Pemahaman Alkitab
(Jl.
Dinoyo 19b, lantai 3)
Jumat,
tanggal 21 Mei 2010, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
Markus 16:1-20(5)
Mark
16:1-20 - “(1)
Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome
membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. (2) Dan
pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit,
pergilah mereka ke kubur. (3) Mereka berkata seorang kepada yang lain:
‘Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?’ (4)
Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat
besar itu sudah terguling. (5) Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka
melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan.
Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi orang muda itu berkata kepada mereka:
‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia
telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan
Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada
Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti
yang sudah dikatakanNya kepada kamu.’ (8a) Lalu mereka keluar dan lari
meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak
mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut.
(8b) Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan
teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-muridNya
memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan
tentang keselamatan yang kekal itu. (9) Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada
hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diriNya kepada Maria
Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan. (10) Lalu perempuan
itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan
yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. (11) Tetapi ketika mereka
mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
(12) Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang
dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. (13) Lalu
kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi
kepada merekapun teman-teman itu tidak percaya. (14) Akhirnya Ia menampakkan
diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela
ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya
kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitanNya. (15) Lalu Ia
berkata kepada mereka: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada
segala makhluk. (16) Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi
siapa yang tidak percaya akan dihukum. (17) Tanda-tanda ini akan menyertai
orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi namaKu, mereka
akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, (18) mereka akan
memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan
mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang
itu akan sembuh.’ (19) Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka,
terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. (20) Merekapun
pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan
meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya”.
7) Tetapi untuk Mark 16:9-20 (longer ending / akhiran yang lebih panjang), ada suatu perdebatan
yang luar biasa hebatnya. Penafsir-penafsir kuno pada umumnya menerima bagian
itu sebagai bagian asli dari Injil Markus, sedangkan penafsir-penafsir modern
pada umumnya menganggap bagian itu tidak asli.
a)
Argumentasi untuk menolak Mark 16:9-20.
1. Mark 16:9-20 ini tidak ada dalam 2
manuscript yang paling kuno, dan juga dalam banyak manuscript kuno dan penting
lainnya. Dan ada manuscript yang tidak mempunyai Mark 16:9-20 tetapi memberikan
tempat kosong di tempat itu.
Vincent:
“It is omitted from the two oldest
manuscripts” (= Itu dihapuskan dari dua manuscript
yang tertua).
UBS
New Testament Handbook Series:
“It
is omitted by the two most ancient Greek Uncial manuscripts of the New
Testament, Codex Vaticanus and Codex Sinaiticus, both of the 4th century. It is
also omitted by the Old Latin manuscript k (4th or 5th century), by the oldest
Syriac version of the Gospels, the Sinaitic Syriac (4th or 5th century), and by
important codices of the Armenian, Ethiopic and Georgian versions” [= Itu dihapuskan oleh dua manuscript uncial
Yunani yang tertua dari Perjanjian Baru, Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus,
keduanya dari abad ke 4. Itu juga dihapuskan oleh manuscript Latin kuno k (abad
ke 4 atau ke 5), oleh versi Syria yang paling kuno dari Injil-injil, Sinaitic
Syriac (abad ke 4 atau ke 5), dan oleh codex-codex penting dari versi-versi
Armenian, Ethiopic dan Georgian].
Catatan:
‘uncial’ adalah type /
bentuk / jenis huruf Yunani yang dipakai untuk menyalin manuscript. Ada tiga
type / jenis huruf Yunani, yaitu ‘uncial’, ‘cursive’ dan
‘minuscule’. Mula-mula yang dipakai adalah ‘uncial’ (huruf besar), lalu
berubah menjadi ‘cursive’, dan akhirnya menjadi ‘minuscule’. Karena itu
manuscript yang menggunakan ‘uncial’ biasanya adalah manuscript yang kuno,
yang menggunakan ‘minuscule’ biasanya adalah manuscript yang lebih baru
(Greenlee, hal 17,28).
Bruce
Metzger: “The
last twelve verses of the commonly received text of Mark are absent from the two
oldest Greek manuscripts (a
and B), from the Old Latin codex
Bobiensis (it), the Sinaitic Syriac manuscript, about one hundred Armenian
manuscripts, and the two oldest Georgian manuscripts (written
A.D. 897 and A.D. 913)” [= Dua belas ayat terakhir
dari text Markus yang pada umumnya diterima, absen dari dua manuscript Yunani
yang tertua (a and B), dari manuscript Latin
kuno codex Bobiensis (it), manuscript Syria Sinaitic, sekitar seratus manuscript
Armenian, dan dua manuscript Georgia yang paling kuno (ditulis 897 M. dan 913
M.)] - ‘A
Textual Commentary on the Greek New Testament’.
Catatan:
manuscript yang dinamai a
(Aleph = huruf pertama dalam abjad Ibrani) adalah Codex Sinaiticus, dan yang dinamai B adalah Codex Vaticanus.
Jamieson,
Fausset & Brown: “All
the verses of this chapter, from the 9th to the end, are regarded by Griesbach,
Tischendorf, and Tregelles as no part of the original text of this Gospel, but
as added by a later hand: Because, first, they are missing in B and 'Aleph (a)
- the well-known Codex Vaticanus and the recently discovered Codex Sinaiticus,
being the oldest manuscripts yet known; in one copy of the Old Latin Version; in
some copies of the Armenian Version; and in an Arabic Lectionary or Church
Lesson” [= Semua ayat-ayat dari pasal ini,
dari ayat ke 9 sampai akhir, dianggap oleh Griesbach, Tischendorf, dan Tregelles
bukan sebagai bagian dari text orisinil dari Injil ini, tetapi ditambahkan oleh
tangan / penulis belakangan: Karena, pertama ayat-ayat itu tidak ada dalam B dan
'Aleph (a) - Codex Vaticanus yang termasyhur dan
Codex Sinaiticus yang baru ditemukan, yang merupakan manuscript-manuscript
tertua yang diketahui / dikenal; dalam satu copy dari Versi Latin kuno; dalam
beberapa copy dari Versi Armenian; dan dalam suatu Pembacaan atau Pelajaran
Gereja dalam bahasa Arab].
Bible
Knowledge Commentary: “The
two earliest (fourth century) uncial manuscripts (Sinaiticus and Vaticanus) omit
the verses though their respective scribes left some blank space after verse 8,
suggesting that they knew of a longer ending but did not have it in the
manuscript they were copying”
[= Dua manuscript uncial yang paling awal dari abad keempat (Sinaiticus and
Vaticanus) menghapuskan / membuang ayat-ayat itu sekalipun penyalin-penyalin
mereka masing-masing meninggalkan suatu tempat kosong setelah ayat 8, yang
menunjukkan bahwa mereka tahu tentang ‘suatu akhiran yang panjang’ tetapi
tidak mempunyainya dalam manuscript yang sedang mereka copy / salin].
Catatan:
penafsir ini mengatakan kedua
manuscript yang tidak mempunyai Mark 16:9-20 ini memberi tempat kosong. Tetapi
Pulpit Commentary di bawah ini mengatakan bahwa hanya satu dari 2 manuscript itu
yang memberi tempat kosong.
Pulpit
Commentary: “The
two oldest, namely, the Sinaitio and the Vatican, omit the whole passage, but
under different conditions. The Sinaitic omits the passage absolutely. The
Vatican omits it, but with a space left blank between the eighth verse of Mark
16, and the beginning of St. Luke, just sufficient for its insertion; as
though the writer of the manuscript, hesitating whether to omit or to insert the
verses, thought it safest to leave a space for them”
(= Dua yang tertua, Sinaiticus dan Vaticanus, menghapuskan seluruh text, tetapi
dengan kondisi / keadaan yang berbeda. Sinaiticus menghapuskan text itu secara
mutlak / sama sekali. Vaticanus menghapuskannya, tetapi dengan suatu tempat
dibiarkan kosong di antara ayat ke 8 dari Mark 16, dan permulaan dari Injil
Lukas, persis cukup untuk pemasukannya; seakan-akan sang penulis dari
manuscript, ragu-ragu apakah menghapuskan atau memasukkan ayat-ayat itu,
menganggapnya sebagai jalan yang paling aman untuk meninggalkan suatu tempat
yang kosong untuk ayat-ayat itu) - ‘Introduction’, hal
viii.
Jamieson,
Fausset & Brown: “in
one or two manuscripts in which they are not found, a space is left to show that
something is wanting - not large enough, indeed, to contain the verses, but
this probably only to save space”
(= dalam satu atau dua manuscript dalam mana mereka / ayat-ayat ini ditemukan,
suatu tempat kosong ditinggalkan untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang kurang
- memang tidak cukup besar untuk menampung / memuat ayat-ayat itu, tetapi ini
mungkin hanya untuk menghemat tempat).
Catatan:
Pulpit Commentary mengatakan tempat kosong itu persis cukup untuk Mark
16:9-20 ini, tetapi Jamieson, Fausset & Brown mengatakan tidak demikian.
Tetapi Jamieson, Fausset & Brown memang tidak menyebutkan Sinaiticus dan
Vaticanus. Apakah ia memaksudkan manuscript yang lain lagi?
Perlu
dicamkan bahwa kalau saya
memberikan kutipan dari penafsir-penafsir di atas, itu tidak berarti bahwa
mereka semua percaya pada pandangan itu. Bisa saja mereka hanya menyebutkan
argumentasi ini tetapi mereka tidak mempercayainya. Misalnya Jamieson, Fausset
& Brown memasukkan hal ini sebagai argumentasi dari pihak yang menolak Mark 16:9-20
ini, tetapi Jamieson, Fausset & Brown lalu memberikan
argumentasi-argumentasi tandingan, dan akhirnya menyimpulkan bahwa Mark 16:9-20
itu asli. Ini juga berlaku untuk pengutipan-pengutipan di bawah.
2. Manuscript-manuscript yang mempunyai
Mark 16:9-20, mempunyai variasi-variasi / perbedaan-perbedaan di antara mereka.
Jamieson,
Fausset & Brown: “the
variations in the text itself are just ground of suspicion”
(= variasi-variasi dalam text itu sendiri merupakan dasar yang benar tentang
keragu-raguan).
Catatan:
Memang pada umumnya, suatu ayat / text ada dalam manuscript-manuscript tertentu,
dan tidak ada dalam manuscript-manuscript yang lain, maka dalam
manuscript-manuscript yang mempunyai ayat / text itu, ada variasi-variasi /
perbedaan-perbedaan.
3. Manuscript-manuscript yang mempunyai
Mark 16:9-20 banyak yang memberikan catatan bahwa manuscript Yunani yang
lebih tua tidak memiliki bagian ini, atau memberikan tanda yang menunjukkan
bahwa bagian ini merupakan suatu penambahan yang palsu.
Bruce
Metzger: “Not
a few manuscripts that contain the passage have scribal notes stating that older
Greek copies lack it, and in other witnesses the passage is marked with asterisks
or obeli, the conventional signs used by copyists to indicate a spurious
addition to a document”
(= Tidak sedikit manuscript-manuscript yang memuat text itu mempunyai catatan
dari penyalin yang menyatakan bahwa copy-copy Yunani yang lebih tua tidak
mempunyai bagian itu, dan dalam saksi-saksi / manuscript-manuscript yang lain
text itu ditandai dengan asterisks
atau obeli,
tanda-tanda yang lazim yang digunakan oleh para penyalin untuk menunjukkan
suatu penambahan yang palsu pada suatu dokumen)
- ‘A Textual Commentary on the Greek New Testament’.
Catatan:
asterisk adalah tanda *
; sedangkan obelus (bentuk tunggal dari obeli) adalah tanda - atau ¸
.
4. Gaya bahasa yang berbeda dan
perbendaharaan kata yang berbeda antara Mark 16:9-20 dan Mark 1:1-16:8a.
Jamieson,
Fausset & Brown: “And
further, because the style of this portion so differs from the rest of this
Gospel as to suggest a different author”
(= Dan selanjutnya, karena gaya dari bagian ini begitu berbeda dari sisa dari
Injil ini sehingga menunjukkan seorang pengarang yang berbeda).
William
Barclay:
“the style of the Greek is so different that they cannot have been
written by the same person as wrote the rest of the gospel” (= gaya dari bahasa Yunaninya begitu berbeda sehingga mereka / ayat-ayat
itu tidak mungkin telah ditulis oleh orang yang sama seperti yang telah menulis
sisa dari injil itu) - hal
5.
Bible
Knowledge Commentary: “The
Greek literary style lacks the vivid, lifelike detail so characteristic of
Mark’s historical narrative”
(= Gaya literatur Yunaninya tidak mempunyai detail
yang bersemangat, seperti hidup, yang begitu merupakan karakteristik dari cerita
sejarah Markus).
Donald
Guthrie: “There
is a different in Greek style between 16:9-20 and the rest of the Gospel, and while
this would not of itself rule out common authorship it is difficult to
believe in common authorship in face of the combination of stylistic
difficulties with textual suspicions”
(= Ada suatu perbedaan dalam gaya bahasa Yunani antara 16:9-20 dan sisa dari
Injil itu, dan sementara hal ini sendiri tidak mengesampingkan
ke-pengarang-an yang sama, adalah sukar untuk mempercayai ke-pengarang-an
yang sama di hadapan dari gabungan dari kesukaran-kesukaran yang berhubungan
dengan gaya dengan kecurigaan textual) - ‘New Testament Introduction’, hal 77.
Catatan:
saya tidak mengerti mengapa Donald Guthrie menganggap bahwa perbedaan gaya itu
sendiri tidak mengesampingkan kemungkinan kepengarangan yang sama.
Bible
Knowledge Commentary: “About
1/3 of the significant Greek words in verses 9-20 are ‘non-Marcan,’ that is,
they do not appear elsewhere in Mark or they are used differently from Mark’s
usage prior to verse 9”
(= Sekitar 1/3 dari kata-kata Yunani yang penting / berarti dalam ayat 9-20
adalah ‘non-Markus’, artinya, kata-kata itu tidak muncul dalam Markus atau
kata-kata itu digunakan secara berbeda dari penggunaan Markus sebelum ayat 9).
J.
Harold Greenlee: “The
words and forms in these verses are so different from the rest of the Gospel
that a student who had read Mark in Greek up to this point but had not read any
of the rest of the New Testament in Greek would find himself in unfamiliar
material in these last verses. ... There is another small but significant point.
In the seven other instances in the New Testament in which the phrase ‘the
first day of the week’ occurs, including one instance in Mark 16:2, the Greek
form is literally ‘day one’ rather than ‘the first day’. Yet in Mark
16:9 the form is ‘the first day’ - which sounds better in English but is not
the characteristic New Testament form” (= Kata-kata dan bentuk-bentuk dalam ayat-ayat ini
begitu berbeda dari sisa dari Injil ini sehingga seorang pelajar yang telah
membaca Markus dalam bahasa Yunani sampai pada titik ini tetapi tidak / belum
membaca yang manapun dari sisa Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, akan
mendapati dirinya sendiri dalam materi / bahan yang tidak lazim dalam ayat-ayat
terakhir ini. ... Ada suatu hal lain yang kecil tetapi penting / berarti. Dalam
tujuh contoh lainnya dalam Perjanjian Baru dalam mana ungkapan ‘hari pertama
dalam minggu itu’ muncul, termasuk satu contoh dalam Mark 16:2, bentuk
Yunaninya secara hurufiah adalah ‘hari satu’ dan bukannya ‘hari
pertama’. Tetapi dalam Mark 16:9 bentuknya adalah ‘hari pertama’ - yang
bunyinya lebih baik dalam bahasa Inggris tetapi bukanlah ciri dari bentuk
Perjanjian Baru) - ‘Scribes,
Scrolls, & Scripture’, hal 91.
Bruce
Metzger: “The
vocabulary and style of verses 9-20 are non-Markan (e.g.
a)piste/w,
bla/ptw, bebaio/w,
e)pakolouqe/w,
qea/omai,
meta\
tau=ta,
poreu/omai,
sunerge/w,
u%steron
are found nowhere else in Mark; and qana/simon
and toi=$
met
) au)tou= genome/noi$,
as designations of the disciples, occur only here in the New Testament)”
[= Perbendaharaan kata dan gaya dari ayat 9-20 adalah non-Markus (misalnya a)piste/w / APISTEO,
bla/ptw /
BLAPTO,
bebaio/w / BEBAIOO, e)pakolouqe/w / EPAKOLOUTHEO, qea/omai / THEAOMAI, meta\
tau=ta /
META TAUTA, poreu/omai
/
POREUOMAI, sunerge/w / SUNERGEO, u%steron / HUSTERON tidak ditemukan
di tempat lain dalam Markus; dan qana/simon / THANASIMON dan toi=$ met
) au)tou= genome/noi$ / TOIS MET AUTOU
GENOMENOIS, sebagai penunjukan-penunjukan kepada murid-murid, muncul hanya di
sini dalam Perjanjian Baru)] - ‘A Textual Commentary on the Greek New Testament’.
Catatan:
semua kata Yunani ini dibahas dan diberi terjemahannya oleh William Hendriksen
di bawah, yang bahkan memberikan lebih banyak lagi kata-kata Yunani yang
non-Markus. Karena itu, di sini saya tidak memberi arti dari kata-kata Yunani
ini. Bagian / ungkapan yang tidak dibahas oleh William Hendriksen adalah:
·
kata-kata toi=$
met ) au)tou= genome/noi$
/
TOIS MET AUTOU GENOMENOIS
(ay 10), yang oleh NIV/NASB diterjemahkan ‘those
who had been with Him’ (= mereka yang telah bersama-sama dengan Dia).
Dalam terjemahan LAI diterjemahkan ‘mereka yang selalu mengiringi Yesus’. Bruce Metzger mengatakan bahwa ungkapan / istilah ini tidak pernah
digunakan dalam sepanjang Perjanjian Baru untuk menunjuk kepada murid-murid
Yesus. Jadi, ini bukan hanya merupakan istilah non-Markus, tetapi bahkan istilah
non-Perjanjian Baru.
·
kata-kata meta\ tau=ta
/
META TAUTA
(after these things / sesudah hal-hal
ini / ‘sesudah
itu’) dalam ay 12 awal. Lenski mengakui bahwa ungkapan / istilah
ini hanya muncul di sini dalam Injil Markus.
Berkenaan
dengan gaya yang berbeda dan perbendaharaan kata yang berbeda ini, William
Hendriksen memberikan penjelasan yang sangat terperinci dan panjang lebar. Ada 3
hal yang saya berikan di sini dari William Hendriksen:
a. Penggunaan kata penghubung bahasa Yunani KAI (= dan) pada
awal kalimat atau anak kalimat. Dalam Mark 16:1-8a kata KAI ini muncul 8 x,
tetapi dalam Mark 16:9-20, kata KAI ini muncul hanya 6 x (atau mungkin 7 x).
William
Hendriksen: “This
means that in the first eight verses KAI occurs, on the average, once per verse;
in the latter twelve verses, on the average, only once (or slightly more than
once) in every two verses. There is
accordingly a transition from co-ordination of clauses to subordination,
from paratactic to hypotactic style. The transition, to be sure,
is not radical or absolute: even in the last twelve verses there is a degree of
co-ordination. But the difference is, nevertheless, rather striking”
[= Ini berarti bahwa dalam 8 ayat pertama kata KAI muncul, rata-rata satu kali
per ayat; dalam 12 ayat belakangan, rata-rata hanya sekali (atau sedikit lebih
dari sekali) dalam setiap dua ayat. Jadi, disana ada suatu peralihan dari koordinasi
dari anak-anak kalimat ke subordinasi, dari gaya menggunakan anak-anak
kalimat yang sejajar ke gaya menggunakan anak-anak kalimat dimana yang
satu tergantung pada yang lain. Memang peralihannya tidaklah radikal atau
mutlak: bahkan dalam 12 ayat yang terakhir ada suatu tingkat dari koordinasi.
Tetapi bagaimanapun, perbedaannya agak menyolok]
- hal 685.
Catatan:
Webster’s New World
Dictionary mengatakan bahwa dalam gramatika kata ‘subordination’ bisa menunjuk pada anak kalimat yang tergantung
pada anak kalimat yang lain, dan yang kalau sendirian tidak membentuk kalimat.
Keterangan:
jadi, bukan sekedar perbedaan frekwensi penggunaan kata Yunani KAI (= ‘dan’)
yang dipersoalkan oleh William Hendriksen. Penggunaan kata ‘dan’
yang banyak dalam ay 1-8 menunjukkan bahwa gaya yang digunakan di sana
adalah menggunakan anak-anak kalimat secara setingkat / sejajar. Sedangkan
penggunaan kata ‘dan’
yang hanya sedikit dalam ay 9-20 menunjukkan bahwa gaya yang digunakan
adalah menggunakan anak-anak kalimat secara tergantung satu kepada yang lain.
b. Perbedaan / kontras antara gaya yang hidup / bersemangat
/ menarik dari ay 1-8 dan gaya yang membosankan dari ay 9-20.
William
Hendriksen: “Moreover,
speaking about style, in making the transition from 16:1-8 to verses 9-20, who
does not sense the striking contrast between the graphic and colorful style of
the former and the prosaic summarizing style of the latter?”
[= Selanjutnya / lebih lagi, berbicara tentang gaya, dalam membuat peralihan
dari 16:1-8 ke ay 9-20, siapa yang tidak merasakan kontras yang menyolok antara
gaya yang seperti keadaan sebenarnya / aslinya dan bersemangat / menarik dari
yang pertama (ay 1-8) dan gaya yang biasa / membosankan yang
bersifat ringkasan dari yang belakangan (ay 9-20)?]
- hal 685.
c.
Tentang perbendaharaan kata yang berbeda.
William
Hendriksen mengatakan (hal 683) bahwa dalam Mark 16:1-8 hanya ada 4 kata yang
tidak pernah digunakan oleh Markus mulai Mark 1:1-15:47. Tetapi dalam Mark
16:9-20 ada sedikitnya 14 kata yang berbeda yang tidak ditemukan dalam Mark
1:1-16:8. Dan karena kata-kata baru itu ada yang muncul lebih dari sekali, maka
total menjadi 18 kata baru. Inilah kata-kata itu:
·
ay 10: to go / pergi
(Yunani: POREUTHEISA - POREUOMAI).
·
ay 10: to mourn /
berkabung (Yunani: PENTHOUSI - PENTHEO).
·
ay 11: to see /
melihat (Yunani: ETHEATHE - THEAOMAI).
·
ay 11: to disbelieve /
tidak percaya (Yunani: EPISTESAN - APISTEO).
·
ay 12: different /
berbeda / yang lain (Yunani: HETERA - HETEROS).
·
ay 12: form / bentuk /
rupa (Yunani: MORPHE - MORPHE).
·
ay 12: to go / pergi
(Yunani: POREUOMENOIS - POREUOMAI).
·
ay 14: afterward /
setelah itu / akhirnya (Yunani: HUSTERON - HUSTEROS).
·
ay 14: to see /
melihat (Yunani: THEASAMENOIS - THEAOMAI).
·
ay 15: to go / pergi
(Yunani: POREUTHENTES - POREUOMAI).
·
ay 16: to disbelieve /
tidak percaya (Yunani: APISTESAS - APISTEO).
·
ay 18: serpent / ular
(Yunani: OPHEIS - OPHIS).
·
ay 18: deadly /
mematikan / maut (Yunani: THANASIMON - THANASIMOS).
·
ay 18: to harm /
mencelakai (Yunani: BLAPHE - BLAPTO).
·
ay 19: to take up
/ terangkat (Yunani: ANELEMPHTHE - ANALAMBANO).
·
ay 20: to work
with / turut bekerja (Yunani: SUNERGOUNTOS - SUNERGEO).
·
ay 20: to confirm /
meneguhkan (Yunani: BEBAIOUNTOS - BEBAIOO).
·
ay 20: to
follow, attend / menyertai (Yunani: EPAKOLOUTHOUNTON - EPAKOLOUTHEO).
5.
Aliran cerita yang tak cocok dari Mark 16:1-8a ke Mark 16:9-20.
Ingat,
kalau mau melihat hal ini, kita harus lebih dulu membuang ay 8b-nya (akhiran
yang lebih pendek). Jadi, dari ay 8a ke ay 9-20, aliran ceritanya tidak cocok.
Jewish
New Testament Commentary:
“9-20.
These verses do not appear in the two oldest Greek manuscripts, their style
differs from the rest of Mark, and the transition from v. 8 is awkward” (= 9-20. Ayat-ayat ini tidak muncul
dalam dua manuscript Yunani yang tertua, gaya mereka berbeda dari sisa dari
Markus, dan peralihan dari ay 8 adalah aneh / kaku / buruk sekali).
Donald
Guthrie: “Moreover,
16:9 does not well follow on from 16:1-8 since Mary Magdalene is described as
one ‘from whom he had cast out seven demons’ in spite of the fact that she
had already been mentioned in the first part”
(= Lebih lagi, 16:9 tidak mengikuti / menyambung dengan baik 16:1-8, karena
Maria Magdalena digambarkan sebagai seseorang ‘dari siapa Ia telah mengusir 7
setan’ sekalipun dalam faktanya ia telah disebutkan dalam bagian pertama)
- ‘New Testament Introduction’, hal 77.
William
Hendriksen: “Mary
Magdalene has just been mentioned twice (Mark 15:47; 16:1). Then, in verse 9,
she is introduced as if she had not yet been mentioned at all: ‘Mary
Magdalene, from whom he had cast out seven demons’ (cf. Luke 8:2)”
[= Maria Magdalena baru saja telah disebutkan dua kali (Mark 15:47; 16:1). Lalu,
dalam ay 9, ia diperkenalkan seakan-akan ia belum disebutkan sama sekali:
‘Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan’ (bdk. Luk
8:2)] - hal 686.
J.
Harold Greenlee: “Furthermore,
as we have noted, the connection between verses 8 and 9 is exceedingly harsh.
The subject changes from ‘the women’ in verse 8 to ‘Jesus’ in verse 9,
and yet Jesus is not named. In verse 9 the writer tells us who Mary Magdalene
is, although she has already been named in verse 1”
(= Selanjutnya, seperti telah kami sebutkan, hubungan antara ay 8 dan ay 9
sangat kasar / tajam. Subyeknya berubah dari ‘perempuan-perempuan’ dalam ay
8 ke ‘Yesus’ dalam ay 9, tetapi ‘Yesus’ tidak disebutkan. Dalam ay 9
sang penulis memberitahu kita siapa Maria Magdalena itu, sekalipun ia telah
disebutkan dalam ay 1) - ‘Scribes,
Scrolls, & Scripture’, hal 91.
Bible
Knowledge Commentary: “Internal
evidence includes this data: (1) The transition from verse 8 to verse 9 involves
an abrupt change of subject from ‘women’ to the presumed subject ‘Jesus’
since His name is not stated in verse 9 of the Greek text. (2) Mary Magdalene is
introduced with a descriptive clause in verse 9 as though she had not been
mentioned already in 15:40,47 and 16:1”
[= Bukti internal mencakup data ini: (1) Perpindahan dari ayat 8 ke ayat 9
melibatkan suatu perubahan subyek yang tiba-tiba / mendadak, dari
‘perempuan-perempuan’ (mereka)
ke ‘Yesus’ yang dianggap subyek karena namaNya tidak disebutkan / dituliskan
dalam ayat 9 dari text Yunani. (2) Maria Magdalena diperkenalkan dengan suatu
anak kalimat yang menggambarkan dalam ayat 9 seakan-akan ia belum disebutkan
dalam 15:40,47 dan 16:1].
Untuk
mengerti dengan lebih jelas apa yang dimaksudkan oleh Bible Knowledge Commentary
ini, perhatikan Mark 15:40, Mark 15:47, dan Mark 16:1-9 di bawah
ini (saya membuang Mark 16:8b-nya!).
Mark 15:40
- “Ada
juga beberapa perempuan yang melihat dari jauh, di antaranya Maria Magdalena,
Maria ibu Yakobus Muda dan Yoses, serta Salome”.
Mark 15:47
- “Maria
Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan”.
Mark 16:1-9 - “(1) Setelah lewat hari Sabat, Maria
Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk
pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. (2) Dan pagi-pagi benar pada hari pertama
minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. (3) Mereka
berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi
kita dari pintu kubur?’ (4) Tetapi ketika mereka melihat dari dekat,
tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling. (5) Lalu mereka
masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah
putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi orang
muda itu berkata kepada mereka: ‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang
Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat!
Inilah tempat mereka membaringkan Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah
kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana
kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu.’ (8a) Lalu
mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat
menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan
apa-apa kepada siapapun juga karena takut. (9) Setelah Yesus
(Ia) bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan
diriNya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus
(Ia) pernah mengusir tujuh setan”.
Catatan:
a. Dalam ay 9, seperti dikatakan penafsir di atas,
dalam bahasa Yunaninya tidak ada kata ‘Yesus’.
Seharusnya kedua kata ‘Yesus’
yang muncul dalam ay 9 dari terjemahan
LAI adalah ‘Ia’.
b. Mulai ay 1-8a, kata ‘mereka’
yang berkali-kali muncul, selalu menunjuk kepada para perempuan yang diceritakan
dalam ay 1. Dalam ay 8a, jelas kata ‘mereka’
yang menjadi subyek dari ayat itu, juga menunjuk kepada para perempuan itu.
Tetapi dalam ay 9, terjadi perpindahan subyek yang sangat mendadak, dan
sekarang subyeknya adalah ‘Ia’.
Seharusnya kalau ada perpindahan subyek seperti itu, nama ‘Yesus’
dimunculkan, tetapi ternyata tidak.
Bagi
saya, point ini merupakan bukti yang sangat kuat, bahwa Mark 16:9-20 memang
tidak cocok untuk dihubungkan dengan Mark 16:1-8a.
c. Maria Magdalena yang sudah diperkenalkan dalam 16:1, dan
bahkan juga sudah dalam 15:40,47, sekarang diperkenalkan lagi dalam 16:9b,
seakan-akan ia belum pernah disebutkan / diperkenalkan sebelumnya.
Bruce
Metzger: “The
connection between ver. 8 and verses 9-20 is so awkward that it is difficult to
believe that the evangelist intended the section to be a continuation of the
Gospel. Thus, the subject of ver. 8 is the women, whereas Jesus is the presumed
subject in ver. 9; in ver. 9 Mary Magdalene is identified even though she has
been mentioned only a few lines before (15:47 and 16:1); the other women of
verses 1-8 are now forgotten; the use of a)nasta\$ de/ and the position of
prw=ton are appropriate at
the beginning of a comprehensive narrative, but they are ill-suited in a
continuation of verses 1-8. In short, all these
features indicate that the section was added by someone who knew a form of Mark
that ended abruptly with ver. 8 and who wished to supply a more appropriate
conclusion. In view of the inconcinnities between verses 1-8 and 9-20, it is
unlikely that the long ending was composed ad hoc to fill up an obvious gap; it
is more likely that the section was excerpted from another document, dating
perhaps from the first half of the second century”
[= Hubungan antara ay 8 dan ay 9-20 begitu aneh / kaku / buruk sekali sehingga
sukar untuk mempercayai bahwa sang penginjil memaksudkan bagian ini sebagai
suatu sambungan / lanjutan dari Injil ini. Lalu, subyek dari ay 8 adalah
‘perempuan-perempuan’, sedangkan Yesus adalah yang dianggap subyek dalam ay
9; dalam ay 9 Maria Magdalena diperkenalkan sekalipun ia telah disebutkan hanya
beberapa baris sebelumnya (15:47 dan 16:1); perempuan-perempuan yang lain
dari ay 1-8 sekarang dilupakan; penggunaan dari a)nasta\$ de/ (ANASTAS DE = and rose / dan bangkit) dan
posisi dari prw=ton
(PROTON = first / pertama-tama /
‘mula-mula’) cocok untuk permulaan dari suatu cerita yang luas / meliputi
banyak hal, tetapi mereka tidak cocok dalam suatu sambungan / lanjutan dari ay 1-8. Singkatnya, semua ciri ini
menunjukkan bahwa bagian ini ditambahkan oleh seseorang yang mengetahui /
mengenal suatu bentuk dari Markus yang berhenti secara mendadak dengan ay 8 dan
yang ingin menyuplai suatu akhir / penutup yang lebih sesuai. Mengingat
hal-hal yang tidak harmonis antara ay 1-8 dan 9-20, kecil kemungkinannya bahwa
‘akhiran yang panjang’ ini disusun khusus dengan maksud untuk mengisi suatu
celah yang nyata / jelas; adalah lebih memungkinkan bahwa bagian ini dikutip /
dipetik dari dokumen yang lain, yang mungkin berasal dari pertengahan pertama
dari abad kedua (antara tahun 100-150 M.)]
- ‘A Textual Commentary on the Greek New Testament’.
Catatan:
tentang kata ANASTAS DE
memang kelihatan kalau tidak cocok kalau diletakkan di permulaan cerita, tetapi
tentang kata PROTON saya tidak mengerti mengapa dianggap tidak cocok.
6.
Isi dari Mark 16:9-20 tak cocok dengan Mark 16:1-8a.
William
Hendriksen: “Mark
leads us to expect great things, a marvelous reunion in Galilee, but then all of
a sudden his message breaks off. ... What we, along with many other interpreters
of various theological positions, are saying is that we probably do not have all
that Mark wrote” (= Markus membimbing kita untuk mengharapkan
hal-hal yang besar, suatu reuni di Galilea, tetapi lalu secara mendadak
beritanya terputus / terpotong. ... Apa yang kami, bersama-sama dengan banyak
penafsir lain dari bermacam-macam posisi theologia, katakan adalah bahwa mungkin
kita tidak mempunyai semua yang Markus tuliskan)
- hal 682.
Bible
Knowledge Commentary: “Mark
would have been expected to include a Resurrection appearance to the disciples
in Galilee (14:28; 16:7), but the appearances in verses 9-20 are in or near
Jerusalem” [= Markus diharapkan untuk memuat
suatu pemunculan / penampakan Kebangkitan kepada murid-murid di Galilea (14:28;
16:7), tetapi pemunculan-pemunculan / penampakan-penampakan dalam ay 9-20 adalah
di atau dekat Yerusalem].
Tetapi
Pulpit Commentary, yang saya berikan kutipannya di bawah ini, menganggap bahwa
Mark 16:9-20 bukan terjadi di Yerusalem. Kalau Mark 16:15-16 dianggap paralel
dengan Mat 28:19-20, maka kata-kata itu diucapkan oleh Yesus di Galilea.
Pulpit
Commentary: “St.
Mark had already recorded the words of Christ (Mark 14:28), ‘But after that I
am risen, I will go before you into Galilee.’ How natural, therefore, that he
should refer in some way to our Lord’s presence in Galilee after his
resurrection; which he does in the most effective manner by quoting the words
which St. Matthew (Matt 27:16, etc.) tells us were spoken by him in Galilee” [= Santo Markus telah mencatat
kata-kata Kristus (Mark 14:28), ‘Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan
mendahului kamu ke Galilea.’ Karena itu, alangkah wajarnya kalau ia menunjuk
dengan cara tertentu pada kehadiran Tuhan kita di Galilea setelah
kebangkitanNya; yang ia lakukan dengan cara yang paling efektif dengan mengutip
kata-kata yang Santo Matius (Mat 27:16 dst) beritahukan kepada kita dikatakan
olehNya di Galilea] - ‘Introduction’,
hal ix.
Catatan:
Mat 27:16 itu pasti salah cetak; seharusnya adalah Mat 28:16, yang
memang menceritakan pertemuan Yesus dan murid-murid di Galilea.
Yang
menjadi pertanyaan adalah: apakah memang Mat 28:19-20 dan Mark 16:15-16
itu paralel?
Mat 28:19-20
- “(19)
Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, (20) dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman.’”.
Mark 16:15-16
- “(15)
Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil
kepada segala makhluk. (16) Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan,
tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum”.
Mark 16:15
memang sejalan dengan Mat 28:19, tetapi Mark 16:16 sangat berbeda dengan Mat 28:20.
Memang tetap memungkinkan kedua text ini paralel, tetapi belum tentu.
William
Hendriksen: “In
Mark 16:1-8 the ‘young man dressed in a white robe’ tells the women to
remind ‘the disciples and Peter’ that Jesus, risen from the dead, will meet
them in Galilee. One expects, therefore, that if any appearance of the Lord are
going to be recorded, they will be those that took place in Galilee. What
actually happens is the very opposite: verses 9-20 never even mention where the
appearances there summarized occurred, whether in Judea or in Galilee. From the
Gospel according to John (20:1,2,11-18) we learn that the appearance to Mary
Magdalene (Mark 16:9-11), mentioned first of all, took place in the Jerusalem
region; from Luke (24:13-35), that the appearance to the two men who were
walking into the country (Mark 16:12,13) also occurred in that general vicinity.
Next, Luke (24:36 f.) describes an appearance of Jesus to the eleven, etc. to
which Mark seems to refer in verse 14. That, too, had nothing to do with
Galilee. The only possible connection with Galilee is found in 16:15-20; for
Mark’s verses 15,16 resemble Matt. 28:19, which records words spoken by the
resurrected Lord in Galilee (Matt. 28:16). But even
here whoever it was that wrote Mark 16:15f.
never mentions Galilee at all”
[= Dalam Mark 16:1-8 ‘seorang muda yang memakai jubah putih’ menyuruh
perempuan-perempuan itu untuk mengingatkan ‘murid-murid dan Petrus’ bahwa
Yesus, yang telah bangkit dari antara orang mati, akan menemui mereka di
Galilea. Karena itu, orang mengharapkan bahwa jika ada pemunculan apapun dari
Tuhan akan dicatat, itu akan merupakan pemunculan yang terjadi di Galilea. Apa
yang betul-betul terjadi adalah persis sebaliknya: ay 9-20 bahkan tidak pernah
menyebutkan dimana ringkasan pemunculan-pemunculan itu terjadi, apakah di Yudea
atau di Galilea. Dari Injil Yohanes (20:1,2,11-18) kita mempelajari bahwa
pemunculan kepada Maria Magdalena (Mark 16:9-11), disebutkan pertama dari semua,
terjadi di daerah Yerusalem; dari Lukas (24:13-35), bahwa pemunculan kepada dua
orang yang sedang berjalan ke sebuah desa / kampung (Mark 16:12,13) juga
terjadi di daerah sekitar itu. Selanjutnya, Lukas (24:36-dst) menggambarkan
pemunculan Yesus kepada sebelas murid, dsb, yang kelihatannya ditunjukkan oleh
Markus dalam ay 14. Itu, juga, tidak ada hubungannya dengan Galilea. Satu-satunya
hubungan yang memungkinkan dengan Galilea ditemukan dalam 16:15-20; karena ay
15,16 dari Markus menyerupai Mat 28:19, yang mencatat kata-kata yang diucapkan
oleh Tuhan yang sudah dibangkitkan di Galilea (Mat 28:16). Tetapi bahkan
di sini siapapun yang menulis Mark 16:15-dst
tidak pernah menyebutkan Galilea sama sekali]
- hal 685-686.
7. Banyak bapa-bapa gereja, yang tidak
tahu tentang ay 9-20 ini, atau yang menolak ay 9-20 ini.
Clement
dari Alexandria dan Origen tidak tahu tentang adanya Mark 16:9-20, dan
Eusebius dan Jerome (abad ke 4) menolak Mark 16:9-20 ini.
Catatan:
Encyclopedia Britannica 2010 mengatakan bahwa:
·
Clement dari
Alexandria lahir pada tahun 150 M. dan mati sekitar tahun 211-215 M.
·
Origen lahir tahun 185
M. dan mati tahun 254 M.
Jamieson,
Fausset & Brown: “Again,
because Eusebius and Jerome - most competent witnesses
and judges, of the fourth century - pronounce against them, affirming that the
genuine text of this Gospel ended with Mark 16:8” (= Juga, karena Eusebius dan Jerome - saksi-saksi dan hakim-hakim
yang paling cakap / mampu / memenuhi syarat, dari abad keempat - memberikan
ucapan yang menentang mereka / ayat-ayat itu, menegaskan bahwa text asli dari
Injil ini berhenti dengan Mark 16:8).
Bible
Knowledge Commentary: “However,
Eusebius (Questions to Marinus 1, ca. A.D.
325) and Jerome (Epistle 120. 3; ad Hedibiam, ca. A.D. 407) said verses 9-20
were missing from Greek manuscripts known to them”
[= Tetapi Eusebius (Questions to Marinus 1, ca. A.D. 325) dan Jerome (Epistle 120. 3; ad Hedibiam, ca. A.D.
407) berkata ay 9-20 tidak ada dalam manuscript Yunani yang mereka ketahui /
kenal].
Bruce
Metzger: “Clement
of Alexandria and Origen show no knowledge of the existence of these verses;
furthermore Eusebius and Jerome attest that the passage was absent from almost
all Greek copies of Mark known to them”
(= Clement dari Alexandria dan
Origen menunjukkan bahwa mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang keberadaan
dari ayat-ayat ini; selanjutnya Eusebius dan Jerome menegaskan bahwa text itu
absen dari hampir semua copy / manuscript Yunani tentang Markus yang mereka
kenal / ketahui) - ‘A
Textual Commentary on the Greek New Testament’.
Donald
Guthrie: “Eusebius of Caesarea cites an
apologist who appealed to ‘inaccurate copies’ of Mark as evidence against
the genuineness of 16:9-20.” (= Eusebius dari Kaisarea mengutip seorang ahli
apologetik yang menuntut ‘copy-copy / manuscript-manuscript yang tidak
akurat’ dari Markus sebagai bukti yang menentang keaslian dari 16:9-20)
- ‘New Testament Introduction’, hal 76.
J.
Harold Greenlee: “The
Alexandrian Codices Sinaiticus and Vativanus (Aleph and B) both omit Mark
16:9-20, as does the second Century Church Father Cyril of Alexandria and a
few of other witnesses. ... Two third-century Church Fathers who quote
Scripture very extensively make no reference to these closing verses in their
writings”
[= Codex Sinaiticus dan Vaticanus (Aleph dan B) keduanya menghapuskan Mark
16:9-20, seperti yang dilakukan oleh Bapa Gereja abad kedua Cyril dari
Alexandria dan beberapa saksi-saksi yang lain. ... Dua Bapa Gereja abad
ketiga yang mengutip Kitab Suci secara sangat banyak tidak membuat referensi
pada ayat-ayat penutup ini dalam tulisan-tulisan mereka]
- ‘Scribes, Scrolls, & Scripture’,
hal 90.
Catatan:
Encyclopedia Britannica 2010 mengatakan Cyril dari Alexandria hidup pada tahun
375-444 M. Jadi, ia adalah bapa gereja abad ke 4-5, bukan abad kedua, seperti
yang dikatakan Greenlee di atas. Mungkin Greenlee memaksudkan Clement of
Alexandria, yang memang merupakan bapa gereja abad 2, dan memang dari
tulisan-tulisan bapa gereja ini terlihat bahwa ia tidak tahu tentang Mark
16:9-20. Lihat kutipan Bruce Metzger di atas.
Tentang
bagaimana bapa-bapa gereja mengutip Kitab Suci perhatikan kata-kata J. Harold
Greenlee di bawah ini.
J.
Harold Greenlee: “The
final major source of our knowledge of the text of the New Testament is the
quotation of the New Testament found in the writings of the ancient Christian
writers commonly called the Church Fathers. The writings are known as
‘patristic’ (from ‘pater’, Latin for ‘father’). Most of the Church
Fathers wrote in Greek or Latin, but some wrote in Syriac and a few other
languages. The New Testament quotations in these patristic writings are
remarkable extensive. Indeed, it has been said that the whole New Testament
could be reconstructed from the patristic quotations alone” [= Sumber besar terakhir dari
pengetahuan kita tentang text dari Perjanjian Baru adalah kutipan dari
Perjanjian Baru yang ditemukan dalam tulisan-tulisan dari penulis-penulis
Kristen kuno yang disebut bapa-bapa Gereja. Tulisan-tulisan itu dikenal sebagai
‘patristic’ (dari ‘pater’, kata bahasa Latin untuk ‘bapa’).
Kebanyakan dari Bapa-bapa Gereja menulis dalam bahasa Yunani atau Latin, tetapi
beberapa / sebagian menulis dalam bahasa Syria dan beberapa bahasa lainnya. Kutipan-kutipan
Perjanjian Baru dalam tulisan bapa-bapa gereja ini sangat banyak. Bahkan, telah
dikatakan bahwa seluruh Perjanjian Baru bisa direkonstruksi dari kutipan-kutipan
dari tulisan-tulisan bapa-bapa gereja ini saja]
- ‘Scribes, Scrolls, & Scripture’,
hal 33.
Karena
itu, kalau ternyata dua bapa gereja yang memang terkenal sangat banyak mengutip
Kitab Suci ini ternyata tidak pernah mengutip dari Mark 16:9-20, ini bisa
dijadikan argumentasi yang menunjukkan bahwa, atau mereka tidak mempunyai text
itu dalam manuscript mereka, atau mereka tidak menganggapnya sebagai asli.
8.
Matius dan Lukas paralel dengan Markus hanya sampai Mark 16:8a.
Bible
Knowledge Commentary: “Matthew
and Luke parallel Mark until verse 8 and then diverge noticeably, suggesting
that Mark began its literary existence without verses 9-20” (= Matius dan Lukas paralel dengan
Markus sampai ay 8 dan lalu menyimpang secara jelas, menunjukkan bahwa Markus
memulai keberadaan literaturnya tanpa ay 9-20).
9.
Motivasi untuk menambahkan Mark 16:9-20 lebih kuat dari motivasi
untuk membuang Mark 16:9-20.
Bible
Knowledge Commentary: “If
Mark ended abruptly at verse 8, then it is easy to see why some early copyist(s)
wanted to provide a ‘suitable’ ending for the Gospel from other
authoritative sources. However, if verses 9-20 were part of the original, it is
difficult to see why the early copyists would have omitted it”
(= Jika Markus berhenti dengan mendadak pada ay 8, maka adalah mudah untuk
mengerti mengapa beberapa penyalin awal ingin menyediakan suatu akhiran yang
‘sesuai’ untuk Injil ini dari sumber-sumber berotoritas yang lain. Tetapi,
jika ay 9-20 merupakan bagian dari text asli, adalah sukar untuk mengerti
mengapa penyalin-penyalin awal menghapuskannya).
Dalam
point ini saya sangat setuju dengan Bible Knowledge Commentary. Jika manuscript
awal mempunyai ay 9-20, maka penghapusannya, apalagi penggantiannya dengan
ay 8b, merupakan sesuatu yang sangat aneh / tak masuk akal. Kalau akhiran yang
asli sebetulnya ada tetapi lalu sobek / hilang, maka munculnya ay 8b
(akhiran yang lebih pendek) atau ay 9-20 (akhiran yang lebih panjang) bisa
dijelaskan dengan menganggap bahwa hilangnya akhiran yang asli maupun penambahan
dengan ay 8b atau ay 9-20, sudah dilakukan pada manuscript yang sangat awal.
Alan
Cole (Tyndale): “it
seems reasonable to see this as an early attempt, known at least as early as
Irenaeus, to ‘round off’ a Gospel whose original ending had become in some
way maimed or lost; that several such attempts were made is obvious from the
different versions circulating” (= kelihatannya masuk akal untuk
melihat hal ini sebagai suatu usaha mula-mula / awal, diketahui setidaknya
seawal Ireneaus, untuk ‘membulatkan / mengakhiri’ suatu Injil yang akhiran
aslinya karena suatu hal telah menjadi buntung atau hilang; bahwa beberapa dari
usaha-usaha seperti itu dibuat adalah jelas dari versi-versi yang berbeda yang
beredar) - hal 258.
10. Adanya manuscript-manuscript yang
diakhiri oleh Mark 16:8b menunjukkan bahwa Mark 16:9-20 tidak orisinil.
Bruce
Metzger: “Finally
it should be observed that the external evidence for the shorter ending (2)
resolves itself into additional testimony supporting the omission of verses
9-20. No one who had available as the conclusion of the Second Gospel the twelve
verses 9-20, so rich in interesting material, would have deliberately replaced
them with a few lines of a colorless and generalized summary. Therefore, the
documentary evidence supporting (2) should be added to that supporting (1)”
[= Akhirnya harus diperhatikan bahwa bukti luar / external untuk ‘akhiran yang
lebih pendek’ (2) memutuskan / menentukan dirinya sendiri ke dalam kesaksian
tambahan yang mendukung penghapusan dari ay 9-20. Tak seorangpun yang mempunyai
sebagai penutup dari Injil yang kedua ini 12 ayat 9-20, yang begitu kaya dengan
bahan-bahan yang menarik, akan secara sengaja menggantikan ayat-ayat itu dengan
beberapa baris dari suatu ringkasan yang tidak menarik dan bersifat tidak
mendetail. Karena itu, bukti yang bersifat dokumen yang mendukung (2) harus
ditambahkan pada bukti yang mendukung (1)]
- ‘A Textual Commentary on the Greek New Testament’.
11.
Ada satu manuscript Armenian dari abad ke 10 yang menganggap bahwa Mark
16:9-20 berasal dari ‘penatua Ariston’, yang mungkin menunjuk kepada
Aristion, seseorang yang sebaya dengan Papias (60-130 M.) yang adalah seorang
murid dari rasul Yohanes.
Bible
Knowledge Commentary: “An
Armenian manuscript of the 10th century attributed verses 9-20 to ‘the
presbyter Ariston,’ probably Aristion, a contemporary of Papias (A.D. 60-130)
who was purportedly a disciple of the Apostle John”
[= Suatu manuscript Armenian dari abad ke 10 menganggap ay 9-20 berasal dari
‘penatua Ariston’, mungkin Aristion, seorang yang sejaman dengan Papias
(60-130 M.) yang diakui sebagai seorang murid dari Rasul Yohanes].
A.
T. Robertson:
“One
Armenian MS. (at Edschmiadzin) gives the long ending and attributes it to
Ariston (possibly the Aristion of Papias)” [= Satu
manuscript Armenian (at
Edschmiadzin) memberikan akhiran yang lebih panjang dan menganggapnya berasal
dari Ariston (mungkin Aristion dari Papias)].
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali