Pemahaman Alkitab

 

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

 

Selasa, tanggal 5 Juli 2022, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

 

larangan pada hari sabat(1)

 

Kel 20:8-11 - “(8) Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11) Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.”.

 

III) Larangan dan keharusan pada hari Sabat.

 

Sekalipun hari Sabat diubah / dipindahkan dari Sabtu ke Minggu, tetapi hukum-hukumnya (larangan dan kewajibannya) tetap!

 

The Biblical Illustrator (tentang Kel 20:8-11): “Though the day be changed under the Christian dispensation, the obligation of it remains unaltered.” [= Sekalipun harinya diubah dalam jaman Kristen, kewajiban tentangnya tetap tak berubah.].

 

Matthew Henry (tentang Yes 58:13): “there remaining still a sabbatism for the people of God, this law of the sabbath is still binding to us on our Lord’s day.” [= di sana tetap ada suatu ajaran Sabat bagi umat Allah, hukum tentang Sabat ini tetap mengikat bagi kita pada hari Tuhan.].

 

Ay 8 mengatakan bahwa kita harus mengingat dan menguduskan hari Sabat.

Ay 8: “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:”.

 

Arti kata ‘kudus’:

1) Terpisah dari / berbeda dengan.

Misalnya:

a)      Bangsa Israel disebut sebagai bangsa yang kudus (Im 20:24,26).

b)      Orang Kristen disebut sebagai orang kudus (Ef 1:1  1Pet 2:9).

2) Diperuntukkan bagi Allah.

a)      Bangsa Israel adalah bangsa milik Allah (Im 20:26).

b)      Orang Kristen juga menjadi milik Allah (1Pet 2:9).

 

Kalau kita diperintahkan untuk menguduskan hari Sabat, maka itu berarti kita harus memisahkan hari Sabat dari hari-hari yang lain, atau kita harus membedakan hari Sabat dari hari-hari yang lain (arti 1), dan kita harus menggunakan hari Sabat itu untuk Tuhan (arti 2).

 

Apa tindakan konkrit yang dilarang dan yang harus dilakukan untuk menguduskan hari Sabat itu?

 

1.  Pada hari Sabat, kita dilarang bekerja.

Pada hari-hari biasa, kita bekerja, dan kita harus membedakan hari Sabat, dengan tidak bekerja pada hari itu. Kalau kita tetap bekerja pada hari Sabat, maka kita menyamakan hari itu dengan hari-hari yang lain, dan itu berarti kita tidak menguduskannya.

 

2.  Pada hari Sabat, kita harus berbakti kepada Tuhan.

 

D. L. Moody: “Men seem to think they have a right to change the holy day into a holiday.” [= Manusia kelihatannya mengira bahwa mereka mempunyai hak untuk mengubah hari yang kudus menjadi suatu hari libur.] - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 58.

 

Bible Knowledge Commentary: “This was not to be a day of slothful inactivity but of spiritual service through religious observances.” [= Ini tidak boleh menjadi suatu hari ketidak-aktifan yang malas, tetapi suatu kebaktian rohani melalui ketaatan agamawi.].

 

Sekarang, mari kita menyoroti kedua hal di atas dengan lebih terperinci:

 

1) Larangan bekerja pada hari Sabat.

 

a)      Penambahan peraturan / larangan Sabat oleh orang-orang Yahudi.

Hukum hari Sabat ditambahi dengan begitu banyak larangan dan peraturan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

 

1.  Banyaknya peraturan orang-orang Yahudi tentang hari Sabat.

 

William Barclay (tentang Yoh 3:1-6): “In the Bible itself we are simply told that we must remember the Sabbath day to keep it holy and that on that day no work must be done, either by a man or by his servants or his animals. Not content with that, the later Jews spent hour after hour and generation after generation defining what work is and listing the things that may and may not be done on the Sabbath day. The Mishnah is the codified scribal law. The scribes spent their lives working out these rules and regulations. In the Mishnah the section on the Sabbath extends to no fewer than twenty-four chapters. The Talmud is the explanatory commentary on the Mishnah, and in the Jerusalem Talmud the section explaining the Sabbath law runs to sixty-four and a half columns; and in the Babylonian Talmud it runs to one hundred and fifty-six double folio pages. And we are told about a rabbi who spent two and a half years in studying one of the twenty-four chapters of the Mishnah.” [= Dalam Alkitab sendiri kita hanya diberitahu bahwa kita harus mengingat hari Sabat dan menguduskannya dan bahwa pada hari itu tidak ada pekerjaan yang boleh dilakukan, apakah oleh seorang manusia atau oleh pelayan-pelayannya atau binatang-binatangnya. Tidak puas dengan itu, orang-orang Yahudi belakangan menghabiskan jam demi jam dan generasi demi generasi untuk mendefinisikan apakah ‘pekerjaan’ itu dan membuat daftar hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Mishnah merupakan hukum dari ahli-ahli Taurat yang telah disusun dalam sebuah buku. Ahli-ahli Taurat menghabiskan hidup mereka untuk menyusun / menentukan peraturan-peraturan ini. Dalam Mishnah bagian / bab tentang hari Sabat mencapai tidak kurang dari 24 pasal. Kitab Talmud merupakan buku tafsiran yang menjelaskan tentang Mishnah, dan dalam Talmud Yerusalem bagian / bab yang menjelaskan tentang hari Sabat mencapai 64,5 kolom / artikel; dan dalam Talmud Babilonia itu mencapai 156 halaman dobel-folio. Dan kita diberi tahu tentang seorang rabi yang menghabiskan 2,5 tahun untuk mempelajari satu dari 24 pasal dari Mishnah.] - hal 121.

 

William Barclay (tentang Mat 5:17-20): “The Scribes were the men who worked out these rules and regulations. The Pharisees, whose names means The Separated Ones, were the men who had separated themselves from all the ordinary activities of life to keep all these rules and regulations. We can see the length to which this went from the following facts. For many generations this Scribal Law was never written down; it was the oral law, and it was handed down in the memory of generations Scribes. In the middle of the third century A. D. a summary of it was made and codified. That summary is known as the Mishnah; it contains sixty-three tractates on various subjects of the Law, and in English makes a book of almost eight hundred pages. Later Jewish scholarship busied itself with making commentaries to explain the Mishnah. These commentaries are known as the Talmuds. Of the Jerusalem Talmud there are twelve printed volumes; and of the Babylonian Talmud there are sixty printed volumes. To the strict orthodox Jew, in the time of Jesus, religion, serving God, was a matter of keeping thousands of legalistic rules and regulations; they regarded these petty rules and regulations as literally matters of life and death and eternal destiny. Clearly Jesus did not mean that not one of these rules and regulations was to pass away; repeatedly he broke them himself; and repeatedly he condemned them; that is certainly not what Jesus meant by the Law, for that is the kind of law that both Jesus and Paul condemned.” [= Ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang menyusun peraturan-peraturan ini. Orang-orang Farisi, yang namanya berarti ‘orang-orang yang terpisah’, adalah orang-orang yang memisahkan diri mereka sendiri dari semua aktivitas kehidupan biasa untuk mentaati semua peraturan-peraturan itu. Kita bisa melihat panjangnya peraturan-peraturan itu dari fakta-fakta yang berikut ini. Selama beberapa generasi, hukum dari ahli-ahli Taurat ini tidak pernah dituliskan; itu merupakan hukum lisan, dan diturunkan dalam ingatan dari generasi-generasi ahli-ahli Taurat. Pada pertengahan abad ketiga Masehi suatu ringkasan darinya dibuat dan disusun. Ringkasan itu dikenal sebagai Mishnah; itu terdiri dari 63 traktat tentang bermacam-macam pokok hukum Taurat, dan dalam bahasa Inggris menjadi sebuah buku yang terdiri dari hampir 800 halaman. Ahli-ahli theologia Yahudi selanjutnya menyibukkan dirinya sendiri dengan membuat tafsiran-tafsiran untuk menjelaskan Mishnah. Tafsiran-tafsiran ini dikenal sebagai Talmud. Talmud Yerusalem terdiri dari 12 volume; dan Talmud Babilonia terdiri dari 60 volume. Bagi seorang Yahudi orthodox, pada jaman Yesus, agama dan pelayanan kepada Allah merupakan persoalan ketaatan terhadap ribuan peraturan-peraturan legalistik; mereka menganggap peraturan-peraturan remeh / picik ini secara hurufiah sebagai persoalan hidup atau mati dan tujuan kekal. Jelas bahwa Yesus tidak memaksudkan bahwa tidak satupun dari peraturan-peraturan ini yang boleh ditiadakan; berulangkali Ia sendiri melanggar mereka; dan berulangkali Ia mengecam mereka; jelas bukan itu yang Yesus maksudkan dengan hukum Taurat, karena itu adalah jenis ‘hukum Taurat’ yang dikecam oleh Yesus dan Paulus.] - hal 129-130.

 

2.  Macam-macam larangan dalam kalangan agama Yahudi berkenaan dengan hari Sabat.

 

William Barclay (tentang Mat 5:17-20): “The Law lays it down that the Sabbath Day is to be kept holy, and that on it no work is to be done. That is a great principle. But the Jewish legalists had a passion for definition. So they asked: What is work? All kinds of things were classified as work. For instance, to carry a burden on the Sabbath Day is to work. But next a burden has to be defined. So the Scribal Law lays it down that a burden is ‘food equal in weight to a dried fig, enough wine for making a goblet, milk enough for one swallow, honey enough to put upon a wound, oil enough to anoint a small member, water enough to moisten an eye-salve, paper enough to write a customs house notice upon, ink enough to write two letters of the alphabet, reed enough to make a pen’ - and so on endlessly. So they spent endless hours arguing whether a man could or could not lift a lamp from one place to another on the Sabbath, whether a tailor committed a sin if he went out with a needle in his robe, whether a woman might wear a brooch or false hair, even if a man might go out on the Sabbath with artificial teeth or an artificial limb, if a man might lift his child on the Sabbath Day. These things to them were the essence of religion. Their religion was a legalism of petty rules and regulations.” [= Hukum Taurat menetapkan bahwa hari Sabat harus dikuduskan, dan bahwa pada hari itu tidak ada pekerjaan yang boleh dilakukan. Itu merupakan prinsip yang besar. Tetapi para legalist Yahudi senang mendefinisikan. Karena itu mereka bertanya: Apakah pekerjaan itu? Semua jenis hal-hal digolongkan sebagai pekerjaan. Misalnya, membawa beban pada hari Sabat adalah bekerja. Tetapi selanjutnya ‘beban’ itu harus didefinisikan. Maka hukum dari ahli-ahli Taurat menetapkan bahwa ‘beban’ adalah ‘makanan yang sama beratnya dengan sebuah buah ara kering, anggur yang cukup untuk membuat satu gelas minuman, susu yang cukup untuk satu teguk, madu cukup untuk diberikan pada suatu luka, minyak cukup untuk mengurapi anggota yang kecil, air cukup untuk membasahkan salep mata, kertas cukup untuk menuliskan pemberitahuan suatu rumah cukai, tinta cukup untuk menuliskan 2 huruf dari alfabet, bambu cukup untuk membuat sebuah pena’, dst tanpa ada akhirnya. Demikianlah mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdebat apakah seseorang boleh atau tidak boleh mengangkat sebuah lampu dari satu tempat ke tempat lain pada hari Sabat, apakah seorang penjahit melakukan dosa jika ia pergi keluar dengan sebuah jarum dalam jubahnya, apakah seorang perempuan boleh memakai bros atau rambut palsu, bahkan apakah seseorang boleh pergi keluar pada hari Sabat dengan gigi palsu atau kaki palsu, apakah seseorang boleh mengangkat anaknya pada hari Sabat. Hal-hal ini bagi mereka merupakan inti dari agama. Agama mereka adalah suatu legalisme yang terdiri dari peraturan-peraturan yang picik / remeh.] - hal 128.

 

William Barclay (tentang Mat 5:17-20): “To write was to work on the Sabbath. But writing has to be defined. So the definition runs: ‘He who writes two letters of the alphabet with his right or with his left hand, whether of one kind or of two kinds, if they are written with different inks or in different languages, is guilty. Even if he should write two letters from forgetfulness, he is guilty, whether he has written them with ink or with paint, red chalk, vitriol, or anything which makes a permanent mark. Also he that writes on two walls that from an angle, or on two tablets of his account book so that they can be read together is guilty ... But, if anyone writes with dark fluid, with fruit juice, or in the dust of the road, or in sand, or in anything which does not make a permanent mark, he is not guilty. ... If he writes one letter on the ground, and one on the wall of the house, or on two pages of a book, so that they cannot be read together, he is not guilty.’ That is a typical passage from the Scribal Law; and that is what the orthodox Jew regarded as true religion and the true service of God.” [= Menulis pada hari Sabat berarti bekerja. Tetapi ‘menulis’ perlu didefinisikan. Dan demikianlah bunyi definisinya: ‘Ia yang menulis 2 huruf dari alfabet dengan tangan kanan atau tangan kirinya, apakah dari satu jenis atau 2 jenis, jika huruf-huruf itu ditulis dengan tinta yang berbeda atau dalam bahasa yang berbeda, bersalah. Bahkan jika ia menulis 2 huruf karena lupa, ia bersalah, apakah ia telah menulis huruf-huruf itu dengan tinta atau dengan cat, kapur merah, benda tajam, atau apapun yang membuat tanda permanen. Juga ia yang menulis pada 2 dinding yang membentuk suatu sudut, atau pada 2 lembaran dari buku catatan / rekeningnya sehingga huruf-huruf itu bisa dibaca bersama-sama, ia bersalah ... Tetapi jika seseorang menulis dengan cairan gelap, dengan air buah, atau di tanah di jalanan, atau pada pasir, atau pada apapun yang tidak membuat tanda permanen, ia tidak bersalah. ... Jika ia menulis satu huruf di tanah, dan satu di dinding rumah, atau pada 2 halaman dari suatu buku, sehingga huruf-huruf itu tidak bisa dibaca bersama-sama, ia tidak bersalah’. Itulah text yang khas dari hukum dari ahli-ahli Taurat; dan itulah yang dianggap oleh seorang Yahudi orthodox sebagai agama dan sebagai pelayanan yang benar kepada Allah.] - hal 129.

 

William Barclay (tentang Mat 5:17-20): “To heal was to work on the Sabbath. Obviously this has to be defined. Healing was allowed when there was danger to life, and especially in troubles of the ear, nose and throat; but even then, steps could be taken only to keep the patient from becoming worse; no steps might be taken to make him get any better. So a plain bandage might to (be ?) put on a wound, but no ointment; plain wadding might be put into a sore ear, but not medicated wadding.” [= Menyembuhkan pada hari Sabat berarti bekerja. Jelas bahwa hal ini harus didefinisikan. Penyembuhan diijinkan pada saat ada bahaya terhadap kehidupan, dan khususnya pada waktu ada gangguan telinga, hidung dan tenggorokan / kerongkongan; tetapi bahkan dalam keadaan itu, hanya boleh dilakukan langkah-langkah untuk menjaga supaya pasien itu tidak menjadi lebih parah; tidak boleh dilakukan langkah-langkah yang membuatnya lebih baik. Jadi, suatu perban biasa boleh diberikan pada suatu luka, tetapi tidak boleh diberi obat / salep; kapas biasa boleh diberikan pada telinga yang sakit, tetapi kapas dengan obat tidak boleh.] - hal 129.

 

William Barclay (tentang Mark 3:1-6): It was the Sabbath day; all work was forbidden, and to heal was to work. The Jewish law was definite and detailed about this. Medical attention could be given only if a life was in danger. To take some examples - a woman in childbirth might be helped on the Sabbath; an infection of the throat might be treated; if a wall fell on anyone, enough might be cleared away to see whether the person was dead or alive; anyone found alive might be helped, but a dead body must be left until the next day. A fracture could not be attended to. Cold water might not be poured on a sprained hand or foot. A cut finger might be bandaged with a plain bandage but not with ointment. That is to say, at the most an injury could be kept from getting worse; it must not be made better. It is extraordinarily difficult for us to grasp this. The best way in which we can see the strict orthodox view of the Sabbath is to remember that a strict Jew would not even defend his life on the Sabbath. In the wars of the Maccabees, when resistance broke out, some of the Jewish rebels took refuge in caves. The Syrian soldiers pursued them. Josephus, the Jewish historian, tells us that they gave them the chance to surrender and they would not, so ‘they fought against them on the Sabbath day, and they burned them as they were in caves, without resistance and without so much as stopping up the entrances of the caves. They refused to defend themselves on that day because they were not willing to break in upon the honour they owed to the Sabbath, even in such distress; for our law requires that we rest on that day.’ When Pompey, the Roman general, was besieging Jerusalem, the defenders took refuge in the Temple precincts. Pompey proceeded to build a mound which would overlook them and from which he might bombard them. He knew the beliefs of the Jews and he built on the Sabbath day, and the Jews lifted not one hand to defend themselves or to hinder the building, although they knew that by their Sabbath inactivity they were signing their own death warrant. The Romans, who had compulsory military service, had in the end to exempt the Jews from army service because no strict Jew would fight on the Sabbath. The orthodox Jewish attitude to the Sabbath was completely rigid and unbending. [=] - hal 67-68.

 

William Barclay (tentang Luk 14:1-6): On this occasion a Pharisee invited him to a meal on the Sabbath. The law had its meticulous regulations about Sabbath meals. Of course no food could be cooked on the Sabbath; that would have been to work. All food had to be cooked on the Friday; and, if it was necessary to keep it hot, it must be kept hot in such a way that it was not cooked any more! So it is laid down that food to be kept warm for the Sabbath must not be put into ‘oil dregs, manure, salt, chalk or sand, whether moist or dry, nor into straw, grape-skins, flock or vegetables, if these are damp, though it may be if they are dry. It may be, however, put into clothes, amid fruits, pigeons’ feathers and flax tow.’ [=] - hal 187.

 

William Barclay (tentang Yoh 3:1-6): (2) Nicodemus was a Pharisee. In many ways, the Pharisees were the best people in the whole country. There were never more than 6,000 of them; they were what was known as a chaburah, or brotherhood. They entered into this brotherhood by taking a pledge in front of three witnesses that they would spend all their lives observing every detail of the scribal law. What exactly did that mean? To the Jews, the law was the most sacred thing in all the world. The law was the first five books of the Old Testament. They believed it to be the perfect word of God. To add one word to it or to take one word away from it was a deadly sin. Now if the law is the perfect and complete word of God, that must mean that it contained everything that anyone needed to know for the living of a good life, if not explicitly, then implicitly. If it was not there in so many words, it must be possible to deduce it. The law as it stood consisted of great, wide, noble principles which people had to work out for themselves. But, for the later Jews, that was not enough. They said: ‘The law is complete; it contains everything necessary for the living of a good life; therefore in the law there must be a regulation to govern every possible incident in every possible moment for every possible individual.’ So they set out to extract from the great principles of the law an infinite number of rules and regulations to govern every conceivable situation in life. In other words, they changed the law of the great principles into the legalism of by-laws and regulations. [= ] - hal 120-121.

 

William Barclay (tentang Yoh 3:1-6): The best example of what they did is to be seen in the Sabbath law. In the Bible itself, we are simply told that we must remember the Sabbath day to keep it holy and that on that day no work must be done, either by a man or by his servants or his animals. Not content with that, the later Jews spent hour after hour and generation after generation defining what work is and listing the things that may and may not be done on the Sabbath day. The Mishnah is the codified scribal law. The scribes spent their lives working out these rules and regulations. In the Mishnah, the section on the Sabbath extends to no fewer than twenty-four chapters. The Talmud is the explanatory commentary on the Mishnah, and in the Jerusalem Talmud the section explaining the Sabbath law runs to sixty-four and a half columns; and in the Babylonian Talmud it runs to 156 double folio pages. And we are told about a Rabbi who spent two and a half years in studying one of the twenty-four chapters of the Mishnah. [= ] - hal 121.

 

William Barclay (tentang Yoh 3:1-6): The kind of thing they did was this. To tie a knot on the Sabbath was to work; but a knot had to be defined. ‘The following are the knots the making of which renders a man guilty; the knot of camel drivers and that of sailors; and as one is guilty by reason of tying them, so also of untying them.’ On the other hand, knots which could be tied or untied with one hand were quite legal. Further, ‘a woman may tie up a slit in her shift and the strings of her cap and those of her girdle, the straps of shoes or sandals, of skins of wine and oil’. Now see what happened. Suppose a man wished to let down a bucket into a well to draw water on the Sabbath day. He could not tie a rope to it, for a knot on a rope was illegal on the Sabbath; but he could tie it to a woman’s girdle and let it down, for a knot in a girdle was quite legal. That was the kind of thing which to the scribes and Pharisees was a matter of life and death; that was religion; that to them was pleasing and serving God. Take the case of making a journey on the Sabbath. Exodus 16:29 says: ‘Each of you stay where you are; do not leave your place on the seventh day.’ A Sabbath day’s journey was therefore limited to 2,000 cubits, that is, 1,000 yards. But, if a rope was tied across the end of a street, the whole street became one house and a man could go 1,000 yards beyond the end of the street. Or, if a man deposited enough food for one meal on Friday evening at any given place, that place technically became his house and he could go 1,000 yards beyond it on the Sabbath day. The rules and regulations and the evasions piled up by the hundred and the thousand. Take the case of carrying a burden. Jeremiah 17:21–4 said: ‘For the sake of your lives, take care that you do not bear a burden on the sabbath day.’ So a burden had to be defined. It was defined as ‘food equal in weight to a dried fig, enough wine for mixing in a goblet, milk enough for one swallow, honey enough to put upon a wound, oil enough to anoint a small member, water enough to moisten an eye-salve’, and so on and on. It had then to be settled whether or not on the Sabbath a woman could wear a brooch, a man could wear an artificial leg or dentures; or would it be carrying a burden to do so? Could a chair or even a child be lifted? And so on and on the discussions and the regulations went. It was the scribes who worked out these regulations; it was the Pharisees who dedicated their lives to keeping them. [= ] - hal 121-122.

 

William Barclay (tentang Yoh 5:10-18): The man who had been healed was walking through the streets carrying his bed; the orthodox Jews stopped him and reminded him that he was breaking the law by carrying a burden on the Sabbath day. We have already seen what the Jews did with the law of God. It was a series of great wide principles which men and women were left to apply and carry out, but throughout the years the Jews had made it into thousands of little rules and regulations. The law simply said that the Sabbath day must be different from other days and that on it neither a man nor his servants nor his animals must work; the Jews set out thirty-nine different classifications of work, one of which was that it consisted in carrying a burden. They were founded particularly on two passages. Jeremiah had said: ‘Thus says the Lord: For the sake of your lives, take care that you do not bear a burden on the sabbath day or bring it in by the gates of Jerusalem. And do not carry a burden out of your houses on the sabbath or do any work, but keep the sabbath day holy, as I commanded your ancestors’ (Jeremiah 17:21–2). Nehemiah had been worried at the work and the trading that took place on the Sabbath day and had stationed servants at the gates of Jerusalem to see that no burdens were carried in or out on the Sabbath (Nehemiah 13:15–19). Nehemiah 13:15 makes it perfectly clear that what was in question was trading on the Sabbath as if it had been an ordinary day. But the Rabbis of Jesus’ day solemnly argued that a man was sinning if he carried a needle in his robe on the Sabbath. They even argued as to whether he could wear his false teeth or his artificial leg. They were quite clear that any kind of brooch could not be worn on the Sabbath. To them, all this petty detail was a matter of life and death - and certainly this man was breaking the Rabbinic law by carrying his bed on the Sabbath day. [= ] - hal 181-182.

 

William Barclay (tentang Yoh 9:13-16): Now comes the inevitable trouble. It was the Sabbath day on which Jesus had made the clay and healed the man. Undoubtedly Jesus had broken the Sabbath law, as the scribes had worked it out, and done so in fact in three different ways. (1) By making clay, he had been guilty of working on the Sabbath, when even the simplest acts constituted work. Here are some of the things which were forbidden on the Sabbath. ‘A man may not fill a dish with oil and put it beside a lamp and put the end of the wick in it.’ ‘If a man extinguishes a lamp on the Sabbath to spare the lamp or the oil or the wick, he is culpable.’ ‘A man may not go out on the Sabbath with sandals shod with nails.’ (The weight of the nails would have constituted a burden, and to carry a burden was to break the Sabbath.) A man might not cut his fingernails or pull out a hair of his head or his beard. Obviously, in the eyes of such a law, to make clay was to work and so to break the Sabbath. (2) It was forbidden to heal on the Sabbath. Medical attention could be given only if life was in actual danger. Even then, it must be only such as to keep patients from getting worse, not to make them any better. For instance, it was not permitted for anyone with toothache to suck vinegar through the teeth. It was forbidden to set a broken limb. ‘If a man’s hand or foot is dislocated he may not pour cold water over it.’ Clearly the man who was born blind was in no danger of his life; therefore Jesus broke the Sabbath when he healed him. (3) It was quite definitely laid down: ‘As to fasting spittle, it is not lawful to put it so much as upon the eyelids.’ [=] - hal 44-45.

 

Yang saya berikan di bawah ini merupakan ringkasan dari apa yang dilarang untuk dilakukan oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada jaman Yesus.

 

a.  Larangan membawa ‘beban’ dan mempersiapkan makanan.

 

(1)          Menuai, menampi, dan mengirik, dan mempersiapkan makanan.

 

(2)          Merupakan sesuatu yang dilarang untuk membawa beban. Tetapi apakah beban itu? Beban adalah apapun yang sama beratnya dengan 2 buah ara kering, anggur yang cukup untuk membuat satu gelas minuman, susu yang cukup untuk satu teguk, madu cukup untuk diberikan pada suatu luka, minyak cukup untuk mengurapi anggota yang kecil, air cukup untuk membasahkan salep mata, kertas cukup untuk menuliskan pemberitahuan suatu rumah cukai, tinta cukup untuk menuliskan 2 huruf dari alfabet, bambu cukup untuk membuat sebuah pena, dan seterusnya tanpa ada akhirnya.

 

Demikianlah mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdebat apakah seseorang boleh atau tidak boleh mengangkat sebuah lampu dari satu tempat ke tempat lain pada hari Sabat, apakah seorang perempuan boleh memakai rambut palsu, bahkan apakah seseorang boleh pergi keluar pada hari Sabat dengan gigi palsu atau kaki palsu, apakah seseorang boleh mengangkat anaknya pada hari Sabat.

 

(3)          Seseorang berdosa jika ia membawa sebuah jarum di jubahnya pada hari Sabat.

 

(4)          Bros dari jenis apapun tidak boleh dipakai pada hari Sabat.

 

(5)          Seseorang tidak boleh keluar pada hari Sabat dengan sandal yang menggunakan paku, karena berat dari paku-paku itu merupakan suatu beban, dan membawa beban berarti melanggar hukum hari Sabat.

 

b.  Larangan bepergian / melakukan perjalanan jauh.

Perjalanan pada hari Sabat dibatasi pada 2000 hasta, yaitu 1000 yard.

Catatan: 1 yard = 3 kaki (kira-kira 91,5 cm). Berdasarkan kata-kata Barclay ini, jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat hanyalah sekitar 914 meter.

 

Kalau saudara mau tahu dari mana mereka mendapatkan jarak ini, maka perhatikan ayat-ayat ini:

(1)          Kis 1:12 - “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.”.

(2)          Kel 16:29 - “Perhatikanlah, TUHAN telah memberikan sabat itu kepadamu; itulah sebabnya pada hari keenam Ia memberikan kepadamu roti untuk dua hari. Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing, seorangpun tidak boleh keluar dari tempatnya pada hari ketujuh itu.’”.

 

Barnes’ Notes (tentang Kis 1:12): “‘A sabbath-day’s journey.’ As far as might be lawfully traveled by a Jew on the Sabbath. This was 2,000 paces or cubits, or seven furlongs and a half - not quite one mile. .. The distance of a lawful journey on the Sabbath was not fixed by the laws of Moses, but the Jewish teachers had fixed it at 2,000 paces. This measure was determined on because it was a tradition that in the camp of the Israelites, when coming from Egypt, no part of the camp was more than 2000 paces from the tabernacle, and over this space, therefore, they were permitted to travel for worship.” [= ‘Seperjalanan Sabat’. Jarak yang secara sah boleh ditempuh oleh seorang Yahudi pada hari Sabat. Ini adalah 2000 langkah atau hasta, atau 7 ½ furlongs - tidak sampai 1 mil. ... Jarak yang boleh ditempuh pada hari Sabat tidak ditentukan oleh hukum Taurat Musa, tetapi guru-guru Yahudi telah menentukannya sejauh 2000 langkah. Ukuran ini ditentukan karena merupakan tradisi bahwa dalam perkemahan dari bangsa Israel, pada waktu keluar dari Mesir, tidak ada bagian dari perkemahan yang lebih dari 2000 langkah dari Kemah Suci, dan karena itu melalui jarak inilah mereka diijinkan untuk berjalan untuk berbakti.].

Catatan:

(a) Saya merasa ada yang aneh dalam kata-kata Barnes ini, karena sebetulnya ‘langkah’ jauh berbeda dengan ‘hasta’.

(b)          Dalam kamus dikatakan bahwa 1 furlong = 201 meter. Jadi 7 ½ furlongs = sekitar 1,5 km. Jadi, agak lebih jauh dari yang dikatakan oleh Barclay.

 

Pulpit Commentary (tentang Kel 16:29): “‘Abide ye every man in his place.’ ... generally it was held that the ‘place’ intended was the camp, which the Israelites were forbidden to quit; and hence was derived the idea of the ‘sabbath day’s journey,’ which was reckoned at six stadia - the supposed distance of the furthest bounds of the camp from its centre.” [= ‘Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing’. ... pada umumnya dianggap bahwa ‘tempat’ yang dimaksudkan adalah perkemahan, dari mana orang Israel dilarang meninggalkan; dan karena itu didapatkan gagasan tentang ‘seperjalanan Sabat’, yang diperhitungkan pada 6 stadia - jarak yang dianggap sebagai batasan terjauh dari perkemahan dari pusatnya.] - hal 52-53.

Catatan: 1 stadium (bentuk tunggal dari stadia) kurang lebih sama dengan 180-190 meter. Jadi, 6 stadia kurang lebih sama dengan 1,1 km.

 

Barnes’ Notes (tentang Kel 16:29): “‘Abide ye every man in his place.’ ... The prohibition must however be understood with reference to its immediate object; they were not to go forth from their place in order to gather manna, which was on other days without the camp. The spirit of the law is sacred rest.” [= ‘Tinggallah kamu di tempatmu masing-masing’. ... Tetapi larangan ini harus dimengerti berkenaan dengan obyek / tujuan saat itu; mereka tidak boleh keluar dari tempat mereka untuk mengumpulkan manna, yang pada hari-hari yang lain ada di luar perkemahan. Roh / arti sebenarnya dari hukum ini adalah istirahat yang kudus.].

 

Kesimpulan: lagi-lagi orang-orang Yahudi melakukan penafsiran yang salah tentang ayat Kitab Suci (Kel 16:29) sehingga akhirnya mendapatkan jarak yang tidak boleh dilampaui pada hari Sabat.

 

c.  Larangan mengobati / menyembuhkan.

(1)          Dalam kasus dimana nyawa ada dalam bahaya maka boleh dilakukan penanganan, khususnya seperti kasus penyakit telinga, hidung, tenggorokan, dan mata. Tetapi bahkan dalam kasus seperti itu, langkah-langkah bisa diambil hanya untuk mencegah kematian / supaya orang itu jangan menjadi lebih buruk, tetapi bukan untuk menyembuhkannya / membuatnya lebih baik.

(2)          Seorang perempuan yang mau melahirkan boleh ditolong pada hari Sabat.

(3)          Jika sebuah tembok rubuh dan menimpa seseorang, tembok itu boleh disingkirkan secukupnya untuk melihat apakah ia mati atau hidup; jika ia hidup ia boleh ditolong, jika ia mati mayatnya harus dibiarkan sampai hari berikutnya.

(4)          Perban biasa boleh diberikan pada suatu luka, tetapi bukan perban yang menggunakan obat.

(5)          Dilarang untuk membetulkan letak dari kaki / tangan yang patah. Tulang patah tidak boleh dirawat. Air dingin tidak boleh dituangkan pada tangan atau kaki yang terkilir / keluar dari posisinya.

 

d.  Larangan menulis.

Menulis pada hari Sabat dianggap sebagai bekerja. Tetapi ‘menulis’ perlu didefinisikan. Ia yang menulis 2 huruf dari alfabet dengan tangan kanan atau tangan kirinya, apakah dari satu jenis atau 2 jenis, jika huruf-huruf itu ditulis dengan tinta yang berbeda atau dalam bahasa yang berbeda, bersalah. Bahkan jika ia menulis 2 huruf karena lupa, ia bersalah, apakah ia telah menulis huruf-huruf itu dengan tinta atau dengan cat, kapur merah, benda tajam, atau apapun yang membuat tanda permanen. Juga ia yang menulis pada 2 dinding yang membentuk suatu sudut, atau pada 2 lembaran dari buku catatan / rekeningnya sehingga huruf-huruf itu bisa dibaca bersama-sama, ia bersalah ... Tetapi jika seseorang menulis dengan cairan gelap, dengan air buah, atau di tanah di jalanan, atau pada pasir, atau pada apapun yang tidak membuat tanda permanen, ia tidak bersalah. ... Jika ia menulis satu huruf di tanah, dan satu di dinding rumah, atau pada 2 halaman dari suatu buku, sehingga huruf-huruf itu tidak bisa dibaca bersama-sama, ia tidak bersalah.

 

e.  Larangan menyalakan api / lampu.

Sampai hari ini ada orang-orang Yahudi orthodox yang ketat di negeri ini yang tidak akan memperbaiki nyala api pada hari Sabat atau menyalakan skakelar lampu. Jika api harus dikobarkan seorang non Yahudi digunakan untuk melakukannya. Jika seorang Yahudi cukup kaya, ia kadang-kadang akan memasang ‘skakelar waktu’ yang akan menyalakan lampu (secara otomatis) pada sore hari pada hari Sabat tanpa ia melakukannya sendiri.

 

f.   Larangan membuat simpul.

Mengikat / membuat simpul pada hari Sabat adalah bekerja; dan seseorang sama bersalahnya dengan membuat simpul maupun melepaskan / menguraikannya. Tetapi suatu simpul perlu didefinisikan. Ada yang boleh dibuat, ada yang tidak boleh.

(1)          Simpul yang dilarang: simpul dari penunggang-penunggang unta dan simpul dari pelaut.

(2)          Simpul yang bisa dibuat / diikat atau dilepaskan / diuraikan dengan satu tangan adalah simpul yang boleh dilakukan.

(3)          Seorang perempuan boleh mengikat suatu celah pada pakaiannya, dan tali pada topi dan pada sabuknya, tali pengikat dari sepatu atau sandal, dari kantong kulit dari anggur dan minyak.

 

g.  Larangan berperang / membela diri.

William Barclay (tentang Mark 3:1-6): “a strict Jew would not even defend his life on the Sabbath.” [= seorang Yahudi yang ketat bahkan tidak akan mempertahankan dirinya / nyawanya pada hari Sabat.] - hal 67-68.

 

Orang-orang Syria dan Romawi pernah mengalahkan orang-orang Yahudi dengan cara berperang pada hari Sabat, dan orang-orang Yahudi itu sama sekali tidak mau membela diri sehingga mereka dapat dibunuh dengan mudah.

Salah satu cerita dimana orang-orang Yahudi tidak mau berperang dan rela membiarkan diri dibunuh, karena musuh menyerang pada hari Sabat, terdapat dalam kitab Apocrypha, yaitu 1Makabe 2:31-38. Pada saat itu sekitar 1000 orang Yahudi dibunuh pada hari Sabat. Ini menyebabkan seorang Yahudi yang bernama Matatias lalu mengubah prinsip itu, dan memutuskan untuk berperang kalau diserang pada hari Sabat (1Makabe 2:41).

Catatan:

(1)          Kitab apocrypha tidak kita akui sebagai Firman Tuhan, tetapi paling-paling sebagai buku kuno / sejarah.

(2)          Larangan perang / pembelaan diri pada hari Sabat ini kelihatannya bertentangan dengan peristiwa dalam Yos 6:15  1Raja 20:29.

 

h.  Macam-macam larangan yang lain.

(1)          Seseorang tidak boleh mengisi tempat minyak dengan minyak dan meletakkannya di sisi lampu dan memasukkan ujung sumbu ke dalamnya.

(2)          Jika seseorang mematikan sebuah lampu pada hari Sabat untuk menghemat lampu atau minyak atau sumbunya, ia bersalah.

(3)          Seseorang tidak boleh menggunting kuku jarinya atau mencabut rambut dari kepalanya atau janggutnya.

(4)          Dilarang melakukan hubungan sex dengan istri.

(5)          Dilarang menunggang binatang apapun, atau bepergian dengan kapal di laut.

(6)          Dilarang memukul atau membunuh apapun, atau menangkap seekor binatang, burung, atau ikan.

(7)          Dilarang berpuasa pada hari Sabat.

Puasa justru dilarang pada hari Sabat, karena hari Sabat dianggap sebagai hari pesta / perayaan. Makanan justru merupakan bagian penting dari perayaan hari Sabat - ‘From Sabbath to Lord’s Day’, hal 50.

 

i.   C. Rowland mengatakan bahwa ada kelompok Yahudi yang bernama The Essenes, yang bahkan melarang seseorang buang air besar pada hari Sabat! - ‘From Sabbath to Lord’s Day’, hal 46.

 

3.  Pertentangan antara Yesus dan ahli-ahli Taurat / orang-orang Farisi pada jamanNya.

Ada banyak text-text Kitab Suci yang menunjukkan pertentangan antara Yesus dan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berkenaan dengan larangan / peraturan hari Sabat, seperti dalam Mat 12:1-13 (bdk. Mark 2:23-3:6  Luk 6:1-11)  Luk 13:10-17  Luk 14:1-6  Yoh 5:1-18  Yoh 7:22-23  Yoh 9:1-16. Dari text-text yang menunjukkan pertentangan antara Yesus dan orang-orang Yahudi dalam persoalan hukum Sabat ini, kita bisa menyimpulkan bahwa dalam pandangan Yesus ada hal-hal / pekerjaan yang boleh dilakukan pada hari Sabat, yaitu:

 

a.  Pekerjaan / hal darurat yang betul-betul dibutuhkan.

Luk 14:5 - “Kemudian Ia berkata kepada mereka: ‘Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari Sabat?’”.

 

Pekerjaan yang berhubungan dengan keadaan darurat ini jelas mencakup perang / pembelaan diri.

 

b.      Menolong orang / berbuat baik.

Mat 12:10-13 - “(10) Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Mereka bertanya kepadaNya: ‘Bolehkah menyembuhkan orang pada hari Sabat?’ Maksud mereka ialah supaya dapat mempersalahkan Dia. (11) Tetapi Yesus berkata kepada mereka: ‘Jika seorang dari antara kamu mempunyai seekor domba dan domba itu terjatuh ke dalam lobang pada hari Sabat, tidakkah ia akan menangkapnya dan mengeluarkannya? (12) Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba? Karena itu boleh berbuat baik pada hari Sabat.’ (13) Lalu kata Yesus kepada orang itu: ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan ia mengulurkannya, maka pulihlah tangannya itu, dan menjadi sehat seperti tangannya yang lain.”.

 

Karena itu, janganlah menggunakan hukum Sabat ini sebagai alasan untuk tidak menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

 

Diijinkannya kita untuk berbuat baik pada hari Sabat menyebabkan adanya tempat-tempat yang boleh tetap buka pada hari Sabat, seperti rumah sakit, apotik. Tetapi motivasinya bukan untuk mencari uang, tetapi untuk berbuat baik / melayani / menolong orang. Tentu bukannya semua lalu digratiskan. Mereka tetap boleh menarik bayaran, tetapi itu tidak boleh menjadi motivasi mereka.

 

c.       Melayani Tuhan.

Mat 12:5 - “Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?”.

 

Jadi, hamba Tuhan yang ‘bekerja’ / melayani pada hari Minggu, tidak bersalah. Sebaliknya, ia melakukan sesuatu yang baik. Pelayanan pada hari Minggu bukanlah termasuk bekerja, dan karena itu bukan merupakan pelanggaran terhadap hukum hari Sabat.

 

Tetapi lalu bagaimana dengan istirahat Sabat bagi hamba Tuhan? Ada orang-orang yang mengatakan bahwa hamba Tuhan harus mempunyai hari Sabat / hari istirahat di luar hari Minggu. Tetapi dari Kitab Suci maupun dari buku-buku manapun, saya tidak pernah membaca / menemukan bahwa imam-imam pada jaman Perjanjian Lama mempunyai hari Sabat / hari istirahat di luar hari Sabtu. Jadi, menurut saya, Kitab Suci tidak mengharuskan hamba Tuhan untuk mempunyai satu hari istirahat, tetapi juga tidak melarangnya. Kalau seorang hamba Tuhan ingin mempunyai hari istirahat, dan memilih satu hari tertentu (selain Minggu) sebagai hari istirahatnya, saya berpendapat bahwa ia berhak melakukannya.

 

b) Ada banyak hal / pekerjaan yang memang tidak boleh kita lakukan pada hari Sabat.

 

Kalau orang-orang Yahudi menambahi larangan / peraturan Sabat sehingga menjadi terlalu ketat, maka pada jaman sekarang, boleh dikatakan semua orang Kristen jatuh (mungkin secara jauh lebih buruk) pada extrim sebaliknya, yaitu mengabaikan sebagian / seluruh larangan / peraturan Sabat.

 

Karena itu, perhatikanlah hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat di bawah ini:

 

1.  Kita tidak boleh melakukan pekerjaan sehari-hari.

 

Kel 20:9-10 - “(9) enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.”.

 

a.  Perhatikan Kel 20:9 - “enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,”.

 

Kita tidak boleh menjadi pemalas yang tidak mau bekerja. Kita disuruh untuk bekerja. Tetapi, semua pekerjaan itu harus dilakukan dalam 6 hari. Untuk itu perhatikan kata ‘segala’ dalam ay 9 di atas. Saya berpendapat bahwa penekanan dari ay 9 ini bukanlah bahwa kita harus bekerja selama 6 hari itu, tetapi bahwa segala pekerjaan harus diselesaikan dalam 6 hari sehingga tidak ada pekerjaan yang tersisa untuk hari Sabat.

 

Pulpit Commentary (tentang Kel 20:9): “Verse 9. - ‘Six days shalt thou labour.’ This is not so much a command as a prohibition. ‘Thou shalt not labor more than six (consecutive) days.’ In them thou shalt do all thy necessary work, so as to have the Sabbath free for the worship and service of God.” [= Ayat 9. - ‘Enam hari lamanya engkau akan bekerja’. Ini lebih merupakan suatu larangan dari pada suatu perintah. ‘Engkau tidak boleh bekerja lebih dari enam hari (berturut-turut)’. Dalam hari-hari itu engkau harus melakukan semua pekerjaanmu yang perlu, sehingga membebaskan hari Sabat untuk penyembahan dan kebaktian / pelayanan Allah.] - hal 132.

 

Jadi, bekerja ataupun lembur pada hari Sabat jelas tidak diijinkan. Pada masa sibukpun hari Sabat harus tetap menjadi hari istirahat.

 

Bdk. Kel 34:21 - “Enam harilah lamanya engkau bekerja, tetapi pada hari yang ketujuh haruslah engkau berhenti, dan dalam musim membajak dan musim menuai haruslah engkau memelihara hari perhentian juga.”.

 

Masa membajak dan menuai jelas merupakan masa paling sibuk. Tetapi Firman Tuhan tidak mengenal kompromi dan tetap memerintahkan untuk memelihara Sabat sebagai hari perhentian / istirahat pada saat seperti itu.

 

Penerapan:

 

(1)          Ini berlaku untuk siswa / mahasiswa yang sedang ujian. Kalau mereka kuatir tidak lulus karena harus punya 1 hari istirahat dalam 1 minggu, maka perlu mereka camkan bahwa Tuhan bisa memberkati masa belajar 6 hari, dibandingkan dengan masa belajar 7 hari tanpa istirahat, dalam 1 minggu!

 

(2)          Ini juga berlaku untuk orang yang merasa bahwa dengan bekerja 7 hari dalam 1 minggu ia masih belum mendapat uang yang cukup untuk hidupnya. Bagaimana mungkin harus ‘membuang’ 1 hari untuk istirahat? Ingat, Tuhan bisa memberkati 6 hari kerja lebih dari 7 hari kerja dalam 1 minggu!

 

Bdk. Mat 6:33 - “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”.

 

Bandingkan dengan orang yang 100 % gajinya tidak mencukupi, tetapi dengan memberikan 10 % untuk Tuhan sebagai persembahan persepuluhan, malah dengan 90 % ia bisa mencukupi hidupnya. Tuhan ada di atas matematik! Ini juga berlaku bagi orang-orang, yang karena ingin memelihara hari Sabat, tidak bekerja / belajar pada hari itu!

 

Bible Knowledge Commentary (tentang Yes 58:13): “By following the rules for the Sabbath a person acknowledged the importance of worshiping God and showed that he depended on God to bless him materially for that time he took off from work.” [= Dengan mengikuti peraturan-peraturan untuk Sabat seseorang mengakui pentingnya penyembahan Allah dan menunjukkan bahwa ia tergantung kepada Allah untuk memberkatinya secara material untuk waktu yang ia ambil dari pekerjaan.].

 

Kalau kita melanggar hukum hari Sabat dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan, maka perhatikan kutipan di bawah ini.

 

D. L. Moody: “When the children of Israel went into the Promised Land, God told them to let their land rest every seven years, and He would give them as much in six years as in seven. For four hundred and ninety years they disregarded that law. But mark you, Nebuchadnezzar came and took them off into Babylon, and kept them seventy years in captivity, and the land had its seventy sabbaths of rest. Seven times seventy is four hundred and ninety. So they did not gain much by breaking this law. You can give God His day, or He will take it.” [= Pada waktu bangsa Israel masuk ke Tanah Perjanjian, Allah memberitahu mereka untuk membiarkan tanah mereka beristirahat setiap 7 tahun, dan Ia akan memberikan kepada mereka sama banyaknya dalam 6 tahun seperti dalam 7 tahun. Selama 490 tahun mereka mengabaikan hukum tersebut. Tetapi perhatikan, Nebukadnezar datang dan membawa mereka ke Babilonia, dan menaruh mereka 70 tahun dalam pembuangan, dan tanah itu mendapatkan 70 x istirahat Sabatnya. 7 x 70 = 490. Jadi, mereka tidak mendapatkan keuntungan dengan melanggar hukum ini. Kamu bisa memberikan kepada Allah hariNya, atau Ia akan mengambilnya sendiri.] - ‘D. L. Moody On The Ten Commandments’, hal 61.

 

b.  Perhatikan Kel 20:10 - “tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.”.

 

Ada beberapa hal yang harus ditekankan / dijelaskan tentang Kel 20:10 ini:

 

(1)          Seluruh, bukan sebagian dari, hari ketujuh itu adalah hari Sabat Tuhan! Jadi, jangan mempunyai pandangan bahwa kalau saudara sudah berbakti kepada Tuhan pada hari Minggu, maka saudara boleh menggunakan sisa hari itu sesuka saudara sendiri! Seluruh hari Minggu adalah hari Sabat Tuhan!

 

(2)          Bukan hanya kita yang tidak boleh bekerja, tetapi juga pegawai, anak-anak, dan bahkan binatang (lembu untuk membajak dsb)!

Kita tidak boleh mempekerjakan pegawai  / pelayan, dan kita juga tidak boleh menyuruh anak kita untuk belajar! Mereka juga membutuhkan istirahat! Ada 6 hari untuk bekerja / belajar bagi mereka; biarkan mereka beristirahat pada hari Sabat.

 

Ini perlu dicamkan oleh para boss, yang sering mengharuskan pegawai-pegawainya untuk lembur / tetap bekerja pada hari Minggu. Juga oleh para majikan, yang mengharuskan pembantu rumah tangga tetap bekerja pada hari Minggu.

 

Ini juga perlu dicamkan oleh para orang tua, khususnya mereka yang kadang-kadang menghukum anaknya dengan melarang pergi ke gereja dan menyuruhnya belajar di rumah, karena anak itu mendapatkan nilai / rapor yang jelek. Hukumlah anak dengan cara lain, bukan dengan menyuruh mereka berdosa dengan melanggar peraturan Sabat!

 

Ini merupakan sesuatu yang sangat sukar untuk dilakukan. Pikirkan tentang naik becak atau taxi. Tidakkah kita mempekerjakan mereka? Lalu bagaimana kita ke gereja kalau misalnya mobil kita mogok dsb? Kalau kita membeli bensin / solar, tidakkah kita mempekerjakan pegawai pompa bensin itu?

 

(3)          Mengapa ‘istri’ tidak disebutkan?

Matthew Henry mengatakan bahwa ‘istri’ tidak disebutkan, karena ia dianggap sebagai satu dengan suami.

 

 

 

 

 

-bersambung-


 

[email protected]

http://golgothaministry.org

Email : [email protected]

CHANNEL LIVE STEAMING YOUTUBE :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ