Pemahaman Alkitab

(online)

G. K. R. I. ‘GOLGOTA’

(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)

Selasa, tgl 8 Oktober 2024, pk 18.30

 

Pdt. Budi Asali, M. Div.

 

Roma Katolik

vs

Kristen Protestan (12f)

 

Martin Luther(6)

 

 

12)Peperangan Martin Luther terhadap kepausan (1520).

 

David Schaff: “After the disputation at Leipzig, Luther lost all hope of a reformation from Rome, which was preparing a bull of excommunication. Here begins his storm and pressure period, which culminated in the burning of the Pope’s bull, and the protest at the Diet of Worms.” [= Setelah debat di Leipzig, Luther kehilangan semua harapan akan suatu reformasi dari Roma, yang saat itu sedang mempersiapkan bulla exkomunikasi. Di sinilah dimulai periode badai dan tekanan dalam hidupnya, yang mencapai puncaknya dengan pembakaran bulla Paus dan protes di Diet of Worms.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 203.

 

David Schaff: “Under severe mental anguish he was driven to the conviction that the papacy, as it existed in his day, was an anti-christian power, and the chief source and support of abuses in the Church. Prierias, Eck, Emser, and Alveld defended the most extravagant claims of the papacy with much learning, but without any discrimination between fact and fiction. Luther learned from the book of Laurentius Valla, as republished by Ulrich von Hutten, that the Donation of Constantine, by which this emperor conferred on Pope Sylvester and his successors the temporal sovereignty not only over the Lateran Palace, but also over Rome, Italy, and all the West, was a baseless forgery of the dark ages. He saw through the ‘devilish lies,’ as he called them, of the Canon law and the pseudo-Isidorian Decretals. ‘It must have been a plague sent by God,’ he says (in his ‘Address to the German Nobility’), ‘that induced so many people to accept such lies, though they are so gross and clumsy that one would think a drunken boor could lie more skillfully.’ Genuine Catholic scholars of a later period have exposed with irrefragable arguments this falsification of history. His view of the Church expanded beyond the limits of the papacy, and took in the Oriental Christians, and even such men as Hus, who was burned by an oecumenical council for doctrines derived from St. Paul and St. Augustin. Instead of confining the Church, like the Romanists, to an external visible communion under the Pope, he regarded it now as a spiritual communion of all believers under Christ the only Head. All the powers of indignation and hatred of Roman oppression and corruption gathered in his breast. ‘I can hardly doubt,’ he wrote to Spalatin, Feb. 23, 1520, ‘that the Pope is the Antichrist.’ In the same year, Oct. 11, he went so far as to write to Leo X. that the papal dignity was fit only for traitors like Judas Iscariot whom God had cast out.” [= Dalam penderitaan mental yang parah, Luther sampai pada keyakinan bahwa kepausan, sebagaimana adanya pada zamannya, adalah kekuatan anti-Kristen dan sumber utama serta pendukung penyalahgunaan dalam Gereja. Prierias, Eck, Emser, dan Alveld mempertahankan klaim-klaim paling berlebihan tentang kepausan dengan pengetahuan yang luas, tetapi tanpa membedakan antara fakta dan fiksi. Luther belajar dari buku Laurentius Valla, yang diterbitkan kembali oleh Ulrich von Hutten, bahwa Donasi Konstantinus, dengan mana kaisar tersebut memberikan kekuasaan temporal kepada Paus Sylvester dan para penerusnya, tidak hanya atas Istana Lateran, tetapi juga atas Roma, Italia, dan seluruh wilayah Barat, adalah sebuah pemalsuan yang tidak berdasar dari zaman kegelapan. Luther menyebut hukum Kanon dan Dekretal pseudo-Isidorian sebagai ‘kebohongan iblis.’ ‘Pastilah itu wabah yang dikirim oleh Tuhan,’ katanya (dalam Pidato kepada Bangsawan Jerman), ‘yang membuat begitu banyak orang menerima kebohongan-kebohongan seperti itu, meskipun kebohongan tersebut sangat kasar dan kikuk / janggal sehingga orang akan berpikir bahwa seorang petani mabukpun bisa berbohong dengan lebih terampil.’ Para sarjana Katolik sejati pada periode selanjutnya telah mengungkapkan pemalsuan sejarah ini dengan argumen-argumen yang tak terbantahkan. Pandangannya tentang Gereja meluas melampaui batas-batas kepausan dan mencakup umat Kristen Timur, bahkan tokoh-tokoh seperti Hus, yang dibakar oleh sebuah konsili ekumenis karena ajaran-ajarannya yang berasal dari Santo Paulus dan Santo Agustinus. Alih-alih membatasi Gereja, seperti yang dilakukan oleh kaum Roma, pada sebuah persekutuan lahiriah yang terlihat di bawah Paus, ia kini memandang Gereja sebagai sebuah persekutuan rohani dari semua orang percaya di bawah Kristus sebagai satu-satunya Kepala. Semua kekuatan kemarahan dan kebenciannya terhadap penindasan dan korupsi Roma berkumpul di dalam dirinya. ‘Aku hampir tidak bisa meragukan,’ tulisnya kepada Spalatin pada 23 Februari 1520, ‘bahwa Paus adalah Antikristus.’ Pada tahun yang sama, 11 Oktober, dia bahkan menulis kepada Leo X bahwa martabat kepausan hanya pantas bagi para pengkhianat seperti Yudas Iskariot yang telah dibuang oleh Allah.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 203-204.

 

Bdk. 2Tes 2:9-12 - (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan..

 

David Schaff: “Luther was much confirmed in his new convictions by Melanchthon, who had independently by calm study arrived at the same conclusion. In the controversy with Eck, August, 1519, Melanchthon laid down the far-reaching principle that the Scriptures are the supreme rule of faith, and that we must not explain the Scriptures by the Fathers, but explain and judge the Fathers by the Scriptures. He discovered that even Ambrose, Jerome, and Augustin had often erred in their exegesis. A little later (September, 1519), he raised the same charge against the Councils, and maintained that a Catholic Christian could not be required to believe any thing that was not warranted by the Scriptures. He expressed doubts about transubstantiation and the whole fabric of the mass. His estimate of the supreme value of the Scriptures, especially of Paul, rose higher and higher, and made him stronger and bolder in the conflict with mediaeval tradition.” [= Luther semakin diteguhkan dalam keyakinan barunya oleh Melanchthon, yang secara independen melalui studi yang tenang sampai pada kesimpulan yang sama. Dalam kontroversinya dengan Eck pada Agustus 1519, Melanchthon menetapkan prinsip yang sangat berpengaruh bahwa Kitab Suci adalah aturan utama iman, dan bahwa kita tidak boleh menjelaskan Kitab Suci berdasarkan ajaran para Bapa Gereja, melainkan menjelaskan dan menilai ajaran para Bapa Gereja berdasarkan Kitab Suci. Ia menemukan bahwa bahkan Ambrosius, Yerome, dan Agustinus sering kali salah dalam penafsiran mereka. Tak lama kemudian (September 1519), ia melontarkan kritik yang sama terhadap Konsili-Konsili Gereja dan berpendapat bahwa seorang Kristen Katolik tidak dapat diwajibkan untuk mempercayai apapun yang tidak didasarkan pada Kitab Suci. Ia menyatakan keraguan tentang doktrin transubstansiasi dan seluruh konsep misa. Pandangannya tentang nilai tertinggi Kitab Suci, terutama ajaran Paulus, semakin meningkat, membuatnya semakin kuat dan berani dalam menghadapi tradisi abad pertengahan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 204.

 

David Schaff: “Thus fortified by the learning of Melanchthon, encouraged by the patriotic zeal of Hutten and Sickingen, goaded by the fury of his enemies, and impelled, as it were, by a preternatural impulse, Luther attacked the papal power as the very stronghold of Satan. Without personal ill-will against anybody, he had a burning indignation against the system, and transcended all bounds of moderation. He felt the inspiration of a prophet, and had the courage of a martyr ready to die at any moment for his conviction.” [= Diperkuat oleh pengetahuan Melanchthon, didorong oleh semangat patriotik Hutten dan Sickingen, dipicu oleh amarah musuh-musuhnya, dan seolah-olah digerakkan oleh dorongan supranatural, Luther menyerang kekuasaan kepausan sebagai benteng utama Iblis. Tanpa kebencian pribadi terhadap siapapun, ia memiliki kemarahan yang membara terhadap / menentang sistim, dan melampaui batas-batas moderasi. Luther merasakan pengilhaman dari seorang nabi dan memiliki keberanian seorang martir yang siap mati kapan saja demi keyakinannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 204-205.

 

David Schaff: “He issued in rapid succession from July till October, 1520, his three most effective reformatory works: the, ‘Address to the German Nobility,’ the ‘Babylonian Captivity of the Church,’ and the, ‘Freedom of a Christian Man.’ The first two are trumpets of war, and the hardest blows ever dealt by human pen to the system of popery; while the third is peaceful, and shines like a rainbow above the thunderclouds. A strange contrast! Luther was the most conservative of radicals, and the most radical of conservatives. He had all the violence of a revolutionary orator, and at the same time the pious spirit of a contemplative mystic.” [= Dari Juli hingga Oktober 1520, Luther menerbitkan tiga karya reformasi paling efektif secara berurutan: ‘Panggilan kepada Bangsawan Jerman,’ ‘Pembuangan Babel dari Gereja,’ dan ‘Kebebasan Seorang Kristen.’ Dua yang pertama adalah seruan perang, dan merupakan pukulan paling keras yang pernah diberikan oleh pena manusia terhadap / menentang sistim kepausan; sementara yang ketiga adalah karya yang damai dan bersinar seperti pelangi di atas awan badai. Sebuah kontras yang aneh! Luther adalah yang paling konservatif di antara para radikal, dan yang paling radikal di antara para konservatif. Ia memiliki kekerasan seorang orator revolusioner, namun pada saat yang sama memiliki semangat saleh seorang mistikus kontemplatif.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 205.

 

David Schaff: “The sixteenth century was the age of practical soteriology. It had to settle the relation of man to God, to bring the believer into direct communion with Christ, and to secure to him the personal benefits of the gospel salvation. What was heretofore regarded as the exclusive privilege of the priest was to become the common privilege of every Christian. To this end, it was necessary to break down the walls which separated the clergy from the laity, and obstructed the approach to God. This was most effectually done by Luther’s anti-papal writings. On the relation of man to God rests the relation of man to his fellow-men; this is the sociological problem which forms one of the great tasks of the nineteenth century.” [= Abad keenam belas adalah masa doktrin keselamatan praktis. Pada periode ini, hubungan manusia dengan Allah harus dibereskan, agar umat beriman dapat masuk ke dalam persekutuan langsung dengan Kristus dan memastikan manfaat-manfaat pribadi dari keselamatan Injil. Apa yang sebelumnya dianggap sebagai hak istimewa exklusif para imam / pastor kini harus menjadi hak bersama setiap orang Kristen. Untuk mencapai tujuan ini, perlu menghancurkan dinding yang memisahkan klerus / pastor dari awam dan menghalangi jalan menuju Allah. Tindakan ini paling efektif dilakukan melalui tulisan-tulisan anti-kepausan Luther. Hubungan manusia dengan Allah menjadi dasar bagi hubungan manusia dengan sesama; ini adalah masalah sosiologis yang menjadi salah satu tugas besar abad kesembilan belas.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 205.

 

David Schaff: “‘The time for silence is gone, and the time for speaking has come.’ With these words (based on Eccles. 3:7) of the dedicatory preface to Amsdorf, Luther introduces his address, ‘to his most Serene and Mighty Imperial Majesty, and to the Christian Nobility of the German Nation, respecting a Reformation of the Christian Estate.’ The preface is dated on the Eve of St. John the Baptist (June 23), 1520; the book was hastily completed July 20, and before Aug. 18 no less than four thousand copies - an enormous number for those days - were published, and a new edition called for, besides reprints which soon appeared in Leipzig and Strassburg.” [= ‘Waktu untuk diam telah berlalu, dan waktu untuk berbicara telah tiba.’ Dengan kata-kata ini (berdasarkan Pengkhotbah 3:7) dalam kata pengantar yang ditujukan kepada Amsdorf, Luther memulai ‘Panggilan kepada Yang Mulia dan Perkasa Kaisar Kekaisaran, serta Bangsawan Kristen Bangsa Jerman, tentang Reformasi Status Kristen.’ Kata pengantar ini bertanggal pada Malam Santo Yohanes Pembaptis (23 Juni), 1520; buku ini diselesaikan dengan terburu-buru pada 20 Juli, dan sebelum 18 Agustus, tidak kurang dari empat ribu eksemplar - jumlah yang luar biasa banyak untuk zaman itu - telah diterbitkan, dengan edisi baru segera diminta, selain cetakan ulang yang muncul di Leipzig dan Strassburg.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 206.

 

Pkh 3:1-8 - (1) Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. (2) Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; (3) ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun; (4) ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari; (5) ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk; (6) ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang; (7) ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara; (8) ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai..

 

David Schaff: “The book is a most stirring appeal to the German nobles, who, through Hutten and Sickingen, had recently offered their armed assistance to Luther. He calls upon them to take the much-needed Reformation of the Church into their own hands; not, indeed, by force of arms, but by legal means, in the fear of God, and in reliance upon his strength. The bishops and clergy refused to do their duty; hence the laity must come to the front of the battle for the purity and liberty of the Church.” [= Buku ini adalah permohonan yang sangat menggugah kepada para bangsawan Jerman, yang baru-baru ini, melalui Hutten dan Sickingen, menawarkan bantuan bersenjata mereka kepada Luther. Ia memohon kepada mereka untuk mengambil alih Reformasi Gereja yang sangat dibutuhkan, bukan dengan kekuatan senjata, tetapi dengan cara-cara legal, dalam rasa takut akan Allah, dan bergantung pada kekuatanNya. Karena para uskup dan klerus menolak melakukan tugas mereka, maka kaum awam harus maju ke garis depan pertempuran demi kemurnian dan kebebasan Gereja.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 206.

 

David Schaff: “Luther exposes without mercy the tyranny of the Pope, whose government, he says, ‘agrees with the government of the apostles as well as Lucifer with Christ, hell with heaven, night with day; and yet he calls himself Christ’s Vicar, and the Successor of Peter.’” [= Luther tanpa ampun mengungkapkan tirani Paus, yang pemerintahannya, menurutnya, ‘sesuai dengan pemerintahan para rasul seperti halnya Lucifer sesuai dengan Kristus, neraka dengan surga, malam dengan siang; namun ia menyebut dirinya Wakil Kristus dan Penerus Petrus.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 206-207.

 

David Schaff: “The book is divided into three parts: - 1. In the first part, Luther pulls down what he calls the three walls of Jericho, which the papacy had erected in self-defense against any reformation; namely, the exclusion of the laity from all control, the exclusive claim to interpret the Scriptures, and the exclusive claim to call a Council. Under the first head, he brings out clearly and strongly, in opposition to priestcraft, the fundamental Protestant principle of the general priesthood of all baptized Christians. He attacks the distinction of two estates, one spiritual, consisting of Pope, bishops, priests, and monks; and one temporal, consisting of princes, lords, artificers, and peasants. ... 2. In the second part, Luther chastises the worldly pomp of the Pope and the cardinals, their insatiable greed, and exactions under false pretenses. 3. In the third part, he deals with practical suggestions. He urges sweeping reforms in twenty-seven articles, to be effected either by the civil magistrate, or by a general council of ministers and laymen.” [= Buku ini terbagi menjadi tiga bagian: - 1. Dalam Bagian pertama, Luther meruntuhkan apa yang disebutnya sebagai tiga tembok Yerikho, yang telah didirikan kepausan untuk membela diri dari segala bentuk reformasi; yaitu, pengeluaran kaum awam dari segala kendali, klaim eksklusif untuk menafsirkan Kitab Suci, dan klaim eksklusif untuk memanggil Konsili Gereja. Dalam bagian pertama ini, Luther dengan jelas dan kuat menentang keimaman yang memonopoli kekuasaan rohani, sambil menekankan prinsip fundamental Protestan tentang keimaman umum bagi semua orang Kristen yang dibaptis. Ia menyerang pembedaan antara dua status, yaitu satu rohani yang terdiri dari Paus, uskup, imam, dan biarawan; dan satu duniawi, yang terdiri dari pangeran, bangsawan, pengrajin, dan petani. ... 2. Dalam bagian kedua, Luther mengecam kemegahan duniawi Paus dan para kardinal, keserakahan mereka yang tak pernah terpuaskan, dan pemerasan mereka dengan alasan-alasan palsu. 3. Dalam bagian ketiga: Luther memberikan saran-saran praktis. Ia mendesak adanya reformasi menyeluruh dalam dua puluh tujuh artikel, yang dapat dilaksanakan baik oleh penguasa sipil, atau oleh konsili umum yang terdiri dari pejabat-pejabat dan kaum awam.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 207,208.

 

David Schaff: “He recommends the abolition of the annates, of the worldly pomp and idolatrous homage paid to the Pope (as kissing his feet), and of his whole temporal power, so that he should be hereafter merely a spiritual ruler, with no power over the emperor except to anoint and crown him, as a bishop crowns a king, as Samuel crowned Saul and David. He strongly demands the abrogation of enforced clerical celibacy, which destroys instead of promoting chastity, and is the cause of untold misery. Clergymen should be allowed to marry, or not to marry, according to their gift and sense of duty. Masses for the dead should be abolished, since they have become a solemn mockery, and devices for getting money, thus exciting the anger of God. Processions, saints’ days, and most of the public festivals, except Sunday, should be abrogated, since holy days have become most unholy by drinking, gambling, and idling. Monasteries should be reduced in number, and converted into schools, with freedom to enter and to leave without binding vows. Certain punishments of the Canon law should cease, especially the interdict which silences God’s word and service, - a greater sin than to kill twenty Popes at once. Fasts should be voluntary and optional; for whilst at Rome they laugh at fasts, they let us abroad eat oil which they would not think fit for greasing their boots, and then sell us the liberty of eating butter and other things; whereas the apostle says that the gospel has given us liberty in all such matters (1Cor. 10:25 sq.). He also would forbid all begging in Christendom; each town should support its own poor, and not allow strange beggars to come in, whether pilgrims or mendicant monks; it is not right that one should work that another may be idle, and live ill that another may live well, but ‘if any would not work, neither should he eat’ (2Thess. 3:10). He counsels a reduction of the clerical force, and the prohibition of pluralities. ‘As for the fraternities, together with indulgences, letters of indulgence, dispensations, masses, and all such things, let them all be drowned and abolished.’ He recommends (Art. 24) to do justice to, and make peace with, the Bohemians; for Hus and Jerome of Prague were unjustly burnt, in violation of the safe-conduct promised by the Pope and the Emperor. Heretics should be overcome with books, not with fire; else, the hangmen would be the most learned doctors in the world, and there would be no need of study.’ In Art. 25, Luther urges a sound reformation of the universities, which had become ‘schools of Greek fashion’ and ‘heathenish manners’ (2 Macc. 4:12, 13), and are, full of dissolute living.’ He is unjustly severe upon Aristotle, whom he calls a ‘dead, blind, accursed, proud, knavish heathen teacher.’ His logic, rhetoric, and poetic might be, retained; but his physics, metaphysics, ethics, and the book ‘Of the Soul’ (which teaches that the soul dies with the body) ought to be banished, and the study of the languages, mathematics, history, and especially of the Holy Scriptures, cultivated instead. ‘Nothing is more devilishly mischievous,’ he says, ‘than an unreformed university.’ He would also have the Canon law banished, of which there is ‘nothing good but the name,’ and which is no better than ‘waste paper.’ He does not spare national vices. He justly rebukes the extravagance in dress, the usury, and especially the intemperance in eating and drinking, for which, he says, ‘we Germans have an ill reputation in foreign countries, as our special vice, and which has become so common, and gained so much the upper hand, that sermons avail nothing.’ (His frequent protest against the ‘Saufteufel’ of the Germans, as he calls their love of drink, is still unheeded. In temperance the Southern nations of Europe are far ahead of those of the North.) In conclusion, he expresses the expectation that he will be condemned upon earth. ‘My greatest care and fear is, lest my cause be not condemned by men; by which I should know for certain that it does not please God. Therefore let them freely go to work, Pope, bishop, priest, monk, or doctor: they are the true people to persecute the truth, as they have always done. May God grant us all a Christian understanding, and especially to the Christian nobility of the German nation true spiritual courage, to do what is best for our unhappy Church. Amen.’” [= Dia merekomendasikan penghapusan annates (pajak gerejawi tahunan), kemewahan duniawi, dan penghormatan yang bersifat penyembahan berhala yang diberikan kepada Paus (seperti mencium kakinya), serta seluruh kekuasaan temporal Paus, sehingga ke depannya Paus hanya menjadi penguasa rohani tanpa kekuasaan atas kaisar, kecuali untuk mengurapi dan memahkotainya, seperti seorang uskup memahkotai seorang raja, sebagaimana Samuel memahkotai Saul dan Daud. Dia dengan tegas menuntut pencabutan celibat klerus yang dipaksakan, yang menurutnya justru menghancurkan kesucian alih-alih mempromosikannya, serta menjadi penyebab penderitaan yang tak terhitung jumlahnya. Para rohaniwan harus diizinkan untuk menikah atau tidak menikah sesuai dengan karunia dan panggilan tugas mereka. Misa untuk orang mati juga harus dihapuskan, karena telah menjadi sebuah ejekan khidmat dan cara untuk mendapatkan uang, yang membangkitkan murka Allah. Prosesi, hari-hari perayaan para santo, dan sebagian besar festival publik, kecuali hari Minggu, harus dihapuskan, karena hari-hari suci telah menjadi sangat tidak suci akibat mabuk-mabukan, berjudi, dan bermalas-malasan. Biara-biara harus dikurangi jumlahnya dan diubah menjadi sekolah-sekolah, dengan kebebasan untuk masuk dan keluar tanpa sumpah yang mengikat. Hukuman tertentu dalam Hukum Kanon harus dihentikan, terutama larangan hukum gereja, yang membungkam Firman Allah dan pelayanan / kebaktian, - suatu dosa yang lebih besar dari pada membunuh dua puluh Paus sekaligus. Puasa harus bersifat sukarela dan opsional; karena sementara di Roma mereka menertawakan puasa, mereka membiarkan kita di luar sana makan minyak yang bahkan tidak layak untuk melumasi sepatu bot mereka, dan kemudian menjual kebebasan kepada kita untuk makan mentega dan hal-hal lainnya. Padahal, rasul Paulus mengatakan bahwa Injil telah memberikan kebebasan kepada kita dalam hal-hal semacam ini (1Kor 10:25 dan seterusnya). Dia juga mengusulkan pelarangan semua pengemis di dunia Kristen; setiap kota harus mendukung orang miskin mereka sendiri dan tidak membiarkan pengemis asing masuk, baik peziarah maupun biarawan pengemis. Tidaklah benar jika seseorang bekerja agar orang lain dapat bermalas-malasan, atau hidup dalam kesulitan agar orang lain dapat hidup dengan baik, tetapi ‘jika ada orang yang tidak mau bekerja, janganlah ia makan’ (2Tes 3:10). Dia menyarankan pengurangan jumlah klerus dan pelarangan jabatan ganda. ‘Adapun persaudaraan-persaudaraan (?), bersama dengan indulgensi, surat indulgensi, dispensasi, misa, dan semua hal semacam itu, biarlah semuanya tenggelam dan dihapuskan.’ Dia juga merekomendasikan (Pasal 24) untuk berlaku adil dan berdamai dengan orang-orang Bohemia; karena Hus dan Jerome dari Praha dibakar secara tidak adil, melanggar jaminan perlindungan yang dijanjikan oleh Paus dan Kaisar. Para bidat harus dikalahkan dengan buku, bukan dengan api; jika tidak, para algojo akan menjadi doktor-doktor yang paling terpelajar di dunia, dan tidak akan ada kebutuhan untuk belajar.’ Dalam Pasal 25, Luther mendesak agar universitas-universitas direformasi secara menyeluruh, karena telah menjadi ‘sekolah-sekolah dengan gaya Yunani’ dan ‘kebiasaan-kebiasaan kafir’ (2Makabe 4:12,13), serta dipenuhi oleh kehidupan yang tidak bermoral’. Dia secara tidak adil sangat keras terhadap Aristoteles, yang disebutnya sebagai ‘guru kafir yang mati, buta, terkutuk, sombong, dan licik.’ Logika, retorika, dan puisinya mungkin bisa dipertahankan; tetapi fisika, metafisika, etika, serta buku ‘Of the Soul’ (yang mengajarkan bahwa jiwa mati bersama tubuh) harus dihapuskan, dan sebaliknya, studi bahasa, matematika, sejarah, serta terutama Kitab Suci, harus dikembangkan. ‘Tidak ada yang lebih jahat,’ katanya, ‘daripada universitas yang tidak direformasi.’ Dia juga ingin agar Hukum Kanon dihapuskan, yang menurutnya ‘tidak ada yang baik kecuali namanya saja,’ dan sama sekali tidak lebih baik dari ‘kertas usang yang tak berguna.’ Dia tidak menyayangkan keburukan nasional. Dia dengan adil menegur kemewahan dalam berpakaian, riba, dan terutama ketidakadaan penguasaan diri dalam makan dan minum, yang menurutnya, ‘kami orang Jerman memiliki reputasi buruk di negara-negara asing sebagai keburukan khas kami, dan yang telah menjadi begitu umum serta mendominasi sehingga khotbah-khotbahpun tidak ada gunanya.’ (Protesnya yang sering terhadap Saufteufel orang Jerman, sebutannya untuk kecintaan mereka terhadap minuman keras, masih diabaikan hingga sekarang. Dalam hal penguasaan diri, bangsa-bangsa di Eropa Selatan jauh lebih unggul dibandingkan bangsa-bangsa di Utara.) Sebagai kesimpulan, dia menyatakan harapannya bahwa dia akan dihukum di dunia ini. ‘Kekhawatiran dan ketakutan terbesarku adalah jika perjuanganku tidak dihukum oleh manusia; dengan begitu, aku akan tahu dengan pasti bahwa hal itu tidak berkenan di hadapan Allah. Oleh karena itu, biarlah mereka bekerja dengan bebas, baik Paus, uskup, imam, biarawan, maupun doktor: mereka adalah orang-orang yang tepat untuk menganiaya kebenaran, sebagaimana yang selalu mereka lakukan. Semoga Allah memberikan kita semua pemahaman Kristen, dan terutama kepada kaum bangsawan Kristen bangsa Jerman, keberanian rohani sejati untuk melakukan yang terbaik bagi Gereja kita yang malang ini. Amin.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 208-210.

 

David Schaff: “The book was a firebrand thrown into the headquarters of the papal church. It anticipated a reply to the papal bull, and prepared the public mind for it. It went right to the heart of the Germans, in their own language wielded with a force as never before, and gave increased weight to the hundred grievances of long standing against Rome. But it alarmed some of his best friends. They condemned or regretted his biting severity. Staupitz tried at the eleventh hour to prevent the publication, and soon afterwards (Aug. 23, 1520) resigned his position as general vicar of the Angustinians, and retired to Salzburg, feeling himself unequal to the conflict. John Lange called the book a ‘blast for assault, atrocious and ferocious.’ Some feared that it might lead to a religious war. Melanchthon could not approve the violence, but dared not to check the spirit of the new Elijah. Luther defended himself by referring to the example of Paul and the prophets: it was necessary to be severe in order to get a hearing; he felt sure that he was not moved by desire for glory or money or pleasure, and disclaimed the intention of stirring up sedition and war; he only wished to clear the way for a free general council; he was perhaps the forerunner of Master Philippus in fighting Ahab and the prophets of Baal after the example of Elijah (1 Kings 18).” [= Buku itu ibarat bara api yang dilemparkan ke pusat kekuasaan Gereja Katolik Roma. Buku tersebut mendahului tanggapan terhadap bulla kepausan dan mempersiapkan pikiran publik untuk menghadapinya. Buku itu langsung menyentuh hati orang-orang Jerman, ditulis dalam bahasa mereka sendiri dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan menambah bobot pada ratusan keluhan yang telah lama ada terhadap Roma. Namun, buku ini membuat khawatir beberapa teman terbaik Luther. Mereka mengecam atau menyesalkan ketajaman serangannya. Staupitz, pada detik-detik terakhir, mencoba mencegah publikasi buku tersebut dan tak lama kemudian (23 Agustus 1520) mengundurkan diri dari jabatannya sebagai vikaris jenderal Ordo Agustinian, dan pindah ke Salzburg, karena merasa tidak mampu menghadapi konflik yang ada. John Lange menyebut buku itu sebagai ‘seruan untuk menyerang, kejam dan buas.’ Beberapa orang khawatir buku ini akan memicu perang agama. Melanchthon tidak setuju dengan kekerasannya, tetapi tidak berani menahan semangat ‘Elia baru’ itu. Luther membela diri dengan merujuk pada teladan Paulus dan para nabi: kekerasan diperlukan agar pendapatnya didengar; ia yakin bahwa dirinya tidak digerakkan oleh keinginan untuk memperoleh kemuliaan, uang, atau kesenangan, dan menyangkal tuduhan bahwa ia bermaksud menghasut pemberontakan atau perang. Ia hanya ingin membuka jalan bagi konsili umum yang bebas; ia mungkin adalah pendahulu dari Master Philippus dalam melawan Ahab dan nabi-nabi Baal, mencontoh Elia (1Raja 18).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 210-211.

 

David Schaff: “In closing the ‘Address to the Nobility,’ Luther announces: ‘I have another song still to sing concerning Rome. If they wish to hear it, I will sing it to them, and sing with all my might. Do you understand, my friend Rome, what I mean?’ This new song, or second war-trumpet, was the book on the, ‘Babylonian Captivity of the Church,’ published in the beginning of October, 1520. He calls it a ‘prelude,’ as if the real battle were yet to come. He intended it for scholars and the clergy, and therefore wrote in Latin. It is a polemical, theological work of far-reaching consequences, cutting one of the roots of Romanism, and looking towards a new type of Christian life and worship. He attacks the sacramental system of the Roman Church, by which she accompanies and controls the life of the Christian from the cradle to the grave, and brings every important act and event under the power of the priest. This system he represents as a captivity, and Rome as the modern Babylon. Yet he was very far from undervaluing the importance and benefit of the sacrament; and as far as the doctrine of baptism and the eucharist is concerned, he agreed better with the Catholic than with the Zwinglian view.” [= Dalam penutup ‘Address to the Nobility’, Luther menyatakan: ‘Saya masih memiliki lagu lain yang akan saya nyanyikan tentang Roma. Jika mereka ingin mendengarnya, saya akan menyanyikannya bagi mereka, dan saya akan menyanyi dengan seluruh kekuatan saya. Apakah Anda mengerti, teman saya Roma, apa yang saya maksudkan?’ Lagu baru ini, atau trompet perang kedua, adalah buku tentang ‘Babylonian Captivity of the Church’, yang diterbitkan pada awal Oktober 1520. Luther menyebutnya sebagai ‘pendahuluan’, seolah-olah pertempuran sebenarnya masih akan datang. Buku ini ditujukan untuk kalangan sarjana dan rohaniwan, dan karena itu ditulis dalam bahasa Latin. Ini adalah karya teologis yang bersifat polemik dengan konsekwensi yang sangat luas, yang memotong salah satu dari akar Romanisme dan mengarah pada jenis yang baru dari kehidupan dan penyembahan Kristen. Luther menyerang sistim sakramental Gereja Katolik Roma, dengan mana Gereja Katolik Roma mengiringi dan mengendalikan kehidupan orang Kristen dari lahir sampai mati, serta membawa setiap tindakan dan peristiwa penting di bawah kekuasaan imam / pastor. Sistim ini ia gambarkan sebagai sebuah penawanan, dan Roma sebagai Babilonia modern. Meskipun begitu, ia tidak meremehkan pentingnya dan manfaat dari sakramen; dan dalam hal doktrin baptisan dan ekaristi, pandangannya lebih dekat dengan pandangan Katolik dari pada pandangan Zwingli.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 213-214.

 

David Schaff: “Luther begins by thanking his Romish opponents for promoting his theological education. ‘Two years ago,’ he says, ‘I wrote about indulgences when I was still involved in superstitious respect for the tyranny of Rome; but now I have learned, by the kind aid of Prierias and the friars, that indulgences are nothing but wicked devices of the flatterers of Rome. Afterwards Eck and Emser instructed me concerning the primacy of the Pope. While I denied the divine right, I still admitted the human right; but after reading the super-subtle subtilties of those coxcombs in defense of their idol, I became convinced that the papacy is the kingdom of Babylon and the power of Nimrod the mighty hunter. Now a learned professor of Leipzig writes against me on the sacrament in both kinds, and is about to do still greater wonders. He says that it was neither commanded nor decreed, whether by Christ or the apostles, that both kinds should be administered to the laity.’” [= Luther memulai dengan berterima kasih kepada lawan-lawan Romanya yang telah memajukan pendidikan theologianya. ‘Dua tahun yang lalu’, katanya, ‘saya menulis tentang indulgensi ketika saya masih terjerat dalam penghormatan yang bersifat takhyul terhadap tirani Roma; tetapi sekarang saya telah belajar, berkat bantuan dari Prierias dan para biarawan, bahwa indulgensi tidak lain hanyalah tipu muslihat jahat dari para penjilat Roma. Kemudian Eck dan Emser mengajari saya tentang supremasi Paus. Sementara saya menyangkal hak ilahi, saya masih mengakui hak manusia; tetapi setelah membaca kerumitan yang sangat halus dari para orang sombong itu dalam membela berhala mereka, saya menjadi yakin bahwa kepausan adalah kerajaan Babilonia dan kekuasaan Nimrod, sang pemburu ulung. Sekarang seorang profesor terpelajar dari Leipzig menulis melawan saya tentang sakramen dalam kedua jenis, dan dia akan melakukan hal-hal yang lebih menakjubkan lagi. Dia mengatakan bahwa baik Kristus maupun para rasul tidak memerintahkan atau menetapkan bahwa kedua jenis tersebut harus diberikan kepada umat awam.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 214.

 

David Schaff: “§ 46. Christian Freedom. - Luther’s Last Letter to the Pope. October, 1520. ... Although Rome had already condemned Luther, the papal delegate Miltitz still entertained the hope of a peaceful settlement. He had extracted from Luther the promise to write to the Pope. He had a final interview with him and Melanchthon at Lichtenberg (now Lichtenburg, in the district of Torgau), in the convent of St. Antony, Oct. 11, 1520, a few days after Luther had seen the bull of excommunication. It was agreed that Luther should write a book, and a letter in Latin and German to Leo X., and assure him that he had never attacked his person, and that Dr. Eck was responsible for the whole trouble. The book was to be finished in twelve days, but. dated back to Sept. 6 in order to avoid the appearance of being occasioned by the Pope’s bull.” [= § 46. Kebebasan Kristen - Surat Terakhir Luther kepada Paus. Oktober, 1520. Meskipun Roma telah mengutuk Luther, delegasi kepausan Miltitz masih berharap akan adanya penyelesaian damai. Ia berhasil mendapatkan janji dari Luther untuk menulis surat kepada Paus. Pertemuan terakhir mereka terjadi bersama Melanchthon di Lichtenberg (sekarang Lichtenburg, di distrik Torgau), di biara Santo Antonius, pada 11 Oktober 1520, beberapa hari setelah Luther melihat bulla exkomunikasi. Disepakati bahwa Luther akan menulis sebuah buku, dan sebuah surat dalam bahasa Latin dan Jerman kepada Leo X., serta meyakinkan dia bahwa ia tidak pernah menyerang pribadi sang Paus, dan bahwa Dr. Eck bertanggung jawab atas seluruh perselisihan ini. Buku tersebut harus diselesaikan dalam dua belas hari, tetapi diberi tanggal mundur ke 6 September untuk menghindari kesan bahwa buku tersebut disebabkan oleh bulla dari Paus.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 220,221.

 

David Schaff: “This is the origin of two of the most remarkable productions of Luther, - his little book on ‘Christian Freedom,’ and a dedicatory letter to Leo X. The beautiful tract on ‘Christian Freedom’ is a pearl among Luther’s writings. It presents a striking contrast to his polemic treatises against Rome, which were intended to break down the tyranny of popery. And yet it is a positive complement to them, and quite as necessary for a full understanding of his position. While opposing the Pope’s tyranny, Luther was far from advocating the opposite extreme of license. He was thoroughly imbued with the spirit of the Epistle to the Galatians, which protests against both extremes, and inspired the keynote to Luther’s Tract. He shows wherein true liberty consists. He means liberty according to the gospel; liberty in Christ, not from Christ; and offers this as a basis for reconciliation. He presents here a popular summary of Christian life. He keeps free from all polemics, and writes in the best spirit of that practical mysticism which connected him with Staupitz and Tauler.” [= Inilah asal mula dari dua karya Luther yang paling luar biasa: buku kecilnya tentang ‘Kebebasan Kristen’, dan sebuah surat dedikasi kepada Leo X. Risalah indah tentang ‘Kebebasan Kristen’ ini adalah mutiara di antara tulisan-tulisan Luther. Buku ini menunjukkan kontras yang mencolok dengan tulisan-tulisan polemiknya melawan Roma yang dimaksudkan untuk menghancurkan tirani kepausan. Namun, risalah ini justru melengkapi tulisan-tulisan tersebut secara positif dan sama pentingnya untuk memahami posisi Luther secara utuh. Sementara ia menentang tirani Paus, Luther sama sekali tidak menganjurkan kebebasan tanpa batas yang berlebihan. Ia sepenuhnya dipengaruhi oleh semangat Surat kepada Jemaat di Galatia, yang menentang kedua ekstrem tersebut, dan surat ini menjadi inspirasi utama bagi Risalah Luther. Dalam karyanya ini, Luther menunjukkan di mana letak kebebasan sejati. Yang dimaksudnya adalah kebebasan menurut Injil; kebebasan dalam Kristus, bukan kebebasan dari Kristus; dan Luther menawarkan pemahaman ini sebagai dasar untuk perdamaian. Di sini ia memaparkan ringkasan populer tentang kehidupan Kristen. Luther menghindari segala bentuk polemik dan menulis dalam semangat terbaik dari mistisisme praktis yang menghubungkannya dengan Staupitz dan Tauler.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 221.

 

David Schaff: “The leading idea is: The Christian is the lord of all, and subject to none, by virtue of faith; he is the servant of all, and subject to every one, by virtue of love. Faith and love constitute the Christian: the one binds him to God, the other to his fellow-man. The idea is derived from St. Paul, who says, ‘Though I was free from all men, I brought myself under bondage to all, that I might gain the more’ (1 Cor. 9:19); and ‘Owe no man any thing, save to love one another’ (Rom. 13:8). It was carried out by Christ, who was Lord of all things, yet born of a woman, born under the law that he might redeem them who were under the law (Gal. 4:4); who was at once in the form of God, and in the form of a servant (Phil. 2:6,7). The Christian life is an imitation of the life of Christ, - a favorite idea of the mediaeval mystics.” [= Gagasan utama dari karya ini adalah: Seorang Kristen adalah tuan atas segala sesuatu dan tidak tunduk kepada siapapun, karena iman; tetapi ia juga adalah hamba bagi semua orang dan tunduk kepada setiap orang, karena kasih. Iman dan kasih inilah yang membentuk seorang Kristen: yang satu mengikatnya kepada Tuhan, sementara yang lain mengikatnya kepada sesama manusia. Gagasan ini diambil dari Rasul Paulus, yang berkata, ‘Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.’ (1Kor 9:19); dan ‘Janganlah kamu berhutang apa-apa kepada siapapun juga, tetapi hendaklah kamu saling mengasihi.’ (Roma 13:8). Gagasan ini dilaksanakan oleh Kristus, yang meskipun adalah Tuhan atas segala sesuatu, tetapi dilahirkan dari seorang perempuan, lahir di bawah hukum Taurat, agar Ia dapat menebus mereka yang berada di bawah hukum Taurat (Gal 4:4); Ia berada sekaligus dalam rupa Allah, dan dalam rupa seorang hamba (Filipi 2:6-7). Kehidupan Kristen adalah sebuah peneladanan atas kehidupan Kristus - suatu gagasan favorit dari mistikus abad pertengahan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 221-222.

 

Catatan: ‘mystic’ = a person who claims to have insight into mysteries not understood by ordinary people’ [= Seseorang yang mengaku memiliki pengertian tentang misteri yang tidak dipahami oleh orang biasa.] - https://www.thefreedictionary.com/Mystics

 

David Schaff: “Man is made free by faith, which alone justifies; but it manifests itself in love, and all good works. The person must first be good before good works can be done, and good works proceed from a good person; as Christ says, ‘A good tree cannot bring forth evil fruit, neither can a corrupt tree bring forth good fruit’ (Matt. 7:18). The fruit does not bear the tree, nor does the tree grow on the fruit; but the tree bears the fruit, and the fruit grows on the tree. So it is in all handicrafts. A good or bad house does not make a good or bad builder, but the good or bad builder makes a good or bad house. Such is the case with the works of men. Such as the man himself is, whether in faith or in unbelief, such is his work; good if it is done in faith, bad if in unbelief. Faith, as it makes man a believer, so also it makes his works good; but works do not make a believing man, nor a justified man. We do not reject works; nay, we commend them, and teach them in the highest degree. It is not on their own account that we condemn them, but on account of the perverse notion of seeking justification by them. ‘From faith flow forth love and joy in the Lord; and from love, a cheerful, willing, free spirit, disposed to serve our neighbor voluntarily, without taking any account of gratitude or ingratitude, praise or blame, gain or loss. Its object is not to lay men under obligations; nor does it distinguish between friends and enemies, or look to gratitude or ingratitude; but most freely and willingly it spends itself and its goods, whether it loses them through ingratitude, or gains good-will. For thus did its Father, distributing all things to all men abundantly and freely, making his sun to rise upon the just and the unjust. Thus, too, the child does and endures nothing except from the free joy with which it delights through Christ in God, the giver of such great gifts.’ ...” [= Manusia dijadikan bebas oleh iman, yang sendirian membenarkan; tetapi iman itu mewujudkan dirinya sendiri dalam kasih dan semua perbuatan baik. Seseorang harus terlebih dahulu menjadi baik sebelum perbuatan baik dapat dilakukan, dan perbuatan baik muncul dari orang yang baik; seperti yang dikatakan Kristus, ‘Pohon yang baik tidak dapat menghasilkan buah yang jahat, begitu juga pohon yang buruk tidak dapat menghasilkan buah yang baik’ (Mat 7:18). Buah tidak menopang pohon, begitu pula pohon tidak tumbuh di atas buah; tetapi pohon menghasilkan buah, dan buah tumbuh di pohon. Begitu pula dalam semua kerajinan tangan. Sebuah rumah yang baik atau buruk tidak membuat pembangun menjadi baik atau buruk, tetapi pembangun yang baik atau buruk yang membuat rumah menjadi baik atau buruk. Demikian pula halnya dengan perbuatan manusia. Bagaimana kondisi manusia itu sendiri, baik dalam iman maupun dalam ketidakpercayaan, demikianlah perbuatannya; baik jika dilakukan dalam iman, buruk jika dalam ketidakpercayaan. Iman, karena menjadikan orang sebagai orang percaya, juga menjadikan perbuatannya baik; tetapi perbuatan tidak membuat orang menjadi orang beriman, maupun orang yang dibenarkan. Kami tidak menolak perbuatan baik; sebaliknya, kami memuji mereka dan mengajarkannya dalam tingkatan yang tertinggi. Kami tidak mengutuk perbuatan tersebut atas dasar mereka sendiri, tetapi atas dasar pemahaman yang salah dalam mencari pembenaran melalui perbuatan tersebut. ‘Dari iman keluar kasih dan sukacita dalam Tuhan; dan dari kasih, keluar semangat yang ceria, rela, dan bebas, yang cenderung melayani sesama secara sukarela, tanpa memperhitungkan rasa terima kasih atau tidak, pujian atau celaan, keuntungan atau kerugian. Tujuannya bukan untuk mewajibkan orang lain; juga tidak membedakan antara teman dan musuh, atau memperhatikan rasa terima kasih atau tidak; tetapi dengan bebas dan sukarela ia memberikan dirinya dan hartanya, apakah ia kehilangan semuanya karena ketidaksyukuran, atau mendapatkan itikad baik. Sebab demikianlah yang dilakukan oleh Bapanya, yang memberikan segala sesuatu kepada semua orang dengan berlimpah dan bebas, membuat matahariNya terbit atas orang benar dan yang tidak benar. Demikian pula, anakNya tidak melakukan dan menanggung apapun kecuali dari sukacita bebas yang menyenangkan melalui Kristus dalam Allah, pemberi anugerah yang begitu besar.’ ...] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 222-223.

 

David Schaff: “‘Who, then, can comprehend the riches and glory of the Christian life? It can do all things, has all things, and is in want of nothing; is lord over sin, death, and hell, and, at the same time, is the obedient and useful servant of all. But alas! it is at this day unknown throughout the world; it is neither preached nor sought after, so that we are quite ignorant about our own name, why we are and are called Christians. We are certainly called so from Christ, who is not absent, but dwells among us, provided we believe in him; and are reciprocally and mutually one the Christ of the other, doing to our neighbor as Christ does to us. But now, in the doctrine of men, we are taught only to seek after merits, rewards, and things which are already ours; and we have made of Christ a task-master far more severe than Moses.’ ...” [= Siapakah yang dapat memahami kekayaan dan kemuliaan kehidupan Kristen? Kehidupan Kristen ini dapat melakukan segala sesuatu, memiliki segala sesuatu, dan tidak kekurangan apapun; ia adalah tuan atas dosa, kematian, dan neraka, namun pada saat yang sama menjadi pelayan yang taat dan berguna bagi semua. Namun, sayangnya, pada zaman ini kehidupan Kristen tidak dikenal di seluruh dunia; tidak diberitakan dan tidak dicari, sehingga kita tidak mengetahui tentang identitas kita sendiri, mengapa kita ada dan disebut sebagai orang Kristen. Kita jelas disebut demikian karena Kristus, yang tidak absen, tetapi berdiam di antara kita, asalkan kita percaya kepadaNya; dan kita saling menjadi Kristus bagi satu sama lain, melakukan kepada sesama sebagaimana Kristus melakukan kepada kita. Namun sekarang, dalam ajaran dari manusia, kita hanya diajarkan untuk mencari jasa, pahala, dan hal-hal yang sebenarnya sudah menjadi milik kita; dan kita telah menjadikan Kristus sebagai pengawas yang jauh lebih keras dari pada Musa.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 223.

 

David Schaff: “"We conclude, then, that a Christian man does not live in and for himself, but in Christ and in his neighbor, or else is no Christian; in Christ by faith, in his neighbor by love. By faith he is carried upwards above himself to God, and by love he descends below himself to his neighbor, still always abiding in God and his love; as Christ says, ‘Verily I say unto you, hereafter ye shall see the heaven opened, and the angels of God ascending and descending upon the Son of man’" (John 1:51).” [= "Maka kami menyimpulkan, bahwa seorang Kristen tidak hidup di dalam dan untuk dirinya sendiri, tetapi di dalam Kristus dan sesamanya, atau jika tidak demikian, dia bukanlah seorang Kristen; di dalam Kristus oleh iman, di dalam sesama melalui kasih. Oleh iman, ia diangkat ke atas, melampaui dirinya sendiri, kepada Allah; dan melalui kasih, ia turun ke bawah, merendahkan dirinya untuk melayani sesama, namun tetap berada dalam Allah dan kasihNya; seperti yang dikatakan Kristus, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, mulai dari sekarang kamu akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia’" (Yoh 1:51).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 223.

 

David Schaff: “In the Latin text Luther adds some excellent remarks against those who misunderstand and distort spiritual liberty, turn it into an occasion of carnal license, and show their freedom by their contempt of ceremonies, traditions, and human laws. St. Paul teaches us to walk in the middle path, condemning either extreme, and saying, ‘Let not him that eateth despise him that eateth not; and let not him that eateth not judge him that eateth’ (Rom. 14:3). We must resist the hardened and obstinate ceremonialists, as Paul resisted the Judaizers who would compel Titus to be circumcised; and we must spare the weak who are not yet able to apprehend the liberty of faith. We must fight against the wolves, but on behalf of the sheep, not against the sheep.” [= Dalam teks Latin, Luther menambahkan beberapa pernyataan yang sangat baik untuk menentang mereka yang salah memahami dan menyimpangkan kebebasan rohani, mengubahnya menjadi alasan untuk kebebasan daging, dan menunjukkan kebebasan mereka dengan meremehkan upacara-upacara, tradisi-tradisi, dan hukum-hukum manusia (?). Santo Paulus mengajarkan kita untuk berjalan di jalan tengah, mengecam kedua kutub ekstrim, dan berkata, ‘Siapa yang makan, janganlah menghina yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi yang makan’ (Roma 14:3). Kita harus menentang mereka yang keras kepala dan berpegang teguh pada upacara-upacara, seperti Paulus menentang kaum Yudaisme yang ingin memaksa Titus untuk disunat (Gal 2:3-5); dan kita harus bersikap sabar terhadap mereka yang lemah yang belum mampu memahami kebebasan iman. Kita harus melawan serigala-serigala, tetapi demi domba-domba itu, bukan melawan domba-domba itu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 223-224.

 

David Schaff: “This Irenicon must meet with the approval of every true Christian, whether Catholic or Protestant. It breathes the spirit of a genuine disciple of St. Paul. It is full of heroic faith and childlike simplicity. It takes rank with the best books of Luther, and rises far above the angry controversies of his age, during which he composed it, in the full possession of the positive truth and peace of the religion of Christ.” [= Irenicon ini harus mendapat persetujuan dari setiap orang Kristen sejati, baik Katolik maupun Protestan. Buku ini mencerminkan semangat seorang murid sejati dari Santo Paulus. Buku ini penuh dengan iman yang heroik dan kesederhanaan seorang anak kecil. Buku ini setara dengan karya-karya terbaik Luther dan jauh melampaui perdebatan sengit pada masanya, di mana ia menulisnya dengan pemahaman penuh tentang kebenaran positif dan kedamaian dari agama Kristus.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 224.

 

Catatan: ‘Irenicon’ = ‘Eirenicon’ (Variasi ejaan) - https://www.thefreedictionary.com/irenicon

 

‘Eirenicon’ = ‘a proposition that attempts to harmonize conflicting viewpoints’ [= Suatu usul yang berusaha mengharmoniskan pandangan-pandangan yang bertentangan.] - https://www.thefreedictionary.com/eirenicon

 

David Schaff: “Luther sent the book to Pope Leo X., who was too worldly-minded a man to appreciate it; and accompanied the same with a most singular and undiplomatic, yet powerful polemic letter, which, if the Pope ever read it, must have filled him with mingled feelings of indignation and disgust. In his first letter to the Pope (1518), Luther had thrown himself at his feet as an obedient son of the vicar of Christ; in his second letter (1519), he still had addressed him as a humble subject, yet refusing to recant his conscientious convictions: in his third and last letter he addressed him as an equal, speaking to him with great respect for his personal character (even beyond his deserts), but denouncing in the severest terms the Roman See, and comparing him to a lamb among wolves, and to Daniel in the den of lions. The Popes, he says, are vicars of Christ because Christ is absent from Rome. Miltitz and the Augustinian brethren, who urged him to write an apologetic letter to Leo, must have been sorely disappointed; for it destroyed all prospects of reconciliation, if they had not been destroyed already.” [= Luther mengirimkan buku itu kepada Paus Leo X, yang terlalu berpikiran duniawi untuk menghargainya; dan ia menyertakannya dengan surat polemik yang sangat unik dan tidak diplomatis, namun penuh kekuatan. Jika Paus pernah membacanya, surat itu pasti membuatnya dipenuhi dengan perasaan marah dan jijik yang bercampur aduk. Dalam surat pertamanya kepada Paus (1518), Luther merendahkan dirinya di hadapan Paus sebagai seorang anak yang taat dari wakil Kristus; dalam surat keduanya (1519), ia masih menyapanya sebagai seorang hamba yang rendah hati, meskipun menolak untuk menarik kembali keyakinan yang ia pegang dengan hati nuraninya: dalam surat ketiga dan terakhirnya, ia menyapanya sebagai seorang yang setara, berbicara kepadanya dengan penghormatan besar terhadap karakter pribadinya (bahkan lebih dari yang layak ia dapatkan), tetapi mengecam Takhta Roma dengan kata-kata yang paling keras, dan membandingkan Paus dengan seekor anak domba di antara serigala-serigala, dan seperti Daniel di gua singa. Paus, katanya, adalah wakil Kristus karena Kristus tidak hadir di Roma. Miltitz dan para saudara Augustinian, yang mendesaknya untuk menulis surat permohonan maaf kepada Leo, pasti sangat kecewa; sebab surat itu menghancurkan semua kemungkinan rekonsiliasi, jika rekonsiliasi itu belum hancur sebelumnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 224-225.

 

 

-bersambung-

 

Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.

E-mail : [email protected]

e-mail us at [email protected]

http://golgothaministry.org

Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:

https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ

Channel Live Streaming Youtube :  bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali

Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya  BLOK  D - 16, SURABAYA

Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin