(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 5 Nopember 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
Martin Luther(9)
================================================
R. C. Sproul: “What happened at Worms was the stuff that legends are made of. In fact legends have arisen from the events. Hollywood has given its touch of glamor to the scene. The image of Luther at Worms that prevails is that of a valiant hero defying a wicked authority structure. Luther is asked, ‘Will you recant of your writings?’ We imagine Luther standing tall, unintimidated by the officials there, and saying with fist clenched in the air, ‘Here I stand!’ Then we see him turn on his heel and walk boldly from the hall while the people cheer. He mounts his white horse and gallops off into the sunset to begin the Protestant Reformation. That is not how it happened.” [= Apa yang terjadi di Worms adalah sesuatu yang dibuat menjadi legenda. Sebenarnya, legenda-legenda telah muncul dari peristiwa tersebut. Hollywood bahkan memberikan sentuhan glamornya pada adegan itu. Gambaran Luther di Worms yang umumnya muncul adalah sosok pahlawan yang berani menentang otoritas yang jahat. Kita membayangkan Luther ditanya, ‘Apakah Anda akan menarik kembali tulisan-tulisan Anda?’ Lalu kita membayangkan Luther berdiri tegak, tidak gentar oleh para pejabat yang ada di sana, dan dengan tangan terkepal di udara berkata, ‘Di sinilah aku berdiri!’ Setelah itu, kita membayangkan dia berbalik dengan penuh keberanian dan berjalan keluar dari aula diiringi sorakan orang-orang. Dia kemudian menaiki kuda putihnya dan berlari ke arah matahari terbenam untuk memulai Reformasi Protestan. Namun, itu bukanlah apa yang terjadi.] - ‘The Holiness of God’, hal 109.
R. C. Sproul: “The first session met on April 17. The air was electric with excitement over the showdown. Luther had spoken boldly before his arrival, saying: This shall be my recantation at Worms: ‘Previously I said the pope is the vicar of Christ. I recant. Now I say the pope is the adversary of Christ and the apostle of the Devil.’ [Roland Bainton, Here I Stand (NAL, 1978).] The crowd was expecting more bold statements. They held their breath, waiting for the wild boar to go on the rampage.” [= Sesi pertama diadakan pada 17 April, dan suasana penuh ketegangan karena semua orang menantikan konfrontasi besar itu. Luther telah berbicara dengan berani sebelum kedatangannya, mengatakan: ‘Inilah pencabutan saya di Worms: Sebelumnya saya mengatakan Paus adalah wakil Kristus. Saya menarik kembali. Sekarang saya mengatakan Paus adalah musuh Kristus dan rasul Setan.’ {Roland Bainton, Here I Stand (NAL, 1978).} Kerumunan orang mengharapkan pernyataan-pernyataan yang lebih berani lagi. Mereka menahan napas, siap menyaksikan ‘babi hutan’ yang mereka bayangkan, simbol Luther dalam pandangan Gereja Katolik, mengamuk di hadapan penguasa.] - ‘The Holiness of God’, hal 109.
R. C. Sproul: “When the Imperial Diet opened, Luther stood in the center of the great hall. By his side was a table that contained his controversial books. An official asked Luther if the books were his. He replied in a voice that was barely a whisper: ‘The books are all mine, and I have written more.’ Then came the decisive question of Luther’s readiness to recant. The assembly waited for his response. There was no raised fist, no defiant challenge. Again Luther answered almost inaudibly, ‘I beg you, give me time to think it over.’ As at his first mass, Luther faltered. His confidence deserted him; the wild boar was suddenly like a whimpering pup. The emperor was shocked by the request and wondered if it might simply be a stalling tactic, a theological filibuster. Yet he granted clemency until the morrow, giving Luther twenty-four hours to think it over.” [= Ketika Diet Kekaisaran dimulai, Luther berdiri di tengah aula besar. Di sampingnya ada sebuah meja yang berisi buku-buku kontroversial karyanya. Seorang pejabat bertanya kepada Luther apakah buku-buku itu miliknya. Luther menjawab dengan suara yang hampir-hampir berbisik: ‘Buku-buku itu semua milikku, dan aku telah menulis lebih banyak lagi.’ Lalu muncul pertanyaan yang menentukan tentang kesiapannya untuk menarik kembali ajaran-ajarannya. Kumpulan orang banyak itu menunggu tanggapan Luther. Namun, tidak ada kepalan tangan yang terangkat, tidak ada tantangan yang penuh perlawanan. Sekali lagi, Luther menjawab dengan hampir tidak terdengar, ‘Saya mohon, beri saya waktu untuk memikirkannya.’ Seperti saat misa pertamanya, Luther bimbang. Keyakinannya meninggalkannya; ‘babi hutan’ yang diharapkan oleh lawan-lawannya kini tampak seperti anak anjing yang merintih. Kaisar terkejut dengan permintaan tersebut dan bertanya-tanya apakah itu hanyalah taktik untuk penundaan / mengulur waktu, semacam penundaan theologis. Namun, ia memberikan kelonggaran, memberikan Luther waktu dua puluh empat jam untuk memikirkannya hingga esok hari.] - ‘The Holiness of God’, hal 109-110.
R. C. Sproul: “That night, in the solitude of his room, Luther wrote one of the most moving prayers ever written. His prayer reveals the soul of a humble man prostrate before his God, desperately seeking the courage to stand alone before hostile men. For Luther it was a private Gethsemane: ‘O God, Almighty God everlasting! how dreadful is the world! behold how its mouth opens to swallow me up, and how small is my faith in Thee! . . . Oh! the weakness of the flesh, and the power of Satan! If I am to depend upon any strength of this world - all is over. . . . The knell is struck. . . . Sentence is gone forth. . . . O God! O God! O thou, my God! help me against all the wisdom of this world. Do this, I beseech thee; thou shouldst do this . . . by thy own mighty power. . . . The work is not mine, but Thine. I have no business here. . . . I have nothing to contend for with these great men of the world! I would gladly pass my days in happiness and peace. But the cause is Thine. . . . And it is righteous and everlasting! O Lord! help me! O faithful and unchangeable God! I lean not upon man. It were vain! Whatever is of man is tottering, whatever proceeds from him must fail. My God! my God! does thou not hear? My God! art thou no longer living? Nay, thou canst not die. Thou dost but hide Thyself. Thou hast chosen me for this work. I know it! . . . Therefore, O God, accomplish thine own will! Forsake me not, for the sake of thy well-beloved Son, Jesus Christ, my defence, my buckler, and my stronghold. Lord - where art thou? . . . My God, where art thou? . . . Come! I pray thee, I am ready . . . Behold me prepared to lay down my life for thy truth . . . suffering like a lamb. For the cause is holy. It is thine own! . . . I will not let thee go! no, nor yet for all eternity! And though the world should be thronged with devils - and this body, which is the work of thine hands, should be cast forth, trodden under foot, cut in pieces, . . . consumed to ashes, my soul is thine. Yes, I have thine own word to assure me of it. My soul belongs to thee, and will abide with thee forever! Amen! O God send help! . . . Amen!’” [= Malam itu, dalam kesendirian di ruangan / kamarnya, Luther menulis satu dari doa-doa yang paling menggerakkan yang pernah dituliskan. Doanya menyatakan jiwa dari seorang yang rendah hati bertiarap di hadapan Allahnya, dengan putus asa mencari keberanian untuk berdiri sendirian di hadapan orang-orang yang bermusuhan. Bagi Luther itu adalah suatu Getsemani pribadi: ‘Ya Allah, Allah kekal yang Mahakuasa! betapa menakutkan dunia ini! lihatlah bagaimana mulutnya terbuka untuk menelan aku, dan betapa kecil imanku kepadaMu! ... Ah! kelemahan daging, dan kuasa Iblis! Jika aku bergantung pada kekuatan apapun dari dunia ini - semua habis / selesai. ... Tanda dari kehancuran berbunyi. ... Hukuman dikeluarkan. ... Ya Allah! Ya Allah! Ya Engkau, Allahku! tolonglah aku terhadap semua hikmat dari dunia ini. Lakukan ini, aku mohon kepadaMu; Engkau harus melakukan ini ... dengan kuasaMu sendiri yang kuat. ... Pekerjaan ini bukan milikku, tetapi milikMu. Aku tidak mempunyai urusan di sini. ... Aku tidak mempunyai apa-apa untuk melawan / menentang orang-orang besar dari dunia ini! Aku dengan senang hati akan melewati hari-hariku dalam kebahagiaan dan damai. Tetapi perkara ini adalah milikMu. ... Dan ini adalah benar dan kekal! Ya Tuhan! tolonglah aku! Ya Allah yang setia dan tak berubah! Aku tidak bersandar kepada manusia. Itu sia-sia! Apapun yang dari manusia adalah goyah / tidak stabil, apapun yang keluar dari dia pasti gagal. Allahku! Allahku! apakah Engkau tidak mendengar? Allahku! apakah Engkau tidak lagi hidup? Tidak, Engkau tidak bisa mati. Engkau hanya menyembunyikan diriMu sendiri. Engkau telah memilih aku untuk pekerjaan ini. Aku tahu itu. ... Karena itu, ya Allah, laksanakanlah / selesaikanlah kehendakMu sendiri! Jangan tinggalkan aku, demi AnakMu yang kekasih, Yesus Kristus, perlindunganku, perisaiku, dan bentengku. Tuhan - dimanakah Engkau? ... Allahku, dimanakah Engkau? ... Datanglah! Aku meminta / berdoa kepadaMu, aku siap ... Lihatlah aku siap untuk meletakkan nyawaku untuk kebenaranMu ... menderita seperti seekor anak domba. Karena perkara ini adalah kudus. Itu adalah perkaraMu sendiri! ... Aku tidak akan membiarkan Engkau pergi! tidak, tidak untuk selama-lamanya! Dan sekalipun dunia harus dipenuhi dengan setan-setan - dan tubuh ini, yang adalah pekerjaan dari tanganMu, harus dihancurkan, diinjak-injak di bawah kaki-kaki, dipotong-potong, ... dibakar menjadi abu, jiwaku adalah milikMu. Ya, aku mempunyai firmanMu sendiri untuk meyakinkan aku tentang hal itu. Jiwaku adalah milikMu, dan akan tinggal bersama-sama Engkau selama-lamanya! Amin! Ya Allahku kirimkanlah pertolongan! ... Amin!’] - ‘The Holiness of God’, hal 110-111.
Bandingkan dengan:
Mat 26:31-35 - “(31) Maka berkatalah Yesus kepada mereka: ‘Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. (32) Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.’ (33) Petrus menjawabNya: ‘Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.’ (34) Yesus berkata kepadanya: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ (35) Kata Petrus kepadaNya: ‘Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.’ Semua murid yang lainpun berkata demikian juga.”.
Mat 26:36-44 - “(36) Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-muridNya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-muridNya: ‘Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.’ (37) Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus sertaNya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar, (38) lalu kataNya kepada mereka: ‘HatiKu sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.’ (39) Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari padaKu, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.’ (40) Setelah itu Ia kembali kepada murid-muridNya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: ‘Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? (41) Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.’ (42) Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kataNya: ‘Ya BapaKu jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendakMu!’ (43) Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat. (44) Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.”.
Mat 26:56b - “Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.”.
Mat 26:69-75 - “(69) Sementara itu Petrus duduk di luar di halaman. Maka datanglah seorang hamba perempuan kepadanya, katanya: ‘Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Galilea itu.’ (70) Tetapi ia menyangkalnya di depan semua orang, katanya: ‘Aku tidak tahu, apa yang engkau maksud.’ (71) Ketika ia pergi ke pintu gerbang, seorang hamba lain melihat dia dan berkata kepada orang-orang yang ada di situ: ‘Orang ini bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu.’ (72) Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: ‘Aku tidak kenal orang itu.’ (73) Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ datang kepada Petrus dan berkata: ‘Pasti engkau juga salah seorang dari mereka, itu nyata dari bahasamu.’ (74) Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: ‘Aku tidak kenal orang itu.’ Dan pada saat itu berkokoklah ayam. (75) Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: ‘Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.’ Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.”.
R. C. Sproul: “Late the next afternoon Luther returned to the hall. This time his voice did not quake or quiver. He tried to answer the question by giving a speech. His inquisitor finally demanded an answer: ‘I ask you, Martin - answer candidly and without horns - do you or do you not repudiate your books and the errors which they contain?’ Luther replied: ‘Since then Your Majesty and your lordships desire a simple reply, I will answer without horns and without teeth. Unless I am convicted by Scripture and plain reason - I do not accept the authority of popes and councils, for they have contradicted each other - my conscience is captive to the Word of God. I cannot and I will not recant anything, for to go against conscience is neither right nor safe. Here I stand, I cannot do otherwise. God help me. Amen.’” [= Agak sore / malam pada hari berikutnya, Luther kembali ke ruangan yang besar itu. Kali ini suaranya tidak gemetar. Ia berusaha untuk menjawab pertanyaan itu dengan memberikan suatu pidato. Pemeriksa / penyelidiknya akhirnya menuntut suatu jawaban: Saya bertanya kepadamu, Martin - jawablah dengan tulus / jujur dan secara sederhana - apakah kamu menyangkal buku-bukumu dan kesalahan-kesalahan yang ada di dalamnya? Luther menjawab: Karena Yang Mulia dan tuan-tuan menginginkan suatu jawaban yang sederhana, aku akan menjawab secara sederhana. Kecuali aku diyakinkan oleh Kitab Suci dan alasan yang jelas - aku tidak menerima otoritas dari Paus-Paus dan sidang-sidang gereja, karena mereka telah saling bertentangan satu dengan yang lain - hati nuraniku ditawan oleh Firman Allah. Aku tidak bisa dan aku tidak akan menarik kembali apapun, karena menentang hati nurani tidaklah benar ataupun aman. Di sinilah aku berdiri, aku tidak bisa melakukan yang lain. Allah kiranya menolong aku. Amin’.] - ‘The Holiness of God’, hal 111-112.
R. C. Sproul: “The words of a crazy man? Perhaps. The question is raised how one man dare stand against pope and emperor, councils and creeds, against the entire organized authority of Christendom. What arrogance there must be to contradict the finest scholars and the highest officials of the church, to set his own powers of mind and biblical interpretation against that of the whole world. Is this egomania? Is it megalomania? Are these the musings of a biblical genius, a courageous saint, or the ravings of a maniac? Whatever the verdict, this lonely stand, for good or for evil, divided Christendom asunder.” [= Apakah ini kata-kata dari seorang yang gila? Mungkin. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana satu orang berani berdiri melawan Paus dan Kaisar, konsili dan kredo, melawan seluruh otoritas terorganisir dari Kekristenan. Betapa besar arogansi yang dibutuhkan untuk menentang sarjana-sarjana terbaik dan pejabat-pejabat tertinggi gereja, untuk mengadu kemampuan berpikir dan tafsir Alkitabnya sendiri melawan seluruh dunia. Apakah ini egomania? Apakah ini megalomania? Apakah ini renungan dari seorang jenius Alkitab, seorang santo yang berani, ataukah ocehan dari seorang maniak? Apapun putusannya, pendirian yang sendirian ini - untuk kebaikan atau untuk keburukan - membelah Kekristenan.] - ‘The Holiness of God’, hal 112.
R. C. Sproul: “One aspect of Luther’s background and personality is often overlooked by the psychological analysts. They miss the point that before Luther went to the monastery he had already distinguished himself as one of the brightest young minds in Europe in the field of jurisprudence. Luther was brilliant. There was nothing wrong with his brain. His grasp of subtle and difficult points of the law made him a standout. Some heralded him as a legal genius. It has been said many times that there is a fine line between genius and insanity and that some people move back and forth across it. Perhaps that was the problem Luther had. He was not crazy. He was a genius. He had a superior understanding of law. Once he applied his astute legal mind to the law of God, he saw things that most mortals miss.” [= Salah satu aspek dari latar belakang dan kepribadian Luther yang sering diabaikan oleh para analis psikologis adalah kecerdasannya yang luar biasa di bidang hukum. Sebelum Luther memasuki biara, ia sudah diakui sebagai salah satu pemikir muda paling cemerlang di Eropa dalam bidang yurisprudensi. Luther adalah seseorang yang brilian. Tidak ada yang salah dengan otaknya. Pemahamannya yang mendalam tentang poin-poin hukum yang halus dan sulit membuatnya menonjol. Beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai seorang jenius hukum. Sering dikatakan bahwa ada garis tipis antara jenius dan kegilaan, dan beberapa orang mungkin bolak-balik melintasi garis itu. Mungkin inilah yang problem yang Luther miliki. Dia bukan gila, dia seorang jenius. Pemahaman hukumnya yang luar biasa membuatnya melihat hal-hal yang luput dari kebanyakan orang. Ketika dia menerapkan kecerdasan hukum yang tajam itu pada hukum Allah, dia mampu menemukan kebenaran-kebenaran theologis yang tidak terlihat oleh banyak orang.] - ‘The Holiness of God’, hal 116.
================================================
David Schaff: “The Emperor would hear no more, and abruptly broke up the session of the Diet at eight o’clock, amid general commotion.” [= Kaisar tidak mau mendengar lebih banyak lagi, dan dengan tiba-tiba menghentikan sesi Diet pada pukul delapan malam, di tengah suasana keributan umum.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 306.
Dr. Albert Freundt Jr.: “‘I expected,’ he wrote to the artist Cranach, ‘that his Majesty the Emperor would have collected fifty doctors of divinity to confute the monk in argument. But all they said was: ‘Are these books yours?’. ‘Yes’. ‘Will you recant?’. ‘No’. ‘Then get out!’” [= ‘Aku berharap,’ tulisnya kepada artis Cranach, ‘bahwa Yang Mulia Kaisar telah mengumpulkan 50 doktor theologia untuk membantah / membuktikan kesalahan biarawan ini dalam perdebatan. Tetapi semua yang mereka katakan adalah: ‘Apakah buku-buku ini milikmu?’. ‘Ya’. ‘Maukah kamu menariknya kembali?’. ‘Tidak’. ‘Kalau begitu keluarlah!’] - ‘History of Modern Christianity’, hal 34.
David Schaff: “On reaching his lodgings, Luther threw up his arms, and joyfully exclaimed, ‘I am through, I am through!’ To Spalatin, in the presence of others, he said, ‘If I had a thousand beads, I would rather have them all cut off one by one than make one recantation.’” [= Setibanya di tempat penginapannya, Luther mengangkat tangannya dan berseru dengan gembira, ‘Aku sudah selesai, aku sudah selesai!’ Kepada Spalatin, di depan orang-orang lain, ia berkata, ‘Seandainya aku mempunyai 1000 kepala, aku lebih suka semuanya itu dipenggal satu demi satu dari pada membuat satu penarikan kembali / pengakuan salah’.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 306.
David Schaff: “The impression he made on the audience was different according to conviction and nationality. What some admired as the enthusiasm of faith and the strength of conviction, appeared to others as fanaticism and heretical obstinacy.” [= Kesan yang ditinggalkan Luther pada audiens bervariasi tergantung pada keyakinan dan kebangsaan mereka. Bagi sebagian orang, apa yang mereka kagumi sebagai semangat iman dan kekuatan keyakinan, tampak bagi yang lain sebagai fanatisme dan sikap keras kepala yang bersifat bidat.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 306.
David Schaff: “The Emperor, a stranger to German thought and speech, declared after the first hearing: ‘This man will never make a heretic of me.’ He doubted the authorship of the famous books ascribed to him. At the second hearing he was horrified at the disparagement of general Councils, as if a German monk could be wiser than the whole Catholic Church. The Spaniards and Italians were no doubt of the same opinion; they may have been repelled also by his lowly appearance and want of refined manners. Some of the Spaniards pursued him with hisses as he left the room. The papal legates reported that he raised his hands after the manner of the German soldiers rejoicing over a clever stroke, and represented him as a vulgar fellow fond of good wine. They praised the Emperor as a truly Christian and Catholic prince who assured them the next day of his determination to treat Luther as a heretic. The Venetian ambassador, otherwise impartial, judged that Luther disappointed expectations, and showed neither much learning, nor much prudence, nor was he blameless in life.” [= Kaisar, yang asing dengan pemikiran dan bahasa Jerman, menyatakan setelah mendengar Luther untuk pertama kalinya: ‘Orang ini tidak akan pernah membuatku menjadi bidat.’ Dia meragukan bahwa buku-buku terkenal itu benar-benar ditulis olehnya. Pada sidang kedua, Kaisar terkejut dengan sikap meremehkan / tidak hormat dari Luther terhadap Konsili-konsili umum, seolah-olah seorang biarawan Jerman bisa lebih bijak dari pada seluruh Gereja Katolik. Orang-orang Spanyol dan Italia tidak diragukan lagi memiliki pendapat yang sama; mereka mungkin juga merasa terganggu oleh penampilan Luther yang rendah hati dan kurangnya tata krama yang halus. Beberapa orang Spanyol bahkan mengejarnya dengan siulan ejekan saat ia meninggalkan ruangan. Para utusan kepausan melaporkan bahwa Luther mengangkat tangannya seperti tentara Jerman yang bersorak atas strategi yang cerdik, dan menggambarkannya sebagai seorang yang kasar, penggemar anggur. Mereka memuji Kaisar sebagai pangeran yang benar-benar Kristen dan Katolik, yang pada hari berikutnya meyakinkan mereka tentang tekadnya untuk memperlakukan Luther sebagai seorang bidat. Duta besar Venesia, meskipun umumnya netral, menilai bahwa Luther mengecewakan harapan, tidak menunjukkan banyak pembelajaran atau kebijaksanaan, dan hidupnya pun tidak sepenuhnya tanpa cela.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 306-307.
David Schaff: “But the German delegates received a different impression. When Luther left the Bishop’s palace greatly exhausted, the old Duke Erik of Brunswick sent him a silver tankard of Eimbeck beer, after having first drunk of it himself to remove suspicion. Luther said, ‘As Duke Erik has remembered me to-day, may the Lord Jesus remember him in his last agony.’ The Duke thought of it on his deathbed, and found comfort in the words of the gospel: ‘Whosoever shall give unto one of these little ones a cup of cold water only, in the name of a disciple, he shall in no wise lose his reward.’ The Elector Frederick expressed to Spalatin the same evening his delight with Luther’s conduct: ‘How excellently did Father Martin speak both in Latin and German before the Emperor and the Estates! He was bold enough, if not too much so.’ The cautious Elector would have been still better pleased if Luther had been more moderate, and not attacked the Councils. Persons of distinction called on him in his lodgings till late at night, and cheered him. Among these was the young Landgrave Philip of Hesse, who afterwards embraced the cause of the Reformation with zeal and energy, but did it much harm by his bigamy. After a frivolous jest, which Luther smilingly rebuked, he wished him God’s blessing.” [= Tetapi para delegasi Jerman menerima kesan yang berbeda. Ketika Luther meninggalkan istana Uskup dalam keadaan sangat kelelahan, Duke Erik dari Brunswick yang sudah tua mengirimkan kepadanya sebuah piala perak berisi bir Eimbeck, setelah terlebih dahulu meminumnya sendiri untuk menghilangkan kecurigaan. Luther berkata, ‘Sebagaimana Duke Erik mengingatku hari ini, semoga Tuhan Yesus mengingatnya dalam penderitaan terakhirnya.’ Sang Duke teringat akan hal itu di ranjang kematiannya dan menemukan penghiburan dalam kata-kata Injil: ‘Siapa pun yang memberi kepada salah seorang yang kecil ini secangkir air dingin saja, demi nama seorang murid, dia tidak akan kehilangan upahnya.’ Elektor Frederick menyatakan kepada Spalatin pada malam yang sama kegembiraannya atas sikap Luther: ‘Betapa baiknya Bapa Martin berbicara, baik dalam bahasa Latin maupun Jerman, di hadapan Kaisar dan Dewan! Dia cukup berani, jika bukannya terlalu berani.’ Elektor yang berhati-hati itu akan lebih senang jika Luther lebih moderat dan tidak menyerang Sidang-sidang Gereja. Orang-orang terkemuka mengunjungi Luther di penginapannya hingga larut malam dan memberinya semangat. Di antara mereka adalah Landgraf muda Philip dari Hesse, yang kemudian dengan semangat mendukung Reformasi, tetapi merusaknya dengan praktik bigami. Setelah lelucon yang tidak layak, yang ditegur Luther sambil tersenyum, Philip mengucapkan doa agar Allah memberkatinya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 307-308.
Mat 10:42 - “Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia muridKu, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.’”.
David Schaff: “The strongest sympathizers with Luther were outside of the Diet, among the common people, the patriotic nobles, the scholars of the school of Erasmus, and the rising generation of liberal men. As he returned from the Diet to his lodgings, a voice in the crowd was heard to exclaim: ‘Blessed be the womb that bare this son.’ Tonstal, the English ambassador, wrote from Worms, that ‘the Germans everywhere are so addicted to Luther, that, rather than he should be oppressed by the Pope’s authority, a hundred thousand of the people will sacrifice their lives.’ In the imperial chambers a paper was found with the words: ‘Woe to the nation whose king is a child’ (Eccl. x. 16). An uprising of four hundred German knights with eight thousand soldiers was threatened in a placard on the city hall; but the storm passed away. Hutten and Sickingen were in the Emperor’s service. ‘Hutten only barks, but does not bite,’ was a saying in Worms.” [= Pendukung terkuat Luther berada di luar Diet, di antara rakyat jelata, para bangsawan patriotik, para sarjana dari sekolah Erasmus, dan generasi baru kaum liberal. Saat Luther kembali dari Diet ke tempat penginapannya, terdengar suara di kerumunan yang berseru: ‘Diberkatilah rahim yang melahirkan anak ini.’ Tonstal, duta besar Inggris, menulis dari Worms bahwa ‘Orang Jerman di mana-mana begitu setia kepada Luther sehingga, dari pada dia ditekan oleh otoritas Paus, seratus ribu orang akan rela mengorbankan nyawa mereka.’ Di kamar-kamar kekaisaran ditemukan sebuah catatan bertuliskan: ‘Celakalah bangsa yang rajanya masih anak-anak’ (Pkh 10:16). Sebuah pemberontakan dari empat ratus ksatria Jerman dengan delapan ribu tentara sempat diancamkan melalui plakat di balai kota; namun badai itu berlalu tanpa insiden besar. Hutten dan Sickingen, yang dikenal sebagai simpatisan Reformasi, berada dalam pelayanan Kaisar. ‘Hutten hanya menggonggong, tapi tidak menggigit,’ adalah ungkapan yang populer di Worms pada saat itu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 308-309.
Pkh 10:16 -
“Wahai
(Celakalah) engkau tanah, kalau rajamu seorang kanak-kanak, dan
pemimpin-pemimpinmu pagi-pagi sudah makan!”.
Bdk. Alkitab-Alkitab bahasa Inggris.
David Schaff: “The papal party triumphed in the Diet. Nothing else could be expected if the historic continuity of the Latin Church and of the Holy German Roman Empire was to be preserved. Had Luther submitted his case to a general council, to which in the earlier stages of the conflict he had himself repeatedly appealed, the result might have been different, and a moderate reform of the mediaeval Church under the headship of the Pope of Rome might have been accomplished; but no more. By denying the infallibility of a council, he openly declared himself a heretic, and placed himself in opposition to the universal opinion, which regarded oecumenical Councils, beginning with the first of Nicaea in 325, as the ultimate tribunal for the decision of theological controversies. The infallibility of the Pope was as yet an open question, and remained so till 1870, but the infallibility of a general council was at that time regarded as settled. A protest against it could only be justified by a providential mission and actual success.” [= Partai kepausan menang di Diet, seperti yang bisa diharapkan jika kesinambungan sejarah Gereja Latin dan Kekaisaran Romawi Suci Jerman hendak dipertahankan. Seandainya Luther menyerahkan kasusnya kepada sebuah konsili umum, yang sebelumnya ia sendiri sering serukan dalam tahap awal konflik, hasilnya mungkin bisa berbeda, dan suatu reformasi moderat atas Gereja abad pertengahan di bawah kepemimpinan Paus Roma mungkin bisa tercapai; tetapi tidak lebih dari itu. Dengan menyangkal infalibilitas / ketidak-bisa-bersalahan suatu konsili, Luther secara terbuka menyatakan dirinya sebagai bidat dan menempatkan dirinya dalam oposisi terhadap opini universal saat itu, yang menganggap Konsili-konsili ekumenis - dimulai dengan yang pertama di Nicaea tahun 325 - sebagai pengadilan tertinggi dalam memutuskan kontroversi-kontroversi theologis. Pada saat itu, infalibilitas Paus masih merupakan masalah terbuka dan tetap seperti itu sampai tahun 1870, tetapi infalibilitas konsili umum dianggap sudah diselesaikan. Sebuah protes terhadapnya hanya bisa dibenarkan oleh suatu missi providensia dan kesuksesan nyata.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 309.
David Schaff: “It was the will of Providence to prepare the way, through the instrumentality of Luther, for independent church-organizations, and the development of new types of Christianity on the basis of the word of God and the freedom of thought.” [= Merupakan kehendak dari Providensia untuk mempersiapkan jalan, melalui perantaraan Luther, untuk pembentukan organisasi gereja-gereja yang independen dan pengembangan jenis-jenis baru Kekristenan yang berlandaskan pada firman Allah dan kebebasan berpikir.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 309.
David Schaff: “§ 56. Reflections on Luther’s Testimony at Worms. Luther’s testimony before the Diet is an event of world-historical importance and far-reaching effect. It opened an intellectual conflict which is still going on in the civilized world. He stood there as the fearless champion of the supremacy of the word of God over the traditions of men, and of the liberty of conscience over the tyranny of authority. For this liberty, all Protestant Christians, who enjoy the fruit of his courage, owe him a debt of gratitude. His recantation could not, any more than his martyrdom, have stopped the Reformation; but it would have retarded its progress, and indefinitely prolonged the oppressive rule of popery.” [= § 56. Refleksi atas Kesaksian Luther di Worms. Kesaksian Luther di hadapan Diet adalah peristiwa penting dalam sejarah dunia yang memiliki dampak luas. Peristiwa ini membuka konflik intelektual yang masih berlangsung di dunia beradab hingga kini. Di sana, Luther berdiri sebagai juara yang tak kenal takut untuk supremasi dari firman Allah atas tradisi manusia, dan dari kebebasan hati nurani melawan tirani otoritas. Untuk kebebasan ini, semua orang Kristen Protestan, yang menikmati buah dari keberaniannya, berhutang rasa syukur kepadanya. Pengingkarannya, sama dengan kematiannya sebagai martir, tidak akan bisa menghentikan Reformasi; tetapi itu akan memperlambat kemajuannya dan memperpanjang kekuasaan menindas dari kepausan tanpa batas waktu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 311.
David Schaff: “When tradition becomes a wall against freedom, when authority degenerates into tyranny, the very blessing is turned into a curse, and history is threatened with stagnation and death. At such rare junctures, Providence raises those pioneers of progress, who have the intellectual and moral courage to break through the restraints at the risk of their lives, and to open new paths for the onward march of history. This consideration furnishes the key for the proper appreciation of Luther’s determined stand at this historical crisis. ... This tyranny was brought to an end by the indomitable courage of Luther.” [= Ketika tradisi menjadi tembok penghalang kebebasan, ketika otoritas memburuk menjadi tirani, berkat itu sendiri berubah menjadi suatu kutuk, dan sejarah terancam mengalami stagnasi dan kematian. Pada saat-saat langka seperti itu, Providensia membangkitkan para perintis kemajuan, yang memiliki keberanian intelektual dan moral untuk menembus pembatasan / pengekangan, dengan resiko nyawa mereka, dan membuka jalan baru bagi perjalanan sejarah ke depan. Pertimbangan ini memberikan kunci untuk menghargai dengan tepat sikap tegas Luther pada krisis sejarah ini. ... Tirani ini berakhir berkat keberanian Luther yang tak tergoyahkan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 311,312.
David Schaff: “Luther did not appeal to his conscience alone, but first and last to the Scripture as he understood it after the most earnest study. His conscience, as he said, was bound in the word of God, who cannot err. There, and there alone, he recognized infallibility. By recanting, he would have committed a grievous sin. One man with the truth on his side is stronger than a majority in error, and will conquer in the end.” [= Luther tidak hanya naik banding pada hati nuraninya saja, tetapi yang pertama dan terakhir pada Kitab Suci sebagaimana yang ia pahami setelah mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Hati nuraninya, seperti yang ia katakan, terikat pada firman Allah, yang tidak dapat salah. Di sana, dan hanya di sana, ia mengenali ketidak-bisa-bersalahan. Dengan menarik kembali pendiriannya, ia akan melakukan dosa yang berat. Satu orang yang memiliki kebenaran di pihaknya lebih kuat dari pada mayoritas yang berada dalam kesalahan, dan pada akhirnya akan menang.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 313.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin