(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 20 Agustus 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
PATUNG, simbol salib & relics
I) Patung.
KGK no 617, 1159-1162, 2129-2132, 2141.
(https://www.stignatiuspj.org/wp-content/uploads/2021/09/katekismus-gereja-katolik.pdf)
A) Sejarah singkat:
1) Pada awal abad ke 4 banyak orang kafir masuk ke gereja karena Constantine menjadikan kristen sebagai agama seluruh kekaisaran Romawi.
2) Pada awal abad ke-7 ‘Paus’ Gregory the Great (590-604) secara resmi menyetujui penggunaan patung-patung dalam gereja tetapi tidak untuk disembah.
3) Pada abad ke-8 doa mulai ditujukan kepada patung-patung.
4) Pada tahun 725 / 726 Kaisar Leo III menentang penggunaan patung-patung. Terjadi perdebatan soal patung sampai tahun 787 dimana Council of Nicea II memutuskan bahwa penyembahan / pemujaan patung-patung dan gambar-gambar diijinkan.
KGK no 2131.
5) Thomas Aquinas (1225-1274) mempertahankan penggunaan patung karena dianggap penting untuk orang-orang yang buta huruf.
6) Council of Trent (sess. 25) memutuskan: “The images of Christ and the Virgin mother of God, and of the other saints, are to be had and to be kept, especially in churches, and due honor and veneration are to be given them” (= Patung-patung Kristus dan bunda perawan dari Allah dan orang-orang suci yang lain harus dimiliki dan dijaga / dipelihara, khususnya di gereja-gereja, dan hormat dan pemujaan yang seharusnya / selayaknya harus diberikan kepada mereka) - Loraine Boettner, ‘Roman Catholicism’, hal 279.
B) Dasar penggunaan patung:
1) Pada abad ke 4 itu kebanyakan orang tidak bisa membaca. Jadi dibutuhkan benda-benda yang bisa dilihat untuk mewakili orang-orang / tokoh-tokoh Kitab Suci. Argumentasi ini dipertahankan oleh Thomas Aquinas (1225-1274).
2) Tuhan juga menyuruh Musa membuat patung kerub di Ruang Maha Suci (Kel 25:10-21).
Kel 25:10-21 - “(10) ‘Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. (11) Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya. (12) Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. (13) Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. (14) Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. (15) Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya. (16) Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. (17) Juga engkau harus membuat tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya. (18) Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. (19) Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. (20) Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu. (21) Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu.”.
3) Tuhan menyuruh Musa membuat patung ular (Bil 21:4-9).
Bil 21:4-9 - “(4) Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. (5) Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.’ (6) Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. (7) Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: ‘Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkanNya ular-ular ini dari pada kami.’ Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. (8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ (9) Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.”.
KGK no 2130.
C) Teori dan praktek penggunaan patung:
1) Teori: Bukan patung yang disembah tetapi orang / roh yang diwakili oleh patung itu.
KGK no 2132.
Tetapi perlu diingat bahwa boleh dikatakan semua penyembah berhala juga menggunakan teori / kepercayaan seperti itu.
Contoh:
a) “Murti puja is the key Hindu practice of worshipping sacred images of God and divine personalities. It helps Hindus to establish, express and enhance their relationship with these divinities. A murti becomes venerable for Hindus only after it is enlivened with the spiritual energy and essence of the Deity. Because it contains the living presence of the Deity, a murti is more than a physical representation or a meditational tool. And so devout Hindus can see beyond the stone or metal or paint, and endeavour to relate to and serve the divine spirit within. Hindus believe that God pervades everything and so he already has a presence in all beings and objects. However, when an image prepared according to scriptural prescriptions is ritually infused by a spiritual authority, such a murti becomes especially worthy of and conducive to worship.” [= Murti puja adalah praktek utama dalam agama Hindu untuk menyembah gambar suci dari Allah dan sosok-sosok ilahi. Praktek ini membantu umat Hindu untuk membangun, mengungkapkan, dan memperkuat hubungan mereka dengan keilahian tersebut. Sebuah murti menjadi sesuatu yang dipuja oleh umat Hindu hanya setelah dihidupkan dengan energi spiritual dan hakekat dari Dewa / ke-Allah-an. Karena murti mengandung kehadiran hidup dari Dewa / ke-Allah-an, maka murti lebih dari wakil fisik atau suatu alat meditasi. Oleh karena itu, umat Hindu yang sungguh-sungguh dapat melihat melampaui batu, logam, atau cat, dan berusaha untuk berhubungan dengan serta melayani roh ilahi di dalamnya. Umat Hindu percaya bahwa Allah meresapi segala sesuatu dan karena itu Ia sudah hadir dalam semua makhluk dan benda. Namun, ketika sebuah patung yang disiapkan sesuai dengan petunjuk kitab suci secara ritual diresapi oleh suatu otoritas spiritual, murti tersebut menjadi sangat layak dan kondusif untuk disembah.] - http://londonmandir.baps.org/worship/murti-puja-image-worship-in-hinduism/
b) “Idolatry refers to the worship of a tangible idol, such as a statue or an icon. In Abrahamic religions, idolatry denotes the worship of something other than God - a false God, to be exact (note: there is some leniency in this, as some branches of Christianity permit the use of holy paintings and images of Christ on the cross). This belief is expressed in the Bible in Leviticus 26:1-2: ‘Ye shall make you no idols nor graven image, neither rear you up a standing image, neither shall ye set up any image of stone in your land, to bow down unto it: for I am the Lord your God. Ye shall keep my sabbaths, and reverence my sanctuary.’ But in Hinduism, idols (murti) are worshipped as reminders of God. For example, every year, in Mumbai, Hindus bring clay images of Lord Ganesha to their homes, and worship him for a day or two before immersing the image in the sea. The ritual includes veneration (aradhana) which involves welcoming the divine, bathing him, offering him food, clothes, perfumes, lamps, incense, and finally words of praise. Here, the idol is seen as a vehicle - a physical, tangible carrier - of God. Thus, an important point is made: Hindus don’t worship idols, believing them to be Gods. Rather, they view the statues and images as physical representations of God to help them focus on an aspect of prayer or meditation. This tradition is reflected in Verse 12.5 of the Bhagavad Gita, which states that only a few have the time and mind to ponder and fix on the unmanifested Absolute (abstract formless Brahman). As such, it is much easier to focus on qualities, virtues, aspects of a manifested representation of God through one’s senses, emotions and heart, because of the way human beings naturally are. Furthermore, it is important to note that a murti in Hinduism is a form and manifestation of the omnipotent Brahman. Thus, a literal translation of murti as idol is incorrect, for Brahman is not actually confined to the idol.” [= Penyembahan berhala merujuk pada penyembahan terhadap berhala yang berwujud nyata, seperti patung atau ikon (lukisan / gambar - KBBI). Dalam agama-agama Abrahamik, pemujaan berhala menunjukkan penyembahan terhadap sesuatu selain Allah – lebih tepatnya, dewa / Allah palsu (catatan: ada sedikit kelonggaran dalam hal ini, karena beberapa cabang Kekristenan mengizinkan penggunaan lukisan suci dan gambar Kristus di kayu salib). Kepercayaan ini dinyatakan dalam Alkitab di Imamat 26:1-2: ‘Janganlah kamu membuat patung berhala bagimu, atau mendirikan patung ukiran atau tugu batu bagimu, atau mendirikan patung batu di negerimu untuk bersujud kepadanya, sebab Akulah Tuhan, Allahmu. Kamu harus memelihara hari-hari SabatKu, dan menghormati tempat kudusKu.’ Namun, dalam Hindu, patung (murti) disembah sebagai pengingat akan Allah. Sebagai contoh, setiap tahun di Mumbai, umat Hindu membawa patung tanah liat Dewa Ganesha ke rumah mereka, dan menyembahnya selama satu atau dua hari sebelum menenggelamkan patung tersebut ke laut. Ritual ini mencakup pemujaan (aradhana) yang melibatkan penyambutan sang ilahi, memandikannya, menawarkan kepadanya makanan, pakaian, parfum, lampu, dupa, dan akhirnya kata-kata pujian. Di sini, patung dilihat sebagai sarana - pembawa fisik dan nyata - dari Allah. Dengan demikian, poin penting dibuat: umat Hindu tidak menyembah patung berhala, dengan mempercayai bahwa patung-patung tersebut adalah Allah. Sebaliknya, mereka memandang patung-patung dan gambar-gambar tersebut sebagai wakil-wakil fisik dari Allah untuk membantu mereka fokus pada suatu aspek dari doa atau meditasi. Tradisi ini tercermin dalam Bhagavad Gita, Ayat 12.5, yang menyatakan bahwa hanya sedikit orang yang memiliki waktu dan pikiran untuk merenungkan dan memusatkan perhatian pada Wujud Absolut yang tidak termanifestasi (Brahman yang abstrak dan tanpa bentuk). Karena itu, jauh lebih mudah untuk fokus pada kwalitet, kebajikan, aspek-aspek dari suatu wakil dari Allah melalui indera, emosi, dan hati, sesuai dengan sifat alami manusia. Lebih lanjut, penting untuk diperhatikan bahwa murti dalam ajaran Hindu adalah suatu bentuk dan manifestasi dari Brahman yang maha kuasa. Oleh karena itu, terjemahan literal dari ‘murti’ sebagai ‘berhala’ adalah tidak tepat, karena Brahman sebenarnya tidak terbatas pada ‘berhala’ tersebut.] - https://www.hinduamerican.org/blog/what-idolatry-means-in-hinduism/
Sekarang contoh dari Alkitab:
a) Kel 32:1-6 - “(1) Ketika bangsa itu melihat, bahwa Musa mengundur-undurkan turun dari gunung itu, maka berkumpullah mereka mengerumuni Harun dan berkata kepadanya: ‘Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir - kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia.’ (2) Lalu berkatalah Harun kepada mereka: ‘Tanggalkanlah anting-anting emas yang ada pada telinga isterimu, anakmu laki-laki dan perempuan, dan bawalah semuanya kepadaku.’ (3) Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. (4) Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: ‘Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!’ (5) Ketika Harun melihat itu, didirikannyalah mezbah di depan anak lembu itu. Berserulah Harun, katanya: ‘Besok hari raya bagi TUHAN!’ (6) Dan keesokan harinya pagi-pagi maka mereka mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, sesudah itu duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.”.
Ini cerita tentang bangsa Israel yang jatuh ke dalam penyembahan anak lembu emas. Sebetulnya tujuan mereka bukanlah menyembah anak lembu emas itu sendiri, tetapi menyembah Allah. Ini terlihat dari Kel 32:5 dimana Harun berkata: ‘Besok hari raya bagi TUHAN’.
Tetapi penyembahan terhadap Allah itu mereka lakukan melalui anak lembu emas / berhala, dan ini menyebabkan Tuhan murka dan menghukum mereka.
b) Ul 12:4,31 - “(4) Jangan kamu berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu. ... (31a) Jangan engkau berbuat seperti itu terhadap TUHAN, Allahmu”.
NIV: “You must not worship the LORD your God in their way” (= Kamu tidak boleh menyembah TUHAN Allahmu dengan cara mereka).
Ayat ini dengan jelas menunjukkan larangan penyembahan terhadap Allah dengan cara orang kafir / Kanaan (yaitu menyembah Allah menggunakan berhala).
Apa bedanya penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Roma Katolik, dengan penyembahan berhala yang dilakukan oleh orang-orang Hindu, dan juga dengan penyembahan berhala dalam kedua contoh dari Alkitab di atas????
2) Praktek:
a) Banyak orang yang tidak mengerti perbedaan antara patung dan orang / roh yang diwakili oleh patung.
Misalnya: orang yang tidak berpendidikan dan anak-anak kecil. Sehingga mereka betul-betul menyembah patung-patung itu.
b) Patung-patung itu ditempatkan di gereja, rumah sakit, rumah sekolah, mobil dsb. Patung-patung itu disembah, dicium, diberi kemenyan, didoai, dibawa dalam arak-arakan.
Lenski (tentang Kis 10:25-26): “In great St. Peter’s in Rome they still kiss the big toe of the bronze statue of St. Peter; the writer saw a woman and her baby in the act, and if the guide, a learned Italian professor, may be believed, that bronze toe is kissed away and has to be renewed about every so often. Peter ought to visit St. Peter’s.” [= Di dalam gereja Santo Petrus yang agung di Roma mereka (orang-orang Katolik) tetap mencium ibu jari kaki dari patung perunggu dari Santo Petrus; penulis melihat seorang perempuan dan bayinya melakukan tindakan itu, dan jika si pemandu, seorang profesor Italia yang terpelajar, bisa dipercayai, ibu jari kaki perunggu itu dicium habis dan harus diperbaharui setiap beberapa waktu. Petrus seharusnya mengunjungi gereja Santo Petrus.] - hal 412.
D) Pandangan Kristen:
1) Kel 20:4-5 Im 26:1 1Yoh 5:21 2Kor 6:16 dengan jelas mengecam penyembahan berhala.
Kel 20:4-5 - “(4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,”.
Penafsiran Kel 20:4-5.
Kel 20:4 melarang untuk membuat patung. Ada 2 kemungkinan untuk menafsirkan bagian ini:
a) Kel 20:4 ditafsirkan secara terpisah dari Kel 20:5, tetapi yang dimaksud dengan ‘patung’ bukanlah patung biasa, tetapi ‘patung berhala’ [NIV/NASB: ‘an idol’ (= patung berhala)].
b) Kel 20:4 dan Kel 20:5 tidak boleh dipisahkan sehingga berdiri sendiri-sendiri, tetapi harus ditafsirkan dalam suatu kesatuan. Jadi, yang dilarang bukanlah ‘membuat patung’ dan ‘menyembah patung’, tetapi ‘membuat patung untuk disembah’.
Im 26:1 - “‘Janganlah kamu membuat berhala bagimu, dan patung atau tugu berhala janganlah kamu dirikan bagimu; juga batu berukir janganlah kamu tempatkan di negerimu untuk sujud menyembah kepadanya, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.”.
1Yoh 5:21 - “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.”.
2Kor 6:16 - “Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu.”.
2) Orang-orang Katolik menghapuskan hukum ke II (tentang larangan membuat dan menyembah patung) dari 10 hukum Tuhan versi mereka. Kalau merasa bahwa penggunaan patung itu bukan untuk penyembahan berhala, mengapa mereka menghapuskan hukum ke II itu? Mari kita melihat pembahasan di bawah ini.
Katolik dan hukum kedua.
a) Perubahan hukum ke 2 dalam Gereja Roma Katolik.
Merupakan suatu fakta bahwa Gereja Roma Katolik dipenuhi dengan patung yang disembah. Bagaimana mereka bisa melakukan hal itu dengan adanya hukum kedua ini? Jawabannya adalah: dalam Katolik 10 hukum Tuhannya berbeda.
Matthew Henry: “The use of images in the church of Rome, at this day, is so plainly contrary to the letter of this command, and so impossible to be reconciled to it, that in all their catechisms and books of devotion, which they put into the hands of the people, they leave out this commandment, joining the reason of it to the first; and so the third commandment they call the second, the fourth the third, &c.; only, to make up the number ten, they divide the tenth into two. Thus have they committed two great evils, in which they persist, and from which they hate to be reformed; they take away from God’s word, and add to his worship.” [= Penggunaan patung-patung dalam gereja Roma, pada jaman ini, adalah dengan begitu jelas bertentangan dengan huruf dari hukum ini, dan begitu tidak mungkin / mustahil untuk diperdamaikan / diharmoniskan dengannya, sehingga dalam semua katekisasi dan buku-buku pembaktian / ibadah mereka, yang mereka letakkan di tangan dari umat / orang-orang, mereka menghapuskan hukum ini, menggabungkan artinya dengan hukum yang pertama; dan dengan demikian hukum ketiga mereka sebut kedua, keempat mereka sebut ketiga, dst.; hanya, untuk membuat / mengejar bilangan sepuluh, mereka membagi hukum kesepuluh menjadi dua. Dengan demikian mereka telah melakukan dua kejahatan besar, dalam mana mereka berkeras, dan dari mana mereka tidak senang untuk direformasi; mereka mengambil / membuang dari firman Allah, dan menambah pada ibadah / penyembahanNya.].
Adam Clarke: “To countenance its image worship, the Roman Catholic church has left the whole of this second commandment out of the decalogue, and thus lost one whole commandment out of the ten; but to keep up the number they have divided the tenth into two commandments. This is totally contrary to the faith of God’s elect and to the acknowledgment of that truth which is according to godliness. ... This corruption of the word of God by the Roman Catholic Church stamps it, as a false and heretical church, with the deepest brand of ever-enduring infamy!” [= Untuk merestui / mendukung penyembahan berhalanya, gereja Roma Katolik telah membuang seluruh hukum kedua dari 10 hukum Tuhan, dan dengan demikian kehilangan / menghilangkan satu hukum penuh dari sepuluh; tetapi untuk menjaga / mengejar bilangan 10 itu mereka telah membagi hukum ke 10 menjadi dua hukum. Ini bertentangan secara total dengan iman / ajaran dari orang-orang pilihan dan dengan pengakuan terhadap kebenaran itu yang sesuai dengan kesalehan. ... Perusakan firman Allah ini oleh Gereja Roma Katolik mencapnya sebagai gereja yang palsu / sesat dan bersifat bidat, yang merupakan cap / merk yang paling dalam dari keburukan yang bertahan selama-lamanya!].
10 Hukum Tuhan versi Katolik (ini saya ambil dari ‘Catechism of the Catholic Church’ tahun 1992):
1. I am the LORD your God: you shall not have strange Gods before me (= Akulah TUHAN Allahmu: jangan mempunyai Allah-allah asing di hadapanKu).
2. You shall not take the name of the LORD your God in vain (= Jangan menggunakan nama TUHAN Allahmu dengan sia-sia).
3. Remember to keep holy the LORD’S Day (= Ingatlah untuk menguduskan Hari TUHAN).
4. Honor your father and your mother (= Hormatilah bapa dan ibumu).
5. You shall not kill (= Jangan membunuh).
6. You shall not commit adultery (= Jangan berzinah).
7. You shall not steal (= Jangan mencuri).
8. You shall not bear false witness against your neighbor (= Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu).
9. You shall not covet your neighbor’s wife (= Jangan menginginkan istri sesamamu).
10.You shall not covet your neighbor’s goods (= Jangan menginginkan barang-barang / harta benda sesamamu).
KGK antara no 2051 dan 2052.
KGK no 2064-2067.
Jadi, mereka menghapuskan hukum ke 2 lalu menjadikan hukum ke 3 sebagai hukum ke 2, hukum ke 4 sebagai hukum ke 3 dst. Lalu mereka memecah hukum ke 10 menjadi 2, yaitu hukum ke 9 dan ke 10, untuk tetap mendapatkan bilangan 10.
Penghapusan hukum ke 2 ini jelas merupakan suatu tindakan menginjak-injak Kitab Suci, dan menunjukkan betapa tidak Alkitabiahnya gereja Katolik!
Disamping itu, merupakan sesuatu yang tidak masuk akal dan tidak Alkitabiah untuk membagi hukum ke 10 menjadi 2, karena:
a. Kalau ‘jangan mengingini istri sesamamu’ disebutkan sebagai hukum ke 9 seperti dalam versi Katolik, itu mungkin masih bisa disesuaikan dengan Ul 5, dimana kata-kata ‘istri sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan lalu disusul dengan ‘rumah, ladang, hamba, lembu, keledai sesamamu’.
Ul 5:21 - “Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”.
Tetapi bagaimana hal itu bisa disesuaikan dengan Kel 20:17, dimana kata-kata ‘rumah sesamamu’ menduduki tempat pertama, dan sesudah itu baru ‘istrinya’?
Kel 20:17 - “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.’”.
b. Pada waktu Paulus mengutip hukum ke 10 ini, ia memperlakukannya sebagai satu kesatuan.
Calvin (tentang Kel 20:12): “the prohibition of God to covet either our neighbour’s wife or his house, is foolishly separated into two parts, whereas it is quite clear that only one thing is treated of, as we gather from the words of Paul, who quotes them as a single Commandment. (Rom. 7:7.) ... the fact itself explains how one error has grown out of another; for, when they had improperly hidden the Second Commandment under the First, and consequently did not find the right number, they were forced to divide into two parts what was one and indivisible.” [= larangan Allah untuk mengingini istri sesama kita atau rumahnya, secara bodoh dipisahkan menjadi 2 bagian, padahal adalah cukup jelas bahwa hanya satu hal yang dibicarakan, seperti yang bisa kita dapatkan dari kata-kata Paulus, yang mengutip mereka sebagai satu Hukum (Ro 7:7). ... fakta itu sendiri menjelaskan bagaimana satu kesalahan telah tumbuh dari kesalahan yang lain; karena, pada waktu mereka secara tidak benar telah menyembunyikan Hukum kedua di bawah Hukum pertama, dan karena itu tidak bisa mendapatkan bilangan yang benar (tak bisa mendapatkan bilangan 10), mereka terpaksa membagi menjadi 2 bagian apa yang seharusnya adalah satu dan tidak bisa dibagi-bagi.] - hal 6.
Bdk. Ro 7:7 - “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Apakah hukum Taurat itu dosa? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, justru oleh hukum Taurat aku telah mengenal dosa. Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: ‘Jangan mengingini!’”.
Apa yang mengejutkan adalah: susunan / urut-urutan 10 hukum versi Katolik itu didapatkan dari Agustinus, dan juga diikuti oleh Luther / gereja Lutheran.
Keil & Delitzsch: “The second view was brought forward by Augustine, and no one is known to have supported it previous to him. In his Quaest. 71 on Ex., when treating of the question how the commandments are to be divided ... He then proceeds still further to show that the commandment against images is only a fuller explanation of that against other gods, but that the commandment not to covet is divided into two commandments by the repetition of the words, ‘Thou shalt not covet,’ ... In this division Augustine generally reckons the commandment against coveting the neighbour’s wife as the ninth, according to the text of Deuteronomy; although in several instances he places it after the coveting of the house, according to the text of Exodus. Through the great respect that was felt for Augustine, this division became the usual one in the Western Church; and it was adopted even by Luther and the Lutheran Church,” [= Pandangan kedua diajukan oleh Agustinus, dan tak diketahui adanya seorangpun yang mendukung pandangan ini sebelum dia. Dalam buku / tulisannya Quaest. 71 tentang Ex. / Kel., pada waktu membahas pertanyaan bagaimana hukum-hukum harus dibagi ... Ia lalu melanjutkan lebih jauh lagi untuk menunjukkan bahwa hukum terhadap patung-patung hanyalah penjelasan yang lebih lengkap dari hukum terhadap allah-allah lain, tetapi bahwa hukum untuk tidak mengingini dibagi menjadi dua hukum oleh pengulangan ‘Janganlah engkau menginginkan’, ... Dalam pembagian ini Agustinus secara umum menganggap hukum terhadap menginginkan istri sesama sebagai yang kesembilan, sesuai dengan text dari Ulangan; sekalipun dalam beberapa hal ia menempatkannya setelah menginginkan rumah, sesuai dengan text dari Keluaran. Melalui rasa hormat yang besar yang dirasakan terhadap Agustinus, pembagian ini menjadi sesuatu yang biasa di Gereja Barat; dan itu diadopsi bahkan oleh Luther dan Gereja Lutheran,].
Kel 20:17 - “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.’”.
Kalau karena ada 2 x kata-kata ‘jangan mengingini’ menyebabkan hukum ke 9 harus dibagi jadi dua, mengapa hukum 1 dan hukum 2 (Kel 20:3-6) yang menggunakan 3 x kata ‘Jangan’, justru dijadikan satu hukum?
Kel 20:3-6 - “(3) Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu. (4) Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. (5) Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, (6) tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintahKu.”.
Catatan: bagian yang saya garis-bawahi dari kutipan kata-kata Keil & Delitzsch di atas, menunjukkan bahwa kita harus hati-hati terhadap rasa hormat / kagum terhadap seorang hamba Tuhan, tidak peduli siapapun dia adanya. Semua hamba Tuhan ada di bawah Firman Tuhan!
Keil & Delitzsch: “It must be decided from the text of the Bible alone. Now in both substance and form this speaks against the Augustinian, Catholic, and Lutheran view, and in favour of the Philonian, or Oriental and Reformed. In substance; for whereas no essential difference can be pointed out in the two clauses which prohibit coveting, so that even Luther has made but one commandment of them in his smaller catechism, there was a very essential difference between the commandment against other gods and that against making an image of God, so far as the Israelites were concerned, as we may see not only from the account of the golden calf at Sinai, but also from the image worship of Gideon (Judg 8:27), Micah (Judg 17), and Jeroboam (1 Kings 12:28ff.)” [= Itu harus ditentukan dari text Alkitab saja. Baik dalam isinya maupun bentuknya ini berbicara menentang pandangan Agustinus, Katolik, dan Lutheran, dan berpihak pada Philonian, atau Timur dan Reformed. Ringkasnya; karena sementara tidak ada perbedaan yang hakiki bisa ditunjukkan dalam kedua anak kalimat yang melarang untuk menginginkan, sehingga bahkan Luther telah membuat mereka menjadi hanya satu hukum dalam katekisasi kecilnya, ada perbedaan yang sangat hakiki antara hukum menentang allah-allah lain dan perintah / hukum menentang pembuatan patung dari Allah, sejauh berkenaan dengan bangsa Israel, seperti bisa kita lihat bukan hanya dari cerita tentang anak lembu emas di Sinai, tetapi juga dari penyembahan patung dari Gideon (Hak 8:27), Mikha (Hak 17), dan Yerobeam (1Raja 12:28-dst).].
Hakim 8:23-27 - “(23) Jawab Gideon kepada mereka: ‘Aku tidak akan memerintah kamu dan juga anakku tidak akan memerintah kamu tetapi TUHAN yang memerintah kamu.’ (24) Selanjutnya kata Gideon kepada mereka: ‘Satu hal saja yang kuminta kepadamu: Baiklah kamu masing-masing memberikan anting-anting dari jarahannya.’ - Karena musuh itu beranting-anting mas, sebab mereka orang Ismael. (25) Jawab mereka: ‘Kami mau memberikannya dengan suka hati.’ Dan setelah dihamparkan sehelai kain, maka masing-masing melemparkan anting-anting dari jarahannya ke atas kain itu. (26) Adapun berat anting-anting emas yang dimintanya itu ada seribu tujuh ratus syikal emas, belum terhitung bulan-bulanan, perhiasan telinga dan pakaian kain ungu muda yang dipakai oleh raja-raja Midian, dan belum terhitung kalung rantai yang ada pada leher unta mereka. (27) Kemudian Gideon membuat efod dari semuanya itu dan menempatkannya di kotanya, di Ofra. Di sanalah orang Israel berlaku serong dengan menyembah efod itu; inilah yang menjadi jerat bagi Gideon dan seisi rumahnya.”.
Hakim 17:1-13 - “(1) Ada seorang dari pegunungan Efraim, Mikha namanya. (2) Berkatalah ia kepada ibunya: ‘Uang perak yang seribu seratus itu, yang diambil orang dari padamu dan yang karena itu kauucapkan kutuk - aku sendiri mendengar ucapanmu itu - memang uang itu ada padaku, akulah yang mengambilnya.’ Lalu kata ibunya: ‘Diberkatilah kiranya anakku oleh TUHAN.’ (3) Sesudah itu dikembalikannyalah uang perak yang seribu seratus itu kepada ibunya. Tetapi ibunya berkata: ‘Aku mau menguduskan uang itu bagi TUHAN, aku menyerahkannya untuk anakku, supaya dibuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu. Maka sekarang, uang itu kukembalikan kepadamu.’ (4) Tetapi orang itu mengembalikan uang itu kepada ibunya, lalu perempuan itu mengambil dua ratus uang perak dan memberikannya kepada tukang perak, yang membuat patung pahatan dan patung tuangan dari pada uang itu; lalu patung itu ditaruh di rumah Mikha. (5) Mikha ini mempunyai kuil. Dibuatnyalah efod dan terafim, ditahbiskannya salah seorang anaknya laki-laki, yang menjadi imamnya. (6) Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri. (7) Maka ada seorang muda dari Betlehem-Yehuda, dari kaum Yehuda; ia seorang Lewi dan tinggal di sana sebagai pendatang. (8) Lalu orang itu keluar dari kota Betlehem-Yehuda untuk menetap sebagai pendatang di mana saja ia mendapat tempat; dan dalam perjalanannya itu sampailah ia ke pegunungan Efraim di rumah Mikha. (9) Bertanyalah Mikha kepadanya: ‘Engkau dari mana?’ Jawabnya kepadanya: ‘Aku orang Lewi dari Betlehem-Yehuda, dan aku pergi untuk menetap sebagai pendatang di mana saja aku mendapat tempat.’ (10) Lalu kata Mikha kepadanya: ‘Tinggallah padaku dan jadilah bapak dan imam bagiku; maka setiap tahun aku akan memberikan kepadamu sepuluh uang perak, sepasang pakaian serta makananmu.’ (11) Orang Lewi itu setuju untuk tinggal padanya. Maka orang muda itu menjadi seperti salah seorang anaknya sendiri. (12) Mikha mentahbiskan orang Lewi itu; orang muda itu menjadi imamnya dan diam di rumah Mikha. (13) Lalu kata Mikha: ‘Sekarang tahulah aku, bahwa TUHAN akan berbuat baik kepadaku, karena ada seorang Lewi menjadi imamku.’”.
1Raja 12:26-31 - “(26) Maka berkatalah Yerobeam dalam hatinya: ‘Kini mungkin kerajaan itu kembali kepada keluarga Daud. (27) Jika bangsa itu pergi mempersembahkan korban sembelihan di rumah TUHAN di Yerusalem, maka tentulah hati bangsa ini akan berbalik kepada tuan mereka, yaitu Rehabeam, raja Yehuda, kemudian mereka akan membunuh aku dan akan kembali kepada Rehabeam, raja Yehuda.’ (28) Sesudah menimbang-nimbang, maka raja membuat dua anak lembu jantan dari emas dan ia berkata kepada mereka: ‘Sudah cukup lamanya kamu pergi ke Yerusalem. Hai Israel, lihatlah sekarang allah-allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir.’ (29) Lalu ia menaruh lembu yang satu di Betel dan yang lain ditempatkannya di Dan. (30) Maka hal itu menyebabkan orang berdosa, sebab rakyat pergi ke Betel menyembah patung yang satu dan ke Dan menyembah patung yang lain. (31) Ia membuat juga kuil-kuil di atas bukit-bukit pengorbanan, dan mengangkat imam-imam dari kalangan rakyat yang bukan dari bani Lewi.”.
Saya kira Keil & Delitzsch memberikan ayat-ayat referensi di atas untuk menunjukkan bahwa sekalipun orang-orang itu menyembah Allah, dan tidak menyembah allah lain, tetapi karena penyembahan itu dilakukan melalui patung, mereka tetap berdosa. Ini secara jelas membedakan hukum pertama dan hukum kedua.
Wycliffe Bible Commentary: “There are different ways of dividing the Commandments. The Lutheran and Roman Catholic churches follow Augustine in making verses 2-6 the first commandment, and then dividing verse 17, on covetousness, into two. Modern Judaism makes verse 2 the first commandment and verses 3-6 the second. The earliest division, which can be traced back at least as far as Josephus, in the first century A.D., takes Exo 20:3 as the first command and 20:4-6 as the second. This division was supported unanimously by the early church, and is held today by the Eastern Orthodox and most Protestant churches” [= Ada cara-cara yang berbeda tentang pembagian dari Hukum-hukum ini. Orang-orang Lutheran dan Roma Katolik mengikuti Agustinus dengan membuat ay 2-6 hukum pertama, dan lalu membagi ay 17, tentang keinginan / menginginkan, menjadi dua hukum. Yudaisme modern membuat ay 2 sebagai hukum pertama dan ay 3-6 hukum kedua. Pembagian yang paling awal, yang bisa ditelusuri jejaknya sejauh Yosephus, pada abad pertama Masehi, menganggap Kel 20:3 sebagai hukum pertama dan 20:4-6 sebagai hukum kedua. Pembagian ini didukung dengan suara bulat oleh gereja awal, dan dipegang / dipercayai sekarang oleh Gereja Orthodox Timur dan kebanyakan gereja-gereja Protestan.].
Catatan: bagaimana Yudaisme Modern bisa menganggap ay 2 sebagai hukum pertama, padahal ay 2 berbunyi: “‘Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”? Ini suatu pernyataan, bukan hukum / perintah / larangan!
3) Patung kerub (Kel 25:10-22) dan ular tembaga (Bil 21:4-9) tidak diberikan / dibuat untuk disembah!
Kel 25:10-22 - “(10) ‘Haruslah mereka membuat tabut dari kayu penaga, dua setengah hasta panjangnya, satu setengah hasta lebarnya dan satu setengah hasta tingginya. (11) Haruslah engkau menyalutnya dengan emas murni; dari dalam dan dari luar engkau harus menyalutnya dan di atasnya harus kaubuat bingkai emas sekelilingnya. (12) Haruslah engkau menuang empat gelang emas untuk tabut itu dan pasanglah gelang itu pada keempat penjurunya, yaitu dua gelang pada rusuknya yang satu dan dua gelang pada rusuknya yang kedua. (13) Engkau harus membuat kayu pengusung dari kayu penaga dan menyalutnya dengan emas. (14) Haruslah engkau memasukkan kayu pengusung itu ke dalam gelang yang ada pada rusuk tabut itu, supaya dengan itu tabut dapat diangkut. (15) Kayu pengusung itu haruslah tetap tinggal dalam gelang itu, tidak boleh dicabut dari dalamnya. (16) Dalam tabut itu haruslah kautaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. (17) Juga engkau harus membuat tutup pendamaian dari emas murni, dua setengah hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya. (18) Dan haruslah kaubuat dua kerub dari emas, kaubuatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. (19) Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya. (20) Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu. (21) Haruslah kauletakkan tutup pendamaian itu di atas tabut dan dalam tabut itu engkau harus menaruh loh hukum, yang akan Kuberikan kepadamu. (22) Dan di sanalah Aku akan bertemu dengan engkau dan dari atas tutup pendamaian itu, dari antara kedua kerub yang di atas tabut hukum itu, Aku akan berbicara dengan engkau tentang segala sesuatu yang akan Kuperintahkan kepadamu untuk disampaikan kepada orang Israel.’”.
Bil 21:4-9 - “(4) Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. (5) Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: ‘Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak.’ (6) Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. (7) Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: ‘Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkanNya ular-ular ini dari pada kami.’ Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. (8) Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: ‘Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.’ (9) Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.”.
Memang patung ular tembaga akhirnya disembah sehingga akhirnya dihancurkan oleh raja Hizkia (2Raja 18:4).
2Raja 18:4 - “Dialah yang menjauhkan bukit-bukit pengorbanan dan yang meremukkan tugu-tugu berhala dan yang menebang tiang-tiang berhala dan yang menghancurkan ular tembaga yang dibuat Musa, sebab sampai pada masa itu orang Israel memang masih membakar korban bagi ular itu yang namanya disebut Nehustan.”.
4) Loraine Boettner menuliskan:
“But how very foolish is the practice of idolatry
For life man prays to that which is dead
For health he prays to that which has no health or strength
For a good journey he prays to that which can not move a foot
For skill and good success he prays to that which can not do anything
For wisdom and guidance and blessing he commits himself to a senseless piece of wood or stone.”
Terjemahannya adalah sebagai berikut:
“Tetapi betapa bodohnya praktek penyembahan berhala
Untuk hidup manusia berdoa kepada sesuatu yang mati
Untuk kesehatan ia berdoa kepada sesuatu yang tidak mempunyai kesehatan atau kekuatan
Untuk perjalanan yang baik ia berdoa kepada sesuatu yang tidak bisa menggerakkan kaki
Untuk keahlian dan keberhasilan yang baik ia berdoa kepada sesuatu yang tidak dapat melakukan apapun
Untuk hikmat dan pimpinan dan berkat ia menyerahkan dirinya sendiri kepada sepotong kayu atau batu yang tidak mempunyai pikiran.”.
(dari buku ‘Roman Catholicism’, hal 282).
Ada beberapa ayat Kitab Suci yang menunjukkan kebodohan penyembahan berhala, seperti Ul 4:28 Maz 115:4-8 Yes 2:8 Yer 10:5.
Ul 4:28 - “Maka di sana kamu akan beribadah kepada allah, buatan tangan manusia, dari kayu dan batu, yang tidak dapat melihat, tidak dapat mendengar, tidak dapat makan dan tidak dapat mencium.”.
Maz 115:4-8 - “(4) Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, (5) mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, (6) mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium, (7) mempunyai tangan, tetapi tidak dapat meraba-raba, mempunyai kaki, tetapi tidak dapat berjalan, dan tidak dapat memberi suara dengan kerongkongannya. (8) Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, dan semua orang yang percaya kepadanya.”.
Yes 2:8 - “Negerinya penuh berhala-berhala; mereka sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri dan kepada yang dikerjakan oleh tangannya.”.
Yer 10:5 - “Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; orang harus mengangkatnya, sebab tidak dapat melangkah. Janganlah takut kepadanya, sebab berhala itu tidak dapat berbuat jahat, dan berbuat baikpun tidak dapat.’”.
Tetapi mungkin ayat / text yang menunjukkan kebodohan penyembahan berhala secara paling menyolok adalah Yes 44:9-20 yang berbunyi sebagai berikut:
Yes 44:9-20 - “(9) Orang-orang yang membentuk patung, semuanya adalah kesia-siaan, dan barang-barang kesayangan mereka itu tidaklah memberi faedah. Penyembah-penyembah patung itu tidaklah melihat dan tidaklah mengetahui apa-apa; oleh karena itu mereka akan mendapat malu. (10) Siapakah yang membentuk allah dan menuang patung yang tidak memberi faedah? (11) Sesungguhnya, semua pengikutnya akan mendapat malu, dan tukang-tukangnya adalah manusia belaka. Biarlah mereka semua berkumpul dan bangkit berdiri! Mereka akan gentar dan mendapat malu bersama-sama. (12) Tukang besi membuatnya dalam bara api dan menempanya dengan palu, ia mengerjakannya dengan segala tenaga yang ada di tangannya. Bahkan ia menahan lapar sehingga habislah tenaganya, dan ia tidak minum air sehingga ia letih lesu. (13) Tukang kayu merentangkan tali pengukur dan membuat bagan sebuah patung dengan kapur merah; ia mengerjakannya dengan pahat dan menggarisinya dengan jangka, lalu ia memberi bentuk seorang laki-laki kepadanya, seperti seorang manusia yang tampan, dan selanjutnya ditempatkan dalam kuil. (14) Mungkin ia menebang pohon-pohon aras atau ia memilih pohon saru atau pohon tarbantin, lalu membiarkannya tumbuh menjadi besar di antara pohon-pohon di hutan, atau ia menanam pohon salam, lalu hujan membuatnya besar. (15) Dan kayunya menjadi kayu api bagi manusia, yang memakainya untuk memanaskan diri; lagipula ia menyalakannya untuk membakar roti. Tetapi juga ia membuatnya menjadi allah lalu menyembah kepadanya; ia mengerjakannya menjadi patung lalu sujud kepadanya. (16) Setengahnya dibakarnya dalam api dan di atasnya dipanggangnya daging. Lalu ia memakan daging yang dipanggang itu sampai kenyang; ia memanaskan diri sambil berkata: ‘Ha, aku sudah menjadi panas, aku telah merasakan kepanasan api.’ (17) Dan sisa kayu itu dikerjakannya menjadi allah, menjadi patung sembahannya; ia sujud kepadanya, ia menyembah dan berdoa kepadanya, katanya: ‘Tolonglah aku, sebab engkaulah allahku!’ (18) Orang seperti itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mengerti apa-apa, sebab matanya melekat tertutup, sehingga tidak dapat melihat, dan hatinya tertutup juga, sehingga tidak dapat memahami. (19) Tidak ada yang mempertimbangkannya, tidak ada cukup pengetahuan atau pengertian untuk mengatakan: ‘Setengahnya sudah kubakar dalam api dan di atas baranya juga sudah kubakar roti, sudah kupanggang daging, lalu kumakan. Masakan sisanya akan kubuat menjadi dewa kekejian? Masakan aku akan menyembah kepada kayu kering?’ (20) Orang yang sibuk dengan abu belaka, disesatkan oleh hatinya yang tertipu; ia tidak dapat menyelamatkan jiwanya atau mengatakan: ‘Bukankah dusta yang menjadi peganganku?’”.
II) Simbol salib.
1) Baru mulai ada tahun 312. Pada tahun 312 itu Constantine berperang di Eropa Barat. Tradisi berkata bahwa pada waktu itu ia berdoa kepada dewa-dewa kafir tetapi tidak ada jawaban. Lalu ia melihat di langit suatu cahaya berbentuk salib dengan tulisan bahasa Latin “IN HOC SIGNO VINCES” (= In this sign conquer / dalam tanda ini kalahkanlah). Setelah itu ia menyeberang ke Italia dan menang. Lalu ia menganggap bahwa tanda itu datang dari Tuhan dan sejak saat itu ia menggunakan bendera dengan tanda salib setiap kali ia berperang.
2) Tidak ada bukti yang membenarkan tradisi ini.
3) Tidak diketahui dengan pasti apakah Constantine adalah orang kristen yang sungguh-sungguh atau tidak (ia tidak mau dibaptis sampai ia hampir mati pada tahun 337).
4) Memang tidak ada ayat Kitab Suci yang memerintahkan kita menggunakan tanda salib itu. Tetapi dalam Kitab Suci juga tidak ada larangan untuk menggunakan tanda salib ini. Jadi, tidak ada salahnya menggunakan tanda salib itu sepanjang kita tidak menyembahnya.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali