(onlinE)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 24 September 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
Martin Luther(4)
7) Hubungan Martin Luther dengan Gereja Katolik yang makin memburuk.
a) Mula-mula Paus Leo X meremehkan hal itu.
David Schaff: “Pope Leo X. was disposed to ignore the Wittenberg movement as a contemptible monkish quarrel; but when it threatened to become dangerous, he tried to make the German monk harmless by the exercise of his power. He is reported to have said first, ‘Brother Martin is a man of fine genius, and this outbreak is a mere squabble of envious monks;’ but afterwards, ‘It is a drunken German who wrote the Theses; when sober he will change his mind.’” [= Paus Leo X cenderung mengabaikan gerakan Wittenberg sebagai pertengkaran kecil para biarawan yang tidak berarti; namun ketika gerakan tersebut mulai mengancam menjadi bahaya, ia berusaha menjadikan biarawan Jerman itu tidak berbahaya dengan menggunakan kekuasaannya. Dilaporkan bahwa ia pertama kali berkata, ‘Saudara Martin adalah orang yang berbakat besar, dan keributan ini hanyalah perselisihan kecil di antara para biarawan yang iri hati.’ Namun kemudian ia berkata, ‘Ini adalah orang Jerman mabuk yang menulis Tesis itu; ketika sadar, dia akan berubah pikiran.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 170-171.
b) Martin Luther vs Prieras.
David Schaff: “Three months after the appearance of the Theses, he directed the vicar-general of the Augustinian Order to quiet down the restless monk. In March, 1518, he found it necessary to appoint a commission of inquiry under the direction of the learned Dominican Silvester Mazzolini, called from his birthplace Prierio or Prierias (also Prieras), who was master of the sacred palace and professor of theology.” [= Tiga bulan setelah munculnya Tesis, Paus Leo X memerintahkan vikaris jenderal Ordo Agustinian untuk menenangkan biarawan yang gelisah itu. Pada bulan Maret 1518, ia merasa perlu membentuk komisi penyelidikan di bawah arahan seorang Dominikan terpelajar, Silvester Mazzolini, yang dipanggil dari tempat kelahirannya, Prierio atau Prierias (juga dikenal sebagai Prieras), yang merupakan kepala istana suci dan profesor theologia.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 171.
David Schaff: “Prierias came to the conclusion that Luther was an ignorant and blasphemous arch-heretic, and hastily wrote a Latin dialogue against his Theses, hoping to crush him by subtile scholastic distinctions, and the weight of papal authority (June, 1518). He identified the Pope with the Church of Rome, and the Church of Rome with the Church universal, and denounced every departure from it as a heresy. He said of Luther’s Theses, that they bite like a cur.” [= Prierias sampai pada kesimpulan bahwa Luther adalah seorang bidat utama yang bodoh / tak mempunyai pengetahuan dan menghujat. Ia dengan tergesa-gesa menulis sebuah dialog dalam bahasa Latin untuk menentang Tesis Luther, dengan harapan dapat menghancurkannya melalui perbedaan skolastik yang halus dan otoritas kepausan (Juni 1518). Prierias mengidentifikasi Paus dengan Gereja Roma, dan Gereja Roma dengan Gereja universal, serta mengutuk setiap penyimpangan darinya sebagai bidat. Mengenai Tesis Luther, ia berkata bahwa tesis-tesis itu menggigit seperti anjing liar.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 171.
David Schaff: “Luther republished the Dialogue with a reply, in which he called it ‘sufficiently supercilious, and thoroughly Italian and Thomistic’ (August, 1518).” [= Luther menerbitkan ulang ‘Dialog’ dengan sebuah tanggapan, di mana ia menyebutnya sebagai ‘cukup angkuh, dan sepenuhnya bercorak Italia dan Thomistik’ (Agustus 1518).] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 171.
Catatan: Thomism = The theological and philosophical system of Saint Thomas Aquinas. [= Sistim theologia dan filsafat dari Santo Thomas Aquinas.] - https://www.thefreedictionary.com/Thomistic
David Schaff: “Prierias answered with a Replica (November, 1518). Luther republished it likewise, with a brief preface, and sent it to Prierias with the advice not to make himself any more ridiculous by writing books. The effect of this controversy was to widen the breach.” [= Prierias membalas dengan sebuah Replica (Nopember 1518). Luther juga menerbitkan ulang karya tersebut dengan tambahan sebuah kata pengantar singkat, dan mengirimkannya kepada Prierias dengan saran agar tidak mempermalukan dirinya lebih jauh dengan menulis buku-buku. Kontroversi ini semakin memperlebar jurang perpecahan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 171.
c) Martin Luther vs Cajetan.
David Schaff: “In the mean time Luther’s fate had already been decided. The Roman hierarchy could no more tolerate such a dangerous man than the Jewish hierarchy could tolerate Christ and the apostles. On the 7th of August, 1518, he was cited to appear in Rome within sixty days to recant his heresies. On the 23d of the same month, the Pope demanded of the Elector Frederick the Wise, that he should deliver up this ‘child of the Devil’ to the papal legate.” [= Sementara itu, nasib Luther sudah diputuskan. Hierarki Roma tidak bisa lagi mentolerir orang yang berbahaya seperti itu, sebagaimana hierarki Yahudi tidak bisa mentolerir Kristus dan para rasul. Pada tanggal 7 Agustus 1518, Luther dipanggil untuk hadir di Roma dalam waktu enam puluh hari untuk menarik kembali ajaran-ajaran sesatnya. Pada tanggal 23 di bulan yang sama, Paus meminta kepada Elektor Frederick yang Bijaksana agar menyerahkan ‘anak Iblis’ ini kepada utusan kepausan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 171-172.
David Schaff: “But the Elector, who was one of the most powerful and esteemed princes of Germany, felt unwilling to sacrifice the shining light of his beloved university, and arranged a peaceful interview with the papal legate at the Diet of Augsburg on promise of kind treatment and safe return.” [= Namun, sang Elektor, salah satu pangeran paling berpengaruh dan dihormati di Jerman, enggan mengorbankan cahaya terang dari universitas yang dicintainya, dan ia mengatur sebuah pertemuan damai dengan utusan kepausan di ‘Diet of Augsburg’, dengan janji bahwa Luther akan diperlakukan dengan baik dan diizinkan pulang dengan selamat.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 172.
David Schaff: “Luther accordingly proceeded to Augsburg in humble garb, and on foot, till illness forced him within a short distance from the city to take a carriage. He was accompanied by a young monk and pupil, Leonard Baier, and his friend Link. He arrived Oct. 7, 1518, and was kindly received by Dr. Conrad Peutinger and two counselors of the Elector, who advised him to behave with prudence, and to observe the customary rules of etiquette. Everybody was anxious to see the man who, like a second Herostratus, had kindled such a flame.” [= Luther pun berangkat menuju Augsburg dengan pakaian sederhana dan berjalan kaki, hingga sakit memaksanya naik kereta ketika sudah mendekati kota. Ia ditemani oleh seorang biarawan muda yang juga muridnya, Leonard Baier, dan temannya, Link. Luther tiba pada 7 Oktober 1518, dan diterima dengan baik oleh Dr. Conrad Peutinger serta dua penasihat Elektor, yang menyarankan agar ia bertindak dengan bijaksana dan mematuhi aturan etiket yang berlaku. Semua orang ingin melihat sosok yang, seperti Herostratus kedua, telah menyalakan api besar melalui tindakannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 172.
Catatan: Kalau mau tahu tentang Herostratus, lihat di link ini: https://en.wikipedia.org/wiki/Herostratus
David Schaff: “On Oct. 11, he received the letter of safe-conduct; and on the next day he appeared before the papal legate, Cardinal Cajetan (Thomas de Vio of Gaëta), who represented the Pope at the German Diet, and was to obtain its consent to the imposition of a heavy tax for the war against the Turks.” [= Pada 11 Oktober, Luther menerima surat jaminan keselamatan; dan keesokan harinya, ia tampil di hadapan utusan kepausan, Kardinal Cajetan (Thomas de Vio dari Gaëta), yang mewakili Paus di Diet Jerman dan bertugas mendapatkan persetujuan untuk pemungutan pajak berat guna mendanai perang melawan Turki.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 172.
David Schaff: “Cajetan was, like Prierias, a Dominican and zealous Thomist, a man of great learning and moral integrity, but fond of pomp and ostentation. He wrote a standard commentary on the Summa of Thomas Aquinas (which is frequently appended to the Summa); but in his later years, till his death (1534), - perhaps in consequence of his interview with Luther, - he devoted himself chiefly to the study of the Scriptures, and urged it upon his friends. He labored with the aid of Hebrew and Greek scholars to correct the Vulgate by a more faithful version, and advocated Jerome’s liberal views on questions of criticism and the Canon, and a sober grammatical exegesis against allegorical fancies, without, however, surrendering the Catholic principle of tradition.” [= Cajetan, seperti Prierias, adalah seorang Dominikan dan Thomist yang bersemangat, seorang yang sangat berpengetahuan dan memiliki integritas moral, tetapi juga menyukai kemewahan dan pamer. Ia menulis sebuah komentar standar tentang Summa karya Thomas Aquinas (yang sering dilampirkan pada Summa tersebut); namun, di tahun-tahun terakhirnya, hingga kematiannya pada tahun 1534 - mungkin sebagai akibat dari pertemuannya dengan Luther - ia lebih banyak mengabdikan diri pada studi Alkitab dan mendorong teman-temannya untuk melakukannya. Ia bekerja sama dengan para sarjana Ibrani dan Yunani untuk memperbaiki Vulgata dengan terjemahan yang lebih benar, serta mendukung pandangan liberal Jerome mengenai isu kritik dan kanon, serta melakukan eksegesis gramatikal yang hati-hati melawan khayalan alegoris, tanpa mengorbankan prinsip tradisi Katolik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 172-173.
David Schaff: “There was a great contrast between the Italian cardinal and the German monk, the shrewd diplomat and the frank scholar; the expounder and defender of mediaeval scholasticism, and the champion of modern biblical theology; the man of church authority, and the advocate of personal freedom.” [= Terdapat kontras yang besar antara kardinal Italia dan biarawan Jerman, antara diplomat yang cerdik dan sarjana yang blak-blakan; antara penafsir dan pembela skolastisisme abad pertengahan, dan juara teologia alkitabiah modern; antara orang yang mewakili otoritas gereja, dan pembela kebebasan pribadi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 173.
David Schaff: “They had three interviews (Oct. 12, 13, 14). Cajetan treated Luther with condescending courtesy, and assured him of his friendship. But he demanded retraction of his errors, and absolute submission to the Pope. Luther resolutely refused, and declared that he could do nothing against his conscience ; that one must obey God rather than man ; that he had the Scripture on his side; that even Peter was once reproved by Paul for misconduct (Gal. 2:11), and that surely his successor was not infallible. Still be asked the cardinal to intercede with Leo X., that he might not harshly condemn him. Cajetan threatened him with excommunication, having already the papal mandate in his hand, and dismissed him with the words: ‘Revoke, or do not come again into my presence.’ He urged Staupitz to do his best to convert Luther, and said he was unwilling to dispute any further with that ‘deep-eyed German beast filled with strange speculations.’” [= Mereka mengadakan tiga pertemuan (12, 13, 14 Oktober). Cajetan memperlakukan Luther dengan kesopanan yang merendahkan dan meyakinkannya akan persahabatannya. Namun, ia menuntut agar Luther menarik kembali kesalahannya dan tunduk sepenuhnya kepada Paus. Luther dengan tegas menolak, dan menyatakan bahwa ia tidak dapat bertindak bertentangan dengan hati nuraninya; bahwa seseorang harus mentaati Allah lebih dari manusia; bahwa ia memiliki Alkitab di pihaknya; bahwa bahkan Petrus pernah ditegur oleh Paulus karena perilakunya (Galatia 2:11), dan pastinya penerusnya tidaklah tidak bisa salah. Meski begitu, ia meminta kardinal untuk memohon kepada Leo X agar tidak menghukum / mengutuknya dengan keras. Cajetan mengancamnya dengan exkomunikasi, karena sudah memegang mandat kepausan, dan mengizinkan Luther pergi dengan kata-kata: ‘Cabutlah, atau jangan datang lagi ke hadapanku.’ Ia mendesak Staupitz untuk melakukan yang terbaik agar Luther bertobat, dan mengatakan bahwa ia tidak ingin berdebat lebih lanjut dengan ‘binatang Jerman kurus yang dipenuhi spekulasi-spekulasi aneh.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 173-174.
David Schaff: “Under these circumstances, Luther, with the aid of friends who provided him with an escort, made his escape from Augsburg, through a small gate in the city-Wall, in the night of the 20th of October, on a hard-trotting hack, without pantaloons, boots, or spurs. He rode on the first day as far as the town of Monheim without stopping, and fell utterly exhausted upon the straw in a stable.” [= Dalam keadaan seperti itu, Luther, dengan bantuan teman-temannya yang memberinya pengawalan, meloloskan diri dari Augsburg melalui sebuah pintu kecil di tembok kota, pada malam tanggal 20 Oktober, dengan menunggang kuda yang kuat, tanpa celana panjang, sepatu bot, atau paku kuda. Ia berkendara tanpa berhenti hingga mencapai kota Monheim pada hari pertama, dan jatuh kelelahan total di atas jerami di sebuah kandang.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 174.
David Schaff: “He reached Wittenberg, in good spirits, on the first anniversary of his Ninety-five Theses. He forthwith published a report of his conference with a justification of his conduct. He also wrote (Nov. 19) a long and very eloquent letter to the Elector, exposing the unfairness of Cajetan, who had misrepresented the proceedings, and demanded from the Elector the delivery of Luther to Rome or his expulsion from Saxony.” [= Ia tiba di Wittenberg dengan semangat yang baik pada peringatan pertama 95 Tesisnya. Segera setelah itu, ia menerbitkan laporan mengenai konferensinya dengan penjelasan tentang tindakannya. Ia juga menulis (19 November) sebuah surat panjang dan sangat fasih kepada sang Elektor, yang mengungkapkan ketidakadilan Cajetan, yang telah memutarbalikkan jalannya pertemuan tersebut, serta menuntut dari sang Elektor agar menyerahkan Luther ke Roma atau mengusirnya dari Sachsen.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 174.
David Schaff: “Before leaving Augsburg, he left an appeal from Cajetan to the Pope, and ‘from the Pope ill informed to the Pope to be better informed’ (a papa male informato ad papam melius informandum). Soon afterwards, Nov. 28, he formally and solemnly appealed from the Pope to a general council, and thus anticipated the papal sentence of excommunication. He expected every day maledictions from Rome, and was prepared for exile or any other fate. He was already tormented with the thought that the Pope might be the Anti-Christ spoken of by St. Paul in the Second Epistle to the Thessalonians, and asked his friend Link (Dec. 11) to give him his opinion on the subject. Ultimately he lost faith also in a general council, and appealed solely to the Scriptures and his conscience. The Elector urged him to moderation through Spalatin, but Luther declared: ‘The more those Romish grandees rage, and meditate the use of force, the less do I fear them, and shall feel all the more free to fight against the serpents of Rome. I am prepared for all, and await the judgment of God.’” [= Sebelum meninggalkan Augsburg, Luther mengajukan banding dari Cajetan kepada Paus, dan ‘dari Paus yang kurang informasi kepada Paus yang lebih terinformasi’ (A PAPA MALE INFORMATO AD PAPAM MELIUS INFORMANDUM). Tak lama setelah itu, pada 28 November, ia secara resmi dan khidmat mengajukan banding dari Paus kepada sebuah konsili umum, sehingga mengantisipasi vonis exkomunikasi dari pihak kepausan. Ia mengharapkan setiap hari kutukan dari Roma dan siap menghadapi pengasingan atau nasib lainnya. Ia sudah dilanda pemikiran bahwa Paus mungkin adalah Anti-Kristus yang disebutkan oleh St. Paulus dalam Surat Kedua kepada Jemaat di Tesalonika, dan meminta pendapat temannya Link (11 Desember) tentang hal tersebut. Akhirnya, ia kehilangan keyakinan pada konsili umum juga, dan hanya mengandalkan Alkitab dan hati nuraninya. Elektor mendorongnya untuk bersikap moderat melalui Spalatin, tetapi Luther menyatakan: ‘Semakin marah para bangsawan Romawi itu, dan merencanakan penggunaan kekuatan, semakin sedikit saya takut kepada mereka, dan saya akan merasa lebih bebas untuk melawan ular-ular Roma. Saya siap untuk semua itu, dan menantikan penghakiman / penilaian Allah.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 174-175.
Bdk. 2Tes 2:1-12 - “(1) Tentang kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus dan terhimpunnya kita dengan Dia kami minta kepadamu, saudara-saudara, (2) supaya kamu jangan lekas bingung dan gelisah, baik oleh ilham roh, maupun oleh pemberitaan atau surat yang dikatakan dari kami, seolah-olah hari Tuhan telah tiba. (3) Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan cara yang bagaimanapun juga! Sebab sebelum Hari itu haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa, (4) yaitu lawan yang meninggikan diri di atas segala yang disebut atau yang disembah sebagai Allah. Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah. (5) Tidakkah kamu ingat, bahwa hal itu telah kerapkali kukatakan kepadamu, ketika aku masih bersama-sama dengan kamu? (6) Dan sekarang kamu tahu apa yang menahan dia, sehingga ia baru akan menyatakan diri pada waktu yang telah ditentukan baginya. (7) Karena secara rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja, tetapi sekarang masih ada yang menahan. Kalau yang menahannya itu telah disingkirkan, (8) pada waktu itulah si pendurhaka baru akan menyatakan dirinya, tetapi Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulutNya dan akan memusnahkannya, kalau Ia datang kembali. (9) Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, (10) dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka. (11) Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta, (12) supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.”.
d) Martin Luther vs Karl von Miltitz.
David Schaff: “Before the final decision, another attempt was made to silence Luther by inducing him to revoke his heresies. Diplomacy sometimes interrupts the natural development of principles and the irresistible logic of events, but only for a short season. It usually resorts to compromises which satisfy neither party, and are cast aside. Principles must work themselves out.” [= Sebelum keputusan akhir, ada upaya lain untuk membungkam Luther dengan mendorongnya menarik kembali ajaran sesatnya. Diplomasi kadang-kadang mengganggu perkembangan alami prinsip-prinsip dan logika peristiwa yang tak terhindarkan, tetapi hanya untuk waktu yang singkat. Biasanya, ia menggunakan kompromi-kompromi yang tidak memuaskan kedua belah pihak dan akhirnya diabaikan. Prinsip-prinsip harus berkembang dengan sendirinya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 175
David Schaff: “Pope Leo sent his nuncio and chamberlain, Karl von Miltitz, a noble Saxon by birth, and a plausible, convivial gentleman, to the Elector Frederick with the rare present of a golden rose, and authorized him to negotiate with Luther. He provided him with a number of the highest recommendations to civil and ecclesiastical dignitaries.” [= Paus Leo mengirim wakil dan bendaharanya, Karl von Miltitz, seorang bangsawan asal Sachsen, yang berbicara dengan meyakinkan dan bersikap ramah, kepada Elektor Frederick dengan hadiah langka berupa mawar emas, serta memberinya otoritas untuk bernegosiasi dengan Luther. Ia juga memberikan sejumlah rekomendasi tertinggi kepada para pejabat sipil dan gerejawi.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 175-176.
David Schaff: “Miltitz discovered on his journey a wide-spread and growing sympathy with Luther. He found three Germans on his side, especially in the North, to one against him. He heard bad reports about Tetzel, and summoned him; but Tetzel was afraid to travel, and died a few months afterwards (Aug. 7, 1519), partly, perhaps, in consequence of the severe censure from the papal delegate. Luther wrote to his opponent a letter of comfort, which is no more extant. Unmeasured as he could be in personal abuse, he harbored no malice or revenge in his heart.” [= Miltitz menemukan selama perjalanannya bahwa ada simpati yang luas dan terus berkembang terhadap Luther. Ia menemukan tiga orang Jerman yang mendukungnya, terutama di utara, dibandingkan satu orang yang menentangnya. Ia mendengar laporan buruk tentang Tetzel dan memanggilnya; tetapi Tetzel takut untuk bepergian, dan meninggal beberapa bulan kemudian (7 Agustus 1519), mungkin sebagian akibat kecaman keras dari utusan kepausan. Luther menulis surat penghiburan kepada lawan politiknya, tetapi surat tersebut tidak ada lagi. Meskipun ia bisa sangat keras dalam serangan pribadi, ia tidak menyimpan kebencian atau dendam di hatinya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 176.
David Schaff: “Miltitz held a conference with Luther in the house of Spalatin at Altenburg, Jan. 6, 1519. He was exceedingly polite and friendly; he deplored the offence and scandal of the Theses-controversy, and threw a great part of the blame on poor Tetzel; he used all his powers of persuasion, and entreated him with tears not to divide the unity of the holy Catholic Church.” [= Miltitz mengadakan konperensi dengan Luther di rumah Spalatin di Altenburg pada 6 Januari 1519. Ia sangat sopan dan ramah; ia menyesali pelanggaran dan skandal dari kontroversi Tesis, dan menempatkan sebagian besar kesalahan pada Tetzel yang malang. Ia menggunakan semua kemampuannya untuk meyakinkan dan memohon dengan air mata agar tidak memecah kesatuan Gereja Katolik yang kudus.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 176.
David Schaff: “They agreed that the matter should be settled by a German bishop instead of going to Rome, and that in the mean time both parties were to keep silence. Luther promised to ask the pardon of the Pope, and to warn the people against the sin of separating from the holy mother-church. After this agreement they partook of a social supper, and parted with a kiss. Miltitz must have felt very proud of his masterpiece of ecclesiastical diplomacy.” [= Mereka sepakat bahwa masalah ini sebaiknya diselesaikan oleh seorang uskup Jerman alih-alih pergi ke Roma, dan sementara itu kedua pihak harus tetap diam. Luther berjanji untuk meminta pengampunan dari Paus dan memperingatkan masyarakat tentang dosa memisahkan diri dari gereja ibu yang kudus. Setelah perjanjian ini, mereka menikmati makan malam bersama dan berpisah dengan sebuah ciuman. Miltitz pasti merasa sangat bangga dengan karya agung diplomasi gerejawi yang telah ia capai.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 176.
David Schaff: “Luther complied with his promises in a way which seems irreconcilable with his honest convictions and subsequent conduct. But we must remember the deep conflicts of his mind, the awful responsibility of his undertaking, the critical character of the situation. Well might he pause for a while, and shrink back from the idea of a separation from the church of his fathers, so intimately connected with his religious life as well as with the whole history of Christianity for fifteen hundred years. He had to break a new path which became so easy for others. We must all the more admire his conscientiousness.” [= Luther memenuhi janjinya dengan cara yang tampaknya bertentangan dengan keyakinan dan tindakannya yang jujur di kemudian hari. Namun, kita harus ingat akan konflik-konflik yang mendalam dalam dirinya, tanggung jawab besar dari tugasnya, dan karakter kritis situasi yang dihadapinya. Ia memang berhak untuk sejenak merenung dan mundur dari gagasan tentang memisahkan diri dari gereja nenek moyangnya, yang sangat terkait dengan kehidupan religiusnya serta seluruh sejarah Kekristenan selama 1500 tahun. Ia harus membuka jalan baru yang kemudian menjadi lebih mudah bagi orang lain. Oleh karena itu, kita harus semakin mengagumi kesungguhan niatnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 176-177.
David Schaff: “In his letter to the Pope, dated March 3, 1519, he expressed the deepest personal humility, and denied that he ever intended to injure the Roman Church, which was over every other power in heaven and on earth, save only Jesus Christ the Lord over all. Yet he repudiated the idea of retracting his conscientious convictions.” [= Dalam suratnya kepada Paus, tertanggal 3 Maret 1519, Luther mengungkapkan kerendahan hati yang mendalam dan membantah bahwa ia pernah berniat untuk merugikan Gereja Roma, yang berada di atas semua kekuatan di surga dan di bumi, kecuali hanya Yesus Kristus, Tuhan di atas semua. Namun, ia menolak gagasan untuk menarik kembali keyakinan yang dipegangnya dengan keyakinan-keyakinan yang sesuai dengan hati nuraninya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 177.
David Schaff: “In his address to the people, he allowed the value of indulgences, but only as a recompense for the ‘satisfaction’ given by, the sinner, and urged the duty of adhering, notwithstanding her faults and sins, to the holy Roman Church, where St. Peter and St. Paul, and many Popes and thousands of martyrs, had shed their blood.” [= Dalam pidatonya kepada masyarakat, Luther mengakui nilai indulgensi, tetapi hanya sebagai kompensasi untuk ‘kepuasan’ yang diberikan oleh si pendosa, dan menekankan kewajiban untuk tetap setia, meskipun ada kesalahan dan dosa, kepada Gereja Roma yang kudus, di mana St. Petrus dan St. Paulus, serta banyak Paus dan ribuan martir, telah menumpahkan darah mereka.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 177.
David Schaff: “At the same time, Luther continued the careful study of history, and could find no trace of popery and its extraordinary claims in the first centuries before the Council of Nicaea. He discovered that the Papal Decretals, and the Donation of Constantine, were a forgery. He wrote to Spalatin, March 13, 1519, ‘I know not whether tho Pope is anti-christ himself, or his apostle; so wretchedly is Christ, that is the truth, corrupted and crucified by him in the Decretals.’” [= Pada saat yang sama, Luther melanjutkan studi sejarah yang teliti, dan tidak menemukan jejak kepausan dan klaim-klaim luar biasa tersebut pada abad-abad pertama sebelum Konsili Nicea. Ia menemukan bahwa Dekrit Paus dan Donasi Konstantinus adalah suatu pemalsuan. Ia menulis kepada Spalatin pada 13 Maret 1519, ‘Saya tidak tahu apakah Paus itu Anti-Kristus sendiri, atau rasul / utusannya; demikian menyedihkannya Kristus, yaitu sang kebenaran, yang telah dikorupsi dan disalibkan oleh dia dalam Dekrit tersebut.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 177.
e) Perdebatan Leipzig: Carlstadt + Martin Luther vs John Eck.
David Schaff: “The agreement between Miltitz and Luther was only a short truce. The Reformation was too deeply rooted in the wants of the age to be suppressed by the diplomacy of ecclesiastical politicians. Even if the movement had been arrested in one place, it would have broken out in another; indeed, it had already begun independently in Switzerland. Luther was no more his own master, but the organ of a higher power. ‘Man proposes, God disposes.’” [= Perjanjian antara Miltitz dan Luther hanyalah gencatan senjata yang singkat. Reformasi sudah terlanjur berakar dalam kebutuhan zaman sehingga tidak dapat ditekan oleh diplomasi para politikus gerejawi. Bahkan jika gerakan tersebut dihentikan di satu tempat, pasti akan muncul di tempat lain; sebenarnya, gerakan itu sudah mulai secara independen di Swiss. Luther tidak lagi menjadi tuan atas dirinya sendiri, tetapi merupakan alat dari kekuatan yang lebih tinggi. ‘Manusia bisa membuat rencana tetapi Allah yang menentukan apa yang akan terjadi.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 178.
Bdk. Amsal 16:9 - “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya.”.
David Schaff: “Before the controversy could be settled by a German bishop, it was revived, not without a violation of promise on both sides, in the disputation held in the large hall of the Castle of Pleissenburg at Leipzig, under the sanction of Duke George of Saxony, between Eck, Carlstadt, and Luther, on the doctrines of the papal primacy, free-will, good works, purgatory, and indulgences. It was one of the great intellectual battles; it lasted nearly three weeks, and excited universal attention in that deeply religious and theological age. The vital doctrines of salvation were at stake. The debate was in Latin, but Luther broke out occasionally in his more vigorous German.” [= Sebelum kontroversi dapat diselesaikan oleh seorang uskup Jerman, perdebatan itu dihidupkan kembali, tidak tanpa pelanggaran janji di kedua belah pihak, dalam perdebatan yang diadakan di aula besar Kastil Pleissenburg di Leipzig, dengan persetujuan Duke George dari Sachsen, antara Eck, Carlstadt, dan Luther, mengenai doktrin jabatan tertinggi Paus, kehendak bebas, perbuatan baik, api penyucian, dan indulgensi. Ini merupakan salah satu pertempuran intelektual besar; berlangsung hampir tiga minggu dan menarik perhatian universal di era yang sangat religius dan teologis tersebut. Doktrin-doktrin vital tentang keselamatan menjadi taruhannya. Debat dilakukan dalam bahasa Latin, tetapi Luther sesekali mengeluarkan pendapatnya dalam bahasa Jerman yang lebih kuat.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 178-179.
David Schaff: “The disputation began with the solemnities of a mass, a procession, an oration of Peter Mosellanus, De ratione disputandi, and the singing of Veni, Creator Spiritus. It ended with a eulogistic oration by the Leipzig professor John Lange, and the Te Deum. The first act was the disputation between Eck and Carlstadt, on the freedom of the human will, which the former maintained, and the latter denied. The second and more important act began July 4, between Eck and Luther, chiefly on the subject of the papacy.” [= Perdebatan dimulai dengan upacara yang khidmat, termasuk misa, prosesi, pidato dari Peter Mosellanus tentang De ratione disputandi, dan nyanyian dari Veni, Creator Spiritus. Acara ditutup dengan pidato pujian oleh profesor Leipzig, John Lange, dan Te Deum. Tindakan pertama adalah perdebatan antara Eck dan Carlstadt mengenai kebebasan dari kehendak manusia, yang dipertahankan oleh Eck, sementara Carlstadt menolaknya. Tindakan kedua yang lebih penting dimulai pada 4 Juli, antara Eck dan Luther, terutama mengenai subyek / pokok kepausan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 179.
David Schaff: “Dr. Eck (Johann Mair), professor of theology at Ingolstadt in Bavaria, was the champion of Romanism, a man of great learning, well-stored memory, dialectical skill, ready speech, and stentorian voice, but overconfident, conceited, and boisterous. He looked more like a butcher or soldier than a theologian. Many regarded him as a mere charlatan, and expressed their contempt for his audacity and vanity by the nicknames Keck (pert) and Geck (fop), which date from this dispute.” [= Dr. Eck (Johann Mair), profesor theologia di Ingolstadt, Bavaria, adalah jago dari Romanisme, seorang yang sangat berpengetahuan, memiliki ingatan yang baik, keterampilan dialektika, bicara lancar, dan suara yang keras, tetapi terlalu percaya diri, angkuh, dan kasar. Ia lebih tampak seperti seorang tukang daging atau tentara dari pada seorang ahli theologia. Banyak yang menganggapnya sebagai seorang penipu, dan mengekspresikan penghinaan mereka terhadap keberanian dan kesombongannya dengan julukan Keck (cerdik) dan Geck (penampilan berlebihan), yang berasal dari perdebatan ini.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 179.
David Schaff: “Carlstadt (Andreas von Bodenstein), Luther’s impetuous and ill-balanced friend and colleague, was an unfortunate debater. He had a poor memory, depended on his notes, got embarrassed and confused, and furnished an easy victory to Eck. It was ominous, that, on entering Leipzig, his wagon broke down, and he fell into the mud.” [= Carlstadt (Andreas von Bodenstein), teman dan rekan Luther yang impulsif dan kurang seimbang, adalah seorang pendebat yang kurang beruntung. Ia memiliki ingatan yang buruk, bergantung pada catatannya, merasa tertekan dan bingung, sehingga memberikan kemenangan yang mudah bagi Eck. Pertanda buruk terjadi saat ia memasuki Leipzig, ketika keretanya mengalami kerusakan dan ia terjatuh ke dalam lumpur.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 179.
David Schaff: “Luther was inferior to Eck in historical learning and flowing Latinity, but surpassed him in knowledge of the Bible, independent judgment, originality, and depth of thought, and had the law of progress on his side. While Eck looked to the fathers, Luther went back to the grandfathers; he ascended from the stream of church history to the fountain of God’s Word; yet from the normative beginning of the apostolic age he looked hopefully into the future. Though pale and emaciated, he was cheerful, wore a little silver ring, and carried a bunch of flowers in his hand. Peter Mosellanus, a famous Latinist, who presided over the disputation, thus describes his personal appearance at that time: - ‘Luther is of middle stature; his body thin, and so wasted by care and study that nearly all his bones may be counted. He is in the prime of life. His voice is clear and melodious. His learning, and his knowledge of Scripture are so extraordinary that he has nearly every thing at his fingers’ ends. Greek and Hebrew he understands sufficiently well to give his judgment on interpretations. For conversation, he has a rich store of subjects at his command; a vast forest (silva ingens) of thoughts and words is at his disposal. He is polite and clever. There is nothing stoical, nothing supercilious, about him; and he understands how to adapt himself to different persons and times. In society he is lively and agreeable. He is always fresh, cheerful, and at his ease, and has a pleasant countenance, however hard his enemies may threaten him, so that one cannot but believe that Heaven is with him in his great undertaking. Most people, however, reproach him with want of moderation in polemics, and with being rather imprudent and more cutting than befits a theologian and a reformer.’” [= Luther kalah dari Eck dalam pengetahuan sejarah dan kelancaran berbahasa Latin, tetapi melampaui Eck dalam pengetahuan Alkitab, penilaian independen, orisinalitas, dan kedalaman pemikiran, serta memiliki hukum kemajuan di pihaknya. Sementara Eck merujuk kepada para bapa-bapa gereja, Luther kembali kepada nenek moyang, mendaki dari aliran sejarah gereja ke sumber Firman Allah; namun dari awal normatif zaman apostolik, ia melihat masa depan dengan harapan. Meskipun tampak pucat dan kurus, ia ceria, mengenakan cincin perak kecil, dan membawa sekuntum bunga di tangannya. Peter Mosellanus, seorang ahli bahasa Latin terkenal yang memimpin perdebatan, menggambarkan penampilan pribadi Luther pada waktu itu: ‘Luther bertubuh sedang; tubuhnya kurus, dan begitu kurus akibat kecemasan dan studi sehingga hampir semua tulangnya dapat dihitung. Ia berada di puncak kehidupan. Suaranya jernih dan merdu. Pengetahuan dan pemahaman Alkitabnya sangat luar biasa sehingga ia hampir selalu siap dengan segala sesuatu. Ia memahami bahasa Yunani dan Ibrani dengan cukup baik untuk memberikan penilaian mengenai tafsiran. Dalam percakapan, ia memiliki banyak topik yang siap dibahas; hutan yang luas (silva ingens) pikiran dan kata-kata ada dalam genggamannya. Ia sopan dan cerdas. Tidak ada yang stoik, tidak ada yang angkuh dalam dirinya; ia tahu bagaimana menyesuaikan diri dengan berbagai orang dan waktu. Di dalam masyarakat, ia hidup dan menyenangkan. Ia selalu segar, ceria, dan santai, serta memiliki wajah yang menyenangkan, meskipun musuh-musuhnya mengancamnya, sehingga tidak bisa tidak percaya bahwa Surga (Allah) bersamanya dalam usaha besarnya. Namun, kebanyakan orang menuduhnya kurang moderat dalam polemik, dan dianggap agak sembrono serta lebih tajam / menyakitkan dari pada yang pantas bagi seorang ahli theologia dan reformator.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 179-180.
David Schaff: “The chief interest in the disputation turned on the subject of the authority of the Pope and the infallibility of the Church. Eck maintained that the Pope is the successor of Peter, and the vicar of Christ by divine right; Luther, that this claim is contrary to the Scriptures, to the ancient church, to the Council of Nicaea, - the most sacred of all Councils, - and rests only on the frigid decrees of the Roman pontiffs.” [= Ketertarikan utama dalam perdebatan tersebut berfokus pada subjek otoritas Paus dan ketidakbersalahan Gereja. Eck berpendapat bahwa Paus adalah penerus Petrus dan wakil Kristus berdasarkan hak ilahi; sementara Luther berargumen bahwa klaim ini bertentangan dengan Kitab Suci, dengan gereja purba, dengan Konsili Nicea - yang merupakan konsili yang paling suci dari semua konsili - dan hanya bergantung pada dekrit dingin dari para Paus / uskup Roma.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 180-181.
David Schaff: “But during the debate he changed his opinion on the authority of Councils, and thereby injured his cause in the estimation of the audience. Being charged by Eck with holding the heresy of Hus, he at first repudiated him and all schismatic tendencies; but on mature reflection he declared that Hus held some scriptural truths, and was unjustly condemned and burnt by the Council of Constance; that a general council as well as a Pope may err, and had no right to impose any article of faith not founded in the Scriptures. When Duke George, a sturdy upholder of the Catholic creed, heard Luther express sympathy with the Bohemian heresy, he shook his head, and, putting both arms in his sides, exclaimed, so that it could be heard throughout the hall, ‘A plague upon it!’ From this time dates Luther’s connection with the Bohemian Brethren.” [= Tetapi selama debat tersebut, ia mengubah pendapatnya mengenai otoritas Konsili, yang merugikan posisinya di mata audiens. Ketika dituduh oleh Eck memegang ajaran sesat Hus, ia awalnya menolaknya / tidak menyetujuinya dan mengecam semua kecenderungan perpecahan; namun setelah berpikir matang, ia menyatakan bahwa Hus memegang beberapa kebenaran Alkitabiah dan telah dikutuk serta dibakar secara tidak adil oleh Konsili Constance. Ia berpendapat bahwa baik konsili umum maupun Paus bisa melakukan kesalahan dan tidak memiliki hak untuk memberlakukan artikel iman yang tidak berdasar pada Kitab Suci. Ketika Duke George, seorang pendukung teguh ajaran Katolik, mendengar Luther menunjukkan simpati terhadap ajaran sesat Bohemia, ia menggelengkan kepala dan, dengan kedua tangan di pinggangnya, berteriak keras sehingga dapat terdengar di seluruh aula, ‘Sebuah bencana / wabah atasnya!’ Sejak saat itu, terjalinlah hubungan Luther dengan Saudara-saudara Bohemia.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 181.
Tentang Luther dan John Hus ada tambahan kata-kata dari Dr. Albert Freundt Jr.
Dalam bulan Juli 1519 Luther dan teman sejawatnya yang bernama Andreas Carlstadt bertemu dengan John Eck, yang merupakan ahli debat top pada saat itu. Mereka mengadakan debat di depan umum di Leipzig. Dalam perdebatan itu John Eck menunjukkan bahwa beberapa pandangan Luther sesuai dengan pandangan John Hus, yang saat itu dianggap sebagai ajaran sesat oleh gereja Roma Katolik.
Dr. Albert Freundt Jr.: “Luther was driven a stage further in the argument by the most brilliant controversialist of the time, John Eck of Ingolstadt. In July 1519 Luther’s collegue Andreas Carlstadt met Eck in a public debate at Leipzig. Eck provoked Luther into entering the debate. In most of the debate Eck could be said to have prevailed over Carlstadt and Luther, but his greatest triumph was fatal to his cause. He forced Luther to change his mind and drove him to a new position. Leipzig was not that far from the border of Bohemia. To the people of Leipzig, the Bohemian John Hus, who had been burned at the Council of Constance in 1415, was the most notorious of heretics. It was natural for Luther’s opponents to label him repeatedly with the abusive words ‘Bohemian’ or ‘Hussite.’ Luther had been educated to believe that Hus was a heretic and he had indignantly repudiated the association. Eck was determined to show that some of Luther’s opinions agreed with the opinions of Hus, and therefore that Luther shared in a famous heresy. If Luther had been as skilled in debate as Eck, he would have evaded the issue; but he was more interested in truth than victory. And he was both courageous and stubborn. Faced by the maneuvers and abuse of Eck, Luther did what Eck wanted him to - he admitted that Hus had sometimes been right, and that the General Council of Constance which condemned him had been wrong. He said, ‘Among the condemned beliefs of John Hus and his disciples, there are many which are truly Christian and evangelical and which the Catholic Church cannot condemn.’ There was turmoil, and Eck was pleased. Luther had begun by denying an infallible Pope. He had now denied the only alternative, an infallible Council.” [= Luther didorong lebih jauh dalam perdebatan oleh pendebat paling cemerlang pada masanya, John Eck dari Ingolstadt. Pada bulan Juli 1519, rekan Luther, Andreas Carlstadt, bertemu Eck dalam debat publik di Leipzig. Eck memprovokasi Luther untuk ikut serta dalam perdebatan tersebut. Dalam sebagian besar perdebatan, bisa dikatakan bahwa Eck berhasil mengalahkan Carlstadt dan Luther, tetapi kemenangan terbesarnya justru menjadi bumerang bagi tujuannya. Dia memaksa Luther untuk mengubah pandangannya dan membawa Luther ke posisi baru. Leipzig tidak jauh dari perbatasan Bohemia. Bagi penduduk Leipzig, John Hus, yang dibakar di Konsili Contance pada tahun 1415, adalah bidat paling terkenal. Oleh karena itu, sangat wajar jika lawan-lawan Luther sering melabelinya dengan sebutan yang menghina seperti ‘Bohemia’ atau ‘Hussite.’ Luther, yang dididik untuk percaya bahwa Hus adalah seorang bidat, dengan marah menolak dikaitkan dengannya. Eck bertekad menunjukkan bahwa beberapa pandangan Luther sesuai dengan pandangan Hus, sehingga Luther dianggap berbagi dalam ajaran sesat terkenal tersebut. Jika Luther secerdik Eck dalam berdebat, ia mungkin bisa menghindari masalah ini; tetapi ia lebih tertarik pada kebenaran dari pada kemenangan. Dan Luther terkenal dengan keberanian dan keteguhannya. Menghadapi manuver dan cercaan Eck, Luther justru melakukan apa yang diinginkan Eck - ia mengakui bahwa Hus kadang-kadang benar, dan Konsili Constance yang mengutuk Hus telah salah. Luther berkata, ‘Di antara keyakinan John Hus dan para pengikutnya yang dikutuk, ada banyak yang benar-benar Kristen dan injili serta tidak bisa dikutuk oleh Gereja Katolik.’ Pernyataan ini menimbulkan kehebohan, dan Eck sangat puas. Luther yang awalnya menolak konsep Paus yang tidak dapat salah, kini juga menolak alternatif lainnya, yaitu Sidang Gereja yang tidak dapat salah.] - ‘History of Modern Christianity’, hal 31.
Dr. Albert Freundt Jr.: “The admission was important for Luther’s development. He was a conservative, not by conviction, but by temperament. Throughout his life he resented unnecessary change. He intended no revolution; he aimed at purifying the Catholic Church and preserving its truth. But the Leipzig debate tore down the last barrier which held him to Rome. He had clearly committed himself in part and in public with a man condemned by the authorities of the Universal Church. Henceforth he was impressed with the incompatibility between the Bible and the ecclesiastical authorities as then constituted, between the truth taught in the Word of God and the errors taught in the human traditions of the papal churchmen. By February of 1520 he had advanced far beyond his reluctant admission. ‘We are all Hussites without knowing it,’ he wrote, ‘St. Paul and St. Augustine are Hussites.’” [= Pengakuan tersebut sangat penting bagi perkembangan Luther. Secara temperamen, ia adalah seorang yang konservatif, bukan karena keyakinan, melainkan karena wataknya. Sepanjang hidupnya, Luther menolak perubahan yang tidak perlu. Ia tidak berniat memulai sebuah revolusi; tujuan utamanya adalah memurnikan Gereja Katolik dan menjaga kebenarannya. Namun, debat Leipzig meruntuhkan penghalang terakhir yang masih mengikatnya pada Roma. Luther dengan jelas telah mengasosiasikan dirinya, baik sebagian maupun secara publik, dengan seseorang yang telah dikutuk oleh otoritas Gereja Universal. Sejak saat itu, Luther mulai terkesan oleh ketidakcocokan antara Alkitab dan otoritas gerejawi yang ada pada waktu itu, serta antara kebenaran yang diajarkan dalam Firman Allah dan kesalahan yang diajarkan oleh tradisi manusia dari kaum rohaniwan kepausan. Pada bulan Februari 1520, ia telah melangkah jauh melampaui pengakuannya yang enggan. ‘Kita semua adalah Hussite tanpa menyadarinya,’ tulisnya, ‘Santo Paulus dan Santo Agustinus adalah Hussite.’] - Dr. Albert Freundt, ‘History of Modern Christianity’, hal 31.
Catatan: John Hus (1373-1415) adalah pemimpin dari The Bohemian Brethren di Bohemia, Cekoslowakia. John Hus dipengaruhi oleh theologia dari Augustine dan Wycliffe. Dalam suatu tulisannya yang berjudul ‘On the Church’ ia berkata bahwa hanya Kristus sendiri yang adalah kepala gereja. Ia menyerang penjualan indulgence / pengampunan dosa dan juga menyerang kejahatan dari gereja dan pastor. Ini menimbulkan konflik, dan Sigismund, kaisar Romawi, mendesak supaya John Hus hadir dalam the Council of Constance dalam tahun 1415, dan kepada John Hus diberikan jaminan keamanan di sana sampai ia bisa kembali dengan selamat. Tetapi ternyata begitu sampai, ia langsung ditangkap, dipenjarakan, diadili dengan cepat, dinyatakan bersalah, dan dihukum mati dengan dibakar, karena ia menolak untuk menarik kembali tulisannya kecuali ia diyakinkan kesalahannya berdasarkan Kitab Suci.
Dengan pengakuan yang mendukung John Hus itu, Luther sudah menentang Konsili!
David Schaff: “Luther concluded his argument with these words: ‘I am sorry that the learned doctor only dips into the Scripture as the water-spider into the water - nay, that he seems to flee from it as the Devil from the Cross. I prefer, with all deference to the Fathers, the authority of the Scripture, which I herewith recommend to the arbiters of our cause.’” [= Luther menyimpulkan argumennya dengan kata-kata ini: ‘Saya menyesal bahwa doktor yang terpelajar itu hanya menyentuh Kitab Suci seperti laba-laba air yang menyentuh air - bahkan, ia tampaknya lari darinya seperti setan lari dari Salib. Saya lebih memilih, dengan segala hormat kepada para Bapa Gereja, otoritas Kitab Suci, yang dengan ini saya anjurkan kepada para penengah dari perkara kita.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 181.
David Schaff: “Both parties, as usual, claimed the victory. Eck was rewarded with honors and favors by Duke George, and followed up his fancied triumph by efforts to ruin Luther, and to gain a cardinal’s hat; but he was also severely attacked and ridiculed, especially by Willibald Pirkheimer, the famous humanist and patrician of Nuernberg, in his stinging satire, ‘The Polished Corner.’ The theological faculties of Cologne, Louvain, and afterwards (1521) also that of Paris, condemned the Reformer.” [= Kedua pihak, seperti biasa, mengklaim kemenangan. Eck diberi penghargaan dan kehormatan oleh Duke George, dan melanjutkan apa yang dianggapnya sebagai kemenangan dengan usaha-usaha untuk menghancurkan Luther dan mendapatkan gelar kardinal; tetapi ia juga diserang dengan keras dan diejek, terutama oleh Willibald Pirkheimer, seorang humanis terkenal dan bangsawan dari Nuernberg, dalam satir tajamnya, ‘The Polished Corner’. Fakultas theologia di Cologne, Louvain, dan kemudian (1521) juga di Paris, mengutuk sang Reformator.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 181-182.
David Schaff: “Luther himself was greatly dissatisfied, and regarded the disputation as a mere waste of time. He made, however, a deep impression upon younger men, and many students left Leipzig for Wittenberg. After all, he was more benefited by the disputation and the controversies growing out of it, than his opponents.” [= Luther sendiri sangat tidak puas dan menganggap perdebatan itu sebagai pemborosan waktu. Namun, ia berhasil membuat kesan mendalam pada kaum yang lebih muda, dan banyak mahasiswa meninggalkan Leipzig untuk pergi ke Wittenberg. Pada akhirnya, ia lebih diuntungkan oleh perdebatan dan kontroversi yang muncul darinya dibandingkan lawan-lawannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 182.
David Schaff: “The importance of this theological tournament lies in this: that it marks a progress in Luther’s emancipation from the papal system. Here for the first time he denied the divine right and origin of the papacy, and the infallibility of a general council. Henceforward he had nothing left but the divine Scriptures, his private judgment, and his faith in God who guides the course of history by his own Spirit, through all obstructions by human errors, to a glorious end. The ship of the Reformation was cut from its moorings, and had to fight with the winds and waves of the open sea.” [= Pentingnya ‘turnamen teologis’ ini terletak dalam hal ini: peristiwa ini menandai kemajuan dalam pembebasan Luther dari sistim kepausan. Di sini, untuk pertama-kalinya, ia menyangkal hak ilahi dan asal-usul kepausan, dan ketidak-bisa-bersalahan dari suatu konsili umum. Mulai saat itu, ia hanya berpegang pada Kitab Suci yang ilahi, penilaiannya sendiri, dan imannya kepada Allah yang membimbing jalannya sejarah dengan RohNya sendiri, melalui segala rintangan dari kesalahan-kesalahan manusia, menuju akhir yang mulia. Kapal Reformasi telah dilepaskan dari tambatannya, dan harus berjuang melawan angin dan ombak di laut lepas.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 182.
David Schaff: “From this time Luther entered upon a revolutionary crusade against the Roman Church until the anarchical dissensions in his own party drove him back into a conservative and even reactionary position.” [= Sejak saat itu, Luther memulai gerakan revolusioner melawan Gereja Roma, hingga perpecahan yang bersifat anarkis di dalam kelompoknya sendiri memaksanya kembali ke suatu posisi yang lebih konservatif, bahkan reaktif.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 182.
8) Pengucilan (exkomunikasi) terhadap Martin Luther.
Pada bulan Juni 1520, Roma mengeluarkan ‘the Bull’ [= surat keputusan dari Paus], yang diberi nama ‘Exsurge Domine’, yang mengecam 41 usul / gagasan Luther sebagai sesat, dan memerintahkan orang yang setia kepada Roma Katolik untuk membakar buku-buku Luther dimanapun bisa ditemukan.
Luther diberi waktu 2 bulan untuk menarik kembali ucapan / tulisannya atau ia akan dikucilkan.
Pada tanggal 10 Desember 1520, pada pk 9 pagi, Luther membakar bull tersebut beserta buku-buku Katolik lain, di depan umum. Dan pada tanggal 3 Januari 1521, pengucilan terhadap Luther dilaksanakan.
Luther lalu berkata:
“I said (at the Leipzig disputation of 1519) that the Council of Constance condemned some propositions of Hus that were truly Christian. I retract. All his propositions were Christian, and in condemning him the Pope has condemned the Gospel.” [= Aku berkata (pada perdebatan Leipzig pada tahun 1519) bahwa Council of Constance mengecam beberapa pernyataan dari Hus yang adalah benar-benar Kristen. Aku menarik kembali. Semua pernyataannya adalah Kristen, dan dalam mengecam dia Paus sudah mengecam Injil.] - Dr. Albert Freundt, ‘History of Modern Christianity’, hal 33.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin