(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 10 September 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
Martin Luther(2)
V) Reformasi:
1) Pencetus / pemicu Reformasi.
Gereja Roma Katolik membutuhkan uang untuk membangun kembali Gereja Santo Petrus di Roma, dan ini menyebabkan terjadinya penjualan surat pengampunan dosa / letter of indulgence. Orang Katolik yang terkenal dengan penjualan surat pengampunan dosa ini adalah Johann Tetzel, yang oleh David Schaff digambarkan dengan kata-kata sebagai berikut:
“who was not ashamed to boast that he saved more souls from purgatory by his letters of indulgence than St. Peter by his preaching.” [= yang tidak malu untuk membanggakan bahwa ia menyelamatkan lebih banyak jiwa dari api penyucian oleh surat-surat pengampunan dosanya dari pada Santo Petrus oleh khotbahnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 152.
David Schaff: “Jesus began his public ministry with the expulsion of the profane traffickers from the court of the temple. The Reformation began with a protest against the traffic in indulgences which profaned and degraded the Christian religion.” [= Yesus memulai pelayanan publikNya dengan mengusir para pedagang sekuler dari pelataran bait Allah. Reformasi dimulai dengan sebuah protes terhadap perdagangan indulgensi yang menodai dan merendahkan agama Kristen.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 146.
Yoh 2:13-22 - “(13) Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. (14) Dalam Bait Suci didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. (15) Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkanNya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkanNya. (16) Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan.’ (17) Maka teringatlah murid-muridNya, bahwa ada tertulis: ‘Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku.’ (18) Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: ‘Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?’ (19) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.’ (20) Lalu kata orang Yahudi kepadaNya: ‘Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?’ (21) Tetapi yang dimaksudkanNya dengan Bait Allah ialah tubuhNya sendiri. (22) Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-muridNya bahwa hal itu telah dikatakanNya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus.”.
Catatan: ini cerita yang berbeda dengan yang ada dalam Mat 21:12-13 Mark 11:15-17 Luk 19:45-46. Jadi ada 2 x penyucian Bait Allah, yang satu pada awal pelayanan Yesus, dan yang lain pada akhir pelayanan Yesus.
David Schaff: “The difficult and complicated doctrine of indulgences is peculiar to the Roman Church. It was unknown to the Greek and Latin fathers. It was developed by the mediaeval schoolmen, and sanctioned by the Council of Trent (Dec. 4, 1563), yet without a definition and with an express warning against abuses and evil gains.” [= Doktrin indulgensi yang sulit dan rumit adalah kekhasan Gereja Katolik Roma. Doktrin ini tidak dikenal oleh para Bapa Gereja Yunani dan Latin. Doktrin ini dikembangkan oleh para skolastik pada Abad Pertengahan dan disahkan oleh Konsili Trente (4 Desember 1563), namun tanpa definisi yang jelas dan dengan peringatan tegas terhadap penyalahgunaan dan keuntungan yang tidak baik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 146.
David Schaff: “The Council incidentally admits that these evil gains have been the most prolific source of abuses, - ‘unde plurima in Christiano populo abusuum causa fluxit,’ - and hence it ordained that they are to be wholly abolished: ‘mnino abolendos esse.’ (Schaff, Creeds of Christendom, II. 205 sq.) A strong proof of the effect of the Reformation upon the Church of Rome.” [= Konsili tersebut mengakui sebagai sesuatu yang remeh bahwa keuntungan yang tidak baik ini telah menjadi sumber penyalahgunaan yang paling subur, - ‘unde plurima in Christiano populo abusuum causa fluxit,’ - dan karena itu menetapkan bahwa penyalahgunaan ini harus dihapuskan sepenuhnya: ‘mnino abolendos esse.’ (Schaff, Creeds of Christendom, II. 205 sq.) Sebuah bukti kuat dari pengaruh Reformasi terhadap Gereja Katolik Roma.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 146 (catatan kaki).
David Schaff: “In the legal language of Rome, indulgentia is a term for amnesty or remission of punishment. In ecclesiastical Latin, an indulgence means the remission of the temporal (not the eternal) punishment of sin (not of sin itself), on condition of penitence and the payment of money to the church or to some charitable object. It maybe granted by a bishop or archbishop within his diocese, while the Pope has the power to grant it to all Catholics.” [= Dalam bahasa hukum Roma, indulgentia adalah istilah untuk amnesti atau pengampunan hukuman. Dalam bahasa Latin gerejawi, indulgensi berarti penghapusan hukuman sementara (bukan hukuman kekal) dari dosa (bukan dari dosa itu sendiri), dengan syarat adanya pertobatan dan pembayaran uang kepada gereja atau kepada tujuan amal tertentu. Indulgensi dapat diberikan oleh seorang uskup atau uskup agung di dalam keuskupannya, sementara Paus memiliki kewenangan untuk memberikannya kepada semua umat Katolik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 147.
David Schaff: “The sacrament of penance includes three elements, - contrition of the heart, confession by the mouth (to the priest), and satisfaction by good works, such as prayer, fasting, almsgiving, pilgrimages, all of which are supposed to have an atoning efficacy. God forgives only the eternal punishment of sin, and he alone can do that; but the sinner has to bear the temporal punishments, either in this life or in purgatory; and these punishments are under the control of the church or the priesthood, especially the Pope as its legitimate head. There are also works of supererogation, performed by Christ and by the saints, with corresponding extra-merits and extra-rewards; and these constitute a rich treasury from which the Pope, as the treasurer, can dispense indulgences for money. This papal power of dispensation extends even to the departed souls in purgatory, whose sufferings may thereby be abridged. This is the scholastic doctrine.” [= Sakramen tobat / pengakuan mencakup tiga elemen - penyesalan hati, pengakuan dengan mulut (kepada imam / pastor), dan pemenuhan dengan perbuatan baik, seperti doa, puasa, pemberian sedekah, dan ziarah, yang semuanya dianggap memiliki kemampuan penebusan. Allah hanya mengampuni hukuman kekal atas dosa, dan hanya Dia yang bisa melakukannya; tetapi pendosa harus menanggung hukuman sementara, baik dalam hidup ini maupun di api penyucian; dan hukuman ini berada di bawah kendali gereja atau imamat, terutama Paus sebagai kepalanya yang sah. Ada juga karya-karya kebajikan yang berlebihan, yang dilakukan oleh Kristus dan oleh para kudus, dengan tambahan jasa dan pahala; dan ini membentuk sebuah perbendaharaan yang kaya, dari mana Paus, sebagai bendahara, dapat memberikan indulgensi untuk uang. Kekuasaan dispensasi kepausan ini bahkan meluas ke jiwa-jiwa yang telah meninggal di api penyucian, yang penderitaannya bisa dikurangi karenanya. Inilah doktrin skolastik.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 147-148.
David Schaff: “The granting of indulgences degenerated, after the time of the crusades, into a regular traffic, and became a source of ecclesiastical and monastic wealth. A good portion of the profits went into the papal treasury. Boniface VIII. issued the first Bull of the jubilee indulgence to all visitors of St. Peter’s in Rome (1300). It was to be confined to Rome, and to be repeated only once in a hundred years, but it was afterwards extended and multiplied as to place and time.” [= Pemberian indulgensi menjadi korup secara moral, setelah masa Perang Salib, menjadi perdagangan yang teratur dan menjadi sumber kekayaan gerejawi dan monastik / biara. Sebagian besar keuntungan ini masuk ke dalam kas kepausan. Boniface VIII mengeluarkan Bull indulgensi yubileum pertama untuk semua pengunjung Basilika Santo Petrus di Roma (1300). Awalnya, indulgensi ini dibatasi hanya di Roma dan hanya boleh diulang sekali dalam seratus tahun, tetapi kemudian diperluas dan diperbanyak baik dalam hal tempat maupun waktu.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 148.
David Schaff: “The idea of selling and buying by money the remission of punishment and release from purgatory was acceptable to ignorant and superstitious people, but revolting to sound moral feeling. It roused, long before Luther, the indignant protest of earnest minds, such as Wiclif in England, Hus in Bohemia, John von Wesel in Germany, John Wessel in Holland, Thomas Wyttenbach in Switzerland, but without much effect.” [= Gagasan untuk menjual dan membeli pengampunan hukuman dan pembebasan dari api penyucian dengan uang diterima oleh orang-orang yang tidak berpendidikan dan percaya takhyul, tetapi bertentangan dengan perasaan moral yang sehat. Gagasan ini telah membangkitkan, jauh sebelum Luther, protes keras dari pikiran-pikiran yang tulus, seperti Wiclif di Inggris, Hus di Bohemia, John von Wesel di Jerman, John Wessel di Belanda, Thomas Wyttenbach di Swiss, tetapi tanpa banyak pengaruh.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 148.
David Schaff: “The Lateran Council of 1517 allowed the Pope to collect one-tenth of all the ecclesiastical property of Christendom, ostensibly for a war against the Turks; but the measure was carried only by a small majority of two or three votes, and the minority objected that there was no immediate prospect of such a war. The extortions of the Roman curia became an intolerable burden to Christendom, and produced at last a successful protest which cost the papacy the loss of its fairest possessions.” [= Konsili Lateran tahun 1517 mengizinkan Paus untuk mengumpulkan sepersepuluh dari semua properti gerejawi di dunia Kristen, dengan dalih untuk perang melawan Turki; namun, keputusan ini hanya disetujui dengan mayoritas tipis, hanya dua atau tiga suara, dan pihak minoritas keberatan karena tidak ada prospek langsung akan adanya perang semacam itu. Pemerasan oleh kuria Romawi menjadi beban yang tak tertahankan bagi dunia Kristen, dan akhirnya memicu protes yang berhasil, yang menyebabkan kepausan kehilangan kepemilikan terindahnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 146.
David Schaff: “The rebuilding of St. Peter’s Church in Rome furnished an occasion for the periodical exercise of the papal power of granting indulgences. Julius II. and Leo X., two of the most worldly, avaricious, and extravagant Popes, had no scruple to raise funds for that object, and incidentally for their own aggrandizement, from the traffic in indulgences. Both issued several bulls to that effect. Spain, England, and France ignored or resisted these bulls for financial reasons, refusing to be taxed for the benefit of Rome. But Germany, under the weak rule of Maximilian, yielded to the papal domination.” [= Pembangunan kembali Gereja Santo Petrus di Roma memberikan kesempatan untuk pelaksanaan periodik kekuasaan kepausan dalam memberikan indulgensi. Julius II dan Leo X, dua Paus yang paling duniawi, serakah, dan boros, tidak ragu untuk mengumpulkan dana untuk tujuan itu, dan secara tidak langsung untuk memperkaya diri mereka sendiri, dari perdagangan indulgensi. Keduanya mengeluarkan beberapa bulls (dokumen resmi yang dikeluarkan oleh Paus) untuk tujuan tersebut. Spanyol, Inggris, dan Perancis mengabaikan atau menentang bulls ini karena alasan keuangan, menolak untuk dikenakan pajak demi kepentingan Roma. Namun, Jerman, di bawah pemerintahan lemah Maximilian, tunduk pada dominasi kepausan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 149-150.
David Schaff: “The Archbishop appointed Johann Tetzel (Diez) of the Dominican order, his commissioner, who again employed his sub-agents. Tetzel was born between 1450 and 1460, at Leipzig, and began his career as a preacher of indulgences in 1501. He became famous as a popular orator and successful hawker of indulgences. He was prior of a Dominican convent, doctor of philosophy, and papal inquisitor (haereticae pravitatis inquisitor). At the end of 1517 he acquired in the University of Frankfurt-on-the-Oder the degree of Licentiate of Theology, and in January, 1518, the degree of Doctor of Theology, by defending, in two disputations, the doctrine of indulgences against Luther. He died at Leipzig during the public debate between Eck and Luther, July, 1519. He is represented by Protestant writers as an ignorant, noisy, impudent, and immoral charlatan, who was not ashamed to boast that he saved more souls from purgatory by his letters of indulgence than St. Peter by his preaching.” [= Uskup Agung menunjuk Johann Tetzel (Diez) dari ordo Dominikan sebagai komisarisnya, yang kemudian mempekerjakan sub-agen - sub-agen. Tetzel lahir antara tahun 1450 dan 1460 di Leipzig, dan memulai karirnya sebagai pengkhotbah indulgensi pada tahun 1501. Ia menjadi terkenal sebagai orator populer dan pedagang indulgensi yang sukses. Ia adalah pejabat di sebuah biara Dominikan, doktor filsafat, dan inkuisitor kepausan (haereticae pravitatis inquisitor). Pada akhir tahun 1517, ia memperoleh gelar Licentiate of Theology di Universitas Frankfurt-on-the-Oder, dan pada Januari 1518, gelar Doctor of Theology, dengan membela doktrin indulgensi melawan Luther dalam dua perdebatan. Ia meninggal di Leipzig selama debat publik antara Eck dan Luther pada Juli 1519. Ia digambarkan oleh para penulis Protestan sebagai seorang pembual yang tidak berpendidikan, berisik, kurang ajar, dan tidak bermoral, yang tidak malu-malu membanggakan bahwa ia menyelamatkan lebih banyak jiwa dari api penyucian melalui surat indulgensinya dari pada Santo Petrus dengan khotbahnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 151-152.
David Schaff: “On the other hand, Roman Catholic historians defend him as a learned and zealous servant of the church. He has only an incidental notoriety, and our estimate of his character need not affect our views on the merits of the Reformation. We must judge him from his published sermons and anti-theses against Luther. They teach neither more nor less than the usual scholastic doctrine of indulgences based on an extravagant theory of papal authority. He does not ignore, as is often asserted, the necessity of repentance as a condition of absolution. But he probably did not emphasize it in practice, and gave rise by unguarded expressions to damaging stories. His private character was certainly tainted, if we are to credit such a witness as the papal nuncio, Carl von Miltitz, who had the best means of information, and charged him with avarice, dishonesty, and sexual immorality.” [= Di sisi lain, para sejarawan Katolik Roma membela Tetzel sebagai seorang pelayan gereja yang terpelajar dan bersemangat. Ia hanya memiliki ketenaran yang bersifat kebetulan, dan penilaian kita terhadap karakternya tidak perlu mempengaruhi pandangan kita tentang pentingnya Reformasi. Kita harus menilainya berdasarkan khotbah-khotbahnya yang telah dipublikasikan dan anti-tesisnya melawan Luther. Khotbah-khotbah tersebut tidak mengajarkan lebih maupun kurang dari doktrin skolastik biasa tentang indulgensi yang didasarkan pada teori kekuasaan kepausan yang berlebihan. Ia tidak mengabaikan, seperti yang sering diklaim, perlunya pertobatan sebagai syarat untuk absolusi. Namun, kemungkinan besar ia tidak menekankan hal ini dalam praktiknya dan menggunakan ungkapan yang tidak berhati-hati sehingga memunculkan cerita-cerita yang merugikan. Karakter pribadinya jelas tercemar, jika kita mempercayai saksi seperti nunsius kepausan, Carl von Miltitz, yang memiliki akses terbaik terhadap informasi, dan menuduhnya dengan keserakahan, ketidakjujuran, dan seksual imoralitas.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 152-153.
David Schaff: “Tetzel traveled with great pomp and circumstance through Germany, and recommended with unscrupulous effrontery and declamatory eloquence the indulgences of the Pope to the large crowds who gathered from every quarter around him. He was received like a messenger from heaven. Priests, monks, and magistrates, men and women, old and young, marched in solemn procession with songs, flags, and candles, under the ringing of bells, to meet him and his fellow-monks, and followed them to the church; the papal Bull on a velvet cushion was placed on the high altar, a red cross with a silken banner bearing the papal arms was erected before it, and a large iron chest was put beneath the cross for the indulgence money. Such chests are still preserved in many places. The preachers, by daily sermons, hymns, and processions, urged the people, with extravagant laudations of the Pope’s Bull, to purchase letters of indulgence for their own benefit, and at the same time played upon their sympathies for departed relatives and friends whom they might release from their sufferings in purgatory ‘as soon as the penny tinkles in the box.’” [= Tetzel melakukan perjalanan dengan penuh kemegahan dan seremonial ke seluruh Jerman, dan dengan keberanian tanpa malu dan kefasihan berpidato yang dramatis, ia merekomendasikan indulgensi Paus kepada kerumunan besar yang berkumpul dari segala penjuru di sekitarnya. Ia diterima seperti seorang utusan dari surga. Para imam, biarawan, dan pejabat, pria dan wanita, tua dan muda, berbaris dalam prosesi khidmat dengan nyanyian, bendera, dan lilin, di bawah dentang lonceng, untuk menyambutnya dan sesama biarawan, dan mengikuti mereka ke gereja. Bulls kepausan di atas bantal beludru diletakkan di altar utama, sebuah salib merah dengan bendera sutra yang memuat lambang kepausan didirikan di depannya, dan sebuah peti besi besar ditempatkan di bawah salib untuk uang indulgensi. Peti-peti semacam itu masih dilestarikan di banyak tempat. Para pengkhotbah, melalui khotbah harian, himne, dan prosesi, mendorong orang-orang, dengan pujian berlebihan terhadap Bulls Paus, untuk membeli surat indulgensi demi keuntungan mereka sendiri, sambil memainkan simpati mereka untuk kerabat dan teman yang sudah meninggal yang mungkin mereka bebaskan dari penderitaan di api penyucian ‘segera setelah uang logam berbunyi di dalam peti.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 153.
David Schaff: “The common people eagerly embraced this rare offer of salvation from punishment, and made no clear distinction between the guilt and punishment of sin; after the sermon they approached with burning candles the chest, confessed their sins, paid the money, and received the letter of indulgence which they cherished as a passport to heaven. But intelligent and pious men were shocked at such scandal. The question was asked, whether God loved money more than justice, and why the Pope, with his command over the boundless treasury of extra-merits, did not at once empty the whole purgatory for the rebuilding of St. Peter’s, or build it with his own money.” [= Orang-orang biasa dengan antusias menerima tawaran langka ini untuk keselamatan dari hukuman dan tidak membuat perbedaan yang jelas antara dosa dan hukuman atas dosa; setelah khotbah, mereka mendekati peti dengan lilin yang menyala, mengaku dosa, membayar uang, dan menerima surat indulgensi yang mereka anggap sebagai paspor ke surga. Namun, orang-orang yang cerdas dan saleh merasa terkejut dengan skandal semacam itu. Pertanyaan muncul, apakah Allah lebih mencintai uang daripada keadilan, dan mengapa Paus, dengan kekuasaannya atas perbendaharaan tidak terbatas dari jasa tambahan, tidak segera mengosongkan seluruh api penyucian untuk pembangunan kembali Gereja Santo Petrus, atau membangunnya dengan uangnya sendiri.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 154.
2) Terjadinya protes oleh Martin Luther.
David Schaff: “Tetzel approached the dominions of the Elector of Saxony, who was himself a devout worshiper of relics, and had great confidence in indulgences, but would not let him enter his territory from fear that he might take too much money from his subjects. So Tetzel set up his trade on the border of Saxony, at Jueterbog, a few hours from Wittenberg. There he provoked the protest of the Reformer, who had already in the summer of 1516 preached a sermon of warning against trust in indulgences, and had incurred the Elector’s displeasure by his aversion to the whole system, although he himself had doubts about some important questions connected with it.” [= Tetzel mendekati wilayah Elektor Sachsen, yang adalah seorang penyembah relik yang saleh dan memiliki kepercayaan besar pada indulgensi, tetapi tidak mengizinkan Tetzel memasuki wilayahnya karena khawatir dia akan mengambil terlalu banyak uang dari rakyatnya. Maka, Tetzel mendirikan perdagangannya di perbatasan Sachsen, di Jueterbog, beberapa jam dari Wittenberg. Di sana, ia memicu protes dari sang Reformator, yang sudah pada musim panas tahun 1516 menyampaikan khotbah yang memperingatkan untuk tidak mempercayai indulgensi, dan telah membuat Elektor tidak senang karena kebenciannya terhadap seluruh sistem tersebut, meskipun ia sendiri masih meragukan beberapa pertanyaan penting yang terkait dengannya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 154.
David Schaff: “Luther had experienced the remission of sin as a free gift of grace to be apprehended by a living faith. This experience was diametrically opposed to a system of relief by means of payments in money. It was an irrepressible conflict of principle. He could not be silent when that barter was carried to the very threshold of his sphere of labor. As a preacher, a pastor, and a professor, he felt it to be his duty to protest against such measures: to be silent was to betray his theology and his conscience.” [= Luther telah mengalami pengampunan dosa sebagai suatu pemberian cuma-cuma oleh iman yang hidup. Pengalaman ini sama sekali bertentangan dengan sistim pembebasan dengan cara membayar dengan uang. Ini adalah konflik prinsip yang tidak bisa dikendalikan / ditahan. Dia tidak bisa diam ketika perdagangan itu dibawa ke ambang batas lingkup kerjanya. Sebagai seorang pengkhotbah, pendeta, dan profesor, dia merasa bahwa adalah kewajibannya untuk memprotes tindakan tersebut: diam berarti mengkhianati teologinya dan hati nuraninya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 154-155.
David Schaff: “The jealousy between the Augustinian order to which he belonged, and the Dominican order to which Tetzel belonged, may have exerted some influence, but it was certainly very subordinate. A laboring mountain may produce a ridiculous mouse, but no mouse can give birth to a mountain. The controversy with Tetzel (who is not even mentioned in Luther’s Theses) was merely the occasion, but not the cause, of the Reformation: it was the spark which exploded the mine. The Reformation would have come to pass sooner or later, if no Tetzel had ever lived; and it actually did break out in different countries without any connection with the trade in indulgences, except in German Switzerland, where Bernhardin Samson acted the part of Tetzel, but after Zwingli had already begun his reforms.” [= Kecemburuan antara Ordo Augustinian, yang menjadi tempat dia bernaung, dan Ordo Dominikan, yang menjadi tempat Tetzel bernaung, mungkin memiliki pengaruh tertentu, namun pengaruh tersebut jelas sangatlah kecil. Gunung yang bekerja keras mungkin menghasilkan tikus yang konyol, tetapi tidak ada tikus yang dapat melahirkan gunung (?). Kontroversi dengan Tetzel (yang bahkan tidak disebutkan dalam Tesis Luther) hanyalah sebagai pemicu, bukan penyebab Reformasi: itu hanyalah percikan yang meledakkan tambang. Reformasi akan terjadi cepat atau lambat, bahkan jika Tetzel tidak pernah hidup; dan kenyataannya, Reformasi memang terjadi di berbagai negara tanpa ada hubungan dengan perdagangan indulgensi, kecuali di Swiss Jerman, di mana Bernhardin Samson memainkan peran seperti Tetzel, tetapi setelah Zwingli sudah memulai reformasinya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 155.
3) Reformasi: Pemakuan 95 theses di pintu gereja Wittenberg.
David Schaff: “After serious deliberation, without consulting any of his colleagues or friends, but following an irresistible impulse, Luther resolved upon a public act of unforeseen consequences. It may be compared to the stroke of the axe with which St. Boniface, seven hundred years before, had cut down the sacred oak, and decided the downfall of German heathenism. He wished to elicit the truth about the burning question of indulgences, which he himself professed not fully to understand at the time, and which yet was closely connected with the peace of conscience and eternal salvation. He chose the orderly and usual way of a learned academic disputation.” [= Setelah mempertimbangkan dengan serius, tanpa berkonsultasi dengan rekan atau temannya, tetapi mengikuti dorongan yang tak tertahankan, Luther memutuskan untuk melakukan tindakan publik dengan konsekwensi yang tak terduga / tak bisa dilihat lebih dulu. Hal ini bisa dibandingkan dengan tebasan kapak yang dilakukan oleh St. Boniface tujuh ratus tahun sebelumnya, yang menebang pohon ek suci dan menentukan runtuhnya paganisme Jerman. Luther ingin mengungkap kebenaran tentang isu hangat indulgensi, yang pada saat itu dia akui belum sepenuhnya dia pahami, tetapi yang tetap memiliki kaitan erat dengan kedamaian hati nurani dan keselamatan abadi. Dia memilih cara yang teratur dan lazim untuk melakukan perdebatan akademis ilmiah.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 155.
David Schaff: “Accordingly, on the memorable thirty-first day of October, 1517, which has ever since been celebrated in Protestant Germany as the birthday of the Reformation, at twelve o’clock he affixed (either himself or through another) to the doors of the castle-church at Wittenberg, ninety-five Latin Theses on the subject of indulgences, and invited a public discussion. At the same time he sent notice of the fact to Archbishop Albrecht of Mainz, and to Bishop Hieronymus Scultetus, to whose diocese Wittenberg belonged. He chose the eve of All Saints’ Day (Nov. 1), because this was one of the most frequented feasts, and attracted professors, students, and people from all directions to the church, which was filled with precious relics.” [= Maka, pada hari bersejarah tanggal 31 Oktober 1517, yang sejak saat itu dirayakan di Jerman Protestan sebagai hari lahir Reformasi, pada pukul dua belas, dia memasang (sendiri atau melalui orang lain) di pintu gereja kastil di Wittenberg, sembilan puluh lima Tesis dalam bahasa Latin tentang indulgensi, dan mengundang suatu diskusi publik. Pada saat yang sama, dia mengirim pemberitahuan mengenai hal ini kepada Uskup Agung Albrecht dari Mainz, dan kepada Uskup Hieronymus Scultetus, yang keuskupannya termasuk Wittenberg. Dia memilih malam menjelang Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November) karena ini adalah salah satu perayaan yang paling banyak dikunjungi, dan menarik para profesor, mahasiswa, dan orang-orang dari segala penjuru ke gereja, yang dipenuhi dengan relik-relik berharga.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 155-156.
Catatan: tanggal 1 November adalah Hari Raya Semua Orang Kudus (All Saints’ Day). Hari ini merupakan perayaan untuk menghormati semua orang kudus, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal, yang telah mencapai kehidupan kekal di surga. Perayaan ini menjadi kesempatan bagi umat Katolik untuk mengingat teladan hidup orang-orang kudus dan meminta bantuan doa mereka.
David Schaff: “No one accepted the challenge, and no discussion took place. The professors and students of Wittenberg were of one mind on the subject. But history itself undertook the disputation and defence. The Theses were copied, translated, printed, and spread as on angels’ wings throughout Germany and Europe in a few weeks. The rapid circulation of the Reformation literature was promoted by the perfect freedom of the press. There was, as yet, no censorship, no copyright, no ordinary book-trade in the modern sense, and no newspapers; but colportors, students, and friends carried the books and tracts from house to house. The mass of the people could not read, but they listened attentively to readers. The questions of the Reformation were eminently practical, and interested all classes; and Luther handled the highest themes in the most popular style.” [= Tidak ada yang menerima tantangan itu, dan tidak ada diskusi yang terjadi. Para profesor dan mahasiswa di Wittenberg sepakat dalam hal ini. Namun, sejarah sendiri yang melakukan perdebatan dan pembelaan. Tesis-tesis tersebut disalin, diterjemahkan, dicetak, dan menyebar seperti sayap malaikat ke seluruh Jerman dan Eropa dalam beberapa minggu. Penyebaran literatur Reformasi yang cepat ini didorong oleh kebebasan pers yang sempurna. Pada saat itu, belum ada sensor, hak cipta, perdagangan buku dalam arti modern, maupun surat kabar; tetapi para pedagang keliling dari rumah ke rumah, mahasiswa, dan teman-teman membawa buku dan pamflet dari rumah ke rumah. Kebanyakan orang tidak bisa membaca, tetapi mereka mendengarkan dengan cermat kepada para pembaca. Pertanyaan-pertanyaan mengenai Reformasi sangat praktis dan menarik bagi semua kalangan; dan Luther membahas tema-tema tertinggi dengan gaya yang paling populer.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 156-157.
David Schaff: “The Theses bear the title, ‘Disputation to explain the Virtue of Indulgences.’ They sound very strange to a modern ear, and are more Catholic than Protestant. They are no protest against the Pope and the Roman Church, or any of her doctrines, not even against indulgences, but only against their abuse. They expressly condemn those who speak against indulgences (Th. 71), and assume that the Pope himself would rather see St. Peter’s Church in ashes than have it built with the flesh and blood of his sheep (Th. 50). They imply belief in purgatory. They nowhere mention Tetzel. They are silent about faith and justification, which already formed the marrow of Luther’s theology and piety. He wished to be moderate, and had not the most distant idea of a separation from the mother church. When the Theses were republished in his collected works (1545), he wrote in the preface: ‘I allow them to stand, that by them it may appear how weak I was, and in what a fluctuating state of mind, when I began this business. I was then a monk and a mad papist (papista insanissimus), and so submersed in the dogmas of the Pope that I would have readily murdered any person who denied obedience to the Pope.’” [= Tesis tersebut berjudul, ‘Perdebatan untuk menjelaskan kebajikan Indulgensi.’ Mereka terdengar sangat aneh bagi telinga modern, dan lebih bersifat Katolik dari pada Protestan. Di sana tidak ada protes terhadap Paus dan Gereja Roma, atau salah satu doktrinnya, bahkan bukan pula terhadap indulgensi, melainkan hanya terhadap penyalahgunaannya. Tesis tersebut secara tegas mengecam mereka yang berbicara menentang indulgensi (Tesis 71), dan berasumsi bahwa Paus sendiri lebih memilih melihat Gereja Santo Petrus terbakar menjadi abu dari pada membangunnya dengan daging dan darah domba-dombanya (Tesis 50). Tesis-tesis tersebut secara implicit menunjukkan keyakinan akan api penyucian (purgatori). Tidak ada penyebutan nama Tetzel. Mereka juga diam / tidak berbicara tentang iman dan pembenaran, yang sebenarnya sudah menjadi inti dari teologia dan kesalehan Luther. Luther ingin bersikap moderat, dan sama sekali tidak berniat untuk memisahkan diri dari gereja induk. Ketika Tesis ini diterbitkan ulang dalam karya-karyanya yang terkumpul (1545), ia menulis di bagian pengantar: ‘Saya membiarkannya tetap ada, agar melalui mereka tampak betapa lemahnya saya, dan dalam keadaan pikiran yang tidak menentu ketika saya memulai hal ini. Saat itu saya seorang biarawan dan seorang penganut paus yang fanatik (papista insanissimus), dan begitu tenggelam dalam dogma-dogma Paus sehingga saya akan dengan mudah membunuh siapa pun yang menolak patuh pada Paus.’] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 157.
David Schaff: “But after all, they contain the living germs of a new theology. The form only is Romish, the spirit and aim are Protestant. We must read between the lines, and supply the negations of the Theses by the affirmations from his preceding and succeeding books, especially his Resolutiones, in which he answers objections, and has much to say about faith and justification. The Theses represent a state of transition from twilight to daylight. They reveal the mighty working of an earnest mind and conscience intensely occupied with the problem of sin, repentance, and forgiveness, and struggling for emancipation from the fetters of tradition. They might more properly be called ‘a disputation to diminish the virtue of papal indulgences, and to magnify the full and free grace of the gospel of Christ.’ They bring the personal experience of justification by faith, and direct intercourse with Christ and the gospel, in opposition to an external system of churchly and priestly mediation and human merit. The papal opponents felt the logical drift of the Theses much better than Luther, and saw in them an attempt to undermine the whole fabric of popery. The irresistible progress of the Reformation soon swept the indulgences away as an unscriptural, mediaeval tradition of men.” [= Tetapi sekalipun demikian, Tesis tersebut mengandung benih hidup dari suatu teologia baru. Hanya bentuknya yang bersifat Roma, tetapi roh / semangat dan tujuannya adalah Protestan. Kita harus membaca di antara baris-barisnya dan melengkapi penolakan dalam Tesis tersebut dengan pernyataan dari buku-bukunya yang sebelumnya dan sesudahnya, terutama ‘Resolutiones’, di mana ia menjawab keberatan dan banyak berbicara tentang iman dan pembenaran. Tesis tersebut mewakili keadaan transisi dari keadaan remang-remang menuju terang. Mereka mengungkapkan kerja keras dari pikiran dan hati nurani yang sungguh-sungguh, yang sangat sibuk dengan masalah dosa, pertobatan, dan pengampunan, serta berjuang untuk kebebasan dari belenggu tradisi. Tesis tersebut mungkin lebih tepat disebut sebagai ‘suatu perdebatan untuk mengurangi kebajikan indulgensi kepausan, dan untuk mengagungkan kasih karunia penuh dan cuma-cuma dari Injil Kristus.’ Mereka membawa pengalaman pribadi tentang pembenaran oleh iman, dan hubungan langsung dengan Kristus dan Injil, sebagai lawan dari sistem eksternal mediasi gerejawi dan keimaman serta jasa manusia. Para penentang kepausan merasakan arah logis dari Tesis tersebut lebih baik daripada Luther, dan melihatnya sebagai upaya untuk meruntuhkan seluruh struktur kepausan. Kemajuan Reformasi yang tidak dapat ditolak segera menyapu bersih indulgensi sebagai tradisi manusia yang tidak sesuai dengan Kitab Suci dan berasal dari Abad Pertengahan.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 158.
David Schaff: “The first Thesis strikes the keynote: "Our Lord and Master when he says, ’Repent,’ desires that the whole life of believers should be a repentance." The corresponding Greek noun means change of mind (μετάνοια), and implies both a turning away from sin in sincere sorrow and grief, and a turning to God in hearty faith. Luther distinguishes, in the second Thesis, true repentance from the sacramental penance (i.e., the confession and satisfaction required by the priest), and understands it to be an internal state and exercise of the mind rather than isolated external acts; although he expressly affirms, in the third Thesis, that it must manifest itself in various mortifications of the flesh. Repentance is a continual conflict of the believing spirit with the sinful flesh, a daily renewal of the heart. As long as sin lasts, there is need of repentance. The Pope can not remit any sin except by declaring the remission of God; and he can not remit punishments except those which he or the canons impose (Thes.5 and 6). Forgiveness presupposes true repentance, and can only be found in the merits of Christ. Here comes in the other fundamental Thesis (62): "The true treasury of the church is the holy gospel of the glory and the grace of God." This sets aside the mediaeval notion about the overflowing treasury of extra-merits and rewards at the disposal of the Pope for the benefit of the living and the dead.” [= Tesis pertama membuka kunci utama: "Tuhan dan Guru kita, ketika Dia berkata, ‘Bertobatlah,’ menginginkan agar seluruh hidup orang percaya menjadi sebuah pertobatan." Kata benda Yunani yang sesuai berarti perubahan pikiran (μετάνοια), dan mengandung makna baik berpaling dari dosa dengan kesedihan dan penyesalan yang tulus, maupun berpaling kepada Tuhan dengan iman yang sepenuh hati. Luther, dalam Tesis kedua, membedakan pertobatan sejati dari sakramen penance (yaitu, pengakuan dosa dan tindakan melakukan ‘hukuman’ yang dituntut oleh imam), dan memahaminya sebagai kondisi internal dan latihan pikiran, bukan tindakan external yang terisolasi; meskipun dia secara explicit menyatakan dalam Tesis ketiga bahwa pertobatan harus mewujudkan diri dalam berbagai kematian daging. Pertobatan adalah suatu konflik terus-menerus antara roh yang percaya dengan daging yang berdosa, pembaruan hati setiap hari. Selama dosa ada, selalu ada kebutuhan untuk bertobat. Paus tidak dapat menghapuskan dosa kecuali dengan menyatakan pengampunan dari Allah; dan ia tidak dapat membatalkan hukuman kecuali hukuman yang ia atau hukum gereja tetapkan (Tesis 5 dan 6). Pengampunan mensyaratkan pertobatan sejati, dan hanya dapat ditemukan dalam jasa-jasa Kristus. Di sini muncul Tesis fundamental lainnya (62): ‘Harta sejati dari gereja adalah Injil yang kudus tentang kemuliaan dan kasih karunia Allah.’ Ini menyingkirkan gagasan abad pertengahan tentang perbendaharaan yang melimpah dari kelebihan jasa dan penghargaan yang ada di bawah kendali Paus untuk kepentingan orang hidup dan orang mati.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 158-159.
David Schaff: “We have thus set before us in this manifesto, on the one hand, human depravity which requires lifelong repentance, and on the other the full and free grace of God in Christ, which can only be appropriated by a living faith. This is, in substance, the evangelical doctrine of justification by faith (although not expressed in terms), and virtually destroys the whole scholastic theory and practice of indulgences. By attacking the abuses of indulgences, Luther unwittingly cut a vein of mediaeval Catholicism; and by a deeper conception of repentance which implies faith, and by referring the sinner to the grace of Christ as the true and only source of remission, he proclaimed the undeveloped principles of evangelical Protestantism, and kindled a flame which soon extended far beyond his original intentions.” [= Dalam pernyataan umum ini, kita dihadapkan pada dua hal: di satu sisi, kebejatan manusia yang membutuhkan pertobatan seumur hidup, dan di sisi lain, kasih karunia Allah yang penuh dan cuma-cuma / gratis dalam Kristus, yang hanya dapat diterima / dimiliki melalui iman yang hidup. Ini adalah inti dari doktrin injili tentang pembenaran oleh iman (meskipun tidak diungkapkan secara explicit), dan sebenarnya menghancurkan seluruh teori dan praktik skolastik tentang indulgensi. Dengan menyerang penyalahgunaan indulgensi, Luther tanpa disadari telah memotong nadi dari Katoliksisme abad pertengahan; dan melalui pemahaman yang lebih dalam tentang pertobatan yang menyiratkan iman, serta dengan merujuk pendosa kepada kasih karunia Kristus sebagai satu-satunya sumber pengampunan yang benar, Luther telah menyatakan prinsip-prinsip dasar Protestantisme injili yang belum berkembang, serta menyalakan api yang segera menyebar jauh melampaui niat awalnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 159-160.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin