(online)
(Rungkut Megah Raya Blok D No 16)
Selasa, tgl 3 September 2024, pk 18.30
Pdt. Budi Asali, M. Div.
vs
Martin Luther(1)
I) Kelahiran dan masa muda Luther:
Martin Luther dilahirkan pada tanggal 10 Nopember 1483, di Eisleben, di propinsi Saxony, Prussia / Jerman (dimana ia nantinya mati pada tanggal 18 Februari 1546), dan keesokan harinya ia dibaptiskan. Ia adalah anak pertama dan ia mempunyai 3 saudara laki-laki dan 3 saudara perempuan. 6 bulan setelah kelahirannya, keluarganya pindah dan menetap di Mansfield. Keluarganya adalah orang-orang kelas bawah yang amat miskin, tetapi jujur, rajin, dan saleh. Luther tidak pernah merasa malu terhadap asal usulnya yang rendah itu.
Luther mengalami masa kecil yang keras, tanpa kenangan manis, dan ia dibesarkan dibawah disiplin yang sangat keras. Ibunya pernah menghajarnya sehingga mengeluarkan darah hanya karena ia mencuri kacang, dan ayahnya pernah mencambuknya dengan begitu hebat sehingga menyebabkan ia lalu lari meninggalkan rumahnya, tetapi ia mengerti akan maksud baik mereka.
Dalam hal rohani ia diajar untuk berdoa kepada Allah dan para orang suci, menghormati gereja dan pastor, dan cerita-cerita mengerikan tentang setan dan ahli-ahli sihir, yang menghantuinya sepanjang hidupnya.
Di sekolah ia juga mengalami pendisiplinan yang sangat keras. Ia ingat bahwa pernah dicambuk 15 x dalam satu pagi. Di sekolah itu ia juga belajar Katekisasi, yang mencakup Pengakuan Iman, doa Bapa Kami dan 10 hukum Tuhan, dan juga beberapa lagu dalam bahasa Latin dan Jerman.
II) Luther di Universitas:
Pada usia 18 tahun (tahun 1501) ia masuk Universitas di Erfurt dan mempelajari scholasticism (= sistim logika, filsafat, dan theology abad 10-15). Universitas ini adalah salah satu yang terbaik pada saat itu. Di sini, pada waktu ia berusia 20 tahun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melihat satu copy yang lengkap dari Alkitab (bahasa Latin)! (Catatan: Ingat bahwa pada saat itu gereja Roma Katolik melarang orang awam untuk membaca atau bahkan memiliki Alkitab).
Ia membacanya dengan sukacita dan mengalami suatu kejutan karena Alkitab itu mengajarkan banyak hal yang tidak pernah dibacakan / diajarkan dalam gereja.
Tetapi dari pembacaan itu ia bukannya mendapat gambaran tentang Allah yang penuh kasih dan belas kasihan, tetapi sebaliknya tentang Allah yang benar / adil yang murka terhadap manusia berdosa.
Pada tahun 1502, ia mendapat gelar B. A. (Bachelor of Arts), dan pada tahun 1505 ia mendapat gelar M. A. (Master of Arts).
III) Luther menjadi biarawan:
Sebetulnya, sesuai dengan keinginan ayahnya, setelah lulus ia mempersiapkan diri untuk bekerja dalam bidang hukum, tetapi ada peristiwa yang menyebabkan ia lalu pindah haluan.
Pada usia antara 21-22 tahun, ia lolos dari kematian akibat sambaran petir, sementara teman seperjalanannya yang ada di sebelahnya, mati tersambar (Catatan: ada yang mengatakan bahwa temannya bukan mati kena petir tetapi karena suatu duel).
Tidak lama setelah itu, pada tanggal 2 Juli 1505, ia mengalami hujan badai yang sangat hebat di dekat Erfurt setelah kembali dari perkunjungan terhadap orang tuanya. Ia menjadi begitu takut sehingga ia menjatuhkan diri ke tanah dan berdoa dan bernazar dengan gemetar:
“Help, beloved Saint Anna! I will become a monk.” [= Tolonglah Santa Anna yang kekasih! Aku akan menjadi seorang biarawan.] - David Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 112.
Ia memang selamat dari hujan badai itu, dan untuk menggenapi nazarnya ia lalu masuk the Augustinian convent pada tahun 1505.
Tentang Augustinian convent itu, yang menggunakan nama Augustine / Agustinus, David Schaff memberikan komentar sebagai berikut:
“... it is an error to suppose that this order represented the anti-Pelagian or evangelical views of the North African father; on the contrary it was intensely catholic in doctrine, and given to excessive worship of the Virgin Mary, and obedience to the papal see which conferred upon it many special privileges.” [= adalah sesuatu yang salah untuk mengira bahwa ordo ini mewakili pandangan-pandangan yang anti-Pelagian atau injili dari bapa Afrika Utara ini; sebaliknya ordo ini bersifat sangat katolik dalam doktrin / pengajaran, dan sangat memuja Perawan Maria, dan taat pada Paus yang memberikan kepada ordo ini banyak hak istimewa.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 114.
Tentang masuknya Luther ke biara untuk menjadi biarawan, David Schaff berkata:
1) “Luther himself declared in later years, that his monastic vow was forced from him by terror and the fear of death and the judgment to come; yet he never doubted that God’s hand was in it.” [= Dalam tahun-tahun belakangan, Luther sendiri menyatakan bahwa nazar kebiarawanannya dipaksakan dari dia oleh teror dan ketakutan pada kematian dan pada penghakiman yang akan datang; tetapi ia tidak pernah meragukan bahwa tangan Allah ada di dalamnya.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 113.
2) “He was never an infidel, nor a wicked man, but a pious Catholic from early youth; but now he became overwhelmed with a sense of the vanity of this world and the absorbing importance of saving his soul, which, according to the prevailing notion of his age, he could best secure in the quiet retreat of a cloister.” [= Ia tidak pernah menjadi orang kafir, atau orang jahat, tetapi ia adalah orang Katolik yang saleh sejak masa kecilnya; tetapi sekarang ia diliputi oleh suatu perasaan akan kesia-siaan dari dunia ini dan kepentingan untuk menyelamatkan jiwanya, yang, menurut pemikiran umum jaman itu, bisa ia pastikan dengan cara yang terbaik dalam pengunduran diri / pengucilan diri yang tenang dalam biara.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 113.
Pada waktu Luther menjadi seorang biarawan ia berusaha mati-matian untuk hidup sesuai dengan ajaran gereja Katolik pada waktu itu. Ia berusaha untuk mendapatkan keselamatan melalui usahanya sendiri dengan membuang dosa, berbuat baik, dsb.
Tetapi ia tidak pernah merasakan damai, sukacita atau ketenangan. Ia terus-menerus dihantui oleh perasaan berdosa yang luar biasa hebatnya, dan pemikiran tentang Allah yang suci, adil, bahkan bengis.
a) “If there was ever a sincere, earnest, conscientious monk, it was Martin Luther. His sole motive was concern for his salvation. To this supreme object he sacrificed the fairest prospects of life. He was dead to the world and was willing to be buried out of the sight of men that he might win eternal life. His latter opponents who knew him in convent, have no charge to bring against his moral character except in certain pride and combativeness, and he himself complained of his temptations to anger and envy.” [= Jika pernah ada seorang biarawan yang tulus dan sungguh-sungguh, maka itu adalah Martin Luther. Motivasi satu-satunya adalah perhatian untuk keselamatannya. Untuk tujuan tertinggi ini ia mengorbankan harapan terbaik hidupnya. Ia mati terhadap dunia, dan rela dikubur terhadap pandangan manusia supaya ia bisa mendapatkan hidup yang kekal. Penentang-penentangnya, yang mengenalnya di biara, tidak mempunyai tuduhan terhadap karakter moralnya kecuali dalam hal kesombongan tertentu dan kesukaannya melawan, dan ia sendiri mengeluh tentang pencobaan-pencobaan yang ia alami terhadap kemarahan dan iri hati.] - David Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 113-114.
b) “He assumed the most menial offices to subdue his pride: he swept the floor, begged bread through the streets, and submitted without murmur to the ascetic severities.” [= Ia menerima jabatan-jabatan yang paling rendah untuk menundukkan kesombongannya: ia mengepel lantai, mengemis roti di jalan-jalan, dan tunduk tanpa menggerutu pada kekerasan / kesederhanaan hidup pertapa.] - David Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 115.
c) “He said twenty-five Paternosters with the Ave Maria in each of the seven appointed hours of prayer. He was devoted to the Holy Virgin ... He regularly confessed his sins to the priests at least once a week. At the same time a complete copy of the Latin Bible was put into his hands for study, ... At the end of the year of probation Luther solemnly promised to live until death in poverty and chastity according to the rules of the holy father Augustin, to render obedience to Almighty God, to the Virgin Mary, and to the prior of the monastery. ... His chief concern was to become a saint and to earn a place in heaven. ‘If ever,’ he said afterward, ‘a monk got to heaven by monkery, I would have gotten there’. He observed with minutest details of discipline. No one surpassed him in prayer, fasting, night watches, self-mortification.” [= Ia mengucapkan 25 x doa Bapa Kami dengan Salam Maria dalam setiap dari 7 jam doa yang ditetapkan. Ia berbakti kepada Perawan yang Kudus ... Ia mengaku dosa secara rutin kepada imam / pastor sedikitnya sekali seminggu. Pada saat yang sama suatu copy Alkitab Latin yang lengkap ada di tangannya untuk dipelajari, ... Pada akhir dari tahun percobaan Luther berjanji dengan khidmat / sungguh-sungguh untuk hidup sampai mati dalam kemiskinan dan kesederhanaan / kesucian menurut peraturan-peraturan bapa kudus Agustinus, taat kepada Allah yang mahakuasa, kepada Perawan Maria, dan kepada kepala biara. ... Perhatiannya yang terutama adalah untuk menjadi orang suci dan mendapatkan tempat di surga. ‘Jika ada,’ katanya belakangan, ‘seorang biarawan mencapai surga melalui kebiarawanan, Aku sudah sampai di sana’. Ia menjalankan disiplin dengan sangat terperinci. Tidak seorangpun melampaui dia dalam doa, puasa, jaga malam (?), mematikan diri sendiri.] - David Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 115-116.
d) “He sought by the means set forth by the Church and the monastic tradition to make himself acceptable to God and to earn salvation of his soul. He mortified his body. He fasted, sometimes for days on end and without a morsel of food. He gave himself to prayers and vigils beyond those required by the rule of his order. He went to confession, often daily and for hours at a time. Yet assurance of God’s favour and inward peace did not come and the periods of depression were acute.” [= Ia mencari melalui cara-cara yang dinyatakan oleh Gereja dan tradisi biara untuk membuat dirinya sendiri diterima oleh Allah dan mendapatkan keselamatan jiwanya. Ia mematikan dirinya. Ia berpuasa, kadang-kadang selama berhari-hari tanpa makanan sedikitpun. Ia menyerahkan dirinya untuk berdoa dan berjaga-jaga melebihi apa yang dituntut oleh peraturan ordonya. Ia mengaku dosa, seringkali setiap hari dan untuk berjam-jam dalam satu kali pengakuan. Tetapi keyakinan akan perkenan Allah dan damai di dalam, tidak datang dan ia mengalami masa depresi yang parah.] - Kenneth Scott Latourette, ‘A History of Christianity’, vol II, hal 705.
e) “But he was sadly disappointed in his hope to escape sin and temptation behind the walls of the cloister. He found no peace and rest in all his pious exercises. The more he seemed to advance externally, the more he felt the burden of sin within. He had to contend with temptations of anger, envy, hatred and pride. He saw sin everywhere, even in the smallest trifles. The Scriptures impressed upon him the terrors of divine justice. He could not trust in God as a reconciled Father, as a God of love and mercy, but trembled before him, as a God of wrath, as a consuming fire. He could not get over the words: ‘I, the Lord thy God, am a jelous God.’” [= Tetapi ia sangat kecewa dalam harapannya untuk lepas dari dosa dan pencobaan di balik tembok-tembok biara. Ia tidak mendapatkan damai dan ketenangan dalam semua hal-hal saleh yang ia lakukan. Makin ia kelihatan maju secara lahiriah, makin ia merasa beban dosa di dalam. Ia harus berjuang melawan pencobaan untuk marah, iri, kebencian, dan kesombongan. Ia melihat dosa dimana-mana, bahkan dalam hal-hal yang paling remeh. Kitab Suci memberikan kesan kepadanya tentang keadilan ilahi. Ia tidak bisa percaya kepada Allah sebagai Bapa yang diperdamaikan, sebagai Bapa yang kasih dan berbelas kasihan, tetapi gemetar di hadapanNya, sebagai Allah yang murka, sebagai api yang menghanguskan. Ia tidak bisa mengatasi kata-kata: ‘Aku, Tuhan Allahmu, adalah Allah yang cemburu’ (Kel 20:5).] - David Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 116.
f) “He entered the confessional and stayed for hours every day. On one occasion Luther spent six hours confessing the sins he had committed in the last day!” [= Ia masuk ke dalam ruang pengakuan dosa dan berada di sana berjam-jam setiap hari. Pada suatu kali Luther menghabiskan waktu 6 jam untuk mengaku dosa-dosa yang ia lakukan pada hari terakhir!] - R. C. Sproul, ‘The Holiness of God’, hal 114.
g) Pengakuan dosa Luther ini menyebabkan Staupitz menjadi marah dan berkata:
“‘Look here,’ he said, ‘if you expect Christ to forgive you, come in with something to forgive - parricide, blasphemy, adultery - instead of all these peccadilloes. ... Man, God is not angry with you. You are angry with God. Don’t you know that God commands you to hope?’” [= ‘Lihatlah,’ katanya, ‘Jika kamu berharap supaya Kristus mengampuni kamu, datanglah dengan sesuatu untuk diampuni - pembunuhan orang tua, penghujatan, perzinahan - dan bukannya semua dosa-dosa remeh ini. ... Bung, Allah tidak marah kepadamu. Kamu yang marah kepada Allah. Tidak tahukah kamu bahwa Allah memerintahkan kamu untuk berharap?’] - R. C. Sproul, ‘The Holiness of God’, hal 114, dimana ia mengutip dari Roland Bainton, dalam bukunya ‘Here I Stand’.
h) Pada tahun 1505, sebagai seorang pastor muda ia memimpin misa untuk pertama kalinya. Pada waktu ia mengangkat roti dan mengucapkan kata-kata “Ini adalah tubuhKu”, ia mengalami rasa takut yang luar biasa karena ia merasakan dirinya penuh dosa di hadapan Allah yang tak terbatas dalam kekudusanNya.
IV) Pertobatan Luther:
Seorang biarawan tua menghibur Luther dalam kesedihan dan keputus-asaannya, dan mengingatkan dia tentang kata-kata Paulus bahwa orang berdosa dibenarkan oleh kasih karunia melalui iman.
Juga Johann von Staupitz, yang adalah teman baik, sekaligus penasehat dan bapa rohani Luther, mengarahkan Luther dari dosa-dosanya kepada apa yang Kristus lakukan di kayu salib, dari hukum Taurat kepada salib, dan usaha berbuat baik kepada iman. Ia juga yang mendorong Luther untuk belajar Kitab Suci.
Melalui bantuan biarawan tua dan Staupitz, dan khususnya melalui penyelidikannya terhadap surat-surat Paulus, perlahan-lahan Luther sadar bahwa orang berdosa bisa dibenarkan bukan karena mentaati hukum Taurat, tetapi hanya karena iman kepada Yesus Kristus.
“He pondered day and night over the meaning of ‘the righteousness of God’ (Rom. 1:17), and thought that it is the righteous punishment of sinners; but toward the close of his convent life he came to the conclusion that it is the righteousness which God freely gives in Christ to those who believe in him. Righteousness is not acquired by man through his own exertions and merits; it is complete and perfect in Christ, and all the sinner has to do is to accept it from Him as a free gift.” [= Ia merenungkan siang dan malam tentang arti dari ‘kebenaran Allah’ (Ro 1:17), dan mengira bahwa itu adalah hukuman yang adil terhadap orang-orang berdosa; tetapi menjelang akhir dari kehidupan biaranya, ia sampai pada kesimpulan bahwa itu adalah kebenaran yang Allah berikan dengan cuma-cuma dalam Kristus kepada mereka yang percaya kepadaNya. Kebenaran tidak didapatkan oleh manusia melalui usaha dan kebaikan / jasanya sendiri; kebenaran itu lengkap dan sempurna dalam Kristus, dan semua yang harus dilakukan oleh orang berdosa adalah menerimanya dari Dia sebagai pemberian / anugerah cuma-cuma.] - David Schaff, ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 122.
Cerita tentang pertobatannya agak simpang siur, dan sukar dipastikan kapan persisnya ia sungguh-sungguh bertobat dan diselamatkan. Pengertiannya dan kepercayaannya akan keselamatan / pembenaran karena iman yang diajarkan oleh Ro 1:17 itupun melalui pergumulan hebat dan cukup lama.
Karena itu, pada tahun 1510, sekalipun ia sudah tahu tentang pembenaran karena iman, tetapi karena ia belum betul-betul mantap dalam hal itu, maka ia masih melakukan ziarah / perjalanan agama (pilgrimage) ke Roma. Ia berharap untuk bisa mendapatkan penghiburan untuk jiwanya dengan melakukan perjalanan ini.
David Schaff mengatakan:
“He ascended on bended knees the twenty-eight steps of the famous Scala Santa (said to have been transported from the Judgment Hall of Pontius Pilate in Jerusalem), that he might secure the indulgence attached to his ascetic performance since the days of Pope Leo IV. in 850, but at every step the word of the Scripture sounded as a significant protest in his ears: ‘The just shall live by faith’ (Rom. 1:17). Thus at the very height of his medieval devotion he doubted its efficacy in giving peace to the troubled conscience.” [= Dengan menggunakan lututnya ia menaiki 28 anak tangga dari Scala Santa / Tangga Suci yang terkenal (dikatakan bahwa Scala Santa itu telah dipindahkan dari Ruang Pengadilan Pontius Pilatus di Yerusalem), supaya ia bisa memastikan pengampunan dosa yang dicantelkan pada pelaksanaan pertapaannya sejak jaman Paus Leo IV pada tahun 850, tetapi pada setiap langkah kata-kata Kitab Suci terngiang di telinganya sebagai suatu protes: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’ (Ro 1:17). Jadi, pada puncak dari kebaktian keagamaannya ia meragukan kemujarabannya dalam memberikan damai pada hati nurani yang kacau.] - ‘History of the Christian Church’, vol VII, hal 129.
Penjelasan tentang Scala Sancta:
“The Scala Sancta (English: Holy Stairs, Italian: Scala Santa) are a set of 28 white marble steps located in an edifice on extraterritorial property of the Holy See in Rome, Italy proximate to the Archbasilica of Saint John in Laterano. Officially, the edifice is titled the Pontifical Sanctuary of the Holy Stairs (Pontificio Santuario della Scala Santa), and incorporates part of the old Papal Lateran Palace. Replica stairs flank the original staircase, which may only be climbed on one’s knees. The Holy Stairs lead to the Church of Saint Lawrence in Palatio ad Sancta Sanctorum (Chiesa di San Lorenzo in Palatio ad Sancta Sanctorum) or simply the ‘Sancta Sanctorum’ (English: Holy of Holies), which was the personal chapel of the early Popes.” [= Scala Sancta (bahasa Inggris: Holy Stairs / Tangga Suci, bahasa Italia: Scala Santa) adalah suatu set dari 28 anak tangga dari marmer putih yang terletak di sebuah bangunan di wilayah ekstrateritorial Takhta Suci di Roma, Italia, yang berdekatan dengan Basilika Agung Santo Yohanes di Laterano. Secara resmi, bangunan ini diberi nama Pontificio Santuario della Scala Santa (Sanctuarium Kepausan dari Tangga Suci), dan mencakup bagian dari Istana Lateran Kepausan yang lama. Tangga replika mengapit tangga asli, yang hanya boleh dinaiki dengan lutut. Tangga Suci ini mengarah ke Gereja Santo Laurensius di Istana ad Sancta Sanctorum (Chiesa di San Lorenzo in Palatio ad Sancta Sanctorum), atau yang lebih dikenal dengan nama ‘Sancta Sanctorum’ (bahasa Inggris: Holy of Holies / Ruang Maha Suci), yang merupakan kapel pribadi Paus-paus awal.] - https://en.wikipedia.org/wiki/Scala_Sancta
“According to Catholic Church tradition, the Holy Stairs were the steps leading up to the praetorium of Pontius Pilate in Jerusalem on which Jesus Christ stepped on his way to trial during his Passion. The Stairs reputedly were brought to Rome by Saint Helena in the fourth century. In the Middle Ages they were known as Scala Pilati (‘the Stairs of Pilate’). For centuries, the Scala Sancta has attracted Christian pilgrims who wish to honour the Passion of Jesus Christ. Since the early 1700s, the Holy Stairs have been encased in wood for protection, but were briefly exposed in 2019 following restoration work.” [= Menurut tradisi Gereja Katolik, Tangga Suci adalah anak tangga yang menuju ke praetorium Pontius Pilatus di Yerusalem, di mana Yesus Kristus melangkah saat menuju pengadilan selama PenderitaanNya. Tangga ini dipercaya dibawa ke Roma oleh Santa Helena pada abad keempat. Pada Abad Pertengahan, tangga ini dikenal sebagai Scala Pilati (‘Tangga Pilatus’). Selama berabad-abad, Scala Sancta telah menarik para peziarah Kristen yang ingin menghormati Penderitaan Yesus Kristus. Sejak awal tahun 1700-an, Tangga Suci ini dilapisi kayu untuk perlindungan, tetapi sempat dibuka kembali pada tahun 2019 setelah dilakukan pekerjaan restorasi.] - https://en.wikipedia.org/wiki/Scala_Sancta
“Medieval legends claim that Saint Helena, mother of Emperor Constantine the Great, brought the Holy Stairs from Jerusalem to Rome circa AD 326. In the Middle Ages, they were known as the Scala Pilati (‘Stairs of Pilate’). From old plans it appears that they led to a corridor of the Lateran Palace, near the Chapel of Saint Sylvester, and were covered with a special roof. In 1589, Pope Sixtus V had the Papal Lateran Palace, then in ruins, demolished to make way for the construction of a new one. He ordered the Holy Stairs be reconstructed in their present location, before the Sancta Sanctorum (‘Holy of Holies’), the chapel so named for the many precious relics preserved there. The chapel also houses an icon of Christ Pantocrator, known as the ‘Uronica’, that was supposedly begun by Saint Luke and finished by an angel. This celebrated icon of Santissimi Salvatore Acheiropoieton (‘not made by human hands’), on certain occasions, used to be carried through Rome in procession.” [= Legenda-legenda Abad Pertengahan mengclaim bahwa Santa Helena, ibu dari Kaisar Konstantin yang Agung, membawa Tangga Suci dari Yerusalem ke Roma sekitar tahun 326 M. Pada Abad Pertengahan, tangga ini dikenal sebagai Scala Pilati (‘Tangga Pilatus’). Dari rencana-rencana kuno, tampaknya tangga ini menuju koridor Istana Lateran, dekat Kapel Santo Silvester, dan ditutupi dengan atap khusus. Pada tahun 1589, Paus Sixtus V memerintahkan pembongkaran Istana Lateran Kepausan yang saat itu sudah rusak untuk memberi jalan bagi pembangunan suatu istana yang baru. Dia memerintahkan agar Tangga Suci direkonstruksi di lokasi mereka saat ini, di depan Sancta Sanctorum (‘Ruang Maha Suci’), kapel yang diberi nama demikian karena banyaknya relikwi berharga yang disimpan di sana. Kapel ini juga menyimpan sebuah ikon Kristus Pantokrator, yang dikenal sebagai ‘Uronica’, yang konon dimulai oleh Santo Lukas dan diselesaikan oleh seorang malaikat. Ikon terkenal Santissimi Salvatore Acheiropoieton (‘tidak dibuat oleh tangan manusia’) ini, pada kesempatan-kesempatan tertentu, dulu dibawa berkeliling Roma dalam sebuah prosesi.] - https://en.wikipedia.org/wiki/Scala_Sancta
“Climbing the Holy Stairs on one’s knees is a devotion much in favour with pilgrims and the faithful. Several popes have performed the devotion, and the Catholic Church has granted indulgences for it. Pope Pius VII on 2 September 1817 granted those who ascend the Stairs in the prescribed manner an indulgence of nine years for every step. Pope Pius X, on 26 February 1908, conceded a plenary indulgence as often as the Stairs are devoutly ascended after Confession and Holy Communion. On 11 August 2015, the Apostolic Penitentiary granted a plenary indulgence to all who, ‘inspired by love’, climbed the Stairs on their knees while meditating on Christ’s passion, and also went to Confession, received Holy Communion, and recited certain other Catholic prayers, including a prayer for the Pope’s intentions. Those who were physically impeded from climbing the stairs could obtain the plenary indulgence by meditating on Christ’s passion while at the Stairs and completing the other conditions. As part of the ceremonies opening the Holy Year in 1933, Cardinal Francesco Marchetti Selvaggiani, Vicar of Rome, led a crowd of hundreds in mounting the steps on their knees. Between April 2019 and July 2019, pilgrims were permitted to ascend the stairs kneeling on the original uncovered marble steps for the first time in almost 300 years. As a result, visitor numbers during this time increased threefold from the usual, and long lines formed at the entrance.” [= Menaiki Tangga Suci dengan lutut adalah suatu devosi / pembaktian yang sangat disukai oleh para peziarah dan umat beriman. Beberapa paus telah melakukan devosi / pembaktian ini, dan Gereja Katolik telah memberikan indulgensi / pengampunan dosa untuknya. Paus Pius VII pada 2 September 1817 memberikan indulgensi / pengampunan dosa selama sembilan tahun untuk setiap anak tangga yang dinaiki dengan cara yang ditentukan. Paus Pius X, pada 26 Februari 1908, memberikan indulgensi / pengampunan dosa penuh setiap kali tangga tersebut dinaiki dengan penuh pengabdian / pembaktian setelah Pengakuan Dosa dan Komuni Kudus. Pada 11 Agustus 2015, Penitensiaria Apostolik memberikan indulgensi / pengampunan dosa penuh kepada semua orang yang, ‘terinspirasi oleh kasih,’ menaiki tangga dengan lutut mereka sambil merenungkan penderitaan Kristus, dan juga pergi ke Pengakuan Dosa, menerima Komuni Kudus, dan membaca doa-doa Katolik lainnya, termasuk doa untuk maksud-maksud Paus. Mereka yang secara fisik terhalang untuk menaiki tangga bisa mendapatkan indulgensi / pengampunan dosa penuh dengan merenungkan penderitaan Kristus di dekat Tangga dan memenuhi syarat-syarat lainnya. Sebagai bagian dari upacara pembukaan Tahun Suci pada tahun 1933, Kardinal Francesco Marchetti Selvaggiani, Vikar Roma, memimpin ratusan orang dalam menaiki tangga dengan lutut. Antara April 2019 dan Juli 2019, para peziarah diizinkan menaiki tangga dengan lutut di atas anak tangga marmer asli yang terbuka untuk pertama kalinya dalam hampir 300 tahun. Akibatnya, jumlah pengunjung selama periode ini meningkat tiga kali lipat dari biasanya, dan antrian panjang terbentuk di pintu masuk.] - https://en.wikipedia.org/wiki/Scala_Sancta
“Martin Luther climbed the steps on his knees in 1510. As he did so, he repeated the ‘Our Father’ on each step. It was said that by doing this work one could ‘redeem a soul from purgatory.’ But when Luther arrived at the top he could not suppress his doubt, saying ‘Who knows whether this is true?’” [= Martin Luther menaiki anak tangga dengan lututnya pada tahun 1510. Sambil melakukannya, ia mengulang doa ‘Bapa Kami’ di setiap anak tangga. Dikatakan bahwa dengan melakukan pekerjaan / perbuatan ini seseorang dapat ‘menebus suatu jiwa dari api penyucian.’ Namun, ketika Luther tiba di puncak, ia tidak bisa menekan keraguannya dan berkata, ‘Siapa yang tahu apakah ini benar?’] - https://en.wikipedia.org/wiki/Scala_Sancta
“Charles Dickens, after visiting the Scala Sancta in 1845, wrote: ‘I never, in my life, saw anything at once so ridiculous and so unpleasant as this sight.’ He described the scene of pilgrims ascending the staircase on their knees as a ‘dangerous reliance on outward observances’.” [= Charles Dickens, setelah mengunjungi Scala Sancta pada tahun 1845, menulis: ‘Saya belum pernah, dalam hidup saya, melihat sesuatu yang sekaligus begitu konyol dan tidak menyenangkan seperti pemandangan ini.’ Dia menggambarkan pemandangan para peziarah yang menaiki tangga dengan lutut mereka sebagai ‘ketergantungan yang berbahaya pada pengamatan lahiriah.’] - https://en.wikipedia.org/wiki/Scala_Sancta
Tetapi, setelah Martin Luther betul-betul mengerti dan percaya, maka kegagalannya dalam mencapai ‘keselamatan / pembenaran melalui perbuatan baik’, dan pengalamannya dalam mendapatkan ‘keselamatan / pembenaran karena iman’, menyebabkan ia sangat membenci doktrin ‘keselamatan karena perbuatan baik’. Ia berkata:
“The most damnable and pernicious heresy that has ever plagued the mind of men was the idea that somehow he could make himself good enough to deserve to live with an all-holy God.” [= Ajaran sesat yang paling terkutuk dan jahat / merusak yang pernah menggoda pikiran manusia adalah gagasan bahwa entah bagaimana ia bisa membuat dirinya sendiri cukup baik sehingga layak untuk hidup dengan Allah yang mahasuci.] - Dr. D. James Kennedy, ‘Evangelism Explosion’, hal 31-32.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali
Alamat Gereja :
Jl. Raya Kali Rungkut 5 - Ruko Rungkut Megah Raya BLOK D - 16, SURABAYA
Rek Gereja : Account BCA 3631422185 a/n Tjoe Ming Tjhuin