Pemahaman Alkitab
(Jl.
Dinoyo 19b, lantai 3)
Jumat,
tanggal 16 April 2010, pk 19.00
Pdt. Budi Asali, M. Div.
(7064-1331
/ 6050-1331)
http://www.golgothaministry.org
Markus 16:1-20(2)
Mark
16:1-8a - “(1)
Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome
membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. (2) Dan
pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit,
pergilah mereka ke kubur. (3) Mereka berkata seorang kepada yang lain:
‘Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?’ (4)
Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat
besar itu sudah terguling. (5) Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka
melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan.
Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi orang muda itu berkata kepada mereka:
‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia
telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan
Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-muridNya dan kepada
Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti
yang sudah dikatakanNya kepada kamu.’ (8a) Lalu mereka keluar dan lari
meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak
mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut”.
Ay 2: “Dan
pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah
mereka ke kubur.”.
1)
Kontradiksi dalam persoalan saat kepergian mereka ke kubur.
Mat
28:1 - “Setelah
hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu
itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu”.
Mark
16:2 - “Dan
pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit,
pergilah mereka ke kubur”.
Luk
24:1 - “tetapi
pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur
membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka”.
Yoh
20:1 - “Pada
hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap,
pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil
dari kubur”.
Untuk
Lukas tidak ada problem, karena waktunya tidak jelas. Tetapi Markus kelihatannya
bertentangan dengan Matius dan Yohanes. Lalu bagaimana mengharmoniskannya?
William
Hendriksen: “As
to the time when these women came: Mark says ‘when the sun was risen,’ Matt.
28:1 ‘at dawn,’ Luke ‘at early dawn,’ and John ‘while it was still
dark.’ Probable solution: although it was still dark when the women started
out, the sun had risen when they arrived at the tomb”
(= Berkenaan dengan saat dimana para perempuan ini datang: Markus mengatakan
‘setelah matahari terbit’, Mat 28:1 ‘menjelang menyingsingnya
fajar’, Lukas ‘pada pagi-pagi benar’, dan Yohanes ‘ketika hari masih
gelap’. Penyelesaian yang memungkinkan: sekalipun para perempuan itu berangkat
ketika masih gelap, tetapi matahari sudah terbit ketika mereka tiba di kubur)
- hal 678.
Perlu
diketahui bahwa kata Yunani yang diterjemahkan ‘pergi’ dalam keempat ayat di
atas semuanya berasal dari kata Yunani ERKHOMAI, yang bisa berarti ‘datang’
ataupun ‘pergi’. Jadi, bisa saja Markus menggunakan kata itu dalam arti
‘datang’ sedangkan Matius dan Yohanes menggunakan kata itu dalam arti
‘pergi / berangkat’.
2) Merupakan sesuatu yang indah bahwa mereka melakukan hal
untuk Yesus yang mereka kasihi, pagi-pagi benar. Mereka ingin cepat-cepat, tak
ingin menunda, dan sebagainya. Ini merupakan sesuatu yang penting dalam
pelayanan, saat teduh, dan sebagainya. Penundaan sering menjadi / menyebabkan
pembatalan.
3) Lenski mengatakan (hal 738) bahwa mereka pergi pagi-pagi
sekali, karena takut bahwa tubuh Yesus membusuk, dan kalau itu terjadi, maka apa
yang mereka akan lakukan menjadi tidak ada gunanya.
Penerapan:
ada hal-hal yang tak bisa ditunda, dan kalau ditunda, bisa-bisa menjadi tidak
berguna. Misalnya memberitakan Injil kepada orang-orang disekitar kita. Kalau
kita tunda, dan mereka mati, maka kita tidak mungkin memberitakan Injil untuk
selama-lamanya kepada mereka.
Ay 3-4: “(3)
Mereka berkata seorang kepada yang lain: ‘Siapa yang akan menggulingkan batu
itu bagi kita dari pintu kubur?’ (4) Tetapi ketika mereka melihat dari dekat,
tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.”.
1)
Hanya Markus yang mencatat kebingungan mereka tentang batu kubur itu.
William
Barclay: “They were worried about one thing.
Tombs had no doors. When the word ‘door’ is mentioned it really means
‘opening’. In front of the opening was a groove, and in the groove ran a
circular stone as big as a cart-wheel; and the women knew that it was quite
beyond their strength to move a stone like that”
(= Mereka kuatir tentang satu hal. Kubur pada jaman itu tidak mempunyai pintu.
Pada saat kata ‘pintu’ disebutkan itu sebetulnya berarti ‘pembukaan /
lubang’. Di depan lubang yang terbuka itu ada sebuah alur / lekuk / semacam
got, dan dalam alur / lekuk itu bergulir sebuah batu bundar sebesar roda kereta;
dan para perempuan itu tahu bahwa merupakan sesuatu yang di luar kekuatan mereka
untuk menggerakkan batu seperti itu) - hal 368.
2) Kekuatiran perempuan-perempuan itu tentang batu penutup
pintu kubur.
Ay 3
menunjukkan kekuatiran itu, tetapi ay 4 menunjukkan bahwa pada waktu mereka
sampai ke kubur itu, ternyata apa yang tadi mereka kuatirkan, sudah ‘beres’.
Kita sering menguatirkan sesuatu yang ada di masa yang akan datang, padahal pada
waktu saat itu tiba ternyata apa yang kita kuatirkan hilang / dibereskan oleh
Tuhan.
Pulpit
Commentary: “Very
similar is much of Christian experience. We perplex ourselves, it may be, with
speculative difficulties. ... To our finite and untrained, inexperienced
intelligence it must be so. Our penetration is too dull, our wisdom is too
short-sighted; our powers, knowledge, and opportunities are all unequal to the
task. But all is clear to that Being who is infinitely wise; and when we lift up
our eyes we shall in due time see the resolution of our doubts. We perplex
ourselves, it may be, with practical difficulties. How shall we do our work -
that work being so vast, and we so helpless? How shall we train our family,
conduct our business, discharge our responsibilities? ... But, looking unto him,
we shall be lightened. He shall bring our way to pass. We perplex ourselves, it
may be, with difficulties as to the Church and kingdom of Christ. How shall the
Lord’s people be awakened to zeal, or reconciled in unity, or qualified for
the work assigned them in a dark and sinful world? Our mind is baffled by the
problem, which we have no means of solving. Let us go on our way. When we
come to our difficulty, we may perhaps find that it is gone” (= Banyak pengalaman Kristen yang
sangat mirip dengan hal ini. Kita bingung sendiri, mungkin karena
kesukaran-kesukaran yang bersifat spekulatif. ... Bagi otak / pikiran kita yang
terbatas, tak terlatih, dan tak berpengalaman, itu harus demikian. Pengertian
kita terlalu tumpul, hikmat kita terlalu pendek penglihatannya; kekuatan,
pengetahuan, dan kesempatan kita semuanya tidak setara dengan tugas kita. Tetapi
semua itu jelas bagi Makhluk yang bijaksana secara tak terbatas; dan pada waktu
kita mengangkat mata kita maka pada saatnya kita akan melihat penyelesaian dari
keragu-raguan kita. Kita bingung sendiri, mungkin dengan kesukaran-kesukaran
praktis. Bagaimana kita akan mengerjakan pekerjaan kita - pekerjaan itu begitu
luas, dan kita begitu tidak berdaya? Bagaimana kita mendidik keluarga kita,
memimpin bisnis kita, menunaikan tanggung jawab kita? ... Tetapi, jika kita
memandang kepada Dia, kita akan diterangi. Ia akan memberikan jalan kepada kita.
Kita bingung sendiri, mungkin dengan kesukaran-kesukaran yang berkenaan dengan
Gereja dan kerajaan Kristus. Bagaimana umat Tuhan akan dibangkitkan sehingga
menjadi bersemangat, atau diperdamaikan dalam kesatuan, atau dijadikan orang
yang memenuhi syarat untuk pekerjaan yang ditugaskan kepada mereka dalam dunia
yang gelap dan berdosa? Pikiran kita dibingungkan oleh banyak problem, yang
tidak ada jalan penyelesaiannya. Marilah kita melanjutkan jalan kita. Pada
waktu kita sampai pada kesukaran kita, mungkin kita menjumpai bahwa kesukaran
itu sudah hilang) -
hal 349-350.
Pulpit
Commentary: “The
stone rolled away may also be regarded by us as a reminder of expected
difficulties unexpectedly removed. ... Too often we discourage ourselves by
thinking of future difficulties, until they loom so large in our imagination
that we turn back from the path of duty. ... let us go on also to attempt
our appointed work for God; and the difficulties which are insurmountable by us
will be removed by hands mightier than our own”
(= Batu yang digulingkan juga bisa kita anggap sebagai pengingat tentang
kesukaran-kesukaran yang diharapkan tetapi yang disingkirkan secara tak terduga.
... Terlalu sering kita mengecilkan hati kita sendiri dengan memikirkan
kesukaran-kesukaran yang akan datang, sampai semua itu terlihat begitu besar
dalam khayalan kita sehingga kita berbalik dari jalan kewajiban. ... marilah
kita terus mengusahakan tugas yang ditetapkan Allah untuk kita; dan
kesukaran-kesukaran yang tak dapat kita atasi akan disingkirkan oleh tangan yang
lebih kuat dari tangan kita)
- hal 359.
Richard
Glover: “Some do not care to move till they
see their way free from all difficulties. Such generally see more difficulties
than really exist (a slothful man saith, ‘There is a lion in the street’),
and pass their lives in waiting for the difficulties to disappear. But the
true-hearted do not assume the insuperableness of any difficulties; they have
faith in a large margin of our life being filled with providential help, and
bravely go forth to confront what seems the impossible”
[= Beberapa orang tidak mau bergerak sampai mereka melihat jalan mereka bebas
dari semua kesukaran. Orang-orang seperti itu biasanya melihat lebih banyak
kesukaran dari yang betul-betul ada (si pemalas berkata: ‘Ada singa di
jalan’), dan melewatkan hidup mereka dengan menunggu sampai
kesukaran-kesukaran itu hilang. Tetapi orang yang berhati benar tidak menganggap
bahwa ada kesukaran apapun yang tidak bisa diatasi; mereka mempunyai iman pada
tempat kosong dalam kehidupan kita yang diisi dengan pertolongan yang bersifat
Providensia, dan dengan berani maju untuk menghadapi apa yang kelihatannya
mustahil] -
- ‘A Teacher’s Commentary on
the Gospel of St. Mark’, hal 312.
Amsal
22:13 - “Si
pemalas berkata: ‘Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.’”.
Amsal
26:13 - “Berkatalah
si pemalas: ‘Ada singa di jalan! Ada singa di lorong!’”.
Bdk.
Pkh 11:4-6 - “(4)
Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa
melihat awan tidak akan menuai. (5) Sebagaimana engkau tidak mengetahui
jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung,
demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala
sesuatu. (6) Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi
istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui
apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik”.
Richard
Glover: “A French proverb says, ‘The worst
ill are those that never happen;’ that threaten and frighten men without ever
really taking place” (= Sebuah pepatah Perancis berkata: ‘Keburukan
yang terburuk adalah yang tidak pernah terjadi’; yang mengancam dan menakutkan
orang-orang tanpa pernah betul-betul terjadi)
- ‘A
Teacher’s Commentary on the Gospel of St. Mark’, hal 312.
Matthew
Henry: “Note, They who are carried by a holy
zeal, to seek Christ diligently, will find the difficulties that lie in their
way strangely to vanish, and themselves helped over them beyond their
expectation” (= Perhatikan, Mereka yang didorong
oleh suatu semangat yang kudus, untuk mencari Kristus dengan rajin, akan
mendapati kesukaran-kesukaran yang terletak di jalan mereka menghilang secara
aneh, dan mereka sendiri ditolong untuk mengatasi kesukaran-kesukaran itu dengan
cara yang melampaui pengharapan mereka).
Catatan:
Saya sama sekali tidak setuju
kalau kata-kata Matthew Henry di atas ini dimutlakkan! Justru yang sering
terjadi adalah bahwa orang-orang yang betul-betul mencintai Kristus dan punya
semangat bagi Kristus, tahu-tahu mengalami halangan / penderitaan dsb, yang sama
sekali tidak pernah diharapkan / diduga. Jadi, memang bisa terjadi seperti dalam
cerita ini (ay 3-4), tetapi tidak selalu harus demikian, dan kadang-kadang
bahkan sebaliknya.
Karena
itu, cerita ini tidak boleh menyebabkan kita tidak memikirkan tentang halangan
apa yang mungkin akan terjadi di depan kita, ataupun tidak merencanakan
bagaimana kita bisa menyingkirkan / mengatasi halangan-halangan itu, kecuali
memang tidak ada apapun yang bisa kita lakukan berkenaan dengan
halangan-halangan tersebut. Yang benar adalah: kita tidak boleh meremehkan
kesukaran-kesukaran yang mungkin terjadi, dan kita juga harus memikirkan /
merencanakan bagaimana mengatasinya, sambil berdoa dan bersandar kepada Tuhan,
dan tanpa kekuatiran apapun, karena adanya iman kepada Tuhan.
3) Mengapa para perempuan itu tidak menguatirkan tentang
tentara-tentara Romawi yang menjaga kubur? Matthew Henry mengatakan bahwa
sebetulnya ada dua hal yang seharusnya menjadi halangan bagi para perempuan itu,
yaitu batu penutup pintu kubur, dan para penjaga kubur. Tetapi ternyata pada
saat mereka sampai di kubur itu, kedua halangan itu sudah hilang. Tetapi Lenski
berpendapat (hal 739-740) bahwa perempuan-perempuan itu tidak menguatirkan para
penjaga karena mereka tidak tahu kalau ada penjaga-penjaga yang menjaga kubur
itu. Kata-kata Lenski ini memang sangat beralasan kalau kita melihat cerita
dalam Mat 27:62-66 - “(62)
Keesokan harinya, yaitu sesudah hari persiapan, datanglah imam-imam
kepala dan orang-orang Farisi bersama-sama menghadap Pilatus, (63) dan mereka
berkata: ‘Tuan, kami ingat, bahwa si penyesat itu sewaktu hidupNya berkata:
Sesudah tiga hari Aku akan bangkit. (64) Karena itu perintahkanlah untuk menjaga
kubur itu sampai hari yang ketiga; jikalau tidak, murid-muridNya mungkin datang
untuk mencuri Dia, lalu mengatakan kepada rakyat: Ia telah bangkit dari antara
orang mati, sehingga penyesatan yang terakhir akan lebih buruk akibatnya dari
pada yang pertama.’ (65) Kata Pilatus kepada mereka: ‘Ini penjaga-penjaga
bagimu, pergi dan jagalah kubur itu sebaik-baiknya.’ (66) Maka pergilah mereka
dan dengan bantuan penjaga-penjaga itu mereka memeterai kubur itu dan
menjaganya”.
Richard
Glover: “It had not occurred to them that the
scrupulous men who could put Christ to death, but could not permit His body to
hang on the cross on a Sabbath, would themselves break the Sabbath by going to
Pilate and getting a guard to keep the dead Christ from rising”
(= Tidak terpikirkan oleh mereka bahwa orang-orang yang teliti / njlimet yang
bisa membunuh Kristus, tetapi tidak bisa mengijinkan mayatNya tergantung di kayu
salib pada hari Sabat, ternyata bisa melanggar Sabat dengan pergi kepada Pilatus
dan mendapatkan seorang penjaga untuk menjaga Kristus yang mati dari
kebangkitan) - ‘A
Teacher’s Commentary on the Gospel of St. Mark’, hal 312.
Bdk.
Yoh 19:31 - “Karena
hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak
tinggal tergantung pada kayu salib - sebab Sabat itu adalah hari yang besar
- maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya
kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan”.
Catatan:
Sabat itu dikatakan sebagai Sabat yang besar, karena bertepatan dengan Paskah
(Paskah Perjanjian Lama).
Sebetulnya
mayat tak boleh dibiarkan tergantung di kayu salib didasarkan pada Ul 21:22-23 -
“(22)
‘Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia
dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, (23) maka janganlah
mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau
menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh
Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu
menjadi milik pusakamu.’”.
Tetapi
karena saat itu sudah menjelang Sabat, dan Sabatnya bertepatan dengan Paskah,
maka mereka lebih-lebih takut untuk membiarkan mayat-mayat itu di kayu salib.
Betul-betul merupakan suatu kegilaan kalau mereka sangat mempersoalkan soal
mayat yang ada di kayu salib pada hari Sabat, tetapi mereka sendiri boleh
membunuh Yesus, dan pergi kepada Pontius Pilatus, dan meminta tentara menjaga
kubur. Bukankah ini termasuk mempekerjakan orang pada hari Sabat dan jelas-jelas
bertentangan dengan larangan hari Sabat?
Kel
20:8-11 - “(8)
Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: (9) enam hari lamanya engkau akan bekerja
dan melakukan segala pekerjaanmu, (10) tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat
TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu
laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu
perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. (11)
Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala
isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari
Sabat dan menguduskannya”.
Bagaimana
juga, pelanggaran terhadap Ul 21:22-23 tidak mungkin lebih besar dari pada
pelanggaran terhadap hukum ‘jangan membunuh’ (Kel 20:13), dan pelanggaran
terhadap larangan bekerja / mempekerjakan orang pada hari Sabat (Kel 20:10).
Karena itu tepatlah kata-kata Yesus tentang mereka dalam ayat-ayat di bawah ini.
Mat
23:23-24 - “(23)
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu
orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu
bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan
dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan
diabaikan. (24) Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam
minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”.
4)
Siapa yang menggulingkan / menyingkirkan batu penutup kubur itu, dan
untuk apa?
Ini
tidak diceritakan oleh Markus, tetapi diceritakan oleh Matius.
Mat
28:2 - “Maka
terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit
dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya”.
William
Hendriksen: “Why
did the angel have to remove the stone? Not to enable Jesus to make his way out
- for see John 20:19,26 - but to enable these women, and also Peter and John, to
enter the tomb”
(= Mengapa malaikat itu harus menyingkirkan batu itu? Bukan untuk memungkinkan
Yesus mendapatkan jalan keluar - karena lihat Yoh 20:19,26 - tetapi untuk
memungkinkan para perempuan ini, dan juga Petrus dan Yohanes, untuk memasuki
kubur) - hal 679.
Yoh
20:19,26 - “(19)
Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid
Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut
kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di
tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ ... (26)
Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas
bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia
berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’”.
Yang
ditekankan text ini adalah bahwa setelah kebangkitanNya Kristus bisa menembus
tembok, dan karena itu tentu saja bisa menembus batu penutup kubur. Jadi jelas
malaikat membuka / menggulingkan batu penutup kubur itu bukan supaya Yesus bisa
keluar. Tanpa dibukapun Yesus bisa menembusnya. Malaikat itu melakukannya untuk
para perempuan itu.
5) Pulpit Commentary (hal 346) mengatakan bahwa pada titik
ini (ay 4), Maria Magdalena lari untuk memberitahu Petrus dan Yohanes (Yoh
20:2).
Yoh
20:2 - “Ia
berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus,
dan berkata kepada mereka: ‘Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami
tidak tahu di mana Ia diletakkan.’”.
Tetapi
setelah itu ia kembali ke kubur, dan menjadi orang pertama yang bertemu dengan
Yesus yang telah bangkit. Ini diceritakan dalam Yoh 20:11-18.
Ay 5-7: “(5)
Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai
jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi orang
muda itu berkata kepada mereka: ‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang
Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat!
Inilah tempat mereka membaringkan Dia. (7) Tetapi sekarang pergilah, katakanlah
kepada murid-muridNya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana
kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakanNya kepada kamu.’”.
1) “Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda
yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan”.
Ada
berapa malaikat? Markus mengatakan satu (‘seorang’). Matius juga demikian.
Mat
28:2 - “Maka
terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari
langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya”.
Tetapi
Lukas dan Yohanes mengatakan dua malaikat.
Luk
24:4 - “Sementara
mereka berdiri termangu-mangu karena hal itu, tiba-tiba ada dua orang
berdiri dekat mereka memakai pakaian yang berkilau-kilauan”.
Yoh
20:12 - “dan
tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk
di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus
terbaring”.
Hal
seperti ini bukan kontradiksi. Seandainya Matius dan Markus mengatakan ‘hanya
satu malaikat’, maka
itu merupakan kontradiksi. Tetapi mereka mengatakan ‘seorang
malaikat / seorang muda’.
Ini tidak salah. Memang ada satu malaikat. Mereka tidak mengatakan bahwa tidak
ada malaikat yang kedua. Bahwa ada malaikat yang kedua, mereka tidak wajib
untuk menceritakan. Hanya satu dari dua malaikat itu yang menyampaikan pesan
dari Tuhan, dan karena itu Matius dan Markus hanya memfokuskan cerita mereka
pada satu malaikat itu saja.
Juga
kalau Mark 16:5 mengatakan malaikat itu ‘duduk’, dan demikian juga
dengan Yoh 20:12, sedangkan Luk 24:4 mengatakan malaikat-malaikat itu
‘berdiri’, ini bukan kontradiksi. Mungkin mula-mula mereka duduk, lalu
setelah itu mereka berdiri.
2) “(5b)
Merekapun sangat terkejut, (6) tetapi
orang muda itu berkata kepada mereka: ‘Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang
Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat!
Inilah tempat mereka membaringkan Dia.”
(ay 5b-6b).
a) Terkejut
/ heran atau takut?
Ay
5b mengatakan mereka ‘terkejut’,
tetapi dalam ay 6a malaikat itu berkata ‘Jangan takut!’.
Padahal kata Yunani yang digunakan adalah sama, dan bisa diterjemahkan ‘takut’
ataupun ‘heran’
(bukan ‘terkejut’).
Terjemahan-terjemahan dari Kitab Suci bahasa Inggris terbagi dua antara ‘heran
/ takjub’
(RSV/NASB/ASV) dan ‘takut’
(KJV/NIV/NKJV).
Saya
jauh lebih condong pada arti ‘takut’.
Alasan saya:
1. Reaksi nomal seseorang pada saat
melihat malaikat, seharusnya adalah takut, bukan heran.
2. Pada akhir ay 8a, jelas-jelas dikatakan
‘takut’,
dan di sini semua Kitab Suci bahasa Inggris juga menterjemahkan ‘takut’,
karena kata Yunani yang digunakan berbeda dengan yang di atas. Yang ini harus
diartikan ‘takut’.
b) Perempuan-perempuan
itu menjadi takut pada waktu melihat malaikat.
Matthew
Henry: “Thus many times that which should be
matter of comfort to us, through our own mistakes and misapprehensions proves a
terror to us”
(= Demikianlah sering terjadi bahwa hal yang seharusnya merupakan penghiburan
bagi kita, karena kesalahan dan kesalah-pahaman kita sendiri, menjadi sesuatu
yang menakutkan bagi kita).
c) Perbandingan
rasa takut dari para perempuan ini dengan rasa takut dari para tentara Romawi.
Mat
28:2-8 - “(2)
Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari
langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. (3)
Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. (4) Dan
penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.
(5) Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu:
‘Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.
(6) Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah
dikatakanNya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. (7) Dan segeralah pergi dan
katakanlah kepada murid-muridNya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati.
Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku
telah mengatakannya kepadamu.’ (8) Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan
takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat
untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus”.
Calvin: “We
must attend to the distinction between the two kinds of terror, between which Matthew draws a comparison. The soldiers,
who were accustomed to tumults, were terrified, and were so completely
overwhelmed by alarm, that they fell down like men who were almost dead; but no
power was exerted to raise them from that condition. A similar terror seized the
women; but their minds, which had nearly given way, were restored by the
consolation which immediately followed, so as to begin, at least, to entertain
some better hope. And, certainly, it is proper that the majesty of God should
strike both terror and fear indiscriminately into the godly, as well as the
reprobate, that all flesh may be silent before his face. But when the Lord has
humbled and subdued his elect, he immediately mitigates their dread, that they
may not sink under its oppressive influence; and not only so, but by the
sweetness of his grace heals the wound which he had inflicted. The reprobate, on
the other hand, he either overwhelms by sudden dread, or suffers to languish in
slow torments. ... we ought chiefly to attend to this point, that though they,
as well as the women, were afraid, no medicine was applied to soothe their
terror; for to the women only did the angel say, ‘Fear not.’ He held out to them a ground of joy and assurance in
the resurrection of Christ. Luke adds a reproof, ‘Why do you seek the living among the dead?’ as if the angel
pulled their ear, that they might no longer remain in sluggishness and despair”
(= Kita
harus memperhatikan perbedaan antara dua jenis rasa takut, antara mana Matius
menggambarkan suatu perbandingan. Tentara-tentara, yang terbiasa pada keributan
/ huru hara, takut, dan begitu diliputi sepenuhnya oleh rasa takut, sehingga
mereka jatuh seperti orang-orang yang hampir mati; tetapi tidak ada kuasa yang
digunakan untuk membangkitkan / mengangkat mereka dari keadaan itu. Suatu rasa
takut yang mirip mencekam perempuan-perempuan itu, tetapi pikiran mereka, yang
hampir menyerah / ambruk, dipulihkan oleh penghiburan yang segera mengikutinya,
sehingga sedikitnya mulai mempunyai suatu pengharapan yang lebih baik. Dan
pastilah merupakan sesuatu yang tepat bahwa keagungan Allah harus mendatangkan
rasa takut secara tak pandang bulu kepada orang-orang saleh maupun kepada
orang-orang yang ditentukan untuk binasa, supaya semua daging / manusia bisa
diam di hadapan Allah. Tetapi pada waktu Tuhan merendahkan dan menundukkan
orang-orang pilihanNya, ia segera meredakan rasa takut mereka, supaya mereka
tidak tenggelam di bawah pengaruhnya yang menekan; dan bukan hanya demikian,
tetapi oleh kemanisan dari kasih karuniaNya, menyembuhkan luka yang telah Ia
timbulkan. Pada sisi yang lain, orang-orang non pilihan, atau Ia liputi /
banjiri dengan rasa takut yang mendadak, atau biarkan merana dalam siksaan /
kesengsaraan yang lambat. ... kita
terutama harus memperhatikan hal ini, bahwa sekalipun mereka, maupun para
perempuan itu, takut, tidak ada obat yang diberikan untuk menenangkan rasa takut
mereka; karena hanya kepada para perempuan itu malaikat itu berkata, ‘Jangan
takut’. Ia menawarkan kepada mereka suatu dasar dari sukacita dan keyakinan
dalam kebangkitan Kristus. Lukas menambahkan suatu teguran / celaan, ‘Mengapa
kamu mencari Dia yang hidup, di antara orang mati?’ seakan-akan sang malaikat
menarik / menjewer telinga mereka, supaya mereka tidak lebih lama lagi tinggal
dalam sikap lemah / tak bersemangat dan putus asa).
Ada banyak
hal yang sama-sama dialami oleh orang percaya maupun orang yang tidak percaya,
tetapi sebetulnya ada perbedaannya. Misalnya:
1.
Perbedaan ‘nggeblak’nya orang percaya (Yeh 1:28-2:3
Dan 10:2-19 Wah 1:17-18)
dan ‘nggeblak’nya orang yang tidak percaya dalam Alkitab (1Sam 19:23-24
Yoh 18:6).
Orang-orang
percaya yang ‘nggeblak’ dalam Alkitab mendapatkan kata-kata penghiburan
‘jangan takut’ dsb, dan bahkan diberi kekuatan dan ditegakkan. Semua ini
tidak ada dalam kasus orang yang tidak percaya yang ‘nggeblak’ dalam
Alkitab. Kasus Saulus / Paulus agak berbeda (Kis 9:3-19a), karena sekalipun pada
saat itu ia tidak percaya tetapi ia jelas adalah orang pilihan.
Yeh
1:28-2:3 - “(1:28)
Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah
kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan
TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang
berfirman. (2:1) FirmanNya kepadaku: ‘Hai anak manusia, bangunlah dan
berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau.’ (2:2) Sementara Ia
berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke
dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang
berbicara dengan aku. (2:3) FirmanNya kepadaku: ‘Hai anak manusia, Aku
mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah
memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka
terhadap Aku sampai hari ini juga”.
Catatan:
kata-kata ‘kembalilah
rohku’ (2:2) salah
terjemahan. NIV: ‘the
Spirit came into me’ [= Roh (Kudus) datang kepadaku].
Dan
10:2-19 - “(2)
Pada waktu itu aku, Daniel, berkabung tiga minggu penuh: (3) makanan yang sedap
tidak kumakan, daging dan anggur tidak masuk ke dalam mulutku dan aku tidak
berurap sampai berlalu tiga minggu penuh. (4) Pada hari kedua puluh empat bulan
pertama, ketika aku ada di tepi sungai besar, yakni sungai Tigris, (5) kuangkat
mukaku, lalu kulihat, tampak seorang yang berpakaian kain lenan dan berikat
pinggang emas dari ufas. (6) Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya
seperti cahaya kilat; matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan
kakinya seperti kilau tembaga yang digilap, dan suara ucapannya seperti gaduh
orang banyak. (7) Hanya aku, Daniel, melihat penglihatan itu, tetapi orang-orang
yang bersama-sama dengan aku, tidak melihatnya; tetapi mereka ditimpa oleh
ketakutan yang besar, sehingga mereka lari bersembunyi; (8) demikianlah aku
tinggal seorang diri. Ketika aku melihat penglihatan yang besar itu,
hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan
padaku. (9) Lalu kudengar suara ucapannya, dan ketika aku mendengar suara
ucapannya itu, jatuh pingsanlah aku tertelungkup dengan mukaku ke tanah.
(10) Tetapi ada suatu tangan menyentuh aku dan membuat aku bangun sambil
bertumpu pada lutut dan tanganku. (11) Katanya kepadaku: ‘Daniel,
engkau orang yang dikasihi, camkanlah firman yang kukatakan kepadamu, dan
berdirilah pada kakimu, sebab sekarang aku diutus kepadamu.’ Ketika hal ini
dikatakannya kepadaku, berdirilah aku dengan gemetar. (12) Lalu katanya
kepadaku: ‘Janganlah takut, Daniel, sebab telah didengarkan perkataanmu
sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk
merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, dan aku datang oleh karena perkataanmu
itu. (13) Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri dua puluh satu hari lamanya
menentang aku; tetapi kemudian Mikhael, salah seorang dari pemimpin-pemimpin
terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan
dengan raja-raja orang Persia. (14) Lalu aku datang untuk membuat engkau
mengerti apa yang akan terjadi pada bangsamu pada hari-hari yang terakhir; sebab
penglihatan ini juga mengenai hari-hari itu.’ (15) Ketika dikatakannya hal ini
kepadaku, kutundukkan mukaku ke tanah dan aku terkelu. (16) Tetapi sesuatu yang
menyerupai manusia menyentuh bibirku; lalu kubuka mulutku dan mulai berbicara,
kataku kepada yang berdiri di depanku itu: ‘Tuanku, oleh sebab penglihatan itu
aku ditimpa kesakitan, dan tidak ada lagi kekuatan padaku. (17) Masakan aku,
hamba tuanku ini dapat berbicara dengan tuanku! Bukankah tidak ada lagi kekuatan
padaku dan tidak ada lagi nafas padaku?’ (18) Lalu dia yang rupanya seperti
manusia itu menyentuh aku pula dan memberikan aku kekuatan, (19) dan berkata:
‘Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat,
ya, jadilah kuat!’ Sementara ia berbicara dengan aku, aku merasa kuat lagi dan
berkata: ‘Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku
kekuatan.’”.
Wah
1:17-18 - “(17)
Ketika aku melihat Dia, tersungkurlah aku di depan kakiNya sama seperti orang
yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kananNya di atasku, lalu berkata:
‘Jangan takut! Aku adalah Yang Awal dan Yang Akhir, (18) dan Yang Hidup. Aku
telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang
segala kunci maut dan kerajaan maut”.
1Sam
19:23-24 - “(23)
Lalu pergilah ia ke sana, ke Nayot, dekat Rama dan pada diapun hinggaplah Roh
Allah, dan selama ia melanjutkan perjalanannya ia kepenuhan seperti nabi,
hingga ia sampai ke Nayot dekat Rama. (24) Iapun menanggalkan pakaiannya, dan
iapun juga kepenuhan di depan Samuel. Ia rebah terhantar dengan telanjang
sehari-harian dan semalam-malaman itu. Itulah sebabnya orang berkata: ‘Apakah
juga Saul termasuk golongan nabi?’”.
Kedua kata
‘kepenuhan’
dalam ay 23 dan ay 24, salah terjemahan. Kesalahan yang sama terjadi dalam
1Sam 19:20,21.
KJV/RSV/NIV/NASB: ‘prophesied’ (= bernubuat).
Yoh 18:6 -
“Ketika
Ia berkata kepada mereka: ‘Akulah Dia,’ mundurlah mereka dan jatuh ke
tanah”.
Semua ini
membuktikan bahwa kasus ‘nggeblak’ yang banyak terjadi jaman sekarang,
merupakan sesuatu yang tidak Alkitabiah. Saya meyakini hal itu bukan sebagai
pekerjaan Roh Kudus, tetapi sebagai pekerjaan setan / kuasa gelap.
2.
Baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya mengalami penderitaan
dan bencana. Tetapi bagi orang percaya yang menderita, Alkitab memberikan
penghiburan, dan juga menyatakan bahwa itu bukan hukuman (Ro 8:1), tetapi
serangan setan, atau ujian atau hajaran Tuhan. Juga ada penghiburan bahwa semua
itu akan membawa kebaikan baginya (Ro 8:28).
3.
Baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya mengalami pencobaan,
tetapi bagi orang percaya pencobaan dibatasi oleh Tuhan sehingga tidak melampaui
kekuatannya (1Kor 10:13), sedangkan bagi orang yang tidak percaya tak ada
pembatasan seperti itu.
4.
Baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya akan mati, tetapi bagi
orang percaya kematian tak perlu / tak boleh ditakuti karena itu justru akan
membawanya ke surga (Fil 1:21,23), sedangkan bagi orang yang tidak percaya itu
harus ditakuti karena akan membawanya ke neraka selama-lamanya.
5.
Baik orang percaya maupun orang yang tidak percaya akan menghadap takhta
pengadilan Kristus, tetapi bagi orang percaya, karena adanya Juruselamat /
Penebus yang telah menanggung semua hukuman dosanya, ini tidak jadi masalah sama
sekali. Sedangkan bagi orang yang tidak percaya, yang jelas juga punya banyak
dosa, tetapi tak punya Juruselamat / Penebus, maka ini betul-betul merupakan
masalah yang mengerikan.
-bersambung-
Author : Pdt. Budi Asali,M.Div.
E-mail : [email protected]
e-mail us at [email protected]
Link ke Channel Video Khotbah2 Pdt. Budi Asali di Youtube:
https://www.youtube.com/channel/UCP6lW2Ak1rqIUziNHdgp3HQ
Channel Live Streaming Youtube : bit.ly/livegkrigolgotha / budi asali