Pemahaman Alkitab

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16

Selasa, tgl 15 Oktober 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

vs

Kristen Protestan (12g)

 

Martin Luther(7)

 

 

David Schaff: “After some complimentary words about Leo, and protesting that he had never spoken disrespectfully of his person, Luther goes on to say, - ‘The Church of Rome, formerly the most holy of all churches, has become the most lawless den of thieves, the most shameless of all brothels, the very kingdom of sin, death, and hell; so that not even Antichrist, if he were to come, could devise any addition to its wickedness.” [= Setelah menyampaikan beberapa kata pujian tentang Leo dan menyatakan bahwa dia tidak pernah berbicara tidak hormat terhadap pribadi Paus, Luther melanjutkan dengan mengatakan, - ‘Gereja Roma, yang dulunya adalah gereja yang paling suci dari semua gereja, telah menjadi sarang pencuri yang paling tidak bermoral / tidak mempedulikan hukum, tempat pelacuran yang paling tak tahu malu, kerajaan dosa, kematian, dan neraka; sehingga bahkan Antikristus, seandainya ia datang, tidak akan bisa menemukan cara untuk menambah kebejatannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 225.

 

David Schaff: “‘Meanwhile you, Leo, are sitting like a lamb in the midst of wolves, like Daniel in the midst of lions, and, with Ezekiel, you dwell among scorpions. What opposition can you alone make to these monstrous evils? Take to yourself three or four of the most learned and best of the cardinals. What are these among so many? You would all perish by poison, before you could undertake to decide on a remedy. It is all over with the court of Rome: the wrath of God has come upon her to the uttermost. She hates Councils, she dreads to be reformed, she cannot restrain the madness of her impiety; she fills up the sentence passed on her mother, of whom it is said, ‘We would have healed Babylon, but she is not healed; let us forsake her.’ It had been your duty, and that of your cardinals, to apply a remedy to these evils; but this gout laughs at the physician’s hand, and the chariot does not obey the reins. Under the influence of these feelings I have always grieved that you, most excellent Leo, who were worthy of a better age, have been made pontiff in this. For the Roman court is not worthy of you and those like you, but of Satan himself, who in truth is more the ruler in that Babylon than you are.” [= ‘Sementara itu, engkau, Leo, duduk seperti seekor anak domba di tengah-tengah serigala, seperti Daniel di tengah-tengah singa, dan seperti Yehezkiel, engkau tinggal di antara kalajengking. Perlawanan apa yang dapat engkau sendiri lakukan terhadap kejahatan-kejahatan yang mengerikan ini? Ajaklah tiga atau empat kardinal yang paling terpelajar dan terbaik. Apa yang bisa mereka lakukan di antara begitu banyak kejahatan? Kalian semua akan binasa diracuni sebelum kalian dapat mencoba mencari solusi. Segalanya sudah berakhir dengan istana Roma: murka Allah telah datang atasnya sepenuhnya. Gereja Roma membenci Konsili-konsili (?), takut untuk direformasi, tidak dapat menahan kegilaan kefasikan yang melandanya; ia hanya menggenapi hukuman yang dijatuhkan atas ibunya, tentang siapa dikatakan, ‘Kami telah berusaha menyembuhkan Babel, tetapi ia tidak disembuhkan; mari kita tinggalkan dia.’ Sudah menjadi kewajibanmu dan kardinal-kardinalmu untuk memberikan obat bagi kejahatan-kejahatan ini; tetapi pembengkakan ini menertawakan tangan tabib, dan kereta ini tidak mentaati kendali. Di bawah pengaruh dari perasaan ini, aku selalu berduka bahwa engkau, Leo yang mulia, yang layak berada di zaman yang lebih baik, justru telah dijadikan paus di zaman ini. Sebab istana Roma tidak layak untukmu dan mereka yang sepertimu, melainkan lebih layak untuk Iblis itu sendiri, yang pada kenyataannya lebih menguasai Babel ini dari pada dirimu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 225

 

David Schaff: “‘Oh, would that, having laid aside that glory which your most abandoned enemies declare to be yours, you were living rather in the office of a private priest, or on your paternal inheritance! In that glory none are worthy to glory, except the race of Iscariot, the children of perdition. For what happens in your court, Leo, except that, the more wicked and execrable any man is, the more prosperously he can use your name and authority for the ruin of the property and souls of men, for the multiplication of crimes, for the oppression of faith and truth, and of the whole Church of God? O Leo! in reality most unfortunate, and sitting on a most perilous throne: verily I tell you the truth, because I wish you well; for if Bernard felt compassion for his Anastasius at a time when the Roman See, though even then most corrupt, was as yet ruling with better hope than now, why should not we lament, to whom so much additional corruption and ruin has happened in three hundred years?” [= ‘Oh, andai saja engkau, dengan melepaskan kemuliaan yang dinyatakan sebagai milikmu oleh musuh-musuhmu yang paling hina, hidup sebagai seorang imam biasa, atau di tanah warisan ayahmu! Dalam kemuliaan itu, tidak ada seorang pun yang layak bermegah, kecuali ras dari Iskariot, anak-anak kebinasaan. Sebab apa yang terjadi di istanamu, Leo, selain bahwa semakin jahat dan terkutuk seseorang, semakin sukses ia dapat menggunakan namamu dan otoritasmu untuk menghancurkan harta benda dan jiwa-jiwa manusia, untuk memperbanyak kejahatan, untuk menindas iman dan kebenaran, dan seluruh Gereja Allah? O Leo! sungguh malang nasibmu, dan engkau duduk di takhta yang paling berbahaya: sesungguhnya aku berkata kepadamu dengan jujur, karena aku menginginkan kebaikanmu; sebab jika Bernard merasakan belas kasihan untuk Anastasiusnya pada saat Takhta Roma, meskipun kala itu sudah sangat korup, masih memerintah dengan harapan yang lebih baik dari pada sekarang, mengapa kita tidak meratap, di mana begitu banyak kerusakan dan kehancuran tambahan telah terjadi dalam tiga ratus tahun terakhir?] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 225-226.

 

Catatan: Saya tidak tahu siapa yang Luther maksudkan dengan Bernard dan Anastasius. Karena itu saya bertanya pada ChatGPT: ‘David Schaff menuliskan tentang Bernard yang mengasihani Anastasius. Siapa Anastasius yang ia maksudkan?’

 

Jawaban dari ChatGPT:

 

David Schaff merujuk pada karya Bernard dari Clairvaux yang menyebut nama Anastasius dalam konteks tertentu. Anastasius yang dimaksud oleh Bernard kemungkinan adalah Antipaus Anastasius IV (atau lebih tepatnya Anastasius II, Pierre de Corbie), seorang tokoh yang terlibat dalam skisma kepausan yang terjadi di Roma pada abad ke-12.

Latar Belakang: Antipaus Anastasius IV

Nama Asli: Pierre de Corbie

Gelar: Anastasius IV (sebagai Antipaus)

Masa Hidup: Abad ke-12

Konteks: Pada saat itu, Gereja Katolik mengalami skisma besar terkait klaim kepausan antara Paus yang sah (Paus Innosensius II) dan Antipaus yang didukung oleh faksi-faksi tertentu di gereja.

Hubungan dengan Bernard dari Clairvaux

Bernard dari Clairvaux adalah pendukung kuat Paus Innosensius II dan memainkan peran besar dalam menyelesaikan skisma tersebut. Bernard menganggap Antipaus Anastasius sebagai lawan yang keliru, tetapi ia mengasihani dia sebagai individu, bukan sebagai musuh. Bernard berusaha membujuknya untuk bertobat dan mendukung persatuan gereja. Dalam tulisannya, Bernard menampilkan belas kasihan dan keprihatinan terhadap nasib Anastasius, melihatnya lebih sebagai korban keadaan daripada seorang pemberontak sejati.

Mengapa Bernard Mengasihani Anastasius?

Bernard percaya bahwa perpecahan di dalam gereja adalah tragedi besar. Sebagai tokoh mistik yang berfokus pada kasih dan kesatuan spiritual, ia menunjukkan simpati bahkan kepada mereka yang secara doktrinal atau politis berada di pihak yang salah. Dalam surat-suratnya dan dalam biografi yang ditulis oleh para sejarawan seperti David Schaff, Bernard digambarkan sebagai seorang yang mengasihani nasib Anastasius dan para pengikutnya, serta mengajak mereka untuk kembali ke jalan yang benar tanpa rasa dendam.

Konteks Pernyataan Schaff

David Schaff, seorang sejarawan gereja, kemungkinan merujuk pada simpati Bernard ini dalam konteks perjuangan teologis dan politik pada saat itu. Bernard tidak hanya seorang teolog, tetapi juga seorang diplomat yang berusaha mendamaikan berbagai faksi dalam gereja.

Jadi, Anastasius yang dimaksud oleh David Schaff adalah Antipaus Anastasius IV, tokoh yang terlibat dalam skisma melawan Paus Innosensius II di abad ke-12.

 

David Schaff: “‘Is it not true that there is nothing under the vast heavens more corrupt, more pestilential, more hateful, than the court of Rome? She incomparably surpasses the impiety of the Turks, so that in very truth she, who was formerly the gate of heaven, is now a sort of open mouth of hell, and such a mouth as, under the urgent wrath of God, can not be blocked up; one course alone being left to us wretched men, - to call back and save some few, if we can, from that Roman gulf.” [= ‘Bukankah benar bahwa tidak ada apa pun di bawah langit yang luas ini yang lebih korup, lebih berbahaya, lebih menjengkelkan dari pada istana Roma? Dia jauh melampaui kefasikan muslim, sehingga pada kenyataannya, dia, yang dulunya adalah gerbang surga, sekarang menjadi semacam mulut neraka yang terbuka lebar, dan mulut seperti itu, di bawah murka Allah yang mendesak, tidak dapat ditutup; satu-satunya jalan yang tersisa bagi kita, manusia yang malang, adalah untuk memanggil kembali dan menyelamatkan beberapa orang saja, jika kita bisa, dari jurang Roma itu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 226.

 

David Schaff: “‘Behold, Leo my father, with what purpose and on what principle it is that I have stormed against that seat of pestilence. I am so far from having felt any rage against your person, that I even hoped to gain favor with you and to aid in your welfare, by striking actively and vigorously at that your prison, nay, your hell. For, whatever the efforts of all intellects can contrive against the confusion of that impious court will be advantageous to you and to your welfare, and to many others with you. Those who do harm to her are doing your work; those who in every way abhor her are glorifying Christ; in short, those are Christians who are not Romans ...” [= ‘Lihatlah, Leo bapaku, dengan maksud apa dan atas dasar prinsip apa aku telah menyerang takhta wabah itu. Aku sama sekali tidak pernah merasakan kemarahan terhadap dirimu secara pribadi, bahkan aku berharap dapat mendapatkan kemurahan darimu dan berkontribusi bagi kesejahteraanmu, dengan menyerang dengan aktif dan keras terhadap penjaramu itu, atau lebih tepatnya, nerakamu. Sebab, apapun upaya semua akal budi untuk melawan kekacauan istana fasik itu, semuanya akan bermanfaat bagimu dan kesejahteraanmu, serta bagi banyak orang lainnya bersamamu. Mereka yang merusak istana itu sedang melakukan tugasmu; mereka yang dengan segala cara membencinya sedang memuliakan Kristus; singkatnya, mereka yang bukan orang (Katolik) Roma adalah orang-orang Kristen sejati ...’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 226.

 

David Schaff: ‘In fine, that I may not approach your Holiness empty-handed, I bring with me this little book, published under your name, as a good omen of the establishment of peace and of good hope. By this you may perceive in what pursuits I should prefer and be able to occupy myself to more profit, if I were allowed, or had been hitherto allowed, by your impious flatterers. It is a small book, if you look to the paper; but, unless I mistake, it is a summary of the Christian life put together in small compass, if you apprehend its meaning. I, in my poverty, have no other present to make you; nor do you need any thing else than to be enriched by a spiritual gift. I commend myself to your Holiness, whom may the Lord Jesus preserve for ever. Amen.

Wittenberg, 6th September, 1520.’” [= ‘Singkatnya, agar aku tidak datang kepada Yang Mulia dengan tangan kosong, aku membawa buku kecil ini, yang diterbitkan atas namamu, sebagai pertanda baik untuk pendirian perdamaian dan harapan yang baik. Melalui buku ini, engkau dapat melihat di bidang mana aku lebih memilih dan mampu menyibukkan diri dengan lebih menguntungkan, jika aku diizinkan, atau telah diizinkan sebelumnya, oleh para penjilatmu yang fasik. Ini adalah buku kecil, jika dilihat dari segi kertas; tetapi, kecuali aku keliru, ini adalah ringkasan kehidupan Kristen yang dirangkum dalam ruang kecil, jika engkau memahami maknanya. Dalam kemiskinanku, aku tidak memiliki hadiah lain untuk diberikan kepadamu; juga engkau tidak membutuhkan apa pun selain diperkaya oleh suatu karunia / pemberian rohani. Aku menyerahkan diriku kepada Yang Mulia, yang semoga dilindungi oleh Tuhan Yesus untuk selama-lamanya. Amin.

‘WITTENBERG, 6 September 1520.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 226-227.

 

12)Pengucilan (exkomunikasi) terhadap Martin Luther.

 

Pada bulan Juni 1520, Roma mengeluarkan ‘the Bull’ [= surat keputusan dari Paus], yang diberi nama ‘Exsurge Domine’, yang mengecam 41 usul / gagasan Luther sebagai sesat, dan memerintahkan orang yang setia kepada Roma Katolik untuk membakar buku-buku Luther dimanapun bisa ditemukan. Luther diberi waktu 2 bulan untuk menarik kembali ucapan / tulisannya atau ia akan dikucilkan.

 

Pada tanggal 10 Desember 1520, pada pk 9 pagi, Luther membakar bull tersebut beserta buku-buku Katolik lain, di depan umum. Dan pada tanggal 3 Januari 1521, pengucilan terhadap Luther dilaksanakan.

 

Luther lalu berkata:

“I said (at the Leipzig disputation of 1519) that the Council of Constance condemned some propositions of Hus that were truly Christian. I retract. All his propositions were Christian, and in condemning him the Pope has condemned the Gospel.” [= Aku berkata (pada perdebatan Leipzig pada tahun 1519) bahwa Council of Constance mengecam beberapa pernyataan dari Hus yang adalah benar-benar Kristen. Aku menarik kembali. Semua pernyataannya adalah Kristen, dan dalam mengecam dia Paus sudah mengecam Injil.] - Dr. Albert Freundt, ‘History of Modern Christianity’, hal 33.

 

Sekarang saya berikan ceritanya secara mendetail.

 

David Schaff: “§ 47. The bull of Excommunication. June 15, 1520. After the Leipzig disputation, Dr. Eck went to Rome, and strained every nerve to secure the condemnation of Luther and his followers. Cardinals Campeggi and Cajetan, Prierias and Aleander, aided him. Cajetan was sick, but had himself carried on his couch into the sessions of the consistory. With considerable difficulty the bull of excommunication was drawn up in May, and after several amendments completed June 15, 1520.” [= § 47. Bulla Ekskomunikasi. 15 Juni 1520. Setelah perdebatan di Leipzig, Dr. Eck pergi ke Roma dan mengerahkan segala upaya untuk memastikan pengecaman / pengutukan terhadap Luther dan para pengikutnya. Kardinal Campeggi, Cajetan, Prierias, dan Aleander membantunya. Cajetan sedang sakit, tetapi dia tetap memaksakan diri untuk dibawa dengan tandu ke dalam sidang-sidang konsistori. Dengan cukup banyak kesulitan, bulla exkomunikasi itu dirancang pada bulan Mei, dan setelah beberapa revisi, diselesaikan pada 15 Juni 1520.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 227-228.

 

David Schaff: “Nearly three years had elapsed since the publication of Luther’s Ninety-five Theses. In the mean time he had attacked with increasing violence the very foundations of the Roman Church, had denounced popery as an antichristian tyranny, and had dared to appeal from the Pope to a general council, contrary to the decisions of Pius II. and Julius II., who declared such an appeal to be heresy. Between the completion and the promulgation of the bull, he went still further in his, ‘Address to the German Nobility,’ and the book on the ‘Babylonian Captivity,’ and made a reconciliation impossible except by an absolute surrender, which was a moral impossibility for him. Rome could not tolerate Lutheranism any longer without ceasing to be Rome. She delayed final action only for political and prudential considerations, especially in view of the election of a new German Emperor, and the influential voice of the Elector Frederick, who was offered, but declined, the imperial crown.” [= Hampir tiga tahun telah berlalu sejak Luther mempublikasikan Sembilan Puluh Lima Tesis-nya. Dalam kurun waktu tersebut, ia semakin gencar menyerang dasar-dasar Gereja Roma, mengecam kepausan sebagai tirani yang antikristus, dan berani mengajukan banding dari Paus kepada suatu konsili umum, bertentangan dengan keputusan Pius II dan Julius II, yang menyatakan bahwa banding semacam itu adalah bidat. Di antara penyelesaian dan pengumuman / pemberlakuan bulla tersebut, ia melangkah lebih jauh lagi dengan menulis ‘Seruan kepada Bangsawan Jerman’ dan buku ‘Tawanan Babilonia’, dan membuat perdamaian menjadi mustahil kecuali melalui penyerahan mutlak, yang merupakan suatu kemustahilan moral baginya. Roma tidak bisa lagi menoleransi Lutheranisme tanpa kehilangan jati dirinya sebagai Roma. Ia menunda tindakan akhir hanya karena pertimbangan politis dan strategis, terutama mengingat pemilihan Kaisar Jerman yang baru, serta pengaruh suara dari Elektor Friedrich, yang ditawari mahkota kekaisaran, tetapi menolaknya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 228.

 

David Schaff: “The bull of excommunication is the papal counter-manifesto to Luther’s Theses, and condemns in him the whole cause of the Protestant Reformation. Therein lies its historical significance. It was the last bull addressed to Latin Christendom as an undivided whole, and the first which was disobeyed by a large part of it. Instead of causing Luther and his friends to be burnt, it was burnt by Luther. It is an elaborate document, prepared with great care in the usual heavy, turgid, and tedious style of the curia. It breathes the genuine spirit of the papal hierarchy, and mingles the tones of priestly arrogance, concern for truth, abomination of heresy and schism, fatherly sorrow, and penal severity. The Pope speaks as if he were the personal embodiment of the truth, the infallible judge of all matters of faith, and the dispenser of eternal rewards and punishments.” [= Bulla exkomunikasi ini adalah pernyataan prinsip tandingan dari pihak kepausan terhadap Tesis-Tesis Luther, dan mengecam di dalamnya seluruh gerakan Reformasi Protestan yang diwakili oleh Luther. Di situlah letak signifikansi historisnya. Bulla ini adalah bulla terakhir yang ditujukan kepada Dunia Kristen Latin sebagai suatu kesatuan yang belum terpecah, dan bulla pertama yang ditentang oleh sebagian besar dari kalangan tersebut. Alih-alih menyebabkan Luther dan para sahabatnya dibakar, justru bulla itu dibakar oleh Luther sendiri. Itu adalah suatu dokumen yang mendetail, dipersiapkan dengan sangat teliti, dalam gaya bahasa yang berat, berlebihan, dan membosankan seperti umumnya dokumen-dokumen kuria. Bulla ini mencerminkan semangat asli dari hierarki kepausan dan memadukan nada arogansi imam, kepedulian terhadap kebenaran, kebencian / kejijikan terhadap bidat dan perpecahan, kesedihan kebapaan, serta kekerasan hukuman. Paus berbicara seolah-olah dirinya adalah perwujudan pribadi dari kebenaran, hakim yang tak dapat salah dalam semua perkara iman, dan pemberi pahala serta hukuman kekal.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 228-229.

Catatan: tentang arti dari kata ‘curia / kuria’ lihat di link ini: https://www.thefreedictionary.com/Curia

Ada banyak arti dan saya tak tahu harus memilih yang mana.

 

David Schaff: “He begins with the words of Ps. 74:22: ‘Arise, O God, plead thine own cause: remember how the foolish man reproacheth thee daily. Forget not the voice of thine enemies: the tumult of those that rise up against thee increaseth continually.’ He calls St. Peter, St. Paul, and the whole body of the saints, to aid against ‘the boar out of the wood’ and ‘the wild beast of the field’ that had broken into the vineyard of the Lord, to waste and destroy it (Ps. 80:13). He expresses deep sorrow at the revival of the Bohemian and other heresies in the noble German nation which had received the empire from the Pope, and shed so much precious blood against heresy. Then he condemns forty-one propositions selected from Luther’s books, as heretical, or at least scandalous and offensive to pious ears, and sentences all his books to the flames. Among the errors named are those relating to the sacramental and hierarchical system, especially the authority of the Pope and the (Roman) Church. The denial of free will (liberum arbitrium) after the fall is also condemned, though clearly taught by St. Augustin. But Luther’s fundamental doctrine of justification by faith is not expressly mentioned. The sentences are torn from the connection, and presented in the most objectionable form as mere negations of Catholic doctrines. The positive views of the Reformer are not stated, or distorted.” [= Paus memulai dengan kata-kata dari Maz 74:22: ‘Bangkitlah, ya Allah, bela perkaraMu sendiri: ingatlah bagaimana orang bodoh mencela Engkau sepanjang hari. Jangan lupakan suara musuh-musuhMu: keributan mereka yang bangkit melawanMu meningkat secara kontinyu / terus menerus.’ Ia memanggil Santo Petrus, Santo Paulus, dan seluruh kumpulan orang-orang kudus untuk membantu melawan ‘babi hutan dari hutan’ dan ‘binatang liar dari padang’ yang telah menerobos masuk ke kebun anggur Tuhan untuk merusak dan menghancurkannya (Maz 80:14). Paus menyatakan kesedihan yang mendalam atas kebangkitan kembali / yang baru dari bidat Bohemia (John Huss) dan bidat-bidat lainnya dalam kalangan bangsawan bangsa Jerman, yang telah menerima kekaisaran itu dari Paus dan menumpahkan begitu banyak darah berharga dalam menentang bidat. Kemudian Paus mengecam / mengutuk empat puluh satu proposisi yang dipilih dari buku-buku Luther sebagai ajaran sesat / bersifat bidat, atau setidaknya sebagai hal yang skandal dan menyinggung telinga orang saleh, serta memerintahkan agar semua bukunya dibakar. Di antara kesalahan / kesesatan yang disebutkan adalah ajaran-ajaran yang berkaitan dengan sistem sakramental dan hierarkis, terutama mengenai otoritas Paus dan Gereja (Roma). Penyangkalan kehendak bebas (liberum arbitrium) setelah kejatuhan manusia juga dikutuk, meskipun ajaran ini jelas diajarkan oleh Santo Agustinus. Namun, doktrin mendasar Luther tentang pembenaran oleh iman tidak disebutkan secara explisit. Kalimat-kalimat yang dikutuk diambil dari konteksnya dan dipaparkan dalam bentuk yang paling tidak bisa diterima, seolah-olah hanya berupa penolakan terhadap ajaran-ajaran Katolik. Pandangan-pandangan positif sang Reformator tidak diuraikan, atau dipelintir.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 229.

 

Maz 74:22 - Bangunlah, ya Allah, lakukanlah perjuanganMu! Ingatlah akan cela kepadaMu dari pihak orang bebal sepanjang hari..

 

Maz 80:14 - Babi hutan menggerogotinya dan binatang-binatang di padang memakannya..

 

David Schaff: “For the person of Luther, the Pope professes fatherly love and forbearance, and entreats him once more, by the mercies of God and the blood of Christ, to repent and recant within sixty days after the publication of the bull in the Brandenburg, Meissen, and Merseburg dioceses, and promises to receive him graciously like the prodigal son. But failing to repent, he and his adherents will be cut off, as withered branches, from the vine of Christ, and be punished as obstinate heretics. This means that they shall be burned; for the bull expressly condemns the proposition of Luther which denounces the burning of heretics as ‘contrary to the will of the Holy Spirit.’ All princes, magistrates, and citizens are exhorted, on threat of excommunication and promise of reward, to seize Luther and his followers, and to hand him over to the apostolic chair. Places which harbor him or his followers are threatened with the interdict. Christians are forbidden to read, print, or publish any of his books, and are commanded to burn them.” [= Untuk pribadi Luther, Paus menyatakan kasih kebapaan dan kesabaran, serta memohon sekali lagi, demi belas kasihan Allah dan darah Kristus, agar ia bertobat dan menarik kembali ajaran-ajarannya dalam waktu enam puluh hari setelah pengumuman bulla tersebut di keuskupan Brandenburg, Meissen, dan Merseburg, serta berjanji akan menerimanya dengan penuh kasih karunia seperti anak yang hilang. Namun, jika ia gagal untuk bertobat, maka ia dan para pengikutnya akan dipotong, seperti cabang-cabang / ranting-ranting yang layu, dari pokok anggur Kristus dan akan dihukum sebagai bidat-bidat yang keras kepala / tegar tengkuk. Ini berarti bahwa mereka akan dibakar; karena bulla tersebut secara tegas mengutuk pernyataan Luther yang mengecam pembakaran bidat-bidat sebagai ‘bertentangan dengan kehendak Roh Kudus.’ Semua pangeran, pejabat, dan warga negara diperintahkan, di bawah ancaman exkomunikasi dan dengan janji imbalan / upah, untuk menangkap Luther dan para pengikutnya, serta menyerahkannya ke Takhta Apostolik. Tempat-tempat yang memberi perlindungan kepada Luther atau para pengikutnya diancam dengan larangan gerejawi. Orang-orang Kristen dilarang untuk membaca, mencetak, atau menerbitkan buku-bukunya, dan diperintahkan untuk membakar buku-buku itu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 229-230.

 

David Schaff: “We may infer from this document in what a state of intellectual slavery Christendom would be at the present time if the papal power had succeeded in crushing the Reformation. It is difficult to estimate the debt we owe to Martin Luther for freedom and progress.” [= Dari dokumen ini, kita dapat menyimpulkan keadaan perbudakan intelektual yang akan dialami oleh Dunia Kristen saat ini seandainya kekuasaan kepausan berhasil menghancurkan Reformasi. Merupakan suatu hal yang sukar untuk menilai besarnya hutang yang kita miliki kepada Martin Luther atas kebebasan dan kemajuan (yang kita nikmati sekarang).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 230.

 

David Schaff: “The promulgation and execution of the bull were intrusted to two Italian prelates, Aleander and Caraccioli, and to Dr. Eck. The personal enemy of Luther, who had been especially active in procuring the bull, was now sent back in triumph with the dignity of a papal nuncio, and even with the extraordinary power of including by name several followers of Luther, among whom he singled out Carlstadt and Dolzig of Wittenberg, Adelmann of Augsburg, Egranus of Zwickau, and the humanists Pirkheimer and Spengler of Nuernberg. The selection of Eck, the most unpopular man in Germany, was a great mistake of the Pope, as Roman historians admit, and it helped the cause of the Reformation.” [= Pengumuman dan pelaksanaan bulla tersebut dipercayakan kepada dua uskup Italia, Aleander dan Caraccioli, serta Dr. Eck. Musuh pribadi Luther, yang sangat aktif dalam memperoleh bulla ini, kini dikirim kembali dalam kemenangan dengan kewibawaan sebagai seorang utusan kepausan (nuncio), dan bahkan dengan kekuasaan luar biasa untuk memasukkan nama-nama dari beberapa pengikut Luther, di antaranya ia memfokuskan Carlstadt dan Dolzig dari Wittenberg, Adelmann dari Augsburg, Egranus dari Zwickau, serta para humanis Pirkheimer dan Spengler dari Nürnberg. Pemilihan Eck, sosok yang paling tidak populer di Jerman, merupakan kesalahan besar dari pihak Paus, sebagaimana diakui oleh sejarawan-sejarawan Roma, dan hal ini justru membantu memperkuat gerakan Reformasi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 230.

 

David Schaff: “The bull was published and carried out without much difficulty in Mayence, Cologne, and Louvain; and Luther’s books were committed to the flames, with the sanction of the new Emperor. But in Northern Germany, which was the proper seat of the conflict, it met with determined resistance, and was defeated. Eck printed and placarded the bull at Ingolstadt, at Meissen (Sept. 21), at Merseburg (Sept. 25), and at Brandenburg (Sept. 29). But in Leipzig where a year before he had achieved his boasted victory over Luther in public debate, he was insulted by the students (one hundred and fifty had come over from Wittenberg), and took flight in a convent; the bull was bespattered, and torn to pieces. He fared still worse in Erfurt, where he had been ridiculed and held up to scorn as a second Hochstraten in the satire Eccius dedolatus (printed at Erfurt in March, 1520): the theological faculty refused to publish the bull; and the students threw the printed copies into the water, saying, ‘It is only a water-bubble (bulla), let it float on the water.’” [= Bulla tersebut diumumkan dan dilaksanakan tanpa banyak kesulitan di Mainz, Cologne, dan Louvain; buku-buku Luther dibakar dengan persetujuan Kaisar yang baru. Namun, di Jerman Utara, yang merupakan pusat utama konflik ini, bulla tersebut menghadapi perlawanan yang gigih dan dikalahkan. Eck mencetak dan menempelkan bulla tersebut di Ingolstadt, Meissen (21 September), Merseburg (25 September), dan Brandenburg (29 September). Namun, di Leipzig, tempat di mana setahun sebelumnya ia mengklaim kemenangan dalam debat publik melawan Luther, ia dihina oleh para mahasiswa (seratus lima puluh dari mereka datang dari Wittenberg) dan terpaksa melarikan diri ke dalam sebuah biara; bulla tersebut disembur cairan dan dirobek-robek menjadi potongan-potongan. Pengalamannya lebih buruk lagi di Erfurt, di mana ia diejek dan dijadikan bahan cemoohan sebagai Hochstraten kedua dalam satir ‘Eccius dedolatus’ (dicetak di Erfurt pada Maret 1520): fakultas theologia menolak untuk mengumumkan bulla tersebut; dan para mahasiswa melemparkan salinan cetak bulla itu ke dalam air, sambil berkata, ‘Ini hanya gelembung air (bulla), biarkan ia mengapung di atas air.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 231.

 

David Schaff: “Eck sent the bull to the rector of the University of Wittenberg, Oct. 3, 1520, with the request to prohibit the teaching of any of the condemned propositions of Luther, and threatening that, in case of disobedience, the Pope would recall all the liberties and privileges of the university. The professors and counselors of the Elector declined the promulgation for various reasons.” [= Eck mengirimkan bulla tersebut kepada rektor Universitas Wittenberg pada 3 Oktober 1520, dengan permintaan untuk melarang pengajaran dari yang manapun dari pernyataan-pernyataan Luther yang telah dikecam / dikutuk, serta mengancam bahwa jika perintah ini tidak dipatuhi, Paus akan mencabut semua kebebasan dan hak universitas tersebut. Namun, para profesor dan penasihat dari sang Elektor menolak pengumuman bulla itu dengan berbagai alasan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 232.

 

David Schaff: “The Elector Frederick was on the way to Aachen to assist at the coronation of Charles V., but was detained at Cologne by the gout. There he received the bull from Aleander after the mass, Nov. 4, and was urged with eloquent words to execute it, and to punish Luther or to send him to Rome; but he cautiously deferred an answer, and sought the advice of Erasmus in the presence of Spalatin. The famous scholar gave it as his judgment, that Luther’s crime consisted in having touched the triple crown of the Pope and the stomachs of the monks; he also wrote to Spalatin, after the interview, that the Pope’s bull offended all upright men by its ferocity and was unworthy of a meek vicar of Christ. The Elector was thus confirmed in his favorable view of Luther. He sent Spalatin to Wittenberg, where some students had left in consequence of the bull; but Spalatin was encouraged, and found that Melanchthon had about six hundred, Luther four hundred hearers, and that the church was crowded whenever Luther preached. A few weeks afterward the Pope’s bull was burnt.” [= Sang Elektor Friedrich sedang dalam perjalanan menuju Aachen untuk menghadiri penobatan Charles V, namun tertahan di Cologne karena pembengkakan (karena asam urat). Di sana, pada 4 November, ia menerima bulla dari Aleander setelah misa, dan didesak dengan kata-kata yang penuh retorika untuk melaksanakan bulla tersebut serta menghukum Luther atau mengirimnya ke Roma. Namun, Friedrich dengan hati-hati menunda memberikan jawaban dan mencari nasihat dari Erasmus di hadapan Spalatin. Sarjana terkenal itu menyampaikan penilaiannya bahwa kejahatan Luther terletak pada kenyataan bahwa ia telah menyentuh mahkota tiga lapis Paus dan perut para biarawan; ia juga menulis kepada Spalatin setelah wawancara itu, menyatakan bahwa bulla Paus itu menyinggung semua orang jujur karena kebengisannya dan tidak layak dikeluarkan oleh wakil Kristus yang lemah lembut. Dengan demikian Sang Elektor semakin diteguhkan dalam pandangannya yang cenderung mendukung Luther. Ia mengirim Spalatin ke Wittenberg, di mana beberapa mahasiswa telah meninggalkan universitas akibat bulla tersebut. Namun, Spalatin merasa terdorong semangatnya ketika mendapati bahwa Melanchthon memiliki sekitar enam ratus pendengar, Luther empat ratus pendengar, dan gereja selalu penuh sesak setiap kali Luther berkhotbah. Beberapa minggu kemudian, bulla Paus itu dibakar.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 232.

 

David Schaff: “§ 48. Luther burns the Pope’s bull, and forever breaks with Rome. Dec. 10, 1520. ... Luther was prepared for the bull of excommunication. He could see in it nothing but blasphemous presumption and pious hypocrisy. At first he pretended to treat it as a forgery of Eck. Then he wrote a Latin and German tract, ‘Against the bull of Antichrist,’ called it a ‘cursed, impudent, devilish bull,’ took up the several charges of heresy, and turned the tables against the Pope, who was the heretic according to the standard of the sacred Scriptures. Hutten ridiculed the bull from the literary and patriotic standpoint with sarcastic notes and queries. Luther attacked its contents with red-hot anger and indignation bordering on frenzy. He thought the last day, the day of Antichrist, had come. He went so far as to say that nobody could be saved who adhered to the bull.” [= § 48. Luther Membakar Bulla Paus dan Memutuskan Hubungan Selamanya dengan Roma. 10 Desember 1520. ... Luther sudah siap menghadapi bulla exkomunikasi tersebut. Ia tidak bisa melihat apapun di dalamnya kecuali tindakan kesombongan yang bersifat menghujat dan kemunafikan yang tampak saleh. Pada awalnya, ia berpura-pura memperlakukannya sebagai pemalsuan yang dibuat oleh Eck. Kemudian, ia menulis sebuah risalah dalam bahasa Latin dan Jerman, ‘Menentang Bulla Antikristus’, menyebutnya sebagai ‘bulla terkutuk, kurang ajar / tak tahu malu, dan jahat / seperti setan,’ serta memperhatikan tuduhan-tuduhan bidat yang diarahkan kepadanya, lalu membalikkan tuduhan tersebut kepada Paus, yang menurut standar Kitab Suci adalah bidat yang sesungguhnya. Hutten mengejek bulla tersebut dari sudut pandang sastra dan patriotisme dengan catatan-catatan dan pertanyaan sarkastis. Luther menyerang isi bulla itu dengan kemarahan yang menyala-nyala dan kemarahan yang hampir mencapai kegilaan. Ia berpikir bahwa hari terakhir, hari kedatangan Antikristus, telah tiba. Ia bahkan menyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan jika mematuhi bulla tersebut.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 247.

 

David Schaff: “In deference to his friends, he renewed the useless appeal from the Pope to a free general council (Nov. 17, 1520), which he had made two years before (Nov. 28, 1518); and in his appeal he denounced the Pope as a hardened heretic, an antichristian suppresser of the Scriptures, a blasphemer and despiser of the holy Church and of a rightful council.” [= Demi menghormati teman-temannya, Luther memperbaharui banding yang tidak berguna dari Paus kepada suatu konsili umum yang bebas (17 November 1520), seperti yang pernah ia lakukan dua tahun sebelumnya (28 November 1518); dan dalam banding tersebut, ia mengecam Paus sebagai seorang bidat yang dikeraskan, seorang penindas Kitab Suci yang antikristen, seorang penghujat, serta seorang yang menghina Gereja yang kudus dan suatu konsili yang benar / sah.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 247-248.

 

David Schaff: “At the same time he resolved upon a symbolic act which cut off the possibility of a retreat. The Pope had ordered his books, good and bad, without any distinction, to be burned; and they were actually burned in several places, at Cologne even in the presence of the Emperor. They were to be burned also at Leipzig. Luther wanted to show that he too could burn books, which was an old custom (Acts 19:19) and easy business. He returned fire for fire, curse for curse. He made no distinction between truth and error in the papal books, since the Pope had ordered his innocent books to be destroyed as well. He gave public notice of his intention.” [= Pada saat yang sama, Luther memutuskan untuk melakukan tindakan simbolis yang menghapuskan segala kemungkinan untuk mundur. Paus telah memerintahkan agar buku-bukunya - baik yang benar maupun yang salah, tanpa perbedaan apapun - dibakar; dan buku-buku itu memang dibakar di beberapa tempat, bahkan di Cologne dilakukan di hadapan Kaisar. Buku-buku tersebut juga akan dibakar di Leipzig. Luther ingin menunjukkan bahwa ia juga bisa membakar buku, yang merupakan kebiasaan lama (Kisah 19:19) dan merupakan pekerjaan yang mudah. Ia membalas api dengan api, kutukan dengan kutukan. Ia tidak membuat perbedaan antara kebenaran dan kesalahan dalam buku-buku kepausan, karena Paus telah memerintahkan agar buku-bukunya yang tidak bersalah juga dihancurkan. Luther secara terbuka mengumumkan niatnya tersebut.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 248.

 

Kis 19:19 - Banyak juga di antara mereka, yang pernah melakukan sihir, mengumpulkan kitab-kitabnya lalu membakarnya di depan mata semua orang. Nilai kitab-kitab itu ditaksir lima puluh ribu uang perak..

 

David Schaff: “On the tenth day of December, 1520, at nine o’clock in the morning, in the presence of a large number of professors and students, he solemnly committed the bull of excommunication, together with the papal decretals, the Canon law, and several writings of Eck and Emser, to the flames, with these words (borrowed from Joshua’s judgment of Achan the thief, Josh. 7:25): ‘As thou (the Pope) hast vexed the Holy One of the Lord, may the eternal fire vex thee!’” [= Pada tanggal 10 Desember 1520, pukul sembilan pagi, di hadapan sejumlah besar profesor dan mahasiswa, Luther dengan khidmat membakar bulla exkomunikasi bersama dengan dekrit-dekrit kepausan, hukum Kanon, serta beberapa tulisan Eck dan Emser, ke dalam api, sambil mengucapkan kata-kata berikut (diambil dari hukuman Yosua terhadap Akhan sang pencuri, Yosua 7:25): ‘Sebagaimana engkau (Paus) telah mengganggu / menyakiti Yang Kudus dari Tuhan, kiranya api kekal mengganggu / menyakitimu!’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 248.

 

Yosua 7:25a - Berkatalah Yosua: ‘Seperti engkau mencelakakan kami, maka TUHAN pun mencelakakan engkau pada hari ini.’.

KJV: And Joshua said, Why hast thou troubled us? the LORD shall trouble thee this day.” [= Dan Yosua berkata, Mengapa kamu telah mengganggu kami? TUHAN akan mengganggu engkau pada hari ini.].

 

David Schaff: “The spot where this happened is still shown outside the Elster Gate at Wittenberg, under a sturdy oak surrounded by an iron railing.” [= Tempat di mana peristiwa ini terjadi masih ditunjukkan di luar Gerbang Elster di Wittenberg, di bawah sebuah pohon ek yang kokoh yang dikelilingi oleh pagar besi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 248.

 

David Schaff: “Several hundred students tarried at the fire, which had been kindled by a master of the university, some chanting the Te Deum, others singing funeral dirges on the papal laws; then they made a mock procession through the town, collected piles of scholastic and Romish books, and returning to the place of execution, threw them into the flames.” [= Ratusan mahasiswa berkumpul di sekitar api, yang telah dinyalakan oleh seorang master dari universitas, beberapa di antaranya melantunkan Te Deum, sementara yang lain menyanyikan nyanyian pemakaman atas hukum-hukum kepausan; kemudian mereka mengadakan prosesi olok-olok di sekitar kota, mengumpulkan tumpukan buku-buku skolastik dan Roma, dan kembali ke tempat eksekusi untuk melemparkan buku-buku tersebut ke dalam api.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 249.

 

David Schaff: “Luther, with Melanchthon, Carlstadt, and the other doctors and masters, returned home immediately after the act. He at first had trembled at the step, and prayed for light; but after the deed was done, he felt more cheerful than ever. He regarded his excommunication as an emancipation from all restraints of popery and monasticism. On the same day he calmly informed Spalatin of the event as a piece of news. On the next day he warned the students in the lecture-room against the Romish Antichrist, and told them that it was high time to burn the papal chair with all its teachers and abominations. He publicly announced his act in a Latin and German treatise, ‘Why the Books of the Pope and his Disciples were burned by Dr. Martin Luther.’ He justified it by his duties as a baptized Christian, as a sworn doctor of divinity, as a daily preacher, to root out all unchristian doctrines. He cites from the papal law-books thirty articles and errors in glorification of the papacy, which deserve to be burned; and calls the whole Canon-law ‘the abomination of desolation’ (Matt. 24:15) and antichristian (2 Thess. 2:4), since the sum of its teaching was, that ‘the Pope is God on earth, above all things, heavenly and earthly, spiritual and temporal; all things belong to the Pope, and no one dare ask, What doest thou?’ Simultaneously with this tract, he published an exhaustive defense of all his own articles which had been condemned by the Pope, and planted himself upon the rock of God’s revelation in the Scriptures.” [= Luther, bersama Melanchthon, Carlstadt, dan para doktor serta master lainnya, kembali ke rumah segera setelah tindakan tersebut. Awalnya, ia merasa gentar dengan langkah yang diambilnya dan berdoa meminta penerangan; tetapi setelah peristiwa itu selesai, ia merasa lebih gembira dari sebelumnya. Ia memandang exkomunikasinya sebagai pembebasan dari segala belenggu kepausan dan monastisisme. Pada hari yang sama, dengan tenang ia mengabarkan peristiwa tersebut kepada Spalatin sebagai sebuah berita. Keesokan harinya, ia memperingatkan para mahasiswa di ruang kuliah tentang Antikristus Roma, dan mengatakan bahwa sudah saatnya untuk membakar takhta kepausan beserta semua pengajarnya dan hal-hal yang menjijikkan yang ada. Luther mengumumkan tindakannya secara terbuka melalui sebuah risalah dalam bahasa Latin dan Jerman, ‘Mengapa Buku-buku Paus dan Para Muridnya Dibakar oleh Dr. Martin Luther’. Ia membenarkan tindakannya berdasarkan kewajibannya sebagai seorang Kristen yang telah dibaptis, sebagai seorang doktor theologia yang telah bersumpah, serta sebagai seorang pengkhotbah yang sehari-hari berkewajiban untuk mencabut semua ajaran yang tidak Kristen. Ia mengutip dari buku-buku hukum kepausan tiga puluh artikel dan kesalahan yang memuliakan kepausan, yang menurutnya layak untuk dibakar; dan ia menyebut keseluruhan hukum Kanon sebagai ‘kekejian yang mendatangkan kehancuran’ (Mat 24:15) dan antikristen (2Tes 2:4), karena inti dari ajarannya adalah, bahwa ‘Paus adalah Allah di bumi, di atas segala sesuatu, baik surgawi maupun duniawi, rohani maupun jasmani; segala sesuatu adalah milik Paus, dan tidak seorang pun berani bertanya, Apa yang engkau lakukan?’ Bersamaan dengan risalah ini, Luther menerbitkan pembelaan yang mendalam terhadap semua artikelnya yang telah dikutuk oleh Paus, dan ia mendasarkan dirinya pada batu karang dari wahyu Allah dalam Kitab Suci.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 249-250.

 

Mat 24:15 - ‘Jadi apabila kamu melihat Pembinasa keji berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel - para pembaca hendaklah memperhatikannya -.

 

2Tes 2:4 - yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah..

 

David Schaff: “Leo X., after the expiration of the one hundred and twenty days of grace allowed to Luther by the terms of the bull, proceeded to the last step, and on the third day of January, 1521, pronounced the ban against the Reformer, and his followers, and an interdict on the places where they should be harbored. But Luther had deprived the new bull of its effect.” [= Setelah berakhirnya seratus dua puluh hari masa tenggang yang diberikan kepada Luther sesuai dengan ketentuan bulla tersebut, Leo X. mengambil langkah terakhir, dan pada tanggal 3 Januari 1521, mengumumkan larangan terhadap sang Reformator dan para pengikutnya, serta menetapkan larangan gereja terhadap tempat-tempat yang memberikan perlindungan kepada mereka. Namun, Luther telah membuat bulla yang baru ini kehilangan pengaruhnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 250.

 

David Schaff: “The burning of the Pope’s bull was the boldest and most eventful act of Luther. Viewed in itself, it might indeed have been only an act of fanaticism and folly, and proved a brutum fulmen. But it was preceded and followed by heroic acts of faith in pulling down an old church, and building up a new one. It defied the greatest power on earth, before which emperors, kings, and princes, and all the nations of Europe bowed in reverence and awe. It was the fiery signal of absolute and final separation from Rome, and destroyed the effect of future papal bulls upon one-half of Western Christendom. It emancipated Luther and the entire Protestant world from that authority, which, from a wholesome school of discipline for young nations, had become a fearful and intolerable tyranny over the intellect and conscience of men.” [= Pembakaran bulla Paus merupakan tindakan paling berani dan penuh peristiwa dalam hidup Luther. Dilihat dalam dirinya sendiri, tindakan itu mungkin hanya dianggap sebagai tindakan fanatisme dan kebodohan belaka, serta terbukti sebagai brutum fulmen (ancaman kosong). Namun, tindakan tersebut didahului dan diikuti oleh tindakan-tindakan iman yang heroik dalam meruntuhkan gereja lama dan mendirikan gereja baru. Pembakaran ini menantang kekuatan terbesar di bumi, di hadapan siapa kaisar, raja, pangeran, dan semua bangsa di Eropa tunduk dengan hormat dan rasa takut. Tindakan ini merupakan sinyal yang berkobar-kobar dari pemisahan mutlak dan final dari Roma, serta menghancurkan pengaruh bulla kepausan di masa depan terhadap separuh Dunia Kristen Barat. Peristiwa ini membebaskan Luther dan seluruh dunia Protestan dari otoritas yang, dari sebelumnya sebagai sekolah disiplin yang bermanfaat bagi bangsa-bangsa muda, telah berubah menjadi tirani yang mengerikan dan tak tertahankan atas akal budi dan hati nurani manusia.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 250.

 

David Schaff: “Luther developed his theology before the eyes of the public; while Calvin, at a later period, appeared fully matured, like Minerva from the head of Jupiter. ‘I am one of those,’ he says, ‘among whom St. Augustin classed himself, who have gradually advanced by writing and teaching; not of those who at a single bound spring to perfection out of nothing.’” [= Luther mengembangkan theologianya di hadapan publik; sementara Calvin, pada periode yang lebih belakangan, muncul dengan pemikiran yang telah matang sepenuhnya, seperti Minerva yang lahir dari kepala Jupiter. ‘Aku termasuk di antara mereka,’ katanya, ‘yang Santo Agustinus golongkan sebagai orang-orang yang maju secara bertahap melalui penulisan dan pengajaran; bukan di antara mereka yang, dalam satu lompatan, mencapai kesempurnaan dari ketiadaan.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 250.

 

Catatan: dari ChatGPT:

Ungkapan ‘like Minerva from the head of Jupiter’ merujuk pada kelahiran dewi kebijaksanaan Romawi, Minerva (dalam mitologi Yunani dikenal sebagai Athena), yang secara simbolis keluar dari kepala Jupiter (atau Zeus dalam mitologi Yunani) dalam keadaan dewasa dan lengkap. Dalam mitos tersebut, setelah menelan Metis (istri pertamanya yang sedang mengandung), Jupiter mengalami sakit kepala yang hebat. Ketika kepalanya dibelah oleh dewa Vulcan (atau Hephaestus), Minerva muncul dari kepalanya dalam bentuk dewi yang sudah sepenuhnya matang dan bersenjata lengkap. Ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan sesuatu yang muncul atau muncul tiba-tiba dalam keadaan matang atau sudah sempurna, tanpa melalui proses bertahap.

 

David Schaff: “He called the Pope the most holy and the most hellish father of Christendom. He began in 1517 as a devout papist and monk, with full faith in the Roman Church and its divinely appointed head, protesting merely against certain abuses; in 1519, at the Leipzig disputation, he denied the divine right, and shortly afterwards also the human right, of the papacy; a year later he became fully convinced that the papacy was that antichristian power predicted in the Scriptures, and must be renounced at the risk of a man’s salvation. There is no doubt that in all these stages he was equally sincere, earnest, and conscientious.” [= Luther menyebut Paus sebagai bapa yang paling suci sekaligus yang paling jahat dalam Kekristenan. Pada tahun 1517, ia memulai sebagai seorang Katolik dan biarawan yang taat, dengan kepercayaan penuh pada Gereja Roma dan pemimpinnya yang ia anggap ditetapkan secara ilahi, dan hanya memprotes beberapa penyalahgunaan. Namun, pada tahun 1519, dalam perdebatan di Leipzig, ia menyangkal hak ilahi kepausan, dan tak lama kemudian juga menolak hak manusiawi dari institusi kepausan. Setahun kemudian, ia sepenuhnya yakin bahwa kepausan adalah kekuatan antikristus yang dinubuatkan dalam Kitab Suci, yang harus ditolak dengan risiko keselamatan seseorang. Tidak diragukan lagi bahwa dalam setiap tahap perkembangan ini, Luther sama-sama tulus, serius, dan mengikuti hati nuraninya dengan penuh kesungguhan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 251.

 

David Schaff: Luther adhered to the position taken in the act of Dec. 10, 1520, with unchanging firmness. He never regretted it for a moment. He had burned the ship behind him; he could not, and he would not, return. To the end of his life he regarded and treated the Pope of Rome in his official capacity as the very Antichrist, and expected that he soon would be destroyed by spiritual force at the second coming of Christ. At Schmalkalden in 1537 he prayed that God might fill all Protestants with hatred of the Pope. One of his last and most violent books is directed ‘Against the Papacy at Rome, founded by the Devil.’ Wittenberg, 1545. He calls Paul III. the ‘Most hellish Father,’ and addresses him as ‘Your Hellishness.’ instead of ‘Your Holiness.’ He promises at the close to do still better in another book, and prays that in case of his death, God may raise another one ‘a thousandfold more severe; for the devilish papacy is the last evil on earth, and the worst which all the devils with all their power could contrive. God help us. Amen.’ Thus he wrote, not under the inspiration of liquor or madness, as Roman historians have suggested, but in sober earnest. His dying words, as reported by Ratzeburger, his physician, were a prediction of the approaching death of the papacy: - Pestis eram vivus, moriens tua mors ero Papa. [= Luther tetap teguh pada pendiriannya yang diambil pada tindakan tanggal 10 Desember 1520, dengan keteguhan yang tak berubah. Ia tidak pernah menyesalinya sedetikpun. Luther telah ‘membakar kapal’ di belakangnya; ia tidak bisa, dan ia tidak mau, kembali. Hingga akhir hidupnya, ia memandang dan memperlakukan Paus Roma dalam kapasitas resminya sebagai Antikristus sejati, serta mengharapkan bahwa Paus akan segera dihancurkan oleh kekuatan rohani pada kedatangan Kristus yang kedua-kalinya. Di Schmalkalden pada tahun 1537, ia berdoa agar Tuhan memenuhi semua orang Protestan dengan kebencian terhadap Paus. Salah satu buku terakhirnya yang paling keras diarahkan ‘Melawan Kepausan di Roma, yang Didirikan oleh Setan’. (Wittenberg, 1545). Ia menyebut Paus Paulus III sebagai ‘Bapa yang menyerupai neraka / layak mendapatkan Neraka,’ dan menyapanya dengan ‘Yang Neraka’ alih-alih ‘Yang Suci.’ Pada penutup buku itu, ia berjanji akan menulis sesuatu yang lebih baik lagi di buku berikutnya, dan berdoa agar jika ia meninggal, Allah akan membangkitkan seseorang yang ‘seribu kali lebih keras lagi; karena kepausan setan adalah kejahatan terakhir di bumi, dan yang terburuk yang dapat dirancang oleh semua setan dengan segala kekuatan mereka. Kiranya Allah menolong kami / kita. Amin.’ Demikianlah tulisannya, bukan di bawah pengaruh alkohol atau kegilaan, sebagaimana dinyatakan / dikatakan secara tidak langsung oleh sejarawan-sejarawan Katolik Roma, melainkan dengan keseriusan yang sadar / waras. Kata-kata terakhirnya, seperti yang dilaporkan oleh Ratzeburger, dokternya, adalah sebuah ramalan tentang kematian yang mendekat dari kepausan: ‘PESTIS ERAM VIVUS, MORIENS TUA MORS ERO PAPA.’ (Aku adalah wabah ketika hidup, dan dalam kematianku, aku akan menjadi kematianmu, Paus.)] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 251-252.

 

David Schaff: “From the standpoint of his age, Luther regarded the Pope and the Turk as ‘the two arch-enemies of Christ and his Church,’ and embodied this view in a hymn which begins, - ‘Erhalt uns, Herr, bei deinem Wort Und steur’ des Papst’s und Tuerken Mord.’ This line, like the famous eightieth question of the Heidelberg Catechism which denounces the popish mass as an ‘accursed idolatry,’ gave much trouble in mixed communities, and in some it was forbidden by Roman-Catholic magistrates. Modern German hymn-books wisely substitute ‘all enemies,’ or ‘enemies of Christ,’ for the Pope and the Turk. In order to form a just estimate of Luther’s views on the papacy, it must not be forgotten that they were uttered in the furnace-heat of controversy, and with all the violence of his violent temper. They have no more weight than his equally sweeping condemnation of Aristotle and Thomas Aquinas.” [= Dari sudut pandang zamannya, Luther memandang Paus dan orang-orang Islam sebagai ‘dua musuh utama Kristus dan GerejaNya,’ dan gagasan ini ia wujudkan dalam sebuah himne yang dimulai dengan: ‘Erhalt uns, Herr, bei deinem Wort
Und steur’ des Papst’s und Turken Mord.’

(Lindungilah kami, ya Tuhan, dengan firmanMu
Dan hentikanlah pembunuhan Paus dan orang-orang Islam.
) Baris ini, seperti pertanyaan kedelapan puluh yang terkenal dalam Katekismus Heidelberg yang mengecam misa Katolik sebagai ‘penyembahan berhala yang terkutuk,’ menimbulkan banyak masalah di komunitas-komunitas campuran, dan di beberapa tempat dilarang oleh para pejabat Katolik Roma. Buku himne Jerman modern secara bijaksana mengganti kata ‘Paus dan orang Islam’ dengan ‘semua musuh,’ atau ‘musuh-musuh Kristus.’ Untuk menilai pandangan Luther tentang kepausan secara adil, perlu diingat bahwa pandangan tersebut diungkapkan dalam suasana kontroversi yang penuh gejolak, dan dengan semua kekerasan temperamennya yang meledak-ledak. Pandangan tersebut tidak lebih berbobot dari pada kecamannya yang sama keras terhadap Aristoteles dan Thomas Aquinas.]
- ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 252.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin