(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 7 Januari 2025, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
Martin Luther(12)
================================================
Pertanyaan: kapan Luther berubah pandangan tentang immaculate conception?
Jawaban ChatGPT:
Martin Luther pada awalnya memegang pandangan yang positif terhadap Immaculate Conception (doktrin yang menyatakan bahwa Maria dikandung tanpa dosa asal), tetapi pandangannya berubah seiring perkembangan teologinya. Untuk memahami perubahannya, kita perlu melihat perkembangan pemikirannya dalam beberapa tahap:
1. Tahap Awal (Pra-Reformasi)
a. Sebagai seorang biarawan Katolik, Luther menerima doktrin tradisional Gereja, termasuk penghormatan terhadap Maria dan pandangan positif tentang Immaculate Conception.
b. Dalam komentar-komentarnya pada kitab Mazmur (1513–1515) dan tulisan awal lainnya, Luther tidak secara eksplisit menolak doktrin tersebut. Ia bahkan menunjukkan penghormatan yang mendalam terhadap Maria sebagai ‘Bunda Allah’ (Theotokos).
2. Tahap Reformasi Awal
a. Ketika Luther mulai memformulasikan doktrin sola scriptura (hanya Kitab Suci) dan sola fide (hanya iman), ia semakin kritis terhadap doktrin-doktrin yang tidak memiliki dasar eksplisit dalam Alkitab.
b. Luther mulai meninggalkan pandangan tentang Immaculate Conception karena tidak ditemukan secara langsung dalam Kitab Suci. Ia tetap menghormati Maria sebagai ‘penuh kasih karunia’ (Lukas 1:28), tetapi mengartikan ini dalam konteks anugerah Allah, bukan keberadaan Maria yang tanpa dosa asal sejak dikandung.
3. Pandangan Setelah Reformasi (1520-an dan Setelahnya)
a. Luther secara bertahap menolak doktrin Immaculate Conception, meskipun ia terus memandang Maria sebagai sosok yang sangat penting dalam rencana keselamatan.
b. Dalam tulisannya, seperti ‘De Servo Arbitrio’ (1525), ia menekankan bahwa semua manusia, termasuk Maria, adalah pendosa yang membutuhkan keselamatan melalui Kristus. Ia percaya bahwa Maria, meskipun sangat diberkati, juga membutuhkan anugerah keselamatan Kristus.
Konteks Penolakan
(1) Doktrin Immaculate Conception secara resmi didefinisikan oleh Gereja Katolik jauh setelah masa Luther, yaitu pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX.
(2) Pada zaman Luther, doktrin ini masih menjadi topik perdebatan di antara teolog, bahkan di dalam Gereja Katolik. Luther memilih untuk menolak doktrin ini karena ia tidak melihatnya sebagai sesuatu yang penting untuk iman dan keselamatan.
Kesimpulan
Luther awalnya mungkin menerima gagasan tentang Immaculate Conception sesuai dengan ajaran Katolik zamannya, tetapi ia secara bertahap meninggalkannya setelah Reformasi. Pandangannya yang lebih matang mencerminkan keyakinannya bahwa Maria, seperti semua manusia lainnya, bergantung pada anugerah keselamatan yang diberikan melalui Kristus.
================================================
Pertanyaan: Bukankah keperawanan abadi dari Maria juga tidak penting berkenaan dengan keselamatan? Mengapa Luther tetap mempercayainya sampai akhir hidupnya?
Jawaban ChatGPT:
Pertanyaan yang sangat menarik! Memang benar bahwa Luther menolak banyak doktrin Gereja Katolik yang tidak memiliki dasar eksplisit dalam Kitab Suci atau yang ia anggap tidak relevan bagi keselamatan. Namun, ia tetap memegang doktrin keperawanan abadi Maria (perpetual virginity of Mary) sepanjang hidupnya. Ada beberapa alasan teologis dan historis yang dapat menjelaskan mengapa Luther mempertahankan pandangan ini meskipun ia menolak doktrin seperti Immaculate Conception.
1. Keyakinan Berdasarkan Tradisi dan Konsensus Patristik
a. Keperawanan abadi Maria adalah doktrin yang dipegang luas oleh para Bapa Gereja (misalnya, Athanasius, Agustinus, dan Ambrosius) dan diterima secara universal di Gereja Kristen sebelum Reformasi.
b. Luther menghormati tradisi gereja kuno selama itu tidak bertentangan dengan Kitab Suci. Ia tidak melihat doktrin ini sebagai bertentangan dengan ajaran Alkitab, meskipun Alkitab tidak secara eksplisit menyatakannya.
2. Interpretasi Kitab Suci
a. Luther menginterpretasikan teks-teks Alkitab yang sering digunakan untuk mendebat keperawanan abadi Maria - seperti istilah ‘saudara-saudara Yesus’ (Markus 6:3, Matius 13:55) - sebagai merujuk pada kerabat atau sepupu, bukan anak-anak biologis Maria.
b. Ia melihat teks seperti Yeh 44:2 (‘Pintu gerbang itu tetap tertutup...’) sebagai alegori untuk keperawanan Maria, sebuah interpretasi simbolis yang populer di kalangan Bapa Gereja.
3. Posisi Teologis: Martabat Maria sebagai Bunda Allah
a. Bagi Luther, keperawanan abadi Maria memperkuat martabat Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos). Keperawanan dianggap sebagai tanda pengudusan khusus yang diberikan Allah kepada Maria dalam rencana keselamatan.
b. Keperawanan abadi Maria juga dipandang sebagai penegasan akan keunikan dan kemuliaan peran Maria dalam Inkarnasi Kristus. Luther memandang hal ini bukan sebagai syarat keselamatan, tetapi sebagai ekspresi penghormatan kepada Maria.
4. Sikap Terhadap Maria Secara Keseluruhan
a. Luther sangat menghormati Maria dan sering menyebutnya dalam tulisannya sebagai model iman dan ketaatan. Ia bahkan menganjurkan umat Protestan untuk menghormati Maria (bukan menyembah), meskipun ia menolak devosi ekstrim yang menurutnya menyimpang.
b. Dengan mempertahankan doktrin keperawanan abadi Maria, Luther mungkin ingin menghindari kesan bahwa Reformasi Protestan merendahkan martabat Maria.
5. Doktrin yang Tidak Esensial untuk Keselamatan
a. Meskipun Luther memegang keperawanan abadi Maria, ia tidak menganggapnya sebagai doktrin esensial untuk keselamatan. Ia melihat ini sebagai bagian dari penghormatan terhadap Maria dan sebagai refleksi keajaiban Inkarnasi, tetapi tidak sebagai sesuatu yang harus dipercayai untuk menjadi orang Kristen yang sejati.
b. Luther percaya bahwa iman kepada Kristus sebagai Juruselamat adalah inti keselamatan, sementara doktrin seperti keperawanan abadi Maria adalah keyakinan tambahan yang tidak bertentangan dengan iman.
Kesimpulan
Luther mempertahankan keperawanan abadi Maria karena ia melihatnya sejalan dengan tradisi Kristen awal dan Kitab Suci, serta sebagai bagian dari penghormatan terhadap peran unik Maria dalam sejarah keselamatan. Namun, seperti doktrin lainnya tentang Maria, Luther tidak menganggapnya sebagai hal yang menentukan bagi keselamatan. Bagi Luther, Maria tetap menjadi teladan iman yang luar biasa, tetapi fokus utamanya selalu pada Kristus dan Injil keselamatan.
================================================
Doktrin-doktrin Katolik apa yang tidak dipercayai Luther setelah Reformasi, dan kapan terjadinya perubahan pandangan itu?
Jawaban ChatGPT:
Martin Luther, seorang tokoh kunci dalam Reformasi Protestan pada abad ke-16, menolak beberapa doktrin penting Gereja Katolik. Berikut adalah doktrin-doktrin utama yang ditolak Luther, bersama dengan waktu dan alasan di balik perubahan pandangannya:
1. Doktrin tentang Otoritas Paus
a. Ditolak: Sekitar tahun 1517–1520, ketika Luther mulai menentang penjualan indulgensi.
b. Alasan: Luther percaya bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi dalam iman Kristen, bukan Paus atau tradisi Gereja. Ini tercermin dalam prinsip sola scriptura (hanya Alkitab).
2. Indulgensi
a. Ditolak: Tahun 1517, dengan diterbitkannya 95 Tesis.
b. Alasan: Luther mengkritik praktik jual beli indulgensi yang diklaim dapat membebaskan jiwa dari purgatorium. Ia menganggap hal ini merusak doktrin keselamatan.
3. Keselamatan melalui Perbuatan
a. Ditolak: Sekitar 1518–1521, terutama dalam debatnya dengan teolog Katolik Johann Eck.
b. Alasan: Luther menegaskan bahwa keselamatan diperoleh hanya melalui iman (sola fide), bukan melalui kombinasi iman dan perbuatan baik.
4. Transubstansiasi
a. Ditolak: Sekitar 1520-an.
b. Pandangan Alternatif: Luther menerima kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi, tetapi melalui konsep konsubstansiasi, bukan transubstansiasi. Ia menolak gagasan bahwa roti dan anggur secara substansial berubah menjadi tubuh dan darah Kristus.
5. Purgatorium
a. Ditolak: Sekitar 1521, setelah ekskomunikasinya.
b. Alasan: Luther tidak menemukan dasar Alkitab yang kuat untuk keberadaan purgatorium dan menganggapnya sebagai spekulasi teologis.
6. Keimaman Khusus
a. Ditolak: Tahun 1520, terutama dalam pamfletnya "To the Christian Nobility of the German Nation".
b. Alasan: Luther menekankan doktrin imamat semua orang percaya, yang menyatakan bahwa setiap orang Kristen memiliki akses langsung kepada Allah tanpa perantaraan imam.
7. Sakramen-Sakramen
a. Ditolak: Antara 1520–1521, Luther mempertanyakan validitas sakramen-sakramen yang tidak memiliki dasar Alkitab yang jelas.
b. Pandangan Alternatif: Ia hanya menerima dua sakramen: baptisan dan Perjamuan Kudus, karena keduanya didasarkan pada perintah langsung Kristus.
8. Dogma Maria
a. Ditolak: Sebagian.
b. Pandangan Alternatif: Luther tetap menghormati Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos) tetapi menolak doktrin seperti Imakulata Konsepsi dan Pengangkatan Maria ke Surga, karena tidak memiliki dasar Alkitab.
9. Kanon Alkitab
a. Ditolak: Luther menolak beberapa kitab deuterokanonika (disebut sebagai Apokrifa oleh Protestan) sebagai bagian dari Kitab Suci yang setara dengan Perjanjian Lama lainnya.
b. Waktu: Sekitar 1522, saat menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman.
Kronologi Penting:
1. 1517: Awal Reformasi dengan 95 Tesis.
2. 1520: Pamflet-pamflet utama seperti ‘Address to the Christian Nobility’, ‘The Babylonian Captivity of the Church’, dan ‘The Freedom of a Christian’.
3. 1521: Ekskomunikasi Luther oleh Paus Leo X melalui bulla Exsurge Domine dan Diet of Worms.
Pandangan Luther terus berkembang hingga akhir hayatnya, tetapi prinsip-prinsip utama ini menjadi fondasi teologi Protestan yang bertahan hingga kini.
================================================
David Schaff: “He also dealt an effectual blow at Cardinal Albrecht of Mainz, who had exposed in Halle a collection of nearly nine thousand wondrous relics (including the manna in the wilderness, the burning bush of Moses, and jars from the wedding at Cana) to the view of pilgrims, with the promise of a ‘surpassing’ indulgence for attendance and a charitable contribution to the Collegiate Church. Luther disregarded the fact that his own pious Elector had arranged a similar exhibition in Wittenberg only a few years before, and prepared a fierce protest against the ‘Idol of Indulgences’ (October, 1521). Spalatin and the Elector protested against the publication, but he wrote to Spalatin: ‘I will not put up with it. I will rather lose you and the prince himself, and every living being. If I have stood up against the Pope, why should I yield to his creature?’ At the same time he addressed a sharp letter to the archbishop (Dec. 1), and reminded him that by this time he ought to know that indulgences were mere knavery and trickery; that Luther was still alive; that bishops, before punishing priests for marrying, better first expel their own mistresses. He threatened him with the issue of the book against the Idol of Halle. The archbishop submitted, and made a humble apology in a letter of Dec. 21, which shows what a power Luther had acquired over him.” [= Luther juga melancarkan serangan yang efektif terhadap Kardinal Albrecht dari Mainz, yang di Halle memamerkan hampir sembilan ribu relics ajaib (termasuk manna di padang gurun, semak terbakar Musa, dan kendi dari pernikahan di Kana) kepada para peziarah. Kardinal itu menjanjikan indulgensi yang ‘melimpah’ bagi mereka yang hadir dan memberikan sumbangan amal kepada Gereja Kolegiat. Luther, meskipun mengetahui bahwa Elektor yang saleh di daerahnya sendiri pernah menyelenggarakan pameran serupa di Wittenberg beberapa tahun sebelumnya, tetap mempersiapkan protes keras terhadap apa yang ia sebut ‘Berhala Indulgensi’ (Oktober 1521). Spalatin dan Elektor memperingatkan Luther agar tidak menerbitkan protes itu, tetapi Luther menulis kepada Spalatin: ‘Aku tidak akan mentolerir ini. Lebih baik aku kehilangan kamu, sang pangeran sendiri, dan semua makhluk hidup. Jika aku telah berdiri melawan Paus, mengapa aku harus menyerah pada makhluknya?’ Pada saat yang sama, Luther mengirim surat tajam kepada uskup agung pada 1 Desember, dan mengingatkannya bahwa, pada saat ini, ia seharusnya sudah memahami bahwa indulgensi hanyalah tipu daya dan penipuan; bahwa Luther masih hidup; bahwa para uskup sebelum menghukum imam / pastor yang menikah, mereka sebaiknya terlebih dahulu membuang / mengusir gundik mereka sendiri. Ia mengancamnya untuk menerbitkan buku melawan ‘Berhala Halle.’ Ancaman Luther terbukti ampuh. Uskup agung menyerah dan menyampaikan permintaan maaf yang rendah hati dalam surat tertanggal 21 Desember. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh yang telah Luther peroleh terhadapnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 339-340.
Catatan: Gereja Kolegiat / Kolese = gereja yang dikelola oleh sekelompok klerus atau rohaniwan (college of canons) yang tinggal bersama sebagai komunitas, tetapi gereja tersebut tidak dipimpin oleh seorang uskup.
David Schaff: “§ 62. Luther’s Translation of the Bible. ... The richest fruit of Luther’s leisure in the Wartburg, and the most important and useful work of his whole life, is the translation of the New Testament, by which he brought the teaching and example of Christ and the Apostles to the mind and heart of the Germans in life-like reproduction. It was a republication of the gospel. He made the Bible the people’s book in church, school, and house. If he had done nothing else, he would be one of the greatest benefactors of the German-speaking race.” [= § 62. Terjemahan Alkitab oleh Luther. ... Buah paling berharga dari masa senggang Luther di Wartburg, sekaligus karya paling penting dan bermanfaat dalam sepanjang hidupnya, adalah terjemahan Perjanjian Baru, dengan mana ia membawa ajaran dan teladan Kristus serta para Rasul ke dalam pikiran dan hati orang-orang Jerman dengan reproduksi yang hidup. Ini adalah penerbitan ulang dari Injil. Luther menjadikan Alkitab sebagai buku bagi rakyat, di gereja, sekolah, dan rumah. Bahkan jika ia tidak melakukan apa-apa lagi, ia tetap akan dikenang sebagai salah satu pemberi manfaat terbesar bagi bangsa yang berbicara bahasa Jerman.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 340-341.
David Schaff: “His version was followed by Protestant versions in other languages, especially the French, Dutch, and English. The Bible ceased to be a foreign book in a foreign tongue, and became naturalized, and hence far more clear and dear to the common people. Hereafter the Reformation depended no longer on the works of the Reformers, but on the book of God, which everybody could read for himself as his daily guide in spiritual life. This inestimable blessing of an open Bible for all, without the permission or intervention of pope and priest, marks an immense advance in church history, and can never be lost.” [= Versinya diikuti oleh terjemahan Alkitab Protestan dalam bahasa-bahasa lain, terutama Perancis, Belanda, dan Inggris. Alkitab tidak lagi menjadi buku asing dalam bahasa yang asing, dan menjadi penggunaan umum, sehingga jauh lebih jelas dan akrab bagi masyarakat umum. Mulai saat itu, Reformasi tidak lagi bergantung pada karya-karya para Reformator, tetapi pada Kitab Allah, yang dapat dibaca oleh setiap orang sebagai panduan harian dalam kehidupan rohani. Berkat yang tak ternilai dari Alkitab yang terbuka bagi semua orang ini, tanpa memerlukan izin atau campur tangan paus dan imam, menandai kemajuan besar dalam sejarah gereja, dan tidak akan pernah hilang.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 341.
David Schaff: “Earlier Versions. Luther was not the first, but by far the greatest translator of the German Bible, and is as inseparably connected with it as Jerome is with the Latin Vulgate. He threw the older translation into the shade and out of use, and has not been surpassed or even equaled by a successor. There are more accurate versions for scholars (as those of De Wette and Weizsaecker), but none that can rival Luther’s for popular authority and use.” [= VERSI-VERSI SEBELUMNYA. Luther bukanlah penerjemah Alkitab Jerman yang pertama, tetapi ia adalah yang terbesar, dan namanya tak terpisahkan dari Alkitab Jerman, sebagaimana nama Jerome terkait dengan Vulgata Latin. Ia membuat terjemahan yang lebih lama / kuno menjadi kurang relevan dan akhirnya tidak lagi digunakan. Hingga kini, belum ada penerjemah yang mampu melampaui atau bahkan menyamai karyanya. Memang ada versi yang lebih akurat untuk kalangan akademisi (seperti terjemahan De Wette dan Weizsäcker), tetapi tidak ada yang dapat menandingi otoritas dan penggunaan populer dari terjemahan Luther.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 342.
David Schaff: “The civilization of the barbarians in the dark ages began with the introduction of Christianity, and the translation of such portions of the Scriptures as were needed in public worship. The Gothic Bishop Wulfila or Woelflein (i.e., Little Wolf) in the fourth century translated nearly the whole Bible from the Greek into the Gothic dialect. It is the earliest monument of Teutonic literature, and the basis of comparative Teutonic philology.” [= Peradaban kaum barbar pada Abad Kegelapan dimulai dengan pengenalan agama Kristen dan penerjemahan bagian-bagian Kitab Suci yang diperlukan untuk ibadah umum. Uskup Goth, Wulfila atau Woelflein (yang berarti ‘Serigala Kecil’), pada abad keempat menerjemahkan hampir seluruh Alkitab dari bahasa Yunani ke dalam dialek Gothik. Karya ini merupakan monumen tertua dalam sastra Teutonik dan menjadi dasar bagi filologi perbandingan bahasa Teutonik (suku Jerman kuno).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 342
David Schaff: “During the fourteenth century some unknown scholars prepared a new translation of the whole Bible into the Middle High German dialect. It slavishly follows the Latin Vulgate. It may be compared to Wiclif’s English Version (1380), which was likewise made from the Vulgate, the original languages being then almost unknown in Europe. A copy of the New Testament of this version has been recently published, from a manuscript in the Premonstratensian convent of Tepl in Bohemia. Another copy is preserved in the college library at Freiberg in Saxony. Both are from the fourteenth century, and agree almost word for word with the first printed German Bible, but contain, besides the New Testament, the apocryphal letter of St. Paul to the Laodiceans, which is a worthless compilation of a few sentences from the genuine writings of the apostle.” [= Pada abad keempat belas, beberapa sarjana yang tidak dikenal mempersiapkan suatu terjemahan baru dari seluruh Alkitab ke dalam dialek Jerman Tinggi Pertengahan. Terjemahan ini mengikuti Vulgata Latin secara harafiah. Karya ini dapat dibandingkan dengan Versi Inggris Wiclif (1380), yang juga diterjemahkan dari Vulgata karena bahasa-bahasa asli Alkitab hampir tidak dikenal di Eropa pada masa itu. Sebuah salinan Perjanjian Baru dari versi ini baru-baru ini diterbitkan dari sebuah manuskrip yang ditemukan di biara Premonstratensian di Tepl, Bohemia. Salinan lainnya disimpan di perpustakaan perguruan tinggi di Freiberg, Saxony. Keduanya berasal dari abad keempat belas dan hampir identik kata demi kata dengan Alkitab Jerman cetakan pertama, tetapi selain Perjanjian Baru, salinan ini juga mencakup surat apokrif Santo Paulus kepada jemaat Laodikia, yang merupakan kompilasi tak ada nilainya dari beberapa kalimat dalam tulisan asli sang rasul.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 342-343.
David Schaff: “After the invention of the printing-press, and before the Reformation, this mediaeval German Bible was more frequently printed than any other except the Latin Vulgate. No less than seventeen or eighteen editions appeared between 1462 and 1522, at Strassburg, Augsburg, Nuernberg, Coeln, Luebeck, and Halberstadt (fourteen in the High, three or four in the Low German dialect). Most of them are in large folio, in two volumes, and illustrated by wood-cuts. The editions present one and the same version (or rather two versions, - one High German, the other Low German) with dialectical alterations and accommodations to the textual variations of the MSS. of the Vulgate, which was in a very unsettled condition before the Clementine recension (1592). The revisers are as unknown as the translators.” [= Setelah penemuan mesin cetak dan sebelum Reformasi, Alkitab Jerman abad pertengahan ini lebih sering dicetak dibandingkan Alkitab lainnya, kecuali Vulgata Latin. Tidak kurang dari tujuh belas atau delapan belas edisi diterbitkan antara tahun 1462 dan 1522, di Strassburg, Augsburg, Nürnberg, Köln, Lübeck, dan Halberstadt (empat belas dalam dialek Jerman Tinggi, tiga atau empat dalam dialek Jerman Rendah). Sebagian besar diterbitkan dalam format folio besar, terdiri dari dua volume, dan dilengkapi dengan ilustrasi berupa ukiran kayu. Edisi-edisi tersebut menghadirkan satu versi yang sama (atau lebih tepatnya dua versi - satu dalam bahasa Jerman Tinggi dan satu dalam bahasa Jerman Rendah) dengan perubahan dialek serta penyesuaian terhadap variasi teks dalam manuskrip Vulgata, yang berada dalam kondisi sangat tidak stabil sebelum revisi Clementine (1592). Baik penyunting maupun penerjemahnya tetap tidak diketahui.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 343-344.
David Schaff: “The spread of this version, imperfect as it was, proves the hunger and thirst of the German people for the pure word of God, and prepared the way for the Reformation. It alarmed the hierarchy. Archbishop Berthold of Mainz, otherwise a learned and enlightened prelate, issued, Jan. 4, 1486, a prohibition of all unauthorized printing of sacred and learned books, especially the German Bible, within his diocese, giving as a reason that the German language was incapable of correctly rendering the profound sense of Greek and Latin works, and that laymen and women could not understand the Bible. Even Geiler of Kaisersberg, who sharply criticised the follies of the world and abuses of the Church, thought it ‘an evil thing to print the Bible in German.’” [= Penyebaran versi ini, meskipun tidak sempurna, membuktikan adanya kelaparan dan dahaga rakyat Jerman akan firman Allah yang murni, sekaligus mempersiapkan jalan bagi Reformasi. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan hierarki gereja. Uskup Agung Berthold dari Mainz, yang sebenarnya adalah seorang prelatus yang terpelajar dan tercerahkan, mengeluarkan larangan pada 4 Januari 1486 terhadap semua pencetakan yang tidak berotoritas dari kitab-kitab suci dan ilmiah, terutama Alkitab dalam bahasa Jerman, di dalam wilayah keuskupannya, dengan alasan bahwa bahasa Jerman tidak mampu menyampaikan makna mendalam dari karya-karya berbahasa Yunani dan Latin dengan benar, dan bahwa kaum awam dan perempuan tidak dapat memahami Alkitab. Bahkan Geiler dari Kaisersberg, yang dengan tajam mengkritik kebodohan dunia dan penyalahgunaan dalam Gereja, menganggap bahwa ‘mencetak Alkitab dalam bahasa Jerman adalah hal yang jahat.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 344
David Schaff: “Besides the whole Bible, there were numerous German editions of the Gospels and Epistles (Plenaria), and the Psalter, all made from the Vulgate.” [= Selain seluruh Alkitab, terdapat banyak edisi bahasa Jerman dari Injil dan Surat-Surat (disebut Plenaria), serta Mazmur, yang semuanya dibuat berdasarkan Vulgata.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 344.
David Schaff: “Luther could not be ignorant of this mediaeval version. He made judicious use of it, as he did also of old German and Latin hymns. Without such aid he could hardly have finished his New Testament in the short space of three months. But this fact does not diminish his merit in the least; for his version was made from the original Hebrew and Greek, and was so far superior in every respect that the older version entirely disappeared. It is to all intents a new work.” [= Luther pasti tahu tentang versi abad pertengahan ini. Ia memanfaatkannya dengan bijak, sebagaimana ia juga memanfaatkan himne-himne lama dalam bahasa Jerman dan Latin. Tanpa bantuan semacam itu, hampir mustahil baginya untuk menyelesaikan Perjanjian Baru dalam waktu singkat, hanya tiga bulan. Namun, fakta ini sama sekali tidak mengurangi jasanya; sebab terjemahannya dibuat langsung dari bahasa asli, yaitu Ibrani dan Yunani, dan dalam segala hal jauh lebih unggul sehingga versi yang lebih lama sepenuhnya menghilang. Terjemahan Luther ini, dalam segala pengertian, adalah sebuah karya baru.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 344.
David Schaff: “Luther’s Qualifications. Luther had a rare combination of gifts for a Bible translator: familiarity with the original languages, perfect mastery over the vernacular, faith in the revealed word of God, enthusiasm for the gospel, unction of the Holy Spirit. A good translation must be both true and free, faithful and idiomatic, so as to read like an original work. This is the case with Luther’s version. Besides, he had already acquired such fame and authority that his version at once commanded universal attention.” [= KUALIFIKASI LUTHER. Luther memiliki kombinasi bakat yang langka sebagai penerjemah Alkitab: keakraban dengan bahasa aslinya, penguasaan sempurna atas bahasa sehari-hari, iman yang kokoh pada firman Allah yang diwahyukan, antusiasme terhadap Injil, dan urapan Roh Kudus. Terjemahan yang baik harus sekaligus benar dan bebas, setia pada teks aslinya namun tetap idiomatik, sehingga terbaca seperti karya asli. Inilah kasusnya dalam versi Luther. Selain itu, Luther sudah memiliki reputasi dan otoritas yang sedemikian besar sehingga terjemahannya langsung menarik perhatian luas.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 345.
David Schaff: “His knowledge of Greek and Hebrew was only moderate, but sufficient to enable him to form an independent judgment. What he lacked in scholarship was supplied by his intuitive genius and the help of Melanchthon. In the German tongue he had no rival. He created, as it were, or gave shape and form to the modern High German. He combined the official language of the government with that of the common people. He listened, as he says, to the speech of the mother at home, the children in the street, the men and women in the market, the butcher and various tradesmen in their shops, and, ‘looked them on the mouth,’ in pursuit of the most intelligible terms. His genius for poetry and music enabled him to reproduce the rhythm and melody, the parallelism and symmetry, of Hebrew poetry and prose. His crowning qualification was his intuitive insight and spiritual sympathy with the contents of the Bible. A good translation, he says, requires ‘a truly devout, faithful, diligent, Christian, learned, experienced, and practiced heart.’” [= Pengetahuan Luther tentang bahasa Yunani dan Ibrani hanya pada tingkat moderat, tetapi cukup untuk memungkinkan dia membentuk penilaian independen. Apa yang kurang dalam keilmuan formalnya dilengkapi oleh kejeniusannya yang intuitif dan bantuan dari Melanchthon. Dalam bahasa Jerman, ia tidak memiliki tandingan. Luther seolah-olah menciptakan, atau setidaknya memberikan bentuk dan struktur, kepada Jerman Tinggi modern. Ia menggabungkan bahasa resmi pemerintah dengan bahasa rakyat biasa. Seperti yang dikatakannya, ia mendengarkan cara berbicara para ibu di rumah, anak-anak di jalan, pria dan wanita di pasar, tukang daging, dan berbagai pedagang di toko mereka, serta ‘mengamati mulut mereka’ untuk mencari istilah yang paling mudah dipahami. Kejeniusannya dalam puisi dan musik memungkinkannya untuk mereproduksi ritme dan melodi, paralelisme, serta simetri dari puisi dan prosa Ibrani. Kualifikasi puncaknya adalah wawasan intuitif dan simpati rohaninya terhadap isi Alkitab. Luther berkata bahwa terjemahan yang baik membutuhkan ‘hati yang benar-benar berbakti / sungguh-sungguh, setia, rajin, Kristen, terpelajar, berpengalaman, dan terlatih.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 345.
=================================================
Pertanyaan: Apa perbedaan terjemahan Luther (1483-1546) dan Wycliffe (1328-1384) dan Tyndale (1494-1536)?
Jawaban ChatGPT:
Perbedaan utama antara terjemahan
Martin Luther, John Wycliffe, dan William Tyndale terletak pada latar belakang
sejarah, metode penerjemahan, dan dampak yang mereka miliki dalam perkembangan
bahasa dan agama. Berikut perbedaan dari ketiganya:
1. Sumber Teks
a. Luther (1522 Perjanjian Baru; 1534 seluruh Alkitab): Luther menerjemahkan langsung dari teks-teks asli Alkitab - dari Ibrani untuk Perjanjian Lama dan Yunani untuk Perjanjian Baru. Hal ini dimungkinkan oleh kemajuan pembelajaran bahasa asli pada masa Renaissance, serta tersedia edisi cetak dari teks Yunani yang dikompilasi oleh Erasmus.
b. Wycliffe (1380-an): Wycliffe menerjemahkan Alkitab dari Vulgata Latin, karena terjemahan langsung dari bahasa asli masih jarang dilakukan di Eropa Barat pada abad ke-14. Metode ini membuat terjemahan Wycliffe bersifat lebih interpretatif, tergantung pada pilihan kata dan gaya bahasa dari Vulgata.
c. Tyndale (1525-1536): Tyndale, seperti Luther, menggunakan teks-teks asli dalam bahasa Ibrani dan Yunani untuk menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Ini menjadikannya penerjemah Alkitab Inggris pertama yang bekerja langsung dari bahasa asli dan memungkinkan terjemahannya lebih akurat dan hidup.
2. Bahasa dan Gaya
a. Luther: Luther menekankan penerjemahan yang berfokus pada kesederhanaan dan kejelasan, serta bahasa yang dapat dipahami oleh masyarakat Jerman sehari-hari. Ia sering menggunakan ungkapan dan idiom yang populer di kalangan orang Jerman untuk membantu mereka lebih memahami teks, membuat Alkitab Luther sangat berpengaruh dalam perkembangan bahasa Jerman standar.
b. Wycliffe: Terjemahan Wycliffe cenderung lebih literal, mengikuti bahasa Latin Vulgata, dan sering kali sulit dipahami karena gaya bahasa Latin tidak selaras dengan struktur bahasa Inggris pada saat itu. Selain itu, gaya bahasanya cukup formal dan cenderung kaku karena sangat dipengaruhi oleh Vulgata.
c. Tyndale: Tyndale menekankan gaya bahasa yang lincah, hidup, dan terhubung dengan pembaca. Ia sangat berbakat dalam menciptakan frasa-frasa yang mudah diingat dalam bahasa Inggris, seperti ‘Let there be light.’ Terjemahannya menjadi dasar bagi Alkitab King James Version (KJV) di kemudian hari, dan frasa-frasa ciptaannya banyak yang tetap bertahan hingga sekarang.
3. Dampak Terjemahan
a. Luther: Terjemahan Luther sangat berpengaruh di Jerman, tidak hanya dalam konteks agama tetapi juga bahasa dan budaya. Terjemahannya memperkuat Reformasi Protestan di Jerman dan membantu mengkonsolidasikan bahasa Jerman standar.
b. Wycliffe: Karena diterjemahkan ke bahasa Inggris dan didistribusikan di bawah ancaman penganiayaan, terjemahan Wycliffe menandai awal gerakan untuk membuat Alkitab dapat diakses oleh masyarakat awam Inggris. Meski dilarang oleh otoritas gereja, terjemahannya menginspirasi lebih banyak upaya untuk mempelajari Alkitab dalam bahasa sehari-hari.
c. Tyndale: Terjemahan Tyndale menjadi sangat berpengaruh dalam Reformasi Inggris, meskipun ia menghadapi penganiayaan berat dan akhirnya dihukum mati. Namun, banyak karya Tyndale dimasukkan ke dalam Alkitab King James Version, menjadikannya salah satu figur utama dalam penyebaran teks Alkitab ke dunia berbahasa Inggris.
4. Respon Gereja dan Pemerintah
a. Luther: Gereja Katolik tidak menyetujui terjemahan Luther karena menganggapnya mendukung doktrin Protestan. Meskipun ada perlawanan, terjemahannya terus menyebar di Jerman.
b. Wycliffe: Terjemahan Wycliffe dianggap ilegal oleh Gereja Katolik Inggris dan dilarang. Setelah kematian Wycliffe, pemerintah Inggris bahkan melarang terjemahan bahasa Inggris yang lain.
c. Tyndale: Tyndale dianiaya dan akhirnya dihukum mati karena upayanya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris. Terjemahannya sempat dilarang di Inggris, tetapi setelah Reformasi Inggris, terjemahan tersebut kemudian memengaruhi KJV.
Ketiganya menjadi pelopor dalam penerjemahan Alkitab ke bahasa sehari-hari, meskipun dengan pendekatan yang berbeda dan menghadapi tantangan yang beragam sesuai konteks zamannya masing-masing.
=================================================
Pertanyaan: Siapa menterjemahkan alkitab lebih dulu, Luther atau Tyndale?
Jawaban ChatGPT:
Martin Luther menerjemahkan Alkitab lebih dulu dibandingkan William Tyndale. Berikut adalah garis waktu singkat untuk kedua tokoh tersebut:
Martin Luther
1. Luther mulai menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman pada tahun 1521 selama masa pembuangannya di Kastil Wartburg.
2. Perjanjian Baru terjemahan Luther diterbitkan pada 1522.
3. Terjemahan lengkap Alkitab ke dalam bahasa Jerman oleh Luther (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) selesai pada 1534.
William Tyndale
1. William Tyndale menerjemahkan Perjanjian Baru dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris. Terjemahan ini selesai dan diterbitkan pada 1526.
2. Tyndale melanjutkan pekerjaannya dengan menerjemahkan sebagian besar Perjanjian Lama, tetapi dia tidak sempat menyelesaikannya karena dieksekusi pada 1536.
Kesimpulan
Martin Luther adalah yang lebih dulu menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman (1522) dibandingkan William Tyndale yang menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris (1526).
=================================================
Pertanyaan: Mengapa Tyndale dihukum mati?
Jawaban ChatGPT:
William Tyndale dihukum mati karena terjemahannya atas Alkitab ke dalam bahasa Inggris dianggap sebagai ancaman terhadap otoritas Gereja Katolik dan pemerintah Inggris pada waktu itu. Beberapa alasan utama yang menyebabkan hukuman mati terhadap Tyndale meliputi:
1. Pelanggaran terhadap larangan Gereja Katolik: Pada masa itu, Gereja Katolik melarang penerjemahan Alkitab ke bahasa-bahasa selain Latin tanpa izin resmi. Gereja menganggap hanya para imam dan pejabat gereja yang berwenang untuk menginterpretasikan Alkitab, dengan keyakinan bahwa teks suci tersebut terlalu kompleks untuk dipahami oleh orang awam. Terjemahan Tyndale mengancam kekuasaan gereja, karena memungkinkan orang awam membaca dan memahami Alkitab secara langsung, tanpa bergantung pada interpretasi gerejawi.
2. Pengaruh Reformasi Protestan: Tyndale adalah pendukung ide-ide Martin Luther dan gerakan Reformasi Protestan, yang menekankan bahwa setiap orang Kristen memiliki hak untuk membaca dan menginterpretasikan Alkitab sendiri. Gagasan ini bertentangan langsung dengan ajaran Gereja Katolik. Tyndale juga menulis pamflet dan karya lain yang mengkritik beberapa ajaran Katolik, seperti penjualan indulgensi dan kekuasaan paus.
3. Penerjemahan yang dianggap subversif: Beberapa pilihan kata dalam terjemahan Tyndale dianggap kontroversial oleh otoritas gereja. Misalnya, ia menerjemahkan kata Yunani ‘ekklesia’ sebagai ‘congregation’ (jemaat) daripada ‘church’ (gereja), yang menyiratkan bahwa umat Kristen bisa menjadi bagian dari komunitas tanpa berada di bawah otoritas Gereja Katolik.
4. Perlawanan dari otoritas Inggris: Henry VIII, raja Inggris pada waktu itu, awalnya adalah pendukung Gereja Katolik dan melawan terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Inggris karena dianggap dapat mendorong pemberontakan dan perpecahan di dalam negeri. Meskipun pada akhirnya Henry VIII sendiri memutuskan untuk memisahkan gereja Inggris dari Gereja Katolik pada tahun 1534, penerjemahan Tyndale yang bersifat subversif telah dianggap berbahaya dan memberontak terhadap otoritas raja.
5. Pengkhianatan dan penangkapan: Setelah bertahun-tahun bersembunyi, Tyndale ditangkap di Antwerp, Belgia, pada tahun 1535 setelah dikhianati oleh seorang informan. Setelah ditahan selama hampir satu tahun, ia diadili atas tuduhan bidat (heresy) dan dianggap sebagai ancaman terhadap gereja dan negara.
Tyndale akhirnya dihukum mati dengan cara dicekik dan tubuhnya dibakar pada tahun 1536. Sebelum kematiannya, ia dilaporkan berkata, ‘Tuhan, bukalah mata Raja Inggris,’ yang dianggap sebagai doa agar rakyat Inggris suatu hari nanti dapat membaca Alkitab dalam bahasa mereka sendiri.
=================================================
Pertanyaan: Mengapa raja Henry VIII memisahkan diri dari gereja Katolik?
Jawaban ChatGPT:
Raja Henry VIII dari Inggris memisahkan diri dari Gereja Katolik pada abad ke-16 terutama karena konflik dengan Paus terkait masalah pernikahannya, meskipun ada juga alasan politik dan ekonomi. Berikut penjelasan lebih rinci:
1. Masalah Pernikahan
a. Keinginan untuk Anulasi Pernikahan dengan Catherine of Aragon: Henry VIII ingin membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon karena dia tidak memberinya seorang pewaris laki-laki. Putri mereka, Mary, dianggap tidak cukup untuk menjamin stabilitas dinasti Tudor.
b. Penolakan Paus Clement VII: Paus menolak memberikan anulasi pernikahan tersebut. Salah satu alasannya adalah tekanan dari Kaisar Romawi Suci, Charles V, yang merupakan keponakan Catherine.
2. Keinginan untuk Pewaris Laki-laki
Henry VIII ingin menikahi Anne Boleyn, seorang wanita yang dia harapkan akan memberinya anak laki-laki. Penolakan Paus terhadap anulasi menghalangi rencana ini.
3. Motif Politik
a. Kedaulatan Inggris: Henry VIII memandang kontrol Paus atas gereja di Inggris sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan otoritas kerajaan. Dengan memisahkan diri, Henry menghilangkan kekuasaan asing atas urusan dalam negerinya.
b. Kontrol atas Gereja Inggris: Dengan memisahkan diri, Henry menjadi kepala tertinggi Gereja Inggris, memberinya kendali penuh atas masalah keagamaan dan politik di kerajaannya.
4. Motif Ekonomi
Akses ke Kekayaan Gereja: Gereja Katolik memiliki kekayaan besar di Inggris, termasuk tanah dan properti. Dengan memutus hubungan dengan Roma, Henry dapat menyita aset-aset ini untuk mengisi kas kerajaan.
Tindakan Henry VIII
(1) Pada 1534, melalui Act of Supremacy, Henry VIII mendeklarasikan dirinya sebagai Kepala Tertinggi Gereja Inggris. Ini secara resmi memutuskan hubungan dengan Roma.
(2) Dia kemudian mendirikan Gereja Inggris (Anglican Church), yang tetap mempertahankan banyak elemen liturgi Katolik tetapi berada di bawah kendali raja.
Dampak
Pemisahan ini memicu perubahan besar dalam lanskap agama Inggris, termasuk Reformasi Inggris, konflik dengan umat Katolik, dan pembentukan identitas Protestan Inggris. Perpecahan ini juga menciptakan ketegangan yang berlangsung selama berabad-abad.
=================================================
Pertanyaan: apakah ada dua jenis gereja Anglikan?
Jawaban ChatGPT:
Secara umum, Gereja Anglikan adalah satu kesatuan gereja yang berakar pada Reformasi Inggris dan diorganisasi di bawah Komuni Anglikan. Namun, dalam praktiknya, Gereja Anglikan mencakup berbagai tradisi dan praktik yang cukup beragam. Hal ini sering dianggap sebagai ‘dua jenis’ atau bahkan lebih dalam hal pendekatan teologis dan liturgis.
1. Low Church dan Evangelical Anglicanism
a. Ciri Utama:
(1) Lebih sederhana dalam liturgi dan ibadah, menekankan pengajaran Alkitab.
(2) Dekat dengan tradisi Protestan, termasuk fokus pada keselamatan melalui iman.
(3) Penekanan pada penginjilan dan studi Alkitab.
b. Pengaruh: Terinspirasi oleh tradisi Puritan dan Reformasi Protestan.
c. Contoh: Banyak paroki di Gereja Inggris (Church of England) atau gereja-gereja Anglikan di Amerika Utara dan Afrika.
2. High Church atau Anglo-Catholicism
a. Ciri Utama:
(1) Liturgi yang lebih kaya, sering kali mirip dengan Gereja Katolik Roma.
(2) Penekanan pada sakramen, khususnya Ekaristi (Perjamuan Kudus), dan tradisi gereja awal.
(3) Adopsi elemen-elemen seperti pakaian liturgis, salib, dan lilin.
b. Pengaruh: Mendekati tradisi Katolik Roma, dipengaruhi oleh Gerakan Oxford pada abad ke-19.
c. Contoh: Paroki Anglo-Katolik di Inggris, Australia, dan Amerika.
Komponen Lain
Selain Low Church dan High Church, ada juga istilah Broad Church yang menggambarkan pendekatan Anglikan yang inklusif dan moderat, menerima berbagai pandangan teologis.
Komuni Anglikan Global
Gereja Anglikan terdiri dari provinsi-provinsi independen di seluruh dunia, seperti:
(1) Gereja Inggris (Church of England).
(2) Gereja Episkopal di Amerika Serikat (The Episcopal Church).
(3) Gereja Anglikan di berbagai negara seperti Afrika, Asia, dan Pasifik.
Perpecahan dalam Gereja Anglikan
Dalam beberapa dekade terakhir, muncul kelompok-kelompok yang memisahkan diri dari Komuni Anglikan utama karena isu teologis dan moral, seperti pandangan tentang:
(a) Pernikahan sesama jenis.
(b) Peran perempuan dalam kepemimpinan gereja (misalnya, penahbisan perempuan sebagai uskup).
Kesimpulan: Secara formal, Gereja Anglikan tidak terpecah menjadi dua jenis gereja yang sepenuhnya berbeda, tetapi dalam praktik dan teologi terdapat perbedaan besar antara ‘Low Church’ yang lebih Protestan dan ‘High Church’ yang lebih Katolik. Beragam tradisi ini mencerminkan sifat inklusif dan fleksibel Anglikanisme.
=================================================
Pertanyaan: Anglikan yang mana yang didirikan oleh Henry VIII?
Jawaban ChatGPT:
Gereja Anglikan yang didirikan oleh Henry VIII adalah Gereja Inggris (Church of England), yang menjadi dasar dari Komuni Anglikan di seluruh dunia. Namun, penting untuk dipahami bahwa Gereja yang didirikan oleh Henry VIII pada awalnya lebih merupakan reorganisasi gereja Katolik di Inggris, dengan beberapa perubahan teologis dan administratif.
Ciri-Ciri Gereja Anglikan pada Masa Henry VIII
1. Struktur Gereja:
a. Henry VIII tetap mempertahankan sebagian besar praktik liturgi dan doktrin Katolik, seperti penggunaan misa dan penghormatan kepada sakramen.
b. Perubahan utama adalah penghapusan otoritas Paus dan deklarasi bahwa Raja Inggris adalah kepala tertinggi Gereja Inggris melalui Act of Supremacy (1534).
2. Reformasi Administratif:
a. Henry menyita banyak kekayaan gereja dan membubarkan biara-biara melalui Dissolution of the Monasteries.
b. Gereja Inggris menjadi independen secara politik dan finansial dari Gereja Katolik Roma.
3. Theologi:
a. Tidak ada banyak perubahan doktrinal pada masa Henry VIII. Gereja Inggris tetap mempertahankan doktrin Katolik, termasuk transubstansiasi dalam Ekaristi.
b. Henry tetap menganggap dirinya sebagai pembela iman Katolik melawan Reformasi Protestan. Dia bahkan pernah menulis teks yang menyerang Martin Luther sebelum konflik dengan Paus.
Perkembangan Setelah Henry VIII
(1) Edward VI (1547–1553): Di bawah putra Henry, Gereja Inggris menjadi lebih Protestan, termasuk penggunaan Book of Common Prayer yang disusun oleh Thomas Cranmer.
(2) Mary I (1553–1558): Mary, putri Catherine of Aragon, berusaha mengembalikan Inggris ke Katolik Roma.
(3) Elizabeth I (1558–1603): Elizabeth memantapkan Gereja Inggris sebagai lembaga Anglikan dengan pendekatan yang lebih moderat antara Katolik dan Protestan, dikenal sebagai Via Media (jalan tengah).
Kesimpulan
Gereja Inggris yang didirikan oleh Henry VIII pada awalnya bukanlah gereja ‘baru’ dalam pengertian teologis, melainkan transformasi dari Gereja Katolik di Inggris yang independen dari otoritas Roma. Tradisi yang lebih Protestan atau lebih Katolik di dalam Anglikanisme berkembang setelah masa Henry VIII, terutama pada era pemerintahan penerusnya.
-bersambung-
432 In the royal library of Munich there are 21 MSS. of German versions of the Gospels and Epistles. The Gospels for the year were printed about 25 times before 1518; the Psalter about 13 times before 1513. See besides the works of Panzer, Kehrein, Keller, Haupt, above quoted, Alzog, Die deutschen Plenarien im 15. und zu Anfang des 16. Jahrh., Freiburg-i-B., 1874.
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin