Pemahaman Alkitab
(Rungkut Megah Raya, blok D no 16)
Rabu, tanggal 15 Februari 2012, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
Mazmur 2:1-12(5)
Maz 2:1-12 - “(1) Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? (2) Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya: (3) ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’ (4) Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka. (5) Maka berkatalah Ia kepada mereka dalam murkaNya dan mengejutkan mereka dalam kehangatan amarahNya: (6) ‘Akulah yang telah melantik rajaKu di Sion, gunungKu yang kudus!’ (7) Aku mau menceritakan tentang ketetapan TUHAN; Ia berkata kepadaku: ‘AnakKu engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini. (8) Mintalah kepadaKu, maka bangsa-bangsa akan Kuberikan kepadamu menjadi milik pusakamu, dan ujung bumi menjadi kepunyaanmu. (9) Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.’ (10) Oleh sebab itu, hai raja-raja, bertindaklah bijaksana, terimalah pengajaran, hai para hakim dunia! (11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya!”.
Ay 11-12: “(11) Beribadahlah kepada TUHAN dengan takut dan ciumlah kakiNya dengan gemetar, (12) supaya Ia jangan murka dan kamu binasa di jalan, sebab mudah sekali murkaNya menyala. Berbahagialah semua orang yang berlindung padaNya!”.
1) Terjemahan.
RSV: ‘Serve the LORD with fear, with trembling kiss his feet, lest he be angry, and you perish in the way; for his wrath is quickly kindled. Blessed are all who take refuge in him’ (= Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut, dengan gemetar ciumlah kakiNya, supaya jangan Ia marah, dan engkau binasa di jalan; karena murkaNya dengan cepat dinyalakan / dibangkitkan. Diberkatilah semua orang yang berlindung kepadaNya).
KJV: ‘Serve the LORD with fear, and rejoice with trembling. Kiss the Son, lest he be angry, and ye perish from the way, when his wrath is kindled but a little. Blessed are all they that put their trust in him’ (= Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut, dan bersukacitalah dengan gemetar. Ciumlah Anak, supaya jangan Ia marah, dan engkau binasa dari jalan, pada waktu murkaNya dinyalakan / dibangkitkan sedikit saja. Diberkatilah semua mereka yang percaya kepadaNya).
NIV: ‘Serve the LORD with fear and rejoice with trembling. Kiss the Son, lest he be angry and you be destroyed in your way, for his wrath can flare up in a moment. Blessed are all who take refuge in him’ (= Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan bersukacitalah dengan gemetar. Ciumlah Anak, supaya jangan Ia marah dan engkau dibinasakan di jalanmu, karena murkaNya bisa menyala dalam sekejap. Diberkatilah semua orang yang berlindung kepadaNya).
NASB: ‘Worship the LORD with reverence And rejoice with trembling. Do homage to the Son, that He not become angry, and you perish in the way, For His wrath may soon be kindled. How blessed are all who take refuge in Him!’ (= Sembahlah / beribadahlah kepada Tuhan dengan hormat / takut Dan bersukacitalah dengan gemetar. Lakukanlah penghormatan kepada Anak, supaya Ia tidak menjadi marah, dan engkau binasa di jalan, Karena murkaNya bisa segera / cepat dinyalakan / dibangkitkan. Betapa diberkatinya semua orang yang berlindung kepadaNya!).
Catatan:
a) Kata ‘rejoice’ / ‘bersukacitalah’ seharusnya ada, tetapi entah mengapa, kata itu dihilangkan dalam terjemahan Kitab Suci Indonesia dan RSV.
b) Lalu kata-kata ‘kiss his feet’ (= ciumlah kakiNya) dalam Kitab Suci Indonesia dan RSV, entah muncul dari mana, karena seharusnya adalah ‘kiss the Son’ (= ciumlah Anak).
c) Dalam Kitab Suci Indonesia dan RSV, kata-kata ‘with trembling’ (= dengan gemetar) dihubungkan dengan ‘kiss his feet’ (= ciumlah kakiNya), padahal seharusnya kata-kata itu dihubungkan dengan ‘rejoice’ (= bersukacitalah).
d) Karena terjemahan Kitab Suci Indonesia di sini kacau, maka dalam pembahasan potongan-potongan dari ay 11-12 di bawah ini saya akan menggunakan terjemahan NIV.
2) “Serve the LORD with fear and rejoice with trembling” (= Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut dan bersukacitalah dengan gemetar) - NIV.
Keil & Delitzsch: “Their rejoicing, in order that it may not run to the excess of security and haughtiness, is to be blended with trembling ..., viz., with the trembling of reverence and self-control, for God is a consuming fire, Heb 12:28” (= Sukacita mereka, supaya itu tidak menjadi rasa aman yang berlebihan dan kesombongan, harus dicampur dengan sikap gemetar ..., yaitu dengan sikap gemetar dari rasa hormat / takut dan penguasaan diri, karena Allah adalah api yang menghanguskan, Ibr 12:28).
Ibr 12:28-29 - “(28) Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepadaNya, dengan hormat dan takut. (29) Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan”.
Ul 4:24 - “Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu”.
Spurgeon: “‘Serve the Lord with fear;’ let reverence and humility be mingled with your service. He is a great God, and ye are but puny creatures; bend ye, therefore, in lowly worship, and let a filial fear mingle with all your obedience to the great Father of the Ages. ‘Rejoice with trembling,’ - There must ever be a holy fear mixed with the Christian’s joy. This is a sacred compound, yielding a sweet smell, and we must see to it that we burn no other upon the altar. Fear, without joy, is torment; and joy, without holy fear, would be presumption” (= ‘Beribadahlah kepada Tuhan dengan takut;’ hendaklah rasa takut / hormat dan kerendahan hati dicampurkan dengan ibadahmu. Ia adalah Allah yang besar / agung, dan engkau hanyalah makhluk-makhluk ciptaan lemah / kecil; karena itu membungkuklah dalam ibadah yang rendah hati, dan hendaklah rasa takut anak bercampur dengan semua ketaatanmu kepada Bapa yang besar / agung dari semua jaman. ‘Bersukacitalah dengan gemetar’. - Di sana harus selalu ada suatu rasa takut yang kudus dicampur dengan sukacita Kristen. Ini adalah suatu campuran keramat / kudus, yang memberikan bau yang harum, dan kita harus menjaga supaya kita tidak membakar yang lain di mezbah. Rasa takut, tanpa sukacita, merupakan siksaan; dan sukacita, tanpa rasa takut yang kudus, merupakan kelancangan / kecongkakan).
Spurgeon mengutip kata-kata William Bates: “This fear of God qualifies our joy. If you abstract fear from joy, joy will become light and wanton; and if you abstract joy from fear, fear then will become slavish” (= Rasa takut kepada Allah ini memodifikasi sukacita kita. Jika engkau memisahkan rasa takut dari sukacita, sukacita akan menjadi enteng dan ceroboh / sembarangan; dan jika engkau memisahkan sukacita dari rasa takut, maka rasa takut akan menjadi bersifat perbudakan).
3) “Kiss the Son, lest he be angry and you be destroyed in your way, for his wrath can flare up in a moment” (= Ciumlah Anak, supaya jangan Ia marah dan engkau dibinasakan di jalanmu, karena murkaNya bisa menyala dalam sekejap) - NIV.
a) “Anak”.
Adam Clarke: “It is remarkable that the word ‘son,’ bar, a Chaldee word, is not found in any of the versions except the Syriac, nor indeed anything equivalent to it. The Chaldee, Vulgate, Septuagint, Arabic, and AEthiopic, have a term which signifies doctrine or discipline: ‘Embrace discipline, lest the Lord be angry with you,’ etc. This is a remarkable case, and especially that in so pure a piece of Hebrew as this poem is, a Chaldee word should have been found; bar, instead of ben, which adds nothing to the strength of the expression or the elegance of the poetry. I know it is supposed that bar is also pure Hebrew as well as Chaldee, but as it is taken in the former language in the sense of purifying, the versions probably understood it so here. Embrace that which is pure; namely, the doctrine of God. Since all judgment is committed to the Son, the Jews and others are exhorted to submit to him to be reconciled to him, that they might be received into his family, and be acknowledged as his adopted children” (= Merupakan sesuatu yang luar biasa / patut diperhatikan bahwa kata ‘Anak’, BAR, suatu kata bahasa Kasdim / Babilonia, tidak ditemukan dalam versi-versi manapun kecuali Syria, juga tidak apapun yang sama dengannya. Kitab Suci Kasdim, Vulgate, Septuaginta, Arab, dan Ethiopia, mempunyai suatu istilah yang berarti doktrin atau disiplin: ‘Peluklah / terimalah disiplin, supaya jangan Tuhan marah kepadamu’, dst. Ini merupakan kasus yang luar biasa / patut diperhatikan, dan khususnya bahwa dalam suatu potongan Ibrani yang begitu murni seperti syair ini, suatu kata bahasa Kasdim ditemukan; BAR, dan bukannya BEN, yang tidak menambahkan apapun pada kekuatan dari ungkapan atau pada keanggunan dari puisi. Saya tahu bahwa dianggap bahwa BAR juga merupakan kata Ibrani murni maupun Kasdim, tetapi karena kata itu digunakan dalam bahasa yang terdahulu dalam arti ‘memurnikan’, versi-versi mungkin memaksudkan arti itu di sini. ‘Peluklah / terimalah apa yang murni;’ yaitu, doktrin / ajaran dari Allah. Karena semua penghakiman dipercayakan kepada Anak, orang-orang Yahudi dan orang-orang lain didesak / diingatkan untuk tunduk kepadaNya untuk diperdamaikan dengan Dia, supaya mereka bisa diterima ke dalam keluargaNya, dan diakui sebagai anak-anak adopsiNya).
Catatan:
· Penterjemah dari Calvin’s Commentary dalam ayat ini memberikan catatan kaki dalam buku tafsiran Calvin yang mengatakan bahwa kata BAR sebagai suatu kata bahasa Kasdim, artinya adalah ‘son’ (= anak), tetapi sebagai suatu kata Ibrani, artinya adalah ‘pure’ (= murni).
· Saya sendiri tidak terlalu bisa menerima penafsiran Adam Clarke.
Pulpit Commentary: “It is certainly remarkable that we have here a different word for ‘Son’ from that employed in ver. 7, and ordinarily in the Hebrew Bible. Still, there is other evidence that the word here used, bar, existed in the Hebrew no less than in the Aramaic, viz. Prov 31:2, where it is repeated thrice. It was probably an archaic and poetic word, like our ‘sire’ for ‘father,’ rarely used, but, when used, intended to mark some special dignity. Hengstenberg suggests that the writer’s motive in prefering bar to ben in this place was to avoid the cacophony which would have arisen from the juxtaposition of ben and pen (/p); and this is quite possible, but as a secondary rather than as the main reason” [= Pastilah merupakan sesuatu yang luar biasa / patut diperhatikan bahwa di sini kita mempunyai suatu kata yang berbeda untuk ‘Anak’ dari yang digunakan dalam ay 7, dan biasanya dalam Alkitab bahasa Ibrani. Tetap, di sana ada bukti lain bahwa kata yang digunakan di sini, ada dalam bahasa Ibrani tak kurang dari pada dalam bahasa Aram, yaitu, Amsal 31:2, dimana kata itu diulang tiga kali. Itu mungkin merupakan suatu kata kuno dan bersifat puisi, seperti kata ‘sire’ yang kita gunakan untuk ‘father / bapa’, jarang digunakan, tetapi pada saat digunakan, dimaksudkan untuk menunjukkan martabat yang khusus. Hengstenberg mengusulkan bahwa motivasi dari si penulis untuk lebih memilih BAR dari pada BEN di tempat ini adalah untuk menghindari bunyi yang sumbang yang akan muncul dari penjajaran dari BEN dan PEN (/p); dan ini cukup memungkinkan, tetapi sebagai suatu alasan sekunder dari pada sebagai alasan utama].
Catatan:
· Kata PEN artinya ‘lest’ (= supaya jangan), dalam dalam bahasa Ibraninya kata ini berada langsung setelah kata BAR itu.
· Amsal 31:2 - “Apa yang akan kukatakan, anakku, anak kandungku, anak nazarku?”.
Ketiga kata ‘anak’ di sini memang menggunakan kata BAR.
b) “Ciumlah”.
Adam Clarke: “Kissing was the token of subjection and friendship” (= ‘Mencium’ merupakan tanda dari ketundukan dan persahabatan).
Keil & Delitzsch: “To kiss is equivalent to to do homage. Samuel kisses Saul (1 Sam 10:1), saying that thereby he does homage to him” [= Mencium sama dengan melakukan penghormatan. Samuel mencium Saul (1Sam 10:1), dengan itu menyatakan bahwa ia melakukan penghormatan kepadanya].
Spurgeon kutip kata-kata John Richardson: “‘Kiss,’ a sign of love among equals: Genesis 33:4; 1 Samuel 20:41; Romans 16:16; 1 Corinthians 16:20. Of subjection in inferiors: 1 Samuel 10:1. Of religious adoration in worshippers: 1 Kings 19:18; Job 31:27” [= ‘Mencium’, suatu tanda dari cinta di antara orang-orang yang sederajat: Kej 33:4; 1Sam 20:41; Ro 16:16; 1Kor 16:20. Tanda dari ketundukan dalam diri orang-orang yang lebih rendah: 1Sam 10:1. Tanda dari pemujaan agamawi dalam diri para penyembah: 1Raja 19:18; Ayub 31:27].
Kej 33:4 - “Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka”.
1Sam 20:41 - “Maka pulanglah budak itu, lalu tampillah Daud dari sebelah bukit batu; ia sujud dengan mukanya ke tanah dan menyembah tiga kali. Mereka bercium-ciuman dan bertangis-tangisan. Akhirnya Daud dapat menahan diri”.
Ro 16:16 - “Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus”.
1Kor 16:20 - “Salam kepadamu dari saudara-saudara semuanya. Sampaikanlah salam seorang kepada yang lain dengan cium kudus”.
1Sam 10:1 - “Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: ‘Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umatNya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milikNya sendiri”.
Ayub 31:26-28 - “(26) jikalau aku pernah memandang matahari, ketika ia bersinar, dan bulan, yang beredar dengan indahnya, (27) sehingga diam-diam hatiku terpikat, dan menyampaikan kecupan tangan kepadanya, (28) maka hal itu juga menjadi kejahatan yang patut dihukum oleh hakim, karena Allah yang di atas telah kuingkari”.
1Raja 19:18 - “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.’”.
Pulpit Commentary: “The kiss of friendly greeting, still the ordinary custom in many countries, is referred to in innumerable passages of Scripture. Else the traitor Judas had not dared so to crown his treachery. Jesus noted the neglect of the kiss of hospitality (Luke 7:45); did not disdain the kisses showered on his feet by the weeping penitent. But the text speaks, not of any of these, but of the kiss of homage or worship” [= Ciuman dari salam persahabatan, tetap merupakan kebiasaan umum di banyak negara, ditunjukkan dalam banyak text dari Kitab Suci. Kalau tidak, si pengkhianat Yudas tidak akan berani melakukannya untuk memakhkotai pengkhianatannya. Yesus memperhatikan pengabaian dari ciuman dari keramahan dalam menerima tamu (Luk 7:45); tidak meremehkan ciuman-ciuman yang dicurahkan pada kakiNya oleh orang menyesal yang menangis. Tetapi text ini berbicara, bukan tentang yang manapun dari hal-hal ini, tetapi tentang ciuman penghormatan atau penyembahan].
Jamieson, Fausset & Brown: “It was used also in religious adoration (Job 31:27; 1 Kings 19:18; Hos 13:2)” [= Itu (ciuman) juga digunakan dalam pemujaan agamawi (Ayub 31:27; 1Raja 19:18; Hos 13:2)].
Hos 13:2 - “Sekarangpun mereka terus berdosa, dan membuat baginya patung tuangan dari perak dan berhala-berhala sesuai dengan kecakapan mereka; semuanya itu buatan tukang-tukang. Persembahkanlah korban kepadanya!, kata mereka. Baiklah manusia mencium anak-anak lembu!”.
Karena yang diperintahkan untuk dicium adalah Anak, maka jelas ini juga merupakan perintah untuk menyembah Anak.
The Biblical Illustrator (Old Testament): “The commandment is that we should give to Christ Divine worship” (= Perintahnya adalah bahwa kita harus memberikan kepada Kristus penyembahan Ilahi).
Adalah lucu bahwa Saksi Yehuwa melarang penyembahan maupun doa kepada Yesus. Dalam Ibr 1:6 bahkan semua malaikat diperintahkan untuk menyembah Dia.
Ibr 1:6 - “Dan ketika Ia membawa pula AnakNya yang sulung ke dunia, Ia berkata: ‘Semua malaikat Allah harus menyembah Dia.’”.
Ini jelas merupakan bukti bahwa Yesus adalah Allah sendiri!
Calvin: “David expresses yet more distinctly what kind of fear and service God requires. Since it is the will of God to reign by the hand of his Son, and since he has engraved on his person the marks and insignia of his own glory, the proper proof of our obedience and piety towards him is reverently to embrace his Son, whom he has appointed king over us, according to the declaration, ‘He that honoureth not the Son, honoureth not the Father who hath sent him,’ (John 5:23). The term ‘kiss’ refers to the solemn token or sign of honor which subjects were wont to yield to their sovereigns. The sum is, that God is defrauded of his honor if he is not served in Christ” [= Tetapi Daud menyatakan dengan lebih jelas jenis rasa takut dan pelayanan / penyembahan apa yang dituntut oleh Allah. Karena merupakan kehendak Allah untuk memerintah oleh tangan AnakNya, dan karena Ia telah mengukir pada pribadiNya tanda-tanda dan lencana dari kemuliaanNya sendiri, bukti yang tepat / benar dari ketaatan dan kesalehan kita terhadap Dia adalah memeluk AnakNya dengan rasa hormat / takut, yang telah Ia tetapkan sebagai Raja atas kita, sesuai dengan pernyataan, ‘Ia yang tidak menghormati Anak, tidak menghormati Bapa yang telah mengutus Dia’, (Yoh 5:23). Istilah ‘cium’ menunjuk pada tanda yang khidmat dari rasa hormat yang biasanya diberikan oleh orang-orang yang ada di bawah otoritas kepada raja-raja mereka. Intinya adalah, bahwa Allah ditahan hak kehormatanNya jika Ia tidak disembah / dilayani dalam Kristus].
c) “lest he be angry and you be destroyed in your way, for his wrath can flare up in a moment” (= supaya jangan Ia marah dan engkau dibinasakan di jalanmu, karena murkaNya bisa menyala dalam sekejap) - NIV.
1. “supaya jangan Ia marah”.
Pulpit Commentary: “THE WARNING. ‘Lest he be angry.’ The compassion, gentleness, tenderness of Jesus, are sometimes dwelt on to the exclusion of his majesty and righteousness (but see Matt 24:44,50,51; 25:31, etc.; Luke 19:27). There is no more tremendous phrase in Scripture than ‘the wrath of the Lamb’ (Rev 6:16)” [= Peringatannya. ‘Supaya jangan Ia marah’. Belas kasihan, kelemah-lembutan, kelembutan dari Yesus, kadang-kadang dipikirkan dengan membuang keagungan dan kebenaranNya (tetapi lihat Mat 24:44,50,51; 25:31, dst.; Luk 19:27). Tidak ada ungkapan dalam Kitab Suci yang lebih hebat / dahsyat dari pada ‘murka Anak Domba’ (Wah 6:16)].
Mat 24:44,50,51 - “(44) Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.’ ... (50) maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, (51) dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.’”.
Mat 25:41 - “Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiriNya: Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya”.
Luk 19:27 - “Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.’”.
Wah 6:16 - “Dan mereka berkata kepada gunung-gunung dan kepada batu-batu karang itu: ‘Runtuhlah menimpa kami dan sembunyikanlah kami terhadap Dia, yang duduk di atas takhta dan terhadap murka Anak Domba itu.’”.
Saya kira bisa ditambahkan juga Yoh 2:13-17 - “(13) Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. (14) Dalam Bait Suci didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. (15) Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkanNya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkanNya. (16) Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan.’ (17) Maka teringatlah murid-muridNya, bahwa ada tertulis: ‘Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku.’”.
Secara sama, kebanyakan orang Kristen mempunyai pemikiran yang tidak seimbang tentang kasih Kristen dengan keadilan / kebenaran Kristen. Mereka berpikir seakan-akan orang Kristen harus selalu mengasihi, mengalah, bersikap lembut dan sebagainya. Kalau saudara berpikir seperti itu, sebagai penyeimbang ayat-ayat seperti Mat 22:39 Mat 5:38-48 dsb, maka bacalah ayat-ayat di bawah ini.
Maz 139:21-22 - “(21) Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau? (22) Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku”.
2Taw 19:1-2 - “(1) Yosafat, raja Yehuda, pulang dengan selamat ke istananya di Yerusalem. (2) Ketika itu Yehu bin Hanani, pelihat itu, pergi menemuinya dan berkata kepada raja Yosafat: ‘Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau”.
2Taw 20:35-37 - “(35) Kemudian Yosafat, raja Yehuda, bersekutu dengan Ahazia, raja Israel, yang fasik perbuatannya. (36) Ia bersekutu dengan Ahazia untuk membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Kapal-kapal itu dibuat mereka di Ezion-Geber. (37) Tetapi Eliezer bin Dodawa dari Maresa bernubuat terhadap Yosafat, katanya: ‘Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.’ Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis”.
1Kor 5:1-13 - “(1) Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. (2) Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? (3) Sebab aku, sekalipun secara badani tidak hadir, tetapi secara rohani hadir, aku - sama seperti aku hadir - telah menjatuhkan hukuman atas dia, yang telah melakukan hal yang semacam itu. (4) Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, (5) orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan. (6) Kemegahanmu tidak baik. Tidak tahukah kamu, bahwa sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan? (7) Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus. (8) Karena itu marilah kita berpesta, bukan dengan ragi yang lama, bukan pula dengan ragi keburukan dan kejahatan, tetapi dengan roti yang tidak beragi, yaitu kemurnian dan kebenaran. (9) Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. (10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. (12) Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? (13) Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu”.
1Kor 13:4-7 - “(4) Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. (5) Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. (6) Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. (7) Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”.
2Kor 6:14-18 - “(14) Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap? (15) Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? (16) Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah ini: ‘Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umatKu. (17) Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. (18) Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anakKu laki-laki dan anak-anakKu perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.’”.
2Kor 10:1-2 - “(1) Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah. (2) Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi”.
2Kor 11:4 - “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima”.
2Tes 3:7,10-12 - “(7) Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, ... (10) Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (11) Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. (12) Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri”.
Tit 3:10-11 - “(10) Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. (11) Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri”.
2Yoh 10-11 - “(10) Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (11) Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat”.
Wah 2:2 - “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta”.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali