(Jl. Dinoyo 19b, lantai 3)
Minggu, tgl 13 Desember 2009, pk 17.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(HP: 7064-1331 / 6050-1331)
2Kor 8:1-9 - “(1)
Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia
yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. (2) Selagi dicobai
dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun
mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (3) Aku bersaksi,
bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui
kemampuan mereka. (4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak
kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian
dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (5) Mereka memberikan lebih banyak
dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama
kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (6) Sebab
itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan
pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. (7) Maka sekarang, sama
seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam
pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami
- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. (8) Aku
mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha
orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. (9)
Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia,
yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi
kaya oleh karena kemiskinanNya”.
Kita
baca sekali lagi ay 9nya.
Ay 9: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia
Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin,
sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinanNya”.
I) Yesus
tadinya kaya.
Charles
Hodge mengatakan bahwa kata-kata ‘sekalipun
Ia kaya’ mempunyai dua kemungkinan arti:
1)
Dulu Ia kaya, dan ini ditunjukkan misalnya oleh Yoh 17:5.
Yoh 17:5
- “Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku padaMu sendiri dengan kemuliaan
yang Kumiliki di hadiratMu sebelum dunia ada”.
2)
Pada masa perendahanpun Ia tetap kaya, karena Ia tetap mempunyai semua
hak-hak ilahi.
Hodge
memilih arti pertama. Albert Barnes kelihatannya sama dengan Hodge. Lenski
kelihatannya memilih yang kedua (lihat kutipan di bawah). Sedangkan Calvin
kelihatannya menggabungkan keduanya (lihat kata-kata Calvin di bawah).
Charles Hodge:
“Being
rich, plou>siov w}n, that is, either, as in our version, Though
he was rich, in the possession of the
glory which we had with the Father before the world was, John 17:5; or, Being
rich in the actual and constant
possession of all divine prerogatives.
In the latter case, the idea is that our blessed Lord while here on earth,
although he had within himself the fullness of the Godhead and the right and
power of possession over all things, yet was poor. He did not avail himself of
his right and power to make himself rich, but voluntarily submitted to all the
privations of poverty. The former interpretation is commonly and properly
preferred” (= ‘sekalipun
kaya’, PLOUSIOS ON, artinya, atau seperti dalam versi kita, ‘sekalipun Ia
kaya’, dalam kepemilikan kemuliaan yang Ia miliki bersama Bapa sebelum dunia
ada, Yoh 17:5; atau, kaya dalam kepemilikan yang sungguh-sungguh dan terus
menerus dari semua hak-hak ilahi. Dalam kasus yang terakhir, gagasannya adalah
bahwa Tuhan kita yang terpuji / diberkati sementara di sini di bumi, sekalipun
Ia mempunyai dalam diriNya sendiri kepenuhan keAllahan dan hak dan kuasa
kepemilikan atas segala sesuatu, tetapi Ia miskin. Ia tidak memanfaatkan untuk
diriNya sendiri hak dan kuasaNya untuk membuat diriNya kaya, tetapi dengan
sukarela menyerahkan diri pada semua kekurangan dari kemiskinan. Penafsiran
yang lebih dulu / pertama pada umumnya dan secara benar lebih dipilih).
Barnes’
Notes:
“He had been rich. Yet not in this world. He did not lay aside wealth
here on earth after he had possessed it, for he had none. He was not first rich
and then poor on earth, for he had no earthly wealth. ... His family was poor;
and his parents were poor; and he was himself poor all his life. This then must
refer to a state of antecedent riches before his assumption of human nature; and
the expression is strikingly parallel to that in Phil 2:6 ff ... he was rich as
the Lord and proprietor of all things. He was the Creator of all (John 1:3; Col.
1:16), and as Creator he had a right to all things, and the disposal of all
things” [=
Ia dulu kaya. Tetapi bukan dalam dunia ini. Ia tidak mengesampingkan kekayaan di
sini di dunia setelah Ia memilikinya, karena Ia tidak mempunyai kekayaan apapun.
Ia bukannya mula-mula kaya dan lalu menjadi miskin di bumi, karena Ia tidak
mempunyai kekayaan duniawi. ... KeluargaNya miskin; dan orang tuaNya miskin; dan
Ia sendiri miskin dalam seluruh hidupNya. Maka, ini harus menunjuk pada suatu
keadaan kaya sebelum Ia mengambil hakekat manusia; dan ungkapan ini secara
menyolok paralel dengan yang ada dalam Fil 2:6-dst. ... Ia dulunya kaya sebagai
Tuhan dan pemilik dari segala sesuatu. Ia adalah sang Pencipta dari segala
sesuatu (Yoh 1:3; Kol 1:16), dan sebagai Pencipta Ia mempunyai hak atas segala
sesuatu, dan untuk memberikan / membagikan segala sesuatu].
Calvin:
“Christ was rich, because he was God, under whose power and authority
all things are; and farther, even in our human nature, which he put on, as the
Apostle bears witness, (Heb. 1:2; 2:8,) he was the heir of all things,
inasmuch as he was placed by his Father over all creatures, and all things
were placed under his feet” [= Dulu Kristus kaya, karena Ia adalah Allah, dan segala sesuatu ada di bawah
kuasa dan otoritasNya; dan selanjutnya, bahkan dalam hakekat manusia kita yang
Ia kenakan / ambil, seperti yang disaksikan oleh sang Rasul (Ibr 1:2; 2:8), Ia
adalah pewaris dari segala sesuatu, karena oleh BapaNya Ia diletakkan di atas
segala makhluk ciptaan, dan segala sesuatu diletakkan di bawah kakiNya]
- hal 290.
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“In
what ways was Jesus rich? Certainly He was rich in His person, for He is
eternal God. He is rich in His possessions and in His position as King of
kings and Lord of lords. He is rich in His power, for He can do anything”
(= Dalam cara apa Yesus kaya? Jelas Ia kaya dalam
pribadiNya, karena Ia adalah Allah yang kekal. Ia kaya dalam kepemilikanNya
dan dalam posisiNya sebagai Raja atas segala raja dan Tuhan atas segala tuhan.
Ia kaya dalam kuasaNya, karena Ia bisa melakukan apapun).
Adam
Clarke:
“If Jesus Christ, as some contend, were only a mere man, in what sense
could he be said to be rich? His family was poor in Bethlehem; his parents were
very poor also; he himself never possessed any property among men from the
stable to the cross; nor had he anything to bequeath at his death but his peace.
And in what way could the poverty of one man make a multitude rich? These are
questions which, on the Socinian scheme, can never be satisfactorily answered”
(= Jika
Yesus Kristus, seperti pendapat beberapa orang, hanya semata-mata manusia saja,
dalam arti apa Ia bisa dikatakan sebagai kaya? KeluargaNya di Betlehem miskin;
orang tuaNya juga sangat miskin; Ia sendiri tidak pernah memiliki kekayaan
apapun di antara manusia sejak dari palungan sampai salib; Ia juga tidak
mempunyai apapun untuk diwariskan pada kematianNya kecuali damaiNya. Dan dengan
cara apa kemiskinan dari satu orang bisa membuat banyak orang menjadi kaya? Ini
adalah pertanyaan-pertanyaan yang, berdasarkan pandangan Socinian, tidak pernah
bisa dijawab dengan memuaskan).
Encyclopedia
Britannica 2009 mengatakan bahwa ajaran Socinian mengikuti seorang Italia yang
bernama Laelius Socinus dan keponakannya yang bernama Faustus Socinus (abad
16-17 M.). Para penganut ajaran ini tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Allah,
tetapi hanya sekedar manusia biasa. Mereka juga tidak mempercayai Allah
Tritunggal. Jadi, ditinjau dari hal ini, sama seperti Saksi Yehuwa, mereka juga
termasuk dalam kelompok Unitarian.
Kalau
Yesus memang hanya semata-mata manusia biasa, maka perlu dipertanyakan: dalam
arti apa / bagaimana Yesus dikatakan dulunya kaya (KJV/RSV/NIV/NASB: ‘though he was rich’)?
Kitab
Suci memang jelas menyatakan, bahwa sekalipun dilahirkan sebagai manusia, tetapi
Yesus sungguh-sungguh adalah Allah.
Seandainya
saudara bersama-sama dengan gembala-gembala di padang itu datang kepada Yesus
yang baru dilahirkan, dan saudara melihat Dia sebagai seorang bayi, bisakah
saudara mempercayai bahwa itu adalah Allah sendiri?
II) Yesus
menjadi miskin.
1)
Arti dari kata ‘miskin’ di sini.
Kata-kata
‘menjadi miskin’ dalam 2Kor 8:9 ini diterjemahkan dari
kata Yunani EPTOKHEUSEN, yang jelas berasal dari kata dasar PTOKHOS.
Ada beberapa kata bahasa Yunani yang
berarti ‘miskin’:
a)
PENES atau PENICHROS yang artinya adalah ‘miskin tetapi masih
mempunyai sesuatu’.
b)
PTOCHOS yang artinya adalah ‘miskin dalam arti sama sekali tidak
punya apa-apa’. Dalam Luk 16:20 kata ‘pengemis’ yang
ditujukan kepada Lazarus itu dalam bahasa Yunaninya adalah PTOCHOS. Perhatikan
Luk 16:20-21 ini untuk mendapat gambaran tentang PTOCHOS itu.
Luk 16:20-21 - “(20) Dan ada
seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat
pintu rumah orang kaya itu, (21) dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa
yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat
boroknya”.
Ia bukan hanya tidak mempunyai rumah,
tetapi juga tidak mempunyai uang untuk membeli makanan atau obat / perban untuk
mengobati / membalut luka-lukanya.
Pulpit
Commentary (tentang Mat 5:3):
·
“PTOCHOS,
in classical and philosophical usage, implies a lower degree of poverty than
PENES (2Cor 9:9)” [= PTOCHOS, dalam
penggunaan klasik dan filosofis, menunjukkan tingkat kemiskinan yang lebih
rendah dari PENES (2Kor 9:9)] - hal
147.
·
“The
PENES may be so poor that he earns his bread by daily labour; but the PTOCHOS is
so poor that he only obtains his living by begging ... The PENES has nothing
superfluous, the PTOCHOS has nothing at all” (= Orang yang
PENES adalah orang yang miskin sehingga ia mendapatkan roti / makanannya melalui
kerja keras setiap hari; tetapi orang yang PTOCHOS adalah orang yang begitu
miskin sehingga ia hanya mendapatkan penghidupannya melalui pengemisan ... Orang
yang PENES tidak mempunyai apapun secara berlebihan, orang yang PTOCHOS sama
sekali tidak mempunyai apapun) - hal 147.
2)
Kapan Ia menjadi miskin.
Pulpit
Commentary: “‘Became poor.’ The aorist implies the concentration of his
self-sacrifice in a single act” (= ‘Menjadi miskin’. Bentuk aorist /
lampau secara tak langsung menunjuk pada konsentrasi dari pengorbanan diriNya
sendiri dalam satu tindakan).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“The
tense of the verb indicates that it is His incarnation, His birth at Bethlehem,
that is meant here. He united Himself to mankind and took on Himself a human
body. He left the throne to become a servant. He laid aside all His possessions
so that He did not even have a place to lay His head” (= Tensa
dari kata kerja ini menunjukkan bahwa inkarnasinyalah, kelahiranNya di Betlehem,
yang dimaksudkan di sini. Ia menyatukan
diriNya sendiri dengan umat manusia dan mengambil pada diriNya sendiri suatu
tubuh manusia. Ia meninggalkan takhta untuk menjadi seorang pelayan / hamba. Ia
mengesampingkan semua milikNya sehingga Ia bahkan tidak memiliki tempat untuk
meletakkan kepalaNya).
Charles Hodge: “The
reference in ejptw>ceuse, he
became poor, is not to what our Lord did while he was on earth, but to what he did
when he came into the world”
(= Penyebutan EPTOKHEUSE, ‘Ia menjadi miskin’, bukanlah
menunjuk pada apa yang Tuhan kita lakukan pada waktu Ia akan di bumi, tetapi
pada apa yang Ia lakukan pada waktu Ia datang ke dalam dunia).
Jadi,
Natal adalah saat dimana Kristus yang kaya, menjadi miskin, karena kita!
3)
Dalam arti apa Ia menjadi miskin.
Matthew
Henry:
“for your sakes he became poor; not only did become man for us, but he
became poor also. He was born in poor circumstances, lived a poor life, and died
in poverty” (= demi engkau Ia menjadi miskin; bukan hanya Ia menjadi manusia bagi kita,
tetapi Ia menjadi miskin juga. Ia dilahirkan dalam keadaan miskin, hidup dalam
kehidupan yang miskin, dan mati dalam kemiskinan).
Barnes’
Notes: “His
whole life was a life of poverty. He had no home; Luke 9:58. He chose to be
dependent on the charity of the few friends that he drew around him, rather than
to create food for the abundant supply of his own needs. He had no farms or
plantations; he had no splendid palaces; he had no money hoarded in useless
coffers or in banks; he had no property to distribute to his friends. His mother
he commended when he died to the charitable attention of one of his disciples
(John 19:27), and all his personal property seems to have been the raiment which
he wore, and which was divided among the soldiers that crucified him” [= Seluruh
hidupNya merupakan hidup yang miskin. Ia tidak mempunyai rumah; Luk 9:58. Ia
memilih untuk menjadi tergantung pada sedikit sahabat yang Ia kumpulkan di
sekitarNya, dari pada menciptakan makanan untuk suplai yang berlimpah-limpah
untuk kebutuhanNya sendiri. Ia tidak memiliki ladang / pertanian atau
perkebunan; Ia tidak mempunyai istana-istana yang indah; Ia tidak mempunyai uang
yang ditimbun dalam peti simpanan yang sia-sia atau di bank; Ia tidak mempunyai
milik / kekayaan untuk dibagikan kepada sahabat-sahabatNya. IbuNya Ia titipkan
pada waktu Ia mati kepada perhatian yang murah hati dari salah satu muridNya
(Yoh 19:27), dan semua milik pribadiNya kelihatannya hanyalah pakaian yang Ia
kenakan, dan yang dibagikan di antara para tentara yang menyalibkanNya].
Luk 9:58
- “Yesus berkata kepadanya: ‘Serigala mempunyai liang dan burung
mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan
kepalaNya.’”.
Luk 2:6-7
- “(6) Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
(7) dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu
dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak
ada tempat bagi mereka di rumah penginapan”.
Luk 2:21-24
- “(21) Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi
nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibuNya.
(22) Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka
membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkanNya kepada Tuhan, (23) seperti ada
tertulis dalam hukum Tuhan: ‘Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi
Allah’, (24) dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan
dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung
merpati”.
Seharusnya
persembahannya adalah seekor domba dan seekor burung merpati / tekukur. Tetapi
bagi orang miskin yang tidak mampu mempersembahkan seekor domba, maka domba itu
digantikan dengan seekor burung merpati / tekukur juga, sehingga ia harus
membawa 2 ekor burung merpati / tekukur!
Bdk.
Im 12:6-8 - “(6) Bila sudah genap hari-hari pentahirannya, maka untuk anak
laki-laki atau anak perempuan haruslah dibawanya seekor domba berumur setahun
sebagai korban bakaran dan seekor anak burung merpati atau burung tekukur
sebagai korban penghapus dosa ke pintu Kemah Pertemuan, dengan menyerahkannya
kepada imam. (7) Imam itu harus mempersembahkannya ke hadapan TUHAN dan
mengadakan pendamaian bagi perempuan itu. Demikianlah perempuan itu ditahirkan
dari leleran darahnya. Itulah hukum tentang perempuan yang melahirkan anak
laki-laki atau anak perempuan. (8) Tetapi jikalau ia tidak mampu untuk
menyediakan seekor kambing atau domba, maka haruslah ia mengambil dua ekor
burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati, yang seekor sebagai korban
bakaran dan yang seekor lagi sebagai korban penghapus dosa, dan imam itu
harus mengadakan pendamaian bagi perempuan itu, maka tahirlah ia.’”.
Lenski:
“He laid aside the use of his divine attributes, their constant use and
not their possession, ... In his ministry he made some use of his omnipotence,
and his omniscience, namely in the miracles, which shows that he retained the
possession. ... He emptied himself ... of the use and not, as the Kenoticists
claim, of the possession. Christ was and remained God, blessed forever (Rom.
9:5) during the entire state of humiliation” [= Ia
mengesampingkan penggunaan dari sifat-sifat ilahiNya, penggunaan terus menerus
dari sifat-sifat itu dan bukan kepemilikan dari sifat-sifat itu, ... Dalam
pelayananNya Ia membuat beberapa penggunaan dari kemahakuasaanNya, dan
kemahatahuanNya, yaitu dalam mujijat-mujijat, yang menunjukkan bahwa Ia tetap
mempertahankan kepemilikan dari sifat-sifat itu. ... Ia mengosongkan diriNya
sendiri ... dari penggunaan sifat-sifat itu dan bukan, seperti yang diclaim oleh penganut teori Kenosis, dari kepemilikan sifat-sifat itu.
Dulu Kristus adalah Allah, dan tetap adalah Allah, dipuji sampai selama-lamanya
(Ro 9:5) dalam sepanjang keadaan perendahanNya]
- hal 1138.
Ro 9:5
- “Mereka adalah keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias dalam
keadaanNya sebagai manusia, yang ada di atas segala sesuatu. Ia adalah Allah
yang harus dipuji sampai selama-lamanya. Amin!”.
Jadi,
jangan pernah lupakan bahwa sekalipun Ia menjadi miskin, Ia tetap kaya!
Sekalipun pada Natal Ia menjadi manusia yang rendah dan hina, tetapi Ia tetap
adalah Allah sendiri. Yesus Kristus setelah inkarnasi, adalah sungguh-sungguh
Allah dan sungguh-sungguh manusia!
4)
Puncak kemiskinanNya.
Adam
Clarke:
“for your sakes he became poor - he emptied himself, and made himself of
no reputation, and took upon himself the form of a servant, and humbled himself
unto death, even the death of the cross” (= demi engkau Ia menjadi miskin - Ia
mengosongkan diriNya sendiri, dan membuat diriNya sendiri tidak dianggap, dan
mengambil bagi diriNya sendiri bentuk dari seorang hamba, dan merendahkan
diriNya sampai mati, bahkan mati di kayu salib).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“His
ultimate experience of poverty was when He was made sin for us on the cross.
Hell is eternal poverty, and on the cross Jesus Christ became the poorest of the
poor” (= Pengalaman puncakNya tentang kemiskinan
adalah pada waktu ia dibuat menjadi dosa bagi kita di kayu salib. Neraka adalah
kemiskinan kekal, dan pada kayu salib Yesus Kristus menjadi yang termiskin dari
orang miskin).
Fil 2:5-8
- “(5) Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan
yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, (6) yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, (7) melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (8) Dan dalam keadaan
sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan
sampai mati di kayu salib”.
Ini memang merupakan tujuan inkarnasi / kelahiranNya sebagai manusia. Ia
menjadi manusia dengan tujuan untuk mati di kayu salib menebus dosa-dosa kita.
Natal ada supaya Jum’at Agung bisa ada.
III) Tujuan
Kristus.
Ay
9: “Karena
kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh
karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya
oleh karena kemiskinanNya”.
1)
Kontext menunjukkan bahwa tujuan Yesus adalah supaya kita mau memberi
kepada orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
2Kor
8:1-9 - “(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu
tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. (2)
Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap
dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. (3) Aku
bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan
melampaui kemampuan mereka. (4) Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan
mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil
bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. (5) Mereka memberikan lebih
banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama
kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. (6) Sebab
itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan
pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. (7) Maka sekarang, sama
seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam
pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami -
demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. (8) Aku
mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha
orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. (9)
Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia,
yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi
kaya oleh karena kemiskinanNya”.
Ia
dijadikan teladan. Tetapi jangan jadikan Yesus sebagai teladan kalau saudara
belum menjadikan Dia sebagai Juruselamat dalam hidup saudara! Point ini akan
saya bahas secara lebih terperinci dalam khotbah minggu depan.
2)
‘oleh karena kamu ... supaya
kamu menjadi kaya’ (ay 9).
Ay
9: “Karena
kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh
karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya
oleh karena kemiskinanNya”.
a)
Ini tidak mungkin mengajarkan theologia kemakmuran kepada kita.
Alasannya:
1.
Kaya yang dimaksudkan adalah kaya dalam arti rohani.
Perhatikan
bahwa jemaat Korintus dikatakan kaya, juga dalam arti rohani.
Ay
6-7: “(6) Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu
dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya. (7) Maka
sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam
perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam
kasihmu terhadap kami - demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam
pelayanan kasih ini”.
2.
Dalam arti jasmani, jemaat-jemaat / gereja-gereja Makedonia yang Paulus
bicarakan justru sangat miskin. Tetapi mereka kaya dalam arti rohani, yaitu
dalam kemurahan.
Ay 1-2:
“(1) Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih
karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. (2) Selagi dicobai
dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun
mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan”.
b)
Arti dari kata ‘miskin menjadi kaya’ bagi kita.
1.
Ini menunjukkan bahwa dulu kita adalah miskin (dalam arti rohani).
The
Bible Exposition Commentary: New Testament:
“Why
did He do it? That we might become rich! This suggests that we were poor before
we met Jesus Christ and we were totally bankrupt. But now that we have trusted
Him, we share in all of His riches! We are now the children of God, ‘heirs of
God, and joint-heirs with Jesus Christ’ (Rom 8:17)” [= Mengapa
Ia melakukan hal itu? Supaya kita bisa menjadi kaya! Ini menunjukkan secara
tidak langsung bahwa dulu kita adalah miskin sebelum kita bertemu Yesus Kristus
dan kita bangkrut secara total. Tetapi sekarang setelah kita mempercayai Dia,
kita mengambil bagian dalam semua kekayaanNya! Kita sekarang adalah anak-anak
Allah, ‘pewaris-pewaris dari Allah, dan pewaris-pewaris bersama-sama Yesus
Kristus’ (Ro 8:17)].
Ro
8:17 - “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris,
maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan
menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama
dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”.
Bdk.
Ef 2:1-3 - “(1) Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan
dosa-dosamu. (2) Kamu hidup di dalamnya, karena kamu mengikuti jalan dunia ini,
karena kamu mentaati penguasa kerajaan angkasa, yaitu roh yang sekarang sedang
bekerja di antara orang-orang durhaka. (3) Sebenarnya dahulu kami semua juga
terhitung di antara mereka, ketika kami hidup di dalam hawa nafsu daging dan
menuruti kehendak daging dan pikiran kami yang jahat. Pada dasarnya kami adalah
orang-orang yang harus dimurkai, sama seperti mereka yang lain”.
Seandainya
Yesus tak pernah menjadi miskin karena kita, kita tidak akan dibuat menjadi
kaya, dan akan selama-lamanya tetap miskin. Dengan kata lain, seandainya Natal
(dan Jum’at Agung) tidak ada, kita akan miskin (rohani) selama-lamanya.
Charles Hodge: “Unless
he had submitted to all the humiliation of his incarnation and death, we should
forever have remained poor, destitute, of all holiness, happiness and glory”
(= Kecuali Ia telah tunduk / menyerah pada semua perendahan
dari inkarnasi dan kematianNya, kita harus selama-lamanya tetap miskin, melarat,
dalam semua kekudusan, kebahagiaan dan kemuliaan).
Jangan
sepelekan keadaan miskin ini dengan berkata: “Tak
jadi soal aku miskin secara rohani asal aku kaya secara jasmani”. Kalau
saudara berkata seperti itu, itu sama dengan mengatakan “Tak apa-apa menjadi orang kaya yang bodoh, atau menjadi orang kaya
dalam cerita Lazarus dan orang kaya”.
Luk 12:16-21
- “(16) Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kataNya:
‘Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. (17) Ia bertanya dalam
hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana
aku dapat menyimpan hasil tanahku. (18) Lalu katanya: Inilah yang akan aku
perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih
besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. (19)
Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang,
tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan
bersenang-senanglah! (20) Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh,
pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah
kausediakan, untuk siapakah itu nanti? (21) Demikianlah jadinya dengan orang
yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di
hadapan Allah.’”.
Luk
16:19-26 - “(19) ‘Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan
kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. (20) Dan ada seorang
pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu
rumah orang kaya itu, (21) dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang
jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat
boroknya. (22) Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh
malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. (23) Orang kaya itu juga mati, lalu
dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas,
dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. (24) Lalu ia
berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia
mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat
kesakitan dalam nyala api ini. (25) Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah,
bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus
segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
(26) Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak
terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka
yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang”.
2.
Sekarang, kita (orang Kristen) kaya (secara rohani).
Tak
ada penafsir yang begitu gila sehingga menafsirkan bahwa orang Kristen harus
kaya secara jasmani! Semua menafsirkan kaya secara rohani.
Jamieson,
Fausset & Brown: “‘Might be rich.’ - in heavenly glory, and in all other
things that are really good for us” (= ‘Bisa menjadi kaya’. - dalam kemuliaan
surgawi, dan dalam semua hal-hal lain yang betul-betul baik untuk kita).
Adam
Clarke:
“for your sakes he became poor ... that ye, through his poverty -
through his humiliation and death, might be rich - might regain your
forfeited inheritance, and be enriched with every grace of his Holy Spirit, and
brought at last to his eternal glory” (= oleh karena kamu Ia menjadi miskin ... supaya
kamu, melalui kemiskinanNya - melalui perendahan dan kematianNya, bisa
menjadi kaya - bisa mendapatkan kembali warisanmu yang hilang, dan diperkaya
dengan setiap kasih karunia dari Roh Kudusnya, dan akhirnya dibawa pada
kemuliaan kekalNya).
Calvin (tentang Luk 2:7):
“When he
was thrown into a stable, and placed in a manger, and a lodging refused him
among men, it was that heaven might be opened to us, not as a temporary
lodging, but as our eternal country and inheritance, and that angels might
receive us into their abode” (= Ketika
Ia dilemparkan ke dalam sebuah kandang, dan diletakkan dalam sebuah palungan,
dan tempat penginapan menolak Dia di antara manusia, itu adalah supaya surga
bisa terbuka bagi kita, bukan sebagai penginapan sementara, tetapi sebagai
negeri dan warisan kekal kita, dan supaya malaikat-malaikat bisa menerima kita
ke dalam tempat tinggal mereka).
Charles Hodge: “Believers
are made rich in the possession of that glory which Christ laid aside, or
concealed. ... So that our Lord says, ‘The glory which thou gavest me, I have
given them,’ John 17:22. Hence believers are said to be glorified with Christ
and to reign with him. Romans 8:17. The price of this exaltation and everlasting
blessedness of his people was his own poverty. It is by his poverty that we are
made rich” (= Orang-orang
percaya dibuat menjadi kaya dalam kepemilikan dari kemuliaan itu, yang
Kristus kesampingkan, atau sembunyikan. ... Sehingga Tuhan kita berkata,
‘Kemuliaan yang Engkau berikan kepadaKu, telah Aku berikan kepada mereka’,
Yoh 17:22. Karena itu orang-orang percaya dikatakan akan dimuliakan bersama
Kristus dan memerintah bersama Dia. Ro 8:17. Harga dari pemuliaan dan keadaan
diberkati yang kekal dari umatNya ini adalah kemiskinanNya. Karena
kemiskinanNyalah kita dibuat menjadi kaya).
Yoh
17:22 - “Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau
berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah
satu”.
Ro
8:17 - “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris,
maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan
menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama
dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”.
Matthew
Henry:
“for your sakes he became poor; not only did become man for us, but he
became poor also. He was born in poor circumstances, lived a poor life, and died
in poverty; and this was for our sakes, that we thereby might be made rich, rich
in the love and favour of God, rich in the blessings and promises of the new
covenant, rich in the hopes of eternal life, being heirs of the kingdom”
(= demi
kita Ia menjadi miskin; bukan hanya Ia menjadi manusia untuk kita, tetapi Ia
menjadi miskin juga. Ia dilahirkan dalam keadaan miskin, hidup dalam kehidupan
yang miskin, dan mati dalam kemiskinan; dan ini adalah demi kita, supaya olehnya
kita bisa dibuat menjadi kaya, kaya dalam kasih dan kebaikan Allah, kaya
dalam berkat-berkat dan janji-janji dari perjanjian yang baru, kaya dalam
pengharapan tentang hidup kekal, karena kita adalah pewaris-pewaris dari
kerajaan).
c)
Siapa yang menjadi kaya oleh kemiskinan Yesus?
Ay
9: “Karena
kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia,
yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi
kaya oleh karena kemiskinanNya”.
Ayat
ini menunjukkan bahwa yang dibuat menjadi kaya (secara rohani) oleh kemiskinan
Yesus itu hanyalah orang-orang yang mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus
Kristus, dan ini jelas menunjuk kepada orang-orang Kristen saja!
Charles Hodge: “Ye
know, says Paul, as all Christians must know, the
grace, i.e. the unmerited, spontaneous love of our Lord Jesus Christ” (= Engkau
tahu, kata Paulus, seperti semua orang Kristen harus tahu, kasih karunia,
yaitu kasih yang tak layak didapatkan dan tak diminta dari Tuhan kita Yesus
Kristus).
Semua
orang yang tidak percaya / orang non kristen, apakah ia kafir total atau orang
kristen KTP, adalah orang miskin (secara rohani), dan hanya kalau seseorang
datang kepada Kristus, dengan percaya dan menerimaNya sebagai Tuhan dan
Juruselamat, maka Ia dijadikan kaya (secara rohani)!
Wah 3:17-18
- “(17) Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku
dan aku tidak kekurangan apa-apa (secara
jasmani), dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang,
miskin, buta dan telanjang (secara rohani), (18) maka Aku menasihatkan
engkau, supaya engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dalam api,
agar engkau menjadi kaya (secara rohani), dan juga pakaian putih, supaya
engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan
lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat”.
Bdk. Wah 3:20.
Catatan: kata-kata yang ada dalam kurung saya
tambahkan sebagai penjelasan.
1Kor
1:5 - “Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal:
dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan”.
Kesimpulan
/ penutup.
Pada Natal yang pertama, Yesus yang kaya
menjadi manusia yang miskin, dan lalu bahkan mati di salib. Tujuannya supaya
kita yang miskin secara rohani menjadi kaya secara rohani.
Kalau di sini ada orang-orang yang belum
percaya, saya bertanya: apakah saudara menyadari bahwa saudara miskin secara
rohani, dan kalau itu dibiarkan, itu akan membawa saudara ke neraka
selama-lamanya? Percayalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saudara,
dan saudara akan dijadikan kaya secara rohani. Saudara dipastikan tidak akan
pergi ike neraka tetapi akan pergi ke surga pada saat saudara mati. Maukah
saudara percaya kepada Dia, yang sudah berNatal bagi saudara?
Bagi saudara yang sudah menjadi orang kristen
yang sejati, selalulah sadar bahwa dulu saudara miskin secara rohani, dan
seandainya Yesus tidak menjadi miskin karena saudara, saudara akan
selama-lamanya miskin rohani dalam neraka! Bukan karena kebaikan saudara bahwa
saudara diselamatkan, tetapi hanya karena kasih karunia Tuhan kita Yesus
Kristus. Karena itu, selalulah mengasihi Dia, dan hidup bagi Dia.
Kiranya Tuhan memberkati saudara sekalian.
-Amin-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali