnya, berusaha agar kebenaran Allah dapat mempertahankan dirinya tanpa perdebatan, tetapi jika orang jahat menentang, kita harus menghadapi mereka dan tidak takut, agar kesalahan dari gangguan-gangguan itu tidak dibebankan kepada kita. Karena terkutuklah perdamaian dimana pemberontakan terhadap Allah adalah pengikat / pemersatunya, dan diberkatilah pertentangan-pertentangan yang diperlukan untuk mempertahankan kerajaan Kristus.] - hal 466.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali