Pemahaman Alkitab
(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 18 Maret 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
Martin Luther(13)
David Schaff: “Progress of his Version. Luther was gradually prepared for this work. He found for the first time a complete copy of the Latin Bible in the University Library at Erfurt, to his great delight, and made it his chief study. He derived from it his theology and spiritual nourishment; he lectured and preached on it as professor at Wittenberg day after day. He acquired the knowledge of the original languages for the purpose of its better understanding. He liked to call himself a ‘Doctor of the Sacred Scriptures.’” [= PERKEMBANGAN VERSI LUTHER. Luther dipersiapkan secara bertahap untuk karya ini. Ia pertama kali menemukan salinan lengkap Alkitab Latin di Perpustakaan Universitas Erfurt, yang membuatnya sangat gembira, dan menjadikannya sebagai bahan studi utamanya. Dari situ ia memperoleh teologi dan makanan rohani; ia memberikan kuliah dan berkhotbah tentang Alkitab sebagai seorang profesor di Wittenberg setiap hari. Luther mempelajari bahasa aslinya untuk memahami Alkitab dengan lebih baik. Ia senang menyebut dirinya sebagai Doctor of the Sacred Scriptures (Doktor Kitab Suci).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 346.
David Schaff: “He made his first attempt as translator with the seven Penitential Psalms, which he published in March, 1517, six months before the outbreak of the Reformation. Then followed several other sections of the Old and New Testaments, - the Ten Commandments, the Lord’s Prayer, the Prayer of King Manasseh, the Magnificat of the Virgin Mary, etc., with popular comments. He was urged by his friends, especially by Melanchthon, as well as by his own sense of duty, to translate the whole Bible.” [= Dia melakukan upaya pertamanya sebagai penerjemah dengan menerjemahkan tujuh Mazmur Penitensi, yang diterbitkannya pada bulan Maret 1517, enam bulan sebelum pecahnya Reformasi. Setelah itu, ia menerjemahkan beberapa bagian lain dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, seperti Sepuluh Perintah Allah, Doa Bapa Kami, Doa Raja Manasye, Magnificat Perawan Maria, dan lain-lain, disertai komentar populer. Ia didorong oleh teman-temannya, terutama oleh Melanchthon, serta oleh rasa tanggung jawabnya sendiri, untuk menerjemahkan seluruh Alkitab.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 346.
David Schaff: “He began with the New Testament in November or December, 1521, and completed it in the following March, before he left the Wartburg. He thoroughly revised it on his return to Wittenberg, with the effectual help of Melanchthon, who was a much better Greek scholar. Sturz at Erfurt was consulted about coins and measures; Spalatin furnished from the Electoral treasury names for the precious stones of the New Jerusalem (Rev. 21). The translation was then hurried through three presses, and appeared already Sept. 21, 1522, but without his name.” [= Dia memulai menerjemahkan Perjanjian Baru pada November atau Desember 1521 dan menyelesaikannya pada Maret berikutnya, sebelum meninggalkan Wartburg. Dia secara menyeluruh merevisi terjemahan itu setelah kembali ke Wittenberg, dengan bantuan signifikan dari Melanchthon, yang adalah sarjana bahasa Yunani yang jauh lebih baik. Sturz di Erfurt dimintai pendapat mengenai koin dan ukuran; Spalatin menyediakan nama-nama batu permata dari Perbendaharaan Elektoral untuk Yerusalem Baru (Wah 21). Terjemahan tersebut kemudian dikerjakan dengan cepat melalui tiga percetakan dan diterbitkan pada 21 September 1522, tetapi tanpa mencantumkan namanya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 346.
David Schaff: “In December a second edition was required, which contained many corrections and improvements. He at once proceeded to the more difficult task of translating the Old Testament, and published it in parts as they were ready. The Pentateuch appeared in 1523; the Psalter, 1524.” [= Pada bulan Desember, edisi kedua diperlukan, yang berisi banyak koreksi dan perbaikan. Dia segera melanjutkan ke tugas yang lebih sulit, yaitu menerjemahkan Perjanjian Lama, dan menerbitkannya secara bertahap sesuai bagian yang telah selesai. Kitab Pentateukh diterbitkan pada tahun 1523; Kitab Mazmur pada tahun 1524.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 347.
David Schaff: “In the progress of the work he founded a Collegium Biblieum, or Bible club, consisting of his colleagues Melanchthon, Bugenhagen (Pommer), Cruciger, Justus Jonas, and Aurogallus. They met once a week in his house, several hours before supper. Deacon Georg Roerer (Rorarius), the first clergyman ordained by Luther, and his proof-reader, was also present; occasionally foreign scholars were admitted; and Jewish rabbis were freely consulted. Each member of the company contributed to the work from his special knowledge and preparation. Melanchthon brought with him the Greek Bible, Cruciger the Hebrew and Chaldee, Bugenhagen the Vulgate, others the old commentators; Luther had always with him the Latin and the German versions besides the Hebrew. Sometimes they scarcely mastered three lines of the Book of Job in four days, and hunted two, three, and four weeks for a single word. No record exists of the discussions of this remarkable company, but Mathesius says that ‘wonderfully beautiful and instructive speeches were made.’” [= Dalam proses penerjemahan, Luther mendirikan sebuah Collegium Biblieum atau klub Alkitab, yang terdiri dari rekan-rekannya seperti Melanchthon, Bugenhagen (Pommer), Cruciger, Justus Jonas, dan Aurogallus. Mereka bertemu sekali seminggu di rumahnya, beberapa jam sebelum makan malam. Diaken Georg Roerer (Rorarius), pendeta pertama yang ditahbiskan oleh Luther dan juga pemeriksa naskahnya, turut hadir; kadang-kadang para sarjana asing juga diundang, dan rabbi Yahudi sering dimintai pendapat. Setiap anggota kelompok ini berkontribusi sesuai dengan keahlian dan persiapannya masing-masing. Melanchthon membawa Alkitab dalam bahasa Yunani, Cruciger membawa teks Ibrani dan Kaldea, Bugenhagen membawa Vulgata, sementara yang lain membawa komentar-komentar kuno. Luther sendiri selalu membawa versi Latin dan Jerman, selain teks Ibrani. Kadang-kadang mereka hanya mampu menyelesaikan tiga baris dari Kitab Ayub dalam empat hari, dan membutuhkan dua, tiga, bahkan empat minggu untuk mencari satu kata saja. Tidak ada catatan tertulis yang tersisa tentang diskusi dalam kelompok luar biasa ini, tetapi Mathesius menyatakan bahwa ‘ucapan-ucapan yang sangat indah dan penuh pengajaran dihasilkan.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 347.
David Schaff: “At last the whole Bible, including the Apocrypha as ‘books not equal to the Holy Scriptures, yet useful and good to read,’ was completed in 1534, and printed with numerous woodcuts. In the mean time the New Testament had appeared in sixteen or seventeen editions, and in over fifty reprints. Luther complained of the many errors in these irresponsible editions. He never ceased to amend his translation. Besides correcting errors, he improved the uncouth and confused orthography, fixed the inflections, purged the vocabulary of obscure and ignoble words, and made the whole more symmetrical and melodious. He prepared five original editions, or recensions, of his whole Bible, the last in 1545, a year before his death. This is the proper basis of all critical editions.” [= Akhirnya, seluruh Alkitab, termasuk Apokripha sebagai ‘kitab-kitab yang tidak setara dengan Kitab Suci, namun berguna dan baik untuk dibaca,’ selesai diterjemahkan pada tahun 1534 dan dicetak dengan banyak cetakan kayu. Sementara itu, Perjanjian Baru telah muncul dalam enam belas atau tujuh belas edisi, dan lebih dari lima puluh kali dicetak ulang. Luther mengeluhkan banyaknya kesalahan dalam edisi-edisi yang tidak bertanggung jawab ini. Dia tidak pernah berhenti memperbaiki terjemahannya. Selain mengoreksi kesalahan, dia memperbaiki ejaan yang kasar dan membingungkan, menetapkan infleksi, membersihkan kosa kata dari kata-kata yang tidak jelas dan tidak pantas, serta menjadikan keseluruhan teks lebih simetris dan melodis. Luther mempersiapkan lima edisi asli atau revisi dari seluruh Alkitabnya, dengan yang terakhir diterbitkan pada tahun 1545, satu tahun sebelum kematiannya. Edisi terakhir ini menjadi dasar utama bagi semua edisi kritis Alkitab Luther.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 347-348.
David Schaff: “The edition of 1546 was prepared by his friend Roerer, and contains a large number of alterations, which he traced to Luther himself. Some of them are real improvements, e.g., ‘Die Liebe hoeret nimmer auf,’ for, ‘Die Liebe wird nicht muede’ (1 Cor. 13:8). The charge that he made the changes in the interest of Philippism (Melanchthonianism), seems to be unfounded.” [= Edisi tahun 1546 disiapkan oleh temannya, Roerer, dan mengandung sejumlah besar perubahan yang diklaim berasal dari Luther sendiri. Beberapa perubahan tersebut merupakan perbaikan yang nyata, misalnya, ‘Kasih tidak berkesudahan’ menggantikan ‘Kasih tidak menjadi lelah’ (1Kor 13:8). Tuduhan bahwa perubahan-perubahan ini dibuat demi kepentingan Filipisme (Melanchthonianisme) tampaknya tidak berdasar.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 348.
1Kor 13:8 - “Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.”.
David Schaff: “Editions and Revisions. The printed Bible text of Luther had the same fate as the written text of the old Itala and Jerome’s Vulgate. It passed through innumerable improvements and mis-improvements. The orthography and inflections were modernized, obsolete words removed, the versicular division introduced (first in a Heidelberg reprint, 1568), the spurious clause of the three witnesses inserted in 1John 5:7 (first by a Frankfurt publisher, 1574), the third and fourth books of Ezra and the third book of the Maccabees added to the Apocrypha, and various other changes effected, necessary and unnecessary, good and bad. Elector August of Saxony tried to control the text in the interest of strict Lutheran orthodoxy, and ordered the preparation of a standard edition (1581). But it was disregarded outside of Saxony.” [= Edisi dan Revisi. Teks Alkitab cetakan Luther mengalami nasib yang sama seperti teks tertulis Itala kuno dan Vulgata karya Jerome. Teks tersebut melewati banyak perbaikan dan ‘perbaikan’ yang justru kurang tepat. Ejaan dan infleksi dimodernisasi, kata-kata yang usang dihapus, pembagian ayat diperkenalkan (pertama kali dalam cetakan ulang di Heidelberg, 1568), klausa palsu tentang tiga saksi ditambahkan di 1Yoh 5:7 (pertama kali oleh penerbit Frankfurt, 1574), kitab ketiga dan keempat Ezra serta kitab ketiga Makabe dimasukkan ke dalam Apokripha, dan berbagai perubahan lainnya dilakukan, baik yang diperlukan maupun tidak, serta yang baik maupun buruk. Elektor August dari Sachsen berusaha mengendalikan teks ini demi mempertahankan ortodoksi Lutheran yang ketat dan memerintahkan pembuatan edisi standar (1581). Namun, edisi tersebut diabaikan di luar wilayah Sachsen.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 349.
David Schaff: “Gradually no less than eleven or twelve recensions came into use, some based on the edition of 1545, others on that of 1546. The most careful recension was that of the Canstein Bible Institute, founded by a pious nobleman, Carl Hildebrand von Canstein (1667-1719) in connection with Francke’s Orphan House at Halle. It acquired the largest circulation and became the textus receptus of the German Bible.” [= Secara bertahap, tidak kurang dari sebelas atau dua belas revisi berbeda mulai digunakan, beberapa didasarkan pada edisi tahun 1545, dan lainnya pada edisi tahun 1546. Revisi yang paling cermat dilakukan oleh Canstein Bible Institute, yang didirikan oleh seorang bangsawan saleh, Carl Hildebrand von Canstein (1667–1719), bekerja sama dengan Panti Asuhan Francke di Halle. Edisi ini mencapai sirkulasi terbesar dan menjadi textus receptus (teks standar yang diterima) dari Alkitab Jerman.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 349.
David Schaff: “With the immense progress of biblical learning in the present century, the desire for a timely revision of Luther’s version was more and more felt. Revised versions with many improvements were prepared by Joh. Friedrich von Meyer, a Frankfurt patrician (1772-1849), and Dr. Rudolf Stier (1800-1862), but did not obtain public authority. At last a conservative official revision of the Luther Bible was inaugurated by the combined German church governments in 1863, with a view and fair prospect of superseding all former editions in public use.” [= Dengan kemajuan besar dalam studi Alkitab pada abad ini (abad 20), keinginan untuk melakukan revisi tepat waktu terhadap versi Luther semakin dirasakan. Versi revisi dengan banyak perbaikan telah disiapkan oleh Joh. Friedrich von Meyer, seorang bangsawan Frankfurt (1772–1849), dan Dr. Rudolf Stier (1800–1862), namun tidak mendapatkan otoritas publik. Akhirnya, sebuah revisi konservatif resmi terhadap Alkitab Luther dimulai oleh gabungan pemerintah gereja Jerman pada tahun 1863, dengan tujuan dan prospek yang adil untuk menggantikan semua edisi sebelumnya yang digunakan secara publik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 349.
David Schaff: “The Success. The German Bible of Luther was saluted with the greatest enthusiasm, and became the most powerful help to the Reformation. Duke George of Saxony, Duke William of Bavaria, and Archduke Ferdinand of Austria strictly prohibited the sale in their dominions, but could not stay the current. Hans Lufft at Wittenberg printed and sold in forty years (between 1534 and 1574) about a hundred thousand copies, - an enormous number for that age, - and these were read by millions. The number of copies from reprints is beyond estimate.” [= KESUKSESAN. Alkitab Jerman karya Luther disambut dengan antusiasme yang luar biasa dan menjadi bantuan paling kuat bagi Reformasi. Duke George dari Sachsen, Duke William dari Bavaria, dan Duke Agung Ferdinand dari Austria dengan tegas melarang penjualannya di wilayah mereka, tetapi tidak dapat menghentikan arus penyebarannya. Hans Lufft di Wittenberg mencetak dan menjual sekitar seratus ribu salinan dalam waktu empat puluh tahun (antara 1534 dan 1574) - jumlah yang sangat besar untuk masa itu - dan Alkitab ini dibaca oleh jutaan orang. Jumlah salinan dari cetakan ulang bahkan tidak dapat dihitung.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 350.
David Schaff: “Cochlaeus, the champion of Romanism, paid the translation the greatest compliment when he complained that ‘Luther’s New Testament was so much multiplied and spread by printers that even tailors and shoemakers, yea, even women and ignorant persons who had accepted this new Lutheran gospel, and could read a little German, studied it with the greatest avidity as the fountain of all truth. Some committed it to memory, and carried it about in their bosom. In a few months such people deemed themselves so learned that they were not ashamed to dispute about faith and the gospel not only with Catholic laymen, but even with priests and monks and doctors of divinity.’” [= Cochlaeus, seorang pembela Katolik Roma, memberikan pujian terbesar terhadap terjemahan Luther ketika dia mengeluh bahwa ‘Perjanjian Baru Luther begitu banyak dicetak dan tersebar oleh para penerbit sehingga bahkan tukang jahit dan pembuat sepatu, bahkan perempuan dan orang-orang sederhana yang menerima Injil Lutheran yang baru ini, dan yang hanya bisa membaca sedikit bahasa Jerman, mempelajarinya dengan semangat luar biasa sebagai sumber segala kebenaran. Beberapa bahkan menghafalnya dan membawanya di dada mereka. Dalam beberapa bulan, orang-orang seperti ini menganggap diri mereka begitu terpelajar sehingga mereka tidak malu untuk berdebat tentang iman dan Injil, bukan hanya dengan kaum awam Katolik, tetapi juga dengan para imam, biarawan, dan doktor teologi’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 350.
David Schaff: “The Romanists were forced in self-defense to issue rival translations. Such were made by Emser (1527), Dietenberger (1534), and Eck (1537), and accompanied with annotations. They are more correct in a number of passages, but slavishly conformed to the Vulgate, stiff and heavy, and they frequently copy the very language of Luther, so that he could say with truth, ‘The Papists steal my German of which they knew little before, and they do not thank me for it, but rather use it against me.’ These versions have long since gone out of use even in the Roman Church, while Luther’s still lives.” [= Orang-orang Roma Katolik, demi mempertahankan diri, terpaksa menerbitkan terjemahan tandingan. Terjemahan tersebut dibuat oleh Emser (1527), Dietenberger (1534), dan Eck (1537), dilengkapi dengan catatan penjelasan. Meskipun lebih akurat dalam beberapa bagian, terjemahan ini secara kaku mengikuti Vulgata, terasa kaku dan berat, serta sering kali menyalin langsung bahasa yang digunakan oleh Luther. Karena itu, Luther dengan benar mengatakan, ‘Orang-orang Katolik mencuri bahasa Jerman saya, yang sebelumnya mereka hampir tidak kenal, dan mereka tidak berterima kasih kepada saya untuk itu, tetapi malah menggunakannya melawan saya.’ Terjemahan-terjemahan tersebut sejak lama telah ditinggalkan bahkan dalam Gereja Roma Katolik, sementara terjemahan Luther tetap hidup hingga kini.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 350-351.
David Schaff: “§ 63. A Critical Estimate of Luther’s Version. Luther’s version of the Bible is a wonderful monument of genius, learning, and piety, and may be regarded in a secondary sense as inspired. It was, from beginning to end, a labor of love and enthusiasm. While publishers and printers made fortunes, Luther never received or asked a copper for this greatest work of his life.” [= § 63. Penilaian Kritis terhadap Versi Luther. Terjemahan Alkitab oleh Luther merupakan monumen luar biasa dari kecerdasan, pembelajaran, dan kesalehan, yang dapat dianggap dalam pengertian sekunder sebagai karya yang diilhami. Dari awal hingga akhir, karya ini adalah hasil kerja penuh cinta dan semangat. Sementara para penerbit dan pencetak memperoleh kekayaan dari karya besar ini, Luther tidak pernah menerima atau meminta sepeserpun sebagai imbalan atas pekerjaan terbesar dalam hidupnya ini.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 354.
David Schaff: “We must judge it from the times. A German translation from the original languages was a work of colossal magnitude if we consider the absence of good grammars, dictionaries, and concordances, the crude state of Greek and Hebrew scholarship, and of the German language, in the sixteenth century. Luther wrote to Amsdorf, Jan. 13, 1522, that he had undertaken a task beyond his power, that he now understood why no one had attempted it before in his own name, and that he would not venture on the Old Testament without the aid of his friends. He felt especially how difficult it was to make Job and the Hebrew prophets speak in barbarous German. He jocosely remarked that Job would have become more impatient at the blunders of his translators than at the long speeches of his ‘miserable comforters.’” [= Kita harus menilai karya ini berdasarkan zamannya. Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Jerman langsung dari bahasa aslinya adalah pekerjaan dengan skala kolosal / sangat besar, terutama jika kita mempertimbangkan ketiadaan tata bahasa, kamus, dan konkordansi yang memadai, serta keadaan yang masih primitif dalam kajian bahasa Yunani dan Ibrani, maupun bahasa Jerman pada abad keenam belas. Luther menulis kepada Amsdorf pada 13 Januari 1522 bahwa dia telah mengambil tugas yang melampaui kemampuannya, bahwa dia kini mengerti mengapa tidak ada seorangpun yang berani mencobanya sebelumnya atas namanya sendiri, dan bahwa dia tidak akan berani menerjemahkan Perjanjian Lama tanpa bantuan teman-temannya. Luther merasa terutama betapa sulitnya membuat Kitab Ayub dan para nabi Ibrani berbicara dalam bahasa Jerman yang pada waktu itu masih kasar. Dengan nada bercanda, dia berkomentar bahwa Ayub mungkin akan menjadi lebih tidak sabar menghadapi kesalahan para penerjemahnya dibandingkan dengan panjangnya pidato para ‘penghibur yang menyedihkan’ itu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 354-355.
Ayub 16:1-2 - “(1) Tetapi Ayub menjawab: (2) ‘Hal seperti itu telah acap kali kudengar. Penghibur sialan kamu semua!”.
KJV/RSV/NIV/ASV/NKJV/YLT: “miserable” [= menyedihkan / tidak menyenangkan].
David Schaff: “As regards the text, it was in an unsettled condition. The science of textual criticism was not yet born, and the materials for it were not yet collected from the manuscripts, ancient versions, and patristic quotations. Luther had to use the first printed editions. He had no access to manuscripts, the most important of which were not even discovered or made available before the middle of the nineteenth century. Biblical geography and archaeology were in their infancy, and many names and phrases could not be understood at the time.” [= Mengenai teks Alkitab, kondisinya pada saat itu masih belum stabil. Ilmu kritik teks belum lahir, dan bahan-bahan untuk kritik teks - seperti manuskrip, versi kuno, dan kutipan dari para bapa gereja - belum dikumpulkan. Luther harus menggunakan edisi cetakan pertama yang tersedia. Dia tidak memiliki akses ke manuskrip, yang sebagian besar belum ditemukan atau belum tersedia hingga pertengahan abad kesembilan belas. Selain itu, geografi dan arkeologi biblika masih dalam tahap awal, sehingga banyak nama dan frasa dalam Alkitab yang pada waktu itu tidak dapat dipahami sepenuhnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 355.
David Schaff: “In view of these difficulties we need not be surprised at the large number of mistakes, inaccuracies, and inconsistencies in Luther’s version. They are most numerous in Job and the Prophets, who present, even to the advanced Hebrew scholars of our day, many unsolved problems of text and rendering. The English Version of 1611 had the great advantage of the labors of three generations of translators and revisers, and is therefore more accurate, and yet equally idiomatic.” [= Mengingat berbagai kesulitan ini, tidaklah mengejutkan bahwa terdapat banyak kesalahan, ketidak-akuratan, dan inkonsistensi dalam versi Alkitab Luther. Kesalahan-kesalahan ini paling banyak ditemukan dalam Kitab Ayub dan para Nabi, yang bahkan bagi para sarjana Ibrani terkemuka masa kini masih menyisakan banyak masalah teks dan penerjemahan yang belum terpecahkan. Versi Alkitab Inggris tahun 1611 (King James Version) memiliki keuntungan besar dari hasil kerja tiga generasi penerjemah dan perevisi, sehingga lebih akurat namun tetap idiomatis, seperti halnya terjemahan Luther.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 355-356.
David Schaff: “The Original Text. The basis for Luther’s version of the Old Testament was the Massoretic text as published by Gerson Ben Mosheh at Brescia in 1494. He used also the Septuagint, the Vulgate of Jerome (although he disliked him exceedingly on account of his monkery), the Latin translations of the Dominican Sanctes Pagnini of Lucca (1527), and of the Franciscan Sebastian Muenster (1534), the ‘Glossa ordinaria’ (a favorite exegetical vade-mecum of Walafried Strabo from the ninth century), and Nicolaus Lyra (d. 1340), the chief of mediaeval commentators, who, besides the Fathers, consulted also the Jewish rabbis.” [= TEKS ASLI. Dasar untuk terjemahan Perjanjian Lama Luther adalah teks Masoret seperti yang diterbitkan oleh Gerson Ben Mosheh di Brescia pada tahun 1494. Luther juga menggunakan Septuaginta, Vulgata karya Jerome (meskipun dia sangat tidak menyukai Jerome karena statusnya sebagai biarawan), terjemahan Latin dari Dominikan Sanctes Pagnini dari Lucca (1527), dan Fransiskan Sebastian Münster (1534), serta Glossa ordinaria (sebuah panduan eksegetikal favorit Walafried Strabo dari abad kesembilan), dan Nicolaus Lyra (wafat 1340), komentator abad pertengahan terkemuka yang, selain merujuk para Bapa Gereja, juga berkonsultasi dengan para rabi Yahudi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 356.
David Schaff: “The basis for the New Testament was the second edition of Erasmus, published at Basel in Switzerland in 1519. His first edition of the Greek Testament had appeared in 1516, just one year before the Reformation. He derived the text from a few mediaeval MSS. The second edition, though much more correct than the first (‘multo diligentius recognitum, emendatum,’ etc.), is disfigured by a large number of typographical errors. He laid the foundation of the Textus Receptus, which was brought into its mature shape by R. Stephen, in his ‘royal edition’ of 1550 (the basis of the English Textus Receptus), and by the Elzevirs in their editions of 1624 and 1633 (the basis of the Continental Textus Receptus), and which maintained the supremacy till Lachmann inaugurated the adoption of an older textual basis (1831).” [= DASAR UNTUK PERJANJIAN BARU. Dasar untuk terjemahan Perjanjian Baru Luther adalah edisi kedua karya Erasmus, yang diterbitkan di Basel, Swiss, pada tahun 1519. Edisi pertama Greek Testament Erasmus muncul pada tahun 1516, hanya satu tahun sebelum dimulainya Reformasi. Teks ini disusun dari beberapa manuskrip abad pertengahan. Edisi kedua, meskipun jauh lebih akurat dibandingkan edisi pertama ‘diteliti kembali dengan jauh lebih teliti, diperbaiki.’ dll., tetap memiliki banyak kesalahan tipografi. Erasmus meletakkan dasar bagi Textus Receptus, yang kemudian disempurnakan oleh Robert Stephanus dalam royal edition tahun 1550 (yang menjadi dasar Textus Receptus Inggris) dan oleh keluarga Elzevir dalam edisi mereka tahun 1624 dan 1633 (yang menjadi dasar Textus Receptus di benua Eropa). Textus Receptus ini mempertahankan dominasinya hingga Lachmann memperkenalkan penggunaan dasar teks yang lebih tua pada tahun 1831.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 356-357.
David Schaff: “Luther did not slavishly follow the Greek of Erasmus, and in many places conformed to the Latin Vulgate, which is based on an older text. He also omitted, even in his last edition, the famous interpolation of the heavenly witnesses in 1John 5:7, which Erasmus inserted in his third edition (1522) against his better judgment.” [= Luther tidak secara membabi buta mengikuti teks Yunani karya Erasmus, dan di banyak tempat ia menyesuaikan terjemahannya dengan Vulgata Latin, yang didasarkan pada teks yang lebih tua. Bahkan dalam edisi terakhirnya, Luther menghilangkan interpolasi / penyisipan terkenal tentang ‘saksi-saksi surgawi’ dalam 1Yoh 5:7, yang dimasukkan oleh Erasmus dalam edisi ketiganya (1522) meskipun bertentangan dengan penilaiannya sendiri.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 357.
1Yoh 5:7-8 - “(7) Sebab ada tiga yang memberi kesaksian [di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. (8) Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi]: Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.”.
David Schaff: “The German Rendering. The German language was divided into as many dialects as tribes and states, and none served as a bond of literary union. Saxons and Bavarians, Hanoverians and Swabians, could scarcely understand each other. Each author wrote in the dialect of his district, Zwingli in his Schwyzerduetsch. ‘I have so far read no book or letter,’ says Luther in the preface to his version of the Pentateuch (1523), in which the German language is properly handled. Nobody seems to care sufficiently for it; and every preacher thinks he has a right to change it at pleasure, and to invent new terms.’ Scholars preferred to write in Latin, and when they attempted to use the mother tongue, as Reuchlin and Melanchthon did occasionally, they fell far below in ease and beauty of expression.” [= TERJEMAHAN BAHASA JERMAN. Bahasa Jerman pada masa itu terbagi menjadi banyak dialek sesuai dengan suku dan negara bagian, sehingga tidak ada satu pun dialek yang menjadi penghubung kesatuan sastra. Orang Saxon dan Bavaria, Hanover dan Swabia, hampir tidak dapat saling memahami. Setiap penulis menulis dalam dialek daerahnya masing-masing, seperti Zwingli yang menggunakan Schwyzerduetsch. ‘Sejauh ini, saya belum pernah membaca buku atau surat,’ kata Luther dalam kata pengantar versi Pentateukhnya (1523), ‘di mana bahasa Jerman digunakan dengan benar. Tidak ada yang tampaknya cukup peduli akan hal ini; dan setiap pengkhotbah merasa berhak untuk mengubahnya sesuka hati dan menciptakan istilah-istilah baru.’ Para sarjana lebih memilih menulis dalam bahasa Latin, dan ketika mereka mencoba menggunakan bahasa ibu - seperti yang kadang dilakukan oleh Reuchlin dan Melanchthon - hasilnya jauh di bawah standar dalam hal keluwesan dan keindahan ekspresi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 357-358.
David Schaff: “Luther brought harmony out of this confusion, and made the modern High German the common book language. He chose as the basis the Saxon dialect, which was used at the Saxon court and in diplomatic intercourse between the emperor and the estates, but was bureaucratic, stiff, heavy, involved, dragging, and unwieldy. He popularized and adapted it to theology and religion. He enriched it with the vocabulary of the German mystics, chroniclers, and poets. He gave it wings, and made it intelligible to the common people of all parts of Germany.” [= Luther membawa harmoni dari kekacauan ini dan menjadikan High German modern sebagai bahasa buku yang umum digunakan. Ia memilih dialek Saxon sebagai dasar, yang digunakan di pengadilan / istana Saxon dan dalam hubungan diplomatik antara kaisar dan negara-negara bagian. Namun, dialek ini awalnya bersifat birokratis, kaku, berat, berbelit-belit, lamban, dan sulit digunakan. Luther mempopulerkan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan teologi dan agama. Ia memperkaya bahasa tersebut dengan kosa kata dari para mistikus Jerman, penulis kronik, dan penyair. Luther memberikan bahasa itu ‘sayap’ dan menjadikannya dapat dipahami oleh orang-orang biasa dari seluruh wilayah Jerman.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 358.
David Schaff: “He adapted the words to the capacity of the Germans, often at the expense of accuracy. He cared more for the substance than the form. He turned the Hebrew shekel into a Silberling, the Greek drachma and Roman denarius into a German Groschen, the quadrans into a Heller, the Hebrew measures into Scheffel, Malter, Tonne, Centner, and the Roman centurion into a Hauptmann. He substituted even undeutsch (!) for barbarian in 1 Cor. 14:11. Still greater liberties he allowed himself in the Apocrypha, to make them more easy and pleasant reading. He used popular alliterative phrases as Geld und Gut, Land und Leute, Rath und That, Stecken und Stab, Dornen und Disteln, matt und muede, gang und gaebe. He avoided foreign terms which rushed in like a flood with the revival of learning, especially in proper names (as Melanchthon for Schwarzerd, Aurifaber for Goldschmid, Oecolampadius for Hausschein, Camerarius for Kammermeister). He enriched the vocabulary with such beautiful words as holdselig, Gottseligkeit.” [= Luther menyesuaikan kata-kata dengan kemampuan pemahaman orang Jerman, sering kali dengan mengorbankan akurasi. Ia lebih mementingkan isi daripada bentuk. Misalnya, ia mengubah shekel Ibrani menjadi Silberling, drachma Yunani dan denarius Romawi menjadi Groschen Jerman, quadrans menjadi Heller, dan ukuran-ukuran Ibrani menjadi Scheffel, Malter, Tonne, Centner. Bahkan, ia mengubah centurion Romawi menjadi Hauptmann (kapten). Ia bahkan mengganti istilah undeutsch (!) untuk kata ‘barbar’ di 1Kor 14:11. Kebebasan yang lebih besar lagi ia ambil dalam menerjemahkan Apokripha, agar lebih mudah dan menyenangkan untuk dibaca. Ia menggunakan frasa aliteratif populer seperti Geld und Gut (uang dan harta), Land und Leute (tanah dan rakyat), Rath und That (nasihat dan tindakan), Stecken und Stab (tongkat dan staf), Dornen und Disteln (duri dan onak), matt und müde (lelah dan lesu), gang und gäbe (kebiasaan umum). Luther menghindari istilah asing yang mulai masuk membanjiri bahasa Jerman bersamaan dengan kebangkitan ilmu pengetahuan, terutama pada nama-nama tertentu (seperti Melanchthon untuk Schwarzerd, Aurifaber untuk Goldschmid, Oecolampadius untuk Hausschein, Camerarius untuk Kammermeister). Ia juga memperkaya kosakata bahasa Jerman dengan kata-kata indah seperti holdselig (menawan) dan Gottseligkeit (kesalehan).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 358-359.
David Schaff: “Erasmus Alber, a contemporary of Luther, called him the German Cicero, who not only reformed religion, but also the German language.” [= Erasmus Alber, seorang sezaman dengan Luther, menyebutnya sebagai ‘Cicero Jerman’ yang tidak hanya mereformasi agama, tetapi juga bahasa Jerman.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 359.
David Schaff: “Luther’s version is an idiomatic reproduction of the Bible in the very spirit of the Bible. It brings out the whole wealth, force, and beauty of the German language. It is the first German classic, as King James’s version is the first English classic. It anticipated the golden age of German literature as represented by Klopstock, Lessing, Herder, Goethe, Schiller, - all of them Protestants, and more or less indebted to the Luther-Bible for their style. The best authority in Teutonic philology pronounces his language to be the foundation of the new High German dialect on account of its purity and influence, and the Protestant dialect on account of its freedom which conquered even Roman Catholic authors.” [= Versi Alkitab Luther adalah reproduksi idiomatik dari Alkitab yang benar-benar mencerminkan semangat Alkitab itu sendiri. Karya ini menampilkan kekayaan, kekuatan, dan keindahan penuh dari bahasa Jerman. Versi ini menjadi karya klasik Jerman pertama, sebagaimana versi King James menjadi karya klasik Inggris pertama. Karya Luther ini mendahului zaman keemasan sastra Jerman yang diwakili oleh Klopstock, Lessing, Herder, Goethe, dan Schiller - semuanya adalah Protestan dan, dalam berbagai tingkat, berhutang pada Luther-Bibel untuk gaya penulisan mereka. Ahli terbaik dalam filologi Teutonik menyatakan bahwa bahasa Luther menjadi fondasi dari dialek High German modern karena kemurnian dan pengaruhnya, serta menjadi dialek Protestan karena kebebasannya yang bahkan mempengaruhi penulis / pengarang Katolik Roma.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 359.
David Schaff: “The Protestant Spirit of Luther’s Version. Dr. Emser, one of the most learned opponents of the Reformation, singled out in Luther’s New Testament several hundred linguistic blunders and heretical falsifications. Many of them were silently corrected in later editions. He published, by order of Duke George of Saxony, a new translation (1527) for the purpose of correcting the errors of ‘Luther and other heretics.’” [= Semangat Protestan dalam Versi Luther. Dr. Emser, salah satu lawan Reformasi yang paling terpelajar, mengidentifikasi beberapa ratus kesalahan linguistik dan ‘penyimpangan heretikal’ dalam Perjanjian Baru versi Luther. Banyak dari kesalahan ini kemudian secara diam-diam diperbaiki dalam edisi-edisi berikutnya. Atas perintah Duke George dari Saxony, Dr. Emser menerbitkan sebuah terjemahan baru pada tahun 1527 dengan tujuan memperbaiki ‘kesalahan Luther dan bidat lainnya.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 360.
David Schaff: “The charge that Luther adapted the translation to his theological opinions has become traditional in the Roman Church, and is repeated again and again by her controversialists and historians. The same objection has been raised against the Authorized English Version. In both cases, the charge has some foundation, but no more than the counter-charge which may be brought against Roman Catholic Versions.” [= Tuduhan bahwa Luther menyesuaikan terjemahannya dengan pandangan teologisnya telah menjadi tradisi dalam Gereja Katolik Roma dan terus diulang oleh para polemis dan sejarawan mereka. Tuduhan serupa juga diajukan terhadap Authorized English Version (Versi Resmi Inggris). Dalam kedua kasus tersebut, tuduhan ini memiliki dasar, tetapi tidak lebih besar daripada tuduhan balik yang dapat diarahkan kepada versi-versi Katolik Roma.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 361.
David Schaff: “The most important example of dogmatic influence in Luther’s version is the famous interpolation of the word ‘alone’ in Rom. 3:28 (allein durch den Glauben), by which he intended to emphasize his solifidian doctrine of justification, on the plea that the German idiom required the insertion for the sake of clearness. But he thereby brought Paul into direct verbal conflict with James, who says (James 2:24), ‘by works a man is justified, and not only by faith’ (‘nicht durch den Glauben allein’). It is well known that Luther deemed it impossible to harmonize the two apostles in this article, and characterized the Epistle of James as an ‘epistle of straw,’ because it had no evangelical character (‘keine evangelische Art’).” [= Contoh paling penting dari pengaruh dogmatis dalam terjemahan Luther adalah interpolasi / perubahan / penyisipan terkenal kata ‘allein’ (sendirian / hanya) dalam Roma 3:28 (allein durch den Glauben - ‘hanya oleh iman’). Dengan penambahan ini, Luther bermaksud menekankan doktrin solifidian-nya tentang pembenaran oleh iman saja, dengan alasan bahwa idiom bahasa Jerman membutuhkan kata tersebut demi kejelasan. Namun, hal ini secara langsung menempatkan Paulus dalam konflik verbal dengan Yakobus, yang menyatakan dalam Yakobus 2:24 bahwa, ‘oleh perbuatan manusia dibenarkan, dan bukan hanya oleh iman’ (nicht durch den Glauben allein). Cukup terkenal bahwa Luther menganggap mustahil untuk menyelaraskan kedua rasul dalam hal ini. Ia bahkan menyebut Surat Yakobus sebagai ‘surat jerami’ (eine stroherne Epistel), karena menurutnya surat itu tidak memiliki karakter injili (keine evangelische Art).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 361-362.
Roma 3:28 - “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan (hanya) karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.”. Bdk. Gal 2:16a.
Yak 2:24 - “Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”.
David Schaff: “He therefore insisted on this insertion in spite of all outcry against it. His defense is very characteristic. ‘If your papist,’ he says, ‘makes much useless fuss about the word sola, allein, tell him at once: Doctor Martin Luther will have it so, and says: Papist and donkey are one thing; sic volo, sic jubeo, sit pro ratione voluntas. For we do not want to be pupils and followers of the Papists, but their masters and judges.’ Then he goes on in the style of foolish boasting against the Papists, imitating the language of St. Paul in dealing with his Judaizing opponents (2 Cor. 11:22 sqq.): ‘Are they doctors? so am I. Are they learned? so am I. Are they preachers? so am I. Are they theologians? so am I. Are they disputators? so am I. Are they philosophers? so am I. Are they the writers of books? so am I. And I shall further boast: I can expound Psalms and Prophets; which they can not. I can translate; which they can not .... Therefore the word ‘allein’ shall remain in my New Testament, and though all pope-donkeys (Papstesel) should get furious and foolish, they shall not turn it out.’” [= Luther tetap bersikeras pada penambahan kata ‘allein’ meskipun menghadapi banyak kecaman. Pembelaannya mencerminkan gaya khasnya. Ia berkata, ‘Jika si Papist Anda membuat keributan besar yang tidak berguna tentang kata sola, allein, katakan langsung kepadanya: Doktor Martin Luther menghendakinya demikian, dan berkata: Papist dan keledai adalah satu hal; sic volo, sic jubeo, sit pro ratione voluntas (Demikian aku menghendaki, demikian aku memerintahkan, biarlah kehendak menggantikan alasan). Sebab kami tidak ingin menjadi murid dan pengikut para Papist, melainkan tuan dan hakim mereka.’ Luther kemudian melanjutkan dengan nada membanggakan diri, meniru bahasa Paulus saat menghadapi para penentangnya yang menganut Yudaisme (2Korintus 11:22 dst.): ‘Apakah mereka doktor? Saya juga. Apakah mereka terpelajar? Saya juga. Apakah mereka pengkhotbah? Saya juga. Apakah mereka teolog? Saya juga. Apakah mereka ahli debat? Saya juga. Apakah mereka filsuf? Saya juga. Apakah mereka penulis buku? Saya juga. Dan saya akan lebih jauh membanggakan diri: Saya dapat menafsirkan Mazmur dan Nabi-nabi; yang mereka tidak bisa. Saya dapat menerjemahkan; yang mereka tidak bisa .... Oleh karena itu, kata ‘allein’ akan tetap ada dalam Perjanjian Baru saya, dan meskipun semua Papstesel (keledai-keledai paus) menjadi marah dan bodoh, mereka tidak akan bisa menghapusnya.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 362-363.
2Kor 11:22-23 - “(22) Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham! (23) Apakah mereka pelayan Kristus? - aku berkata seperti orang gila - aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.”.
David Schaff: “The Protestant and anti-Romish character of Luther’s New Testament is undeniable in his prefaces, his discrimination between chief books and less important books, his change of the traditional order, and his unfavorable judgments on James, Hebrews, and Revelation. It is still more apparent in his marginal notes, especially on the Pauline Epistles, where he emphasizes throughout the difference between the law and the gospel, and the doctrine of justification by faith alone; and on the Apocalypse, where he finds the papacy in the beast from the abyss (Rev. 13), and in the Babylonian harlot (Rev. 17). The anti-papal explanation of the Apocalypse became for a long time almost traditional in Protestant commentaries.” [= Karakter Protestan dan anti-Katolik dalam Perjanjian Baru versi Luther tidak dapat disangkal, terlihat jelas dalam kata pengantarnya, diskriminasinya antara kitab-kitab utama dan kitab-kitab yang dianggap kurang penting, perubahannya terhadap urutan tradisional, dan penilaian negatifnya terhadap Surat Yakobus, Ibrani, dan Wahyu. Hal ini menjadi semakin nyata dalam catatan tepinya, terutama pada Surat-Surat Paulus. Di sana, Luther menekankan secara konsisten perbedaan antara hukum Taurat dan Injil serta doktrin pembenaran hanya oleh iman. Dalam komentarnya tentang Wahyu, ia mengidentifikasi kepausan sebagai ‘binatang dari jurang maut’ (Wahyu 13) dan ‘pelacur Babel’ (Wahyu 17). Penjelasan anti-paus dari kitab Wahyu ini untuk suatu waktu yang lama hampir menjadi tradisi dalam buku-buku tafsiran Protestan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 363
David Schaff: “On the other hand, the Roman Catholic translators used the same liberty of marginal annotations and pictorial illustrations in favor of the doctrines and usages of their own church. Emser’s New Testament is full of anti-Lutheran glosses. In Rom. 3:28, he protests on the margin against Luther’s ‘allein,’ and says, "Paul by the words ’without works of the law’ does not mean that man is saved by faith alone, without good works, but only without works of the law, that is, external circumcision and other Jewish ceremonies." He therefore confines the ‘law’ here to the ritual law, and ‘works’ to Jewish works; while, according to the best modern commentators, Paul means the whole law, moral as well as ceremonial, and all works commanded by the law. And yet even in the same chapter and throughout the whole Epistle to the Romans, Emser copies verbatim Luther’s version for whole verses and sections; and where he departs from his language, it is generally for the worse.” [= Di sisi lain, para penerjemah Katolik Roma juga menggunakan kebebasan serupa dalam memberikan anotasi / catatan tepi dan ilustrasi bergambar yang mendukung doktrin dan praktek gereja mereka sendiri. Perjanjian Baru versi Emser dipenuhi dengan komentar-komentar anti-Lutheran. Dalam Roma 3:28, ia menentang kata ‘allein’ (hanya) yang ditambahkan oleh Luther, dan mencatat di tepi bahwa, "Paulus, dengan kata-kata ‘tanpa perbuatan hukum Taurat,’ tidak bermaksud bahwa manusia diselamatkan hanya oleh iman tanpa perbuatan baik, tetapi hanya tanpa perbuatan hukum Taurat, yaitu sunat dan upacara-upacara Yahudi lainnya." Dengan demikian ia membatasi makna ‘hukum Taurat’ dalam ayat ini hanya pada hukum upacara, dan ‘perbuatan’ hanya pada perbuatan Yahudi; sedangkan menurut sebagian besar komentator modern terbaik, Paulus berbicara tentang seluruh hukum Taurat, baik hukum moral maupun hukum upacara, serta semua perbuatan yang diperintahkan oleh hukum Taurat. Bahkan, dalam pasal yang sama dan di sepanjang seluruh Surat Roma, Emser sering menyalin secara kata per kata terjemahan Luther untuk ayat-ayat dan bagian-bagian tertentu. Ketika ia menyimpang dari bahasa Luther, hasilnya biasanya justru menjadi lebih buruk.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 363-364.
David Schaff: “The same may be said of the other two German Catholic Bibles of the age of the Reformation. They follow Luther’s language very closely within the limits of the Vulgate, and yet abuse him in the notes. Dr. Dietenberger adds his comments in smaller type after the chapters, and agrees with Emser’s interpretation of Rom. 3:28. Dr. Eck’s German Bible has few notes, but a strongly anti-Protestant preface.” [= Hal yang sama juga berlaku untuk dua Alkitab Katolik Jerman lainnya pada masa Reformasi. Kedua versi ini mengikuti bahasa Luther dengan sangat dekat dalam batasan teks Vulgata, namun tetap mengkritik Luther dalam catatan-catatan tepinya. Dr. Dietenberger menambahkan komentarnya dengan jenis huruf lebih kecil setelah setiap bab, dan ia sepakat dengan penafsiran Emser mengenai Roma 3:28. Sementara itu, Alkitab Jerman karya Dr. Eck memiliki sedikit catatan tepi, namun disertai kata pengantar yang sangat anti-Protestan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 364.
David Schaff: “To be just, we must recognize the sectarian imperfections of Bible versions, arising partly from defective knowledge, partly from ingrained prejudices. A translation is an interpretation. Absolute reproduction is impossible in any work. A Jew will give a version of the Old Testament differing from that of a Christian, because they look upon it in a different light, - the one with his face turned backward, the other with his face turned forward. A Jew cannot understand the Old Testament till he becomes a Christian, and sees in it a prophecy and type of Christianity. No synagogue would use a Christian version, nor any church a Jewish version. So also the New Testament is rendered differently by scholars of the Greek, Latin, and Protestant churches. And even where they agree in words, there is a difference in the pervading spirit. They move, as it were, in a different atmosphere. A Roman Catholic version must be closely conformed to the Latin Vulgate, which the Council of Trent puts on an equal footing with the original text. A Protestant version is bound only by the original text, and breathes an air of freedom from traditional restraint. The Roman Church will never use Luther’s Version or King James’s Version, and could not do so without endangering her creed; nor will German Protestants use Emser’s and Eck’s Versions, or English Protestants the Douay Version. The Romanist must become evangelical before he can fully apprehend the free spirit of the gospel as revealed in the New Testament.” [= Supaya adil, kita harus mengakui bahwa ketidaksempurnaan yang bersifat sektarian dalam terjemahan Alkitab sebagian disebabkan oleh pengetahuan yang kurang memadai dan sebagian lagi oleh prasangka yang telah tertanam. Sebuah terjemahan adalah juga sebuah penafsiran. Reproduksi yang benar-benar mutlak tidak mungkin dilakukan dalam karya apa pun. Seorang Yahudi akan memberikan versi Perjanjian Lama yang berbeda dari seorang Kristen, karena mereka memandangnya dari sudut yang berbeda - yang satu dengan pandangannya ke masa lalu, dan yang lain ke masa depan. Seorang Yahudi tidak dapat sepenuhnya memahami Perjanjian Lama sampai ia menjadi Kristen dan melihatnya sebagai nubuat dan type dari Kekristenan. Tidak ada sinagog yang akan menggunakan versi Kristen, begitu pula gereja tidak akan menggunakan versi Yahudi. Demikian pula, Perjanjian Baru diterjemahkan secara berbeda oleh sarjana dari gereja Yunani, Latin, dan Protestan. Bahkan ketika mereka sepakat dalam hal kata-kata, ada perbedaan dalam semangat yang menyeluruh. Mereka, seolah-olah, bergerak dalam atmosfer yang berbeda. Sebuah versi Katolik Roma harus sangat menyesuaikan diri dengan Vulgata Latin, yang oleh Konsili Trente dianggap setara dengan teks aslinya. Sebuah versi Protestan, di sisi lain, hanya terikat pada teks asli dan menghirup udara kebebasan dari belenggu tradisional. Gereja Katolik Roma tidak akan pernah menggunakan versi Luther atau King James, karena tidak bisa melakukan demikian tanpa membahayakan credo-credonya; begitu pula Protestan Jerman tidak akan menggunakan versi Emser atau Eck, maupun Protestan Inggris menggunakan Douay Version (Alkitab Inggris yang diterjemahkan dari Vulgata). Seorang penganut Katolik Roma harus menjadi injili terlebih dahulu agar dapat sepenuhnya memahami semangat bebas Injil sebagaimana diungkapkan dalam Perjanjian Baru.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 364-365.
================================================
Pertanyaan: David Schaff dalam bukunya 'History of the Christian Church', vol VII, hal 364-365 mengatakan bahwa Gereja Katolik Roma tidak akan pernah menggunakan alkitab versi KJV. Lalu alkitab versi apa yang mereka gunakan?
Jawaban ChatGPT:
Gereja Katolik Roma secara historis menggunakan Vulgata Latin sebagai versi resmi Alkitab mereka. Vulgata adalah terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Latin yang dilakukan oleh Hieronymus (St. Jerome) pada akhir abad ke-4 dan menjadi standar bagi Gereja Katolik selama lebih dari seribu tahun.
Namun, setelah Konsili Trente (1545–1563), Gereja Katolik Roma mengesahkan Vulgata Clementina sebagai versi resmi yang diperbaiki dan digunakan secara luas hingga abad ke-20.
Versi Alkitab yang Digunakan oleh Gereja Katolik Roma:
1) Vulgata Latin (St. Jerome, abad ke-4)
2) Vulgata Clementina (1592, revisi dari Vulgata Latin)
3) Nova Vulgata (1979, revisi resmi oleh Vatikan, yang digunakan dalam liturgi modern)
Selain Vulgata, umat Katolik juga menggunakan terjemahan modern dalam bahasa nasional mereka. Beberapa di antaranya:
a) Douay-Rheims Bible (DRB) – Alkitab bahasa Inggris Katolik pertama (terjemahan dari Vulgata Latin, 1582–1610).
b) Jerusalem Bible (JB, 1966) – Terjemahan berbasis bahasa asli (Ibrani & Yunani) dengan pengaruh dari Vulgata, populer dalam dunia Katolik berbahasa Inggris.
c) New American Bible (NAB, 1970) – Versi modern yang digunakan oleh Gereja Katolik di Amerika Serikat.
d) Revised Standard Version - Catholic Edition (RSV-CE, 1965-66) – Versi revisi dari RSV yang diadaptasi untuk penggunaan Katolik.
e) New Revised Standard Version - Catholic Edition (NRSV-CE, 1989) – Versi lebih modern dari RSV-CE.
f) Biblia de Jerusalén (BJ, 1967) – Versi Spanyol dari Jerusalem Bible.
Mengapa Gereja Katolik Tidak Menggunakan KJV?
1. KJV
Berdasarkan Teks Ibrani dan Yunani Non-Katolik
KJV (King James Version, 1611) diterjemahkan dari Textus Receptus (Perjanjian
Baru) dan Teks Masoret (Perjanjian Lama) yang lebih sering digunakan
oleh Protestan, bukan dari Vulgata yang menjadi standar Katolik.
2. KJV Tidak
Memuat Deuterokanonika dalam Edisi Modern
KJV awalnya mencantumkan kitab-kitab Deuterokanonika (misalnya Tobit,
Yudit, 1 & 2 Makabe, dsb.), tetapi edisi Protestan modern menghapusnya.
Sementara itu, Alkitab Katolik tetap memasukkan kitab-kitab ini.
3. KJV Diterbitkan oleh Gereja Anglikan.
KJV dibuat di bawah pengawasan Raja James I dari Inggris, yang adalah pemimpin Gereja Anglikan, sehingga secara teologis dan eklesiologis lebih berorientasi Protestan.
Karena alasan-alasan ini, Gereja Katolik Roma tidak menggunakan KJV dan lebih memilih terjemahan yang didasarkan pada Vulgata atau langsung dari teks asli dengan pendekatan Katolik.
================================================
David Schaff: “There is, however, a gradual progress in translation, which goes hand in hand with the progress of the understanding of the Bible. Jerome’s Vulgate is an advance upon the Itala, both in accuracy and Latinity; the Protestant Versions of the sixteenth century are an advance upon the Vulgate, in spirit and in idiomatic reproduction; the revisions of the nineteenth century are an advance upon the versions of the sixteenth, in philological and historical accuracy and consistency. A future generation will make a still nearer approach to the original text in its purity and integrity. If the Holy Spirit of God shall raise the Church to a higher plane of faith and love, and melt the antagonisms of human creeds into the one creed of Christ, then, and not before then, may we expect perfect versions of the oracles of God.” [= Tetapi, ada kemajuan bertahap dalam penerjemahan, yang berjalan seiring dengan pemahaman yang semakin dalam tentang Alkitab. Vulgata karya Jerome merupakan kemajuan dibandingkan Itala, baik dalam hal akurasi maupun penggunaan bahasa Latin yang lebih baik. Versi Protestan pada abad keenam belas adalah kemajuan dibandingkan Vulgata, khususnya dalam semangat dan reproduksi idiomatik; revisi pada abad kesembilan belas membawa kemajuan lebih jauh, terutama dalam hal akurasi filologis, historis, dan konsistensi. Generasi mendatang kemungkinan akan mendekati teks asli dengan kemurnian dan integritas yang lebih besar. Namun, jika Roh Kudus mengangkat Gereja ke tingkat iman dan kasih yang lebih tinggi, dan menghapus perpecahan antar-iman menjadi satu pengakuan iman di dalam Kristus, pada saat itu - dan tidak sebelum saat itu - kita dapat mengharapkan terjemahan yang sempurna dari firman Allah.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 365-366.
VI) Pernikahan Martin Luther.
David Schaff: “§ 77. Luther’s Marriage. 1525. ... Amidst the disturbances and terrors of the Peasants’ War, in full view of his personal danger, and in expectation of the approaching end of the world, Luther surprised his friends and encouraged his foes by his sudden marriage with a poor fugitive nun. He wrote to his friend Link: ‘Suddenly, and while I was occupied with far other thoughts, the Lord has, plunged me into marriage.’” [= § 77. Pernikahan Luther. 1525. ... Di tengah kekacauan dan ketakutan akibat Perang Petani, dengan segala bahaya pribadi yang mengintainya, dan dalam keyakinan akan akhir dunia yang segera datang, Luther mengejutkan teman-temannya dan memberikan keberanian kepada musuh-musuhnya dengan pernikahan mendadaknya dengan seorang biarawati miskin yang sedang melarikan diri. Ia menulis kepada temannya, Link: ‘Tiba-tiba, dan saat saya sedang sibuk dengan pikiran yang sama sekali berbeda, Tuhan telah menjerumuskan saya ke dalam pernikahan.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 454-455.
David Schaff: “The manner was highly characteristic, neither saint-like nor sinner-like, but eminently Luther-like. By taking to himself a wife, he wished to please his father, to tease the Pope, and to vex the Devil. Beneath was a deeper and nobler motive, to rescue the oldest ordinance of God on earth from the tyranny of Rome, and to vindicate by his own example the right of ministers to the benefit of this ordinance. Under this view, his marriage is a public event of far-reaching consequence. It created the home life of the evangelical clergy.” [= Cara yang dilakukan sangat khas, tidak seperti orang suci maupun pendosa, tetapi sangat mencerminkan karakter Luther. Dengan menikah, ia ingin menyenangkan ayahnya, menggoda / mengejek Paus, dan membuat Iblis kesal. Di balik itu semua terdapat motif yang lebih dalam dan mulia: menyelamatkan lembaga tertua dari Allah di bumi ini dari tirani Roma, serta membuktikan melalui teladannya sendiri bahwa para pendeta memiliki hak untuk menikmati berkat dari lembaga tersebut. Dalam pandangan ini, pernikahannya adalah peristiwa publik yang memiliki dampak besar. Pernikahan ini menciptakan kehidupan rumah tangga bagi para rohaniwan Injili.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 455.
David Schaff: “He had long before been convinced that vows of perpetual celibacy are unscriptural and unnatural. He held that God has created man for marriage, and that those who oppose it must either be ashamed of their manhood, or pretend to be wiser than God. He did not object to the marriage of Carlstadt, Jonas, Bugenhagen, and other priests and monks. But he himself seemed resolved to remain single, and continued to live in the convent. He was now over forty years of age; eight years had elapsed since he opened the controversy with Rome in the Ninety-Five Theses; and, although a man of powerful passions, he had strictly kept his monastic and clerical vow. His enemies charged him with drinking beer, playing the lute, leading a worldly life, but never dared to dispute his chastity till after his marriage. As late as Nov. 30, 1524, he wrote to Spalatin: ‘I shall never take a wife, as I feel at present. Not that I am insensible to my flesh or sex (for I am neither wood nor stone); but my mind is averse to wedlock, because I daily expect the death of a heretic.’ But on April 10, 1525, he wrote to the same friend: ‘Why do you not get married? I find so many reasons for urging others to marry, that I shall soon be brought to it myself, notwithstanding that enemies never cease to condemn the married state, and our little wiseacres (sapientuli) ridicule it every day.’ He got tired of his monastic seclusion; the convent was nearly emptied, and its resources cut off; his bed, as Melanchthon tells us, was not properly made for months, and was mildewed with perspiration; he lived of the plainest food; he worked himself nearly to death; he felt the need of a helpmate.” [= Dia telah lama yakin bahwa nazar / sumpah untuk tetap selibat selamanya tidak sesuai dengan Kitab Suci dan tidak alamiah. Luther percaya bahwa Allah menciptakan manusia untuk menikah, dan mereka yang menentangnya harus merasa malu atas kemanusiaannya atau berpura-pura lebih bijak dari Allah. Dia tidak menentang pernikahan Carlstadt, Jonas, Bugenhagen, dan imam serta biarawan lainnya. Namun, dia sendiri tampaknya bertekad untuk tetap melajang dan terus tinggal di biara. Saat itu, usianya sudah lebih dari empat puluh tahun; delapan tahun telah berlalu sejak dia memulai kontroversinya dengan Roma melalui 95 thesis; dan meskipun dia adalah pria dengan gairah yang kuat, dia tetap setia pada sumpah / nazar monastik dan klerikalnya. Musuh-musuhnya menuduhnya minum bir, bermain kecapi, dan menjalani kehidupan duniawi, tetapi mereka tidak pernah berani mempertanyakan kesuciannya hingga setelah dia menikah. Bahkan, pada 30 November 1524, dia menulis kepada Spalatin: ‘Aku tidak akan pernah menikah, setidaknya seperti yang kurasakan saat ini. Bukan karena aku tidak merasakan dorongan daging atau seks (karena aku bukan kayu atau batu); tetapi pikiranku menolak pernikahan, karena aku setiap hari mengharapkan kematian seorang bidat.’ Namun, pada 10 April 1525, dia menulis kepada teman yang sama: "Mengapa kamu tidak menikah? Aku menemukan begitu banyak alasan untuk mendorong orang lain menikah, sehingga aku sendiri mungkin akan segera melakukannya, meskipun musuh-musuh kita tidak pernah berhenti mengecam pernikahan, dan para ‘bijak kecil’ kita (sapientuli) terus mengejeknya setiap hari." Dia mulai bosan dengan keterasingan hidup monastik; biara hampir kosong, dan sumber dayanya terputus. Tempat tidurnya, seperti yang diceritakan Melanchthon, tidak pernah dirapikan dengan benar selama berbulan-bulan dan berjamur karena keringat. Dia hidup dari makanan yang sangat sederhana, bekerja hingga hampir kelelahan, dan akhirnya merasakan kebutuhan akan seorang pendamping hidup.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 455-456.
David Schaff: “In April, 1523, nine nuns escaped from the convent of Nimptsch near Grimma, fled to Wittenberg, and appealed to Luther for protection and aid. Among them was Catharina von Bora, a virgin of noble birth, but poor, fifteen years younger than Luther, not remarkable for beauty or culture, but healthy, strong, frank, intelligent, and high-minded.” [= Pada April 1523, sembilan biarawati melarikan diri dari biara Nimptsch dekat Grimma, melarikan diri ke Wittenberg, dan meminta perlindungan serta bantuan dari Luther. Di antara mereka adalah Catharina von Bora, seorang gadis dari keluarga bangsawan namun miskin, lima belas tahun lebih muda dari Luther. Catharina tidak menonjol dalam hal kecantikan atau pendidikan, tetapi ia sehat, kuat, jujur, cerdas, dan memiliki jiwa yang luhur.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 456.
David Schaff: “Catharina had been attached and almost engaged to a former student of Wittenberg from Nuernberg; but he changed his mind, to her great grief, and married a rich wife (1523). After this Luther arranged a match between her and Dr. Glatz of Orlamuende (who was afterwards deposed); but she refused him, and intimated to Amsdorf, that she would not object to marry him or the Reformer. Amsdorf remained single. Luther at first was afraid of her pride, but changed his mind. On May 4, 1525, he wrote to Dr. Ruehel (councilor of Count Albrecht of Mansfeld, and of Cardinal Albrecht of Mainz), that he would, take his Katie to wife before he died, in spite of the Devil.’ He left his friends ignorant of the secret, deeming it unwise to talk much about such delicate matters. ‘A man,’ he said, ‘must ask God for counsel, and pray, and then act accordingly.’” [= Catharina pernah memiliki hubungan dekat dan hampir bertunangan dengan seorang mantan mahasiswa Wittenberg dari Nuernberg. Namun, pria itu berubah pikiran, yang sangat menyakitkan bagi Catharina, dan kemudian menikahi seorang wanita kaya (1523). Setelah itu, Luther mencoba menjodohkannya dengan Dr. Glatz dari Orlamuende (yang kemudian dicopot dari jabatannya), tetapi Catharina menolak dan memberi isyarat kepada Amsdorf bahwa ia tidak keberatan menikah dengannya atau dengan sang Reformator. Amsdorf tetap melajang. Awalnya, Luther merasa khawatir dengan kesombongan Catharina, tetapi kemudian ia berubah pikiran. Pada 4 Mei 1525, Luther menulis kepada Dr. Ruehel (penasehat Count Albrecht dari Mansfeld dan Kardinal Albrecht dari Mainz) bahwa ia akan menikahi ‘Katie-nya’ sebelum ia meninggal, ‘meskipun Iblis menentangnya.’ Luther merahasiakan rencananya dari teman-temannya, menganggap tidak bijaksana untuk terlalu banyak berbicara tentang urusan yang begitu sensitif. ‘Seorang pria,’ katanya, ‘harus meminta nasihat dari Allah, berdoa, dan kemudian bertindak sesuai dengan itu.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 458.
David Schaff: “On the evening of June 13, on Tuesday after Trinity Sunday, he invited Bugenhagen, Jonas, Lucas Cranach and wife, and a professor of jurisprudence, Apel (an ex-Dean of the Cathedral of Bamberg, who had himself married a nun), to, his house, and in their presence was joined in matrimony to Catharina von Bora in the name of the Holy Trinity. Bugenhagen performed the ceremony in the customary manner. On the following morning he entertained his friends at breakfast. Justus Jonas reported the marriage to Spalatin through a special messenger. He was affected by it to tears, and saw in it the wonderful hand of God.” [= Pada malam 13 Juni, hari Selasa setelah Minggu Tritunggal, Luther mengundang Bugenhagen, Jonas, Lucas Cranach dan istrinya, serta seorang profesor hukum, Apel (mantan Dekan Katedral Bamberg, yang juga menikahi seorang biarawati), ke rumahnya. Di hadapan mereka, Luther menikah dengan Catharina von Bora atas nama Tritunggal Kudus. Bugenhagen memimpin upacara tersebut sesuai dengan tata cara yang lazim. Keesokan paginya, Luther mengadakan jamuan sarapan untuk teman-temannya. Justus Jonas melaporkan pernikahan itu kepada Spalatin melalui seorang utusan khusus. Spalatin begitu terharu hingga meneteskan air mata dan melihat peristiwa itu sebagai karya tangan Allah yang ajaib.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 458.
David Schaff: “On June 27 Luther celebrated his wedding in a more public, yet modest style, by a nuptial feast, and invited his father and mother and his distant friends to ‘seal and ratify’ the union, and to ‘pronounce the benediction.’ He mentioned with special satisfaction that he had now fulfilled an old duty to his father, who wished him to marry. The University presented him with a rich silver goblet (now in possession of the University of Greifswald), bearing the inscription: ‘The honorable University of the electoral town of Wittenberg presents this wedding gift to Doctor Martin Luther and his wife Kethe von Bora.’ The magistrate provided the pair with a barrel of Eimbeck beer, a small quantity of good wine, and twenty guilders in silver. What is very remarkable, Archbishop Albrecht sent to Katie through Ruehel a wedding gift of twenty guilders in gold; Luther declined it for himself, but let Katie have it. Several wedding-rings of doubtful genuineness have been preserved, especially one which bears the image of the crucified Saviour, and the inscription, ‘D. Martino Luthero Catharina v. Boren, 13 Jun. 1525.’ It has been multiplied in 1817 by several copies. They lived together in the old Augustinian convent, which was now empty. He was not much interrupted in his studies, and at the end of the same year he published his violent book against Erasmus, who wondered that marriage had not softened his temper.” [= Pada 27 Juni, Luther merayakan pernikahannya dengan gaya yang lebih publik namun tetap sederhana, melalui sebuah pesta pernikahan. Ia mengundang ayah dan ibunya serta teman-temannya yang berada jauh untuk ‘mengukuhkan dan mengesahkan’ pernikahan tersebut, serta untuk ‘memberikan berkat.’ Luther menyebut dengan kepuasan khusus bahwa ia kini telah memenuhi kewajiban lama kepada ayahnya, yang selalu menginginkan dia menikah. Universitas Wittenberg memberikan hadiah pernikahan berupa sebuah piala perak mewah (yang kini dimiliki oleh Universitas Greifswald), dengan tulisan: ‘Universitas terhormat dari kota pemilih Wittenberg memberikan hadiah pernikahan ini kepada Doktor Martin Luther dan istrinya Kethe von Bora.’ Dewan kota juga memberikan hadiah berupa satu tong bir Eimbeck, sejumlah kecil anggur berkualitas, dan dua puluh gulden perak. Yang sangat mencolok, Uskup Agung Albrecht mengirimkan hadiah pernikahan kepada Katie melalui Ruehel berupa dua puluh gulden emas; Luther menolak hadiah itu untuk dirinya sendiri, tetapi membiarkan Katie menerimanya. Beberapa cincin pernikahan, yang keasliannya diragukan, telah disimpan, terutama satu yang memiliki gambar Juruselamat yang disalibkan dan tulisan: ‘D. Martino Luthero Catharina v. Boren, 13 Jun. 1525.’ Pada tahun 1817, beberapa salinan cincin ini dibuat. Luther dan Catharina tinggal bersama di bekas biara Augustinian, yang kini kosong. Kehidupan pernikahannya tidak banyak mengganggu studinya, dan pada akhir tahun yang sama, ia menerbitkan bukunya yang keras terhadap Erasmus. Erasmus sendiri heran bahwa pernikahan tidak melunakkan temperamen Luther.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 458-459.
David Schaff: “The event was a rich theme for slander and gossip. His enemies circulated a slander about a previous breach of the vow of chastity, and predicted that, according to a popular tradition, the ex-monk and ex-nun would give birth to Antichrist. Erasmus contradicts the slander, and remarked that if that tradition was true, there must have been many thousands of antichrists before this. Melanchthon (who had been invited to the feast of the 27th of June, but not to the ceremony of the 13th), in a Greek letter to his friend Camerarius (June 16), expressed the fear that Luther, though he might be ultimately benefited by his marriage, had committed a lamentable act of levity and weakness, and injured his influence at a time when Germany most needed it.” [= Peristiwa pernikahan Luther menjadi bahan kaya untuk fitnah dan gosip. Musuh-musuhnya menyebarkan tuduhan tentang pelanggaran sumpah kesuciannya sebelumnya dan memprediksi bahwa, menurut tradisi populer, mantan biarawan dan mantan biarawati itu akan melahirkan Antikristus. Erasmus membantah fitnah tersebut dan dengan sinis berkomentar bahwa jika tradisi itu benar, pastilah sudah ada ribuan Antikristus sebelumnya. Melanchthon, yang diundang ke pesta pada 27 Juni tetapi tidak ke upacara pada 13 Juni, dalam sebuah surat berbahasa Yunani kepada temannya, Camerarius (tertanggal 16 Juni), mengungkapkan kekhawatiran bahwa meskipun pernikahan itu pada akhirnya mungkin membawa manfaat bagi Luther, langkah tersebut merupakan tindakan yang disesalkan, mencerminkan kecerobohan dan kelemahan, serta merusak pengaruhnya di saat Jerman sangat membutuhkannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 459-460.
David Schaff: “Luther himself felt at first strange and restless in his new relation, but soon recovered. He wrote to Spalatin, June 16, ‘l have made myself so vile and contemptible forsooth that all the angels, I hope, will laugh, and all the devils weep.’ A year after he wrote to Stiefel (Aug. 11, 1526): ‘Catharina, my dear rib, salutes you, and thanks you for your letter. She is, thanks to God, gentle, obedient, compliant in all things, beyond my hopes. I would not exchange my poverty for the wealth of Croesus.’ He often preached on the trials and duties of married life truthfully and effectively, from practical experience, and with pious gratitude for that holy state which God ordained in paradise, and which Christ honored by his first miracle. He calls matrimony a gift of God, wedlock the sweetest, chastest life, above all celibacy, or else a veritable hell.” [= Luther sendiri awalnya merasa aneh dan gelisah dalam hubungan barunya, tetapi segera pulih. Pada 16 Juni, ia menulis kepada Spalatin, ‘Aku telah membuat diriku begitu hina dan tercela sehingga semua malaikat, aku harap, akan tertawa, dan semua iblis menangis.’ Setahun kemudian, pada 11 Agustus 1526, ia menulis kepada Stiefel: ‘Catharina, tulang rusukku yang terkasih, mengucapkan salam kepadamu dan berterima kasih atas suratmu. Dia, syukur kepada Allah, lembut, patuh, dan penuh pengertian dalam segala hal, melebihi harapanku. Aku tidak akan menukar kemiskinanku dengan kekayaan Croesus.’ Luther sering berkhotbah tentang tantangan dan kewajiban dalam kehidupan pernikahan dengan jujur dan efektif, berdasarkan pengalaman praktisnya, serta dengan rasa syukur yang saleh terhadap keadaan suci yang ditetapkan Allah di taman Eden dan yang dihormati oleh Kristus melalui mujizat pertamaNya. Ia menyebut pernikahan sebagai anugerah dari Allah, kehidupan pernikahan sebagai kehidupan yang paling manis dan paling suci, jauh lebih baik daripada kehidupan selibat, yang jika tidak, bisa menjadi neraka yang nyata.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 460.
VII) Kematian Luther:
Luther meninggal dunia pada tanggal 18 Februari 1546, dan dikuburkan pada tanggal 22 Februari 1546.
“His later years had been marked by a complication of various physical illneses, presumably aggravated by the strains and labours of a tempestuous life. This may in part account for his frequent irascibility and occasional outburst of wrath and coarse vituperation.” [= Tahun-tahun terakhir hidupnya ditandai oleh komplikasi dari bermacam-macam penyakit fisik, rupanya diperparah oleh ketegangan dan pekerjaan dari hidup yang bergejolak. Ini merupakan sebagian penyebab dari sikap mudah marahnya yang sering terjadi dan kemarahannya yang kadang-kadang meledak dan makian dengan kata-kata kasar.] - Kenneth Scott Latourette, ‘A History of Christianity’, vol II, hal 729.
VIII) Kesimpulan tentang Luther:
R. C. Sproul dalam bukunya ‘The Holiness of God’ [= Kekudusan / kesucian Allah] menuliskan sebuah bab yang berjudul ‘The Insanity of Luther’ [= Kegilaan Luther], dimana ia menceritakan banyak ‘kegilaan’ yang dilakukan Luther. Di atas saya sudah memberi beberapa kutipan dari buku R. C. Sproul itu.
R. C. Sproul akhirnya menutup bab itu dengan kata-kata sebagai berikut:
“Was Luther crazy? Perhaps. But if he was, our prayer is that God would send to this earth an epidemic of such insanity that we too may taste of the righteousness that is by faith alone.” [= Apakah Luther gila? Mungkin. Tetapi jika ia gila, doa kita adalah supaya Allah akan mengirimkan ke dunia ini suatu epidemi kegilaan seperti itu supaya kita juga boleh merasakan kebenaran yang hanya karena iman.] - ‘The Holiness of God’, hal 126.
-o0o-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin
465 In his Sendbrief vom Dolmetschen, in the Erl.-Frkf. ed., vol. LXV., p. 107 sqq. It was published in September, 1530, with special reference to Emser, whom he does not name, but calls "the scribbler from Dresden" ("der dresdener Sudler").